Hasil Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL) Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif

HASIL BRONKOSKOPI SERAT OPTIK LENTUR (BSOL) MENGGUNAKAN
TEKNIK BRONCHOALVEOLAR LAVAGE (BAL) PADA
TUBERKULOSIS PARU DENGAN HAPUSAN DAHAK
BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF
TESIS
Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Pendidikan Spesialisasi
Di Bidang Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara/ RSUP H. Adam Malik Medan

OLEH
ARJUNA WIJAYA

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I
DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

TESIS
PPDS DEPARTEMEN PULMONOLOGI & ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA/
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

1. Judul Penelitian

: HASIL

BRONKOSKOPI

SERAT OPTIK LENTUR

( BSOL ) MENGGUNAKAN

TEKNIK

BRONCHO-

ALVEOLAR LAVAGE (BAL) PADA TUBERKULOSIS
PARU

DENGAN

HAPUSAN DAHAK BAKTERI

TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF
2. Nama Peneliti

:

Arjuna Wijaya

3. NIP

:

19700108 200003 1 002

4. Pangkat/Golongan

: Penata TK I/IIId

5. Fakultas

: Kedokteran Universitas Sumatera Utara

6. Program Studi

:

Program Pendidikan Dokter Spesialis I Paru

7. Jangka Waktu

:

6 (enam bulan)

8. Lokasi Penelitian

:

Ruang Rawat Paru RSUP HAM dan IDT

9. Pembimbing

:

Dr. H. Zainuddin Amir Sp.P(K)
Dr. Noni N Soeroso Sp.P

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

HASIL
TEKNIK
DENGAN

BRONKOSKOPI

SERAT OPTIK

LENTUR ( BSOL )

BRONCHOALVEOLAR LAVAGE (BAL)

MENGGUNAKAN

PADA TUBERKULOSIS PARU

HAPUSAN DAHAK BAKTERI TAHAN ASAM (BTA) NEGATIF

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan
untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya
juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali
yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2011
Peneliti

ArjunaWijaya

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada :
Tanggal 20 September 2011

Panitia Penguji Tesis
Ketua

: Dr. Hj. Amira Permatasari Tarigan, Sp.P

Sekretaris

: Dr. Noni Novisari Soeroso, Sp.P

Anggota Penguji

:-

Prof. Dr. H. Luhur Soeroso, Sp.P (K)

-

Prof. Dr. H. Tamsil Syafiuddin, Sp.P (K)

-

Dr. H. Hilaluddin Sembiring, DTM & H, Sp.P (K)

-

Dr. Pantas Hasibuan , Sp.P (K)

-

Dr. Pandiaman Pandia, Sp.P (K)

-

Dr. Bintang YM. Sinaga, Sp.P

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia termasuk negara berkembang seperti
Indonesia. Berbagai upaya untuk mendiagnosis TB telah banyak dilakukan baik pemeriksan
serologi maupun kultur untuk mencari M. tuberculosis. Pemeriksaan hapusan dahak (sputum)
spontan merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosisTB paru, tetapi dengan sensitifitas ±
84%, terkadang pemeriksaan dahak spontan tidak menemukan kuman Bakteri Tahan Asam (BTA)
yang ada pada M. tuberculosis. Di Poli DOTS TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan pada tahun 2009, dari 385 kasus TB paru baru dijumpai 54 (14,1%) penderita TB paru
BTA negatif (–)
Tujuan penelitian ini ialah untuk meningkatkan kemampuan diagnostik penderita TB paru
BTA negatif dengan mendapatkan kuman BTA dari hapusan spesimen yang didapat melalui
bronkoskopi dengan teknik bronchoalveolar lavage (BAL) .Penelitian bersifat deskriptif
observasional dilakukan di Instalasi Diagnostik Terpadu di RSUP. H. Adam Malik Medan dan
SMF/ Departemen Mikrobiologi Klinik RSUP. H. Adam Malik Medan dari April 2010 sampai
dengan November 2010. Didapatkan 26 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. dengan jumlah
penderita pria yang ditemukan lebih banyak (pria 65.4%, wanita 34.6%). Kebanyakan penderita
berada pada kelompok usia 46-55 tahun dan dengan pendidikan menengah. Keluhan respirasi
yang terbanyak adalah batuk darah pada 9 peserta penelitian ini ( 34.6% ) dan hanya 1 peserta
yang mengeluhkan sesak nafas ( 3.8% ).
Kelainan radiologis yang terbanyak berupa gambaran bercak mengawan (infiltrat/ nodular)
+ lymphadenopaty pada 8 peserta (30.8%). Diagnosis awal sebagai suspek TB paru 22 orang
(84.6%) dan efusi pleura pada 3 orang (11.5%) dan 1 peserta dengan pyopneumotoraks (3.8% ).
Lokasi pengambilan sampel paling banyak dilakukan di lobus atas kanan pada 12 penderita
(46.2%) .
Dari 26 orang peserta penelitian dijumpai hasil hapusan BTA dari bronchoalveolar lavage
(BAL) tetap negatif pada 21 orang (80.8%) dan positif adalah 5 orang (19.2%) dengan gradasi
BTA positif 1 Pada lima orang ini hanya 1 peserta didapati gambaran lumen dengan jumlah sekret
yang produktif, sedang yang lain tidak disertai dengan sekret yang produktif.
Didapatkan 10 orang (38.5%) dengan gambaran hiperemis pada lumen bronkus dan
gambaran normal bronkus pada 8 orang (30.8%). Dijumpai pada 1 orang penderita dengan massa
di 1/3 proksimal trakea pada dinding posterior disertai stenosis edematous dengan mukosa
hiperemis pada lobus bawah paru kanan.
Dari hasil yang didapat, menunjukkan perlunya tindakan BAL pada kasus yang disangka TB
paru yang hasil pemeriksaan BTA nya negatif asal sesuai dengan prosedur/guidline dan dibenarkan
dari segi akademis sehingga dari penelitian ini didapatkan diagnosa defenitif
Kata kunci: TB paru BTA negatif, Diagnosis, Bronkoskopi, Bronchoalveolar lavage

Universitas Sumatera Utara

CURICULUM VITAE DAN PENDIDIKAN

IDENTITAS
Nama
Tempat/Tgl. Lahir
Agama
Pekerjaan

:
:
:
:

NIP
Alamat

dr. Arjuna Wijaya
Medan, 8 Januari 1970
Kristen Protestan
Pegawai Negeri /PPDS Pulmonologi dan Ilmu Respirasi FKUSU
: 19700108 200003 1 002
: Jl. Setia Budi Pasar I no 65A Tanjung Sari Medan

