Analisis Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah

(1)

ANALISIS ALOKASI DANA DESA APBD SERDANG BEDAGAI

TERHADAP PENGEMBANGAN DESA

DI KECAMATAN SEI RAMPAH

TESIS

Oleh

WIRA GUSNI SIMANJUNTAK

087003040/PWD

SE

K O L A

H

P A

S C

A S A R JA

NA

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(2)

ANALISIS ALOKASI DANA DESA APBD SERDANG BEDAGAI

TERHADAP PENGEMBANGAN DESA

DI KECAMATAN SEI RAMPAH

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

WIRA GUSNI SIMANJUNTAK 087003040/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2010


(3)

Judul Tesis : ANALISIS ALOKASI DANA DESA APBD SERDANG BEDAGAI TERHADAP PENGEMBANGAN DESA DI KECAMATAN SEI RAMPAH

Nama Mahasiswa : Wira Gusni Simanjuntak Nomor Pokok : 087003040

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD)

Komisi Pembimbing,

(Prof. Bachtiar Hasan Miraza) Ketua

(Dr. Ir. Rahmanta, M.Si) (Rujiman, SE. M.Si)

Anggota Anggota

Ketua Program Studi Direktur

(Prof. Bachtiar Hasan Miraza) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)


(4)

Telah diuji pada Tanggal 29 Juli 2010

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Bachtiar Hasan Miraza Anggota : 1. Dr. Ir. Rahmanta, M.Si

2. Rujiman, SE. M.Si

3. Kasyful Mahalli, SE. M.Si 4. Agus Suryadi, S.Sos. M.Si


(5)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk Untuk menganalisis apakah ada perbedaan pendapatan rata-rata rumah tangga setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Wilayah Kecamatan Sei Rampah dan menganalisis manfaat Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa dari tanggapan pimpinan desa dan masyarakat di Kecamatan Sei Rampah.

Populasi penelitian ini meliputi seluruh kepala keluarga yang ada di daerah penelitian sebanyak 1.427 orang. Besar sampel yang diambil sebanyak 93 responden. Untuk menguji hipotesis (1) digunakan analisis uji beda rata-rata (t-test) atau compare mean, untuk menguji hipotesis (2) digunakan analisis Perbedaan Uji Square.

Hasil penelitian yang diperoleh antara lain : Adanya perbedaaan pendapatan masyarakat setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah. Manfaat Alokasi Dana Desa di bidang perhubungan, ekonomi, kesehatan, pendidikan serta pembinaan pemuda bermanfaat dalam pengembangan desa baik dari masyarakat desa dan pemimpin desa, akan tetapi di bidang produksi terdapat perbedaan manfaat dari masyarakat desa dan pemimpin desa. Kepada Masyarakat Desa yang masih belum terlibat dalam Pemberdayaan Masyarakat khususnya pelaksanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah untuk dapat memberikan partisipasi dalam pembangunan desa, kepada Pemerintah agar lebih meningkatkan fungsi dalam memperdayakan desa sebagai puncak Pemerintahan serta kepada Pemimpin Desa menciptakan sektor unggulan di desa dalam menciptakan lapangan kerja yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa, dan dapat memajukan desanya masing-masing serta mensejahterakan masyarakatnya.

Kata Kunci:

ABSTRACT

APBD, Alokasi Dana Desa, Indikator Pemgembangan Desa, Manfaaat Alokasi Dana Desa, Pengembangan Desa.


(6)

ABSTRACT

The purpose of this study is to analyze whether there were differences for the average income of households after the implementation of the Village Fund Allocation Sub distric and analyze the benefits of Sei Rampah Allocation Village of Village Development Funds of the response of villages and community leaders in District Sei Rampah.

This study population included all heads of households in the study area as much as 1427 peoples. Large sample taken in 1993 respondents. To test the hypothesis (1) used the analysis of the average difference test (t-test) or compare the mean, to test the hypothesis (2) used the analysis of Square Differences Test. The results obtained are: The existence of differences in incomes after the implementation of the Village in the District Fund Allocation Sei Rampah. Village Benefit Allocation in the fields of transportation, economics, health, education and youth coaching is useful in the development of both rural villagers and village leaders, but there are differences in the production benefits from the village community and village leaders. Village Community which still has not been involved in the empowerment of the community, especially the implementation of the management of the Village in the District Fund Allocation Sei Rampah to be able to participate in rural development, to the Government to further improve the function of the bamboozle the village as well as to leaders summit village government creating sector in the village in create jobs that can increase rural incomes, and can promote their villages and prosperous society.

Keywords: Budgets, Budget Allocation Village, Village Development Indicators, Benefit Allocation Village, Village Development.


(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan tesis ini. Penulis tesis penelitian dengan judul Analisis Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah, merupakan sebagai persyaratan untuk mendapatkan gelar Magister di Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara.

Dalam Penulisan Tesis ini, Penulis banyak sekali mendapat bantuan dan bimbingan dari semua pihak, maka dengan segala kerendahan hati Penulis menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Bapak Prof. Bachtiar Hassan Miraza selaku Ketua Program Studi Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen pembimbing.

2. Bapak Kasyful Mahalli, SE. M.Si selaku Sekretaris Program Magister Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada Penulis.

4. Bapak Rujiman, SE, M.Si yang selalu memberikan bimbingan dan arahan kepada Penulis.


(8)

5. Bapak Bupati Kabupaten Serdang Bedagai Ir. T. Erry Nuradi, M.Si selaku pemberi ijin mengikuti sekolah derajat sarjana S2.

6. Orang tua, adik-adik, dan keluarga besar saya beserta teman-teman sekelas, teman kantor BPMPD Kab. Serdang Bedagai dan tak lupa kepada Mahyar Nafiah yang selalu membantu dan mendoakan saya untuk maju dan berkembang. 7. Pihak-pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung

dalam penyusunan tesis ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa bentuk dan penyajian tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu Penulis berharap adanya kritik dan saran yang membangun sehingga tesis penelitian ini dapat lebih sempurna dan dapat memberikan manfaat bagi daerah yang di teliti khususnya dan daerah lain umumnya.

Medan, 29 Juli 2010

Wira Gusni Simanjuntak NIM.08703040


(9)

RIWAYAT HIDUP

Wira Gusni Simanjuntak lahir di Tapanuli Tengah Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 22 Agustus 1986, anak ketiga dari empat bersaudara dari Bapak Ahmad Muradi Simanjuntak dan Ibu Hj. Nurlan Siregar.

Pendidikan Penulis dimulai dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kelurahan Hutabalang lulus tahun 1998, Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Lumut Tapanuli Tengah lulus tahun 2001, dan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 3 Sibolga lulus tahun 2004 dan kuliah di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor Jawa Barat lulus tahun 2008.

Penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Serdang Bedagai Propinsi Sumatera Utara dengan pangkat Penata Muda (III/a).


(10)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ………... ix

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 5

1.3. Tujuan Penelitian……….. ... 5

1.4. Manfaat Penelitian……….. ... 6

BAB II LANDASAN TEORI... 7

2.1. Pembangunan Desa ... 7

2.1.1. Pembangunan Masyarakat Desa ... 7

2.1.2. Perencanaan Pembangunan Berbasis Sosial Budaya Lokal... 13

2.1.3. Perencanaan Pembangunan Partisipatif Desa ... 13

2.1.4. Pembangunan Desa yang Berkelanjutan ... 15

2.2. Pembangunan Nasional... 17

2.2.1. Perencanaan Pembangunan Daerah ... 17

2.2.2. Proses Pengelolaan Pembangunan Nasional ... 20

2.3. Alokasi Dana Desa APBD ... 21

2.3.1. Pengertian Alokasi Dana Desa APBD ... 21

2.3.2. Pengelolaan Alokasi Dana Desa APBD ... ... 24

2.3.2.1. Pelaksana Kegiatan Tingkat Desa ... 25


(11)

2.3.2.3. Tim Pembina Tingkat Kabupaten ... 27

2.4. Penelitian Sebelumnya ... 29

2.5. Kerangka Berpikir... 31

2.6. Hipotesis Penelitian... 32

BAB III METODE PENELITIAN... 33

3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 33

3.2. Jenis dan Sumber Data ... 33

3.3. Teknik Pengambilan Sampel ... 34

3.4. Teknik Pengumpulan Data ………... 38

3.4.1. Kuesioner... 39

3.4.2. Observasi ... 39

3.4.3. Wawancara ... 39

3.4.4. Dokumentasi... 40

3.5. Metode Analisis Data………... 40

3.6. Definisi Operasional Variabel Penelitian……… 44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 46

4.1. Kondisi Kecamatan Sei Rampah ... 46

4.1.1. Kecamatan Sei Rampah Secara Geografis ... 46

4.1.2. Kecamatan Sei Rampah Secara Demografis ... 48

4.2. Sarana dan Prasarana... 52

4.2.1. Sarana Pendidikan ... 53

4.2.2. Sarana Kesehatan... 54

4.2.3. Sarana Ekonomi dan Industri... 55

4.3. PDRB Kabupaten Serdang Bedagai... 57

4.4. Deskripsi Alokasi Dana Desa... 59

4.5. Rata-rata Perbedaan Pendapatan Keluarga Sebelum dan Setelah Pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah ... 63

4.6. Perbedaan Tanggapan Responden Antara Pemimpin Desa Dengan Masyarakat Desa Tentang Manfaat Alokasi Dana Desa ... 65

4.6.1. Perbedaan Tanggapan Responden antara Pemimpin Desa dengan Masyarakat Desa Tentang Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Bagi Sarana Perhubungan ... 66

4.6.2. Perbedaan Tanggapan Responden antara Pemimpin Desa dengan Masyarakat Desa Tentang Manfaat Alokasi Dana (ADD) Desa Bagi Peningkatan Produksi ... 68 4.6.3. Perbedaan Tanggapan Responden antara


(12)

Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Bagi Usaha Ekonomi Desa... 70 4.6.4. Perbedaan Tanggapan Responden antara

Pemimpin Desa dengan Masyarakat Desa Tentang

Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Bagi Sarana Kesehatan... 72 4.6.5. Perbedaan Tanggapan Responden antara

Pemimpin Desa dengan Masyarakat Desa Tentang

Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) Bagi Sarana Pendidikan ... 74

4.6.6. Perbedaan Tanggapan Responden antara

Pemimpin Desa dengan Masyarakat Desa Tentang Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD)

Bagi Pembinaan Pemuda ... 76 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...

