Studi Perubahan Perilaku pada Gerakan Sosial Konservasi Sumberdaya Hutan Jawa dengan Kampanye Pride di Kawasan Hutan Produksi Lindung Potorono Gunung Sumbing Magelang

STUDI PERUBAHAN PERILAKU PADA GERAKAN SOSIAL
KONSERVASI DENGAN KAMPANYE PRIDE DI KAWASAN
HUTAN PRODUKSI POTORONO DAN HUTAN LINDUNG
GUNUNG SUMBING MAGELANG

PANJI ANOM

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008

HALAMAN PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Studi Perubahan Perilaku pada
Gerakan Sosial Konservasi Sumberdaya Hutan Jawa dengan Kampanye Pride di
Kawasan Hutan Produksi Potorono dan Hutan Lindung Gunung Sumbing
Magelang adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juli 2008

Panji Anom
NRP. 051054195

ABSTRACT
Most of the problem in forest destruction is caused by peoples attitude. The study
has it purposed to: (1) studying the influenced of Pride Campaign in peoples
conservation behavior change in Potorono-Mountain Sumbing forest area (2) To
knowing the factors that influenced the conservational behavior change (3) To
knowing the influenced of behavior change in social conservation movement.
This socio-ecological study has main research method with Knowledge, Attitude
and Practice (KAP) survey, land observation and focussed interview discussion.
This is the action-research activities that combine the empowering peoples,
behavioral change research and the conservation objective. This research has two
main activities. First the activities at the field which are has it purposed to
empowering peoples by social marketing which done by conservation campaign
named Pride Campaign. The pride campaign itself are used to be the research
treatment. The pride campaign adressed to reduce or answer about the
conservation matter in Potorono-Mount Sumbing forest area that are illegal
logging, land manage switching and lack of reboisation. Second the research it
selves that analyzed the social movement impacted by peoples behavior change. It
has two main perimeter to analyzed that is social perimeter and technical
perimeter. The social perimeter are analyzed about the behavior change as from
knowledge, attitude and practice change that measured by the pre and post
campaign survey. The technically perimeter are about the report of the
”preparation” community action that shows peoples aware to the forest
conservation. This perimeter are measured technically about illegal logging, land
manage switching and lack of reboisation reducing. This report measured by
taking interview, action report and forest area field proven. The research has it
results: (1) knowledge intervention has it condition by social transaction and
diffusion (2) the conservation behavior change factors are about the consideration
of conservational option choices and peoples willingness needs (3) Interpersonal
communication is one strong factor that mobilized behavior change among the
community to be the social movement for Java’s forest conservation.
Keyword: pride campaign, social marketing, behavior change, social movement, java’s forest
conservation

RINGKASAN
Panji Anom. Studi Perubahan Perilaku pada Gerakan Sosial Konservasi
dengan Kampanye Pride di Kawasan Hutan Produksi Potorono dan Hutan
Lindung Gunung Sumbing Magelang. Dibimbing oleh Arzyana Sunkar dan
Rinekso Soekmadi.
Kerusakan sumberdaya hutan umumnya disebabkan oleh sikap manusia.
Studi Perubahan Perilaku pada Gerakan Sosial Konservasi dengan Kampanye
Pride di Kawasan Hutan Produksi Potorono dan Hutan Lindung Gunung Sumbing
Magelang dilakukan melalui dua tahapan, yaitu tahap pelaksanaan kampanye
Pride selama 18 bulan (September 2006 – Februari 2008) serta tahap penelitian
selama 6 bulan (Februari 2008 – Juli 2008). Penelitian bertujuan untuk; (1)
mengetahui pengaruh intervensi pengetahuan dalam perubahan perilaku
konservasi di Kawasan hutan Potorono-Gunung Sumbing (2) mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi perubahan perilaku konservasi (3) mengetahui
pengaruh perubahan perilaku terhadap gerakan sosial konservasi.
Studi sosio-ekologi ini menggunakan metode riset sosial dengan survey
post kampanye tentang pengetahuan, sikap dan perilaku (knowledge, attitude and
Practice/KAP), observasi lapangan dan wawancara. Penelitian yang dilakukan
merupakan kajian sosial konservasi dari riset-aksi yang telah dilakukan.
Penelitian yang dilakukan mempunyai dua aktivitas utama. Pertama
aktivitas ditujukan untuk pemberdayaan masyarakat dengan pemasaran sosial
yang dijalankan di lapangan dengan kampanye konservasi yang disebut kampanye
Pride. Kampanye Pride sendiri digunakan sebagai inovasi sosial atau treatment
penelitian dengan dasar konsep sosial marketing. Kampanye Pride ditujukan
untuk mengurangi atau menjawab persoalan konservasi di kawasan hutan
Potorono-Gunung Sumbing berupa penebangan liar, alih penguasaan pengelolaan
lahan hutan dan tidak adanya reboisasi.
Kedua penelitian yang ditujukan untuk mengurai dan menganalisa tentang
gerakan sosial yang disebabkan oleh perubahan perilaku. Penelitian mendasarkan
pada dua parameter yang diamati, yaitu parameter sosial berupa hasil survei
tentang perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku serta parameter teknis yang
diamati dari hasil wawancara dan observasi lapangan tentang lahan yang berhasil
direboisasi.
Parameter sosial dan parameter teknis digunakan untuk mengetahui dan
mengukur perubahan perilaku masyarakat yang berada pada taraf persiapan
dengan melihat pengurangan persoalan berkaitan dengan penebangan liar, alih
pengelolaan lahan hutan dan tidak adanya reboisasi yang terjadi. Penelitian
menghasilkan: (1) intervensi pengetahuan mempunyai syarat kondisi dengan
difusi dan transaksi sosial (2) faktor perubahan perilaku konservasi adalah tentang
pertimbangan konservasi dan pilihan untuk berubah (3) komunikasi interpersonal
merupakan faktor yang mendorong perubahan di masyarakat menjadi gerakan
sosial untuk konservasi hutan Jawa.

