Pengaruh Komunikasi Petugas Kesehatan dan Dukungan Tokoh Agama terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan

PENGARUH KOMUNIKASI PETUGAS KESEHATAN DAN DUKUNGAN TOKOH AGAMA TERHADAP PERILAKU IBU BALITA DALAM IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS SIMALINGKAR KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KOTA MEDAN TESIS OLEH : LINA SARI LUBIS 087012011/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

THE INFLUENCE OF THE HEALTH OFFICER’S COMMUNICATION AND THE SUPPORT OF RELIGIOUS FIGURES ON THE BEHAVIOR OF MOTHERS
WITH CHILDREN UNDER FIVE YEARS IN MEASLES IMUNIZATION AT SIMALINGKAR HEALTH CENTER MEDAN TUNTUNGAN SUBDISTRICT MEDAN CITY
TESIS
OLEH : LINA SARI LUBIS
087012011/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

PENGARUH KOMUNIKASI PETUGAS KESEHATAN DAN DUKUNGAN TOKOH AGAMA TERHADAP PERILAKU IBU BALITA DALAM IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS SIMALINGKAR KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KOTA MEDAN
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara
Oleh LINA SARI LUBIS
087012011/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: PENGARUH KOMUNIKASI PETUGAS

KESEHATAN DAN DUKUNGAN TOKOH

AGAMA TERHADAP PERILAKU IBU BALITA

DALAM IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS

SIMALINGKAR KECAMATAN MEDAN

TUNTUNGAN KOTA MEDAN

Nama Mahasiswa

: Lina Sari Lubis

Nomor Induk Mahasiswa : 087012011

Program Studi

: S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi

: Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Menyetujui Komisi Pembimbing :

(Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M) Ketua

(Dra. Syarifah, M.S) Anggota

Ketua Program Studi

Dekan

(Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si)

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 02 Februari 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji Pada tanggal : 02 Februari 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: 1. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M.

Anggota : 1. Dra. Syarifah, M.S

2. Drs. Tukiman, M.K.M.

3. Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PENGARUH KOMUNIKASI PETUGAS KESEHATAN DAN DUKUNGAN TOKOH
AGAMA TERHADAP PERILAKU IBU BALITA DALAM IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS SIMALINGKAR KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN KOTA MEDAN
TESIS
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, Februari 2011
( Lina Sari Lubis )
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Kasus campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan masih tinggi, dijumpai sebanyak 99 kasus pada tahun 2008. Kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya partisipasi dari ibu balita dalam mengimunisasikan balitanya di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Upaya yang dilakukan melalui komunikasi petugas kesehatan dan dukungan tokoh agama belum optimal dalam mengubah perilaku ibu balita dalam imunisasi campak.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh komunikasi petugas kesehatan (metode, media, isi pesan, strategi pesan) dan dukungan tokoh agama (dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional) terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Jenis Penelitian ini adalah survey explanatory. Populasi adalah ibu yang mempunyai balita (9 – 12 bulan) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Sampel penelitian sebanyak 80 ibu balita yang diambil dengan menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi perilaku ibu balita dalam imunisasi campak dari komunikasi petugas kesehatan adalah metode, media dan isi pesan, sedangkan dari dukungan tokoh agama adalah dukungan instrumental dan dukungan informasional. Media merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mengefektifkan media tentang imunisasi campak dalam upaya meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat kota Medan khususnya di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar serta meningkatkan partisipasi tokoh agama melalui sosialisasi tentang imunisasi campak.
Kata Kunci : Komunikasi, Dukungan, Perilaku Ibu Balita.
i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The cases of measles in Simalingkar Health Center Medan Tuntungan Subdistrict Medan City was still excessive, which found cases of measles were 99 cases in 2008. The condition showed that the participation of mothers’ with babies were decrease in giving immunization to her babies in Simalingkar Health Center. The attempt done by communication of health officer an the support of religious figures were not optimal yet to change mothers’ behavior in measles immunization.
This research aimed to analyze the influence of communication of health officer (method, media, message content, message strategy) and the support of religious figures (instrumental support, informational support, emotional support) on mothers’ behavior in measles immunization in Simalingkar Health Center. This was survey research with an explanatory. The population were mothers with babies (9 -12 months) those who lived in Simalingkar Health Center. The samples of research were 80 mothers with babies using simple random sampling. Collecting data were done by interview assisted with questioner. Data were analyzed by using multiple logistic test.
The result of this survey showed that the factors that influenced on mothers’ behavior in measles immunization from the communication of the health officer were method, media and message content, and from the support of the religious figures were instrumental support and informational support. Media was the most influence variable on mother’s behavior in measles immunization in Simalingkar Health Center Medan Tuntungan Subdistrict Medan City.
It is suggested to Medan District Health Office to make media about measles immunization more effective in an effort to improve the promotion of health program for Medan’s Community, especially for those who live in working area of Simalingkar Health Center. It is also suggested to improve the participation of the religious figures through socialization about measles immunization.
Keywords : Communication, Support, Mothers’ behavior
ii
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis telah dapat menyusun dan menyelesaikan Tesis dengan judul “Pengaruh Komunikasi Petugas Kesehatan dan Dukungan Tokoh Agama terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan”. Salawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya yang telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Dalam proses penelitian dan penyusunan tesis ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan, bimbingan dan do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
iii
Universitas Sumatera Utara

4. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M dan Dra. Syarifah, M.S, selaku Dosen Pembimbing Tesis.
5. Drs. Tukiman, M.K.M. dan Drs. Alam Bakti Keloko, M.Kes, selaku Dosen Pembanding Tesis.
6. Dr. Erwin Effendi, selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan. 7. Suami tercinta Syamsul Alam Nasution, S.STP, M.A.P., serta ananda Alisya
Nabilah Nasution dan Ibqan Alam Nasution, yang senantiasa mendo’akan, memberi perhatian dan semangat selama penulis mengikuti perkuliahan hingga selesainya pendidikan. 8. Ayahanda tercinta Zainal Abidin Lubis dan Ibunda tercinta Nurlan yang selalu mendo’akan dan memotivasi penulis. 9. Ayahanda Mertua tercinta Alm. Drs. Zainal Arifin Nasution dan Ibunda Mertua tercinta Hj. Siti Maryam Lubis yang senantiasa mendo’akan dan memberi dorongan kepada penulis. 10. Para ibu yang menjadi subjek penelitian yang telah meluangkan waktu untuk wawancara. 11. Teman-teman mahasiswa-mahasiswi Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara angkatan 2008 yang telah memberi semangat kepada penulis.
iv
Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari dalam penyusunan Tesis ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bertujuan untuk menyempurnakan Tesis ini. Mudah-mudahan Tesis ini bermanfaat terutama bagi penulis sendiri dan mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT. Amin Ya Rabal ‘Alamin.
Medan, Februari 2011 Penulis Lina Sari Lubis
v Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Lina Sari Lubis dilahirkan di Medan pada tanggal 13 Juni 1978, anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan Ayahanda Zainal Abidin Lubis dan Ibunda Nurlan. Menikah dengan Syamsul Alam Nasution, SSTP, MAP pada tanggal 5 September 2004 dan telah dikaruniai dua orang putra dan putri yaitu Alisya Nabilah Nasution dan Ibqan Alam Nasution, sekarang menetap di Jl. Juang 45 No. 28 Medan Estate.
Memulai pendidikan di SD Negeri 060848 Medan lulus tahun 1990, melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 6 Medan lulus tahun 1993. Kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 4 Medan lulus tahun 1996. selanjutnya meneruskan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara dan selesai tahun 2002.
Pernah bekerja sebagai dokter PTT di Puskesmas Titi Papan Kota Medan dari tahun 2004 – 2006, kemudian sebagai dokter PNS di Puskesmas Titi Papan tahun 2006 – 2008. Selanjutnya di Puskesmas Pembantu Tembung Kota dari tahun 2009 sampai dengan sekarang.
vi
Universitas Sumatera Utara
i

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ........................................................................................................... ABSTRACT .......................................................................................................... KATA PENGANTAR ......................................................................................... RIWAYAT HIDUP ............................................................................................. DAFTAR ISI ........................................................................................................ DAFTAR TABEL ............................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................

i ii iii vi vii x xi xii

BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ........................................................................ 1.2. Permasalahan .......................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian .................................................................... 1.4. Hipotesis ................................................................................. 1.5. Manfaat Penelitian ..................................................................

1 7 7 7 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 9

2.1. Perilaku ................................................................................... 2.1.1. Perilaku Kesehatan ..................................................... 2.1.2. Domain Perilaku .........................................................
2.2. Komunikasi ............................................................................. 2.2 1. Definisi Komunikasi ................................................... 2.2.2. Komponen Komunikasi .............................................. 2.2.3. Proses Komunikasi ..................................................... 2.2.4. Media Komunikasi ..................................................... 2.2.5. Metode Komunikasi ...................................................
2.3. Dukungan Sosial ..................................................................... 2.3.1. Definisi ....................................................................... 2.3.2. Sumber Dukungan sosial ............................................ 2.3.3. Bentuk Dukungan ....................................................... 2.3.4. Dampak dukungan sosial ............................................
2.4. Campak ................................................................................... 2.4.1. Definisi ....................................................................... 2.4.2. Penyebab ..................................................................... 2.4.3. Gejala Klinis ............................................................... 2.4.4. Komplikasi ..................................................................

9 9 11 14 14 14 15 16 17 18 18 19 19 21 22 22 23 23 24

vii
Universitas Sumatera Utara
i

BAB 3. BAB 4.

