KOORDINASI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DENGAN LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN (LPS) DAN BANK INDONESIA (BI) DALAM UPAYA PENANGANAN BANK BERMASALAH BERDASARKAN UNDANG-UNDANG RI NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN

Wana Sentosa

ABSTRAK

KOORDINASI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DENGAN
LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN (LPS) DAN BANK INDONESIA (BI)
DALAM UPAYA PENANGANAN BANK BERMASALAH
BERDASARKAN
UNDANG-UNDANG RI NOMOR 21 TAHUN 2011
TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN
Oleh:
WANA SENTOSA

Krisis perbankan pada tahun 1997 yang menyebabkan dilikuidasinya 16 bank
bermasalah mendorong perlunya fokus pengawasan di sektor jasa keuangan yang
terintegrasi. Fokus pengawasan tersebut ditandai dengan pembentukan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) yang diatur dalam Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun
2011 tentang OJK. Demi terjalinnya fungsi yang terintegrasi dalam penanganan
bank bermasalah diperlukan koordinasi dengan lembaga jasa keuangan lainnya
seperti Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI). Pokok
bahasan dalam penelitian ini mengenai fungsi, tugas, dan wewenang yang dimiliki
OJK, LPS, dan BI serta koordinasi kerjasama yang dilakukan OJK dengan LPS
dan BI dalam penanganan bank bermasalah.
Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif terapan dengan tipe penelitian
deskriptif. Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan yuridis
normatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari bahan
hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Pengumpulan
data yaitu melalui studi pustaka. Pengolahan data dilakukan dengan cara
pemeriksaan data, klasifikasi data, dan sistematisasi data. Selanjutnya, dianalisis
secara kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menerangkan bahwa OJK memiliki fungsi,
tugas, dan wewenang untuk mengatur dan mengawasi seluruh sistem jasa
keuangan. LPS memiliki fungsi, tugas, dan wewenang untuk menjamin simpanan
nasabah penyimpan dan turut aktif memelihara stabilitas sistem keuangan
nasional. Selanjutnya, fungsi, tugas, dan wewenang BI yaitu mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah dengan menggunakan berbagai instrumen
kebijakan BI. OJK menangani bank bermasalah perlu melakukan koordinasi
dengan lembaga jasa keuangan lain dan pemerintah. Sebelum melakukan

Wana Sentosa

koordinasi, OJK melakukan pemeriksaan terhadap tingkat kesehatan bank
berdasarkan standar kesehatan bank untuk menentukan bank dalam keadaan
bermasalah atau tidak. Kemudian jika ada indikasi bank bermasalah, OJK
bersama Menteri Keuangan, LPS, dan BI melakukan koordinasi salah satunya
mengenai penanganan bank bermasalah melalui Forum Koordinasi Stabilitas
Sistem Keuangan (FKSSK) sesuai dengan kewenangannya masing-masing.
Kata Kunci: OJK, LPS, BI, Bank Bermasalah

KOORDINASI OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) DENGAN LEMBAGA
PENJAMIN SIMPANAN (LPS) DAN BANK INDONESIA (BI) DALAM
UPAYA PENANGANAN BANK BERMASALAH BERDASARKAN UNDANGUNDANG RI NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA
KEUANGAN
( Skripsi )

Oleh
WANA SENTOSA
1012011291

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................ i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... iv
MOTO ..............................................................................................................v
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... vi
SANWACANA ............................................................................................. vii
DAFTAR ISI .................................................................................................. xi
I.

PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup ............................................ 7
C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 7
D. Kegunaan Penelitian ......................................................................... 8

II.

Tinjauan Pustaka .................................................................................. 9
A. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) .......................................................... 9
1. Pengertian Otoritas Jasa Keuangan ............................................. 9
2. Asas-Asas Otoritas Jasa Keuangan ............................................. 10
3. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan ............ 11
B. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ................................................ 13
1. Pengertian Lembaga Penjamin Simpanan .................................. 13
2. Fungsi dan Wewenang Lembaga Penjamin Simpanan ............... 14
C. Tinjauan Umum Bank Indonesia (BI) ............................................... 16
1. Status dan Kedudukan Bank Indonesia ....................................... 16
2. Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia .................................. 17

D. Tinjauan Tentang Bank Bermasalah ................................................. 19
1. Pengertian Bank .......................................................................... 19
2. Pengertian Bank Bermasalah ...................................................... 20
E. Koordinasi para Pihak dalam Penanganan Bank Bermasalah .......... 23
F. Kerangka Pikir .................................................................................. 26
III.

Metode Penelitian ............................................................................... 28
A. Jenis Penelitian ............................................................................... 28
B. Tipe Penelitian ............................................................................... 29
C. Pendekatan Masalah ....................................................................... 29
D. Sumber Data dan Jenis Data .......................................................... 30
E. Metode Pengumpulan Data ............................................................ 31
F. Metode Pengolahan Data ............................................................... 31
G. Analisis Data .................................................................................. 32

IV.

Hasil Penelitian dan Pembahasan .................................................... 33
A. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan (OJK),
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI)
dalam Sistem Perbankan di Indonesia ........................................... 33
1. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) dalam Sistem Perbankan di Indonesia........................... `33
2. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS) dalam Sistem Perbankan di Indonesia .......... 38
3. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Bank Indonesia
(BI) dalam Sistem Perbankan di Indonesia .............................. `42
B. Koordinasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS), dan Bank Indonesia (BI) dalam Upaya
Penanganan Bank Bermasalah ....................................................... 45
1. Tahap Penetapan Status Bank Bermasalah .............................. 46
2. Tahap Koordinasi Penanganan Bank Bermasalah oleh
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI) ............... 58

V.

Penutup ............................................................................................... 66
A. Kesimpulan .................................................................................... 66
B. Saran ............................................................................................... 67

DAFTAR PUSTAKA

MOTO

“Ketidakmungkinan sesungguhnya adalah hal yang belum kita pelajari”
(Charles W. Chesnut)

“All is Well”
(Ajahn Bram)

“Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras
adalah kemenangan besar”
(Mahatma Gandhi)

PERSEMBAHAN

Skrispsi ini aku persembahkan untuk:

Kedua orang tuaku terkasih, yang selalu mencintai, menyayangi,
mendoakan dan mendidikku:
Hindarwan Sulaiman
dan
Bong Nyam Mi

Terima kasih atas kasih, cinta, dan pengorbanan bagiku, sehingga aku
dapat menyelesaikan kuliah ini, untuk menjadi apa yang kalian
harapkan nantinya.. Semoga Tuhan selalu menyertai kita..

RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap penulis adalah Wana Sentosa, penulis dilahirkan
pada tanggal 13 Juli 1992 di Kota Bandar Lampung. Penulis
adalah anak ke-tiga dari empat bersaudara, dari pasangan
Hindarwan Sulaiman dan Bong Nyam Mi.
Pendidikan yang telah diselesaikan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1.

Taman Kanak-Kanak di TK Xaverius I Bandar Lampng, lulus pada tahun 1998.

2.

Sekolah Dasar di SD Xaverius I Bandar Lampung, lulus pada tahun 2004.

3.

Sekolah Menengah Pertama di SMP Xaverius I Bandar Lampung, lulus pada
tahun 2007.

4.

Sekolah Menengah Atas di PKMI SMA Immanuel Bandar Lampung pada tahun
2010.

Penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung melalui
jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada tahun 2010.
Selama kuliah, penulis aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Buddha Dhamma Dipa
Unila dan Himpunan Mahasiswa Perdata. Di UKM Buddha Dhamma Dipa Unila
penulis pernah menjabat sebagai koordinator kreativitas dan Ketua Umum periode
2012/2013. Di Hima Perdata penulis pernah menjabat sebagai Sekbid Olahraga.

SANWACANA

Nammo Buddhaya, Salam sejahtera dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena atas berkat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi yang berjudul “Koordinasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI) dalam
Upaya Penanganan Bank Bermasalah Berdasarkan Undang-Undang RI
Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan” sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas
Lampung dengan tepat waktu.
Penyelesaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, partisipasi secara langsung
maupun tidak langsung dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung.

2.

Bapak Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.Hum., Ketua Bagian Hukum
Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah banyak
membantu penulis di dalam menempuh pendidikan sarjana di Fakultas
Hukum Universitas Lampung.

3.

Ibu Aprilianti, S.H., M.H., Sekretaris Bagian Hukum Keperdataan Fakultas
Hukum Universitas Lampung yang telah membantu penulis di dalam
menempuh pendidikan sarjana.

4.

Ibu Ratna Syamsiar, S.H., M.H., Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan banyak waktu, ilmu, pemikiran, dan tenaga kepada penulis, serta
memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi.

5.

Ibu Dianne Eka Rusmawati, S.H., M.Hum., Dosen Pembimbing II yang telah
bersedia

untuk

meluangkan

waktunya,

memberikan

perhatian

serta

mencurahkan segenap pemikirannya untuk membimbing penulis dengan
penuh kesabaran dalam menyelesaikan skripsi ini.
6.

Ibu Yennie Agustin MR S.H., M.H., Dosen Pembahas I yang telah
memberikan kritik, saran, motivasi, dan masukan yang sangat membangun
terhadap skripsi ini.

7.

Bapak Dita Febrianto, S.H., M.H., Dosen Pembahas II yang telah
memberikan kritik, saran, motivasi, dan masukan yang sangat membangun
terhadap penulisan dalam skripsi ini.

8.

Ibu Siti Nurhasanah, S.H., M.H., Pembimbing Akademik, yang telah
memberikan bimbingan, motivasi, serta arahan bagi penulis selama menjadi
mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Lampung.

9.

Seluruh Dosen serta karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang
tidak bisa disebutkan satu persatu namanya, terima kasih atas bantuan tenaga,
ilmu dan pemikiran yang telah diberikan dengan penuh dedikasi.

10. Kakak dan Adik tercinta Tatang Yuniardi, S.E., Yunandar, S.E., dan Liana
Dewi.
11. Keluarga besar penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah
banyak membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan pendidikan
sarjana ini baik secara moril maupun materiil.
12. Sahabat terbaik dan keluarga: Kelvin Antonius Tania, I Ketut Wisnu P, Tri
Arta Gemilang, Ardiansyah Adi P, Richard C, Handoko G yang sudah banyak
membantu penulis selama kuliah dan penyelesaian skripsi ini. Terima kasih
atas dukungan moril, tenaga, maupun materiil selama ini.
13. Teman-teman seperjuangan Hima Perdata ’10: Saut, Bismar, Abram, Rica,
Rama, Ricko, Yuri, Jonathan Adi, Bella, Harsa, Itqoh, Dimas, Zulkifli,
Topan, Dendri, JT, Rio, Obau serta teman-teman perdata lainnya yang tidak
dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas kenangan yang tak
terlupakan selama kuliah.
14. Teman-teman seangkatan selama kuliah di Fakultas Hukum: Aldi Jamet,
Fadil, Denni, Bryan, Andika, Rizal, dan teman-teman lainnya yang tidak
dapat disebutkan penulis satu persatu. Sukses selalu untuk kita.
15. Teman-teman KKN: Alpiyan, Adatua, Flesi, Gerry, Mia, Hani, Aplita, Rizny,
Bella dan keluarga di Desa Labuhan Ratu, Lampung timur yang telah
membantu dalam penyelesaian studi penulis.
16. Teman-teman UKM Buddha Dhamma Dipa Unila yang tidak dapat
disebutkan satu persatu terimakasih atas segala ilmu, waktu, tenaga, dan
pikiran selama dalam organisasi.

