Pemajangan kain batik

D. Pemajangan kain batik

Penyimpanan kain batik yang ditumpuk dapat menggunakan kertas tisu bebas asam diantara tumpukan kain. Lemari penyimpanan diusahakan dari bahan plastik, karena bahan ini lebih sulit teroksidasi oksidan di udara. Pembingkaian batik sangat disarankan untuk menambah keawetan benda yang dipajang. Bahan untuk bingkai dapat menggunakan kaca atau plexyglass. Cara lain memajang kain batik dengan cara menggantungnya.

commit to user

1. Hubungan antar ruang

a. Ruang di dalam ruang Sebuah bangunan yang luas dapat melingkupi dan memuat sebuah ruangan lain yang lebih kecil di dalamnya. Kontitunitas visual dan ruang di antara kedua ruang tersebut dengan mudah mampu dipenuhi tetapi hubungan dengan ruang luar dari ruang yang dimuat tergantung kepada ruang penutupnya yang lebih besar. Misalnya ruang kelas dalam gedung sekolah.

b. Ruang-ruang yang saling berkaitan Suatu hubungan ruang yang saling berkaitan terdiri dari 2 buah ruang yang kawasannya membentuk volume berkaitan seperti, masaing-masing ruang mempertahankan identitasnya dan batasan sebagai ruang. Tetapi, hasil konfigurasi kedua ruang yang saling berkaitan akan tergantung pada beberapa penafsiran.

c. Ruang-ruang yang bersebelahan Bersebelahan adalah jenis hubungan ruang yang paling umum. Hal tersebut memungkinkan definisi dan respon masing-masing ruang menjadi jelas terhadap fungsi dan persyaratan simbolis menurut cara masing-masing simbolisnya.

d. Ruang-ruang yang dihubungkan oleh ruang bersama Dua buah ruang yang terbagi oleh jarak dapat dihubungkan atau dikaitkan satu sama lain oleh ruang ketiga yaitu ruang pertama. Hubungan akan kedua ruang tersebut menempati satu ruang bersama-sama.

commit to user

Penyusunan ruang-ruang dapat menjelaskan tingkat kepentingan relatif dan fungsi serta peran simbolis ruang-ruang tersebut di dalam suatu organisasi bangunan. Keputusan mengenai jenis organisasi yang harus digunakan dalam situasi khusus akan tergantung pada: kebutuhan atas program bangunan, seperti pendekatan fungsional persyaratan ukuran, klasifikasi hirarki ruang-ruang dan syarat-syarat pencapaian, pencahayaan atau pemandangan. Kondisi-kondisi eksterior dari tapak yang mungkin akan membatasi bentuk atau pertumbuhan organisasi atau yang mungkin merangsang organisasi tersebut untuk mendapatkan gambaran-gambaran tertentu tentang tapaknya dan terpisah dari bentuk-bentuk lainnya. (Ching, 2000, 188)

Berbagai macam pengorganisasian ruang menurut Francis.D.K. Ching antara lain sebagai berikut :

a. Terpusat

(Gambar 2.42 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 189) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

suatu ruang dominant, dimana pengelompokan sejumlah ruang sekunder dihadapkan.

commit to user

sejumlah ruang sekunder, dikelompokkan mengelilingi sebuah ruang pusat yang luas dan dominan.

(Gambar 2.43 Ilustrasi 1 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Ruang pemersatu terpusat, dari suatu organisasi pada umumnya berbentuk teratur dan ukurannya cukup besar untuk menggabungkan sejumlah ruang sekunder di sekelilingya.

(Gambar I2.44 Ilustrasi 2 Organisasi ruang terpusat)

(Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Ruang-ruang sekunder dari suatu organisasi mungkin setara satu sama lain dalam fungsi, bentuk dan ukuran, serta menciptakan suatu konfigurasi keseluruhan yang secara geometri teratur dan simetris terhadap dua sumbu atau lebih.

(Gambar 2.45 Ilustrasi 3 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

ukurannya sebagai tanggapan terhadap kebutuhan-kebutuhan individu akan fungsi, menunjukkan kepentingan relatif, atau lingkungan suasana sekitarnya. Perbedaan antara ruang-ruang sekunder juga memungkinkan bentuk dari organisasi terpusat untuk menanggapi kondisi lingkungan tapaknya.

(Gambar I2.46 Ilustrasi 4 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 190)

Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Apabila bentuk organisasi terpusat bersifat tidak berarah, kondisi-kondisi pencapaian dan jalan masuk harus dikhususkan menurut tapak dan ketegasan salah satu ruang sekunder sebagai gerbang masuk.

(Gambar 2.47 Ilustrasi 5 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Pola sirkulasi dan pergerakan dalam suatu organisasi terpusat mungkin berbentuk radial, lup atau Spiral. Walaupun hampir dalam setiap kasus pola tersebut akan berakhir di dalam atau di sekeliling ruang pusat.

commit to user

(Gambar 2.48 Ilustrasi 6 Organisasi ruang terpusat) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Organisasi-organisasi terpusat yang bentuk-bentuknya relatif padat dan secara geometric teratur dapat digunakan untuk menetapkan titik- titik atau “tempat-tempat” di dalam ruangan, menghentikan kondisi-kondisi aksial, dan berfungsi sebagai suatu obyek di dalam daerah atau volume ruang yang tetap.

(Gambar 2.49 Ilustrasi 7 Organisasi ruang terpusat)

(Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

b. Linier

(Gambar 2.50Organisasi ruang Linier)

(Sumber : Ching, 2000, hal 189) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

Organisasi linier pada dasarnya terdiri dari sederetan ruang. Ruang-ruang ini dapat berhubungan secara langsung satu dengan yang lain atau dihubungkan melalui ruang linier yang berbeda dan terpisah.

