Uji Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL
(Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP PENURUNAN
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI

OLEH:
ELYSA
NIM 071501066

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL
(Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP PENURUNAN
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
ELYSA
NIM 071501066

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN SKRIPSI

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL
(Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP PENURUNAN
KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN
OLEH:
ELYSA
NIM 071501066

Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal: 2 Agustus 2011

Pembimbing I,

Panitia Penguji,

Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.
NIP 195103261978022001

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Pembimbing II,

Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.
NIP 195103261978022001

Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.
NIP 195107231982032001

Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt.
NIP 195304031983032001

Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt.
NIP 195208241983031001
Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan
rahmat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penyusunan skripsi ini yang berjudul “Uji Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol
(Pithecellobium lobatum Benth) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah
Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan”. Skripsi ini
diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus tiada terhingga kepada
Ayahku Ang Kim Seng dan Ibuku Erlin Kemi tercinta, serta Adikku Belliana dan
Suhendro Anggara atas doa, dorongan dan semangat baik moril maupun materil
kepada penulis selama masa perkuliahan hingga selesainya penyusunan skripsi
ini.
Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas
Farmasi yang telah memberikan bantuan dan fasilitas selama masa
pendidikan.
2. Ibu Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.
selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan, dan
nasehat kepada penulis dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas selama
penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dra. Fat Aminah, M.Sc., Apt., selaku penasehat akademik yang telah
memberikan bimbingan kepada penulis selama masa perkuliahan.
4. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., Ibu Dra. Aswita Hafni
Lubis, M.Si., Apt., Bapak Drs. Saiful Bahri, M.S., Apt., selaku dosen
penguji yang telah memberikan saran dan kritikan kepada penulis hingga
selesainya penulisan skripsi ini.
5. Bapak Prof. Dr. rer. nat. Effendy De Lux Putra, SU., Apt. selaku Kepala
Laboratorium Penelitian, Ibu Marianne, S.Si., M.Si., Apt. selaku Kepala
Laboratorium Farmakologi, dan Bapak Drs. Awaluddin Saragih. M.Si.,
Apt. selaku Kepala Laboratorium Obat Tradisional yang telah memberikan
fasilitas dan bantuan selama penelitian.
6. Sahabat-sahabatku Benny Harmoko, Jessica, Stefanie Fanggara, dan
Margaret yang telah memberi doa, dukungan, dan motivasi. Senior dan
junior mahasiswa fakultas farmasi dan teman-teman seperjuangan di
farmasi stambuk 2007 darwin, sariaty, riwandi , febri dan teman-teman
yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan yang
diberikan selama penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih memiliki
banyak kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran
yang membangun dalam penyempurnaan skripsi ini. Harapan saya semoga skripsi
ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan kefarmasian.
Medan, 2 Agustus 2010
Penulis,
Elysa
NIM. 071501066

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum
Benth.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS
PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Abstrak
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pengobatan penyakit ini memerlukan
jangka waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang mahal, oleh karena itu
banyak penderita berusaha mengendalikan kadar glukosa darahnya menggunakan
bahan alam seperti biji jengkol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
skrining fitokimia, karakteristik simplisia biji jengkol dan efek ekstrak etanol biji
jengkol terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan.
Hasil skrining fitokimia simplisia menunjukkan adanya saponin, tanin,
alkaloid, flavonoid, glikosida dan steroid/triterpenoid. Hasil mikroskopik serbuk
simplisia terlihat rambut penutup berbentuk bintang, sklereid, serat sklerenkim,
dan sel parenkim. Hasil karakteristik simplisia biji jengkol terhadap kadar air
6,64%, kadar sari larut dalam air 23,63%, kadar sari larut dalam etanol 17,15%,
kadar abu total 1,47%, dan kadar abu tidak larut dalam asam 0,23%. Ekstraksi
simplisia biji jengkol dilakukan dengan cara perkolasi menggunakan pelarut
etanol 96%. Uji efek antidiabetes menggunakan tikus putih jantan galur Wistar
yang diinduksi aloksan dosis 125 mg/kg bb secara intraperitoneal. Tikus diabetes
dikelompokkan dalam lima kelompok perlakuan, dan masing-masing kelompok 6
ekor tikus. Kelompok I diberi suspense Na-CMC 0,5% b/v, kelompok II, III, dan
IV diberikan ekstrak etanol biji jengkol (EEBJ) dengan dosis 200, 400, 600 mg/kg
bb, dan kelompok V diberi metformin dosis 50 mg/kg bb per oral selama 7 hari
berturut-turut. Selanjutnya, pengukuran kadar glukosa darah diamati dan diukur
dengan alat Glukometer pada hari ke-4 dan hari ke-7. Data hasil pengujian
dianalisis dengan metode analisis variansi (ANAVA) kemudian dilanjutkan
dengan metode Duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jengkol
telah memberikan efek penurunan KGD tikus ke batas normal pada hari ke-7
pemberian sediaan uji. Rata-rata KGD pada hari ke-7 pemberian EEBJ dosis 200
mg/kg bb menjadi 152,00 mg/dl, dosis 400 mg/kg bb menjadi 124,83 mg/dl, dan
dosis 600 mg/kg bb menjadi 96,00 mg/dl. EEBJ dosis 600 mg/kg bb memberikan
efek penurunan kadar glukosa darah yang paling baik dibandingkan dengan dosis
200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb. Hasil uji statistik (α = 0,05) menunjukkan
bahwa esktrak etanol biji jengkol (EEBJ) dosis 600 mg/kg bb tidak memberikan
perbedaan yang nyata dengan metformin dosis 50 mg/kg bb dalam menurunkan
kadar gula darah tikus yang diinduksi aloksan.
Kata Kunci: jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.), diabetes mellitus, kadar
glukosa darah, aloksan

