- 2012_2017 BAB III

(1)

BAB III

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

Dalam upaya reformasi pengelolaan keuangan daerah, Pemerintah telah menerbitkan paket peraturan perundang – undangan bidang pengelolaan keuangan daerah sebagai landasan utama kebijakan pengelolaan keuangan daerah yaitu : 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara; 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan Nasional; 4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;

6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom;

8. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;

9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Hal ini juga ditandai dengan dikeluarkannya paket peraturan perundangan di bidang keuangan daerah, beserta peraturan-peraturan penjabarannya yang mengalami revisi dan penyempurnaan. Beberapa peraturan terkait implementasi keuangan Kabupaten Aceh Tamiang yang telah dikeluarkan adalah Qanun Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah serta Qanun Nomor 5 Tahun 2008 tentang Pembentukan Struktur Organisasi Lembaga Teknis Daerah di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Tamiang.


(2)

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam pengelolaan keuangan daerah, menggunakan Sistem Informasi Manajemen Keuangan Daerah (SIMDA) Online sejak tahun 2010 sampai sekarang. Dan terhitung mulai tahun 2012 telah memperluas jaringan sampai di 12 (dua belas) Kecamatan. Hal ini sesuai dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas anggaran, sejak perencanaan hingga pelaksanaan anggaran dan kegiatan.

3.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU

3.1.1. Kinerja Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK)

Pendapatan Kabupaten Aceh Tamiang selama tahun 2007-2011 mengalami kenaikan rata-rata sebesar 8,44 persen. Peningkatan pendapatan Kabupaten Aceh Tamiang periode 2007-2011 seiring dengan peningkatan pendapatan yang diperoleh dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah. Sedangkan dilihat dari struktur pendapatan APBK selama 5 tahun, kontribusi terbesar dalam pembentukan pendapatan APBK, bersumber dari dana perimbangan. Kontribusi dana perimbangan dalam pendapatan pada APBK Aceh Tamiang selama 5 tahun rata-rata sebesar 84,28 persen. Proporsi dana perimbangan paling tinggi terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 94,16 persen, selanjutnya di tahun berikutnya mengalami penurunan, dan sampai tahun 2011 proporsi dana perimbangan sebesar 80,39 persen. Penurunan proporsi dana perimbangan tersebut lebih disebabkan karena kenaikan dari sumber pendapatan daerah lain-lain yang khususnya dari Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus serta Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya. Struktur Pendapatan APBK Aceh Tamiang selama 5 tahun terlihat pada Gambar 3.1 berikut ini :


(3)

Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran, data diolah.

Gambar 3.1

Struktur Pendapatan APBK Aceh Tamiang Tahun 2007-2011

Pendapatan Daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah proporsinya pada tahun 2007 sebesar 4,09 persen, tahun 2008 turun menjadi sebesar 2,67 persen, tahun 2009 turun menjadi 2,43 persen, tahun 2010 naik menjadi 4,62 persen, tahun 2011 turun menjadi 2,80 persen. Selain berasal dari dana perimbangan dan pendapatan asli daerah, Pendapatan Daerah juga didapat dari Lain-lain Pendapatan yang Sah, yang mengalami perkembangan berfluktuasi. Dalam 5 tahun terakhir rata-rata kenaikan sebesar 12,40 persen per tahun.

Kondisi pendapatan berdasarkan data APBK dilihat dari realisasi selama 5 tahun terakhir kecenderungannya berfluktuasi, pada tahun 2007 hingga 2008 mengalami peningkatan, tahun 2009 mengalami penurunan dan tahun 2010 hingga 2011 mengalami peningkatan sebagaimana tertera dalam tabel berikut ini :


(4)

Tabel 3.1

Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun 2007-2011

Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran (LRA)

No. Uraian Tahun 2007

(Rp)

Tahun 2008 (Rp)

Tahun 2009 (Rp)

Tahun 2010 (Rp)

Tahun 2011 (Rp)

Rata-rata Pertumbuhan

(%)

1 PENDAPATAN 391.623.530.877 443.410.269.839 414.878.923.523 450.412.643.698 533.310.656.064 8,44

1.1. Pendapatan Asli Daerah 15.999.885.399 11.823.982.877 10.080.171.997 20.813.147.511 14.923.079.308 9,33

1.1.1. Pajak daerah 247.885.399 2.065.880.524 2.258.313.237 2.647.819.584 4.477.970.900 207,27

1.1.2. Retribusi daerah 3.516.151.966 3.720.302.131,47 3.883.138.240 4.709.004.901 4.955.305.565 9,17

1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan

daerah yang dipisahkan 253.979.342 319.100.612 923.021.732,33 1.934.800.621 1.563.156.663 76,33

1.1.4. Lain-lain PAD yang sah 11.982.405.586 5.718.699.609 3.015.698.787 11.521.522.405 2.269.626.556 25,55

1.1.5 Penerimaan Zakat - - - - 1.657.019.624

1.2. Dana Perimbangan 304.997.280.925 383.228.953.581 390,657,047,666 371.751.679.934 428.714.998.990 9,52

1.2.1. Dana bagi hasil pajak /bagi

hasil bukan pajak 79.862.350.933 102.697.549.581 85.421.617.666 92.108.034.934 90.569.444.131 4,48

1.2.2. Dana alokasi umum 213.427.999.992 237.708.404.000 259.596.087.000 244.270.545.000 304.629.954.859 9,85

1.2.3. Dana alokasi khusus 11.706.930.000 42.823.000.000 45.639.343.000 35.373.100.000 33.515.600.000 61,16

1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah

yang Sah 70.626.364.553 48.357.333.380 14.141.712.859 57.847.816.253 89.672.577.766 65,45

1.3.1 Hibah 50.000.000 20.000.000 - - -

1.3.2 Dana darurat 55.000.000.000 123.529.048 - - -

1.3.3

Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah Daerah lainnya **)

2.446.868.189 10.665.604.075 4.364.022.823 12.803.053.703 10.769.745.301 113,58

1.3.4 Dana penyesuaian dan otonomi

khusus***) - 1.315.711.800 2.464.676.000 44.783.938.400 78.863.745.280 626,82

1.3.5

Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya

748.279.342 252.899.457,67 - - -

1.3.6 Dana Pendidikan dari Provinsi 12.381.217.022 15.999.589.000 - - -


(5)

Pembangunan Kabupaten Aceh Tamiang tergantung dari APBK yang akan disusun dan dilaksanakan selama 5 tahun ke depan. Dari struktur anggaran, dimana pada bagian pendapatan memiliki korelasi dengan pengelolaan pendapatan asli daerah serta kekayaan daerah yang dimiliki, maka pendapatan asli daerah menjadi tolok ukur kemandirian suatu daerah. Berdasarkan analisis data kontribusi PAD Kabupaten Aceh Tamiang selama 5 tahun, hanya memberikan kontribusi rata-rata 3,32 persen sehingga dapat disimpulkan bahwa pendapatan daerah Kabupaten Aceh Tamiang masih sangat bergantung dari transfer Pemerintah Pusat.

