Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Buah Rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) Sebagai Pewarna

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH RASBERI (Rubus rosifolius J.E.Smith)
SEBAGAI PEWARNA
SKRIPSI
OLEH: WINDA TRINANDA
NIM 081501062
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH RASBERI (Rubus rosifolius J.E.Smith)
SEBAGAI PEWARNA
SKRIPSI Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara OLEH: WINDA TRINANDA NIM 081501062
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN SKRIPSI
FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH RASBERI (Rubus rosifolius J.E.Smith) SEBAGAI PEWARNA

OLEH: WINDA TRINANDA
NIM 081501062
Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal: 24 Juli 2012

Pembimbing I,

Panitia Penguji:

Dra. Saodah, M.Sc.,Apt. NIP 194901131976032001

Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt. NIP 195807101986012001

Pembimbing II,
Drs. Suryanto, M.Si., Apt. NIP 196106191991031001

Dra. Saodah, M.Sc.,Apt NIP 194901131976032001
Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. NIP 195306251986012001

Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt. NIP 195011171980022001
Medan, Juli 2012 Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Buah Rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) sebagai Pewarna”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi USU Medan yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan. Ibu Dra. Saodah, M.Sc., Apt., dan Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt., selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt., Ibu Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt., selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik, saran dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU Medan yang telah mendidik selama perkuliahan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tiada terhingga kepada Ayahanda H. Machdar A. Siregar dan Ibunda Hj. Farida Hanum tercinta, yang tiada hentinya berkorban dengan tulus ikhlas bagi kesuksesan penulis, juga kepada Kak Rima dan Bang Midin, Kak Rita dan Bang Hari, serta
Universitas Sumatera Utara

teman-teman mahasiswa Farmasi khususnya Farmasi Klinis dan Komunitas 2008 yang selalu setia memberi doa, dorongan, dan motivasi selama penulis melakukan penelitian.
Selain itu, penulis juga mngucapkan terima kasih kepada Yayasan Karya Salemba 4 dan PT. Indofood Sukses Makmur Tbk., yang telah memberikan beasiswa sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaannya. Harapan saya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan kefarmasian.
Medan, Juli 2012 Penulis
Winda Trinanda
Universitas Sumatera Utara

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH RASBERI (Rubus rosifolius J.E.Smith) SEBAGAI PEWARNA
ABSTRAK
Buah rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) termasuk famili Rosaceae. Kelebihan dari buah rasberi adalah umur panen singkat yakni pada waktu 2-3 bulan buah sudah dapat di panen, mudah dibudidaya, dan dapat berproduksi sepanjang tahun. Buah rasberi yang sudah matang dapat dimakan langsung, dijadikan jus dan selai, atau sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kue. Buah rasberi yang berwarna merah mengandung antosianin golongan cyanidin. Antosianin merupakan pigmen yang dapat digunakan sebagai pewarna alami yang dapat menggantikan pewarna sintetis yang kemungkinan memiliki efek samping bagi kesehatan.
Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam buah rasberi. Dilakukan ekstraksi buah rasberi secara maserasi dengan menggunakan etanol 96% dan 1% asam sitrat kemudian pelarut diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator dan freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kental buah rasberi. Formula sediaan lipstik terdiri dari komponen yaitu cera alba, lanolin, vaselin alba, carnauba wax, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, parfum strawberry, butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak buah rasberi dengan konsentrasi 32%, 34%, 36%, 38% dan 40%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, pH, dan uji oles, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak buah rasberi menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat stabil selama 30 hari, homogen, titik lebur 58 , memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, memiliki pH 3,7-3,8 dan tidak menyebabkan iritasi dan sediaan yang disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak buah rasberi 40%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah rasberi dapat digunakan sebagai pewarna dalam sediaan lipstik, dan aman untuk digunakan.
Kata kunci: Buah rasberi, Rubus rosifolius J.E.Smith , Lipstik, Komponen Lipstik.
Universitas Sumatera Utara

