Konfigurasi networlk monitoring system jaringan LAN dan WAN Fakultas Sains dan Teknologi (studi kasus: Pusdatin UIN Jakarta)

(1)

KONFIGURASI NETWORK MONITORING SYSTEM JARINGAN LAN DAN WAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

(STUDI KASUS : PUSDATIN UIN JAKARTA)

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komputer

Fakultas Sains dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

HAMZAH MUBAROK

104091002832

PROGRAM STUDI TEHNIK INFORMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA


(2)

(3)

(4)

LEMBAR PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAUPUN LEMBAGA MANAPUN.

Tangerang, Agustus 2011

Hamzah Mubarok


(5)

ABSTRAK

HAMZAH MUBAROK (104091002832). Konfigurasi Network Monitoring System Jaringan LAN dan WAN Fakultas Sains dan Teknologi (Studi Kasus : PUSDATIN UIN Jakarta). Dibimbing oleh ANDREW FIADE DAN PIPING SUPRIYATNA

Jaringan komputer merupkan sebuah teknologi jaringan yang menggunakan lebih dari satu komputer pada sebuah laboratorium komputer, sehingga meningkatkan efisiensi dan harga dalam penggunaannya. Salah satu faktor yang menjadi kendala adalah faktor monitoring jaringan, dimana akan sangat sulit ketika harus diperiksa satu persatu trouble yang ada.

NAGIOS merupakan salah satu solusi untuk sistem monitoring jaringan yang dapat memberikan secara detail kepada admin dimana letak dan cara mengatasi trouble yang terjadi, baik itu IP Address-nya atau HTTP-nya dan sebagainya.

Metodologi penelitian yang digunakan untuk mengembangkan jaringan nirkabel didalam penelitian ini menggunakan metodologi NDLC (Network Development Life Cycle). NDLC terdiri dari beberapa tahapan, yakni analisis (analysis), perancangan (design), simulasi prototipe, penerapan (implementation), pengawasan (monitoring), dan pengaturan (management).

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa jaringan komputer dapat dimonitor dengan baik menggunakan NAGIOS.


(6)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan dan menyusun skripsi ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad S.A.W. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Konfigurasi Network Monitoring System Jaringan LAN dan WAN Fakultas Sains dan Teknologi (Studi Kasus : PUSDATIN UIN JAKARTA)”.

Penyusunan skripsi ini tidak mungkin dapat penulis laksanakan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak yang terkait. Untuk itu penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih secara khusus kepada beberapa pihak, antara lain :

1. Dr. Syopiansyah Jaya Putra, M.Sis, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Yusuf Durrachman, M.Sc, M.I.T, selaku Ketua Program Studi Teknik Informatika dan Ibu Viva Arifin, MMSI, selaku Sekretaris Program Studi Teknik Informatika.

3. Bapak Andrew Fiade, M.Kom dan Bapak Piping Supriyatna, M.Sc selaku Dosen Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, waktu dan perhatiannya dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ayahanda Suyitno dan Ibunda tercinta Dwi Himawati, serta adik-adikku yang tak henti-hentinya memberikan dukungan baik moril maupun materiil bagi


(7)

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dan untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

5. Kepada Adinda Aniisyah Masruuri Ali, yang juga tak henti-hentinya memberikan semangat dan dorongan kepada penulis sampai dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Teknik Informatika yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan ilmu dan bimbingannya selama penulis menyelesaikan studi di Teknik Informatika.

7. Seluruh Staff Jurusan Teknik Informatika dan Staff akademik FST yang telah membantu penulis dalam masa perkuliahan.

8. Saudara dan handai taulan yang telah turut serta membantu dan mendukung penulis dalam rangka menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman-teman Teknik Informatika angkatan 2004 khususnya kelas B, yang telah melewatkan waktu bersama selama masa kuliah.

Penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dari skripsi ini, dan penulis terbuka terhadap segala saran dan kritik yang membangun.

Akhir kata penulis mempersembahkan skripsi ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semoga dapat bermanfaat bagi kita semua, amien.

Tangerang, Agustus 2011


(8)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Sampul ... ...i

Lembar Pengesahan Pembimbing ... ...ii

Lembar Pengesahan Ujian ...iii

Lembar Pernyataan ... ...iv

Abstrak ... ...v

Kata Pengantar ...vi

Daftar Isi ... viii

Daftar Gambar ... ...xiii

Daftar Tabel... xiv

Daftar Lampiran ... ...xv

Daftar Istilah ...xvi

Daftar Simbol...xx

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 LATAR BELAKANG... 1

1.2 PERUMUSAN MASALAH... 3

1.3 BATASAN MASALAH... 3

1.4 TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN... 4

1.4.1 Tujuan Penelitian... 4


(9)