© Hak cipta milik IPB, tahun 2008
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-ya
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini telah dilaksanakan
sejak September 2006 hingga Juli 2008 dan diberi judul Studi Perubahan Perilaku
pada Gerakan Sosial Konservasi Jawa di Kawasan Hutan Produksi-Lindung
Potorono-Gunung Sumbing Magelang.
Terima kasih yang tidak terhingga penulis sampaikan kepada Ibu
Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc dan Bapak Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F yang
telah dengan sabar dan telaten membimbing penulis selama penelitian ini.
Disamping itu terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh tim dosen
angkatan pertama Program Khusus Pendidikan Konservasi kerjasama IPB dan
Rare International yaitu Prof. Dr. Ir. Harini Muntasib, MS; Dr. Ir. Rinekso
Soekmadi,M.Sc.F; Dr.Ir.Yeni A. Mulyani, M.Sc; Dones Rinaldi, M.Sc.F;
Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc, kepada Manajer Kursus Rare Indonesia Hari
Kushardanto dan Ni Putu Sarilani Wirawan atas asistensi selama pelaksanaan
program Kampanye Pride. Terima kasih juga kepada teman Angkatan 1 Bogor –
PIZSA. Ungkapan terima kasih turut disampaikan kepada kedua orang tua, istri,
saudara, teman-teman atas doa, dukungan dan kasihnya sehingga karya ilmiah ini
dapat terselesaikan.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 22 Juli 1977 dari Ayah
Sisyanto Siswomiharjo dan Ibu Jumilah. Penulis merupakan putra kedua dari
empat bersaudara.
Tahun 1995 penulis lulus dari SMA Negeri 11 Yogyakarta dan melanjutkan
studi di Institut Pertanian “Stiper” Yogyakarta. Penulis mengambil program studi
Budidaya Pertanian Jurusan Agronomi. Tahun 2006 penulis lulus seleksi Program
Pascasarjana Kelas Khusus Pendidikan Konservasi di Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari USAID dan IPB.
Selama penelitian dan penulisan karya ilmiah ini, penulis menjadi bagian
dari tim kerja YBL MastA yang berkantor di Magelang, Jawa Tengah. Penulis
merupakan salah satu aktivis yang peduli dengan keberlanjutan kehutanan di
Indonesia.

STUDI PERUBAHAN PERILAKU PADA GERAKAN SOSIAL
KONSERVASI DENGAN KAMPANYE PRIDE DI KAWASAN
HUTAN PRODUKSI POTORONO DAN HUTAN LINDUNG
GUNUNG SUMBING MAGELANG

PANJI ANOM

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Profesi pada
Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis

Nama
NRP

: Studi Perubahan Perilaku pada Gerakan Sosial Konservasi
Sumberdaya Hutan Jawa dengan Kampanye Pride di
Kawasan Hutan Produksi-Lindung Potorono-GunungSumbing Magelang
: Panji Anom
: E 051054195

Disetujui
Komisi Pembimbing,

Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc
Ketua

Dr.Ir.Rinekso Soekmadi, M.Sc.F
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof.Dr.Ir. Imam Wahyudi, M.S

Prof.Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

Tanggal Ujian: 25 Agustus 2008

Tanggal Lulus:.................................

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Tesis

Nama
NRP

: Studi Perubahan Perilaku pada Gerakan Sosial Konservasi
Sumberdaya Hutan Jawa dengan Kampanye Pride di
Kawasan Hutan Produksi-Lindung Potorono-GunungSumbing Magelang
: Panji Anom
: E 051054195

Disetujui
Komisi Pembimbing,

Ir. Arzyana Sunkar, M.Sc
Ketua

Dr.Ir.Rinekso Soekmadi, M.Sc.F
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi
Ilmu Pengetahuan Kehutanan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof.Dr.Ir. Imam Wahyudi, M.S

Prof.Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S

Tanggal Ujian: 25 Agustus 2008

Tanggal Lulus:.................................

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Yeni A. Mulyani. M.Sc

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI..........................................................................................................

i

DAFTAR TABEL.................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................

vi

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................. vii

I. PENDAHULUAN

.........................................................................................

1

1.1 Latar belakang ..................................................................................................
1.2 Perumusan masalah .........................................................................................
1.3 Kerangka Pemikiran ........................................................................................
1.3.1 Proses gerakan sosial konservasi ............................................................
1.3.2 Gerakan sosial konservasi Kawasan Potorono-Gunung Sumbing ..........
1.4 Tujuan Penelitian .........................................................................................
1.5 Manfaat Penelitian .........................................................................................

1
3
4
4
5
8
8

II. TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................

9

2.1 Kerusakan hutan dan perubahan perilaku ........................................................
2.2 Sosial marketing dan perubahan perilaku konservasi ......................................
2.3 Kampanye Pride di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing..............................

9
11
15

III. KONDISI UMUM LOKASI............................................................................

49

3.1 Lokasi Kawasan
.........................................................................................
3.2 Iklim dan Cuaca
.........................................................................................
3.3 Kondisi umum ekosistem ................................................................................
3.3.1 Karakterisktik ekosistem Potorono-Gunung Sumbing............................
3.3.2 Keanekaragaman hayati ..........................................................................
3.4 Deskripsi masyarakat di target lokasi .............................................................
3.4.1 Populasi dan demografi...........................................................................
3.4.2 Sosial budaya dan ekonomi.....................................................................
3.5 Sejarah pengelolaan kawasan ..........................................................................
3.5.1 Sejarah pengelolaan hutan.......................................................................
3.5.2 Kepemilikan lahan ..................................................................................
3.6 Karakter masyarakat target berdasar hasil survey............................................
3.7 Karakter masyarakat kontrol berdasar hasil survey .........................................

49
50
51
51
51
53
53
53
54
54
55
56
63

IV. METODOLOGI PENELITIAN ......................................................................

67

4.1 Lokasi Penelitian
........................................................................................
4.2 Waktu Studi
........................................................................................
4.3 Alat dan Bahan
........................................................................................
4.4 Metodologi penelitian .....................................................................................

67
67
67
67

i

V. HASIL

.....................................................................................

69

5.1 Hasil Survey Perubahan Perilaku.....................................................................
5.2 Perubahan Perilaku Berdasarkan Parameter Teknis ........................................
5.3 Pengurangan ancaman dengan lahan yang di konservasi ................................

69
78
80

VI. PEMBAHASAN

.........................................................................................

89

VII. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................

96

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

98

LAMPIRAN

101

.........................................................................................

ii

DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 1. Ilustrasi tawaran perubahan perilaku dan keinginan umum.....................

13

Table 2. Rangking ancaman di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing..................

18

Tabel 3. Tingkat kepercayaan terhadap sumber informasi ...................................

57

Tabel 4. Persepsi masyarakat terhadap perlindungan hutan .................................