5.1. Kesimpulan ... 80 5.2. Saran ... 80 DAFTAR PUSTAKA……….. . 82


(13)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.1 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Kecamatan

Sei Rampah Tahun 2008 ... 35

3.2 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian ... 36

3.3 Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian... 37

3.4 Unit Populasi yang Dijadikan Sampel ... 38

4.1 Peruntukan Lahan di Kecamatan Sei Rampah ... 48

4.2 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 49

4.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 50

4.4 Jumlah Penduduk di Kecamatan Sei Rampah Menurut Mata Pencaharian Tahun 2008... 51

4.5 Banyak Rumah Tangga Menurut Status Pendidikan di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 52

4.6 Sekolah yang Mendapat Bantuan Rehabilitasi Di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 53

4.7 Jumlah Sarana Pendidikan di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 54

4.8 Jumlah Sarana Kesehatan di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 54

4.9 Sarana Ekonomi dan Industri di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008 ... 56


(14)

4.10 PDRB Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2006 - 2008

(Milyar Rupiah)... 57

4.11 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai Menurut Lapangan Usaha atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2006 – 2008 (%)... 59

4.12 Rincian APB-Des dan Jumlah ADD Prasarana dan Sarana Desa... 61

4.13 Rekapitulasi Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah dari Tahun 2007 – 2010 (dalam jutaan rupiah)... 62

4.14 Pendapatan Nominal Sebelum Dihitung Inflasi Tahun 2009……….. 65

4.15 Pendapatan Riil Setelah Dihitung Nilai Inflasi Tahun 2009………... 65

4.16 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Sarana Perhubungan... 66

4.17 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Peningkatan Produksi... 68

4.18 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Usaha Ekonomi Desa….. 70

4.19 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Sarana Kesehatan ... 73

4.20 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Sarana Pendidikan... 75

4.21 Manfaat Alokasi Dana Desa bagi Pembinaan Pemuda ... 77

4.22 Rekapitulasi Perbedaan Tanggapan Antara Pimpinan Desa dengan Masyarakat Desa Tentang Manfaat Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Sei Rampah ... 78


(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Siklus Pengembangan Partisipatif Desa... 14 2.2 Kerangka Berpikir ... 31


(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1 Kuesioner Penelitian... 84

2 Uji Beda Rata-rata Pendapatan Masyarakat Sebelum dan Setelah ADD Tahun 2007 dan Tahun 2009 (Tanpa Inflasi) ... 88

3 Uji Beda Rata-rata Pendapatan Masyarakat Sebelum dan Setelah ADD Tahun 2007 dan Tahun 2009 (Dengan Inflasi) ... 92

4 Analisis Uji Beda Rata- rata Pendapatan Masyarakat Sebelum dan Setelah ADD Tahun 2007 dan Tahun 2009 (Tanpa Inflasi) ... 95

5 Analisis Uji Beda Rata- rata Pendapatan Masyarakat Sebelum dan Setelah ADD Tahun 2007 dan Tahun 2009 (Dengan Inflasi) ... 96

6 Perhitungan Chi-Square Bagi Sarana Perhubungan……….. 97

7 Perhitungan Chi-Square Bagi Peningkatan Produksi... 98

8 Perhitungan Chi-Square Bagi Usaha Ekonomi Desa ... 99

9 Perhitungan Chi-Square Bagi Sarana Kesehatan ... 100

10 Perhitungan Chi-Square Bagi Sarana Pendidikan... 101

11 Perhitungan Chi-Square Bagi Pembinaan Pemuda ... 102

12. Foto Penelitian ... 103


(17)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk Untuk menganalisis apakah ada perbedaan pendapatan rata-rata rumah tangga setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Wilayah Kecamatan Sei Rampah dan menganalisis manfaat Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa dari tanggapan pimpinan desa dan masyarakat di Kecamatan Sei Rampah.

Populasi penelitian ini meliputi seluruh kepala keluarga yang ada di daerah penelitian sebanyak 1.427 orang. Besar sampel yang diambil sebanyak 93 responden. Untuk menguji hipotesis (1) digunakan analisis uji beda rata-rata (t-test) atau compare mean, untuk menguji hipotesis (2) digunakan analisis Perbedaan Uji Square.

Hasil penelitian yang diperoleh antara lain : Adanya perbedaaan pendapatan masyarakat setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah. Manfaat Alokasi Dana Desa di bidang perhubungan, ekonomi, kesehatan, pendidikan serta pembinaan pemuda bermanfaat dalam pengembangan desa baik dari masyarakat desa dan pemimpin desa, akan tetapi di bidang produksi terdapat perbedaan manfaat dari masyarakat desa dan pemimpin desa. Kepada Masyarakat Desa yang masih belum terlibat dalam Pemberdayaan Masyarakat khususnya pelaksanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah untuk dapat memberikan partisipasi dalam pembangunan desa, kepada Pemerintah agar lebih meningkatkan fungsi dalam memperdayakan desa sebagai puncak Pemerintahan serta kepada Pemimpin Desa menciptakan sektor unggulan di desa dalam menciptakan lapangan kerja yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat desa, dan dapat memajukan desanya masing-masing serta mensejahterakan masyarakatnya.

Kata Kunci:

ABSTRACT

APBD, Alokasi Dana Desa, Indikator Pemgembangan Desa, Manfaaat Alokasi Dana Desa, Pengembangan Desa.


(18)

ABSTRACT

The purpose of this study is to analyze whether there were differences for the average income of households after the implementation of the Village Fund Allocation Sub distric and analyze the benefits of Sei Rampah Allocation Village of Village Development Funds of the response of villages and community leaders in District Sei Rampah.

This study population included all heads of households in the study area as much as 1427 peoples. Large sample taken in 1993 respondents. To test the hypothesis (1) used the analysis of the average difference test (t-test) or compare the mean, to test the hypothesis (2) used the analysis of Square Differences Test. The results obtained are: The existence of differences in incomes after the implementation of the Village in the District Fund Allocation Sei Rampah. Village Benefit Allocation in the fields of transportation, economics, health, education and youth coaching is useful in the development of both rural villagers and village leaders, but there are differences in the production benefits from the village community and village leaders. Village Community which still has not been involved in the empowerment of the community, especially the implementation of the management of the Village in the District Fund Allocation Sei Rampah to be able to participate in rural development, to the Government to further improve the function of the bamboozle the village as well as to leaders summit village government creating sector in the village in create jobs that can increase rural incomes, and can promote their villages and prosperous society.

Keywords: Budgets, Budget Allocation Village, Village Development Indicators, Benefit Allocation Village, Village Development.


(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada masa Orde Baru, pemerintah merupakan agen utama dari Pembangunan Nasional. Paradigma Pembangunan dijadikan sebagai landasan nilai yang menjadi acuan dari semua Kebijakan Pemerintahan. Dalam rangka Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Pemerintah Daerah yang mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan menurut Asas Otonomi dan Tugas Pembantuan, untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Upaya untuk menyusun Undang-Undang yang mengatur Pengelolaan Keuangan Negara Indonesia dan elemen pokok dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah dimana daerah memiliki kewenangan membuat Kebijakan tentang Desa dalam memberi pelayanan, peningkatan peran serta dan Pemberdayaan Masyarakat Desa yan ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat serta yang diikuti dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah merupakan Keseluruhan Belanja Daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi Kewajiban Daerah. Perubahan dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun


(20)

1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Daerah. Perubahan ini karena tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan, ketatanegaraan serta tuntutan penyelenggaraan otonomi daerah. Pemberian otonomi membuka peluang (opportunities) bagi daerah untuk membuktikan kemampuan dalam penyelenggaraan kewenangan bidang keuangan serta Pelayanan Umum. Serta otonomi yang nyata yang bertujuan untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh, hidup, dan berkembang di daerah. Dalam implementasi Otonomi Daerah salah satu aspeknya adalah Pengelolaan Keuangan Daerah, karena Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan suatu Program Daerah bidang Keuangan untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu serta mengemban misi mewujudkan suatu strategi melalui berbagai kegiatan. Selain Undang-Undang terdapat beberapa Peraturan Perundang-undangan yang jadi acuan Pengelolaan Keuangan Daerah antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan untuk pelaksanaannya ditetapkan peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa dimana Penyelenggaraan Urusan Pemerintah Desa yang menjadi Kewenangan Desa didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan Bantuan Pemerintah Desa sesuai dengan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640SJ tanggal 22 Maret 2005 tentang Pedoman Alokasi Dana Desa dari pemerintah Kabupaten kepada Pemerintah Desa, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 tahun 2007 tentang Pedoman


(21)

Pengelolaan Keuangan Desa. Desa mempunyai hak untuk memperoleh bagi Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Kabupaten serta bagian dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 68. Perolehan bagian Keuangan Desa dari Kabupaten penyalurannya melalui Kas Desa sesuai dengan pasal 2A Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.

Pemberian Alokasi Dana Desa merupakan wujud dari pemenuhan Hak Desa untuk menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi, pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan Peran Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menghela percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis. Sehingga, hal ini dapat mengembangkan wilayah-wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah pengembangan. Keuangan Desa adalah Hak dan Kewajiban dalam rangka Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan Hak dan Kewajiban Desa. Perencanaan Pembangunan Desa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 pasal 64 ayat 1 dan ayat 2 disusun secara berjangka meliputi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES) untuk jangka 5 tahun dan Rencana Kerja Pembangunan Desa, selanjutnya disebut RKPD merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 tahun. Rencana


(22)

Pembangunan Jangka Menengah Desa ditetapkan dalam Peraturan Desa dan Rencana Kerja Pembangunan Desa ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa dengan berpedoman Kepada Peraturan Daerah.

Pelaksanaan Alokasi Dana Desa ini dilakukan dengan melalui fisik dan non fisik yang berhubungan dengan indikator Perkembangan Desa. indikator Perkembangan Desa meliputi tingkat pendidikan, tingkat kesehatan, tingkat pendapatan, pembinaan pemuda serta peningkatan produksi. Dengan pemberian Alokasi Dana Desa Pembangunan fisik salama ini dianggap relative cukup memenuhi prasarana dan sarana desa, namun demikian desa-desa masih jauh dari keberhasilan pembangunan fisik.