1.4.3 Prosedur Penelitian………... 5

1.4.3.1 Pengumpulan Data ………5

1.4.3.2 Pengembangan Sistem ………..5

1.5 SISTEMATIKAPENULISAN...7

BAB II LANDASAN TEORI... 7

2.1 LAN Network ……... 8

2.2 Wireless Network…….……….. 9

2.2.1 Mode Jaringan Wireless LAN………... 9

2.3 Network Management... 10

2.4 Simple Network Management Protocol... 11

2.5 Hypertext Transfer Protocol... 12

2.6 PING (Packet Transfer Internet Ghoper)... 13

2.7 Simple Mail Transfer Protocol... 14

2.8 Network Monitoring System………..17

2.8.1 Nagios ………18

2.9 OSI Layer ………19

2.9.1 Application ……….20

2.9.2 Presentation ………20

2.9.3 Session ………...21

2.9.4 Transport ………21

2.9.5 Network ……….21


(10)

2.9.7 Physical ……….22

2.10 TCP/IP ………23

2.10.1 Definisi Masing-masing Layer pada Model TCP/IP ………..24

2.10.1.1 Application ………...24

2.10.1.2 Transport ………..24

2.10.1.3 Internet ……….24

2.10.1.4 Network Interface ………25

2.11 IP Address.. ………25

2.11.1 IP Address version 4 ………..25

2.11.1.1 Representasi Alamat ………26

2.12 ICMP (Internet Control Message Protocol )…...………27

2.13 DNS (Domain Name System) ………...………28

2.14 DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) …...………29

2.15 Fedora ………...………31

2.16 YUM (Yellowdog Updater Modifier) ……...……… 32

2.17 Cacti ………...………..32

2.18 Zabbix ………...………...33

2.19 Protocol ………...………34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 35

3.1 Prosedur Penelitian... 35

3.1.1 Pengumpulan Data... 35


(11)

3.2 Metode Pengembangan Sistem... 38

3.3.1 Analisis... 38

3.3.2 Perancangan... 40

3.3.3 Simulasi Prototipe... 41

3.3.4 Penerapan... 41

3.3.5 Monitoring...42

3.3.6 Manajemen...42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 45

4.1 Profil PUSDATIN... 45

4.2 Analisis...54

4.3 Perancangan / Design ... 61

4.4 Simulasi Prototipe ... 65

4.5 Implementasi ...66

4.6 Monitoring ...82

4.7 Manajemen...93

BAB V PENUTUP...95

5.1 Kesimpulan...95

5.2 Saran ...96


(12)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Model Arsitektur Network Management... 10

Gambar 2.2 7 Layer OSI Model... 20

Gambar 2.3 Penjelasan OSI Model... 22

Gambar 3.1 Diagram Ilustrasi Metode Penelitian... 44

Gambar 4.1 Topologi Jaringan Fakultas Sains dan Teknologi...62

Gambar 4.2 Topologi Jaringan yang akan Diterapkan... 63

Gambar 4.3 Tampilan Halaman login Nagios... 74

Gambar 4.4 Halaman Konfigurasi Nagios... 75

Gambar 4.5 Contoh Gambar Software Putty... 78

Gambar 4.6 Halaman Home Nagios... 79

Gambar 4.7 Halaman Host Client... 80

Gambar 4.8 Halaman Berbentuk Map...81

Gambar 4.9 Halaman Host Beserta Service... 82

Gambar 4.10 Hasil Uji Koneksi Server NMS Nagios... 84

Gambar 4.11 Hasil Uji Koneksi Web Console NMS Nagios... 85

Gambar 4.12 Data Hasil Pengawasan Host... 87

Gambar 4.13 Email Notifikasi Masalah HTTP... 88

Gambar 4.14 Email Notifikasi Masalah PING...89

Gambar 4.15 Email Notifikasi Masalah Root Partition...90


(13)

Gambar 4.17 Email Notifikasi Masalah SSH...92 Gambar 4.18 Email Notifikasi Masalah IMAP...93


(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Perkembangan teknologi saat ini sangat mempengaruhi berbagai macam kegiatan, salah satunya perusahaan atau instansi yang memiliki teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas sumber daya yang dimiliki sehingga dapat mencapai produktivitas yang optimal. Peralatan yang digunakan untuk menunjang kegiatan perusahaan dan instansi tersebut haruslah dalam keadaan baik karena peralatan yang digunakan memiliki rentang waktu tertentu akibat dari kegiatan atau aktivitas yang telah dilakukan.

Salah satu peralatan non fisik yang digunakan untuk hal tersebut diatas adalah membuat sebuah konsep yang bernama Network Monitoring System (NMS) yaitu sistem ekstra atau kumpulan sistem yang memiliki tugas mengamati / memonitor sistem – sistem terhadap kemungkinan terjadinya masalah – masalah pada sistem tersebut untuk dapat dideteksi secara dini. Sebagai contoh, suatu monitoring sistem dapat secara periodik menghubungi suatu web server untuk menjamin adanya respon dari web server, jika tidak ada respon maka monitoring sistem kemudian mengirim pesan atau notifikasi ke administrator.