59

Tabel 5. Pandangan masyarakat pada upaya konservasi per desa ........................

60

iii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Skema gerakan sosial ...........................................................................

3

Gambar 2 Kerangka pemikiran studi ....................................................................

7

Gambar 3 Skema hubungan manusia dan lingkungan ..........................................

10

Gambar 4 Kurva tingkatan adopsi ........................................................................

14

Gambar 5 Skema proses kampanye Pride.............................................................

16

Gambar 6 Skema model konsep............................................................................

19

Gambar 7 Perbaikan model konsep.......................................................................

24

Gambar 8 Lomba gambar dan kunjungan sekolah dengan kostum maskot..........

29

Gambar 9 Pelatihan pembuatan tungku hemat kayu bakar ..................................

30

Gambar 10 Upacara merti banyu di desa Sukomakmur........................................

31

Gambar 11 Kelompok pengelola wisata, Kelompok swadaya masyarakat dan
Patroli hutan .....................................................................................
32
Gambar 12 Pelatihan interpretasi kelompok pengelola wisata desa Sutopati......

33

Gambar 13 Pendampingan kelompok ibu-ibu ......................................................

33

Gambar 14 Proses penyiaran spot lagu .................................................................

34

Gambar 15 Kegiatan pekan penanaman kawasan.................................................

35

Gambar 16 Koordinasi perencanaan lomba masak...............................................

36

Gambar 17 Workshop ........................................................................................

37

Gambar 18 Plang konservasi.................................................................................

37

Gambar 19 Poster

........................................................................................

39

Gambar 20 Penyematan pin ..................................................................................

39

Gambar 21 Factsheet

........................................................................................

40

Gambar 22 Kostum maskot ..................................................................................

41

Gambar 23 Komik konservasi...............................................................................

42

Gambar 24 Pembuatan lagu konservasi ................................................................

43

Gambar 25 Buklet-buklet konservasi....................................................................

44

Gambar 26 Panggung boneka ...............................................................................

47

Gambar 27 Kalender konservasi ...........................................................................

47

Gambar 28 Billboard kawasan ..............................................................................

48

Gambar 29 Lokasi studi .......................................................................................

49

iv

Gambar 30 Peta kawasan lokasi studi

........................................................

50

Gambar 31 Tingkat pendidikan (N=378)..............................................................

56

Gambar 32 Pekerjaan (N=378) .............................................................................

56

Gambar 33 Kebiasaan membaca (N=378) ............................................................

57

Gambar 34 Tingkat pengetahuan petani di desa target mengenai manfaat hutan
(N=287) ........................................................................................
58
Gambar 35 Inisiatif menghutankan kembali kawasan hutan yang gundul (N=227) 61
Gambar 36 Faktor yang menentukan keberhasilan program rehabilitasi hutan
dalam jangka panjang (N=378) .........................................................
61
Gambar 37 Perhatian masyarakat tentang pengambilan kayu sebagai kayu bakar
(N=217) ........................................................................................
62
Gambar 38 Alasan melakukan kegiatan alih fungsi pengelolaan lahan (N=354).

63

Gambar 39 Tanaman yang dikembangkan masyarakat (N=354)..........................

63

Gambar 40 Pengetahuan masyarakat kontrol mengenai manfaat hutan (N=58) ..

64

Gambar 41 Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai manfaat hutan (N=287)

69

Gambar 42 Tingkat pengetahuan masyarakat kontrol tentang manfaat hutan
(N=60)
........................................................................................
70
Gambar 43 Sikap masyarakat target pada hutan (pra dan post kampanye N=378)

71

Gambar 44 Sikap masyarakat kontrol pada hutan (pra dan post kampanye N=60)

71

Gambar 45 Pendapat masyarakat target tentang kondisi hutan (N=378)..............

72

Gambar 46 Kondisi hutan masyarakat kontrol (N=60).........................................

72

Gambar 47 Penjagaan sumber air masyarakat target (N=378) .............................

73

Gambar 48 Penjagaan sumber air masyarakat kontrol (N=60).............................

73

Gambar 49 Keberhasilan program perbaikan lahan (N=378) ...............................

74

Gambar 50 Pandangan program perbaikan lahan masyarakat kontrol (N=60).....

74

Gambar 51 Pengelolaan hutan menurut masyarakat target (N=378) ....................

75

Gambar 52 Keberhasilan pengelolaan lahan menurut masyarakat kontrol (N=60)7 75
Gambar 53 Inisiatif menghutankan kembali kawasan hutan yang gundul (N=378) 76
Gambar 54 Inisiatif penghutanan menurut masyarakat control (N=60) ...............

76

Gambar 55 Pendukung keberhasilan konservasi masyarakat target (N=378) ......

77

Gambar 56 Penentu keberhasilan konservasi masyarakat kontrol (N=60) ...........

77

Gambar 57 Daerah yang di konservasi di Desa Sukomakmur .............................

82

Gambar 58 Daerah yang di konservasi di Desa Sukorejo ....................................

83

Gambar 59 Daerah yang di konservasi di Desa Sutopati dan Banjaragung .........

84

v

Gambar 60 Daerah yang di konservasi di Desa Sambak .....................................

84

Gambar 61 Daerah yang di konservasi di Desa Krumpakan ...............................

86

Gambar 62 Daerah yang di konservasi di Desa Sukomulyo ................................

86

Gambar 63 Daerah yang di konservasi di Desa Mangunrejo ...............................

87

vi

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Matriks Analisa Pemangku Kepentingan .........................................

101

Lampiran 2. Model konsep awal ...........................................................................

104

Lampiran 3. Rencana peserta pelaksanaan diskusi kelompok fokus (FGD)..........

105

Lampiran 4. Pertanyaan untuk diskusi kelompok fokus ........................................

106

Lampiran 5. Pertanyaan Survey KAP ....................................................................

108

Lampiran 6. Distribusi kuesioner...........................................................................

117

Lampiran 7. Skema rencana kerja Kampanye Pride di Kawasan Hutan
Produksi-Lindung Potorono-Gunung Sumbing...............................

118

Lampiran 8. Ringkasan kegiatan kampanye yang telah dilakukan .......................

119

Lampiran 9: Ringkasan materi cetak kampanye yang telah diproduksi ...............

120

Lampiran 10. Rencana Monitoring dan Evaluasi Program....................................

121

Lampiran 11.Gambaran Desa Target Studi Kampanye Bangga ............................