17. Ayuni Phang Marsoelim beserta keluarga yang telah banyak memberikan
saran dan motivasi berharga kepada penulis selama ini.
18. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian skripsi ini, terimakasih atas semua bantuan dan
dukungannya.
Semoga Tuhan selalu menyertai kita di dalam hidup kita. Akhir kata, penulis
menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan masih jauh
dari kesempurnaan, akan tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi yang membacanya.
Bandar Lampung, Desember 2014
Penulis,

Wana Sentosa

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu penunjang perekonomian di Indonesia adalah lembaga perbankan
(bank)

yang

memiliki

peran

besar

dalam

menjalankan

kebijaksanaan

perekonomian. Untuk mencapai tujuan penunjangan perekonomian tersebut
diperlukan aturan hukum yang menunjang kegiatan lembaga perbankan (bank).
Bank merupakan salah satu lembaga kepercayaan yang berfungsi sebagai lembaga
intermediasi, membantu kelancaran sistem pembayaran, dan sebagai lembaga
yang menjadi sarana dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah yaitu kebijakan
moneter. Karena fungsi-fungsinya tersebut, maka keberadaan bank yang sehat,
baik secara individu maupun secara keseluruhan sebagai suatu sistem, merupakan
prasyarat bagi perekonomian yang sehat. Untuk menciptakan perbankan yang
sehat antara lain diperlukan pengaturan dan pengawasan bank yang efektif. Selain
itu, adanya kepastian hukum dalam sistem perbankan akan menimbulkan suatu
rasa kepercayaan masyarakat terhadap bank.
Krisis perbankan pada tahun 1997 yang menyebabkan 16 bank dinilai oleh
otoritas perbankan tidak mungkin lagi dipertahankan eksistensinya, sehingga
dicabut izin usahanya. Sebagai tindak lanjut dari pencabutan izin usaha bank,

2

dilakukan pembubaran badan hukum bank tersebut melalui proses likuidasi bank.
Likuidasi bank terhadap 16 bank bermasalah tersebut, pada saat itu ternyata
menimbulkan domino effect antara lain didahului dengan adanya rush disektor
perbankan sehingga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional
menjadi semakin terpuruk.
Suatu bank dapat dikatakan bermasalah apabila bank mengalami kesulitan yang
dapat membahayakan kelangsungan usahanya, misalnya saja kondisi usaha bank
yang semakin memburuk ditandai dengan menurunnya permodalan, kualitas aset,
likuiditas, dan lainnya. Bank dapat dikatakan bermasalah ketika kurangnya
penerapan prinsip kehati-hatian bank dan pelaksanaan bank yang sehat dalam
industri perbankan.
Ketika industri perbankan dalam kondisi yang stabil dan baik, tentunya akan
memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian suatu negara, namun jika
yang terjadi adalah sebaliknya tentunya akan memberikan pengaruh negatif
terhadap perekonomian suatu negara bahkan meluas kepada sektor lainnya.
Kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan merupakan salah satu kunci
untuk memelihara stabilitas industri perbankan.
Kepercayaan ini dapat diperoleh dengan adanya kepastian hukum dalam
pengaturan dan pengawasan bank serta penjaminan simpanan nasabah bank untuk
meningkatkan kelangsungan usaha bank secara sehat. Kelangsungan usaha bank
secara sehat dapat menjamin keamanan simpanan para nasabahnya serta
meningkatkan peran bank sebagai penyedia dana pembangunan dan pelayan jasa
perbankan.

3

Usaha pemerintah dalam meningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan nasional dengan memberikan jaminan atas seluruh kewajiban
pembayaran bank, termasuk simpanan masyarakat. Pemberian jaminan tersebut
ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan
Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum dan Keputusan Presiden Nomor
193 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank
Perkreditan Rakyat. Untuk mengembalikan kepercayaan publik dan memulihkan
kestabilan sistem perbankan, pemerintah mengeluarkan kebijakan memberikan
jaminan penuh atas semua kewajiban pembayaran bank (blanket guarantee).1
Namun kebijakan itu ternyata dapat memicu moral hazard dan rendahnya disiplin
pasar.
Pada tanggal 22 September 2004, Presiden mengesahkan pelaksanaan UndangUndang RI Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (yang
selanjutnya disebut UU LPS) sebagai upaya untuk lebih menguatkan kondisi
moneter pada saat itu.2 Lembaga Penjamin Simpanan (yang selanjutnya disebut
LPS) merupakan suatu lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan
nasabah di Indonesia. Salah satu isi dari Undang-Undang tersebut yaitu ketentuan
tentang penjaminan simpanan nasabah seperti pada Pasal 10 yang menjelaskan
simpanan nasabah yang berbentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan,
dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu dijamin oleh LPS.3

1

Sentosa Sembiring, Hukum Perbankan Edisi Revisi, Bandung, Mandar Maju, 2012, Hal.

239.
2

http://www1.lps.go.id/in/web/guest/sejarah diakses pada tanggal 28 Juli 2014
Pasal 10 Undang-undang RI Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin
Simpanan (LPS)
3

4

Lahirnya UU LPS menandai babak baru sistem perbankan nasional. Keberadaan
LPS ini tidak bisa dilepaskan dari upaya peningkatan stabilitas sektor keuangan
dengan bekerjasama dengan lembaga-lembaga negara dan pemerintahan yang lain
dalam rangka menciptakan jaring pengamanan sistem keuangan yang terpadu.
Eksistensi dari LPS yang utama adalah menciptakan kepercayaan masyarakat
kepada institusi perbankan dan turut aktif dalam menjaga stabilitas sistem
keuangan.
Tidak hanya LPS yang berperan aktif dalam menjaga stabilitas sistem keuangan.
Dalam Pasal 34 ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2004 tentang
Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia (yang selanjutnya disebut UU BI) menyebutkan bahwa tugas
mengawasi bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan
yang independen, dan dibentuk dengan undang-undang. Pasal tersebut
menekankan lembaga pengawasan untuk bertindak sebagai dewan pengawas
(supervisory board) dan dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan
pelaksanaan tugas pengawasan bank dan berkoordinasi dengan Bank Indonesia
(yang selanjutnya disebut BI).
Pembentukan lembaga pengawasan, akan dilaksanakan selambat-lambatnya 31
Desember 2010. Lembaga pengawas yang dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) UU
BI adalah Otoritas Jasa Keuangan (yang selanjutnya disebut OJK). Proses
pendirian OJK masih belum terealisasi pada tahun 2010. Tetapi akhirnya pada
tanggal 22 November 2011 disahkanlah Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun
2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (yang selanjutnya disebut UU OJK). OJK