KELUARGA
Isteri
Anak

: dr. Herna Hutasoit Sp.M
: Simon Hadi Bangun

RIWAYAT PENDIDIKAN
SD Negeri 060891
Kota : Medan
SMP Negeri 8
Kota : Medan
SMA Negeri 1
Kota : Medan
FK-USU
Kota : Medan

Tamat Tahun
Tamat Tahun
Tamat Tahun
Tamat Tahun

: 1982
: 1985
: 1988
: 1995

RIWAYAT PEKERJAAN
1. Dokter PTT Puskesmas Simundol Kecamatan Dolok Tapanuli Selatan 1996-1997
2. Dokter PTT Puskesmas Batang Pane II Kecamatan Halongonan Tapsel 1997-1999
3. Dokter PNS Puskesmas Munte Kecamatan Munte Kabupaten Karo
2000-2002
4. PPDS Pulmonologi dan Ilmu Respirasi FK-USU RS HAM
2003-sekarang
KEGIATAN ORGANISASI
1. Anggota IDI Cabang Karo, tahun 2000 s/d sekarang
2. Anggota muda Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Medan, tahun 2003 s/d
sekarang
PARTISIPASI DALAM KEGIATAN ILMIAH :
1. Peserta KONKER PDPI VII di Padang Sumatera Barat tahun 2004
2. Peserta RESPINA di Jakarta tahun 2004
3. Peserta KONAS VIII di Solo Jawa Tengah tahun 2005
4. Oral prensentasi/Peserta KONKER X PDPI di Denpasar Bali tahun 2007
5. Peserta Konas XIPDPI di Bandung tahun 2008
6. Peserta PIK XII PDPI di Yogyakarta tahun 2009
7. Peserta Workshop of Interventional Bronchoschopy di Padang Panjang tahun 2009
8. Peserta Medan Respiratory Care Meeting Anually (MERCY) I di Medan tahun 2010

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur dan terima kasih penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
sebab berkat rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul “ Hasil
Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) Menggunakan Teknik Bronchoalveolar Lavage (BAL)
Pada Tuberkulosis Paru Dengan Hapusan Dahak Bakteri Tahan Asam (BTA) Negatif “ yang
merupakan persyaratan akhir pendidikan keahlian di Departemen Ilmu Penyakit Paru dan
Kedokteran Respirasi Universitas Sumatera Utara/ RSUP.H.Adam Malik Medan.

Keberhasilan penulis dalam menyelesaikan penelitian ini tidak terlepas dari bantuan,
bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak baik guru-guru yang penulis hormati, teman
sejawat asisten Departemen Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran respirasi FK USU, paramedis dan
nonmedis serta dorongan dari pihak keluarga. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan
penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Prof.Dr.H.Luhur Soeroso SpP(K) sebagai ketua Departemen Ilmu Penyakit Paru dan
Kedokteran Respirasi FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan, yang dengan penuh
kesabaran dan tiada henti-hentinya memberikan bimbingan ilmu pengetahuan, senantiasa
menanamkan disiplin, ketelitian dan perilaku yang baik serta pola berpikir dan bertindak ilmiah,
yang mana hal tersebut sangat berguna bagi penulis untuk masa yang akan datang. Terima kasih
juga dalam hal membantu penulis dalam pelaksanaan pemeriksaan bronkoskopi pada pasien yang
menjadi peserta penelitian ini.
i

Universitas Sumatera Utara

Dr.Pantas Hasibuan SpP(K) sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Penyakit Paru dan
Kedoktern Respirasi FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan, yang dengan penuh
kesabaran telah banyak memberikan bimbingan dan nasihat selama penulis menjalani Program
Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK USU/ SMF Paru RSUP.H.Adam Malik Medan.

Dr.H.Zainuddin Amir SpP(K) / Ketua TKP PPDS FK USU yang senantiasa tiada jemunya
berupaya menanamkan disiplin, ketelitian, berpikir dan berwawasan ilmiah serta dan sebagai
pembimbing penulis yang dengan penuh kesabaran banyak memberikan bimbingan, motivasi,
saran serta nasehat yang bermanfaat dalam penyempurnaan penulisan tesis ini sehingga penulis
dapat menyelesaikan tesis ini

Dr. Amira Permata Sari Sp.P, sebagai Pelaksana Ketua Program Studi Ilmu Penyakit Paru
dan Kedokteran Respirasi yang

banyak memberikan motivasi , nasehat dan masukan

selama

penulis menjalani pendidikan

Dr. Noni N Soeroso SpP

sebagai sekretaris Program Studi Ilmu Penyakit Paru dan

Kedokteran Respirasi yang telah banyak memberikan bantuan, masukan dan pengarahan selama
penulis menjalani pendidikan, begitu juga membantu penulis dalam pelaksanaan pemeriksaan
bronkoskopi pada pasien yang menjadi peserta penelitian ini.

Prof.Dr.Tamsil Syafiuddin SpP(K) sebagai Koordinator penelitian ilmiah Ilmu Penyakit
Paru dan Kedokteran Respirasi dan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia cabang Sumatera

ii

Universitas Sumatera Utara

Utara yang telah banyak memberikan dorongan, bimbingan, pengarahan dan masukan dalam
rangka penyusunan dan penyempurnaan tulisan ini.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada Dr. Hilaluddin
Sembiring, DTM&H, SpP(K),

yang dengan penuh kesabaran

memberikan bimbingan,

pengarahan, motivasi, saran serta nasehat yang bermanfaat selama penulis menjalani pendidikan
ini.

Prof.Dr.RS Parhusip SpP(K), (alm) Dr.Sumarli SpP(K), (alm) Dr.Sugito SpP(K), yang
telah banyak memberikan bimbingan, nasihat, ilmu pengetahuan dan pengalaman klinis beliau
selama mengabdi pada Departemen Ilmu Penyakit paru yang sangat berguna untuk penulis selama
menjalani pendidikan ini.

Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr.Widi Rahardjo
SpP(K), Dr.P.S.Pandia SpP(K) Dr.Fajrinur Syarani SpP(K), Dr.Usman SpP, Dr.Parluhutan Siagian
SpP, Dr. Amira Permata Sari Sp.P, Dr. Bintang Y Sinaga, SpP, Dr.Setia Putra SpP, Dr. Ucok
Martin SpP, Dr. Netty Yosefhin Damanik Sp.P , yang telah banyak memberikan bantuan, masukan
dan pengarahan selama penulis menjalani pendidikan.