Penggalian sumber pendanaan dari daerah, pemanfaatan sumber-sumber pendapatan daerah perlu ditingkatkan, agar ketergantungan terhadap pemerintahan pusat lambat laun dapat dikurangi. Untuk itu perlu adanya terobosan-terobosan dalam meningkatkan pendapatan asli daerah. Melalui peningkatan sektor yang bisa menjadi penyumbang peningkatan PAD antara lain berasal dari Pajak daerah, retribusi, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Khusus PAD yang bersumber dari lain-lain pendapatan asli daerah yang sah karena berasal dari jasa giro dan sumbangan pihak ketiga maka tidak dapat dijadikan sebagai potensi PAD yang dapat digali.

Tingginya pertumbuhan pajak daerah pada tahun 2011, dibandingkan tahun 2010 disebabkan komponen bagi hasil pajak untuk PBB dan BPHTB yang semula merupakan dana perimbangan dari Pemerintah Pusat menjadi Pendapatan Asli Daerah. Peningkatan pajak daerah digali dari pajak pajak penerangan jalan umum, pajak mineral bukan logam dan batuan serta pajak reklame papan/bill board. Proyeksi pajak pada tahun 2013 mengalami pertumbuhan sekitar 8,57 persen, rata-rata pertumbuhan pajak daerah tahun 2013 sampai dengan 2017 diperkirakan 8,57 persen.

Secara umum peningkatan pendapatan pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 diproyeksikan akan terjadi peningkatan rata-rata sebesar 8,57 persen per tahun. Dalam menghitung proyeksi pendapatan asumsi yang digunakan antara


(6)

lain pertumbuhan ekonomi dalam periode 2013-2017 diasumsikan mengikuti pertumbuhan ekonomi nasional.

3.1.2. Neraca Daerah

Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas (Perusahaan, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) yang meliputi aset, kewajiban dan ekuitas dana pada suatu saat tertentu. Laporan Neraca Daerah akan memberikan informasi penting kepada manajemen pemerintah daerah, pihak legislatif daerah maupun para kreditur/pemberi pinjaman kepada daerah serta masyarakat luas lainnya tentang posisi atau keadaan kekayaan atau aset daerah dan kewajibannya serta ekuitas dana pada tanggal tertentu. Elemen utama Neraca Pemerintah Daerah meliputi aset, kewajiban dan ekuitas dana. Pengertian dari masing-masing elemen utama neraca sebagai berikut:

a. Aset

Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah daerah yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi pemerintah daerah maupun masyarakat sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, serta dapat diukur dalam satuan moneter. Aset terdiri dari (i) aset lancar, (ii) investasi jangka panjang, (iii) aset tetap,dan(iv) aset lainnya. Pada tahun 2011 Aceh Tamiang memiliki asset Rp. 860.704.734.884,07. Pertumbuhan aset selama 2009-2011 tercatat 18,01 persen per tahun, dan yang terbesar nilainya adalah aset tetap.

Aset lancar meliputi kas dan setara kas, investasi jangka pendek, piutang, dan persediaan yang diharapkan dapat dicairkan menjadi kas dijual atau dipakai habis dalam 1 (satu) periode akuntansi. Aset lancar untuk Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2011 mencapai angka Rp. 29.910.054.541,46 yang mana angka ini meningkat sebesar Rp. 5.998.826.900,85 dari tahun 2010. Rata-rata peningkatan sebesar 68,73 persen per tahun. Peningkatan aset lancar dapat disebabkan oleh meningkatnya kas di kas daerah sebesar Rp.6. 159.674.538,85 dan meningkatnya persediaan sebesar Rp. 180.436.128,00 meskipun terjadi penurunan pada kas di bendahara pengeluaran dan piutang daerah namun jumlahnya tidak signifikan.


(7)

Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Untuk Kabupaten Aceh Tamiang, investasi jangka panjang bertumbuh dengan rata-rata 8,13 persen per tahun. Pada Tahun 2009 , Investasi jangka panjang baru sebesar Rp. 13.081.382.870,00 namun pada Tahun 2011 mencapai Rp. 15.209.182.870,00. Investasi jangka panjang di Kabupaten Aceh Tamiang berupa penyertaan modal Pemerintah Daerah.

Aset Tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun anggaran yang digunakan dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Pada Tahun 2011, nilai aset tetap Kabupaten Aceh Tamiang mencapai Rp. 800.859.001.168,36. Nilai aset yang tertinggi adalah aset tetap berupa jalan, irigasi dan jaringan.

b. Kewajiban

Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggung jawab untuk bertindak di masa lalu. Kewajiban memberikan informasi tentang utang Pemerintah Daerah kepada pihak ketiga atau klaim pihak ketiga terhadap arus kas pemerintah daerah. Kewajiban dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.

Jumlah Kewajiban yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2011 adalah sebesar Rp. 6.133.859.434,00. Kewajiban jangka pendek, yang diharapkan harus diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah tanggal pelaporan mengalami perkembangan yang berfluktuasi dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 43,54 persen per tahun. Peningkatan utang jangka pendek ini didorong adanya peningkatan utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK). Di Kabupaten Aceh Tamiang kewajiban hanya terjadi dalam perhitungan kewajiban jangka pendek.


(8)

c. Ekuitas Dana

Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. Ekuitas Dana meliputi (i) Ekuitas Dana Lancar, (ii) Ekuitas Dana Investasi, (iii) Ekuitas Dana Cadangan. Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dan kewajiban jangka pendek. Ekuitas dana investasi merupakan selisih antara jumlah nilai investasi permanen, aset tetap dan aset lainnya (tidak termasuk Dana Cadangan) dengan jumlah nilai utang jangka panjang. Ekuitas dana cadangan merupakan kekayaan pemerintah daerah yang diinvestasikan dalam dana cadangan untuk tujuan tertentu di masa mendatang. Nilai ekuitas dana Kabupaten Aceh Tamiang mencapai Rp. 854.570.875.450,07. Jumlah Ekuitas dana yang terbesar adalah berupa ekuitas dana investasi.

Tabel 3.2

Rata-Rata Pertumbuhan Neraca Daerah Tahun 2009-2011

Uraian 2009 2010 2011 Pertumbuhan

dalam %

1 2 3 4 5

Aset Aset Lancar

Kas di kas Daerah 6.783.068.092,70 17.208.756.244,61 23.368.430.783,46 94,75 Kas di Bendahara Pengeluaran 2.346.857.672,00 2.730.248.591,00 2.395.489.669,00 2,04 Kas di Bendahara Penerimaan 157.406.429,00 1.400.000,00 0 -99,56 Piutang daerah 9.935.000,00 105.178.635,00 100.053.791,00 476,90 Persediaan 1.962.033.108,00 3.865.644.170,00 4.046.080.298,00 50,85 Jumlah Aset lancar 11.259.300.301,70 23.911.227.640,61 29.910.054.541,46 68,73

Investasi jangka panjang Investasi permanen

Penyertaan Modal Pemerintah

Daerah 13.081.382.870,00 15.209.182.870,00 15.209.182.870,00 8,13 Jumlah Investasi Jangka

Panjang 13.081.382.870,00 15.209.182.870,00 15.209.182.870,00 8,13

Aset Tetap

Tanah 83.190.318.877,00 68.985.235.403,00 73.215.897.411,00 -5,47 Peralatan dan Mesin 91.578.151.445,00 114.101.478.449,10 133.087.071.742,10 20,62


