Pengertian dan Sejarah Aikidou 1 Pengertian Aikidou

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP AIKIDOU 2.1. Pengertian dan Sejarah Aikidou 2.1.1 Pengertian Aikidou Seperti yang sudah diketahui, beladiri terbagi dari berbagai cabang seperti karate, wushu, judou, aikidou, capuera, krav maga dan masih banyak cabang lainnya yang tidak akan ada habisnya bila disebutkan. Setiap nama ilmu beladiri dari setiap cabang memiliki arti bagi setiap nama yang disandang untuk memberitahu dari cabang apakah beladiri itu. Misalnya seperti dari cabang karate yang mana arti umum dari karate itu sendiri adalah kara 空 yang berarti kosong dan te(手)yang berarti tangan, jadi karate itu adalah ilmu beladiri yang hanya menggunakan tangan kosong untuk melindungi diri sendiri dengan kata lain senjata yang digunakan tidak lain adalah bagian dari tubuh sendiri seperti kepalan tinju, jari, sikut, sisi tangan, tumit, lutut dan bagian tubuh lainnya. Mengenai arti nama dari tiap cabang aliran beladiri, aikidou juga mempunyai pengertian sendiri. 合気道 aikidouyang terdiri dari 3 huruf kanji yaitu, 合 - ai - bergabung, menyatukan, menyelaraskan 気 - ki - jiwa, energi kehidupan 道 - dō - jalan, cara Universitas Sumatera Utara Maka bila dijabarkan, aikidou merupakan jalan atau cara untuk menyelaraskan dan menggabungkan seluruh energi kehidupan yang terdapat di dalam jiwa dan alam sehingga tercipta satu keadaan dimana antara pribadi, perkelompok dan lingkungan mencapai keadaan yang dapat saling mengerti satu dengan yang lainnya. Dari kesimpulan semua penjelasan diatas, maka aikidou dapat didefinisikan sebagai : ‘’ Sebagai suatu cara yang digunakan untuk mengolah tubuh dan pikiran dengan menggunakan energi kehidupan sekaligus sebagai metode yang digunakan untuk mempertahankan diri dengan cara memanfaatkan energi tersebut’’ NipponBudokan 2009: 209. Sedangkan pengertian aikidou dalam kamus kontemporer bahasa Indonesia 2002:22 adalah gaya berkelahi Jepang tanpa menggunakan senjata,tapi dengan cara bergelut,lemparmelempar disertai gerakan-gerakan yang dibuat agar lawan kehilangan keseimbangan. Setiap nama aliran beladiri yang ada seperti aikidou, karate, kempou, hapkidou dan lainnya mempunyai arti masing-masing dari nama-nama yang digunakan sebagai identitas dari setiap aliran, selain itu terdapat kisah dan sejarah yang panjang dibaliknya hingga seperti yang kita ketahui sekarang ini.

2.1.2 Sejarah Aikidou

合気道aikidou lahir di Jepang sebelum perang dunia ke dua. Akar seni bela diri ini adalah seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu yang sudah ada di Jepang Universitas Sumatera Utara sejak beberapa abad yang lalu. 大 と 竜 愛 器 呪 術 daito ryu aiki jujutsumerupakan seni perang dan seni bela diri yang hanya dikuasai oleh orang- orang tertentu dari kalangan istana kerajaan, terutama samurai pilihan di istana dan tidak sembarang orang dapat mempelajarinya hingga satu saat seni bela diri ini mulai diperkenalkan kepada publik oleh Sokaku Takeda. Salah satu murid dari SokakuTakeda adalah Morihei Ueshiba yang dikemudian hari mengembangkan aikidou. Seperti yang sudah disebutkan diatas, akar ilmu beladiri aikidou aslinya berasal dari sebuah tradisi beladiri kuno yang turun temurun dan hanya dimiliki oleh keluarga istana, yaitu Daito Ryu Aiki-Jujutsu atau ju-jutsu. Dalam tradisi lama, jutsu berarti sebuah art atau seni sehingga bentuk lama ini mempunyai pakem-nya sendiri sebagai sebuah tradisi dengan tatanan gerak tertentu. 大と daito adalah sebuah nama yang merujuk kepada nama sebuah istana, yaitu daito. 大 と daito merupakan istana milik putra keturunan Kaisar Seiwabernama Minamoto Genji Yohimitsu. 