UPAYA PENGURANGAN RISIKO DALAM PENANGGULANGAN BENCANA

b u l l e t i n

E

D

I

S

I

17



2

Publikasi
D I R E K T O R AT K E W I L AYA H A N I I
DEPUTI OTONOMI DAERAH DAN
PENGEMBANGAN REGIONAL
BAPPENAS

0

0

6

ISSN 1693-6957

UPAYA PENGURANGAN RI SI KO DALAM
PENANGGULANGAN BENCANA
Be n c an a p ad a d asar n y a ad al ah su at u

pengurangan risiko bencana sebagai bagian t idak

isu pembangunan. Bencana dapat menghapuskan

t er pi sahkan dar i kegi at an pemer i nt ahan dan

prest asi-prest asi pembangunan yang t elah dicapai

pembangunan.

dan menyebabkan kemundur an per ekonomi an.

Pembaca yang budiman, Bulet in Kawasan

Bencana dapat membawa dampak dan kehancuran

edi si kal i i ni akan mengangkat i su mengenai

yang besar pada pr oper t i , i nf r ast r ukt ur, dan

pengurangan risiko bencana dalam penanggulangan

lingkungan hidup, sert a menimbulkan lebih banyak

b e n c an a.

k or b an j i w a d an k e r u sak an st r u k t u r sosi al
t ermasuk pengungsi.
Kor ban Ji w a dan ker usakan yang besar
akibat bencana hampir sebagian besar disebabkan
oleh kelengahan dalam mengant isipasi dat angnya
bencana. Perlu diakui bahwa besarnya kerusakan
d an k or b an j i w a ak i b at

b er b agai b encana

bel akangan i ni sepert i banj i r,

bencana gempa

dan t sunami di beberapa wil ayah sal ah sat unya
di sebabkan kar ena t i dak adanya upaya

yang

m e m ad ai u n t u k m e n gan t i si p asi d at an gn y a
bencana-bencana t er sebut . Hal i ni di sebabkan
u p ay a p e n an gan an b e n c an a y an g b e r si f at
ant isipant if , prevent if , sekal igus komprehensif
di Indonesia masih menghadapi berbagai kendala
bai k dal am kebi j akan, kel embagaan, st r ukt ur,
mekanisme, program, dan kegiat an. Saat ini suat u
pendekat an bar u dal am kebi j akan penanganan

Fokus ak an m e m b ah as
pengurangan risiko bencana sebagai pendekat an
baru dalam penanggulangan bencana. Selanj ut nya
akan di ul as mengenai kel embagaan t er masuk
upaya penyusunan RUU penanggulanan bencana.
St r at e gi p e n an gan an p asc a b e n c an a ol e h
De p ar t e m e n Sosi al d i an gk at p ad a b agi an
berikut nya, dit ut up oleh st rat egi pengembangan
inf rast rukt ur di kawasan rawan bencana. Rubrik
Opi ni kal i ini mengangkat t ul isan Dr. I. Wayan
Sengar a, kepal a Pusat Mi t i gasi Bencana ITB
mengenai upaya pendidikan dan sosialisasi mit igasi
bencana. Bagian selanj ut nya, rubrik Daerah akan
mengul as upaya mi t i gasi bencana yang t el ah
dilakukan oleh Kot a Padang. Bagian t erkahir, rubrik
Agenda, mengangkat hasi l r oadshow sosi al i sasi
Rencana Aksi Nasional Bencana yang dilakukan oleh
Kement erian PPN/ Bappenas.
Sel amat membaca.
Ru b r i k

bencana sedang diinisiasi, yait u dengan menj adikan

Fokus
• Pengurangan Risiko Bencana : Paradigma Baru Penanganan Bencana — 2
• RUU Penanggulangan Bencana dan Efektivitas Penanganan Bencana — 6
• Penanganan dan Rehabilitasi Masyarakat Pasca Bencana — 11
• Strategi Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Rawan Bencana — 13

Daerah
• Kota Padang dan Upaya Mitigasi Bencana — 25

Opini
• Dr. I Wayan Sengara; Pendidikan dan Sosialisasi Mitigasi Bencana
bagi Masyarakat — 20

Pustaka
• Matriks Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana — 30

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

Agenda
• Roadshow Sosialisasi RAN Pengurangan Risiko Bencana— 28

BULLETIN KAWASAN

1

FOKUS

PENGURANGAN RI SI KO BENCANA
PARADI GMA BARU KEBI JAKAN
PENANGGULANGAN BENCANA

R

an g k aian b en can a y an g m elan d a
I n d o n e si a , m u l a i d a r i g e m p a b u m i ,
t sunam i,banj ir, kekeringan, t anah longsor,
d an b er b ag ai b en can a lain n y a ak h ir - ak h ir in i
m em perlihat kan sat u kenyat aan bahwa bangsa ini
len gah dan t idak siap dalam m en gh adapi dan
m enangani bencana, baik dalam hal paradigm a,
k ebij ak an, st r uk t ur, m ek anism e, pr ogram , dan
kegiat an.
Hal ini t ent u ironis dan m engkhaw at irkan,
sebab ban gsa I n don esia seben ar n y a h idu p di
lingkungan yang rent an t erhadap kej adian bencana
alam . Secara alam iah I ndonesia m erupakan negara
kepulauan yang t erlet ak pada pert em uan em pat
lem peng t ekt onik yait u lem peng Benua Asia, Benua
Au st r alia d an lem p en g Sam u d er a Hin d ia d an
Sam udera Pasifik. Pada bagian selat an dan t im ur
I ndonesia terdapat sabuk vulkanik yang m em anjang
dar i Pulau Sum at era -Jaw a – Nusa Tenggara Sulaw esi. Sedangkan sisinya berupa pegunungan
vulkanik t ua dan dat aran rendah yang sebagian
didom inasi oleh rawa-rawa. Kondisi-kondisi tersebut
2

sangat berpot ensi sekaligus rawan bencana. Dat a
m enunj ukkan bahw a I ndonesia m erupakan salah
satu negara yang m em iliki tingkat kegem paan yang
t inggi di dunia, lebih dar i 10 k ali lipat t ingk at
k egem paan di Am er ik a Ser ik at . Pen in gk at k an
ancam an bencana alam akhir- akhir ini j uga t idak
dapat dilepaskan dari adanya perubahan iklim global
yang m em icu ketidakstabilan iklim yang m elahirkan
ancam an banj ir, kekeringan, siklon, dan berbagai
bencana lainnya.
Selain bencana alam , dalam lim a t ahun
t erakhir I ndonesia j uga banyak m engalam i krisis
sosial- ekonom i dan polit ik. Pasca krisis ekonom i
t ahun 1997, sej um lah konflik pecah di beberapa
daerah, t erm asuk konflik sekt arian, konflik et nis,
dan seprat ism e. Akibat dari berbagai krisis dan
konflik ini j utaan orang terpaksa m enj adi pengungsi
int ernal dan m enam bah j um lah warga m asyarakat
yang rent an dan t erpinggiRkan.
Dari berbagai sum ber dat a, diperkirakan
sedikit nya terj adi 113 kej adian ancam an alam yang