(15)

NMS bagian dari network management. Jika NMS diterapkan dengan tepat dan benar maka NMS dapat menjadi solusi untuk masalah monitor jaringan, namun jika sebaliknya maka NMS akan menjadi “malapetaka” bagi Anda. Misalkan, NMS tentunya akan mengirimkan pesan/notifikasi ke email Anda atau mengirimkan pesan SMS ke HP Anda ketika terjadi suatu masalah atau ketika terjadi krisis pada suatu sistem yang dimonitor. Jika Anda tidak tepat dalam menentukan kriteria krisi dari suatu sistem yang dimonitor maka bisa jadi Anda akan mendapatkan email atau pesan SMS terus menerus dari NMS.

Hal – hal yang akan di monitoring dalam network tentunya akan sangat kompleks, dan sistem monitoring yang baik seharusnya menyediakan history dan log yang memungkinkan kita membuat laporan, statistik dan graph dari masing – masing objek yang dimonitoring sehingga sistem Network Monitoring System yang digunakan memberikan kontribusi penuh dalam pendeteksian secara dini terhadap kemungkinan masalah – masalah yang timbul. Seperti: pencarian manual ketika salah satu jaringan terputus. Pertanyaan yang muncul adalah, adakah software atau program Network Monitoring System yang memiliki fitur – fitur tersebut. Jawabannya Ada, salah satu software Network Monitoring System yang terbaik dan open source yang dapat digunakan secara bebas di linux yaitu NAGIOS, hal inilah yang mendasari penulis membuat skripsi dengan judul “ SISTEM MONITORING JARINGAN LAN DAN WAN FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN JAKARTA.”. Tulisan ini merupakan penulisan skripsi yang merupakan syarat dalam memperoleh kelulusan dan memperoleh gelar sarjana.


(16)

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan pada bagian permasalahan dan identifikasi masalah di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang ada, yaitu :

1. Bagaimana menerapkan NMS yang tepat guna dan dapat dipakai oleh user tersebut.

2. Bagaimana melakukan konfigurasi sehingga NMS tersebut sesuai dengan kondisi di Fakultas Sains dan Teknologi.

1.3Batasan Masalah

Batasan masalah penelitian ini bisa dilihat sebagai berikut :

1. Perancangan Network Monitoring System menggunakan Nagios pada LINUX Ubuntu Server 10.

2. Hasil monitoring yang dilakukan yaitu: HTTP,PING, IMAP, Root Partition dan SNMP.


(17)

1.4Tujuan dan Manfaat Penulisan

1.4.1 Tujuan Penulisan

1. Dengan mengkonfigurasi dan mengembangkan sistem NMS pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta penulis dapat meneliti kelebihan dan kekurangan yang ada pada sistem tersebut

2. Tersedianya sistem NMS yang dapat mengawasi dan memonitor komputer client pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta dan dapat memaksimalkan dan meningkatkan efisiensi Sumber Daya Manusia yang ada di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.

1.4.2 Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

1. Menerapkan ilmu-ilmu yang diperoleh selama kuliah.

2. Menambah wawasan peneliti tentang teknologi SNMP dan menerapkannya langsung dengan mengembangkan aplikasi pengawasan client jaringan.


(18)

3. Untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan strata satu (S1), Tehnik Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bagi Fakultas Sains dan Teknologi

1. Dapat mengawasi komputer host pada ruang masing-masing jurusan.

3. Bagi Universitas

1. Mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menguasai materi pelajaran yang diberikan di bangku kuliah.

2. Mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menerapkan ilmunya dan sebagai bahan evaluasi.

1.4.3 Prosedur Penelitian

1.4.3.1Pengumpulan data

Metodologi pengumpulan data yang akan digunakan adalah : 1. Metode Studi Kepustakaan (Library Research) 2. Studi Lapangan (Field Research)


(19)

Metode pengembangan sistem yang dipilih oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode Network Development Life Cycle (NDLC). Fase – fase yang terdapat pada siklus NDLC tersebut adalah :

1. Analisis

2. Desain (perancangan) 3. Simulasi prototipe

4. Implementasi (penerapan) 5. Monitoring

6. Management

Fase – fase tersebut nantinya akan saling berkelanjutan dan secara teru – menerus digunakan untuk mendapatkan sebuah struktur jaringan yang tepat guna dan efisien. NDLC nantinya akan secara dinamis mampu menghadapi perubahan – perubahan kebutuhan baik didalam struktur jaringan perusahaan maupun perseorangan.


(20)

1.5Sistematika Penulisan Skripsi

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini berisikan latar belakang, permasalahan (rumusan masalah dan batasan masalah), tujuan dan manfaat penulisan (tujuan penulisan dan manfaat penulisan), metodologi penelitian (waktu, tempat dan prosedur penelitian), dan sistematika penulisan laporan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Bab ini akan mengandung teori – teori yang menjadi landasan dari penelitian, seperti teori Network Monitoring System dan teori Nagios

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini akan menjelaskan tentang tahapan – tahapan yang dilakukan dalam menyelesaikan skripsi ini. Dalam hal ini penulis menggunakan Network Development Life Cycle (NDLC)


(21)

Bab ini akan menjelaskan tentang Network Monitoring System dengan menggunakan Nagios sebagai toolsnya.