義光Yoshimitsu diwariskan ilmu ini oleh putra ke enam Kaisar Seiwa yaitu Pangeran Teijun yang sangat menggemari ilmu beladiri. Asal-usul aikidou dapat di telusuri pada abad 9, yaitu jaman feodal di Jepang. Teknik-teknik ini berawal dari Pangeran Teijun, anak ke 6 dari Kaisar Seiwa 850-880 dan diturunkan dari generasi ke generasi dari keluarga Minamoto. Pada waktu generasi berikutnya, teknik-teknik itu akhirnya diberikan pada Shinra Saburo Yoshimitsu, adik laki-laki Yishiie Minamoto. 義 光 Yoshimitsu adalah seseorang yang mempunyai bakat dan kemampuan yang hebat. Konon sejarahnya berkata bahwa Yoshimitsu mengembangkan banyak Universitas Sumatera Utara teknik-tekniknya dengan mengawasi seekor laba-laba yang dengan ahlinya menjebak serangga yang besar ke dalam sarangnya yang halus. Kemudian Yoshimitsu menamai teknik-teknik temuannya dengan nama Daito-ryu Aikijutsu diambil dari nama rumahnya Daito Mansion dan mengambil nama dari sistem aikijutsu karena dasar dari tehnik ini adalah dari aikijutsu. Teknik Daito-ryu ini disampaikan secara rahasia kepada anggota-anggota keluarganya dan pembantu-pembantu, dimana akhirnya mencapai Sokaku Takeda 1859-1943, yang kemudian memainkan peran yang penting dari dasar-dasar aikidou yang modern. Sistem Daito-ryu yang diberikan kepada Sokaku Takeda, jelas berbeda dari yang diajarkan beribu-ribu tahun sebelumnya. Seni beladiri yang dipelajari oleh Takeda tidak diketahui kecuali bahwa latihannya dilakukan di Ono-Ha Itto-ryu Kenjutsu. Semua bukti-bukti mengarah kepada suatu kesimpulan bahwa seni Daito-ryu dari Takeda merupakan suatu perpaduan dari pengalamannya yang luas dalam memberikan pelatihan dan inovasi-inovasi teknis sebagaimana adanya mereka yang merupakan suatu kelanjutan tetap dari tradisi beladiri suku Aizu. Salah satu murid Takeda adalah Morehei Ueshiba, yang merupakanpenemu dari aikidou. 植芝Ueshiba yang dilahirkan pada tanggal 14 Desember 1882 bertemu dengan Takeda tahun 1915 setelah menghadiri suatu seminar selama 10 hari yang diadakan oleh Takeda. Dia sangat terkesan melihat teknik-teknik Takeda sehingga dia langsung mempelajari Daito-ryu. Sebagai tambahan, Ueshiba juga mempelajari Kito-ryu Jujitsu, Yagyu Shinkage-ryu Universitas Sumatera Utara Kenjutsu dan ilmu beladiri lainnya yang menggunakan tangan kosong atau senjata. 植 芝 Ueshiba adalah orang yang juga mempelajari spiritual secara mendalam dan pengikut dari sekte Omotokyo dari agama Shinto. Karena itu pengembangan aikidou sangat dipengaruhi oleh kepercayaan sekte Omotokyo ini.Omotokyo adalah salah satu sekte Shinto yang ajaran utamanya tentang Pengajaran asal muasal dari segala sesuatu. Ajaran sekte ini merupakan sinkretisme perpaduan antara mitologi-mitologi Shinto, Shamanisme, meditasi pernafasan dan pemujaan www.indonesiaaikikai.com. Pada tahun 1931, Ueshiba mendirikan Kobukan dojo atau dojo neraka. Saat itu Ueshiba mencapai puncak kejayaan fisiknya. 合 気 道 aikidou diformulasikan sejak akhir 1920-an sampai dengan 1930-an hingga pada bentuknya yang sekarang oleh Morihei Ueshiba 植芝盛 平 Ueshiba Morihei, 14 Desember 1883-26 April 1969, disebut juga sebagai o- sensei 大先生, 翁先生 guru besar, Ueshiba memperkaya dan mengembangkan aikidou dengan berbagai koryu seni beladiriseni pedang lama selain basisnya Daito ryu,sehingga menjadi suatu seni beladiri yang unik. 植芝盛平 Ueshiba Morihei sebagai seorang murid merupakan murid yang berbakat dan mengabdi pada gurunya yaitu Sokaku Takeda. Sokaku Takeda memberi lisensi kelengkapan ilmunya kepada Morihei Ueshiba dalam bentuk mokuroku. Dengan lisensi tersebut Morihei Ueshiba mendirikan sekolah pertamanya dengan nama UeshibaRyu Daito Aiki jutsu yang kemudian berubah nama menjadi Aiki Budo Universitas Sumatera Utara dan akhirnya disempurnakan dengan nama Aikidou.Dojo pertama aikidou didirikannya di Tokyo dan hingga saat ini masih tetap ada dan bernama Aikikai Hombu Dojo, sebagai pusat pengembangan aikidou di seluruh dunia. 