5

melakukan pengawasan di sektor jasa keuangan menggantikan fungsi pengawasan
Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal (Bepepam) dan Lembaga
Keuangan (LK) agar menjadi terintegrasi dan komprehensif.4
OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain
yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan,
pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam UU OJK. Latar
belakang pembentukan OJK dikarenakan perlunya suatu lembaga pengawasan
yang mampu berfungsi sebagai pengawas yang mempunyai otoritas terhadap
seluruh lembaga keuangan, di mana lembaga pengawas tersebut bertanggung
jawab terhadap kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank maupun lembaga
keuangan non bank, sehingga tidak ada lagi lempar tanggungjawab terhadap
pengawasannya. Selain itu, kegiatan usaha yang dilakukan berakibat semakin
besarnya pengaturan pengawasannya. Perlu adanya suatu alternatif untuk
menjadikan pengaturan dan pengawasan maupun lembaga keuangan lainnya
dalam satu atap.
Hal ini mengingat tujuan dari pengaturan dan pengawasan perbankan adalah
menciptakan sistem perbankan yang sehat, yang memenuhi tiga aspek, yaitu
perbankan yang dapat memelihara kepentingan masyarakat dengan baik,
berkembang secara wajar, dalam arti di satu pihak memerhatikan faktor risiko
seperti kemampuan, baik dari sistem, finansial, maupun sumber daya manusia.5

4

Wiwin Sri Haryani, Independensi Otoritas Jasa Keuangan dalam Perspektif UndangUndang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Jurnal Legislasi Indonesia. Vol.9
No.3 Oktober 2012. hal. 45-46.
5
Hermansyah, Edisi Revisi Hukum Perbankan Nasional Indonesia. Kencana, Jakarta.
2011, hal. 175-176.

6

Dengan diundangkannya UU OJK, maka situasi perbankan di Indonesia
memasuki babak baru. Babak baru perbankan di Indonesia yaitu pengaturan dan
pengawasan di dalam sektor perbankan tidak lagi berada pada BI namun dialihkan
kepada OJK sebagai lembaga yang independen dengan fungsi, tugas, dan
wewenang untuk melakukan pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan
penyidikan terhadap sektor jasa keuangan di Indonesia.6
Untuk melaksanakan tugasnya, OJK berkoordinasi dengan BI dalam membuat
peraturan pengawasan di bidang perbankan. Dengan diundangkannya UU OJK
bukan berarti hilangnya fungsi, tugas, dan kewenangan dari BI, namun yang ada
adalah adanya pembagian tugas pengawasan perbankan di Indonesia. OJK yang
dalam melaksanakan tugas, fungsi, dan wewenangnya perlu berkoordinasi dengan
lembaga-lembaga independen lainnya merupakan sesuatu hal yang cukup menarik
untuk dilakukan penelitian lebih jauh, karena OJK merupakan organisasi yang
masih baru. Kondisi dan permasalahan yang ada pada saat ini adalah belum
maksimalnya konsep-konsep pemikiran secara yuridis maupun institusional dari
masing-masing institusi yang bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas sistem
keuangan dan lembaga perbankan, sehingga diperlukan koordinasi yang efektif
dan komprehensif.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis merasa tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Koordinasi Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Bank Indonesia (BI)

6

(OJK)

Pasal 1 Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2011 tentan Otoritas Jasa Keuangan

7

dalam Upaya Penanganan Bank Bermasalah berdasarkan Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan”
B. Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang di atas, maka selanjutnya
dikemukakanlah beberapa permasalahan yang muncul, yaitu:
a. Bagaimanakah fungsi, tugas dan wewenang OJK, LPS dan BI dalam sistem
perbankan di Indonesia?
b. Bagaimanakah koordinasi kerjasama OJK dengan LPS, dan BI dalam upaya
penanganan bank bermasalah?
2. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah mengenai tugas, fungsi, dan wewenang
OJK, LPS, dan BI dalam sistem perbankan di Indonesia. Lalu mengenai
koordinasi kerjasama yang dilakukan oleh OJK, LPS dan BI dalam upaya
penanganan bank bermasalah di Indonesia. Adapun lingkup keilmuan dalam
penelitian ini adalah hukum keperdataan (ekonomi), khususnya hukum perbankan.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yaitu:
a. Memperoleh deskripsi lengkap, rinci dan sistematis mengenai tugas, fungsi dan
wewenang OJK, LPS dan BI dalam sistem perbankan di Indonesia;

8

b. Memperoleh deskripsi lengkap, rinci dan sistematis mengenai koordinasi
kerjasama yang dilakukan oleh OJK, LPS dan BI dalam upaya penanganan
bank bermasalah di Indonesia.
D. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini mencakup kegunaan teoritis dan praktis, sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai dasar pemikiran dalam upaya
pengembangan keilmuan dengan disiplin ilmu khususnya ilmu dibidang
hukum ekonomi yang berkenaan dengan hukum perbankan, juga sekaligus
memperluas pengetahuan bagi pihak yang membutuhkan.

2. Kegunaan Praktis
Secara praktis kegunaan penelitian ini adalah:
a.

Sebagai upaya pengembangan kemampuan dan pengetahuan hukum bagi
peneliti khususnya mengenai tugas, fungsi dan wewenang OJK, LPS dan juga
mengenai koordinasi kerjasama yang dilakukan oleh OJK, LPS dan BI dalam
upaya penanganan bank bermasalah di Indonesia;

b.

Sebagai bahan informasi maupun literatur bagi pihak yang memerlukan,
khususnya mahasiswa Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum
Universitas Lampung;

c.

Sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana di Fakultas Hukum
Universitas Lampung.

9

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
1. Pengertian Otoritas Jasa Keuangan

Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga yang didirikan berdasarkan UndangUndang RI Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (UU OJK).
Lembaga ini didirikan untuk melakukan pengawasan atas industri jasa keuangan
secara terpadu. Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 UU OJK, dirumuskan bahwa
OJK adalah lembaga yang mempunyai independen dan bebas dari campur tangan
pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan,
pengawasan, pemeriksaaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang ini.

OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa
keuangan dapat terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel,
mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan
stabil, dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, yang
diwujudkan melalui adanya sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan.