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS
m elahirkan bencana sej ak t ahun 2000 hingga Juli
2006. Dengan t ot al kem at ian lebih dari 181.000
or an g at au r at a- r at a lebih dar i 2 5 . 0 0 0 or an g
I n d o n e si a m e n i n g g a l t i a p t a h u n n y a k a r e n a
bencana. Disam ping bencana alam , dikenal pula
bencana teknologi yang m em akan korban j iwa yang
cu k u p besar. Sej ak t ah u n 1 9 4 2 h in gga 2 0 0 6 ,
sedikitnya 8.050 orang m eninggal akibat kecelakaan
t r anspor t asi, indust r i, k ebak ar an, dan ledak an.
Sed an g k an sek i t ar 7 6 . 0 0 0 o r an g t er k en a
dam paknya. Bencana t ransport asi m erupakan j enis
bencana buat an m anusia yang m em akan korban
j iwa t erbesar, dim ana dalam kurun wakt u t eserbut
sedikit nya 7,160 orang m eninggal dunia dan/ at au
hilang akibat bencana t ransport asi ( Lassa, 2006)
Ket idaksiapan m asyarakat dan pem erint ah
d al am m en g h ad ap i d an m en an g an i b en can a
t ercerm in pada upaya penanggulangan bencana di
m asa lalu y ang diw ar nai oleh par adigm a y ang
fat alist ik dan r eak t if. Dem ik ian pula dar i segi
kebijakan, penanganan bencana di I ndonesia hingga
saat in i belu m didu k u n g oleh su at u k er an gk a
per at ur an per undang- undangan y ang k oher en.
Dam pak n y a san gat t er asa dalam pen an gan an
berbagai kej adian bencana akhir- akhir ini, m isalnya
dalam kej adian bencana t sunam i di NAD dan Nias,
Sum at era Ut ara sert a gem pa bum i di Yogyakart a
dan Jawa Tengah. Dalam kedua kej adian t ersebut ,
j at uhnya korban j iwa dan kerusakan dengan skala
yang relat if besar disebabkan belum dit erapkannya
p en d ek at an y an g k om p r eh en sif d alam
m engant isipasi dan m engelola risiko bencana.
Bencana gem pa bum i y ang disusul oleh
t sunam i di aceh pada t anggal 16 Desem ber 2004
m erupakan salah sat u bencana t erbesar di dunia
dalam serat us t ahun t erakhir karena m em akan
k or b an h in g g a r at u san r ib u j iw a. Salah sat u
penyebab m unculnya korban yang sangat besar
adalah belum banyaknya dilakukan upaya m it igasi
b en can a, b aik m it ig asi st r u k t u r al b er u p a
pem buat an infrast rukt ur pendorong m inim ilisasi
dam pak , m isaln y a den gan m em bu at ben du n g
penahan om bak, bangunan panggung tahan om bak,
dan sebagainya, m aupun m it igasi non st rukt ural

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

b er u p a p en y u su n an p er at u r an - p er at u r an ,
pengelolaan penat aan ruang yang m em perhat ikan
zona- zona r aw an bencana, dan pelat ihan bagi
m a s y a r a k a t . Up a y a - u p a y a k e s i a p s i a g a a n
( preparadness) yang belum banyak dilaksanakan,
m isalnya dengan m enyiapkan sistem peringatan dini
( Early Warning Syst em ) sarana kom unikasi, pos
k om an d o, p en y i ap an l ok asi ev ak u asi , d an
sebagainya. Dem ikian pula dalam upaya t anggap
d ar u r at d an p em u lih an , r eh ab ilit asi, d an
rekonst ruksi, m uncul berbagai m asalah koordinasi
ant ar lem baga dalam pem berian dan penyaluran
bant uan, penanganan pengungsi, sert a penyediaan
dan perbaikan infrast rukt ur.
Pada kej adian bencana di Yogyakart a dan
Jawa Tengah, sekt or perum ahan m erupakan sekt or
yang m engalam i kerusakan dan kerugian t erparah
dibanding sem ua sektor lain. Total rum ah yang rusak
diperkirakan berj um lah lebih dari 380 ribu rum ah
baik y ang r usak t ot al m aupun r usak sebagian.
Pen y eb ab u t am a k er u sak an t er seb u t ad al ah
banyaknya bangunan yang t idak m em iliki kont ruksi
ant i- gem pa dan m enggunakan bahan bangunan
yang kurang berkualitas untuk m enahan guncangan
ak ibat gem pa. Selain it u, r um ah y ang t er k ena
dam pak bencana gem pa bum i t elah berusia ant ara
25- 30 t ahun sehingga sangat r ent an t er hadap
gem pa bum i. Dalam aspek penataan ruang, banyak
kawasan yang dikem bangkan tanpa m em perhatikan
zona- zona yang raw an bencana. Banyak rum ah
dan berbagai fasilit as lainnya yang didirikan di zona
pat ahan dan raw an gem pa. Upaya pengam bilan
keput usan pem bangunan pun sem pat m engalam i
h am b at an ak i b at k esi m p an g si u r an d at a d an
inform asi m engenai j um lah korban yang j at uh dan
kerusakan yang dialam i.
Berkaca kepada kedua kej adian bencana
t ersebut , m unculnya korban j iw a dan kerusakan
fisik dalam skala yang relatif besar tidak disebabkan
oleh fakt or alam sem at a, nam un j uga disebabkan
oleh kebij akan penanganan bencana yang lebih
berorient asi kepada upaya t anggap darurat dan
lem ah n y a k elem b ag aan y an g ad a. Men y ad ar i
b er b ag ai k elem ah an y an g t er j ad i d alam p ola

BULLETIN KAWASAN

3

FOKUS
penanganan bencana yang t elah dilakukan selam a
ini, pem erint ah saat ini t engah m elakukan berbagai
upaya unt uk m engubah pendekat an kebij akan
penanganan bencana - dari yang sem ula reponsif
m en j adi pr ev en t if, dar i pen an gan an sek t oral
m enjadi m ultisektoral, dari yang berorientasi kepada
tanggap darurat sem ata m enjadi pengurangan risiko
secar a m en y elu r u h . Per u bah an par adigm a in i
dilakukan unt uk m engurangi dam pak buruk akibat
y an g m u n g k in t im b u l d ar i b en can a t er u t am a
d ilak u k an d alam sit u asi sed an g t id ak t er j ad i
b e n ca n a . La ssa ( 2 0 0 6 ) m e n y a t a k a n , b a h w a
I ndonesia dalam kur un w akt u 2004- 2006 t elah
kehilangan lebih dar i 14 t r iliun r upiah. Dengan
adanya upaya prevent if unt uk m engurangi risiko
bencana m aka kerugian yang dit anggung dapat
dim inim alisir dan dana yang ada digunakan unt uk
invest asi pelayanan sosial dasar dan pengurangan
kem iskinan.
Kegiat an- k egiat an penanganan bencana
yang bersifat prevent if unt uk m engurangi risiko
bencana sebenarnya t elah t erm uat dalam rencana
kerj a t ahunan pem erint ah. Dalam UU No. 13 t ahun
2005 t ent ang APBN 2006, kegiat an pengurangan
risiko bencana dialokasikan pada arah kebij akan
Penanggulangan Bencana Alam yang dam paknya
m engim bas t erhadap keselam at an bangsa m elalui
: ( 1 ) Pen in gk at an m it igasi ben can a alam dan
prakiraan iklim , ( 2) Penyusunan t at a ruang dan
zonasi perlindungan sum berdaya alam t erm asuk
kaw asan raw an bencana di pesisir dan laut , ( 3)
pengem bangan sist em penanggulangan bencana
alam dan sist em det eksi dini.
D a l a m RK P t a h u n 2 0 0 7 y a n g t e l a h
diundangkan m elalui Perpres No. 19 t ahun 2006,
pengurangan risiko bencana term uat dalam prioritas
m itigasi dan penanggulangan bencana sebagai salah
sat u dari sem bilan priorit as pem bangunan yang
harus dilaksanakan. Sasaran yang akan dicapai
d alam p r ior it as Mit ig asi d an Pen an g g u lan g an
Bencana pada t ahun 2007 t erbagi ke dalam dua
sasar an u t am a, y ait u P e r t a m a ,
t et ap
t erlaksananya upaya rehabilit asi dan rekonst ruksi
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan
Nias, Provinsi Sum at era Ut ara, t erselesaikannya
4