Organisasi linier biasanya terdiri dari ruang-ruang yang berulang serupa dalam hal ukuran, bentuk dan fungsi. Organisasi ini juga dapat terdiri dari ruang linier tunggal yang menurut panjangnya mengorganisir sederetan ruang-ruang sepanjang bentangnya yang berbeda ukuran, bentuk atau fungsi. Dalam kedua kasus di atas, tiap-tiap ruang di sepanjang rangkaian tersebut memiliki hubungan dengan ruang luar.

(Gambar 2.51Ilustrasi 1Organisasi ruang Linier) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Ruang-ruang yang secara fungsional atau simbolis penting keberadaannya terhadap organisasi dapat terjadi di manapun sepanjang rangkaian linier dan kepentingannya ditegaskan oleh ukuran maupun bentuknya. Kepentingan juga dapat ditekankan menurut lokasinya: (1) pada ujung rangkaian linier, (2) keluar dari organisasi linier, (3) pada titik-titik belok bentuk linier yang terpotong-potong

(Gambar 2.52 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Linier) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

dan menggambarkan gerak, perluasan dan perturnbuhan. Untuk membatasi per- tumbuhannya, organisasi-organisasi linier dapat dihentikan oleh suatu bentuk atau ruang yang dominan, dengan adanya tempat masuk yang menonjol dan tegas, atau penggabungan dengan bentuk bangunan lain atau karena keadaan topografi.

(Gambar 2.53 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Linier) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Bentuk organisasi linier bersifat fleksibel dan dapat menanggapi terhadap bermacam-macam kondisi tapak. Bentuk ini dapat disesuaikan dengan adanya perubahan-perubahan topografi, mengitari suatu badan air atau sebatang pohon, atau mengarahkan ruang-ruangnya untuk memperoleh sinar matahari dan pemandangan. Bentuknya dapat lurus, bersegmen, atau melengkung. Konfigurasinya dapat berbentuk horisontal sepanjang tapaknya, diagonal menaiki suatu kemiringan atau berdiri tegak seperti sebuah menara.

(Gambar 2.54 Ilustrasi 4 Organisasi ruang Linier) Sumber : Ching, 2000, hal 190) ( Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

dalam lingkupnya dengan: (1) menghubungkan dan mengorganisir bentuk-bentuk di sepanjang bentangnya, (2) berfungsi sebagai dinding atau penahan untuk memisahkan ruang menjadi daerah yang berbeda. (3) mengelilingi dan melingkupi bentuk-bentuk ke dalam sebuah daerah ruang.

(Gambar 2.55 Ilustrasi 5 Organisasi ruang Linier) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Bentuk-bentuk lengkung dan bersegmen pada organisasi-organisasi linier melingkupi daerah ruang eksterior pada sisi cekungnya dan mengarahkan ruang- ruangnya menghadap ke pusat daerah. Pada sisi cembungnya, bentuk-bentuk ini tampak menghadang dan memisahkan ruang di hadapannya terhadap lingkungannya.

(Gambar 2.56Ilustrasi 6 Organisasi ruang Linier) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

(Gambar 2.57 Organisasi ruang Radial) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Sebuah ruang pusat yang menjadi acuan organisai ruang yang linier berkembang menurut bentuk jari-jari. Organisasi ruang radial memadukan unsur- unsur baik organisasi terpusat maupun linier. Organisasi ini terdiri dari ruang pusat yang dominan di mana sejumlah organisasi linier berkembang menurut arah jari-jarinya. Apabila suatu organisasi terpusat adalah sebuah bentuk yang introvert yang memusatkan pandangannya ke dalam ruang pusatnya, maka sebuah organisasi radial adalah sebuah bentuk yang ekstrovert yang mengembang keluar lingkupya. Dengan lengan-lengan liniernya, bentuk ini dapat meluas dam menggabungkan dirinya pads unsur-unsur atau benda-benda tertentu pada tapaknya.

(Gambar 2.58Ilustrasi 1 Organisasi ruang Radial)

(Sumber : Ching, 2000, hal 190)

Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Seperti pada organisasi-organisasi terpusat, ruang pusat pada suatu organisasi radial pada umumnya berbentuk teratur. Lengan-lengan linier di mana ruang pusat

commit to user

panjang dan mempertahankan keteraturan bentuk organisasi secara keseluruhan.

(Gambar 2.59 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Radial) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Lengan-lengan radialnya juga dapat berbeda satu sama lain untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan individu akan fungsi dan konteksnya. Variasi tertentu dari orgarisasi radial adalah pola baling-baling di mana lengan-lengan liniernya berkembang dari sisi sebuah ruang pusat berbentuk segi empat atau bujur sangkar. Susunan ini menghasilkan suatu pola dinamis yang secara visual mengarah kepada gerak berputar mengelilingi ruang pusatnya.

(Gambar 2. 60 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Radial) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

d. Cluster

(Gambar 2.61Organisasi ruang Cluster)

Sumber : Ching, 2000, hal 190 Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

memanfaatkan ciri atau hubungan visual. Untuk memperkuat dan menyatukan bagian-bagian Organisaai dalam bentuk kelompok atau cluster mempertimbangkan pendekatan fisik untuk menghubungkan suatu ruang terhadap ruang lainnya. Sering kali organisasi ini terdiri dari ruang-ruang selular yang berulang yang memiliki fungsi-fungsi sejenis dan memiliki sifat visual yang umum seperti wujud dan orientasi. Sebuah organisasi kelompok juga dapat menerima di dalam komposisinya, ruang-ruang yang berlainan ukuran, bentuk dan fungsinya, tetapi berhubungan satu dengan yang lain berdasarkan penempatan atau alat penata visual seperti kesimetrisan atau sebuah sumbu. Karena polanya tidak berasal dari konsep geometri yang kaku, bentuk suatu organisasi kelompok bersifat fleksibel dan dapat menerima pertumbuhan dan perubahan langsungr tanpa mempengaruhi karakternya,

(Gambar 2.62Ilustrasi 1 Organisasi ruang Cluster) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

(Gambar 2.63 Ilustrasi 2 Organisasi ruang Cluster) (Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

tempat masuk ke dalam bangunan atau sepanjang alur gerak yang rnelaluinya. Ruang-ruang dapat juga dikelompokkan berdasarkan luas daerah atau volume ruang tertentu. Pola ini serupa dengan organisasi terpusat, tetapi kurang dalarn hal kepadatan dan keteraturan geometri akhirnya. Ruang-ruang suatu organisasi kelompok dapat juga dimasukkan dalam suatu daerah atau volume ruang yang telah dibentuk.

