Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK
ETANOL HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DAN
ISOLASI SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF

SKRIPSI

OLEH:
EMILDA KHAIRUNISA
NIM 091524025

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK
ETANOL HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DAN
ISOLASI SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk mencapai
gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
EMILDA KHAIRUNISA
NIM 091524025

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN FRAKSI-FRAKSI EKSTRAK ETANOL
HERBA RANTI (Solanum nigrum Linn) DANISOLASI
SENYAWA DARI FRAKSI AKTIF

OLEH:
EMILDA KHAIRUNISA
NIM 091524025

Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal: Agustus 2011

Pembimbing I

Panitia Penguji

Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt.
NIP 195112231980032002

Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.
NIP 195301011983031004

Pembimbing II,

Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt.
NIP 195112231980032002

Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.
NIP 195103261978022001

Dr. Marline Nainggolan, M.Si., Apt.
NIP 195709091985112001

Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.
NIP 195107231982032001

Disahkan Oleh:
Dekan

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan
karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ”Uji
Aktivitas Antioksidan Fraksi-Fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti (Solanum nigrum
Linn) dan Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif ”.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan
penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta, Mukmil Dumairi
dan Huriyah atas doa dan pengorbanannya dengan tulus dan ikhlas, juga kepada
kakak, abang dan adik tersayang yang selalu setia memberi doa, dorongan dan
semangat.
Penulis juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas
selama masa pendidikan.
2. Ibu Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., dan Prof. Dr. Rosidah, M.Si.,
Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan
nasehat selama penelitian dengan penuh kesabaran hingga selesainya
penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., Ibu Dr. Marline Nainggolan, M.Si.,
Apt., Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang telah
memberikan masukan dan saran selama penelitian hingga selesainya
penyusunan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M. Si., Apt., yang telah memberikan waktu,
membantu dan membimbing selama penelitian dengan penuh kesabaran
hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
5. Ibu Poppy Anjelissa Z Hasibuan, S.Si M.Si., Apt., selaku dosen wali yang
telah memberi bimbingan dan dorongan kepada penulis selama
perkuliahan.
6. Ibu dan Bapak Kepala Laboratorium Penelitian dan Laboratorium
Farmakognosi yang telah memberikan fasilitas, petunjuk dan membantu
selama penelitian.
7. Sahabat-sahabat terbaikku “ten_tuwin” kak ira, kak winda, kak ve, desmi,
rika, nita, ipit, vivi, iza, silvi, deni satria dan teman-teman di Farmasi
Ekstensi 2008-2009 yang namanya tidak dapat ditulis satu persatu, yang
telah begitu banyak membantu dalam proses penelitian hingga selesainya
penulisan skripsi ini.

Medan,

Agustus 2011

Penulis,

Emilda Khairunisa

Universitas Sumatera Utara

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti
(Solanum nigrum Linn) Dan Isolasi senyawa Dari Fraksi Aktif
Abstrak
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksidasi dengan
cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif
yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber antioksidan
alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan. Herba ranti (Solanum nigrum
Linn) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan
flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam herba ranti tersebut mendorong
untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan
sebagai antioksidan alami.
Uji aktivitas antioksidan penangkapan radikal bebas telah dilakukan
terhadap fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan senyawa aktif dari fraksi
etilasetat dari herb ranti. Herba ranti diekstraksi secara maserasi dengan
mengpgunakan etanol 96% diperolah ekstrak etanol. Kemudian difraksinasi
dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform,
etilasetat. Masing-masing fraksi diuji aktivitas antioksidan menggunakan
penangkap radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Fraksi etilasetat
dikromatografi preparatif dengan menggunakan asam asetat 50% sebagai fase
gerak. Kemudian dilihat menggunakan lampu UV dengan penampak bercak 5%
b/v aluminium klorida pada panjang gelombang 366 nm. Isolat diidentifikasi
dengan menggunakan spektrofotometer UV menggunakan pereaksi geser. Isolasi
menghasilkan 2 flavonoid, F1 memiliki harga Rf = 0,48 kemungkinan adalah
flavanon dan F2 memiliki harga Rf = 0.59 kemungkinan adalah flavonol dengan
gugus 4’OH pada cincin B. kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan terhadap
isolat.
Hasil uji aktivitas antioksidan keempat fraksi dengan konsentrasi masingmasing 80 µg/ml diperoleh % peredaman fraksi n-heksan 15,22%, fraksi
kloroform 68,03%, fraksi etilasetat 68,14% dan fraksi sisa 23,44%. Sedangkan
aktivitas antioksidan isolat dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh
% peredaman flavonoid1 (flavanon) 49,70%dan isolat flavonoid 2 (flavonol)
41,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etilasetat mempunyai
aktivitas antioksidan paling kuat.
Kata kunci; herba ranti, Solanum nigrum Linn, antioksidan

Universitas Sumatera Utara

Antioxidant Activities Test of Fraction Ethanol Extract of Ranti Herb
(Solanum nigrum. L) And Isolation of fraction active

Abstract

Antioxidant is a compound which can inhibit oxidation in such a way that
it reacts with reactive free radicals to form a relatively stable radicals. Flavonoid
and phenolic compounds are sources of antioxidant which are commonly found in
plants. Ranti herb (Solanum nigrum L) contains flavonoid and phenolic
compounds and believed possesses a medical use. A further research on the
activity test of antioxidant is encouraged since ranti herb may be used as natural
antioxidant for its flavonoid content
In order to increase the usage of natural antioxidant from food, the
research has been determine the activity testing of flavonoidas antioxidant, nhexane fraction, chloroform fraction, ethylacetate fraction of ranti herb and
isolating active fraction compounds and the activity testing of flavonoidas
antioxidant. Ranti herb was extracted by maceration with ethanol 96%, and
fractionated by liquid extraction using n-hexane, chloroform and solvent. The
ethylacetate fraction was separated by preparative paper chromatography using
50% acetic acid as mobile phase, visualization using 5% b/v aluminium chloride
and 366 nm UV ray. The isolate were identified by UV spectrophotometer using
shift reagent.their antioxidant activities weredone by the DPPH (1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl) scaevenging method. The isolate result obtained two flavonoids,
F1 has Rf = 0.48, indicated that F1 is flavanon and F2 has Rf = 0.59, indicated
that F2 flavonol with hydroxyl grops in position 4’.
The result of antioxidant activity test all of fraction with each
concentration 80 µg/ml showed that n-hexane fraction has %inhibition value is
15.22%, Chloroform fraction is 68.03%, ethylacetate fraction is 68.1%l, and water
fractin is 23,44%. wherever the isolated flavonoid 1 (flavanon) has % inhibition
value is 49.70% and isolated flavonoid 2 (flavonol) is 41.21%. The ethylacetate
exhibited a strong free radical scavenging.
Keyword(s): ranti herb, Solanum nigrum Linn, antioxidant