k eg iat an r eh ab ilit asi d an r ek on st r u k si p asca
bencana alam di Kabupat en Alor Pr ov insi Nusa
Tenggara Tim ur dan Kabupat en Nabire di Provinsi
Pa p u a , d a n b e b e r a p a d a e r a h l a i n n y a y a n g
m engalam i bencana alam pada t ahun 2005 dan
2006. Kedua, m eningkatnya kesiapan kelem bagaan
dan m asyarakat dalam m encegah, m enghadapi dan
m enanggulangi bencana alam yang akan t erj adi
dalam kerangka pengurangan risiko bencana.
Mesk i dem ik ian dalam im plem ent asiny a,
p el ak san aan u p ay a- u p ay a p r ev en t i f m au p u n
penanganan pasca bencana yang t ercant um dalam
RKP t er seb u t m asih b elu m t er k oor d in asi d an
t erlaksana dengan baik. I nst ansi- inst ansi t erkait
cenderung m em usat kan diri pada upaya t anggap
darurat dan kurang m em iliki pendekat an t erpadu
dalam kerj anya. Di sisi lain badan yang selam a ini
m em ilik i m an d at u n t u k m en an g an i b en can a,
BAKORNAS PB dan SATKORLAK PB di tingkat provinsi
sert a SATLAK PB di t ingkat kabupat en/ kot a adalah
badan yang hanya m em iliki kewenangan t erbat as,
yakni m em fasilit asi koordinasi ant ar badan- badan
pem erint ah yang m enj adi anggot anya.
Selain perm asalahan kelem bagaan, hingga
saat ini belum ada kebijakan Pem erintah yang secara
rinci m engat ur t ent ang penyusunan perencanaan
pem bangunan t erkait dengan pengurangan risiko
bencana, k ar ena RKP hany a m eny ir at k an gar is
besar kebijakan secara um um . Untuk m engantisipasi
k eb u t u h an m en d esak t er seb u t , sej au h in i
pem erint ah t elah m enyusun Rencana Aksi Nasional
Pengur angan Peny usunan Risik o Bencana y ang
berisi lim a priorit as pengurangan risiko bencana,
ant ara lain :
1. Meletakkan pengurangan risiko bencana sebagai
p r ior it as n asion al m au p u n d aer ah d an
im plem entasinya harus dilaksanakan oleh suatu
inst it usi yang kuat ,
2. Mengidentifikasi, m engkaji dan m em antau risiko
bencana sert a m enerapkan sist em peringat an
dini,
3. Mem an f aat k an p en g et ah u an , i n o v asi d an
pendidik an unt uk m em bangun buday a
k eselam at an d an k et ah an an p ad a selu r u h
t ingkat an,

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS
4. Mengurangi cakupan risiko
Tabel 1. Empat Bidang Kerja Penanggulangan Bencana
bencana,
No
Bidang Kerja
Definisi
Kegiatan
5. Men in g k at k an k esiap an
1 Pengurangan
Upaya untuk mengurangi
ƒ Pengenalan dan pemantauan risiko bencana.
m enghadapi bencana pada
Risiko Bencana dampak buruk yang
ƒ Perencanaan partisipatif penanggulangan
mungkin timbul dari
bencana.
sem u a
t ingk at an
bencana, terutama
ƒ Pengembangan budaya sadar bencana.
m asy ar ak at ,
agar
dilakukan dalam situasi
ƒ Peningkatan komitmen terhadap pelaku
sedang tidak terjadi
penanggulangan bencana.
tanggapan yang dilakukan
bencana.
ƒ Penerapan upaya fisik, nonfisik, dan
lebih efekt if.
pengaturan penanggulangan bencana.
Upaya untuk mengurangi
2 Tanggap
ƒ Pengkajian secara cepat terhadap lokasi,
Peny usunan r encana
dampak buruk bencana,
Darurat
kerusakan, dan sumberdaya.
a k si t e r se b u t m e r u p a k a n
terselamatkannya
Bencana
ƒ Penentuan status keadaan darurat.
masyarakat terkena
ƒ Pencarian, penyelamatan, dan evakuasi
pen j abar an dar i ber bagai
bencana, harta benda,
masyarakat terkena bencana.
k om it m en g lob al t er h ad ap
terpenuhinya kebutuhan
ƒ Pemenuhan kebutuhan dasar.
dasar, tertanganinya
u p ay a p en g u r an g an r isik o
ƒ Perlindungan terhadap kelompok rentan.
pengungsi, dan pulihnya
ƒ Pemulihan dengan segera sarana-sarana vital.
b en ca n a . Reso l u si D ew a n
sarana dan pelayanan
umum.
Ekonom i dan Sosial PBB Nom or
3 Rehabilitasi dan Upaya untuk mewujudkan ƒ Perencanaan pembangunan nasional.
63 Tahun 1999 m enekankan
Rekonstruksi
kemampuan sosial
ƒ Tingkat kerawasan bencana.
ekonomi dan kuatnya
ƒ Pembangunan kembali prasarana dan sarana
p elak san aan
St r at eg i
resistensi masyarakat dalam
dasar.
I n t er n asion al Pen gu r an gan
menghadapi ancaman
ƒ Pembangunan kembali sarana sosial
bencana.
masyarakat.
Risiko Bencana ( I nt ernat ional
ƒ Membantu masyarakat memperbaiki rumah.
St r at eg y
for
Disast er
ƒ Pemulihan kegiatan bisnis dan ekonomi.
ƒ Melibatkan masyarakat setempat mulai dari
Reduct ion/ I SDR) . Resolusi
perencanaan sampai pelaksanaan.
Ma j el i s
Um u m
PB B
Upaya untuk memadukan ƒ Perencanaan penanggulangan bencana.
4 Penatakelolaan
Penanggulangan kegiatan penanggulangan
ƒ Pemaduan dalam perencanaan
menyerukan pula dilakukannya
bencana dalam program
Bencana
pembangunan.
pendek at an t er padu dalam
pemerintahan dan
ƒ Pensyaratan analisis risiko bencana.
pembangunan pada saat
ƒ Penguatkuasaan tata ruang dan standar
sem u a a sp ek m a n a j em en
tidak ada kejadian bencana.
keselamatan.
bencana. Yokoham a St rat egy
sumber : RUU Penanggulangan Bencana
m enit ikberat kan pada upaya
unt uk m elakukan kegiat an yang sist em at ik didalam
r eh ab ilit asi d an r ek on sr u k si; d an ( 4 )
m enerapkan upaya pengurangan risiko bencana
penat akelolaan bencana.
d alam p em b an g u n an b er k elan j u t an .
Hy og o
Dengan
adany a
UU
t ent ang
Fram ew ork Act ion t elah m enghasilkan subst ansi
Pen an g g u l an g an Ben can a, d i m asa d ep an
dasar dalam m engurangi kerugian akibat bencana,
d ih ar ap k an t er cip t a sist em y an g leb ih
baik k er u gian j iw a, sosial, ek on om i, dan aset
kom prehensif dalam penanganan bencana dan
lingkungan.
m enj adi landasan hukum yang kuat. Penanganan
Untuk lebih m em perkuat upaya pengurangan
bencana ak an diduk ung oleh lem baga y ang
risiko bencana, suatu payung hukum yang m engatur
m em puny ai w ew enang penuh dalam
suat u kerangka kerj a penanggulangan bencana
penanggulangan bencana sert a alokasi anggaran
yang akunt abel sangat diperlukan. Upaya t ersebut
yang cukup. Dengan disahkannya UU ini, akan
saat ini t engah dilakukan oleh pem erint ah dan DPR
t er j ad i su at u p er u b ah an p ar ad ig m a secar a
RI m elalu i p en y u su n an RUU p en an g g u lan g an
m endasar dalam m anaj em en bencana, yait u dari
b e n ca n a ( RUU PB) .
D a l a m RUU t e r se b u t
pendekat an yang selam a dipersepsikan sebat as
penyelenggaraan penanggulangan bencana m eliputi
pada saat em ergency respons akan bergeser
em pat bidang kerj a yang kom prehensif ( Tabel 1) ,
kepada kesadaran pent ingnya pengurangan dan
y ai t u : ( 1 ) p en g u r an g an r i si k o b en can a; ( 2 )
m anajem en risiko bencana, sehingga penanganan
p e n a n g a n a n t a n g g a p d a r u r a t b e n ca n a ; ( 3 )
EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