FORMULATION OF LIPSTICK USING RASPBERRY EXTRACT (Rubus rosifolius J.E.Smith) AS COLORANT
ABSTRACT Raspberry fruit (Rubus rosifolius J.E.Smith) included in family Rosaceae. The advantages of raspberry fruit are the harvest age is short that in 2-3 months the fruit can be harvested, easy cultivated and can bear fruits all of the years. The ripe raspberry fruit can be ate, for juice and jam, or as ingredient to make cake. Raspberry fruit is red, contains anthocyanin class cyanidin. Anthocyanin is pigment that can be used as a natural colorant which replace synthetic colorant that maybe has side effect to health. The research was done to formulate lipstick by using the natural colorant which contained in raspberry fruit. Raspberry fruit was extracted by maceration used 96% ethanol and 1% citric acid then the solvent was evaporated used rotary evaporator and freeze dryer until thick extract of raspberry fruit was gotten. Lipstick formula consisted of components such as cera alba, lanolin, vaseline alba, carnauba wax, cetyl alcohol, castor oil, propylene glycol, titanium dioxide, strawberry perfume, butylated hydroxyltoluene, nipagin, and addition of raspberry fruit extract as colorant with of 32%, 34%, 36%, 38% dan 40% concentrations. Testing to product included physical quality inspection such as homogenity, melting point, breaking point, stability of shape, color and odor changes for 30 days storage at room temperature, pH, smear test, also irritation and hedonic test. Formulation of lipstick using colorant of raspberry fruit extract showed that products were stable for 30 days, homogeneous, melting point in 58 , had the good strength of lipstick, easily applied with smooth color, pH ranged from 3.7 to 3.8 and did not cause irritation and the preferred product was product 5 with 40% concentration colorant of raspberry fruit extract. Therefore, it can be concluded that raspberry fruit extract can be used as colorant in formulation of lipstick and it is safe to use.
Keyword: Raspberry, Rubus rosifolius J.E.Smith , Lipstick, Lipstick Components
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL .................................................................................................

i

HALAMAN JUDUL ............................................................................. ii

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... iii

KATA PENGANTAR .......................................................................... iv

ABSTRAK ........................................................................................... vi

ABSTRACT ......................................................................................... vii

DAFTAR ISI ........................................................................................ viii

DAFTAR TABEL ................................................................................. xii

DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................

1

1.1 Latar Belakang .......................................................................

1

1.2 Perumusan Masalah ...............................................................

3

1.3 Hipotesis ................................................................................

3

1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................

4

1.5 Manfaat Penelitian .................................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................

5

2.1 Uraian Buah Rasberi ..............................................................

5

2.1.1 Sistematika buah rasberi ...............................................

5

2.1.2 Manfaat dan kandungan buah rasberi ............................

6

2.2 Antosianin ..............................................................................

6

2.3 Kulit .......................................................................................

7

2.4 Bibir .......................................................................................

9

Universitas Sumatera Utara

2.5 Kosmetik ............................................................................... 10 2.5.1 Kosmetik dekoratif ....................................................... 11
2.6 Lipstik .................................................................................... 12 2.6.1 Komponen utama dalam sediaan lipstik ........................ 13 2.6.2 Zat tambahan dalam sediaan lipstik .............................. 15
2.7 Evaluasi Lipstik ………………………………………………. 17 2.7.1 Pemeriksaan Titik Lebur Lipstik ………………………. 17 2.7.2 Pemeriksaan Kekuatan Lipstik ………………………… 17 2.7.3 Uji Oles ………………………………………………... 18 2.7.4 Penentuan pH Sediaan .................................................. 18 2.7.5 Pemeriksaan Stabilitas Sediaan ..................................... 18
2.8 Uji Tempel (Patch Test) ......................................................... 18 2.9 Uji Kesukaan (Hedonic Test) ................................................. 20 BAB III METODE PENELITIAN ........................................................ 21 3.1 Alat dan Bahan ....................................................................... 21
3.1.1 Alat .............................................................................. 21 3.1.2 Bahan ........................................................................... 21 3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel ................................... 22 3.2.1 Pengumpulan sampel .................................................... 22 3.2.2 Identifikasi tumbuhan ................................................... 22 3.2.3 Pengolahan sampel ....................................................... 22 3.3 Pembuatan Ekstrak Buah Rasberi ........................................... 22 3.4 Pembuatan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Buah Rasberi Dalam Berbagai Konsentrasi .................................................. 23
Universitas Sumatera Utara

3.4.1 Formula ........................................................................ 23 3.4.2 Modifikasi formula ....................................................... 23 3.4.3 Prosedur pembuatan lipstik ........................................... 25 3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan ............................................ 26 3.5.1 Pemeriksaan homogenitas ............................................ 26 3.5.2 Pemeriksaan titik lebur lipstik ...................................... 26 3.5.3 Pemeriksaan kekuatan lipstik ......................................... 27 3.5.4 Pemeriksaan stabilitas sediaan ...................................... 27 3.5.5 Uji Oles ........................................................................ 27 3.5.6 Penentuan pH sediaan ................................................... 28 3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test) ........................... 28 3.6.1 Uji iritasi ...................................................................... 28 3.6.2 Uji kesukaan (Hedonic test) ......................................... 29 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 30 4.1 Hasil Ekstrak Buah Rasberi ................................................... 30 4.2 Hasil Formulasi Sediaan Lipstik ............................................ 30 4.3 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan .................................. 30 4.3.1 Homogenitas sediaan .................................................... 30 4.3.2 Titik lebur lipstik .......................................................... 31 4.3.3 Kekuatan lipstik ............................................................. 31 4.3.4 Stabilitas sediaan .......................................................... 32 4.3.5 Uji Oles ........................................................................ 34 4.3.6 Pemeriksaan pH ........................................................... 34 4.4 Hasil Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test) ................... 35
Universitas Sumatera Utara

4.4.1 Hasil uji iritasi ............................................................... 4.4.2 Hasil uji Kesukaan (Hedonic test)................................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 5.1 Kesimpulan ............................................................................. 5.2 Saran ....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ LAMPIRAN ..........................................................................................

