Kelelahan Lengan Bawah lower arm Pergelangan Tangan wrist

Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. dalam tubuh akan termanfaatkan oleh tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Apabila hal ini tidak diimbangi pasokan energi yang cukup, maka akan terjadi kekurangan suplai energi ke otot. Sebagai akibatnya, peredaran darah kurang lancar, suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan terjadi penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot.

3.5. Kelelahan

Pada dasarnya kelelahan menggambarkan tiga fenomena yaitu perasaan lelah, perubahn fisiologis tubuh dan pengurangan kemampuan melakukan kerja Barnes, 1980. Kelelahan merupakan suatu pertanda yng bersifat sebagai pengaman yang memberitahukan tubuh bahwa kerja yang dilakukan telah melewati batas maksimal kemampuannya. Kelelahan pada dasarnya merupakan suatu keadaan yang mudah dipulihkan dengan beristirahat. Tetapi jika dibiarkan terus-menerus akan berakibat buruk dan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja. Ada 2 dua jenis kelelahan yakni kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan suatu penurunan kapasitas otot dalam bekerja akibat konstraksi tulang. Otot yang lelah akan menunjukkan kurangnya kekuatan, bertambahnya waktu kontraksi dan relaksasi, berkurangnya koordinasi serta otot menjadi gemetar Suma’mur, 1990. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010.

3.6. Metode Penilaian Postur Kerja

Penilaian postur kerja diperlukan ketika didapati bahwa postur kerja pekerja memiliki resiko menimbulkan cedera muskuleskeletal yang diketahui secara visual atau melalui keluhan dari pekerja itu sendiri. Dengan adanya penilaian dan analisis perbaikan postur kerja, diharapkan dapat diterapkan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko cedera muskuluskeletal yang dialami pekerja. Untuk penilaian kembali postur kerja, diperlukan ketika terjadi perubahan spesifikasi produk atau penambahan jenis produk baru. Kedua hal tersebut akan memungkinkan terjadinya perubahan metode kerja yang dilakukan pekerja dalam menghasilkan produk, dan metode baru tersebut kemungkinan juga dapat menimbulkan cedera muskuluskeletal, sehingga perlu dilakukan penilaian postur kerja kembali. Selain saat terjadi perubahan spesifikasi atau penambahan jenis produk baru, penilaian kembali postur kerja juga diperlukan saat dilakukan rotasi kerja. Rotasi kerja dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi rasa kebosanan pekerja karena melakukan pekerjaan yang sama dan terus-menerus monoton. Maka saat terjadi rotasi kerja, perlu dilakukan penilaian postur kerja kembali. Hal ini dikarenakan pekerja tersebut akan beradaptasi terlebih dahulu terhadap pekerjaannya, dan postur kerjanya dalam melakukan pekerjaan tersebut akan berbeda dengan pekerjaan yang sebelumnya, sehingga perlu dilakukan penilaian kembali postur kerja dari pekerja. Namun jika tidak terjadi perubahan spesifikasi Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. produk, atau penambahan jenis produk baru, atau rotasi kerja, tidak perlu dilakukan penilaian kembali postur kerja dari pekerja yang ada.

3.6.1. Ovako Working Postures Analysis System OWAS

OWAS adalah suatu metode untuk mengevaluasi beban postur postural load selama bekerja. Metode OWAS didasarkan pada sebuah klasifikasi yang sederhana dan sistematis dari postur kerja yang dikombinasikan dengan pengamatan dari tugas selama bekerja. Metode OWAS pertama kali dilakukan untuk menganalisis postur kerja pada industri baja. Metode ini telah digunakan dalam penelitian dan pembangunan di Finlandia, Swedia, Jerman, Belanda, India, dan Australia. Prosedur OWAS dilakukan dengan melakukan observasi untuk mengambil data postur, bebantenaga, dan fase kerja untuk kemudian dibuat kode berdasarkan data tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur kerja yang ada dan selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus diambil. Klasifikasi postur kerja dari metode OWAS adalah pada pergerakan tubuh bagian belakang punggung, lengan arms, dan kaki legs. Setiap postur tubuh tersebut terdiri atas 4 postur bagian belakang, 3 postur lengan, dan 7 postur kaki. Berat beban yang dikerjakan juga dilakukan penilaian mengandung 3 skala point. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010.