5

FOKUS

RUU PENANGGULANGAN BENCANA
DAN EFEKTI VI TAS PENANGGULANGAN
BENCANA

M

em ang ir onis bagi
I ndonesia, sebagai
su at u n eg ar a y an g
m em iliki berbagai j enis bencana
nam un belum m em ilik i undangundang penanganan bencana. Kit a
baru m enyadari akan pent ingnya
undang- undang t ersebut set elah
kej adian bencana gem pa bum i dan
tsunam i yang sangat dahsyat pada
t anggal 24 Desem ber 2004. Suat u
p elaj ar an b er h ar g a set elah
m engorbankan rat usan ribu j iw a
dan kerugian harta benda. Banyak
hal yang perlu diat ur dalam RUUPB t ersebut , salah sat unya adalah
t en t an g k elem bagaan . Saat in i
t elah banyak keluhan dan krit ik dari m asyarakat
terhadap kelam batan Pem erintah dalam m enangani
b en can a, t en t u n y a h al in i b er k ait an d en g an
m a sa l a h k e l e m b a g a a n . Ba g a i m a n a b e n t u k
kelem bagaan yang paling efekt if unt uk I ndonesia
yang m em punyai wilayah yang sangat luas dengan
sist em pem erint ahan yang desent ralist is. Makalah
in i m en cob a m em b ah as t en t an g b en t u k
kelem bagaan penanganan bencana yang ada di
dunia dan di I ndonesia saat ini.

dan pengurangan risiko; ( 6) P e r e n c a n a a n
penanganan bencana; ( 7) Peran m asyarakat ; ( 8)
Kelem bagaan.
Sem ua unsur t ersebut m erupakan suat u
st rukt ur yang saling t erpadu dan ket erkait an ant ar
lem baga yang m em bent uk sist em form al dalam
u p a y a p en a n g a n a n b en ca n a d a n d u k u n g a n
operasionalnya. Telaahan t ent ang m asing- m asing
unsur t ersebut adalah sebagai berikut :

a.
Pla t form Pena nga na n Benca na
Untuk m elakukan penanganan bencana yang
b e n a r d i su a t u w i l a y a h , a p a k a h d i t i n g k a t
nasional dan daerah harus berlandaskan pada suatu
plat form yang t erdiri dari beberapa unsur yang
harus ada, yakni: ( 1) Legislasi dan perundangan;
( 2) Kom it m en polit ik; ( 3) Kait an ant ara kebij akan
dan operasional; ( 4) Mekanism e kerj a ant ara pusat
dan daerah; ( 5) Kait an ant ara penanganan darurat

6

Legislasi dan Perundangan

Penanganan bencana yang ada saat ini
dit angani secar a sek t or al. Hal ini t er lihat dar i
pengaturan penanganannya yang m asih didasarkan
pada u n dan g- u n dan g at au per at u r an y an g
m en g ar ah p ad a k ep en t in g an sek t or m asin g m asin g , m isaln y a: b an j ir d iat u r d en g an UU
Sum ber daya Air, k ebak aran hut an dengan UU
Kehutanan, kerusakan dan pencem aran lingkungan
dengan UU Lingkungan Hidup, dan sebagainya.
Jadi belu m ada u n dan g- u n dan g k h u su s y an g

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS
m engatur penanganan bencana secara m enyeluruh
dan t erpadu.
Sebenarnya upaya untuk m enyusun undangundang Penanggulangan Bencana yang terpadu dan
m ult i- sek t or sudah dilak uk an oleh Pem er int ah
m elalui Depart em en Sosial dan j uga Depart em en
Dalam Negeri pada t ahun 1990- an. Akan t et api
diant ara sekian banyak rancangan undang- undang
yang diaj ukan, t am paknya RUU Penanggulangan
Bencana ini belum m endapat priorit as.
Baru set elah bencana t sunam i yang t erj adi
tahun 2004 lalu m ulai sadar akan perlunya m em iliki
UU Penanggulangan Bencana. Sem ent ara sem ua
p e r h a t i a n Pe m e r i n t a h t e r cu r a h p a d a u p a y a
penanganan t anggap darurat akibat bencana di
NAD dan Sum ut , m om ent um t ersebut oleh Badan
Legislasi Dew an Perw akilan Rakyat dim anfaat kan
u n t u k m en g g u lir k an g ag asan p en y u su n an
Ran can g an Un d an g - u n d an g Pen an g g u l an g an
Bencana. Kem udian proses ini berlanj ut di DPR
dengan pem bent ukan Panj a dan Pansus, hingga
m enj adik anny a RUU Penanggulangan Bencana
sebagai Hak I nisiat if DPR. Oleh DPR, RUU t ersebut
t el ah d i sam p ai k an k ep ad a Pem er i n t ah p ad a
Desem ber 2005 lalu.
Saat ini pem bahasan RUU PB ini sedang
berlangsung secara intensif antara pihak Pem erintah
dan DPR, dan kit a berharap agar RUU PB ini dapat
secepat nya diselesaikan m enj adi undang- undang.

b.

Kom it m en Polit ik

Selam a in i p en an g an an b en can a y an g
dilakukan seolah m erupakan t ugas dan kewaj iban
Pem er i n t a h d a l a m m el i n d u n g i set i a p w a r g a
negaranya. Apapun yang dilakukan sepenuhnya
m erupakan kewenangan Pem erintah sebagai bagian
d ar i t u g as- p ok ok n y a y an g d ij ab ar k an d alam
m asing- m asing sekt or.
Sej alan dengan pengusulan RUU- PB dalam
bent uk Hak I nisiat if DPR, nam paknya ini suat u
pertanda bahwa kom itm en politik untuk m enangani
ben can a sem ak in t in ggi, t er u t am a dar i pih ak
legislat if. Karena t anpa dukungan legislat if upaya
penanganan bencana yang dilakukan Pem erint ah

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

seolah berj alan sendiri, t anpa pengendalian dan
pengawasan.

c.

Ket er k ait an
Operasional

ant ar a

Keb ij ak an

dan

Selain harus m em iliki legislasi dan kom itm en
politik yang kuat, penanganan bencana harus diikuti
oleh pen et apan k ebij ak an di t in gk at n asion al.
Kebij akan ini dit uangkan dalam Kebij akan Nasional
Pen an g an an Ben can a d an selan j u t n y a secar a
oper asional dij abar k an oleh set iap sek t or y ang
t erkait dengan penanganan bencana. Kebij akan
yang bersifat um um dit et apkan oleh Dew an at aau
Badan Koordinasi Nasional, sedangkan kebij akan
yang dikeluarkan m asing- m asing sektor m erupakan
kebij akan t eknis t erkait .
D e n g a n d e m i k i a n , se l a l u h a r u s a d a
ket erkait an ant ara kebij akan yang dit et apkan oleh
dew an at au badan k oor din asi secar a n asion al
dengan langkah-langkah operasional yang dilakukan
oleh set iap sekt or. Agar set iap langkah penanganan
bencana dapat dilakukan secara t erpadu dan saling
m en d u k u n g . Kar en a p en an g an an b en can a
m erupakan suat u kegiat an yang lint as sekt or dan
dilaksanakan oleh berbagai pelaku.

d.

