Pengaruh Sumber Penerimaan Daerah dan Angkatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI MEDAN
PENGARUH SUMBER PENERIMAAN DAERAH DAN ANGKATAN KERJA TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH
DI KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN
SKRIPSI Diajukan Oleh: LESTARI SIHITE
060501041 EKONOMI PEMBANGUNAN
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Medan 2010
Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the influence of local revenue sources and the labour force for economic growth in the implementation of regional autonomy in the district Humbang Hasundutan 2004 until 2007 by using variabel PAD, DAU end the labour force. This study uses a model of linear regression analysis Ordinary Least Square methoed (OLS). The data used in this study are time series with models econometrics and data obtained are processed using Computer programs eviews 5.1. Regression results do show that there is a significant positive relationship between the PAD, DAU and the labor force for economic growth in the district for Humbang Hasundutan 89.78% during the implementation of regional autonomy, while the remainder explained by other variables not included in the model equations of 10:22% and significant at α = 1%.
Keyword : Economic growth, PAD, DAU sum of labour force.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sumber penerimaan daerah adan angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di kabupaten Humbang Hasundutan 2004 – 2007 dengan menggunakan variabel PAD, DAU dan angkatan kerja. Penelitian ini menggunakan model analisis regresi linear dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah time series dengan menggunakan alat estimasi program computer Eviews 5.1. Hasil regresi yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan dan positif antan PAD,DAU dan angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten Humbang Hasundutan sebesar 89.78% selama pelaksanaan otonomi daerah, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model persamaan sebesar 10.22% dan signifikan pada α = 1%. Kata kunci: Pertumbuhan ekonomi, PAD, DAU, Angkatan kerja.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan Segala Puji dan Syukur kepada Tuhan Yesus Kristus sumber kekuatan dan penggharapan, atas berkat kasih karunia serta kemurahan hati-Nya sejak masa perkulihan sampai dengan selesainya perkulihaan skripsi yang berjudul “Pengaruh Sumber Penerimaan Daerah dan Angkatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan” dimana isi dan materi skripsi ini didasarkan pada studi literatur dengan menganalisis datadata sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Salah satu bagian yang paling menggembirakan dalam penulisan skripsi ini adalah kesempatan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, memberikan bimbingan, saran dan dorongan moril baik selama masa perkuliahan maupun dalam penyusunan skripsi ini, antara lain: 1. Teristimewa buat kedua Orangtua tercinta penulis, Ayahanda Jannes sihite dan Ibunda Sentina br Banjarnahor. Dengan penghargaan dan kasih sayang yang sedalam-dalamnya, terima kasih buat dukungan yang selalu kalian berikan kepada penulis baik dukungan materil maupun semangat serta doa yang tidak putus-putus yang tak ternilai harganya. 2. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. 3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, Selaku Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc, PhD, sebagai sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Drs. Rujiman, MA, sebagai dosen pembingbing skripsi yang telah meluangkan waktu dalam memberikan masukkan, saran, dan bimbingan yang baik mulai dari awal penulisan hingga selesainya skripsi ini.
6. Bapak Drs. Rahmad Sumanjaya Hsb, Msi selaku Dosen Penguji I yang telah banyak memberikan petunjuk, saran dan kritik yang membangun pada penulis
7. Bapak Drs. Arifin Siregar M.SP selaku Dosen Penguji II yang telah banyak memberikan petunjuk, saran dan kritik yang membangun pada penulis
8. Ibu Dra. Raina Linda Sari, Msi selaku Dosen wali yang telah banyak membantu penulis selama perkuliahan.
9. Seluruh staff pengajar dan pegawai di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
10. Kakak, abang dan adik-adik penulis: K’Rinawaty ,B’ Bona, Togi, Desi, dan Melati. Terima kasih buat semangat dan doa dan pengertian yang kalian berikan pada penulis selama proses pengerjaan skripsi.
11. Buat sahabat-sahat penulis: Yuni, Novia, Marianim, Erna, Desma, Regina, dan k’Lusi yang telah banyak membantu di dalam pembuatan skripsi ini. Terimakasih untuk kehadiran kalian sebagai teman-teman terbaik disetiap hari-hari yang begitu berkesan bagi penulis.
12. Buat teman-teman di Departemen Ekonomi pembangunan, khususnya angkatan ’06 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan warna dan kebersamaan pada setiap hari yang kita lewati bersama.
Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini belum sempurna, hal ini tidak terlepas dari kekurangnya pengalaman dan terbatasnya ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, penulis menerima kritikan dan saran yang membangun guna mencapai kesempurnaan dari para pembaca guna menyempurnakan isi maupun teknik penulisan yang benar. Akhir kata, semoga penelitian ini bermanfaat bagi para pembaca, terimakasih.
Hormat saya Penulis, (Lestari Sihite)
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman ABSTRACT ....................................................................................................... i ABSTRAK ......................................................................................................... ii KATA PENGANTAR.......................................................................................iii DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... x
BAB I: PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah................................................................................. 7 1.3 Hipotesis ................................................................................................. 8 1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................... 9 1.5 Manfaat Penelitian................................................................................... 9
BAB II: LANDASAN TEORI 2.1 Produk Domestik Regional Bruto ...................................................... .... 11 2.1.1 Metode Perhitungan PDRB ..................................................... .... 11 2.1.2 PDRB Konstan dan PDRB Berlaku ......................................... .... 14 2.1.3 Teori Pertumbuhan Ekonomi................................................... .... 16 2.2 Pendapatan Asli Daerah..................................................................... .... 26 2.2.1 Pajak Daerah........................................................................... .... 27 2.2.2 Retribusi Daerah ..................................................................... .... 31 2.2.3 Laba BUMD ........................................................................... .... 35 2.2.4 Lain-lain PAD yang sah .......................................................... .... 35 2.3 DAU ................................................................................................. .... 36 2.4 Angkatan Kerja ................................................................................. .... 39 2.4.1 Profil Angkatan Kerja ............................................................. .... 41 2.4.2 Teori Tenaga Kerja ................................................................. .... 42
Universitas Sumatera Utara