Kemampuan dan keterampilan Aparatur Desa merupakan dasar dari Pelaksanaan Pemerintahan khususnya di Bidang Keuangan dalam mengelola Alokasi Dana Desa. Pembangunan Fisik merupakan wujud dari Perkembangan Desa, akan tetapi pada saat ini sarana dan prasarana Desa masih kurang memadai dalam pencapaian Pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu dana merupakan faktor penunjang dalam Pengembangan Desa.

Sehubungan dengan apa yang diuraikan di atas,maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Alokasi Dana Desa APBD Serdang Bedagai terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah “.


(23)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah yang ada di atas, Penulis mengungkapkan permasalahan dalam penelitian ini ke dalam suatu perumusan masalah yaitu :

1. Apakah ada rata-rata perbedaan pendapatan rumah tangga sebelum dan setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Wilayah Kecamatan Sei Rampah?

2. Bagaimana manfaat Penggunaan Alokasi Dana Desa dilihat dari tanggapan Pemimpin Desa dan Masyarakat Desa terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang dipaparkan di atas, tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis apakah ada perbedaan pendapatan rata-rata rumah tangga sebelum dan setelah pelaksanaan Alokasi Dana Desa di Wilayah Kecamatan Sei Rampah.

2. Untuk menganalisis manfaat Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa dari tanggapan pimpinan desa dan masyarakat desa di Kecamatan Sei Rampah.


(24)

1.4. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang perumusan masalah maka manfaat penelitian ini adalah:

Kegunaan Teoritis

1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai landasan penelitian selanjutnya dan sebagai pengetahuan yang berharga sesuai dengan perkembangan Pengelolaan Keuangan Desa khususnya dengan Analisis Alokasi Dana Desa APBD Serdang Bedagai terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah.

Kegunaan Praktis

2. Kegunaan Praktis, diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Serdang Bedagai dalam Pengaruh Alokasi Dana Desa terhadap Perkembangan Pembangunan di Desa.


(25)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pembangunan Desa

2.1.1. Pembangunan Masyarakat Desa

Sebagian besar penduduk Kabupaten Serdang Bedagai saat ini masih bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan. Kawasan perdesaan dicirikan antara lain oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, masih tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman perdesaan. Penduduk dan angkatan kerja perdesaan yang akan terus bertambah sementara luas lahan pertanian relatif tidak meningkat secara signifikan, maka penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tidak produktif, karena itu, sangat penting untuk mengembangkan lapangan kerja non pertanian (non-farm activities) guna menekan angka kemiskinan dan migrasi ke perkotaan yang terus meningkat.

Permasalahan di dalam pembangunan perdesaan adalah rendahnya aset yang dikuasai masyarakat perdesaan ditambah lagi dengan masih rendahnya akses masyarakat perdesaan ke sumber daya ekonomi seperti lahan/tanah, permodalan, input produksi, keterampilan dan teknologi, informasi, serta jaringan kerjasama. Disisi lain, masih rendahnya tingkat pelayanan prasarana dan sarana perdesaan dan rendahnya kualitas SDM di perdesaan yang sebagian besar berketerampilan rendah.


(26)

(low skilled), lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat, lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan.

Oleh karena itu dapat dilihat beberapa sasaran yang dapat dilakukan dalam Pembangunan Desa sebagai berikut:

1. Meningkatkan pelayanan dalam hal pertanahan serta memproses masalah-masalah pertanahan dalam batas-batas kewenangan Kabupaten.

2. Pemantapan pengelolaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang untuk menciptakan lingkungan kehidupan yang efisien, efektif dan berkelanjutan

3. Peningkatan kualitas pemukiman yang aman, nyaman dan sehat

4. Meningkatnya prasarana wilayah pada daerah tertinggal, terpencil dan daerah perbatasan

5. Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan di daerah dan wilayah 6. Meningkatkan ekonomi wilayah untuk kesejahteraan masyarakat serta

menanggulangi kesenjangan antar wilayah dan 7. Pembangunan Perdesaan.

Akan tetapi sasaran yang paling pokok yang ingin dicapai dalam Pengembangan Desa adalah:


(27)

2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan permukiman di perdesaan;

3. Meningkatnya akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

Esensi dari demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan yang berasal dari dan untuk rakyat. Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa esensi utama dari pemerintahan yang demokratis akan berubah dalam beberapa waktu mendatang. Di Indonesia mekanisme perencanaan pembangunan baik yang berlaku dipusat maupun didaerah diatur melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1982 tentang P5D atau (Pedoman Penyusunan Perencanaan dan Pengendalian Pembangunan Daerah), namun dengan beralihnya sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi serta tuntutan reformasi yang berkembang, regulasi tersebut dirasa kurang layak lagi untuk diterapkan.

Pembangunan merupakan proses kegiatan untuk meningkatkan keberdayaan dalam meraih masa depan yang lebih baik. Pengertian ini meliputi upaya untuk memperbaiki keberdayaan masyarakat, bahkan sejalan dengan era otonomi, makna dari konsep hendaknya lebih diperluas menjadi peningkatan keberdayaan serta penyertaan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Oleh karenanya bahwa dalam pelaksanaannya harus dilakukan strategi yang memandang masyarakat bukan hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek pembangunan yang mampu menetapkan tujuan, mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses pembangunan untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan pembangunan yang lebih diprioritaskan kepada pemulihan kehidupan


(28)

sosial ekonomi masyarakat atau peningkatan pendapatan masyarakat desa dan menegakkan citra pemerintah daerah dalam pembangunan.

Kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2006-2010 diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat perdesaan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Memperluas akses masyarakat terhadap sumber daya produktif untuk pengembangan usaha seperti lahan, prasarana sosial ekonomi, permodalan, informasi, teknologi dan inovasi, serta akses masyarakat ke pelayanan publik dan pasar;

2. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitasnya, dan penguatan kelembagaan serta modal sosial masyarakat perdesaan berupa jaringan kerjasama untuk memperkuat posisi tawar;

3. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan memenuhi hak-hak dasar.

4. Terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan, khususnya lapangan kerja non pemerintah.

Program peningkatan infrastruktur pedesaan bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas infrastruktur pendukung kegiatan ekonomi produktif di kawasan perdesaan dan meningkatkan permukiman untuk mewujudkan kawasan


(29)

perdesaan yang layak huni. Sasaran program adalah peningkatan sarana dan prasarana perdesaan, Pogram ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut:

1. Peningkatan prasarana jalan perdesaan yang menghubungkan kawasan pedesaan dan perkotaan;

2. Peningkatan pelayanan sarana dan prasarana energi termasuk ketenagalistrikan di perdesaan;

3. Optimalisasi jaringan irigasi dan jaringan pengaliran lainnya

4. Peningkatan pelayanan prasarana permukiman seperti pelayanan air minum, air limbah, persampahan dan drainase.

Menurut Surjadi (1995) Pembangunan Masyarakat Desa adalah sebagai suatu proses dimana anggota- anggota masyarakat desa pertama-tama mendiskusikan dan menentukan keinginan mereka, kemudian merencanakan dan mengerjakan bersama untuk memenuhi keinginan mereka tersebut. Pembangunan Masyarakat Desa mempunyai ruang lingkup dan tujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di wilayah dalam strata pemerintahan yang disebut sebagai pemerintahan terbawah atau desa yaitu pemerintahan di tingkat ‘grass roots’ peningkatan taraf hidup yang berupa lebih banyak pengenalan atas benda-benda fisik yang bernilai ekonomis, mungkin dapat saja diberi penilaian secara standar dan kemudian dijadikan ukuran.


(30)

Pembangunan Masyarakat Desa pada dasarnya adalah bertujuan untuk mencapai suatu keadaan pertumbuhan dan peningkatan untuk jangka panjang dan sifat peningkatan akan lebih bersifat kualitatif terhadap pola hidup warga masyarakat, yaitu pola yang dapat mempengaruhi perkembangan aspek mental ( jiwa), fisik (raga), intelegensia (kecerdasan) dan kesadaran bermasyarakat dan bernegara. Akan tetapi pencapaian objektif dan target pembangunan desa pada dasarnya banyak ditentukan oleh mekanisme dan struktur yang dipakai sebagai Sistem Pembangunan Desa. Menurut Maskun Sumitro (1994) Kebijaksanaan Pembangunan Wilayah Pedesaan dirumuskan secara umum dan merata dan menjadi pedoman setiap langkah Pembangunan Sektoral di Bidang Pedesaan.

Taliziduhu Ndraha mengemukakan ciri-ciri dari pembangunan desa sebagai berikut:

1. Adanya partisipasi aktif dari masyarakat desa yang bersangkutan dalam proses pembangunan, tanpa partisipasi aktif masyarakat desa yang bersangkutan pembangunan itu bukanlah pembangunan desa.

2. Proses pembangunan desa adalah usaha berencana dan diorganisasikan guna membantu anggota masyarakat untuk mampu berpartisipasi aktif.

3. Membangun desa berarti membangun masyarakat.

4. Karena membangun desa juga membangun masyarakat, maka pembangunan masyarakat berarti membangun swadaya dan mengintensifkan partisipasi masyarakat.


(31)

2.1.2 Perencanaan Pembangunan Berbasis Sosial Budaya Lokal

Struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh dua ciri yang bersifat unik. Secara horizontal ditandai oleh kenyataan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan perbedaan suku bangsa, perbedaan perbedaan agama, adat serta perbedaan perbedaan kedaerahan (bersifat majemuk). Secara vertikal, struktur masyarakat Indonesia ditandai oleh adanya perbedaan perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam. Perencanaan pembangunan melalui pendekatan sosial budaya ini diarahkan untuk meningkatkan peranan dan pengembangan Lembaga Adat dan Budaya Lokal guna menumbuh kembangkan kembali nilai-nilai budaya lokal dalam menunjang pemberdayaan masyarakat sehingga akan tumbuh kondisi sosial budaya yang sehat dan dinamis, yang pada akhirnya akan bermuara pada masyarakat madani dan mengembalikan citra budaya bangsa Indonesia.

2.1.3. Perencanaan Pembangunan Partisipatif Desa

Pembangunan berkembang sesuai dengan perkembangan pemahaman orang tentang tujuan pembangunan. Menurut Said Zainal (2004) Secara umum “pembangunan dimaksudkan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik di masa depan daripada kondisi yang ada pada waktu sekarang”. Ini mengandung pengertian bahwa masyarakat selalu berada dalam kondisi yang dinamis. Dalam masyarakat yang dinamis, kondisi masa depan itu berada dalam proses perubahan dan perkebangan sepanjang waktu.