Koordinasi ant ara Pusat dan Daerah

Bencana selalu terjadi di daerah adm inistratif
t er depan , oleh k ar en a it u p em er in t ah d aer ah
t erdepan m enj adi first responder t erhadap bencana
y an g d ih ad ap i d i w ilay ah n y a. Ap ab ila d aer ah
t er sebu t den gan segala su m ber day an y a t idak
m am pu m engat asi at au t erj adi pada dua at au lebih
daerah adm insit rat if, m aka kendali dilakukan oleh
daerah yang lebih t inggi sesuai hirarkhi birokrasi.
Dengan dem ik ian, m ak a m asing- m asing
daerah adm inist rat if m em punyai w ew enang dan
t an ggu n g j aw ab. Tin gk at k abu pat en dan k ot a
m erupakan pelaksana penanganan bencana, tingkat
provinsi dan t ingkat nasional m elakukan koordinasi
penanganan ( j ik a diper luk an) dan m em ber ik an
dukungan kepada t ingkat kabupat en/ kot a.

BULLETIN KAWASAN

7

FOKUS
Gambar 1. Pola Kelembagaan Penanganan Bencana
POLAKELEMBAGAAN KHUSUS

POLA KOORDINASI
KABINET

DEWAN KOORDINASI NASIONAL
PENANGANAN BENCANA

DEWAN BENCANA NASIONAL
(KABINET)

INTER
DEPARTEMEN

SEKRETARIAT
PENGENDALI OPERASI
NASIONAL

MENTERI URUSAN BENCANA
KOMITE PENGARAH

PENGENDALI OPERASI
PROVINSI

DEWAN KOORDINASI PB
PROVINSI
SATGAS KHUSUS
DIREKTUR JENDERAL
PENANGANAN BENCANA

PENGENDALI OPERASI
KAB/KOTA

DIREKTUR
KESIAPSIAGAAN

SATGAS DESA

e.

Kait an an t ar a pen an gan an dar u r at dan
upaya pengurangan risiko

Ban y ak or an g b er an g g ap an b ah w a
pen an gan an ben can a iden t ik den gan t an ggap
dar ur at . Padahal penanganan bencana m eliput i
sem ua upaya yang dilakukan pada sebelum , pada
sa a t d a n se t e l a h t e r j a d i b e n ca n a m e l i p u t i
pencegahan, m it igasi, k esiapsiagaan, t anggap
darurat dan pem ulihan.
Ol e h k a r e n a i t u d a l a m p e n a n g a n a n
bencana, kegiat an t idak hanya difokuskan hanya
pada t anggap darurat nya saj a, t et api j uga harus
dikait kan dengan upaya- upaya pencegahan dan
m it igasinya. Dengan dem ikian m aka penanganan
bencana sebaiknya dilakukan dengan m engurangi
risiko t erj adinya.

f.

Perencanaan

Set iap upaya penanganan bencana, sej ak
dar i pen cegah an dan m it igasi, k esiapsiagaan ,
t anggap darurat dan pem ulihan, harus dilakukan
secara t erencana. Dalam penanganan bencana
dikenal beberapa perencanaan, ant ara lain rencana
kesiapan ( disast er preparedness plan) , rencana
kont inj ensi ( cont ingency plan) , rencana operasi
( operat ion plan) dan rencana pem ulihan ( recovery
plan).
Penget ahuan t ent ang perencanaan dalam
penanganan bencana ini m asih sangat t erbat as di

8

DIREKTUR JENDERAL
PERENCANAAN

DEWAN KOORDINASI PB
KABUPATEN / KOTA

DIREKTUR
PENANGANAN
DARURAT

DIREKTUR
PEMULIHAN

STAF PERENCANAAN

k alan gan apar at pem er in t ah , oleh k ar en a it u
sosialisasi dan pendam pingan dalam penyusunan
rencana ini sangat diperlukan.

g.

Peransert a Masyarakat

Banyak orang yang beranggapan bahw a
p en an g an an b en can a i t u t u g as p em er i n t ah .
Sedangkan m asyarakat dianggap pihak yang perlu
m en d ap at p er t olon g an at au d ib an t u . Hal in i
m em buat per an m asyar akat m enj adi pasif dan
t ergant ung pada pihak luar.
Dalam konsep baru penanganan bencana,
peran m asyarakat bukan lagi sebagai pihak yang
selalu m enunggu bant uan t et api harus m enj adi
pelaku dalam penanganan bencana. Oleh karena
it u pendekat annya harus diubah dari governm ent
d r i v e n m e n j a d i co m m u n i t y b a se d d i sa st e r
m anagem ent . Saat ini t elah banyak upaya yang
dilak uk an oleh or ganisasi non pem er int ah dan
lem baga sw w adaya m asyarakat yang bert uj uan
untuk m eningkatkan kem am puan m asyarakat agar
m am pu m engatasi ancam an bencana di wilayahnya.
h.

Kelem bagaan

Dari sekian unsur t ersebut di at as pada
ak h ir n y a sem u a b er m u ar a p ad a sist em
kelem bagaan. Bagaim ana bent uk kelem bagaan
yang paling sesuai unt uk kondisi w ilayah sepert i
I ndonesia, w ilay ahny a luas, j enis bencanany a
ber agam , pen du du k n y a ban y ak dan t er sebar,

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS
pem erintahannya otonom i, kem am puan ekonom inya
t erbat as dan sebagainya.
Pem b ah asan t en t an g k elem b ag aan in i
m em erlukan pem ikiran dan perbandingan dengan
sist em kelem bagaan yang t elah ada saat ini, yang
secara khusus akan diuraikan pada bagian berikut .

Ke le m ba ga a n Pe na nga na n Be nca na
Secar a g ar i s b esar p o l a k el em b ag aan
penanganan bencana dapat dibedakan dalam 2
( dua) pola, sebagai berikut :
a. Pola Ke le m ba ga a n Kh u su s, y ak ni bent uk
k el em b a g a a n p en a n g a n a n b en ca n a y a n g
dit angani oleh suat u lem baga ( depar t em en,
direktorat jenderal atau badan) yang m em punyai
t ugas pokok khusus penanganan bencana.
Pada pola in i diper lu k an su at u or gan isasi,
su m b e r d a y a m a n u si a , i n f r a st r u k t u r d a n
pendanaan khusus untuk penanganan bencana.
Pola sepert i ini dit erapkan di beberapa negara
sepert i Perancis ( DDSC) , Singapura ( SCDF) dan
beberapa negara lain.
b. Pola Koor din a si, yakni bent uk kelem bagaan
penanganan bencana yang dilakukan secara
m eny ebar di beber apa inst ansi at au sek t or
t erkait dan dikoordinasikan oleh suat u dew an
atau kom ite nasional. Pelaksana operasional dari
pola ini adalah Sat uan Tugas yang berada di
t ingkat daerah dan didukung oleh Sat uan Tugas
k husus y ang ber asal dar i Depar t em en at au
Le m b a g a t i n g k a t Pu sa t . Po l a i n i b a n y a k
dit erapkan diberbagai negara yang m enaruh
t u m p u an p en an g an an b en can a p ad a
depart em en at au lem baga t eknis yang sudah
ada, sesuai dengan bidang t ugasnya.
Untuk m em berikan gam baran perbandingan
ant ara kedua pola kelem bagaan t ersebut dapat
dilihat pada Gam bar 1.
Masing- m asing pola t ersebut m em punyai
k elebih an dan k ek u r an gan . Pola k elem bagaan
k h u su s u m u m n y a l eb i h ef ek t i f, k ar en a j el as
kelem bagaan yang bertanggungj awab. Tetapi untuk
m em bent uk suat u kelem bagaan yang khusus ini