10

OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa
keuangan di sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga
pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya, antara lain melakukan
pengawasan, pemeriksaan, penyidikan, perlindungan konsumen, dan tindakan lain
terhadap lembaga jasa keuangan, pelaku, dan/atau penunjang kegiatan jasa
keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sektor
jasa keuangan, termasuk kewenangan perizinan kepada Lembaga Jasa Keuangan.1

2. Asas-Asas Otoritas Jasa Keuangan

OJK dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya harus berlandaskan pada asasasas sebagai berikut:

a. Asas independensi, yakni independen dalam pengambilan keputusan dan
pelaksanaan fungsi, tugas, dan wewenang OJK, dengan tetap sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Asas kepastian hukum, yakni asas dalam negara hukum yang meletakkan
hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan dan keadilan dalam
setiap kebijakan penyelenggaraan OJK;
c.

Asas kepentingan umum, yakni asas yang membela dan melindungi
kepentingan konsumen dan masyarakat serta memajukan kesejahteraan
umum;

d.

Asas keterbukaan, yakni asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat
untuk memperoleh informasi yang benar, jujur,dan tidak diskriminatif tentang

1

Zaidatul amina, Kajian Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan Di Indonesia: Melihat
Dari: Pengalaman Di Negara Lain, Universitas Negeri Surabaya, 2012, hal. 8.

11

penyelenggaraan OJK, dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak
asasi pribadi dan golongan, serta rahasia negara, termasuk rahasia
sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
e.

Asas profesionalitas, yakni asas yang mengutamakan keahlian dalam
pelaksanaan tugas dan wewenang OJK, dengan tetap berlandaskan pasa kode
etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

f.

Asas integritas, yakni asas yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral dalam
setiap tindakan dan keputusan yang diambil dalam penyelenggaraan OJK;

g.

Asas akuntabilitas, yakni asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan
hasil

akhir

dari

kegiatan

penyelenggaraan

OJK

harus

dapat

dipertanggungjawabkan kepada publik.2

3. Fungsi, Tugas, dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan

Fungsi OJK ditentukan dalam Pasal 5 UU OJK, yang berbunyi bahwa OJK
berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi
terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK melaksanakan
tugas pengaturan dan pengawasan terhadap:

a. Kegiatan jasa keuangan di sektor perbankan;
b. Kegiatan jasa keuangan di sektor pasar modal; dan
c. Kegiatan jasa keuangan di sektor perasuransian, dana pensiun, lembaga
pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya.

2

Bagian Umum Penjelasan Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas
Jasa Keuangan.

12

Kewenangan OJK ditentukan dalam Pasal 7 UU OJK, yang berbunyi bahwa
dalam melaksanakan tugasnya, OJK memiliki wewenang sebagai berikut:
a. Pengaturan dan pengawasan mengenai kelembagaan bank yang meliputi :
(1) Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, anggaran dasar,
rencana kerja, kepemilikan, kepengurusan dan sumber daya manusia,
merger dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank; dan
(2) Kegiatan usaha bank, antara lain sumber dana, penyediaan dana, produk
hibridasi, dan aktivitas dibidang jasa;
b. Pengaturan dan pengawasan mengenai kesehatan bank yang meliputi :
(1) Likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, kualitas aset, rasio kecukupan modal
minimum, batas maksimum pemberian kredit, rasio pinjaman terhadap
simpanan, dan pencadangan bank;
(2) Laporan bank yang terkait dengan kesehatan dan kinerja bank;
(3) Sistem informasi debitur;
(4) Pengujian kredit (credit testing); dan
(5) Standar akuntansi bank;
c. Pengaturan dan pengawasan mengenai aspek kehati-hatian bank, meliputi :
(1) Manajemen risiko;
(2) Tata kelola bank;
(3) Prinsip mengenai nasabah dan anti pencucian uang;
(4) Pencegahan pembiayaan terorisme dan kejahatan perbankan; dan
d. Pemeriksaan bank.

13

B. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
1. Pengertian Lembaga Penjamin Simpanan
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah Lembaga yang independen,
transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dan
bertanggung jawab kepada Presiden. Sebagai lembaga yang menjamin simpanan
nasabah, LPS sangat berkepentingan terhadap tingkat kesehatan bank baik secara
individual maupun secara agregat. Untuk menjaga tingkat kesehatan bank secara
individual (micro prudential) maupun secara agregat (macro prudential)
diperlukan pengawasan perbankan yang efektif.
Keberadaan LPS dalam sistem perbankan di Indonesia ditegaskan di dalam
Pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 24 tentang Lembaga Penjamin Simpanan
(UU LPS). LPS bertanggungjawab kepada presiden dan dalam kegiatannya
merupakan lembaga independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan
tugas dan wewenangnya. Independensi LPS mengandung arti bahwa dalam
pelaksanaan tugas dan wewenangnya, LPS tidak bisa diintervensi oleh pihak
manapun termasuk pemerintah kecuali atas hal-hal yang dinyatakan secara jelas
dalam di dalam undang-undang LPS.3
Mengingat bahwa kebijakan penjaminan dapat berdampak pada sektor perbankan
dan fiskal, maka di dalam LPS terdapat wakil dari masing-masing otoritas yang
berwenang. Keberadaan para wakil otoritas tersebut dimaksud untuk bersamasama merumuskan kebijakan penjaminan yang dapat mendukung kebijakan pada
sektor-sektor tersebut. Namun pada pelaksanaan kebijakan tersebut merupakan
3

Pasal 2 ayat (3) Undang – Undang Nomor 24 Tahun 2004 Tentang LPS.

14

sepenuhnya tanggung jawab dan kewenangan LPS tanpa dapat dicampurtangani
oleh pihak manapun. Sebagai contoh dalam melaksanakan tugas penyelesaian
bank yang dicabut izin usahanya, khususnya dalam rangka penjualan/pengalihan
aset bank tersebut, LPS tidak dapat dipengaruhi oleh kepentingan pihak luar
termasuk pemerintah.4
2. Fungsi dan wewenang Lembaga Penjamin Simpanan
Fungsi LPS adalah menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam
memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya. Dalam hal
menjalankan fungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan, LPS mempunyai
tugas merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan
dan melaksanakan penjaminan simpanan tersebut. LPS dalam menjalankan
fungsinya untuk turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan
memiliki tugas yaitu:
a. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan dalam hal stabilitas
perbankan;
b. Merumuskan, menetapkan, dan melaksanakan kebijakan penyelesaian bank
gagal (bank resolution) yang tidak berdampak sistemik; dan
c. Melaksanakan penanganan bank gagal yang berdampak sistemik.5

4
5

O.P.Simorangkir, Seluk Beluk Bank Komersil, Jakarta, Perbanas, 1998.Hal 10.
Pasal 5 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang LPS.

15

Berdasarkan Pasal 6 UU LPS, dalam menjalankan tugasnya, LPS mempunyai
wewenang sebagai berikut:
a. Menetapkan dan memungut premi penjaminan;
b. Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali menjadi
peserta;
c. Melakukan pengolahan kekayaan dan kewajiban LPS;
d. Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan
bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar
kerahasiaan bank;
e. Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau konfirmasi atas data sebagaimana
dimaksud pada huruf d;
f. Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim;
g. Menunjuk, menguasakan, dan/atau menugaskan pihak lain untuk bertindak
bagi kepentingan dan/atau atas nama LPS, guna melaksanakan sebagian tugas
tertentu;
h. Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan
simpanan; dan
i. Menjatuhkan sanksi administratif.
Kemudian dalam rangka penanganan dan penyelesaian bank gagal, LPS
mempunyai wewenang sebagaimana diatur dalam Pasal 6 UU LPS, yaitu:
a. Mengambil alih dan menjalankan segala hak dan wewenang pemegang saham,
termasuk hak dan wewenang RUPS;
b. Menguasai dan mengelola aset dan kewajiban bank gagal yang diselamatkan;

16

c. Meninjau ulang, membatalkan, mengakhiri, dan/atau mengubah setiap kontrak
yang mengikat bank gagal yang diselamatkan dengan pihak ketiga yang
merugikan bank;
d. Menjual dan/atau mengalihkan aset bank tanpa persetujuan debitur dan/atau
kewajiban bank tanpa persetujuan kreditur.
C. Tinjauan Umum Bank Indonesia
1. Status dan Kedudukan Bank Indonesia
BI berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia (UU BI) berstatus bank sentral Republik Indonesia. BI adalah lembaga
negara yang independen, bebas dari campur tangan Pemerintah, dan/atau pihakpihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur dalam UU BI.
Sebagai suatu lembaga negara yang independen, BI mempunyai otonomi penuh
dalam merumuskan dan melaksanakan setiap tugas dan wewenangnya
sebagaimana ditentukan dalam UU BI.
Pihak luar tidak dibenarkan mencampuri pelaksanaan tugas BI, dan BI juga
berkewajiban untuk menolak atau mengabaikan intervensi dalam bentuk apapun
dari pihak manapun juga. Untuk lebih menjamin independensi tersebut, UU BI
memberikan kedudukan khusus kepada BI dalam struktur ketatanegaraan
Republik Indonesia. Sebagai Lembaga negara yang independen kedudukan BI
tidak sejajar dengan Lembaga Tinggi Negara. Kedudukan BI juga tidak sama
dengan Departemen, karena kedudukan BI berada di luar Pemerintah. Status dan

17

kedudukan yang khusus tersebut diperlukan agar BI dapat melaksanakan peran
dan fungsinya sebagai otoritas moneter secara lebih efektif dan efisien.6
Sebagai badan hukum status BI baik sebagai badan hukum publik maupun badan
hukum perdata ditetapkan dengan undang-undang. Sebagai badan hukum publik
BI berwenang menetapkan peraturan-peraturan hukum yang merupakan
pelaksanaan dari undang-undang yang mengikat seluruh masyarakat luas sesuai
dengan tugas dan wewenangnya. Sebagai badan hukum perdata, BI dapat
bertindak untuk dan atas nama sendiri di dalam maupun di luar pengadilan.7 BI
berfungsi menjaga kestabilan nilai mata uang rupiah dan juga sebagai sumber
pemberi pinjaman terakhir atau Lender of the Last Resort (LoLR) dalam rangka
menyelamatkan sistem keuangan.

2. Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia

Tujuan BI ditetapkan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Kestabilan nilai rupiah yang dimaksud adalah kestabilan nilai rupiah terhadap
barang dan jasa serta terhadap mata uang negara lain. Untuk tetap menjaga
kestabilan nilai mata uang rupiah, BI harus mempertimbangkan dan melakukan
koordinasi dengan pemerintah agar kebijakan yang ditempuh sejalan dan saling
mendukung dengan kebijakan fiskal dan ekonomi lainnya.8

6

Didik J. Rachbini dan Suwidi Tono, Bank Indonesia Menuju Independensi Bank
Sentral, PT. Mardi Mulyo, Jakarta, 2000, hal. 179-180.
7
Ibid, hal. 181.
8
Neni Sri Emaniyati, Pengantar Hukum Perbankan Indonesia, PT Refika Aditama,
Bandung, 2010, hal. 70.

18

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan UU BI, BI mempunyai tiga tugas
yaitu:

a. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
b. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran; dan
c. Mengatur dan mengawasi bank.

Dalam rangka melaksanakan dan menetapkan kebijakan moneter, BI berwenang
untuk:

a. Menetapkan sasaran moneter dengan memerhatikan sasaran laju inflasi;
b. Melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara-cara yang
termasuk tetapi tidak terbatas pada:
(1) Operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing;
(2) Penetapan tingkat diskonto;
(3) Penetapan cadangan wajib minimum;
(4) Pengaturan kredit atau pembiayaan.

Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, BI
berwenang untuk:

a. Melaksanakan dan memberi persetujuan dan izin atas penyelengaraan jasa
sistem perbankan;
b. Mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan
laporan tentang kegiatannya.

