Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Hijau terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans (IN VITRO).

   
EFEKTIFITAS EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU TERHADAP PERTUMBUHAN STREPTOCOCCUS MUTANS (IN VITRO)
SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat guna memperoleh gelar sarjana kedokteran gigi
Oleh: MITA SUCI AFRILLA P
NIM : 070600053
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
   
Universitas Sumatera Utara

      `                 Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Tahun 2011
Mita Suci Afrilla P Efektifitas Esktrak Daun Sirih Hijau Terhadap Pertumbuhan
Streptococcus mutans (IN VITRO) xii + 60 halaman
Karies gigi merupakan penyakit gigi terlokalisir yang merusak jaringan keras gigi yang terbentuk dari akumulasi plak pada permukaan gigi. Streptococcus mutans (S.mutans) merupakan salah satu bakteri patogen penyebab karies. Salah satu bahan alami sebagai antibakteri yaitu daun sirih. Daun sirih hijau merupakan salah satu tanaman tradisional yang mengandung 4,2% minyak atsiri, kandungan fenol dalam minyak atsiri memiliki daya antiseptik lima kali lebih efektif dibandingkan fenol biasa dan dapat mendenaturasi protein sel bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun sirih terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan berbagai variasi konsentrasi yaitu 20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1%.
Jenis penelitian ini adalah eksperimental posttest only control group dengan sampel biakan murni Streptococcus mutans yang berasal dari laboratorium FMIPA Universitas Sumatera Utara. Pada penelitian ini dilakukan uji antibakteri bahan coba terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan berbagai variasi konsentrasi.
   
Universitas Sumatera Utara

    Pengujian dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat di sekitar cakram yang telah ditetesi dengan ekstrak dengan konsentrasi tertentu. Data yang diperoleh diolah dengan uji one way ANOVA.
Hasil analisis one way ANOVA, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) diantara kelompok konsentrasi ekstrak daun sirih hijau dan pada uji Post Hoc yaitu LSD terlihat bahwa terdapat perbedaan bermakna (p=0,00) dari masing-masing kelompok konsentrasi namun pada kelompok konsentrasi 2% ekstrak daun sirih terhadap kelompok konsentrasi 1% memiliki nilai (p=0,033).
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih hijau memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Konsentrasi yang efektif terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dalam penelitian ini adalah konsentrasi 20% dan kadar hambat minimum adalah pada konsentrasi 1%. Daftar Rujukan : 27 (1983-2010).
   
Universitas Sumatera Utara

 
LEMBAR PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi pada tanggal 19 Juli 2011

 

Pembimbing
1. Essie Octiara, drg, Sp. KGA Nip : 197210151999032001

Medan, 19 Juli 2010 Tanda Tangan .............................

   
Universitas Sumatera Utara

   
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan tim penguji pada tanggal 19 Juli 2011

TIM PENGUJI

KETUA

: Yati Roesnawi, drg.

ANGGOTA : 1. Taqwa Dalimunthe, drg., Sp. KGA.

2. Essie Octiara, drg., Sp.KGA.

   
Universitas Sumatera Utara

   
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Efektifitas Ekstrak Daun Sirih Hijau terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans (IN VITRO)”. Skripsi ini telah disusun penulis dalam rangka memenuhi kewajiban penulis untuk memenuhi gelar sarjana kedokteran gigi.
Dalam penelitian dan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan penghargaan yang tulus, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Prof. H. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort. selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Essie Octiara, drg., Sp.KGA sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah begitu banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
3. Yati Roesnawi, drg., selaku Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak serta seluruh staf pengajar dan tenaga administrasi Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Universitas Sumatera Utara.
4. Siti Wahyuni, drg., selaku dosen wali yang telah banyak memberikan arahan dan masukan dalam bidang akademik kepada penulis.
5. Prof. Trimurni Abidin, drg., Sp.KG (K) yang telah memberikan masukan yang sangat berarti kepada penulis.
 
Universitas Sumatera Utara

   
6. Drs. Awaluddin Saragih, M.Si., Apt atas bimbingan dan sarannya selama penelitian ini berlangsung.
7. Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc, selaku kepala bagian laboratorium biologi FMIPA USU atas izin dan bantuan fasilitas untuk pelaksanaan penelitian ini.
8. Drs. Abdul Jalil, M.Kes, atas bimbingannya dalam pengolahan data penelitian.
9. Ayahanda tercinta Marjoko, ibunda Nuriana, kedua adik penulis Wibi Aldi Hernawan dan Aldi Kusuma Dary serta kepada Andi, S.E. atas segala kasih sayang, doa dan dukungan serta bantuan baik berupa moral maupun materi yang tidak terbalas oleh penulis sampai kapan pun.
10. Sahabat-sahabat penulis Siti Iwa Irana, SKG., Nirma Herfina, Dewi, Ade, Ayu, teman-teman “S. mutans”, Coni Oktami W dan Bella Siregar, Deni, kak Ana, Asril serta teman-teman F.Farmasi dan FMIPA USU yang ikut membantu dalam penyelesaian skripsi.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan peningkatan mutu kesehatan gigi masyarakat.
Medan, Juli 2011 Penulis,
(Mita Suci Afrilla P.) NIM : 070600053
 
Universitas Sumatera Utara

vi   

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL......................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN.......................................................................

HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI..........................................................

KATA PENGANTAR....................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL...........................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................

x

BAB 1

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang........................................................................ 1.2 Rumusan Masalah................................................................... 1.3 Tujuan Penelitian.................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian..................................................................

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Etiologi Karies........................................................................ 2.1.1 Host..................................................................................... 2.1.2 Mikroorganisme.................................................................. 2.1.3 Substrat atau Diet................................................................ 2.1.4 Waktu................................................................................... 2.2 Streptococcus mutans............................................................. 2.2.1 Morfologi Streptococcus mutans......................................... 2.2.2 Peran Streptococcus mutans dalam Pembentukan Karies... 2.3 Sirih......................................................................................... 2.3.1 Morfologi Sirih.................................................................... 2.3.2 Jenis Sirih............................................................................. 2.3.3 Kandungan Sirih..................................................................

