Desain dan Konstruksi Kapal Penangkap Cumi-Cumi KM. Cahaya Alam Tiga di Galangan Kapal PT. Proskuneo Kadarusman Muara Baru Jakarta Utara.

ABSTRACT
NOOKE NOFRIYAN, C44070055. Design and Construction Of Squidjigg KM.
Cahaya Alam Tiga At Ship Dock PT. Proskuneo Kadarusman Muara Baru, North
Jakarta. Guided by BUDHI HASCARYO ISKANDAR and VITA RUMANTI
KURNIAWATI.
The mostly of fishery ship operated in Indonesia has builded with traditional
ways, where in building process of the ship didn’t using plan of design and
construction as well as naval architect calculation. Institution that have the power
to be competent to decide things about ship building in Indonesia is Biro
Klasifikasi Indonesia. This institution will give the sea reasonable certificate for
the ship that have design and construction appropriated with regulation of Biro
Klasifikasi Indonesia. Mostly fishery ship in Indonesia has builded without
monitoring from Biro Klasifikasi Indonesia, with the result that the mostly fishery
ship in Indonesia don’t have the sea reasonable certificate from BKI. Until today
there is no research about design and construction of squidjigg in Muara Baru.
This research include of designing and constructioning of squidjigg KM. Cahaya
Alam Tiga, calculate of hydrostatic parameter of KM. Cahaya Alam Tiga and
compare the size construction between size construction KM. Cahaya Alam Tiga
with size construction from BKI. Method that used in research is case study with
analysis of numeric description. The result of the research was KM. Cahaya Alam
Tiga have two type of ship body. For the first that is “V” bottom for ahead area of
ship and round flat bottom in midship area until stern area of ship. Based on turn
value of mostly ship design for static gear, design of KM. Cahaya Alam Tiga is
already appropriate with ship design for static gear in Indonesia. Suitability value
between size construction of KM. Cahaya Alam Tiga with size construction of
BKI is 63,16 %.

Key word : design, contruction, squidjigg

ABSTRAK
NOOKE NOFRIYAN, C44070055. Desain dan Konstruksi Kapal Penangkap
Cumi-Cumi KM. Cahaya Alam Tiga di Galangan Kapal PT. Proskuneo
Kadarusman Muara Baru Jakarta Utara. Dibimbing oleh BUDHI HASCARYO
ISKANDAR dan VITA RUMANTI KURNIAWATI.
Sebagian besar kapal perikanan yang beroperasi di Indonesia dibangun secara
tradisional, dimana pembangunannya tidak menggunakan perencanaan desain dan
konstruksi, serta perhitungan naval architecture. Badan yang berwenang dalam
menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan kapal di Indonesia
adalah Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Kapal yang sesuai dengan standar yang
ditetapkan oleh BKI akan mendapatkan sertifikasi layak laut, dengan ketentuan
dalam pembangunannya diawasi oleh BKI. Sementara itu, kapal perikanan yang
dibangun secara tradisional umumnya tidak dibangun di bawah pengawasan BKI,
sehingga kapal tersebut tidak disertifikasi layak laut. Sampai saat ini belum
dilakukan penelitian mengenai keragaan teknis kapal penangkap cumi-cumi
tersebut. Penelitian ditujukan untuk menggambar desain dan konstruksi kapal
penangkap cumi-cumi tersebut, menghitung parameter hidrostatis kapal
penangkap cumi-cumi tersebut serta untuk membandingkan ukuran konstruksi
yang dimiliki oleh KM. Cahaya Alam Tiga dengan ukuran konstruksi yang telah
ditetapkan oleh BKI. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus
dengan analisis deskriptif numerik. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan
bahwa KM. Cahaya Alam Tiga memiliki bentuk kapal di bagian haluan yaitu “V”
bottom, sedangkan pada bagian tengah dan buritan yaitu round flat bottom.
Berdasarkan nilai kisaran desain kapal tersebut sudah sesuai dengan jenis alat
tangkap yang digunakan (static gear). Selain itu, kesesuaian bagian konstruksi
dengan nilai konstruksi yang telah ditetapkan oleh BKI adalah 63,16%.