35 36 39 39 39 40 42

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

3.1 Modifikasi Formula Sediaan Lipstik dengan Ekstrak Buah Rasberi dalam Berbagai Konsentrasi ....................................

25

4.1 Data Pemeriksaan Titik Lebur.............................................. 31

4.2 Data Pemeriksaan Kekuatan Lipstik..................................... 32

4.3 Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna Dan Bau Sediaan ...............................................................................

33

4.4 Data Pengukuran pH Sediaan ................................................ 35

4.5 Data Uji Iritasi .................................................................... 35

4.6 Data Nilai Uji Kesukaan ..................................................... 37

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Hasil Identifikasi Tumbuhan .......................................... 42

2. Perhitungan Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Menggunakan Pewarna Ekstrak Buah Rasberi ................ 43

3. Kuesioner Uji Kesukaan (Hedonic Test) ......................... 44

4. Perhitungan Rendemen ................................................... 45

5. Perhitungan Uji Kesukaan (Hedonic Test) ...................... 45

6. Gambar Tumbuhan Rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) ..................................................................... 51

7. Gambar Buah Rasberi .................................................... 52

8. Gambar Ekstrak Buah Rasberi ………………………….. 53

9. Gambar Sediaan Lipstik Dengan dan Tanpa Menggunakan Pewarna Ekstrak Buah Rasberi ....................................... 54

10. Gambar Hasil Uji Oles .......................... .............................. 55

11. Gambar Hasil Uji Oles pada Bibir ……………………….. 56

12. Gambar Hasil Uji Homogenitas ...................................... 58

Universitas Sumatera Utara

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BUAH RASBERI (Rubus rosifolius J.E.Smith) SEBAGAI PEWARNA
ABSTRAK
Buah rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) termasuk famili Rosaceae. Kelebihan dari buah rasberi adalah umur panen singkat yakni pada waktu 2-3 bulan buah sudah dapat di panen, mudah dibudidaya, dan dapat berproduksi sepanjang tahun. Buah rasberi yang sudah matang dapat dimakan langsung, dijadikan jus dan selai, atau sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kue. Buah rasberi yang berwarna merah mengandung antosianin golongan cyanidin. Antosianin merupakan pigmen yang dapat digunakan sebagai pewarna alami yang dapat menggantikan pewarna sintetis yang kemungkinan memiliki efek samping bagi kesehatan.
Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi sediaan lipstik dengan memanfaatkan pewarna alami yang terkandung dalam buah rasberi. Dilakukan ekstraksi buah rasberi secara maserasi dengan menggunakan etanol 96% dan 1% asam sitrat kemudian pelarut diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator dan freeze dryer sehingga didapatkan ekstrak kental buah rasberi. Formula sediaan lipstik terdiri dari komponen yaitu cera alba, lanolin, vaselin alba, carnauba wax, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol, titanium dioksida, parfum strawberry, butil hidroksitoluen, nipagin, serta penambahan pewarna ekstrak buah rasberi dengan konsentrasi 32%, 34%, 36%, 38% dan 40%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan mutu fisik sediaan mencakup homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, stabilitas terhadap perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, pH, dan uji oles, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic Test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak buah rasberi menunjukkan bahwa sediaan yang dibuat stabil selama 30 hari, homogen, titik lebur 58 , memiliki kekuatan lipstik yang baik, mudah dioleskan dengan warna yang merata, memiliki pH 3,7-3,8 dan tidak menyebabkan iritasi dan sediaan yang disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan dengan konsentrasi pewarna ekstrak buah rasberi 40%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak buah rasberi dapat digunakan sebagai pewarna dalam sediaan lipstik, dan aman untuk digunakan.
Kata kunci: Buah rasberi, Rubus rosifolius J.E.Smith , Lipstik, Komponen Lipstik.
Universitas Sumatera Utara