BAB V : PENUTUP


(22)

BAB II LANDASAN TEORI

2.1LAN Network (Jaringan Local Area Network)

Jaringan yang meliputi suatu area geografis yang relatif kecil (dalam suatu lantai atau gedung kecil). Dibandingkan dengan WAN (Wide Area Network), LAN biasanya dicirikan dengan kecepatan data yang relatif tinggi dan kecepatan error yang relatif rendah. LAN menghubungkan workstation, perangkat jaringan, terminal dan perangkat lain dalam area yang terbatas. Standar LAN menentukan perkabelan dan pensinyalan pada layer fisik dan layer data link dalam model OSI, Ethernet, FDDI dan Token Ring menggunakan teknologi LAN.

Perangkat-perangkat yang disambungkan dengan LAN bisa berada pada lantai bangunan yang sama atau di dalam gedung atau kampus yang sama. LAN dimiliki oleh pengguna dan tidak dioperasikan lewat sambungan sewa, walaupun LAN mungkin saja memiliki pintu gerbang PSTN atau jaringan swasta lainnya.

Kebanyakan LAN dibangun dengan perangkat keras yang relatif murah seperti kabel Ethernet, adaptor jaringan dan hub. Juga ada LAN nirkabel (wireless) dan pilihan perangkat keras LAN lainnya yang lebih maju. Perangkat lunak sistem operasi khusus bisa digunakan untuk menyusun LAN. Misalnya, sebagian besar karakter khas Microsoft Windows menyediakan paket perangkat


(23)

lunak yang dinamakan Internet Connection Sharing (ICS) yang mendukung akses terkendali ke sumber-sumber LAN. (Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer, 2004)

2.2Wireless Network

Wireless networks (jaringan nirkabel) menggunakan gelombang radio (RF) atau gelombang mikro untuk membentuk kanal komunikasi antar komputer. Jaringan nirkabel adalah alternatif yang lebih modern terhadap jaringan kabel yang bergantung pada kabel tembaga dan serat optik antar perangkat jaringan. (Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer, 2004)

Jaringan nirkabel memungkinkan orang melakukan komunikasi; mengakses aplikasi dan informasi tanpa kabel. Hal tersebut memberikan kebebasan bergerak dan kemampuan memperluas aplikasi ke berbagai bagian gedung, kota atau hampir semua tempat di dunia.

2.2.1 Mode Jaringan Wireless LAN

Wireless Local Area Network sebenarnya hampir sama dengan jaringan LAN, akan tetapi setiap node pada WLAN menggunakan wireless device untuk berhubungan dengan jaringan Node pada WLAN menggunakan channel frekuensi yang sama dan SSID yang menunjukkan identitas dari wireless device. Tidak seperti jaringan kabel, jaringan wireless memiliki dua mode yang dapat digunakan: infrastruktur dan Ad-Hoc. Konfigurasi infrastruktur adalah komunikasi antar masing-masing PC melalui sebuah access point pada WLAN atau LAN. Komunikasi Ad-Hoc adalah komunikasi secara langsung antar


(24)

masing-masing komputer dengan menggunakan piranti wireless. Penggunaan kedua mode ini tergantung dari kebutuhan untuk berbagi data atau kebutuhan yang lain dengan jaringan kabel.

2.3Network Management

Komunikasi pada jaringan komputer merupakan suatu sistem yang kompleks, yang terdiri dari sistem koneksi, sistem perangkat keras, sistem perangkat lunak dan sistem protokol. Sebagaimana halnya jaringan yang dikoneksikan, bahkan ke dalam bentuk internetwork yang lebih kompleks lagi, pembangunan suatu sistem manajemen jaringan harus didukung oleh teknik yang memungkinkan suatu komponen menjadi model dalam bentuk yang logis dan tetap mempertahankan kerangka bagi penanganan semua kompleksitas fisik yang sebenarnya, yang ikut terlibat.


(25)

Gambar. 2.1 : Model Arsitektur Network Management

Contoh gambar 2.1 menggambarkan dua macam perangkat jaringan, Network Management System (NMS) dan Network Management Agent. NMS dan Agent berkomunikasi pada level peer to peer melalui protokol Network Management (NM). Pada model yang lebih lanjut digambarkan komunikasi end-to-end melalui internetwork antara dua perangkat jaringan, melalui suatu perangkat tumpukan protokol dan perangkat driver untuk aplikasi dan komunikasi internetwork.

