Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara )

Skripsi
Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan
Upah Minimum Daerah
(Studi Pada Formulasi Kebijakan Upah Minimum
Provinsi Sumatera Utara )
Disusun Dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara
Oleh

Nama
NIM
Departemen

: Melki S. Naibaho
: 040903029
: Ilmu Administrasi Negara

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu politik
Universitas Sumatera Utara
Medan
2011

Universitas Sumatera Utara

Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kasih karunia
serta berkat yang berlimpah tiada berkesudahan, yang memberikan penulis petunjuk serta
kesehatan sehingga sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagaimana adanya.
Adapun yang menjadi judul dalam skrispsi ini adalah “Peranan Dewan Pengupahan
Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah (Studi Pada Formulasi
Kebijakan Upah Minimum Provinsi Sumatera Utara). Skripsi ini ingin melihat bagaimana
peran Dewan Pengupahan Daerah yang dibentuk untuk membantu memformulasikan
kebijakan pada bidang pengupahan melaksanakan tugasnya. Tetapi sebagai manusia biasa
yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, penulis menyadari bahwa penulisan skripsi
ini jauh dari kata sempurna. Diperlukan lebih banyak lagi kritik dan masukan dari berbagai
pihak guna memperkaya dan lebih menyempurnakan lagi isi tulisan ini. Demikianlah
seharusnya dianamika intelektual kita senantiasa semakin disempurnakan dengan saling
memberikan koreksi dan masukan demi perbaikan bangunan intelektual yang kita bangun
bersama.
Penulis juga tidak lupa hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada semua
pihak yang dengan sabar dan murah hati memberikan bantuan baik secara moril maupun
materil guna penyelesaian skripsi ini.

Medan, 17 Desember 2010

Penulis

Universitas Sumatera Utara

Abstarksi
Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat
memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah
bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi
menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah
yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini
terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang
ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan
serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat
memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan
inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup
buruh tidak diabaikan.
Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses
produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab
untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus
mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk
memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum.
Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural
yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga
tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum
merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses
formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat
diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi
gejolak di masyarakat.
Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi

Universitas Sumatera Utara

Daftar Isi
Kata Pengantar ................................................................................................................ i
Abstraksi......................................................................................................................... ii
Daftar Isi ......................................................................................................................... iii
BAB I Pendahuluan
I.1. Latar Belakang Masalah ................................................................................ 1
I.2. Perumusan Masalah ....................................................................................... 8
I.3. Tujuan Penelitian ........................................................................................... 9
I.4. Manfaat Penelitian ......................................................................................... 9
I.5. Kerangka Teori .............................................................................................. 10
I.5.1. Peranan..................................................................................... 10
I.5.2. Dewan Pengupahan Daerah ...................................................... 11
I.5.3. Formulasi Kebijakan................................................................. 11
I.5.4. Upah Minimum ........................................................................ 17
I.6. Defenisi Konsep ............................................................................................ 30
I.7. Defenisi Operasional ..................................................................................... 30
I.8. Sistematika Penulisan .................................................................................... 32
BAB II Metodologi Penelitian
II.1. Metode Penelitian......................................................................................... 33
II.2. Lokasi Penelitian .......................................................................................... 33
II.3. Informan ...................................................................................................... 33
II.4. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................... 34
II.5. Teknik Analisa Data ..................................................................................... 34
BAB III Deskripsi Lokasi Penelitian
III. 1 Kondisi Geografis Daerah ........................................................................... 35
III. 2 Demografi ................................................................................................... 37
III. 3 Potensi Unggulan Daerah ............................................................................ 41

Universitas Sumatera Utara

III. 4 Kondisi Ketenagakerjaan di Sumatera Utara................................................ 43
BAB IV Penyajian Data .................................................................................................. 50
BAB V Analisa Data
V. 1 Mengetahui Preferensi Publik....................................................................... 60
V. 2 Menemukan Pilihan-pilihan Kebijakan ......................................................... 61
V. 3 Menilai Konsekuensi Masing-masing Pilihan Kebijakan .............................. 63
V. 4 Menilai Ratio Sosial Yang Dikorbankan....................................................... 64
V.5 Memilih Alternatif Kebijakan Yang Paling Efisien........................................ 65
BAB VI Penutup Kesimpulan Dan Saran
VI. 1 Kesimpulan................................................................................................. 67
VI. 2 Saran .......................................................................................................... 68
Daftar Isi .........................................................................................................................
Lampiran.........................................................................................................................

Universitas Sumatera Utara

Abstarksi
Relasi antara pengusaha dengan buruh memiliki potensi yang senantiasa dapat
memicu konflik antara kedua pihak. Salah satu masalah krusial dalam relasi tersebut adalah
bagaimana distribusi keuntungan perusahan dilakukan. Pemenuhan rasa keadilan menjadi
menjadi titik penting terjadinya kompromi antara pengusaha dan buruh. Dimana besaran upah
yang ditetapkan merupakan perwujudan kompromi diantara kedua pihak. Pada titik ini
terdapat persoalan sudut pandang keadilan antara kedua pihak mengenai besaran upah yang
ditetapkan. Pada satu sisi untuk kepentingan efisiensi perusahaan maka upah harus ditekan
serendah mungkin. Di lain pihak buruh berharap melalui upah yang diterimanya dapat
memenuhi kesejahteraan hidupnya dan bila memungkinkan meningkatkannya. Persoalan
inilah yang harus diselesaikan agar perusahaan tetap dapat berjalan dan kesejahteraan hidup
buruh tidak diabaikan.
Pemerintah sebagai pengelola negara tentunya berusaha agar stabilitas dalam proses
produksi selain itu sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa pemerintah bertanggung jawab
untuk menciptakan kesejahteraan ditengah-tangah warganya. Maka pemerintah juga harus
mengabil peran dalam menyelesaikan persoalan antara relasi buruh dan pengusaha. Untuk
memediasi persolan upah tersebut maka pemerintah mengeluarkan kebijakan upah minimum.
Dimana perumusan kebijakan upah tersebut dilakukan melalui suatu lembaga non struktural
yang bersifat tripartit. Pemerintah, pengusaha dan buruh menjadi unsur didalam lembaga
tersebut ditambah pakar dari perguruan tinggi. Pada dasarnya kebijakan upah minimum
merupakan jaring pengaman agar harga upah tidak turun terlalu rendah. Maka melalui proses
formulasi yang dilakukan oleh lembaga tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang dapat
diterima oleh semua pihak. Sehingga ketika kebijakan tersebut diberlakukan tidak terjadi
gejolak di masyarakat.
Kata kunci : Upah Minimum, Kebijakan, Formulasi

