Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma glutinosa) Sebagai Pewarna

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN
EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa
L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA

SKRIPSI

OLEH:
RINI UTAMI
091524041

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN
EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa
L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
RINI UTAMI
091524041

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN SKRIPSI

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN
EKSTRAK BERAS KETAN HITAM (Oryza sativa
L var forma glutinosa) SEBAGAI PEWARNA
OLEH:
RINI UTAMI
091524041
Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal: Agustus 2011

Pembimbing I,

Panitia Penguji:

Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt.
NIP 195404121976031003

Dra. Julia Reveny, M.Si, Ph.D., Apt
NIP 195807101986012001

Pembimbing II,

Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt.
NIP 195404121976031003

Dra. Djendakita Purba, M.Si., Apt.
NIP 195107031977102001

Drs. Suryanto, M.Si., Apt.
NIP 196106191991031001

Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt.
NIP 195306251986012001
Disahkan Oleh:
Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, penulis haturkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah dan kemudahan kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Formulasi
Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L
var forma glutinosa) Sebagai Pewarna” sebagai salah satu syarat untuk
mencapai gelar Sarjana Farmasi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Penulis mempersembahkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada
Ayahandaku Alm. H. Rusli, S.H dan Ibundaku Arlinawaty yang telah memberikan
semangat dan cinta yang teramat tulus, dan untuk abang-abangku Fahrul Rozi,
Fachmi Hadi dan Agus Trihadi atas semua doa, kasih sayang, semangat dan
pengorbanan baik moril maupun materil. Semoga Allah SWT selalu melindungi
kalian semua.
Pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt. selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara
2. Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt dan Dra. Djendakita Purba, M.Si.,
Apt. selaku pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan
nasehat selama penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
3. Bapak/Ibu Pembantu Dekan, Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas
Farmasi USU yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan dan
Ibu Sri Yuliasmi, S.Farm, Apt. selaku penasehat akademik yang telah
memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis selama ini.
4. Ibu Dra. Julia Reveny, M.Si, Ph.D., Apt., Bapak Drs. Suryanto, M.Si., Apt
dan Ibu Dra. Anayanti Arianto, M.Si., Apt. selaku dosen penguji yang
telah memberikan saran, arahan, kritik dan masukan kepada penulis dalam
penyelesaian skripsi ini.
5. Ibu Dra. Lely Sari Lubis, M.Si., Apt selaku Kepala Laboratorium
Farmasetika Dasar dan semua staf yang telah memberikan arahan dan
fasilitas selama penulis melakukan penelitian.

Universitas Sumatera Utara

6.

Sahabat-sahabat penulis: Widya, Baruna, Yuliana, Noni, Darma, Uni,
Wina, Eka, Vica dan rekan-rekan mahasiswa Farmasi Ekstensi khususnya
stambuk 2009 atas dukungan, semangat, bantuan dan persahabatan selama
ini serta seluruh pihak yang telah memberikan bantuan, motivasi dan
inspirasi bagi penulis selama masa perkuliahan sampai penyusunan skripsi
ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda dan pahala

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian
skripsi ini.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
guna perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang Farmasi.

Medan, Agustus 2011
Penulis,

Rini Utami

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS
KETAN HITAM (Oryza sativa L.) SEBAGAI PEWARNA
Beras ketan hitam (Oryza sativa L.) termasuk famili Poaceae, masyarakat
menggunakan sebagai bahan makanan seperti tape dan bubur. Beras ketan hitam
berwarna merah/ungu, zat warna yang dikandungnya cukup kuat.
Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan
alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan
menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam.
Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera
alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol,
titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum rosae) dan nipagin
serta penambahan ekstrak beras ketan hitam dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%,
dan 10%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan
homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan
bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles dan
pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai
pewarna yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65oC, memiliki kekuatan
lipstik yang baik, pH berkisar 3,9-6,5 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan
dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman
untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan
dengan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi 8% dengan persentase kesukaan
63,33%.

Kata kunci: Beras Ketan Hitam, Oryza sativa L, Lipstik, Komponen Lipstik.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
THE FORMULATION OF LIPSTICK COMPONENT BY USING BLACK
STICKY RICE (Oryza sativa L.) AS DYE STUFF

Black sticky rice (Oryza sativa L.) belongs to Poaceae family which is
used by people as food stuffs such as tape and porridge. Black sticky rice is
red/purple and its dye stuff is strong enough.
In cosmetic, dye stuff is one of the causes of irritation and allergy on skin
so that the researcher has made the formulation of lipstick component using
natural dye stuff made of black sticky rice.
The formulation of lipstick component consisted of some components
such as cera alba, lanolin, Vaseline alba, cetaceum, alcoholic cetile, oleum ricin,
propylene glycol, titanium dioxide, butyl hydroxyl toluene, rose oil (rosaceous
oleum) and nipagin, added by black sticky rice extract with the concentration of
2%, 4%, 6%, 8%, and 10%. The testing of the lipstick components included the
testing of the homogeneity, the melting point, the lipstick strength, the stability on
the change of its shape, color, and smell during the 30 day storage in temperature
room, rubbing test, pH examination, irritation test, and Hedonic test.
The formulation of lipstick component by using black sticky rice as the
dye stuff was made stably and homogeneously with the melting point of 65oC. It
had good lipstick strength; the pH was about 3.9 up to 6.5 (almost similar to lip
skin pH), and easily colored evenly. It did not cause irritation so that it could be
safely used. The most favorable component was the fifth one by using black
sticky rice with 8% concentration and the favorable percentage of 63.33

Keywords: Black Sticky Rice, Oryza sativa L., Lipstick, Lipstick Components

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
JUDUL ......................................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... iii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iv
ABSTRAK ................................................................................................... vi
ABSTRACT ................................................................................................. vii
DAFTAR ISI ................................................................................................ viii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiii
BAB I