2.4.5. Diagnosa ..................................................................... 2.4.6. Pengobatan .................................................................. 2.4.7. Pencegahan ................................................................. 2.4.8. Tahapan Pemberantasan Campak ............................... 2.5. Imunisasi ................................................................................ 2.5.1. Tujuan Imunisasi ........................................................ 2.5.2. Manfaat Imunisasi ...................................................... 2.6. Landasan Teori ....................................................................... 2.7. Kerangka konsep ....................................................................

24 25 25 25 27 28 29 29 30

METODE PENELITIAN .............................................................. 32

3.1. Jenis Penelitian ....................................................................... 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................. 3.3. Populasi dan Sampel .............................................................. 3.4. Metode Pengumpulan Data .................................................... 3.5. Variabel dan Definisi Operasional ......................................... 3.6. Metode Pengukuran ................................................................ 3.7. Metode Analisis Data .............................................................

32 32 33 34 37 38 40

HASIL PENELITIAN .................................................................... 41

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian .................................................... 4.2. Analisis Univariat ...................................................................
4.2.1. Komunikasi Petugas Kesehatan .................................. 4.2.2. Dukungan Tokoh Agama ............................................ 4.2.3. Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak ............. 4.3. Analisis Bivariat ..................................................................... 4.3.1. Komunikasi Petugas Kesehatan (Metode, Media,
Strategi Pesan, Isi Pesan) terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak............................................. 4.3.2. Dukungan Tokoh Agama ( Dukungan Instrumental, Dukungan Emosional, Dukungan Informasional) terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak ........................................................................ 4.4. Analisis Multivariat.................................................................

41 42 43 44 45 46
47
50 53

BAB 5.

PEMBAHASAN ............................................................................. 56
5.1. Pengaruh Komunikasi Petugas Kesehatan terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak ...................................... 56

viii
Universitas Sumatera Utara

5.2. Pengaruh Dukungan Tokoh Agama terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak.............................................. 58
5.3. Keterbatasan Penelitian .......................................................... 61 BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 62
6.1. Kesimpulan ............................................................................. 62 6.2. Saran ....................................................................................... 62 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 64 LAMPIRAN.......................................................................................................... 66
ix
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Judul

Halaman

3.1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner ...................................... 35
3.2. Metode Pengukuran Variabel Independen ............................................. 38
3.3. Metode Pengukuran Variabel Dependen ............................................... 39
4.1. Distribusi Frekuensi Metode, Media, Strategi Pesan, Isi Pesan, Komunikasi petugas kesehatan .............................................................. 43
4.2. Distribusi Frekuensi dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional tokoh agama ......................................................... 44
4.3. Distribusi Frekuensi Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak ...... 45
4.4. Distribusi Komunikasi Petugas Kesehatan terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasis Campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan .............................................................. 47
4.5. Distribusi Dukungan Tokoh Agama terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan .............................................................. 50
4.6. Hasil Pemilihan Variabel Kandidat Multivariat...................................... 53
4.7. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Berganda Antara Variabel Independen dan Variabel Dependen ...................................................... 54
4.8. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Berganda Antara Metode, Media, Isi Pesan, Dukungan Instrumental, Dukungan Informasional terhadap Perilaku Ibu Balita dalam Imunisasi Campak dengan Exp B 95 % ....................................................................................................... 55

x
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Judul

Halaman

1. Kerangka Konsep Penelitian ................................................................. 31

xi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No. Judul

Halaman

1. Lembar Pertanyaan / Kuesioner ........................................................... 72 2. Hasil Uji Statistik ................................................................................ 82