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ............................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................... iv
ABSTRAK .......................................................................................... vi
ABSTRACT ......................................................................................... vii
DAFTAR ISI ..................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .............................................................................. xii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ xiv
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah ............................................................... 2
1.3 Hipotesis ................................................................................. 3
1.4 Tujuan Penelitian ................................................................... 3
1.5 Manfaat Penelitian................................................................... 3
1.6 Kerangka Pikir Penelitian ........................................................ 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................ 5
2.1 Uraian Tumbuhan ................................................................... 5
2.1.1 Daerah Tumbuh .............................................................. 5
2.1.2 Nama Daerah .................................................................. 5
2.1.3 Sistematika Tumbuhan.................................................... 5

Universitas Sumatera Utara

2.1.4 Marfologi Tumbuhan ...................................................... 6
2.1.5 Kandungan Kimia Tumbuhan dan Kegunaan ................. 6
2.2 Ekstraksi ................................................................................. 7
2.3 Radikal Bebas ......................................................................... 8
2.4 Antioksidan............................................................................. 9
2.4.1 Antioksidan Sintetik ........................................................ 10
2.4.2 Butylated Hydroxytoluent (BHT) ..................................... 11
2.5 DPPH ...................................................................................... 11
2.5.1 Pelarut ............................................................................. 12
2.5.2 Pengukuran Absorbansi-Panjang Gelombang................... 12
2.5.3 Waktu Pengukuran .......................................................... 13
2.6 Spektrofotometri ..................................................................... 13
2.7 Senyawa Flavonoid ................................................................. 14
2.8 Kromatografi .......................................................................... 17
BAB III.METODE PENELITIAN ...................................................... 20
3.1 Alat-alat ................................................................................. 20
3.2 Bahan-bahan .......................................................................... 20
3.3 Pengumpulan dan Pembuatan Simplesia .................................. 21
3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan ..................................... 21
3.3.2 Identifikasi Tumbuhan .................................................... 21
3.3.3 Pembuatan Simplisia....................................................... 21
3.4 Pembuatan Pereaksi ................................................................. 22
3.4.1 Larutan Pereaksi Libermann-Burchard ............................ 22
3.4.2 Larutan Pereaksi Asam Klorida 2N ................................. 22

Universitas Sumatera Utara

3.4.3 Larutan Pereaksi Asam Sulfat 2N .................................. 22
3.4.4 Larutan Pereaksi Aluminium Klorida 5%b/v ................... 22
3.4.5 Larutan Pereaksi Natrium Hidroksida 2N ........................ 22
3.4.6 Larutan Radikal Bebas DPPH 0,5mM ............................. 23
3.5 Pembutan Ekstrak Etanol Dan Ekstraksi Cair-Cair Ekstrak
Etanol ...................................................................................... 23
3.5.1 Pembuatan Ektrak Etanol ................................................ 23
3.5.2 Ekstraksi Cair-cair Ekstrak Etanol .................................. 23
3.6 Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi n-heksan, kloroform,Etilasetat,
sisa dan BHT ........................................................................... 24
3.6.1 Prinsip Metode Penangkapan Radikal Bebas ................... 24
3.6.2 Pembuatan Larutan DPPH 0,5mM .................................. 24
3.6.3 Pembuatan Larutan Induk ................................................ 24
3.6.4 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Sampel Uji dan BHT . 25
3.6.5 Penentuan Persen Peredaman ........................................... 25
3.6.6 Penentuan Nilai IC50 ........................................................................ 26
3.7 Isolasi Senyawa Dari Fraksi Aktif ........................................... 26
3.7.1 Analisis Senyawa dari Fraksi Aktif Secara KKt .............. 26
3.7.2 Pemisahan Senyawa Dari Fraksi Aktif Secara KKt
Preparatif ........................................................................ 27
3.7.3 Uji Kemurnian Terhadap Isolat ....................................... 28
2.7.4 Identifikasi Isolat ............................................................ 28
3.8 Uji Aktivitas Antioksidan Isolat Senyawa Dari Fraksi Aktif .... 29
3.8.1 Pembuatan Larutan Induk Isolat ...................................... 29
3.8.2 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat ........................ 29

Universitas Sumatera Utara

3.8.2.1 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat 1 ................ 29
3.8.2.2 Pengukuran Aktivitas Antioksidan Isolat 2 ................ 30
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

.......................................... 31

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan.................................................... 31
4.2 Hasil Ekstraksi dan Fraksinasi Cair-cair dari Ekstrak Etanol .... 31
4.3 Hasil Uji Aktivtas Antioksidan Fraksi n-heksan, kloroform,
Etilasetat, air dan BHT ............................................................ 31
4.4 Hasil Analisis Senyawa Dari Fraksinasi Secara KKt ................ 33
4.5 Hasil Uji Kemurnian Terhadap Isolat....................................... 34
4.6 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan Isolat .............................. 38
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................ 41
5.1 Kesimpulan ..................................................................... 41
5.2 Saran .............................................................................. 41
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 42
LAMPIRAN ........................................................................................ 44

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

4.1 Aktivitas Antioksidan frksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air
dan BHT dari ekstrak etanol herba ranti .......................................

32

4.2 Aktivitas Antioksidan isolat flavonoid herba ranti .........................

38

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.1 Kerangka fikir Penelitia..................................................................

4

2.1 Rumus Bangun BHT .....................................................................

11

2.2 Rumus Bangun DPPH ...................................................................

11

2.3 Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari
Antioksidan...................................................................................

12

2.4 Kerangka Flavonoid .......................................................................

14

2.5 Struktur Dasar Flavonoid ...............................................................

14

2.6 Struktur Flavon ..............................................................................

15

2. 7 Struktur Flavonol ..........................................................................

