PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH(PBM) DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS V PADA MATERI PESAWAT SEDERHANA (Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Cadaspangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang).

(1)

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH(PBM) DALAM

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

KREATIF SISWA KELAS V PADA MATERI

PESAWAT SEDERHANA

(Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Cadaspangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Guru SekolahDasar

Oleh

DEVI NURMALA 0903242

PROGRAM S1 KELAS PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

KAMPUS SUMEDANG 2013


(2)

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH(PBM) DALAM

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

KREATIF SISWA KELAS V PADA MATERI

PESAWAT SEDERHANA

(Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Cadaspangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang)

Oleh Devi Nurmala

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

© DeviNurmala 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

Juli 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.


(3)

DEVI NURMALA

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

KREATIF SISWA KELAS V PADA MATERI

PESAWAT SEDERHANA

(Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Cadaspangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

Pembimbing I,

H. ATEP SUJANA, M.Pd NIP. 197212262006041001

Pembimbing II,

ANI NUR AENI, M.Pd. NIP. 197608222005012002

Mengetahui,

Ketua Program Studi PGDS S1 Kelas UPI KampusSumedang

RIANA IRAWATI, M.Si NIP. 198011252005012002


(4)

DEVI NURMALA

PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBM) DALAM

MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR

KREATIF SISWA KELAS V PADA MATERI

PESAWAT SEDERHANA

(Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Cadaspangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH

Penguji I,

JULIA KARTAWINATA, M.Pd NIP. 198205132008121002

Penguji II,

NURDINAH HANIFAH, M.Pd NIP. 197403152006042001

Penguji III,

H. ATEP SUJANA, M.Pd NIP. 197212262006041001

Mengetahui,

Ketua Program Studi PGDS S1 Kelas UPI KampusSumedang

RIANA IRAWATI, M.Si NIP. 198011252005012002


(5)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR DIAGRAM ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 6

E. Batasan Istilah ... 7

BAB II. KAJIAN PUSTAKA A. Hakikat IPA ... 8

B. Pembelajaran IPA di SD ... 11

C. Teori Belajar ... 15

1. Teori Kontruktivisme ... 15

2. Teori Belajar Bermakna dari David Ausubel ... 16

3. Teori Belajar Vigotsky ... 16

D. Karakteristik Siswa SD ... 17

E. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 18

1. Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 18

2. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 18

3. Kelebihan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 20

4. Kekurangan Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 20

5. Tahap-tahap Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) ... 21

F. Pembelajaran Konvensional ... 22

G. Keterampilan Berpikir Kreatif ... 25

H. Hasil Belajar ... 31

1. Pengertian Hasil Belajar ... 31

2. Ranah Hasil Belajar ... 32


(6)

I. Materi Pesawat Sederhana ... 33

J. Hasil Penelitian yang Relevan... 36

K. Hipotesis Penelitian ... 38

BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel Penelitian ... 39

1. Populasi ... 39

2. Sampel Penelitian ... 39

B. Metode dan Desain Penelitian ... 40

1. Metode Penelitian ... 40

2. Desain Penelitian ... 41

C. Variabel Penelitian ... 42

D. Instrumen Penelitian ... 43

1. Tes Hasil Belajar ... 43

2. Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 44

E. Validitas Instrumen ... 44

F. Reliabilitas Instrumen ... 47

G. Tingkat Kesukaran ... 49

H. Daya Pembeda ... 51

I. Prosedur Penelitian ... 54

J. Pengolahan dan Analisis Data ... 57

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Data Kuantitatif... 65

1. Data Hasil Tes Awal (Pretest) ... 65

a. Hasil Tes Awal (Pretest) Keterampilan Berpikir Kreatif ... 66

b. Hasil Tes Awal (Pretest) Hasil Belajar ... 72

2. Data Hasil Tes Akhir (Postest) ... 80

a. Hasil Tes Akhir (Postest) Keterampilan Berpikir Kreatif ... 80

b. Hasil Tes Akhir (Postest) Hasil Belajar ... 86

B. Pengujian Hipotesis ... 93

C. Pembahasan ... 104

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan... 110

B. Saran ... 111

DAFTAR PUSTAKA ... 113

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 116


(7)

DAFTAR TABEL

Tabel Hal

2.1 Standar Kompetensi Dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Ilmu

Pengetahuan Alam Kelas V Semester 2 ……… 14

2.2 Tahap-tahap Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)……… 21

2.3 Tahap-tahap Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)……… 22

2.4 Model untuk Mendorong Belajar Kreatif Menurut Treffinger…….. 27

2.5 Perilaku Siswa dalam Keterampilan Kognitif Kreatif………... 28

2.6 Indikator Keterampilan Berfikir Kreatif……… 29

2.7 Indikator Keterampilan berpikir Kreatif……… 31

3.1 Sampel Penelitian………... 40

3.2 Klasifikasi Koefisien Korelasi Validitas……… 45

3.3 Hasil Perhitungan Validitas Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif………... 46

3.4 Hasil Perhitungan Validitas Soal Tes Hasil Belajar………... 46

3.5 Klasifikasi Koefesien Reabilitas ………... 48

3.6 Hasil Perhitungan Reliabilitas Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif……… 48

3.7 Hasil Perhitungan Reliabilitas Soal Tes Hasil Belajar………... 49

3.8 Klasifikasi Indeks Kesukaran……… 49

3.9 Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif………... 50

3.10 Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal Tes Hasil Belajar……… 50

3.11 Klasifikasi Daya Pembeda………. 51

3.12 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif………... 52

3.13 Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal Tes Hasil Belajar………... 52

3.14 Hasil Validitas, Analisis Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal dan Daya Pemeda Tes Keterampilan Berpikir Kreatif………. 53

3.15 Hasil Validitas, Analisis Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal dan Daya Pemeda Tes Hasil Belajar………. 53

3.16 Klasifikasi Gain Ternormalisasi………. 62

3.17 Pedoman untuk memberikan interptetasi terhadap koefisien korelasi……… 64

4.1 Hasil Pretest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen…… 66

4.2 Hasil Pretest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol……….. 67

4.3 Statistik Deskriptif Nilai PretestKeterampilan Berpikir Kreatif pada Kedua Kelas……….. 68

4.4 Uji Normalitas HasilPretestKeterampilan Berpikir Kreatif... 69

4.5 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Keterampilan Berpikir Kreatif……… 71


(8)

4.6 Hasil Uji Perbedaan Rata-rataData Pretest Keterampilan Berpikir

Kreatif………... 72 4.7 Data Pretest Hasil Belajar Kelas Eksperimen ………... 73 4.8 Data Pretest Hasil Belajar Kelas Kontrol………... 74 4.9 Statistik Deskriptif Nilai PretestHasil Belajar pada Kedua

Kelas………... 75 4.10 Hasil Uji Normalitas Data Pretest Hasil Belajar……….... 76 4.11 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest Hasil Belajar……… 78 4.12 Hasil Uji Perbedaan Rata-rata Data Pretest Hasil Belajar…………. 79 4.13 Data Postest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen…… 80 4.14 Data Postest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol……….. 81 4.15 Statistik Deskriptif Nilai PostestKeterampilan Berpikir Kreatif

pada Kedua Kelas………... 82 4.16 Uji Normalitas HasilPostestKeterampilan Berpikir Kreatif……… 84 4.17 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Witney Data PostestKeterampilan

Berpikir Kreatif………... 86 4.18 Data Postest Hasil Belajar Kelas Eksperimen……….... 86 4.19 Data Postest Hasil Belajar Kelas Kontrol……….. 87 4.20 Statistik Deskriptif Nilai Postest Hasil Belajar pada Kedua

Kelas………... 88 4.21 Hasil Uji Normalitas Postest Hasil Belajar……… 90 4.22 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Witney Data PostestHasil

Belajar……… 92 4.23 Hasil Uji Normalitas Data Peningkatan Keterampilan Berpikir

Kreatif Kelas Kontrol………. 94 4.24 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney Data Peningkatan

Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol……… 95 4.25 Hasil Uji Normalitas Data Peningkatan Keterampilan Berpikir

Kreatif Kelas Eksperimen……….. 97 4.26 Hasil Uji Non-parametrik Mann-WhitneyData Peningkatan

Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen………. 98 4.27 Data N-Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol……….. 99 4.28 Hasil Uji Normalitas Perbedaan Peningkatan Keterampilan

Berpikir Kreatif……….. 101 4.29 Hasil Uji Non-parametrikMann-WhitneyPerbedaan Peningkatan

Keterampilan Berpikir Kreatif………... 102 4.30 Hasil Uji Korelasi Keterampilan Berpikir Kreatif dengan Hasil

Belajar Kelas Eksperimen……….. 103 4.31 Hasil Uji Korelasi Keterampilan Berpikir Kreatif dengan Hasil


(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Hal

2.1 Tuas Jenis Pertama……….... 34

2.2 Tuas Jenis Kedua………... 34

2.3 Tuas Jenis Ketiga……….……. 34

2.4 Contoh yang termasuk Bidang Miring……….. 35

2.5 Jenis-jenis katrol……… 36

3.1 Desain Penelitian………... 42


(10)

DAFTAR DIAGRAM

Diagram Hal

4.1 Tes Awal (Pretest) Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas

Eksperimen dan Kelas Kontrol………... 68 4.2 Data PretestKeterampilan Berpikir KreatifKelas Eksperimen

Berdistributsi Normal………... 70 4.3 Data PretestKeterampilan Berpikir KreatifKelas Kontrol

Berdistributsi Normal………... 70 4.4 Tes Awal (Pretest) Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol………. 75 4.5 Data PretestHasil Belajar Kelas Eksperimen Berdistribusi

Normal……….. 77 4.6 Data PretestHasil Belajar Kelas Kontrol Berdistribusi

Normal……….. 77 4.7 Tes Akhir (Postest) Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas

Eksperimen dan Kelas Kontrol……… 83 4.8 Data PostestKeterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen

Berdistribusi Tidak Normal……….. 84 4.9 Data PostestKeterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol

Berdistribusi Tidak Normal……….. 85 4.10 Tes Akhir (Postest) Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas

Kontrol……….. 89 4.11 Data PostestHasil Belajar kelas Eksperimen Berdistribusi Tidak

Normal……… 91 4.12 Data PostestHasil Belajar kelas Kontrol Berdistribusi Tidak


(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

LAMPIRAN A Persiapan Mengajar ... 116

A.1 RPP Kelas Kontrol ... 117

A.2 RPP Kelas Eksperimen ... 124

A.3 Lembar Kerja Siswa ... 135

LAMPIRAN B Instrumen Tes ... 141

B.1 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar ... 142

B.2 Kisi-kisi Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 143

B.3 Tes Kemampuan Hasil Belajar Siswa ... 144

B.4 Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 146

B.5 Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran Tes hasil Belajar ... 149

B.6 Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 152

LAMPIRAN C Hasil Uji Coba Instrumen ... 154

C.1 Hasil Uji coba Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 155

C.2 Validitas Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 157

C.3 Reliabilitas Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 159

C.4 Tingkat Kesukaran Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 161

C.5 Daya Pembeda Tes Keterampilan Berpikir Kreatif ... 163

C.6 Rekapitulasi Analisis Butir Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif... 166

C.7 Hasil Uji coba Soal Tes Hasil Belajar ... 167

C.8 Validitas Soal Tes Hasil Belajar ... 169

C.9 Reliabilitas Soal Tes Hasil Belajar... 171

C.10 Tingkat Kesukaran Soal Tes Hasil Belajar ... 173

C.11 Daya Pemeda Tes Hasil Belajar ... 175

C.12 Rekapitulasi Analisis Butir Soal Tes Hasil Belajar ... 178

C.13 Hasil Uji Coba Instrumen Tes Keterampilan Berpikir Kreatif... 179

C.14 Hasil Uji Coba Instrumen Tes Hasil Belajar ... 188

LAMPIRAN D Data Hasil Penelitian ... 194

D.1 Data Hasil Tes Awal (Pretest) Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 195

D.2 Data Hasil Tes Awal (Pretest) Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 197

D.3 Data Hasil Tes Akhir (Postest) Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 199

D.4 Data Hasil Tes Akhir (Postest) Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 201

D.5 N-Gain Tes Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol... 203


(12)

D.6 Data Hasil Peningkatan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol ... 205

D.7 Data Hasil Peningkatan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen ... 206

D.8 Data Hasil Postest Keterampilan Berpikir Kreatif dan Postest Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol .... 207

D.9 Dokumentasi ... 209

D.10 HasilPretest Tes Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen ... 216

D.11 HasilPretest Tes Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol ... 222

D.12 HasilPretest Tes Hasil Belajar Kelas Eksperimen ... 228

D.13 HasilPretest Tes Hasil Belajar Kelas Kontrol ... 234

D.14 HasilPostest Tes Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen ... 240

D.15 HasilPostest Tes Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol ... 246

D.16 HasilPostest Tes Hasil Belajar Kelas Eksperimen ... 252

D.17 HasilPostest Tes Hasil Belajar Kelas Kontrol ... 258

D.18 Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Eksperimen ... 264

D.19 Lembar Kerja Siswa (LKS) Kelas Kontrol ... 270

LAMPIRAN E Tabel Statistik ... 276

E.1Hasil Uji Normalitas Data Pretest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 278

E.2 Uji Homogenitas ... 279

E.3 Hasil Uji Non-parametrik pada Data Pretest Keterampilan Berpikir Kreatif ... 280

E.4 Hasil Uji Normalitas Data Pretest Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 281

E.5 Hasil Uji Homogenitas ... 283

E.6 Hasil Uji Non-parametrik pada Data Pretest Hasil Belajar ... 284

E.7 Hasil Uji Normalitas Data Postest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 285

E.8 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney pada DataPostest Keterampilan Berpikir Kreatif ... 287

E.9 Hasil Uji Normalitas Data Postest Hasil Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 288

E.10 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney pada DataPostest Hasil Belajar ... 290

E.11 Hasil Uji Normalitas Nilai Pretest dan Postest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol ... 291

E.12 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney Data Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Kontrol ... 293

E.13 Hasil Uji Normalitas Nilai Pretest dan Postest Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen ... 294

E.14 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney Data Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif Kelas Eksperimen ... 296


(13)

E.15 Hasil Normalitas N-Gain Keterampilan Berpikir Kreatif

Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol ... 297

E.16 Hasil Uji Non-parametrik Mann-Whitney(Uji U) Perbedaan Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif ... 299

E.17Hasil Uji Korelasi Tes Keterampilan Berpikir Kreatif dengan Hasil Belajar ... 300

LAMPIRAN F Surat-surat... 302

F.1 Surat Keterangan Bimbingan ... 303

F.2 Surat Izin Penelitian dari Kampus ... 304

F.3 Surat Keterangan Penelitian dari Sekolah Dasar (SD) ... 305

LAMPIRAN G Monitoring ... 306


(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan penting dalam menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) agar memiliki kualitas yang baik, mempertinggi budi pekerti, meningkatkan harkat dan martabat manusia yang merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah.Hal ini sejalan dengan pengertian pendidikan menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan pada dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Berdasarkan undang-undang tersebut pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana. Artinya proses pendidikan di sekolah merupakan proses yang terencana dan mempunyai tujuan sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh guru dan siswa diarahkan pada pencapaian tujuan pembelajaran. Proses pendidikan yang terencana itu diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar yang kondusif serta proses belajar yang menyenangkan. Dengan demikian dalam pendidikan antara proses dan hasil harus berjalan secara seimbang. Sehingga proses pembelajaran, khususnya pembelajaran IPA di Sekolah Dasar(SD) mempunyai fungsi dan pengaruh yang sangat besar dalam mengembangkan aspek kognitif dan psikomotorik siswa. Secara prinsip bidang studi IPA merupakan pelajaran yang penting karena berhubungan langsung dengan salah satu aspek kecerdasan individu dalam pengertian luas, sehingga IPA diharapkan dapat mengarahkan siswa dengan menekan pada penerapan konsep IPA secara langsung.

Penerapan konsep IPA secara langsung pada para siswa diharapkan agar mereka dapat menerima, menyimpan, dan menerapkan konsep yang telah


(15)

2

dipelajari, sehingga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang IPA yang pada akhirnya lulusan SD diharapkan memiliki kompetensi IPA yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran IPA yang seharusnya dilakukan oleh guru di SD yaituharus dapat menyampaikan materi IPA dengan baik, mengetahui kemampuan awal siswa, melibatkan siswa di setiap pembelajaran, serta yang menjadi poin penting yaitu bertanya. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sawatowa (2006: 5) bahwa“dalam pembelajaran IPA kegiatan bertanya merupakan bagian utama dalam pembelajaran, dengan bertanya anak akan terlatih menyampaikan gagasan dan memberikan respon yang relevan dalam suatu masalah”.

Berdasarkan pernyataan di atas, kegiatan bertanya memiliki peranan penting dalam upaya membangun pengetahuan. Semakin baik pertanyaan yang diajukan maka semakin memberikan peluang kepada anak untuk membangunpengetahuan baru. Salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif agar kemampuan bertanya siswa baik dalam pembelajaran IPA dan memberikan kesempatan dalam melibatkan anak ketika pembelajaran secara langsung adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) menurut Sanjaya (2006:214)adalah “serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses pembelajaran masalah yang dihadapi secara ilmiah”.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dapat mengembangkan sikap ilmiah siswa.Beberapa sikap ilmiah yang perlu dikembangkan lebih lanjut dalam pembelajaran IPA menurut (Kharmani, 2002:140) meliputi:

1. Sikap rasa ingin tahu (curiosity)

2. Sikap untuk senantiasa mendahulukan bukti (respect for evidence) 3. Sikap luwes terhadap gagasan baru (flexibility)

4. Sikap merenung secara kritis (critical reflection) dan sikap peduli terhadap makhluk hidup (sensitivity to living thinks and environment).

Penerapan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) memfokuskan pembelajaran pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari


(16)

3

konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kreatif. PBM sebaiknya digunakan dalam pembelajaran karena dengan PBM akan terjadi pembelajaran yang bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah akan membuat mereka menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukannya. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana konsep tersebut diterapkan. Selain itu melalui PBM ini siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan aplikasi suatu konsep atau teori yang mereka temukan selama pembelajaran berlangsung. PBM juga dapat menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu, afektif (sikap), psikomotor (keterampilan), dan kognitif (kemampuan). Dalam ranah afektif, berbicara mengenai sikap, semangat, toleransi, tanggung jawab, dan lain-lain. Dalam ranah psikomotor, berbicara mengenai keterampilan siswa, misalnya keterampilan berbicara, mengutarakan pendapat, dan menyajikan laporan (baik lisan maupun tulisan). Dalam ranah kognitif berbicara mengenai kemampuan-kemampuan yang hendaknya dimiliki siswa, misalnya: kemampuan pemahaman konsep, kemampuan penalaran dan komunikasi, kemampuan berpikir reflektif matematis, dan kemampuan berpikir kreatif.

Kemampuan berpikir kreatif sangat penting untuk dikembangkan melalui pembelajaran ilmu pengetahuan alamsebagai bekal peserta didik untuk menghadapi tantangan dan rintangan di masa mendatang. Pentingnya kemampuan


(17)

4

berpikir kreatif untuk dikembangkan juga tercermin pada tujuan pendidikan nasional UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Menurut Perkins (1985) berpikir kreatif adalah kemampuan untuk membentuk kombinasi gagasan baru, untuk memenuhi suatu keperluan atau untuk memperoleh suatu hasil (produk) yang asli dan sesuai dengan kriteria pokok pertanyaan.

Kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam pembelajaran perlu dikembangkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Kemampuan berpikir kreatif membentuk peserta didik yang mampu mengungkapkan dan mengelaborasikan gagasan orisinal untuk pemecahan masalah. Kemampuan berpikir kreatif yang dikembangkan dalam pembelajaran meliputi aspek keterampilan berpikir lancar (fluency), keterampilan berpikir luwes (flexibility), keterampilan berpikir orisinal (originality), dan keterampilan memerinci (elaboration)(Munandar, 2004: 192).

Kemampuan berpikir kreatif akan memunculkan kreativitas sebagai hasilnya. Kreativitas dihasilkan sebagai keterampilan yang dirancang untuk menstimulasikan imajinasi berdasarkan data dan informasi yang tersedia, untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban, dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Kreativitas sangat penting dikembangkan khususnya bagi peserta didik untuk mengahadapi masa mendatang. Oleh karena itu, lingkungan pembelajaran yang mengakomodasi proses berpikir kreatif siswa perlu dikembangkan sehingga dapat menciptakan kreativitas khususnya dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam. Selain mengembangkan keterampilan berpikir kreatif pada siswa, Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) juga mengukur sejauh mana hasil belajar pada siswa yang dilihat dari penilaian berupa angka oleh guru.Hasil belajar


(18)

5

merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses pembelajaran berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dalam Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Kelas V Pada Materi Pesawat Sederhana”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini yaitu:

1. Apakah pembelajaran konvensional dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V pada materi pesawat sederhana?

2. Apakah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V pada materi pesawat sederhana? 3. Adakah perbedaan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V pada materi

pesawat sederhana antara yang menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dengan pembelajaran konvensional?

4. Bagaimanakahhubungan antara keterampilan berpikir kreatif denganhasil belajar siswa kelas V pada materi pesawat sederhana?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka peneliti mempunyai tujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V pada materi pesawat sederhana dengan pembelajaran Konvensional. 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh keterampilan berpikir kreatif siswa

kelas V pada materi pesawat sederhana dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).


(19)

6

3. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V pada materi pesawat sederhana antara yang menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)dengan pembelajaran konvensional. 4. Untuk mengetahui adatidaknyahubungan antara

keterampilanberpikirkreatifdenganhasil belajarsiswa kelas V pada materi pesawat sederhana.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Bagi siswa

a. Dengan penelitian dapat memberikan hal positif dalam meningkatkan aktivitas.

b. Memberikan suatu pengalaman belajar yang baru untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.

c. Melatih dan mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa dalam memecahkan permasalahan lingkungan khususnya pada mata pelajaran IPA.

2. Bagi guru

a. Meningkatkan kreativitas dan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran yang mampu melibatkan siswa dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran yang diberikan lebih bermakna bagi siswa.

b. Dapat mengubah pola dan sikap guru dalam mengajar yang semula berperan sebagai pemberi informasi menjadi berperan sebagai fasilitator dan mediator yang dinamis sehingga belajar mengajar dapat dirancang dan dilaksanakan secara efektif efisien, kreatif dan inovatif.

c. Menambah pengetahuan tentang pelaksanaan model Pembelajaran Berbasis Masalah.

3. Bagi sekolah

a. Dapat menjadi masukan untuk mengembangkan kualitas pembelajaran, fungsi sekolah dasar sebagai lembaga yang bergerak di lingkungan


(20)

7

pendidikan dan pengembangan profesi guru agar tujuan nasional pendidikan dapat tercapai.

b. Untuk memberikan catatan kualitas sekolah dalam pembelajaran terutama dalam pembelajaran Ilmu PengetahuanAlam dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah.

c. Sebagai monitoring keberhasilandalam suatupembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

4. Bagi peneliti

a. Sebagai bahan referensi dalam melaksanakan pembelajaran IPA terutama dalam materi pesawat sederhana.

b. Dapat menambah wawasan dan mengembangkan langkah-langkah pembelajaran yang menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah.

E. Batasan Istilah

Di dalam Penelitian ini terdapat beberapa istilah yang perlu mendapat penjelasan yaitu:

1. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) adalah serangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses pembelajaran masalah yang dihadapi secara ilmiah (Sanjaya, 2006: 214).

2. Keterampilan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk mengembangkan atau menemukan ide atau hasil yang asli, estetis dan konstruktif, yang berhubungan dengan pandangan dan konsep serta menekankan pada aspek berpikir intuitif dan rasional; khususnya dalam menggunakan informasi dan bahan untuk memunculkan atau menjelaskannya dengan perspektif asli pemikir(Liliasari, 1999).

3. Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar dalam penelitian ini diukur dengan soal-soal evaluasi tentang pesawat sederhana (Sudjana, 2004: 22). 4. Pesawat Sederhana adalah alat yang membantu memudahkan atau


(21)

8

dalam beberapa jenis, antara lain: pengungkit (tuas), bidang miring dan katrol (Rositawaty, 2008: 93).


(22)

39 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi adalah objek maupun subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu dengan masalah penelitian. Populasi penelitian dapat berbeda-beda sesuai dengan masalah yang akan diselidiki, populasi dapat berupa manusia, benda, objek tertentu, peristiwa, tumbuh-tumbuhan, hewan dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan Maulana (2009: 25),yang menyatakan bahwa populasi adalah sebagai berikut:

a. Keseluruhan subjek atau objek penelitian.

b. Wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek atau objek yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

c. Seluruh data yang menjadi perhatian dalam lingkup dan waktu tertentu. d. Semua anggota kelompok orang, kejadian, atau objek lain yang telah

dirumuskan secara jelas.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruhsiswa kelas V SDN Cadasapangeran Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang yang terdiri dari 2 kelas dengan jumlah siswa sebanyak 60 orang.

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil secara representatif atau mewakili populasi yang bersangkutan atau bagian kecil yang diamati. Menurut Arikunto (2010: 174), “sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang

diteliti”. Cara pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu

simple random samplingdimana setiap anggota dari populasi memiliki peluang yang sama untuk terambil. Hal ini sejalan dengan Maulana (2009: 27), “cara random atau pemilihan sampel secara acak adalah cara yang dilakukan jika setiap anggota populasi mempunyai kesempatan (peluang) dan kebebasan yang sama untuk terpilih”.


(23)

40

Ukuran sampel yang digunakan untuk penelitian eksperimen tidak boleh kurang 30. Hal ini sesuai Gay, dkk (Maulana, 2009: 28), yang menyatakan bahwa „ukuran sampel untuk penelitian eksperimen yakni minimum 30 subjek per

kelompok‟.Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan adalah siswa kelas VA

dan kelas VB SDN Cadaspangeran tahun pelajaran 2012/2013. Satu kelas dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan satu kelas lainnya dijadikan sebagai kelompok kontrol. Jadi sampelnya adalah kelas VA sebagai kelas eksperimen dan VBsebagai kelas kontrol. Adapun rincian sampel penelitian ini adalah sebagai berikut.

Tabel 3.1 Sampel Penelitian

No Kelas Jumlah Sampel

1 VA 30

2 VB 30

Jumlah 60

B. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Menurut Arikunto (2010: 9), metode eksperimen adalah “suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminir atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu”.

Sedangkan menurut Sugiyono (2010: 72) metode penelitiaan eksperimen dapat diartikan sebagai “metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan”.

Berdasarkan para ahli tersebut, dapat digambarkan bahwa metode eksperimen digunakan atas dasar pertimbangan bahwa sifat penelitian eksperimental yaitu mencobakan sesuatu untuk mengetahui pengaruh atau akibat dari perlakuan atau treatment.


(24)

41

Alasan menggunakan metode eksperimen karena pengambilan sampel dilakukan secara random atau acak. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui keterampilan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran IPA pada materi pesawat sederhana dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) yang dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional.

2. Desain Penelitian

Desain yang digunakan termasuk jenis penelitian true experimental, karena dalam desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang mempengaruhi jalannya eksperimen. Ciri utama dari true experimental adalah bahwa, sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai kelompok kontrol diambil secara random dari populasi tertentu. Jadi, desain ini memiliki ciri adanya kelompok kontrol dan sampel yang dipilih secara random.

Pada penelitian ini terdapat dua kelompok kelas yang dibandingkan, kelas tersebut adalah kelas eksperimen dan kelas kontrol. Langkah pertama dilakukan pemilihan kelas secara random untuk menentukan kelas yang akan dijadikan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Setelah dipastikan kelas eksperimen dan kelas kontrol, pada kedua kelas tersebut diberikan tes awal(pretest) untuk mengetahui keadaan awal. Hasil tes awal (pretest) ini digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Setelah dilakukan tes awal (pretest) selanjutnya pada kelas eksperimen diberikan pembelajaran IPA dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), sedangkan pada kelas kontrol diberikan pembelajaran secara konvensional. Pada akhir tindakan, selanjutnya diberikan tes akhir (postest) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk melihat perbedaan hasil belajar serta peningkatan keterampilan berpikir kreatif kedua kelas tersebut setelah diberikan perlakuan yang berbeda.