植芝 Ueshibamenginginkan aikidou tidak hanya sebagai sebuah seni beladiri, tetapi juga ekspresi falsafah pribadinya yang bersifat damai dan universal. Seumur hidupnya, Ueshiba dan murid-muridnya telah menyebarkan aikidou dengan cara mendidik dan menciptakan praktisi beladiri ini di seluruh dunia. Salah satu dari murid-muridnya pada waktu itu adalah Gozo Shioda yang kemudian mendirikan Yoshinkan Aikidou. 植芝 Ueshiba sangat dihargai oleh ahli-ahli beladiri lainnya pada waktu itu termasuk Jigoro Kano pendiri judo yang mengirim banyak murid-murid judonya yang hebat untuk mempelajari aikidou. Termasuk dalam hal ini Kenji Tomiki, yang kemudian mengembangkan suatu olahraga dengan mengambil style Aikido-Tomiki dan Mochizuki Minoru yang membentuk Yoseikan Budo. Tahun 1942, Ueshiba pindah ke Iwama dimana Ia membuka sebuah dojo danmendirikan tempat suci Aiki. Pada tahun 1945, Aikikai didirikan walaupun semua bentuk Budo telah dilarang setelah perang dunia ke 2. Pusat dojo Aikikai di dirikan di Tokyo sedangkan Ueshiba tetap tinggal di dojo diIwama. 度所dojo yang di Tokyo di urus oleh anaknya Kisshomaru 1921- 1999 dan instruktur-instruktur utama lainnya seperti Tohei Kohici yang kemudianmembentuk Shin-shin Toitsu Aikidou lebih terkenal dengan nama Ki SocietyAikidou. Universitas Sumatera Utara Sejalan dengan perjalanan hidup Ueshiba Morihei, beliau mengembangkan seni bela diri Daito Ryu Aiki Jujutsu ini menjadi sebuah bela diri yang tujuannya lebih kepada melindungi dengan kasih sayang. 合気道 aikidou diciptakan karena kemuakanMorihei Ueshiba akan perang dan banyaknya korban yang beliau lihat dan alami semasa perang. Sehingga sewaktu pulang kembali ke Jepang setelah ditugaskan berperang, beliau berpikir untuk menciptakan suatu seni beladiri yang lebih melindungi dari pada merusak dan menghancurkan. 合気道 aikidoumerupakan seni beladiri yang berdasarkan kasih, dan tidak mengenal kekerasan. 植芝盛平 Ueshiba Morihei membagi ilmu beladiri dalam 2 kelompok yaitu ilmu beladiri spiritual dan ilmu beladiri material. Ilmu beladiri material tertanam pada objek-objek fisik. Ilmu beladiri seperti itu adalah sumber pertikaian yang tiada akhir karena berdasarkan pertentangan dua kekuatan. Ilmu beladiri spiritual memandang keadaan pada tahap yang lebih tinggi. Dasarnya adalah cinta dan memandang kesegala hal dengan totalitas mereka. Ilmu ini tidak berbentuk dan tidak pernah mencari musuh Ueshiba 2004:52. Nama aikidou sendiri memiliki arti yang mencerminkan harapan dari pendirinya. 合気道aikidou terdiri dari 3 buah karakter kanji Jepang yaitu ai yang berarti keharmonisan gerakan tubuh dengan jiwa,kiyang berarti energi kehidupan atau disebut juga dengan chidan doyang berarti jalan. Jadi aikidou berarti jalan untuk mengharmoniskan gerakan tubuh dan jiwa dengan energi kehidupan. Dengan kata lain aikidoumerupakan suatu jalan untuk mengharmoniskan semua yang ada di kehidupan kita. Universitas Sumatera Utara Pada tanggal 26 April 1969, Sensei Morehei Ueshiba meninggal pada umur 86 yang disebabkan oleh penyakit kanker meskipun demikian Ueshibatelah meninggalkan teknik beladiri dan ajaran tentang spirit yang sekarang diajarkan di seluruh dunia dan hingga saat ini aikidou tetap berkembang pesat setelah kematiannya. 2.2.Filosofi Aikidou Filosofi aikidou sarat akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar teknik belaka. 合 気 道 aikidou mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. 合気道aikidou bukanlah agama tetapi pendiri aikidou pernah berkata bahwa dengan mempelajari aikidou, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajarinya. 