PENDAHULUAN .......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah ................................................................... 4
1.3 Hipotesis ................................................................................... 4
1.4 Tujuan Penelitian....................................................................... 5
1.5 Manfaat Penelitian ..................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 6
2.1 Ketan Hitam .............................................................................. 6
2.1.1 Sistematika Tumbuhan ....................................................... 6
2.2 Antosianin ................................................................................. 7
2.3 Kulit .......................................................................................... 7
2.4 Kosmetika ................................................................................. 8

Universitas Sumatera Utara

2.5 Kosmetika Dekoratif ................................................................. 9
2.6 Bibir .......................................................................................... 11
2.7 Lipstik ....................................................................................... 12
2.8 Komponen Utama Dalam Sediaan Lipstik ................................. 12
2.9 Pemeriksaan Lipstik .................................................................. 16
2.10 Uji Kesukaan ........................................................................... 17
2.11 Uji Tempel .............................................................................. 18
BAB III METODOLOGI PENELITIAN...................................................... 19
3.1 Alat dan Bahan .......................................................................... 19
3.1.1 Alat .................................................................................... 19
3.1.2 Bahan................................................................................. 19
3.2 Penyiapan Sampel ..................................................................... 19
3.2.1 Pengumpulan Sampel ......................................................... 20
3.2.2 Determinasi Tumbuhan ...................................................... 20
3.2.3 Pengolahan Sampel ............................................................ 20
3.3 Pembuatan Ekstrak Beras Ketan Hitam...................................... 20
3.4 Pembuatan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam
Sebagai Pewarna Dalam Berbagai Konsentrasi ......................... 21
3.4.1 Formula ............................................................................. 21
3.4.2 Prosedur Pembuatan Lipstik ............................................... 23
3.5 Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan ............................................... 23
3.5.1 Pemeriksaan Homogenitas ................................................. 23
3.5.2 Pemeriksaan Titik Lebur Lipstik ........................................ 24
3.5.3 Pemeriksaan Kekuatan Lipstik ........................................... 24
3.5.4 Pemeriksaan Stabilitas Sediaan .......................................... 24

Universitas Sumatera Utara

3.5.5 Uji Oles.............................................................................. 25
3.5.6 Penentuan pH Sediaan........................................................ 25
3.6 Uji Iritasi dan Uji Kesukaan (Hedonic Test)............................... 26
3.6.1 Uji Iritasi............................................................................ 26
3.6.2 Uji Kesukaan (Hedonic Test) ............................................. 27
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 28
4.1 Hasil Pemeriksaan Mutu Fisik Sediaan ...................................... 28
4.1.1 Homogenitas Sediaan ......................................................... 28
4.1.2 Titik Lebur Lipstik ............................................................. 28
4.1.3 Kekuatan Lipstik ................................................................ 29
4.1.4 Stabilitas Sediaan ............................................................... 30
4.1.5 Uji Oles.............................................................................. 31
4.1.6 Pemeriksaan pH ................................................................. 32
4.2 Hasil Uji Iritasi .......................................................................... 32
4.3 Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) ............................................ 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN......................................................... 35
5.1 Kesimpulan ............................................................................... 35
5.2 Saran ......................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 36
LAMPIRAN ................................................................................................. 38

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 3.1

Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak
Beras Ketan Hitam Sebagai Pewarna Dalam Berbagai
Konsentrasi ............................................................................ 22

Tabel 4.1

Data Pemeriksaan Titik Lebur ............................................... 28

Tabel 4.2

Data Pemeriksaan Kekuatan Lipstik ....................................... 29

Tabel 4.3

Data Pengamatan Perubahan Bentuk, Warna, dan Bau
Sediaan .................................................................................. 30

Tabel 4.4
Tabel 4.5
Tabel 4.6

Data Pengukuran pH Sediaan ................................................. 32
Data Uji Iritasi ....................................................................... 32
Data Uji Kesukaan (Hedonic Test) ......................................... 33

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.

Tumbuhan Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma
glutinosa) .............................................................................. 39

Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.
Gambar 6.
Gambar 7.
Gambar 8.
Gambar 9.
Gambar 10.
Gambar 11.

Beras Ketan Hitam .................................................................
Wadah Sediaan Lipstik ...........................................................
Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Beras Ketan Hitam .................
Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Beras Ketan Hitam ..............
Hasil Uji Homogenitas ...........................................................
Alat rotary evaporator ...........................................................
Alat freeze dryer ....................................................................
Bibir Tanpa Menggunakan Lipstik .........................................
Bibir Dengan Menggunakan Lipstik .......................................
Alat Uji Kekuatan Lipstik ......................................................

40
41
42
43
44
45
46
47
47
48

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.
Lampiran 2.

Halaman
Hasil Determinasi Tumbuhan............................................. 38
Gambar Tumbuhan Ketan Hitam (Oryza sativa L var forma
glutinosa) .......................................................................... 39

Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 5.

Gambar Beras Ketan Hitam ............................................... 40
Gambar Wadah Sediaan Lipstik ......................................... 41
Gambar Sediaan Lipstik Tanpa Ekstrak Beras Ketan
Hitam ................................................................................ 42

Lampiran 6.

Gambar Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Beras Ketan
Hitam ................................................................................ 43

Lampiran 7.
Lampiran 8.
Lampiran 9.
Lampiran 10.

Gambar Hasil Uji Homogenitas .........................................
Gambar Alat rotary evaporator .........................................
Gambar Alat freeze dryer ...................................................
Perbedaan Gambar Bibir Yang Menggunakan
Lipstik Dengan Pewarna Beras Ketan Hitam
Dan Tanpa Menggunakan Lipstik ......................................

44
45
46

47

Lampiran 11.

Gambar Alat Uji kekuatan Lipstik ..................................... 48

Lampiran 12.