Model Arsitektur NM ini digunakan oleh Simple Network Management Protocol, yang mana menggunakan paradigma NMS/Agent untuk pertukaran protokol NM. Perangkat jaringan yang menggunakan SNMP terutama menggunakan rangkaian protokol TCP/IP untuk aplikasi layanan dan protokol internetworking bagi komunikasi


(26)

end-to-end. NMS dan Agent merupakan contoh dari entiti pada level aplikasi. Model ini merupakan titik awal untuk menjelaskan NM pada umumnya dan SNMP khususnya. Dengan memperinci setiap elemen didalam model, kita menunjukkan dalam detil dan kompleksitas yang lebih baik mengenai perangkat jaringan yang menclukung baik NMS maupun agent didalam lingkungan SNMP. (Hartono, 1999) 2.4Simple Network Management Protocol

SNMP adalah kerangka manajemen jaringan untuk perangkat internetwork utama berisi rangkaian protokol TCP/IP. SNMP menggunakan model Manager/Agent dan protokolnya beroperasi pada level aplikasi atau level "proses" pada model TCP/IP. (1) SNMP ditetapkan dalam suatu standar yang menclorong kerangka fleksibilitas dan ekstensibilitas. SNMP berbasiskan kepada standar internet yang menetapkan tiga komponen utama Structure of Management Information (SMI), Management Information Base (MIB) dan protokol SNMP itu sendiri, yang mengarah kepada SNMP. Standar-standar tersebut diterbitkan sebagai Request for Comment (RFC) dan tersedia untuk distribusi yang tak terbatas. (Miazarti, 2011)

SMI adalah suatu notasi standar untuk menggambarkan informasi manajemen. MIB berisi variabel-variabel yang menjadi perhatian untuk dikelola. Dengan menetapkan standar manajemen objek dan dengan menyediakan kemampuan untuk menetapkan grup-grup MIB yang baru, SNMP telah diperluas untuk mengelola banyak protokol-protokol dan perangkatperangkat baru. Format yang disamaratakan dari defmisi MIB memungkinkan suatu grup MIB untuk ditetapkan untuk setiap layanan terkelola baru.


(27)

Vendor-vendor memiliki suatu standar untuk menambah objek-objek yang dikelolanya sendiri. Upaya tambahan sedang dilaksanakan agar SNMP bekerja dengan kerangka jaringan manajemen lain seperti IBM SNA, berbagai skema LAN dan skema kepemilikan jaringan manajemen populer lainnya.

2.5 Hypertext Tranfer Protocol

HTTP adalah sebuah protokol meminta/menjawab antara klien dan server. Sebuah klien HTTP (seperti web browser atau robot dan lain sebagainya), biasanya memulai permintaan dengan membuat hubungan ke port tertentu di sebuah server Webhosting tertentu (biasanya port 80). Klien yang mengirimkan permintaan HTTP juga dikenal dengan user agent. Server yang meresponsnya, yang menyimpan sumber daya seperti berkas HTML dan gambar, dikenal juga sebagai origin server. Di antara user agent dan juga origin server, bisa saja ada penghubung, seperti halnya proxy, gateway, dan juga tunnel. (Rafiza, 2006)

HTTP tidaklah terbatas untuk penggunaan dengan TCP/IP, meskipun HTTP merupakan salah satu protokol aplikasi TCP/IP paling populer melalui Internet. Memang HTTP dapat diimplementasikan di atas protokol yang lain di atas Internet atau di atas jaringan lainnya. seperti disebutkan dalam "implemented on top of any other protocol on the Internet, or on other networks.", tapi HTTP membutuhkan sebuah protokol lapisan transport yang dapat diandalkan. Protokol lainnya yang menyediakan layanan dan jaminan seperti itu juga dapat digunakan.


(28)

Sumber daya yang hendak diakses dengan menggunakan HTTP diidentifikasi dengan menggunakan Uniform Resource Identifier (URI), atau lebih khusus melalui Uniform Resource Locator (URL). Sesuai dengan perkembangan infrastruktur internet maka pada tahun 1999 dikeluarkan HTTP versi 1.1 untuk mengakomodasi proxy, cache dan koneksi yang persisten.

2.6 PING (Packet Internet Ghoper)

PING adalah sebuah program utilitas yang dapat digunakan untuk memeriksa konektivitas jaringan berbasis teknologi Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP). Dengan menggunakan utilitas ini, dapat diuji apakah sebuah komputer terhubung dengan komputer lainnya. (Muuss, 1983).

Hal ini dilakukan dengan mengirim sebuah paket kepada alamat IP yang hendak diujicoba konektivitasnya dan menunggu respon darinya.

2.7 Simple Mail Transfer Protocol (SMTP)

SMTP adalah protokol standar untuk mentransfer surat antara host-host dalam protokol TCP/IP. Hal ini didefinisikan juga dalam RFC 821. RFC adalah singkatan dari Request For Comment, yaitu dokumen-dokumen atau jurnal-jurnal yang dijadikan acuan dalam pembuatan suatu sistem. Walaupun pesan yang ditransfer oleh SMTP biasanya mengikuti format yang telah didefinisikan dalam RFC 822, namun SMTP tidak mengatur format atau isi dari pesan tersebut dengan dua perkecualian. (Stallings, 1997).