xii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Kasus campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan masih tinggi, dijumpai sebanyak 99 kasus pada tahun 2008. Kondisi tersebut menunjukkan masih rendahnya partisipasi dari ibu balita dalam mengimunisasikan balitanya di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Upaya yang dilakukan melalui komunikasi petugas kesehatan dan dukungan tokoh agama belum optimal dalam mengubah perilaku ibu balita dalam imunisasi campak.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh komunikasi petugas kesehatan (metode, media, isi pesan, strategi pesan) dan dukungan tokoh agama (dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional) terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Jenis Penelitian ini adalah survey explanatory. Populasi adalah ibu yang mempunyai balita (9 – 12 bulan) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Sampel penelitian sebanyak 80 ibu balita yang diambil dengan menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang memengaruhi perilaku ibu balita dalam imunisasi campak dari komunikasi petugas kesehatan adalah metode, media dan isi pesan, sedangkan dari dukungan tokoh agama adalah dukungan instrumental dan dukungan informasional. Media merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan.
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan untuk mengefektifkan media tentang imunisasi campak dalam upaya meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat kota Medan khususnya di wilayah kerja Puskesmas Simalingkar serta meningkatkan partisipasi tokoh agama melalui sosialisasi tentang imunisasi campak.
Kata Kunci : Komunikasi, Dukungan, Perilaku Ibu Balita.
i
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The cases of measles in Simalingkar Health Center Medan Tuntungan Subdistrict Medan City was still excessive, which found cases of measles were 99 cases in 2008. The condition showed that the participation of mothers’ with babies were decrease in giving immunization to her babies in Simalingkar Health Center. The attempt done by communication of health officer an the support of religious figures were not optimal yet to change mothers’ behavior in measles immunization.
This research aimed to analyze the influence of communication of health officer (method, media, message content, message strategy) and the support of religious figures (instrumental support, informational support, emotional support) on mothers’ behavior in measles immunization in Simalingkar Health Center. This was survey research with an explanatory. The population were mothers with babies (9 -12 months) those who lived in Simalingkar Health Center. The samples of research were 80 mothers with babies using simple random sampling. Collecting data were done by interview assisted with questioner. Data were analyzed by using multiple logistic test.
The result of this survey showed that the factors that influenced on mothers’ behavior in measles immunization from the communication of the health officer were method, media and message content, and from the support of the religious figures were instrumental support and informational support. Media was the most influence variable on mother’s behavior in measles immunization in Simalingkar Health Center Medan Tuntungan Subdistrict Medan City.
It is suggested to Medan District Health Office to make media about measles immunization more effective in an effort to improve the promotion of health program for Medan’s Community, especially for those who live in working area of Simalingkar Health Center. It is also suggested to improve the participation of the religious figures through socialization about measles immunization.
Keywords : Communication, Support, Mothers’ behavior
ii
Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia. Penyakit campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan kematian yang diakibatkan oleh komplikasi seperti radang paru (pneumonia), berakberak (diare), radang telinga (otitis media) dan radang otak (ensefalitis), terutama pada anak dengan gizi buruk.
Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta orang yang menderita campak. Pada tahun 2002 dilaporkan kematian campak di dunia sebanyak 777.000 dan 202.000 diantaranya berasal dari negara ASEAN serta 15% dari kematian campak tersebut dari Indonesia. Tahun 2005 diperkirakan 345.000 kematian diseluruh dunia, yang terbanyak terjadi pada anak-anak (Depkes RI,2006). Insidens campak di Indonesia masih tinggi, lebih dari 30.000 ribu anak meninggal setiap tahun karena campak atau dengan kata lain setiap 20 menit terjadi 1 kematian.
Pada sidang World Health Assembly (WHA) tahun 1998 menetapkan kesepakatan global salah satunya adalah reduksi campak (RECAM) pada tahun 2000. Beberapa negara seperti Amerika dan berapa negara lainnya telah memasuki tahap eliminasi campak. Pada sidang WHO tahun 1996 menyimpulkan bahwa campak dimungkinkan untuk dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) atau reservoir
1
Universitas Sumatera Utara

campak hanya manusia, diperkirakan eradikasi akan dapat dicapai 10-15 tahun setelah dieliminasi (Depkes RI, 2005). Dengan kata lain bahwa karena virus campak hanya dapat berkembang di tubuh manusia maka, campak bisa dihilangkan dengan memberikan kekebalan terhadap virus campak pada manusia, yaitu dengan imunisasi.
Pada tahun 2003 WHO membuat rencana dalam penanggulangan campak dengan tujuan utama menurunkan angka kematian campak sebanyak 50% pada tahun 2005 dibandingkan dengan angka kematian pada tahun 1999. Strategi tersebut berupa akselerasi surveilans campak, akselerasi respon KLB, cakupan rutin imunisasi campak tinggi (cakupan 90%) dan pemberian dosis kedua campak (Depkes RI,2006).
Kejadian penyakit campak sangat berkaitan dengan keberhasilan program imunisasi campak. Indikator yang bermakna untuk menilai ukuran kesehatan masyarakat di negara berkembang adalah imunisasi campak. Bila cakupan imunisasi mencapai 90% maka dapat berkontribusi menurunkan angka kesakitan dan angka kematian sebesar 80-90%. Amerika Serikat mencapai eradikasi campak pada tingkatan cakupan sekitar 90% (Depkes RI,2004). Indonesia pada saat ini berada pada tahap reduksi dengan pengendalian dan pencegahan Kejadian Luar Biasa (KLB). Tingkat penularan infeksi campak sangat tinggi sehingga sering menimbulkan KLB. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak. Tanpa program imunisasi attack rate 93,5 per 100.000. Kasus campak dengan gizi buruk akan meningkatkan Case Fatality Rate (Depkes RI, 2006).
Di Indonesia program imunisasi campak dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 bulan. Pada awalnya cakupan campak
Universitas Sumatera Utara