124

Lampiran 12: Populasi dan gambaran umum masyarakat di desa target .............

125

Lampiran 13. Daftar pertanyaan panduan wawancara...........................................

126

vii

I. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Data Balai Pemantapan Kawasan Hutan Jawa-Madura tahun 2004
menunjukkan bahwa kawasan hutan Jawa seluas 3.289.131 hektar, berada dalam
kondisi rusak. Lahan kritis di dalam kawasan hutan Jawa yang memerlukan
rehabilitasi mencapai 1,714 juta hektar atau 56,7 persen dari luas seluruh hutan
yang ada. Kondisi tersebut diperparah dengan lahan kritis yang semakin luas di
luar kawasan hutan hingga mencapai 9,016 juta hektar. Total lahan memerlukan
rehabilitasi mencapai 10,731 juta hektar atau 84,16 persen dari luas seluruh
daratan Pulau Jawa. Effendi dalam Greenomics Indonesia (2006) telah
memperkirakan jika tren tersebut terus berlangsung selama dua tahun maka
sekitar 10,7 juta hektar DAS/Sub-DAS di Pulau Jawa akan terancam kualitas
fungsi ekologis secara serius. Kondisi Pulau Jawa saat ini telah mengalami
ancaman kekurangan air di 172 titik DAS/Sub DAS atau seluas 11,74 juta hektar
(BPKH 2007). Selanjutnya, kerusakan hutan Jawa tersebut berpotensi mendorong
kerugian ekonomi mencapai Rp136,5 triliun setiap tahun akibat terjadinya banjir,
tanah longsor serta kekeringan dalam skala besar (Effendi 2006).
Salah satu penyebab ketidakseimbangan lingkungan di Pulau Jawa adalah
perubahan status hutan alam menjadi hutan produksi yang terjadi sejak sekitar
tahun 1960-an. Penerapan sistem tebang habis serta konsep hutan monokultur
memberi kontribusi terbesar pada kerusakan keseimbangan ekologi. Perubahan
tersebut juga berakibat pada perubahan perilaku masyarakat yang berada di
wilayah hutan Kawasan Potorono-Gunung Sumbing.
Dalam

teori

perubahan

perilaku

terdapat

berbagai

faktor

yang

mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang mengambil keputusan untuk
merubah perilaku. Salah satunya berupa faktor informasi yang diterima. Namun
demikian, tidak selalu informasi merubah perilaku seseorang atau sekelompok
orang, tergantung dari tingkat kekuatan kontek informasi, faktor kelekatan serta
faktor agen pembawa informasi. Ciri perubahan perilaku sebagai dampak
peningkatan pemahaman adalah kesadaran individu.

2

Persoalan perilaku kehutanan dapat dilihat dari cara masyarakat atau
stakeholder memperlakukan hutan. Perlakuan seperti pengambilan satwa maupun
pemotongan kayu baik untuk kayu bakar maupun sebagai bahan bangunan,
menunjukkan ketidakpedulian pada pentingnya keberadaan sumberdaya hutan di
daerahnya. Lebih lanjut, hasil survei lapangan di Kawasan Potorono-Gunung
Sumbing menyatakan +70% wilayah hutan Potorono-Sumbing mengalami
perubahan

fungsi

menjadi

lahan

tanaman

lain

yang

dianggap

lebih

menguntungkan seperti tanaman pakan ternak dan tanaman semusim seperti ketela
pohon, jagung dan sejenisnya.
Budaya berhutan di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing mulai
ditinggalkan, berganti dengan budaya berladang dan tegalan. Masyarakat tidak
lagi memandang pentingnya keberadaan hutan sebagai bagian dari hidupya. Hal
tersebut menunjukkan bahwa rasa kepemilikan terhadap hutan semakin berkurang
akibat berkurangnya kelekatan nilai antara masyarakat dengan hutannya.
Kelekatan nilai diartikan sebagai ikatan batin atau kejiwaan antara masyarakat
dengan hutannya.
Kekuatan kelekatan nilai dapat dilihat di masyarakat Ammatoa Kajang di
Sulawesi. Sistem aturan nilai dan moral mengatur perilaku sosial dan hubungan
masyarakat setempat dengan hutan. Nilai kepercayaan Ammatoa menganjurkan
agar orang hidup secukupnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok harus
disertai usaha menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Hubungan masyarakat
dengan sumberdaya hutan diatur dalam tiga zona yaitu ‘zona larangan’ yang
melarang semua orang masuk hutan, ‘zona dalam’ yang membatasi orang hanya
dapat mengumpulkan hasil hutan pada waktu tertentu sesuai aturan adat serta
wilayah hutan yang terbuka bagi semua orang yang disebut ‘zona bebas’ (WALHI
2001).
Persoalan lingkungan hidup lebih banyak bersumber dari perilaku
manusia. Secara umum skema gerakan sosial yang berasal dari perubahan
individual dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini;

3

Faktor Internal
1.
2.
3.
4.

Pengetahuan
Nilai / Moral
Mobilitas
Jangka hidup
PERILAKU
INDIVIDU

DINAMIKA
SOSIAL

GERAKAN
SOSIAL

Faktor Eksternal
1. Kebijakan
2. Hubungan
sosial
3. Lingkungan
4. Teknologi
Gambar 1 Skema gerakan sosial (disarikan dari Pretty and Ward 2001)
Studi mengenai gejala sosial tentang perubahan perilaku masyarakat dan
gerakan sosial konservasi hutan belum banyak dijalankan. Jurnal ilmiah sosial
untuk perubahan perilaku yang telah diterbitkan lebih banyak menelaah perubahan
sosial mengenai kesehatan dan kriminalitas (Dagron 2001). Dengan demikian,
studi membangun gerakan sosial konservasi sumberdaya hutan dengan
pendekatan perubahan perilaku menjadi sangat penting sebagai sebuah solusi dari
persoalan kerusakan kehutanan Indonesia.
1. 2. Perumusan Masalah
Persoalan konservasi hutan sangat kompleks di Kawasan PotoronoGunung Sumbing. Hasil penelitian awal merujuk pada tiga persoalan yang
memiliki tingkat ancaman yang paling besar bagi kawasan. Ketiga faktor ancaman
konservasi tersebut adalah; tidak adanya reboisasi, alih pengelolaan lahan hutan
dan penebangan liar. Ketiga faktor ancaman tersebut merupakan hasil pemetaan
masalah yang melibatkan pemangku kepentingan (stakeholder) di lokasi
penelitian.
Perubahan perilaku yang terjadi apabila dijalankan secara kolektif akan
memunculkan aksi bersama yang di sebut gerakan sosial. Gerakan sosial dapat
diartikan sebagai reaksi terorganisir ataupun spontan masyarakat yang dijalankan