Universitas Sumatera Utara

BAB I
Pendahuluan
I.1 Latar Belakang Masalah
Sudah menjadi sesuatu yang alami dan naluriah bagi manusia untuk berusaha
bertahan hidup. Fakta inilah yang mendorong manusia untuk senantiasa kreatif dan bekerja
keras untuk melakukan proses produksi. Yaitu menghasilkan barang-barang yang dapat
menunjang kehidupan manusia itu sendiri.Untuk hidup, manusia harus memproduksi alat-alat
penyambung hidupnya (makanan dan lain sebagainya). Untuk melakukannya mereka harus
bekerja sama di dalam suatu pembagian kerja 1. Hal inilah yang mendorong terjadinya
perubahan dalam tingkatan proses produksi.
Sejarah peradaban manusia tidak terlepas pada proses perubahan tingkat
perkembangan produksi manusia itu sendiri. Pada awalnya kegiatan produksi manusia hanya
dilakukan melalui pengumpulan bahan-bahan makanan langsung dari alam.Kemudian pola
tersebut mengalami perubahan ke pola agraris yaitu menanam tanaman untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehari-hari.Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap di
Inggris oleh James Watt membawa manusia ke era baru. Era baru tersebut adalah zaman
Industrilisasi, dimana proses produksi manusia ditandai dengan penggunaan mesin-mesin.
Pada setiap tingkat perkembangan produksi adalah merupakan hasil dari
perkembangan sejarah dan merupakan pencapaian generasi sebelumnya. Tentunya perubahan
tingkatan produksi akan memberikan pengaruh pada struktur sosial dalam masyarakat itu
sendiri. Perkembangan produksi mengharuskan keterlibatan bentuk-bentuk kerja sama,
pembagian kerja, dan karenanya juga organisasi kemasyarakatan. Dimana masyarakat
mengalami perubahan dalam serentetan tingkatan yang ditandai dengan berbagai bentuk
kepemilikan modal.Pemilikan komunal masyarakat kuno didasarkan pada peranan budak
1

Anthony Brewer, A Guide to Marx’s Capital , diterjemahkan oleh Joebaar Ajoeb dengan judul Kajian kritis
Das Kapital Karl Marx, jilid 3 (Jakarta: TePLOK PRESS, 2000), h. 11.

Universitas Sumatera Utara

.Pemilikan feodal (tanah) atas pemerasan hamba.Dan pemilikan perorangan borjuis
(kapitalis) atas eksploitasinya terhadap proletariat dari pekerja upahan yang tidak memiliki
apa-apa 2.
Perkembangan ini di pandang merupakan keniscayaan dalam sejarah perjalanan
manusia.Tetapi ada konskuensi yang harus di tanggung disini yaitu timbulnya pertentangan
antara kelas pekerja dan kelas pemodal. Dimana Marx meramalkan bahwa pertarungan ini
akan dimenangkan oleh pekerja. Yang pada akhirnya akan tercipta sebuah masyarakat tanpa
kelas yaitu masyarakat komunis. Ramalan Marx tersebut tidaklah dilahirkan begitu saja tanpa
melihat realitas yang terjadi.Terlepas dari benar atau tidaknya ramalan tersebut, dari ramalan
tersebut terlihat bahwa hubungan antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha memiliki
sebuah titik kritis yang berpotensi untuk meledakkan konflik terbuka antara kedua kelas
tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka salah satu persoalan utama dalam hubungan
kerja antara pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah bagaimana pendistribusian hasil
produksi dapat memuaskan kedua belah pihak. Sehingga terjadi kompromi antara kedua
belah pihak dan tidak terjadi benturan.Salah satu aspek yang sangat menetukan baik dan
buruknya hubungan pekerja dan pemilik modal/pengusaha adalah upah.Hingga saat ini
persoalan nominal upah yang layak masih banyak diperdebatkan. Hal ini terjadi antara lain
karena pekerja dan pemilik modal memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat upah
tersebut. Dalam pendekatan (paradigma) kapitalis, pekerja/buruh dipandang sebagai faktor
ekonomi saja sehingga nilai buruh diserahkan pada mekanisme pasar 3.Pandangan seperti ini
memberikan mekanisme pasar sebagi faktor dominan dalam penentuan upah buruh/pekerja
dibandingkan faktor tenaga, skill atau waktu yang di korbankan buruh kepada
pengusaha/pemilik modal.Padahal realita menunjukkan antara jumlah angkatan kerja dengan
2
3

ibid., h. 11
KPS, Hak-Hak Buruh (Edisi I, Medan:Kelompok Pelita Sejahtera, 2005) hal. 45

Universitas Sumatera Utara

permintaan pengusaha di pasar tidaklah seimbang, artinya tingkat angkatan kerja selalu lebih
tinggi dari permintaan pengusaha.
Faktor inilah yang memberikan posisi kuat bagi pengusaha untuk menekan upah
pekerja/buruh serendah-rendahnya dan mengabaikan kewajibannya pada buruh/pekerja.Dan
hal tesebut merupakan salah satu bagian dari kepentingan pengusaha.Kepentingan dari
pemilik modal ini bertentangan dengan kepentingan orang-orang yang bekerja pada
mereka.Kelas

pekerja

berkepentingan

terhadap

meningkatnya

upah,

meningkatnya

kesejahteraan.Sedangkan kepentingan pengusaha adalah untuk meningkatkan keuntungan.
Pengusaha akan selalu berusaha untuk mempertahankan keuntungannya, dan para pengusaha
biasanya menyiasatinya dengan cara 4:
1. Menekan serendah mungkin upah buruh/pekerja ini adalah hal yang biasa dilakukan
pengusaha.
2. Meningkatkan setinggi mungkin kuantitas (jumlah) produksi, ini berarti pekerja/buruh
dituntut untuk bekerja lebih keras.
3. Meningkatkan harga produk.
Agar kepentingan masing-masing pihak tercapai, maka masing-masing pihak harus
mengorbankan kepentingan pihak lain. Dan biasanya pihak buruh/pekerja sering kali yang
menjadi korban. Hal ini ditunjukkan selain jumlah upah yang masih di bawah standar, juga
sama sekali tidak memenuhi prinsip utama pengupahan itu sendiri, yaitu pembagian atas
keuntungan didasarkan pada nilai lebih barang yang di hasilkan pekerja 5
Hal inilah yang sering melahirkan konflik vertikal antara buruh/pekerja dengan
pemilik modal/pengusaha.Sering terdengar dalam beberapa pemberitaan media masa,
kelompok buruh melakukan aksi unjuk rasa bahkan mogok kerja di beberapa tempat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan upah masih menyimpan potensi konflik yang
4

