Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.)

SKRIPSI
PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI
EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.)
DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS
PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

OLEH:
DARWIN
NIM 071501061

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI
EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.)
DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS
PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
DARWIN
NIM 071501061

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN SKRIPSI
PERBEDAAN PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DARI
EKSTRAK KULIT BUAH JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.)
DALAM BENTUK SEDIAAN SALEP DAN GEL SECARA PRAKLINIS
PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR
OLEH:
DARWIN
NIM 071501061
Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada tanggal : September 2011
Pembimbing I,

Panitia Penguji,

Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt.
NIP 195212041980021001

Prof. Dr. Karsono, Apt.
NIP 195409091982011001

Pembimbing II,
Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt
NIP 195212041980021001
Drs. Awaluddin Saragih, M.Si., Apt.
NIP 195008221974121002
Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt.
NIP 195208241983031001

Dra. Djendakita, M.Si., Apt.
NIP 195107031977102001
Medan, September 2011
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan
rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penyusunan skripsi ini yang berjudul “Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka
Bakar dari Ekstrak Kulit Buah Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dalam
Bentuk Sediaan Salep dan Gel secara Praklinis pada Tikus Putih Jantan Galur
Wistar ”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus tiada terhingga kepada
Ayah Hendri dan Ibu Sumiati tercinta, serta kepada Kakek dan Nenek atas
dorongan dan semangat baik moril maupun materil kepada penulis selama masa
perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada Bapak Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt., dan
Bapak Drs. Awaluddin Saragih, M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis
dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama penelitian hingga selesainya
penulisan skripsi ini.
Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., sebagai Dekan Fakultas
Farmasi yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa
pendidikan.

Universitas Sumatera Utara

2. Ibu Dra. Masfria, MS., Apt., sebagai dosen wali yang telah membimbing
penulis selama masa pendidikan.
3. Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt, Bapak Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt., Ibu Dra.
Djendakita, M.Si., Apt., sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran
dan kritikan kepada penulis hingga selesainya penulisan skripsi ini.
4.

Bapak Prof. Dr. M. T. Simanjuntak, M.Sc., Apt., selaku Kepala Laboratorium
Biofarmasetika dan Farmakokinetika yang telah memberikan fasilitas dan
bantuan selama penelitian.

5.

Seluruh Staf Pengajar, Pegawai Tata Usaha, Kakak-kakak, Abang-abang dan
Teman-teman yang telah membantu selama penelitian hingga selesainya
penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki

banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan kritikan dan saran yang
dapat menyempurnakan skripsi ini.

Medan, September 2011
Penulis,

Darwin
NIM 071501061

Universitas Sumatera Utara

Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dalam Bentuk Sediaan Salep dan
Gel Secara Praklinis pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar
Abstrak
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) merupakan salah satu tumbuhan
yang berkhasiat. Kulit buah jengkol termasuk limbah di pasar tradisional dan
kurang memberikan nilai ekonomis. Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim,
kudis, luka dan bisul, kulit batangnya sebagai penurun kadar gula darah dan kulit
buahnya dapat digunakan sebagai obat borok, pembasmi serangga, luka bakar.
Salah satu kandungan kimia dari kulit buah jengkol yaitu tanin. Tanin berfungsi
sebagai astringen yang menyebabkan penciutan pori-pori kulit, memperkeras
kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan, antiseptik dan obat luka
bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kulit buah
jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil dan
mengetahui perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan
salep dan gel.
Pada penelitian ini ekstrak kulit buah jengkol diformulasikan menjadi
sediaan salep dan gel, selanjutnya dievaluasi sediaan, kemudian diuji sediaan
salep dan gel terhadap penyembuhan luka bakar dan dilakukan analisis data
dengan Statistical Program Service Solution (SPSS) yaitu Uji T
Hasil evaluasi sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol
menunjukkan bahwa sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol tetap
stabil selama 28 hari dan nilai pH sediaan memenuhi persyaratan nilai pH sediaan
yang aman untuk kulit yaitu pH 5 hingga 10.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang diberi sediaan salep yang
mengandung ekstrak kulit buah jengkol 5% sembuh setelah hari ke 14, sedangkan
kelompok yang diberi sediaan gel yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol
1% sembuh setelah hari ke 10.
Hasil analisis data menggunakan Uji T disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antara
bentuk sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek
terbaik dari masing-masing konsentrasi terbaik (salep 5% dan gel 1%) dimana
nilai sig.(2-tailed) atau probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05
(probabilitas 0,194).
Kata kunci:

ekstrak kulit buah jengkol, salep, gel, luka bakar

Universitas Sumatera Utara

Differences Accelerating Burn Healing of Dog Fruit Rind Extracts
(Pithecellobium lobatum Benth.) in the Ointment and Gel Dosage Forms in
Preclinical in Male White Rat of Wistar Strain
Abstract
Dog fruit (Pithecellobium lobatum Benth.) is one of the herbs are
efficacious. Rind dog fruit including waste in traditional markets and provide less
economic value. Leaf dog fruit efficacious as eczema, scabies, sores and ulcers
medicine, the bark as lowering blood sugar and rind can be used as a skin ulcer
medication, insect repellent, burn. One of the chemical compounds from dog fruit
rind is tannin. Serves as an astringent tannins that cause shrinkage pores of the
skin, hardened skin, stop bleeding exudate and a mild, antiseptic and burn
medicine. The aim of this research was to determine the dog fruit rind extract can
be formulated in an ointment and dosage forms are stable and know the difference
between ointment and gel dosage forms accelerating burn healing.
In this study dog fruit rind extract formulated into an ointment and gel
dosage forms, dosage forms were evaluated further and then tested against burns
and performed data analysis with the Statistical Program Service Solution (SPSS)
is a test T.
The results of the evaluation of ointment and gel dosage forms from dog
fruit rind extract showed that the dosage form of ointments and gels from dog fruit
rind extract remain stable for 28 days. pH value of the dosage form eliglibe to the
dosage form for the skin pH value of 5 to 10.
The results showed the group given 5% dog fruit rind extract ointment
recovered after day 14, whereas the group given 1% dog fruit rind extract gel
recovered after day 10.
Results of analysis of data using T test concluded that there was no
significant difference to the acceleration of healing of burns between ointments
and gel dosage forms from dog fruit rind extract that give the best effect of each
of the best concentration (5% ointment and gel 1%) where the value of sig. (2 tailed) or the probability generated is greater than 0.05 (probability 0.194).
Key words:

dog fruit rind extract, ointment, gel, burn

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Judul ...........................................................................................................

i

Halaman Judul ............................................................................................

ii

Halaman Pengesahan .................................................................................

iii

Kata Pengantar ...........................................................................................

iv

Abstrak .......................................................................................................

vi

Abstract ......................................................................................................

vii

Daftar Isi ....................................................................................................

viii

Daftar Tabel ...............................................................................................

xi

Daftar Gambar ............................................................................................

xii

Daftar Lampiran .........................................................................................

xiii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................

1

1.1 Latar Belakang ..............................................................................

1

1.2 Perumusan Masalah .....................................................................

3

1.3 Hipotesis ......................................................................................

4

1.4 Tujuan Penelitian .........................................................................

4

1.4.1 Tujuan Umum ......................................................................

4

1.4.2 Tujuan Khusus .....................................................................

4

1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................

5

1.6 Kerangka Penelitian ......................................................................

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................

6

2.1 Uraian Tumbuhan ........................................................................

6

2.1.1 Sistematika Tumbuhan .......................................................

6

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Sinonim ...............................................................................

6

2.1.3 Nama Daerah ......................................................................

6

2.1.4 Habitat dan Daerah Tumbuh ..............................................

6

2.1.5 Morfologi Tumbuhan .........................................................

7

2.1.6 Kandungan Kimia ...............................................................

7

2.1.7 Khasiat Tumbuhan...............................................................

7

2.2 Ekstraksi .......................................................................................

7

2.3 Gel ............. ...................................................................................

9

2.4 Salep ........ .....................................................................................

10

2.5 Stabilitas Sediaan ........ .................................................................

11

2.6 Kulit ........ .....................................................................................

13

2.7 Luka Bakar ........ ...........................................................................

14

2.8 Penyembuhan Luka Bakar ........ ...................................................

17

2.9 Absorpsi Obat Perkutan ........ .......................................................

18

BAB III METODE PENELITIAN .............................................................

18

3.1

Alat-alat ......................................................................................

19

3.2

Bahan-bahan ..............................................................................

19

3.3

Hewan Percobaan .......................................................................

20

3.4

Identifikasi Tumbuhan................................................................

20

3.5

Pengumpulan dan Pengolahan Sampel ......................................

20

3.6

Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia..........................................

20

3.7

Skrining Fitokimia ......................................................................

21

3.8

Pembuatan Ekstrak .....................................................................

21

3.9

Pembuatan Sediaan .....................................................................

21

Universitas Sumatera Utara

3.9.1

Pembuatan Salep ............................................................

21

3.9.2

Pembuatan Gel ...............................................................

23

3.10 Evaluasi Sediaan .........................................................................

24

3.10.1 Pemeriksaan Organoleptis..............................................

24

3.10.2 Uji Homogenitas ............................................................

24

3.10.3 Pemeriksaan pH .............................................................

24

3.11 Pengujian Sediaan Salep dan Gel Terhadap Penyembuhan Luka
Bakar...........................................................................................

25

3.12 Perhitungan Diameter Rata-rata Luka Bakar..............................

25

3.13 Analisis Data...............................................................................

26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

27

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................

41

5.1

Kesimpulan ................................................................................

41

5.2

Saran ..........................................................................................

41

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

42

LAMPIRAN ...............................................................................................

45

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Formula salep dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah
jengkol .........................................................................................

22

Tabel 2. Formula gel dengan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah
jengkol .........................................................................................

23

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Sediaan Salep Ekstrak kulit
Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar ......................

28

Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Organoleptis Sediaan Gel Ekstrak kulit
Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar ......................

29

Tabel 5. Hasil Pemeriksaan Homogenitas Sediaan Salep dan Gel
Ekstrak Kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar .

30

Tabel 6. Hasil Pemeriksaan pH dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak
Kulit Buah Jengkol Selama 28 Hari pada Suhu Kamar ..............

31

Tabel 7. Proses Penyembuhan Luka Bakar dari Salep Ekstrak Kulit
Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran .........................

37

Tabel 8. Proses Penyembuhan Luka Bakar dari Salep Ekstrak Kulit
Buah Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran .........................

38

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.

Cara Mengukur Diameter Luka Bakar .............................

25

Gambar 2.

Grafik Diameter Luka Bakar terhadap Waktu (Hari) dari
Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol .....................

32

Grafik Diameter Luka Bakar terhadap Waktu (Hari) dari
Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol .......................

33

Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar
dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol .

34

Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar
dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% dan
Sediaan Salep di Pasaran..................................................

35

Grafik Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar
dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol 1% dan
Sediaan Gel di Pasaran .....................................................

36

Gambar 7.

Tumbuhan Jengkol ..........................................................

46

Gambar 8.

Kulit Buah Jengkol Segar ...............................................

46

Gambar 9.

Simplisia Kulit Buah Jengkol .........................................

47

Gambar 10.

Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol .............................

47

Gambar 11.

Penampang Melintang Kulit Buah Jengkol (perbesaran
10x10) ..............................................................................

48

Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol (perbesaran
10x40) ..............................................................................

48

Gambar 3.

Gambar 4.

Gambar 5.

Gambar 6.

Gambar 12.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.

Hasil Identifikasi Tumbuhan Jengkol (Pithecellonium
lobatum Benth.) ...............................................................

45

Gambar Tumbuhan Jengkol (Pithecellobium lobatum
Benth.) dan Kulit Buah Jengkol Segar ............................

46

Gambar Simplisia dan Serbuk Simplisia Kulit Buah
Jengkol (Pithecellobii pericarpii) .....................................

47

Gambar Hasil Mikroskopik Penampang Melintang Kulit
Buah dan Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol ..............

48

Perhitungan Kadar Air Serbuk Simplisia Kulit Buah
Jengkol .............................................................................

49

Perhitungan Kadar Sari Larut dalam Air Serbuk
Simplisia Kulit Buah Jengkol ..........................................

50

Perhitungan Kadar Sari Larut dalam Etanol Serbuk
Simplisia Kulit Buah Jengkol ..........................................

51

Perhitungan Kadar Abu Total Serbuk Simplisia Kulit
Buah Jengkol ....................................................................

52

Perhitungan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam
Serbuk Simplisia Kulit Buah Jengkol ..............................

53

Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Kulit Buah
Jengkol .............................................................................

54

Lampiran 11.

Bagan Alur Penelitian .....................................................

55

Lampiran 12.

Bagan Pembuatan Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) .......................

56

Bagan Pembuatan Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) ........................

57

Gambar Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol
(Pithecellobium lobatum Benth.) .....................................

58

Gambar Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol
(Pithecellobium lobatum Benth.) .....................................

59

Lampiran 2.

Lampiran 3.

Lampiran 4.

Lampiran 5.

Lampiran 6.

Lampiran 7.

Lampiran 8.

Lampiran 9.

Lampiran 10.

Lampiran 13.

Lampiran 14.

Lampiran 15.

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 16.

Perubahan Diameter Luka Bakar yang Diobati dengan
Salep Ekstrak Kulit Buah Jengkol 5% .............................

60

Perubahan Diameter Luka Bakar yang Diobati dengan
Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol 1% ................................

62

Perubahan Diameter Luka Bakar yang Diobati dengan
Sediaan Salep di Pasaran..................................................

64

Perubahan Diameter Luka Bakar yang Diobati dengan
Sediaan Gel di Pasaran .....................................................

65

Lampiran 20.

Contoh Perhitungan Diameter Luka Bakar ......................

66

Lampiran 21.

Data Diameter Luka Bakar dengan Interval Pengukuran
Setiap Hari dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah
Jengkol 5% .......................................................................

67

Data Diameter Luka Bakar dengan Interval Pengukuran
Setiap Hari dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah Jengkol
1% ....................................................................................

69

Data Diameter Luka Bakar dengan Interval Pengukuran
Setiap Hari dari Sediaan Salep di Pasaran .......................

71

Data Diameter Luka Bakar dengan Interval Pengukuran
Setiap Hari dari Sediaan Gel di Pasaran ..........................

73

Diameter Luka Bakar Rata-rata dengan Interval
Pengukuran Setiap Hari dari Sediaan Salep dan Gel
Ekstrak Kulit Buah Jengkol .............................................

75

Diameter Luka Bakar Rata-rata dengan Interval
Pengukuran Setiap Hari dari Sediaan Salep Ekstrak
Kulit Buah jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran .....

76

Diameter Luka Bakar Rata-rata dengan Interval
Pengukuran Setiap Hari dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit
Buah jengkol 1% dan Sediaan Gel di Pasaran .................

77

Hasil Analisis Uji T terhadap Percepatan Penyembuhan
Luka Bakar dari Sediaan Salep dan Gel Ekstrak Kulit
Buah Jengkol ....................................................................

78

Hasil Analisis Uji T terhadap Percepatan Penyembuhan
Luka Bakar dari Sediaan Salep Ekstrak Kulit Buah
Jengkol 5% dan Sediaan Salep di Pasaran .......................

79

Lampiran 17.

Lampiran 18.

Lampiran 19.

Lampiran 22.

Lampiran 23.

Lampiran 24.

Lampiran 25.

Lampiran 26.

Lampiran 27.

Lampiran 28.

Lampiran 29.

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 30.

Hasil Analisis Uji T terhadap Percepatan Penyembuhan
Luka Bakar dari Sediaan Gel Ekstrak Kulit Buah
Jengkol 1% dan Sediaan Gel di Pasaran ..........................