1 4 4 5
6 7 8 8 9 9 10 10 11 11 13 13

   

Universitas Sumatera Utara

vii   

BAB 3
BAB 4 BAB 5 BAB 6

2.3.4 Kegunaan Sirih................................................................. 2.4 Kerangka Teori.................................................................... 2.5 Kerangka Konsep................................................................ 2.6 Hipotesis Penelitian.............................................................
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian.................................................................... 3.2 Sampel dan Besar Sampel Penelitian.................................. 3.3 Variabel Penelitian.............................................................. 3.3.1 Variabel Bebas................................................................. 3.3.2 Variabel Tergantung......................................................... 3.3.3 Variabel Terkendali.......................................................... 3.3.4 Variabel Tidak Terkendali................................................ 3.4 Defenisi Operasional........................................................... 3.5 Bahan dan Alat Penelitian................................................... 3.5.1 Alat Penelitian.................................................................. 3.5.2 Bahan Penelitian............................................................... 3.6 Tempat dan Waktu Penelitian............................................. 3.6.1 Tempat Penelitian............................................................. 3.6.2 Waktu Penelitian.............................................................. 3.7 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data.................. 3.7.1 Pembuatan Media Bakteri................................................ 3.7.2 Pembiakan Spesimen........................................................ 3.7.3 Pembuatan Ekstrak Daun Sirih Hijau............................... 3.7.4 Uji Efektifitas Anti Bakteri.............................................. 3.7.5 Cara Pengukuran Zona Hambat....................................... 3.7.6 Analisis Data....................................................................
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN....
PEMBAHASAN.......................................................................
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan......................................................................... 6.2 Saran ..................................................................................

14 15 16 16
18 18 20 21 21 21 21 22 23 23 25 25 25 26 26 26 27 27 29 30 30
31
36
40 40

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. LAMPIRAN

42

  Universitas Sumatera Utara

viii   

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1 Nilai rata-rata dan standard deviasi zona hambat Streptococcus mutans dalam waktu 24 jam..................................

34

   
Universitas Sumatera Utara

ix   

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1 Skema yang menunjukkan karies sebagai penyakit multifaktorial yang disebabkan faktor host, agen, substrat, dan waktu.........................................................................................
2 Daun sirih hjau di Desa Purwojoyo Kabupaten Deliserdang..........
3 Cakram kosong (Oxoid)...................................................................
4 Autoklaf (Yamamoto SN 210).........................................................
5 Vaccum rotary evaporator...............................................................
6 Penuangan media dalam cawan petri..............................................
7 Cara mengukur zona hambat S. mutans pada media mueller hinton agar (MHA) setelah 24 jam pengamatan................
8 Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 10%, 9%, 8%, 7% terhadap Streptococcus mutans..................................
9 Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, kontrol (-) terhadap Streptococcus mutans........................................................
10 Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 20%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1%, kontrol (+) terhadap Streptococcus mutans...........................

7 12 24 24 24 27 30 31
32
32

   
Universitas Sumatera Utara

x   

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1 Perhitungan pembuatan konsentrasi ekstrak....................................

46

2 Tabel hasil pengukuran zona hambat esktrak daun sirih hijau terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans.................................

50

3 Hasil analisis statistik.......................................................................

51

4 Hasil identifikasi sampel LIPI Bogor...............................................

75

   
Universitas Sumatera Utara

      `                 Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Tahun 2011
Mita Suci Afrilla P Efektifitas Esktrak Daun Sirih Hijau Terhadap Pertumbuhan
Streptococcus mutans (IN VITRO) xii + 60 halaman
Karies gigi merupakan penyakit gigi terlokalisir yang merusak jaringan keras gigi yang terbentuk dari akumulasi plak pada permukaan gigi. Streptococcus mutans (S.mutans) merupakan salah satu bakteri patogen penyebab karies. Salah satu bahan alami sebagai antibakteri yaitu daun sirih. Daun sirih hijau merupakan salah satu tanaman tradisional yang mengandung 4,2% minyak atsiri, kandungan fenol dalam minyak atsiri memiliki daya antiseptik lima kali lebih efektif dibandingkan fenol biasa dan dapat mendenaturasi protein sel bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun sirih terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan berbagai variasi konsentrasi yaitu 20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1%.
Jenis penelitian ini adalah eksperimental posttest only control group dengan sampel biakan murni Streptococcus mutans yang berasal dari laboratorium FMIPA Universitas Sumatera Utara. Pada penelitian ini dilakukan uji antibakteri bahan coba terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan berbagai variasi konsentrasi.
   
Universitas Sumatera Utara

    Pengujian dilakukan dengan mengukur diameter zona hambat di sekitar cakram yang telah ditetesi dengan ekstrak dengan konsentrasi tertentu. Data yang diperoleh diolah dengan uji one way ANOVA.
Hasil analisis one way ANOVA, diketahui bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) diantara kelompok konsentrasi ekstrak daun sirih hijau dan pada uji Post Hoc yaitu LSD terlihat bahwa terdapat perbedaan bermakna (p=0,00) dari masing-masing kelompok konsentrasi namun pada kelompok konsentrasi 2% ekstrak daun sirih terhadap kelompok konsentrasi 1% memiliki nilai (p=0,033).
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun sirih hijau memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Konsentrasi yang efektif terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dalam penelitian ini adalah konsentrasi 20% dan kadar hambat minimum adalah pada konsentrasi 1%. Daftar Rujukan : 27 (1983-2010).
   