Drs.Abdul Jalil sebagai pembimbing statistik yang banyak memberikan bantuan, dukungan
serta membuka wawasan penulis dalam bidang statistik.

iii

Universitas Sumatera Utara

Izinkanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada Dekan Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara, Direktur RSUP.H.Adam Malik Medan, Direktur RS Materna,
Kepala Departemen

Kardiologi RSUP. H.Adam Malik Medan, Kepala Departemen Patologi

Anatomi FK USU, Kepala Departemen Mikrobiologi FK USU yang telah memberikan kesempatan
dan bimbingan kepada penulis selama menjalani pendidikan ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman sejawat peserta Program Pendidikan
Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Paru dan Kedokteran Respirasi FK USU, pegawai tata usaha,
perawat/petugas poliklinik, ruang bronkoskopi, ruang rawat inap bagian paru, instalasi perawatan
intensif, unit gawat darurat RSUP. H.Adam Malik Medan, perawat/ petugas di RS Tembakau Deli
Medan, RSU Dr. Pirngadi Medan, BP4 Medan, RSU Materna Medan yang telah bekerja sama dan
membantu penulis selama bertugas menjalani pendidikan ini.

Dengan rasa hormat dan terima kasih yang tiada terbalas penulis sampaikan kepada
Ayahanda (alm) Drs. Hidup Bangun dan Ibunda (almh) Maria Sitepu yang telah membesarkan,
mendidik dan memberi semangat sehingga akhirnya penulis dapat mengikuti pendidikan ini.

Rasa hormat dan terima kasih terhadap mertua penulis Bapak Alfred Hutasoit SH. Sp.N
dan Ibu Dameria Silaban yang banyak memberikan bantuan, dukungan semangat dan doa selama
penulis menjalani pendidikan ini. Rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada abang, kakak,
adik dan ipar penulis. Demikian juga dengan istriku tercinta Dr. Herna Hutasoit Sp.M dan anakku
tersayang Simon Hadi Bangun yang selalu setia dalam suka dan duka, penuh pengertian, kesabaran
dan pengorbanannya kepada penulis selama menjalani pendidikan. Tiada kata yang dapat
iv
Universitas Sumatera Utara

diucapkan selain ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan atas segala kesetiaan maupun
dukungan kalian selama ini.

Akhirnya pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan permohonan maaf
yang sebesar-besarnya atas segala kekurangan, kekhilafan dan kesalahan yang diperbuat selama
ini. Semoga ilmu, keterampilan dan pembinaan kepribadian yang penulis dapatkan selama ini
dapat bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa dan mendapat restu dari Tuhan Yang Maha Esa.

Medan, September 2011
Penulis

Arjuna Wijaya

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar

................................................................................................

i

Daftar Isi ............................................................................................................

vi

Daftar Tabel ......................................................................................................

ix

Daftar Gambar ...................................................................................................

x

Daftar Singkatan ...............................................................................................

xi

BAB 1 PENDAHULUAN ...........................................................................

1

1.1 Latar Belakang ...........................................................................

1

1.2 Rumusan Masalah ......................................................................

4

1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................

4

1.4 Manfaat Penelitian .....................................................................

4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................

6

2.1 Definisi TB Paru ........................................................................

6

2.2 Epidemiologi TB Paru ...............................................................

6

2.3 Mycobacterium Tuberkulosis .....................................................

7

2.4 Diagnosis TB Paru .....................................................................

7

2.5 Pemeriksaan Penunjang ………….. ……………………………

8

2.5.1 Pemeriksaan Bakteriologis .................................................

8

2.5.2 Pemeriksaan Radiologis ......................................................

9

2.5.3 Pemeriksaan Khusus ...........................................................

10

2.5.4 Pemeriksaan Penunjang lain ..............................................

11

vi
Universitas Sumatera Utara

2.6

Klasifikasi Tb Paru Berdasarkan Hasil
Pemeriksaan Dahak (BTA) ......................................................................

11

2.7

Bronkoskopi ..........................................................................................

14

2.8

Kerangka Konsep .................................................................................

20

BAB 3 METODE PENELITIAN ......................................................................21
3.1 Desain Penelitian .....................................................................

21

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .....................................................

21

3.3 Populasi dan Sampel ................................................................

21

3.4 Perkiraan Besar Sampel ..........................................................

21

3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ....................................................

22

3.6 Cara Kerja ................................................................................

23

3.6.1. Kerangka Operasional ..................................................

25

3.7. Identifikasi Variabel .................................................................... 26
3.8 Defenisi Operasional ................................................................

26

3.8.1 TB Paru ..........................................................................

26

3.8.2 Bronkoskopi ....................................................................

26

3.8.3 Bronchoalveolar Lavage ...............................................

26

3.8.4 Pengecatan /DS cairan BAL ...........................................

27

3.8.5 Batang Tahan Asam .......................................................

27

3.9.

Bahan dan Alat .......................................................................

28

3.10

Manajemen dan Analisis Data

28

............................................

vii
Universitas Sumatera Utara

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................29
4.1 Karakteristik Peserta Penelitian .................................................

29

4.2 Profil Keluhan Respirasi ...........................................................

31

4.3 Profil Kelainan Radiologis ........................................................

31

4.4

Profil diagnosis awal peserta penelitian.....................................

32

4.5

Lokasi Sampel .........................................................................

33

4.6

Profil Hapusan Batang Tahan Asam (BTA) dari
Bronchoaleolar Lavage (BAL) .............................................

33

4.7 Profil Gambaran Yang Tampak Dari Bronkoskopi .................

34

4.7 Pembahasan

35

............................................................................

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................42
5.1 Kesimpulan ................................................................................

42

5.2 Saran ..........................................................................................

42

Daftar Pustaka ................................................................................................

43

Lampiran :










Persetujuan Komite Etika Penelitian Bidang Kesehatan
Lembar Informasi dan Penjelasan Kepada Subjek Penelitian
Lembar Persetujuan Penderita
Status Penelitian
Rekapitulasi Data Penelitian

viii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 :

Jumlah Kasus Baru TB Paru di Poli DOTS TB Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

Tabel 2 : `

................................................ 2

Perbandingan Gambaran Radiologi dengan pemeriksaan
mikrobiologi sputum pada penderita dengan dugaan TB
di Bangalore India .................................................................................. 10

Tabel 4.1 .

Karakteristik peserta penelitian berdasarkan jenis
kelamin ................................................................................................... 29

Tabel 4.2.

Karakteristik peserta penelitian berdasarkan umur ............................... 30

Tabel 4.3.

Karakteristik peserta penelitian berdasarkan
tingkat pendidikan ................................................................................ 30

Tabel 4.4.

Karakteristik peserta penelitian berdasarkan pekerjaan ......................... 30

Tabel 4.5.

Profil Keluhan Utama

Tabel 4.6.

Profil Foto toraks

Tabel 4.7.

Profil Diagnosis Awal ............................................................................. 32

Tabel 4.8.

Lokasi pengambilan sampel ...................................................................... 33

Tabel 4.9.