FORMULATION OF LIPSTICK USING RASPBERRY EXTRACT (Rubus rosifolius J.E.Smith) AS COLORANT
ABSTRACT Raspberry fruit (Rubus rosifolius J.E.Smith) included in family Rosaceae. The advantages of raspberry fruit are the harvest age is short that in 2-3 months the fruit can be harvested, easy cultivated and can bear fruits all of the years. The ripe raspberry fruit can be ate, for juice and jam, or as ingredient to make cake. Raspberry fruit is red, contains anthocyanin class cyanidin. Anthocyanin is pigment that can be used as a natural colorant which replace synthetic colorant that maybe has side effect to health. The research was done to formulate lipstick by using the natural colorant which contained in raspberry fruit. Raspberry fruit was extracted by maceration used 96% ethanol and 1% citric acid then the solvent was evaporated used rotary evaporator and freeze dryer until thick extract of raspberry fruit was gotten. Lipstick formula consisted of components such as cera alba, lanolin, vaseline alba, carnauba wax, cetyl alcohol, castor oil, propylene glycol, titanium dioxide, strawberry perfume, butylated hydroxyltoluene, nipagin, and addition of raspberry fruit extract as colorant with of 32%, 34%, 36%, 38% dan 40% concentrations. Testing to product included physical quality inspection such as homogenity, melting point, breaking point, stability of shape, color and odor changes for 30 days storage at room temperature, pH, smear test, also irritation and hedonic test. Formulation of lipstick using colorant of raspberry fruit extract showed that products were stable for 30 days, homogeneous, melting point in 58 , had the good strength of lipstick, easily applied with smooth color, pH ranged from 3.7 to 3.8 and did not cause irritation and the preferred product was product 5 with 40% concentration colorant of raspberry fruit extract. Therefore, it can be concluded that raspberry fruit extract can be used as colorant in formulation of lipstick and it is safe to use.
Keyword: Raspberry, Rubus rosifolius J.E.Smith , Lipstick, Lipstick Components
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kosmetik sudah dikenal orang sejak zaman dahulu kala. Di Mesir, 3000
tahun Sebelum Masehi telah digunakan berbagai bahan alami untuk kosmetik, baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Pengetahuan kosmetik tersebut kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui jalur komunikasi yang terjadi dalam kegiatan perdagangan, agama, budaya politik dan militer. Di Indonesia sendiri sejarah tentang kosmetologi telah dimulai jauh sebelum zaman penjajahan Belanda. Kosmetik dewasa ini sudah menjadi kebutuhan primer bagi hampir seluruh wanita dan sebagian pria (Wasitaatmadja, 1997).
Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah. Sediaan pewarna bibir terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan krim. Pewarna bibir modern yang disukai adalah jenis sediaan pewarna bibir yang jika dilekatkan pada bibir akan memberikan selaput yang kering. Dewasa ini pewarna bibir yang banyak digunakan adalah pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir krayon lebih dikenal dengan sebutan lipstik (Ditjen POM, 1985).
Menyadari akan berbagai kelemahan yang terjadi atas pewarna sintetik tersebut dan seiring dengan berkembangnya gaya hidup back to nature, maka zat warna alami semakin dibutuhkan keberadaannya karena dianggap lebih aman. Penggunaan pewarna alami dalam formulasi lipstik merupakan salah satu solusi untuk menghindari penggunaan pewarna sintetik yang berbahaya. Pewarna alami
Universitas Sumatera Utara

adalah zat warna (pigmen) yang diperoleh dari tumbuhan, hewan, atau dari sumber-sumber mineral. Zat warna ini sejak dahulu telah digunakan untuk pewarna makanan dan sampai sekarang penggunaannya secara umum dianggap lebih aman daripada zat warna sintetis.
Salah satu tumbuhan Indonesia yang memiliki potensi untuk menghasilkan zat warna alami adalah buah rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith). Kelebihan dari buah rasberi adalah umur panen singkat, mudah dibudidaya, dan dapat berproduksi sepanjang tahun. Buah rasberi yang sudah matang dapat dimakan langsung, dijadikan jus dan selai, atau sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kue (Yanti, 2011)
Buah rasberi mengandung pigmen antosianin, asam ellagik, vitamin C, serat, mangan, vitamin B, dan asam folat (Ashish, 2011). Selain itu, buah rasberi juga mengandung vitamin A, vitamin E, vitamin K, kalsium, besi, natrium, dan beta karoten (Yanti, 2012).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berkeinginan untuk memanfaatkan pewarna alami yang berasal dari buah rasberi untuk digunakan sebagai pewarna pada sediaan lipstik. Dilakukan ekstrasi zat warna buah rasberi yang kemudian dilanjutkan pada formulasi sediaan lipstik dengan menggunakan zat warna alami dari ekstrak buah rasberi, karena menurut BPOM RI (2009) dalam daftar lampiran Public Warning/Peringatan No. KH.00.01.43.2503 tanggal 11 Juni 2009 tentang kosmetika mengandung bahan berbahaya/bahan dilarang tercantum bahwa Zat Warna Merah K.3 (CI 15585), Merah K.10 (Rhodamin B) dan Jingga K.1 (CI 12075) yang banyak digunakan dalam kosmetika merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas, tekstil atau
Universitas Sumatera Utara

tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati.
1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah:
a. Apakah ekstrak buah rasberi dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi sediaan lipstik?
b. Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan pewarna ekstrak buah rasberi yang dibuat stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar?
c. Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah rasberi sebagai pewarna tidak menyebabkan iritasi saat digunakan?
1.3 Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:
a. Ekstrak buah rasberi dapat digunakan sebagai pewarna dalam formulasi sediaan lipstik.
b. Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah rasberi sebagai pewarna stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar.
c. Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah rasberi sebagai pewarna tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.
Universitas Sumatera Utara