(Gambar 2.64 Ilustrasi 3 Organisasi ruang Cluster) (Sumber : Ching, 2000, hal 190)

Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Karena tidak adanya tempat utama di dalam pola organisasi berbentuk kelompok, maka tingkat kepentingan sebuah ruang harus ditegaskan lagi melalui ukuran, bentuk atau orientasi di dalarn polanya.

Kondisi simetris, atau aksial dapat dipergunakan untuk memperkuat atau menyatukan bagian-bagian suatu oerganisasi kelompok dan membantu menegaskan pentingnya suatu ruang sekelompok ruang atau dalam organisasi

(Gambar 2.65 Ilustrasi 4 Organisasi ruang Cluster)

(Sumber : Ching, 2000, hal 190) Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

commit to user

(Gambar 2.66 Organisasi ruang Grid) (Sumber : Ching, 2000, hal 190)

Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

Ruang-ruang diorganisir dalam kawasan grid struktural atau grid tiga dimensi lain. Organisasi grid terdiri dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang dimana posisinya dalam ruangan dan hubungan antar ruang diatur oleh pola atau bidang grid tiga dimensi

(Gambar 2.67Ilustrasi 1 Organisasi ruang Grid) (Sumber : Ching, 2000, hal 190)

Dikutip dari Data TA Decnyta Kumalasari

1. Pola Sirkulasi

a. Pola Sirkulasi Sirkulasi ruang mengarah dan membimbing perjalanan atau tapak yang terjadi dalam ruang. Sirkulasi memberi kesinambungan pada pengunjung terhadap fungsi ruang. (Pamudji Suptandar, 1999, h.114)

Menurut Le Corbisier, suatu sirkulasi yang terorganisir secara baik antara satu dengan yang lain dihubungkan dengan sistem lalu lintas yang berkesinambungan, semua ruang di analisa, disesuaikan dengan perkembangan atau perubahan- perubahan yang bisa terjadi dalam kehidupan, kegemaran

commit to user

sistem sirkulasi (Suptandar,1999, h.114) Menurut Pamuji Suptandar, 1999 .hal 119-120, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan sirkulasi dalam ruang :

a) Kegiatan manusia sebagian besar dilakukan di dalam ruang, maka faktor yang sangat penting adalah perancangan sirkulasi yang ada di dalam ruangan itu.

b) Fungsi ruang ditentukan oleh kegiatan manusia yang di dalamnya mempengaruhi dimensi ruang, organisasi ruang, ukuran, sirkulasi ruang, letak serta bukaan jendela dan pintu.

c) Dimensi “ruang dalam” sangat ditentukan oleh aktivitas manusia dan dipengaruhi skala dan proporsi manusia itu sendiri.

d) Modul perancangan ruang ke ruang dan bangunan merupakan faktor utama, dimana faktor-faktor yang mempengaruhi modul tersebut adalah bahan- bahan bangunan dan teknik pelaksanaan.

e) Pencapaian ruang-ruang hendaknya diberi identitas yang jelas dimana hal ini berhubungan erat dengan sistem organisasi ruang. Dalam perencanaan sirkulasi ada beberapa bentuk dari lorong dengan metode perencanaannya yaitu mengikuti pola-pola sirkulasi antar ruang.

commit to user

Nama Pola Sirkulasi

Jalan Lurus.

Jalan Melengkung.

Memotong Jalan Lain.

Bercabang-cabang.

Semua jalan adalah linear. Jalan yang lurus dapat menjadi unsur pengorganisir yang utama untuk satu deretan ruang-ruang.

Jalan dapat melengkung atau

terdiri

dari

segmen-segmen, memotong jalan lain, bercabang- cabang dan membentuk kisaran / loop.

Membentuk Loop

Radial

Bentuk radial memiliki jalan yang berkembang dari atau berhenti pada sebuah pusat.

Spiral

Pola bentuk spiral adalah suatu jalan yang menerus yang berasal dari titik pusat, berputar mengelilinginya dengan jarak yang dapat berubah.

commit to user

jalan sejajar yang saling berpotongan pada jarak yang sama dan menciptakan bejur sangkar atau kawasan-kawasan segi empat.

Network

Suatu bentuk jalan yang terdiri dari beberapa jalan yang menghubungkan titik-titik tertentu di dalam ruang.

Komposit

Suatu kombinasi alur jalan- jalan linear, radial, spiral, grid dan network.

Untuk menghindari orientasi membingungkan, suatu susunan hirarkis diantara jalur-jalur jalan

bisa

dicapai dengan membedakan skala, bentuk dan panjangnya.