(9)

Uraian 2009 2010 2011 Pertumbuhan dalam %

1 2 3 4 5

Gedung dan Bangunan 229.518.147.247,00 180.760.366.209,00 194.456.718.863,00 -6,83 Jalan, Irigasi dan Jaringan 140.793.620.351,00 333.028.619.521,00 379.682.440.581,00 75,27 Aset Tetap Lainnya 3.782.909.092,00 7.959.270.417,26 8.235.214.407,26 56,93 Konstruksi dalam Pengerjaan 26.668.727.809,00 12.566.854.414,00 12.181.658.164,00 -27,97 Jumlah Aset Tetap 575.531.874.821,00 717.401.824.413,36 800.859.001.168,36 18,14 Aset Lainnya

Piutang TP/TGR 17.863.626.635,25 14.806.996.304,25 14.726.496.304,25 -8,83 Jumlah Aset Lainnya 17.863.626.635,25 14.806.996.304,25 14.726.496.304,25 -8,83 JUMLAH ASET 617.736.184.627,95 771.329.231.228,22 860.704.734.884,07 18,23 Kewajiban

Kewajiban Jangka Pendek

Utang Perhitungan Fihak Ketiga 3.630.646.762,00 7.422.054.515,00 6.133.859.434,00 43,54

Utang jangka Pendek Lainnya - -

Jumlah Kewajiban jangka

Pendek 3.630.646.762,00 7.422.054.515,00 6.133.859.434,00 43,54 JUMLAH KEWAJIBAN 3.630.646.762,00 7.422.054.515,00 6.133.859.434,00 43,54 Ekuitas Dana

Ekuitas Dana Lancar Sisa Lebih Pembiayaan

Anggaran (SILPA) 5.499.279.002,70 12.516.950.320,61 19.630.061.018,46 92,22 Pendapatan yang ditangguhkan 157.406.429,00 1.400.000,00 - -99,56 Cadangan Untuk Piutang 9.935.000,00 105.178.635,00 100.053.791,00 476,90 Cadangan Untuk Persediaan 1.962.033.108,00 3.865.644.170,00 4.046.080.298,00 50,85 Dana yang harus disediakan

untuk

pembayaran utang jangka

Pendek - - -

Jumlah Ekuitas Dana Lancar 7.628.653.539,70 16.489.173.125,61 23.776.195.107,46 80,17 Ekuitas Dana Investasi

Diinvestasikan dalam Investasi

Jangka Panjang 13.081.382.870,00 15.209.182.870,00 15.209.182.870,00 8,13 Diinvestasikan dalam Aset

Tetap 575.531.874.821,00 717.401.824.413,36 800.859.001.168,36 18,14 Diinvestasikan dalam Aset

Lainnya 17.863.626.635,25 14.806.996.304,25 14.726.496.304,25 -8,83 Jumlah Ekuitas Dana Investasi 606.476.884.326,25 747.418.003.587,61 830.794.680.342,61 17,20

JUMLAH EKUITAS DANA 614.105.537.865,95 763.907.176.713,22 854.570.875.450,07 18,13 JUMLAHKEWAJIBAN DAN

EKUITAS DANA 617.736.184.627,95 771.329.231.228,22 860.704.734.884,07 18,23 Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012


(10)

d. Rasio Likuiditas

Rasio Likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk neraca keuangan daerah, rasio likuiditas yang digunakan adalah Rasio Lancar (Current Ratio) dan Rasio Quick (Quick Ratio). Rasio Lancar adalah aset lancar dibagi dengan kewajiban jangka pendek, sedang Quick Ratio adalah aset lancar dikurangi persediaan dibagi dengan kewajiban jangka pendek.

Tabel 3.3

Rasio Likuiditas Tahun 2009-2011

No. Rasio Likuiditas 2009 2010 2011

1 Rasio Lancar 3.10 3.22 4.88

2 Rasio Quick 2.56 2.70 4.22

Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

Rasio Lancar digunakan untuk melihat kemampuan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dalam melunasi utang jangka pendeknya. Berdasarkan perhitungan, nilai rasio lancar Neraca Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2009 sebesar 3,10 tahun 2010 sebesar 3,22 dan tahun 2011 sebesar 4,88. Nilai yang diperoleh ini mengindikasikan bahwa Pemerintah dapat mencairkan aset lancarnya untuk membayar seluruh utang atau kewajiban jangka pendeknya. Perlu diperhatikan nilai rasio lancar yang semakin membesar dapat menunjukkan semakin bertambahnya kemampuan pemerintah daerah dalam melunasi kewajibannya. Jika ditelusuri penyebabnya adalah karena semakin bertambahnya jumlah aset lancar akibat semakin bertambahnya kas, namun di sisi lain utang jangka pendek meskipun sempat meningkat dari tahun 2009 ke 2010 akan tetapi kembali menurun tahun 2011 meskipun tidak terlalu signifikan.

Rasio Quick lebih akurat dibandingkan Rasio Lancar karena Rasio Quick telah mempertimbangkan persediaan dalam perhitungannya. Sebaiknya rasio ini tidak kurang dari 1 (satu). Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai Rasio Quick neraca


(11)

keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2009 sebesar 2,56, tahun 2010 sebesar 2,70 dan tahun 2011 sebesar 4,22. Nilai dari perhitungan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan aset lancar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang setelah dikurangi persediaan, mempunyai kemampuan yang cukup untuk melunasi kewajiban jangka pendeknya.

e. Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas adalah rasio untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Untuk neraca keuangan daerah, rasio Solvabilitas yang digunakan adalah rasio kewajiban terhadap aset dan rasio kewajiban terhadap ekuitas.

Tabel 3.4

Rasio Solvabilitas Tahun 2009-2011

No. Rasio Likuiditas 2009 2010 2011

1 Rasio Kewajiban

terhadap aset 0.005857 0.009622 0.007127

2 Rasio Kewajiban

terhadap ekuitas 0.475922 0.450117 0.257983 Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rasio kewajiban terhadap aset tahun 2009 sebesar 0,005857, tahun 2010 sebesar 0,009622 dan tahun 2011 sebesar 0.007127. Semakin kecil nilai rasio ini, maka semakin baik rasio kewajiban terhadap aset. Meskipun tahun 2010 sempat membesar akan tetapi 2011 semakin mengecil. Jika dilihat dari hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang selama tahun 2009-2011 cukup untuk membayar jika Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melakukan pinjaman kredit dan kemampuan membayar tersebut cenderung fluktuatif.

Rasio kewajiban terhadap equitas secara langsung membandingkan kewajiban dibagi dengan equitas. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai rasio tahun 2009 sebesar 0,475922, tahun 2010 sebesar 0,450117 dan tahun 2011 sebesar


(12)

0,257983. Semakin kecil nilai rasio ini, maka semakin baik rasio rasio kewajiban terhadap ekuitas karena menunjukkan kemampuan pemerintah daerah untuk membayar kewajibannya.