15

2.8 Struktur Flavanon...........................................................................

16

2.9 Struktur Flavanonol........................................................................

16

2.10 Struktur Auron .............................................................................

16

2.11 Struktur Kalkon............................................................................

16

2.12 Struktur Isoflavon ........................................................................

17

2.13 Struktur Antosianin ......................................................................

17

3.1. Gambar grafik Konsentrasi Vs persen peredaman fraksi n heksan,
kloroform, etilasetat, air dan isolat flavonoid .................................

33

3.2. Gambar grafik Konsentrasi Vs persen peredaman isolat senyawa
dari fraksi aktif .............................................................................

39

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Gambar Tumbuhan Dan Daun Ranti..............................................

44

2. Hasil Identifikasi Tumbuhan ........................................................

45

3. Bagan Kerja Penelitian ..................................................................

46

4. Bagan Pembuatan Ekstrak Etanol Herba Ranti .............................

47

5. Bagan Ekstraksi Cair-cair Ekstrak Etanol ......................................

48

6. Bagan Analisis Senyawa Dari Fraksi Aktif ...................................

49

7. Gambar Kromatogram Hasil fraksinasi Secara KKt dengan Fase
Diam Kertas Whatman N0. 1.........................................................

50

8. Bagan Pemisahan Senyawa Dari Fraksi Aktif ................................

55

9. Gambar Kromatogram KKt Preparatif Senyawa Dari Fraksi Aktif

56

10. Gambar Kromatogram KKt Dua Arah Isolat Senyawa Dari Fraksi
Aktif .............................................................................................

57

11. Spektrum UV Isolat Flavonoid ......................................................

59

12. Hasil Uji Aktivitas Antioksidan.....................................................

71

13. Perhitungan Nilai IC50 fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat,
sisa/air, isolat flavonoid dan BHT ................................................

74

14. Gambar Alat rotary evaporator, freeze dryer, dan
Spektrofotometer UV-Visibel.......................................................

81

Universitas Sumatera Utara

Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi-fraksi Ekstrak Etanol Herba Ranti
(Solanum nigrum Linn) Dan Isolasi senyawa Dari Fraksi Aktif
Abstrak
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat oksidasi dengan
cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif
yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber antioksidan
alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan. Herba ranti (Solanum nigrum
Linn) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa fenolik dan
flavonoid. Adanya kandungan flavonoid dalam herba ranti tersebut mendorong
untuk melakukan pengujian aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan
sebagai antioksidan alami.
Uji aktivitas antioksidan penangkapan radikal bebas telah dilakukan
terhadap fraksi n-heksan, kloroform, etilasetat, air dan senyawa aktif dari fraksi
etilasetat dari herb ranti. Herba ranti diekstraksi secara maserasi dengan
mengpgunakan etanol 96% diperolah ekstrak etanol. Kemudian difraksinasi
dengan cara ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n-heksan, kloroform,
etilasetat. Masing-masing fraksi diuji aktivitas antioksidan menggunakan
penangkap radikal DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Fraksi etilasetat
dikromatografi preparatif dengan menggunakan asam asetat 50% sebagai fase
gerak. Kemudian dilihat menggunakan lampu UV dengan penampak bercak 5%
b/v aluminium klorida pada panjang gelombang 366 nm. Isolat diidentifikasi
dengan menggunakan spektrofotometer UV menggunakan pereaksi geser. Isolasi
menghasilkan 2 flavonoid, F1 memiliki harga Rf = 0,48 kemungkinan adalah
flavanon dan F2 memiliki harga Rf = 0.59 kemungkinan adalah flavonol dengan
gugus 4’OH pada cincin B. kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan terhadap
isolat.
Hasil uji aktivitas antioksidan keempat fraksi dengan konsentrasi masingmasing 80 µg/ml diperoleh % peredaman fraksi n-heksan 15,22%, fraksi
kloroform 68,03%, fraksi etilasetat 68,14% dan fraksi sisa 23,44%. Sedangkan
aktivitas antioksidan isolat dengan konsentrasi masing-masing 80 µg/ml diperoleh
% peredaman flavonoid1 (flavanon) 49,70%dan isolat flavonoid 2 (flavonol)
41,21%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi etilasetat mempunyai
aktivitas antioksidan paling kuat.
Kata kunci; herba ranti, Solanum nigrum Linn, antioksidan

Universitas Sumatera Utara

Antioxidant Activities Test of Fraction Ethanol Extract of Ranti Herb
(Solanum nigrum. L) And Isolation of fraction active

Abstract

Antioxidant is a compound which can inhibit oxidation in such a way that
it reacts with reactive free radicals to form a relatively stable radicals. Flavonoid
and phenolic compounds are sources of antioxidant which are commonly found in
plants. Ranti herb (Solanum nigrum L) contains flavonoid and phenolic
compounds and believed possesses a medical use. A further research on the
activity test of antioxidant is encouraged since ranti herb may be used as natural
antioxidant for its flavonoid content
In order to increase the usage of natural antioxidant from food, the
research has been determine the activity testing of flavonoidas antioxidant, nhexane fraction, chloroform fraction, ethylacetate fraction of ranti herb and
isolating active fraction compounds and the activity testing of flavonoidas
antioxidant. Ranti herb was extracted by maceration with ethanol 96%, and
fractionated by liquid extraction using n-hexane, chloroform and solvent. The
ethylacetate fraction was separated by preparative paper chromatography using
50% acetic acid as mobile phase, visualization using 5% b/v aluminium chloride
and 366 nm UV ray. The isolate were identified by UV spectrophotometer using
shift reagent.their antioxidant activities weredone by the DPPH (1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl) scaevenging method. The isolate result obtained two flavonoids,
F1 has Rf = 0.48, indicated that F1 is flavanon and F2 has Rf = 0.59, indicated
that F2 flavonol with hydroxyl grops in position 4’.
The result of antioxidant activity test all of fraction with each
concentration 80 µg/ml showed that n-hexane fraction has %inhibition value is
15.22%, Chloroform fraction is 68.03%, ethylacetate fraction is 68.1%l, and water
fractin is 23,44%. wherever the isolated flavonoid 1 (flavanon) has % inhibition
value is 49.70% and isolated flavonoid 2 (flavonol) is 41.21%. The ethylacetate
exhibited a strong free radical scavenging.
Keyword(s): ranti herb, Solanum nigrum Linn, antioxidant