4

untuk mendukung atau melawan sebuah perubahan berhubungan dengan
fenomena sosial ataupun lingkungan. Sosiolog Amerika bernama Peter Burke
menyatakan ada dua tipe gerakan sosial yaitu; gerakan sosial untuk memulai
perubahan dan gerakan sosial yang dilakukan sebagai reaksi atas perubahan yang
terjadi (Burke 1998 dalam WALHI 2001).
Gerakan sosial konservasi dapat terjadi sebagai dampak dari peningkatan
pengetahuan masyarakat. Dengan demikian kampanye Pride yang dilakukan untuk
peningkatan pengetahuan konservasi mampu mendorong perubahan perilaku
konservasi masyarakat. Sehingga penelitian yang dilakukan harus mampu
menjawab beberapa pertanyaan berikut:
1. Bagaimana tingkatan perubahan perilaku hingga menjadi gerakan sosial
konservasi sumberdaya hutan?
2. Apakah faktor peningkatan pengetahuan merupakan salah satu pendorong
peningkatan kesadaran kolektif yang mempengaruhi terjadinya gerakan
sosial untuk konservasi sumberdaya hutan? Adakah faktor yang lain?
1.3 Kerangka Pemikiran
1.3.1. Proses Gerakan Sosial Konservasi
Gerakan sosial untuk konservasi dimulai dari perubahan perilaku individu
dengan melibatkan beberapa langkah. Setiap pola sosial dalam segala bentuk
berhubungan dengan kekuatan (power). Disetiap kondisi, orang akan merasa
lemah untuk mengatasi persoalan besar sendirian. Berbeda ketika individu
tersebut tergabung dalam sebuah kelompok atau massa (Loury 2008).
Dengan demikian persoalan gerakan sosial diduga dapat berasal dari
peningkatan kapasitas sekelompok orang sehingga muncul sebuah kesamaan
tingkat pemikiran terhadap tantangan yang ada. Gerakan sosial seperti juga
dengan perubahan sosial, mendasarkan pada gerakan kolektif, tidak mungkin di
lakukan oleh individu atau perorangan. Pendekatan perorangan dibutuhkan
sebagai agen inovator yang akan mendorong dan mempengaruhi orang-orang lain
disekitarnya.
Perubahan perilaku individu dalam konservasi sama artinya dengan
menggabungkan pengetahuan sosial dengan perubahan lingkungan hidup. Kondisi
lingkungan hidup akan dipandang secara berbeda antar individu, tergantung dari

5

tingkat perhatian individu dalam menyerap perubahan lingkungan sekitarnya. Hal
tersebut tergantung dari pembelajaran dan cara analisis individu dan kelompok
terhadap perubahan lingkungannya. Pembelajaran yang diperoleh dalam bentuk
informasi selanjutnya akan menjadi panduan mengatasi masalah-masalah
lingkungan hidup.
Proses selanjutnya adalah adopsi oleh kelompok-kelompok dalam
tingkatan penangkapan perubahan yang berbeda (tingkat innovator, early adopter,
early majority, late majority dan lagart). Adopsi merupakan proses perluasan
perubahan disebut sebagai difusi dalam segmen-segmen kelompok sosial atau
masyarakat. Gerakan sosial tidak terjadi secara bersamaan seiring dengan
perubahan perilaku. Gerakan sosial terjadi sebagai dampak komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) baik yang terjadi didalam kelompok
masyarakat ataupun antar kelompok masyarakat.
Komunikasi antar-pribadi menjadi penghubung terjadinya keputusan
kolektif dalam kelompok sosial atau masyarakat. Keputusan yang diambil dapat
bersifat positif tetapi dapat bersifat negatif untuk persoalan lingkungan hidup.
Keputusan kolektif positif dicirikan dengan kepedulian dan kesadaran dari
kelompok sosial atau masyarakat. Sedangkan keputusan kolektif bersifat negatif
dicirikan dengan ketidakpedulian dan sikap acuh terhadap persoalan lingkungan
hidup yang melingkupi kelompok sosial atau masyarakat.
1.3.2. Gerakan Sosial Konservasi di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing
Menilai sebuah persoalan sosial dapat dilakukan dengan beberapa jalan.
Pada umumnya penelitian sosial tidak dapat menilai secara spesifik hasilnya.
Studi-studi sosial umumnya menggunakan pendekatan-pendekatan dengan
indikator tertentu sebagai alat analisa sosial (Siegel 1985). Faktor persoalan
perilaku kehutanan di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing ditandai dengan
perubahan perilaku masyarakat berupa persoalan reboisasi, penebangan liar serta
alih pengelolaan lahan hutan. Perubahan tersebut terjadi sebagai dampak dari
inovasi sosial dengan kampanye Pride termasuk keberadaan kegiatan perubah
perilaku yang lain.
Kampanye Pride merupakan kegiatan sosial yang bertujuan untuk
mempengaruhi perubahan perilaku, kepedulian dan aksi konservasi di sebuah

6

target masyarakat. Kampanye Pride mampu bekerja di segala kondisi masyarakat.
Kampanye Pride efektif untuk menjangkau dan mempengaruhi target masyarakat
yang memiliki jumlah populasi di bawah 200.000 orang. Dengan demikian
pelaksanaan kampanye Pride mampu untuk mempengaruhi terjadinya gerakan
sosial untuk konservasi termasuk mengatasi ancaman-ancaman konservasi di
Kawasan Potorono-Gunung Sumbing.
Kerangka pemikirian penelitian dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini.