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk membuat sediaan lipstik menggunakan zat warna yang diekstraksi dari buah rasberi.
b. Untuk mengetahui kestabilan sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah rasberi dalam penyimpanan pada suhu kamar.
c. Untuk mengetahui apakah sediaan lipstik menggunakan ekstrak buah rasberi tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah:
Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan buah rasberi (Rubus rosifolius J.E.Smith) sebagai pewarna alami yang dapat menggantikan penggunaan pewarna sintetis pada formulasi sediaan lipstik.
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Buah Rasberi

Rubus rosifolius J.E.Smith berupa semak berduri, tepi daun bergerigi,

bunga berwarna putih, dan buah berwarna merah yang berdiameter 1,2 cm. Daun

berbentuk oval dengan ujung yang runcing. Rasberi dikenal sebagai buah

berkelompok yang berisi biji kecil dengan rongga pada bagian dalam buah

(Ashish, 2011).

Pada umumnya, Rubus rosifolius J.E.Smith tumbuh di daerah terbuka, tepi

hutan, atau pinggir sungai. Daerah penyebarannya meliputi Kontinental Asia

(Kamboja dan Vietnam), Jepang, Taiwan, New Britain, Irlandia Baru, Australia;

di Malesia jenis ini tersebar di Borneo, Jawa, Philipina, Bali, Sulawesi, dan

Kepulauan Nusa Tenggara (Kalkman, 1993).

2.1.1 Sistematika Buah Rasberi

Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dikotiledonae

Ordo

: Rosales

Famili

: Rosaceae

Genus

: Rubus

Spesies

: Rubus rosifolius J.E.Smith (Tjitrosoepomo, 2007).

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Manfaat dan kandungan Daun dari buah rasberi dapat mengatasi masalah menstruasi yang tidak
teratur dan gangguan kram pada saat menstruasi. Buah rasberi segar dapat langsung dimakan atau dijadikan jus, selai, dan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan kue (Yanti, 2011). Buah rasberi mengandung pigmen antosianin, asam ellagik, vitamin C, serat, mangan, vitamin B, dan asam folat (Ashish, 2011). Selain itu, buah rasberi juga mengandung vitamin A, vitamin E, vitamin K, kalsium, besi, natrium, dan beta karoten (Yanti, 2011).
Kandungan vitamin A dan beta karoten pada buah rasberi bermanfaat untuk kesehatan mata. Sedangkan kandungan serat dalam buah rasberi bermanfaat dalam menangani masalah pencernaan sehingga proses metabolisme dapat berjalan dengan baik. Jika buah rasberi di konsumsi secara teratur, buah rasberi dapat memperbaiki kerusakan sel tubuh, memelihara kelembutan dan kelembaban kulit, serta membuat tubuh menjadi tidak mudah lelah (Yanti, 2011).
2.2 Antosianin Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar
luas dalam tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini merupakan penyebab hampir semua warna merah jambu, merah marak, merah, ungu, dan biru dalam daun bunga, daun, dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan metilisasi atau glikosilasi (Harborne, 1987).
Universitas Sumatera Utara

Antosianidin adalah aglikon antosianin yang terbentuk bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum sampai saat ini ialah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibandingkan sianidin. Warna lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfinidin yang gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan sianidin (Harborne, 1987).
Antosianin terdapat dalam semua tumbuhan tingkat tinggi, banyak ditemukan dalam bunga dan buah, tetapi ada juga yang ditemukan dalam daun, batang, dan akar. Bagi tumbuhan, antosianin memiliki banyak fungsi yang berbeda, misalnya sebagai antioksidan dan pelindung untuk melawan sinar UV. Antosianin telah digunakan untuk mewarnai makanan sejak zaman dahulu. Warna antosianin bergantung pada struktur dan keasaman. Sebagian besar antosianin berwarna merah pada kondisi asam dan berubah menjadi biru pada kondisi asam yang kurang. Selain itu, warna antosianin juga terpengaruh oleh suhu, oksigen dan sinar UV (Anonim, 2011).
2.3 Kulit Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari
lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa sekitar 1,5 m2 dengan berat kira kira 15% dari berat badan. Secara histopatologis kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu lapisan epidermis atau kutikel, lapisan dermis dan lapisan subkutis (hipodermis). Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis. Subkutis ditandai dengan adanya jaringan ikat longgar dan sel-sel yang membentuk jaringan lemak (Wasitaatmadja, 1997).
Universitas Sumatera Utara

Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basalis. Stratum korneum (lapisan tanduk) adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapis sel gepeng yang mati. Stratum lusidum terdapat langsung di bawah stratum korneum, merupakan lapisan sel gepeng tanpa inti. Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti sel diantaranya. Stratum spinosum terdiri atas beberapa sel berbentuk poligonal dengan ukuran bermacam-macam. Stratum basalis terdiri atas sel-sel kubus yang tersusun vertikal (Wasitaatmadja, 1997).
Berbeda dengan epidermis yang tersusun oleh sel-sel dalam berbagai bentuk dan keadaan, dermis terutama terdiri dari bahan dasar serabut kolagen dan elastin, yang berada di dalam substansi dasar yang bersifat koloid dan terbuat dari gelatin mukopolisakarida. Di dalam dermis terdapat adneksa-adneksa kulit seperti folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah, dan ujung saraf (Tranggono dan Latifah, 2007).
Lapisan subkutis merupakan lanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Lapisan sel lemak disebut panikulus adiposus, berfungsi sebagai cadangan makanan. Lapisan lemak ini juga berfungsi sebagai bantalan (Wasitaatmadja, 1997).
Marchionini (1929) menemukan bahwa stratum korneum dilapisi oleh suatu lapisan tipis lembab yang bersifat asam, sehingga ia menamakannya sebagai “mantel asam kulit”. Tingkat keasamannya (pH) umumnya berkisar antara 4,5 – 6,5 (Tranggono dan Latifah, 2007).
Universitas Sumatera Utara

Fungsi pokok “mantel asam” kulit yaitu (Tranggono dan Latifah, 2007): 1. Sebagai penyangga (buffer) yang berusaha menetralisir bahan kimia yang
terlalu asam atau terlalu alkalis yang masuk ke kulit. 2. Membunuh atau menekan pertumbuhan mikroorganisme yang
membahayakan kulit. 3. Dengan sifat lembabnya sedikit banyak mencegah kekeringan kulit.
2.4 Bibir Bibir memiliki ciri yang berbeda dari kulit bagian lain, karena lapisan
jangatnya sangat tipis. Stratum germinativum tumbuh dengan kuat dan korium mendorong papila dengan aliran darah yang banyak tepat di bawah permukaan kulit. Pada kulit bibir tidak terdapat kelenjar keringat, tetapi pada permukaan kulit bibir sebelah dalam terdapat kelenjar liur, sehingga bibir akan nampak selalu basah, sangat jarang terdapat kelenjar lemak pada bibir, menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering lapisan jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yang melekat padanya mudah penetrasi ke stratum germinativum (Ditjen POM, 1985).
Pada permukaan luar, bibir dilapisi oleh integument (jaringan penutup permukaan kulit), dan permukaan dalam, membran selaput lendir oral menjadi satu dengan kulit bibir pada batas merah terang. Pada komponen dari bibir di temukan otot oris orbikularis, arteri dan vena labial, susunan saraf, jaringan lemak dan kelenjar lemak. Kelenjar labial (kelenjar air liur) sejati terletak diantara membran selaput lendir dan otot oris orbikularis. Bibir dibasahi oleh saliva atau air liur yang dihasilkan oleh kelenjar labial (Balsam, 1972).
Universitas Sumatera Utara

Daerah vermillion adalah bingkai merah bibir, merupakan daerah transisi dimana kulit bibir bergabung ke dalam membran mukosa. Ini merupakan daerah dimana wanita sering mengaplikasikan lipstik (Woelfel and Scheild, 2002).
Kosmetik rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu lipstik, lip crayon, krim bibir (lip cream), pengkilap bibir (lip gloss), penggaris bibir (lip liner) dan lip sealer (Wasitaatmadja, 1997).
2.5 Kosmetik Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti “berhias”.
Bahan yang dipakai dalam usaha mempercantik diri ini, dahulu di ramu dari bahan-bahan alami yang terdapat di alam sekitar. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga dari bahan sintetis untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997). Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 445/Menkes/Permenkes/1998 adalah sebagai berikut : Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).
Universitas Sumatera Utara

Penggolongan kosmetik menurut kegunaaanya bagi kulit adalah sebagai berikut (Tranggono dan Latifah, 2007): 1. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)
Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk didalamnya : a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser) b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (mouisturizer) c. Kosmetik pelindung kulit d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling) 2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up) Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self confidence). 2.5.1 Kosmetik Dekoratif
Kosmetik dekoratif fungsi utamanya hanya untuk mempercantik dan memperindah diri. Pewarna merupakan komponen utama dalam setiap formulasi kosmetik dekoratif. Tujuan kosmetik dekoratif yaitu untuk memperbaiki penampilan, memberikan rona, meratakan warna kulit, menyembunyikan ketidaksempurnaan, dan fungsi protektif (Barel, et al, 2001).
Persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah warna yang menarik, bau yang harum dan menyenangkan, tidak lengket, tidak menyebabkan kulit tampak berkilau, dan tidak merusak atau mengganggu kulit, bibir, kuku, dan adeneksa lainnya (Tranggono dan Latifah, 2007).
Universitas Sumatera Utara