合気道aikidou mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama celana khas Jepang yang dikenakan oleh praktisi aikidou yang telah tinggi tingkatannya.Pada hakama terdapat 7 buah ajaran samurai yang mewakili 7 pilar BudoJalan Ksatria atau disebut juga dengan Bushidou. 7 ajaran ini meliputi : 1. 義 Gi The Truth: Kebenaran Universitas Sumatera Utara Kebenaran adalah titik kulminasi pencarian manusia yang tertinggi dalam hidupnya. Karena nilai kebenaran yang tertinggi hanya ada satu dan satu-satunya, yaitu Tuhan. Manusia dalam perjalanan hidupnya akan hampa dan tidak berarti apapun jika ia tidak menyadari bahwa ia merupakan bagian yang sangat kecil dari sekian banyak ciptaan Tuhan yang tidak terhitung jumlahnya. Manusia dengan egonya terkadang menjadikan dirinya seakan-akan poros dunia dan alam semesta. Pada kenyataannya, manusia hanyalah sebutir debu ditengah gurun pasir. Datang dan perginya tidak berarti apa-apa kecuali dia telah menemukan makna sejati kehidupannya di dunia. Dalam budo, nilai spiritual merupakan esensi ajaran serta tujuan akhir dari perjalanan seorang budoka. Sehingga orang-orang yang mempelajari budo, namun ia berpaling dari agama maka pada dasarnya ia tidak mengerti apa yang ia pelajari. Hal ini ditegaskan oleh O-Sensei ‘’ tidak ada di dunia ini yang tidak dapat mengajari kita. Untuk sebagian orang contohnya, akan menjauhi atau tidak mau mengerti dari ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa mereka tidak dapat mengerti arti mendalam dari pengajaran ini. Ajaran agama berisi tentang sesuatu yang mendalam dan kebijaksanaan. Anda harus mengerti tentang hal ini dan menerapkan pengertian anda melalui budo’’. Maka pahamilah budo sebagai salah satu jalan untuk menerapkan ajaran spiritual dalam kehidupan sehari-hari. 2. 名誉 Meiyo Respect and Honor: Menghormati dan Kehormatan Sikap menghormati merupakan sikap yang lekat dengan karakter masyarakat Jepang. Hal ini dapat dilihat dari budaya rei, yaitu membungkukkan badan sebagai tanda menghormati seseorang. Dalam budo sikap seperti ini Universitas Sumatera Utara merupakan gambaran nilai penghormatan bagi para samurai, dengan kata lain seorang samurai hanya dapat dikatakan memiliki sebuah kehormatan dalam dirinya bila ia tahu bagaimana cara menghormati orang lain. Dalam falsafah moral ini sangat penting untuk mempraktekkan cara bersikap dengan baik dan benar khususnya kepada orang yang statusnya jauh diatas kita seperti orangtua kita, guru, atasan atau tuan pada masa dahulu. Dikatakan bahwa bagi budoka, menyayangi orang tua adalah hal yang sangat fundamental. Jika seorang tidak lagi memperdulikan orang tuanya, maka ia bukanlah orang yang baik tidak perduli apakah ia luar biasa pandai, tampan atau bertutur kata dengan bagus. Maksudnya adalah untuk paham bushidou, kita harus menjalankannya dari akar hingga ranting. Jika tidak dapat memahami dari akar hingga rantingnya maka kita tidak akan tahu apa kewajiban kita. Seseorang yang tidak tahu kewajibannya tentu sangat tidak layak untuk disebut samurai. Mengetahui akar hingga ranting berarti memahami sesadar-sadarnya bahwa orang tua itu pada dasarnya adalah akar dari tubuh kita dan batang tubuh kita adalah pada dasarnya cabang dan ranting dari tulang dan daging dari orang tua kita. Adalah karena hasrat untuk membentuk diri kita yakni ranting maka muncul keadaan di mana kita mengabaikan orang tua yakni akarnya. Keadaan tidak baik seperti itu muncul karena kegagalan memahami filosofi akar dan ranting Shigesuke Taira 1999:8-9. Terhadap guru kita juga harus menghormati mereka. Guru dalam bahasa Jepang disebut sensei. Artinya orang yang terlahir lebih dulu dan lebih lanjut memiliki pemahaman sebagai