3.2. KEBIJAKAN PENGELOLAAN KEUANGAN MASA LALU

Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan rangkaian siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK), yang pelaksanaannya dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan/pemeriksaan sampai kepada pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBK yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

a. Pendapatan

a.1. Pendapatan Asli Daerah

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 6 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 pasal 22 ayat (1), ada 4 (empat) sumber Pendapatan Asli Daerah yang memegang peranan penting dalam pengelolaan keuangan daerah, yaitu : (i) Pajak Daerah; (ii) Retribusi Daerah; (iii) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan; dan (iv) Lain-lain PAD yang Sah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) mempunyai kontribusi yang tertinggi dalam Pendapatan Daerah di Kabupaten Aceh Tamiang pertumbuhan sebesar 207,27 persen per tahun, diikuti dengan Hasil Pengelolaan Keuangan Daerah yang Dipisahkan dengan pertumbuhan sebesar 76,33 persen per tahun, diikuti dengan Lain-lain PAD yang Sah dengan pertumbuhan sebesar 25,55 persen per tahun dan dari Retribusi Daerah dengan pertumbuhan sebesar 9,17 persen per tahun. Tabel target PAD dan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Tamiang periode 2007-2011 sebagai berikut :


(13)

Tabel 3.5

Persentase Realisasi Pendapatan Asli Daerah

Tahun Target PAD Realisasi PAD Persentase Realisasi PAD 2007 23,650,000,000 15,999,885,399 52.19

2008 20,682,000,016 11,823,982,877 25.08

2009 20,135,390,115 10,080,171,998 0.25

2010 21,838,101,139 20,813,147,512 95.08

2011 28,624,412,135 14,923,079,308 8.19 Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Aceh Tamiang yang tertinggi pada tahun 2010 yaitu sebesar Rp. 20.813.147.512,- atau sebesar 95,08 persen.

a.2. Dana Perimbangan

Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 telah dinyatakan bahwa Dana Perimbangan merupakan pendanaan daerah yang terdiri atas Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Proporsi dana perimbangan terhadap APBK relatif besar mencapai 84,14 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Aceh Tamiang dalam pendanaan daerah masih bergantung pada pemerintah pusat.

Untuk Dana Alokasi Khusus mempunyai rata-rata pertumbuhan yang cukup besar yaitu sebesar 61,16 persen per tahun dan kemudian diikuti dengan Dana Alokasi Umum dengan pertumbuhan sebesar 9,85 persen per tahun.

a.3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dalam pendapatan daerah Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari hibah, dana darurat, dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya, dana penyesuaian dan otonomi khusus, bantuan


(14)

keuangan dari provinsi atau pemerintah lainnya, dana pendidikan dari provinsi dan lain-lain. Kontribusi dana Lain-lain Pendapatan yang Sah terhadap pendapatan daerah Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 12,56 persen dengan realisasi terbesar pada tahun 2011 yaitu sebesar31,95 persen. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus memberikan kontribusi yang terbesar terhadap pendapatan daerah dari lain-lain pendapatan yang sah dengan pertumbuhan sebesar 65,45 persen per tahun.

Kebijakan pengelolaan keuangan yang dilakukan adalah dengan memprioritaskan pemenuhan belanja yang bersifat wajib dan mengikat serta berdasarkan skala prioritas yang memenuhi kriteria realistis, terukur, penting dan mendesak sehingga anggaran yang terbatas tersebut dapat berdampak langsung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran

Kebijakan pengelolaan keuangan pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang selama 2009-2011 menunjukkan proporsi rata-rata penggunaan anggaran belanja tidak langsung terhadap jumlah anggaran belanja sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai dengan proporsi rata-rata 46 persen, sedangkan proporsi rata-rata belanja langsung tersebar digunakan untuk belanja barang dan jasa sebesar 19 persen dan belanja modal sebesar 15 persen sedangkan untuk belanja pegawai hanya10 persen.


(15)

Tabel 3.6

Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja Kabupaten Aceh Tamiang

No Uraian 2009 2010 2011 Proporsi

rata-rata

Realisasi % Realisasi % Realisasi %

1 2 3 4 5 6 7 8

A Belanja Tidak Langsung 226,400,375,602 50.09% 258,372,329,396 59.05% 294,959,198,310 56.26% 55%

1 Belanja Pegawai 178,456,031,283 39.48% 219,579,002,590 50.18% 249,500,681,482 47.59% 46%

2 Belanja Bunga -

- -

- -

-

3 Belanja Subsidi -

- -

- -

-

4 Belanja Hibah 27,752,067,819 6.14% 29,064,615,606 6.64% 31,656,464,488 6.04% 6%

5 Belanja Bantuan Sosial 6,678,399,500 1.48% 4,639,660,700 1.06%

7,954,977,440 1.52% 1%

6 Belanja Bagi Hasil -

- - -

-

7 Belanja bantuan Keuangan 12,154,500,000 2.69% 4,098,100,000 0.94%

4,868,000,000 0.93% 2%

8 Belanja Tidak Terduga 1,359,377,000 0.30% 990,950,500 0.23% 979,074,900 0.19% 0%

B Belanja Langsung 225,574,390,324 49.91% 179,204,980,489 40.95% 229,346,224,942 43.74% 45%

1 Belanja Pegawai 45,296,347,482 10.02% 47,122,489,400 10.77% 54,105,705,600 10.32% 10% 2 Belanja Barang dan Jasa 102,316,091,595 22.64% 78,522,623,329 17.94% 93,802,097,828 17.89% 19% 3 Belanja Modal 77,961,951,247 17.25% 53,559,867,760 12.24% 81,438,421,514 15.53% 15%


(16)

Berdasarkan APBK Aceh Tamiang tahun anggaran 2009-2011 rata-rata rasio persentase antara total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur terhadap total pengeluaran yang meliputi belanja dan pengeluaran pembiayaan hanya sebesar 45.19 persen seperti dirinci pada tabel berikut :

Tabel 3.7

Analisa Proporsi Belanja Pemenuhan Aparatur

No Uraian

Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur

(Rp)

Total pengeluaran (Belanja + Pembiayaan Pengeluaran)

(Rp)

Prosentase

(a) (b) (a) / (b) x 100%

1 Tahun Anggaran 2009 178.456.031.283,00 461.907.007.049,17 38,63

2 Tahun Anggaran 2010 219.579.002.590,00 443.394.972.381,00 49,52

3 Tahun Anggaran 2011 249.500.681.482,00 526.278.045.366,46 47,41

Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

Hal ini menunjukkan bahwa APBK Aceh Tamiang relatif baik dari sisi belanja, karena proporsi penggunaan anggaran untuk belanja aparatur tidak mendominasi terhadap total pengeluaran dalam APBK.

b. Belanja Daerah

b.1. Kondisi Belanja Daerah Kabupaten Aceh Tamiang

Berdasarkan Peraturan Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan juga Peraturan Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Belanja Daerah terdiri dari :

1. Belanja Tidak Langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait dengan secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan yang terdiri dari jenis belanja (a) Belanja Pegawai, (b) Belanja Bunga, (c) Belanja Subsidi, (d) Belanja Hibah, (e) Belanja Bantuan Sosial, (f) Belanja Bagi Hasil, (g) Belanja Bantuan Keuangan, dan (h) Belanja Tidak Terduga.

2. Belanja Langsung merupakan belanja yang dikaitkan secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, yang terdiri dari jenis belanja (a) Belanja Pegawai, (b) Belanja Barang dan Jasa, (c) Belanja Modal.