Ibid, hal. 46
Saut Kristianus, “Kebijakan Perburuhan Di Masa Krisi”, dalam Indrasari Tjandraningsih, Jurnal Anlisis
Sosial: Situasi Krisis Titik Balik Kekuatan Buruh (Vol.4 No. 2, Bandung, Akatiga, 1999) hal. 14

5

Universitas Sumatera Utara

tinggi yang akan senantiasa menunggu waktu untuk meledak. Dan apabila persoalan ini tidak
dapat di tangani oleh pemerintah melalui institusi terkait dengan baik, maka stabilitas Negara
dapat terganggu.Untuk itulah pemerintah sebagai institusi pengambil kebijakan harus turut
serta dan berperan aktif untuk menyelesaikan persoalan ini.Karena, selain berkepentingan
untuk menjaga stabilitas Negara, sesuai konstitusi pemerintah juga mempunyai tugas dan
tanggung jawab untuk memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warga
negaranya.
Hal tersebut tercermin dalam Pasal 27 UUD 1945 ayat 2 yang berbunyi: “Tiap-tiap
warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” 6.
Demikian juga halnya dalam Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (DUHAM)
diisyaratkan hidup layak sebagai salah satu cerminan masyarakat adil dan makmur adalah
Hak Azasi Manusia.Pasal 25-nya mengenai pengertian hidup layak menyebutkan “layak
untuk kesehatan dan kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk pangan, pakaian,
perumahan dan perawatan medis dan pelayanan sosial yang diperlukan.Manusia lebih
membutuhkan sekedar kebutuhan dasar seperti pangan, pakaian dan perumahan agar bisa
menjalani kebutuhan hidup bermasyarakat”.
Sebab dalam memberikan kehidupan yang layak pada rakyatnya faktor upah
mempunyai peranan yang penting dalam pencapaian tujuan tersebut.Maka persoalan
perburuhan yang dalam hal ini masalah upah buruh, pemerintah harus melakukan intervensi
dalam bentuk pembuatan kebijakan. Karena tanpa adanya pihak ketiga yang menengahi
konflik kepentingan buruh/pekerja dan pengusaha/pemilik modal maka akan sulit terjadi
kesepakatan antara kedua belah pihak.
Untuk mengatasi problema upah, pemerintah saat ini mengambil kebijakan dengan
membuat batas minimal upah yang harus di bayarkan oleh perusahaan kepada

6

Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Bab X, pasal 27

Universitas Sumatera Utara

pekerja/buruh.Penetapan upah minimum dimaksudkan sebagai jaring pengaman agar upah
pekerja/buruh tidak terus turun semakin rendah sebagai akibat tidak seimbangnya pasar
kerja 7.Penetapan batas minimal upah dilakukan oleh pemerintah melalui kebijakan Upah
Minimum.Upah minimum pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada awal 1970-an. Sejak
akhir 1980-an, seiring dengan berbagai perubahan dalam pasar tenaga kerja, peranan upah
minimum berubah menjadi sangat penting.Dalam paruh pertama tahun 1990-an, pemerintah
meningkatkan upah minimum riil lebih dari dua kali lipat.Dalam paruh kedua 1990-an, secara
nominal upah minimum masih terus meningkat, tetapi dalam hitungan riil kenaikannya
kecil.Bahkan pada tahun 1998 nilai riil upah minimum jatuh cukup besar karena tingginya
inflasi pada tahun tersebut akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia.
Ketentuan upah minimum dikeluarkan oleh menteri tenaga kerja RI berdasarkan hasil
kerja Dewan Penelitian Pengupahan nasional maupun daerah (DPPN/DPPD).DPPN dibentuk
pemerintah oleh pemerintah Orde baru pada pertengahan 1969 melalui Keputusan Presiden
No. 58/1969 yang diikuti dengan pembentukan DPPD pada 1970.DPPN bertugas
memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada pemerintah tentang kebijakan dan prinsipprinsip pengupahan.Secara struktural DPPN bertanggungjawab kepada menteri tenaga kerja.
Komposisi keanggotaan DPPN terdiri dari 17 unsur yang 11 diantaranya mewakili berbagai
instansi pemerintah (Departemen Tenaga kerja, Departemen Keuangan, Departemen
Perindustrian, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Departemen Perhubungan,
Departemen Pertambangan, Departemen Pekerjaan umum, Departemen Dalam Negeri, Bank
Sentral dan Bappenas), satu dari unsur perguruan tinggi (Universitas Indonesia), satu unsur
asosiasi pengusaha Indonesia (APINDO), satu dari unsur serikat buruh (SPSI) ditambah
dengan perwakilan perwakilan panitia penyelesaian perselisihan perburuhan pusat (P4P)
yaitu Departemen tenaga Kerja (DEPNAKER), asosiasi pengusaha (APINDO), dan serikat