7

Lesson learned
Lingkungan
INNOVASI SOSIAL/
KAMPANYE PRIDE
1. Study literature dan
Review kawasan
2. Perencanaan Kegiatan
3. Penyusunan media
kampanye partisipatif
4. Aplikasi kampanye
5. Monitoring dan
evaluasi

Adopsi Pengetahuan

Segmen
Innovator

Komunikasi Interpersonal

Early Adopter
Early Majority
Late Majority

Kesadaran Kolektif

Persoalan Sosial

Lagart

STUDI PERUBAHAN
PERILAKU
KONSERVASI

Perubahan Perilaku Kolektif
INDIKATOR SOSIAL
PERUBAHAN KOLEKTIF
PERILAKU KONSERVASI

PERSOALAN
KEHUTANAN
1. Penebangan kayu
untuk kayu bakar
2. Alih fungsi lahan hutan
3. Kurangnya reboisasi

PERILAKU KOLEKTIF

GERAKAN SOSIAL
KONSERVASI
Gambar 2 Skema Kerangka Pikir Penelitian

1.Knowledge (Afeksi)
2. Attitude (Kognitif)
3. Practice
(Psikomotoris)

INDIKATOR
TEKNIS
Gerakan
Reboisasi
Berkurangnya
Penebangan Liar
Berkurangnya
Alih Fungsi
Lahan

8

1.4 Tujuan Penelitian

Studi yang dilakukan bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengaruh kampanye Pride dalam perubahan perilaku
konservasi masyarakat di kawasan hutan Potorono-Gunung Sumbing.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan
perilaku konservasi
3. Mengetahui hubungan perubahan perilaku terhadap gerakan sosial
konservasi masyarakat.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dijalankan merupakan studi sosial-ekologi. Penelitian
dilakukan untuk mencari cara atau pendekatan sosial untuk mengatasi persoalan
kerusakan kehutanan Jawa dan dapat diaplikasikan di tempat lain. Penelitian yang
dilakukan diharapkan memberi kemanfaatan sebagai berikut:
1. Pendekatan sosial untuk mengatasi persoalan kehutanan di Jawa
Persoalan kehutanan di Jawa lebih banyak disebabkan oleh persoalan
sosial. Sangat penting mendorong perubahan perilaku banyak orang untuk
berperan dalam konservasi sumberdaya hutan.
2. Pengembangan studi sosial-ekologi dalam konservasi sumberdaya hutan
Hubungan kerusakan ekologi tidak dapat terlepas dari persoalan sosial.
Dengan demikian studi diharapkan mampu memberi kontribusi hubungan
studi sosial untuk memecahkan persoalan ekologi di dalam pengelolaan
sumberdaya hutan.
3. Pengembangan konsep membangun gerakan sosial untuk konservasi yang
mampu diterapkan di daerah lain
Membangun

konstituen

yang

terdiri

dari

banyak

kepentingan

merupakan kendala yang sangat sulit untuk diselesaikan. Studi tentang
gerakan sosial konservasi dengan melibatkan berbagai pihak menjadi sangat
penting untuk mengatasi jarak antar kepentingan dalam pengelolaan
sumberdaya hutan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerusakan Hutan dan Perubahan Perilaku
Pengelolaan hutan oleh konsesi, korporasi maupun perorangan dengan tujuan
menghasilkan kayu, menyebabkan kepunahan keanekaragaman hayati, konflik satwa,
rawan pangan, kekeringan dan perubahan iklim baik mikro maupun makro. Lebih
lanjut, deforestasi di Indonesia juga berdampak pada konflik kepentingan dan
kehancuran masyarakat adat, pergeseran sistem nilai, kesenjangan sosial serta
penurunan derajat hidup masyarakat (Lahajir 2001, Kartodihardjo dan Jhamtani
2005). Hal tersebut diperburuk dengan orientasi jangka pendek masyarakat dengan
pemanenan kayu di hutan rakyat tanpa didasari manajemen yang baik (Awang et al
2005).
Kerusakan hutan serta kerusakan lingkungan hidup lebih banyak disebabkan
oleh perilaku manusia (Simpson dan Craft 1996). Di beberapa kasus, perilaku
manusia tersebut didasari pada motivasi kepentingan penguasaan. Kartodiharjo dan
Jhamtani (2005) menyatakan Indonesia mengalami kerugian sebesar US$ 30,6 Miliar
atau senilai Rp 288 Triliun per tahun akibat eksploitasi dan perdagangan pasir laut,
bahan bakar minyak, kayu, kekayaan laut maupun perdagangan satwa langka.
Pengusahaan hutan dengan skala industri menyebabkan kerusakan lingkungan
yang serius (Kartodiharjo dan Jhamtani 2005). Kerusakan hutan juga diperparah
dengan perubahan orientasi global akibat tekanan pasar. Orientasi tersebut dilakukan
untuk pemenuhan bahan mentah pasar internasional sebagai agenda sepanjang tahun,
meskipun penyediaan bahan mentah sangat riskan nilai ekonomi (Hefner 1998).
Dampak perubahan orientasi tersebut salah satunya berupa penguatan perusahaanperusahaan perkebunan monokultur sejenis karet, jati, kakao dan kelapa sawit
(Kartodihardjo dan Jhamtani 2005).
Penggusuran hutan wilayah adat, sistem monokultur pengusahaan hutan dan
tekanan kebijakan mengakibatkan pola, sruktur dan norma sosial masyarakat berubah.
Perubahan tersebut disebut sebagai perubahan sosial masyarakat. Perubahan sosial

10

tersebut merupakan bentuk adaptasi manusia terhadap lingkungan ekologinya
(Salmon et al 2006; Kartodiharjo dan Jhamtani 2005; Sarwono 2002; Primacks et al
1998).
Sejarah konservasi telah dimunculkan di Pulau Jawa sejak tahun 1893 – 1914
oleh DR.S.H.Koorders. Kegiatan konservasi tersebut dimulai dari perkumpulan Tot
Natuurbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda) dan bekerja
sama dengan ahli botani bernama Th Valeton menerbitkan 13 jilid buku ”Bijdragen
tot de kennis der boomsoorten van Java” berisi inventaris jenis pohon Pulau Jawa.
Pada tahun 1913, perkumpulan tersebut mengajukan usulan 12 lokasi sebagai cagar
alam yang berlokasi di Banten, Pulau Krakatau, Kawah Papandayan, Ujung Kulon,
Bromo, Nusa Barung, Alas Purwo Blambangan dan Kawah Ijen (Dephut 1986 dalam
Kartodiharjo dan Jhamtani 2005).
Pendekatan konservasi sejenis cagar alam, hutan lindung, suaka margasatwa,
taman nasional serta kebun binatang, kebun raya dan penangkaran belum sepenuhnya
menyelesaikan persoalan konservasi. Persoalan sehubungan kerusakan hutan adalah
perilaku terhadap sumberdaya hutan. Gambaran skematis IUCN (2003) mengenai
hubungan antara manusia dan lingkungannya saat ini adalah;