Profil Hapusan Batang Tahan Asam (BTA) dari

........................................................................... 31
......................................................................... 32

Bronchoaleolar Lavage (BAL) ............................................................... 34
Tabel 4.10. Profil Gambaran Hasil Bronkoskopi ........................................................ 34
Tabel 4.11. Profil Gambaran Hasil Bronkoskopi dengan BTA ................................... 35

ix

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Bronkoskop Serat Optik Lentur (BSOL) …………………...…...…

15

Gambar 2. Contoh sampel BAL………………………………………….………. 17

x
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISTILAH
BSOL

: Bronkoskopi Serat Optik Lentur

BAL

: Bronchoalveolar lavage

HIV

: Human immunodeficiency virus

BTA

: Bakteri Tahan Asam

DOTS

: Directly observed of treatment shortcourse

FOB

: Fiber optic bronchoscopy

TB

: Tuberkulosis

WHO

: World health organization

MTB

: Mycobacteriumtuberculosis

SPS

: Sewaktu pagi sewaktu

OAT

: Obat anti tuberkulosis

PA

: Postero anterior

PCR

: Polymerase chain reaction

ICT

: Imuno chromatography assay

DNA

: Deoxy ribonucleic acid

IUATLD

: International union against tuberculosis

EKG

: Elektrokardiografi

AGDA

: Analisa gas darah arteri

ICU

: Intensive care unit

LAKA

: Lobus Atas Kanan

LAKI

: Lobus Atas Kiri

LMKA

: Lobus Medius Kanan

LBKA

: Lobus Bawah Kanan

xi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Tuberkulosis (TB) masih merupakan masalah di dunia termasuk negara berkembang seperti
Indonesia. Berbagai upaya untuk mendiagnosis TB telah banyak dilakukan baik pemeriksan
serologi maupun kultur untuk mencari M. tuberculosis. Pemeriksaan hapusan dahak (sputum)
spontan merupakan pemeriksaan standar untuk mendiagnosisTB paru, tetapi dengan sensitifitas ±
84%, terkadang pemeriksaan dahak spontan tidak menemukan kuman Bakteri Tahan Asam (BTA)
yang ada pada M. tuberculosis. Di Poli DOTS TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan pada tahun 2009, dari 385 kasus TB paru baru dijumpai 54 (14,1%) penderita TB paru
BTA negatif (–)
Tujuan penelitian ini ialah untuk meningkatkan kemampuan diagnostik penderita TB paru
BTA negatif dengan mendapatkan kuman BTA dari hapusan spesimen yang didapat melalui
bronkoskopi dengan teknik bronchoalveolar lavage (BAL) .Penelitian bersifat deskriptif
observasional dilakukan di Instalasi Diagnostik Terpadu di RSUP. H. Adam Malik Medan dan
SMF/ Departemen Mikrobiologi Klinik RSUP. H. Adam Malik Medan dari April 2010 sampai
dengan November 2010. Didapatkan 26 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. dengan jumlah
penderita pria yang ditemukan lebih banyak (pria 65.4%, wanita 34.6%). Kebanyakan penderita
berada pada kelompok usia 46-55 tahun dan dengan pendidikan menengah. Keluhan respirasi
yang terbanyak adalah batuk darah pada 9 peserta penelitian ini ( 34.6% ) dan hanya 1 peserta
yang mengeluhkan sesak nafas ( 3.8% ).
Kelainan radiologis yang terbanyak berupa gambaran bercak mengawan (infiltrat/ nodular)
+ lymphadenopaty pada 8 peserta (30.8%). Diagnosis awal sebagai suspek TB paru 22 orang
(84.6%) dan efusi pleura pada 3 orang (11.5%) dan 1 peserta dengan pyopneumotoraks (3.8% ).
Lokasi pengambilan sampel paling banyak dilakukan di lobus atas kanan pada 12 penderita
(46.2%) .
Dari 26 orang peserta penelitian dijumpai hasil hapusan BTA dari bronchoalveolar lavage
(BAL) tetap negatif pada 21 orang (80.8%) dan positif adalah 5 orang (19.2%) dengan gradasi
BTA positif 1 Pada lima orang ini hanya 1 peserta didapati gambaran lumen dengan jumlah sekret
yang produktif, sedang yang lain tidak disertai dengan sekret yang produktif.
Didapatkan 10 orang (38.5%) dengan gambaran hiperemis pada lumen bronkus dan
gambaran normal bronkus pada 8 orang (30.8%). Dijumpai pada 1 orang penderita dengan massa
di 1/3 proksimal trakea pada dinding posterior disertai stenosis edematous dengan mukosa
hiperemis pada lobus bawah paru kanan.
Dari hasil yang didapat, menunjukkan perlunya tindakan BAL pada kasus yang disangka TB
paru yang hasil pemeriksaan BTA nya negatif asal sesuai dengan prosedur/guidline dan dibenarkan
dari segi akademis sehingga dari penelitian ini didapatkan diagnosa defenitif
Kata kunci: TB paru BTA negatif, Diagnosis, Bronkoskopi, Bronchoalveolar lavage

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Penemuan Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882 oleh Robert Koch
merupakan suatu momen yang sangat penting dalam penemuan dan pengendalian
penyakit tuberkulosis, walaupun penyakit ini sudah dikenal sejak 8000 tahun sebelum
tahun Masehi. Penemuan ini jelas merupakan pilar yang amat penting yang mengubah
perjalanan kehidupan dan dunia kesehatan selanjutnya. 1
Saat ini sekitar 16 juta orang menunjukkan TB aktif, 8 juta orang merupakan
kasus baru, diperkirakan 3 – 4 juta orang infeksius karena hapusan dahaknya positif.
Setiap tahun 1,5 – 2 juta orang meninggal

karena TB di seluruh dunia dan

diperkirakan kematian karena TB terjadi setiap menit. Indonesia berada pada tempat
ketiga terbesar jumlah penderita TB di dunia setelah India dan Cina dimana dijumpai
262.000 kasus baru dan sekitar 140.000 kematian karena TB setiap tahunnya. 2,3
Penyebab peningkatan TB paru di seluruh dunia adalah ketidakpatuhan terhadap
program pengobatan, diagnosis, dan pengobatan yang tidak adekuat, migrasi, infeksi
human immunodeficiency virus (HIV). Di Indonesia sebagian besar kasus TB paru
tidak ditemukan secara keseluruhan dan dari kasus yang ditemukan tersebut,hanya
sebagian kasus TB paru yang dijumpai basil tahan asam (BTA) 3,4
Dari data yang dilaporkan di Poli DOTS TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan pada tahun 2009, didapatkan 385 kasus TB paru baru dengan
rincian penderita dengan BTA positif (+) atau BTA negatif(-) , yang dapat dilihat
pada tabel di bawah ini. 5

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1 : Jumlah Kasus Baru TB Paru di Poli DOTS TB Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2009

