Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu Bawah Air dengan Senter Light Emitting Diode pada Reaksi Fototaksis Ikan di Perairan Kepulauan Seribu

PENGARUH INTENSITAS CAHAYA LAMPU BAWAH AIR
DENGAN SENTER LIGHT EMITTING DIODE PADA REAKSI
FOTOTAKSIS IKAN DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

MARTUA EDISON SIHOMBING

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ABSTRAK
MARTUA EDISON SIHOMBING. Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu Bawah Air dengan
Senter Light Emitting Diode pada Reaksi Fototaksis Ikan di Perairan Kepulauan Seribu.
Dibimbing oleh Dr. Ir. IRZAMAN, M. Si dan HERIYANTO SYAFUTRA, S. Si, M. Si.
Permasalahan penangkapan ikan dengan bagan apung adalah kurang terfokusnya ikan
pada areal jaring. Penelitian ini dilakukan untuk memecahkan permasalahan tersebut dengan
membuat lampu bawah air yang dapat menarik ikan untuk mendekati areal jaring. Lampu bawah
air dengan senter LED telah berhasil dibuat dengan menggunakan senter Toyasaki TL-300. Lampu
bawah air dirancang agar kedap air. Dilakukan pengujian terhadap lampu bawah air, yaitu
mengukur intensitas cahaya di udara (Iu) dan intensitas cahaya di air (Ia) dengan jarak 0.1-1 m dari
sumber cahaya. Hasil yang diperoleh digunakan untuk mencari koefisien pemudaran air (k). Nilai
k yang diperoleh diambil dari nilai krata-rata yaitu sebesar 0,123 m-1. Nilai k digunakan untuk
mencari nilai Ia kontrol, dimana nilai Iu kontrol telah dicari terlebih dahulu dari sumber cahaya
lampu Philips tipe PLC-26 W. Melalui perbandingan antara nilai Ia lampu bawah air dengan
Ia kontrol, ditentukan jarak lampu bawah air dari permukaan laut pada operasi penangkapan ikan.
Penggunaan lampu pada operasi penangkapan ikan dilakukan dengan 0 lampu, 2 lampu dan
4 lampu. Jarak lampu bawah air dari permukaan adalah 0.3 m. Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa hasil tangkapan dengan 4 lampu lebih banyak dibandingkan dengan 0 lampu dan 2 lampu.
Hasil tangkapan dengan 0 lampu dan 2 lampu hanya memiliki sedikit perbedaan. Hasil ini
menunjukkan bahwa nilai intensitas lampu bawah air dengan 4 lampu dapat membuat reaksi
fototaksis ikan menjadi positif, sehingga hasil tangkapan bagan apung semakin tinggi.
Kata Kunci: bagan apung, lampu bawah air, intensitas cahaya, koefisien pemudaran air, reaksi
fototaksis, hasil tangkapan

PENGARUH INTENSITAS CAHAYA LAMPU BAWAH AIR
DENGAN SENTER LIGHT EMITTING DIODE PADA REAKSI
FOTOTAKSIS IKAN DI PERAIRAN KEPULAUAN SERIBU

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Pertanian Bogor

Oleh:
MARTUA EDISON SIHOMBING
G74070001

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi
Nama
NIM

: Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu Bawah Air dengan Senter Light Emitting
Diode pada Reaksi Fototaksis Ikan di Perairan Kepulauan Seribu
: Martua Edison Sihombing
: G74070001

Disetujui,

Dr. Ir. Irzaman, M. Si
Pembimbing 1

Heriyanto Syafutra, S. Si, M. Si
Pembimbing 2

Diketahui,

Dr. Akhiruddin Maddu
Ketua Departemen Fisika

Tanggal lulus:

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kasih dan karunia-Nya kepada kita semua. Hanya dengan izin dan kemudahan yang diberikanNya, penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu
Bawah Air dengan Senter Light Emitting Diode pada Reaksi Fototaksis Ikan di Perairan
Kepulauan Seribu. Penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Ir. Irzaman, M.Si sebagai pembimbing I dan Heriyanto Syafutra, S.Si, M.Si sebagai
pembimbing II, yang telah memberikan pengarahan, ilmu, motivasi dan bimbingan dalam
menyelesaikan tugas akhir ini.
2. Bapak, Mama, bang Erick, bang Jack dan de’ Tika atas kasih sayang, doa dan dukungan
yang selalu diberikan.
3. Bapak Yunus dan para ABK yang telah memperbolehkan dan membantu dalam penelitian
pada bagan apung di Kepulauan Seribu.
4. Dosen fisika IPB yang telah memberikan masukan dan motivasi. Bapak Nur Indro atas
masukan yang diberikan dalam penulisan tugas akhir ini.
5. Staf dan pegawai Departemen Fisika IPB atas bantuan dan kerjasamanya.
6. Chirtine Mahardika atas doa, motivasi dan kebersamaan yang diberikan.
7. Keluarga “ Baskom ” (Eko, Tuan, Sauqi Briwik, Rendra, Blayz, Ika, Winda “Nci”, Loris,
Andreuw, Dion, Egha, dll) atas sukacita, keceriaan dan kebersamaan yang tak terlupakan
selama ini.
8. Teman-teman fisika 44 (Irvan, Johan, Ade, Ridwan, Dani, Habibi, Adam, Dede H, Hilal,
Vero, Ninknink, Caul, Nice dll) atas bantuan, kerjasama dan kebersamaannya.
9. Teman-teman fisika 43 (Wance, Wandi, Pandu, Rudi, dll), fisika 45 (Irvan, Andri,
Maman, dll), fisika 46 (Criss, Vino, Anu, dll) atas kerjasamanya.
10. UKM Sepak bola IPB.
11. Semua pihak yang telah membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari dalam tugas akhir ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu
penulis berbesar hati menerima saran dan kritik yang membangun. Semoga tugas akhir ini
bermanfaat.

Bogor, Januari 2012

Penulis

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Serbalawan, Kabupaten
Simalungun, Propinsi Sumatera Utara pada tanggal 21 Maret
1989 dari pasangan Bapak P. Sihombing dan Ibu R. Sinaga.
Penulis merupakan putra ketiga dari empat bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Dolok Ilir selama
satu tahun, kemudian melanjutkan ke SDN 1 Dolok Batu
Nanggar selama enam tahun, kemudian melanjutkan ke
SLTPN 1 Dolok Batu Nanggar selama tiga tahun dan melanjutkan pendidikan ke jenjang
menengah atas di SMAN 1 Dolok Batu Nanggar sampai dengan tahun 2007. Pada tahun
yang sama penulis melanjutkan pendidikan sarjana strata satu di Departemen Fisika,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Pertanian Bogor
(IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Mahasiswa IPB (USMI). Selama mengikuti
perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten praktikum Eksperimen Fisika I (2010).
Penulis aktif dalam beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di IPB, seperti UKM
Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) IPB pada Komisi Kesenian dan UKM Sepak
Bola IPB. Penulis aktif juga dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa FMIPA IPB
dan seminar-seminar di dalam kampus.