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

diperlukan sum berdaya ( m anusia, infrast rukt ur
dan dana) yang cukup besar.
Sed an g k an p o l a k o o r d i n asi t i d ak
m em but uhk an inv est asi y ang k husus, k ar ena
sum berdayanya didukung dari set iap depart em en
/ lem baga t erkait . Tet api kelem ahannya, pola ini
sering m engalam i kesulit an dalam penerapannya,
sehingga penanganan bencananya m enjadi kurang
efekt if.
Pada beber apa negar a, k edua pola ini
dikom binasikan dengan cara m enerapkan pola
koordinasi untuk penentuan kebijakannya di tingkat
nasional, dan j uga m enerapkan pola kelem bagaan
k husus y ang ber fungsi sebagai im plem ent asi
kebijakan m enjadi lebih bersifat teknis operasional.
Sejak awal pem bentukannya kelem bagaan
penanganan bencana di I ndonesia m enganut pola
k oor d in asi. Hal in i t er lih at d ar i sej ar ah
perkem bangan kelem bagaan penanganan bencana
sepert i diperlihat kan oleh Tabel 1.
Badan Koordinasi Nasional Penanganan
Bencana at au yang dikenal BAKORNAS PB adalah
su at u w adah k oor din asi n on - st r u k t u r al y an g
beranggot akan para Ment eri yang bersifat adhoc. Kom posisi keanggot aan BAKORNAS selalu
berubah m engikut i perubahan susunan kabinet .
Pelaksana penanganan bencana t er let ak pada
set iap sekt or t ert ent u sepert i: kesehat an, sosial,
pekerj aan um um , perhubungan, dan sebagainya.
Unt uk m endukung t ugas BAKORNAS t ersebut ,
d i b en t u k su at u Sek r et ar i at y an g b er f u n g si
m em berikan pelayanan st af dan adm inist rasi.
Pada t ingk at pr ov insi dibent uk Sat uan
Koor din asi Pelak san a at au SATKORLAK y an g
d i k e t u a i o l e h Gu b e r n u r, d a n p a d a t i n g k a t
kabupat en / kot a dibent uk Sat uan Pelaksana at au
SATLAK yang diket uai oleh Bupat i at au Walikot a.
Keanggot aan SATKORLAK dan SATLAK t erdiri dari
Din as/ Bad an t er k ait d i t in g k at p r ov in si d an
kabupat en / kot a. Kelem bagaan ini j uga bersifat
koordinat if dan ad- hoc.
Dar i an al i si s k el em b ag aan , b en t u k
kelem bagaan dengan pola koordinasi ini kurang
efekt if. Karena dari t ingkat pusat , provinsi hingga

BULLETIN KAWASAN

9

FOKUS
di daerah perlu dipert egas kelem bagaan sem acam
Pelaksana Harian ( Disast er Managem ent Office) di
w ilayah m asing- m asing. Beberapa t ugas pent ing
yang harus dilakukan oleh lem baga ini adalah:

Tabel 1. Perkembangan Kelembagaan
Penanganan Bencana
PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN
PENANGANAN BENCANA DI INDONESIA
Tahun

Nama Kelembagaan

Dasar Hukum

1. Mengaktifkan pusat pengendali operasi dan krisis

1961

Panitia Pusat Penampungan Bencana Alam (PPBA)

Keppres 54/1961

1965

Panitia Pusat Penampungan Bencana Alam (PPBA)

Keppres 312/1965

1966

Badan Pertimbangan Penanggulangan Bencana Alam
(BP2BA)

Keppres 256/1966

1967

Tim Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana
Alam (TKP2BA)

Kep.
Kep. Presidium No.
14/U/Kep/1/196

1979

Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
Alam (BAKORNAS PBA)

Keppres 28/1979

1990

Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
(BAKORNAS PB)

Keppres 43/1990

1999

Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
(BAKORNAS PB)

Keppres 106/1999

2001

Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana
dan Penanganan Pengungsi (BAKORNAS PBP)

Keppres 3/2001 jo
Keppres 111/2001

2005

Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana
(BAKORNAS PB)

Perpres 83/2005

3. Mem berikan isyarat peringat an ( warning)
4. Menyusun disaster m anagem ent plan, pedom an
dan prosedur t et ap
5. Melakukan pelatihan, pendidikan dan penyuluhan
bencana

kabupat en / kot a, sem ua kelem bagaannya bersifat
ad- hoc dan koordinat if, m aka t idak j elas siapa yang
harus bert anggung j awab.
Un t u k m en in g k at k an ef ek t iv it as, m ak a p er lu
dikom binasikan dengan pola kelem bagaan khusus
dengan m em bent uk sem acam Badan at au Kant or
Penanganan Bencana ( Disaster Managem ent Office/
Agency) yang bertugas untuk m engim plem entasikan
kebij akan penanganan bencana, di tingkat nasional,
provinsi dan kabupat en / kot a.

M enuj u Pena nga na n Benca na ya ng Efek t if
Sam bil m enunggu ditetapkannya UU-PB yang
di dalam nya akan m engatur tentang sem ua kegiatan
penanganan bencana, t er m asuk k elem bagaan,
Pe m e r i n t a h t e r u s b e r u p a y a m e m p e r b a i k i
kelem bagaan penanganan bencana. Belaj ar dari
perkem bangan kelem bagaan penanganan bencana
yang m enganut pola koordinat if yang kurang efekt if
t er sebut , dan
dengan m em per t ahank an pola
koordinatif Pem erintah m erevitalisasi BAKORNAS PBP.
Upaya ini telah dituangkan dalam Peraturan Presiden
Nom or 83 Tahun 2005 t ent ang BAKORNAS PB.
St r at eg i y an g d i l ak u k an ad al ah d en g an
m eningkat kan fungsi Sekret ariat yang selam a ini
h an y a b er f u n g si seb ag ai p elay an an st af d an
adm inist rasi, m enj adi Pelaksana Harian ( sem acam
Nat ional Disast er Managem ent Office) yang bersifat
t eknis dan operasional .
Kelem b ag aan y an g sam a d ip er lu k an d i
t in g k at p r ov in si d an k ab u p at en / k ot a. Un t u k
m endukung t ugas SATKORLAK PB dan SATLAK PB
10

2. Mem bent uk t im r eaksi cepat unt uk t anggap
darurat

6. M e n i n g k a t k a n k e w a s p a d a a n d a n p e r a n
m asyarakat
Dengan m elak uk an k egiat an t er sebut di
at as, kesiapan penanganan bencana di daerah dan
j uga di t ingkat nasional diharapkan akan sem akin
m eningkat . Tant angan yang dihadapi I ndonesia
d a l a m p en a n g a n a n b en ca n a a d a l a h l u a sn y a
w ilayah, beragam nya j enis bencana, t erbat asnya
k em a m p u a n d a n su m b er d a y a y a n g d i m i l i k i .
Kelem bagaan m erupakan salah sat u unsur yang
pent ing agar efekt ifnya penanganan bencana.