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berubahnya
pola hidup masyarakat berdampak pada munculnya berbagai penyakit degeneratif
seperti penyakit jantung koroner, penyakit kanker, penyakit katarak. Pola
makanan yang tidak benar mengakibatkan terbentuknya radikal bebas dalam
tubuh sehingga muncul beragam penyakit. Radikal bebas adalah senyawa kimia
yang mempunyai satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan. Senyawa ini
bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. Untuk mencapai kestabilan, senyawa ini
harus mencari elektron lain sebagai pasangan (Hernani dan Rahardja, 2005).
Tubuh kita membutuhkan substansi penting yakni antioksidan yang dapat
membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dengan meredam
dampak negatif senyawa ini (Kosasih, 2004).
Antioksidan adalah zat yang dalam kadar rendah mampu menghambat laju
oksidasi molekul target atau senyawa yang mempunyai struktur molekul yang
dapat memberikan elektronnya dengan cuma-cuma kepada molekul radikal bebas
tanpa terganggu sama sekali dan dapat memutus reaksi berantai dari radikal bebas
(Kumalaningsih, 2006).
Flavonoid memiliki sifat antioksidan sebagai penangkap radikal bebas
karena mengandung gugus hidroksil. Karena sifatnya sebagai reduktor, flavonoid
dapat bertindak sebagai donor hidrogen terrhadap radikal bebas. Senyawa ini
banyak terdapat pada berbagai jenis tumbuhan sehingga dengan banyak
mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran yang mengandung flavonoid

Universitas Sumatera Utara

dapat menurunkan resiko terhadap kanker dan penyakit jantung koroner (Silalahi,
2006).
Ranti (Solanum nigrum L) merupakan salah satu sayuran yang sering kita
jumpai dipasar, mudah didapatkan dengan harga yang relatif murah dan sering
dikonsumsi masyarakat serta menjadi sangat bermanfaat sebagai antioksidan jika
dikaitkan dengan kandungan kimianya yaitu senyawa polifenol terutama
flavonoid yang bersifat antioksidan (Anonim, 2010).
Penelitian sebelumnya oleh Ginting, dkk., (2010) menunjukkan bahwa
ekstrak etanol herba ranti mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, steroid,
tannin, saponin, dan glikosida dan mempunyai aktivitas antioksidan kuat dengan
nilai IC50 sebesar 89,26 µg/ml. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik
untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi-fraksi ekstrak etanol herba ranti dan
mengisolasi senyawa dari fraksi aktif.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka perumusan masalah penelitian yaitu:
a. Fraksi mana dari herba ranti yang mempunyai aktivitas antioksidan paling
besar?
b. Apakah golongan senyawa dari fraksi aktif yang mempunyai aktivitas
antioksidan pada simplisia herba ranti?
c. Seberapa besar aktivitas antioksidan senyawa dari fraksi aktif ekstrak
etanol herba ranti?

Universitas Sumatera Utara

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka hipotesis penelitian yaitu:
a. Aktivitas antioksidan terbesar herba ranti diduga terdapat pada fraksi
etilasetat.
b. Golongan senyawa dari fraksi aktif yang mempunyai aktivitas antioksidan
pada simplisia herba ranti adalah flavonoid.
c. Senyawa dari fraksi aktif ekstrak etanol herba ranti memiliki aktivitas
antioksidan kuat.

1.4 Tujuan
Berdasarkan hipotesis diatas maka tujuan penelitian yaitu:
a. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi-fraksi ekstrak etanol herba
ranti.
b. Untuk mengetahui golongan senyawa dari fraksi aktif yang mempunyai
aktivitas antioksidan pada simplisia herba ranti.
c. Untuk mengetahui aktivitas antioksidan isolat senyawa dari fraksi aktif
pada simplisia herba ranti.

1.5 Manfaat
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka manfaat penelitian yaitu:
a. Memperoleh informasi tentang aktivitas antioksidan fraksi-fraksi ekstrak
etanol herba ranti.
b. Memperoleh informasi mengenai golongan senyawa dari fraksi aktif yang
terdapat pada simplisia herba ranti.

Universitas Sumatera Utara

c. Memperoleh informasi tentang aktivitas antioksidan isolat senyawa dari
fraksi aktif yany terdapat pada simplisia herba ranti.

1.6 Kerangka Pikir Penelitian
Variabel Bebas

Variabel Terikat
Fraksi n-heksan
40, 60, 80 µg/ml

Ekstrak Etanol
Herba Ranti

Fraksi kloroform
40, 60, 80 µg/ml
Fraksi etilasetat
40, 60, 80 µg/ml
Fraksi air
40, 60, 80 µg/ml

DPPH
(radikal bebas)

Persen
Peredaman

Isolat Senyawa
dari fraksi Aktif
Gambar 1.1 Kerangka fikir penelitian

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan
Uraian tumbuhan meliputi daerah tumbuh (habitat), nama daerah,
sistematika tumbuhan, morfologi tumbuhan, kandungan kimia dan kegunaan dari
tumbuhan.

2.1.1 Daerah Tumbuh
Ranti (Solanum nigrum Linn) termasuk tumbuhan semak dengan tinggi ±
1,5 m. Di Indonesia, tanaman ini lebih dikenal dengan sebutan ranti atau leunca
pahit (Anonim, 2010).

2.1.2 Nama Daerah
Karo

: Leuh

Aceh

: Rampai

Sunda

: Leunca pahit

Melayu

: Ranti, terung meranti, terung para cicit, terung perat

Maluku

: Boose, Bobose (Depkes RI, 1994)

2.1.3 Sistematika Tumbuhan
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Solanales

Familia

: Solanaceae

Universitas Sumatera Utara

Genus

: Solanum

Spesies

: Solanum nigrum L (Depkes RI, 1994).

2.1.4 Morfologi Tumbuhan
Habitus

: Semak, tinggi ± 1,5 cm

Batang

: Tegak, bulat, lunak, hijau.