(32)

Pembangunan desa adalah proses kegiatan pembangunan yang berlangsung di desa yang mencakup seluruh aspek kehidupan dan penghidupan masyarakat. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 tahun 2005 tentang desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) “bahwa perencanaan pembangunan desa disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya dan menurut ayat (3) bahwa dalam menyusun perencanaan pembangunan desa wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa”. Di bawah ini dapat digambarkan siklus Pembangunan Partisipatif desa.

Sumber: Pedoman sosialisasi Penyusunan RPJMDES BPMPD Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2009.

Gambar: 2.1. Siklus Pembangunan Partisipatif Desa

3. Pengendalian Pelestarian

Pemanfaatan Pengembanga

n Tindak

1.Perencanaan

2.Pelaksanaan

3. PENGENDALIAN/PELESTARIAN 2. PELAKSANAAN

1. PERENCANAAN

a. Musrenbang Dusun/RW/Kampung a. Musrenbang Dusun/RW/Kampung a. Pola swakelola

b. Musrenbang Desa/Kel

b. Musrenbang Desa/Kel b. Pola kerjasama operasional

c. Musrenbang Kecamatan

c. Musrenbang Kecamatan c. Pola swadaya

d. Pembiayaan


(33)

Dalam Perencanaan Pembangunan Partisipatif Desa ada beberapa Prinsip Pembangunan yang harus dilaksanakan. Prinsip – prinsip Pembangunan Partisipatif tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pemberdayaan 2. Transparansi 3. Akuntabilitas 4. Berkelanjutan 5. Partisipasi

Selain prinsip Pembangunan Partisipatif Desa ada juga harus memiliki tujuan dalam Perencanaan Pembangunan. Tujuan dari Perencanaan Pembangunan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mengkoordinasikan antar pelaku pembangunan.

2. Menjamin sinkronisasi dan sinergi dengan pelaksanaan Pembangunan Daerah. 3. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara Perencanaan, Penganggaran,

Pelaksanaan dan Pengawasan.

4. Mengoptimalkan Partisipasi Masyarakat

5. Menjamin tercapainya penggunaan Sumber Daya Desa secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.

2.1.4. Pembangunan Desa yang Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berkelanjutan dapat diartikan secara luas sebagai kegiatan-kegiatan di suatu wilayah untuk memenuhi


(34)

kebutuhan pembangunan dimasa sekarang tanpa membahayakan daya dukung sumberdaya bagi generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Tantangan pembangunan berkelanjutan adalah menemukan cara untuk meningkatkan kesejahteraan sambil menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Arus globalisasi yang semakin kuat perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa mekanisme pasar tidak selalu mampu memecahkan masalah ketimpangan sumberdaya. Kebijakan pembangunan harus memberi perhatian untuk perlunya menata kembali landasan sistem pengelolaan aset-aset di wilayah pedesaan. Penataan kembali tersebut lebih berupa integrasi kepada pemanfaatan ganda, yaitu ekonomi dan lingkungan/ekosistem. Walaupun wawasan agroekosistem merupakan sesuatu pengelolaan yang kompleks dan rumit, akan tetapi keberhasilannya dapat dilihat dan dirumuskan dengan melihat indikator-indikator antara lain: kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan lokal, kontribusi terhadap keberlanjutan penggunaan sumberdaya alam, kontribusi terhadap peningkatan lapangan kerja, kontribusi terhadap keberlanjutan ekonomi makro, efektifitas biaya dan kontribusi terhadap kemandirian teknis.

Ada empat aspek umum ciri-ciri spesifik terpenting mengenai konsep agroekosistem. Empat aspek umum tersebut adalah:

1. Kemerataan (equitability) 2. Keberlanjutan (sustainability) 3. Kestabilan (stability) dan 4. Produktivitas (productivity).


(35)

Secara sederhana, equitability merupakan penilaian tentang sejauh mana hasil suatu lingkungan sumber daya didistribusikan diantara masyarakatnya. Sustainability dapat diberi pengertian sebagai kemampuan sistem sumber daya mempertahankan produktivitasnya, walaupun menghadapi berbagai kendala. Stability merupakan ukuran tentang sejauh mana produktivitas sumber daya bebas dari keragaman yang disebabkan oleh fluktuasi faktor lingkungan. Productivity adalah ukuran sumber daya terhadap hasil fisik atau ekonominya. Dimasa yang akan datang, dalam konteks pembangunan pedesaan yang berkelanjutan, pengelolaan sumber daya di desa haruslah dilaksanakan dalam satu pola yang menjamin kelestarian lingkungan hidup, menjaga keseimbangan biologis, memelihara kelestarian dan bahkan memperbaiki kualitas sumber daya alam sehingga dapat terus diberdayakan, serta menerapkan model pemanfaatan sumber daya yang efisien.

2.2. Pembangunan Nasional

2.2.1 Perencanaan Pembangunan Daerah

Perencanaan pembangunan daerah merupakan suatu sistem yang dibentuk dari unsur - unsur perencanaan, pembangunan, dan daerah. Menurut Riyadi dan Deddy (2005) unsur- unsur perencanaan meliputi:

1. Adanya asumsi yang didasarkan pada fakta-fakta, ini berarti bahwa perencanaan hendaknya disusun dengan berdasarkan pada asumsi yang didukung dengan fakta-fakta atau bukti yang ada. Hal ini menjadi penting karena hasil perencanaan merupakan dasar bagi pelaksanaan suatu kegiatan.


(36)

2. Adanya alternatif atau pilihan sebagai dasar penetuan kegiatan yang akan dilakukan. Ini berarti bahwa dalam menyusun rencana perlu memperhatikan berbagai alternatif sesuai dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.

3. Adanya tujuan yang ingin dicapai, hal ini perencanaan merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan kegiatan.

4. Bersifat memprediksi sebagai langkah untuk mengantisipasi kemungkinan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan perencanaan.

5. Adanya kebijaksaanan sebagai hasil keputusan yang harus dilaksanakan.

Dalam hubungannya dengan suatu daerah sebagai area pembangunan di mana terbentuk konsep perencanaan pembangunan daerah, dapat dinyatakan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses perencanaan pembangunan yang dimaksudkan untuk melakukan perubahan menuju arah perkembangan yang lebih baik bagi suatu komunitas masyarakat, pemerintah dan lingkungan dalam wilayah/daerah tertentu, dengan memanfaatkan atau mendayagunakan berbagai sumber daya yang ada, dan harus memiliki orientasi yang bersifat menyeluruh, lengkap, tapi tetap berpegang pada azas prioritas. Melakukan Perencanaan Pembangunan Daerah berbeda dengan melakukan perencanaan proyek atau perencanaan kegiatan yang bersifat lebih spesifik dan mikro, proses Perencanaan Pembangunan Daerah jauh lebih rumit, karena menyangkut Perencanaan Pembangunan bagi suatu wilayah dengan berbagai komunitas, lingkungan dan kondisi sosial yang ada di dalamnya. Dalam kegiatan perencanaan pembangunan daerah tidak bisa dilakukan dengan secara individual, melainkan harus dilaksanakan


(37)

secara tim maupun kerjasama dalam arti institusional. Disamping itu masyarakat sangat penting dalam hal ini, keterlibatan masyarakat dapat melakukan pengkajian dan analisis yang akurat dalam rangka perumusan hasil perencanaannya. Keterlibatan masyarakat dalam perencanaan pembangunan daerah akan sangat mendorong terciptanya suatu hasil perencanaan yang baik, karena masyarkat sebagai salah satu unsur dalam pembangunan, tentunya dapat mengetahui sekaligus memahami apa yang ada di wilayahnya. Dalam perencanaan pembangunan daerah ada beberapa aspek yang perlu mendapatkan perhatian agar perencanaan pembangunan dapat menghasilkan rencana pembangunan yang baik serta dapat diimplementasikan di lapangan. Menurut Riyadi dan Deddy (2005) ada beberapa aspek – aspek antara lain: 1. Aspek lingkungan

2. Aspek potensi dan masalah 3. Aspek institusi perencana 4. Aspek ruang dan waktu 5. Aspek legalisasi kebijakan

Dalam proses pembangunan daerah dapat dilihat dengan tiga cara pandang yang berbeda. Pertama, pembangunan bagi suatu kota, daerah, atau wilayah sebagai wujud bebas yang pengembangannya tidak terikat dengan kota, daerah, atau wilayah lain, sehingga penekanan perencanaan pembangunannya mengikuti pola yang lepas dan mandiri. Kedua, pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional. Ketiga, Perencanaan pembangunan daerah sebagai instrumen bagi penentuan alokasi


(38)

sumber daya pembangunan dan lokasi kegiatan di daerah yang telah direncanakan terpusat yang berguna untuk mencegah terjadinya kesenjangan ekonomi antar daerah.

2.2.2 Proses Pengelolaan Pembangunan Nasional

Pada umumnya pembangunan yang dilaksanakan oleh suatu negara atau bangsa didasarkan pada tiga pendekatan, yaitu pendekatan makro, sektoral dan regional. Proses pembangunan nasional merupakan proses yang rumit yang meliputi perumusan kebijaksanaan dan strategi pembangunan nasional, perencanaan pembangunan nasional dan penyusunan program pembangunan nasional. Dalam pembangunan nasional didasarkan pada lima ide pokok yaitu:

1. Pembangunan nasional mengandung pengertian untuk mewujudkan suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang.

2. Pembangunan ialah pertumbuhan dimana kemampuan suatu negara untuk terus berkembang baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

3. Pembangunan sebagai rangkaian usaha yang secara sadar dilakukan atau keadaan yang lebih baik, yang didambakan oleh masyarakat serta pertumbuhan yang diharapkan akan terus berlangsung. Dengan secara konseptual dan operasional bahwa tujuan dan arah serta jenis kegiatan dengan sengaja ditentukan dan seluruh potensi serta kekuatan nasional diarahkan ke suatu kondisi yang ideal.


(39)

4. Pembangunan merupakan rangkaian usaha yang dilakukan secara sadar, atau pembangunan didasarkan pada sesuatu rencana yang tersusun secara rapi untuk satu kurun waktu tertentu.