7

KPS, op. cit., h. 42

Universitas Sumatera Utara

buruh (SPSI). Jadi keseluruhan wakil pemerintah yang terlibat dalam DPPN adalah 12 orang,
asosiasi pengusaha 2 orang, serikat buruh 2 orang, dan unsur perguruan tinggi 1 orang.
DPPD berkedudukan dibawah gubernur dan bertanggungjawab kepada Menteri
Tenaga Kerja.DPPD bertugas memebrikan rekomendasi dan pertimbangan kepada Menaker
tentang kebijakan dan prinsip-prinsip pengupahan di daerah untuk jangka waktu pendek
ataupun panjang dengan memperhatikan factor-faktor ekonomi, sosial, tenaga kerja, dan
perkembangan ekonomi dalam arti luas.Funsi DPPD adalah untuk menyusun upah minimum
untuk daerahnya.DPPD memberikan rumusan usulan upah minimum untuk tingkat propinsi
dan kabupaten/kota.
Unsur-unsur DPPD terdiri dari wakil-wakil kantor wilayah dan dinas tenaga kerja,
pemerintah daerah, badan pusat statistik (BPS), dinas perindustrian, kantor pajak, wakil
pengusaha (APINDO) dan wakil buruh (SPSI). Komposisi keanggotaan di DPPN/D
memperlihatkan dominasi pemerintah demikian kuat yang membuat serikat buruh tidak
mempunyai kekuatan untuk bernegoisasi baik dalam proses pembahasan dan pengambilan
keputusan. Selai itu posisi serikat buruh yang berada dibawah kendali pemerintah
memperlihatkan keberadaan serikat buruh hanya sebagai formalitas untuk menunjukkan
bahwa di Indonesia juga terdapat serikat buruh.Akibatnya, pada prakteknya di dewan
pengupahan era orde baru kepentingan buruh kurang tersalurkan.
Kenaikan upah minimum pada tahun 2001 sangat dipengaruhi oleh nuansa oronomi
daerah dan kebebasan berserikat.Kedua hal tersebut mendorong beberapa perubahan dalam
kebijakan pengupahan dan institusi perumus upah minimum. Berdasarkan Keputusan Menteri
No. 226 Tahun 2000, terjadi pelimpahan kewenangan ketetapan upah minimum provinsi dan
kabupaten/kota dari Menteri Tenaga kerja kepada Gubernur. Hal ini berarti Gubernur
berkewenangan penuh dalam menetapkan UMP/UMK di wilayahnya. Dan juga terjadi

Universitas Sumatera Utara

perubahan dalam penulisan dan penyebutan istilah yang berkaitan dengan kebijakan otonomi
daerah, yaitu :
Istilah “ Upah minimum regional tingkat I (UMR Tk. I)” diubah menjadi “ Upah
minimum provinsi”, istilah “ upah minimum regional tingkat II (UMR Tk. II)” diubah
menjadi upah “minimum kabupaten/kota”8.
Dari sisi institusi perumusan upah minimumpun mengalami perubahan, yaitu dalam
komposisi keanggotaan yang menggunakan model keterwakilan berimbang.Hal ini
dimaksudkan agar dalam penetapan upah minimum kepentingan semua pihak dapat
terakomodir dan tidak ada pihak yang merasa di rugikan.
Sebagai pengganti dari DPPN dan DPPD dibentuklah lembaga non-struktural yang
bersifat tripartit.Dimana keanggotaan lembaga ini terdiri atas unsur pemerintah, Organisasi
Pengusaha, Serikat pekerja/ Serikat buruh dan di tambah dari pakar dan perguruan tinggi
sesuai dengan kebutuhan.Hal ini nampaknya memberikan peluang bagi serikat buruh untuk
berpartisipasi baik dalam proses pembahasan maupun pengambilan keputusan
Pada tingkat nasional lembaga ini disebut Dewan Pengupahan Nasional (Depenas),
untuk propinsi bernama Dewan Pengupahan Provinsi (Depeprov) dan untuk kabupaten/kota
disebut Dewan Pengupahan Kabupaten/Dewan Pengupahan Kota (Depekab/Depeko). Yang
nantinya lembaga inilah yang akan memberikan saran dan pertimbangan pada pemerintah
mengenai kebijakan upah. Dewan Pengupahan Nasional bertugas memberikan saran dan
pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka perumusan kebijakan pengupahan dan
pengembangan sistem pengupahan nasional 9.Dan untuk daerah, Dewan Pengupahan bertugas
memberikan saran dan pertimbangan sesuai dengan ruang lingkup masing-masing.
Penentuan upah minimum merupakan keputusan politik yang banyak dipengaruhi
oleh kekuatan lobby daripada kekuatan institusi. Ketika serikat buruh masih dibawah tekanan
8
9

Republik Indonesia, Keputusan Menteri No. 226, Tahun 2000.
Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004, BAB II, Pasal 4

Universitas Sumatera Utara

pemerintah, dapat dimengerti jika keputusan upah minimum yang dihasilkan masih belum
sesuai dengan kebutuhan hidup buruh. Namun, seiring dengan perubahan yang terjadi,
muncul harapan yang memungkinkan buruh dapat memanfaatkan kesempatan yang ada
secara optimal dalam upaya perbaikan kondisinya
Penentuan Upah Minimum merupakan proses pengambilan kebijakan yang dilakukan
oleh pemerintah. Dimana pada prinsipnya setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah
harus berorientasi pada pencapaian kesejahteraan masyarakat banyak. Sehingga dalam
perumusan kebijakan publik dibutuhkan adanya proses yang akomodatif dengan kepentingan
semua pihak dalam rangka pencarian alternatif rumusan kebijakan yang dapat diterima semua
pihak untuk pencapaian kesejahteraan bersama. Maka dalam hal ini tentunya akan ada
interaksi antara aktor-aktor kepentingan. Dimana masing-masing kepentingan akan saling
berebut pengaruh agar kebijakan yang dikeluarkan nantinya berpihak pada kepentingan yang
dibawanya.
Dengan sedikit deskripsi diawal maka penulis merasa tertarik dan tertantang untuk
mengangkat skripsi ini yang berjudul “ Peranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam
Formulasi Kebijakan Upah Minimum Daerah”
I.2 Perumusan Masalah
Arikunto 10 Menyatakan bahwa dalam suatu penelitian, agar dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya maka peneliti haruslah merumuskan masalah dengan jelas, sehingga
akan jelas darimana harus mulai, kemana harus pergi dan dengan apa. Perumusan masalah
juga diperlukan untuk mempermudah menginterpretasikan data dan fakta yang diperlukan
dalam suatu penelitian.

10

Suharsimi Arikunto, Prosedur penelitian: suatu pendekatan paraktek,edisi 3 (Jakarta: Rineka cipta, 1996), h.
19

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan latar belakang dan fakta yang telah dikemukakan diatas, maka yang
menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah BagaimanaPeranan Dewan
PengupahanDaerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum ?
I. 3 Tujuan Penelitian
Hadi menyatakan setiap penelitian tentu memiliki sasaran yang hendak dicapai atau
target yang ingin diraih 11. Satu riset khusus dalam ilmu pengetahuan yang empiris pada
umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu
pengetahuan.
Adapun

yang

menjadi

tujuan

penelitian

ini

adalah

untuk

mengetahui

BagaimanaPeranan Dewan Pengupahan Daerah Dalam Formulasi Kebijakan Upah Minimum
tersebut dijalankan?
I. 4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Secara Subyektif. Sebagai suatu sarana untuk melatih dan mengembangkan
kemampuan berpikir ilmiah, sistematis dan metodologis penulis dalam menyusun
berbagai kajian literatur untuk menjadikan satu wacana baru dalam memperkaya
khazanah kognitif.
2. Secara Strategis. Memberikan data dan informasi yang berguna bagi semua kalangan
terutama yang secara serius mengamati dan mengawal proses kebijakan upah
minimum.
3. Secara Akademis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara
langsung atau tidak bagi kepustakaan jurusan ilmu administrasi negara dan bagi

11

HadiSutrisno,Metodologi Research(jilid 2,.Yogyakarta, Penerbit ANDI Offset, 1989) h. 3

Universitas Sumatera Utara

kalangan penulis lainnya yang tertarik untuk mengeksplorasi kembali kajian tentang
formulasi kebijakan khususnya mengenai penetapan upah minimum.
4. Secara Prinsipil. Memberi motivasi kepada mahasiswa atau pihak tertentu untuk
meneliti hal yang sama sebagai kajian terhadap proses formulasi kebijakan upah
minimum.