Universitas Sumatera Utara

1   
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di Indonesia adalah karies gigi. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004, prevalensi karies gigi mencapai 90,05%.1 Karies gigi merupakan penyakit gigi terlokalisir yang merusak jaringan keras gigi. Terbentuk dari akumulasi plak pada permukaan gigi dan aktifitas biomekanis dari kumpulan mikro kompleks. Streptococcus mutans (S.mutans) merupakan salah satu bakteri patogen penyebab karies yang memiliki peran utama dalam terjadinya fermentasi karbohidrat yang menghasilkan asam, dan menyebabkan korosi pada enamel gigi.1 Penelitian Keyes dan Fitzsgerald tahun 1960 pada binatang bebas kuman memperlihatkan bahwa plak yang didominasi oleh kuman S.mutans dan laktobasilus menyebabkan terbentuknya karies.2 S. mutans akan mengubah karbohidrat yang dikonsumsi dan terurai menjadi sukrosa yang merupakan media terbaik bagi tumbuh kembang bakteri tersebut. S. mutans mempunyai kemampuan memetabolisme sukrosa menjadi asam, yang dapat mengakibatkan demineralisasi enamel sehingga dapat menyebabkan awal terjadinya karies gigi. Oleh karena itu, pencegahan karies sangat penting dilakukan sejak masa anak-anak.9
   
Universitas Sumatera Utara


Pencegahan karies dapat dilakukan dengan mengetahui penyebabnya serta mengerti cara melakukan pencegahannya. Pencegahan karies dan penyakit periodontal dengan melakukan peningkatan kesehatan gigi telah menjadi tujuan utama dalam kedokteran gigi, sejak diketahui plak gigi merupakan faktor yang mendominasi penyebab hilangnya gigi oleh karena karies dan penyakit periodontal. Salah satu cara pencegahan karies adalah mengusahakan agar pembentukan plak pada permukaan gigi dapat dibatasi baik dengan cara mencegah pembentukannya atau dengan pembersihan plak secara teratur. Pengendalian plak dapat dilakukan dengan cara pembersihan plak secara mekanis dan kimia kemungkinan penggunaan bahan anti kuman terutama untuk menekan S. mutans.2
Telah banyak dilakukan penelitian dengan memanfaatkan bahan alam yang kesemuanya bertujuan untuk menghasilkan obat-obatan dalam upaya mendukung program pelayanan kesehatan gigi, khususnya untuk mencegah dan mengatasi penyakit karies gigi. Kembalinya perhatian ke bahan alam yang dikenal dengan istilah back to nature ini dianggap sebagai hal yang sangat bermanfaat karena sejak dahulu kala masyarakat kita telah percaya bahwa bahan alam mampu mengobati berbagai macam penyakit. Selain itu, pemanfaatan bahan alam yang digunakan sebagai obat jarang menimbulkan efek samping yang merugikan dibandingkan obat yang terbuat dari bahan sintetis.14
Sirih merupakan salah satu tanaman yang berhubungan erat dengan pengendalian karies, penyakit periodontal dan mengontrol halitosis. Ekstrak daun sirih hijau menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Streptococcus mitis,
   
Universitas Sumatera Utara


Streptococcus sanguis, dan Actinomyces viscosus, beberapa koloni bakteri lain dari plak gigi.6,7
Daun sirih hijau dapat bersifat sebagai antibakteri karena mengandung 4,2% minyak atsiri yang sebagian besar terdiri dari unsur kavikol, betelfenol, terpen, karvakol, eugenol, metil eugenol, tanin dan estragol.3,8 Zat tersebut terbukti mampu melawan bakteri gram positif dan gram negatif.3 Kandungan fenol dalam antiseptiknya lima kali lebih efektif dibandingkan fenol biasa dan dapat mendenaturasi protein sel bakteri.2,3,5,8,9 Penelitian Fathilah menyatakan bahwa ekstrak daun sirih menunjukkan aktifitas antibakteri terhadap Streptococcus mitis, Streptococcus sanguis dan Actinomyces viscosus, dan beberapa koloni awal pada plak gigi.6 Penelitian Sundari menyatakan bahwa kandungan daun sirih dengan kadar 0,5% sampai 1% mempunyai daya hambat terhadap koloni S. mutans dalam sediaan obat kumur.3 Dipasaran sendiri sudah beredar pasta gigi mengandung ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 5%.
Berdasarkan acuan dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa daun sirih hijau memiliki zat antibakteri yang mampu melawan bakteri gram positif dan gram negatif, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai daun sirih. Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan dan ditujukan dalam pembuatan bahan pencegahan karies pada anak seperti obat kumur, topikal aplikasi dan pasta gigi.
   
Universitas Sumatera Utara


1.2 Rumusan Masalah Penelitian ini dilakukan untuk melihat : 1. Apakah ekstrak daun sirih hijau memiliki memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans? 2. Apakah ada perbedaan efektifitas antara 20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1% terhadap pertumbuhan S. mutans? 3. Berapakah kadar hambat minimum dari ekstrak daun sirih hijau yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans? 4. Berapakah konsentrasi efektif ekstrak daun sirih hijau terhadap pertumbuhan S. mutans?
1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui adanya efek ekstrak daun sirih hijau terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans. 2. Untuk menganalisis perbedaan efektifitas antara 20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1% terhadap pertumbuhan S. mutans 3. Untuk menganalisis kadar hambat minimum ekstrak daun sirih hijau yang mampu menghambat pertumbuhan S. mutans. 4. Untuk mengetahui konsentrasi efektif dari ekstrak daun sirih hijau terhadap pertumbuhan S. mutans.
   
Universitas Sumatera Utara

5  1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat : 1. Manfaat untuk ilmu pengetahuan Memberikan informasi khususnya di bidang Ilmu Kedokteran Gigi Anak mengenai efek antibakteri ekstrak daun sirih hijau terhadap koloni S.mutans sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan penelitian selanjutnya. 2. Manfaat untuk masyarakat Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa daun sirih hijau dapat dijadikan sebagai salah satu bahan untuk pencegahan karies sehingga diharapkan pencegahan karies menjadi lebih efektif dan terjadinya penurunan prevalensi karies di Indonesia. 3. Manfaat secara klinis Memberikan informasi tentang adanya efek antibakteri dari ekstrak daun sirih terhadap S. mutans dan diharapkan potensi pendayagunaan tanaman obat berkhasiat yang ada di Indonesia dapat dikembangkan.
   