(17)

Tabel 3.8

Realisasi Belanja Daerah Tahun 2007-2011

Uraian Tahun

2007 2008 2009 2010 2011

1. Belanja Tidak

Langsung 155,520,728,200 208,286,671,844 226,400,375,602.17 258,372,329,396.0 294,959,198,310.46 - Pegawai 126,685,455,645

154,960,357,471 178,456,031,283 219,579,002,590.0 249,500,681,482 - Barang dan

Jasa -

1,359,180,823 - - -

- Subsidi - - - - -

- Hibah 250,000,000

2,068,500,000 27,752,067,819.17 29,064,615,606 31,656,464,488

- Bantuan Sosial 6,869,844,000

40,707,087,550 6,678,399,500

4,639,660,700 7,954,977,440

- Bagi Hasil Kepada Provinsi /Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa - - - - - - Bantuan Keuangan Kepada Provinsi / Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa

19,504,874,805 8,499,605,000 12,154,500,000

4,098,100,000 4,868,000,000

- Belanja Tak

Terduga 2,210,553,750 691,941,000 1,359,377,000 990,950,500 979,074,900.46

2. Belanja Langsung 262,721,811,709

313,124,013,836 225,574,390,324 179,204,980,489.0 229,346,224,942.0

- Pegawai 44,068,449,900

46,157,422,607 45,296,347,482

47,122,489,400 54,105,705,600

- Barang dan Jasa 112,153,885,983

129,456,502,246 102,316,091,595

78,522,623,329.0 93,802,097,828.0

- Modal 106,499,475,826

137,510,088,983 77,961,951,247 53,559,867,760 81,438,421,514

TOTAL BELANJA 418,242,539,909

521,410,685,680 451,974,765,926.17

437,577,309,885 524,305,423,252.46 Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

Dari tahun 2007 sampai dengan 2011 realisasi belanja menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi, dimana pada tahun 2007 hingga 2008 total belanja mengalami peningkatan, pada tahun 2009 dan 2010 menunjukkan penurunan, kemudian pada tahun 2011 mengalami peningkatan. Sementara itu, bila


(18)

dilihat dari komposisi belanja, selama tahun 2007 hingga 2011 realisasi belanja tidak langsung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sedangkan realisasi belanja langsung menunjukkan perkembangan yang berfluktuasi.

3.2.2. Analisis Pembiayaan

Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daerah dan belanja daerah, ketika terjadi defisit anggaran. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan piutang daerah. Sedangkan pengeluaran pembiayaan terdiri dari penyertaan modal pemerintah daerah dan pembayaran pokok utang.

Gambaran pembiayaan riil daerah selama tahun 2009 sampai 2011 dapat dilihat pada tabel berikut :


(19)

Tabel 3.9

Penutup Defisit Riil Anggaran

No Uraian 2009 2010 2011

1 2 3 4 5

1 Realisasi Pendapatan Daerah

414,878,932,523

450,412,643,698 533,310,656,064

dikurangi realisasi :

2 Belanja Daerah

451,974,765,926

437,577,309,885 524,305,423,252 3 Pengeluaran Pembiayaan Daerah

9,932,241,123 5,817,662,496 1,972,622,114

A Defisit riil

(47,028,074,526) 7,017,671,317 7,032,610,698

ditutup oleh realisasi penerimaan

pembiayaan :

4

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran Sebelumnya

52,527,353,528 5,499,279,002 12,516,950,320 5 Pencairan dana cadangan

-

-

6

Hasil Penjualaan kekayaan daerah yang dipisahkan

-

-

7 Penerimaan pinjaman daerah

- - - 8

Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah - - -

9 Penerimaan Piutang daerah

- - 80,500,000 B

Total realisasi penerimaan pembiayaan daerah 52,527,353,528 5,499,279,002 12,597,450,320 A-B

Sisa Lebih Pembiayaan anggaran tahun berkenaan 5,499,279,002 12,516,950,319 19,630,061,018 Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran Kab. Aceh Tamiang, 2012

Pada tabel penutup defisit riil diatas menunjukkan bahwa pada tahun 2009 realisasi belanja dan pengeluaran pembiayaan melampaui realisasi pendapatan sehingga terjadi defisit riil sebesar Rp. 47.028.074.526,- sehingga diperlukan anggaran penutup defisit pada tahun 2009. Untuk menutup defisit riil ini


(20)

menggunakan penerimaan pembiayaan berupa SILPA tahun 2008, sebesar Rp.52.527.353.528,-.

Sedangkan pada tahun 2010 menunjukkan realisasi belanja daerah dan pengeluaran pembiayaan masih dibawah realisasi pendapatan, yang berarti tidak terjadi defisit riil, sehingga tidak diperlukan anggaran penutup defisit riil. Oleh karena itu SILPA tahun sebelumnya (tahun 2009) tidak dialokasikan guna menutup defisit melainkan akan ditambahkan dengan penerimaan pembiayaan berupa SILPA tahun berkenaan (tahun 2009) untuk dijadikan bagian sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun sebelumnya pada tahun 2010. Hal yang sama juga berlaku untuk tahun 2010. Untuk melihat komposisi defisit riil dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.10

Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran

No Uraian

Proporsi dari total defisit riil 2009 2010 2011

1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)

Tahun Anggaran Sebelumnya -112% 78% 178%

2 Pencairan Dana Cadangan - - -

3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di

Pisahkan - - -

4 Penerimaan Pinjaman Daerah - - -

5 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

daerah - - -

6 Penerimaan Piutang Daerah - - 1%

7 Sisa Lebih Pembiayaan anggaran tahun

berkenaan -12% 178% 279%

Sumber : DPPKA Kab. Aceh Tamiang, 2012

3.3. KERANGKA PENDANAAN


(21)

keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama5 (lima) tahun kedepan. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian diatas dan ke pos-pos mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan. Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama.

Sebelum dialokasikan ke berbagai pos belanja dan pengeluaran, besaran masing- masing sumber penerimaan memiliki kebijakan pengalokasian yang harus diperhatikan, antara lain:

1. Penerimaan retribusi pajak diupayakan alokasi belanjanya pada program atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan peningkatan layanan dimana retribusi pajak tersebut dipungut.

2. Penerimaan dari pendapatan hasil pengelolaan aset daerah yang dipisahkan dialokasikan kembali untuk upaya-upaya peningkatan kapasitas dimana dana penyertaan dialokasikan sehingga menghasilkan tingkat pengembalian investasi terbaik bagi kas daerah.