Perhitungan Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) ................ 49

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK MENGGUNAKAN EKSTRAK BERAS
KETAN HITAM (Oryza sativa L.) SEBAGAI PEWARNA
Beras ketan hitam (Oryza sativa L.) termasuk famili Poaceae, masyarakat
menggunakan sebagai bahan makanan seperti tape dan bubur. Beras ketan hitam
berwarna merah/ungu, zat warna yang dikandungnya cukup kuat.
Didalam kosmetik, pewarna merupakan salah satu penyebab iritasi dan
alergi di kulit, sehingga peneliti membuat formulasi sediaan lipstik dengan
menggunakan pewarna alami dari beras ketan hitam.
Formulasi sediaan lipstik terdiri dari beberapa komponen diantaranya cera
alba, lanolin, vaselin alba, cetaceum, setil alkohol, oleum ricini, propilen glikol,
titanium dioksida, butil hidroksi toluen, minyak mawar (oleum rosae) dan nipagin
serta penambahan ekstrak beras ketan hitam dengan konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%,
dan 10%. Pengujian terhadap sediaan yang dibuat meliputi pemeriksaan
homogenitas, titik lebur, kekuatan lipstik, uji stabilitas terhadap perubahan
bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 30 hari pada suhu kamar, uji oles dan
pemeriksaan pH, serta uji iritasi dan uji kesukaan (Hedonic test).
Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai
pewarna yang dibuat cukup stabil, homogen, titik lebur 65oC, memiliki kekuatan
lipstik yang baik, pH berkisar 3,9-6,5 (mendekati pH kulit bibir) mudah dioleskan
dengan warna yang merata, serta tidak menyebabkan iritasi sehingga cukup aman
untuk digunakan, dan sediaan yang paling disukai adalah sediaan 5 yaitu sediaan
dengan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi 8% dengan persentase kesukaan
63,33%.

Kata kunci: Beras Ketan Hitam, Oryza sativa L, Lipstik, Komponen Lipstik.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
THE FORMULATION OF LIPSTICK COMPONENT BY USING BLACK
STICKY RICE (Oryza sativa L.) AS DYE STUFF

Black sticky rice (Oryza sativa L.) belongs to Poaceae family which is
used by people as food stuffs such as tape and porridge. Black sticky rice is
red/purple and its dye stuff is strong enough.
In cosmetic, dye stuff is one of the causes of irritation and allergy on skin
so that the researcher has made the formulation of lipstick component using
natural dye stuff made of black sticky rice.
The formulation of lipstick component consisted of some components
such as cera alba, lanolin, Vaseline alba, cetaceum, alcoholic cetile, oleum ricin,
propylene glycol, titanium dioxide, butyl hydroxyl toluene, rose oil (rosaceous
oleum) and nipagin, added by black sticky rice extract with the concentration of
2%, 4%, 6%, 8%, and 10%. The testing of the lipstick components included the
testing of the homogeneity, the melting point, the lipstick strength, the stability on
the change of its shape, color, and smell during the 30 day storage in temperature
room, rubbing test, pH examination, irritation test, and Hedonic test.
The formulation of lipstick component by using black sticky rice as the
dye stuff was made stably and homogeneously with the melting point of 65oC. It
had good lipstick strength; the pH was about 3.9 up to 6.5 (almost similar to lip
skin pH), and easily colored evenly. It did not cause irritation so that it could be
safely used. The most favorable component was the fifth one by using black
sticky rice with 8% concentration and the favorable percentage of 63.33

Keywords: Black Sticky Rice, Oryza sativa L., Lipstick, Lipstick Components

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti ”berhias”.
Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari
bahan-bahan alami yang terdapat di sekitarnya.
Kosmetika telah dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Awal abad
ke-19, saat terjadi Revolusi Industri di Eropa atau Amerika, ditemukan berbagai
bahan baru sintetis dan mulai diperkenalkan mesin-mesin produksi baru bertenaga
listrik yang dapat menghemat waktu dan tenaga, sehingga produksi kosmetika
secara tradisional mulai ditinggalkan. Kosmetika modern mulai mendominasi
pasar pada awal abad ke-20.
Namun, pada akhir abad ke-20, usaha kembali ke alam (back to nature)
mempengaruhi dunia kosmetika dengan adanya usaha mempopulerkan serta
menggali kembali kosmetika tradisional yang telah lama terlupakan. Namun
berdasarkan
menggunakan

pertimbangan
sebagian

teknis

unsur

ekonomis,

beberapa

produsen

hanya

tradisional dalam kosmetika produksinya

(Wasitaatmadja, 1997).
Kosmetika merupakan hal yang penting dalam kehidupan, baik laki-laki
maupun perempuan. Produk-produk itu dipakai secara berulang setiap hari di
seluruh tubuh, mulai dari rambut sampai ujung kaki, sehingga diperlukan
persyaratan aman untuk dipakai (Tranggono dan Latifah, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk
mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika
dalam tata rias wajah. Terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan
krim. Pewarna bibir dalam bentuk cairan dan krim umumnya akan memberikan
selaput yang tidak tahan lama dan mudah terhapus dari bibir sehingga tidak begitu
digemari orang terutama jika dibandingkan dengan pewarna bibir dalam bentuk
krayon. Pewarna bibir krayon lebih dikenal dengan nama lipstik.
Lipstik merupakan pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat
(roll up) yang dibentuk dari minyak, lilin dan lemak. Hakekat fungsinya adalah
untuk memberikan warna bibir menjadi merah, semerah delima merekah, yang
dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat dan menarik. Tetapi
kenyataannya warna lainpun mulai digemari orang, sehingga corak warnanya
sekarang sangat bervariasi mulai dari warna kemudaan hingga warna sangat tua
dengan corak warna dari merah jambu, merah jingga, hingga merah biru, bahkan
ungu (Ditjen POM, 1985).
Dari sudut pandang kualitas, lipstik harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir.
b. Penampilan menarik, baik warna, bau, rasa maupun bentuknya.
c. Memberikan warna yang merata pada bibir.
d. Stabil dalam penyimpanan.
e. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak berbintik-bintik,
atau memperlihatkan hal-hal yang tidak menarik.
f. Melapisi bibir secara mencukupi.

Universitas Sumatera Utara

g. Dapat bertahan di bibir.
h. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket.
i.

Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya ( Mitsui, 1997).
Dalam daftar lampiran Public Warning/Peringatan No.KH.00.01.432.6081

tanggal 1 Agustus 2007 tentang kosmetik mengandung bahan berbahaya dan zat
warna yang dilarang tercantum bahwa bahan pewarna merah K.10 (Rhodamin B)
merupakan zat warna sintetis yang umumnya digunakan sebagai zat warna kertas,
tekstil atau tinta. Zat warna ini dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan
dan merupakan zat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker). Rhodamin dalam
konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati (Anonimb, 2007).
Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri, sehingga lebih peka
dibandingkan kulit lainnya. Karena itu hendaknya berhati-hati dalam memilih
bahan yang digunakan untuk sediaan lipstik, terutama dalam hal memilih zat
warna yang digunakan untuk maksud pembuatan sediaan tersebut.
Indonesia kaya akan sumber flora dan banyak diantaranya dapat digunakan
sebagai bahan pewarna alami, diantara pewarna alami yang mempunyai potensi
untuk dikembangkan antara lain berasal dari beras ketan hitam yang mengandung
zat warna antosianin yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami
pengganti pewarna sintetik.
Ketan hitam merupakan salah satu spesies yang termasuk ke dalam suku
poaceae yang memiliki nilai ekonomis yang penting. Ketan hitam telah diketahui
mengandung senyawa golongan antosianin, yang memiliki beberapa aktivitas
farmakologi, salah satunya adalah aktivitas antioksidan (Aligitha, 2007)

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berkeinginan untuk membuat zat
warna dari beras ketan hitam sebagai pewarna untuk sediaan lipstik. Dilakukan
ekstraksi pewarna beras ketan hitam yang kemudian dilanjutkan dengan formulasi
sediaan lipstik dengan menggunakan zat warna tersebut.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah pada penelitian ini adalah:
a. Apakah zat warna dari ekstrak beras ketan hitam dapat diformulasi dalam
sediaan lipstik?
b. Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam
sebagai pewarna yang dibuat stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar?
c. Apakah formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam
sebagai pewarna tidak menyebabkan iritasi?

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis pada penelitian ini
adalah:
a. Zat warna dari ekstrak beras ketan hitam dapat diformulasi dalam sediaan
lipstik.
b. Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai
pewarna stabil dalam penyimpanan pada suhu kamar.
c. Formulasi sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam sebagai
pewarna tidak menyebabkan iritasi.

Universitas Sumatera Utara

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
a. Untuk membuat formula lipstik menggunakan zat warna yang diekstraksi
dari beras ketan hitam.
b. Untuk mengetahui kestabilan sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras
ketan hitam sebagai pewarna dalam penyimpanan pada suhu kamar.
c. Untuk mengetahui sediaan lipstik menggunakan ekstrak beras ketan hitam
sebagai pewarna tidak menyebabkan iritasi.

1.5 Manfaat Penelitian
Untuk meningkatkan daya guna dari beras ketan hitam sebagai pewarna
alami dalam sediaan lipstik yang aman digunakan oleh masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ketan Hitam
Ketan merupakan salah satu varietas dari padi yang merupakan tumbuhan
semusim. Helaian daun berbentuk garis dengan panjang 15 sampai 50 cm. Pada
waktu masak, buahnya yang berwarna ada yang rontok dan ada yang tidak. Buah
yang dihasilkan dari tanaman ini berbeda ada yang kaya pati dan ini disebut beras,
sedangkan buah kaya perekat disebut ketan (Hasanah, 2008)
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Menurut Herbarium Medanense (2011) dalam sistematika tumbuhan,
ketan hitam diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Poales

Famili

: Poaceae

Genus

: Oryza

Spesis

: Oryza sativa L.

Nama lokal

: Ketan Hitam

Universitas Sumatera Utara

2.2 Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar
luas dalam tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah
penyebab hampir semua warna merah jambu, merah, ungu, dan biru dalam bunga,
daun, dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara kimia semua antosianin merupakan
turunan suatu struktur aromatik tunggal, yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk
dari pigmen sianidin ini dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil
atau dengan metilisasi atau glikosilasi.
Antosianin tidak mantap dalam larutan netral atau basa, oleh karena itu
antosianin harus di ekstraksi dari tumbuhan dengan pelarut yang mengandung
asam asetat atau asam hidroklorida (misalnya metanol yang mengandung HCL
pekat 1%) dan larutannya harus disimpan di tempat yang gelap. Terdapat enam
antosianidin yang umum. Antosianidin adalah aglikon antosianin yang terbentuk
bila antosianin dihidrolisis dengan asam. Antosianidin yang paling umum sampai
saat ini ialah sianidin yang berwarna merah lembayung. Warna jingga disebabkan
oleh pelargonidin yang gugus hidroksilnya kurang satu dibandingkan sianidin,
sedangkan warna lembayung dan biru umumnya disebabkan oleh delfinidin yang
gugus hidroksilnya lebih satu dibandingkan sianidin ( Harborne, 1987).

2.3 Kulit
Kulit merupakan “selimut” yang menutupi permukaan tubuh dan memiliki
fungsi utama sebagai pelindung dari berbagai macam gangguan dan rangsangan
luar. Kulit terbagi atas dua lapisan utama, yaitu :
1. Epidermis (kulit ari), sebagai lapisan yang paling luar.
2. Dermis (korium, kutis, kulit jangat).

Universitas Sumatera Utara

Dari sudut kosmetika, epidermis merupakan bagian kulit yang menarik
karena kosmetika dipakai pada epidermis itu. Lapisan epidermis terdiri atas
stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum, dan
stratum basalis.
Marchionini (1929) menemukan bahwa stratum korneum dilapisi oleh
suatu lapisan tipis lembab yang bersifat asam, sehingga ia menamakannya sebagai
“mantel asam kulit”. Tingkat keasamannya (pH) umumnya berkisar antara 4,5 –
6,5.
Fungsi pokok “mantel asam” kulit yaitu :
1.