Universitas Sumatera Utara

6   
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Etiologi Karies Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi, yaitu enamel, dentin, dan sementum yang disebabkan aktifitas bakteri flora mulut yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan.10,11 Demineralisasi dimulai dari permukaan gigi dan akan berlanjut ke dalam lapisan gigi serta diikuti dengan kerusakan bahan organiknya.10,12 Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri.10 Karies terjadi bukan disebabkan karena suatu kejadian saja seperti penyakit menular lainnya tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Pada tahun 1960-an oleh Keyes dan Jordan menyatakan bahwa karies merupakan suatu penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies.10 Ada tiga faktor utama yang memegang peranan yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet, dan ditambah faktor waktu.10,11
   
Universitas Sumatera Utara


Gambar 1. Skema yang menunjukkan karies sebagai penyakit multifaktorial yang disebabkan faktor host, agen, substrat, dan waktu13
2.1.1 Host Enamel merupakan jaringan keras gigi dengan susunan kimia kompleks yang mengandung 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Lapisan luar enamel mengalami mineralisasi yang lebih sempurna dan mengandung banyak fluor, fosfat, dan sedikit karbonat dan air. Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi desidui lebih mudah terserang karies dibandingkan dengan gigi permanen, karena enamel gigi desidui mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit daripada gigi permanen.10
   
Universitas Sumatera Utara


2.1.2 Mikroorganisme Plak memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak merupakan suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan.10 Proses terjadinya kerusakan pada jaringan keras gigi melalui suatu reaksi kimiawi oleh bakteri, dimulai dengan proses kerusakan bagian anorganik, kemudian berlanjut pada bagian organik. Bakteri berperan penting pada proses terjadinya karies gigi, karena tanpa adanya bakteri maka karies gigi tidak dapat terjadi.14 Terdapat berbagai spesies bakteri yang berkoloni di dalam rongga mulut untuk menghasilkan asam sehingga terjadi proses demineralisasi pada jaringan keras gigi. Salah satu spesies bakteri yang dominan di dalam mulut yaitu S.mutans. Telah banyak penelitian yang membuktikan adanya korelasi positif antara jumlah bakteri S. mutans pada plak gigi dengan prevalensi karies gigi.14
2.1.3 Substrat atau Diet Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi, sebaliknya pada orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies gigi.10
   
Universitas Sumatera Utara


2.1.4 Waktu Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan.10
2.2 Streptococcus mutans S. mutans merupakan mikroorganisme endogen rongga mulut yang paling banyak dijumpai pada awal pembentukan plak. Selanjutnya bakteri ini akan melekat ke pelikel yang merupakan suatu campuran kompleks yang terdiri dari glikoprotein, asam prolin kaya protein, musin, debris sel bakteri, exoproducts, dan asam sialic. 4,15,16 S.mutans merupakan bakteri kokus gram positif, bersifat nonmotil, dan mikroorganisme fakultatif anaerob yang dapat memetabolisme karbohidrat.17 S.mutans pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924. Clark menyatakan bahwa bakteri S.mutans merupakan bakteri utama penyebab terjadinya karies.18 S.mutans merupakan salah satu bakteri dari tujuh spesies Streptococcus yang berbeda (S.mutans, S.sobrinus, S.cricetus, S.ferus, S.rattus, S.macacae dan S.downei) dan 8 serotipe (a-h). S.mutans serotipe c, e, f dan S.sobrinus serotipe d, g merupakan spesies yang paling umum ditemukan pada manusia dengan serotipe c menjadi prevalensi tertinggi dibandingkan dengan d dan e. S.mutans serotipe c merupakan spesies yang paling banyak ditemukan pada manusia dan dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa S.mutans serotipe c merupakan penyebab karies.13
   
Universitas Sumatera Utara

10 
2.2.1 Morfologi Streptococcus mutans S. mutans merupakan salah satu bakteri yang memiliki peranan penting dalam proses terjadinya karies. S.mutans masuk ke dalam genus mutans streptococci. Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat non motil (tidak bergerak) dan tidak membentuk spora. Sel S.mutans bulat atau oval dan tersusun dalam rantai. Bakteri ini merupakan bakteri fakultatif anaerob yang menjadi salah satu bakteri flora normal dalam rongga mulut. S. mutans mampu berkembang biak pada suhu 18-400C. 19
2.2.2 Peran Streptococcus mutans dalam Pembentukan Karies Karies merupakan penyakit infeksi kronis yang paling umum mempengaruhi anak-anak dan dewasa di seluruh dunia. Etiologi dan patogenesis karies pada manusia dikaitkan dengan bakteri yang berkoloni pada permukaan gigi yaitu Streptococcus mutans. Kemampuan bakteri ini untuk mensintesis glukan ekstraseluler dari sukrosa dengan menggunakan enzimnya (glucosyltransferase) merupakan faktor utama dalam virulensi karies.20 Glucosyltransferase yang disekresi oleh S. mutans sering berikatan dengan pelikel pada permukaan gigi dan pada permukaan mikroorganisme lain. Glukan yang tidak larut disintesis oleh permukaan GtfB dan GtfC yang terabsorpsi menyediakan sisi pengikatan spesifik untuk kolonisasi bakteri pada permukaan gigi dan bakteri satu sama lain, mengatur pembentukan biofilm yang sangat erat.20 Jika biofilm tetap berada pada permukaan gigi dan dilindungi oleh makanan berkarbohidrat terutama sukrosa, S. mutans sebagai bagian dari komunitas biofilm
   