Daun

: Tunggal, lonjong, tersebar, panjang 5-7,5 cm, lebar 2,53,5 cm, pangkal runcing, tepi rata, ujung runcing,
pertulangan menyirip, tangkai panjang, ±1 cm, hijau

Bunga

: Majemuk, bentuk corong, berbulu, tangkai ± 1,5 cm,
hijau pucat, kelopak panjang 0,3cm, bertaju lima, hijau,
benang sari putih kehijauan, mahkota lonjong, bentuk
corong, panjang ± 0,4 cm.

Buah

: Bulat, masih muda hijau, setelah tua coklat kehitaman.

Biji

: Bulat pipih, kecil-kecil putih.

Akar

: Tunggang , putih kecoklatan (Depkes RI, 1994).

2.1.5 Kandungan Kimia dan Kegunaan
Buah, daun dan kulit batang ranti (Solanum nigrum Linn) mengandung
saponin dan tannin, disamping itu buahnya juga mengandung alkaloid dan
daunnya mengandung flavonoid (Depkes RI, 1999). Ranti juga mengandung
mineral kalsium, fosfor, besi, vitamin A, vitamin C (Hernani dan Rahardjo, 2005)
Buah ranti berkhasiat sebagai obat penurun tekanan darah tinggi, obat
sembelit dan untuk peluruh air seni (Depkes RI, 1994). Ranti juga berguna
sebagai obat penurun panas, antiradang, antiracun, peluruh dahak, pereda batuk,

Universitas Sumatera Utara

kanker mulut rahim, kanker payudara, lever dan lambung (Hernani dan Rahardjo,
2005).

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dalam pelarut cair. Simplisia
yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain (Depkes RI,
2000).
Beberapa meode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yaitu: ( Depkes RI, 2000)
A. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia dengan cara perendaman
menggunakan pelarut dengan sesekali pengadukan pada temperature kamar.
Maserasi yang dilakukan secara terus menerus disebut maserasi kinetic sedangkan
maserasi yang dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan
penyarian terhadap maserat pertama, dan seterusnya disebut remaserasi.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi
penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperature kamar. Proses
perkolasi terdiri dari tahap pelembaban bahan, tahap perendaman antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus menerus sampai
diperoleh perkolat.
B. Cara panas
1. Refluks

Universitas Sumatera Utara

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan
dengan adanya pendingin balik.
2. Digesti
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinu pada temperatur lebih
tinggi temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur
40-500C.
3. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru,
dilakukan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
4. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperature 900C selama 30
menit.
5. Dekok
Dekok adalah infuse pada waktu yang lebih lama
≥ 30
( menit) dan
temperature sampai titik didih air.

2.3 Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan suatu spesies kimia yang memiliki satu atau
lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Adanya elektron
yang tidak berpasangan menyebabkan spesies tersebut menjadi sangat reaktif
untuk mencari pasangannya dengan menarik atau menyerang elektron dari
senyawa lain sehingga menyebabkan senyawa tersebut akan menjadi radikal juga.
Reaksi oksidasi tidak hanya berkaitan dengan kerusakan mutu produk pangan,

Universitas Sumatera Utara

namun reaksi oksidasi yang terjadi pada berbagai organ dan cairan tubuh juga
berkaitan dengan munculnya penyakit penyakit degeneratif seperti aterosklerosis,
kanker dan liver. Target utama radikal bebas didalam tubuh adalah protein, asam
lemak tidak jenuh dan lipoprotein, serta unsur DNA. Berbagai kemungkinan dapat
terjadi sebagai akibat kerja radikal bebas, misalnya gangguan fungsi sel,
kerusakan struktur sel, molekul termodifikasi yang tidak dapat dikenali oleh
sistem imun, Semua gangguan tersebut dapat memicu munculnya berbagai
penyakit (Kosasih, 2004).

2.4. Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (elektron donor) atau
reduktan. Antioksidan mencegah terjadinya oksidasi atau menetralkan senyawa
yang telah teroksidasi dengan cara menyumbangkan hidrogen atau elektron
(Silalahi, 2006). Senyawa ini mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi
oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal atau dengan mengikat
radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Atas dasar fungsinya, antioksidan
dapat dibedakan menjadi lima yakni: (Kumalaningsih, 2006).
a. Antioksidan primer, merupakan sistem enzim pada tubuh manusia,
contohnya: enzim superoksida dismutase.
b. Antioksidan sekunder, merupakan antioksidan alami yang dapat diperoleh
dari tanaman atau hewan berupa tokoferol, vitamin C, betakaroten,
flavonoid dan senyawa fenolik yang berfungsi menangkap radikal bebas
serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan
yang lebih besar.

Universitas Sumatera Utara

c. Antioksidan tersier (sintetik), dibuat dari bahan-bahan kimia yang
biasanya ditambahkan ke dalam bahan pangan untuk mencegah terjadinya
reaksi autooksidasi. Antioksidan tersier bekerja memperbaiki sel sel dan
jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas. Senyawa antioksidan
sintetik yang secara luas digunakan adalah Butylated Hydroxyanisole
(BHA), Butylated Hydroxytoluen (BHT), propil galat.
d. Oxygen scavenger, yang mampu mengikat oksigen sehingga tidak
mendukung reaksi oksidasi reduksi, misalnya vitamin C.
e. Chelators

atau

sequestrant,

yang

dapat

mengikat

logam

yang

mengkatalisis reaksi oksidasi misalnya asam.
Zat antioksidan yang alami terdapat pada sayur-sayuran, buah-buahan
segar, dan rempah-rempah, yaitu senyawa fenolik atau polifenol yang dapat
berupa golongan flavonoid, turunan asam sinamat beberapa mineral antara lain:
seng, selenium dan tembaga, beberapa vitamin antara lain: vitamin A, vitamin C
dan vitamin E (Anonim, 2010).

2.4.1 Antioksidan Sintetik
Antioksidan sintetik biasanya ditambahkan ke dalam bahan pangan yang
mengandung lemak untuk mencegah terjadinya reaksi autooksidasi. Banyaknya
dikembangkan senyawa antioksidan sintetik dikarenakan antioksidan alami seperti
vitamin E dan vitamin C sangat peka oleh berbagai proses pada pengolahan
senyawa lemak, seperti suhu yang tinggi pada penggorengan atau pemanggangan.
Senyawa antioksidan sintetik yang secara luas digunakan adalah Butylated
Hydroxyanisole (BHA), Butylated Hydroxytoluen (BHT), propil galat. (Branen,
et.al., 2002).