Universitas Sumatera Utara

THE EFFECT OF ETHANOL EXTRACT OF JENGKOL SEED
(Pithecolobium lobatum Benth.) TO DECREASE BLOOD GLUCOSE
LEVELS OF WHITE MALE WISTAR RATS INDUCED ALLOXAN
Abstract
Diabetes mellitus (DM) is one of the disease which the prevalence is
increasing from year to year. Treatment of this disease require long periods of
time and relatively expensive, therefore many people are trying to control their
blood glucose levels using natural ingredients one likes jengkol seed. The aim of
this study was to determine the phytochemical screening, characteristics of
simplicia jengkol seed and the effect of ethanol extract of jengkol seed to decrease
blood glucose levels of rat induced aloksan.
The result of phytochemical screening showed that the simplicia have
saponins, tannins, alkaloids, flavonoids, glycosides and steroids/triterpenoids. The
results of microscopic simplicia jengkol seed have hair lid looks star-shaped,
sklereid, sklerenkim fibers, and parenchyma cells. The result of the
characterization of simplicia jengkol seed moisture content 6.64%, water-soluble
extract concentration 23.63%, soluble in ethanol extract concentration 17.15%,
total ash content 1.47%, and insoluble ash content in acid 0.23%. The extraction
was done by percolation using 96% ethanol. The subject of this study using white
rats of Wistar strain were induced aloksan dose 125 mg / kg bw by intraperitoneal.
Diabetic rats were randomly divided into five treatment groups, and each 6 rats
per group. Group I was given Na-CMC 0,5% b/v, group II, III, and IV were given
ethanol extract of jengkol seed (EEJS) with a dose of 200, 400, 600 mg/kg bw,
group V was given metformin dose 50 mg/kg bw by per oral for 7 consecutive
days. Furthermore, measurement of blood glucose levels were observed and
measured with a meter Glucometer on day 4 and day 7. Test result data were
analyzed by the method of Analysis of Variance (ANAVA) followed by Duncan's
method to see the difference between treatments.
The analysis showed that administration of EEJS has effect to decrease
blood glucose levels to normal level on day 7 given extract. The average of blood
glucose levels on day 7 for EEBJ dose of 200 mg/kg bw is 152.00 mg/dl, dose of
400 mg/kg bw is 124.83 mg/dl, and dose 600 mg/kg bw is 96.00 mg/dl. EEJS
dose 600 mg/kg bw give the best effect to decrease blood glucose levels than dose
200 mg/kg bw and 400 mg/kg bw. The results of statistical tests (α = 0.05)
showed that ethanol extract of jengkol seeds (EEBJ) dose of 600 mg/kg bw did
not give a significant differences with metformin dose of 50 mg/kg bw in
lowering blood glucose levels of rats induced alloxan.
Keywords : jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.), diabetes mellitus, blood
glucose levels, aloksan

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ......................................................................................................

i

LEMBAR PENGESAHAN .....................................................................

ii

KATA PENGANTAR ..............................................................................

iii

ABSTRAK ................................................................................................

v

ABSTRACT .............................................................................................

vi

DAFTAR ISI ............................................................................................

vii

DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................

xii

DAFTAR TABEL ....................................................................................

xiv

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

1

1.1 Latar Belakang .........................................................................

1

1.2 Perumusan Masalah .................................................................

3

1.3 Hipotesis ...................................................................................

4

1.4 Tujuan Penelitian .....................................................................

4

1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................

5

1.6 Kerangka Konsep Penelitian ....................................................

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .............................................................

6

2.1 Uraian Tumbuhan ....................................................................

6

2.1.1 Sistematika Tumbuhan ..............................................

6

2.1.2 Sinonim ......................................................................

6

2.1.3 Nama daerah ..............................................................

7

Universitas Sumatera Utara

2.1.4 Habitat dan Daerah Tumbuh ......................................

7

2.1.5 Morfologi Tumbuhan ...............................................

7

2.1.6 Kandungan Kimia ....................................................

7

2.1.7 Khasiat Tumbuhan ...................................................

8

2.2 Ekstraksi ..................................................................................

8

2.3 Diabetes Mellitus .....................................................................

10

2.3.1 Pankreas ....................................................................

11

2.3.2 Klasifikasi Diabetes mellitus ....................................

11

2.3.3 Diagnosa Diabetes mellitus ......................................

13

2.3.4 Patogenesis Diabetes mellitus ..................................

14

2.3.5 Komplikasi Diabetes mellitus ..................................

16

2.3.6 Manajemen Pengobatan Diabetes mellitus ..............

17

2.4 Insulin ......................................................................................

19

2.5 Monitoring Diabetes mellitus ..................................................

20

2.6 Aloksan ....................................................................................

21

BAB III METODE PENELITIAN .........................................................

23

3.1 Alat-Alat ...................................................................................

23

3.2 Bahan-Bahan .............................................................................

23

3.3 Prosedur Pembuatan Simplisia ..................................................

24

3.3.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan .....................................