Universitas Sumatera Utara

11 
akan melanjutkan sintesis polisakarida dan memetabolime gula menjadi asam organik. Jumlah yang tinggi dari polisakarida ekstraseluler meningkatkan stabilitas biofilm dan integritas struktural dan melindungi bakteri terhadap pengaruh buruk dari antimikroba dan pengaruh lingkungan. Kemampuan S. mutans untuk memanfaatkan beberapa ekstra dan intraseluler sebagai senyawa penyimpanan jangka pendek menawarkan keuntungan ekologis tambahan, bersamaan dengan peningkatan jumlah produksi asam dan tingkat keasaman. Ketahanan lingkungan asam ini menyebabkan flora toleran terhadap asam yang tinggi, lingkungan dengan pH yang rendah dalam matriks plak hasil demineralisasi pada enamel, demikian permulaan proses karies gigi. Oleh karena itu, polisakarida ekstraseluler dan pengasaman dari biofilm sangat penting untuk pembentukan plak gigi kariogenik.20
2.3 Sirih Saat ini telah banyak dilakukan penelitian mengenai bahan alam yang dimanfaatkan dalam mencegah dan mengatasi penyakit karies gigi. Tanaman sirih merupakan salah satu tanaman herbal yang berhubungan erat dengan pengendalian karies, penyakit periodontal dan mengontrol halitosis.6,7,14
2.3.1 Morfologi Sirih Sirih merupakan tanaman herbal memanjat dengan tinggi tanaman dapat mencapai 2-4 m. Batang tanaman berbentuk bulat dan lunak, beruas-ruas, beralur-alur dan berwarna hijau abu-abu. Sirih memiliki daun yang tunggal dan letaknya berseling dengan bentuk bervariasi mulai dari bundar sampai oval, ujung daun runcing, pangkal
   
Universitas Sumatera Utara

12  daun berbentuk jantung atau agak bundar asimetris. Daun sirih memiliki warna yang bervariasi yaitu kuning, hijau sampai hijau tua dan berbau aromatis.23
Taksonomi Sirih:24 Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Klas : Magnoliopsida Ordo : Piperales Famili : Piperaceae Genus : Piper Spesies : Piper betle Linn
Gambar 2. Daun sirih hijau di Desa Purwojoyo Kabupaten Deliserdang
   
Universitas Sumatera Utara

13 
2.3.2 Jenis Sirih Tanaman sirih dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan daun, aroma, dan rasa. Jenis-jenis sirih tersebut diantaranya sirih jawa yang berdaun hijau tua dan rasanya kurang tajam; sirih badan yang berdaun besar, berwarna hijau tua dengan warna kuning di beberapa bagian, dan rasa serta bau lebih tajam; sirih cengkeh (daun kecil, lebih kuning dan rasanya seperti cengkeh); sirih hitam yang rasanya sangat tajam dan digunakan sebagai campuran berbagai obat; serta sirih kuning. Jenis sirih yang dikunyah dengan pinang biasanya yang berwarna hijau muda dan rasanya kurang pedas.23
2.3.3 Kandungan Sirih Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung minyak atsiri 1-4,2%, air protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin A, B, C yodium, gula dan pati. Dari berbagai kandungan tersebut, dalam minyak atsiri terdapat fenol alam yang mempunyai daya antiseptik 5 kali lebih kuat dibandingkan fenol biasa (bakterisid dan fungisid) tetapi tidak sporosid.26 Minyak atsiri merupakan minyak yang mudah menguap dan mengandung aroma atau wangi yang khas. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung 30% fenol dan beberapa derivatnya.27 Minyak atsiri terdiri dari hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan, dan tanin.3,8,28 Kavikol merupakan komponen paling banyak dalam minyak atsiri yang memberi bau khas pada sirih. Kavikol bersifat mudah teroksidasi dan dapat menyebabkan perubahan warna.29,27
   
Universitas Sumatera Utara

14  Mekanisme fenol sebagai agen anti bakteri berperan sebagai toksin dalam protoplasma, merusak dan menembus dinding serta mengendapkan protein sel bakteri. Senyawa fenolik bermolekul besar mampu menginaktifkan enzim essensial di dalam sel bakteri meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah. Fenol dapat menyebabkan kerusakan pada sel bakteri, denaturasi protein, menginaktifkan enzim dan menyebabkan kebocoran sel.29 2.3.4 Kegunaan Sirih Tanaman sirih sudah lama dikenal sebagai tanaman obat dan banyak tumbuh di Indonesia. Bagian dari tanaman sirih yang dimanfaatkan sebagai obat adalah daunnya. Secara tradisional, sirih dipakai sebagai obat sariawan, sakit tenggorokan, obat batuk, obat cuci mata, obat keputihan, pendarahan pada hidung/mimisan, mempercepat penyembuhan luka, menghilangkan bau mulut dan mengobati sakit gigi.29,26,27
   
Universitas Sumatera Utara

2.4 Kerangka Teori Pelikel
Host Bahan organik dan Anorganik

15 
Streptococcus mutans Glucosyltransferase

Waktu

Plak Substrat

Karies

Pencegahan Efek antibakteri

Ekstrak daun sirih hijau

Zat Aktif : Minyak Atsiri  Fenol

   
Universitas Sumatera Utara

16 

2.5 Kerangka Konsep

Ekstrak daun sirih hijau

Streptococcus mutans

Minyak Atsiri

Glucosyltransferase
Kerusakan pada sel bakteri, denaturasi protein, inaktif enzim,
kebocoran sel

KONSENTRASI?

Fenol

Terjadi hambatan pertumbuhan S.mutans
2.6 Hipotesis Penelitian Hipotesa penelitian ini adalah: 1. Adanya kemampuan ekstrak daun sirih hijau dalam menghambat pertumbuhan S. mutans. 2. Adanya perbedaan efektifitas antara 20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1% terhadap pertumbuhan S. mutans.
   
Universitas Sumatera Utara

17  3. Adanya kadar hambat minimum ekstrak daun sirih hijau yang dapat menghambat pertumbuhan S. mutans. 4. Adanya konsentrasi efektif ekstrak daun sirih hijau terhadap pertumbuhan S. mutans.
   