I. 5. Kerangka Teori
Sebagai titik tolak atau landasan berpikir dalam menyoroti atau memecahkan masalah
perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu.Untuk itu perlu disusun kerangka teori
yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana maslah tersebut
disoroti.
Menurut Arikunto 12 kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti
memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variable pokok, sub
variable atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.

I. 5. 1 Peranan
Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status).Apabila seseorang
melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan
perannya 13.Sehingga peranan dapat dipandang sebagai landasan persepsi yang digunakan
setiap orang yang berinteraksi dalam suatu kelompok atau organisasi untuk melakukan suatu
kegiatan mengenai tugas dan kewajibannya.
Selain itu peranan dapat pula dipandang sebagai fungsi dan wewenang yang dimilki
oleh orang atau lembaga yang lahir karena kedudukannya.Peranan meliputi hak dan
kewajiban yang muncul serta merta karena kedudukan dan tanggungjawabnya.Menurut
12
13

Arikunto, Op. Cit., h. 75
Soerjono Soekamto, Sosiologi Sebagai Pengantar (Jakarta, PT Raja Garfindo Pusat, 1990) h. 268

Universitas Sumatera Utara

Purwadarminta peranan adalah sesuatu yang menjadi bagian atau yang memegang pimpinan
yang terutama dalam terjadinya sesuatu hal atau peristiwa 14.Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa peranan merupakan fungsi dan wewenang yang berpengaruh terhadap
suatu peristiwa.
I. 5. 2. Dewan Pengupahan Daerah (Depeda)
Pada tingkat nasional lembaga ini disebut Dewan Pengupahan Nasional (Depenas),
untuk propinsi bernama Dewan Pengupahan Provinsi (Depeprov) dan untuk kabupaten/kota
disebut Dewan Pengupahan Kabupaten/Dewan Pengupahan Kota (Depekab/Depeko). Yang
nantinya lembaga inilah yang akan memberikan saran dan pertimbangan pada pemerintah
mengenai kebijakan upah. Dewan Pengupahan Nasional bertugas memberikan saran dan
pertimbangan kepada pemerintah dalam rangka perumusan kebijakan pengupahan dan
pengembangan sistem pengupahan nasional 15.Dan untuk daerah, Dewan Pengupahan
bertugas memberikan saran dan pertimbangan sesuai dengan ruang lingkup masing-masing.
Adapun keanggotaan pada Dewan Pengupahan Daerah (DEPEDA) terdiri dari unsur
tripartit plus dengan komposisi 2:1:1 ditambah pakar dari perguruan tinggi.
I. 5. 3. Formulasi Kebijakan
Formulasi kebijakan adalah turunan dari formula dan berarti untuk pengembangan
rencana, metode, resep, dalam hal ini untuk meringankan suatu kebutuhan, untuk tindakan
dalam suatu masalah 16.
Woll berpendapat bahwa formulasi kebijakan berarti pengembangan sebuah
mekanisme untuk menyelesaikan masalah public, dimana pada tahap para analis kebijakan
public mulai menerapakan beberapa teknik untuk menjustifikasi bahwa sebuah pilihan

14

W.J.S. Purwadarminta, KBI (Jakarta, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Balai Pustaka, 1978) h. 755
Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 107 Tahun 2004, BAB II, Pasal 4
16
Charles O Jones, Pengantar Kebijakan Publik (Public policy), ( Jakarta, PT. Raja Grafindo, 1996) h. 137
15

Universitas Sumatera Utara

kebijakan merupakan pilihan yang terbaik dari kebijakan yang lain 17. Dalam menentukan
pilihan kebijakan pada tahap ini dapat menggunakan analisis biaya manfaat dan analisis
keputusan, dimana keputusan yang harus diambil pada posisi tidak menentu dengan informasi
serba terbatas.
Mengenai

apa

yang

dilakukan

dalam

perumusan

kebijakan

ini,

Budiwinarnomenyatakan bahwa masalah yang telah masuk kedalam agenda kebijakan
kemudian akan dibahas oleh para pembuat kebijakan 18. Masalah-masalah tadi didefenisikan
untuk kemudian dicari pemecahan masalah terbaik.Pemecahan masalah tersebut berasal dari
berbagai alternatif yang ada.Sama halnya dengan perjuangan suatu masalah untuk masuk
kedalam agenda kebijakan, dalam tahap perumusan kebijakan masing-masing alternatif
bersaing untuk dapat dipilih sebagai kebijakan yang diambil untuk pemecahan masalah. Pada
tahap ini masing-masing aktor akan bermain untuk mengusulkan pemecahan masalah terbaik.
Model-Model Formulasi Kebijakan
Di lingkuangan para pembelajar perumus kebijakan publik terdapat sejumlah model.
Thomas R. Dyemerumuskan model-model secara lengkap dalam Sembilan model formulasi
kebijakan yaitu 19:
1. Model Kelembagaan
Formulasi kebijakan model kelembagaan secara sederhana bermakna bahwa tugas
membuat kebijakan publik adalah pemerintah. Jadi apapun yang dibuat pemerintah
dengan cara apapun adalah kebijakan publik. Model ini mendasar kepada fungsifungsi kelembagaan pemerintah, di setiap sektor dan tingkat di dalam formulasi
kebijakan 20. Dye menyebutkan ada tiga hal yang membenarkan pendekatan ini yaitu