24

3.3.2 Identifikasi Tumbuhan ....................................................

24

3.3.3 Pembuatan Simplisia .......................................................

24

3.4.Pembuatan Pereaksi ...................................................................

25

3.4.1 Pereaksi Bouchardat .........................................................

25

Universitas Sumatera Utara

3.4.2 Pereaksi Dragendorff ........................................................

25

3.4.3 Pereaksi Mayer ................................................................

26

3.4.4 Pereaksi Besi (III) Klorida 4,5% b/v ...............................

26

3.4.5 Pereaksi Molish ...............................................................

26

3.4.6 Pereaksi Timbal (II) Asetat 0,4 M ...................................

26

3.4.7 Pereaksi Asam Sulfat 6 N ................................................

26

3.4.8 Pereaksi Asam Klorida 2 N ..............................................

26

3.4.9 Pereaksi Liebermann-Burchard ........................................

26

3.4.10 Larutan Kloral Hidrat .....................................................

27

3.4.11 Pembuatan Larutan Induksi Aloksan .............................

27

3.4.12 Pembuatan Suspensi Na-CMC 0,5% b/v ........................

27

3.4.13 Pembuatan Suspensi Metformin dosis 50 mg/kg bb .......

27

3.4.14 Pembuatan Suspensi Ekstrak Etanol Biji Jengkol ...........

27

3.5 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia ...........................................

28

3.5.1 Pemeriksaan Makroskopik dan Organoleptik ....................

28

3.5.2 Pemeriksaan Mikroskopik ..................................................

28

3.5.3 Penetapan Kadar Air ..........................................................

28

3.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air ..............................

29

3.5.5 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol .........................

30

3.5.6 Penetapan Kadar Abu Total ...............................................

30

3.5.7 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam ...............

30

3.6 Skrining Fitokimia .......................................................................

31

3.6.1 Pemeriksaan Flavonoid ......................................................

31

3.6.2 Pemeriksaan Alkaloid ........................................................

32

Universitas Sumatera Utara

3.6.3 Pemeriksaan Saponin .........................................................

32

3.6.4 Pemeriksaan Tanin ..........................................................

32

3.6.5 Pemeriksaan Glikosida ....................................................

33

3.6.6 Pemeriksaan Steroid / Triterpenoid .................................

33

3.7 Pembuatan Ekstrak Etanol Buah Jengkol (EEBJ) ......................

33

3.8 Penyiapan Hewan Percobaan .....................................................

34

3.9 Pengujian Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah .....................

34

3.9.1 Penggunaan Blood Glucose Test Meter “GlucoDrTM ”.....

34

3.9.2 Pengukuran Kadar Glukosa Darah (KGD) .......................

35

3.9.3 Pengujian Efek Ekstrak Etanol Biji Jengkol (EEBJ)
terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus
yang Diinduksi Aloksan ..................................................

36

3.10 Analisis Data .............................................................................

37

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................

38

4.1 Hasil Skrining Fitokimia dan Pemeriksaan Karakteristik
Simplisia ...................................................................................

38

4.2 Hasil Uji Farmakologi ...............................................................

39

4.2.1 Pengaruh Induksi Aloksan terhadap Kenaikan Kadar
Glukosa Darah ................................................................

41

4.2.2 Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Setelah
Perlakuan .........................................................................

42

4.2.2.1 Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes
pada Hari ke-4 setelah pemberian sediaan uji ......

42

4.2.2.2 Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus Diabetes
pada Hari ke-7 setelah pemberian sediaan uji ......

44

4.2.2.3 Persentase Penurunan Rata-Rata KGD Tikus .......

47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................

51

5.1 Kesimpulan ..................................................................................

51

Universitas Sumatera Utara

5.2 Saran ...........................................................................................

52

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

53

LAMPIRAN ................................................................................................

56

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan Jengkol (Pithecellobium
lobatum Benth.) ......................................................................

56

Lampiran 2. Gambar Hasil Makroskopik ....................................................

57

Lampiran 3. Gambar Hasil Mikroskopik Penampang Melintang Biji
Jengkol dan Serbuk Simplisia Biji Jengkol ............................

59

Lampiran 4. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Air Serbuk Simplisia
Biji Jengkol .............................................................................

60

Lampiran 5. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air
Serbuk Simplisia Biji Jengkol .................................................

61

Lampiran 6. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol
Serbuk Simplisia Biji Jengkol .................................................

62

Lampiran 7. Perhitungan Hasil Penetapan Kadar Abu Total dan Kadar Abu
Tidak Larut dalam Asam Serbuk Simplisia Biji Jengkol ........

63

Lampiran 8. Hasil Karakterisasi dan Skrining Fitokimia Simplisia
Biji Jengkol ..............................................................................

65

Lampiran 9. Tabel Maksimum Larutan Sediaan Uji untuk Hewan .............

66

Lampiran 10. Tabel Konversi Dosis Hewan dengan Manusia .....................

67

Lampiran 11. Contoh Perhitungan Dosis .....................................................

68

Lampiran 12. Daftar F Tabel ........................................................................

72

Lampiran 13. Data Pengukuran Kadar Glukosa Darah(KGD) Tikus ..........

73

Lampiran 14. Data Pengukuran Rata-Rata KGD Tikus Setelah Perlakuan ..

76

Lampiran 15. Data Pengukunan Kadar Glukosa Darah Tikus ......................