No

TRI
WULAN

TB PARU
BTA (+) BARU
P
26

T
71

BTA NEGATIF
TOTAL
FOTO TORAKS
(+)
L
P
T
L
P
11
3
14
56
29

1

I

L
45

T
85

2

II

52

31

83

7

5

12

59

36

95

3

III

50

24

74

6

9

15

56

33

89

4

IV

77

26

103

7

6

13

84

32

116

224

107

331

31

23

54

225

130

385

TOTAL
85.9%

14.1%

100 %

Presentase BTA negatif (–) dari seluruh penderita TB paru baru yang datang ke
poli DOTS TB RSUP Haji Adam Malik Medan adalah 14.1%
Untuk mendiagnosis TB paru bisa ditentukan berdasarkan gejala klinis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologis, radiologis dan pemeriksaan penunjang
lainnya. Dinegara-negara yang berkembang, seperti Indonesia, biasanya untuk
menegakkan diagnosis TB paru berdasarkan hasil pemeriksaan dahak spontan.
Pemeriksaan dengan cara ini, hanya bisa mendeteksi 50%-70% kasus TB paru. Dahak
yang dikumpulkan pada pagi hari setelah bangun tidur adalah bahan spesimen
pemeriksaan yang terbaik. Dan untuk mendapatkan hasil yang baik dibutuhkan
minimal 3 kali pemeriksaan pada hari yang berlainan. 6,7,8

Universitas Sumatera Utara

Untuk mendiagnosis TB aktif sebaiknya melalui uji diagnostik yang sesuai
dengan kriteria yang dianjurkan WHO, yakni simplicity and reproducibility
(sederhana dan dapat diulang kembali setiap saat), speed (cepat dalam hitungan hari),
low cost (tidak mahal), high specificity (spesifisitas tinggi), the ability to delimit
contagious (kemungkinan penularan kecil), dan dapat memberikan data tentang
kepekaan obat yang tersedia. Hingga sekarang belum ada pemeriksaan yang dapat
memenuhi kriteria dimaksud. Pemeriksaan dahak spontan pada yang diduga penderita
TB mempunyai sensitifitas yang rendah,. 7,8,9
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan mikroskopis yang positif, yaitu dapat
dilihat kuman BTA dibawah mikroskop, dibutuhkan jumlah kuman mikrobakterium
yang banyak pada setiap sputum yang akan diperiksa, yaitu sekitar 5000-10000
kuman pada setiap mililiter dahak. 9,10,11
Setelah pemeriksaan hapusan dahak 3 kali tidak dijumpai kuman BTA, langkah
selanjutnya untuk menegakkan diagnosis bisa dengan melakukan pemeriksaan
bronkoskopi, dimana dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti bilasan bronkus
(washing), bronkoalveolar lavage (BAL) sikatan bronkus (brushing) dan lainnya
untuk mendapatkan bahan pemeriksaan BTA. 7,9, 12
Penelitian yang dilakukan Danek dan Brower

yang meneliti 41 penderita

dengan hasil dahak BTA negatif, tetapi kultur dahak positif mycobacterium TB,
dijumpai 14 orang (34%) hapusan BTA positif dari bilasan (washing) bronkoskopi,
sedangkan kultur positif ditemukan pada 39 (95%) penderita. Hasil kultur dari
spesimen dahak setelah bronkoskopi dijumpai positif terhadap 5 penderita yang
pemeriksaan hapusan dahak hasilnya negatif. 13
Parwitasari Ririek dkk di RS. Dr. Soetomo Surabaya (2007)

melakukan

pemeriksaan bronkoskopi pada 21 orang yang telah diperiksa hapusan dahak dengan

Universitas Sumatera Utara

hasil BTA negatif, dijumpai 8 orang (38%) yang hasil hapusan cairan BAL dijumpai
kuman BTA positif. 14
Di Indonesia masih sedikit penelitian tentang peran bronkoskopi serat optik
lentur (BSOL) menggunakan teknik bronchoalveolar lavage (BAL) mendiagnosis
penderita TB paru dengan

hapusan dahak BTA negatif, sehingga peneliti ingin

mengetahui peranan bronkoskopi serat optik lentur (BSOL) menggunakan teknik
bronchoalveolar lavage (BAL) mendiagnosis penderita TB paru dengan hapusan
dahak BTA negatif di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

1.2 Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapatlah dirumuskan permasalahannya
: Seberapa besar peran tindakan bronkoskopi dengan teknik BAL

menegakkan

diagnosis TB pada penderita TB paru dengan BTA negatif pada pasien-pasien yang
diperiksa di RSUP. H. Adam Malik Medan

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan kemampuan diagnostik penderita TB paru BTA negatif
dengan mendapatkan kuman BTA dari hapusan spesimen yang didapat melalui
bronkoskopi dengan teknik BAL

1.4 Manfaat Penelitian
Dengan melakukan bronkoskopi menggunakan teknik BAL pada penderita TB
paru dengan BTA negatif di pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas alat
bronkoskop, seperti RSUP H. Adam Malik Medan, maka Departemen Pulmonologi
FK USU /RSUP H. Adam Malik Medan dapat menjadi tempat

rujukan untuk

Universitas Sumatera Utara

menegakkan diagnosis pada penderita dengan kecurigaan TB paru, dan dengan
ditemukan kuman BTA positif pada cairan BAL, maka diagnosis, pengobatan dan
program pemberantasan TB dapat dilakukan lebih baik.

Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Penemuan Mycobacterium tuberculosis pada tahun 1882 oleh Robert Koch
merupakan suatu momen yang sangat penting dalam penemuan dan pengendalian
penyakit tuberkulosis, walaupun penyakit ini sudah dikenal sejak 8000 tahun sebelum
tahun Masehi. Penemuan ini jelas merupakan pilar yang amat penting yang mengubah
perjalanan kehidupan dan dunia kesehatan selanjutnya. 1
Saat ini sekitar 16 juta orang menunjukkan TB aktif, 8 juta orang merupakan
kasus baru, diperkirakan 3 – 4 juta orang infeksius karena hapusan dahaknya positif.
Setiap tahun 1,5 – 2 juta orang meninggal

karena TB di seluruh dunia dan

diperkirakan kematian karena TB terjadi setiap menit. Indonesia berada pada tempat
ketiga terbesar jumlah penderita TB di dunia setelah India dan Cina dimana dijumpai
262.000 kasus baru dan sekitar 140.000 kematian karena TB setiap tahunnya. 2,3
Penyebab peningkatan TB paru di seluruh dunia adalah ketidakpatuhan terhadap
program pengobatan, diagnosis, dan pengobatan yang tidak adekuat, migrasi, infeksi
human immunodeficiency virus (HIV). Di Indonesia sebagian besar kasus TB paru
tidak ditemukan secara keseluruhan dan dari kasus yang ditemukan tersebut,hanya
sebagian kasus TB paru yang dijumpai basil tahan asam (BTA) 3,4
Dari data yang dilaporkan di Poli DOTS TB di Rumah Sakit Umum Pusat Haji
Adam Malik Medan pada tahun 2009, didapatkan 385 kasus TB paru baru dengan
rincian penderita dengan BTA positif (+) atau BTA negatif(-) , yang dapat dilihat
pada tabel di bawah ini. 5