Sebagai penyangga (buffer) yang berusaha menetralisir bahan kimia yang
terlalu asam atau terlalu alkalis yang masuk ke kulit.

2.

Membunuh

atau

menekan

pertumbuhan

mikroorganisme

yang

membahayakan kulit.
3. Dengan sifat lembabnya sedikit banyak mencegah kekeringan kulit
(Tranggono dan Latifah, 2007).

2.4 Kosmetika
Definisi

kosmetika

menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

RI

No.445/MenKes/Permenkes/1998 adalah sebagai berikut: “Kosmetika adalah
sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan
(epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga
mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan,
melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak
dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit” (Tranggono
dan Latifah, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Kosmetika biasanya mengandung bahan seperti lemak, minyak, ester lilin,
minyak

ester

humektan,

pewarna,

dan

lain-lain.

Hal-hal

yang

harus

dipertimbangkan dalam memilih bahan baku kosmetika salah satunya adalah
sangat baik dan aman untuk digunakan serta stabil terhadap pengaruh oksidasi dan
pengaruh luar lainnya (Mitsui, 1997).
Penggunaan kosmetika yang tidak selektif dapat menyebabkan timbulnya
berbagai efek samping dari bahan yang digunakan dalam kosmetika. Oleh karena
itu dilakukan usaha untuk menanggulangi kemungkinan efek samping kosmetika
tersebut dengan berhati-hati dan selektif dalam memilih kosmetik yang akan
digunakan. Salah satu penyebab resiko efek samping dari kosmetika adalah zat
warna yang digunakan (Wasitaatmadja, 1997).
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Nomor 00386/C/SK/II/90 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai
bahan berbahaya dalam obat, makanan dan kosmetika terdapat beberapa zat warna
yang dilarang penggunaannya karena merupakan pewarna untuk tekstil
diantaranya adalah Jingga K1 (C.I. Pigment Orange 5, D&C Orange No.17),
Merah K3 (C.I. Pigment Red 53, D&C Red No.8), Merah K10 (Rhodamin B, C.I.
Food Red 15, D&C Red No.19) dan Merah K11 (C.I 45170: 1) (Anonima, 1990).

2.5 Kosmetika Dekoratif
Tujuan awal penggunaan kosmetika adalah mempercantik diri yaitu usaha
untuk menambah daya tarik agar lebih disukai orang lain. Usaha tersebut dapat
dilakukan dengan cara merias setiap bagian tubuh yang terpapar oleh pandangan
sehingga terlihat lebih menarik dan sekaligus juga menutupi kekurangan (cacat)
yang ada.

Universitas Sumatera Utara

Kosmetika dekoratif semata-mata hanya melekat pada alat tubuh yang
dirias dan tidak bermaksud untuk diserap ke dalam kulit serta mengubah secara
permanen kekurangan (cacat) yang ada. Kosmetika dekoratif terdiri atas bahan
aktif berupa zat warna dalam berbagai bahan dasar (bedak, cair, minyak, krim,
tingtur, aerosol) dengan pelengkap bahan pembuat stabil dan parfum.
Berdasarkan bagian tubuh yang dirias, kosmetika dekoratif dapat dibagi
menjadi: 1) Kosmetika rias kulit (wajah); 2) Kosmetika rias bibir; 3) Kosmetika
rias rambut; 4) Kosmetika rias mata; dan 5) Kosmetika rias kuku (Wasitaatmadja,
1997).
Peran zat warna dan zat pewangi sangat besar dalam kosmetika dekoratif.
Pemakaian kosmetika dekoratif lebih untuk alasan psikologis daripada kesehatan
kulit. Persyaratan untuk kosmetika dekoratif antara lain:
a. Warna yang menarik
b. Bau yang harum menyenangkan
c. Tidak lengket
d. Tidak menyebabkan kulit tampak berkilau
e. Tidak merusak atau mengganggu kulit, rambut, bibir, kuku, dan lainnya.
Pembagian kosmetika dekoratif:
a. Kosmetika dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan
pemakaiannya sebentar. Misalnya: bedak, pewarna bibir, pemerah pipi,
eye shadow, dan lain-lain.
b. Kosmetika dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu
yang lama baru luntur. Misalnya: kosmetika pemutih kulit, cat rambut,

Universitas Sumatera Utara

pengeriting rambut, pelurus rambut, dan lain-lain (Tranggono dan Latifah,
2007).

2.6 Bibir
Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri, karena lapisan
jangatnya sangat tipis. Stratum germinativum tumbuh dengan kuat dan korium
mendorong papila dengan aliran darah yang banyak tepat di bawah permukaan
kulit. Pada kulit bibir tidak terdapat kelenjar keringat, tetapi pada permukaan kulit
bibir sebelah dalam terdapat kelenjar liur, sehingga bibir akan nampak selalu
basah. Sangat jarang terdapat kelenjar lemak pada bibir, menyebabkan bibir
hampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering lapisan
jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yang
melekat padanya mudah berpenetrasi ke statum germinativum.
Karena ketipisan lapisan jangat, lebih menonjolnya stratum germinativum,
dan aliran darah lebih banyak mengaliri di daerah permukaan kulit bibir, maka
bibir menunjukkan sifat lebih peka dibandingkan dengan kulit lainnya. Karena itu
hendaknya berhati-hati dalam memilih bahan yang digunakan untuk sediaan
pewarna bibir, terutama dalam hal memilih lemak, pigmen dan zat pengawet yang
digunakan untuk maksud pembuatan sediaan itu (Ditjen POM, 1985).
Kosmetika rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga
dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang
merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir,
yaitu lipstik, krim bibir (lip cream), pengkilap bibir (lip gloss), penggaris bibir (lip
liner), dan lip sealer (Wasitaatmadja, 1997).