5. Pembangunan bermuara kepada suatu titik akhir tertentu yang merupakan cita- cita akhir dari perjuangan dan usaha negara yang bersangkutan.

Menurut Sondang Siagian bahwa prinsip penyelenggaraan pembangunan nasional sebagai berikut:

1. Kesemestaan 2. Partisipasi rakyat 3. Keseimbangan 4. Kontinuitas

5. Pendekatan kesisteman

6. Mengandalkan kekuatan sendiri 7. Kejelasan strategi dasar

8. Skala prioritas yang jelas 9. Kelestarian ekologi

10. Pemerataan yang disertai pertumbuhan

2.3. Alokasi Dana Desa APBD

2.3.1. Pengertian Alokasi Dana Desa APBD

Alokasi Dana Desa merupakan instrumen penting untuk terselenggaranya otonomi dan desentralisasi di tingkat desa, pelaksanaan kebijakan Alokasi Dana Desa


(40)

yang sesuai dengan Undang- Undang Dasar Nomor 32 Tahun 2004 yang bertujuan untuk mengembangkan pemerintahan desa yang mandiri dan mampu menjalankan fungsi desentralisasi. Alokasi Dana Desa atau ADD adalah bagian keuangan Desa yang diperoleh dari Bagi Hasil Pajak Daerah dan Bagian dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa pada Pasal 18 bahwa Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten/Kota yang bersumber dari bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen). Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor 10 Tahun 2007 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APB-DES adalah Rencana Keuangan Tahunan Desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa yang ditetapkan dengan Peraturan Desa dan Dana Alokasi Desa terdapat pada Bantuan Keuangan Pemerintah Kabupaten sebagaimana dimaksud ayat (5) pasal 10 Peraturan Daerah ini meliputi :

1. Tunjangan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa (TPAPD) 2. Alokasi Dana Desa (ADD)

3. Penyisihan Pajak dan Retribusi Daerah 4. Sumbangan Bantuan lainnya dari Kabupaten

Dengan sasaran Alokasi Dana Desa (ADD) yang dibagikan kepada 237 desa di 17 kecamatan Kabupaten Serdang Bedagai. pembagian Alokasi Dana Desa (ADD)


(41)

dapat dilihat berdasarkan Variabel Independen utama dan Variabel Independen tambahan dengan rincian sebagai berikut:

1. Asas Merata adalah besarnya bagian Alokasi Dana Desa (ADD) yang sama untuk di setiap Desa atau yang disebut dengan Alokasi Dana Desa (ADD) minimal. Alokasi Dana Desa (ADD) Variabel Independen utama sebesar 70% dan Variabel Independen Tambahan 30%.

2. Asas Adil adalah besarnya bagian Alokasi Dana Desa (ADD) yang dibagi secara proporsional untuk di setiap Desa berdasarkan Nilai Bobot Desa yang dihitung dengan rumus dan variabel tertentu atau Alokasi Dana Desa (ADD) Proporsional (ADDP), Variabel Proporsional Utama sebesar 60% dan Variabel Proporsional Tambahan sebesar 40%.

Variabel Independen Utama adalah Variabel yang dinilai terpenting untuk menentukan nilai bobot desa. Variabel Utama ditujukan untuk mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat dan pelayanan dasar umum antar desa secara bertahap dan mengatasi kemiskinan struktural masyarakat di desa. Variabel Independen Utama meliputi sebagai berikut:

1. Indikator kemiskinan 2. Indikator Pendidikan Dasar 3. Indikator Kesehatan

4. Indikator Keterjangkauan Desa

Variabel Tambahan merupakan Variabel yang dapat ditambahkan oleh masing-masing daerah yang meliputi sebagai berikut:


(42)

1. Indikator Jumlah Penduduk 2. Indikator Luas Wilayah

3. Indikator Potensi Ekonomi (PBB)

4. Indikator Jumlah Unit Komunitas (Dusun)

2.3.2. Pengelolaan Alokasi Dana Desa APBD

Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Pengelolaan Keuangan Desa dalam APBDES oleh karena itu dalam Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) harus memenuhi Prinsip Pengelolaan Alokasi Dana Desa sebagai berikut:

1. Seluruh kegiatan yang didanai oleh Alokasi Dana Desa (ADD) direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat.

2. Seluruh kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan secara administrative, teknis dan hukum.

3. Alokasi Dana Desa (ADD) dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat, terarah dan terkendali.

4. Jenis kegiatan yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa (ADD) sangat terbuka untuk meningkatkan sarana Pelayanan Masyarakat berupa Pemenuhan Kebutuhan Dasar, Penguatan Kelembagaan Desa dan kegiatan lainnya yang dibutuhkan Masyarakat Desa yang diputuskan melalui Musyawarah Desa. 5. Alokasi Dana Desa (ADD) harus dicatat dalam Anggaran Pendapatan dan


(43)

Belanja Desa (APB-DESA) dan proses penganggarannya mengikuti mekanisme yang berlaku.

Pengelolaan Alokasi Dana Desa yang menyatu dalam APB-Desa berlangsung secara transparan atau terbuka, Pemerintah Desa dan BPD mempunyai tanggungjawab besar untuk membuat Alokasi Dana Desa yang transparan. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kelancaran Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) dibentuk Pelaksana Kegiatan Tingkat Desa, Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan dan Tim Pembina Tingkat Kabupaten. Pelaksana Kegiatan Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) sebagai berikut:

2.3.2.1. Pelaksana kegiatan tingkat desa

Menurut Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 140/640SJ tanggal 22 Maret 2005 tentang Pedoman Alokasi Dana Desa dari pemerintah Kabupaten kepada Pemerintah Desa, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. Bahwa di Desa merupakan Pelaksana Kegiatan ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa, dengan Susunan sebagai berikut:

1. Penanggung jawab : Kepala Desa atau pelaksana Tugas Kepala Desa dari Perangkat Desa yang disetujui oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau Selaku Pemegang Kekuasaan Pengelolaan KeuanganDesa (PKPKD).

2. Pelaksaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD): Sekretaris Desa dan Perangkat Desa.


(44)

3. Sekretaris Desa: Koordinator Pelaksanaan Keuangan Desa

4. Bendahara Desa: Perangkat Desa yang ditunjuk oleh melalui Surat Keputusan (SK) Kepala Desa (Penanggungjawab Administrasi Keuangan).

5. Ketua Perencana dan Pelaksana Partisipatif Pembangunan: Ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).

6. Pelaksana Kegiatan Dan Pemberdayaan Perempuan: Tim Penggerak PKK Desa.

2.3.2. 2. Tim fasilitasi tingkat kecamatan

Ditingkat kecamatan juga di bentuk suatu Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan yang ditetapkan dengan Keputusan Camat, dengan susunan sebagai berikut :

Penanggung Jawab : Camat Ketua : Kepala Seksi PMD.

Anggota : 1. Ketua T.P.PKK Kecamatan 2. Staf PMD Kecamatan. 3. Instansi Terkait Kecamatan.

Tugas Tim Fasilitasi Tingkat Kecamatan adalah sebagai berikut:

1. Memfasilitasi Pemerintah Desa dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDesa) dan menghadiri Pelaksanakan Musyawarah Rencana Pembangunan Desa.

2. Melaksanakan kegiatan Fasilitasi dan Pembinaan, Pengawasan, Pemantauan, Penelitian dan memverifikasi kelayakan kegiatan Desa yang dibiayai oleh Alokasi Dana Desa ( ADD ) .


(45)

3. Mensosialisasikan secara luas tentang Pengelolaan Keuangan Desa.

4. Camat selaku Penangungjawab memverifikasi Usulan Rencana Kegiatan Desa (RKD) dan Laporan Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Desa .

5. Mengadakan Monitoring dan Pengendalian Kegiatan Alokasi Dana Desa.

6. Membantu Menyusun dan Rekapitulasi Laporan Kemajuan Kegiatan Fisik dan Pelaporan Keuangan.

7. Memfasilitasi dan mencari solusi terhadap permasalahan ditingkat Desa dan melaporkan kepada Bupati Serdang Bedagai Cq. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa selau Tim Pembina Kabupaten.

2.3.2.3.Tim pembina tingkat kabupaten

Tim Pembina Tingkat kabupaten ditetapkan dengan Keputusan Bupati. Dimana susunan kepengurusan dari Tim Pembina Tingkat Kabupaten adalah sebagai berikut :

1. Bupati dan Wakil Bupati Serdang Bedagai sebagai Pengarah. 2. Sekretaris Daerah Kabupaten Sebagai Penanggung jawab.

3. Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pemerintahan Desa sebagai Ketua.

4. Kepala Bidang Pemerintahan Desa sebagai Sekretaris. 5. Inspektur Kabupaten Serdang Bedagai sebagai Anggota

6. Kepala Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Asset Kabupaten Serdang Bedagai sebagai Anggota.


(46)

7. Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Serdang Bedagai sebagai Anggota.

8. Kepala Bagian Hukum Setdakab. Serdang Bedagai sebagai Anggota. 9. Sekretaris, Kepala Bidang dan Kasubbid Sebagai Anggota.

10. Dinas Instansi Terkait lainnya.

Tugas Tim Pembina Kabupaten ini adalah sebagai berikut :

1. Mendata variabel Independen utama dan variabel tambahan untuk menentukan besarnya bagian dana yang diterima setiap Desa

2. Membina dan mensosialisasikan Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD). 3. Melaksanakan Pembinaan Administrasi Keuangan Desa bersama dengan Tim

Fasilitasi Kecamatan.

4. Membuat laporan kegiatan Penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD).

5. Melakukan fasilitasi pemecahan masalah berdasarkan pengaduan masyarakat serta pihak lainnya dan mengkordinasikan dengan Inspektorat Kabupaten Serdang Bedagai.

6. Melakukan monitoring / evaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Desa.

2.4. Penelitian Sebelumnya

Sulistianto (2001), melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Program dana Bantuan Desa Terhadap Perkembangan Desa Di Kecamatan Stabat”. Dalam Penelitian ini menunjukkan bahwa desa-desa di Kecamatan Stabat menyatakan ada


(47)

hubungan yang positif dan signifikan antara Dana Bantuan Desa dengan indikator Perkembangan Desa dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1999.