19

Dalam rangka mengatur dan mengawasi bank, tugas BI ini telah dialihkan kepada
OJK sesuai dengan diundangkannya UU OJK. Pelaksanaan tugas di atas
mempunyai keterkaitan dan karenanya harus dilakukan secara saling mendukung
guna tercapainya tujuan BI secara efektif dan efisien. Tugas menetapkan dan
melaksanakan kebijakan moneter dilakukan BI antara lain melalui pengendalian
jumlah uang yang beredar dan suku bunga. Efektivitas pelaksanaan tugas
memerlukan dukungan sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman, dan andal
yang merupakan sasaran dari pelaksanaan tugas mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran. Sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman, dan andal
memerlukan sistem pembayaran yang sehat yang merupakan sasaran tugas
mengatur dan mengawasi bank. Keterkaitan antara pelaksanaan ketiga tugas
secara saling mendukung tersebut, maka pencapaian tujuan BI akan berhasil
dengan baik.9
D. Tinjauan Tentang Bank Bermasalah
1. Pengertian Bank
Pengertian Bank menurut ketentuan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang RI Nomor
10 Tahun 1998 tentang Perbankan (UU Perbankan) adalah badan usaha yang
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam
rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank adalah lembaga perantara
dana (financial intermediary) dengan tugas pokok menghimpun dana masyarakat
dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kembali dalam bentuk kredit.10 Menurut
9

Ibid, hal. 71.
Ratna Syamsiar, Hukum Perbankan, Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2006,

10

hal. 15.

20

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Pengertian Bank adalah usaha dibidang
keuangan yang menarik dan mengeluarkan uang di masyarakat, terutama
memberikan kredit dan jasa di lalulintas pembayaran dan peredaran uang.11
Menurut O.P Simorangkir bank merupakan salah satu badan usaha lembaga
keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa. Ada pun pemberian
kredit itu dilakukan baik dengan modal sendiri atau dengan dana-dana yang
dipercayakan oleh pihak ketiga maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat
pembayaran baru berupa uang giral.12
Menurut Dictionary of Banking and Financial Services bank adalah suatu
lembaga yang mempunyai fungsi pokok antara lain:
a. Menerima simpanan giro, deposito dan membayar atas dasar dokumen yang
ditarik pada orang atau lembaga tertentu;
b. Mendiskonto surat berharga, memberi pinjaman, dan menanamkan dana
dalam bentuk surat berharga.13
2. Pengertian Bank Bermasalah
Suatu bank dikatakan bermasalah apabila bank tersebut tidak lagi mampu
memenuhi kewajibannya sebagai pihak ketiga, karena mengalami kerugian dan
akibatnya kepercayaan masyarakat terhadap bank tersebut menurun. Pada
dasarnya, suatu bank dianggap bermasalah ketika bank tersebut menghadapi
permasalahan dalam kegiatan operasionalnya secara terus menerus dan
memerlukan upaya khusus untuk mengatasinya. Sekali bank gagal dalam
11

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga , 2008, Pusat Bahasa Departemen
Pendidikan Nasional: Balai Pustaka
12
Sentosa Sembiring, Hukum Perbankan Edisi Revisi, Bandung: Mandar Maju, 2012, hal.
1.
13
Zulfi Diane Zaini, Independensi Bank Indonesia dan Penyelesaian Bank Bermasalah,
Bandung: Cv Keni Media, 2012, hal. 52.

21

memenuhi kewajibannya terhadap nasabah, maka reputasi bank akan menjadi
goyah bahkan dapat mengalami rush (penarikan dana besar-besaran) oleh
nasabah, dan pada akhirnya bank sebesar dan sesehat apapun dapat menjadi tutup.
Suatu bank juga dapat dikatakan bermasalah apabila bank mengalami kesulitan
yang dapat membahayakan kelangsungan usahanya, misalnya saja kondisi usaha
bank yang semakin memburuk dengan ditandainya menurunnya permodalan,
kualitas aset, likuiditas, dan lainnya. Terjadinya hal-hal tersebut dikarenakan
kurangnya pelaksanaan yang sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan pelaksanaan
perbankan yang sehat.14
Sementara itu, berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka 5 Peraturan Lembaga
Penjamin Simpanan Nomor 4/PLPS/2006 tentang penyelesaian bank gagal yang
tidak berdampak sistemik, menyatakan bahwa bank bermasalah adalah bank yang
berdasarkan penilaian Lembaga Pengawas Perbankan (LPP) mengalami kesulitan
yang membahayakan kelangsungan usahanya dan ditempatkan dalam pengawasan
khusus oleh LPP. Kriteria bank bermasalah bank bermasalah dibagi menjadi dua
jenis, yaitu:
a. Kriteria Bank Bermasalah yang bersifat non struktural, yaitu jika hanya
terdapat satu atau beberapa aspek CAMEL’S15 yang tergolong tidak sehat.
Keadaan bank dalam kondisi seperti ini dikatakan belum parah, karena aspek
permodalan dan likuiditasnya masih belum membahayakan kelangsungan
kegiatan usaha bank yang bersangkutan. Bermasalahnya suatu bank pada
14

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama, 2001, Hal. 143.
15
CAMEL’S merupakan komponen yang digunakan untuk menilai suatu tingkat
kesehatan bank yang pada dasarnya dinilai dengan pendekatan kualitatif atas berbagai aspek yang
berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank. 5 komponen CAMEL’S yaitu
Permodalan (Capital Adequancy Ratio/ CAR); Kualitas Aset (Assets Quality); Manajemen
(Management); Rentabilitas (Earning); Likuiditas (Liquidity); Sensitivitas terhadap resiko pasar
(Sensitivity to market risk). Zulfi Diane Zaini, Op.cit., hal. 30-31.

22

kelompok ini umumnya karena permasalahan yang bersifat temporer, di mana
pemilik bersama pengurus bank diperkirakan mampu dan mau melakukan
perbaikan kondisi bank.
b. Kriteria Bank Bermasalah yang bersifat struktural adalah apabila semua aspek
CAMEL’S sudah tergolong tidak sehat, dan kondisi bank pada umumnya
sudah tergolong parah, seperti misalnya modalnya menurun dan rendah,
likuiditasnya sudah membahayakan kelangsungan usaha bank. Kondisi bank
yang demikian terjadi karena beban kredit bermasalah yang cukup besar dan
tidak dapat diselesaikan dengan baik, sehingga kesulitan tersebut pada
akhirnya mempengaruhi kondisi rentabilitas, solvabilitas, dan likuiditas. Hal
ini terkadang diperburuk dengan adanya itikad kurang baik dari para pemilik
dan manajemen bank untuk melakukan penyelesaian. Oleh karena itu,
diperlukan suatu upaya penyelamatan yang bersifat menyeluruh dan
memerlukan waktu yang relatif lama, terutama karena pemilik/ pengurus bank
sudah tidak mampu lagi untuk menyelesaikan permasalahan bank.16
Berdasarkan hal di atas bahwa bank dikatakan bermasalah karena pemenuhan
kewajiban bank terhadap nasabah tidak atau belum berjalan lancar. Tidak atau
belum lancarnya pemenuhan kewajiban bank dikarenakan fungsi bank yang jika
dalam pelaksanaannya tidak memperhatikan atau tidak memenuhi prinsip
CAMEL’S. Fungsi bank menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
tabungan, deposito, dan giro yang pada umumnya berjangka pendek (kurang dari
setahun) dan kemudian menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat
berupa kredit, baik itu kredit korporasi atau investasi-investasi yang pada

16

Zulfi Diane Zaini, Op.cit., hal. 264.