3. Penerimaan dana alokasi umum diprioritaskan bagi belanja umum pegawai dan operasional rutin pemerintah daerah.

4. Penerimaan dari dana alokasi khusus dialokasikan sesuai dengan tujuan dimana dana tersebut dialokasikan.


(22)

Tabel 3.11

Proyeksi Pendapatan pada APBK Tahun 2013-2017

No. Uraian

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

1 PENDAPATAN 631,572,072,013 685,698,921,731 744,464,538,725 808,266,473,601 877,536,347,757

1.1. Pendapatan Asli Daerah 32,643,991,246

35,441,639,348 38,479,050,867

41,776,773,955

45,357,117,776

1.1.1. Pajak daerah

5,239,354,787 5,688,376,810 6,175,880,818 6,705,164,787 7,279,809,333

1.1.2. Retribusi daerah 19,333,092,725

20,989,973,152 22,788,851,179

24,741,896,251

26,862,320,759

1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan

1,584,000,000 1,719,751,617 1,867,137,389 2,027,154,383 2,200,885,119

1.1.4. Penerimaan Zakat

1,500,000,000 1,628,552,668 1,768,122,527 1,919,653,772 2,084,171,514

1.1.5 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

4,987,543,734 5,414,985,102 5,879,058,954 6,382,904,762 6,929,931,051

1.2. Dana Perimbangan 551,831,664,085 599,124,619,038 650,470,664,334 706,217,157,022 766,741,223,269

1.2.1. Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak 87,147,136,085

94,615,800,624 102,724,542,996 111,528,219,010 121,086,385,713

1.2.2. Dana alokasi umum 423,677,588,000 459,987,510,732 499,409,258,414 542,209,519,976 588,677,840,068

1.2.3. Dana alokasi khusus 41,006,940,000

44,521,307,682 48,336,862,924

52,479,418,036

56,976,997,488

1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah 47,096,416,682

51,132,663,345 55,514,823,524

60,272,542,624

65,438,006,712

1.3.1 Hibah 800,000,000 868,561,423 942,998,681

1,023,815,345

1,111,558,141

1.3.2 Dana darurat

- - - - -


(23)

lainnya **) 8,373,840,682 9,091,493,720 9,870,650,899 10,716,583,235 11,635,013,476

1.3.4 Dana penyesuaian dan otonomi khusus***) 37,922,576,000

41,172,608,202 44,701,173,944

48,532,144,044

52,691,435,095

1.3.5 Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya

-

1.3.6 Dana Pendidikan dari Provinsi

-

1.3.7 Lain-lain -

-

-

-

-


(24)

Belanja daerah disusun dengan pendekatan kinerja yang ingin dicapai. Belanja daerah diproyeksikan berdasarkan kebutuhan daerah untuk membiayai antara lain :

1. Belanja pegawai yang meliputi gaji, tunjangan dan tambahan penghasilan lainnya.

2. Belanja operasional kantor.

3. Belanja program kegiatan yang mendukung visi dan misi Bupati yang berdampak luas pada kepentingan publik.

4. Belanja prioritas SKPK yakni untuk membiayai kegiatan sesuai tupoksi dan urusan pemerintahan.

Pada setiap tahunnya belanja daerah akan dikelompokkan dalam urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib meliputi Pendidikan, Kesehatan, Pekerjaan Umum, Perencanaan Pembangunan, Perhubungan, Lingkungan Hidup, Kependudukan dan Catatan Sipil, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Sosial, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri, Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian, Ketahanan Pangan, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Perpustakaan. Sedangkan urusan pilihan meliputi : Pertanian, Kehutanan, Energi dan Sumber Daya Mineral, Kelautan dan Perikanan.

Arah kebijakan belanja daerah dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Menitik beratkan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang sesuai

dengan prioritas pembangunan Kabupaten Aceh Tamiang.

2. Menjalankan program yang bersifat pelayanan publik untuk isu-isu dominan antara lain infrastruktur transportasi, pendidikan dan kesehatan.

3. Melakukan efisiensi belanja, melalui penghematan belanja yang tidak langsung dirasakan masyarakat.

4. Belanja daerah disusun berdasarkan sasaran dan target kinerja Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK) yang harus dicapai setiap tahun.


(25)

5. Memberikan bantuan keuangan untuk penguatan pemerintahan desa. 6. Menetapkan jenis belanja dan pagu alokasi dari setiap SKPK.

Estimasi perkembangan belanja daerah tahun 2013 sampai dengan 2017 terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja langsung terdiri belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal. Sedangkan belanja tidak langsung terdiri dari belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tak terduga. Estimasi pertumbuhan belanja tidak langsung dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 memiliki pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 8,79 persen dengan nilai pertumbuhan ditiap tahunnya yang fluktuatif. Sedangkan estimasi pertumbuhan belanja langsung dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 memiliki pertumbuhan rata-rata per tahunnya sebesar 4,91 persen dengan nilai pertumbuhan ditiap tahunnya yang fluktuatif. Pertumbuhan belanja Kabupaten Aceh Tamiang secara keseluruhan dari tahun 2013 sampai dengan 2017 mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 7,03 persen.

Tabel 3.12

Proyeksi Belanja pada APBK Tahun 2013-2017

No. Komposisi

Belanja 2013 2014 2015 2016 2017

1 Belanja Tidak Langsung

360,103,746,710

382,256,343,796

418,390,329,332

458,860,393,133

524,186,864,589

2 Belanja

Langsung

313,131,628,271

308,442,577,935

331,074,209,393

354,406,080,468 358,349,483,168

Total Belanja 673,235,374,981 690,698,921,731 749,464,538,725 813,266,473,601 882,536,347,757 Sumber : DPPKA dan Bappeda Kabupaten Aceh Tamiang, hasil proyeksi.

3.3.1. Analisis Pengeluaran Periodik Prioritas Utama

Komponen belanja dalam struktur APBK Aceh Tamiang terdiri dari belanja langsung dan belanja tidak langsung. Ditinjau dari komposisi penggunaannya, pada tahun 2009 komponen belanja langsung dan belanja tidak langsung berimbang dengan proporsi belanja tidak langsung 50.09 persen dan belanja langsung 49.91


(26)

persen. Pada tahun 2010 belanja tidak langsung meningkat dibandingkan belanja langsung, dengan proporsi belanja tidak langsung 59.05 persen dan belanja langsung 40.95 persen. Pada tahun 2011 komposisi belanja tidak langsung dan belanja langsung kembali membaik hampir menuju seimbang, dengan proporsi belanja tidak langsung 56.26 persen dan belanja langsung 43.74 persen.

Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran, data diolah

Gambar 3.2

Struktur Belanja APBK Aceh Tamiang

Pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama adalah adalah pengeluaran yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya dan dibayar setiap tahun dan dalam rangka keberlangsungan pelayanan dasar prioritas Pemerintah Daerah.


(27)

Tabel 3.13

Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Tahun 2009-2011

No Uraian

2009 2010 2011

Rata-rata Pertumbuhan

(Rp) (Rp) (Rp) (%)

A Belanja Tidak Langsung

190,610,531,283

223,677,102,590

254,368,681,482 15.53%

1 Belanja Pegawai

178,456,031,283

219,579,002,590

249,500,681,482 18.34%

2

Bantuan keuangan kepada pemerintah desa 12,154,500,000 4,098,100,000

4,868,000,000 -23.75%

B Belanja Langsung

83,512,241,036

84,450,469,227

86,304,173,512 1.66%

1 Belanja Operasional Kantor

64,892,241,036

65,830,469,227

67,684,173,512 2.13%

2

Belanja honorarium perangkat mukim dan kampong 18,620,000,000 18,620,000,000

18,620,000,000 0.00%

C Pembiayaan Pengeluaran

9,932,241,123 3,689,862,496

1,972,622,114 -54.69%

1

Pembentukan Dana

Cadangan - - -

2 Pembayaran pokok utang 9,932,241,123 3,689,862,496

1,972,622,114 -54.69%

3 Penyertaan Modal

TOTAL (A+B+C) 284,055,013,442 311,817,434,313

342,645,477,108 9.83%

Sumber : Dokumen LRA.