80

Universitas Sumatera Utara

Perbedaan Percepatan Penyembuhan Luka Bakar dari Ekstrak Kulit Buah
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) dalam Bentuk Sediaan Salep dan
Gel Secara Praklinis pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar
Abstrak
Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.) merupakan salah satu tumbuhan
yang berkhasiat. Kulit buah jengkol termasuk limbah di pasar tradisional dan
kurang memberikan nilai ekonomis. Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim,
kudis, luka dan bisul, kulit batangnya sebagai penurun kadar gula darah dan kulit
buahnya dapat digunakan sebagai obat borok, pembasmi serangga, luka bakar.
Salah satu kandungan kimia dari kulit buah jengkol yaitu tanin. Tanin berfungsi
sebagai astringen yang menyebabkan penciutan pori-pori kulit, memperkeras
kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan, antiseptik dan obat luka
bakar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ekstrak kulit buah
jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel yang stabil dan
mengetahui perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan
salep dan gel.
Pada penelitian ini ekstrak kulit buah jengkol diformulasikan menjadi
sediaan salep dan gel, selanjutnya dievaluasi sediaan, kemudian diuji sediaan
salep dan gel terhadap penyembuhan luka bakar dan dilakukan analisis data
dengan Statistical Program Service Solution (SPSS) yaitu Uji T
Hasil evaluasi sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol
menunjukkan bahwa sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol tetap
stabil selama 28 hari dan nilai pH sediaan memenuhi persyaratan nilai pH sediaan
yang aman untuk kulit yaitu pH 5 hingga 10.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang diberi sediaan salep yang
mengandung ekstrak kulit buah jengkol 5% sembuh setelah hari ke 14, sedangkan
kelompok yang diberi sediaan gel yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol
1% sembuh setelah hari ke 10.
Hasil analisis data menggunakan Uji T disimpulkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang signifikan terhadap percepatan penyembuhan luka bakar antara
bentuk sediaan salep dan gel ekstrak kulit buah jengkol yang memberikan efek
terbaik dari masing-masing konsentrasi terbaik (salep 5% dan gel 1%) dimana
nilai sig.(2-tailed) atau probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05
(probabilitas 0,194).
Kata kunci:

ekstrak kulit buah jengkol, salep, gel, luka bakar

Universitas Sumatera Utara

Differences Accelerating Burn Healing of Dog Fruit Rind Extracts
(Pithecellobium lobatum Benth.) in the Ointment and Gel Dosage Forms in
Preclinical in Male White Rat of Wistar Strain
Abstract
Dog fruit (Pithecellobium lobatum Benth.) is one of the herbs are
efficacious. Rind dog fruit including waste in traditional markets and provide less
economic value. Leaf dog fruit efficacious as eczema, scabies, sores and ulcers
medicine, the bark as lowering blood sugar and rind can be used as a skin ulcer
medication, insect repellent, burn. One of the chemical compounds from dog fruit
rind is tannin. Serves as an astringent tannins that cause shrinkage pores of the
skin, hardened skin, stop bleeding exudate and a mild, antiseptic and burn
medicine. The aim of this research was to determine the dog fruit rind extract can
be formulated in an ointment and dosage forms are stable and know the difference
between ointment and gel dosage forms accelerating burn healing.
In this study dog fruit rind extract formulated into an ointment and gel
dosage forms, dosage forms were evaluated further and then tested against burns
and performed data analysis with the Statistical Program Service Solution (SPSS)
is a test T.
The results of the evaluation of ointment and gel dosage forms from dog
fruit rind extract showed that the dosage form of ointments and gels from dog fruit
rind extract remain stable for 28 days. pH value of the dosage form eliglibe to the
dosage form for the skin pH value of 5 to 10.
The results showed the group given 5% dog fruit rind extract ointment
recovered after day 14, whereas the group given 1% dog fruit rind extract gel
recovered after day 10.
Results of analysis of data using T test concluded that there was no
significant difference to the acceleration of healing of burns between ointments
and gel dosage forms from dog fruit rind extract that give the best effect of each
of the best concentration (5% ointment and gel 1%) where the value of sig. (2 tailed) or the probability generated is greater than 0.05 (probability 0.194).
Key words:

dog fruit rind extract, ointment, gel, burn

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kulit merupakan jaringan perlindungan yang lentur dan elastis, menutupi
permukaan tubuh dan merupakan 5% berat tubuh. Kulit sangat berperan pada
pengaturan suhu tubuh dan mendeteksi adanya rangsangan dari luar serta untuk
mengeluarkan kotoran (Aiache, dkk., 1993).
Kerusakan pada kulit dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satu di
antaranya adalah akibat terjadinya kontak antara kulit dengan panas. Kontak
antara kulit dengan panas dalam batas-batas temperatur dan waktu kontak tertentu
masih dapat ditoleransi, tetapi panas yang tinggi dan waktu kontak yang cukup
lama dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit. Makin tinggi temperatur
makin sedikit waktu yang dibutuhkan untuk dapat menimbulkan kerusakan pada
jaringan kulit (Suratman, dkk., 1996).
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik
dan radiasi (Moenadjat, 2003).
Jengkol atau Jering atau Pithecellobium jiringa Jack. atau Pithecellobium
lobatum Benth. adalah tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara, termasuk yang
digemari di Malaysia, Thailand dan Indonesia terutama di wilayah Jawa Barat
yang seharinya dikonsumsi 100 ton. Dibalik bau yang ditimbulkan jengkol,
ternyata terkandung manfaat yang berguna bagi kesehatan. Kulit buah jengkol
termasuk limbah di pasar tradisional dan kurang memberikan nilai ekonomis.