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... i
RIWAYAT HIDUP........................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................................iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................................ v
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Tujuan Penelitian .............................................................................................................. 1
1.3 Perumusan Masalah .......................................................................................................... 1
1.4 Hipotesis ........................................................................................................................... 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................................................... 2
2.1 Bagan Apung (bagang) ..................................................................................................... 2
2.2 LED (Light Emitting Diode)............................................................................................. 2
2.3 Cahaya .............................................................................................................................. 3
2.4 Sensitifitas Ikan Terhadap Cahaya ................................................................................... 4
2.5 Reaksi Ikan Terhadap Cahaya .......................................................................................... 4
2.6 Pemanfaatan Cahaya dalam Operasi Penangkapan Ikan .................................................. 5
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .......................................................................................... 6
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................................................... 6
3.2 Alat dan Bahan Penelitian ................................................................................................ 6
3.3 Prosedur Penelitian ........................................................................................................... 6
3.3.1 Pembuatan lampu bawah air .................................................................................. 6
3.3.2 Uji intesitas cahaya lampu bawah air .................................................................... 7
3.3.3 Penggunaan lampu bawah air pada operasi penangkapan ..................................... 7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................................... 8
4.1 Pembuatan Lampu Bawah Air .......................................................................................... 8
4.2 Uji Intensitas Cahaya Lampu Bawah Air ......................................................................... 8
4.3 Penggunaan Lampu Bawah Air pada Operasi Penangkapan Ikan .................................. 12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................................... 14
5.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 14
5.2 Saran ............................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................................... 15
LAMPIRAN .................................................................................................................................... 17

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Warna dan panjang gelombang cahaya ..............................................................................3
Tabel 2.2 Hubungan kedalaman dan warna air dengan penggunaan alat bantu cahaya .................... 6
Tabel 4.1 Hasil pengukuran Iu lampu ............................................................................................... 9
Tabel 4.2 Hasil pengukuran Ia lampu ................................................................................................ 9
Tabel 4.3 Hasil perhitungan nilai koefisien pemudaran air (k) ....................................................... 10
Tabel 4.4 Hasil pengukuran Iu kontrol (samping) ........................................................................... 10
Tabel 4.5 Hasil perhitungan nilai Ia kontrol (samping) ................................................................... 11
Tabel 4.6 Hasil pengukuran Iu kontrol (bawah) .............................................................................. 11
Tabel 4.7 Hasil perhitungan Ia kontrol (bawah) .............................................................................. 11
Tabel 4.8 Hasil tangkapan penggunaan Lampu bawah air pada operasi penangkapan ................... 14

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Bagan apung .................................................................................................................. 2
Gambar 2.2 Skema bagian bawah bagan apung ................................................................................ 2
Gambar 2.3 LED ............................................................................................................................... 3
Gambar 2.4 Perbandingan kepekaan warna antara mata manusia dan ikan ...................................... 4
Gambar 3.1 Rancangan awal lampu bawah air ................................................................................. 6
Gambar 3.2 Tahap akhir lampu bawah air ........................................................................................ 7
Gambar 3.3 Sketsa penggunaan lampu bawah air pada bagang ........................................................ 8
Gambar 4.1 Kurva hubungan antara Iu dengan jarak (x) ................................................................... 9
Gambar 4.2 Kurva hubungan antara Ia dengan jarak (x) ................................................................... 9
Gambar 4.3 Hasil uji spektroskopi lampu bawah air ...................................................................... 10
Gambar 4.4 Kurva hubungan antara Iu kontrol (samping) dengan jarak (x) .................................... 10
Gambar 4.5 Kurva hubungan antara Ia kontrol (samping) dengan jarak (x) ................................... 11
Gambar 4.6 Kurva hubungan antara Iu kontrol (bawah) dengan jarak (x) ...................................... 11
Gambar 4.7 Kurva hubungan antara Ia kontrol (bawah) dengan jarak (x)....................................... 12

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Diagram Alir ............................................................................................................... 18
Lampiran 2. Konversi nilai satuan lux menjadi W/m2 .................................................................... 19
Lampiran 3. Perhitungan untuk mencari nilai koefisien pemudaran air (k) .................................... 21
Lampiran 4. Perhitungan untuk mencari nilai I a lampu kontrol ...................................................... 22
Lampiran 5. Dokumentasi ............................................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bagan adalah alat penangkap ikan
yang digolongkan ke dalam kelompok jaring
angkat.1 Bagian utama alat ini terdiri atas
jaring bagan dan alat bantu berupa cahaya.
Pengoperasiannya dilakukan dengan cara
menurunkan jaring, selanjutnya diterangi
oleh cahaya. Penerangan tersebut bertujuan
untuk menarik ikan-ikan yang bersifat
fototaksis positif agar berkumpul di atas
jaring. Jika diperkirakan jumlah ikan cukup
banyak, maka jaring diangkat. Sasaran
penangkapannya berupa jenis ikan-ikan
pelagis kecil.
Banyak sumber cahaya yang biasa
digunakan pada perikanan bagan. Misalnya
petromaks, lampu bohlam dan lampu neon.
Ketiga sumber cahaya ini sebenarnya
merupakan
alat
penerangan
yang
dialihfungsikan
sebagai
alat
bantu
penangkapan ikan. Dari ketiga jenis lampu
tersebut, nelayan umumnya lebih menyukai
petromaks.2 Hal ini karena harganya murah,
awet, mudah pengoperasiannya, mudah
perawatannya dan mudah didapat. Adapun
jenis lampu yang benar-benar dikhususkan
sebagai alat bantu penangkapan ikan dengan
bagan sebenarnya telah diproduksi. Lampu
tersebut dinamakan Lacuba (Lampu celup
bawah air). Walaupun telah terbukti mampu
meningkatkan hasil tangkapan nelayan
hingga 2-3 kali lipat dibanding dengan
menggunakan lampu petromaks, Lacuba
bukanlah menjadi pilihan utama dari para
nelayan Indonesia, khususnya di daerah
perairan Kamal Muara, Kepulauan Seribu,
Jakarta Utara. Hal ini disebabkan oleh harga
Lacuba yang jauh lebih mahal dan sulit
untuk didapatkan.
Permasalahan utama yang ada pada
perikanan bagan adalah kurang terfokusnya
ikan pada areal kerangka jaring ketika bagan
dioperasikan, sehingga banyak ikan yang
bersifat fototaksis positif tersebar disekitar
areal kerangka jaring. Ikan yang tertangkap
hanyalah sebagian kecil dari ikan yang
tersebar di sekitar areal jaring bagan, yaitu
ikan yang tersebar di atas areal jaring. Hal
ini berbeda dengan cahaya Lacuba yang
terfokus pada areal kerangka jaring.
Beberapa penelitian mengenai bagan
apung telah dilakukan.3-6 Diantaranya adalah
perbandingan hasil tangkapan bagan (light
fishing) yang menggunakan beberapa warna