Pertumbuhan rata-rata belanja tidak langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama tahun 2009 sampai dengan 2011 untuk Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 15.53 persen. Untuk belanja langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama tahun 2009 sampai dengan 2011 untuk Kabupaten Aceh Tamiang rata-rata 1.66 persen. Pengeluaran pembiayaan daerah di Kabupaten Aceh Tamiang hanya pembayaran pokok utang, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar negatif 54.69 persen.


(28)

3.3.2. Penghitungan Kerangka Pendanaan

Proyeksi belanja yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2013 sampai dengan 2017 diperkirakan kebutuhannya terus mengalami peningkatan. Belanja wajib dan mengikat ini merupakan belanja yang wajib dibayar serta tidak dapat ditunda pembayarannya, sedangkan belanja prioritas utama merupakan belanja yang digunakan dalam rangka keberlangsungan layanan dasar pemerintah daerah.

Belanja wajib dan mengikat serta prioritas utama yang harus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dari tahun 2012 sebesar Rp. 378,115,703,312 diproyeksikan menjadi Rp. 572,768,472,670 pada tahun 2017, dengan asumsi belanja langsung wajib dan mengikat serta prioritas utama tidak mengalami pertumbuhan atau tetap selama 5 (lima) tahun ke depan.


(29)

Tabel 3.14

Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

No Uraian

Data Tahun Dasar (2012*)

(Rp)

Tingkat pertum buhan

(%)

Proyeksi

Tahun 2013 (Rp) Tahun 2014 (Rp) Tahun 2015 (Rp) Tahun 2016 (Rp) Tahun 2017 (Rp) A Belanja Tidak Langsung 284,416,106,733 10.20% 324,881,356,710 357,143,843,796 393,277,829,332 433,747,893,133 479,074,364,590

1 Belanja Pegawai 284,416,106,733 10.20% 324,881,356,710 357,143,843,796 393,277,829,332 433,747,893,133 479,074,364,590

B Belanja Langsung 93,699,596,579 0.00% 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080

1 Belanja Operasional

Kantor 75,499,596,579 0.00% 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080

2 Belanja honorarium perangkat mukim dan kampung

18,200,000,000 0.00% 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000

C Pembiayaan

Pengeluaran - - - - - - -

1 Pembentukan Dana

Cadangan - - - -

2 Pembayaran pokok

utang - - - -

3 Penyertaan Modal - - - - - - -

TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA

378,115,703,312 8.16% 418,575,464,790 450,837,951,876 486,971,937,412 527,442,001,213 572,768,472,670


(30)

Tabel 3.15

Proyeksi tentang Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Untuk Pendanaan Pembangunan

Tahun 2013-2017

No Uraian

Proyeksi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

1 Pendapatan

631,572,072,013 685,698,921,731 744,464,538,725 808,266,473,601 877,536,347,757 2 Pencairan dana cadangan (sesuai

Perda) -

- -

-

3

Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 41,663,302,968 5,000,000,000 5,000,000,000 5,000,000,000 5,000,000,000 Total penerimaan 673,235,374,981 690,698,921,731 749,464,538,725 813,266,473,601 882,536,347,757 Dikurangi: 4 Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

418,575,464,790 450,837,951,876 486,971,937,412 527,442,001,213 572,768,472,670

Kapasitas riil kemampuan keuangan 254,659,910,191 239,860,969,855 262,492,601,313 285,824,472,388 309,767,875,087 Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran, data diolah


(31)

Berdasarkan data tersebut, diperoleh rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam rangka pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5(lima) tahun kedepan, dengan menggunakan tabel berikut:

Tabel 3.16

Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah

Uraian

Proyeksi (Rp)

No Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

I Kapasitas riil kemampuan keuangan 254,659,910,191 239,860,969,855

262,492,601,313 285,824,472,388

309,767,875,087

II

Rencana alokasi pengeluaran prioritas I dan II 214,237,520,191 214,748,469,855

237,380,101,313 260,711,972,388

264,655,375,087 III Rencana pengeluaran prioritas III 40,422,390,000 25,112,500,000 25,112,500,000

25,112,500,000 45,112,500,000

Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)*

5,200,000,000 0 0 0 0 Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran, data diolah

Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia, kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai i urutan prioritas. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi i prioritas I, prioritas II dan prioritas III, dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.

Prioritas I

Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun pertama rencana pembangunan, diantaranya program yang berkaitan dengan prasarana dan sarana transportasi, pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan.


(32)

Prioritas II

Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPK yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan. Program Prioritas II ini berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPK yang paling berdampak luas pada masing-masing segmentasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi, berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPK. Termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu.

Prioritas III

Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti: tambahan penghasilan PNS, belanja-belanja hibah, belanja-belanja bantuan social organisasi kemasyarakatan, belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan hingga pemerintahan kampung, serta belanja tidak terduga. Pengalokasian dana pada prioritas III ini, harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. Dengan demikian, kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan seperti pada tabel berikut :


(33)

Tabel 3.17 Kerangka Pendanaan

Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah

No. Jenis Dana

Alokasi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

% Rp % Rp % Rp % Rp % Rp

1 Prioritas I 24.59 62,632,683,454 45.20 108,422,646,570 45.20 118,652,661,817 45.20 138,239,659,009 45.20 140,022,167,256 2 Prioritas II 59.53 151,604,836,737 44.33 106,325,823,285 45.23 118,727,439,496 46.59 142,472,313,380 40.23 124,633,207,831 3 Prioritas III 15.87 40,422,390,000 10.47 25,112,500,000 9.57 25,112,500,000 8.21 25,112,500,000 14.56 45,112,500,000

Total 100.00 254,659,910,191 100.00 239,860,969,855 100.00 262,492,601,313 100.00 305,824,472,388 100.00 309,767,875,087 Sumber : Bappeda dan DPPKA, hasil proyeksi (diluar dana otsus)


(34)

Mulai tahun 2014, Pendapatan Daerah Kabupaten Aceh Tamiang akan bertambah dengan masuknya dana otonomi khusus sebagai bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang. Dana otonomi khusus hingga tahun 2013 merupakan bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), namun dengan terbitnya Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus, dana tersebut akan ditransfer ke kabupaten/kota. Berdasarkan Surat Edaran Gubernur Aceh Nomor : 050/12841 tanggal 6 Maret 2013 tentang Usulan Program/Kegiatan yang Didanai melalui TDBH Migas dan Otsus Tahun 2014 dan Tabel Sinkronisasi Nasional, alokasi dana otonomi khusus Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2014 adalah sebesar Rp.133.953.744.076,-. Dana tersebut dimasukkan ke dalam APBK sebagai pendapatan pada Pos Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Alokasi dana Otonomi Khusus tahun 2015, 2016, 2017 diproyeksikan akan mengalami peningkatan 5 persen setiap tahunnya seperti yang tergambar pada tabel berikut ini.

Tabel 3.18

Alokasi Dana Otonomi Khusus Tahun 2014 dan Proyeksi Tahun 2015-2017 Kabupaten Aceh Tamiang

Tahun Proyeksi Dana Otsus Keterangan

(Rp.)