Universitas Sumatera Utara

Daunnya berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka dan bisul, kulit batangnya
sebagai penurun kadar gula darah dan kulit buahnya dapat digunakan sebagai obat
borok, pembasmi serangga, luka bakar (Ali, 2009; Hutapea, 1994; Dinata, 2009;
Ogata, 1995; Widowati, dkk., 1997). Biji, kulit batang, kulit buah dan daun
jengkol mengandung saponin, flavonoida dan tanin (Hutapea, 1994).
Salah satu kandungan kimia dari kulit buah jengkol yaitu senyawa tanin.
Tanin berfungsi sebagai astringen yang menyebabkan penciutan pori-pori kulit,
memperkeras kulit, menghentikan eksudat dan pendarahan yang ringan, antiseptik
dan obat luka bakar (Anief, 1997; Rohmawati, 2008).
Salep, krim, sistem pemberian obat melalui kulit, lotio, larutan topikal dan
tinktur menggambarkan bentuk sediaan dermatologi yang paling sering dipakai,
tetapi bagaimanapun preparat lain seperti pasta, liniment, serbuk dan aerosol (juga
biasa digunakan) (Ansel, 1989).
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar, bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok. Salep dapat meningkatkan hidrasi pada kulit sehingga akan
meningkatkan permeabilitas kulit terhadap obat (Padmadisastra,dkk., 2007).
Bentuk sediaan setengah padat lain selain salep adalah gel, gel merupakan
sistem semipadat yang terdiri dari suspensi partikel anorganik kecil atau molekul
organik besar, terpenetrasi oleh suatu cairan. Sediaan dalam bentuk gel lebih
banyak digunakan karena rasa dingin di kulit, mudah mengering membentuk
lapisan film sehingga mudah dicuci (Suardi, dkk., 2008).
Absorpsi bahan dari luar kulit ke posisi di bawah kulit tercakup masuk ke
dalam aliran darah, disebut sebagai absorpsi perkutan. Kulit merupakan perintang

Universitas Sumatera Utara

yang efektif terhadap penetrasi perkutan dan senyawa eksternal. Pada umumnya,
absorpsi perkutan dari bahan obat ada pada preparat dermatologi seperti cairan,
gel, salep, krim atau pasta tidak hanya tergantung pada sifat kimia dan fisika dari
bahan obat saja, tapi juga pada sifat apabila dimasukkan ke dalam pembawa
farmasetika dan pada kondisi dari kulit. Pada pemakaian obat secara topikal, obat
berdifusi dalam pembawanya dan kontak dengan permukaan kulit (stratum
korneum dan sebum) serta obat selanjutnya menembus epidermis (Ansel, 1989).
Berdasarkan hal diatas perlu dilakukan penelitian untuk membuat bentuk
sediaan salep dan gel yang stabil yang mengandung ekstrak kulit buah jengkol dan
meneliti perbedaan percepatan penyembuhan luka bakar dari ekstrak kulit buah
jengkol yang diformulasikan dalam bentuk sediaan salep dan gel.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka perumusan masalah pada penelitian ini
adalah:
a. Apakah ekstrak kulit buah jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk
sediaan salep dan gel yang stabil?
b. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan terhadap percepatan
penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dengan bentuk
sediaan gel dari ekstrak kulit buah jengkol?

Universitas Sumatera Utara

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dibuat hipotesis sebagai
berikut:
a. Ekstrak kulit buah jengkol dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan
salep dan gel yang stabil.
b. Terdapat perbedaan percepatan yang signifikan terhadap penyembuhan
luka bakar antara bentuk sediaan salep dengan bentuk sediaan gel dari
ekstrak kulit buah jengkol.

1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui ekstrak kulit buah jengkol dapat diformulasikan dalam
bentuk sediaan salep dan gel yang stabil.
b. Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan terhadap percepatan
penyembuhan luka bakar antara bentuk sediaan salep dan gel dari ekstrak
kulit buah jengkol.
1.4.2 Tujuan Khusus
Untuk membandingkan bentuk sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit
buah jengkol yang memberikan efek penyembuhan terbaik dari masing-masing
konsentrasi terbaik.

Universitas Sumatera Utara

1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
a. Dapat memanfaatkan limbah kulit buah jengkol menjadi suatu sediaan
obat tradisional yang bernilai jual tinggi.
b. Dapat diperoleh sediaan salep dan gel dari ekstrak kulit buah jengkol yang
diharapkan dapat digunakan masyarakat sebagai obat luka bakar.

1.6 Kerangka Penelitian
Adapun kerangka pikir penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variabel Bebas

Variabel Terikat

Salep ektrak kulit
buah jengkol 5%

Evaluasi
sediaan

Gel ektrak kulit
buah jengkol 1%

Penyembuhan
luka bakar

Parameter

1. Organoleptis
2. Homogenitas
3. pH

Perubahan
diameter luka
bakar sampai
sembuh

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian tumbuhan
Uraian tumbuhan meliputi sistematika tumbuhan, sinonim, nama daerah,
habitat dan daerah tumbuh, morfologi tumbuhan, kandungan kimia dan khasiat.
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Bangsa

: Rosales

Suku

: Leguminosae

Marga

: Pithecellobium

Spesies

: Pithecellobium lobatum Benth. (Hutapea,1994).