Universitas Sumatera Utara

18   
BAB 3  METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimental posttest only control group.
3.2 Sampel dan Besar Sampel Penelitian Sampel penelitian ini adalah biakan murni S. mutans yang berasal dari laboratorium FMIPA Universitas Sumatera Utara. Jumlah pengulangan yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan rumus umum:
(t-1) (r-1) ≥ 15
Dik : t = jumlah perlakuan (20 konsentrasi ekstrak daun sirih hijau yaitu 20% (200 mg/ml), 10% (100 mg/ml), 9% (90 mg/ml), 8% (80 mg/ml), 7% (70 mg/ml), 6% (60 mg/ml), 5% (50 mg/ml), 4% (40 mg/ml), 3% (30 mg/ml), 2% (20 mg/ml), 1% (10 mg/ml), 0,9% (9 mg/ml), 0,8% (8 mg/ml), 0,7% (7 mg/ml), 0,6% (6 mg/ml), 0,5% (5 mg/ml), 0,4% (4 mg/ml), 0,3% (3 mg/ml), 0,2% (2 mg/ml), 0,1% (1 mg/ml)), NaOCl 0,5% sebagai kontrol (+) dan cakram kosong sebagai kontrol negatif.
r = jumlah pengulangan (t-1) x (r-1) ≥ 15 (22-1) x (r-1) ≥ 15 21 x (r-1) ≥ 15
   
Universitas Sumatera Utara

19 
21r-21 ≥ 15 21r ≥ 36 r ≥ 1,71 Besar sampel dibulatkan menjadi 5 kemudian dikalikan dengan 22 perlakuan, jadi jumlah besar sampel adalah 110. Sehingga untuk masing- masing bahan coba dilakukan 5 kali pengulangan.
 Kelompok 1 : Ekstrak dengan konsentrasi (20%) = 5 sampel  Kelompok 2 : Ekstrak dengan konsentrasi (10%) = 5 sampel  Kelompok 3 : Ekstrak dengan konsentrasi (9%) = 5 sampel   Kelompok 4 : Ekstrak dengan konsentrasi (8%) = 5 sampel   Kelompok 5 : Ekstrak dengan konsentrasi (7%) = 5 sampel   Kelompok 6 : Ekstrak dengan konsentras (6%) = 5 sampel   Kelompok 7 : Ekstrak dengan konsentrasi (5%) = 5 sampel   Kelompok 8 : Ekstrak dengan konsentrasi (4%) = 5 sampel   Kelompok 9 : Ekstrak dengan konsentrasi (3%) = 5 sampel   Kelompok 10 : Ekstrak dengan konsentrasi (2%) = 5 sampel   Kelompok 11 : Ekstrak dengan konsentrasi (1%) = 5 sampel   Kelompok 12 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,9%) = 5 sampel   Kelompok 13 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,8%) = 5 sampel   Kelompok 14 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,7%) = 5 sampel   Kelompok 15 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,6%) = 5 sampel   Kelompok 16 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,5%) = 5 sampel 
   
Universitas Sumatera Utara

20 

 Kelompok 17 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,4%) = 5 sampel   Kelompok 18 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,3%) = 5 sampel   Kelompok 19 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,2%) = 5 sampel   Kelompok 20 : Ekstrak dengan konsentrasi (0,1%) = 5 sampel   Kelompok 21 : Kontrol (+) (NaOCl 0,5%) = 5 sampel   Kelompok 22 : Kontrol (–) (cakram kosong) = 5 sampel  Besar sampel keseluruhan = 110 sampel

3.3. Variabel Penelitian
VARIABEL BEBAS
 Ekstrak daun sirih hijau dengan 20 konsentrasi yaitu : 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1% serta kontrol positif dan kontrol negatif

VARIABEL TERGANTUNG
Zona hambat pertumbuhan S. mutans pada media MHA

VARIABEL TERKENDALI
 Media untuk pertumbuhan S. mutans
 Suhu inkubasi  Waktu inkubasi  Sterilisasi alat, bahan dan media  Waktu pengamatan  Konsentrasi bahan coba  Suspensi S.mutans pada saat
diinokulasi pada media NA  Keterampilan operator
   

VARIABEL TIDAK TERKENDALI  Lamanya penyimpanan
daun sirih hijau  Suhu ruangan tempat
penelitian dilaksanakan
Universitas Sumatera Utara

21 
3.3.1 Variabel Bebas  Ekstrak daun sirih hijau dengan 20 konsentrasi yaitu : 20%, 10%, 9%, 8%, 7%, 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1% serta kontrol positif dan kontrol negatif.
3.3.2 Variabel Tergantung  Zona hambat pertumbuhan S. mutans pada media MHA 3.3.3 Variabel Terkendali  Media untuk pertumbuhan S. mutans  Suhu inkubasi  Waktu inkubasi  Sterilisasi alat, bahan dan media  Waktu pengamatan  Konsentrasi bahan coba  Suspensi S.mutans pada saat diinokulasi pada media NA  Keterampilan operator
3.3.4 Variabel Tidak Terkendali  Lamanya penyimpanan daun sirih hijau  Suhu ruangan tempat penelitian dilaksanakan
   
Universitas Sumatera Utara

22 
3.4 Defenisi Operasional  S. mutans adalah bakteri yang berasal dari stem cell yang merupakan perkembangan S. mutans diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.  Sirih hijau adalah sirih hijau yang tumbuh di Desa Purwojoyo Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.  Ekstrak daun sirih hijau pelarut etanol adalah ekstrak yang diperoleh dengan melakukan ekstraksi daun sirih hijau yang telah dimaserasi dengan pelarut etanol 96% sehingga diperoleh ekstrak kental.  Diameter zona hambat adalah diameter zona dimana bakteri tidak tumbuh ditandai dengan zona bening yang diukur dengan kaliper dengan satuan milimeter.  Konsentrasi efektif adalah konsentrasi yang memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri dengan diameter daya hambat berukuran 12-24 mm mengacu pada standar umum obat asal tanaman (Departemen Kesehatan,1988).8  Ekstrak daun sirih hijau konsentrasi 20% adalah 2 gr ekstrak daun sirih hijau dalam 10 ml etanol 96% (200 mg/ml).  Kadar hambat minimum adalah kadar hambat minimal yang masih memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan S. mutans, dimana konsentrasi dibawah kadar hambat minimum tidak lagi menunjukkan daya hambat terhadap pertumbuhan S. mutans.
   