sebesar 12,7% di tahun 1984 kemudian meningkat sebesar 85,4% pada tahun 1990 dan bertahan pada 90,6% di tahun 2002, pada tahun 2004 cakupan naik menjadi 91,8%. Pada tahun 1990 Indonesia dinyatakan telah mencapai Universal Child Immunization (UCI) secara nasional. Hal ini memberikan dampak positip terhadap kecenderungan penurunan insiden campak, khususnya pada Balita dari 20.08/10.000 – 3,4/10.000 selam tahun 1992-1997. Jumlah kasus campak menurun pada semua golongan umur di Indonesia terutama anak-anak dibawah lima tahun pada tahun 1999 s/d 2001, namun setelah itu insidens rate tetap, dengan kejadian pada kelompok umur <1 tahun dan 1-4 tahun selalu tinggi daripada kelompok umur lainnya.
Campak berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB), karena tingkat penularan campak sangat tinggi. Dikatakan KLB, jika peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun) atau jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka ratarata perbulan dalam tahun sebelumnya. Pada umumnya KLB yang terjadi dibeberapa provinsi menunjukkan kasus tertinggi selalu ada pada golongan umur 1-4 tahun. Gambaran ini menunjukkan bahwa balita merupakan kelompok rawan dan perlu ditingkatkan imunitasnya terhadap campak. Hal ini menggambarkan lemahnya pelaksanaan dari pemberian satu dosis sehingga perlu dilakukan imunisasi campak pada semua kelompok umur tersebut diseluruh desa yang mempunyai masalah cakupan imunisasi. Case Fatality rate campak di rumah sakit dan dari hasil penyelidikan Kejadian Luar Biasa (KLB) selama tahun 1997-1999 cenderung
Universitas Sumatera Utara

meningkat, kemungkinan berkaitan dengan dampak krisis pangan dan gizi, tapi hal itu belum diteliti (Depkes RI, 2005).
Dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan angka kematian, Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya antara lain dengan program reduksi campak yang dilaksanakan diseluruh Indonesia secara bertahap dan beberapa propinsi telah melaksanakan secara intensif. Di Indonesia diperkirakan tahap reduksi campak bila insidens menjadi 50/10.000 balita dan kematian 2/10.000. Dalam rangka percepatan reduksi campak, maka dilakukan pemberian imunisasi campak dosis tambahan pada kelompok usia berisiko tinggi secara lebih luas berupa pelaksanaan crash program measles pada anak usia 6-59 bulan dan catch up campaign measles seluruh anak SD kelas 1 s/d 6, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya (Depkes RI, 2006).
Di Kota Medan, program pemberantasan penyakit campak ini juga telah dilaksanakan dengan berbagai kebijakan dan srategi, seperti mengadakan program penyuluhan kepada masyarakat, kampanye imunisasi campak dan pemberian imunisasi campak secara massal (crash program measles). Tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan karena masih ada kasus-kasus campak di kota Medan. Berdasarkan data diperolah dari Puskesmas sejak Januari 2005 hingga November 2005 jumlah kasus campak di Medan berjumlah 692 kasus. Sementara jumlah kasus campak usia balita sejak Januari 2005 hingga November 2005 berjumlah 303 balita. Pada tahun 2007 jumlah kasus campak di kota Medan 108 kasus, dan pada tahun 2008 jumlah kasus campak 305 kasus (Dinkes Kota Medan, 2008).
Universitas Sumatera Utara

Menurut penjelasan Kasubdin P2P Dinas Kesehatan Kota Medan, walaupun dengan keterbatasan dana, fasilitas yang kurang lengkap, serta tenaga yang kurang terampil, tetapi berbagai kebijakan dan strategi dalam pemberantasan penyakit campak telah dilakukan, seperti penyuluhan kepada masyarakat oleh petugas kesehatan melalui puskesmas dan puskesmas pembantu di Kota Medan, tentang penyakit campak dan bahaya yang ditimbulkannya. Semua program ini belum berhasil dalam memberantas penyakit campak tersebut. Hal ini terbukti dengan masih adanya kasus yang ditemukan di kota Medan. Daerah yang cakupan imunisasinya paling rendah dan tertinggi jumlah kasus campaknya adalah puskesmas Simalingkar kecamatan Medan Tuntungan, dimana cakupan imunisasi campak untuk tahun 2007 sebesar 89,78 %, dan jumlah kasus campak sebanyak 53 kasus (Dinkes Kota Medan, 2008). Cakupan imunisasi campak untuk tahun 2008 sebesar 85,94 % dan jumlah kasus campak sebanyak 99 kasus (Dinkes Kota Medan, 2009).
Berdasarkan penjelasan dari petugas P2P Dinas Kesehatan Kota Medan, masih tingginya kasus campak tersebut disebabkan oleh perilaku dari ibu balita sendiri yang kurang aktif dalam program pemberantasan penyakit campak, antara lain ibu balita tersebut tidak ikut dalam pemberian imunisasi yang dilakukan secara rutin di posyandu 1 bulan sekali. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit campak, persepsi masyarakat tentang penyakit campak, kurangnya keyakinan masyarakat dan menolak diberikannya imunisasi pada anaknya karena takut anaknya menjadi sakit setelah diimunisasi.
Universitas Sumatera Utara