77

Lampiran 16. Perbandingan KGD Tikus Untuk Setiap Pengukuran ............

78

Lampiran 17. Analisis SPSS .........................................................................

79

Lampiran 18. Alat Pengukur Kadar Glukosa Darah .....................................

82

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 19. Alat-Alat yang Digunakan ....................................................

83

Lampiran 20. Bagan Kerja Penelitian .........................................................

85

Lampiran 21. Data Hasil Orientasi Uji Toleransi Glukosa .........................

86

Lampiran 22. Data Hasil Orientasi Metode Induksi Aloksan .....................

88

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Presentasi klinis diabetes mellitus ...............................................

12

Tabel 2.2 Kategori status glukosa ................................................................

13

Tabel 4.1 Hasil rata-rata KGD tikus puasa sebelum dinduksi
aloksan dosis 125 mg/kg bb ........................................................

40

Tabel 4.2 Hasil uji Anava KGD puasa tikus normal sebelum
diinduksi aloksan dosis 125 mg/kg bb .........................................

41

Tabel 4.3 Hasil rata-rata KGD tikus setelah diinduksi aloksan
dosis 125 mg/kg bb.......................................................................

41

Tabel 4.4 Hasil uji Anava KGD tikus setelah diinduksi aloksan
dosis 125 mg/kg bb.......................................................................

42

Tabel 4.5 Hasil pengukuran rata-rata KGD tikus diabetes pada hari ke-4
setelah pemberian sediaan uji ......................................................

43

Tabel 4.6 Hasil uji Anava hari ke-4 setelah pemberian sediaan
uji pada tikus diabetes .................................................................

43

Tabel 4.7 Hasil uji Duncan pada hari ke-4 setelah pemberian sediaan
uji pada tikus diabetes .................................................................

44

Tabel 4.8 Hasil pengukuran rata-rata KGD tikus diabetes pada
hari ke-7 setelah pemberian sediaan uji ......................................

45

Tabel 4.9 Hasil uji Anava hari ke-7 setelah pemberian sediaan
uji pada tikus diabetes .................................................................

45

Tabel 4.10 Hasil uji Duncan pada hari ke-7 setelah pemberian sediaan
uji pada tikus diabetes ...............................................................

46

Tabel 4.11 Persentase rata-rata penurunan KGD tikus ...............................

48

Tabel 4.12 Hasil uji Duncan persentase penurunan KGD tikus pada
hari ke-7 pemberian sediaan uji ................................................

50

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1

Skema kerangka konsep penelitian .....................................

5

Gambar 4.1

Grafik hasil pengukuran KGD setelah perlakuan.................

47

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEK EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum
Benth.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS
PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN
Abstrak
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pengobatan penyakit ini memerlukan
jangka waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang mahal, oleh karena itu
banyak penderita berusaha mengendalikan kadar glukosa darahnya menggunakan
bahan alam seperti biji jengkol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
skrining fitokimia, karakteristik simplisia biji jengkol dan efek ekstrak etanol biji
jengkol terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan.
Hasil skrining fitokimia simplisia menunjukkan adanya saponin, tanin,
alkaloid, flavonoid, glikosida dan steroid/triterpenoid. Hasil mikroskopik serbuk
simplisia terlihat rambut penutup berbentuk bintang, sklereid, serat sklerenkim,
dan sel parenkim. Hasil karakteristik simplisia biji jengkol terhadap kadar air
6,64%, kadar sari larut dalam air 23,63%, kadar sari larut dalam etanol 17,15%,
kadar abu total 1,47%, dan kadar abu tidak larut dalam asam 0,23%. Ekstraksi
simplisia biji jengkol dilakukan dengan cara perkolasi menggunakan pelarut
etanol 96%. Uji efek antidiabetes menggunakan tikus putih jantan galur Wistar
yang diinduksi aloksan dosis 125 mg/kg bb secara intraperitoneal. Tikus diabetes
dikelompokkan dalam lima kelompok perlakuan, dan masing-masing kelompok 6
ekor tikus. Kelompok I diberi suspense Na-CMC 0,5% b/v, kelompok II, III, dan
IV diberikan ekstrak etanol biji jengkol (EEBJ) dengan dosis 200, 400, 600 mg/kg
bb, dan kelompok V diberi metformin dosis 50 mg/kg bb per oral selama 7 hari
berturut-turut. Selanjutnya, pengukuran kadar glukosa darah diamati dan diukur
dengan alat Glukometer pada hari ke-4 dan hari ke-7. Data hasil pengujian
dianalisis dengan metode analisis variansi (ANAVA) kemudian dilanjutkan
dengan metode Duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jengkol
telah memberikan efek penurunan KGD tikus ke batas normal pada hari ke-7
pemberian sediaan uji. Rata-rata KGD pada hari ke-7 pemberian EEBJ dosis 200
mg/kg bb menjadi 152,00 mg/dl, dosis 400 mg/kg bb menjadi 124,83 mg/dl, dan
dosis 600 mg/kg bb menjadi 96,00 mg/dl. EEBJ dosis 600 mg/kg bb memberikan
efek penurunan kadar glukosa darah yang paling baik dibandingkan dengan dosis
200 mg/kg bb dan 400 mg/kg bb. Hasil uji statistik (α = 0,05) menunjukkan
bahwa esktrak etanol biji jengkol (EEBJ) dosis 600 mg/kg bb tidak memberikan
perbedaan yang nyata dengan metformin dosis 50 mg/kg bb dalam menurunkan
kadar gula darah tikus yang diinduksi aloksan.
Kata Kunci: jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.), diabetes mellitus, kadar
glukosa darah, aloksan