17

Nogi dkk, Kebijakan Publik Yang Membumi, konsep, Strategi dan kasus, (Yayasan Pembaharuan
Administrasi Publik Indonesia dan Lukman Offset) h. 8
18
Budi Winarno, Teori Dan Proses Kebijakan Publik, (MED Press, 2002) h. 29
19
Dian Nugroho, Kebijakan Publik, Formulasi, Implementasi dan Evaluasi, (Jakarta, PT. Elex Media
komputindo, 2003) h. 108.
20
Ibid,

Universitas Sumatera Utara

bahwa pemerintah memang sah membuat kebijakan publik, fungsi tersebut bersifat
universal dan memang pemerintah memonopoli fungsi pemaksaan (koersi) dalam
kehidupan bersama 21.
2. Model Proses
Didalam model ini para pengikutnya menerima asumsi bahwa politik merupakan
suatu aktifitas sehingga mempunyai proses. Untuk itu, kebijakan publik merupakan
juga proses politik yang menyertakan rangkaian kegiatan :
Tahapan
Identifikasi Masalah

Aktifitas
Mengemukakan

tuntunan

agar

pemerintah

mengambil tindakan
Menata agenda formulasi kebijakan

Memutuskan

isu

apa

yang

dipilih

dan

permasalahan apa yang hendak dikemukakan
Perumusan proposal kebijakan

Mengembangkan

proposal

kebijakan

untuk

menangani masalah tersebut
Legitimasi Kebijakan

Memilih satu buah proposal yang dinilai terbaik
untuk kemudian dicari dukungan politik agar
dapat diterima sebuah hokum

Implementasi Kebijakan

Mengorganisir birokrasi, menyediakan pelayanan
dan pembayaran, dan pengumpulan pajak

Evaluasi Kebijakan

Melakukan studi program, melaporkan out put
nya,

mengevaluasi

kelompok
memberikan

sasaran

pengaruh
dan

rekomendasi

(impact)

dan

non-sasaran

dan

penyempurnaan

kebijakan

21

Ibid,

Universitas Sumatera Utara

3. Model Teori Kelompok
Model pengmbilan kebijakan teori kelompok mengandaikan kebijakan sebagai titik
keseimbangan (equilibrium). Inti gagasannya adalah interaksi di dalam kelompok
akan menghasilkan keseimbangan, dan keseimbangan adalah yang terbaik. Di sini
individu di dalam kelompok-kelompok kepentingan berinteraksi secara formal
maupun informal, secara langsung atau melalui media massa menyampaikan tuntutan
kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan publik yang diperlukan.
4. Model Teori Elit
Model teori elit berkembang dari teori politik elit massa yang melandaskan diri pada
asumsi bahwa didalam setiap masyarakat pasti terdapat dua kelompok, yaitu
pemegang kekuasaan atau elit dan yang tidak memiliki kekuasaan atau massa. Teori
ini mengembangkan diri pada kenyataan bahwa sedemokratis apapun, selalu ada bias
dalam formulasi kebijakan, karena pada akhirnya kebijakan-kebijakan yang dilahirkan
merupakan preferansi dari pada elit tidak lebih.
5. Model Teori Rasionalisme
Model ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan publik sebagai maximum social
gain berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan yang memberikan manfaat
optimum bagi masyarakat.Model ini merupakan model yang paling banyak dicontoh
didunia.Dengan asumsi bahwa model ini lebih menekankan pada aspek ekonomis dan
efisiensi.
Cara-cara formulasi kebijakan disusun dalam urutan :
• Mengetahui preferensi publik dan kecenderungannya

• Menemukan pilihan-pilihan

• Menilai konsekunsi masing-masing pilihan
• Menilai ratio nilai sosial yang dikorbankan

Universitas Sumatera Utara

• Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien
6. Model Inkrementalis
Model inkrementalis pada dasarnya merupakan kritik terhadap model rsional.
Dikatakannya, para pembuat kebijakan tidak pernah melakukan proses seperti yang
disyaratkan oleh pendekatan rasional karena mereka tidak memiliki cukup waktu,
intelektual, maupun biaya, ada kekhawatiran muncul dampak yang tidak diinginkan
akibat kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya, adanya hasil-hasil dari
kebijakan sebelumnya yang harus dipertahankan, dan menghindari konflik.
7. Model Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning)
Model ini merupakan upaya menggabungkan antara model rasional dengan model
inkremental. Model ini memperkenalkan suatu pendekatan terhadap formulasi
keputusan-keputusan pokok inkremental, menetapkan proses formulasi kebijakan
pokok dan urusan tinggi yang menentukan ptunjuk dasar, proses-proses yang
mempersiapkan keputusan-keputusan pokok, dan menjalankan setelah keputusan itu
tercapai. Model ini ibaratnya pendekatan dua kamera: wide angle untuk melihat
keseluruhan dan zoom untuk melihat detailnya.
8. Model Demokratis
Merupakan model baru yang dikembangkan yang berasumsi bahwa dalam perumusan
kebijakan

itu

harus

sebanyak

mungkin

mengelaborasi

suara

dari

stakeholders.Dikatakan sebagai model demokratis karena menghendaki agar setiap
“pemilih hak demokrasi” diikutkan serta sebanyak-banyaknya.
9. Model Strategis
Intinya adalah pendekatan ini menggunakan rumusan tuntutan perumusan strategi
sebagai basis perumusan kebijakan.Bryson merumuskan makna perencanaan strategis
itu yakni upaya yang didisiplinkan untuk membuat keputusan dan tindakan penting

Universitas Sumatera Utara

yang membentuk dan memandu bagaimana menjadi organisasi (atau entitas lainnya),
dan mengapa organisasi (entitas lainnya) mengerjakan hal seperti itu 22. Perencanaan
strategis mensyaratkan pengumpulan informasi secara luas, eksplorasi alternatif, dan
menekankan implikasi masa depan dengan keputusan sekarang.
Dari berbagai model dalam perumusan kebijakan penulis melihat kecenderungan
bahwa pendekatan model Rasionalisme lebih tepat untuk melihat proses formulasi kebijakan
upah minimum. Mengenai model proses ini berikut dikutip pendapat Anderson 23
”Public policy may be viewed as the response of political system to demands arising
from its environment. The political system, as defined by Easton, is composed of those
indefinitable and interrelated institutions and activities in a society that make authoritive
decision (or allocations of values) that are binding on society.
Terjemahan bebasnya bermakna sebagai berikut: Kebijakan publik dapat dilihat
sebagai jawaban sistem politik atas tuntutan-tuntutan dari lingkungan. Sistem politik
sebagaiman didefenisikan Easton terdiri atas lembaga-lembaga yang tidak dapat berdiri
sendiri dan aktivitasnya saling ketergantungan di dalam masyarakat yang membentuk otoritas
kebijakan (atau alokasi-alokas nilai) yang mengikat masyarakat.
Kemudian Anderson menjelaskan 24 :
Input into political system from the environment consist of demands and supports. The
Environment consists of all those conditions and events external to the bounderies of
the political system. Demands are the claim made by individuals and groups on the
political system for action to satisfy their interest. Support is rendered when groups
and individuals abide by elections results, pay taxes, obey laws, and otherwise accept
the decisions and actions of the authorative political system made response to
demands
22