cahaya di perairan Lero (Pinrang), Sulawesi
Selatan; pengaruh beberapa jenis kap lampu
pada pencahayaan bagan diesel terhadap
nilai iluminasi cahaya dan hasil tangkapan
ikan pelagis di perairan Carocok, Pesisir
Selatan; iluminasi cahaya lampu petromaks
pada medium udara; dan pemusatan cahaya
petromaks pada areal kerangka jaring di
permukaan air dengan menggunakan tudung
berbentuk kerucut terpacung: pengaruhnya
terhadap hasil tangkapan bagan. Masih
banyak
cara-cara
memecahkan
permasalahan yang ada pada bagan apung
yang belum dilakukan, baik itu cara baru
maupun pengembangan dari cara yang sudah
ada.
Penelitian ini dilakukan untuk
memecahkan permasalahan yang ada dengan
merancang lampu bawah air dengan
memperhatikan intensitas cahaya yang
dihasilkan. Cahaya lampu alternatif ini
diharapkan dapat membuat ikan-ikan yang
bersifat fototaksis positif terfokus di atas
jaring,
sehingga
memperoleh
hasil
tangkapan yang lebih banyak dari lampu
bagang. Lampu ini juga diproduksi dengan
harga yang lebih terjangkau oleh para
nelayan.
1.2 Tujuan Penelitian
1. Membuat lampu bawah air dengan
senter LED.
2. Menentukan kisaran intensitas cahaya di
atas jaring yang membuat reaksi
fototaksis ikan menjadi positif, sehingga
hasil tangkapan pada bagan apung juga
akan semakin tinggi.
3. Menggunakan lampu bawah air dalam
operasi penangkapan ikan pada bagan
apung.
1.3 Perumusan Masalah
Bagaimana
pengaruh
intensitas
cahaya lampu bawah air (senter LED)
terhadap reaksi fototaksis ikan di perairan
Kamal Muara, Kepulauan Seribu, Jakarta
Utara?
1.4 Hipotesis
Intensitas
cahaya
dengan
menggunakan empat lampu bawah air
membuat ikan lebih banyak berkumpul
mendekati sumber cahaya, sehingga hasil
tangkapan bagan apung tersebut akan
semakin tinggi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bagan Apung (bagang)
Bagan merupakan salah satu jenis
alat tangkap pasif yang pengoperasiannya
dilakukan
dengan
menurunkan
dan
mengangkat
jaring
secara
vertikal.
Berdasarkan cara pengoperasian tersebut,
maka bagan dikelompokkan ke dalam jaring
angkat (liftnett).1 Ada beberapa jenis bagan
yang dioperasikan di Indonesia, diantaranya
bagan tancap, bagan rakit, bagan perahu dan
bagan apung. Seiring berkembangnya
teknologi, nelayan lebih menyukai bagan
apung karena dapat dipindah-pindahkan.
Bagan apung (bagang) terdiri dari
rangkaian atau susunan bambu berbentuk
segi empat dan jaring yang diikatkan pada
bambu. Bambu-bambu yang melintang dan
menyilang
pada
keempat
sisinya
dimaksudkan untuk memperkuat berdirinya
bagang. Pada bagian tengah terdapat
bangunan rumah (kapal) yang berfungsi
sebagai tempat istirahat, pelindung lampu
dari hujan dan tempat untuk melihat ikan. Di
atas bangunan bagang juga terdapat roller
(sejenis pemutar) dari bambu yang berfungsi
untuk menarik jaring. Umumnya alat
tangkap ini berukuran 8 x 8 m2.7
Jaring yang digunakan adalah jaring
yang disebut dengan Wareng dengan mata
jaring 0.4 x 0.4 cm2 dengan posisi terletak
pada bagian bawah bangunan bagang yang
diikatkan pada bingkai bambu yang
berbentuk segi empat. Bingkai bambu
tersebut dihubungkan dengan tali pada
keempat sisinya yang berfungsi untuk
menarik jaring. Pada keempat sisi jaring
diberi pemberat yang berfungsi untuk
menenggelamkan jaring dan memberikan
posisi jaring yang baik selama dalam air.
Jarak antara jaring dengan permukaan air (y)
tergantung
pada
kedalaman
daerah
tangkapan yang ditentukan. Ukuran jaring
biasanya satu meter lebih kecil dari ukuran
bangunan bagang. Contoh foto dan skema
bagian bawah bagan apung ditunjukkan oleh
Gambar 2.1 dan 2.2.8
Dalam
operasi
penangkapan,
kedalaman perairan rata-rata pemasangan
alat tangkap ini adalah 8 m, bahkan ada yang
memasang pada kedalaman 15 m.9,10 Sifat
bagan apung yang dapat dipindahkan
membuat daerah operasi penangkapannya
semakin luas.1

Gambar 2.1 Bagan apung.8

Gambar 2.2 Skema bagian bawah bagan
apung
Operasi penangkapan pada bagang
menggunakan alat bantu cahaya untuk
mengumpulkan
ikan.
Keberhasilan
penangkapan ikan sangat tergantung pada
intensitas cahaya dan arah pancaran cahaya
yang terfokus pada jaring. Bagang lebih
efektif digunakan pada saat bulan gelap,
sebab pada saat itu ikan-ikan akan tertarik
dengan cahaya lampu sehingga mendekati
bagang dan berkumpul di bagian bawah
bagang.
2.2 LED (Light Emitting Diode)
Dioda pemancar cahaya atau lebih
dikenal dengan sebutan LED adalah suatu
semikonduktor yang memancarkan cahaya
monokromatik yang tidak koheren ketika
diberi tegangan maju.11 Gejala ini termasuk
bentuk elektroluminesensi. LED merupakan
salah satu komponen yang sering digunakan
sebagai display.
Perkembagan dalam ilmu material
telah menghasilkan LED dengan warna
cahaya yang bervariasi. Warna LED (infra
merah, cahaya tampak dan ultraviolet)
tergantung pada komposisi dan kondisi dari
material semi konduktor yang dipakai.
Struktur LED dan fotonya ditunjukkan oleh
Gambar 2.3.11

3

Hubungan antara warna dan panjang
gelombang cahaya dapat dilihat pada
Tabel 2.1.