Berdasarkan uraian di atas, maka desain penelitian yang digunakan adalah desain kelompok kontrol pretest-postest (pretest-posttest control group design). Adapun bentuk desain penelitiannya sebagaimana menurut Sugiyono (2010: 76) adalah sebagai berikut:


(25)

42

Gambar 3.1 Desain Penelitian Keterangan:

R = kelompok eksperimen R‟ = kelompok kontrol

O1 = tes awal (pretest) pada kelompok eksperimen dan kelompok

kontrol

O2 = tes akhir (postest) pada kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol

X = treatment, yaitu perlakuan berupa pembelajaran pesawat sederhana dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) pada kelompok eksperimen

C. Variabel Penelitian

Variabel merupakan istilah yang tidak pernah ketinggalan dalam setiap jenis penelitian.Variabel merupakan objek penelitian yang akan diteiliti. Maulana (2009: 8) menyatakan bahwa:

Variabel merupakan segala sesuatu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, baik berupa atribut, sifat, atau nilai dari subjek/objek/kegiatan yang merupakan variasi tertentu, sehingga darinya diperoleh informasi untuk mengambil kesimpulan penelitian.

Variabel yang digunakan dalam penelitian initerbagi menjadi dua bagian diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Variabel bebas (independen)

Variabel bebas atau independen adalah variabel yang dipandang sebagai kemunculan variabel terikat yang diduga merupakan akibatnya. Menurut

Arifin (2012: 188), bahwa “variabel bebas adalah kondisi yang oleh pelaku

eksperimen dimanipulasi untuk menerangkan hubungannya dengan fenomena yang diobservasi”. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).

R O1 X O2


(26)

43

2. Variabel terikat (dependen)

Variabel terikat atau dependen adalah variabel yang diramalkan, akibat yang dipradugakan, yang bervariansi mengikuti perubahan atau variansi variabel bebas. Variabel terikat tidak dimanipulasi, melainkan di amati variansinya sebagai hasil yang dipradugakan berasal dari variabel bebas. Menurut (Arifin,

2012: 188), “variabel terikat adalah kondisi yang berubah ketika pelaku

eksperimen mengganti variabel bebas”. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah keterampilan berpikir kreatif siswa.

D. Instrumen Penelitian

Menyusun instrumen merupakan langkah penting dalam pola prosedur penelitian. Instrumen berfungsi sebagai alat bantu dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes. Instrumen tesyaitu mengenai hasil belajar dan hasil keterampilan berpikir kreatif pada materi pesawat sederhana. Tes tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan/keterampilan yang telah dipelajari di waktu yang lalu, terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan intelegensi, keterampilan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2010: 193).

Tes hasil belajar dalam penelitian ini diperoleh darites awal(pretest) dan tes akhir (postest). Tes awal (pretest)dilakukan untuk mengukur kemampuan awal subjek penelitian terhadap materi pembelajaran baik kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Sedangkan tes akhir (postest) digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tes ini berupa tes tertulis yaitu berbentuk uraian yang terdiri dari duabelas butir soal. Agar tes hasil belajar memenuhi kriteria sebagai instrumen yang baik, maka perlu


(27)

44

dilakukan uji coba sebelum digunakan terhadap siswa kelas V SDN Cadaspangeran yang telah memperoleh pembelajaran mengenai pesawat sederhana agar mengetahui validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda tes tersebut.

2. Tes Keterampilan Berpikir Kreatif

Sama hal nya dengan tes hasil belajar, tes keterampilan berpikir kreatifjuga diperolehdarites awal (pretest) dan tes akhir(postest). Tes awal (pretest)diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengukur kemampuanberpikir kreatif awal pada masing-masing kelas. Sedangkantes akhir (postest) diberikan setelah pelaksanaan pembelajaran untuk mengukur peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa baik kelas eksperimen maupunkelas kontrol.

Agar tes hasil kreatif memenuhi kriteria sebagai instrumen yang baik dengan mengukur ketepatan (validitas) isi soal yang dibuat, sebelumnya soal dikonsultasikan terlebih dahulu kepada ahli pembuatan soal yaitu dosen pembimbing. Tes ini berupa tes tertulis yaitu berbentuk uraian yang terdiri dari sepuluh butir soal. Soal tersebut meliputi aspek keterampilan berpikir kreatif.Indikator berpikir kreatif yang diukur pada penelitian ini berjumlah lima buah. Soal nomor 2, 5 mengukur kemampuan siswa dalam menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada. Soal nomor 7, 9 mengukur kemampuan siswa dalam memberikan bermacam-macam penafsiran terhadap suatu gambar, cerita atau masalah. Soal nomor 4, 6 mengukur kemampuan siswa dalam memberikan pertimbangan terhadap situasi yang berbeda dari yang diberikan oleh orang lain. Soal nomor 1, 3 mengukur kemampuan siswa dalam jika diberikan suatu masalah biasanya memikirkan bermacam-macam cara untuk menyelesaikannya. Soal nomor 8 mengukur kemampuan siswa dalam memilih cara berpikir lain dari pada yang lain. Tes ini digunakan untuk mengukur peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa.

E. Validitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2010: 211). Suatu instrumen yang valid


(28)

45

atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.

Validitas soal dihitung dengan menggunakan koefisien korelasi. Koefisien korelasi ini dihitung menggunakan rumus Product moment dari Pearson dengan formula sebagai berikut ini.

=

− ( )

22 22 ... (Arikunto, 2009: 72 ) Keterangan:

= koefisien korelasi antara x dan y N= banyaknya peserta tes

X= nilai hasil uji coba Y= nilai rata-rata harian

Rumus di atas digunakan untuk menghitung validitas soal secara keseluruhan. Sementara itu, untuk mengetahui validitas masing-masing butir soal masih menggunakan product moment pearson, tetapi X untuk jumlah skor soal yang dimaksud dan Y untuk skor total soal tes hasil belajar. Selanjutnya koefisien korelasi yang telah diperoleh diinterpretasikan dengan menggunakan klasifikasi korelasi (koefisien validitas) menurut Guilford (Suherman dan Sukjaya, 1990: 147) berikut ini.

Tabel 3.2

Klasifikasi Koefisien Korelasi Validitas Koefisien Korelasi Interpretasi

0,80 < ≤ 1,00 Validitas sangat tinggi 0,60 < ≤ 0,80 Validitas tinggi 0,40 < ≤ 0,60 Validitas sedang 0,20 < ≤ 0,40 Validitas rendah

0,00 < ≤ 0,20 Validitas sangat rendah

≤ 0,00 Validitas tidak valid


(29)

46

Berdasarkan hasil uji coba yang dilaksanakan,koefisien korelasi keseluruhan soal tes keterampilan berpikir kreatif adalah = 0,62yang artinya keseluruhan butir soal memiliki validitas tinggi. Sedangkankoefisien korelasikeseluruhan soaltes hasil belajar adalah = 0,64yang artinya keseluruhan butir soal memiliki validitas tinggi.Adapun hasil uji coba koefisien korelasi validitas butir soal tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel 3.3 sebagai berikut.

Tabel 3.3

Hasil Perhitungan Validitas SoalTes Keterampilan Berpikir Kreatif No Soal Koefisien Validitas Interpretasi

1 0,60 Validitas Sedang 2 0,43 Validitas Sedang 3 0,48 Validitas Sedang 4 0,15 Validitas Sangat Rendah 5 0,29 Validitas Rendah 6 0,35 Validitas Rendah 7 -0,09 Validitas Tidak Valid 8 0,59 Validitas Sedang 9 0,68 ValiditasTinggi 10 0,39 Validitas Rendah

Sedangkan hasil uji coba koefisien korelasi validitas butir soal tes hasil hasil belajar dapat dilihat pada tabel 3.4 sebagai berikut:

Tabel 3.4

Hasil Perhitungan Validitas Soal Tes Hasil Belajar No Soal Koefisien Validitas Interpretasi

1 0,69 Validitas Tinggi 2 0,75 Validitas Tinggi 3 0,52 ValiditasSedang 4 0,81 ValiditasSangat Tinggi 5 0,56 Validitas Sedang 6 0,56 ValiditasSedang 7 0,66 ValiditasTinggi 8 0,64 ValiditasTinggi 9 0,35 Validitas Rendah 10 0,53 Validitas Sedang 11 0,35 Validitas Rendah 12 0,67 Validitas Tinggi


(30)

47

F. Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas adalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu instrumen (Arifin, 2009: 258). Reliabilits tes berkenaan dengan pertanyaan, apakah suatu tes teliti dan dapat dipercaya sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Sementara itu, Kerlinger (Arifin, 2009: 258) mengemukakan bahwa reliabilitas dapat diukur dari tiga kriteria, yaitu stability, dependability, dan predictability.Stability menunjukkan keajegan suatu tes dalam mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda. Dependability menunjukkan kemantapan suatu tes atau seberapa jauh tes dapat diandalkan. Predictability menunjukkan kemampuan tes untuk meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya.