(Tabel 2.1 pola sirkulasi) (Sumber : Arsitektur Bentuk, Ruang dan Susunannya, 1999;271)

4. Furniture Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari kegiatan yang erat hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup, manusia membutuhkan ruang yang lengkap dengan peralatan yang sesuai dengan keperluan sehari-hari. Oleh karenanya Ruang yang kosong tanpa ada benda satupun di dalamnya tentu tidak akan memuaskan kebutuhan manusia, apabila ruang telah dilengkapi dengan furniture, barulah ruang tersebut dapat berfungsi.

commit to user

kenyamanan si pemakai sedang fungsi furniture tidak dapat dipisahkan dengan faktor estetika. Dalam perencanaan kita harus mengetahui terlebih dahulu jenis aktivitas, sehingga kita tahu bentuk furniture yang akan dibuat terhadap luasan ruang, system pencahayaan, pemilihan warna serta kondisi-kondisi lainnya.

Penyusunan furniture akan menimbulkan berbagai aspek yang berhubungan dengan jenis aktivitas, fungsi, maupun segi-segi visual. Semua ini memiliki kaitan antara aspek yang satu dengan aspek yang lain. Setelah semua faktor tersebut terperhatikan kemudian meningkat pada tahap berikutnya yaitu bagaimana menerjemahkannya dalam desain.

Desain furniture dibagi atas dua kategori :

1) Furniture yang berbentuk case (kotak) termasuk chest, meja tulis, lemari buku dan kursi yang tidak mempunyai pelapis, tipe furniture semacam ini di Indonesia masih dibuat dari kayu walaupun bahan-bahan lain bertambah populer.

2) Furniture yang dilapisi, misalnya sofa, kursi-kursi yang seluruhnya atau sebagian diberi pelapis termasuk perlengkapan-perlengkapan tidur. (Desain Interior, 1999 : 172)

5. Warna Warna suatu unsur penting yang telah memberikan perannya dalam kehidupan ini. Menurut Helen Graham (seorang dosen psikologi di Keele University) dalam bukunya “Penyembuhan dengan Warna”,

commit to user

ini, dan banyak tradisi penyembuhan kuno dari berbagai kebudayaan mencerminkan adanya kesadaran ini. Penggunaan warna dalam penyembuhan bukanlah hal yang baru. Sekarang bidang ini disebut terapi warna, yang merupakan penemuan kembali dari beberapa prinsip dan praktek yang sudah diketahui sejak zaman dahulu kala. (Helen Graham, Penyembuhan Dengan Warna, 1998, hal 4 ). Berikut ini beberapa efek psikologis yang dapat ditimbulkan oleh warna yang

dikemukakan oleh Helen Graham, Yaitu:

a) Merah Memberi energi pada kaki, tungkai, pinggul, sendi pinggul, dasar tulang punggung, prostate, testes, saluran kemih dan kelamin. Warna ini merangsang aktivitas fisik dan vitalitas, perasaan-perasaan aman, stabil, percaya diri, dan kehangatan. Warna ini dapat digunakan pada benda-benda atau hal-hal didalam ruang atau gedung dimana dibutuhkan aktivitas fisik yang tinggi dan diruang bermain anak- anak. Warna ini sebaiknya tidak digunakan pada anak-anak, dan orang dewasa yang hiperaktif, yang menggunakan kekerasan dan agresif, atau pada situasi kerja yang menggunakan mesin-mesin yang bisa berbahaya dan membutuhkan konsentrasi,

ruang untuk membaca, atau kamar tidur.

b) Oranye Warna ini memberi energi pada hati, limpa, pancreas, ginjal, dan kandung kemih. Warna ini merangsang metabolisme, pencernaan, penghilangan racun, daya tahan terhadap penyakit, energi-energi fisik dan emosi, seksualitas,

commit to user

tubuh. Warna ini dapat digunakan pada ruang bermain, ruang latihan, sanggar tari, dan ruang olah raga, atau tempat terjadi perkumpulan sosial. Jangan menggunakan warna ini pada ruang-ruang istirahat.

c) kuning Kuning memberi energi pada kelenjar adrenalin, system saraf simpatik sehingga memberikan energi pada otot, denyut jantung, pencernaan, dan peredaran darah. Warna ini merangsang saluran pencernaan, aktivitas mental, kejelasan mental, alasan lisan, dan kekuatan kemauan.

Gunakan warna kuninga di ruang baca dan belajar, ruang pertemuan sosial dan tempat dimana diperlukan pembicaraan yang hidup dan untuk dekorasi ruang atau gedung yang digunakan ole hank-anak yang mengalami kesulitan belajar.

Jangan gunakan warna ini pada anak dan orang dewasa yang hiperaktif, agresif, atau memiliki kelainan perilaku, dan ruang istirahat

d) Hijau Memberi energi pada kelenjar timus, warna ini merangsang jantung, paru-paru, bronchus, lengan, tangan, kulit, peredaran darah sirkuler, dan system daya tahan tubuh. Hijau menunjukkan perasaan yang positif, kasih sayang, dan kepekaan.

Gunakan warna ini pada setiap ruangan, bangunan, ruang kerja, atau sanggar dimana dibutuhkan ketenangan dan kedamaian, diperlukan kepekaan atau aktivitasnya melibatkan sentuhan fisik, serta ruang-ruang istirahat.

commit to user

pemikiran yang analistis, atau bagi penderita penyakit auto-imunitas.

e) Biru langit Memberi energi pada kelenjar tiroid sehingga memberi energi pada metabolisme, pengendalian suhu tubuh. Warna ini merangsang suara, ungkapan diri, komunikasi, tanggung jawab pribadi, dan pendengaran.

Gunakan warna ini untuk kamar tidur, ruang istirahat, klinik, setiap ruangan atau bangunan yang digunakanuntuk prosedur klinik, penyimpan produk susu, penyimpanan dingin, dan bagi mereka yang sedang menderita gangguan insomnia dan mengalami syok.