2014 133,953,744,076

Dana Otsus yang ditransfer ke Kab. Aceh Tamiang diproyeksikan meningkat 5% per tahun 2015 140,651,431,280

2016 147,684,002,844 2017 155,068,202,986 Total 577,357,381,186


(1)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 29

Tabel 3.14

Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

No Uraian

Data Tahun Dasar (2012*)

(Rp)

Tingkat pertum buhan

(%)

Proyeksi

Tahun 2013 (Rp) Tahun 2014 (Rp) Tahun 2015 (Rp) Tahun 2016 (Rp) Tahun 2017 (Rp) A Belanja Tidak Langsung 284,416,106,733 10.20% 324,881,356,710 357,143,843,796 393,277,829,332 433,747,893,133 479,074,364,590 1 Belanja Pegawai 284,416,106,733 10.20% 324,881,356,710 357,143,843,796 393,277,829,332 433,747,893,133 479,074,364,590

B Belanja Langsung 93,699,596,579 0.00% 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080 93,694,108,080 1 Belanja Operasional

Kantor 75,499,596,579 0.00% 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080 75,494,108,080 2 Belanja honorarium

perangkat mukim dan kampung

18,200,000,000 0.00% 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000 18,200,000,000

C Pembiayaan

Pengeluaran - - - - - - -

1 Pembentukan Dana

Cadangan - - - -

2 Pembayaran pokok

utang - - - -

3 Penyertaan Modal - - - - - - -

TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS UTAMA

378,115,703,312 8.16% 418,575,464,790 450,837,951,876 486,971,937,412 527,442,001,213 572,768,472,670


(2)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 30

Tabel 3.15

Proyeksi tentang Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang Untuk Pendanaan Pembangunan

Tahun 2013-2017

No Uraian

Proyeksi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)

1 Pendapatan

631,572,072,013 685,698,921,731 744,464,538,725 808,266,473,601 877,536,347,757 2 Pencairan dana cadangan (sesuai

Perda) -

- -

-

3

Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 41,663,302,968 5,000,000,000 5,000,000,000 5,000,000,000 5,000,000,000 Total penerimaan 673,235,374,981 690,698,921,731 749,464,538,725 813,266,473,601 882,536,347,757 Dikurangi: 4 Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama

418,575,464,790 450,837,951,876 486,971,937,412 527,442,001,213 572,768,472,670

Kapasitas riil kemampuan keuangan 254,659,910,191 239,860,969,855 262,492,601,313 285,824,472,388 309,767,875,087


(3)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 31

Berdasarkan data tersebut, diperoleh rencana penggunaan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk memenuhi kebutuhan anggaran belanja langsung dan belanja tidak langsung dalam rangka pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5(lima) tahun kedepan, dengan menggunakan tabel berikut:

Tabel 3.16

Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah

Uraian

Proyeksi (Rp)

No Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

I Kapasitas riil kemampuan keuangan 254,659,910,191 239,860,969,855

262,492,601,313 285,824,472,388

309,767,875,087

II

Rencana alokasi pengeluaran prioritas I dan II 214,237,520,191 214,748,469,855

237,380,101,313 260,711,972,388

264,655,375,087 III Rencana pengeluaran prioritas III 40,422,390,000 25,112,500,000 25,112,500,000

25,112,500,000 45,112,500,000

Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III)*

5,200,000,000 0 0 0 0 Sumber : Dokumen Laporan Realisasi Anggaran, data diolah

Dari total dana alokasi pagu indikatif yang tersedia, kemudian dialokasikan ke berbagai program/kegiatan sesuai i urutan prioritas. Prioritas program/kegiatan dipisahkan menjadi i prioritas I, prioritas II dan prioritas III, dimana prioritas I mendapatkan prioritas pertama sebelum prioritas II. Prioritas III mendapatkan alokasi anggaran setelah prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.

Prioritas I

Prioritas I merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun pertama rencana pembangunan, diantaranya program yang berkaitan dengan prasarana dan sarana transportasi, pelayanan dasar bidang pendidikan dan kesehatan.


(4)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 32

Prioritas II

Prioritas II merupakan program prioritas ditingkat SKPK yang merupakan penjabaran dari analisis per urusan. Program Prioritas II ini berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPK yang paling berdampak luas pada masing-masing segmentasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi, berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPK. Termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu. Prioritas III

Prioritas III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti: tambahan penghasilan PNS, belanja-belanja hibah, belanja-belanja bantuan social organisasi kemasyarakatan, belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan hingga pemerintahan kampung, serta belanja tidak terduga. Pengalokasian dana pada prioritas III ini, harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar. Dengan demikian, kapasitas riil keuangan daerah dapat dialokasikan seperti pada tabel berikut :


(5)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 33

Tabel 3.17 Kerangka Pendanaan

Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah

No. Jenis Dana

Alokasi

Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

% Rp % Rp % Rp % Rp % Rp

1 Prioritas I 24.59 62,632,683,454 45.20 108,422,646,570 45.20 118,652,661,817 45.20 138,239,659,009 45.20 140,022,167,256 2 Prioritas II 59.53 151,604,836,737 44.33 106,325,823,285 45.23 118,727,439,496 46.59 142,472,313,380 40.23 124,633,207,831 3 Prioritas III 15.87 40,422,390,000 10.47 25,112,500,000 9.57 25,112,500,000 8.21 25,112,500,000 14.56 45,112,500,000

Total 100.00 254,659,910,191 100.00 239,860,969,855 100.00 262,492,601,313 100.00 305,824,472,388 100.00 309,767,875,087 Sumber : Bappeda dan DPPKA, hasil proyeksi (diluar dana otsus)


(6)

BAB III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan III - 34

Mulai tahun 2014, Pendapatan Daerah Kabupaten Aceh Tamiang akan bertambah

dengan masuknya dana otonomi khusus sebagai bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tamiang. Dana otonomi khusus hingga tahun 2013 merupakan bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), namun dengan terbitnya Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengalokasian Tambahan Bagi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus, dana tersebut akan ditransfer ke kabupaten/kota. Berdasarkan Surat Edaran Gubernur Aceh Nomor : 050/12841 tanggal 6 Maret 2013 tentang Usulan Program/Kegiatan yang Didanai melalui TDBH Migas dan Otsus Tahun 2014 dan Tabel Sinkronisasi Nasional, alokasi dana otonomi khusus Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2014 adalah sebesar Rp.133.953.744.076,-. Dana tersebut dimasukkan ke dalam APBK sebagai pendapatan pada Pos Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Alokasi dana Otonomi Khusus tahun 2015, 2016, 2017 diproyeksikan akan mengalami peningkatan 5 persen setiap tahunnya seperti yang tergambar pada tabel berikut ini.

Tabel 3.18

Alokasi Dana Otonomi Khusus Tahun 2014 dan Proyeksi Tahun 2015-2017 Kabupaten Aceh Tamiang

Tahun Proyeksi Dana Otsus Keterangan

(Rp.)

2014 133,953,744,076

Dana Otsus yang ditransfer ke Kab. Aceh Tamiang diproyeksikan meningkat 5% per tahun

2015 140,651,431,280

2016 147,684,002,844

2017 155,068,202,986