Universitas Sumatera Utara

23 
3.5 Bahan dan Alat Penelitian 3. 5.1 Alat Penelitian  Cakram kosong (Oxoid)  Autoklaf (Yamamoto SN 210)  Oven (Gallenkomp)  Inkubator (Fisher scientific Isotemp Incubator model 630-D)  Kaliper (Krisbow)  Erlenmeyer 250ml (pyrex)  Gelas ukur 100ml (pyrex)  Vaccum Rotary Evaporator  Neraca Analitic Electric  Tabung reaksi (Pyrex)  Blender  Freeze Dryer  Vortex  Pisau  Aluminium foil 1 gulungan  Kertas saring  Rak tabung reaksi  Sprayer  Cotton bud steril  Hot Plate
   
Universitas Sumatera Utara

 Cawan petri  Pipet micro dan tissue  Batang pengaduk  Bunsen  Ose

24 

Gambar 3. Cakram Kosong (Oxoid)

Gambar 4. Autoklaf (Yamamoto SN 210)

Gambar 5. Vaccum rotary evaporator  
  Universitas Sumatera Utara

25 
3.5.2 Bahan Penelitian  Daun sirih hijau sebanyak 3,5 kg.  Pelarut etanol 96% 7,5 liter  Biakan murni S.mutans  Media MHA (Mueller Hinton Agar)  Media Nutrient agar  Spritus  Alkohol 70%  Wipol  Kapas Steril  Cotton Bud steril  Spritus  Aquades  NaCl 0,85%  NaOCl 0,5%
3.6 Tempat dan Waktu Penelitian 3.6.1 Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakognosi Fakultas Farmasi USU, Laboratorium Penelitian Fakultas Farmasi USU, Laboratorium Mikrobiologi FMIPA USU.
   
Universitas Sumatera Utara

26 
3.6.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian:  Penulisan skripsi selama 11 bulan yaitu Agustus 2010- Juli 2011  Penelitian Laboratorium selama 3 bulan yaitu April-Juni 2011 3.7 Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data Tahap- tahap pengambilan dan pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.7.1 Pembuatan Media Bakteri Sebelum spesimen dibiakkan, dibuat media Nutrient agar yang digunakan untuk pembiakan bakteri, sebanyak 2 gram Nutrient agar dilarutkan ke dalam 100 ml akuades, lalu dipanaskan di atas tungku pemanas magnetik sampai mendidih. Kemudian dibuat media Mueller Hinton Agar (MHA) yang digunakan untuk uji aktifitas antibakteri dari bahan coba. Sebanyak 15,2 gram Mueller Hinton Agar dilarutkan ke dalam 400 ml akuades, lalu dipanaskan di atas tungku pemanas magnetik sampai mendidih. Setelah media masak, disterilkan ke dalam autoklaf selama 2 jam dengan tekanan udara 2 atm atau suhu 1210 C. Setelah disterilkan, media disimpan di dalam kulkas. Jika akan digunakan, media dipanaskan kembali hingga mendidih lalu dituangkan ke dalam cawan petri.
   
Universitas Sumatera Utara

27 
Gambar 6. Penuangan media dalam cawan petri
3.7.2 Pembiakan Spesimen Biakan uji bakteri yang digunakan pada penelitian S. mutans berasal dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Kegiatan pembiakan spesimen dilakukan dalam suasana aerob. Dilakukan pembiakan S.mutans pada cawan petri berisi media padat Nutrient agar (NA) yang telah disiapkan pada prosedur sebelumnya. Biakan bakteri diinkubasi dalam suasana aerob pada suhu 370C selama 24 jam, lalu diamati apakah bakteri S. mutans murni telah tumbuh subur. Apabila pertumbuhan bakteri tidak subur dan terjadi kontaminasi bakteri lain, prosedur pembiakkan bakteri dan pengamatan diulang kembali. 3.7.3 Pembuatan Ekstrak Daun Sirih Hijau Pembuatan ekstrak daun sirih hijau dilakukan melalui tiga tahapan, pertama dengan metode perkolasi yaitu penyaringan ekstrak daun sirih dalam rendaman etanol 96%, tahap kedua yaitu rotari evaporator dengan tujuan untuk menguapkan
   
Universitas Sumatera Utara

28 
etanol 96% yang telah mengikat ekstrak daun sirih sehingga akan diperoleh ekstrak yang kental, tahapan yang terakhir yaitu freeze dryer, tujuannya untuk mengeringkan ekstrak yang masih mengandung etanol 96%.
Sebanyak 3,5 kg daun sirih hijau segar dicuci hingga bersih, dipotong kecilkecil dan kemudian dikeringkan selama 10 hari. Setelah dikeringkan maka diperoleh daun sirih yang kering dengan kadar air <10% dan disebut dengan simplisia. Simplisia dihaluskan dengan blender dan diperoleh serbuk daun sirih sebanyak ±300gr. Serbuk ini kemudian dicampur dengan pelarut etanol 96% di dalam suatu wadah sambil diaduk-aduk. Serbuk akan menyerap etanol sehingga serbuk akan terlihat mengembang, untuk itu perlu dilakukan penambahan etanol hingga serbuk tidak menyerap etanol lagi. Setelah itu didiamkan selama 3 jam.
Proses selanjutnya disebut dengan perkolasi yaitu menyaring campuran serbuk dan etanol dalam suatu botol terbalik. Di dalam botol terdapat beberapa lapisan bahan. Mulai dari bagian bawah, diletakkan sebuah karet penutup botol sebagai penahan infusa yang terhubung dengan botol penampung ekstrak, kemudian dilapisan selanjutnya diletakkan kapas dan kertas saring sebagai penyaring ekstrak agar diperoleh ekstrak yang jernih. Kemudian campuran serbuk daun sirih dan etanol berada di atasnya dan dilapisi lagi oleh kertas saring. Larutan etanol yang digunakan sepanjang 5 cm jika diukur dengan menggunakan penggaris. Botol ditutup dengan menggunakan aluminium foil dan plastik. Kemudian terus ditambahkan pelarut etanol 96% sampai diperoleh ekstrak daun sirih yang jernih dan dipantau untuk melihat larutan etanol tidak kering. Setelah diperoleh ekstrak yang jernih, dilakukan rotavasasi dan freeze dryer untuk memperoleh ekstrak yang kental.
   