(a)

(b)

Tabel 2.1 Warna dan panjang gelombang
cahaya.14
Warna Panjang gelombang
Ungu
380 - 450 nm
Biru
450 - 495 nm
Hijau
495 - 570 nm
Kuning
570 - 590 nm
Jingga
590 - 620 nm
Merah
620 - 750 nm
Kecepatan rambat cahaya pada suatu
media seperti udara atau air lebih kecil
daripada di ruang hampa udara. Ketika
cahaya merambat melalui suatu media
menuju media lainnya, frekuensi cahaya
tersebut tidak berubah, tetapi perubahan
terjadi pada kecepatan rambat yang diikuti
perubahan panjang gelombangnya, karena
perbandingan antara cepat rambat dan
panjang gelombang harus selalu konstan.15
Perbandingan antara cepat rambat dan
panjang gelombang ditunjukkan pada
Persamaan 2.1.
f =
(2.1)
Keterangan: f = frekuensi (Hz)
v = cepat rambat (m/s)
λ = panjang gelombang (nm)

(c)
Gambar 2.3 LED.11
(a) Struktur LED
(b) Foto bentuk LED
(c) Foto LED yang menyala
Pada umumnya cahaya dihasilkan
oleh LED pada range arus 5 – 20 mA,
dengan tegangan sekitar 2 V, pada kondisi
arus maju. Pada tegangan mundur LED akan
berfungsi sebagai zener, sehingga tetap
dalam keadaan mati.11 LED dipasang seri
dengan
hambatan dilakukan
untuk
mencegah terjadinya kebakaran LED.
2.3 Cahaya
Cahaya merupakan suatu bentuk
gelombang elektromagnetik yang dapat
merambat tanpa medium perantara. Cahaya
digolongkan pada beberapa panjang
gelombang dengan kisaran yang luas.
Cahaya tampak panjang gelombang berkisar
380-750 nm dan frekuensi berkisar
3,87x1014 - 8,35x1014 Hz.12,13 Cahaya
menyebar
dalam bentuk
gelombang
elektromagnetik dengan kecepatan pada
ruang hampa mencapai 299.792.458 m/s.

Dari enam warna cahaya (Tabel 2.1),
cahaya warna biru dan hijau paling dalam
menembus lapisan perairan, sementara
warna merah dan ungu terabsorpsi oleh air
hanya beberapa meter setelah menembus
permukaan laut.
Intensitas cahaya adalah banyaknya
pancaran cahaya yang jatuh pada suatu
permukaan bidang.15 Intensitas cahaya
sangat tergantung pada jenis sumber cahaya
dan jarak antara sumber cahaya dengan
permukaan bidang. Semakin jauh jarak
sumber cahaya dengan bidang, maka
intensitasnya semakin menurun. Pendugaan
nilai intensitas cahaya pada suatu kedalaman
dapat ditentukan dengan Persamaan 2.2.16
Ia = Iue-kx

(2.2)
Keterangan:
Ia = Intensitas di air (lux);
Iu = Intensitas di udara (lux);
e = Konstanta Euler sebesar 2,718;
k = Koefisien pemudaran air (m-1);
x = Jarak terhadap sumber cahaya (m)
Cahaya yang masuk ke dalam air
mengalami penurunan intensitas yang jauh

4

lebih besar bila dibandingkan dengan udara.
Hal tersebut terutama diakibatkan adanya
penyerapan cahaya oleh berbagai partikel
dalam air. Kedalaman penetrasi cahaya
dalam laut tergantung beberapa faktor,
antara lain absorpsi cahaya oleh partikelpartikel air, panjang gelombang cahaya,
kejernihan air, pemantulan cahaya oleh
permukaan air, serta lintang geografis dan
musim
(cahaya
matahari).17
Daya
penglihatan ikan banyak dipengaruhi oleh
faktor-faktor tersebut.18
2.4 Sensitifitas Ikan Terhadap Cahaya
Ikan mempunyai suatu kemapuan
yang mengagumkan untuk dapat melihat
pada waktu siang hari dengan kekuatan
penerangan ratusan ribu lux sampai dalam
keadaan hampir gelap sama sekali. Kuat
penerangan ini erat hubungannya dengan
tingkat sensitifitas penglihatan ikan, dengan
kata lain bahwa berkurangnya kuat
penerangan
akan
mengakibatkan
berkurangnya jarak penglihatan ikan.18
Sensitifitas mata ikan laut pada
umumnya sangat tinggi. Kalau cahaya biruhijau yang mampu diterima mata manusia
hanya sebesar 30% saja, mata ikan mampu
menerimanya sampai 75%. Retina mata
beberapa jenis ikan laut dalam bahkan dapat
menerimanya sampai 90%.19 Pada umumnya
ikan tertarik pada panjang gelombang sekitar
450 - 570 nm, yaitu warna biru dan hijau.20
Sebagai referensi untuk mengetahui
bagaimana perbandingan kepekaan mata
manusia dengan ikan terhadap cahaya dapat
dilihat pada Gambar 2.4.
Beberapa jenis ikan yang hidup di
perairan pantai, retina matanya mempunyai
sel kon yang sangat bervariasi. Sel kon
adalah sel yang berfungsi membedakan
panjang gelombang cahaya yang masuk ke
retina mata. Penyebaran sel kon yang lebih
merata dalam retina suatu jenis ikan
memungkinkan mereka memiliki ketajaman
penglihatan ke segala arah. Hal ini sangat
diperlukan ikan, terutama dalam berburu
mangsa. Jenis ikan yang setengah menetap
sifatnya, pada umumnya memiliki kepadatan
sel kon pada bagian tertentu, karena ikan
jenis ini lebih banyak mamanfaatkan
penglihatannya pada areal yang arah dan
jaraknya tertentu saja.18

Gambar 2.4 Perbandingan kepekaan warna
antara mata ikan dan manusia.
2.5 Reaksi Ikan Terhadap Cahaya
Indera penglihatan pada sebagian
besar ikan merupakan indera utama yang
memungkinkan terciptanya pola tingkah
laku
mereka
terhadap
keadaan
lingkungannya. Kemampuan indera mata
ikan memungkinkan untuk dapat melihat
pada hampir seluruh lingkungan di
sekelilingnya. Hanya suatu daerah sempit
yang tidak dapat dilihat oleh ikan. Daerah
sempit tersebut dikenal sebagai dead zone.18
Penyebab tertariknya ikan oleh
cahaya sebagian didasari oleh disorientasi
penglihatan ikan.21 Ikan dalam keadaan lapar
akan lebih mudah terpikat cahaya daripada
ikan-ikan yang tidak lapar. Ikan-ikan yang
muda mempunyai ketertarikan yang lebih
baik terhadap cahaya daripada ikan-ikan
yang telah tua.20
Ada dua pola reaksi ikan terhadap
cahaya, yaitu fototaksis dan fotokinesis.
Fototaksis merupakan gerakan spontan dari
ikan untuk mendekati atau menjauhi cahaya.
Fotokinesis merupakan gerakan yang
ditimbulkan oleh hewan dalam kebiasaan
hidupnya.13 Fototaksis dibagi menjadi dua
bagian, yaitu:22
(1) Fototaksis positif (photopholic)
berenang mendekati sumber cahaya.

:

(2) Fototaksis negatif (photophobia)
berenang menjauhi sumber cahaya.