(29)

Konsep ini mengatakan bahwa SMTP menggunakan informasi yang ditulis pada amplop surat (message header) dan tidak melihat isi surat (message body). Kedua perkecualian yang disebutkan di atas adalah:

1. SMTP menstandarisasi karakter pesan menjadi tujuh bit ASCII 2. SMTP menambahkan informasi log

Mula-mula surat dibuat oleh user-agent program yang menangani masukan dari pengguna. Setiap pesan yang telah dibuat berisi header dan body. Di dalam header berisi alamat e-mail penerima serta informasi lainnya dan pada body berisi pesan yang akan dikirimkan. Pesan-pesan ini kemudian akan ditaruh dalam antrian yang sudah ditentukan yang selanjutnya akan dijadikan masukan (input) untuk SMTP

Sender Program yang pada umumnya selalu ada pada server mail host tersebut. Contoh header pada SMTP adalah:

Date: Tue, 16 Jan 1996 10:37:17 (EST)

From: “William Stallings” <ws@host.com>

Subject: The Syntax To: smith@other-host.com Cc: jones@yet_another_host.com

Walaupun struktur antrian surat berbeda-beda tergantung dari sistem operasinya, secara konsep antrian surat mempunyai dua bagian, yaitu:

1. Teks pesan yang berisi header dan body. 2. Daftar tujuan-tujuan surat.


(30)

Daftar tujuan-tujuan tersebut diperoleh user agent dari message header. Dalam beberapa kasus, alamat tujuan biasanya sudah tercantum dalam message header. Dalam kasus lain, user agent mungkin perlu memperluas nama-nama dalam mailing list, membuang duplikat, dan mengganti nama-nama mnemonic dengan nama-nama yang aktual. Jika terdapat blind carbon copies (BCC), user agent perlu menyiapkan pesan sesuai dengan kebutuhan ini. Ide dasarnya adalah format-format dan gaya-gaya ganda yang dibuat manusia dalam antar muka (interface) pengguna yang digantikan oleh daftar standar untuk SMTP send program.

Menurut Stallings (1997), protokol SMTP digunakan untuk mentransfer sebuah pesan dari SMTP sender ke SMTP receiver melalui koneksi TCP. SMTP berusaha menyediakan operasi yang terpercaya, tetapi tidak menjamin pesan tersebut pasti sampai pada alamat yang dituju. Tidak ada end-to-end acknowledgement yang dikembalikan kepada pengirim jika pesan telah sukses dikirimkan kepada alamat tujuan dan indikasi kesalahan juga tidak dijamin akan dikembalikan. Tetapi secara umum system mail

yang menggunakan SMTP bisa dikatakan terpercaya, seperti yang dikatakan Stallings

dala buku ya “talli gs, 199 : 99 : However, the SMTP-based mail system is generally considered reliable.

SMTP receiver menerima setiap pesan yang dikirimkan dan menyimpannya dalam

mailbox yang sesuai atau menyalinnya pada antrian lokal (pada kasus forwarding). SMTP receiver harus bisa memperjelas tujuan surat lokal dan menangani kesalahan-kesalahan, termasuk kesalahan transmisi (transmisiion errors) atau kekurangan kapasitas disk.


(31)

Pada pengiriman sebuah pesan, SMTP sender hanya bertanggung jawab sampai SMTP receiver mengatakan bahwa proses pengiriman telah selesai. Hal ini bukan berarti pesan tersebut telah dikirimkan dan diterima oleh resipien yang dimaksud.

Dalam banyak kasus, pesan-pesan dikirimkan dari mesin asal sampai ke mesin tujuan hanya dengan melakukan satu kali koneksi TCP. Tetapi kadang-kadang, surat harus melalui mesin perantara lewat kapabilitas SMTP forwarding. Dalam kasus ini sebuah pesan harus melakukan beberapa kali koneksi TCP antara source dan

destination melalui beberapa sekuensial server. Hal umum yang menyebabkan

forwarding diperlukan adalah karena seorang pengguna telah mengubah alamat e-mailnya.

Perlu dicatat bahwa SMTP protokol hanya terbatas pada interaksi yang terjadi antara SMTP sender dan SMTP receiver. Fungsi utama SMTP adalah untuk mentransfer pesan-pesan, walaupun ada beberapa fungsi lain yang mengatur tentang verifikasi dan penanganan tujuan surat (mail destination verification and handling). 2.8 Network Monitoring System

Konsep Network Monitoring System (NMS) sebenarnya sederhana yaitu sistem ekstra atau kumpulan sistem yang memiliki tugas mengamati / memonitor sistem – sistem terhadap kemungkinan terjadinya masalah – masalah pada sistem tersebut untuk dapat dideteksi secara dini. Sebagai contoh, suatu monitoring sistem dapat secara periodik menghubungi suatu web server untuk menjamin adanya respon dari web server, jika tidak ada


(32)

respon maka monitoring sistem kemudian mengirim pesan atau notifikasi ke administrator.