2.1.2 Sinonim
Sinonim dari tumbuhan jengkol, antara lain: Zygia jiringa (Jack) Kosterm.,
Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King (Hutapea, 1994).
2.1.3 Nama Daerah
Nama lain dari tumbuhan jengkol adalah jering (Gayo), jering (Batak),
jarieng (Minangkabau), jaring (Lampung), jengkol (Sunda), jengkol (Jawa),
blandingan (Bali), lubi (Sulawesi) (Hutapea, 1994).
2.1.4 Habitat dan Daerah Tumbuh
Tumbuhan ini merupakan pohon di bagian barat Nusantara, tinggi sampai
26 m, dibudidayakan secara umum oleh penduduk di Jawa dan di beberapa daerah

Universitas Sumatera Utara

tumbuh menjadi liar. Tumbuh paling baik di daerah dengan musim kemarau yang
sedang sampai keras, tidak tahan terhadap musim kemarau yang terlalu panjang
(Heyne, 1987).
2.1.5 Morfologi Tumbuhan
Batang tegak, bulat, berkayu, licin, percabangan simpodial, coklat kotor;
daun majemuk, lonjong, berhadapan, panjang 10-20 cm, lebar 5-15 cm, tepi rata,
ujung runcing, pangkal membulat, pertulangan menyirip, tangkai panjang 0,5-1
cm, hijau tua; bunga majemuk, bentuk tandan, di ujung dan ketiak daun, tangkai
bulat, panjang ± 3 cm, ungu, kelopak bentuk mangkok, benang sari kuning, putik
silindris, kuning, mahkota lonjong, putih kekuningan; buah bulat pipih, coklat
kehitaman, biji bulat pipih, berkeping dua, putih kekuningan, tunggang, coklat
kotor (Hutapea, 1994).
2.1.6 Kandungan Kimia
Biji, kortek dan daun jengkol mengandung saponin, flavonoida dan tanin
(Hutapea, 1994).
2.1.7 Khasiat Tumbuhan
Daun jengkol berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka dan bisul, kulit
buahnya untuk obat borok (Hutapea, 1994).

2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia
yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain. Senyawa aktif

Universitas Sumatera Utara

yang terdapat dalam berbagai simplisisa dapat digolongkan ke dalam golongan
minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa
aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara
ekstraksi yang tepat. Simplisia yang lunak seperti rimpang dan daun mudah
diserap oleh pelarut, karena itu pada proses ekstraksi tidak perlu diserbuk sampai
halus. Simplisia yang keras seperti biji, kulit kayu dan kulit akar susah diserap
oleh pelarut, karena itu diserbuk sampai halus (Ditjen POM, 2000).
Ada beberapa cara metode ekstraksi (Ditjen POM, 2000), yaitu:
a. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi

adalah

proses

pengekstrakan

simplisia

dengan

menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan
pada temperatur ruangan (kamar). Remaserasi berati dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan
seterusnya.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri
dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi
sebenarnya (penetesan atau penampungan ekstrak), terus-menerus sampai
diperoleh ekstrak atau perkolat.

Universitas Sumatera Utara

b. Cara panas
3. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik
didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif
konstan dengan adanya pendingin balik.
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang umumnya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan
jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
5. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan (kamar), yaitu secara
umum dilakukan pada temperatur 40-50oC.
6. Infundasi
Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur
penangas air (bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur
terukur 96-98oC) selama waktu tertentu (15-20 menit).
7. Dekoktasi
Dekoktasi adalah infus pada waktu yang lebih lama (>30 oC) dan
temperatur sampai titik didih air.

2.3 Gel
Gel, kadang-kadang disebut jeli merupakan sistem semipadat terdiri dari
suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang

Universitas Sumatera Utara

besar, terpenetrasi oleh suatu cairan (Dijen POM, 1995). Gel dapat diberikan
untuk penggunaan topikal atau dimasukkan dalam lubang tubuh (Syamsuni,
2006).
Gel bisa digolongkan baik dalam sistem dua fase atau dalam sistem satu
fase. Massa gel dapat terdiri dari gumpalan (flokulat) partikel-partikel kecil dan
bukan molekul-molekul besar, seperti pada gel aluminium hidroksida. Gel ini
akan membentuk massa setengah padat pada pendiaman dan menjadi cairan jika
dikocok. Sebaliknya gel yang terdiri dari makromolekul-makromolekul yang
berupa jalinan benang-benang dianggap sebagai sistem dua fase, karena tidak ada
batas-batas yang jelas antara makromolekul terdispers dan cairan (Martin, dkk.,
1993).
Gel dibagi dua golongan, yakni: gel anorganik dan gel organik. Gel
anorganik umumnya merupakan sistem dua fase, sedangkan gel organik
merupakan sistem satu fase, karena bahan padat dilarutkan dalam cairan
membentuk suatu campuran gelatin yang homogen. Gel yang mengandung air
disebut hidrogel dan yang mengandung cairan organik disebut organel (Martin,
dkk., 1993).

2.4 Salep
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal
pada kulit atau selaput lendir (Ditjen POM, 1995). Fungsi salep adalah:
1. Sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit.
2. Sebagai bahan pelumas pada kulit.