EKOLOGI

EKONOMI

SOSIAL

Gambar 3 Skema hubungan manusia dan lingkungan saat ini
Perubahan perilaku secara umum merupakan mekanisme alamiah setiap
makhluk hidup. Perubahan perilaku manusia dapat disebut sebagai bentuk adaptasi

11

yang paling sukses dari segala jenis makhluk hidup yang ada di bumi. Pola perubahan
perilaku manusia mengikuti hukum yang lebih kompleks daripada sekedar
kemampuan adaptasi makhluk hidup umumnya. Hal tersebut disebabkan faktor
genetik manusia untuk analisa dan berpikir yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup
yang lain, sehingga dalam waktu singkat dapat terjadi perubahan perilaku sebagai
bentuk respon terhadap rangsangan dengan dukungan kemampuan mobilitasnya
(Sarwono 2002). Kemampuan fisik manusia tersebut akhirnya menjadikan manusia
sebagai pusat segala perubahan ekologi, keseimbangan ekosistem dan kepunahan
spesies lain. Perubahan umum lingkungan terutama diakibatkan oleh pertumbuhan
jumlah penduduk dan perkembangan teknologi (Primack et al. 1998).
2.2 Pemasaran Sosial dan Perubahan Perilaku Konservasi
Pendekatan perubahan sosial untuk konservasi berasal dari ide memasarkan
produk-produk komersial dengan mempengaruhi perilaku konsumen untuk membeli
dan memakai produk yang ditawarkan, misalnya; dalam perubahan perilaku
masyarakat agar mau mengkonsumsi sebuah produk barang atau jasa, maka
penyebaran informasi tentang barang atau jasa tersebut dilakukan dengan tujuan
untuk memasarkan produk (komersial). Saluran yang dipakai dalam pengiklanan
agar masyarakat merubah perilaku agar mau memakai, mengkonsumsi dan membeli
barang atau jasa tersebut, dilakukan lewat iklan televisi, radio maupun media massa
lainnya, termasuk kegiatan pengiklanan dan penginformasian dalam bentuk seperti
konser musik, olah raga atau sejenisnya.
Terminologi pendekatan pemasaran sosial (sosial marketing) bertujuan
mempengaruhi target masyarakat untuk menukarkan perilaku lama dengan perilaku
baru atau secara sukarela menerima, menolak, menanggalkan atau mengubah suatu
sikap dan perilaku bagi kemajuan dan perbaikan kualitas hidup individu, kelompok
dan keseluruhan masyarakat (Kotler et al. 2002). Dalam pemasaran sosial digunakan
berbagai macam media atau alat sebagai saluran komunikasi. Saluran komunikasi
diartikan sebagai sarana untuk menyalurkan informasi atau pesan-pesan kepada orang
lain. Saluran komunikasi yang digunakan dapat berupa media massa seperti televisi,

12

radio, festival kesenian atau sejenisnya, dapat pula berupa saluran antar-pribadi
seperti lembar berita, buku saku, suvenir atau sejenisnya. Seperti halnya dengan
pemasaran di bidang perdagangan, pemasaran sosial juga merupakan metode untuk
mempengaruhi perubahan perilaku sehingga individu atau kelompok sosial
mengadopsi atau “membeli” produk yang ditawarkan. Kampanye Pride merupakan
kegiatan yang “menjual” produk konservasi sehingga target masyarakat merubah
pilihan untuk konsumsi perilaku konservasinya. Prinsip pemasaran sosial di lingkup
konservasi adalah terjadinya transaksi sosial sehingga seseorang atau sekelompok
orang merubah pemikiran untuk peduli dan ikut berandil dalam kegiatan-kegiatan
konservasi di daerahnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemasaran sosial
mensyaratkan adanya; product atau produk yang berupa barang atau jasa yang
ditawarkan, pricing

atau harga dari barang atau jasa, place atau tempat yang

merupakan lokasi atau saluran distribusi barang atau jasa, promotion atau promosi
atau periklanan dari barang atau jasa yang ditawarkan. Perbedaan yang
melatarbelakangi sosial marketing dengan marketing perusahaan komersial antara
lain;
1. Modal dalam sosial marketing berasal dari swadaya masyarakat sedangkan
marketing komersial modal berasal dari perseorangan atau perusahaan.
2. Orientasi keuntungan pada sosial marketing ditujukan untuk kepentingan
peningkatan kualitas hidup masyarakat sedangkan marketing komersial
berorientasi pada keuntungan untuk perusahaan.
3. Sosial marketing mensyaratkan peran masyarakat secara utuh sedang dalam
marketing komersial dominansi perusahaan lebih penting.
Sosial marketing merupakan rangkaian strategi yang ditujukan untuk
perubahan sosial. Perubahan sosial menurut Robinson (2006) membutuhkan beberapa
persyaratan, yaitu;
1.

Pemahaman keinginan umum dan kondisi lingkungan yang hendak dicapai.
Pemahaman persoalan konservasi di masyarakat merupakan kerja kombinasi

untuk menjawab persoalan nyata keinginan (aspirasi) orang kebanyakan dengan hal
yang sebaiknya dilakukan. Mengesampingkan persoalan nyata hidup akan menjadi

13

sebuah kesalahan fatal, seperti yang terjadi dengan proyek-proyek pembangunan pada
umumnya. Dengan demikian sangat penting memahami tawaran perubahan perilaku
yang di citakan dengan pandangan umum masyarakat. Hubungan keinginan umum
dengan kondisi lingkungan yang hendak dicapai digambarkan dalam tabel 1 berikut;
Tabel 1 Ilustrasi tawaran perilaku konservasi dan keinginan umum
Tawaran konservasi