Sinaga (2004), melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Proyek Pemberdayaan Kecamatan Terpadu (P2KT) Terhadap Pembangunan Desa di Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun” Dalam penelitian ini menyatakan tujuan untuk menggambarkan proses dan peran masyarakat dalam pelaksanaan Proyek Pemberdayaan Kecamatan Terpadu (P2KT) dan mengetahui manfaat Proyek Pemberdayaan Kecamatan Terpadu (P2KT) di Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun. Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa Proyek Pemberdayaan Kecamatan Terpadu (P2KT) memberikan Pengaruh yang positif terhadap Pembangunan Desa.

Sinaga (2006), melakukan analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Dalam Pengembangan Wilayah Kabupaten Deli Serdang. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pajak, retribusi, lain-lain PAD yang sah serta otonomi daerah terhadap PDRB Kabupaten Deli Serdang. Hasil penelitiannya tersebut menyimpulkan bahwa PAD berpengaruh nyata terhadap PDRB sehingga merupakan salah satu aspek Pengembangan Wilayah dalam Bidang Ekonomi di Kabupaten Deli Serdang.

Purba (2007), dengan judul tesis Pengaruh Partisipasi Masyarakat Terhadap Program Bantuan Pembangunan Desa di Kecamatan Gunung Malela Kabupaten Simalungun. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa karakteristik umur, pendidikan serta pendapatan berpengaruh positif terhadap partisipasi masyarakat ,


(48)

sehingga Partisipasi Masyarakat dapat berpengaruh dalam keberhasilan program bantuan pembangunan desa.

2.5. Kerangka Berpikir

Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai memberikan Alokasi Dana Desa ke setiap desa sebagai wujud nyata pemenuhan Hak Desa dalam membiayai Program Pemerintahan Desa dalam melaksanakan kegiatan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat di desa. Alokasi Dana Desa tersebut digunakan dalam Pembangunan fisik atau non fisik dengan tujuan Pengembangan Desa. Dalam melakukan pengembangan desa ini ada beberapa indicator yang dijadikan ukuran yaitu dalam hal ini meliputi tingkat pendapatan serta manfaat Alokasi Dana Desa menurut tanggapan Pemimpin Desa dan Masyarakat Desa.


(49)

Sarana Perhubungan Sarana Peningkatan Produksi

Gambar 2.2. Kerangka Berpikir

Manfaat Alokasi Dana Desa Alokasi Dana

Desa APBD Serdang

Bedagai

Usaha Ekonomi Desa

Pendapatan Masyarakat Sarana Kesehatan

Sarana Pendidikan Pembinaan Pemuda


(50)

2.6. Hipotesis Penelitian

Hipotesis pokok penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan rata- rata pendapatan rumah tangga sebelum dan setelah pelaksanaan Program Alokasi Dana Desa.

2. Terdapat perbedaan tanggapan menurut Pemimpin Desa dan Masyarakat Desa tentang manfaat Alokasi Dana Desa di Kecamatan Sei Rampah.


(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tiga desa di Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Desa yang akan dilakukan obyek penelitian adalah Desa Sei rampah, Desa Sei Rejo, dan Desa Sei Parit. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada desa yang paling dekat dengan Ibukota Kabupaten Serdang Bedagai, karena keterbatasan waktu, biaya sehingga dengan mudah dalam pengambilan data-data yang dibutuhkan serta mengenal keadaan desa ini.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data Sekunder diperoleh Penulis dari buku-buku, data yang didapat dari lembaga yang berkaitan dengan penelitian berupa BPS dan dokumen-dokumen dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa. Penulis juga mengumpulkan data dari Desa Sei Rampah, Desa Sei Rejo dan Desa Sei Parit Kecamatan Sei Rampah dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Serdang Bedagai. Data Primer diperoleh Penulis dengan menggunakan pedoman wawancara terhadap Pemimpin Desa dan masyarakat desa, observasi serta kuesioner dari perseorangan masyarakat dan pemimpin desa sesuai dengan sasaran penelitian.

Menurut Arikunto (2006) sumber data adalah “subjek dari mana data dapat diperoleh”. selanjutnya Arikunto (2002) menyebutkan tiga sumber data yaitu:


(52)

1. Person adalah sumber data yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau jawaban tertulis melalui angket.

2. Place adalah sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan

bergerak. Misalnya kelengkapan alat, ruangan, wujud benda, warna, surat pribadi dan notulen. Bergerak misalnya bekerja.

3. Paper adalah sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa

huruf,angka,gambar atau simbol-simbol lainnya. Paper dalam penelitian ini antara lain: Kabupaten Serdang Bedagai Dalam Angka, dokumen-dokumen, buku-buku, peraturan perundang-undangan dan data yang berkaitan dalam penelitian ini.

3.3. Teknik Pengambilan Sampel

Dalam melakukan suatu penelitian, terlebih dahulu menentukan populasi yang akan diteliti. Yang dimaksud dengan “populasi adalah kelompok besar dan wilayah yang menjadi lingkup penelitian” dengan demikian populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam lain yang merupakan subyek atau obyek yang berada pada suatu wilayah serta memenuhi syarat-syarat tertentu yang memiliki hubungan dengan permasalahan yang diteliti”.

Menurut Sugiyono (2008) menyebutkan bahwa “ populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari subyek dan obyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan, populasi bukan hanya orang tetapi juga benda-benda alam yang


(53)

lain, populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu”. Adapun populasi dari penelitian ini adalah Perangkat Desa dan Masyarakat Desa di Kecamatan Sei Rampah seperti yang ada di Tabel 3.1 di bawah ini.

Tabel 3.1. Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008

No Desa Jumlah Rumah

Tangga Jumlah Penduduk 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Rambung Sialang Tengah Rambung Sialang Hulu Rambung Sialang Hilir Rambung Estate Pergulaan Sinah Kasih Sei Parit Sei Rampah Sei Rejo Tanah Raja Simpang Empat Cempedak Lobang Silau Rakyat Pematang Ganjang Pematang Pelintahan Firdaus Firdaus Estate 1.042 2.293 1.620 201 905 2.803 881 447 99 62 754 549 119 222 2.485 467 422 4.619 9.717 7.045 848 3.879 12.169 3.733 1.977 420 237 3.335 2.376 493 994 10.153 1.933 1.818

Jumlah 15.372 65.747

Sumber : BPS Serdang Bedagai

Menurut Sugiyono (2008:81) sampel adalah “bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”.

Teknik sampel yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah teknik probability sampling untuk pengambilan sampel terhadap Perangkat Desa dan


(54)

Masyarakat Desa Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai. Menurut Sugiyono (2008) probability sampling yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota)”. Teknik probability sampling digunakan Penulis karena penelitian ini harus sesuai dengan strata karena Analisis Alokasi Dana Desa terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah dapat berbeda tingkat efektivitasnya dari setiap latar belakang responden. Dengan jumlah populasi tersebut di atas Penulis menarik sampel berdasarkan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Jumlah populasi rumah tangga di ketiga desa tersebut sebanyak 1.427 rumah tangga yang terdiri dari :

Tabel 3.2. Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian 

No Desa Jumlah Penduduk Jumlah Rumah

Tangga Sampel

1 2 3

Sei Parit Sei Rampah Sei Rejo

3.733 1.977 420

881 447 99

57 29 7

Jumlah 6.130 1.427 93

Sumber : Data yang diolah

Jumlah populasi sebanyak 1.427 rumah tangga yang ada di ketiga desa, maka untuk mengetahui besarnya jumlah respoden yang akan dijadikan sampel digunakan rumus dari Frank Lynk dalam Ediwarsyah (1987) :

keterangan : n : Jumlah sampel N : Jumlah Populasi


(55)

P : Harga Patokan tertinggi (0,5) d : Sampling Error (0,1)

Bila di hitung dengan menggunakan rumus di atas, maka diketahui jumlah responden ketiga desa tersebut sebagai berikut :

n = 92,78 Sampel (dibulatkan 93 Sampel)

Secara detail dapat dijelaskan jumlah responden dari masing-masing desa tersebut seperti yang terlihat pada Tabel 3.3 dibawah ini :

Tabel 3.3. Jumlah Populasi dan Sampel Penelitian 

No Desa

Jumlah Rumah

Tangga Perhitungan Sampel

1

2

3

Sei Parit

Sei Rampah Sei Rejo

881

447

99

57 29 7

Jumlah 1.427 92,78 93

Sumber : Data yang Diolah

Responden yang diambil sebanyak 93 responden, namun dari responden tersebut diambil empat responden dari perangkat desa untuk masing-masing desa. Sehingga untuk responden dari perangkat desa sebanyak 12 responden dan dari masyarakat desa di dapat responden sebanyak 81 responden. Seperti yang terlihat pada Tabel 3.4 dibawah :


(56)

Tabel 3.4. Unit Populasi yang Dijadikan Sampel

No. Unit Populasi Jumlah Sampel

1. Kepala Desa dari ketiga desa 3

2. Sekretaris Desa dari ketiga desa 3

3. LKMD Desa dari ketiga desa 3

4. TP-PKK Desa dari ketiga desa 3

5. Sampel Masyarakat dari Desa Sei Parit Desa Sei Rampah

Desa Sei Rejo

53 25 3

Jumlah 93

Sumber : Data yang Diolah

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Untuk mendapatkan data dan keterangan yang diperlukan dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan Penulis adalah :

3.4.1. Kuesioner

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Menurut Sugiyono (2008) teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu


(57)

dengan pasti variable yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner dilakukan kepada Perangkat Desa dan masyarakat Desa.

3.4.2. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan kuesioner. menurut Sugiyono (2008) digunakan bila penelitian bekenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar. Observasi dilakukan penulis dengan pengamatan langsung ke lapangan untuk mengamati proses pelaksanaan Alokasi Dana Desa yang sesuai dengan permasalahan, terutama dengan Pembangunan Sarana di Desa.

3.4.3. Wawancara

wawancara adalah cara pengumpulan data dengan mewawancarai atau tanya jawab terhadap sumber informasi yang mempunyai pengetahuan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab responden. Arikunto (2006) menyebutkan bahwa “ interview yang sering sisebut dengan wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara”. Wawancara dilakukan kepada Kepala Desa, Sekretaris Desa, Ketua LKMD, Ketua TP-PKK Desa dan Masyarakat desa di Kecamatan Sei Rampah.