NMS bagian dari network management. Jika NMS diterapkan dengan tepat dan benar maka NMS dapat menjadi sahabat baik Anda, namun jika sebaliknya maka NMS akan menjadi “malapetaka” bagi Anda. Misalkan, NMS tentunya akan mengirimkan pesan/notifikasi ke email Anda atau mengirimkan pesan SMS ke HP Anda ketika terjadi suatu masalah atau ketika terjadi krisis pada suatu sistem yang dimonitor. Jika Anda tidak tepat dalam menentukan kriteria krisi dari suatu sistem yang dimonitor maka bisa jadi Anda akan mendapatkan email atau pesan SMS terus menerus dari NMS.

Hal – hal yang akan di monitoring dalam network tentunya akan sangat kompleks, dan sistem monitoring yang baik seharusnya menyediakan history dan log yang memungkinkan kita membuat laporan, statistik dan graph dari masing – masing objek yang dimonitoring sehingga sistem Network Monitoring System yang digunakan memberikan kontribusi penuh dalam pendeteksian secara dini terhadap kemungkinan masalah – masalah yang timbul. Seperti: pencarian manual ketika salah satu jaringan terputus. Pertanyaan yang muncul adalah, adakah software atau program Network Monitoring System yang memiliki fitur – fitur tersebut. Jawabannya Ada, salah satu software Network Monitoring System yang terbaik dan open source yang dapat digunakan secara bebas di linux yaitu NAGIOS.


(33)

Nagios adalah tool network monitoring system open source yang terbaik. Nagios bersifat modular, mudah digunakan dan memiliki skalabilitas tinggi. Modul atau plugin pada nagios sangat simple. Anda pun dapat membuatnya guna melengkapi system checking pada nagios sesuai dengan kebutuhan Anda. Nagios awalnya didesain untuk berjalan pada sistem operasi Linux, namun dapat juga berjalan dengan baik hampir disemua sistem operasi unix like. Beberapa fitur-fitur yang tersedia pada Nagios diantaranya adalah:

1. Memonitor jaringan pelayanan (SMTP, POP3, HTTP, NNTP, PING, etc.) 2. Memonitor sumber server (processor load, disk usage, etc.)

3. Desain plugin yang mudah sehingga user dapat membuat pelayanan pengawasan sendiri

4. Dapat memparalelkan cara pengawasan

5. Memiliki kemampuan untuk menetapkan host utama menggunakan server host, mempermudah deteksi dini dan perbedaan antara host satu dengan yang lain. 6. Memberi tahu admin jika pelayanan atau masalah timbul dan langsung ditangani

(via email, pager, atau media lain)

7. Memiliki kemampuan untuk menetapkan operator untuk tetap berjalan ketika sedang ada liburan atau cuti.

8. Otomatis merotasi file yang masuk.

9. Mensuport untuk implementasi pengawasan host yang lain.

10. Opsi lain pada web untuk melihat status jaringan saat ini, pemberitahuan-pemberitahuan dan masalah-masalah, file yang masuk, dll.


(34)

2.9 OSI Layer

OSI Layer adalah suatu model konseptual yang terdiri atas tujuh layer, yang masing-masing layer tersebut mempunyai fungsi yang berbeda. OSI dikembangkan oleh badan Internasional yaitu ISO (International Organization for Standardization) pada tahun 1977. Model ini juga dikenal dengan model tujuh lapis OSI (OSI seven layer model). Berikut dibawah ini merupakan gambar dari model OSI 7 Layer.

Gambar 2.2 7 Layer OSI Model


(35)

Application adalah Layer paling tinggi dari model OSI, seluruh layer dibawahnya bekerja untuk layer ini, tugas dari application layer adalah Berfungsi sebagai antarmuka dengan aplikasi dengan fungsionalitas jaringan, mengatur bagaimana aplikasi dapat mengakses jaringan, dan kemudian membuat pesan-pesan kesalahan. Protokol yang berada dalam lapisan ini adalah HTTP, FTP, SMTP, NFS.

2.9.2 Presentation

Presentation berfungsi untuk mentranslasikan data yang hendak ditransmisikan oleh aplikasi ke dalam format yang dapat ditransmisikan melalui jaringan. Protokol yang berada dalam level ini adalah perangkat lunak redirektor (redirector software), seperti layanan Workstation (dalam windows NT) dan juga Network shell (semacam Virtual network komputing (VNC) atau Remote Dekstop Protokol (RDP).

2.9.3 Session

Session berfungsi untuk mendefinisikan bagaimana koneksi dapat dibuat, dipelihara, atau dihancurkan. Selain itu, di level ini juga dilakukan resolusi nama.

2.9.4 Transport

Transport berfungsi untuk memecah data ke dalam paket-paket data serta memberikan nomor urut ke paket-paket tersebut sehingga dapat disusun kembali pada sisi tujuan setelah diterima. Selain itu, pada level ini juga membuat sebuah tanda bahwa paket diterima dengan sukses


(36)

(acknowledgement), dan mentransmisikan ulang terhadap paket-paket yang hilang di tengah jalan.