Keinginan Umum

Menanam pohon

Hasil kayu

Kompos sampah rumah tangga

Hasil produksi pertanian melimpah

Perlindungan satwa di hutan

Keberagaman sumber pangan

Perlindungan mata air

Memiliki air yang mencukupi kebutuhan

Lingkungan bersih

Hidup sehat

Lain-lain

Lain-lain

2. Informasi masuk akal beberapa waktu ke depan.
Pemikiran yang tertata dengan prediksi kejadian kedepan dalam bentuk
informasi memiliki pengaruh sangat kuat. Namun informasi sendiri memiliki sifat
dingin, rasional dan kadang pesimis. Informasi kedepan (beyond information)
dijalankan oleh banyak organisasi, namun jika mengalami penolakan di tingkat
masyarakat, maka informasi tersebut menjadi tidak berdaya guna. Meskipun
demikian, akan terjadi komunikasi interpersonal kedalam lewat early adopter.
Kelompok early adopter merupakan kelompok yang sangat memahami persoalan
yang sedang dihadapi, konsekuensi dari persoalan hingga solusi dan perhitungan
untung - rugi perubahan.
3. Perubahan individual kemungkinan hanya illusi
Kasus dalam pendidikan umum yang dijalankan terdapat pengertian umum
bahwa setiap individu siswa telah diberi treatment layaknya individu yang ‘rasional
dalam kegunaan penuh’. Pada kenyataannya, perubahan sosial merupakan proses
yang kolektif bukan individual., Keberadaan tokoh-tokoh dalam realita di masyarakat
merupakan aspek dari kolektivitas. Termasuk adanya inovator yang akan mendorong
dan mempengaruhi early adopter.

14

4. Adanya perbedaan tingkat rasionalitas
Perubahan perilaku menurut pada hukum ‘semua orang tidak sama’.
Pengertian dari perbedaan rasionalitas adalah bahwa setiap orang memiliki tingkat
berubah dan adopsi perilaku yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat
digolongkan dalam kriteria sebagai berikut;

Gambar 4 Kurva tingkatan adopsi

Innovator /Perintis (2,5%) – Idealis, pembuka jalan, komitment, imajinatif, enerjik
dan memiliki kemampuan merubah program.
Early adopters /Pelopor (13,5%) – Terbuka pada perubahan, memiliki visi,
imajinatif, penuh strategi, cepat membuat hubungan antara inovasi dan visi yang
ingin dicapai, berkeinginan hasil cepat, siap berkorban dan menerima resiko,
memiliki moivasi pribadi yang kuat.
Early majority/ Penganut Dini (34%) – pragmatis, menyukai ide-ide tentang
lingkungan tapi memerlukan bukti nyata dan keuntungan yang didapatkan,
terpengaruh oleh individu pragmatis lain, memiliki keinginan untuk membuktikan
dengan lebih baik dari kebiasaan yang telah dijalankan, memiliki keinginan solusi
sederhana dengan keberlanjutan kecil, selalu mencari sistem yang mendukung
termasuk partner, bukan type penanggung resiko yang baik, tipe yang lebih
mementingkan ‘merk’.
Late majority / Penganut lambat (34%)– conservatif pragmatis, gampang mengikuti
arus dan menguatkan standar aturan, tidak suka resiko tetapi tidak mau ketinggalan,
tidak begitu menyukai ide-ide tentang lingkungan hidup.

15

Sceptics – “laggart” / Kolot (16%) selalu menentang ide tentang perbaikan
lingkungan hidup. Kelompok tersebut menginginkan agar idenya ditanggapi secara
serius serta identifikasi persoalan nyata mereka diselesaikan sebelum kelompok
kebanyakan menjalankan perubahan.
2.3 Kampanye Pride di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing
Dari hasil tinjauan awal kondisi di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing,
masyarakat sudah berada di tahapan persiapan, yang menurut Young et al. 2002,
memiliki ciri-ciri:
1. Menerima hal – hal yang bersifat baru
2. Menganalisa inovasi dan perkembangan peradaban.
3. Membandingkan hal-hal baru dengan kondisi serupa di tempat lain.
Selanjutnya, Kotler et al. 2002 dan Young et al. 2007 menyatakan tingkatan
perubahan perilaku manusia meliputi:
− Prekontemplasi atau pra perenungan adalah tingkat niat orang dalam merubah
perilaku dan umumnya menolak bahwa dirinya memiliki masalah dengan
perilakunya.
− Fase kontemplasi atau perenungan dicirikan kesadaran bahwa ada sebuah masalah
dan mulai memikirkan secara secara serius untuk memecahkannya.
− Fase preparasi atau persiapan, dicirikan dengan penyusunan perencanaan dan
praduga sementara yang ditujukan untuk mengambil tindakan dalam beberapa
waktu kedepan. Pada fase aksi dicirikan dengan perilaku orang yang melakukan
tindakan berhubungan perubahan perilaku yang telah direncanakan.
− Fase pengelolaan dicirikan dengan kompromi secara individu terhadap fase yang
telah maupun akan ditempuh.
− Fase terminasi merupakan fase pengelolaan dimana orang telah menetapkan
perilaku yang dipilih sebagai sebuah keharusan untuk dijalani.
Dengan demikian kampanye Pride yang berorientasi pada perubahan perilaku
harus mampu mengakomodir perubahan perilaku konservasi di masyarakat Potorono-

16

Gunung Sumbing. Proses kampanye Pride dilakukan melalui proses seperti pada
gambar 5 berikut:
Review
Kawasan dan
Studi
Literatur

Penyusunan
Laporan

Pemetaan
Stakeholder

Analisa
Hasil

Diskusi
Stakeholder
Kelompok
Fokus,
Workshop
Penyusunan
Survei Pra Kampanye rencana
kerja

Survei
Paska Kampanye,
Monitoring&
Evaluasi

1 Tahun Kampanye

Gambar 5 Skema proses kegiatan kampanye Pride
Kampanye Pride merupakan bentuk dari pemasaran sosial, dan dalam
pelaksanaannya menggunakan alat-alat, media saluran informasi dan strategi
berhubungan dengan konservasi. Segala bentuk cara dipakai dengan menyesuaikan
kondisi sosial, budaya dan geografi kelompok target. Dengan demikian sebelum
dilaksanakan kampanye terlebih dulu dilakukan penelitian awal (formative research)
untuk

memahami kondisi masyarakat target. Kampanye Pride dijalankan secara

paralel maupun berseri di dalam masyarakat dan dari luar masyarakat. Dengan
demikian keterlibatan masyarakat menjadi syarat mutlak dalam aksi kampanye yang
dijalankan.
Alat, media atau strategi untuk menyebarluaskan informasi konservasi dalam
kampanye Pride di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing diwujudkan dalam bentuk
buku saku, kunjungan sekolah, penjangkauan kelompok ibu-ibu maupun pelatihanpelatihan serta didukung dengan alat-alat promosi seperti poster, leaflet dan billboard.
Penyusunan alat, me

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3198 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 805 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 716 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 466 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

54 1065 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

55 972 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 853 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1060 23