Kota Medan merupakan kota yang bercorak heterogen dan paternalistik, seperti kota-kota lain yang berciri sama, maka peran tokoh masyarakat termasuk tokoh agama menjadi panutan. Studi yang dilakukan Kurniasari (2006), dalam hal pembentukan komunitas peduli anak, menunjukkan adanya peran tokoh agama dalam perubahan perilaku masyarakat, dengan terbentuknya komunitas yang peduli anak, khususnya di kota Medan.
Sehubungan dengan uraian diatas, peneliti berasumsi bahwa terdapat pengaruh tokoh agama terhadap perilaku masyarakat, utamanya di bidang kesehatan. Sepengetahuan peneliti, hingga saat ini belum terlihat peran optimal dari tokoh agama dalam masalah penyakit campak, untuk itu maka peneliti ingin mengetahui sejauhmana pengaruh dukungan tokoh agama terhadap perilaku ibu dalam imunisasi campak.
Petugas kesehatan juga berperan dalam perubahan perilaku ibu balita terutama dalam imunisasi campak. Di Puskesmas Simalingkar penyuluhan tentang imunisasi campak kurang efektif dalam memengaruhi ibu balita. Menurut POA Puskesmas Simalingkar petugas kesehatan memberikan penyuluhan imunisasi 1x/bulan/posyandu. Jika penyuluhan benar dilakukan maka dapat memengaruhi ibu balita dalam pemberian imunisasi khususnya imunisasi campak.
Universitas Sumatera Utara

1.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut : Apakah ada pengaruh komunikasi petugas kesehatan (metode, media, strategi pesan, isi pesan) dan dukungan tokoh agama (dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional) terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.
1.3 Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh komunikasi petugas kesehatan (metode, media,
strategi pesan, isi pesan) dan dukungan tokoh agama (dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional) terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.
1.2 Hipotesis Ada pengaruh komunikasi petugas kesehatan (metode, media, strategi pesan, isi
pesan) dan dukungan tokoh agama (dukungan instrumental, dukungan informasional, dukungan emosional) terhadap perilaku ibu balita dalam imunisasi campak di Puskesmas Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan.
Universitas Sumatera Utara

8
1.3 Manfaat Penelitian 1. Bagi Pemerintah Kota Medan Menjadi masukan dan bahan pertimbangan untuk mengikut sertakan partisipasi masyarakat dalam hal ini tokoh agama dalam membuat suatu kebijakan, terutama dalam bidang kesehatan.
2. Bagi Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kota Medan mengenai sejauh mana pengaruh komunikasi petugas kesehatan dan dukungan tokoh agama terhadap perilaku ibu balita dalamimunisasi campak, sehingga dapat mengambil suatu kebijakan dengan membuat program yang sesuai untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan menurunkan jumlah kasus campak.
3. Bagi Petugas Kesehatan dan Tokoh Agama Menjadi alat evaluasi pribadi petugas kesehatan dan tokoh agama untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.
4. Manfaat Akademis Hasil penelitian ini diharapkan menambah wawasan pengembangan ilmu manajemen kesehatan, khususnya tentang pengaruh komunikasi petugas kesehatan dan dukungan tokoh agama terhadap cakupan imunisasi campak.
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perilaku Perilaku dari pandangan biologis adalah merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Bahkan kegiatan internal (internal activity) seperti berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia. Untuk kepentingan kerangka analisis dapat dikatakan bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan) dan lingkungan. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia.
2.1.1 Perilaku Kesehatan (Notoatmodjo,2007) Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme)
terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok.
9
Universitas Sumatera Utara

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan ( Health maintenance ) Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga
kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek yaitu :
a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu dijelaskan disini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang yang sehat perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat mendatangkan penyakit. Hal ini tergantung pada perilaku orang terhadap makanan dan minuman tersebut.
2. Perilaku pencarian dan penggunaan system atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (Health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat
menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri ( self treatment ) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
Universitas Sumatera Utara