Universitas Sumatera Utara

2.7 Lipstik
Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir
dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias
wajah yang dikemas dalam bentuk batang padat. Hakikat fungsinya adalah untuk
memberikan warna bibir menjadi merah, yang dianggap akan memberikan
ekspresi wajah sehat dan menarik (Ditjen POM, 1985).
Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat
dari campuran lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga
dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstik
yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir,
bervariasi antara 36-38oC. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan
terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik
dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang
62oC, biasanya berkisar antara 55-75oC (Ditjen POM, 1985).

2.8 Komponen Utama dalam Sediaan Lipstik
Penambahan zat warna dalam sediaan lipstik bertujuan untuk menambah
intensitas warna bibir sehingga memberikan kesan sehat pada wajah, memberi
bentuk pada bibir, serta menambah keselasaran dengan mata, rambut, dan
pakaian.
Komponen utama sediaan lipstik antara lain:
a. Emolien. Castor oil, ester, lanolin, minyak alkohol (dodecanol oktil), minyak
jojoba dan trigliserida.
b. Malam. Candelilla, carnauba, lilin lebah, ozokerit/ceresein, silikon alkil,
polietilen, lanolin, parafin.

Universitas Sumatera Utara

c. Modifier wax. Bekerja bersama dengan malam untuk memperbaiki tekstur,
aplikasi dan stabilitas termasuk asetat setil dan lanolin asetat, oleil alkohol,
lanolin sintetik, lanolin alkohol asetat, dan vaselin (putih dan kuning).
d. Pewarna
Di Amerika Serikat hanya zat warna yang telah diizinkan FDA yang dapat
digunakan dalam makanan, obat-obatan dan kosmetika.
Pembagian zat warna menurut FDA (Food and Drugs Administration):
1. FD & C color, untuk makanan, obat-obatan, dan kosmetik.
2. D & C, untuk obat-obatan dan kosmetik (tidak dapat digunakan untuk
makanan.
3. Ext D & C yang diizinkan untuk dipakai pada obat-obatan dan kosmetik
dalam jumlah yang dibatasi.
e. Zat aktif. Zat aktif yang ditambahkan dalam sediaan pewarna bibir adalah
sebagai pelembab dan pelembut yaitu untuk memperbaiki kulit bibir yang
kering dan pecah-pecah diantaranya: tokoferil asetat, natrium hyaluronate,
ekstrak lidah buaya, ascorbyl palmitate, silanols, ceramides, panthenol, asam
amino, dan beta karoten.
f. Pengisi. Mica, silica, boron nitride, BiOCl, pati, lisin lauroyl
g. Antioksidan/Pengawet BHA, BHT, ekstrak rosemary, asam sitrat, propil
paraben, metil paraben, dan tokoferol (Barel, Paye dan Maibach, 2001).
Komponen Lipstik yang Digunakan:
a. Oleum ricini (Minyak jarak)
Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin
biji Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya berupa cairan kental,

Universitas Sumatera Utara

jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, rasa manis dan agak
pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam 2,5 bagian etanol (90%), mudah larut dalam
etanol mutlak, dan dalam asam asetat glasial (Ditjen POM, 1979).
b. Cera alba (Malam putih)
Cera alba dibuat dengan memutihkan malam yang diperoleh dari sarang
lebah Apis mellifera L. Pemeriannya yaitu berupa zat padat, berwarna putih
kekuningan, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air,
agak sukar larut dalam etanol (95%), larut dalam kloroform, eter, minyak lemak,
dan minyak atsiri. Suhu leburnya yaitu antara 62o hingga 64oC. Khasiat umumnya
digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).
c. Lanolin
Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25% dan digunakan
sebagai pelumas, penutup kulit dan mudah dipakai (Anief, 1994).
d. Vaselin alba
Vaselin alba adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah
diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa massa
lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan.
Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), tetapi
larut dalam kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38o hingga 56oC. Khasiat
umumnya digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).
e. Setil alkohol
Pemeriannya yaitu berupa serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih,
bau khas lemah, dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, larut

Universitas Sumatera Utara

dalam etanol dan dalam eter, kelarutannya bertambah dengan naiknya suhu. Suhu
leburnya yaitu antara 45o dan 50o (Ditjen POM, 1995).
f. Metil paraben
Pemeriannya yaitu berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur,
putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol
dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol. Suhu
leburnya antara 125oC hingga 128oC. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan (zat
pengawet) (Ditjen POM, 1995).
g. Cetaceum
Cetaceum adalah malam padat murni, diperoleh dari minyak lemak yang
terdapat pada kepala lemak dan badan Physeter Catodon L. dan Hyperoodan
costralos Muller. Pemberiannya yaitu massa hablur, bening, licin, putih mutiara,
bau dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu paktis tidak larut dalam air dan dalam
etanol (96 %) P, larut dalam 20 bagian etanol (96 %) P mendidih, kloroform P,
éter P, minyak lemak dan minyak atsiri. Suhu leburnya antara 42oC hingga 50oC.
Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).
h. Butil Hidroksi Toluen
Pemberiannya hablur padat, putih bau khas. Kelarutannya praktis tidak
larut dalam air dan dalam propilen glikol, mudah larut dalam etanol (96 %) P,
kloroform P, dan dalam éter P. Suhu leburnya tidak kurang dari 69,2oC (Ditjen
POM, 1979).

Universitas Sumatera Utara

i.

Oleum rosae (Minyak mawar)
Minyak mawar adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan

uap bunga segar Rosa gallica L., Rosa damascena Miller, Rosa alba L., dan
varietas Rosa lainnya. Pemeriannya yaitu berupa cairan tidak berwarna atau
kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25oC kental, dan jika
didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika
dipanaskan mudah melebur. Kelarutannya yaitu larut dalam kloroform dan berat
jenisnya yaitu antara 0,848 sampai 0,863 (Ditjen POM, 1979).
j.