Jangan gunakan warna ini pada anak atau orang dewasa yang mengalami kedinginan atau menggigil, dan bagi penderita kekurangan fungsi tiroid atau metabolisme yang lambat.

f) Biru gelap atau indigo Memberi energi pada kelenjar pineal. Warna ini merangsang otak bagian bawah, system saraf pusat dan system endokrin terutama hormone serotonin dan melatonin, Karena itu biru gelap merangsang aktivitas hormonal diseluruh tubuh, proses-proses yang tidak disadari, imajinasi, pemahaman, naluri dan kemampuan psikis atau paranormal.

Gunakan warna ini untuk ruang-ruang kontemplasi (renungan) dan meditasi. Jangan gunakan warna ini untuk ruang bermain atau pusat-pusat aktivitas fisik.

commit to user

Memberikan energi pada kelenjar pituitary. Warna ini merangsang otak bagian atas dan system saraf, kreativitas, ilham, estetika (keindahan), kemampuan artistic, dan cita-cita luhur.

Gunakan warna ini pada orang-orang yang ingin mengilhami aktivitas artistic, estetik, imajinatif, dan spiritualitas, memfasilitasi pemusatan perhatian yang jelas, kesadaran dan meditasi, ruang-ruang teater, ruang kelas anak-anak.

Jangan gunakan warna ini diruangan yang digunakan untuk hiburan atau dimana kita menginginkan adanya percakapan, atau diruangan dan bangunan yang ditinggali oleh orang yang memiliki gangguan mental, terutama mereka yang menderita delusi (pikiran atau pandangan yang tidak berdasar atau tidak rasional) atau

depersonalisasi (kehilangan rasa memiliki identitas pribadi) atau kecenderungan untuk mengundurkan diri

6. Elemen pembentuk ruang

a. Lantai Lantai merupakan bagian bangunan yang berhubungan langsung dengan beban, baik beban mati, bergerak dan gesek. Karakter lantai harus mempunyai daya tahan yang kuat dalam mendukung beban-beban yang datang dari segala perabotan, aktivitas manusia dalam ruang dan lain-lain. Selain itu, lantai harus bersifat kaku dan tidak bergetar (Djoko Panuwun, 1994, hal.6).

Lantai mempunyai tugas untuk mendukung beban yang datang dari benda- benda, seperti perabot rumah tangga, manusia dengan segala aktivitasnya dan kerangka itu harus mampu dan kuat memikul beban mati atau hidup, lalu lintas

commit to user

Persyaratan lantai: 1)Lantai harus kuat dan dapat menahan beban diatasnya.

2) Mudah dibersihkan

3) Kedap suara

4) Tahan terhadap kelembaban

5) Memberikan rasa hangat pada kaki dan sebagainya

b. Dinding Dinding merupakan bidang nyata yang membatasi suatu ruang atau pembatas kegiatan yang mempunyai jenis berbeda. Dinding adalah penahan beban yang menyangga lantai dan atap, sehingga struktur kekuatan dinding sebagai penahan beban harus diperhatikan (John F. Pile, 1995, hal.222). Dinding merupakan unsur penting dalam pembentukan ruang, baik sebagai unsur penyekat/ pembagi ruang maupun sebagai unsur dekoratif. Dalam proses perancangan suatu ”ruang dalam” dinding mempunyai peranan yang cukup

dominan dan memerlukan perhatian khusus, di samping unsur-unsur lain seperti tata letak, desain furniture serta peralatan-peralatan lain yang akan disusun bersama dalam suatu kesatuan dengan dinding.

Setelah fungsi dinding tercapai dan untuk menambah keindahan ruang, dinding dipergunakan sebagai ”point of interest” dari ruang dinding samping

memberi atau menambah keindahan ruang. Dinding juga dapat merusak suasana ruang, yaitu apabila dalam perencanaannya sangat dipaksakan, terutama dikarenakan bahwa dinding tersebut telah ada sebelumnya. Ini terjadi pada

commit to user

1999 : 147 ) Dinding pada suatu wadah kegiatan dapat sebagai struktur atau hanya sebagai pembatas ruang saja, tergantung dari sistem struktur yang dipakai dalam perencanaannya (Djoko Panuwun, 1995 : 56). Fungsi dan bentuk dinding terbagi menjadi 2 bagian :

1. Struktur, misalnya :

a) Bearing wall : dinding yang dibangun untuk menahan tepi dari tumpukan/ urugan tanah.

b) Load bearing wals : dinding untuk menyokong/ menopang balok, lantai, atap dan sebagainya.

c) Foundation wall : dinding yang dipakai di bawah lantai, tingkat dan untuk menopang balok-balok lantai pertama.

2. Non struktural, misalnya :

a) Party wall : dinding pemisah antara dua bangunan yang bersandar pada masing-masing bangunan.

b) Fire wall : dinding yang digunakan sebagai pelindung dari pancaran kobaran api.

c) Certain or Panels wall : dinding yang digunakan sebagai pengisi pada suatu konstruksi rangka baja atau beton.

d) Partition wall : dinding yang digunakan sebagai pemisah dan pembentuk ruang yang lebih kecil didalam ruang yang besar.

( Pamudji Suptandar, 1999 : 145 )

commit to user

Pengertian istilah ceiling/langit- langit/plafond, berasal dari kata ”ceiling”, yang berarti melindungi dengan suatu bidang penyekat sehingga terbentuk suatu ruang. Secara umum dapat dikatakan : ceiling adalah sebuah bidang (permukaan) yang terletak di atas garis pandangan normal manusia, berfungsi sebagai pelindung (penutup) lantai atau atap dan sekaligus sebagai pembentuk ruang dengan bidang yang ada di bawahnya. Dengan jarak ketinggian tertentu dalam bangunan, ceiling sebagai elemen penutup utama pada bidang atas sebagai pembentuk atap bangunan. (Pamudji Suptandar, 1999 : 161)

Ceiling adalah pembentuk ruang yang merupakan penutup bagian atas. Kesan pertama adalah adanya tinggi rendah ruang, berfungsi sebagai bidang penempatan lampu, penempatan AC, sprinkler head, audio loudspeaker dan sebagai peredam suara atau akustik (John F. Pile, 1995, hal. 250).