3. Perilaku kesehatan lingkungan Bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial
budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak memengaruhi kesehatannya. Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga, atau masyarakatnya. Misalnya bagaimana mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah, pembuangan limbah, dan lainnya.
2.1.2. Domain perilaku Meskipun perilaku adalah bentuk respon atau reaksi terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar organisme (orang) namun dalam memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkuan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respon tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku.
Menurut Lawrance Green (2005) perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : 1). Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factor)
Faktor-faktor ini mencakup, pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat
Universitas Sumatera Utara

sosial ekonomi, dan sebagainya. Ikhwal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Untuk berperilaku kesehatan, misalnya pemeriksaan kesehatan bagi ibu hamil diperlukan pengetahuan dan kesadaran ibu tersebut tentang manfaat pemeriksaan hamil, baik bagi kesehatan ibu sendiri dan janinnya. Disamping itu, kadang-kadang kepercayaan, tradisi dan sistem nilai masyarakat juga dapat mendorong atau menghambat ibu untuk periksa hamil. Misalnya, orang hamil tidak boleh disuntik (pemeriksa hamil termasuk memperoleh suntikan anti tetanus), karena suntikan bisa menyebabkan anak cacat. Faktor-faktor ini terutama yang positif akan mempermudah terwujudnya perilaku baru maka sering disebut faktor yang memudahkan
2). Faktor-faktor pemungkin (Enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas
kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, tersedianya makanan yang bergizi, dan sebagainya. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta (BPS), dan sebagainya. Untuk berperilaku sehat, masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung, misalnya perilaku pemeriksaan kehamilan. Ibu hamil yang mau periksa hamil tidak hanya karena ia tahu dan sadar manfaat periksa hamil saja, melainkan ibu tersebut dengan mudah harus dapat memperoleh fasilitas atau tempat periksa hamil, misalnya puskesmas, polindes, bidan praktik, ataupun rumah sakit. Fasilitas ini pada
Universitas Sumatera Utara

hakikatnya mendukung untuk atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung, atau faktor pemungkin.
3). Faktor-faktor penguat (Reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma),
tokoh agama (toga), sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintahan daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas, lebih-lebih para petugas kesehatan. Disamping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. Seperti perilaku pemeriksaan ibu hamil, serta kemudahan memperoleh fasilitas pemeriksaan hamil, juga diperlukan peraturan atau perundangundangan yang mengharuskan ibu hamil melakukan periksa hamil. Oleh sebab itu intervensi pendidikan hendaknya dimulai mendiagnosis 3 faktor penyebab (determinan) tersebut kemudian intervensinya juga diarahkan terhadap 3 faktor tersebut.
Universitas Sumatera Utara

2.2 Komunikasi 2.2.1. Definisi Komunikasi
Komunikasi adalah proses pengoperasian rangsangan (stimulus) dalam bentuk lambang atau simbol bahasa atau gerak (non verbal), untuk memengaruhi perilaku orang lain. Stimulus atau rangsangan ini dapat berupa suara/bunyi atau bahasa lisan, maupun berupa gerakan, tindakan, atau simbol-simbol yang diharapkan dapat dimengerti oleh pihak lain, dan pihak lain tersebut merespons atau bereaksi sesuai dengan maksud pihak yang memberikan stimulus. Oleh sebab itu reaksi atau respons, baik dalam bentuk bahasa maupun simbol-simbol ini merupakan pengaruh atau hasil proses komunikasi. Proses komunikasi yang menggunakan stimulus atau respons dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan, selanjutnya disebut komunikasi verbal. Sedangkan apabila proses komunikasi tersebut menggunakan simbol-simbol disebut komunikasi nonverbal.
2.2.2 Komponen komunikasi Komponen komunikasi adalah hal-hal yang harus ada agar komunikasi bisa
berlangsung dengan baik. Menurut Laswell komponen-komponen komunikasi adalah:  Pengirim atau komunikator (sender) adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain.  Pesan (message) adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.
Universitas Sumatera Utara

 Saluran (channel) adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. Dalam komunikasi antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran nada/suara.
 Penerima atau komunikate (receiver) adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain.
 Umpan balik (feedback) adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya.
 Aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi itu akan dijalankan ("Protokol").
2.2.3 Proses komunikasi Secara ringkas, proses berlangsungnya komunikasi bisa digambarkan seperti berikut.
1. Komunikator (sender) yang mempunyai maksud berkomunikasi dengan orang lain mengirimkan suatu pesan kepada orang yang dimaksud. Pesan yang disampaikan itu bisa berupa informasi dalam bentuk bahasa ataupun lewat simbol-simbol yang bisa dimengerti kedua pihak.
2. Pesan (message) itu disampaikan atau dibawa melalui suatu media atau saluran baik secara langsung maupun tidak langsung. Contohnya berbicara langsung melalui telepon, surat, e-mail, atau media lainnya.
3. Komunikan (receiver) menerima pesan yang disampaikan dan menerjemahkan isi pesan yang diterimanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh komunikan itu sendiri.
Universitas Sumatera Utara