Universitas Sumatera Utara

3. Sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak permukaan kulit dengan
larutan berair dan rangsang kulit (Anief, 1994).
Salep dapat mengandung obat atau tidak mengandung obat, yang
disebutkan terakhir biasanya dikatakan sebagai “dasar salep” dan digunakan
sebagai pembawa dalam penyiapan salep yang mengandung obat (Ansel, 1989).
Dasar salep digolongkan ke dalam 4 kelompok besar: dasar salep
hidrokarbon, dasar salep absorpsi, dasar salep yang dapat dicuci dengan air, dan
dasar salep yang larut dalam air (Ansel, 1989; Jas, 2004).
1. Dasar Salep hidrokarbon: bersifat lemak dan sukar dicuci dengan air.
Misalnya adalah: parafin, vaselin, minyak nabati.
2. Dasar salep serap (absorpsi)
Dasar salep dapat menyerap air dalam jumlah terbatas.
Misalnya adalah: Adeps lanae, lanolin, lilin (cera).
3. Dasar salep yang dapat dicuci dengan air
Dasar salep yang merupakan emulsi minyak dalam air, misalnya salep.
hidrofilik, vanishing cream.
4. Dasar salep yang dapat larut dalam air, yaitu dasar salep yang mengandung
komponen larut dalam air
2.5 Stabilitas Sediaan
Stabilitas adalah kemampuan suatu produk untuk mempertahankan sifat
kimia, fisika, mikrobiologi dan biofarmasi dalam batas yang telah ditentukan
selama masa simpan.
Pengujian stabilitas memungkinkan ditetapkannya cara penyimpanan yang
direkomendasikan, periode uji ulang, masa edar bahan baku atau produk serta

Universitas Sumatera Utara

kelebihan jumlah yang perlu ditambahkan kepada suatu formulasi produk obat
(Choy, 2009).
Pengujian stabilitas produk obat (Choy, 2009) hendaklah dilakukan
dengan cara:
a. Pengujian jangka panjang mutu produk obat untuk suatu jangka waktu yang
ditentukan, terbagi dalam beberapa interval: minimal setiap tiga bulan untuk
tahun pertama, enam bulan untuk tahun kedua serta selanjutnya sekali setiap
tahun dan dengan kondisi penyimpanan tertentu. Khusus bahan baku/produk
jadi yang peka terhadap panas hendaklah disimpan pada suhu rendah yang
akhirnya akan ditetapkan menjadi suhu penyimpanan jangka panjang. Lama
periode pengujian biasanya ditentukan oleh masa edar yang diperkirakan bagi
produk obat tersebut.
b. Pengujian dipercepat mutu produk obat selama 3-6 bulan terbagi sedikitnya
dalam empat interval waktu dengan kondisi yang diperberat, seperti
temperatur dan kelembaban tinggi, pemaparan cahaya dan sebagainya.
Dengan cara pengujian stabilitas dipercepat laju penguraian obat dapat
diperkirakan dan stabilitas produk dapat diramalkan untuk kondisi
penyimpanan tertentu, yakni 15 0C diatas suhu penyimpanan jangka panjang
dengan kelembaban yang sesuai.
c. Jenis pengujian stabilitas jangka panjang, jangka pendek dan alternatif untuk:
-

Obat generik, obat dengan variasi mayor dan variasi minor, bets yang diuji
minimal 2 bets.

-

Obat baru, bets yang duji minimal 3 bets.

Universitas Sumatera Utara

2.6 Kulit
Kulit merupakan suatu organ besar yang berlapis-lapis, dimana pada orang
dewasa berratnya kira-kira delapan pon, tidak termasuk lemak. Kulit menutupi
permukaan lebih dari 20.000 cm2 dan mempunyai bermacam –macam fungsi dan
kegunaan. Kulit berfungsi sebagai pembatas terhadap serangan fisika dan kimia
(Lachman , dkk., 1994).
Kulit dibentuk dari tumpukan tiga lapisan berbeda yang berturutan dari
luar ke dalam yaitu lapisan epidermis, lapisan dermis yang tersusun atas
pembuluh darah dan pembuluh geta bening, ujung-ujung syaraf dan lapisan
jaringan dibawah kulit yang berlemak atau yang disebut hipodermis. Kulit
mempunyai aneksa, kelenjar keringat, dan kelenjar sebum (glandula sebaceous)
yang berasal dari lapisan hipodermis atau dermis dan bermuara pada permukaan
dan membentuk daerah yang tidak berkesinambungan pada epidermis (Aiache,
dkk., 1993).
Epidermis merupakan lapisan epitel, tebal rata-rata 200 μm, dengan sel-sel
yang berdiferensiasi bertahap dari bagian yang lebih dalam menuju ke permukaan
dengan proses keratinisasi. Epidermis dibedakan atas 2 bagian: lapisan malfigi
yang hidup, menempel pada dermis, dan lapisan tanduk yang tersusun atas
sekumpulan sel-sel mati yang mengalami keratinisasi (Aiache, dkk., 1993).
Dermis merupakan jaringan penyangga berserat dengan ketebalan rata-rata
3-5 mm, peranan utamanya adalah sebagai pemberi nutrisi pada epidermis.
Berdasarkan tinjauan kualitatif dan susunan ruang serabut kolagen dan elastin,
dermis terdiri atas dua lapisan anatomik yaitu lapisan papiler jaringan kendor
yang terletak tepat di bawah epidermis, dan lapisan retikuler pada bagian dalam