Propilen glikol
Propilen glikol beupa cairan jernih, tidak berwarna, dan praktis tidak

berbau, rasa agak manis, dan stabil jika bercampur dengan gliserin, air, dan
alkohol. Propilen glikol sangat luas digunakan dalam kosmetika sebagai pelarut.
Dalam kosmetika propilen glikol berfungsi sebagai humektan (Barel, Paye dan
Maibach, 2009).
k. Titanium dioksida
Pigmen titanium dioksida (TiO2) merupakan serbuk putih dengan daya
peng”opak” yang tinggi. Dapat digunakan pada makanan, kosmetika, dan
pelindung kulit dari sinar UV. Titanium dioksida sangat aman digunakan (Stryker,
2008). Penambahan titanium dioksida ini untuk memperbaiki corak warna yang
dikehendaki pada lipstik.

2.9 Pemeriksaan Lipstik
1. Titik lebur atau saat lipstik menjadi lunak
Titik lebur dari lipstik dapat diperiksa dengan pipa kapiler yang
ukurannya, panjang isinya, dan temperaturnya tertentu/ sama rata. Kecuali itu

Universitas Sumatera Utara

ditentukan droop pointnya yaitu temperatur dimana minyak dari lipstik akan
menetes, caranya lipstik dibiarkan/ diletakkan merata pada kotak, dimana pada
temperatur tertentu akan keluar minyaknya. Temperatur ini dianggap sebagai
temperatur limit untuk peyimpanan. Terutama sesuai dengan produk yang
memerlukan temperatur penyimpanan tertentu, misalnya pada waktu pengepakan,
pemasaran dan pemakaian, droop point harus diatas 45ºC, dan sebaiknya diatas
50ºC.
2. Breaking point
Gunanya untuk mengetahui kekuatan lipstik dan juga kualitas lilinnya
(Balsam, 1972).

2.10 Uji Kesukaan (Hedonic Test)
Uji Kesukaan (Hedonic Test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif
yang sifatnya suka atau tidak suka terhadap suatu produk. Pelaksanaan uji ini
memerlukan dua pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Panel
adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan uji melalui proses
penginderaan. Orangnya disebut panelis. Panel terbagi dua, yaitu panel terlatih
dan tidak terlatih. Jumlah panel uji kesukaan makin besar semakin baik, sebaiknya
jumlah itu melebihi 20 orang. Jumlah lebih besar tentu akan menghasilkan
kesimpulan yang dapat diandalkan (Soekarto, 1981).
Kriteria panelis (Soekarto, 1981):
1. Memiliki kepekaan dan konsistensi yang tinggi.
2. Panelis yang digunakan adalah panelis tidak terlatih yang diambil secara
acak. Jumlah anggota penelis semakin besar semakin baik.
3. Berbadan sehat.

Universitas Sumatera Utara

4. Tidak dalam keadaan tertekan.
5. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang cara-cara penilaian
organoleptik.

2.11 Uji Tempel (Patch Test)
Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan
cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksud
untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit
atau tidak.
Iritasi umumnya akan segera menimbulkan reaksi kulit sesaat setelah
pelekatan pada kulit, iritasi demikian disebut iritasi primer. Tetapi jika iritasi
tersebut timbul beberapa jam setelah pelekatannya pada kulit, iritasi ini disebut
iritasi sekunder. Tanda-tanda yang ditimbulkan reaksi kulit tersebut umumnya
sama, yaitu akan tampak sebagai kulit kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak.
Lokasi uji lekatan adalah bagian kulit panel yang dijadikan daerah lokasi
untuk uji tempel. Biasanya yang paling tepat dijadikan daerah lokasi uji tempel
adalah bagian punggung, lengan tangan, dan bagian kulit di belakang telinga
(Ditjen POM, 1985).
Panel uji tempel(Ditjen POM, 1985):
1. Wanita
2.

Berusia 20-30 tahun

3.

Berbadan sehat jasmani dan rohani

4.

Tidak memiliki riwayat penyakit alergia atau reaksi alergi

5. Menyatakan Kesediannya dijadikan sebagai panelis uji
tampel.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini adalah eksperimental. Penelitian meliputi penyiapan
sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan formulasi sediaan, pemeriksaan mutu fisik
sediaan, uji iritasi terhadap sediaan, dan uji kesukaan (Hedonic Test) terhadap
variasi sediaan yang dibuat.
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan antara lain: alat-alat gelas laboratorium, neraca
analitis, rotary evaporator, freeze dryer, oven, penangas air, pH meter, spatula,
sudip, kaca objek, cawan penguap, pencetak suppositoria, pipet tetes, dan roll up
lipstick (Lampiran 4).
3.1.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah beras ketan
hitam (Oryza sativa L.). Bahan kimia yang digunakan antara lain: akuades, etanol
96%, asam sitrat 0,25%, oleum ricini, cera alba, vaselin alba, setil alkohol,
lanolin, cetaceum, propilen glikol, butil hidroksi toluen, titanium dioksida, oleum
rosae, dan metil paraben.

3.2 Penyiapan Sampel
Penyiapan sampel meliputi pengumpulan sampel, determinasi tumbuhan,
dan pengolahan sampel.

Universitas Sumatera Utara

3.2.1 Pengumpulan Sampel
Pengumpulan

sampel

dilakukan

secara

purposif

yaitu

tanpa

membandingkan dengan daerah lain. Sampel yang digunakan adalah beras ketan
hitam yang terdapat di Pasar Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Madya
Medan, Sumatera Utara.
3.2.2 Determinasi Tumbuhan
Determinasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanense, Departemen
Biologi, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, USU. Hasil determinasi
dapat dilihat pada Lampiran 1.
3.2.3 Pengolahan Sampel
Sampel yang telah diperoleh dihilangkan pengotorannya, sehingga murni
beras ketan hitam.

3.3 Pembuatan Ekstrak Beras Ketan Hitam
Beras ketan hitam ditimbang sebanyak 250 g, kemudian dimaserasi
dengan 1000 ml etanol 96% yang telah diasamkan dengan asam sitrat 0,25%,
ditutup dan dibiarkan selama 1 malam terlindung dari cahaya sambil sering
diaduk, saring dengan kertas saring, filtrat di tampung, dan dipekatkan dengan
rotary evaporator pada suhu ± 450C, kemudian di freeze dryer sehingga
didapatkan ekstrak beras ketan hitam (Hanum, 2000).