4. Komunikan (receiver) memberikan umpan balik (feedback) atau tanggapan atas pesan yang dikirimkan kepadanya, apakah dia mengerti atau memahami pesan yang dimaksud oleh si pengirim.
2.2.4. Media Komunikasi Media berarti wadah atau sarana. Dalam bidang komunikasi, istilah media
yang sering kita sebut sebenarnya adalah penyebutan singkat dari media komunikasi. Media komunikasi sangat berperan dalam memengaruhi perubahan masyarakat. Televisi dan radio adalah contoh media yang paling sukses menjadi pendorong perubahan. Audio-visual juga dapat menjadi media komunikasi. Penyebutan audiovisual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio-visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Produk audio-visual dapat menjadi media dokumentasi dan dapat juga menjadi media komunikasi. Sebagai media dokumentasi tujuan yang lebih utama adalah mendapatkan fakta dari suatu peristiwa. Sedangkan sebagai media komunikasi, sebuah produk audio-visual melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi. Media dokumentasi sering menjadi salah satu elemen dari media komunikasi. Karena melibatkan banyak elemen media, maka produk audio-visual yang diperuntukkan sebagai media komunikasi sering disebut sebagai multimedia, pada masyarakat yang masih terbelakang (belum berbudaya
Universitas Sumatera Utara

baca-tulis) elemen-elemen multimedia tidak seluruhnya secara optimal menunjang komunikasi. Masyarakat terbelakang hanya mengenal gambar dan suara.
Pada masyarakat modern seluruh elemen multimedia menjadi sangat vital dalam membangun kesatuan dan memperkaya informasi. Suara, teks, gambar statis, animasi dan video harus diperhitungkan sedemikian rupa penampilannya, sehingga dapat menyajikan informasi yang sesuai dengan ciri khas masyarakat modern yakni efektif dan efisien. Untuk kepentingan efektifitas dan efisiensi inilah kemudian muncul istilah multimedia yang bersifat infotainment (informatif sekaligus menghibur) dan multilayer (beberapa lapis tampil pada saat yang sama). Saat menyaksikan tayangan TV masyarakat telah terbiasa melihat sinetron sambil mencermati tambahan berita dalam bentuk teks yang bergerak di bagian bawah layar TV, dan sesekali melirik logo perusahaan TV di pojok atas.
2.2.5 Metode Komunikasi Dalam hal penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan banyak
cara (metode) yang ditempuh, hal ini tergantung pada macam-macam tingkat pengetahuan, pendidikan, sosial budaya dan latar belakang dari komunikan sehingga komunikator harus dapat melihat metode atau cara apa yang akan dipakai supaya pesan yang disampaikan mengenai sasaran. Metode atau cara tersebut antara lain : 1. Komunikasi satu tahap
Komunikator mengirimkan pesan langsung kepada komunikan sehingga timbul kemungkinan terjadi proses komunikasi satu arah.
Universitas Sumatera Utara

2. Komunikasi dua tahap Komunikator dalam menyampaikan pesannya tidak langsung kepada
komunikan, tetapi malalui orang-orang tertentu dan kemudian mereka ini meneruskan pesan kepada komunikan.
3. Komunikasi banyak tahap Dalam menyampaikan pesan, komunikator melakukan dengan cara-cara lain,
tidak selalu mempergunakan komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah akan tetapi dengan cara lain yaitu dengan melalui berbagai tahap.
2.3 DUKUNGAN SOSIAL 2.3.1. Definisi
Terdapat banyak definisi tentang dukungan sosial yang dikemukakan oleh para ahli. Sheridan dan Radmacher menekankan pengertian dukungan sosial sebagai sumber daya yang disediakan lewat interaksi dengan orang lain. “Sosial support is the resources provided to us through our interaction with other people ”. (Sheridan dan Radmacher, 1992).
Pendapat lain dikemukakan oleh siegel yang menyatakan bahwa dukungan sosial adalah informasi dari orang lain bahwa ia dicintai dan diperhatikan, memiliki harga diri dan dihargai, serta merupakan bagian dari jaringan komunikasi dan kewajiban bersama. “ Sosial support is information from others that one is loved and
Universitas Sumatera Utara

cared for, esteemed and valued, and part of a network of communication and mutual obligation “ (Siegel dalam Taylor, 1999).
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dukungan sosial merupakan ketersediaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis yang didapat lewat pengetahuan bahwa individu tersebut dicintai, diperhatikan, dihargai oleh orang lain dan ia juga merupakan anggota dalam suatu kelompok yang berdasarkan kepentingan bersama.
2.3.2. Sumber Dukungan Sosial Dari definisi diatas dapat dilihat dengan jelas bahwa sumber dari dukungan
sosial ini adalah orang lain yang akan berinteraksi dengan individu sehingga individu tersebut dapat merasakan kenyamanan secara fisik dan psikologis. Orang lain ini terdiri dari pasangan hidup, orang tua, saudara, anak, kerabat, teman, rekan kerja, staf medis serta anggota dalam kelompok kemasyarakatan.
2.3.3. Bentuk Dukungan Sheridan dan Radmacher (1992), sarafino (1998) serta Taylor (1999)
membagi dukungan sosial kedalam lima bentuk. Yaitu : 1.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru