Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.

ABSTRACT
UPMAL DESWIRA. The use of Maize Destillers Dried Grain with Solubles
(DDGS) as source of vegetable protein feed for giant gouramy Osphronemus
gouramy Lac. Juvenile. Guided by MIA SETIAWATI and MUHAMMAD AGUS
SUPRAYUDI.
This experiment was conducted to examine the effect of the use of DDGS as a
source of vegetable protein on the growth of the giant gouramy O. gouramy Lac.
juvenile. Feed is devided into two, the feed for testing of digestibility and testing
of growth. The feed for testing of digestibility are References Diet (100% control
of feed) and Test Diet (70% of control feed and 30% of DDGS), while the feed
for testing of growth are 0%, 10%, 20%, and 30% DDGS. The fish were feed the
experimental diet at satiation. Giant gouramy be used in this research have weight
4.72±0.78 g. Culture of fish conducted during 40 days in the aquarium sized
50x40x35 cm. Test of growth from DDGS up to 30% showed no significant
difference (P>0.05) in daily growth rate (2.82 to 2.91%), survival rate (100%),
feed consumptions (139.07-159.22 g), and feed efficiency (64.52-71.05%).
Whereas, protein retention (16.29 to 25.02%), lipid retention (31.36 to 53.52%)
are significantly different with control. It is conclude that the use of DDGS as the
source of vegetable protein with various consentration on the feed of giant
gouramy until 30% didn’t affect the daily growth rate, survival rate, and feed
consumptions. The highest feed efficiency of DDGS treatment is 20%.
Key word: DDGS, vegetable protein, feed, giant gouramy

ABSTRAK
UPMAL DESWIRA. Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS)
Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus
gouramy Lac.. Dibimbing oleh MIA SETIAWATI dan MUHAMMAD AGUS
SUPRAYUDI.
Penelitan ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS sebagai
sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame O. gouramy Lac..
Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian kecernaan dan
pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian kecernaan berupa References
Diet (100% pakan kontrol) dan Test Diet (70% pakan kontrol dan 30% DDGS),
sedangkan pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4 jenis pakan yaitu
DDGS 0%, 10%, 20%, dan 30%. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali
sehari secara at satiation. Ikan yang dipelihara pada penelitian ini adalah ikan
gurame berukuran 4,72±0,78 g. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 40 hari di
dalam akuarium berukuran 50x40x35 cm. Hasil pengujian menunjukkan
kecernaan DDGS sebesar 70,10%. Dari pengujian pertumbuhan pakan berbasis
DDGS sampai dengan 30% diperoleh hasil laju pertumbuhan harian 2,82-2,91%,
kelangsungan hidup 100%, jumlah konsumsi pakan 139,07-159,22 g, dan efisiensi
pakan 64,52-71,05% yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap perlakuan
kontrol, akan tetapi retensi protein pakan dengan DDGS 20% dan DDGS 30%
yaitu 22,24% dan 16,29%,serta retensi lemak semua perlakuan 31,36-53,32%
berbeda nyata dengan kontrol. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa
Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang
berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh
terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan
DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi.
Kata kunci: DDGS, protein nabati, pakan, ikan gurame

I. PENDAHULUAN
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi suatu kegiatan
budidaya ikan, yaitu sekitar 49-89% (Suprayudi, 2010). Pakan yang digunakan
harus memenuhi kebutuhan nutrien ikan yang dipelihara. Nutrien tersebut
meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.
Protein sebagai sumber nutrien utama dalam pakan, memiliki harga yang
lebih mahal dibandingkan dengan sumber nutrien lainnya. Sumber protein yang
paling utama pada pakan ikan yaitu tepung ikan dan tepung bungkil kedelai.
Tepung bungkil kedelai adalah salah satu sumber protein nabati yang bergizi
tinggi, karena mengandung asam amino yang relatif seimbang dan memiliki nilai
kecernaan yang tinggi (Hertrampf dan Pascual, 2000). Menurut Maina et al.
(2002) tepung bungkil kedelai pada kadar air 10,90% memiliki kandungan protein
sebesar 43,20%, lemak 2%, kadar abu 6,50%, dan serat kasar sebesar 4,60%.
Keunggulan yang dimiliki tepung bungkil kedelai tersebut menjadikan
bahan ini sebagai sumber protein nabati utama dalam pakan ikan, akibatnya harga
tepung bungkil kedelai menjadi mahal, selain itu ketergantungan yang cukup
besar terhadap tepung bungkil kedelai ini dalam jangka panjang akan berdampak
pada kelangkaan dan kenaikan harga yang signifikan akibat permintaan yang
semakin tinggi. Oleh karena itu diperlukan sumber protein alternatif yang bisa
mengurangi bahkan menggantikan penggunaan tepung bungkil kedelai pada
pakan ikan. Kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan pakan alternatif tersebut
yaitu memiliki nutrien yang dibutuhkan ikan, tidak berkompetisi dengan manusia,
berbasis limbah, tidak mengandung material berbahaya, harga lebih murah, serta
tersedia dalam jumlah besar dan kontinyu (Suprayudi, 2010).
Salah satu bahan baku yang memenuhi kriteria tersebut adalah DDGS
(Distillers Dried Grain with Solubles). DDGS merupakan salah satu produk
sampingan (limbah) dari industri penyulingan etanol. DDGS ini berbahan dasar
dari gandum, jagung, sorgum, gandum hitam, dan campuran dari beberapa bahan
tersebut, akan tetapi sebagian besar berbahan dasar jagung (Hertrampf dan
Pascual, 2000). DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan
difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi.

1

Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari
bobot awal. Kandungan protein, lemak, abu, dan serat kasar DDGS pada kadar air
9,2% secara berturut-turut yaitu sebesar 27,8%, 10%, 4,7%, dan 10,9%
(Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh karena itu DDGS diduga dapat digunakan
sebagai sumber protein nabati alternatif untuk mengurangi penggunaan tepung
bungkil kedelai di dalam pakan ikan.
Penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati telah diujikan pada
beberapa jenis ikan, diantaranya chanel catfish, ikan nila, ikan kerapu bebek, dan
ikan mas, sehingga diperoleh jumlah optimal DDGS dalam pakan. Penggunaan
DDGS pada pakan ikan chanel catfish (Lim et al., 2009) dan ikan nila (Lim et al.,
2007) sebanyak 40%, ikan kerapu bebek penggunaan DDGS dan Hominy feed
sebanyak 10% (Abidin, 2011), dan ikan mas sebanyak 25% DDGS (Silmina,
2011).
Ikan gurame merupakan ikan omnivor cenderung herbivor, sehingga diduga
dapat memanfaatkan pakan yang megandung serat kasar cukup tinggi. Oleh
karena itu penggunaan DDGS dalam formulasi pakan diharapkan dapat
mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai dalam pakan ikan.
Penelitan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS
sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame
Osphronemus gouramy Lac..

2

II. BAHAN DAN METODE
2.1 Pakan Penelitian
Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian
kecernaan dan pakan untuk pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian
kecernaan dibuat berdasarkan metode kecernaan bahan yang dikemukakan
Watanabe (1988) yang terdiri dari pakan acuan (References Diet/RD) yaitu 100%
pakan kontrol dan pakan uji (Test diet/RD) yaitu 70% pakan kontrol dan 30%
bahan yang akan diuji (DDGS). Pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4
jenis pakan yaitu dengan kadar penambahan DDGS yang berbeda 0%, 10%, 20%,
dan 30%. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan penelitian terlebih
dahulu dianalisis proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisinya. Hasil
analisis bahan baku pakan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan
Bahan
Tepung Ikan
Tepung bungkil kedelai
DDGS
Pollard

Kadar Proksimat Bahan Kering (%)
Protein
Lemak
Abu
BETN
62,38
6,85
26,45
3,29
49,80
2,17
7,26
37,69
27,77
9,57
5,73
48,52
14,41
3,46
4,00
69,95

Berdasarkan Tabel 1 diketahui hasil analisis proksimat bahan baku pakan
berupa kandungan protein, lemak, abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN).
Tepung ikan, tepung bungkil kedelai, dan DDGS memiliki kandungan protein di
atas 20%, sehingga dijadikan sebagai sumber protein pakan. Sedangkan pollard
menjadi sumber karbohidrat pakan. DDGS dan tepung bungkil kedelai selain
sebagai sumber protein juga menjadi sumber karbohidrat. Kemudian sumber
lemak pakan berasal dari DDGS dan tepung ikan.
Setelah diketahui analisis proksimat bahan baku, selanjutnya dibuat
formulasi pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrien ikan uji dan
perlakuan yang diberikan. Pakan yang telah dibuat dianalis proksimat. Komposisi
dan analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan dan pertumbuhan
disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.

3

Tabel 2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%)
Komposisi
References Diet (RD)
Pakan kontrol
96,5
DDGS
0
Binder (Tepung Sagu)
3
Cr2O3
0,5
Total
100
Hasil Analisis Proksimat dalam bobot kering
Lemak
12,35
Protein
42,08
Kadar Abu
9,07
Serat Kasar
5, 31
BETN
31,19
(1)
GE (kkal/kg)
4796,25
C/P (kkal/g)(2)
11,4

Test Diet (TD)
66,5
30
3
0,5
100
12,03
39,24
10,27
6,71
31,76
4630,28
11,8

Keterangan: (1) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1
kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (2) Rasio energi/protein

Tabel 3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%)
Penggunaan DDGS (%)
0
10
20
Tepung Ikan
36,21
36,21
36,21
Tepung bungkil kedelai
17,50
10,72
6,72
DDGS
0,00
10,00
20,00
Pollard
32,59
29,77
24,34
(1)
Minyak
10,60
10,20
9,63
Premix
1,10
1,10
1,10
Binder (Tepung Sagu)
2
2
2
Total
100,00
100,00
100,00
Hasil analisis proksimat dalam bobot kering
Lemak
13,58
14,92
14,47
Protein
41,35
39,63
39,18
Kadar Abu
10,35
8,74
9,53
Serat Kasar
4,89
6,56
4,81
BETN
29,82
30,15
32,01
GE (kkal/kg)(2)
4814,98
4858,35
4866,88
C/P (kkal/g)(3)
11,6
12,3
12,4
Komposisi

30
36,21
2,72
30,00
18,87
9,10
1,10
2
100,00
15,59
40,32
8,96
4,42
30,71
4982,74
12,4

Keterangan: (1) Minyak ikan : minyak jagung = 5,8 : 9, (2) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal
DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC,
1993) (3) Rasio energi/protein

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat komposisi pakan uji mengandung DDGS
0% sampai 30% yang diikuti dengan pengurangan proporsi tepung bungkil
kedelai sebagai sumber protein nabati dan Pollard sebagai sumber karbohidrat.
4

Kemudian untuk sumber dan jumlah protein hewani, minyak, dan premix dalam
komposisi pakan uji disamakan. Pakan penelitian yang digunakan memiliki energi
sebesar 4814,98-4982,74 kkal/kg dan kadar protein sebesar 39,18-41,35%
sehingga diperoleh rasio energi dengan protein yaitu sebesar 11,6-12,4.

2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data
Ikan yang dipelihara pada penelitian ini berupa benih ikan gurame
berukuran 4,72±0,78 g per ekor yang berasal dari Cikupa, Kabupaten Bogor.
Pemeliharaan ikan dilakukan dalam 14 akuarium berukuran 50x40x35 cm, dengan
kepadatan 10 ekor per akuarium.
Ikan diadaptasikan terhadap lingkungan selama 21 hari. Setelah itu ikan
dipuasakan selama 1 hari sebelum dilakukan penimbangan bobot awal. Selama
kegiatan pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 75% setiap dua hari
sekali. Selain itu juga dilakukan penyifonan sebanyak 3 kali sehari yaitu sebelum
pemberian pakan. Kemudian untuk menjaga kestabilan suhu dipasang water
heater thermostat pada setiap akuarium.
Pakan diberikan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Pakan yang akan
diberikan ditimbang terlebih dahulu supaya dapat dihitung jumlah konsumsi
pakan (JKP) pada akhir pemeliharaan. Ikan dipelihara selama 40 hari dan
dilakukan sampling pertumbuhan berupa pengukuran bobot pada awal dan akhir
pemeliharaan. Pengukuran kualitas air berupa suhu dilakukan setiap hari. Tata
letak wadah dan perlakuan disajikan pada Gambar 1.
C3

B1

A1

A3

B2

K1

K3

A2

B3

TD

RD

C1

K2

C2

S

T

Keterangan:
K= Pakan 0% DDGS, A= pakan 10% DDGS, B= pakan 20% DDGS, C= pakan 30% DDGS, TD=
Test Diet, RD = References Diet, S= stok dan T= tandon, 1,2,3= ulangan

Gambar 1. Tata letak wadah dan perlakuan.

5

2.3 Pengujian Kecernaan
Pengujian kecernaan dilakukan untuk mengetahui kecernaan bahan DDGS.
Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan feses pada hari ke-6 setelah ikan diberi
pakan untuk pengujian kecernaan (Pakan RD dan TD). Feses ikan dikumpulkan
selama 2 minggu pemeliharaan. Selama kurun waktu tersebut feses disimpan pada
botol film yang diletakkan di dalam lemari pendingin.
Feses yang telah terkumpul dikeringkan di oven pada suhu 110°C selama 6
jam. Selanjutnya dilakukan analisis kandungan protein dan Cr 2O3 (Lampiran 1).
Pengukuran kadar Cr2O3 dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer
(panjang gelombang 350 nm).

2.4 Analisis Proksimat
Analisis proksimat dilakukan terhadap bahan baku pakan, pakan uji, ikan
uji, dan feses. Analisis proksimat untuk kadar air menggunakan metode
pemanasan dalam oven bersuhu 105-110°C, serat kasar menggunakan metode
pelarutan sampel dengan asam kuat, basa kuat, dan pemanasan, protein kasar
menggunakan metode Kjeldahl, lemak kering dengan metode Soxhlet, lemak
basah dengan metode Folch, dan kadar abu dengan pemanasan dalam tanur
bersuhu 600°C (Watanabe, 1988). Metode analisis proksimat dijelaskan pada
Lampiran 2.

2.5 Parameter yang Diukur
2.5.1

Jumlah Konsumsi Pakan (JKP)
Jumlah konsumsi pakan (JKP) diketahui setelah kegiatan pemeliharaan

selesai. Nilai JKP diperoleh dengan cara mengurangi total pakan yang diberikan
pada ikan selama pemeliharan dengan sisa pakan yang tidak termakan.

2.5.2

Laju Pertumbuhan Harian (LPH)
Laju pertumbuhan harian ikan uji dihitung berdasarkan persamaan yang

dikemukakan oleh Halver (1989), yaitu:

6

Keterangan:
Α
= Laju pertumbuhan harian (LPH)
Wt = Rata-rata bobot individu pada waktu akhir pemeliharaan (g)
Wo = Rata-rata bobot individu pada waktu awal pemeliharaan (g)
T
= Lama waktu pemeliharaan (hari)
2.5.3

Efisiensi Pakan (EP)
Efisiensi

pakan

dihitung

dengan

menggunakan

persamaan

yang

(SR) diperoleh berdasarkan persamaan

yang

dikemukakan oleh Steffens (1989), yaitu:
EP = {[(Wt + D) – Wo] / F} × 100%
Keterangan:
EP = Efisiensi Pakan (%)
F
= Jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan (g)
Wt = Biomassa ikan pada waktu akhir pemeliharaan (g)
Wo = Biomassa ikan pada awal pemeliharaan (g)
D
= Bobot ikan yang mati selama pemeliharaan (g)
2.5.4

Kelangsungan Hidup (SR)
Kelangsungan hidup

dikemukakan oleh Zonneveld et al. (1991), yaitu:
SR = [Nt / No] x 100%
Keterangan:
SR = Survival Rate
Nt = Jumlah ikan pada akhir pemeliharaan
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan
2.5.5

Kecernaan Bahan
Kecernaan total dan kecernaan protein dihitung berdasarkan persamaan

yang dikemukakan oleh Watanabe (1988) dan NRC (1993), yaitu:
Kecernaan total = 100 - [100 × b/b’]
Kecernaan protein = [1 - a’/a × b/b’] × 100
Keterangan:
a = % protein dalam pakan
a’ = % protein dalam feses
b = % Cr2O3 dalam pakan
b’ = % Cr2O3 dalam feses

7

Nilai kecernaan masing-masing bahan uji yang digunakan dapat dihitung
dengan menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Watanabe (1988),
yaitu:
Kecernaan bahan = (ADT – 0,7 AD) / 0,3
Keterangan:
ADT = nilai kecernaan pakan uji
AD
= nilai kecernaan pakan acuan
2.5.6

Retensi Protein
Nilai retensi protein dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan

oleh Watanabe (1988), yaitu:
RP = [(F-I)/P] x 100%
Keterangan :
RP = Retensi protein (%)
F = Jumlah protein tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g)
I
= Jumlah protein tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g)
P = Jumlah protein yang dikonsumsi ikan (g)
2.5.7

Retensi Lemak
Nilai retensi lemak dihitung berdasarkan persamaan yang dikemukakan oleh

Watanabe (1988), yaitu:
RL = [(F-I)/L] x 100%
Keterangan:
RL = Retensi lemak (%)
F = Jumlah lemak tubuh ikan pada akhir pemeliharaan (g)
I
= Jumlah lemak tubuh ikan pada awal pemeliharaan (g)
L = Jumlah lemak yang dikonsumsi ikan (g)
2.6 Analisis Statistik
Penelitian ini menggunakan rancangan percobaan berupa Rancangan Acak
Lengkap dengan tiga ulangan. Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan SPSS 16.0. Dilakukan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan
95%. Kemudian untuk melihat perbedaan perlakuan maka dilakukan uji lanjut
dengan uji Duncan.

8

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Hasil pengujian kecernaan berupa kecernaan total dan protein dari pakan
dan DDGS pada ikan gurame disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil perlakuan uji kecernaan DDGS pada ikan gurame
Perlakuan
RD
TD

Kecernaan
Total (%)
63,95
61,31

Kecernaan
Protein (%)
84,42
84,70

Kecernaan Total
DDGS (%)

Kecernaan Protein
DDGS (%)

55,16

85,35

Kecernaan total DDGS pada ikan gurame berdasarkan Tabel 4 diketahui
sebesar 55,16% dan kecernaan protein DDGS sebesar 85,35%. Nilai kecernaan
total dan protein dari DDGS ini diperoleh setelah dilakukan perhitungan terhadap
kecernaan total dan protein pakan perlakuan. Nilai kecernaan total RD adalah
sebesar 63,95% sedangkan nilai kecernaan total TD sebesar 61,31%. Kemudian
untuk kecernaan protein RD dan TD secara berurutan adalah sebesar 84,42% dan
84,70%.
Penambahan DDGS pada pakan uji dengan kadar yang berbeda yaitu 0%,
10%, 20%, dan 30% yang diberikan selama 40 hari, menunjukkan pertumbuhan
ikan gurame. Hal ini ditandai dengan peningkatan bobot ikan gurame pada setiap

Bobot rata-rata ikan
(gram)

perlakuan. Peningkatan bobot tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.
20,00
18,00
16,00
14,00
12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00

16,72

4,74

4,71

0

14,61

14,41

14,37

4,64

10

4,82

20

30

Perlakuan (%)
Bobot rata-rata awal (gram)
Bobot rata-rata akhir (gram)

Gambar 2. Peningkatan bobot rata-rata ikan gurame yang diberi pakan perlakuan
DDGS dengan kadar yang berbeda.

9

Peningkatan bobot ikan gurame berdasarkan Gambar 2 menunjukkan
perlakuan DDGS 30% memiliki nilai peningkatan yang paling besar
dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar 346%, sehingga bobot akhir ratarata ikan gurame menjadi 16,72 gram. Kemudian untuk ketiga perlakuan lainnya
yaitu perlakuan DDGS 0%, 10%, dan 20% secara berturut-turut terjadi
peningkatan bobot tubuh ikan sebesar 305%, 304%, dan 315%.

Tabel 5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak (RL),
laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi
pakan (EP) ikan gurame selama perlakuan
Parameter Uji
JKP (gram)
RP (%)
RL (%)
LPH (%)
SR (%)
EP (%)

0
141,08 ± 4,41a
25,02 ± 1,71a
31,36 ± 0,05c
2,82 ± 0,20a
100 ± 0,00a
68,36 ± 4,45ab

Penggunaan DDGS (%)
10
20
a
139,07 ± 6,77
140,06 ± 16,42a
23,07 ± 0,88ab
22,24 ± 1,12b
b
47,28 ± 0,38
52,26 ± 1,30a
2,82 ± 0,15a
2,90 ± 0,32a
a
100 ± 0,00
100 ± 0,00a
69,46 ± 2,16ab
71,05 ± 2,08a

30
159,22 ± 21,15a
16,29 ± 1,05c
53,32 ± 1,30a
2,91 ± 0,29a
100 ± 0,00a
64,52 ± 2,02b

Keterangan: Nilai yang tertera merupakan nilai rata-rata ± standar deviasi. Huruf super skrip yang
sama dalam satu baris menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Data
selengkapnya disajikan pada Lampiran 3-5. Kemudian untuk analisis statistik pada
Lampiran 6-11.

Tabel 5 menunjukkan penggunaan DDGS pada pakan dengan kadar yang
berbeda memberikan pengaruh jumlah konsumsi pakan yang tidak berbeda nyata
dengan kontrol (DDGS 0%), demikian juga dengan laju pertumbuhan harian,
efisiensi pakan, dan kelangsungan hidup (P>0,05). Efisiensi pakan tertinggi
terdapat pada perlakuan DDGS 20%, sedangkan efisiensi pakan terendah pada
perlakuan DDGS 30% (P>0,05) .
Nilai retensi menggambarkan banyaknya protein dan lemak yang tersimpan
di dalam tubuh ikan uji. Nilai retensi protein DDGS 10% tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kontrol (P>0,05), namun perlakuan DDGS 20% dan DDGS
30% berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (P0,05) terhadap perlakuan
kontrol, akan tetapi retensi protein pakan dengan DDGS 20% dan DDGS 30%
yaitu 22,24% dan 16,29%,serta retensi lemak semua perlakuan 31,36-53,32%
berbeda nyata dengan kontrol. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa
Penggunaan jumlah DDGS sebagai sumber protein nabati dengan kadar yang
berbeda pada pakan benih ikan gurame sampai 30% tidak memberikan pengaruh
terhadap laju pertumbuhan harian, dan kelangsungan hidup ikan. Penggunaan
DDGS 20% memiliki nilai efisiensi pakan tertinggi.
Kata kunci: DDGS, protein nabati, pakan, ikan gurame

ABSTRACT
UPMAL DESWIRA. The use of Maize Destillers Dried Grain with Solubles
(DDGS) as source of vegetable protein feed for giant gouramy Osphronemus
gouramy Lac. Juvenile. Guided by MIA SETIAWATI and MUHAMMAD AGUS
SUPRAYUDI.
This experiment was conducted to examine the effect of the use of DDGS as a
source of vegetable protein on the growth of the giant gouramy O. gouramy Lac.
juvenile. Feed is devided into two, the feed for testing of digestibility and testing
of growth. The feed for testing of digestibility are References Diet (100% control
of feed) and Test Diet (70% of control feed and 30% of DDGS), while the feed
for testing of growth are 0%, 10%, 20%, and 30% DDGS. The fish were feed the
experimental diet at satiation. Giant gouramy be used in this research have weight
4.72±0.78 g. Culture of fish conducted during 40 days in the aquarium sized
50x40x35 cm. Test of growth from DDGS up to 30% showed no significant
difference (P>0.05) in daily growth rate (2.82 to 2.91%), survival rate (100%),
feed consumptions (139.07-159.22 g), and feed efficiency (64.52-71.05%).
Whereas, protein retention (16.29 to 25.02%), lipid retention (31.36 to 53.52%)
are significantly different with control. It is conclude that the use of DDGS as the
source of vegetable protein with various consentration on the feed of giant
gouramy until 30% didn’t affect the daily growth rate, survival rate, and feed
consumptions. The highest feed efficiency of DDGS treatment is 20%.
Key word: DDGS, vegetable protein, feed, giant gouramy

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR ISI ..............................................................................................
DAFTAR TABEL......................................................................................
DAFTAR GAMBAR .................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
I. PENDAHULUAN ...............................................................................
II. BAHAN DAN METODE...................................................................
2.1 Pakan Penelitian ...........................................................................
2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data ..................................
2.3 Pengujian Kecernaan ....................................................................
2.4 Analisis Proksimat ........................................................................
2.5 Parameter yang Diukur .................................................................
2.5.1 Jumlah Konsumsi Pakan (JKP) ...........................................
2.5.2 Laju Pertumbuhan Harian ...................................................
2.5.3 Efisiensi Pakan (EP) ............................................................
2.5.4 Kelangsungan Hidup (SR) ..................................................
2.5.5 Kecernaan Bahan.................................................................
2.5.6 Retensi Protein ....................................................................
2.5.7 Retensi Lemak .....................................................................
2.6 Analisis Statistik ...........................................................................

i
ii
iii
iv
1
3
3
5
6
6
6
6
6
7
7
7
8
8
8

III. HASIL DAN PEMBAHASAN ..........................................................
3.1 Hasil ...............................................................................................
3.2 Pembahasan ...................................................................................

9
9
11

IV. KESIMPULAN ..................................................................................

15

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

16

LAMPIRAN ...............................................................................................

18

i

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan ...........................................

3

2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%)................................................................................................... 4
3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%) ...........................................................................................

4

4. Hasil perlakuan uji kecernaan DDGS pada ikan gurame .......................

9

5. Jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein (RP), retensi lemak
(RL), laju pertumbuhan harian (LPH), kelangsungan hidup (SR), dan
efisiensi pakan (EP) ikan gurame selama perlakuan ..............................

10

ii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Tata letak wadah dan perlakuan ............................................................

5

2. Peningkatan bobot rata-rata ikan gurame yang diberi pakan perlakuan
DDGS dengan kadar yang berbeda. ......................................................

9

iii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Prosedur analisis Cr2O3 .........................................................................

19

2. Prosedur analisis proksimat...................................................................

20

3. Data jumlah konsumsi pakan (JKP), laju pertumbuhan harian (LPH),
kelangsungan hidup (SR), dan efisiensi pakan (EP).............................

24

4. Data retensi protein ikan uji ..................................................................

25

5. Data retensi lemak pakan uji .................................................................

26

6. Hasil analisis statistik jumlah konsumsi pakan (JKP)...........................

27

7. Hasil analisis statistik retensi protein (RP) ...........................................

27

8. Hasil analisis statistik retensi lemak (RL) .............................................

27

9. Hasil analisis statistik laju pertumbuhan harian (LPH).........................

28

10. Hasil analisis statistik kelangsungan hidup (SR) ..................................

29

11. Hasil analisis statistik efisiensi pakan (EP) ...........................................

29

iv

I. PENDAHULUAN
Pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi suatu kegiatan
budidaya ikan, yaitu sekitar 49-89% (Suprayudi, 2010). Pakan yang digunakan
harus memenuhi kebutuhan nutrien ikan yang dipelihara. Nutrien tersebut
meliputi protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.
Protein sebagai sumber nutrien utama dalam pakan, memiliki harga yang
lebih mahal dibandingkan dengan sumber nutrien lainnya. Sumber protein yang
paling utama pada pakan ikan yaitu tepung ikan dan tepung bungkil kedelai.
Tepung bungkil kedelai adalah salah satu sumber protein nabati yang bergizi
tinggi, karena mengandung asam amino yang relatif seimbang dan memiliki nilai
kecernaan yang tinggi (Hertrampf dan Pascual, 2000). Menurut Maina et al.
(2002) tepung bungkil kedelai pada kadar air 10,90% memiliki kandungan protein
sebesar 43,20%, lemak 2%, kadar abu 6,50%, dan serat kasar sebesar 4,60%.
Keunggulan yang dimiliki tepung bungkil kedelai tersebut menjadikan
bahan ini sebagai sumber protein nabati utama dalam pakan ikan, akibatnya harga
tepung bungkil kedelai menjadi mahal, selain itu ketergantungan yang cukup
besar terhadap tepung bungkil kedelai ini dalam jangka panjang akan berdampak
pada kelangkaan dan kenaikan harga yang signifikan akibat permintaan yang
semakin tinggi. Oleh karena itu diperlukan sumber protein alternatif yang bisa
mengurangi bahkan menggantikan penggunaan tepung bungkil kedelai pada
pakan ikan. Kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan pakan alternatif tersebut
yaitu memiliki nutrien yang dibutuhkan ikan, tidak berkompetisi dengan manusia,
berbasis limbah, tidak mengandung material berbahaya, harga lebih murah, serta
tersedia dalam jumlah besar dan kontinyu (Suprayudi, 2010).
Salah satu bahan baku yang memenuhi kriteria tersebut adalah DDGS
(Distillers Dried Grain with Solubles). DDGS merupakan salah satu produk
sampingan (limbah) dari industri penyulingan etanol. DDGS ini berbahan dasar
dari gandum, jagung, sorgum, gandum hitam, dan campuran dari beberapa bahan
tersebut, akan tetapi sebagian besar berbahan dasar jagung (Hertrampf dan
Pascual, 2000). DDGS diperoleh setelah jagung yang telah digiling dan
difermentasikan oleh ragi Saccharomyces cerevisiae mengalami proses destilasi.

1

Residu tersebut kemudian dipadatkan dan dikeringkan hingga menjadi 75% dari
bobot awal. Kandungan protein, lemak, abu, dan serat kasar DDGS pada kadar air
9,2% secara berturut-turut yaitu sebesar 27,8%, 10%, 4,7%, dan 10,9%
(Hertrampf dan Pascual, 2000). Oleh karena itu DDGS diduga dapat digunakan
sebagai sumber protein nabati alternatif untuk mengurangi penggunaan tepung
bungkil kedelai di dalam pakan ikan.
Penggunaan DDGS sebagai sumber protein nabati telah diujikan pada
beberapa jenis ikan, diantaranya chanel catfish, ikan nila, ikan kerapu bebek, dan
ikan mas, sehingga diperoleh jumlah optimal DDGS dalam pakan. Penggunaan
DDGS pada pakan ikan chanel catfish (Lim et al., 2009) dan ikan nila (Lim et al.,
2007) sebanyak 40%, ikan kerapu bebek penggunaan DDGS dan Hominy feed
sebanyak 10% (Abidin, 2011), dan ikan mas sebanyak 25% DDGS (Silmina,
2011).
Ikan gurame merupakan ikan omnivor cenderung herbivor, sehingga diduga
dapat memanfaatkan pakan yang megandung serat kasar cukup tinggi. Oleh
karena itu penggunaan DDGS dalam formulasi pakan diharapkan dapat
mengurangi penggunaan tepung bungkil kedelai dalam pakan ikan.
Penelitan ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan DDGS
sebagai sumber protein nabati terhadap pertumbuhan benih ikan gurame
Osphronemus gouramy Lac..

2

II. BAHAN DAN METODE
2.1 Pakan Penelitian
Pakan penelitian terbagi menjadi dua yaitu pakan untuk pengujian
kecernaan dan pakan untuk pengujian pertumbuhan. Pakan untuk pengujian
kecernaan dibuat berdasarkan metode kecernaan bahan yang dikemukakan
Watanabe (1988) yang terdiri dari pakan acuan (References Diet/RD) yaitu 100%
pakan kontrol dan pakan uji (Test diet/RD) yaitu 70% pakan kontrol dan 30%
bahan yang akan diuji (DDGS). Pakan untuk pengujian pertumbuhan terdiri dari 4
jenis pakan yaitu dengan kadar penambahan DDGS yang berbeda 0%, 10%, 20%,
dan 30%. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan penelitian terlebih
dahulu dianalisis proksimat untuk mengetahui kandungan nutrisinya. Hasil
analisis bahan baku pakan disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil analisis proksimat bahan baku pakan
Bahan
Tepung Ikan
Tepung bungkil kedelai
DDGS
Pollard

Kadar Proksimat Bahan Kering (%)
Protein
Lemak
Abu
BETN
62,38
6,85
26,45
3,29
49,80
2,17
7,26
37,69
27,77
9,57
5,73
48,52
14,41
3,46
4,00
69,95

Berdasarkan Tabel 1 diketahui hasil analisis proksimat bahan baku pakan
berupa kandungan protein, lemak, abu, dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN).
Tepung ikan, tepung bungkil kedelai, dan DDGS memiliki kandungan protein di
atas 20%, sehingga dijadikan sebagai sumber protein pakan. Sedangkan pollard
menjadi sumber karbohidrat pakan. DDGS dan tepung bungkil kedelai selain
sebagai sumber protein juga menjadi sumber karbohidrat. Kemudian sumber
lemak pakan berasal dari DDGS dan tepung ikan.
Setelah diketahui analisis proksimat bahan baku, selanjutnya dibuat
formulasi pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrien ikan uji dan
perlakuan yang diberikan. Pakan yang telah dibuat dianalis proksimat. Komposisi
dan analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan dan pertumbuhan
disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.

3

Tabel 2. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian kecernaan (%)
Komposisi
References Diet (RD)
Pakan kontrol
96,5
DDGS
0
Binder (Tepung Sagu)
3
Cr2O3
0,5
Total
100
Hasil Analisis Proksimat dalam bobot kering
Lemak
12,35
Protein
42,08
Kadar Abu
9,07
Serat Kasar
5, 31
BETN
31,19
(1)
GE (kkal/kg)
4796,25
C/P (kkal/g)(2)
11,4

Test Diet (TD)
66,5
30
3
0,5
100
12,03
39,24
10,27
6,71
31,76
4630,28
11,8

Keterangan: (1) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1
kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC, 1993) (2) Rasio energi/protein

Tabel 3. Komposisi dan hasil analisis proksimat pakan untuk pengujian pertumbuhan (%)
Penggunaan DDGS (%)
0
10
20
Tepung Ikan
36,21
36,21
36,21
Tepung bungkil kedelai
17,50
10,72
6,72
DDGS
0,00
10,00
20,00
Pollard
32,59
29,77
24,34
(1)
Minyak
10,60
10,20
9,63
Premix
1,10
1,10
1,10
Binder (Tepung Sagu)
2
2
2
Total
100,00
100,00
100,00
Hasil analisis proksimat dalam bobot kering
Lemak
13,58
14,92
14,47
Protein
41,35
39,63
39,18
Kadar Abu
10,35
8,74
9,53
Serat Kasar
4,89
6,56
4,81
BETN
29,82
30,15
32,01
GE (kkal/kg)(2)
4814,98
4858,35
4866,88
C/P (kkal/g)(3)
11,6
12,3
12,4
Komposisi

30
36,21
2,72
30,00
18,87
9,10
1,10
2
100,00
15,59
40,32
8,96
4,42
30,71
4982,74
12,4

Keterangan: (1) Minyak ikan : minyak jagung = 5,8 : 9, (2) Gross Energy 1 g protein= 5,6 kkal
DE, 1 g lemak= 9,4 kkal DE, 1 g BETN= 4,1 kkal GE (Watanabe, 1988 dan NRC,
1993) (3) Rasio energi/protein

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat komposisi pakan uji mengandung DDGS
0% sampai 30% yang diikuti dengan pengurangan proporsi tepung bungkil
kedelai sebagai sumber protein nabati dan Pollard sebagai sumber karbohidrat.
4

Kemudian untuk sumber dan jumlah protein hewani, minyak, dan premix dalam
komposisi pakan uji disamakan. Pakan penelitian yang digunakan memiliki energi
sebesar 4814,98-4982,74 kkal/kg dan kadar protein sebesar 39,18-41,35%
sehingga diperoleh rasio energi dengan protein yaitu sebesar 11,6-12,4.

2.2 Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data
Ikan yang dipelihara pada penelitian ini berupa benih ikan gurame
berukuran 4,72±0,78 g per ekor yang berasal dari Cikupa, Kabupaten Bogor.
Pemeliharaan ikan dilakukan dalam 14 akuarium berukuran 50x40x35 cm, dengan
kepadatan 10 ekor per akuarium.
Ikan diadaptasikan terhadap lingkungan selama 21 hari. Setelah itu ikan
dipuasakan selama 1 hari sebelum dilakukan penimbangan bobot awal. Selama
kegiatan pemeliharaan dilakukan pergantian air sebanyak 75% setiap dua hari
sekali. Selain itu juga dilakukan penyifonan sebanyak 3 kali sehari yaitu sebelum
pemberian pakan. Kemudian untuk menjaga kestabilan suhu dipasang water
heater thermostat pada setiap akuarium.
Pakan diberikan sebanyak 3 kali sehari secara at satiation. Pakan yang akan
diberikan ditimbang terlebih dahulu supaya dapat dihitung jumlah konsumsi
pakan (JKP) pada akhir pemeliharaan. Ikan dipelihara selama 40 hari dan
dilakukan sampling pertumbuhan berupa pengukuran bobot pada awal dan akhir
pemeliharaan. Pengukuran kualitas air berupa suhu dilakukan setiap hari. Tata
letak wadah dan perlakuan disajikan pada Gambar 1.
C3

B1

A1

A3

B2

K1

K3

A2

B3

TD

RD

C1

K2

C2

S

T

Keterangan:
K= Pakan 0% DDGS, A= pakan 10% DDGS, B= pakan 20% DDGS, C= pakan 30% DDGS, TD=
Test Diet, RD = References Diet, S= stok dan T= tandon, 1,2,3= ulangan

Gambar 1. Tata letak wadah dan perlakuan.

5

2.3 Pengujian Kecernaan
Pengujian kecernaan dilakukan untuk mengetahui kecernaan bahan DDGS.
Kegiatan ini diawali dengan pengumpulan feses pada hari ke-6 setelah ikan diberi
pakan untuk pengujian kecernaan (Pakan RD dan TD). Feses ikan dikumpul

Dokumen yang terkait

Penggunaan Destillers Dried Grain with Solubles (DDGS) Jagung sebagai Sumber Protein Nabati Pakan Benih Ikan Gurame Osphronemus gouramy Lac.