2.5 Penelitian Sebelumnya ...................................................................... .... 45
BAB III: METODE PENELITIAN 3.1. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................ .... 47 3.2. Jenis dan Sumber Data ..................................................................... .... 47 3.3. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ............................................ .... 48 3.4. Pengolahan Data............................................................................... .... 48 3.5. Model Analisis ................................................................................. .... 48 3.6. Uji Kesesuaian ( Test of Goodnes of fit ) .......................................... .... 50 3.6.1 Koefisien Determinasi ( R2 ) ................................................... .... 50 3.6.2 Uji Parsial ............................................................................... .... 50 3.6.3 Uji Serempak .......................................................................... .... 53 3.6. 4 Asumsi Klasik........................................................................ .... 53 3.6.4.1 Uji Multikolonearity ...................................................... .... 53 3.6.4.1 Uji Autokorelasi ............................................................ .... 54 3.7. Definisi Operasional......................................................................... .... 56
BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Kondisi Wilayah.................................................. .... 57 4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Humbang Hasundutan............... .... 57 4.1.2 penduduk ................................................................................ .... 60 4.1.3 Sosial ...................................................................................... .... 62 4.1.4 Potensi Pertanian..................................................................... .... 66 4.1.5 Perkembangan PDRB kabupaten Humbang Hasundutan ......... .... 67 4.1.6 Perkembangan PAD kabupaten Humbang Hasundutan............ .... 68 4.1.7 Perkembangan PAD kabupaten Humbang Hasundutan............ .... 69 4.2. Analisis Dan Pembahasan................................................................. .... 70 4.2.1 Analisis dan Pengumpulan Data .............................................. .... 70 4.2.2 Interpretasi Model................................................................... .... 71 4.2.3. Uji Kesesuaian ....................................................................... .... 72 1. koefisien Determinasi............................................................ .... 72 2. Uji t-statistik.......................................................................... .... 73 3. Uji f-statistik ......................................................................... .... 76
Universitas Sumatera Utara

4.2.4 Uji Asumsi Klasik................................................................... .... 77 1. Multikolinearity .................................................................... .... 77 2. Autokorelasi.......................................................................... .... 79
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ...................................................................................... .... 81 5.2. Saran ................................................................................................ .... 82
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

NO. Tabel

Judul

Halaman

1. Perkembangan PAD kabupaten Humbang Hasundutan........................... 4

2. Jumlah desa dan keluran kabupaten Humbang Hasundutan..................... 59

3. Luas wilayah kabupaten Humbang Hasundutan...................................... 60

4. Jumlah angkatan kerja kabupaten Humbang Hasundutan........................ 61

5. Jumlah sekolah kabupaten Humbang Hasundutan................................... 64

6. Jumlah saran kesehatan kabupaten Humbang Hasundutan ...................... 65

7. PDRB berlaku dan konstan kabupaten Humbang Hasundutan ................ 67

8. Hasil regresi ........................................................................................... 71

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Judul

Halaman

1. Perkembangan Angkatan Kerja kabupaten Humbang Hasundutan............62

2. Perkembangan PDRB berlaku kabupaten Humbang Hasundutan............... 67

3. Perkembangan PDRB konstan kabupaten Humbang Hasundutan .............. 67

4. Perkembangan PAD kabupaten Humbang Hasundutan.............................. 69

5. Perkembangan DAU kabupaten Humbang Hasundutan ............................. 70

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the influence of local revenue sources and the labour force for economic growth in the implementation of regional autonomy in the district Humbang Hasundutan 2004 until 2007 by using variabel PAD, DAU end the labour force. This study uses a model of linear regression analysis Ordinary Least Square methoed (OLS). The data used in this study are time series with models econometrics and data obtained are processed using Computer programs eviews 5.1. Regression results do show that there is a significant positive relationship between the PAD, DAU and the labor force for economic growth in the district for Humbang Hasundutan 89.78% during the implementation of regional autonomy, while the remainder explained by other variables not included in the model equations of 10:22% and significant at α = 1%.
Keyword : Economic growth, PAD, DAU sum of labour force.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh sumber penerimaan daerah adan angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di kabupaten Humbang Hasundutan 2004 – 2007 dengan menggunakan variabel PAD, DAU dan angkatan kerja. Penelitian ini menggunakan model analisis regresi linear dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah time series dengan menggunakan alat estimasi program computer Eviews 5.1. Hasil regresi yang dilakukan menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan dan positif antan PAD,DAU dan angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten Humbang Hasundutan sebesar 89.78% selama pelaksanaan otonomi daerah, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model persamaan sebesar 10.22% dan signifikan pada α = 1%. Kata kunci: Pertumbuhan ekonomi, PAD, DAU, Angkatan kerja.
Universitas Sumatera Utara