Universitas Sumatera Utara

THE EFFECT OF ETHANOL EXTRACT OF JENGKOL SEED
(Pithecolobium lobatum Benth.) TO DECREASE BLOOD GLUCOSE
LEVELS OF WHITE MALE WISTAR RATS INDUCED ALLOXAN
Abstract
Diabetes mellitus (DM) is one of the disease which the prevalence is
increasing from year to year. Treatment of this disease require long periods of
time and relatively expensive, therefore many people are trying to control their
blood glucose levels using natural ingredients one likes jengkol seed. The aim of
this study was to determine the phytochemical screening, characteristics of
simplicia jengkol seed and the effect of ethanol extract of jengkol seed to decrease
blood glucose levels of rat induced aloksan.
The result of phytochemical screening showed that the simplicia have
saponins, tannins, alkaloids, flavonoids, glycosides and steroids/triterpenoids. The
results of microscopic simplicia jengkol seed have hair lid looks star-shaped,
sklereid, sklerenkim fibers, and parenchyma cells. The result of the
characterization of simplicia jengkol seed moisture content 6.64%, water-soluble
extract concentration 23.63%, soluble in ethanol extract concentration 17.15%,
total ash content 1.47%, and insoluble ash content in acid 0.23%. The extraction
was done by percolation using 96% ethanol. The subject of this study using white
rats of Wistar strain were induced aloksan dose 125 mg / kg bw by intraperitoneal.
Diabetic rats were randomly divided into five treatment groups, and each 6 rats
per group. Group I was given Na-CMC 0,5% b/v, group II, III, and IV were given
ethanol extract of jengkol seed (EEJS) with a dose of 200, 400, 600 mg/kg bw,
group V was given metformin dose 50 mg/kg bw by per oral for 7 consecutive
days. Furthermore, measurement of blood glucose levels were observed and
measured with a meter Glucometer on day 4 and day 7. Test result data were
analyzed by the method of Analysis of Variance (ANAVA) followed by Duncan's
method to see the difference between treatments.
The analysis showed that administration of EEJS has effect to decrease
blood glucose levels to normal level on day 7 given extract. The average of blood
glucose levels on day 7 for EEBJ dose of 200 mg/kg bw is 152.00 mg/dl, dose of
400 mg/kg bw is 124.83 mg/dl, and dose 600 mg/kg bw is 96.00 mg/dl. EEJS
dose 600 mg/kg bw give the best effect to decrease blood glucose levels than dose
200 mg/kg bw and 400 mg/kg bw. The results of statistical tests (α = 0.05)
showed that ethanol extract of jengkol seeds (EEBJ) dose of 600 mg/kg bw did
not give a significant differences with metformin dose of 50 mg/kg bw in
lowering blood glucose levels of rats induced alloxan.
Keywords : jengkol (Pithecellobium lobatum Benth.), diabetes mellitus, blood
glucose levels, aloksan

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perubahan gaya hidup dan sosial ekonomi akibat urbanisasi dan
modernisasi terutama di masyarakat kota-kota besar di Indonesia menjadi
penyebab meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif potensial terjadi dan
tidak menutup kemungkinan akan menjadi penyebab utama kematian di
Indonesia. Beberapa jenis penyakit yang masuk dalam kelompok penyakit
degeneratif seperti diabetes mellitus, jantung koroner, hipertensi, hiperlipidemia,
dan sebagainya. Salah satu yang harus diwaspadai adalah diabetes mellitus (DM)
(Sudoyo, dkk., 2007).
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya
semakin meningkat dari tahun ke tahun dan merupakan “the great imitator”
(pemicu utama) karena penyakit ini jika tidak ditangani akan menjadi
hiperglikemia kronik pada diabetes yang menyebabkan komplikasi paling banyak
dan menimbulkan berbagai keluhan akibat adanya disfungsi atau kegagalan
beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah
(Sudoyo, dkk., 2007).
Menurut data WHO (World Health Organization), Indonesia menempati
urutan keempat terbesar dalam jumlah penderita diabetes mellitus di dunia setelah
Amerika Serikat, India, dan Cina. Jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia

Universitas Sumatera Utara

diperkirakan mengalami peningkatan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi
sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030 mendatang (Hans, 2008).
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu sindroma klinik yang ditandai adanya
poliuria, polidipsia, dan polifagia, disertai peningkatan glukosa darah atau
hiperglikemia. Pengobatan diabetes mellitus selama ini diterapi dengan pemberian
obat-obat oral antidiabetik (OAD), atau dengan suntikan insulin serta melakukan
diet karbohidrat serta olahraga teratur (Suherman, 2007). Penyakit ini
memerlukan pengobatan jangka waktu yang lama dan membutuhkan biaya yang
mahal. Oleh karena itu, banyak penderita yang berusaha mengendalikan kadar
glukosa darahnya dengan cara tradisional menggunakan bahan alam (Widowati,
dkk., 1997).
Organisasi