Ibid., h. 127
James E. Anderson, Public policy Making (III, Hongkong, University of Hongkong, 1979 ) h. 13
24
Ibid, hal 14

23

Universitas Sumatera Utara

Terjemahan bebasnya bermakna :
Input dari lingkungan terjadap sistem politik terdiri atas tuntutan dan dukungan.
Lingkungan terdiri atas seluruh peristiwa-peristiwa dari luar sistem yang memasuki batas dan
sistem politik.Tuntutan adalah keluhan yang diungkapkan oleh individu-individu atau
kelompok terhadap sistem politik untuk memberikan keuntungan bagi mereka.Dukungan
terjadi ketika kelompok-kelompok atau individu-individu yang diabaikan hasil pemilihan,
membayar pajak, mematuhi peraturan dan namun demikian menerima keputusan dan
tindakan dari otoritas sistem politik yang dilakukan untuk menjawab tuntutan-tuntutan.
These authoritive allocations of values constitute publik policy. The concept of feed
back indicates that publik policy (out put) may subsequently alter the environment
and demands generated therein, as well as the character of political system itself.
Policy outputs may produce new demands, which lead to further policy outputs, and
so on in a continuing, never ending flow of public policy 25.
Terjemahan bebasnya bermakna :
Otoritas-otoritas pengalokasian nilai-nilai merupakan kebijakan publik.Konsep dari
umpan balik mengindikasikan bahwa kebijakan publik (out put/hasil) mungkin pada akhirnya
mengatasi lingkungan politik dan tuntutan-tuntutan yang berada didalamnya seperti karakter
sistem politik itu sendiri.Buah kebijakan mungkin saja membentuk tuntutan baru, demikian
juga dengan hasilnya (out put) dan demikianlah seterusnya berlangsung secara kontiniu, arus
kebijakan publik yang tak berujung.
I. 5. 4. Upah minimum
Pengertian Upah
Upah adalah kata atau terminologi yang sangat populer di masyarakat kita secara
keseluruhan. Secara awam, upah dapat diartikan sebagai salah satu imbalan yang diterima

25

ibid, hal 54

Universitas Sumatera Utara

oleh seseorang yang telah melakukan kegiatan atau pekerjaan.Upah adalah salah satu unsur
dalam pelaksanaan hubungan kerja, yang mempunyai peranan strategis dalam pelaksanaan
hubungan industrial. Upah diterima pekerja atas imbalan jasa kerja yang dilakukannya bagi
pihak lain. Sehingga upah pada dasarnya harus sebanding dengan kontribusi yang diberikan
pekerja untuk memproduksi barang atau jasa tertentu. Kaitannya dengan bidang
ketenagakerjaan, pengertian pengupahan adalah imbalan yang diterima pekerja atas jasa kerja
yang diberikannya dalam proses memproduksi barang atau jasa di perusahaan. Dengan
demikian, maka pengusaha dan pekerja adalah 2 pihak yang paling berkepentingan dengan
hal-hal yang berkaitan dengan pengupahan.
Pekerja berikut keluarganya, mempunyai ketergantungan terhadap besarnya nilai upah
yang diterima dalam rangka membiayai pemenuhan kebutuhannya sehari-hari, mulai dari
kebutuhan pangan, sandang, pangan dan beragam kebutuhan lainnya. Itulah sebabnya,
pekerja atau serikat pekerja senantiasa mengharapkan bahkan sering menuntut kenaikan upah
kepada pihak pengusaha. Demikian sebaliknya, pihak pengusaha juga mempunyai
kepentingan yang besar dengan upah karena upah merupakan komponen penting pengeluaran
biaya perusahaan. Tidak jarang pengusaha mempunyai anggapan bahwa upah hanya
merupakan biaya semata, sehingga mengakibatkan kehati-hatian yang berlebihan dalam
mengalokasikan anggaran untuk upah.
Selain kedua pihak tersebut di atasyakni pemberi upah dan penerima upah, pihak lain
yang sangat terkait adalah pemerintah sebagai institusi yang mewakili negara dan masyarakat
dalam menjaga dan memelihara kondisi kehidupan sosial, ekonomi dan politik yang sehat.
Pemerintah mempunyai kepentingan untuk menetapkan kebijakan pengupahan guna
menjamin kelangsungan kehidupan yang layak bagi pekerja dan keluarganya dan
meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menjamin peningkatan produktivitas kerja. Di
samping itu, pemerintah juga mempunyai kepentingan untuk menjamin ketersediaan produksi

Universitas Sumatera Utara

barang dan jasa di masyarakat, mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan
kesempatan kerja.
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, upah
adalah hak pekerja/ buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan
dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh, yang ditetapkan dan dibayarkan
menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan yang
berlaku, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan
jasa yang telah atau akan dilakukan 26.
Defenisi upah yang ditetapkan oleh DPPN tahun 1970 adalah suatu penerimaan
sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja untuk suatu pekerjaan atas jasa
yang dilakukan, berfungsi sebagai jaminan kelangsungan hidup yang layak bagi kemanusiaan
dan produksi dinyatakan atau dinilai dalam bentuk uang, yang ditetapkan menurut suatu
persetujuan undang-undang dan peraturan dibayarkan atas dasar suatu perjanjian kerja antara
pemberi kerja dengan penerima kerja.
Komponen upah
Penghasilan pekerja /buruh yang didapat dari pengusaha ada yang berupa upah dan
bukan upah.Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja R.I. No.SE-07/MEN/1990,
penghasilan tersebut terdiri dari upah dan non upah.
Penghasilan upah komponennya terdiri atas 27:
a. Upah pokok yaitu imbalan dasar yang dibayarkan kepada pekerja/buruh menurut
tingkat atau jenis pekerjaan yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
b. Tunjangan tetap yaitu suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan pekerjaan
yang diberikan secara bertahap untuk pekerja/buruh dan keluarganya serta dibayarkan
dalam satuan waktu yang sama dengan pembayaran upah pokok seperti tunjangan
26

Republik Indonesia, Undang-undang No. 13 Tahun 2003, Pasal 1 ayat 3
Maimun, S.H. S. Pd, Hukum Ketenaga Kerjaan Suatu Pengantar, (cet. II, Jakarta, PT. Padnya Paramita,
2007) h. 48
27

Universitas Sumatera Utara

istri,

tunjangan

anak,

tunjangan

jabatan

dan

lain-lain.