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1 : Jumlah Kasus Baru TB Paru di Poli DOTS TB Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2009

No

TRI
WULAN

TB PARU
BTA (+) BARU
P
26

T
71

BTA NEGATIF
TOTAL
FOTO TORAKS
(+)
L
P
T
L
P
11
3
14
56
29

1

I

L
45

T
85

2

II

52

31

83

7

5

12

59

36

95

3

III

50

24

74

6

9

15

56

33

89

4

IV

77

26

103

7

6

13

84

32

116

224

107

331

31

23

54

225

130

385

TOTAL
85.9%

14.1%

100 %

Presentase BTA negatif (–) dari seluruh penderita TB paru baru yang datang ke
poli DOTS TB RSUP Haji Adam Malik Medan adalah 14.1%
Untuk mendiagnosis TB paru bisa ditentukan berdasarkan gejala klinis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan bakteriologis, radiologis dan pemeriksaan penunjang
lainnya. Dinegara-negara yang berkembang, seperti Indonesia, biasanya untuk
menegakkan diagnosis TB paru berdasarkan hasil pemeriksaan dahak spontan.
Pemeriksaan dengan cara ini, hanya bisa mendeteksi 50%-70% kasus TB paru. Dahak
yang dikumpulkan pada pagi hari setelah bangun tidur adalah bahan spesimen
pemeriksaan yang terbaik. Dan untuk mendapatkan hasil yang baik dibutuhkan
minimal 3 kali pemeriksaan pada hari yang berlainan. 6,7,8

Universitas Sumatera Utara

Untuk mendiagnosis TB aktif sebaiknya melalui uji diagnostik yang sesuai
dengan kriteria yang dianjurkan WHO, yakni simplicity and reproducibility
(sederhana dan dapat diulang kembali setiap saat), speed (cepat dalam hitungan hari),
low cost (tidak mahal), high specificity (spesifisitas tinggi), the ability to delimit
contagious (kemungkinan penularan kecil), dan dapat memberikan data tentang
kepekaan obat yang tersedia. Hingga sekarang belum ada pemeriksaan yang dapat
memenuhi kriteria dimaksud. Pemeriksaan dahak spontan pada yang diduga penderita
TB mempunyai sensitifitas yang rendah,. 7,8,9
Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan mikroskopis yang positif, yaitu dapat
dilihat kuman BTA dibawah mikroskop, dibutuhkan jumlah kuman mikrobakterium
yang banyak pada setiap sputum yang akan diperiksa, yaitu sekitar 5000-10000
kuman pada setiap mililiter dahak. 9,10,11
Setelah pemeriksaan hapusan dahak 3 kali tidak dijumpai kuman BTA, langkah
selanjutnya untuk menegakkan diagnosis bisa dengan melakukan pemeriksaan
bronkoskopi, dimana dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti bilasan bronkus
(washing), bronkoalveolar lavage (BAL) sikatan bronkus (brushing) dan lainnya
untuk mendapatkan bahan pemeriksaan BTA. 7,9, 12
Penelitian yang dilakukan Danek dan Brower

yang meneliti 41 penderita

dengan hasil dahak BTA negatif, tetapi kultur dahak positif mycobacterium TB,
dijumpai 14 orang (34%) hapusan BTA positif dari bilasan (washing) bronkoskopi,
sedangkan kultur positif ditemukan pada 39 (95%) penderita. Hasil kultur dari
spesimen dahak setelah bronkoskopi dijumpai positif terhadap 5 penderita yang
pemeriksaan hapusan dahak hasilnya negatif. 13
Parwitasari Ririek dkk di RS. Dr. Soetomo Surabaya (2007)

melakukan

pemeriksaan bronkoskopi pada 21 orang yang telah diperiksa hapusan dahak dengan

Universitas Sumatera Utara

hasil BTA negatif, dijumpai 8 orang (38%) yang hasil hapusan cairan BAL dijumpai
kuman BTA positif. 14
Di Indonesia masih sedikit penelitian tentang peran bronkoskopi serat optik
lentur (BSOL) menggunakan teknik bronchoalveolar lavage (BAL) mendiagnosis
penderita TB paru dengan

hapusan dahak BTA negatif, sehingga peneliti ingin

mengetahui peranan bronkoskopi serat optik lentur (BSOL) menggunakan teknik
bronchoalveolar lavage (BAL) mendiagnosis penderita TB paru dengan hapusan
dahak BTA negatif di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

1.2 Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian latar belakang maka dapatlah dirumuskan permasalahannya
: Seberapa besar peran tindakan bronkoskopi dengan teknik BAL

menegakkan

diagnosis TB pada penderita TB paru dengan BTA negatif pada pasien-pasien yang
diperiksa di RSUP. H. Adam Malik Medan

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk meningkatkan kemampuan diagnostik penderita TB paru BTA negatif
dengan mendapatkan kuman BTA dari hapusan spesimen yang didapat melalui
bronkoskopi dengan teknik BAL

1.4 Manfaat Penelitian
Dengan melakukan bronkoskopi menggunakan teknik BAL pada penderita TB
paru dengan BTA negatif di pelayanan kesehatan yang mempunyai fasilitas alat
bronkoskop, seperti RSUP H. Adam Malik Medan, maka Departemen Pulmonologi
FK USU /RSUP H. Adam Malik Medan dapat menjadi tempat

rujukan untuk

Universitas Sumatera Utara

menegakkan diagnosis pada penderita dengan kecurigaan TB paru, dan dengan
ditemukan kuman BTA positif pada cairan BAL, maka diagnosis, pengobatan dan
program pemberantasan TB dapat dilakukan lebih baik.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI TB PARU
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. 9

2.2. EPIDEMIOLOGI TB PARU
WHO menyatakan bahwa dari sekitar 1,9 milyar manusia, sepertiga penduduk
dunia ini telah terinfeksi oleh kuman tuberkulosis. Pada tahun 1993 WHO juga
menyatakan bahwa TB sebagai reemerging disease. Angka penderita TB paru di
negara berkembang cukup tinggi, di Asia jumlah penderita TB paru berkisar 110
orang penderita baru per 100.000 penduduk.9,11,15
Hasil survey prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa angka
prevalensi TB BTA positif secara nasional 110 per 100.000 penduduk. Secara
regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah,
yaitu: 1. wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk, 2.
wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk, 3.
wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk.
Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000
penduduk. Berdasar pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan
insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya. 9