Kata kunci: desain, kontruksi, kapal penangkap cumi-cumi

1
1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Keberhasilan kegiatan penangkapan tidak akan pernah terlepas dari

kemampuan unit penangkapan ikan yang dipakai saat itu. Salah satu komponen
penangkapan ikan yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasional
penangkapan ikan adalah kapal yang digunakan. Spesifikasi dan kesesuaian kapal
yang digunakan dengan komoditi yang menjadi sasaran tangkap akan sangat
berpengaruh dalam keberhasilan kegiatan operasi penangkapan ikan yang
dilakukan.
Selama ini ditinjau dari segi olah gerak (manuverability), kecepatan (Speed),
kelaik-lautan

(seaworthiness),

luas

lingkup

area

pelayaran

(navigable area), struktur bangunan kapal (design and construction), propulsi
mesin (engine propultion) dan perlengkapan, kapal-kapal perikanan berbahan
dasar kayu kebanyakan dibuat dengan teknologi yang masih tradisional tanpa
melihat aspek perencanaan dan tanpa menggunakan kaidah naval architect.
Padahal kaidah naval architect sangat diperlukan untuk memungkinkan kapal
tersebut tercipta dalam kondisi yang layak, sehingga dapat menjamin kelancaran
dan keberhasilan dalam operasi penangkapan ikan yang dilakukan. Oleh karena
itu, ilmu naval architect mutlak diperlukan dalam pembangunan sebuah kapal.
Penelitian kali ini mengangkat tema mengenai desain dan konstruksi kapal
penangkap cumi-cumi KM. Cahaya Alam 3 di galangan kapal PT. Proskuneo
Kadarusman Muara Baru, Jakarta Utara. Penelitian dilakukan karena sampai saat
ini belum ada kajian mengenai keragaan teknis dari kapal penangkap cumi-cumi
yang ada di galangan kapal tersebut. Penelitian yang telah dilakukan terkait
dengan kapal penangkap cumi-cumi adalah stabilitas kapal yang diteliti oleh Adi
(2011). Selain untuk mengetahui desain dan konstruksi kapal penangkap cumicumi, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui kesesuaian ukuran
konstruksi kapal tersebut dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh Biro
Klasifikasi Indonesia (BKI). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai
desain dan konstruksi kapal penangkap cumi-cumi untuk melihat kelaik-lautan
dari kapal tersebut.

2

Penelitian dilakukan di galangan kapal PT. Proskuneo Kadarusman, karena
di tempat ini banyak terdapat kapal penangkap cumi-cumi (squid jigg). Selain itu,
galangan ini juga sering melayani jasa reparasi (docking) untuk kapal penangkap
cumi-cumi tersebut serta memiliki fasilitas yang lengkap. Selain itu, kemudahan
akses menuju galangan menjadi salah satu faktor mengapa penelitian dilakukan di
tempat ini.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi salah satu bahan referensi dan
pengetahuan dalam pembuatan kapal selanjutnya. Selain itu, hasil penelitian juga
diharapkan akan memunculkan ide-ide baru guna memperbaiki kualitas kelaiklautan dan kelaik-tangkapan bagi kapal perikanan dimasa mendatang.
1.2

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk:

1)

Membuat gambar desain dan konstruksi kapal penangkap cumi-cumi;

2)

Menghitung parameter hidrostatis kapal penangkap cumi-cumi; dan

3)

Membandingkan

ukuran

bagian

konstruksi

dengan

ukuran

yang

direkomendasikan oleh BKI (Biro Klasifikasi Indonesia).
1.3

Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan

mengenai desain dan konstruksi kapal penangkap cumi-cumi yang ada di
galangan kapal PT. Proskuneo Kadarusman Muara Baru, Jakarta Utara. Memberi
informasi mengenai parameter hidrostatis dari kapal tersebut untuk selanjutnya
dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang ingin melakukan
penelitian mengenai kapal penangkap cumi-cumi lebih jauh lagi.