23

umumnya jangka waktunya panjang (lebih dari setahun) yang secara tidak
langsung mengakibatkan timbulnya kewajiban membayar dana nasabah dan hasil
penempatan jatuh tempo yang tidak tepat waktu.
E. Koordinasi para Pihak dalam Penanganan Bank Bermasalah
Koordinasi merupakan suatu aturan yang mengatur mengenai kerjasama dari tiaptiap lembaga agar dapat bekerja dengan baik sesuai dengan kewenangannya.
Dalam rangka meningkatkan kinerja lembaga keuangan yang ada di Indonesia,
dan untuk tetap menjaga stabilitas sistem perbankan, maka di dalam UU OJK
mengatur harus adanya hubungan kerjasama ataupun koordinasi dengan lembaga
lain. Koordinasi yang diatur dalam UU OJK yaitu koordinasi antara OJK dengan
LPS dan Bank Indonesia dalam hubungan kelembagaan yang terintegrasi.
Dalam rangka menjaga stabilitas sektor keuangan, OJK wajib berkoordinasi
dengan BI, Kementrian Keuangan, dan LPS melalui Forum Koordinasi Stabilitas
Sistem Keuangan (yang selanjutnya disebut FKSSK). Koordinasi yang dilakukan
OJK melalui FKSSK dalam rangka menunjang tugas dan wewenang masingmasing lembaga.
OJK berkoordinasi dengan BI dalam rangka penanganan bank bermasalah. OJK
dan BI membuat peraturan pengawasan dalam pemenuhan modal minimum bank,
produk-produk perbankan serta sistem informasi perbankan yang terbentuk secara
terpadu. BI dalam pelaksanaan wewenangnya melakukan pemeriksaan khusus
terhadap suatu bank tertentu wajib menyampaikan pemberitahuan secara tertulis

24

terlebih dahulu kepada OJK. Dalam pemeriksaan tersebut BI tidak dapat
memberikan penilaian terhadap tingkat kesehatan suatu bank.17
OJK juga berkoordinasi dengan LPS terhadap suatu bank bermasalah yang sedang
dalam upaya penyehatan oleh OJK. Bentuk koordinasi yang dilakukan antara OJK
dengan LPS adalah berupa informasi-informasi berdasarkan penilaian yang
dilakukan OJK. LPS juga dapat melakukan pemeriksaan terhadap bank yang
terkait dengan tugas, fungsi, dan wewenangnya yang didahulukan dengan
dikoordinasikan bersama OJK.18
Selain itu, OJK juga berkoordinasi dengan :
a. BI dan LPS untuk melakukan pengawasan bersama dalam rangka mendukung
tugas dan wewenang masing-masing lembaga, serta membangun dan
memelihara sarana pertukaran informasi secara terintegrasi untuk mendukung
kegiatan tersebut serta melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap
stabilitas sistem keuangan;
b. Penegak hukum dan instansi, lembaga dan/atau pihak lain yang memiliki
kewenangan di bidang penegakan hukum;

17
18

Pasal 39, 40 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK
Pasal 41, 42 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK

25

c. Menteri Keuangan, BI dan LPS untuk mencegah dan menangani kondisi
krisis berdasarkan peraturan perundangan mengenai jaring pengaman sistem
keuangan;
d. Otoritas Pengawas Perbankan, Pasar Modal negara lain serta organisasi atau
lembaga internasional lainnya.19

19

Naskah Akademik Pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dimuat dalam
http://www.perpustakaan.depkeu.go.id/, didownload tanggal 4 september 2014, hal.23-24.

26

F. Kerangka Pikir

Undang-Undang Nomor
21 Tahun 2011 tentang
OJK tentang OJK

Undang-Undang
Nomor 3 Tahun
2004 tentang BI

Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2004 tentang
LPS tentang LPS

Tugas, Fungsi, dan
Tugas, Fungsi, dan
Tugas, Fungsi, dan
--------------Wewenang OJK
Wewenang BI
Wewenang LPS

Koordinasi
Penanganan Bank
Bermasalah

Keterangan :
Berdasarkan skema tersebut dijelaskan bahwa:
Lahirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK maka peran serta
BI sebagai pengawasan perbankan akan hilang dan Bank Indonesia akan fokus
sebagai regulator pada bidang moneter (macroprudential). Implikasinya adalah
bahwa fungsi pengaturan dan pengawasan sistem jasa keuangan lingkup
microprudential diserahkan kepada OJK, sedangkan BI hanya bertugas untuk
menjaga stabilitas moneter dan pengawasan lingkup macroprudential. Lahirnya
OJK merupakan amanat dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang BI,

27

UU LPS menjadi dasar pembentukan LPS. Tujuan dari pembentukan LPS adalah
untuk melindungi nasabah penyimpan, sehingga nasabah penyimpan masih
mempercayakan dananya untuk disimpan di bank.
OJK, LPS, dan BI merupakan lembaga independen yang sama-sama mempunyai
peran, tujuan, tugas, dan wewenang dalam upaya menjaga kestabilan sistem
keuangan di Indonesia. OJK dan LPS mempunyai fungsi masing-masing yang
telah ditentukan berdasarkan undang-undang. Berdasarkan Bab X Pasal 39-43
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang OJK dijelaskan bahwa OJK, LPS,
dan Bank Indonesia mempunyai hubungan kelembagaan dalam menjalankan
fungsi, tugas, dan wewenangnya. Dengan adanya koordinasi antara 3 lembaga
tersebut, terdapat upaya dalam penanganan bank ber

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23