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk menilai keberhasilan pembangunan suatu negara atau daerah. Dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan sasaran utama bagi negara yang sedang berkembang.
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak kebijakan pemerintah yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah dambaan semua daerah maupun negara. Pertumbuhan ekonomi selalu dipandang menjadi indikator tingkat kesejahteraan penduduk dalam suatu negara atau daerah
Dalam rangka mengisi dan melaksanakan pembangunan daerah, masalah keuangan merupakan masalah pokok pemerintah, penerimaan dan pengeluaran harus diseimbangkan oleh pemerintah demi kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, peningkatan pendapatan perkapita dan taraf hidup masyarakat merupakan faktor-faktor yang menjadi tantangan bagi pemerintah sehinga menyebabkan pengeluaran pemerintah menjadi semakin tinggi, padahal kenaikan pengeluaran yang terjadi tidak serta merta meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Disisi lain penerimaan yang digunakan untuk membiayai kebutuhan tersebut semakin terbatas. Dengan menurunnya penerimaan negara dari minyak bumi yang merupakan pendapatan terbesar kedua setelah pajak, yang berdampak pada menurunnya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), maka timbullah

Universitas Sumatera Utara

kesadaran akan berkurangnya kemampuan keuangan pemerintah pusat dalam membiayai proyek-proyek pemerintah di daerah (Suparmoko,2001:15).
Penurunan penerimaan negara tersebut telah mendorong meningkatnya pelaksanaan otonomi daerah. Untuk itu, pemerintah pusat memberikan kebebasan kepada pemerintah daerah dalam berusaha meningkatkan pendapatan asli daerah agar bisa membiayai proyek-proyek pembangunan di daerah masing-masing dan tidak mengganggu pertumbuhan dan perkembangan ekonomi maupun jalannya pemerintahan, akibat berkurangnya kemampuan pemerintah pusat dalam memberikan subsidi.
Sistem otonomi daerah yang direalisasikan pada tahun 2001 yang pada konsep dasarnya adalah memberikan wewenang kepada daerah untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi didaerahnya masing-masing sehingga sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dan tidak terlepas dari kemampuan daerah dalam hal pendanaan dan kemampuan daerah dalam masalah sumber daya manusia. Setiap daerah dituntut untuk lebih aktif dalam menyusun dan merencanakan pembangunan daerahnya. Sekelompok orang percaya bahwa pemerintah daerah akan bekerja lebih efektif dan efisien daripada pemerintah pusat karena daerah dianggap lebih menggetahui dan lebih memahami kebutuhan daerahnya daripada pemerintah pusat (Suparmoko, 2001:19).
Tekad pemerintah pusat untuk meningkatkan peranan pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya Undang-Undang Otonomi Daerah yang terdiri dari Undang-Undang Repbulik Indonesia No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Republik
Universitas Sumatera Utara

Indonesia No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
Pelaksanaan Undang-Undang No.22 Tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan Undang-Undang No.32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UndangUndang No.33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, telah menyebabkan perubahan yang mendasar mengenai pengaturan hubungan pusat dan daerah khususnya dalam bidang administrasi pemerintah maupun dalam hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah yang dikenal sebagai otonomi daerah.
Sejalan dengan perubahan undang–undang otonomi daerah tersebut, tentunya akan membawa konsekuensi bagi setiap daerah. Konsekuensi dari pelaksanaan undang-undang ini adalah bahwa daerah harus mampu mengembangkan otonomi secara luas, nyata, dan bertangung jawab dalam rangka pemberdayaan masyarakat, lembaga adat dan lembaga swadaya masyarakat serta seluruh potensi masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Disisi lain, saat ini kemampuan beberapa pemerintah daerah masih sangat tergantung pada penerimaan yang berasal dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, bersamaan dengan semakin sulitnya keuangan negara dan pelaksanaan otonomi daerah itu sendiri maka kepada setiap daerah dituntut agar dapat membiayai diri sendiri melalui sumber-sumber keuangan yang dimilikinya tanpa harus terus bergantung pada pemerintah pusat dan setiap daerah dituntut untuk lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya.
Universitas Sumatera Utara

Sumber penerimaan daerah yang dianggap memadai dalam membiayai kegiatan daerah berasal dari Dana Perimbangan yang terdiri dari : Bagian Daerah, Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan DAU merupakan sumber penerimaan terbesar yang diterima daerah,Sumber penerimaan lainnya berasal dari PAD.
Pada prinsipnya otonomi daerah adalah penyerahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri, baik yang dilihat dari aspek administrasi maupun dari aspek keuangan. Sejalan dengan itu, untuk menjalankan fungsi pemerintahan atau kegiatan pemerintahan ,faktor keuangan merupakan suatu hal yang sangat penting karena hampir tidak ada kegiatan pemerintah yang tidak membutuhkan biaya.
Tuntutan peningkatan PAD semakin besar seiring dengan semakin banyaknya kewenangan pemerintah yang dilimpahkan kepada daerah. Sementara, sejauh ini dana perimbangan yang merupakan transfer keuangan dari pusat kepada daerah dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi daerah, meskipun jumlahnya relatif besar yakni sekitar 25% dari penerimaan dalam negeri, namum dana perimbangan dianggap kurang memadai untuk membiayai kegiatan pemerintah daerah. Oleh karena itu sumber-sumber penerimaan daerah yang potensial harus digali secara maksimal, namun tentu saja didalam koridor peraturan perundangundangan yang berlaku.
Dalam kaitannya dengan pemberian otonomi daerah PAD selalu dipandang sebagai salah satu kriteria untuk mengukur tingkat ketergantungan suatu daerah kepada pusat. Pada prinsipnya semakin besar sumbangan PAD kepada APBD
Universitas Sumatera Utara

maka akan menunjukan semakin kecil ketergantungan daerah kepada pusat sebagai konsekuensi pelaksanaan otonomi daerah dari prinsip secara nyata dan bertanggung jawab. Penyelenggaraan otonomi yang sehat hanya tercapai apabila sumber utama keuangan daerah guna membiayai aktifitas daerah berasal dari PAD atau paling tidak pembiayaan rutinnya ditutup oleh hasil dari PAD (Kaho, 2007:284).

Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan salah satu kabupaten yang berdiri karena adanya otonomi daerah, dalam melaksanakan otonomi daerah kabupaten Humbang Hasundutan masih sangat bergantung pada DAU yaitu sekitar 71.36 milliar tahun 2004 dan 199.86 milliar tahun 2007 dan jumlah PAD kabupaten Humbang Hasundutan pada tahun 2004 adalah 2.76 milliar dan pada tahun 2007 adalah sekitar 5.97 milliar. Jika dilihat dari perbandingannya, maka sumber PAD kabupaten Humbang Hasundutan masih sangat rendah.

Tabel 1.

Perkembangan PAD Humbang Hasundutan periode 2004 – 2007

Tahun

PAD (milyar rupiah)

2004

2.76

2005

3.09

2006

3.51

2007

5.97

Sumber : Badan Pusat Statistik kabupaten Humbang Hasundutan

Keuangan merupakan dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata

kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri. Kemampuan

daerah yang dimaksud adalah dalam arti sampai seberapa jauh daerah dapat

Universitas Sumatera Utara

menggali sumber-sumber keuangan sendiri guna membiayai kebutuhannya tanpa harus selalu menggantungkan diri pada bantuan atau subsidi pemerintah pusat (Kaho, 2007:124).
Semua sumber keuangan yang melekat pada setiap urusan pemerintah yang diserahkan kepada daerah dan menjadi sumber penerimaan bagi daerah tersebut. Kemampuan keuangan suatu daerah dapat dilihat dari besar kecilnya PAD yang diperoleh daerah yang bersangkutan. Keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah tidak dapat dilepaskan dari cukup tidaknya kemampuan daerah dalam bidang keuangan karena kemampuan keuangan ini merupakan salah satu indikator penting guna mengukur tingkat otonomi suatu daerah (Kaho,2007:283). Sumber penerimaan daerah merupakan sumber dana bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi disetiap daerah.
Sumber PAD merupakan sumber penerimaan daerah yang dianggap paling mampu untuk menambah pendanaan daerah dan dianggap juga salah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah dalam menjalankan kegiatannya disamping DAU. Sumber keuangan daerah yang digali dari dalam daerah biasanya terdiri dari hasil pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang disahkan, dan PAD lain - lain yang disahkan.
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan menuangkannya dalam tulisan dengan judul “Pengaruh Sumber Penerimaan Daerah dan Angkatan Kerja Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan” 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah yang dapat diambil sebagai dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengaruh PAD terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan?
2. Bagaimana pengaruh Dana Alokasi umum terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan?
3. Bagaimana pengaruh Angkatan kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan?
Universitas Sumatera Utara

1.3 Hipotesis Hipotesis merupakan jawaban sementara atas permasalahan yang menjadi
objek penelitian yang kebenarannya masih harus diuji atau dibuktikan secara empiris. Dari rumusan masalah diatas maka penulis mengemukakan jawaban sementara sebagai berikut:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan, ceteris paribus.
2. Dana Alokasi Umum mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan, ceteris paribus.
3. Angkatan kerja mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan, ceteris paribus.
Universitas Sumatera Utara

1.4 Tujuan Penelitian Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan.
2. Untuk mengetahui pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan.
3. Untuk mengetahui pengaruh Angkatan Kerja terhadap pertumbuhan ekonomi dalam pelaksanaan otonomi daerah di Kabupaten Humbang Hasundutan.
1.5 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk menambah wawasan pengetahuan penulis khususnya dalam konsep keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi
2. Sebagai bahan studi dan tambahan literature bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, khususnya bagi Mahasiswa Departemen Ekonomi Pembangunan.
3. Sebagai masukan yang bermanfaat bagi pemerintah dan bagi institusiinstitusi yang terkait.
Universitas Sumatera Utara

BAB II
LANDASAN TEORI PERTUMBUHAN EKONOMI
Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat, pertumbuhan ekonomi selalu bersifat dinamis atau berubah dari waktu kewaktu. Pertumbuhan ekonomi menurut Kuznets adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan barang ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaianpenyesuaian teknologi, institusional (kelembagaan) dan idiologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada (Todaro, 2000:144).
Dan menurut Sukirno, pertumbuhan ekonomi adalah “kenaikan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan penduduk, atau ada tidaknya perubahan dalam struktur ekonomi”. Batas perhitungan PDB adalah negara (perekonomian domestik). Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu unsur utama dalam pembangunan ekonomi regional, sasaran analisis pertumbuhan ekonomi regional adalah untuk menjelaskan mengapa suatu daerah dapat tumbuh cepat atau lambat.
Menurut Todaro (2000) terdapat tiga faktor atau komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi dari setiap bangsa, ketiganya adalah: Akumulasi modal yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik dan modal atau sumber daya manusia. Pertumbuhan penduduk dan
Universitas Sumatera Utara