2
2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Kapal Perikanan
Kapal perikanan merupakan kapal yang digunakan untuk aktivitas

penangkapan ikan di laut (Iskandar dan Pujiati, 1995). Kapal perikanan adalah
kapal yang digunakan dalam dunia perikanan, yang mencakup penggunaan dalam
usaha penangkapan, pengumpulan sumberdaya ikan, riset perikanan, training dan
untuk mengontrol sumber-sumber perairan (Nomura and Yamazaki, 1977),
Sehingga kapal perikanan memiliki persyaratan minimal agar dapat digunakan
untuk operasi penangkapan (Nomura and Yamazaki, 1977), yaitu:
1) Memiliki kekuatan struktur badan kapal;
2) Menunjang keberhasilan operasi penangkapan ikan;
3) Memiliki stabilitas yang tinggi; dan
4) Memiliki fasilitas penyimpanan hasil tangkapan ikan.
2.2

Desain Kapal Perikanan dan Parameter Hidrostatis
Fyson (1985) menyatakan bahwa kelengkapan dari perencanaan desain dan

konstruksi dalam pembangunan kapal perikanan yaitu:
1) Profil kapal, rencana dek, rencana bawah dek;
2) Gambar garis dan tabel offset;
3) Profil konstruksi dan perencanaan;
4) Bagian-bagian konstruksi; dan
5) Gambar penyambung.
Dalam mendesain suatu kapal perikanan, gambar-gambar yang harus
dipersiapkan adalah: general arrangement, lines plan, profile construction,
midship section, engine seating dan boom construction. Gambar-gambar
perencanaan sangat berguna dalam pembangunan suatu kapal perikanan, seperti
lines plan berguna untuk menentukan pengaturan letak dan ukuran ruangan kapal,
seperti ruang palka, ruang mesin, ruang kemudi, ruang ABK, ruang peralatan
penangkapan ikan (Fyson, 1985). Menurut (Fyson, 1985)

dikatakan

bahwa

terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi desain suatu kapal, yang dapat
dikelompokan kedalam beberapa kriteria yaitu: sumberdaya yang tersedia, alat
dan metode penangkapan, karateristik geografis suatu daerah penangkapan,

4

seaworthiness kapal dan keselamatan anak buah kapal, peraturan-peraturan yang
berhubungan dengan desain kapal,

pemilihan material yang tepat untuk

konstruksi, penanganan dan penyimpanan hasil tangkapan dan faktor-faktor
ekonomis. Dimensi utama yang terdiri dari panjang (L), lebar (B) dan dalam (D)
sangat menentukan kemampuan dari suatu kapal, oleh sebab itu dalam mendesain
suatu kapal, hal ini perlu diperhatikan dengan teliti.
Adapun ukuran dimensi kapal menurut (BPPI, 2006) meliputi:
1)

Panjang kapal (Length/ L)
Panjang kapal terdiri dari:

(1)

Panjang total atau LOA (length over all) adalah jarak horizontal yang diukur
mulai dari titik terdepan dari linggi haluan sampai dengan titik terbelakang
dari buritan. Panjang total ini merupakan panjang yang terbesar dari sebuah
kapal dan diukur sejajar dengan lunas kapal.

(2)

Jarak sepanjang garis tegak atau LPP/ LBP (length perpendicular/ length
between perpendicular) adalah jarak horizontal yang dihitung dari garis
tegak haluan sampai dengan garis tegak buritan. Garis tegak haluan (fore
perpendicular) adalah garis khayal yang terletak tegak lurus pada
perpotongan antara Lwl dan badan kapal pada bagian haluan. Sedangkan
yang dimaksud dengan garis tegak buritan (after perpendicular) adalah
sebuah garis khayal yang terletak pada bagian buritan atau di belakang
poros kemudi (bagi kapal yang memiliki poros kemudi).