Kosmetik dekoratif dapat dibagi dalam dua golongan besar, yaitu (Tranggono dan Latifah, 2007): 1. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan
pemakaiannya sebentar, misalnya bedak, lipstik, perona pipi, eye shadow, dan lain-lain. 2. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama baru luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, pengeriting rambut, dan preparat penghilang rambut.
Berdasarkan bagian tubuh yang dirias, kosmetik dekoratif dapat dibagi menjadi (Wasitaatmadja, 1997): 1. Kosmetik rias kulit (wajah) 2. Kosmetik rias bibir 3. Kosmetik rias rambut 4. Kosmetik rias mata 5. Kosmetik rias kuku.
2.6 Lipstik Lipstik menambah warna pada wajah agar terlihat lebih sehat dan juga
membentuk bibir. Lipstik dapat digunakan untuk harmonisasi wajah antara mata, rambut, dan pakaian. Lipstik juga mampu menciptakan ilusi bibir agar terlihat lebih kecil atau lebih besar tergantung dari warnanya (Barel, et al, 2001).
Hakekat fungsi dari lipstik adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat nan menarik. Akan tetapi kenyataan kemudian warna lain pun mulai digemari orang, sehingga corak
Universitas Sumatera Utara

warna lipstik bervariasi mulai dari warna kemudaan hingga warna sangat tua dengan corak warna dari merah jambu, merah jingga, hingga merah biru bahkan ungu (Ditjen POM, 1985).
Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38oC. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62oC, biasanya berkisar antara 55-75oC (Ditjen POM, 1985).
Adapun persyaratan untuk lipstik adalah sebagai berikut (Tranggono dan Latifah, 2007):
1. Melapisi bibir secara mencukupi 2. Dapat bertahan di bibir selama mungkin 3. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket 4. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir 5. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya 6. Memberikan warna yang merata pada bibir 7. Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya 8. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau
berbintik-bintik, atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik.
Universitas Sumatera Utara

2.6.1 Komponen utama dalam sediaan lipstik Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin ,
lemak dan zat warna 1. Minyak Minyak yang digunakan dalam lipstik harus memberikan kelembutan, kilauan, dan berfungsi sebagai medium pendispersi zat warna (Poucher, 2000). Minyak yang sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral, dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972). 2. Lilin Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50 dan mampu mengikat fase minyak agar tidak keluar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85 . Biasa digunakan dalam
Universitas Sumatera Utara

jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972). 3. Lemak Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, meningkatkan kekuatan lipstik, dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik. Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain (Jellineck, 1976). 4. Zat warna Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen. Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masingmasing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan (Balsam, 1972). 2.6.2 Zat tambahan dalam sediaan lipstik Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil, dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain
Universitas Sumatera Utara

dalam formula lipstik. Zat tambahan yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum (Senzel, 1977).
1. Antioksidan Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering digunakan (Poucher, 2000). Antioksidan yang digunakan harus memenuhi syarat (Wasitaatmadja S, 1997): a. Tidak berbau agar tidak mengganggu wangi parfum dalam kosmetika b. Tidak berwarna c. Tidak toksik d. Tidak berubah meskipun disimpan lama.
2. Pengawet Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Poucher, 2000).
3. Parfum Parfum digunakan untuk memberikan bau yang menyenangkan, menutupi bau dari lemak yang digunakan sebagai basis, dan dapat menutupi bau
Universitas Sumatera Utara

yang mungkin timbul selama penyimpanan dan penggunaan lipstik (Balsam, 1972).
2.7 Evaluasi Lipstik 2.7.1 Pemeriksaan titik lebur lipstik
Penetapan suhu lebur lipstik dapat dilakukan dengan berbagai metode. Ada dua metode yang biasanya digunakan yaitu metode melting point dan metode drop point. Metode melting point menggunakan pipa kapiler sedangkan metode drop point menggunakan pelat tipis. Syarat lipstik melebur pada metode melting point adalah 60 atau lebih, sedangkan untuk metode drop point adalah diatas 50 (Balsam, 1972).
Penetapan suhu lebur lipstik dilakukan untuk mengetahui pada suhu berapa lipstik akan meleleh dalam wadahnya sehingga minyak akan keluar. Suhu tersebut menunjukkan batas suhu penyimpanan lipstik yang selanjutnya berguna dalam proses pembentukan, pengemasan, dan pengangkutan lipstik (Balsam, 1972). 2.7.2 Pemeriksaan kekuatan lipstik
Evaluasi kekerasan lipstik menunjukkan kualitas patahan lipstik dan juga kekuatan lipstik dalam proses pengemasan, pengangkutan, dan penyimpanan. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk mengetahui kekuatan lilin dalam lipstik (Balsam, 1972).
Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan cara lipstik diletakkan horizontal. Pada jarak kira-kira ½ inci dari tepi, digantungkan beban yang berfungsi sebagai pemberat. Berat beban ditambah secara berangsur-angsur
Universitas Sumatera Utara