Universitas Sumatera Utara

2.3 Mycobacterium Tuberculosis
Kuman tuberkulosis berbentuk batang dengan ukuran 2-4 µ x 0,2-0,5µm,
dengan bentuk uniform, tidak berspora dan tidak bersimpai. Dinding sel mengandung
lipid sehingga memerlukan pewarnaan khusus agar dapat terjadi penetrasi zat warna.
Yang lazim digunakan adalah pengecatan Ziehl-Nielsen. Kandungan lipid pada
dinding sel menyebabkan kuman TB sangat tahan terhadap asam basa dan tahan
terhadap kerja bakterisidal antibiotika. M.Tuberculosis mengandung beberapa antigen
dan determinan antigenik yang dimiliki mikobakterium lain sehingga dapat
menimbulkan reaksi silang. Sebagian besar antigen kuman terdapat pada dinding sel
yang dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Kuman TB tumbuh secara obligat aerob. Energi diperoleh dari oksidasi senyawa
karbon yang sederhana. CO2 dapat merangsang pertumbuhan. Dapat tumbuh dengan
suhu 30-40

0

C dan suhu optimum 37-380 C. Kuman akan mati pada suhu 600 C

selama 15-20 menit. Pengurangan oksigen

dapat menurunkan metabolisme

kuman.1,3,9,16

2.4 Diagnosis TB Paru
TB paru sering menimbulkan gejala klinis yang dapat dibagi menjadi 2 yaitu
gejala respiratorik dan gejala sistematik. Gejala respiratorik seperti batuk, batuk
darah, sesak napas, nyeri dada, sedangkan gejala sistemik seperti demam, keringat
malam, anoreksia, penurunan berat badan dan malaise.

1,9,11,17

Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai
gejala yang cukup berat tergantung dari luasnya lesi. Kadang pasien terdiagnosis pada
saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam proses penyakit, maka

Universitas Sumatera Utara

mungkin pasien tidak ada gejala batuk. Batuk yang pertama terjadi akibat adanya
iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak keluar. 1,11
Pada awal perkembangan penyakit sangat sulit menemukan kelainan pada
pemeriksaan fisik. Kelainan yang dijumpai tergantung dari organ yang terlibat.
Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama di daerah
apeks dan segmen posterior. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai antara lain suara
napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan
paru, diapragma dan mediastinum.,16,18
Untuk yang diduga menderita TB paru, diperiksa 3 spesimen dahak dalam
waktu 2 hari yaitu sewaktu pagi – sewaktu (SPS). Berdasarkan panduan program TB
nasional, diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakkan dengan dijumpainya
kuman TB (BTA). Sedangkan pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji
kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sesuai dengan indikasinya
dan tidak dibenarkan dalam mendiagnosis TB jika diagnosis dibuat hanya berdasarkan
pemeriksaan foto toraks. 9,11,18

2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
2.5.1 Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis untuk menemukan kuman TB mempunyai arti yang
sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologis
ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, bilasan bronkus, liquor cerebrospinal,
bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar, urin, faeces, dan jaringan biopsi. 3,9,19,20

Universitas Sumatera Utara

2.5.2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan rutin adalah foto toraks PA. Pemeriksaan atas indikasi seperti
foto apikolordotik, oblik, CT Scan. Tuberkulosis memberikan gambaran bermacammacam pada foto toraks. Gambaran radiologis yang ditemukan dapat berupa:
















bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
bayangan berawan atau berbercak
Adanya kavitas tunggal atau ganda
Bayangan bercak milier
Bayangan efusi pleura, umumnya unilateral
Destroyed lobe sampai destroyed lung
Kalsifikasi
Schwarte. .3
Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia luasnya proses yang tampak

pada foto toraks dapat dibagi sebagai berikut:3
-

Lesi minimal (Minimal Lesion):
Bila proses tuberkulosis paru mengenai sebagian kecil dari satu atau dua paru
dengan luas tidak lebih dengan volume paru yang terletak diatas chondrosternal
junction dari iga kedua dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis IV atau
korpus vertebra torakalis V dan tidak dijumpai kavitas.

- Lesi luas (FarAdvanced):
Kelainan lebih luas dari lesi minimal

Penelitian di Bangalore, India yang melibatkan 2229 orang dengan gejala
respiratorik dan sistemik (batuk 2 minggu atau lebih, nyeri dada, panas lebih dari 4

Universitas Sumatera Utara

minggu dan batuk darah)

yang kemudian dievaluasi secara radiologi (foto toraks)

dan bakteriologi (hapusan dahak) menghasilkan tabel berikut :

Tabel 2 : Perbandingan Gambaran Radiologi dengan pemeriksaan mikrobiologi
sputum pada penderita dengan dugaan TB di Bangalore India 21

Gambaran Radiologi

Jumlah
penderita

Pemeriksaan mikrobiologi
sputum
S+
SS+
SC+

C+

C-

C-

TB

227

122

20

4

81

Selain TB

304

8

4

1

291

Normal

1698

-

8

10

1680

Total

2229

130

32

15

2052

S : Hapusan sputum, C : Kultur sputum

2.5.3. Pemeriksaan Khusus
Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik baru yang dapat mendeteksi
kuman TB seperti :
a. BACTEC: dengan metode radiometrik , dimana CO2 yang dihasilkan dari
metabolisme asam lemak M.tuberculosis dideteksi growth indexnya.
b. Polymerase chain reaction (PCR)

dengan cara mendeteksi DNA dari

M.tuberculosis, hanya saja masalah teknik dalam pemeriksaan ini adalah
kemungkinan kontaminasi.
c. Pemeriksaan serologi : seperti ELISA, ICT dan Mycodot 3,19

Universitas Sumatera Utara

2.5.4. Pemeriksaan Penunjang Lain :
Seperti analisa cairan pleura dan histopatologi jaringan, pemeriksaan darah
dimana LED biasanya meningkat, tetapi tidak dapat digunakan sebagai indikator yang
spesifik pada TB. Di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi, uji tuberkulin sebagai
alat bantu diagnosis penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji ini mempunyai
makna bila didapatkan konversi, bula atau kepositifan yang didapat besar sekali. 3

2.6

Klasifikasi TB Paru

Dalam Klasifikasi TB Paru ada beberapa pegangan yang prinsipnya hampir
bersamaan. PDPI membuat klasifikasi berdasarkan gejala klinis, radiologis dan hasil
pemeriksaan bakteriologis dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini
dipakai untuk menetapkan strategi pengobatan dan penanganan pemberantasan TB:
1.