Penutup
Efek t iv it as penanganan bencana sangat
dit ent ukan oleh beberapa unsur yang saling t erkait
dalam plat for m penanganan bencana, di m ana
kelem bagaan adalah salah sat unya. Kelem bagaan
yang efekt if adalah dengan m em bent uk lem baga
khusus penanganan bencana, t et api dapat j uga
dilakukan dengan pola koordinasi yang diperkuat
dengan lem baga yang berfungsi sebagai Disast er
Managem ent Office. Penet apan RUU- PB m enj adi
suat u undang- undang sangat diperlukan segera,
agar sem ua pengat uran yang berkait an dengan
k el em b ag aan , m ek an i sm e k er j a, k o o r d i n asi ,
wewenang dan t anggung j awab set iap st akeholder
dalam penanganan bencana lebih j elas dan efekt if.
*)

Suge ng Tr iut om o
Ket ua Pr esidium Masyar akat Penanggulangan
Bencana I ndonesia

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS

PENANGANAN DAN REHABI LI TASI
MASYARAKAT PASCA BENCANA

K

on d isi m asy ar ak at y an g
t er k ena
b en can a
san g at m em p r ih at in k an .
Kenyat aan saat ini m em perlihat kan
bahw a upay a penanganan k or ban
bencana m asih m engalam i berbagai
kendala baik yang berkait an dengan
ket erbat asan anggaran, sum ber daya
m an u sia
m aupun
k on sep
p en an g an an n y a y an g b er sif at
kom prehensif dan berkelanj ut an.
Po l a p e n a n g a n a n k o r b a n
bencana saat ini perlu diakui m asih
t erbat as pada pola penanganan yang
sif at n y a d ar u r at , sed an g k an
pem ban gu n an in f r ast r u k t u r sosial
dasar sekalipun sudah dim ulai t et api m asih belum
sin er g i d an t er k oor d in asi d en g an b aik . Pola
penanganan secara kom prehensif belum opt im al
dilaksanakan yait u penanganan yang t unt as dan
m elindungi hak asasi m anusia secara berkelanjutan
dengan m elibat kan berbagai sekt or t erkait secara
t erkoordinasi. Penanganan korban bencana j uga
dihadapkan pada ket erbat asan t enaga pelaksana
dari j aj aran pem erint ah yang m em iliki keahlian di
bidang penanggulangan bencana alam , koordinasi
dan kerj asam a ant ar inst ansi t erkait m engalam i
kesulit an.
Di sisi lain bencana t elah m eny ebabk an
berbagai dam pak yang m erugikan baik secara sosial
m aupun ekonom i. Bencana t elah m engakibat kan
k or b an j iw a d an p en d er it aan m an u sia ser t a
k e r u sa k a n d a n k e r u g i a n h a r t a b e n d a d a n
in f r ast r u k t u r pelay an an sosial. Ben can a j u ga
m enyebabkan penderit aan fisik dan m ent al sosial

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

sehingga diperlukan pelayanan sosial dalam bent uk
p elay an an p sik ososial, d isam p in g or an g y an g
m engungsi at au t inggal pada t enda- t enda darurat
karena kehilangan t em pat t inggal dan banyak anakanak m enj adi yat im piat u. Selain it u bencana t elah
m eninggalkan t raum a bagi anak- anak yang diasuh
di Pant i Sosial, para lanj ut usia yang dilayani di
Pant i Sosial, para penyandang cacat yang dilayani
di Panti Sosial. Dem ikian juga para anggota kelom pok
usaha bersam a karena kehilangan m ata pencaharian
seh in gga m er ek a st r ess. Dar i aspek ek on om i,
bencana alam m enyebabkan orang kehilangan m ata
p en cah ar ian d an m en g alam i p en u r u n an t ar af
kesejahteraan atau kem bali m iskin um um nya m ereka
bekerj a pada sekt or inform al.
Bant uan Sosial pada saat sesudah bencana
at au proses rehabilit asi adalah m em bant u sasaran
unt uk m em ulihk an k em am puanny a dalam
m eningkat kan kehidupan dan penghidupannya baik
secar a f isik , p sik is, sosial m au p u n ek on om is.
Rangkaian proses penanggulangan bencana alam

BULLETIN KAWASAN

11

salin g t er k ait t id ak d ap at d ip isah k an d an
m em p en g ar u h i k eb er h asilan p en an g g u lan g an
bencana secara m enyeluruh. Oleh karena itu proses
r eh ab ilit asi m asy ar ak at p asca b en can a h ar u s
m elibat kan sem ua pihak t erkait baik di lingkungan
Depart em en Sosial sendiri m aupun dengan pihak
I nst ansi t erkait dan m asyarakat .
St r a t e g i d a n Re h a b ilit a si M a sy a r a k a t
Pa sca be nca na
Dalam m elak san ak an p en an g an an d an
rehabilitasi m asyarakat pascabencana, Departem en
Sosial m enem puh beberapa st rat egi, ant ara lain :
1. Pen i l ai an k eb u t u h an t er h ad ap k eb u t u h an
pem ulihan m inim al dari hasil kerusakan dan
kerugian.
2. Penyediaan bant uan dasar pangan, sandang,
papan dan fasilit as bant uan yang dibut uhkan
pasca t anggap darurat .
3. Penyediaan bant uan st im ulans bahan bangunan
rum ah bagi korban bencana alam .
4. Peningk at an k oor dinasi lint as pelak u dalam
m elak sanak an r ehabilit asi dan r ek onst r uk si
pasca bencana.
5. Pen in g k at an f u n g si sosial k or b an b en can a
m elalui pelay anan r ehabilit asi sosial ber upa
konseling bagi keluarga korban yang m engalam i
t raum a/ st ress, pelayanan konsult asi keluarga
dan pendam pingan sosial ekonom i produkt if.
6. Perlindungan sosial bagi anak, perem puan dan
k elom pok r en t an m elalu i pen ggalan gan
kepedulian sosial dan keset iakaw anan sosial
m asyarakat .
7. Pem berdayaan sosial ekonom i korban bencana
kat egori rum aht angga m iskin m elalui bant uan
sarana penunj ang produksi dan akses m odal
u sah a m elalu i Lem b ag a Keu an g an Mik r o/
Koperasi.

Langk ah- langk ah Penanganan
Pada saat t anggap dar ur at Depar t em en
Sosial sesuai dengan t ugas pokok dan fungsinya
adalah m enyediakan buffer st ock beras, lauk- pauk/
perm akanan, sandang, t enda, genset , peralat an
dapur. Sedangk an pada t ahap Rehabilit asi at au
Pasca Bencana, upay a y ang dilak uk an adalah
m em berikan bant uan bahan bangunan rum ah yang
r usak , bant uan sant unan sosial bagi ahli w ar is
korban bencana, rehabilit asi sarana dan prasaran
Panti Sosial dan Loka Bina Karya, Rehabilitasi Tam an
Makam Pahlawan, Program konseling bagi keluarga
k or ban bencana alam , k onseling k eluar ga dan
pendam pingan sosial ekonom i produktif, pem berian
bant uan sarana penunj ang produksi bagi KUBE,
penguat an m odal usaha bagi Lem baga Keuangan
Mikro, Pem berian bantuan bagi program anak-anak,
w an i t a, d an l an j u t u si a seb ag ai k el om p ok
m asyarakat rentan.Rehabilitasi fisik korban bencana
alam m enitikberatkan pada upaya untuk pem enuhan
kebut uhan fisik sepert i t em pat t inggal, sedangkan
rehabilit asi sosial m enit ikberat kan kepada upaya
unt uk pem enuhan k em bali fungsi- fungsi sosial
korban bencana alam agar kondisi kehidupan korban
seper t i at au lebih baik dar i sebelum bencana.
Pe m b e r d a y a a n so si a l m e n i t i k b e r a t k a n p a d a
peningkat an kem am puan/ ket ram pilan di bidang
usaha ek onom i pr oduk t if agar fungsi ek onom i
keluarga korban dapat dipulihkan kem bali.
St rat egi unt uk m encapai t uj uan t ersebut
m elalui pem berdayaan keluarga korban bencana,
optim alisasi sum ber lokal,kem itraan dan kerj asam a
dengan organisasi sosial kem asyarakat an, LSM,
RAPI , Dunia Usaha, I nst ansi t erkait , peningkat an
k apasit as pelay anan ( Ev ak uasi Kit ) ,peny ediaan
sarana dan prasarana kom unikasi penanggulangan
bencana, desent ralisasi pelaksanaan program sert a
i n t e g r a si p e l a y a n a n d a l a m p e n n a g g u l a n g a n
bencana secara t erpadu.