orang yang memiliki pengetahuan dan Universitas Sumatera Utara kebijaksanaan tentang kehidupan lebih mendalam dari yang kita miliki atau orang yang kita jadikan tempat belajar dan bertanya, sekalipun usianya jauh lebih muda dari kita. Dalam budo, guru diibaratkan sebagai orangtua kedua setelah orangtua kita. Hal ini disebabkan karena mereka mengajarkan banyak hal tentang kehidupan setelah orang tua kita. Mereka turut mendidik dan membantu murid agar dapat menjalani hidup dengan baik. Seorang sensei dalam budo merupakan jabatan spiritual, dimana pertanggungjawaban moral saja tidaklah cukup. Seorang sensei harus bertanggung jawab terhadap murid-muridnya agar menjadi manusia yang lebih baik secara fisik, mental, moral dan akhirnya spiritual. Hal ini tidak kita temukan pada pendidikan modern dimana guru hanya merupakan jabatan fungsional dalam suatu sistem pendidikan. Seseorang yang mempelajari beladiri harus memahami hal ini, sehingga tidak seorangpun dari budoka yang dapat mengatakan kepada orang lain ‘’dia itu bekas guru saya’’ sebagaimana ia tidak dapat mengatakan ‘’itu bekas orang tua saya’’ sekalipun ia sendiri telah menjadi orangtua. Orangtua akan tetap menjadi orangtua kita karena kasih sayang mereka akan kita bawa hingga akhir hayat. Seperti juga guru, mereka akan tetap menjadi guru kita karena ilmu yang telah diberikan akan kita bawa juga hingga akhir hayat. 3. 誠 Makoto Honesty and Sincerity: Kejujuran dan Ketulusan Kejujuran dalam tutur kata dan ketulusan dalam perbuatan adalah hal yang esensial dalam budo. Bila kita menghormati seseorang, maka kita lakukan dengan sepenuh hati dan jiwa bukan karena tampilan fisik semata. Apabila kita bertutur kata maka katakanlah yang sebenarnya yang ada dalam hati dan pikiran Universitas Sumatera Utara kita dengan cara yang terhormat dan baik. Kejujuran merupakan hal yang sulit dilakukan kecuali bagi mereka yang memiliki keberanian dalam jiwa mereka. Menjaga kepercayaan dari orang lain juga merupakan salah satu bentuk kejujuran dan ketulusan. Apabila anda dititipkan sebongkah emas maka anda harus memastikan emas tersebut aman ditangan anda. Bila pemilik emas tersebut telah meninggal, maka anda harus memastikan emas tersebut jatuh ketangan keluarga yang berhak mewarisinya tanpa mengambil atau berharap keuntungan sedikitpun dari situasi ini. Orang yang dapat melakukan ini adalah seorang ksatria sejati. 4. 忠義 Chugi Loyalty: Kesetiaan Kesetiaan adalah satu sikap yang terhormat, sedangkan pengkhianatan adalah sikap yang rendah dan hina. Seorang ksatria akan menjaga kesetiaannya bahkan apabila harus mengorbankan nyawa sekalipun. Samurai pada zaman dahulu sebelum restorasi Meiji rela mengorbankan nyawa mereka untuk membela tuannya atau perguruannya. Pada saat sekarang ini kesetiaan tetap merupakan sebuah sikap yang sangat mulia dan sangat langka. Hanya orang yang memiliki keberanian saja yang memiliki sikap seperti ini. Yang justru dimasa sekarang ini seseorang yang sangat mudah melakukan pengkhianatan bila ia menemukan sesuatu yang dirasa dapat merugikan dirinya atau disisi lain untuk mendapatkan keuntungan lebih. Sikap seperti ini tidak ada tempat didalam budo. Kesetiaan pada perguruan merupakan hal yang relevan hingga sekarang, namun bukan dalam arti larangan mempelajari bentuk beladiri lain. Melainkan untuk tetap menjaga nama baik dojo dan mengamalkan ilmunya dengan cara yang baik serta menjaga silsilah dari ilmu yamg telah dipelajari. Universitas Sumatera Utara 5. 礼 Rei Courtesy: Sopan Santun Tata tertib dan sikap sopan santun adalah bagian integral dalam budo. Tanpa sikap dan tata kesopanan yang baik dan benar maka seseorang tidak dapat dikatakan sebagai seorang ksatria sekalipun ia sangat mahir dalam bertempur. Sikap rei adalah sebuah contoh yang mudah kita pahami. 