Dasar pertimbangan dalam perencanaan langit-langit adalah :

1) Fungsi langit-langit Fungsi dari langit-langit selain sebagai penutup ruang juga sebagai pengatur udara dan ventilasi.

2) Penentuan ketinggian Penentuan ketinggian didasari oleh pertimbangan fungsi, proporsi ruang, kegiatan ruang, konstruksi dan permainan ceiling.

3) Bentuk penyelesaian Bentuk dan penyelesaian dapat dilakukan berdasarkan fungsinya seperti melengkung, berpola, polos, memperlihatkan struktur, dan sebagainya. (Djoko Panuwun, 1999 : 72)

commit to user

membutuhkan konsentrasi, diusahakan agar ceilingnya berbentuk sederhana, tidak menyolok karena akan mengganggu konsentrasi. Pada ruang pamer, agar menarik pengunjung, dibuat ceiling yang kontras, saling bersaing untuk dapat menonjolkan diri dan kesan yang mewah. Dengan melajunya kemajuan teknologi, dan penemuan-penemuan baru di bidang industri bahan bangunan tercipta berbagai material ceiling yang memungkinkan untuk memenuhi segala macam jenis fungsi ruang antara lain :

a) Untuk mencapai kesan alamiah, kayu, anyaman bambu, rotan, dan lain-lain

b) Untuk gaya klasikal, plat-plat gibs bermotif

c) Untuk mencapai kesan glamour, kaca (antique glass ceiling), kain beludru

d) Pada rumah-rumah sederhana, eternit polos (bermotif), tripleks (multipleks), dan berbagai jenis softboard/akustik tile . Interior Sistem

Didalam sebuah karya penciptaan sebuah karya interior maupun arsitek yang baik, ada baiknya selain memperhatikan keindahan juga memperhatikan perancangan bangunan yang serba alami. Pencahayaan alami, ventilasi atau penghawaan alami, dan akustik alami. Akan tetapi, tuntutan kehidupan modern dan keterbatasan potensi alam telah menuntut manusia beralih kehal-hal yang serba buatan, baik pencahayaan buatan, ventilasi atau penghawaan buatan, dan akustik buatan. Tetapi meski semua buatan, tidaklah keliru jika diterapkan secara benar.

commit to user

Cahaya terang adalah persyaratan untuk penglihatan manusia, karena dalam kegelapan total kita tidak dapat melihat apa-apa. Namun dalam terang yang berlebihan kita tidak tahan juga kesilauannya, maka perlu suatu daerah maksimum dan minimum untuk bisa melihat sehat dan n ikmat”. (Y.B. Mangunwijaya,1997:211)

Jenis pencahayaan menurut Sumbernya ada dua, yaitu :

a. Sistem Pencahayaan Alami (Natural ligthing) Penerangan menggunakan pencahayaan alami pada siang hari yaitu sinar matahari sangat berpengaruh pada sebuah kelas. Sistem pencahayaan alami ini merupakan sistem yang sangat sederhana, yaitu dengan mengandalkan cahaya matahari pada siang hari. Sifat dari sistem pencahayaan alami ini antara lain :

Cahaya alami siang tidak continue. Cahaya matahari dapat merusak sebagian benda –benda

koleksi ruang pamer, karena tingkat iluminasinya, dan komposisi spectrum cahaya.

Cahaya campuran, yaitu sebagian dari cahaya matahari dan sebagian dari cahaya lampu yang biasa dipakai saat siang hari. Namun yang banyak adalah lampu, karena bagaimanapun bentuk ruangannya, selalu ada lampu yang mendukung.

Dinding tempat jendela utama menggunakan kolom dari batu bata dan sedikit penompang untuk mendapatkan cahaya matahari yang merata dan tidak menyilaukan.

commit to user

lantai ruangan maka jendela sebaiknya tidak mempunyai ambang yang tidak terlalu tinggi. Untuk mengatasi silau yang disebabkan oleh cahaya yang berlebihan pada keadaan tertentu (karena awan tinggi, dll) dapat digunakan alat pengatur cahaya yang juga berfungsi sebagai penyerap panas.

b. Sistem Pencahayaan Buatan (Artificial lighting) Pencahayaan buatan yang sering digunakan dapat dibagi dua macam, yaitu: Lampu Fluoresensi di sini proses pengubahan energi listrik menjadi energi cahaya yang berlangsung dalam suatu gas dalam tingkat atom, dan tidak disertai oleh penghasilan energi panas, biasanya lampu ini berbentuk pipa. Lampu pijar yang terangnya datang dari benda kawat yang panas, dimana sebagian energi berubah menjadi energi panas dan sebagian menampakkan diri sebagai energi cahaya. Disini energi cahaya timbul dari energi listrik yang berlangsung pada tingkat molekul dan disertai pengeluaran energi panas. Pencahayaan buatan dengan kualitas terbaik dengan indeks penampakan warna

minimal 90, suhu warna kurang lebih 4000 Kelvin. Untuk itu dapat digunakan sebagai pencahayaan umum, lampu-lampu TL putih yang mempunyai arus cahaya khusus

Sistem Peletakan Sumber Pencahayaan Buatan

Berfungsi untuk menerangi seluruh ruang bagi kegiatan Ruang Pamer. Ada empat macam sistem pencahayaan secara umum, yaitu :

a. Sistem Pencahayaan Langsung.

b. Sistem Pencahayaan Semi Langsung.

c. Sistem Pencahayaan Semi Tak Langsung.