Universitas Sumatera Utara

29 
3.7.4 Uji Efektifitas Anti Bakteri Biakan uji bakteri yang digunakan pada penelitian adalah S.mutans pada media Nutrient agar yang diambil dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Urutan pengujian antibakteri S.mutans adalah sebagai berikut : a. Persiapan Suspensi Bakteri Alat-alat yang akan digunakan pada proses uji aktivitas antibakteri terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan dan disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit. Kemudian sebanyak 1-2 ose dari biakan murni bakteri uji yang telah dikultur dan tumbuh subur, disuspensikan dengan menggunakan NaCl 0,85% sampai diperoleh kekeruhan yang sama dengan standard Mc.Farland (1x108 CFU/ml). Setelah itu sebanyak 400 ml MHA dibagi ke dalam 28 petri yang telah disediakan, dibiarkan sampai memadat, kemudian tiap cawan petri dibagi menjadi 4 area. Suspensi bakteri diambil dengan menggunakan cotton bud steril lalu diswab ke seluruh permukaan media secara merata dan dieramkan dalam inkubator selama 15 menit. b. Peletakan Cakram yang Telah Ditetesi Bahan Coba pada Media MHA Cakram kosong yang telah ditetesi bahan coba diletakkan pada petri yang telah terdapat bakteri. Setelah itu cawan petri diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam. Setelah 24 jam dilihat banyak S. mutans yang tumbuh dengan mengukur zona bening yang dilihat dengan menggunakan kaliper.
   
Universitas Sumatera Utara

30 
3.7.5 Cara Pengukuran Zona Hambat Zona hambat yang terbentuk diukur sebanyak dua kali yaitu pengukuran berdasarkan garis tengah diagonal dan hasilnya dirata-ratakan. Alat pengukuran zona hambat adalah kaliper.

D1 (Diameter zona hambat)

Ekstrak Daun Sirih hijau

D2 (diameter zona hambat)

Zona hambat

Media Mueller Hinton Agar (MHA)
Zona hambat =
Gambar 7. Cara mengukur zona hambat S. mutans pada media Mueller Hinton Agar (MHA) setelah 24 jam pengamatan27
3.7.6 Analisis Data Data dari setiap perlakuan dianalisis secara statistik dengan tingkat kemaknaan (p = 0,05), dengan memakai uji statistik yaitu Uji One Way ANOVA, untuk melihat perbedaan efek antibakteri pada semua kelompok perlakuan.

   
Universitas Sumatera Utara

31   
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
Setelah peletakan cakram yang berisi ekstrak daun sirih hijau dan kontrol pada media MHA yang telah diinokulasi suspensi S. mutans, kemudian diinkubasi dan dilakukan pengamatan untuk melihat zona hambat yang terbentuk setelah 24 jam. Masing-masing bahan coba dilakukan lima kali pengulangan. Pengamatan dilakukan terhadap seluruh pengulangan dari bahan coba pada waktu yang bersamaan.
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap penelitian ini, ditemukan zona hambat di sekitar cakram yang berisi bahan coba dan kontrol. Zona hambat ini merupakan zona dimana koloni S. mutans dihambat pertumbuhannya oleh bahanbahan coba.
10% 9%
8% 7%
Gambar 8. Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 10%, 9%, 8%, 7% terhadap Streptococcus mutans
   
Universitas Sumatera Utara

5% 6%

32 
2% 1%

4% 3%

Cakram Kosong

Gambar 9. Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 6%, 5%, 4%, 3%, 2%, 1%, Kontrol (-) terhadap Streptococcus mutans

20 %

0,9%

0,6%

0,5%

0,8%

0,7%

0,4%

0,3%

0,2%

0,1%

NaOCl 0,5%
Gambar 10. Hasil uji efektifitas ekstrak daun sirih hijau pada konsentrasi 20%, 0,9%, 0,8%, 0,7%, 0,6%, 0,5%, 0,4%, 0,3%, 0,2%, 0,1%, Kontrol (+) terhadap Streptococcus mutans  
 
Universitas Sumatera Utara

33 
Hasil analisis varians satu arah (one way ANOVA) pada tabel 1 menunjukkan perbedaan yang bermakna antara 20 konsentrasi terhadap pertumbuhan S. mutans (p=0,05). Zona hambat paling besar terdapat pada ekstrak daun sirih hijau yang memiliki konsentrasi 20% yaitu (13,81 mm) dan konsentrasi ini juga dapat disebut dengan konsentrasi efektif mengacu kepada zona hambat efektif sesuai standar obat asal tanaman (Departemen Kesehatan, 1988). Zona hambat minimum dari ekstrak daun sirih hijau pada penelitian ini adalah pada konsentrasi 1% (tabel 1), dimana konsentrasi dibawah 1% yaitu 0,9% tidak memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan S. mutans, sehingga konsentrasi ekstrak 1% dijadikan sebagai konsentrasi hambat minimum ekstrak daun sirih hijau.
Hasil analisa varians satu arah juga menunjukkan bahwa pada ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 5% memiliki nilai rata-rata zona hambat yang sama dengan kontrol (+) yaitu NaOCl 0,5%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 5% memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan S. mutans yang sama dengan bahan yang sudah digunakan di kedokteran gigi yaitu NaOCl 0,5%, sehingga konsentrasi 5% sudah dapat dijadikan sebagai konsentrasi yang dapat digunakan dalam bahan pencegahan karies gigi jika dirasa ekstrak daun sirih hijau dengan konsentrasi 20% terlalu besar nilai konsentrasinya untuk digunakan pada bahan pencegahan karies gigi.
   
Universitas Sumatera Utara

34 

Tabel 1. NILAI RATA-RATA DAN STANDARD DEVIASI ZONA HAMBAT STREPTOCOCCUS MUTANS DALAM WAKTU

Dokumen yang terkait

Dokumen baru