:

Faktor-faktor yang mempengaruhi
sifat fototaksis pada ikan, yaitu:22
(1) Faktor internal
a. Jenis kelamin: beberapa jenis ikan
betina bersifat fototaksis negatif
ketika matang gonad, akan tetapi ikan
jantan pada jenis yang sama bersifat
fototaksis positif ketika matang
gonad.
b. Penuh atau tidaknya perut: ikan yang
sedang lapar lebih bersifat fototaksis

5

positif daripada ikan dengan perut
penuh.
(2) Faktor eksternal
a. Suhu air: ikan akan mempunyai sifat
fototaksis yang kuat apabila berada
pada lingkungan dengan suhu air
yang optimal (sekitar 28 0C).
b. Tingkat cahaya lingkungan: siang
hari atau pada saat bulan purnama
akan mengurangi sifat fototaksis.
c. Intensitas dan warna sumber cahaya:
jenis ikan yang berbeda akan berbeda
pula responnya terhadap intensitas
dan warna cahaya.
d. Ada
atau
tidaknya
makanan:
beberapa jenis ikan akan bersifat
fototaksis apabila terdapat makanan,
sedangkan jenis lainnya akan
berkurang sifat fototaksisnya.
e. Kehadiran predator akan mengurangi
sifat fototaksis.
Peristiwa berkumpulnya ikan di
bawah sumber cahaya dapat dibedakan
menjadi:23
(1) Peristiwa langsung, yaitu berkumpulnya
ikan karena tertarik cahaya lampu yang
digunakan atau ikan bersifat fototaksis
positif.
(2) Peristiwa
tidak
lagsung,
yaitu
berkumpulnya ikan karena tujuan
mencari makan yang disebabkan oleh
adanya plankton dan ikan kecil yang
terpikat cahaya.
Ikan ternyata mempunyai penglihatan
yang cukup baik untuk membedakan warna.
Ikan umumnya sangat peka terhadap cahaya
yang datang dari arah dorsal tubuhnya. Ikan
akan cenderung berorientasi ke arah kanan
dari datangnya cahaya.24 Ikan tidak
menyukai cahaya yang datang dari arah
ventral atau bagian bawah tubuhnya.18 Bila
keadaan tidak memungkinkan untuk turun
ke arah sumber cahaya, ikan menyebar ke
arah horizontal. Ikan yang tertarik pada
cahaya pada umumnya menyukai cahaya
yang terang dan tenang. Cahaya yang tidak
tenang (flickering light) seperti petir dan
lampu senter yang dihidupmatikan akan

menakutkan atau setidaknya menggangu
syaraf ikan.25
2.6 Pemanfaatan Cahaya dalam Operasi
Penangkapan Ikan
Pemanfaatan cahaya untuk alat bantu
penangkapan ikan dilakukan dengan
memanfaatkan sifat fisik dari cahaya buatan
itu sendiri.24 Masuknya cahaya ke dalam air
sangat erat hubungannya dengan panjang
gelombang yang dipancarkan oleh cahaya
tersebut. Semakin besar panjang gelombang
cahaya, maka semakin kecil daya tembusnya
ke dalam perairan.
Faktor-faktor
lain
yang
juga
menentukan menyebarnya cahaya di dalam
air adalah absorpsi (penyerapan) cahaya oleh
partikel-partikel air, kejernihan dan musim
(cahaya matahari).24 Dengan sifat-sifat fisik
yang dimiliki cahaya dan kecenderungan
tingkah laku ikan dalam merespon adanya
cahaya, nelayan kemudian menggunakan
cahaya buatan untuk mengelabuhi ikan
sehingga memudahkan dalam operasi
penangkapan ikan.
Pada awal operasi penangkapan,
nelayan biasanya menyalakan lampu yang
bercahaya biru untuk menarik ikan yang
jauh dari bagang. Hal ini disebabkan cahaya
biru mempunyai panjang gelombang paling
pendek dan daya tembus ke dalam perairan
relatif paling jauh dibandingkan warna
cahaya tampak lainnya. Setelah ikan tertarik
mendekati cahaya, ikan-ikan tersebut
kemudian dikumpulkan sampai pada jarak
jangkauan alat tangkap (cathability area)
dengan menggunakan cahaya yang lebih
rendah frekuensinya (hijau dan kuning),
secara bertahap. Dengan sistem ini, maka
operasi penangkapan ikan akan lebih mudah
dan nilai keberhasilannya lebih tinggi.
Faktor utama yang harus diperhatikan
para nelayan dalam memanfaatkan cahaya
untuk membantu operasi penangkapan ikan
adalah kedalaman dan warna dari perairan
itu sendiri. Hubungan kedalaman dan warna
air dengan penggunaan alat bantu cahaya
dapat dilihat pada Tabel 2.2.

6

Tabel 2.2 Hubungan kedalaman dan warna air dengan penggunaan alat bantu cahaya.13
Kedalaman (meter)
Warna Laut
Keterangan
2
Coklat
Penangkapan dengan alat
1 – 2,5
Coklat kekuningan
bantu cahaya, tidak efisien
2 – 3,5
Kuning kecoklatan
untuk dilakukan
3 – 4,5
Kuning
4 – 5,5
Kuning kehijauan
Penangkapan dengan alat
5–7
Hijau kekuningan
bantu cahaya, kurang efisien
9 – 10
Hijau
untuk dilakukan
10 – 11
12 – 16
17 – 29
>30

Hijau kebiruan
Biru kehijauan
Biru
Biru gelap

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Penangkapan dengan alat
bantu cahaya, efisien untuk
dilakukan

dan tidak goyang pada saat ada geteran atau
goncangan. Sebagai tahap awal lampu
bawah air dapat dilihat pada Gambar 3.1.

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini
dilakukan
di
Laboratorium Material Departemen Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Institut Pertanian Bogor dan Perairan
Kamal Muara Kepulauan Seribu Jakarta
Utara, pada bulan April sampai Agustus
2011.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian
ini adalah bagan apung, luxmeter, Vis-IR
Spektrofotometer, tang, penggaris, pisau,
gergaji dan gunting.
Bahan
yang
digunakan
pada
penelitian ini adalah senter LED (Toyasaki
TL-003), lampu Philips tipe PLC-26 W, pipa
paralon, dop, tripleks, paku, tambang,
pemberat, mika, lem dan sampel air laut.
3.3 Prosedur Penelitian
3.3.1 Pembuatan lampu bawah air
Lampu yang digunakan adalah senter
LED isi ulang (Toyasaki TL-003) dengan
15 LED. Senter yang dibutuhkan sebanyak
empat unit, kemudian masing-masing senter
dimasukkan ke dalam pipa paralon yang
telah disiapkan.
Pipa paralon yang akan digunakan
berdiameter 5 inci. Pipa ini kemudian
dipotong menjadi empat bagian, masingmasing dengan panjang 23 cm. Setelah itu,
salah satu ujung dari setiap pipa ditutup
dengan mika yang memiliki tebal 1.5 mm.
Penutupan ini menggunakan lem atau
perekat, agar ujung pipa tertutup secara
sempurna dan permanen. Kemudian di
dalam setiap pipa, dibuat dudukan dengan
tripleks. Dudukan ini berfungsi agar senter
yang dimasukkan mendapat posisi yang baik

(a)

(b)

(c)
Gambar 3.1 Tahap awal lampu bawah air
(a) Potongan paralon
(b) Dudukan tripleks dan senter LED
(c) Penyesuain dudukan senter LED

7

Setelah pipa paralon selesai, senter
dimasukkan ke setiap pipa dengan posisi
mata senter ke arah ujung pipa yang ditutup
mika, kemudian ditambahkan pemberat
(2 kg). Ujung pipa yang ditutup mika harus
dibuat lebih berat daripada ujung yang
satunya. Hal ini dimaksudkan agar pada saat
lampu dimasukkan ke dalam air, ujung pipa
yang lebih berat akan tetap mengarah ke
bawah. Dengan demikian, cahaya lampu
juga akan tetap mengarah ke bawah.