Universitas Sumatera Utara

2.4.2 Butylated Hydroxytoluen (BHT)

Gambar 2.1 Rumus Bangun BHT
Butylated Hydroxytoluen mempunyai berat molekul 220,35 dengan rumus
molekul C15H24O. Butylated Hydroxytoluen mengandung tidak kurang dari 99,0%
C15H24O. Pemerian: Hablur padat, putih, bau khas, lemah. Kelarutan: Tidak larut
dalam air dan propilen glikol, mudah larut dalam etanol, kloroform dan eter.
Penyimpanan dalam wadah tertutup baik (Ditjen POM, 1995).

2.5 DPPH
DPPH merupakan singkatan umum untuk senyawa kimia organik yaitu
1,1-diphenyl-2-picrylhydrazil. DPPH adalah bubuk kristal berwarna gelap terdiri
dari molekul radikal bebas yang stabil. DPPH mempunyai berat molekul 394.32
dengan rumus molekul C18H12N5O6, larut dalam air. Penyimpanan dalam wadah
tertutup baik pada suhu -20°C (Molyneux, 2004).

Gambar 2.2 Rumus Bangun DPPH

Universitas Sumatera Utara

DPPH dapat digunakan untuk menguji kemampuan antioksidan yang
terkandung dalam makanan. Prinsipnya dimana elektron ganjil pada molekul
DPPH memberikan serapan maksimum pada panjang gelombang 516 nm yang
berwarna ungu. Warna ini akan berubah dari ungu menjadi kuning lemah apabila
elektron ganjil tersebut berpasangan dengan atom hidrogen yang disumbangkan
senyawa antioksidan. Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari
antioksidan dapat dilihat pada gambar 2.3

Gambar 2.3 Reaksi antara DPPH dengan atom H netral yang berasal dari
antioksidan.
2.5.1 Pelarut
Metode ini akan bekerja dengan baik menggunakan pelarut metanol atau
etanol karena kedua pelarut ini tidak mempengaruhi dalam reaksi antara sampel
uji sebagai antioksidan dengan DPPH sebagai radikal bebas (Molyneux, 2004).

2.5.2 Pengukuran Absorbansi-Panjang Gelombang
Panjang gelombang maksimum (λmaks) yang digunakan dalam pengukuran
sampel uji sangat bervariasi. Menurut beberapa literatur panjang gelombang
maksimum untuk DPPH antara lain 515 nm, 516 nm, 517 nm, 518 nm, 519 nm,
520 nm. Bagaimanapun dalam praktiknya hasil pengukuran yang memberikan
peak maksimum itulah panjang gelombangnya yaitu sekitar panjang gelombang
yang disebutkan diatas (Molyneux, 2004).

Universitas Sumatera Utara

2.5.3 Waktu Pengukuran
Lamanya pengukuran menurut beberapa literatur, yang direkomendasikan
adalah selama 30 menit, namun dalam beberapa penelitian khususnya belakangan
ini waktu pengukuran yaitu selama 60 menit. Waktu pengukuran digunakan
sebagai parameter untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan sampel sebagai
rujukan untuk digunakan dalam penelitian-penelitian berikutnya (Molyneux,
2004).

2.6 Spektrofotometri
Spektrofotometri merupakan suatu metode pengukuran energi radiasi atau
intensitas sinar yang terserap oleh larutan. Spektrofotometri UV-Vis (Ultra VioletVisibel) adalah salah satu bentuk spektrofotometri absorbsi. Pada cara ini, cahaya
atau gelombang cahaya elektromagnetik (sinar UV-Vis) berinteraksi dengan zat
dan dilakukan pengukuran besarnya cahaya (gelombang elektromagnetik) yang
diabsorbsi (Benson, 1987).
Berdasarkan panjang gelombang spektrofotometer dibagi dua yaitu
spektrofotometer ultraviolet dengan panjang gelombang 200-400 nm,digunakan
untuk senyawa yang tidak berwarna dan spektrofotometri visibel (sinar tampak)
dengan panjang gelombang 400-800 nm, digunakan untuk senyawa yang
berwarna (Rohman, 2007).
Spektrofotometer

pada

dasarnya

terdiri

atas

sumber

cahaya,

monokromator, kuvet untuk zat yang diperiksa, detektor, penguat arus (amplifier)
dan alat ukur atau alat pencatat (recorder).

Universitas Sumatera Utara

2.7 Senyawa flavonoida
Senyawa flavonoida merupakan senyawa polifenol yang mengandung 15
atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam konfigurasi C6 – C3 – C6,
yaitu 2 cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan 3 karbon yang dapat atau
tidak dapat membentuk cincin ketiga (Markham, 1988).

Gambar 2.4 Kerangka flavonoida
Flavonoida terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran dari flavonoida
yang berbeda golongan dan jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal.
Flavonoida pada tumbuhan terdapat dalam berbagai bentuk struktur molekul
dengan beberapa bentuk kombinasi glikosida. Oleh karena itu, dalam
menganalisis flavonoida lebih baik memeriksa aglikon yang telah terhidrolisis
daripada dalam bentuk glikosida dengan strukturnya yang rumit dan kompleks
(Harborne, 1987).
Sistem penomoran untuk turunan flavonoida adalah:

Gambar 2.5 Struktur dasar flavonoida
Senyawa flavonoida dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

1. Flavon dan flavonol
Flavon dan flavonol merupakan senyawa yang paling tersebar luas dari
semua pigmen tumbuhan kuning. Flavon berbeda dengan flavonol karena pada
flavon tidak terdapat gugus 3-hidroksi. Hal ini mempengaruhi serapan UV-nya,
gerakan kromatografinya, serta reaksi warnanya dan karena itu flavon dapat
dibedakan dari flavonol berdasarkan ketiga sifat tersebut. Hanya ada dua flavon
yang umum, yaitu apigenin dan luteolin. Jenis yang paling umum adalah 7glikosida. Flavonol dalam tumbuhan sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3glikosida. Aglikon flavonol yang umumnya dijumpai yaitu kemferol, kuersetin,
dan mirisetin (Harborne, 1987).

Gambar 2.6 Struktur flavon

Gambar 2.7 Struktur flavonol

2. Flavanon dan flavanonol
Senyawa ini terdapat hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan
flavonoida lain. Flavanon dan flavanonol tidak berwarna atau hanya kuning
sedikit. Flavanon (dihidroflavon) sering terjadi sebagai aglikon, tetapi beberapa
glikosidanya

dikenal,

misalnya

hesperidin

dan

naringin.

Flavanonol

(dihidroflavonol) merupakan flavonoida yang kurang dikenal, dan senyawa ini
tidak diketahui terdapat sebagai glikosida (Robinson, 1995).

Universitas Sumatera Utara

O

Gambar 2.8 Struktur flavanon

Gambar 2.9 Struktur flavanonol

3. Auron dan kalkon
Auron berupa bercak kuning, dengan sinar lampu UV mereka tampak
berbeda, warna auron kuning dan berubah menjadi merah jingga bila diuapi
amonia. Kalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat dengan sinar
lampu UV. Salah satu kalkon yang umum, yaitu: butein, dan salah satu auron
yang umum, yaitu: aureusidin. Keduanya terdapat di alam sebagai glikosida dan
terdapat khas dalam suku Compositae (Harborne, 1987).

O
O

Gambar 2.10 Struktur auron

Gambar 2.11 Struktur kalkon

4. Isoflavon
Isoflavon sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi
warna apapun, beberapa isoflavon memberikan warna biru muda cemerlang
dengan sinar lampu UV bila diuapi amonia, tetapi kebanyakan yang lain tampak
sebagai bercak lembayung pudar yang dengan amonia berubah menjadi coklat
pudar. Isoflavon merupakan golongan flavonoida yang penyebarannya terbatas
dan jumlahnya sedikit (Harborne, 1987).

Universitas Sumatera Utara

O

Gambar 2.12 Struktur isoflavon
5. Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar
luas dalam tumbuhan, merupakan pembentuk dasar pigmen warna merah, ungu
dan biru pada tanaman, terutama sebagai bahan pewarna bunga dan buah-buahan.
Sebagian besar antosianin adalah glikosida dan aglikonnya disebut antosianidin,
yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianin yang paling
umum adalah sianidin yang berwarna merah lembayung (Harborne, 1987;
Robinson, 1995; Sastrohamidjojo, 1996).

Gambar 2.13 Struktur antosianidin

2.8 Kromatografi
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan perbedaan
perpindahan dari komponen-komponen senyawa diantara 2 fase yaitu fase diam
(dapat berupa zat cair atau zat padat) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat
cair) (Gritter, 1991).
Kromatografi dapat dibedakan atas berbagaimacam tergantung pada
pengelompokannya. Berdasarkan pada alat yang digunakan, kromatografi dapat

Universitas Sumatera Utara

dibagi atas: kromatografi kertas (KKt), kromatografi lapis tipis (KLT),
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi gas (KG) (Gandjar,
2007).
Kromatografi kertas
Keuntungan utama KKt ialah kemudahan dan kesederhanaan pada
pelaksanaan pemisahan, yaitu hanya pada lembaran kertas saring yang berlaku
sebagai medium pemisahan. Senyawa pada KKt biasanya dideteksi sebagai bercak
berwarna atau bercak berfluoresensi pada lampu UV setelah direaksikan dengan
penampak bercak (Harborne, 1987).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemisahan secara
KKt (Sastrohamidjojo, 1985):
1. Metode pemisahan (penaikan, penurunan atau mendatar).
2. Macam dari kertas.
3. Pemilihan dan pembuatan pelarut (fase gerak).
4. Kesetimbangan dalam bejana yang dipilih.
5. Pembuatan cuplikan.
6. Waktu pengembangan.
7. Metode deteksi dan identifikasi
Fase diam pada KKt digunakan sehelai kertas dengan susunan serabut dan
tebal yang sesuai. Pemisahan dapat dilakukan menggunakan pelarut tunggal atau
menggunakan 2 pelarut yang tidak dapat bercampur, fase gerak merambat
perlahan-lahan melalui fase diam yang membungkus serabut kertas.
Fase gerak biasanya merupakan campuran yang terdiri atas 1 komponen
organik yang utama air dan berbagai tambahan seperti asam-asam, basa dengan

Universitas Sumatera Utara

tujuan untuk memperbesar kelarutan dari beberapa senyawa atau untuk
mengurangi kelarutan (Sastrohamidjojo, 1985).
Gerakan noda suatu senyawa dalam pengembang tertentu disebut bilangan
Rf senyawa itu dalam pengembang tersebut. Bilangan Rf didefinisikan sebagai
jarak yang ditempuh oleh senyawa dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh garis
depan fase gerak (diukur dari garis awal), karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil
dari 1,0. Membanding bilangan Rf flavonoida yang belum dikenal dengan Rf yang
telah dikenal dan sejenis merupakan cara yang berguna untuk identifikasi
flavonoid yang tidak ada di laboratorium (Markham, 1988).
Menurut Sastrohamidjojo (1985), faktor-faktor yang mempengaruhi harga
Rf adalah struktur kimia dari senyawa yang dipisahkan, suhu, kesetimbangan,
sifat dari penyerap, tebal dan kerataan lapisan penyerap, pelarut, kertas, sifat dari
campuran, derajat kejenuhan dari bejana pengembangan, tekhnik percobaan dan
jumlah cuplikan yang digunakan.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental.
Penelitian meliputi pengumpulan bahan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak
etanol, fraksinasi, uji aktivitas antioksidan fraksi-fraksi, analisis Kromatografi
Kertas (KKt), uji kemurnian isolat, identifikasi isolat secara spektrofotometer UV
dengan penambahan pereaksi geser (shift reagent) dan uji aktivitas antioksidan
senyawa dari fraksi aktif secara spektrofotometri sinar tampak. Penelitian
dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Laboratorium Penelitian Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.1 Alat
Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, blender (National),
desikator, freeze dryer (Modulio), krus porselin, lemari pendingin, lemari
pengering, neraca kasar (O’haus), neraca listrik (vibra AJ), oven listrik (fisher
scientific), penangas air, rotary evaporator (Buchi 461), seperangkat alat
kromatografi kertas, seperangkat alat refluks, lampu UV 366 nm (camag),
Spektrofotometer UV-Vis (Shimadzu) .