commit to user

Gambar 2.68 (

Beragam Sistem Pencahayaan yang digunakan dalam ruang)

(Sumber : John E Flyn & Segel, 1970:141)

Lampu buatan langsung, digunakan untuk penerangan obyek, diantaranya :

a. Instalasi loteng (Attic Instalation). Lampu dengan reflector ini diletakkan di bawah kaca atap. Lampu pijar ditempatkan di empat baris paralel dengan empat dinding.

b. Kaca atap buatan/palsu (False Skylight). Alat untuk mendapat efek kaca atap tanpa penggunaan kaca atap. Mengurangi pembukaan atap. Lebih baik dan ekonomis daripada kaca atap.

c. Lampu Hias (Louvered Lights). Menggunakan satu atau banyak lampu pijar. Sinarnya ke bawah dan yang diterangi bisa sempit atau luas. Lampu ini akan membentuk bayangan hias di lantai.

d. Atap Hias (Louvered Ceiling). Atap gantung terbuat dari lembaran metal atau plastik yang berwujud persegi, bersilang –silang. Lampunya secara tidak langsung akan menyinari ruangan tanpa menyilaukan.

commit to user

Dengan lensa biasa palung harus dimiringkan untuk mengarahkan cahaya. Sistem ini lazim dipakai di Galery.

f. Lampu Troffer adalah panel cahaya yang diletakkan tinggi di langit –langit. Untuk ruang pamer, panel ini ditutup oleh lensa langsung khusus yang menempatkan cahaya di sudut dinding atau tempat lain yang diinginkan.

g. Lampu Polarisasi, masih terbatas, mengurangi silau, akan menolong penglihatan.

h. Lampu Kasus (Cases Lighting), bentuk umum dalam pencahayaan obyek langsung. Lampu buatan tidak langsung, untuk ruang bukan langsung obyek:

a. Lampu terpasang gantung (suspended fixture) jenis ini tidak langsung atau semi tidak langsung menggunakan lampu pijar. Lampu ini menjaga mata dari kesilauan dengan mengarahkan cahaya ke langit-langit. Bayang-bayang yang tidak menyenangkan di langit-langit dikurangi dengan penggunaan alat-alat lain yang memantulkan sedikit cahaya ke bagian luar peralatan yang sudah terpasang itu.

b. Lampu ke atas tersembunyi (concealed uplights) digunakan untuk mencurahkan cahaya ke langit-langit dari atas kotak, layar atau barang lain. Jenis portable lampu ini tidak tepat dipakai di ruang pamer tapi dapat dipakai di lobby.

(Gambar 2.69

Sumber pencahayaan pada sudut langit-langit atas ruangan.)

(Sumber: Technical Report of the illuminating Engineering Society, 1970 : 20)

commit to user

Teluk lampu (lighting cases) dengan tempat kecil horizontal di dinding yang menyembunyikan sumber cahaya sangat efektif untuk pencahayaan tidak langsung, cocok untuk ruang sedang atau besar (aula).

Panel Lampu (lighting panels) papan yang diangkat terbuka dengan lampu palung yang tersembunyi di tepinya, sebagai pembagi cahaya. Panel langit- langitnya berbentuk variatif (bulat, persegi, bujur sangkar atau bebas)

(Gambar 2.70 Sumber Pencahayaan yang ditutupi panel)

( Sumber : Technical Report of the illuminating Engineering Society, 1970 :18.)

Penggunaan cahaya buatan diperlukan dalam beberapa aktivitas dan keadaan, terutama untuk ruang serbaguna apabila digunakan untuk acara seni pertunjukan dan pertemuan.

Pada aktivitas tertentu cahaya harus dikontrol batas kecerahan cahaya, warna penempatan dan kualitasnya, baik secara alami maupun buatan dapat menjawab kebutuhan psikologis yang memedai dan harus mampu menciptakan

commit to user

bangunan sekolah dengan spesifikasi aktivitasnya membaca, belajar, mengajar, menulis adalah :

Tinggi Ruang

Kuat Penerangan

Nominal

Jenis Ruang

Kebutuhan Lampu

Sampai 3m

Sampai 200 Lux

Ruang Tunggu

Ruang Makan

Lampu biasa ≤ 100 Watt Lampu biasa > 100 Watt Lampu biasa ≤100 Watt Lampu pemantul

Sampai 3m

Sampai 500 Lux

Kantor Ruang pengajaran Ruang rapat

Perpustakan

Ruang masuk

Lampu TL Lampu TL Lampu biasa ≤ 100 Watt Lampu biasa > 100 Watt Lampu TL L ampu pijar halogen ≤ 250 W Lampu TL Lampu biasa ≤ 100 Watt Lampu biasa > 100 Watt Lampu TL Lampu pijar halogen ≤ 250 W

(Tabel 2. 2 Kebutuhan Penerangan pada Bangunan) (Sumber : Materi Fisika Bangunan, 2003.)

commit to user

a. Penghawaan alami

Yaitu penghawaan yang bersumber dari alam (Natural). Dalam buku “Pasal-pasal Pengantar Fisika Bangunan“ dikatakan bahwa, bila harus menggunakan sistem penghawaan alami di dalam suatu ruangan, maka harus diperhatikan ventilasi horizontal yang terbuka secara cermat dan baik agar penghawaan alami yang dipergunakan itu sesuai dengan kebutuhan. (YB. Mangunwijaya, 1997 : 148).

Untuk Indonesia secara umum, tingkat suhu udara yang cocok dalam ruangan penyimpanan adalah antara 20 o

C dan 24 o

C, sedangkan tingkat kelembaban antara 45% dan 60%. Penggunaan AC tidak dianjurkan untuk menggunakan ventilasi yang baik sehingga suhu di dalam dan di luar gedung tetap sama. Dengan ventilasi saja, dapat terjadi tingkat kelembaban di dalam ruangan menjadi tingkat kelembaban relatif di dalam ruang penyimpanan, dapat digunakan alat dehumidifier.