Untuk mengukur reliabilitas instrumen tersebut dapat digunakan nilai koefesien reliabilitas yang dihitung dengan menggunakan formula Alpha berikut:

=

n

n−1

St2− pq

St2 ... (Suherman dan Sukjaya, 1990: 194)

Keterangan:

= koefisien yang dicari n = jumlah butir soal

St2 = varians skor total

p = proporsi siswa yang menjawab dengan benar (rata-rata dibagi n) q = 1 – p

Selanjutnya koefisien reliabilitas yang telah diperoleh dari hasil perhitungan dengan formula di atas selanjutnya diinterpretasikan dengan menggunakan klasifikasi reliabilitas menurut Guilford (Suherman dan Sukjaya, 1990: 177)


(31)

48

Tabel 3.5

Klasifikasi Koefisien Reliabilitas Koefisien Korelasi Interpretasi

0,80 < ≤ 1,00 Reliabilitas sangat tinggi 0,60 < ≤ 0,80 Reliabilitas tinggi 0,40 < ≤ 0,60 Reliabilitas sedang 0,20 < ≤ 0,40 Reliabilitas rendah

0,00 < ≤ 0,20 Reliabilitas sangat rendah

≤ 0,00 Reliabilitas tidak valid

Sumber: Suherman dan Sukjaya, 1990: 177

Berdasarkan hasil uji coba yang dilaksanakan koefisien korelasikeseluruhan soaltes keterampilan berpikir kreatif adalah = 0,43 yang artinya keseluruhan butir soal memiliki reliabilitassedang. Sedangkan koefisien korelasikeseluruhan soaltes hasil belajar adalah = 0,78yang artinya keseluruhan butir soal memiliki reliabilitas tinggi. Adapun hasil uji coba koefisien korelasi reliabilitas butir soal tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel 3.6sebagai berikut:

Tabel 3.6

Hasil Perhitungan Reliabilitas SoalTes Keterampilan Berpikir Kreatif No Soal Koefisien Reliabilitas Interpretasi

1 0,54 Reliabilitas Sedang 2 0,82 ReliabilitasSangat Tinggi 3 0,54 ReliabilitasSedang 4 0,42 ReliabilitasSedang 5 0,63 ReliabilitasTinggi 6 0,92 Reliabilitas Sangat Tinggi 7 0,22 Reliabilitas Rendah 8 1,17 Reliabilitas Sangat Tinggi 9 0,82 ReliabilitasSangat Tinggi 10 0,95 Reliabilitas Sangat Tinggi

Sedangkan hasil uji coba koefisien korelasi reliabilitas butir soal tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel 3.7 sebagai berikut:


(32)

49

Tabel 3.7

Hasil Perhitungan Reliabilitas Soal Tes Hasil Belajar No Soal Koefisien Reliabilitas Interpretasi

1 0,70 Reliabilitas Tinggi 2 0,73 Reliabilitas Tinggi 3 0,54 ReliabilitasSedang 4 1,05 Reliabilitas Sangat Tinggi 5 0,84 Reliabilitas Sangat Tinggi 6 0,58 Reliabilitas Sedang 7 0,57 Reliabilitas Sedang 8 1,17 Reliabilitas Sangat Tinggi 9 0,54 Reliabilitas Sedang 10 0,59 Reliabilitas Sedang 11 0,46 Reliabilitas Sedang 12 0,93 Reliabilitas Sangat Tinggi G. Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran digunakan untuk dapat mengetahui butir soal yang tergolong sulit, sedang, atau mudah. Untuk mengetahui tingkat atau indeks kesukaran setiap butir soal, digunakan formula sebagai berikut:

�� = X

� �...(Suherman dan Sukjaya, 1990: 213)

Keterangan:

Ik = tingkat/indeks kesukaran X = rata-rata skor setiap butir soal SMI = skor maksimum ideal

Indeks kesukaran yang diperoleh hasil perhitungan dengan menggunakan formula di atas, selanjutnya diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria berikut sebagai berikut:

Tabel 3.8

Klasifikasi Indeks Kesukaran

Koefisien Korelasi Interpretasi

IK = 00 Terlalu sukar

0,00 <IK≤ 0,30 Sukar 0,30 <IK ≤ 0,70 Sedang 0,70 <IK ≤ 1,00 Mudah

IK = 1,00 Terlalu mudah


(33)

50

Berikut ini merupakan data hasil uji coba tingkat kesukarantiap butir soal tes keterampilan berpikir kreatifyang telah dilakukan.

Tabel 3.9

Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif

No Soal Nilai Indeks Kesukaran Interpretasi

1 0,3 Sukar

2 0,69 Sedang

3 0,68 Sedang

4 0,88 Mudah

5 0,7 Sedang

6 0,65 Sedang

7 0,97 Mudah

8 0,63 Sedang

9 0,29 Sukar

10 0,60 Sedang

Sedangkan data hasil uji coba tingkat kesukaran tiap butir soal tes hasil hasil belajaryang telah dilakukan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.10

Hasil Perhitungan Tingkat Kesukaran Tiap Butir Soal Tes Hasil Belajar

No Soal Nilai Indeks Kesukaran Interpretasi

1 0,7 Sedang

2 0,30 Sukar

3 0,68 Sedang

4 0,70 Sedang

5 0,86 Mudah

6 0,68 Sedang

7 0,30 Sukar

8 0,70 Sedang

9 0,7 Sedang

10 0,7 Sedang

11 0,92 Mudah


(34)

51

H. Daya Pembeda

Daya pembeda digunakan untuk mengetahui perbedaan antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan kemampuan rendah.Hal ini sejalan dengan Suherman dan Sukjaya (1990: 199) yang menyatakan bahwa:

Daya pembeda (DP) dari sebuah butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara testi yang mengetahui jawabannya dengan benar dengan testi yang tidak dapat menjawab soal tersebut (atau testi yang menjawab salah).

Dengan perkataan lain daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal itu untuk membedakan antara siswa yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan siswa yang bodoh atau berkemampuan rendah. Pengertian tersebut didasarkan pada asumsi Galton (Suherman dan Sukjaya, 1990:200) bahwa „suatu perangkat alat tes yang baik harus bisa membedakan antara siswa yang pandai, rata-rata, dan yang bodoh karena dalam suatu kelas biasanya terdiri dari ketiga

kelompok tersebut‟.Untuk megetahui daya pembeda setiap butir soal, digunakan

rumus sebagai berikut:

��

=

� �

Keterangan:

DP = daya pembeda

= rata-rata skor kelompok atas = rata-rata skor kelompok bawah � � = skor maksimun ideal

Daya pembeda yang diperoleh diinterprestasikan dengan menggunakan klasifikasi daya pembeda sebagai berikut:

Tabel 3.11

Klasifikasi Daya Pembeda

Koefisien Korelasi Interpretasi

DP = 00 Sangat jelek

0,00 <DP≤ 0,20 Jelek 0,20 <DP≤ 0,40 Cukup 0,40 <DP≤ 0,70 Baik 0,70 <DP≤ 1,00 Sangat Baik


(35)

52

Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilaksanakan, hasil perhitungan daya pembeda tiap butir soal tes keterampilan berpikir kreatifdapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.12

Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal Tes Keterampilan Berpikir Kreatif

No Soal Daya Pembeda Interpretasi

1 0,45 Baik

2 0,30 Cukup

3 0,31 Cukup

4 0,13 Jelek

5 0,18 Jelek

6 0,18 Jelek

7 -0,04 Sangat Jelek

8 0,38 Cukup

9 0,51 Baik

10 0,20 Cukup

Sedangkan hasil uji coba yang telah dilaksanakan, hasil perhitungan daya pembeda tiap butir soal tes hasil belajar dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.13

Hasil Perhitungan Daya Pembeda Tiap Butir Soal Tes Hasil Belajar

No Soal Daya Pembeda Interpretasi

1 0,54 Baik

2 0,31 Cukup

3 0,27 Cukup

4 0,45 Baik

5 0,20 Jelek

6 0,36 Cukup

7 0,30 Cukup

8 0,43 Baik

9 0,22 Cukup

10 0,31 Cukup

11 0,09 Jelek


(36)

53

Adapun rekapitulasi validitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran tiap butir soal tes keterampilan berpikir kreatifdapat dilihat dalam tabel 3.14 sebagai berikut.

Tabel 3.14

Rekapitulasi Analisis Butir SoalTes Keterampilan Berpikir Kreatif

No Soal

Validitas Indeks kesukaran Daya Pembeda

Keterangan

Koefisien

Validitas Interpretasi Nilai IK Interpretasi Nilai DP Interpretasi

1 0,60 Validitas Sedang 0,3 Sukar 0,45 Baik Digunakan

2 0,43 Validitas Sedang 0,69 Sedang 0,30 Cukup Digunakan

3 0,48 Validitas Sedang 0,68 Sedang 0,31 Cukup Digunakan

4 0,15 Validitas Sangat Rendah 0,88 Mudah 0,13 Jelek Digunakan

5 0,29 Validitas Rendah 0,7 Sedang 0,18 Jelek Digunakan

6 0,35 Validitas Rendah 0,65 Sedang 0,18 Jelek Digunakan

7 -0,09 Validitas Tidak Valid 0,97 Mudah -0,04 Sangat Jelek Tidak Digunakan

8 0,59 Validitas Sedang 0,63 Sedang 0,38 Cukup Digunakan

9 0,68 Validitas Tinggi 0,29 Sukar 0,51 Baik Digunakan

10 0,39 Validitas Rendah 0,60 Sedang 0,20 Cukup Digunakan

Sedangkan rekapitulasi validitas, daya pembeda, dan indeks kesukaran tiap butir soal tes hasil hasil belajar dapat dilihat dalam tabel 3.15 sebagai berikut.

Tabel 3.15

Rekapitulasi Analisis Butir SoalTes Hasil Belajar

No Soal

Validitas Indeks kesukaran Daya Pembeda

Keterangan

Koefisien

Validitas Interpretasi

Nilai

IK Interpretasi Nilai DP Interpretasi

1 0,69 Validitas Tinggi 0,7 Sedang 0,54 Baik Digunakan

2 0,75 Validitas Tinggi 0,30 Sukar 0,31 Cukup Digunakan

3 0,52 Validitas Sedang 0,68 Sedang 0,27 Cukup Digunakan

4 0,81 Validitas Sangat Tinggi 0,70 Sedang 0,45 Baik Digunakan

5 0,56 Validitas Sedang 0,86 Mudah 0,20 Jelek Digunakan

6 0,56 Validitas Sedang 0,68 Sedang 0,36 Cukup Digunakan

7 0,66 Validitas Tinggi 0,30 Sukar 0,30 Cukup Digunakan

8 0,64 Validitas Tinggi 0,70 Sedang 0,43 Baik Digunakan

9 0,35 Validitas Rendah 0,7 Sedang 0,22 Cukup Digunakan

10 0,53 Validitas Sedang 0,7 Sedang 0,31 Cukup Digunakan

11 0,35 Validitas Rendah 0,92 Mudah 0,09 Jelek Digunakan


(37)

54

I. Prosedur Penelitian

Secara umum penelitian ini terbagi ke dalam tiga kegiatan yang harus dilakukan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap analisis data. 1. Tahap Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini terbagai menjadi dua tahapan diantaranya sebagai berikut:

a. Studi Pendahuluan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Melakukan studi literatur mengenai model Pembelajaran Berbasis Masalah

(PBM) dan keterampilan berfikir kreatif siswa. 2) Menentukan populasi dan sampel/subjek penelitian

3) Menganalisis materi pada kurikulum untuk mengetahui tujuan atau Kompetensi Dasar (KD) yang hendak dicapai.

4) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

5) Membuat dan menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan. Instrumen yang digunakan harus sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

b. Validasi Instrumen

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini meliputi hal-hal sebagai berikut: 1) Mengkonsultasikan instrumen yang telah dibuat kepada pihak ahli.

2) Melakukan uji coba instrumen terhadap suatu kelas yang sebelumnya telah terlebih dahulu mempelajari materi yang dijadikan pokok bahasan dalam penelitian. Uji coba instrumen dilakukan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda dan tingkat kesukaran instrumen.

3) Menganalisis hasil uji coba instrumen penelitian, kemudian menyusun instrumen yang layak digunakan dalam penelitian.

2. Tahap pelaksanaan

Setelah tahap persiapan selesai, dilakukan tahap pelaksanaan. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan diantaranya sebagai berikut:


(38)

55

a. Memberikan test awal (pretest) pada siswa baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol, untuk mengukurhasil belajar siswa dan keterampilan berpikir kreatif sebelum pembelajaran dilakukan.

b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran IPA pada materi pesawat sederhana dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) pada kelas eksperimen. Sedangkan metode pembelajaran konvensional diberikan pada kelas kontrol.

c. Memberikan test akhir (postest) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa dan keterampilan berpikir kreatif siswa pada materi pesawat sederhana setelah proses pembelajaran. 3. Tahap Analisis dan Penarikan Kesimpulan

Setelah tahap pelaksanaan dilakukan, tahap terakhir yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Mengumpulkan hasil data yang diperoleh b. Mengolah dan menganalisis data

c. Membahas hasil penelitian


(39)

56

Bagan alur prosedur penelitian disajikan sebagai berikut ini.

Gambar 3.2 Alur Penelitian Studi Literatur mengenai Model PBM

dan keterampilan berpikir kreatif Menentukan populasi dan sampel

Menganalisis materi Perumusan RPP

Membuat dan menyusun instrumen

Tahap Pelaksanaan

Tes awal (pretest) Kelompok

Eksperimen Kelompok Kontrol

Tes akhir (postest)

Analisis Data

Penarikan Kesimpulan

Tahap Perencanaan

Validasi Instrumen Studi Pendahuluan

Mengkonsultasikan instrumen Uji coba instrumen Menganalisis hasil uji coba

instrumen

Tes awal (pretest)

Perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah


(40)

57

J. Pengolahan Dan Analisis Data

Menurut Hasan (2006: 24), pengolahan data adalah suatu proses dalam memperoleh data ringkasan atau angka ringkasan dengan menggunakan cara-cara atau unsur-unsur tertentu. Pengolahan data bertujuan untuk mengubah data mentah dari hasil pengukuran menjadi data yang lebih halus sehingga memberikan arah untuk pengkajian lebih lanjut.

Teknik pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan perhitungan komputasi program SPSS(Statistical Product and Service Solution). Karena program ini memiliki kemampuan analistik statistik cukup tinggi.Setelah mengolah data proses selanjutnya yang dilakukan ialah menganalisis data. Analisis data menurut Patton (Moleong, 1988:103) adalah “proses mengatur urutan data, mengorganisasi kedalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar”.Data yang diperoleh dari hasil penelitian yaitu berupadatakuantitatif. Data kuantitatif digunakan untuk mengolah hasil evaluasi berupa tes hasil belajar dan tes keterampilan berpikir kreatif.Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes tertulis siswa pada tes awal (pretest) dan tes akhir (posttes). Data tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan uji normalitas data, uji homogenitas, dan uji perbedaan rata-rata. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data diantaranya yaitu sebagai berikut:

1. Penskoran

Data yang diperoleh dari tes tulis siswa diperiksa dan diberikan penskoran pada setiap butir soal. Skor yang diperoleh oleh siswa kemudian dihitung secara keseluruhan untuk mengetahui presentase keterampilan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan bantuan program Microsoft Excel dan SPSS versi 16.

a. Soal tes berbentuk essai yang digunakan untuk mengukur hasil belajar dan kemampuan berpikir kreatif siswa yaitu menggunakan rumus sebagai berikut.

NP = R


(41)

58

Keterangan:

NP = nilai persen yang dicari atau diharapkan R = skor mentah yang diperoleh siswa

SM = skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan 100 = bilangan tetap

b. Menghitung rata-rata skor tes awal(pretest) dan skor tes akhir(posttest)kelas ekperimen dan kelas kontrol dengan rumus sebagai berikut.

x=

� Keterangan:

x

= rata-rata

x

i = skorsetiapsiswa n = jumlah siswa

2. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah databerdistribusi normal atau tidak.Uji normalitas dilakukan terhadap hasil tes awal (pretest) dan tes akhir (postest)dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.Pelaksanaan uji normalitas yaitu dengan menentukan tingkat keberartian α (taraf signifikasi) sebesar 0,05. Jika data berdistribusi normal maka dilakukan dengan uji homogenitas, tetapi jika data tidak berdistribusi normal maka dilakukan uji non-parametik (non-parametric test) dengan menggunakan ujiMann-Whitneydengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel dan SPSS versi 16.

Rumusan hipotesis pengujian normalitas data, diantaranya sebagai berikut: H0 : data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : data sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Menurut Uyanto (2012: 48) bahwa dalam pengujian hipotesis, kriteria untuk menolak atau tidak menolak H0 berdasarkan P-value adalah sebagai berikut.

Jika P-value <�, maka H0 ditolak.


(42)

59

Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji normalitas dengan menggunakan SPSS versi 16.0 for windows adalah sebagai berikut.

a. Buka SPSS kemudian masuk ke variabel view, masukan pada kolom nama di baris kesatu dengan nama kelompok kemudian enter.

b. Pada kolom label isi dengan kelompok yang diteliti. c. Ganti decimals pada kolom keempat dengan angka nol.

d. Pada kolom values masukan pada value angka satu dan pada label tulis kelas eksperimen kemudian add, masukan lagi pada value angka dua dan pada label tulis kelas kontrol kemudian add.

e. Tulis pretest pada kolom nama baris kedua.

f. Klik data view, masukkan angka satu di kolom pertama sebanyak siswa kelas eksperimen, kemudian lanjutkan dengan angka dua sebanyak kelas kontrol. g. Masukan hasil pretest di kolom kedua.

h. Klik analyze descriptive statistics eksplore kelompok yang diteliti pindahkan ke factor list, pretest pindahkan ke dependent listplots, normality test with plots continue ok.

i. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, kemudian lihat nilai sig di Kolmogorov-Smirnov apabila α sampel tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal,apabila α< sampel tersebut bukan berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal.

3. Uji Homogenitas Varians

Uji homogenitas digunakan untuk menguji homogen atau tidaknya data sampel yang diambil dari populasi yang sama.Jika data distribusi normal dan memiliki varians sampel yang homogen maka dilakukan uji t (dilakukan untuk menghitung beda rata-rata)tetapi jika data distribusi normal dan memiliki varians

sampel tidak homogen maka dilakukan uji t‟.Adapun hipotesis untuk menentukan

homogenitas suatu sampel digunakan rumus hipotesis sebagai berikut.

H0 : Data sampel berasal dari populasi yang mempunyai varians yang sama


(43)

60

H1 : Data sampel berasal dari popolasi yang mempunyai varians yang tidak

sama atau tidak homogen.

Taraf signifikansi pada uji Levene’s dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05 dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut.

Jika P-value <�, maka H0 ditolak atau H1 diterima.

Jika P-value ≥ �, maka H0 tidak dapat ditolak

Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji homogenitas dengan menggunakanaplikasi program SPSS 16.0 for windows yaitu sebagai berikut: a. Buka SPSS kemudian masuk ke variabel view, masukan pada kolom nama di

baris kesatu dengan nama kelompok kemudian enter. b. Pada kolom label isi dengan kelompok yang diteliti. c. Ganti decimals pada kolom keempat dengan angka nol.

d. Pada kolom values masukan pada value angka satu dan pada label tulis kelas eksperimen kemudian add, masukan lagi padavalue angka dua dan pada label tulis kelas kontrol kemudian add.

e. Tulis pretest pada kolom nama baris kedua.

f. Klik data view, masukkan angka satu di kolom pertama sebanyak siswa kelas eksperimen, kemudian lanjutkan dengan angka dua sebanyak kelas kontrol. g. Masukan hasil pretest di kolom kedua.

h. Klik analyze compare means independent-samples T-test pretest pindahkan ke test variable, kelompok yang diteliti pindahkan ke grouping variable define group, use specified values, grup satu diisi dengan angka satu dan grup dua diisi dengan angka duacontinue ok.

i. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, kemudian lihat nilai sig di

Levenes’s Test for Equality of Variance apabila ≥α variansi setiap sampel sama (homogen), apabila α< maka variansi sampel tidak sama (tidak homogen).


(44)

61

4. Uji perbedaan dua rata-rata

Normalitas dan homogenitas jika telah terpenuhi, maka langkah selanjutnya yaitu uji beda rata-rata (uji t).Uji t dilakukan untuk menghitung perbedaan dua rerata.Uji perbedaan dua rerata bertujuan untuk mengetahui apakah kedua kelas memiliki rata-rata yang sama atau tidak.Rumusan hipotesis untuk pengujian kesamaan nilai rata-rata tes awal (pretest)dan nilai rata-rata tes akhir(posttest)kelas eksperimen dan kelas kelas kontrol adalah sebagai berikut. H0 : tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan siswa kelas ekperimen

dan kelas kontrol.

H1 : terdapat perbedaan rata-rata kemampuan siswa kelas ekperimen dan

kelas kontrol.

Taraf signifikansi pada uji independent sample t-test dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05 dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut. Jika P-value <�, maka H0 ditolak atau H1 diterima.

Jika P-value ≥ �, maka H0diterima

Jika data dari kedua kelas normal tetapi tidak homogen, maka dilakukan uji independent sample t-test tetapi untuk membaca hasil pengujiannya yaitu pada kolom Equal Varians Not Asumed (diasumsikan varians tidak sama). Jika salah satu atau kedua data kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak berdistribusi normal,maka langkah selanjutnya menggunakan uji non parametik Mann-Whitney (uji U).Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji U dilakukan dengan menggunakan bantuan program Microsoft Excel dan SPSS versi 16 adalah sebagai berikut.

a. Buka SPSS kemudian masuk ke variabel view, masukan pada kolom nama di baris kesatu dengan nama kelompok kemudian enter.

b. Pada kolom label isi dengan kelompok yang diteliti. c. Ganti decimals pada kolom keempat dengan angka nol.

d. Pada kolom values masukan pada value angka satu dan pada label tulis kelas eksperimen kemudian add, masukan lagi pada value angka dua dan pada label tulis kelas kontrol kemudian add . Klik data view, masukkan angka satu di


(45)

62

kolom pertama sebanyak siswa kelas eksperimen, kemudian lanjutkan dengan angka dua sebanyak kelas kontrol.

e. Masukan hasil pretest di kolom kedua.

f. Klik analyze nonparametric test2-independent-samplesT-test pretest pindahkan ke test variable, kelompok yang diteliti pindahkan ke grouping variable define group, use specified values, grup satu diisi dengan angka satu dan grup dua diisi dengan angka dua exact monte carlo ganti confidence level 95% continue lihat test type dan beri tanda √ pada tulisan Mann Whitney lalu ok.

g. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, kemudian lihat nilai sig (2-tailed)pada tabel teststatistics apabila α tidak terdapat perbedaan rata-rata kemampuan siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol, apabila α< makaterdapat perbedaan rata-rata kemampuan siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol.

5. Perhitungan Gain Ternormalisasi

Perhitungan gain ternormalisasi dilakukan untuk melihat peningkatan hasil belajar dan keterampilan berpikir kreatif siswa. Adapun perhitungan gain ternormalisasi menggunakan formula sebagai berikut Meltzer (Maulana, 2007: 57):

N

-

gain =

� � − � � �

� �� � − � � �

Interpretasi gain ternormalisasi tersebut disajikan dalam bentuk klasifikasi seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.16

Klasifikasi Gain Ternormalisasi

Gain Klasifikasi

g > 0,7 Gain tinggi

0,3 <g ≤ 0,7 Gain sedang


(46)

63

6. Perhitungan Korelasi

Uji korelasipearson (uji r) dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara keterampilan berpikir dengan hasil belajar siswa. Rumusan hipotesis untuk pengujian korelasi ini adalah sebagai berikut.

H0 : Tidak ada hubungan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil

belajar siswa.

H1 : Ada hubungan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar

siswa.

Taraf signifikansi pada uji korelasidengan menggunakan taraf signifikansi 0,05 dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut.

Jika P-value <�, maka H0 ditolak atau H1 diterima.

Jika P-value ≥ �, maka H0 tidak dapat ditolak

Adapun langkah-langkah untuk melakukan uji korelasi persondengan menggunakanaplikasi program SPSS 16.0 for windows yaitu sebagai berikut. a. Buka SPSS kemudian masuk ke variabel view, masukan pada kolom nama di

baris kesatu dengan nama kreatif kemudian enterdan pada kolom label isi dengan posttest kreatif.

b. Pada baris kedua masukkan dengan nama hasil kemudian enter dan kolom label isi dengan posttest hasil.

c. Ganti decimals pada kolom keempat dengan angka nol.

d. Selanjunya masuk ke data view, pada kolom pertama masukkan nilai posttest kreatif dan kolom kedua masukkan nilai posttest hasil.

e. Klik analyze CorrelateBivariate, masukkan posttest kreatif dan posttest hasil ke kotak Variabel,pada bagian Correlation Coefficients beri tanda √ pada tulisan Pearson, pada bagian Test of Signifance beri tanda pada tulisan Two-tailed, kemudian klik Options beri tanda pada Means and Standar deviations beri tanda pada Excludecasespairwise klik continue klik ok.

f. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, kemudian lihat nilai sig


(47)

64

keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa, apabila <α makaada hubungan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa.

Interpretasi terhadap koefisien korelasi dapat berpedoman pada ketentuan yang tertera pada tabel 3.17 sebagai berikut.

Tabel 3.17

Pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00-0,199 Sangat Rendah 0,20-0,399 Rendah 0,40-0,599 Sedang 0,60-0,799 Kuat 0,80-1,000 Sangat Kuat


(48)

110 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan data, hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan tentang Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dalam mengembangkan keterampilan berpikir kreatif kelas V pada materi pesawat sederhana, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Hasil uji non-parametrik Mann-Whitney (uji U)yang telah dilakukan menunjukan bahwa P-value (sig.2-tailed) untuk kelas kontrol adalah 0,000, karena yang diuji satu arah, sehingga 0,000 dibagi dua hasilnya 0. Hasil yang diperoleh P-value < � (0,05), maka H0ditolak dan H1 diterima. Jadi, dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran konvensional dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa secara signifikan pada materi pesawat sederhana. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil postest pada kelas kontrol yakni 73,5 dengan rata-rata kemampuan awal siswa kelas V yakni 47,7.

2. Hasil uji non-parametrik Mann-Whitney (uji U)menunjukan bahwa nilai P-value (sig.2-tailed) untuk kelas eksperimen adalah 0,000, karena yang diuji satu arah, sehingga 0,000 dibagi dua hasilnya 0. Hasil yang diperoleh P-value < � (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa

pembelajaran dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dapat mengembangkan keterampilan berpikir kreatif siswa secara signifikan pada materi pesawat sederhana. Hal ini terlihat dari rata-rata hasil postest pada kelas eksperimen yakni 86,7 dengan rata-rata kemampuan awal siswa kelas V yakni 51,6.

3. Berdasarkan uji non-parametrik Mann-Whitney (uji U) menunjukan bahwa P-value (sig.2-tailed) adalah 0,000. P-P-value (sig.) 0,000 <� (0,05), sehingga H0

ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat perbedaan

peningkatanketerampilan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.Jadi,dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa antara yang menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah


(49)

111

(PBM) dengan pembelajaran konvensional. Hal ini terlihat pada rata-rata nilai gain yang dinormalisasi setiap kelas yang mana kelas eksperimen memperoleh rata-rata 0,75 dan kelas kontrol memperoleh rata-rata 0,56.

4. Berdasarkan uji korelasi kelas eksperimen menunjukkan bahwa P-value (sig.2-tailed) yaitu 0,000 yang mana 0,000 < � (0,05), maka H0 ditolak dan H1

diterima yang artinya terdapathubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana. Hal ini dapat terlihat dari nilai tes akhir (postest) keterampilan berpikir kreatif yang memiliki rata-rata 86,87 dan hasil belajar memiliki rata-rata 89,23. Rata-rata kedua tes tersebut tidak berbeda jauh. Sedangkan kelas kontrol menunjukkan bahwa P-value (Sig.2-tailed) yaitu 0,000 yang mana 0,000 <� (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterimayang artinya terdapathubungan yang

signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana. Hal ini dapat terlihatdari nilai tes akhir (postest) keterampilan berpikir kreatif yang memiliki rata-rata 73,53 dan hasil belajar memiliki rata-rata 82,60. Rata-rata kedua tes tersebut tidak berbeda jauh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan untuk beberapa pihak di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bagi guru

Diharapkan guru hendaknya menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) sebagai alternative strategi pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan guru dapat lebih berinovasi dalam menciptakan suasana pembelajaran di dalam kelas agar keterampilan siswa dapat berkembang.


(50)

112

2. Bagi Sekolah

Dijadikan bahan untuk memotivasi guru dalam mengembangkan pembelajaran, sekaligus untuk mengembangkan potensi siswanya.

3. Bagi Peneliti Lain

Bagi peniliti lain,hasil penelitian ini direkomendasikan untuk dijadikan landasan untuk melakukan pembelajaran pada materi lain dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) sehingga bukan hanya hasil belajar saja yang meningkat, melainkan keterampilan berpikir kreatif juga ditingkatkan.

4. Bagi Lembaga UPI

Menyediakan sumber-sumber sebagai bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti lainnya.


(1)

(PBM) dengan pembelajaran konvensional. Hal ini terlihat pada rata-rata nilai gain yang dinormalisasi setiap kelas yang mana kelas eksperimen memperoleh rata-rata 0,75 dan kelas kontrol memperoleh rata-rata 0,56.

4. Berdasarkan uji korelasi kelas eksperimen menunjukkan bahwa P-value

(sig.2-tailed) yaitu 0,000 yang mana 0,000 < � (0,05), maka H0 ditolak dan H1

diterima yang artinya terdapathubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana. Hal ini dapat terlihat dari nilai tes akhir (postest) keterampilan berpikir kreatif yang memiliki rata-rata 86,87 dan hasil belajar memiliki rata-rata 89,23. Rata-rata kedua tes tersebut tidak berbeda jauh. Sedangkan kelas kontrol menunjukkan bahwa P-value (Sig.2-tailed) yaitu 0,000 yang mana 0,000 <� (0,05), maka H0 ditolak dan H1 diterimayang artinya terdapathubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana. Hal ini dapat terlihatdari nilai tes akhir (postest) keterampilan berpikir kreatif yang memiliki rata-rata 73,53 dan hasil belajar memiliki rata-rata 82,60. Rata-rata kedua tes tersebut tidak berbeda jauh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada materi pesawat sederhana.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan untuk beberapa pihak di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Bagi guru

Diharapkan guru hendaknya menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) sebagai alternative strategi pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dan guru dapat lebih berinovasi dalam menciptakan suasana pembelajaran di dalam kelas agar keterampilan siswa dapat berkembang.


(2)

112

2. Bagi Sekolah

Dijadikan bahan untuk memotivasi guru dalam mengembangkan pembelajaran, sekaligus untuk mengembangkan potensi siswanya.

3. Bagi Peneliti Lain

Bagi peniliti lain,hasil penelitian ini direkomendasikan untuk dijadikan landasan untuk melakukan pembelajaran pada materi lain dengan menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) sehingga bukan hanya hasil belajar saja yang meningkat, melainkan keterampilan berpikir kreatif juga ditingkatkan.

4. Bagi Lembaga UPI

Menyediakan sumber-sumber sebagai bahan perbandingan bagi peneliti-peneliti lainnya.


(3)

113

Anonim.(2012). HakekatPembelajaran IPA di SD. [Online].Tersedia: http://cumanulisaja.blogspot.com/2012/10/hakekat-pembelajaran-ipa-di-sd.html. [4 Mei 2013]

Anonim. (2013).Faktor-faktor yang MempengaruhiHasilBelajar.[Online]. Tersedia:http://ilmu-matematika.blogspot.com/2013/03/faktor-faktror-yang-mempengaruhi-hasil.html.[3 Januari2013]

Arifin, Zainal. (2009). EvaluasiPembelajaran.Bandung: RemajaRosdakarya. Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar-dasarEvaluasiPendidikan.Jakarta:

BumiAksara.

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bundu, Patta. (2006). PenilaianKeterampilan Proses

danSikapIlmiahDalamPembelajaranSainsSekolahDasar. Jakarta:

DEpartemenPendidikanNasional.

DepartemenPendidikanNasional.(2006). Standar Isi

danStandarKompetensiKurikulum Tingkat SatuanPendidikan.Jakarta:

Depdiknas.

Iskandar, Joni. (2012). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. [Online]: Tersedia: www.repository.upi.edu/operator/upload/s-mat-0700453-chapter2.[3Januari 2013]

Jayadinata, AsepKurnia. (2010). “Ragam Model Pembelajaran Di SekolahDasar”, dalamPenerapan Model Pembelajaran IPA di SekolahDasar.Sumedang: UPI KampusSumedang.

Lovita, Nia. (2011). Pengertian IPA.[Online].Tersedia: http://nialovita.wordpress.com/2011/09/18/pengertian-ipa/. [4 Mei 2013] Maulana.(2007).

AlternatifPembelajaranMatematikadenganPendekatanMetakognitifuntuk MeningkatkanKemampuanBerpikirKritisMahasiswa


(4)

114

http://repository.upiedu/operator/upload/t_mtk_049507_chapter3.pdf.[4 Mei 2013]

Maulana. (2009). Memahami Hakikat, Variabel, dan Instrumen Penelitian Pendidikan dengan Benar: PanduanSederhanabagiMahasiswadan Guru

CalonPeneliti.Bandung: Learn2Live „n Live2Learn.

Maulana. (2011). “Jurnal Mimbar Pendidikan Dasar”, dalamBerpikirKreatifMatemais, ItuPerlu!. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang.

Moleong, Lexy J. (1998).MetodologiPenelitianKualitatif. Bandung: RemajaRosdakarya.

Munandar, Utami. (2004). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.

Munawar.Indra.(2009). HasilBelajar.[Online].Tersedia: http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/hasil-belajar-pengertian-dandefinisi.html. [3 Januari 2013]

Mustaji.(2008).

PengembanganKemampuanBerpikirKritisdanKreatifdalamPembelajaran.[ Online].Tersedia: http://pasca.tp.ac.id/site/pengembangan-kemampuan-berpikir-kritis-dan-kreatif-dalam-pembelajaran. [3 Januari 2013]

Prametasari.(2012).EfektifitasPenggunaan Model PembelajaranberbasisMasalah (Problem Based Learning-PBL) TerhadaphasilBelajar IPA SiswaKelas V

di SD GugusHasanudinSalatiga Semester II TahunAjaran

2011/2012.Skripsi.Tersedia:

http//repository.library.uksw.edu/handle/123456789/773. [4 Mei 2013] Rositawati, S. (2008).SenangBelajarIlmuPengetahuanAlamuntukKelas V. Jakarta:

PusatPerbukuan, DepartemenPendidikanNasional.

Rusman.(2012). Model-model PembelalajaranMengembangkanProfesionalisme Guru. Jakarta: RajaGrafindoPersada.

Rusmono.(2012). StrategiPembelajarandengan Problem Based Learning

ItuPerluuntukMeningkatkanProfesionalitas Guru. Jakarta: Ghalia


(5)

Samatowa, Usman. (2006). BagaimanaMembelajarkan IPA di SekolahDasar. Jakarta: DepdiknasDirjenPendidikanTinggiDirektoratKetenagaan.

Sanjaya, Wina. (2006). StrategiPembelajaranBerorientasiStandar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana.

Sekai, Furaha. (2011). PembelajaranKonvensional.[Online].Tersedia:

http://furahasekai.wordpress.com/2011/09/06/pembelajaran-konvensional/. [06 Juli 2013]

Simanjuntak, Hakim. (2013). PengolahandanAnalisis Data.[Online].Tersedia: http://hakimsimanjuntak.blogspot.com/2013/02/pengolahan-dan-analisis-data.html?m=1. [3 Januari 2013]

Siskarini, Dian. (2006).

PenerpananPembelajaranBerbasisMasalahuntukMeningkatkanKemampu

anBerpikirSiswaKelas III SD LaboratoriumUniversitasNegeri

Malang.Skripsi.UniversitasNegeri Malang.Tersedia:

http://library.um.ac.id/ptk/index.php?mod=detail&id=324522. [4 Mei 2013]

SistemPendidikanNasional.(2003). Undang-undangDasarRepublik Indonesia SistemPendidikanNasional.Jakarta: Sisdiknas

Sudjana, Nana. (2004). PenilaianHasil Proses BelajarMengajar.Bandung: RemajaRosdakarya.

Sugiyono. (2010). MetodePenelitianKuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono.(2011). StatistikauntukPenelitian.Bandung: Alfabeta.

Suherman, Erman dan Yaya Sukjaya K. (1990). Evaluasi Pendidikan Matematika. Bandung: Wijayakusumah.

Trianto.(2007). Model-model

PembelajaranInovatifBerorientasiKontruktivistik.Jakarta: PrestasiPustaka. Uyanto, Stanislaus S. (2006). PedomanAnalisis Data dengan SPSS.Jakarta: PGSD


(6)

116

Wulandani, Tri.

(2012).PengaruhPembelajaranBerbasisMasalahTerhadapHasilBelajar

IPA SiswaKelas IV SDN Lesanpuro 3

Malang.(Skripsi).UniversitasNegerimalang. Tersedia:


Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SD KELAS V PADA MATERI GAYA MAGNET (Suatu Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Ckareo I dan SDN Cikareo II di Kabupaten Sumedang).

0 0 51

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA MATERI SIMETRI LIPAT (Suatu Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Padasuka II dan SDN Padamulya di Kabupaten Sumedang).

0 0 40

MENINGKATKAN PEMBELAJARAN GERAK DASAR MENYUNDUL BOLA MELALUI BOLA YANG DIPANTULKAN KE TANAH (Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Sindang IV Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang).

0 3 47

PENERAPAN MODEL MENULIS BERSAMA MELALUI MEDIA GAMBAR TUNGGAL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI SISWA KELAS III SDN CADASPANGERAN KECAMATAN SUMEDANG SELATAN KABUPATEN SUMEDANG.

0 2 51

PENGARUH PERMAINAN BILBAKCAGAM TERHADAP TES HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATERI PESAWAT SEDERHANA (Penelitian Eksperimen Terhadap Siswa Kelas V SDN Gunungsari I dan SDN Ranjikulon II di Kecamatan Kasokandel Kabupaten Majalengka).

0 0 37

PENGGUNAAN MEDIA MOCK UP UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI KENAMPAKAN ALAM DAN BUATAN DI DAERAH SUMEDANG ( Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V Semester I SDN Gudang Kopi I Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang ).

0 1 49

PENGARUH MODEL LEARNING CYCLE TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS IV PADA MATERI SIFAT-SIFAT BUNYI (Penelitian Eksperimen Di Kelas IV SDN Gudang Kopi dan SDN Darangdan Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang).

0 0 39

PENGARUH MODEL CLIS (CHILDREN LEARNING IN SCIENCE ) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS V PADA MATERI PESAWAT SEDERHANA (Penelitian Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas V SDN Salam dan SDN Ciranjang Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang ).

0 2 37

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA BERBASIS KOMPUTER TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR KELAS V PADA MATERI MENGHARGAI KERAGAMAN BUDAYA (Penelitian Kuasi Eksperimen di Kelas V SDN Cilembu Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang).

0 1 51

PENGARUH MODEL KONTEKSTUAL TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS IV SD PADA MATERI ENERGI PANAS (Penelitian Eksperimen terhadap Siswa Kelas IV SDN Jagatapa dan SDN Kirisik di Kecamatan Jatinunggal Kabupaten Sumedang).

0 1 38