3.4.4. Dokumentasi

Dokumentasi adalah data yang diperoleh secara tertulis dari dokumen-dokumen yang ada dan informasi lainnya yang berhubungan dengan penelitian. Menurut Arikunto (2006), Dokumentasi adalah metode yang dilaksanakan oleh peneliti untuk


(58)

meneliti benda-benda yang dilaksanakan oleh peneliti untuk meneliti benda-benda tertulis. Teknik dokumentasi merupakan suatu cara mempelajari dan menelaah dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun data yang dikumpulkan penulis antara lain: Peraturan Perundang-Undangan, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah, Peraturan Menteri, Badan Pusat Statistik Kabupaten Serdang Bedagai, Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Kabupaten Serdang Bedagai, Kantor Kantor Kecamatan Sei Rampah, Kantor Desa dan bahan-bahan bacaan lainnya yang dapat dijadikan literatur dalam menunjang penelitian ini.

3.5. Metode Analisis Data

Dalam suatu penelitian diperlukan suatu metode penelitian yang dapat mempermudah tujuan penelitian. Metode penelitian merupakan suatu proses pencarian sesuatu secara sistematis dalam waktu tertentu. Menurut Nazir (2005)” bahwa desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian”.

Menurut Sugiyono (2008) : Metode penelitian deskriptif adalah “suatu metode dalam penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai Variabel mandiri, baik satu variable atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel yang lain” Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Demikian, metode penilitian


(59)

dalam penulisan tesis ini adalah metode penelitian deskriptif analisis dengan pendekatan kuantitatif, yaitu penelitian deskriptif yang menggunakan data yang berupa angka-angka hasil koding dari jawaban responden atas angket yang disebarkan.

Metode penelitian Kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian. Metode ini disebut sebagai metode positivistic karena berlandaskan pada filsafat positivitik.

Menurut Sugiyono (2008) : Metode penelitian Kuantitatif adalah “suatu metode ilmiah/scientific karena telah memenuhi kaidah-kaidah ilmiah yaitu konkrit/empiris, obyektif, terukur, rasional dan sistematis atau metode discovery, karena dengan metode ini dapat ditemukan dan dikembangkan berbagai iptek baru atau data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistic.

Dalam penelitian kuantitatif dapat melihat hubungan variable terhadap objek yang diteliti lebih bersifat sebab akibat (kausal), sehingga dalam penelitiannya ada variable independen dan dependen. Dari variable tersebut selanjutnya dicari seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variable dependen.

Analisis data dalam penelitian kuantitatif merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul, sebab melalui analisislah data tersebut diberi arti dan makna yang berguna dalam memecahkan masalah penelitian.

Selanjutnya menurut Nazir (2005), analisis adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan, memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah dibaca.


(60)

Menurut Arikunto (1997) dijelaskan bahwa analisis data meliputi langkah-langkah sebagai berikut:

1. Persiapan 2. Tabulasi Data

3. Penerapan Data sesuai dengan penelitian

Dalam menjawab rumusan masalah dilakukan secara metode analisis data sebagai berikut:

1. Untuk menjawab permasalahan pertama dilakukan uji signifikansi perbedaan pendapatan rumah tangga tahun 2007 dan tahun 2009 dengan menggunakan rumus t – test:

Dimana :

∑D = Jumlah perbedaan antara setiap pasangan ( X1 – X2 = D ), dimana X1

adalah rata – rata pendapatan rumah tangga setelah Alokasi Dana Desa dan X2 adalah rata – rata pendapatan rumah tangga sebelum Alokasi

Dana Desa.

N = Jumlah observasi n = 81

2. Analisis inferensial atau analisis statistic nonparametris (x2 atau Chi-Square) untuk menganalisis manfaat penggunaan Alokasi Dana Desa APBD Serdang Bedagai


(61)

dari tanggapan pemimpin desa dan masyarakat dan Pemilihan Chi-Square sebagai alat analisis karena skala yang digunakan adalah skala ordinal, sehingga tidak dapat menggunakan uji beda parametric (uji t). Prosedur X2 Test (Uji Chi Square). Asumsi yang digunakan adalah data berasal sampel random. Rumus perhitungan chi-square sebagai berikut:

Dimana: r = jumlah baris, c = jumlah kolom,

i = baris ke i j = baris ke j

Oij = frekuensi observasi pada baris i kolom j Eij = frekuensi yang diharapkan pada baris i kolom j Selanjutnya untuk menghitung Eij digunakan rumus:

Eij

=

n = jumlah frekuensi pada baris i, i

n = jumlah frekuensi pada kolom j j

n = total frekuensi.

df = (b-1) (k-1) = (3-1)(2-1)= 2 jadi jumlah derajat kebebasan yang digunakan 2 pada taraf 0,05 sebesar 5,991


(62)

3.6. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti dalam penelitian ini diberi batasan dan indikator pengukuran sebagai berikut:

1. Desa adalah suatu kesatuan masyarkat hukum yang memilliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di bawah Kabupaten.

2. Alokasi Dana Desa (ADD) APBD Serdang Bedagai merupakan bagian Keuangan Desa dalam meningkatkan Penyelenggaraan Pemerintah Desa dalam memberikan Pelayanan dan meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. (Rupiah) 3. Pembangunan desa adalah suatu proses yang membawa peningkatan

kemampuan masyarakat desa ke arah yang lebih baik yang harus dilakukan dan dibina secara terus menerus , sistematis dan terarah, yang diukur dengan perubahan pendapatan per kapita masyarakat.

4. Tingkat pendapatan rumah tangga yaitu pendapatan rata – rata masing – masing rumah tangga. (Rupiah).

5. Perbedaan tanggapan antara Pemimpin Desa dan Masyarakat Desa tentang Manfaat Penggunaan Alokasi Dana Desa APBD Serdang Bedagai terhadap Pengembangan Desa di Kecamatan Sei Rampah. Dalam permasalahan ini ada empat indikator pada masing- masing pertanyaan yang dipertanyakan kepada responden. Dikatakan penggunaan ADD itu sangat bermanfaat jika memenuhi


(63)

tiga sampai empat indikator, dikatakan sedikit bermanfaat jika memenuhi dua indikator, dan dikatakan tidak bermanfaat jika hanya memenuhi satu indikator.


(64)

BAB IV

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Kecamatan Sei rampah

4.1.1. Kecamatan Sei Rampah Secara Geografis

Kecamatan Sei Rampah memiliki luas wilayah 291.610 ha yang dibagi kedalam 27 Desa dan 185 Dusun. Namun sejak keluarnya Peraturan Daerah Kabupaten Serdang Bedagai Nomor: 10 Tahun 2006 Tentang Pembentukan Kecamatan Pegajahan, Kecamatan Sei Bamban, Kecamatan Tebing Syahbandar dan Kecamatan Bintang Bayu tanggal 17 Oktober 2006, maka Kecamatan Sei Rampah dimekarkan menjadi 2 Kecamatan, yaitu :

a. Kecamatan Sei Rampah (Kecamatan Induk) dengan jumlah desa sebanyak 17 Desa, Dusun sebanyak 104, RT sebanyak 323 dan 160 RW.

b. Kecamatan Sei Bamban (Kecamatan Pemekaran) dengan jumlah desa sebanyak 10 Desa, Dusun sebanyak 78, RT sebanyak 234 dan 102 RW.

Untuk selanjutnya akan dipaparkan data dan kegiatan berdasarkan 17 Desa di Kecamatan Sei Rampah, setelah keluarnya Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2006 tentang Pembentukan Kecamatan Pegajahan, Kecamatan Sei Bamban, Kecamatan Tebing Syahbandar dan Kecamatan Bintang Bayu tersebut diatas.


(65)

Luas Kecamatan Sei Rampah adalah 21.890 ha, dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Teluk Mengkudu, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sei Bamban, Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Dolok Masihul dan Kecamatan Pegajahan, Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Beringin. Kecamatan Sei Rampah adalah salah satu dari 17 Kecamatan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai Propinsi Sumatera Utara, wilayah Kecamatan Sei Rampah berada pada ketinggian + 13 m diatas permukaan air laut. Kecamatan Sei Rampah merupakan Ibu kota dari Kabupaten Serdang Bedagai, sehingga letak Ibukota Kecamatan Sei Rampah dengan letak Ibukota Kabupaten Serdang Bedagai adalah bersamaan.

Kecamatan Sei Rampah beriklim tropis dengan suhu maksimum 32 0C dan terdiri dari dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau, kedua musim ini sangat dipengaruhi oleh dua arah angin yang terdiri dari angin laut yang membawa hujan dan angin darat dari pegunungan yang membawa udara panas dan lembab. Curah hujan yang menonjol di Kecamatan Sei Rampah pada umumnya sama seperti daerah di daerah lain yaitu pada bulan September sampai dengan Desember.

Sebagian besar wilayah Kecamatan Sei Rampah adalah perkebunan dengan berbagai jenis tanaman seperti kelapa sawit, karet, coklat dan kelapa. Adapun peruntukan lahan di Kecamatan Sei Rampah adalah sebagai berikut :


(66)

Tabel 4.1. Peruntukan Lahan di Kecamatan Sei Rampah

No. Jenis Lahan Jumlah Lahan

1. Areal pemukiman 1.758 ha

2. Persawahan 3.594 ha

3. Rawa-rawa 725 ha

4. Kolam 25, 634 ha

5. Lahan keras 1.802 ha

6. Perkebunan negara 2.344 ha

7. Perkebunan swasta 9.035 ha

8. Perkebunan rakyat 1.464 ha

Sumber: BPS Kab. Serdang bedagai Tahun 2009 4.1.2. Kecamatan Sei Rampah Secara Demografis 4.1.2.1. Keadaan penduduk

Penduduk Kecamatan Sei Rampah dari tahun ketahun senantiasa bertambah, pertambahan penduduk selain disebabkan oleh kelahiran juga karena adanya penduduk pindah datang yang mencari lapangan kerja di Kecamatan Sei Rampah. Sampai dengan Tahun 2008 jumlah penduduk Kecamatan Sei Rampah adalah 65.747 jiwa terdiri dari laki-laki 33.034 jiwa dan perempuan 32.713 jiwa terbagi kedalam 15.654 Kepala Keluarga (KK). Untuk lebih jelasnya tentang keadaan penduduk Kecamatan Sei Rampah dikemukakan pada Tabel 4.2 dibawah ini :