Universitas Sumatera Utara

yang merupakan jaringan penyangga yang padat. Anyaman pembuluh darah dan
pembuluh getah bening terletak pada daerah papiler dengan kedalaman 100-200
μm. Hipodermis dan jaringan penyangga kendor, mengandung sejumlah kelenjar
lemak juga mengandung glomelurus kelenjar keringat (Aiache, dkk., 1993).
2.7 Luka Bakar
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, panas, bahan kimia, listrik
dan radiasi. Luka bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan
mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok)
sampai fase lanjut (Moenadjat, 2003).
Berat ringannya luka bakar itu tergantung dari lamanya dan banyaknya
kulit badan yang terbakar. Kerusakan paling ringan akibat terbakar yang timbul
pada kulit adalah warna merah pada kulit. Bila lebih berat, timbul gelembung.
Pada yang lebih berat lagi seluruh kulit terbakar sehingga dagingnya tampak,
sedangkan yang terberat ialah bila otot-otot ikut terbakar (Oswari, 2009).
Kulit atau jaringan tubuh yang terbakar akan menjadi jaringan nekrotik.
Kalau pada luka karena benda tajam atau benda tumpul, bila ada jaringan nekrotik
kita selalu berusaha melakukan debridement pada waktu pertama kali pencucian
luka, tetapi lain halnya, pada luka bakar jaringan nekrotik ini tidak dapat dibuang
segera, tetapi tetap lekat di tubuh penderita untuk watu yang relatif cukup lama.
Tetap beradanya jaringan nekrotik di tubuh si penderita akan mengundang infeksi
serta kesukaran-kesukaran lain dalam pengelolaannya (Marzoeki, 1991).
Luka bakar dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan penyebab dan
kedalaman kerusakan jaringan (Moenadjat, 2003), yaitu:

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan penyebabnya, luka bakar dibedakan atas beberapa jenis antara
lain:
a. Luka bakar karena api
b. Luka bakar karena air panas
c. Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau basa kuat)
d. Luka bakar karena listrik dan petir
e. Luka bakar karena radiasi
f. Cedera akibat suhu sangat rendah (frost bite).
Berdasarkan kedalaman kerusakan jaringan , luka dibedakan atas beberapa
jenis, yaitu:
1. Luka bakar derajat I
Kerusakan terbatas pada bagian superfisial epidermis. Kulit kering, hiperemik
memberikan efloresensi berupa eritema. Tidak dijumpai bula. Nyeri karena
ujung-ujung saraf sensorik teriritasi. Penyembuhan terjadi secara spontan
dalam waktu 5-10 hari. Contohnya adalah luka bakar akibat sengatan
matahari.
2. Luka bakar derajat II
Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi
akut disertai proses eksudasi. Dijumpai bula. Dasar luka berwarna merah atau
pucat, sering terletak lebih tinggi di atas permukaan kulit normal. Nyeri
karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.

Universitas Sumatera Utara

Luka bakar derjat II dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis. Apendises kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.
Penyembuhan terjadi secara spontan dalam 10-14 hari.
b. Derajat II dalam (deep)
Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. Apendises kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian masih
utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung apendises kulit yang
tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan.
3. Luka bakar derajat III
Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam.
Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
mengalami kerusakan. Tidak dijumpai bula. Kulit yang terbakar berwarna
abu-abu dan pucat. Kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar
akibat koagulasi protein pada lapis epidermis dan dermis (dikenal dengan
sebutan eksar). Tidak dijumpai rasa nyeri, bahkan hilang sensasi karena ujungujung serabut saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian. Penyembuhan
terjadi lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan baik dari dasar luka,
tepi luka, maupun apendises kulit.

Universitas Sumatera Utara

2.8 Penyembuhan Luka Bakar
Proses penyembuhan luka dibagi dalam tiga fase (Sjamsuhidajat dan Wim,
1997), yaitu:
1. Fase inflamasi
Fase inflamasi berlangsung sejak terjadinya luka sampai hari kelima.
Pembuluh darah yang terputus pada luka menyebabkan pendarahan dan tubuh
berusaha menghentikannya dengan vasokontriksi, pengerutan pembuluh yang
terputus (retraksi) dan reaksi hemostasis. Hemostasis terjadi karena trombosit
yang keluar dari pembuluh darah saling melekat dan bersama dengan jala
fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah.
Sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang
meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan,
pembentukan sel radang disertai vasodilatasi setempat menyebabkan
pembengkakan.
2. Fase proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia karena yang menonjol adalah
proses proliferasi fibroblas. Fase ini berlangsung dari akhir fase inflamasi
sampai kira-kira akhir minggu ketiga.
3. Fase penyudahan
Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan
kembali jaringan yang berlebih dan pembentukan jaringan baru. Fase ini dapat
berlangsung berbulan-bulan dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda
radang hilang. Tubuh berusaha menormalkan kembali semua yang menjadi
abnormal karena proses penyembuhan.

Universitas Sumatera Utara

2.9 Absorpsi Obat Perkutan
Absorpsi perkutan dapat didefinisikan sebagai absorpsi obat

ke dalam

stratum korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut obat menembus lapisan
dibawahnya serta akhirnya obat masuk dalam sirkulasi darah.
Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat
atau senyawa eksternal. Absorpsi obat perkutan dipengaruhi oleh sifat fisikokimia
obat dan pembawa serta kondisi kulit. Pada pemakaian obat secara topikal, obat
berdifusi dalam pembawanya dan kontak dengan permukaan kulit (stratum
korneum dan sebum) serta obat selanjutnya menembus epidermis.
Penetrasi obat melalui kulit dapat terjadi dengan dua cara (Syukri, 2002):
1. Rute transepidermal, yaitu difusi obat menembus stratum korneum
2. Rute transfolikular, yaitu difusi obat melewati pori kelenjar keringat dan sebum
Stratum korneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran
buatan yang semi permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi
pasif. Jadi jumlah obat yang pindah menyeberangi lapisan kulit tergantung pada
konsentrasi obat, kelarutannya dalam air dan koefisien partisi minyak atau airnya.
Bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya, minyak dan air, merupakan
bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum s

Dokumen yang terkait

Dokumen baru