(3)

Panjang garis air atau LWL (length of water line) adalah jarak horizontal
yang dihitung dari titik perpotongan antara garis air (water line) dengan
linggi haluan sampai dengan titik perpotongan antara garis air dengan linggi
buritan.

5

(Sumber: BPPI, 2006)

Gambar 1 Dimensi ukuran panjang kapal.
2)

Lebar kapal (breadth/B)
Lebar kapal terdiri dari:

(1)

Lebar terbesar atau Bmax (breadth maximum), adalah jarak horizontal pada
lebar kapal yang terbesar di tengah-tengah kapal, dihitung dari salah satu
sisi terluar (sheer) yang satu ke sisi (sheer) lainnya yang berhadapan.

(2)

Lebar dalam atau Bmoulded (breadth moulded), adalah jarak horisontal pada
lebar kapal yang terbesar, diukur dari bagian dalam kulit kapal yang satu ke
bagian dalam kulit kapal lainnya yang berhadapan.

Keterangan :
1) Lebar terbesar (breadth maximum)
2) Lebar dalam (breadth moulded)
3) Garis air (water line)
(Sumber: BPPI, 2006)

Gambar 2 Lebar kapal.

6

(3) Dalam kapal (depth)
Dalam kapal terdiri dari:
(1)

Dalam atau D (depth), adalah jarak vertikal yang diukur dari dek
terendah kapal sampai titik terendah badan kapal.

(2)

Sarat kapal atau d (draft), adalah jarak vertikal yang diukur dari garis
air (water line) tertinggi sampai dengan titik terendah badan kapal.

(3)

Lambung bebas (free board), adalah jarak vertikal/ tegak yang diukur
dari garis air (water line) tertinggi sampai dengan sheer.

Keterangan :
1) Dalam (Depth)
2) Sarat kapal (draft)
3) Lambung bebas (free board)
(Sumber: BPPI, 2006)

Gambar 3 Dalam kapal.
Besar kecilnya nilai rasio dimensi utama kapal (L, B dan D) dalam
membangun kapal dapat digunakan untuk menganalisa performa (bentuk) dan
mempengaruhi kemampuan dari suatu kapal. Nilai perbandingan L/D, L/B, dan
B/D perlu diperhatikan dalam perhitungan teknis, jenis bahan maupun ketentuan
yang berlaku.
Menurut Fyson (1985), dalam desain sebuah kapal karakteristik
perbandingan dimensi-dimensi utama merupakan hal penting yang harus
diperhatikan. Perbandingan tersebut meliputi:
1) Perbandingan antara panjang dan lebar (L/B), yang mempengaruhi tahanan
dan kecepatan kapal. Nilai perbandingan L/B mengecil akan berpengaruh
pada kecepatan kapal/ kapal menjadi lambat;

7

2) Perbandingan antara lebar dan dalam (B/D), merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap stabilitas. Jika nilai B/D membesar akan membuat
stabilitas baik, tetapi disisi lain mengakibatkan propulsive ability memburuk;
dan
3) Perbandingan antara panjang dan dalam (L/D), merupakan faktor yang
berpengaruh terhadap kekuatan memanjang kapal. Jika nilai L/D membesar
akan mengakibatkan kekuatan longitudinal kapal melemah.
Berikut tabel yang berisikan nilai rasio L/D, L/B, dan B/D yang dikemukakan
oleh Nomura dan Yamazaki (1977).
Tabel 1 Nilai rasio dimensi kapal untuk kelompok kapal perikanan dengan
metode pengoperasian alat tangkap yang ditarik (towed/ dragged gear),
alat tangkap pasif (static Gear), dan alat tangkap yang dilingkarkan
(encircling gear).
Kelompok kapal

Panjang kapal (L)

GT

L/B

L/D

B/D

Alat tangkap yang di tarik

Dokumen yang terkait

Desain dan Konstruksi Kapal Penangkap Cumi-Cumi KM. Cahaya Alam Tiga di Galangan Kapal PT. Proskuneo Kadarusman Muara Baru Jakarta Utara.