3.6.2. Rapid Upper Limb Assessment RULA

Rapid Upper Limb Assessment RULA merupakan suatu metode penelitian untuk menginvestigasi gangguan pada anggota badan bagian atas. Metode ini dirancang oleh Lynn Mc Atamney dan Nigel Corlett 1993 yang menyediakan sebuah perhitungan tingkatan beban muskuluskeletal di dalam sebuah pekerjaan yang memiliki resiko pada bagian tubuh dari perut hingga leher atau anggota badan bagian atas. Metode ini tidak membutuhkan peralatan spesial dalam penetapan penilaian postur leher, punggung, dan lengan atas. Setiap pergerakan di beri skor yang telah ditetapkan. RULA dikembangkan sebagai suatu metode untuk mendeteksi postur kerja yang merupakan faktor resiko. Metode didesain untuk menilai para pekerja dan mengetahui beban musculoskletal yang kemungkinan menimbulkan gangguan pada anggota badan atas. Metode ini menggunakan diagram dari postur tubuh dan tiga tabel skor dalam menetapkan evaluasi faktor resiko. Faktor resiko yang telah diinvestigasi dijelaskan oleh McPhee sebagai faktor beban eksternal yaitu : 1. Jumlah pergerakan 2. Kerja otot statik 3. Tenagakekuatan 4. Penentuan postur kerja oleh peralatan 5. Waktu kerja tanpa istirahat. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. Dalam usaha untuk penilaian 4 faktor beban eksternal jumlah gerakan, kerja otot statis, tenaga kekuatan dan postur, RULA dikembangkan untuk Mc Atamney dan Corlett, 1993: 1. Memberikan sebuah metode penyaringan suatu populasi ketja dengan cepat, yang berhubungan dengan kerja yang beresiko yang menyebabkan gangguan pada anggota badan bagian atas. 2. Mengidentifikasi usaha otot yang berhubungan dengan postur kerja, penggunaan tenaga dan kerja yang berulang-ulang yang dapat menimbulkan kelelahan otot. 3. Memberikan hasil yang dapat digabungkan dengan sebuah metode penilaian ergonomi yaitu epidomiologi, fisik, mental, lingkungan dan faktor organisasi. Pengembangan dari RULA terdiri atas tiga tahapan yaitu : 1. Mengidentifikasi postur kerja 2. Sistem pemberian skor 3. Skala level tindakan yang menyediakan sebuah pedoman pada tingkat resiko yang ada dan dibutuhkan untuk mendorong penilaian yang melebihi detail berkaitan dengan analisis yang yang didapat. Ada empat hal yang menjadi aplikasi utama dari RULA, yaitu untuk : 1. Mengukur resiko muskuluskeletal, biasanya sebagai bagian dari perbaikan yang lebih luas dari ergonomi. 2. Membandingkan beban muskuluskeletal antara rancangan stasiun kerja yang sekarang dengan yang telah dimodifikasi. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. 3. Mengevaluasi keluaran misalnya produktivitas atau kesesuaian penggunaan peralatan. 4. Melatih pekerja tentang beban muskuluskeletal yang diakibatkan perbedaan postur kerja. Dalam mempermudah penilaian postur tubuh, maka tubuh dibagi atas 2 segmen grup yaitu grup A dan grup B. 3.6.2.1.Penilaian postur tubuh group A Postur tubuh grup A terdiri atas lengan atas upper arm, lengan bawah lower arm, pergelangan tangan wrist dan putaran pergelangan tangan wrist twist. a. Lengan atas upper arm Penilaian terhadap lengan atas upper arm adalah penilaian yang dilakukan terhadap sudut yang dibentuk lengan atas pada saat melakukan aktivitas kerja. Sudut yang dibentuk oleh lengan atas diukur menurut posisi batang tubuh. Adapun postur lengan atas upper arm dapat dilihat pada Gambar 3.1. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. Gambar 3.1. Postur Tubuh Bagian Lengan Atas Upper Arm Skor penilaian untuk postur tubuh bagian lengan atas upper arm dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Skor Bagian Lengan Atas Upper Arm Pergerakan Article I. Skor Skor Perubahan 20 ke depan maupun ke belakang dari tubuh 1 + 1 jika bahu naik + 1 jika lengan berputarbengkok 20 ke belakang atau 20- 45 2 45-90 3 90 4

b. Lengan Bawah lower arm

Penilaian terhadap lengan bawah lower arm adalah penilaian yang dilakukan terhadap sudut yang dibentuk lengan bawah pada saat melakukan aktivitas kerja. Sudut yang dibentu oleh lengan bawah diukur menurut posisi batang tubuh. Adapun postur lengan bawah lower arm dapat dilihat pada Gambar 3.2. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. Gambar 3.2. Postur Tubuh Bagian Lengan Bawah Lower Arm Skor penilaian untuk bagian lengan bawah lower arm dapat dilihat pada Tabel 3.2. Tabel 3.2. Skor Lengan Bawah lower arm Pergerakan Skor Skor Perubahan 60-100 1 Jika lengan bawah bekerja melewati garis tengah atau keluar dari sisi tubuh 60 atau 100 2

c. Pergelangan Tangan wrist

Penilaian terhadap pergelangan tangan wrist adalah penilaian yang dilakukan terhadap sudut yang dibentuk oleh pergelangan tangan pada saat melakukan aktivitas kerja. Sudut yang dibentuk oleh pergelangan tangan diukur menurut posisi lengan bawah. Adapun postur pergelangan tangan wrist dapat dilihat pada Gambar 3.3. Dina Meliana Pangaribuan : Analisa Postur Kerja Dengan Metode Rula Pada Pegawai Bagian Pelayanan Perpustakaan USU Medan, 2010. Gambar 3.3. Postur Tubuh Pergelangan Tangan wrist Skor penilaian untuk bagian lengan atas upper arm dapat dilihat pada Tabel 3.3. Tabel 3.3. Skor Pergelangan Tangan wrist Pergerakan Skor Skor Perubahan Posisi netral 1 + 1 jika pergelangan tangan putaran menjauhi sisi tengah 0- 15 ke atas maupun ke bawah 2 15 ke atas maupun kebawah 3

d. Putaran Pergelangan Tangan Wrist Twist