angkatan kerja beberapa tahun selanjutnya yang akan memperbanyak jumlah akumulasi kapital serta kemajuan teknologi.
Perencanaan pembangunan di Indonesia diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang semakin sejahtera, makmur dan berkeadilan. Kebijakan pembangunan dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan cara memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada (Lana Soelistianingsih, 2007:2). 2.1 Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB )
Salah satu dasar yang digunakan untuk mengukur tingkat perekonomian suatu wilayah atau daerah adalah dengan menggunakan besar nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB pada dasarnya adalah merupakan nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah dalam satu periode tertentu (satu tahun). Perkembangan ekonomi suatu daerah pada hakekatnya adalah serangkaian usaha untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pertumbuhan ekonomi suatu daerah atau wilayah dapat dilihat dari PDRB daerah yang bersangkutan. Dengan demikian secara umum dinyatakan bahwa PDRB mencerminkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. 2.1.1 Metode Penghitungan PDRB 1. Metode Langsung
a. Pendekatan produksi (production approach) PDRB merupakan Jumlah Nilai Tambah Bruto (NTB) atau nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh unit produksi disuatu wilayah dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Sedangkan NTB adalah nilai produksi bruto dari barang dan jasa tersebut dikurangi seluruh biaya antara yang digunakan dalam
Universitas Sumatera Utara

proses produksi. Metode ini adalah metode yang digunakan dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan negara-negara berkembang, sedangkan dinegara maju perhitungan pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan pendekatan pendapatan dan pengeluaran. Adapun perhitungan PDRB dengan metode produksi
Y = P1Q1 + P2Q2 + … + PnQn Dimana: Y = PDRB P1, P2,…Pn = Harga satuan produk pada satuan masing–masing sektor ekonomi Q1,Q2,…Qn = jumlah produk pada satuan masing–masing sektor ekonomi
Dalam pendekatan ini yang dipakai hanya nilai tambah bruto saja, hal ini dilakukan agar perhitungan ganda tidak terjadi.
b. Pendekatan pendapatan (income approach) PDRB adalah jumlah seluruh balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi disuatu wilayah dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Berdasarkan pengertian tersebut, maka NTB adalah jumlah dari upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal, dan keuntungan (laba) dimana pajak penghasilan dan pajak langsung belum dipotong. Dalam pengertian PDRB ini termasuk pola komponen penyusutan dan pajak tidak langsung netto.
Y = Yw + Yr + Yi + Yp Dimana: Y = Pendapatan regional Yi = Pendapatan bunga Yw = Pendapatan upah/gaji
Universitas Sumatera Utara

Yp = Pendapatan laba/profit Yr = Pendapatan sewa
c. Pendekatan pengeluaran (expenditure approach) PDRB adalah jumlah seluruh pengeluaran yang dilakukan untuk pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembanga swasta, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap domestik bruto, perubahan inventori, dan ekspor bersih di dalam suatu wilayah tertentu, biasanya satu tahun. Dengan metode ini, perhitungan NTB bertitik tolak pada penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi.
Y=C+I+G+(X–M) Dimana: Y = PDRB C = Pengeluaran rumah tangga konsumen untuk konsumsi I = Pengeluaran rumah tangga perusahaan untuk investasi ( X – M) = Ekspor netto atau pengeluaran rumah tangga luar negeri
Dalam pendekatan ini nilai ekspor dan impor yang dihitung hanyalah nilai transaksi-transaksi barang jadi saja, hal ini dilakukan untuk menghindari adanya perhitungan ganda. 2. Metode Tidak Langsung (Alokasi)
Metode Alokasi atau metode tak langsung adalah alternatif terakhir yang dapat digunakan untuk menghitung PDRB. Biasanya digunakan untuk mengalokasikan PDRB suatu wilayah ke tingkat wilayah yang lebih kecil (misalnya menghitung PDRB kecamatan berdasarkan PDRB kabupaten).
Universitas Sumatera Utara

Menghitung nilai tambah suatu kelompok ekonomi dengan mengalokasikan nilai tambah nasioanl kedalam masing–masing kelompok kegiatan ekonomi pada tingkat regional. Sebagai alokator digunakan yang paling besar tergantung atau erat kaitannya dengan produktifitas kegiatan ekonomi tersebut. 2.1.2 PDRB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga berlaku
Umumnya PDRB dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu PDRB atas dasar harga berlaku (nominal) dan PDRB atas dasar harga konstan (rill) . PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga berlaku setiap tahunnya. Dalam PDRB ini unsur inflasi sudah masuk, Sedangkan nilai PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu, misalnya PDRB tahun 1983, 1993 atau 2000. Pada PDRB atas dasar harga konstan unsur inflasi sudah dikeluarkan.
a. PDRB atas dasar harga berlaku
PDRB atas dasar berlaku adalah jumlah nilai produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga yang berlaku pada tahun yang bersangkutan. Perubahan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun perhitungan masih memuat akibat terjadinya inflasi dan deflasi sehinga tidak memperlihatkan pertumbuhan atau perubahan PDRB secara rill.
Perhitungan PDRB menurut harga berlaku dapat menghasilkan distribusi (share) masing–masing penguna atau pengeluaran masing–masing pelaku ekonomi dari waktu ke waktu.
b. PDRB atas dasar harga konstan
Universitas Sumatera Utara

PDRB atas dasar harga konstan adalah jumlah nilai produksi atau pendapatan atau pengeluaran yang dinilai atas dasar harga tetap (harga pada tahun dasar) yang digunakan selama satu tahun. PDRB atas dasar harga konstan menggunakan harga pasar pada tahun tertentu sehinga perubahan besaran PDRB sudah lepas dari pengaruh inflasi atau deflasi. Pada dasarnya ada empat cara perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan yaitu :
a.Revaluasi : yaitu dengan cara menilai produksi dan biaya antar masing– masing tahun dengan harga tahun dasar.
b. Ekstrapolasi : yaitu dengan cara mengalihkan nilai tambah tahun dasar dengan indeks produksi
c. Deflasi : yaitu dengan cara membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku masing–masing tahun dengan indeks harga yang digunakan sebagai deflator. Indeks harga yang digunakan biasanya sebagai deflator biasanya merupakan indeks harga konsumen (IHK), Indeks harga perdagangan besar (IHPB) atau indeks harga yang dianggap lebih cocok.
d. Deflasi berganda : dalam deflasi berganda yang dideflasi adalah output dan biaya antara, sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil deflasi tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator untuk perhitungan output biasanya disesuaikan dengan cakupan komoditinya, sedangkan indeks harga untuk biaya antara adalah indeks harga dari komponen input terbesar.
Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Teori – Teori Pertumbuhan Ekonomi
1. Teori klasik Adam Smith adalah ahli ekonomi klasik yang pertama kali yang
mengemukakan mengenai pentingnya kebijakan lisez-faire atau sistem mekanisme pasar akan memaksimalkan tingkat pembangunan ekonomi suatu negara. Menurut teori kaum klasik mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh adanya perpacuan antara perkembangan penduduk dan kemajuan teknologi.
Mengenai corak dan proses pertumbuhan ekonomi, Adam Smith mengemukakan bahwa apabila pembangunan sudah terjadi maka proses tersebut akan terus-menerus berlangsung secara kumulatif. Asal saja ada sedikit permodalan awal dan kemungkinan-kemungkinan pasar, pembagian kerja dan spesialisasi akan terjadi sehingga timbul kenaikan produktifitas dan pendapatan nasional. Dengan adanya kenaikan pendapatan nasional akan memperluas pasar dan menciptakan tabungan yang lebih banyak. Selain itu, spesialisasi dan perluasan pasar akan merangsang lebih banyak pengusaha dan pengembangan teknologi dan mengadakan inovasi sehingga pembangunan ekonomi akan terus berlanjut.
Pertumbuhan penduduk pada umumnya tidak diikuti oleh pertambahan lahan sehingga mulai dirasakan bahwa tanah atau lahan semakin sempit. Oleh karena itu pekerja-pekerja baru akan mendapatkan lahan yang semakin sempit untuk digarap. Pada saat seperti ini barulah berlaku konsep the law of diminishing returns. Menurut rasio antara jumlah pekerja dengan lahan yang tersedia akan menimbulkan penurunan marginal produk sehingga akan menimbulkan upah
Universitas Sumatera Utara

rill.Teori klasik juga mengemukakan keterkaitan antara jumlah perkapita dan jumlah penduduk. Teori tersebut disebut teori penduduk optimum. Teori ini menyatakan hal-hal sebagai berikut:
a. Ketika produksi marginal lebih tinggi daripada pendapatan perkapita, jumlah penduduk masih sedikit dan tenaga kerja masih kurang. Maka pertambahan penduduk akan menambah tenaga kerja dan kenaikan pertumbuhan ekonomi.
b. Ketika produk marginal semakin menurun, pendapatan nasional semakin naik tetapi dengan kecepatan yang lambat. Maka pertambahan penduduk akan menambah tenaga kerja, pendapatan perkapita menurun namun pertumbuhan ekonomi masih ada meskipun kualitasnya semakin kecil.
c. Ketika produksi marginal lainnya sama dengan pendapatan perkapita, artinya nilai pendapatan perkapita mencapai maksimum dan jumlah penduduk optimal (jumlah penduduk yang sesuai dengan keadaan suatu negara yang ditandai dengan pendapatan perkapita mencapai maksimum) sehingga pertambahan penduduk akan membawa pengaruh yang tidak baik terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menurut kaum klasik bahwa hukum the law of diminishing retruns menyebabkan tidak semua penduduk dapat dilibatkan dalam proses produksi. Jika hal ini dipaksakan justru akan menurunkan output nasional. Pertambahan tenaga kerja yang diikuti pertambahan produk terjadi apabila pertambahan tenaga kerja diikuti dengan pertambahan modal.
Universitas Sumatera Utara

2. Teori Pertumbuhan Harrord-Domar Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom
sesudah Keynes yaitu Evsey Domar dan Sir Roy F. Harrod. Teori Harrod-Domar ini mempunyai asumsi seperti:
1. Perekonomian dalam pengerjaan penuh (full employment) dan barangbarang modal yang terdiri dalam masyarakat digunakan secara penuh.
2. Perekonomian terdiri dari dua sektor, yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan.
3. Besarnya tabungan masyarakat adalah proporsional dengan besarnya pendapatan nasional, berarti fungsi tabungan dimulai dari titik nol.
4. Kecenderungan untuk menabung (marginal propensity to save = MPS) besarnya tetap, demikian juga ration antara modal-output (capital-output ration = COR) dan rasio pertambahan modal-output (incremental capitaloutput ration = ICOR).
Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barangbarang modal yang rusak. Namun demikian, untuk menumbuhkan perekonomian tersebut diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Hubungan tersebut telah kita kenal dengan istilah rasio modal-output (COR). Dalam teori ini disebutkan bahwa jika ingin tumbuh perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. Semakin banyak tabungan dan kemudian diinvestasikan, maka semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh.
Universitas Sumatera Utara

3. Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan Menurut teori ini garis besar proses pertumbuhan mirip dengan teori
Harrod-Domar, dimana asumsi yang melandasi model ini adalah: 1. Tenaga kerja atau penduduk tumbuh dengan laju tertentu, misalnya Per tahun. 2. Adanya fungsi produksi Q = f (K, L) yang berlaku bagi setiap periode. 3. Adanya kecenderungan menabung (prospensity to save) oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (S) tertentu dari output (Q), tabungan masyarakat S=sQ Bila Q naik S juga naik, dan sebaliknya. 4. Semua tabungan masyarakat diinvestasikan S = I = K. Sesuai dengan anggapan mengenai kecenderungan menabung, maka dari output disisihkan sejumlah proporsi untuk ditabung dan kemudian di investasikan. Dengan begitu, maka terjadi penambahan stok capital (Boediono,1992:81-82).
4. Teori Ricardian David Ricardo mengungkapkan pandanganya mengenai pembangunan
ekonomi dengan cara yang tidak sistimatis dalam bukunya yang berjudul the principle of political economy and taxation. David Ricardo mengungkapkan bahwa faktor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi adalah buruh, pemupukan modal dan perdagangan luar negeri. Seperti ahli ekonomi modren, teori Richardo menekankan pentingnya tabungan bagi pembentukan modal. Dibanding dengan pajak, Ricardo lebih menyetujui pemupukan modal melalui tabungan (Jhingan, 2000).
Universitas Sumatera Utara

Tabungan dapat dibentuk melalui penghematan pengeluaran, memproduksi lebih banyak, dan meningkatkan keuntungan serta mengurangi harga barang. Semakin banyak tabungan berarti semakin banyak pula pemupukan modal bagi kegiatan penanaman modal berikutnya. Selain itu, Ricardo juga memberikan tekanan khusus pada perdagangan luar negeri sebagai sarana memperbaiki perekonomian, sebab perdagangan luar negeri akan menyebabkan pemamfaatan sumber daya secara maksimun dan meningkatkan pendapatan 5. Teori Keynesian
Teori ini dipelopori oleh John Maynard Keynes yang mengatakan bahwa dalam jangka pendek output nasional dan kesempatan kerja terutama ditentukan oleh permintaan agregat. Kaum Keynesian yakin bahwa kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal harus digunakan untuk mengatasi pengangguran dan menurunkan laju inflasi. Konsep-konsep Keynesian juga menunjukkan bahwa peran pemerintah sangat besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Perekonomian pasar sepertinya sulit untuk menjamin ketersediaan barang yang dibutuhkan masyarakat dan bahkan sering menimbulkan instibiliti, inequity dan inefisiensi. Bila perekonomian sering dihadapkan pada ketidak stabilan, ketidak merataan, dan ketidak efisienan jelas akan menghambat terjadinya pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Universitas Sumatera Utara

6. Teori Schumpeter Teori ini menekankan pada peranan pengusaha dalam pembangunan,
kemajuan perekonomian sangat ditentukan oleh adanya entrepreneurship (wiraswasta). Entrepreneur yang unggul yaitu orang yang memiliki inisiaif yang tinggi, kemampuan, dan keberanian mengaplikasikan penemuan-penemuan baru dalam kegiatan produksi. Para entrepreneur akan menciptakan hal-hal yang baru seperti menciptakan barang baru, menggunakan cara-cara baru dalam produksi, memperluas pasar ke daerah baru serta mengembangkan sumber bahan mentah yang baru yang bertujuan untuk memajukan perusahaan industri menjadi lebih baik. 7. Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional
Pada dasarnya pembagunan daerah adalah berkenaan dengan tingkat dan perubahan selama kurun waktu tertentu suatu set variabel-variabel, seperti produksi, penduduk, angkatan kerja, rasio modal kerja, dan imbalan bagi faktor (factor returns) dalam daerah dibatasi secara jelas. Laju pertumbuhan dari daerahdaerah biasanya diukur melalui output atau tingkatan pendapatan sangatlah berbeda-beda, ada beberapa daerah mengalami kemunduran jangka panjang.
Pertumbuhan regional adalah produk dari banyak faktor, sebagian bersifat intern dan sebagaian lainnya extern dan sosio politik. Faktor-faktor yang berasal dari daerah itu sendiri meliputi distribusi faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal sedangkan penentu extern yang penting adalah tingkat permintaan dari daerah-daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan oleh daerah tersebut.
Pertumbuhan ekonomi merupakan kondisi yang diperlukan tetapi tidak mencukupi bagi proses pembagunan. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan
Universitas Sumatera Utara

peningkatan produksi barang-barang dan jasa-jasa dalam masyarakat, sebaliknya pembangunan bukan saja memerlukan peningkatan produksi barang-barang dan jasa-jasa tetapi juga harus menjamin pembagiannya secara lebih merata kepada segenap lapisan masyarakat.
Pada dasarnya pembangunan daerah adalah berkenaan dengan tingkat dan perubahan selama kurun waktu tertentu suatu set variabel-variabel, seperti produksi, penduduk, angkatan kerja, rasio modal tenaga dan imbalan bagi faktor dan dalam daerah dibatasi secara jelas. Laju pertimbuhan dari daerah-daerah biasanya diukur menurut output atau tingkat pendapatan. Ada beberapa teori pertumbuhan ekonomi regional yang lazim dikenal yaitu:
A. Export Base Models, oleh North (1995) yang kemudian dikembangkan oleh Tibout (19950)
Mereka mendasarkan pandangannya dari sudut teori lokasi, yang berpendapat bahwa jenis keuntungan lokasi yang dapat digunakan daerah tersebut sebagai kekuatan ekspor. Keuntungan lokasi tersebut umumya berbeda-beda bagi setiap region dan hal ini tergantung pada keadaan geografi daerah setempat.
B. Cumulative Causation Models oleh Myrdal (1975) dan kemudian diformulasikan oleh Kaldor.
Teori ini berpendapat bahwa peningkatan pemerataan pembangunan antar daerah tidak hanya dapt diserahkan pada kekuatan pasar (market mechanism), tetapi perlu adanya campur tangan pemerintah dalam bentuk program-program pembagunan regional terutama untuk daerah-daerah yang relatif masih terbelakang.
Universitas Sumatera Utara

C. Core Periphery Models dikemukakan oleh Friedman (1966) Teori ini menekankan analisa pada hubungan yang erat dan saling mempengaruhi antara pembangunan kota (core) dan desa (periphery). Menurut teori ini, gerak langkah pembangunan daerah perkotaan akan lebih banyak ditentukan oleh keadaan desa-desa disekitarnya. Sebaliknya corak pembagunan pedesaan tersebut juga sangat ditentukan oleh arah pembangunan perkotaan. Dengan demikian aspek interaksi antar daerah (spatial interaction) sangat ditentukan. Adapun yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi ekonomi dapat dibedakan menjadi dua jenis: 1. Faktor ekonomi Para ahli ekonomi menganggap faktor produksi sebagai keuntungan utama yang mempengaruhi pertumbuhan, jatuh atau berkembangnya perekonomian adalah konsekuensi dari perubahan yang terjadi dalam faktor produksi tersebut dan terdiri dari: a. Sumber Daya Alam
Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan suatu perekonomian adalah sumber daya alam atau tanah. Tanah sebagai mana dipergunakan dalam ilmu ekonomi mencakup sumber daya lam seperti kesuburan tanah, letak dan susunanya, kekayaan hutan, mineral, iklim, sumber daya air, sumber daya lautan, dan sebagainya. Bagi pertumbuhan ekonomi, tersedianya sumber daya alam secara melimpah merupakan hal penting. Suatu negara yang kekurangan sumber daya lam tidak dapat membagun dengan cepat.
Universitas Sumatera Utara

b. Akumulasi Modal Faktor ekonomi kedua yang penting dalam pertumbuhan ekonomi
adalah akumulasi modal. Modal berarti kedua yang penting dalam pertumbuhan ekonomi adalah akumulasi modal. Modal berarti persediaan faktor produksi secara fisik dapat diproduksi. Apabila stok modal naik dalm batas waktu tertentu, hal ini disebut akumulasi modal atau pembentukan modal. Dalam ungkapan Nurkse, makna pembentukan modal masyarakat tidak melakukan saat ini sekedar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumsi yang mendesak, akan tetapi menggairahkan sebagian daripadanya untuk pembuatan barang modal, alat-alat, mesin-mesin, pabrik dan peralatannya. Dalam arti ini pembentukan modal merupakan investasi dalam bentuk masing-masing modal yang dapat dinaikkan stok modal, output nasioanl dan pendapatan nasional. c. Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata tergantung pada jumlah sumber daya manusia saja, tetapi lebih menekankan kepada effisiensi mereka. untuk mendorong SDM dapat bekerja secara efisien dan maksimal, maka diperlukan pembentukan modal insane, yaitu proses peningkatan ilmu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seluruh penduduk negara/wilayah yang bersangkutan. Proses ini mencakup kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial pada umumnya.
Universitas Sumatera Utara

Sehingga pada kondisi dimana penduduk dapat berproduktivitas secara effisien akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi. d. Tenaga Managerial dan Organisai Produksi Organisasi produksi merupakan bagian penting dalam proses produksi pertumbuhan ekonomi. Organisasi ini berkaitan dengan penggunaan faktor produksi dalam berbagai kegiatan perekonomian. Organisasi produksi ini dilaksanakan dan diatur oleh tenaga managerial dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Dan dalam perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, para wiraswata tampil sebagai tenaga organisator dalam menggerakkan berbagai sumber produksi dengan memperkenalkan penemuan baru yang dikenal sebagai inovasi. 2. Faktor Non Ekonomi a. Faktor pemamfaatan teknologi Kemajuan teknologi merupakan faktor yang penting dalam proses pertumbuhan ekonomi. Dan perubahan dan kemajuan teknologi tersebut dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja, modal dan faktor produksi lainnya. b. Faktor Politik dan Adimistrasi Pemerintah Struktur politik dan administrasi pemerintah yang lemah merupakan faktor penghambat yang besar bagi pertumbuhan ekonomi untuk negara-negara berkembang. Politik yang tidak stabil serta pemerintahan yang lemah dan koruptor sangat menghambat kemajuan teknologi. c. Aspek Sosial Budaya Aspek sosial budaya dalam kehidupan masyarakat meliputi anata lain sikap, tingkah laku, pandangan masyarakat, motivasi kerja, kelembagaan
Universitas Sumatera Utara

masyarakat, dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan itu. Sebagai ilustrasi, misalnya pendidikan dan kebudayaan Barat membawa pemikiran dan pandangan kearah penalaran, sikap dan skeptisme, dan semangat untuk menghasikan penemuan baru, yang kesemuanya dapat menunjang pertumbuhan ekonomi. d. Susunan dan Tertib Hukum
Susunan dan terti hukum serta pel

Dokumen yang terkait

Proyeksi Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Humbang Hasundutan Tahun 2014 Berdasarkan Data Tahun 2003-2010

0 32 53

Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Deli Serdang Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah.

1 81 92

Analisis Evaluasi Pembangunan Ekonomi Daerah Pasca Otonomi Daerah (Studi Kasus: Kabupaten Dairi)

2 56 102

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

3 16 118

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 4 10

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 0 2

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 0 12

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 1 35

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 0 2

Analisis Kesehatan Keuangan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah (Studi Kasus Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan)

0 0 11