Kesehatan

Dunia

(WHO)

juga

telah

merekomendasi

penggunaan obat tradisional termasuk obat herbal dalam pemeliharaan kesehatan
masyarakat, pencegahan, dan pengobatan penyakit. Obat herbal juga telah
diterima secara luas di negara berkembang dan negara maju, 65 % dari penduduk
negara maju dan 80 % penduduk dari negara berkembang telah menggunakan obat
herbal. Diantara 250.000 spesies tumbuhan tingkat tinggi yang ada, hanya 6%
yang telah diteliti aktivitas biologisnya dan 15% untuk konstituen kimianya
(Heinrich, dkk., 2004). Salah satu tumbuhan yang digunakan secara empiris oleh
masyarakat untuk pengobatan diabetes yang belum dimanfaatkan secara optimal
dan belum diketahui manfaatnya secara luas yaitu tumbuhan jengkol
(Pithecellobium lobatum Benth.) (Widowati, dkk., 1997). Kandungan senyawa
kimia pada biji, kulit batang, dan daun jengkol adalah saponin, flavonoid, dan
tanin (Hutapea, 1994). Biji jengkol, terutama yang sudah tua, merupakan bagian

Universitas Sumatera Utara

tanaman yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Selain itu,
tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Jengkol
diketahui dapat mencegah diabetes dan bersifat diuretik serta baik untuk
kesehatan jantung (Roswaty, 2010). Secara tradisional ramuan buah jengkol tua
dan kulit buahnya digunakan dengan cara dikeringkan dan dibuat seperti bubuk
kopi kemudian diseduh air panas dan diminum secara rutin untuk menurunkan
glukosa darahnya. Pengujian khasiat tumbuhan jengkol dalam menurunkan kadar
glukosa darah ini secara ilmiah baru dilakukan oleh Bambang Wispiyono (1991)
menggunakan bagian kulit batang pohon jengkol (Widowati, dkk., 1997), dan oleh
Dr. Soetijoso Soemitro (1987) menggunakan kulit halus biji jengkol (Jis, dkk.,
1990), sedangkan terhadap biji jengkol belum dilakukan penelitian.
Berdasarkan informasi di atas, maka dilakukan pemeriksaan skrining
fitokimia, karakterisasi simplisia biji jengkol, dan penelitian efek ekstrak etanol
biji jengkol terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus putih galur Wistar yang
diinduksi aloksan.

1.2 Perumusan Masalah
Perumusan masalah dari uraian di atas adalah:
a. Apakah kandungan golongan senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak
etanol biji jengkol dari hasil skrining fitokimia?
b. Apakah dengan melakukan karakterisasi simplisia biji jengkol dapat
diperoleh karakteristik simplisia biji jengkol?

Universitas Sumatera Utara

c. Apakah ekstrak etanol biji jengkol mempunyai efek terhadap penurunan
kadar glukosa darah tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi
aloksan?
d. Apakah ada perbedaan yang nyata antara ekstrak etanol biji jengkol
dengan Metformin dalam memberikan efek penurunan kadar glukosa darah
tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan?

1.3 Hipotesis
Hipotesis dari perumusan masalah di atas adalah:
a. Kandungan golongan senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak etanol
biji jengkol dari hasil skrining fitokimia adalah saponin, flavonoid, dan
tanin.
b. Karakteristik simplisia biji jengkol dapat diperoleh dengan melakukan
karakterisasi simplisia biji jengkol.
c. Ekstrak etanol biji jengkol mempunyai efek terhadap penurunan kadar
glukosa darah tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi aloksan.
d. Tidak ada perbedaan yang nyata antara ekstrak etanol biji jengkol dengan
Metformin terhadap efek penurunan kadar glukosa darah tikus putih jantan
galur Wistar yang diinduksi aloksan.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian di atas adalah:
a. Untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat dalam ekstrak
etanol biji jengkol dari hasil skrining fitokimia.

Universitas Sumatera Utara

b. Untuk memperoleh hasil karakteristik simplisia biji jengkol.
c. Untuk mengetahui efek ekstrak etanol biji jengkol secara ilmiah terhadap
penurunan kadar glukosa darah.
d. Untuk membandingkan efektivitas penurunan glukosa darah dari ekstrak
etanol biji jengkol dengan Metformin.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan :
a. Dapat digunakan sebagai sumber informasi golongan senyawa kimia yang
terdapat dalam biji jengkol.
b. Karakteristik simplisia biji jengkol dapat digunakan sebagai pembanding
dalam pembuatan simplisia.
c. Meningkatkan obat tradisional menjadi obat herbal terstandar.
d. Untuk menambah daftar inventaris tanaman obat yang telah diuji
khasiatnya secara ilmiah dalam menurunkan kadar glukosa darah.

1.6 Kerangka Konsep Penelitian
Variabel Bebas

Variabel Terikat
Uji Pendahuluan
(Karakterisasi dan
Skrining Fitokimia)
Aloksan
Tikus Normal

Ekstrak Etanol
Biji Jengkol
Tikus Diabetes

Kadar
Glukosa
Darah
Tikus
(mg/dl)

Universitas Sumatera Utara

Metformin
Gambar 1.1 Skema Kerangka Konsep Penelitian

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan
Jengkol adalah tumbuhan khas di wilayah Asia Tenggara. Bijinya
digemari di Malaysia, Thailand, dan Indonesia sebagai bahan pangan. Tumbuhan
ini juga banyak ditemukan di Malaysia dan Thailand (Anonim, 2009). Namun,
asal-usul tanaman jengkol tidak diketahui dengan pasti. Di Sumatera, Jawa Barat,
dan Jawa Tengah, tumbuhan jengkol banyak ditanam di kebun atau pekarangan
secara sederhana (Roswaty, 2010).
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Sistematika tumbuhan jengkol :
Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Bangsa

: Fabales

Suku

: Mimosaceae

Marga

: Pithecellobium

Spesies

: Pithecellobium lobatum Benth (Pandey, 2003).