(d)

(e)

dinamakan dop. Penutupan dengan dop juga
harus sempurna, tetapi tidak permanen. Hal
ini dimaksudkan agar senter dapat
dikeluarkan pada saat pengisian daya. Tepat
di tengah dop, dibuat sebuah pengait untuk
tambang. Tambang yang digunakan
sepanjang 10 m (disesuai dengan bagan).
Tahap akhir lampu bawah air ini dapat
dilihat pada Gambar 3.2.
3.3.2 Uji intesitas cahaya lampu bawah
air
Pengujian dilakukan dalam tiga
perlakuan, yaitu mengukur intensitas lampu
Philips (Iu kontrol), intensitas lampu bawah
air di udara (Iu) dan intensitas lampu bawah
air di air (Ia). Untuk Iu kontrol dan Iu dapat
diukur secara langsung menggunakan
Luxmeter dengan jarak 0 m, 0.1 m, 0.2 m,
0.3 m, 0.4 m, 0.5 m, 0.6 m, 0.7 m, 0.8 m,
0.9 m dan 1 m dari sumber cahaya.
Sedangkan untuk Ia, lampu yang telah dibuat
dinyalakan dan dicelupkan ke dalam air
sekitar 0.3 m dari permukaan laut.
Kemudian dilakukan pengukuran intensitas
cahaya dengan menggunakan Luxmeter.
Pengukuran dilakukan pada jarak 0 m,
0.1 m, 0.2 m, 0.3 m, 0.4 m, 0.5 m, 0.6 m,
0.7 m, 0.8 m, 0.9 m dan 1 m dari sumber
cahaya. Pengukuran ini sebaiknya dilakukan
pada malam hari, sehingga cahaya yang diuji
benar-benar berasal dari lampu.
Berdasarkan data yang diperoleh,
dilakukan
perhitungan
menggunakan
Persamaan 3.1 untuk mencari nilai koefisien
pemudaran air (k) dan nilai Ia kontrol.
Melalui perbandingan antara nilai Ia kontrol
dan Ia, maka dapat diketahui pada
kedalaman berapa lampu bawah air
dicelupkan, sehingga memperoleh intensitas
cahaya yang paling disukai ikan.
Ia = Iue-kx
= e-kx
ln

= ln e-kx

(f)

ln

= -kx ln e

Gambar 3.2 Tahap akhir lampu bawah air
(d) Penambahan
pemberat
pada
paralon
(e) Memasukkan senter dan menutup
kedua ujung paralon
(f) Lampu bawah air selesai

ln

= -kx

Tahap akhir pada pembuatan lampu
ini yaitu membuat penutup pada ujung pipa
yang lainnya. Untuk penutup tersebut
digunakan penutup pipa paralon yang

k=-

(3.1)

3.3.3 Penggunaan lampu bawah air
pada operasi penangkapan
Penangkapan dengan lampu ini
dilakukan untuk mengetahui bagaimana
pengaruh lampu terhadap hasil tangkapan
bagan apung. Terdapat tiga variasi

tangkapan yang berbeda. Untuk hari pertama
tanpa menggunakan lampu, hari
ke-2
menggunakan dua lampu dan hari ke-3
menggunakan empat lampu. Dalam satu hari
dilakukan dua kali operasi penangkapan.
Data yang diambil yaitu banyaknya hasil
tangkapan yang diperoleh. Penangkapan ini
dilakukan sebanyak lima kali ulangan, yaitu
pada minggu ke-1, ke-2, ke-3, ke-4 dan
ke-5.
Operasi penangkapan diawali dengan
menentukan daerah tangkapan, dimana
penentuan tersebut berdasarkan hasil
pantauan di siang harinya dan insting para
nelayan.
Setelah
daerah
tangkapan
ditentukan, jangkar dan jaring diturunkan
sampai kedalaman tertentu sesuai dengan
kedalaman daerah tangkapan. Semua lampu
bagang dinyalakan. Setelah beberapa jam
atau dianggap sudah banyak ikan yang
berada di areal tangkapan, lampu bawah air
diturunkan pada kedalaman yang sesuai
dengan hasil pengujian sebelumnya.
Kemudian lampu bagang dimatikan secara
bertahap, sementara lampu bawah air tetap
dibiarkan menyala. Ikan akan berkumpul
pada sumber cahaya yang masih ada (lampu
bawah air), tepat di atas jaring. Kemudian
jaring diangkat dengan cepat agar ikan tidak
sempat keluar dari areal jaring.
Contoh gambar penggunaan lampu
celup bawah air pada operasi penangkapan
dengan bagan apung ditunjukkan pada
Gambar 3.3.26

Gambar 3.3 Sketsa penggunaan lampu
bawah air pada bagang.26

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penggunaan alat bantu cahaya dalam
operasi penangkapan ikan, khususnya pada
bagan apung (bagang) merupakan suatu hal
yang sudah biasa dilakukan oleh para
nelayan. Namun pemanfaatan cahaya yang
kurang maksimal membuat ikan kurang
tertarik pada cahaya, sehingga hasil
tangkapan para nelayan juga menjadi tidak
maksimal. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan alat bantu
cahaya pada bagang adalah daerah
tangkapan, intensitas cahaya, dan fokus
cahaya pada areal jaring.
Lampu bawah air dalam penelitian ini
dirancang untuk memaksimalkan fungsi dari
cahaya yang membuat reaksi fototaksis ikan
menjadi positif. Dengan demikian, lampu
dapat digunakan para nelayan untuk
meningkatkan hasil tangkapan dari bagang.
4.1 Pembuatan Lampu Bawah Air
Pembuatan
lampu
bawah
air
dilakukan dengan penutupan sempurna pada
setiap sisinya, sehingga lampu tidak dapat
ditembus oleh air. Lampu ini berbentuk
silinder dengan ukuran diameter 13 cm,
panjang 23 cm dan berat 5 kg. Sumber
cahaya lampu menggunakan senter LED
dengan 15 buah LED. Pada penelitian ini
dibuat empat lampu dengan ukuran yang
sama.
Ukuran lampu juga diperhatikan
dengan baik. Diameter pipa paralon
disesuiakan dengan senter LED, sehingga
sumber cahaya tidak goyang ketika ada
getaran. Panjang pipa paralon juga
disesuikan dengan senter LED, agar udara di
dalam lampu tidak terlalu banyak. Dengan
menambahkan besi seberat 2 kg pada ujung
sumber cahaya, maka lampu dapat
tenggelam dengan cahaya yang mengarah ke
bawah. Penambahan pengait tambang pada
ujung lainnya menyempurnakan bentuk
lampu bawah air. Dengan demikian, lampu
bawah air dapat berfungsi dengan baik
dalam pengujian intensitas cahaya dan
penggunaan pada operasi penangkapan ikan
dengan bagan apung.
4.2 Uji Intensitas Cahaya Lampu Bawah
Air
Uji intensitas cahaya dilakukan
dalam dua tahap, yaitu pada lampu bawah
air dan pada lampu Philips PLC-26 W yang
digunakan sebagai kontrol. Pengujian pada

9

lampu bawah air dilakukan untuk mencari
intensitas cahaya di udara (Iu) dan intensitas
cahaya di air (Ia), sedangkan pada lampu
kontrol hanya dilakukan untuk mencari
intensitas cahaya di udara (Iu).
Pengujian pada lampu bawah air
dimulai dari pengukuran nilai Iu dan Ia
dengan jarak tertentu dari sumber cahaya.
Pengukuran Iu dilakukan di darat dengan
jarak 0 sampai 10 m. Pengukuran Ia
dilakukan pada sampel air yang dimasukkan
ke dalam sebuah drum dengan jarak
0 sampai 1 m. Pengukuran ini dilakukan
untuk mengetahui kisaran intensitas cahaya
lampu bawah air yang akan digunakan pada
operasi penangkapan ikan dengan bagang.
Hasil pengukuran nilai Iu dapat dilihat pada
Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
lampu bawah air memiliki jangkauan cahaya
yang cukup jauh. Pada jarak 10 m lampu
masih memiliki intensitas cahaya sekitar
0.022 W/m2. Semakin jauh jaraknya dari
sumber cahaya, maka nilai intensitas cahaya
akan semakin kecil.
Pengukuran
dilanjutkan
untuk
mencari nilai Ia. Hasil pengukuran nilai Ia
dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan
Gambar 4.2.
Hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa nilai Ia lebih kecil daripada Iu. Hal ini
terjadi karena adanya penyerapan cahaya
yang disebabkan oleh berbagai partikel di
dalam air. Semakin jauh jaraknya dari
sumber cahaya, maka nilai intensitas cahaya
akan semakin kecil.

Tabel 4.1 Hasil pengukuran Iu lampu
Jarak (m)
Iu (W/m2)
0
20.025
0.1
14.435
0.2
7.800
0.3
5.535
0.4
4.485
0.5
3.810
0.6
3.180
0.7
2.880
0.8
2.535
0.9
2.280
1
2.190
2
1.171
3
0.451
4
0.399
5
0.301
6
0.214
7
0.121
8
0.057
9
0.036
10
0.022

Tabel 4.2 Hasil pengukuran Ia lampu
Jarak (m)
Ia (W/m2)
0
19.965
0.1
12.285
0.2
7.620
0.3
5.325
0.4
4.260
0.5
3.585
0.6
2.955
0.7
2.655
0.8
2.295
0.9
2.040
1
1.935

Gambar 4.2 Kurva hubungan antara Ia
dengan jarak (x)

Gambar 4.1 Kurva hubungan antara Iu
dengan jarak (x)

Pengujian
selanjutnya
yaitu
menghitung nilai koefisen pemudaran air
(k). Data Iu dan Ia digunakan dalam
perhitungan dengan Persamaan 3.1. Data
yang digunakan yaitu pada jarak 0.1 sampai
1 m. Hasil perhitungan nilai k yang
diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.3.

10

Tabel 4.3 Hasil perhitungan nilai koefisien
pemudaran air (k)
Jarak
Koefisien pemudaran
(m)
air (m-1)
0.1
0.121
0.2
0.117
0.3
0.129
0.4
0.129
0.5
0.122
0.6
0.122
0.7
0.116
0.8
0.124
0.9
0.124
1
0.124
krata-rata
0.123
Nilai koefisien pemudaran air di
daerah ini diperoleh dari nilai krata-rata, yaitu
sebesar
0.123
m-1.
Nilai
tersebut
menunjukkan bahwa tingkat kepudaran air
di Peraian Kamal Muara, Kepulauan Seribu
cukup tinggi. Hal ini memang terlihat jelas
pada air laut yang agak keruh.
Cahaya yang dipancarkan oleh lampu
bawah air merupakan cahaya berwarna
putih.
Untuk
mengetahui
panjang
gelombang yang paling dominan dari cahaya
putih tersebut, dilakukan uji spektroskopi
menggunakan sumber cahaya pada lampu.
Hasil uji spektroskopi pada lampu bawah air
dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Berdasarkan hasil yang diperoleh,
terdapat dua puncak panjang gelombang,
yaitu panjang gelombang 456.87 nm
(cahaya biru) dan panjang gelombang
550.97 nm (cahaya hijau). Hasil ini
menunjukkan bahwa panjang gelombang
yang dominan pada cahaya lampu bawah air
adalah panjang gelombang cahaya biru dan
hijau. Hasil uji yang diperoleh sesuai dengan
literatur
pada
Gambar
2.3,
yang
menunjukkan bahwa mata ikan umumnya
tertarik pada panjang gelombang sekitar
450 – 570 nm.

Lampu Philips PLC-26 W merupakan
sumber cahaya yang digunakan pada Lampu
celup bawah air. Dengan demikian, lampu
tipe ini dapat dijadikan sebagai kontrol
untuk menentukan kisaran intensitas cahaya
yang baik dalam operasi penangkapan ikan.
Cahaya lampu ini menyebar ke arah
samping dan ke arah bawah. Untuk itu
pengukuran dilakukan dalam dua perlakuan,
yaitu mencari intensitas cahaya lampu
philips di udara (Iu kontrol) dari cahaya
yang mengarah ke samping dan intensitas
cahaya lampu philips (Iu kontrol) dari
cahaya yang mengarah ke bawah.
Pengukuran pada perlakuan pertama
yaitu untuk Iu kontrol (samping). Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa kisaran
Iu kontrol pada jarak 1 m sama dengan
kisaran Iu lampu bawah air pada jarak 4 m,
yaitu berkisar 0.334 W/m2. Semakin jauh
jaraknya dari sumber cahaya, maka nilai
intensitas cahaya akan semakin kecil. Hasil
pengukuran nilai Iu kontrol (samping) dapat
dilihat pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.4.
Tabel 4.4 Hasil pengukuran Iu kontrol
(samping)
Jarak (m)
Iu (W/m2)
0.1
9.465
0.2
4.860
0.3
1.890
0.4
1.186
0.5
0.934
0.6
0.820
0.7
0.636
0.8
0.498
0.9
0.391
1
0.334

Gambar 4.4 Kurva hubungan antara
Iu kontrol
(samping)
dengan jarak (x)
Gambar 4.3 Hasil uji spektroskopi lampu
bawah air