*)

Direktur Bantuan Sosial Korban Bencana Alam
Departemen Sosial

8. Pem berdayaan m asyarakat dalam rehabilit asi
dan rekonst ruksi lem baga- lem baga sosial.
12

EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

BULLETIN KAWASAN

FOKUS

Strategi Pembangunan I nfrastruktur
DI KAWASAN RAWAN BENCANA

B

en can a al am d i k aw asan
Nan ggr oe Aceh Dar u ssalam
( N A D ) d a n Pu l a u N i a s ,
Su m at er a Ut ar a, pada t an ggal 2 6
Desem ber 2004 t elah m engakibat kan
k e r u sa k a n p a d a se b a g i a n b e sa r
infrastruktur dan perum ahan di wilayah
t ersebut . Bencana ini disusul dengan
terj adinya gem pa bum i di wilayah Nias
d a n k e p u l a u a n se k i t a r n y a p a d a
t anggal 28 Maret 2005. Kerusakan
m asif t erj adi di w ilayah pant ai yang
terkena dam pak langsung dari bencana
gem pa bum i dan t sunam i. Di sam ping
it u kerusakan j uga t erj adi di w ilayah
lain y an g h an y a d iseb ab k an oleh
gem pa bum i, nam un gem pa bum i susulan dengan
kekuatan m encapai 8,7 skala reichter m enyebabkan
kerusakan yang cukup berat t erut am a di Pulau Nias
dan Sim eulue. Kerusakan sist em infrast rukt ur dan
p er u m ah an t er seb u t t elah m en y eb ab k an
m enur unny a k apasit as pelay anan infr ast r uk t ur
secara drast is di NAD dan Pulau Nias
Belu m r ed a d er it a b er k ep an j an g an
m asy ar ak at
di
bum i
Nan g r oe
Aceh
Darusaalam dan Kepulauan Nias, bencana gem pa
bum i m enyusul m endera bum i Yogyakart a dengan
m en im b u lk an k or b an j iw a d an h ar t a. Disu su l
kem udian dengan bencana- bencana lainnya sepert i
luapan lum pur panas di Sidoarj o, bencana banj ir di
Kalim ant an Tim ur dan Gor ont alo, dan banj ir di
wilayah Jabodet abek.
Kerusakan akibat bencana t ersebut j uga
t elah m en gak ibat k an k elu m pu h an ak t iv it as
m a sy a r a k a t d i b e r b a g a i b i d a n g k e h i d u p a n .
Keh an cu r an r at u san r ib u u n it r u m ah d i b u m i
Nanggroe Aceh Darussalam t elah m engakibat kan
EDISI NOMOR 17 TAHUN 2006

lebih dar i set engah j ut a penduduk k ehilangan
tem pat tinggal. Kelum puhan fungsi infrastruktur dan
t ingginya j um lah penduduk yang kehilangan rum ah
t elah m enim bulkan runt uhnya t ingkat kehidupan
sosial- ekonom i m asyarakat , dan apabila kondisi
t ersebut t erus berlangsung akan berim plikasi pada
t im bu ln y a ber bagai k r isis di dalam k eh idu pan
m asyarakat .
Den gan m em per t im ban gk an per an an
pen t in gn y a in f r ast r u k t u r, m ak a pem ban gu n an
kem bali infrastruktur dan perum ahan perlu dilakukan
d e n g a n se g e r a se h i n g g a d a p a t m e n g a k h i r i
pender it aan m asy ar ak at y ang m enj adi k or ban
bencana, dan sekaligus m em bant u m ereka kem bali
ke kehidupan norm al.
Pa d a t a h a p p e m b a n g u n a n k e m b a l i
infrast rukt ur, yang perlu dipert im bangkan adalah
konsep dan st rat egi pem bangunan infrast rukt ur di
kaw asan bencana. Sehingga infrast rukt ur yang
dibangun harus sesuai dengan kondisi kaw asan

BULLETIN KAWASAN

13

FOKUS
r aw an ben can a seh in gga dih ar apk an k ej adian
bencana y ang t er j adi t idak ak an m enim bulk an
kerugian yang lebih besar lagi.
Dalam upaya pem bangunan infrast rukt ur
di k aw asan r aw an bencana, t er dapat beber apa
par am et er penent u dalam m er encanak anny a,
ant ara lain:
a) Jenis dan karakerist ik kawasan bencana;
b) Kondisi fisik daerah rawan bencana ( sum ber
air baku, st rukt ur t anah, dll) ;
c) Budaya m asyarakat ;
d) Frekuensi bencana;
e) Ket ersedian sum ber daya lokal;
f ) I PTEK yang t ersedia
g) Dan lain- lain.
Ad an y a k et er b at asan k em am p u an
Pem erintah Pusat m aupun Pem erintah Daerah dalam
u p ay a p en an g an an b en can a ser in g k ali
m enyebabkan penderit aan yang berkepanj angan
dari para pengungsi it u sendiri. Ham bat an finansial,
kondisi sosial budaya m asyarakat , kondisi sum ber
d a y a a l a m d a n t e r b a t a sn y a t e k n o l o g i y a n g
t er sedia, ser ingk ali m eny ebabk an pananganan
b e n ca n a m e n j a d i b e r l a r u t - l a r u t . Un t u k i t u
d i p e r l u k a n s u a t u S t r a t e g i Pe m b a n g u n a n
I nfrast rukt ur di Kawasan Rawan Bencana sehingga
dengan dem ikian diharapkan akan m em perkecil
kerugian yang t erj adi.

Perm a sa la ha n ya ng Diha da pi
Le m a h n y a k o o r d i n a s i a n t a r i n s t a n s i
pem erintah baik instansi dalam pem erintah daerah,
seringkali m enjadi kendala dalam penanganan pasca
bencana. Dalam penanganan pengungsi pasca
bencana gem pa di Yogyakart a m isalnya, lem ahnya
k oor din asi an t ar a pem da pen er im a pen gu n gsi
d en g an p em d a asal p en g u n g si, ser t a an t ar a
pem er in t ah daer ah den gan pem er in t ah pu sat
m enjadi faktor utam a berlarut-larutnya penanganan
pengungsi.
Walaupun berdasarkan KEPRES RI Nom or 3
t ahun 2001 t elah dibent uk Badan Koordinasi
Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan

14

Pengungsi, nam un pada kenyat aannya di lapangan
kurang dapat dirasakan oleh pengungsi. Lem ahnya
k oor dinasi ini m eny ebabk an pr ogr am - pr ogr am
penanganan bencana yang t elah di rencanakan
t idak dapat berj alan secara t erpadu sehingga t idak
dapat m enyelesaikan m asalah penanganan bencana
secara m enyeluruh.
Selain it u j u ga m en y ebabk an sar an a dan
pr asar ana dar ur at y ang sehar usny a disediak an
unt uk penanganan pengungsi t idak t ersedia secara
m em adai sehingga para pengungsi berusaha sendiri
unt uk m em enuhi kebut uhan sehari- harinya yang
pada akhirnya akan lebih m em bebani para pengungsi
it u sendiri. Hal ini di perburuk lagi dengan adanya
ket erbat asan yang ada dari pihak Pem da m aupun
Pem erintah Pusat dalam hal pendanaan, aspek legal
form al / hukum , m aupun m asalah sosial dalam
m asyarakat it u sendiri.
Hasil ident ifikasi Tim Puslit bang Perm ukim an,
2001, yang dilakukan dibeberapa lokasi kaw asan
bencana m enunj ukan adanya berbagai persoalan
dalam pen an gan an ben can a, baik pada t ah ap
t erj adinya bencana m aupun pasca bencana, yait u:
a) Ket erbat asan Dana dan Sarana
Ku r an g t er sedian y a dan a dan sar an a y an g
d i a l o k a si k a n u n t u k p e n a n g a n a n k a w a sa n
bencana. Hal ini um um nya dialam i oleh seluruh
pem erint ahan di daerah, bahkan ada beberapa
daerah yang ti

Dokumen yang terkait

Dokumen baru