TB Paru BTA positif yaitu:
- Dengan atau tanpa gejala klinis
- BTA positif

mikroskopis +
mikroskopis + biakan +
mikroskopis + radiologis +

- Gambaran radiologis sesuai dengan TB Paru
2. TB Paru (kasus baru) BTA negatif yaitu:
-

Gejala klinis dan gambaran radiologis sesuai dengan TB Paru aktip

-

Bakteriologis (sputum BTA): negatif, jika belum ada hasil tulis belum
diperiksa.

-

Mikroskopis -, biakan, klinis dan radiologis +

Universitas Sumatera Utara

3. TB Paru kasus kambuh :
-

Riwayat pengobatan OAT yang adekuat, gejala klinis dan gambaran
radiologis sesuai dengan TB Paru aktif tetapi belum ada hasil uji
resistensi.

4. TB Paru kasus gagal pengobatan :
-

Gejala klinis dan gambaran radiologis sesuai dengan TB Paru aktif,
pemeriksaan mikroskopis +

walau sudah mendapat OAT,

tetapi

belum ada hasil uji resistensi.
5. TB Paru kasus putus berobat :
-

Pada pasien paru yang lalai berobat

6. TB Paru kasus kronik yaitu:
-

Pemeriksaan mikroskopis + , dilakukan uji resistensi. 3

.
2.6.1 Pengecatan dan Pembacaan Sediaan


Pewarnaan sediaan dengan metode Ziehl – Nielsen
Bahan – bahan yang diperlukan :
1. Botol gelas berwarna coklat berisi larutan Carbol Fuchsin 0,3%
2. Botol gelas berwarna coklat berisi akohol (HCl-Alcohol 3%)
3. Botol coklat berisi larutan Merhylen Blue 0,3%
4. Rak untuk pengecatan slide
5. Baskom untuk ditempatkan di bawah rak
6. Corong dengan kertas filter
7. Pipet
8. Pinset

Universitas Sumatera Utara

9. Pengukur waktu (timer)
10. Api spiritus
11. Air yang mengalir berupa air ledeng atau botol berpipet berisi air.
12. Beberapa rak cadangan
Perwarnaan sediaan yang telah difiksasi, maksimum 12 slide. Antar sediaan
harus ada jarak untuk mencegah terjadinya kontaminasi antar sediaan.


Cara Pewarnaan
1. Letakkan sediaan dahak yang telah difiksasi pada rak dengan hapusan
dahak menghadap ke atas.
2. Teteskan larutan Carbol Fuchsin 0,3% pada hapusan dahak sampai
menutupi seluruh permukaan sediaan dahak.
3. Panaskan dengan nyala api spiritus sampai keluar uap selama 3 – 5 menit.
Zat warna tidak boleh mendidih atau kering. Apabila mendidih atau kering
maka Carbol Fuchsin akan terbentuk kristal (partikel kecil) yang dapat
terlihat seperti kuman TB
4. Singkirkan api spiritus, diamkan sediaan selama 5 menit.
5. Bilas sediaan dengan air mengalir pelan sampai zat warna yang bebas
terbuang.
6. Teteskan sediaan dengan asam alkohol (HCl Alcohol 3%) sampai warna
merah Fuchsin hilang
7. Bilas dengan air mengalir pelan
8. Teteskan larutan Methylen Blue 0,3% pada sediaan sampai menutupi
seluruh permukaan
9. Diamkan 10 – 20 detik
10. Bilas dengan air mengalir pelan

Universitas Sumatera Utara

11. Keringkan sediaan di atas rak pengering di udara terbuka (jangan dibawah
sinar matahari langsung) 10


Pembacaan BTA
Hasil pemeriksaan

mikroskopis dibaca dengan skala IUATLD

(Internasional Union Against Tuberculosis) sesuai rekomendasi WHO.

2.7 Bronkoskopi
Di negara-negara berkembang dengan kemampuan diagnostik yang terbatas,
kasus-kasus TB paru pada daerah endemis dapat diberikan terapi empiris .Namun
jika memungkinkan, diagnosis definitif sebaiknya tetap didapatkan. Jika hasil
pemeriksaan bakteriologis tidak dijumpai kuman BTA, sedang

dugaan yang

mengarah ke diagnosis adanya TB paru sangat kuat maka selanjutnya tindakan
bronkoskopi dapat menjadi langkah untuk menegakkan diagnostik. 6,22,
Bronkoskopi (bronkos = saluran napas, skopi = melihat) adalah tindakan
pemeriksaan untuk menilai saluran napas penderita dengan alat bronkoskopi. 23,24
Pertama kali diperkenalkan penggunaan bronkoskopi kaku (berupa pipa logam)
oleh Gustav Killian tahun 1897 dan kemudian dikembangkan oleh Chavalier Jackson
dan putranya
Awalnya Gustav killian melakukan bronkoskopi dengan menggunakan
laringoskop dan esofagoskop rigid, untuk
proksimal

bronkus

utama

kanan.

Pada

mengambil benda asing pada bagian
tahun

1963,

Dr.

Shigeto

Ikeda

memperkenalkan Bronkoskopi Serat Optik Lentur (BSOL) (Gambar 2) yang tujuan
utamanya adalah sebagai alat diagnostik.

24,25,26,27

Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Bronkoskop Serat Optik Lentur (BSOL) 26

Sejak akhir tahun 1960 an BSOL telah menggantikan bronkoskopi rigid sebagai alat
untuk tindakan diagnostik dan terapeutik
Tindakan bronkoskopi merupakan tindakan yang invasif. Komplikasi dapat
terjadi mulai pada saat premedikasi, saat tindakan bronkoskopi maupun sesudahnya.
Berbagai komplikasi yang dapat terjadi antara lain:


Kesulitan melakukan intubasi



Cedera pada trakea dan bronkus.



Perdarahan.



Spasmus pada bronkus dan laring.



Aritmia:
o Sinus takikardia.
o Aritmia yang serius.
o Aritmia yang mengancam jiwa.






Henti jantung.
Pneumotoraks.
Emfisema mediastinum.

23,26

Universitas Sumatera Utara

Pasien yang akan dilakukan tindakan bronkoskopi umumnya diberikan
premedikasi dengan obat antikolinergik seperti atropine atau glikopirolat untuk
mengurangi resiko reaksi vasovagal (bradikardi) dan mengurangi sekresi jalan napas.
Diikuti dengan pemberian anestesi lokal pada saluran napas atas, laring dan
percabangan tracehobronkial secara topikal dan inhalasi dan secara bronkoskopi
dengan instilasi lidokain. 22,28
Tindakan pada bronkoskopi terdiri dari bronchoalveolar lavage (BAL),
bronchial washing (bilasan bronkus), bronchial brushing (sikatan bronkus),
transbronchial biopsy (biopsi transbronkial) dan postbronchoscopy sputum collection
(kumpulan dahak selama 24