礼 rei pada saat memasuki dojo, memulai latihan, menutup latihan hingga kita keluar dojo, merupakan hal yang harus dilakukan dengan pemahaman yang mendalam. Sering kali hal seperti ini dianggap remeh karena tidak memahami semangat dari latihan. Perlu diingat bahwa kita berlatih bukan sebatas untuk berolahraga atau sekedar berlatih utuk bertarung namun diharapkan latihan aikido dapat membentuk mental, moral dan spiritual seorang aikidoka yang mampu beradaptasi pada kondisi seburuk apapun dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini sikap dan sopan santun sangatlah diperlukan sebagai sebuah disiplin dalam sebuah seni beladiri agar terbentuk sebuah keberanian yang diikuti sifat kerendahan hati para praktisinya. 6. 仁 Jin Knowledge and Wisdom: Pengetahuan dan Kebijaksanaan 武度budo merupakan suatu bentuk pengetahuan yang menghasilkan pengetahuan. Setiap pengetahuan haruslah menghasilkan sebuah nilai kebijaksanaan. Tanpa kebijaksanaan, pengetahuan hanya akan menciptakan bencana. Berabad-abad manusia manusia hidup menghasilkan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi, salah satunya adalah persenjataan. Dengan persenjataan pada masa kini semakin banyak orang tidak berdosa menjadi korban peperangan yang didasari oleh keserakahan. Demikianlah contoh sebuah pengetahuan yang Universitas Sumatera Utara dicapai tanpa menghasilkan kebijaksanaan. Dalam budo anda mempelajari tentang nilai hidup dan mati. Anda melatih kemampuna hati, pikiran dan tubuh untuk menerima kematian atau mengakibatkan terjadinya hal tersebut. Oleh karenanya, pengetahuan budo tanpa kebijaksanaan adalah sebuah malapetaka kemanusiaan. Kebijaksanaan tertinggi dalam budo adalah mengalahkan diri sendiri dan menempa hati, pikiran dan tubuh untuk bersungguh-sungguh mencari nilai kebenaran tertinggi. 7. 勇気 Yuuki Courage: Keberanian Keberanian diletakkan pada urutan terakhir dari ke 7 pilar budo, karena keberanian hanya dapat diperolah setelah seseorang mampu memahami dan menjalani ke 6 pilar sebelumnya. Keberaian dalam diri seorang ksatria merupakan pancaran dan sifat-sifat yang mulia. Keberanian yang dilandasi pemahaman terhadap nilai kebenaran sejati dan kehormatan diri bukan keberanian yang didasari pada kemarahan dan keinginannya untuk mengalahkan orang lain. Oleh sebab itu, seorang budoka harus memastikan dirinya berpegang teguh pada nilai kebenaran, karena pertempuran yang pertama dapat menjadi pertempuran yang terakhir baginya. Sekali ia mengambil keputusan untuk bertempur maka ia tidak akan mundur atau lari. Dia juga tidak akan menyesal dengan keputusan yang diambil sekalipun harus kehilangan nyawa karena ia tahu bahwa ia berada dalam kebenaran. Sekali lagi dalam budo, nilai keberanian adalah hasil pemahaman atas nilai-nilai kebenaran dan kemuliaan, sehingga dalam pertempuran yang Universitas Sumatera Utara sebenarnya tidak ada nilai menang atau kalah tetapi nilai benar dan salah dalam berpijak dan bersikap terhadap kehidupan yang kita jalani. Di beberapa literatur, dijelaskan tentang nilai-nilai budo dengan urutan atau kandungan yang berbeda namun tetap memiliki esensi yang sama yaitu mengenai ajaran moral, mental dan spiritual yang harus dimiliki seorang budoka. Berdasarkan nilai-nilai yang telah dijelaskan diatas, maka diharapakan para aikidoka khususnya para yudansha dapat mengerti dan memahami secara mendalam dan mengamalkannya dalam kehidupan serta mengajarkan kepada generasi berikutnya terutama murid-muridnya, sebagai sebuah tanggungjawab dari apa yang dipahami dan pelajari dari sebuah hakama yang telah ia kenakan. .

2.3. Aliran yang Terdapat Dalam Aikidou