Tunjangan

tetapa

pembayarannya dilaukuakan secara teratur dan tidak dikaitkan dengan kehadiran
pekerja atau suatu pencapaian suatu prestasi kerja tertentu.
c. Tunjangan tidak tetap yaitu suatu pembayaran yang secra langsung maupun tidak
langsung berkaitan dengan pekerja/buruh dan keluarganya diberikan serta dibayarkan
menurut satuan waktu yang tidak sama dengan waktu pembayaran upah pokok seperti
tunjangan transport atau tunjangan makan apabila diberikan berdasarkan kehadiran
pekerja/buruh
Penghasilan yang bukan upah terdiri atas 28:
a. Fasilitas yaitu kenikmatan dalam bentuk nyata yan diberikan perusahaan oleh karena
hal-hal khusus atau untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh seperti fasilitas
kendaraan, pemberian makan secara Cuma-Cuma, sarana ibadah, tempat penitipna
bayi, koperasi, kantin dan lain-lain.
b. Bonus yaitu pembayarean yang diterima pekerja dari hasil keuntungan perusahaan
atau karena pekerja menghasilkan hasil kera lebih besar dari target produksi yang
normal atau karena peningkatan produktivitas, besarnya pembagian bonus diatur
berdasarkan kesepakatan.
c. Tunjangan Hari Raya ( THR ), gartifikasi dan pembagian keuntungan lainnya.
Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupaan
yang layak bagi kemanusiaan, oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan
yang melindung pekerja/buruh yang meliputi:
a. Upah minimum
b. Upah kerja lembur
c. Upah tidak masuk kerja Karena berhalangan

28

Ibid., h. 48

Universitas Sumatera Utara

d. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaan
e. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya
f. Bentuk dan cara pembayaran upah
Pengertian Upah minimum
Jaminan hukum atas upah yang layak tercantum dalam UUD 1945 pasal 28D dan
pasal 27 ayat 2 menegaskan bahwa setiap orang berhak mendapatkan upah dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan. Juga UU No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, di mana
dalam pasal 88 menyebutkan bahwa setiap buruh berhak memperoleh penghasilan yang layak
bagi kemanusiaan dan untuk mewujudkannya pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan
yang melindungi buruh 29. diantaranya yaitu upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup
layak (KHL), upah lembur, struktur dan skala upah yang proporsional, dan upah untuk
pembayaran pesangon.
Dalam hubungan industrial, kedudukan upah minimum merupakan persoalan
prinsipil.Upah minimum harus dilihat sebagai bagian sistem pengupahan secara
menyeluruh.Menurut ILO dalam Report of the Meeting of Experts of 1967, Upah minimum
didefinisikan sebagai upah yang memperhitungkan kecukupan pemenuhan kebutuhan makan,
pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan hiburan bagi pekerja serta keluarganya sesuai
dengan perkembangan ekonomi dan budaya tiap negara. Pengertian upah minimum menurut
Permenaker Nomor Per-01/MEN/1992 tentang upah minimum pada pasal 1 ayat 1 yang
menyatakan: upah minimum adalah upah bulanan terendah yang terdiri dari upah pokok
termasuk tunjangan tetap.
Menurut Soedarjadi 30, upah minimum adalah ketetapan yang dikeluarkan oleh
pemerintah mengenai keharusan perusahaan untuk membayar upah sekurang-kurangnya sama

29
30

Republik Indonesia, Undang-undang No. 13 Tahun 2003, Pasal 88
Soedarjadi, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan, Edisi Revisi (cet-V; Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2008) h. 75

Universitas Sumatera Utara

dengan Kebutuhan Hidup Layak pekerja (KHL) kepada pekerja yang paling rendah
tingkatannya.
Pada prinsipnya, sistem penetapan upah minimum dilakukan untuk mengurangi
eksploitasi atas buruh.Ini sesungguhnya berisi kewajiban pemerintah memproteksi
buruh.Intervensi dan peran pemerintah dalam hubungan industrial adalah bentuk penguatan
terhadap posisi tawar yang memang tidak seimbang antara buruh ketika berhadapan dengan
pengusaha.Dengan kata lain, bahwa upah minimum dapat dikatakan sebagai salah satu
instrumen kebijakan pemerintah untuk melindungi kelompok pekerja lapisan paling bawah di
setiap perusahaan agar memperoleh upah serendah-rendahnya sesuai dengan nilai atau harga
kebutuhan hidup minimum.
Pihak-pihak terkait dalam penetapan upah minimum
a. Kepala daerah
Kepala daerah menetapakan upah minimum dengan memperhatikan rekomendasi dari
dewan pengupahan dan berdasarkan usulan komisi penelitian pengupahan dan jaminan sosial
dewan ketenagakerjaan daerah.
b. Dewan pengupahan
Dewan pengupahan adalah lembaga nonstruktural yang bertugas untuk memberikan
rekomendasi

kepada

kepala

pengupahanberkedudukan

di

daerah
tingkat

dalam

menetapkan

nasioanal,

provinsi,

upah

minimum.

Dewan

kabupaten/kota.

Untuk

kabupaten/kota disebut dengan dewan pengupahan kabupaten/kota yang diangkat dan
diberhentikan oleh bupati/walikota. Anggota dewan pengupahan berasal dari unsur
pemerintah, buruh, dan pengusaha dengan komposisi 2:1:1, dimana suara pemerintah menjadi
mayoritas. Untuk tingkat kabupaten/kota dewan pengupahan mempunyai tugas untuk
melakukan survei KHL setiap bulannya. Hasil surveiini akan dijadikan acuan untuk
menentukan besaran UMK/UMP dari masing-masing wilayah.

Universitas Sumatera Utara

c. Komisi penelitian pengupahan dan jaminan sosial dewan ketenagakerjaan daerah
Untuk UMSProp dan UMSKab, komisi penelitian dan jaminan sosial dewan
ketenagakerjaan daerah, mengadakan penelitian serta menghimp