3.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan adalah herba ranti (Solanum nigrum L.)
Bahan-bahan kimia yang digunakan, kecuali dinyatakan lain berkualitas pro
analisis 1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl (DPPH) (sigma), Produksi Merk : n-heksan,
kloroform, etilasetat, etanol 96%, n-butanol, asam klorida pekat, asam sulfat

Universitas Sumatera Utara

pekat, asam asetat anhidrat, aluminium (III) klorida, asam asetat glasial, air suling,
pipa kapiler kertas whatmann No.1 dan No.3.

3.3 Pengumpulan Dan Pembuatan Simplisia

3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan
Metode pengambilan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif yaitu
tanpa membandingkan dengan bahan tumbuhan yang sama dari daerah lain.
Bahan yang digunakan adalah herba ranti segar yang diambil dari Pasar Sore,
Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara. Gambar tumbuhan dan daun ranti
dapat dilihat pada Lampiran 1 Halaman 43.

3.3.2 Identifikasi Tumbuhan
Identifikasi tumbuhan dilakukan oleh saudara Rina Khor (2008) di
Herbarium Bogoriense, Bidang Botani, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor, Jl. Raya Jakarta-Bogor. Hasil identifikasi
tumbuhan dapat dilihat pada Lampiran 2 halaman 44.

3.3.3 Pembuatan simplisia
Bahan tumbuhan yang digunakan adalah herba ranti sebanyak 3,5 kg.
Herba ranti dibersihkan dari bagian yang tidak diinginkan, lalu dicuci dibawah air
mengalir hingga bersih, ditiriskan. Kemudian diangin-anginkan, ditimbang
beratnya lalu dikeringkan pada lemari pengering. Setelah kering ditimbang
sebagai berat kering 0,64 kg. Kemudian diserbuk dengan blender dan disimpan
dalam wadah plastik, lalu disimpan terlindung dari cahaya matahari. Bagan kerja
penelitian dapat dilihat pada Lampiran 3 halaman 45.

Universitas Sumatera Utara

3.4 Pembuatan Pereaksi

3.4.1 Larutan Pereaksi Liebermann-Burchard
Asam sulfat pekat sebanyak 5 ml dicampurkan dalam 50 ml etanol 96%,
lalu ditambahkan 5 ml asam asetat anhidrat ke dalam campuran tersebut (Ditjen
POM, 1995).

3.4.2 Larutan Pereaksi Asam Klorida 2 N
Larutan asam klorida pekat sebanyak 17 ml ditambahkan air suling hingga
100 ml (Ditjen POM 1995).

3.4.3 Larutan Pereaksi Asam Klorida 6 N
Asam klorida pekat sebanyak 50 ml diencerkan dalam air suling hingga
100 ml (Markham, 1988).

3.4.4 Larutan Pereaksi Asam Sulfat 2 N
Larutan asam sulfat pekat sebanyak 5,5 ml ditambahkan air suling sampai
100 ml (Ditjen POM, 1995).

3.4.5 Larutan Pereaksi Aluminium klorida 5%b/v
Aluminium (III) klorida sebanyak 5 g dilarutkan dalam metanol hingga
100 ml ( Markham, 1988).

3.4.6 Larutan Pereaksi Natrium hidroksida 2N
Natrium hidroksida sebanyak 8,002 g dilarutkan dalam air suling bebas
karbondioksida hingga diperoleh larutan 100 ml (Ditjen POM, 1995).

Universitas Sumatera Utara

3.4.7 Larutan Radikal Bebas DPPH 0,5 mM (Konsentrasi 200 µg/ml)
Sebanyak 19,7 mg DPPH ditimbang kemudian dilarutkan dalam metanol
hingga diperoleh volume larutan 100 ml (Molyneux, 2004).

3.5 Pembuatan Ekstrak Etanol Dan Ekstraksi Cair-cair Ekstrak Etanol
3.5.1 Pembuatan Ekstrak Etanol
Pembuatan ekstrak dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 96%.
Cara kerja:
Sebanyak 600 g serbuk simplisia dimasukkan ke dalam bejana tertutup,
dituangi dengan 4500 ml etanol 96% ditutup, dibiarkan selama 5 hari terlindung
dari cahaya sambil sesekali diaduk. Setelah 5 hari campuran tersebut diserkai.
Ampas dicuci dengan etanol 96% secukupnya hingga diperoleh 6000 ml maserat.
Pin

Dokumen yang terkait

Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi N-Heksana, Etilasetat Dan Etanol Rumput Laut Coklat (Sargassum Polycystum C.Agardh) Terhadap Bakteri Escherichia Coli Dan Staphylococcus Aureus

5 45 83

Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksana, Etilasetat Dan Etanol Daun Kecapi (Sandoricum koetjape Merr.) Terhadap Beberapa Bakteri Penyebab Penyakit Kulit Secara In Vitro

2 46 111

Isolasi senyawa aktif antioksidan dari ekstrak Etil Asetat Herba Kemangi (Ocimum americanum L.)

2 14 90

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI-FRAKSI DARI EKSTRAK ETANOL DAUN KELAPA Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Fraksi-Fraksi Dari Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Dan Bacill

0 2 13

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI-FRAKSI DARI EKSTRAK ETANOL DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Fraksi-Fraksi Dari Ekstrak Etanol Daun Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aur

0 1 18

UJI AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL EKSTRAK ETANOL, FRAKSI-FRAKSI DARI KULIT BUAH UJI AKTIVITAS PENANGKAP RADIKAL EKSTRAK ETANOL, FRAKSI-FRAKSI DARI KULIT BUAH DAN BIJI RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) SERTA PENETAPAN KADAR FENOLIK DAN FLAVONOID TOTALNYA.

0 1 18

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI FRAKSI AKTIF TERHADAP ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN KERAI PAYUNG (Filicium decipiens).

2 31 5

ISOLASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DARI FRAKSI BUTANOL AKAR TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber Linn.).

0 3 6

PENENTUAN LC50 DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI-FRAKSI DARI TANAMAN SELEDRI (Apium graveolens L.).

0 1 6

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DARI HERBA Pilea microphylla (L) Liebm.

0 0 6

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23