dengan nilai yang spesifik pada interval waktu 30 detik, dan berat dimana lipstik patah merupakan nilai breaking point (Vishwakarma, et al., 2011). 2.7.3 Uji oles
Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada kulit punggung tangan kemudian mengamati banyaknya warna yang menempel dengan perlakuan 5 kali pengolesan pada tekanan tertentu seperti biasanya kita menggunakan lipstik (Keithler, 1956). 2.7.4 Penentuan pH sediaan
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Sampel di buat dalam konsentrasi 1% yaitu 1 gram sampel dalam 100 ml akuades (Rawlins, 2003). 2.7.5 Pemeriksaan stabilitas sediaan
Pengamatan terhadap adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma, et al., 2011).
2.8 Uji Tempel (Patch Test) Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan
cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksud untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak (Ditjen POM, 1985).
Iritasi umumnya akan segera menimbulkan reaksi kulit sesaat setelah pelekatan pada kulit, iritasi demikian disebut iritasi primer. Tetapi jika iritasi
Universitas Sumatera Utara

tersebut timbul beberapa jam setelah pelekatannya pada kulit, iritasi ini disebut iritasi sekunder. Tanda-tanda reaksi kulit yang ditimbulkan yaitu hiperemia, eritema, edema atau vesikula kulit. Reaksi kulit yang demikian bersifat lokal pada daerah kulit yang rusak saja (Ditjen POM, 1985).
Panel uji tempel meliputi manusia sehat dan penderita. Manusia sehat yang dijadikan panel uji tempel sebaiknya wanita, usia diantara 20-30 tahun, berbadan sehat jasmani dan rohani, dan menyatakan kesediaannya dijadikan panel uji tempel (Ditjen POM, 1985).
Lokasi uji lekatan adalah bagian kulit panel yang dijadikan daerah lokasi untuk uji tempel. Biasanya yang paling tepat dijadikan daerah lokasi uji tempel adalah bagian punggung, lengan tangan, lipatan siku, dan bagian kulit di belakang telinga (Ditjen POM, 1985).
Teknik uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan uji pada luas tertentu lokasi lekatan, biarkan terbuka selama lebih kurang 24 jam, amati reaksi kulit yang terjadi. Reaksi kulit akibat iritan primer terjadi antara beberapa menit hingga satu jam setelah pelekatan (Ditjen POM, 1985).
Prosedur uji tempel preventif adalah prosedur uji tempel yang dilakukan sebelum penggunaan kosmetika untuk mengetahui apakah pengguna peka terhadap sediaan ini atau tidak. Uji tempel preventif dilakukan dengan teknik uji tempel terbuka atau tertutup, waktu pelekatannya ditetapkan 24 jam, daerah lokasi lekatan di belakang telinga atau bahu. Pengamatannya reaksi kulit positif atau negatif (Ditjen POM, 1985)
Universitas Sumatera Utara

2.9 Uji Kesukaan (Hedonic Test) Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah metode uji yang digunakan untuk
mengukur tingkat kesukaan terhadap produk dengan menggunakan lembar penilaian. Jumlah minimal panelis standar dalam satu kali pengujian adalah 6 orang, sedangkan untuk panelis non standar adalah 30 orang. Menurut Badan Standar Nasional (2006) syarat-syarat panelis adalah sebagai berikut:
1. Tertarik terhadap uji organoleptik sensori dan mau berpatisipasi 2. Konsisten dalam mengambil keputusan 3. Berbadan sehat
Penilaian sampel yang diuji berdasarkan tingkat kesukaan panelis. Jumlah tingkat kesukaan bervariasi. Penilaian dapat diubah dalam bentuk angka dan selanjutnya dapat dianalisis secara statistik untuk penarikan kesimpulan (Badan Standar Nasional, 2006).
Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, formulasi sediaan, pemeriksaan mutu fisik sediaan, uji iritasi terhadap sediaan, dan uji kesukaan (hedonic test) terhadap variasi sediaan yang dibuat.
3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, blender (Philips), cawan penguap, freeze dryer, kaca objek, kertas saring, lumpang dan alu porselen, neraca analitis (Mettler Toledo), oven, penangas air, pencetak suppositoria, pH meter, pipet tetes, rotary evaporator (Buchi), spatula, sudip dan wadah lipstik (roll up). 3.1.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah rasberi segar (Rubus rosifolius J.E.Smith). Bahan kimia yang digunakan antara lain: akuades, etanol 96%, asam sitrat, butil hidroksitoluen, carnauba wax, cera alba (Brataco), lanolin anhidrat (Brataco), nipagin, oleum ricini (Brataco), parfum strawberry, propilen glikol, setil alkohol (Brataco), titanium dioksida, dan vaselin alba (Brataco). Lipstik pembanding yang digunakan adalah lipstik yang beredar di pasaran.
Universitas Sumatera Utara

3.2 Pengumpulan dan Pengolahan Sampel 3.2.1 Pengumpulan sampel
Pengumpulan sampel dilakukan secara purposif yaitu

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23