11

Tabel 4.5 Hasil perhitungan nilai Ia kontrol
(samping)
Jarak (m)
Ia (W/m2)
0.1
9.349
0.2
4.741
0.3
1.821
0.4
1.129
0.5
0.879
0.6
0.762
0.7
0.583
0.8
0.451
0.9
0.351
1
0.295

Tabel 4.6 Hasil pengukuran Iu kontrol
(bawah)
Jarak (m)
Iu (W/m2)
0.1
8.640
0.2
2.430
0.3
1.276
0.4
0.789
0.5
0.526
0.6
0.388
0.7
0.312
0.8
0.271
0.9
0.259
1
0.243

Gambar

Gambar

4.5

Kurva hubungan antara
Ia kontrol (samping) dengan
jarak (x)

Berdasarkan nilai k dan Iu kontrol
(samping) yang diperoleh, dilakukan
perhitungan untuk mencari nilai Ia kontrol
(samping).
Perhitungan
tersebut
menggunakan Persamaan 2.1. Karena
adanya faktor k, maka nilai Ia kontrol
(samping) lebih kecil daripada nilai
Iu kontrol (samping). Namun sifat intensitas
cahayanya tetap, yaitu semakin jauh
jaraknya dari sumber cahaya, maka nilai
intensitas cahaya akan semakin kecil. Hasil
perhitungan nilai Ia kontrol (samping) dapat
dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.5.
Pengukuran pada perlakuan kedua
yaitu untuk Iu kontrol (bawah). Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa kisaran
Iu kontrol pada jarak 1 m sama dengan
kisaran Iu lampu bawah air pada jarak 6 m,
yaitu berkisar 0.243 W/m2. Hal ini
menunjukkan bahwa jangkauan cahaya pada
lampu bawah air lebih jauh daripada lampu
kontrol. Semakin jauh jaraknya dari sumber
cahaya, maka nilai intensitas cahaya akan
semakin kecil. Hasil pengukuran yang
diperoleh dapat dilihat pada Tabel 4.6 dan
Gambar 4.6.

4.6

Kurva hubungan antara
Iu kontrol (bawah) dengan
jarak (x)

Berdasarkan nilai k dan Iu kontrol
(bawah)
yang
diperoleh,
dilakukan
perhitungan untuk mencari nilai Ia kontrol
(bawah). Perhitungan tersebut menggunakan
persamaan 2.1. Karena adanya faktor k,
maka nilai Ia kontrol (bawah) lebih kecil
daripada nilai Iu kontrol (bawah). Namun
sifat intensitas cahayanya tetap, yaitu
semakin jauh jaraknya dari sumber cahaya,
maka nilai intensitas cahaya akan semakin
kecil. Hasil perhitungan nilai Ia kontrol
(bawah) dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan
Gambar 4.7.
Tabel 4.7 Hasil perhitungan Ia kontrol
(bawah)
Jarak (m)
Ia (W/m2)
0.1
8.535
0.2
2.371
0.3
1.230
0.4
0.751
0.5
0.495
0.6
0.360
0.7
0.286
0.8
0.246
0.9
0.232
1
0.214

12

Gambar 4.7 Kurva hubungan antara
Ia kontrol (bawah) dengan
jarak (x)
Berdasarkan
hasil
data
dan
perhitungan pada lampu kontrol, diketahui
bahwa kisaran intensitas yang dapat
membuat reaksi fototaksis ikan menjadi
positif,
sehingga
memperoleh
hasil
tangkapan tertinggi pada bagang adalah
antara 0.200-9.349 W/m2. Dengan kisaran
data yang diketahui, maka dapat ditentukan
jarak lampu bawah air dari permukaan pada
saat dicelupkan dalam operasi penangkapan
ikan.
Jangkauan lampu bawah air yang
mengarah ke bawah lebih jauh daripada
lampu kontrol. Hal ini menjadi suatu
pertimbangan untuk menentukan jarak
antara lampu bawah air terhadap permukaan
air laut pada saat melakukan operasi
penangkapan ikan. Pada saat operasi
penangkapan ikan, Lampu celup bawah air
dimasukkan ke dalam air sejauh 2 m dari
permukaan air. Berbeda dengan Lampu
bawah air, dimasukkan ke dalam air hanya
sekitar 0.3 m. Hal ini disebabkan karena
jangkauan cahaya pada lampu bawah air
yang lebih jauh. Jika lampu bawah air
dimasukkan terlalu dalam, maka posisi ikan
yang akan ditangkap juga jauh dari
permukaan, sehingga pada saat penarikan
jaring, ikan masih memiliki peluang untuk
keluar dari areal jaring.
Jangkauan lampu bawah air yang
mengarah ke samping lebih dekat daripada
lampu kontrol. Hal ini dapat diantisipasi
dengan menambah jumlah lampu agar dapat
mencakup areal jaring pada saat operasi
penangkapan.
4.3 Penggunaan Lampu Bawah Air pada
Operasi Penangkapan Ikan
Operasi penangkapan ikan dengan
bagang dilakukan pada malam hari. Keadaan

yang semakin gelap akan meningkatkan
kinerja dari bagang yang menggunakan
cahaya sebagai alat bantu penangkapan.
Pada penelitian ini digunakan Lampu bawah
air sebagai tambahan cahaya, agar cahaya
dapat terfokus pada areal jaring dan
mencakup areal tangkapan jaring. Kegiatan
penangkapan
ini
disebut
dengan
Experimental Fishing, yaitu kegiatan operasi
penangkapan ikan untuk menilai kinerja alat
tangkap, guna dikembangkan sebagai alat
tangkap standar oleh masyarakat (nelayan).
Suhu harus diperhatikan dalam
penggunaan Lampu bawah air pada operasi
penangkapan ikan, Suhu perairan bervariasi,
baik secara horizontal maupun vertikal.
Secara horizontal suhu bervariasi sesuai
dengan garis lintang dan secara vertikal
sesuai dengan kedalaman. Variasi suhu
secara vertikal di perairan Indonesia pada
umumnya dapat dibedakan menjadi tiga
lapisan, yaitu lapisan homogen (mixed layer)
di bagian atas, lapisan termoklin di bagian
tengah dan lapisan dingin di bagian bawah.
Lapisan homogen berkisar pada kedalaman
50 sampai 70 m. Pada lapisan ini terjadi
pengadukan air yang mengakibatkan suhu
pada lapisan ini menjadi homogen, sekitar
28 0C. Lapisan termoklin merupakan lapisan
dimana suhu menurun cepat terhadap
kedalaman, terdapat pada kedalaman
100 sampai 200 m, dengan suhu dapat turun
menjadi sekitar 7 0C. Lapisan dingin
merupakan lapisan mulai stabil kembali,
terdapat pada kedalaman

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengaruh Intensitas Cahaya Lampu Bawah Air dengan Senter Light Emitting Diode pada Reaksi Fototaksis Ikan di Perairan Kepulauan Seribu