Universitas Sumatera Utara

3.4 Pembuatan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam Sebagai
Pewarna Dalam Berbagai Konsentrasi
3.4.1 Formula
Formula dasar yang dipilih pada pembuatan lipstik dalam penelitian ini
dengan komposisi sebagai berikut (Anne Young, 1974):
R/

Cera alba

36,0

Lanolin

8,0

Vaselin alba

36,0

Setil alkohol

6,0

Oleum ricini

8,0

Carnauba wax

5,0

Pewarna

secukupnya

Parfum

secukupnya

Pengawet

secukupnya

Berdasarkan hasil orientasi terhadap basis lipstik menggunakan formula di
atas yaitu dengan mengganti carnauba wax dengan cetaceum di dapat basis lipstik
yang baik, cetaceum merupakan salah satu lilin yang dapat menbentuk kosistensi
lipstik baik, selain itu cetaceum juga dapat berfungsi untuk menambah efek
tiksotropik.
Ekstrak beras ketan hitam tidak dapat larut dalam oleum ricini sehingga
perlu ditambahkan propilen glikol untuk melarutkan zat warna tersebut.
Konsentrasi propilen glikol yang digunakan dalam sediaan lipstik adalah 5%.
Berdasarkan hasil orientasi terhadap konsentrasi ekstrak beras ketan hitam
dalam sediaan lipstik diperoleh hasil bahwa pada konsentrasi 1% warna yang
dihasilkan sediaan terlalu muda sehingga warna sediaan tidak kelihatan saat

Universitas Sumatera Utara

dioleskan pada kulit punggung tangan bahkan sampai pengolesan 6 kali. Pada
konsentrasi 2%, warna sediaan yang dihasilkan cukup baik karena warna sudah
kelihatan menempel dengan baik saat dioleskan pada kulit punggung tangan pada
pengolesan ke-4 dan warna pada sediaan menunjukkan warna merah muda.
Orientasi dilanjutkan dengan menggunakan ekstrak beras ketan hitam konsentrasi
4%, 6%, 8%, 10%. Pada konsentrasi 12% warna yang dihasilkan pada sediaan
lipstik terlalu tua sehingga dari segi penampilan sediaan menjadi kurang menarik.
Sehingga konsentrasi ekstrak beras ketan hitam yang digunakan dalam penelitian
ini adalah 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% karena warna dan konsistensi sediaan yang
dihasilkan cukup baik. Modifikasi formula dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut
ini:
Tabel 3.1 Modifikasi Formula Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras
Ketan Hitam Sebagai Pewarna Dalam Berbagai Konsentrasi
Sediaan (%)
Komposisi
1
2
3
4
5
6
Cera alba
33,94 33,21 32,48 31,75 31,03 30,30
Lanolin
7,53
7,37
7,21
7,05
6,89
6,73
Vaselin alba
33,94 33,21 32,48 31,75 31,03 30,30
Setil alkohol
5,65
5,53
5,41
5,30
5,16
5,04
Oleum ricini
7,53
7,37
7,21
7,05
6,89
6,73
Cetaceum
4,71
4,61
4,51
4,40
4,30
4,20
Ekstrak beras ketan hitam
0
2
4
6
8
10
Propilen glikol
5
5
5
5
5
5
Titanium dioksida
1
1
1
1
1
1
Oleum rosae
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
Butil hidroksi toluen
0,1
0,1
0,1
0,1
0,1

Dokumen yang terkait

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Angkak (Monascus Purpureus) Sebagai Pewarna

34 155 71

Formulasi Sediaan Lipstik Dengan Ekstrak Kubis Merah (Brassica oleraceae var capitata L.f. rubra (L) Thell) Sebagai Pewarna

42 173 64

Formulasi substitusi tepung beras merah (Oryza nivara) dan ketan hitam (Oryza sativa glutinosa) dalam pembuatan cookies fungsional

1 18 62

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN BERALKOHOL DARI RAGI TUAK DAYAK DENGAN KOMBINASI KETAN HITAM (Oryza sativa L. var. glutinosa)DANBERAS HITAM (Oryza sativa L.)KULTIVAR CEMPO IRENG.

1 7 19

SKRIPSI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN BERALKOHOL DARI RAGI TUAK DAYAK DENGAN KOMBINASI KETAN HITAM (Oryza sativa L. var. glutinosa) DAN BERAS HITAM (Oryza sativa L.) KULTIVAR CEMPO IRENG.

0 3 18

I. PENDAHULUAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN BERALKOHOL DARI RAGI TUAK DAYAK DENGAN KOMBINASI KETAN HITAM (Oryza sativa L. var. glutinosa) DAN BERAS HITAM (Oryza sativa L.) KULTIVAR CEMPO IRENG.

0 3 6

II. TINJAUAN PUSTAKA AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN BERALKOHOL DARI RAGI TUAK DAYAK DENGAN KOMBINASI KETAN HITAM (Oryza sativa L. var. glutinosa) DAN BERAS HITAM (Oryza sativa L.) KULTIVAR CEMPO IRENG.

1 7 45

V. SIMPULAN DAN SARAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MINUMAN BERALKOHOL DARI RAGI TUAK DAYAK DENGAN KOMBINASI KETAN HITAM (Oryza sativa L. var. glutinosa) DAN BERAS HITAM (Oryza sativa L.) KULTIVAR CEMPO IRENG.

0 4 37

Pengaruh Cara Pemasakan Beras Ketan Hitam (Oryza sativa glutinosa) dan Penambahan Jahe Terhadap Karaketeristik sari Ketan Hitam Sebagai Minuman Fungsional.pdf.

0 0 10

Stabilitas Ekstrak Antosianin Beras Ketan (Oryza sativa var. glutinosa) Hitam se Proses Pemanasan dan Penyimpanan | Suhartatik | Agritech 9533 17618 1 PB

1 1 7