(Gambar 2. 71

Kemungkinan yang terjadi pada sistem vertical silang)

(Sumber : Y.B Mangunwijaya, 1997 : 149.)

DAERAH UDARA MATI

commit to user

terlalu kering, dapat dikurangi dengan pemakaian alat humidifer. Sedangkan untuk mengurangi pencemaran yaitu menyaring debu gas yang dihasilkan zat-zat kimia, debu garam yang dibawa air laut, menggunakan airlocks. Pemakaian airlocks ini sangat membantu kebersihan ruangan gedung secara keseluruhan. (IGN. Soekono,1996 : 23).

b. Penghawaan Buatan

Yaitu penghawaan yang dibuat dengan campur tangan manusia. Sistem penghawaan buatan yang umum digunakan dalam sebuah ruang pamer adalah :

1. Sistem Heating atau Radiator, fungsinya untuk meninggikan suhu dengan cara sistem pemanasan air. Sistem ini biasa digunakan di daerah yang beriklim sub tropis.

2. Air Conditioning (AC), berfungsi untuk memenuhi kebutuhan temperatur, kelembaban, aliran udara dan untuk menjaga kualitas udara yang betul dan terpelihara. Sistem penggunaan AC ini pada umumnya dipakai pada daerah yang beriklim tropis.

Ventilasi tergantung pada orientasi dan penempatan suatu bangunan. Letak ventilasi yang baikadalah terletak pada dearah yang arah mata angin keluar dari bangunan. Biasanya lubang ventilasi harus berfungsi menukar udara secra cepat tanpa mempengaruhi suhu pada dinding. Penggunaan ventilasi sebaiknya menyilang dengan tidak memakai saluran.

commit to user

karena itulah hendaknya pertukaran udara dalam kelas harus dapat bertukar paling tidak 3-5 kali dalam satu jam.

Kenyamanan udara tergantung dari temperatur udara, temperatur benda – benda sekitar, kelembaban relative dan pergerakkan udara. Kelembaban relatif sekitar 40-45 %. Kenyamanan udara berbeda untuk setiap kegiatan, yaitu :

Pekerjaan ringan duduk 21-23 o C

Pekerjaan ringan berdiri 19 –21 o C Pekerjaan berat duduk 18 –19 o C Pekerjaan berat berdiri 15 –17 o

C. (Suptandar, 1995)

3) Akustik

Kontrol terhadap gangguan suara sangat penting karena anak- anak sering mengeluarkan suara –suara berisik. Gangguan suara akan mempengaruhi ketenangan konsntrasi suatu aktivitas yang terjadi. Batas sakit pendengaran manusia adalah 130 foon (sekitar 130db atau 1000Hz).

commit to user

sebagai dasar penanganan desain akustik suatu ruang, yaitu :

Jenis

Desibel

Efek suara

Jet tinggal landas Tembakan meriam

120 – 130

Menulikan

Sonic Boom Music orchestra forttisimo Band rock

100 – 120

Menulikan

Truk tanpa knalpot Bising lalu lintas Sempritan polisi

80 – 100

Sangat keras

Kantor yang bising Mesin tik Radio pada umumnya

60 -80

Keras

Rumah yang bising Percakapan pada umumnya Radio yang pelan

40 – 60

Sedang

Kantor pribadi Rumah yang tenang Percakapan yang tenang

20 – 30

Lemah

Gemerisik daun Bisikan Nafas manusia

10 – 20

Sangat lemah

(Tabel 2. 3 Tingkat kebisingan suara) (Sumber : Akustik Lingkungan, Leslie L.Doelle)

commit to user

1. Sistem pencegahan bahaya kebakaran

a. Alarm kebakaran otomatis Alarm kebakaran otomatis harus disesuaikan dengan kemungkinan bahaya kebakaran dan dipasang dengan tepat agar dapat bereaksi dengan benar saat terjadi kebakaran. (Ernst Neufert, 1996, h.255).

b. Detektor kebakaran 1.Jenis –jenis detektor kebakaran Jenis –jenis detektor kebakaran menurut Data Arsitek jilid 2 karangan Ernst Neufert 1996, h.255, yaitu : Detektor asap, detektor api dan detektor panas.

2.Sprinkler Jarak antar alat siram yang satu dengan lainnya harus berjarak 1,5 m 2 . Jarak maksimal ditentukan oleh luas perlindungan alat, penggolongan dan bahaya kebakaran. (Ernst Neufert 1996, h.257).

(Tabel 2.4k ebutuhan pemasangan sprinkler)

(Sumber: Data Arsitek, 1996. h.262)

Tinggi Ceiling

Jarak antara Springkler (m)

Daerah yang tercakup (m 2 )

Di bawah 2,5

5 25

2,5 – 4,5

6 36

4,5 - 15

9 81

commit to user

Alat pemadam portable diletakkan pada area kurang lebih 250 m 2 dan jarak pengadaannya setiap 20 – 25 m. (Ernst Neufert 1996, h.255).

4.Emergency lighting Lampu darurat yang berfungsi memberikan tanda bagi pengguna bangunan untuk segera meninggalkan bangunan sebab telah terjadi kebakaran.

5.Sistem keamanan dari ancaman kejahatan manusia Sistem keamanan dari ancaman kejahatan manusia (pencurian) diterapkan dengan sekuriti, CCTV (Close Circuit Television) dan Heavy duty door contact (sensor yang dipasang pada pintu).

commit to user

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

111 3562 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 911 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 829 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 539 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 696 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1192 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

62 1097 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 700 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 973 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1189 23