2.1.2 Sinonim
Sinonim dari tumbuhan jengkol, antara lain: Zygia jiringa (Jack) Kosterm.,
Pithecellobium jiringa (Jack) Prain ex King. (Hutapea, 1994)

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Nama Daerah
Nama daerah dari tumbuhan jengkol adalah jering (Gayo), joring (Batak),
jarieng (Minangkabau), jaring (Lampung), jengkol (Sunda), jengkol, jering,
jingkol (Jawa), blandingan (Bali), lubi (Sulawesi Utara) (Hutapea, 1994; Heyne,
1987)
2.1.4 Habitat dan Daerah Tumbuh
Tumbuhan ini merupakan pohon di bagian barat Nusantara, tingginya
sampai 26 m, dibudidayakan secara umum oleh penduduk di Jawa dan di
beberapa daerah tumbuh menjadi liar. Tumbuh paling baik di daerah dengan
musim kemarau yang tidak terlalu panjang (Heyne, 1987).
2.1.5 Morfologi Tumbuhan
Akar tunggang berwarna coklat kotor. batang tegak, bulat, berkayu,
banyak percabangan. Daun majemuk, anak daun berhadapan, berbentuk lonjong,
panjang 10-20 cm, lebar 5-15 cm, tepi rata, ujung runcing, pangkal membulat,
pertulangan menyirip, berwarna hijau tua. Bunga majemuk, berbentuk tandan,
terletak di ujung batang, dan ketiak daun, berwarna ungu, kelopak berbentuk
mangkok, benang sari dan putik berwarna kuning, mahkota berbentuk lonjong
berwarna putih kekuningan. Buah berbentuk bulat pipih, berwarna coklat
kehitaman. Biji berbentuk bulat pipih, berkeping dua, dan berwarna putih
kekuningan (Hutapea, 1994).
2.1.6 Kandungan Kimia
Hasil

penelitian menunjukkan bahwa tanaman jengkol banyak

mengandung zat, antara lain adalah sebagai berikut: protein, kalsium, fosfor, asam

Universitas Sumatera Utara

jengkolat, vitamin A dan B1, karbohidrat, minyak atsiri, saponin, alkaloid,
terpenoid, steroid, tanin, dan glikosida. Karena kandungan zat-zat tersebut di atas,
maka jengkol memberikan petunjuk dan peluang sebagai bahan obat, seperti yang
telah dimanfaatkan orang pada masa lalu (Pitojo, 1994). Biji, kulit batang, kulit
buah dan daun jengkol mengandung beberapa senyawa kimia, diantaranya
saponin, flavonoid dan tanin (Hutapea, 1994).
2.1.7 Khasiat Tumbuhan
Kulit buah jengkol digunakan untuk obat borok (Hutapea, 1994) dan luka
bakar (steffi, dkk., 2009). Daunnya berkhasiat sebagai obat eksim, kudis, luka dan
bisul (Hutapea, 1994), sedangkan kulit batang (Wispiyono, B., 1991) dan kulit
halus biji jengkol (Soemitro, S., 1987) sebagai penurun kadar gula darah
(Widowati, dkk., 1997 ; Jis, dkk., 1990).

2.2 Ekstraksi
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dikatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan.Simplisia tumbuhan obat merupakan bahan baku
proses pembuatan ekstrak, baik sebagai bahan obat atau produk (Ditjen
POM,2000).
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Ekstrak
adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang

Universitas Sumatera Utara

tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.
Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara
perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan secara destilasi dengan
pengurangan tekanan,agar bahan sesedikit mungkin terkena panas. Ekstrak cair
adalah sediaan dari simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai pelarut atau
sebagai pengawet (Ditjen POM,2000).
Ada beberapa cara metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000), yaitu:
dengan cara dingin (seperti : maserasi, perkolasi), dan cara panas (seperti : refluks,
sokletasi, digesti, infundasi dan dekoktasi).
1. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperatur ruangan (kamar). Remaserasi berarti melakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyarian maserat pertama,dan
seterusnya.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi
penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan.
Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi
antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan / penampungan ekstrak),
terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat).
3. Refluks

Universitas Sumatera Utara

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan
dengan adanya pendingin balik.
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik
5. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar, umumnya dilakukan
pada suhu 40-50oC.
6. Infundasi
Infundasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 96-98oC
(bejana infus tercelup dalam penagas air mendidih) selama 15-20 menit.
7. Dekoktasi
Dekoktasi adalah infus pada waktu yang lebih lama
≥ 30( menit) dan
temperatur sampai titik didih air (90-98oC)

2.3 Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik
dimana terdapat adanya gangguan dalam metabolisme lemak, karbohidrat, dan
protein akibat penurunan dalam sekresi insulin, sensitivitas insulin, atau keduanya
(Triplitt, dkk., 2008). Sindrom resistensi insulin adalah suatu kondisi dimana
terjadi penurunan sensitivitas jaringan terhadap kerja insulin sehingga terjadi