(67)

Tabel 4.2. Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008

No. Desa Jumlah Rumah Tangga Jumlah

Penduduk 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Rambung Sialang Tengah Rambung Sialang Hulu Rambung Sialang Hilir Rambung Estate Pergulaan Sinah Kasih Sei Parit Sei Rampah Sei Rejo Tanah Raja Simpang Empat Cempedak Lobang Silau Rakyat Pematang Ganjang Pematang Pelintahan Firdaus Firdaus Estate 1.042 2.293 1.620 201 905 2.803 881 447 99 62 754 549 119 222 2.485 467 422 4.619 9.717 7.045 848 3.879 12.169 3.733 1.977 420 237 3.335 2.376 493 994 10.153 1.933 1.818

Jumlah 15.372 65.747

Sumber : BPS Serdang Bedagai

Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa Kecamatan Sei Rampah terdiri dari 17 desa, dengan jumlah penduduk 65.747 jiwa dan 15.372 rumah tangga. Jumlah penduduk terbesar terdapat di Desa Sinah Kasih yaitu sebesar 12.169 jiwa, kemudian Desa Pematang Pelintahan memiliki jumlah penduduk sebesar 10.153 jiwa, Desa Sei Sampah memiliki jumlah penduduk sebesar 1.977 jiwa, Desa Sei Rejo memiliki jumlah penduduk sebesar 420 jiwa, Desa Sei Parit memiliki jumlah penduduk sebesar 3.733 jiwa, dan jumlah penduduk terkecil berada di Desa Tanah Raja sebesar 237 jiwa. Selanjutnya dapat dilihat jumlah penduduk menurut jenis kelamin pada Tabel 4.3. sebagai berikut


(68)

Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008

No Desa Laki-laki Perempuan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Rambung Sialang Tengah Rambung Sialang Hulu Rambung Sialang Hilir Rambung Estate Pergulaan Sinah Kasih Sei Parit Sei Rampah Sei Rejo Tanah Raja Simpang Empat Cempedak Lobang Silau Rakyat Pematang Ganjang Pematang Pelintahan Firdaus Firdaus Estate 2.289 4.845 3.529 418 1.914 6.073 1.907 986 208 121 1.728 1.206 266 466 5.056 999 925 2.230 4.873 3.516 430 1.966 6.096 1.827 991 212 116 1.606 1.170 227 528 5.098 934 893

Jumlah 33.034 32.713

Sumber : BPS Serdang Bedagai

Tabel 4.3 di atas menunjukkan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin laki-laki dan perempuan terdapat pada Desa Pematang Pelintahan sebanyak 5.056 jiwa, kemudian di ikuti oleh Desa Rambung Sialang Hulu untuk jenis Kelamin laki-laki sebanyak 4.845 jiwa dan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 4.873. Sedangkan untuk Desa Sei Parit jumlah Penduduk laki-laki sebesar 1.907 jiwa dan untuk penduduk perempuan sebesar 1.827 jiwa, untuk desa Sei Rampah jumlah penduduk laki-laki sebanyak 986 jiwa dan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 991 jiwa, dana untuk Desa Sei Rejo jumlah penduduk laki-laki sebanyak 208 jiwa dan untuk penduduk jenis kelamin perempuan sebanyak 212 jiwa.


(69)

1. Penduduk menurut mata pencaharian

Mata pencarian penduduk Kecamatan Sei Rampah beraneka ragam, namun sebagian besar penduduknya bergantung pada bidang pertanian, karena masyarakat Sei Rampah adalah masyarakat agraris. Penduduk Kecamatan Sei Rampah yang bekerja sebanyak 12.893 orang dengan mata pencaharian sebagai petani adalah sebanyak, 5.384 orang (41,75%), pedagang sebanyak 2.531 orang (19,6%), pegawai swasta sebanyak 3.218 orang (24,9%), jasa sebanyak 841 orang (6,52%), nelayan sebanyak 121 orang (0,93%), PNS sebanyak 727 orang (5,63%), dan TNI/POLRI sebanyak 71 orang (0,55%). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.4 sebagai berikut :

Tabel 4.4: Jumlah Penduduk Kecamatan Sei Rampah Menurut Mata Pencaharian Tahun 2008

Jumlah

No Pekerjaan Jiwa %

1 Pegawai Negeri Sipil 727 5,63

2 TNI/POLRI 71 0,55

3 Petani 5.384 41,75

4 Pedagang 2.531 19,6

5 Jasa 841 6,52

6 Pegawai Swasta 3.218 24,9

7 Nelayan 121 0,93

Jumlah 12.893 100

Sumber : Kantor Kecamatan Sei Rampah


(70)

Sebagian besar tingkat pendidikan Kepala Keluarga di Kecamatan Sei Rampah adalah tingkat pendidikan SLTP dan SD. Adapun tingkat pendidikan di Kecamatan Sei Rampah selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4.5 sebagai berikut :

Tabel 4.5. Banyak Rumah Tangga Menurut Status Pendidikan di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008

No Desa Tidak

Tamat SD Tamat SD-SLTP Tamat SLTA Tamat AK/D1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Rambung Sialang Tengah Rambung Sialang Hulu Rambung Sialang Hilir Rambung Estate Pergulaan Sinah Kasih Sei Parit Sei Rampah Sei Rejo Tanah Raja Simpang Empat Cempedak Lobang Silau Rakyat Pematang Ganjang Pematang Pelintahan Firdaus Firdaus Estate 4 - 7 1 202 2 21 117 190 24 703 173 578 108 138 129 - 241 72 48 88 631 327 62 1.502 615 279 1.354 379 642 576 358 1.544 37 125 55 22 39 271 121 49 510 113 109 393 373 252 68 77 603 22 6 3 3 1 11 6 5 79 18 13 35 28 15 7 10 40 -

Jumlah 2.397 8.755 3.202 280

Sumber : BPS Kabupaten Serdang Bedagai

4.2. Sarana dan Prasarana

Dalam menunjang proses percepatan pembangunan di Kecamatan Sei Rampah untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur maka diperlukan beberapa sarana prasarana, dengan perincian sebagai berikut :


(71)

Salah satu amanat yang diemban Pemerintah menurut UUD Tahun 1945 adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sejauh mana amanat ini dilaksanakan tercermin antara lain dari profil pendidikan penduduknya. Pada Tahun 2008 Kecamatan Sei Rampah mendapatkan bantuan rehabilitasi gedung dan mobiler untuk SD/MI dan SMP dari dana APBD dan P.APBD Kabupaten Serdang Bedagai adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6. Sekolah yang Mendapat Bantuan Rehabilitasi di Kecamatan Sei Rampah Tahun 2008

Jumlah Ruang Rusak

No. Nama Sekolah Desa

Ringan Berat

Sumber Dana

Ket .

1. SDN 106854 Sei Telang 2 - APBD

2. SDN 105418 Sinah Kasih 2 - APBD

3. SDN 106214 Sei Parit 2 - APBD

4. SDN Al- Washiyah 45 2 - APBD

5. SDN Al- Washiyah 44 2 - APBD

6. SDN Al- Washiyah 48 2 - APBD

7. SD pesantren Al- Washiyah 2 - APBD

8. SD Ad-Dakwah 2 - APBD

9. SDN 106209 Suka Ramai Simpang Empat

2 - P.APBD

10. SDN 105409 Silau Rakyat - 2 P.APBD

11. SDN 105417 Tanah Raja 2 - P.APBD

12. SDS Muhammadiyah Sei Rampah 2 - P.APBD

13. SDS Al-Washliyah Pem. Pelintahan

2 - P.APBD

Sumber : Kantor Kecamatan Sei Rampah

Untuk selanjutnya dapat dilihat sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Sei Rampah seperti yang terlihat pada Tabel 4.7 dibawah ini:


(1)

1) E11= 2) E12 3) = = 46,16 4) E22=

5) E31= 6) = = 3,48

= + + + + +

= 13,487

Lampiran 8. Perhitungan Chi-Square Bagi Usaha Ekonomi Desa

Manfaat Warga Desa

(Orang)

Pimpinan Desa (Orang)

Total

Tidak Bermanfaat 11 3 14

Sedikit Bermanfaat 25 4 29

Sangat Bermanfaat 45 5 50

Jumlah 81 12 93

E

ij

=

1) = = 12,19 2) = = 1,80

3) = = 25,25 4) = = 3,74

5) = = 43,54 6) = = 6,45

=


(2)

Lampiran 9. Perhitungan Chi-Square Bagi Sarana Kesehatan

Manfaat Warga Desa

(Orang)

Pimpinan Desa (Orang)

Total

Tidak Bermanfaat 18 2 20

Sedikit Bermanfaat 27 3 30

Sangat Bermanfaat 36 7 43

Jumlah 81 12 93

E

ij

=

1) = = 17,41 2) =

3) = 4) =

5) = 6) =

= = 0.938

Lampiran 10. Perhitungan Chi-Square Bagi Sarana Pendidikan

Manfaat Warga Desa

(Orang)

Pimpinan Desa (Orang)

Total

Tidak Bermanfaat 30 4 34

Sedikit Bermanfaat 40 6 46

Sangat Bermanfaat 11 2 13

Jumlah 81 12 93


(3)

1) E11= 2) E12 3) E21= 4) E22= 5) E31= 6) E32=

= + + + + + = 0,75

Lampiran 11. Perhitungan Chi-Square Bagi Pembinaan Pemuda

Manfaat Warga Desa

(Orang)

Pimpinan Desa (Orang)

Total

Tidak Bermanfaat 20 2 22

Sedikit Bermanfaat 25 4 29

Sangat Bermanfaat 36 6 42

Jumlah 81 12 93

E

ij

=

1) E11= 2) E12 3) E21= 4) E22= 5) E31= 6) E32=


(4)

Foto Pembangunan jalan desa di Kecamatan Sei Rampah

Foto Pembangunan drainase di Kecamatan Sei Rampah

Foto Pembangunan jalan di Kecamatan Sei Rampah


(5)

105

Foto Pembangunan Poskesdes di Kecamatan Sei Rampah


(6)

PETA KECAMATAN SEI RAMPAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

KETERANGAN

Kantorr Bupati Serdang Bedagai Kantor Camat Sei Rampah Kantor Kepala Desa

Batas Desa Sungai Jalan