Universitas Sumatera Utara

peningkatan sekresi insulin sebagai bentuk kompensasi sel beta pankreas.
Intoleransi glukosa merupakan salah satu manifestasi sindrom metabolik yang
dapat menjadi awal suatu diabetes mellitus (Sudoyo, dkk., 2007). Diabetes
mellitus (DM) mempunyai sindroma klinik yang ditandai adanya poliuria,
polidipsia, dan polifagia, disertai peningkatan kadar glukosa darah atau
hiperglikemia (kadar glukosa puasa≥ 126 mg/dl atau postprandial ≥ 200 mg/dl
atau glukosa sewaktu ≥ 200 mg/dl) (Suherman, 2007).
2.3.1 Pankreas
Pankreas adalah suatu organ lonjong, kira-kira 15 cm, yang terletak di
belakang lambung dan sebagian di belakang hati. Dalam pankreas terdapat 4 jenis
sel endokrin, yakni:
a. sel alfa (α), yang memproduksi hormon glukagon, proglucagon, glucagonlike peptides (GLP)
b. sel-beta (β), yang memproduksi hormon insulin, C-peptide, proinsulin,
amylin, γ-aminobutyric acid (GABA)
c. sel-D (δ), yang memproduksi somatostatin
d. sel-PP (Sel-F), yang memproduksi pancreatic polypeptide (PP), yang
mungkin berperan pada penghambatan sekresi endokrin dan empedu (Tan,
dan Rahardja, 2007).
2.3.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi diabetes mellitus berdasarkan etiologinya menurut American
Diabetes Association (2005) meliputi:
1. DM tipe 1 adanya destruksi sel beta-langerhans pada pankreas, umumnya
menjurus ke defisiensi insulin absolut, akibat kelainan autoimun (antibodi

Universitas Sumatera Utara

sel islet, antibodi insulin, dan antibodi asam glutamat dekarboksilase) atau
idiopatik.
2. DM tipe 2, bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin
disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan
sekresi insulin bersama resistensi insulin.
3. DM tipe lain, akibat defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja
insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat / zat
kimia, infeksi, imunologi, sindroma genetik lain. Bentuk ini biasanya
disebabkan oleh adanya malnutrisi disertai kekurangan protein. Dulu jenis
ini disebut Diabetes Terkait Malnutrisi (MRDM), tetapi oleh karena
patogenesis jenis ini tidak jelas maka tidak lagi disebut MRDM tetapi
Diabetes Tipe Lain.
4. Diabetes Kehamilan (Diabetes Gestasional), adalah diabetes yang timbul
selama kehamilan (Sudoyo, dkk., 2007)
Tabel 2.1 Presentasi Klinis Diabetes Mellitus (Triplitt, dkk., 2008)
Karakteristik

DM Tipe 1

DM Tipe 2

Usia

< 30 tahun

> 30 tahun

Onset

tak terduga

Bertahap

Bobot tubuh

Kurus

Resistensi insulin

tidak ada

obesitas atau memiliki
riwayat obesitas
Ada

Autoantibodi

sering ada

Jarang

Gejala

Simtomatik

Asimtomatik

Diagnosis adanya keton

Ada

tidak ada

Tergantung terapi insulin

Ada

tidak ada

Komplikasi akut

diabetes ketoasidosis

Hiperglikemik
hiperosmolar
nonketosis

Universitas Sumatera Utara

Komplikasi mikrovaskular

Tidak

Ada

Komplikasi makrovaskular Jarang

Ada

2.3.3 Diagnosa Diabetes Mellitus
Diagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma
vena. Langkah-langkah untuk menegakkan diagnosis DM dan gangguan toleransi
glukosa dapat juga dilihat dari keluhan khas DM berupa poliuria, polidipsia,
polifagia, dan penurunan berat badan. Keluhan lain yang mungkin dikemukakan
pasien berupa lemah, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada
pria, serta pruritus vulvae pada pasien wanita (Sudoyo, dkk., 2007).
Menurut Triplitt, dkk., (2008), berikut kategori status glukosa darah puasa
(GDP) dan tes toleransi glukosa oral (OGTT) pada Tabel 2.2 di bawah ini:
Tabel 2.2. Kategori Status Glukosa
Kategori Status Glukosa

Glukosa Darah
Puasa (GDP)

2 jam Sesudah
Beban Glukosa
(Tes Toleransi
Glukosa Oral)

Normal

Dokumen yang terkait

Uji Efek Ekstrak Etanol Majakani (Quercus infectoria G. Olivier) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Yang Diinduksi Aloksan

0 52 100

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP KADAR LDL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG DIINDUKSI ALOKSAN

4 32 62

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus novergicus) GALUR SPRAGUE DAWLEY DIABETES YANG DIINDUKSI ALOKSAN

1 18 58

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN PENINGKATAN KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR Sprague Dawley YANG DIINDUKSI ALOKSAN

5 49 55

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL BIJI JENGKOL (Pithecellobium lobatum Benth.) TERHADAP KADAR HDL TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) JANTAN GALUR SPRAGUE DAWLEY YANG DIINDUKSI ALOKSAN.

1 10 59

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

16 68 113

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

2 8 16

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

0 0 2

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

0 5 5

Uji Efek Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica Papaya Linn.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

0 1 11