2.9.5 Network

Network berfungsi untuk mendefinisikan alamat-alamat IP, membuat header untuk paket-paket, dan kemudian melakukan routing melalui internetworking dengan menggunakan router dan switch layer3.

2.9.6 Data Link

Data Link berfungsi untuk menentukan bagaimana bit-bit data dikelompokkan menjadi format yang disebut sebagai frame. Selain itu, pada level ini terjadi koreksi kesalahan, flow control, pengalamatan perangkat keras seperti halnya Media Access Control Address (MAC Address), dan menetukan bagaimana perangkat-perangkat jaringan seperti hub, bridge, repeater, dan switch layer2 beroperasi. Spesifikasi IEEE 802, membagi level ini menjadi dua level anak, yaitu lapisan Logical Link Control (LLC) dan lapisan Media Access Control (MAC).

2.9.7 Physical

Physical adalah Layer paling bawah dalam model OSI. Berfungsi untuk mendefinisikan media transmisi jaringan, metode pensinyalan, sinkronisasi bit, arsitektur jaringan (seperti halnya Ethernet atau Token Ring), topologi jaringan dan pengabelan. Selain itu, level ini juga mendefinisikan bagaimana Network Interface Card (NIC) dapat berinteraksi dengan media kabel atau radio.


(37)

Gambar 2.3 Penjelasan OSI Model

Cara Kerja : Pembentukan paket dimulai dari layer teratas model OSI. Aplication layer megirimkan data ke presentation layer, di presentation layer data ditambahkan header dan atau tailer kemudian dikirim ke layer dibawahnya, pada layer dibawahnya pun demikian, data ditambahkan header dan atau tailer kemudian dikirimkan ke layer dibawahnya lagi, terus demikian sampai ke physical layer. Di physical layer data dikirimkan melalui media transmisi ke host tujuan. Di host tujuan paket data mengalir dengan arah sebaliknya, dari layer paling bawah kelayer paling atas. Protokol pada physical layer di host tujuan mengambil paket data dari media transmisi


(38)

kemudian mengirimkannya ke data link layer, data link layer memeriksa data-link layer header yang ditambahkan host pengirim pada paket, jika host bukan yang dituju oleh paket tersebut maka paket itu akan di buang, tetapi jika host adalah yang dituju oleh paket tersebut maka paket akan dikirimkan ke network layer, proses ini terus berlanjut sampai ke application layer di host tujuan. Proses pengiriman paket dari layer ke layer ini disebut dengan “peer -layer communication”. Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian pada Network Layer yang bertugas untuk memonitoring jaringan.

2.10 TCP/IP

TCP/IP (Transmission Control Protokol / Internet Protokol ) adalah standar komunikasi data yang digunakan oleh komunitas internet dalam proses tukar-menukar data dari satu komputer ke komputer lain di dalam jaringan Internet. Protokol TCP/IP dikembangkan pada akhir dekade 1970-an hingga awal 1980-an sebagai sebuah protokol st1980-andar untuk menghubungk1980-an komputer-komputer dan jaringan untuk membentuk sebuah jaringan yang luas (WAN). TCP/IP merupakan sebuah standar jaringan terbuka yang bersifat independen terhadap mekanisme transport jaringan fisik yang digunakan, sehingga dapat digunakan di mana saja.

2.10.1 Definisi Masing-masing Layer pada model TCP/IP

2.10.1.1 Application merupakan Layer paling atas pada model TCP/IP, yang bertanggung jawab untuk menyediakan akses kepada aplikasi terhadap layanan jaringan TCP/IP. Protokol ini mencakup protokol Dynamic Host Configuration


(39)

Protocol (DHCP), Domain Name System (DNS), Hypertext Transfer Protocol (HTTP), File Transfer Protocol (FTP), Telnet, Simple Mail Transfer Protocol (SMTP), Simple Network Management Protocol (SNMP), dan masih banyak protokol lainnya. Dalam beberapa implementasi Stack Protocol, seperti halnya Microsoft TCP/IP, protokol-protokol lapisan aplikasi berinteraksi dengan menggunakan antarmuka Windows Sockets (Winsock) atau NetBios over TCP/IP (NetBT).

2.10.1.2 Transport berguna untuk membuat komunikasi menggunakan sesi koneksi yang bersifat connection-oriented atau broadcast yang bersifat connectionless. Protokol dalam lapisan ini adalah Transmission Control Protocol (TCP) dan User Diagram Protocol (UDP).

2.10.1.3 Internet berfungsi untuk melakukan pemetaan (routing) dan enkapsulasi paket-paket data jaringan menjadi paket-paket IP. Protokol yang bekerja dalam lapisan ini adalah Internet Protocol (IP), Address Resolution Protocol (ARP),Internet control Message Protocol (ICMP), dan Internet Group Management Protocol (IGMP).

2.10.1.4 Network Interface berfungsi untuk meletakkan frame – frame jaringan di atas media jaringan yang digunakan. TCP/IP dapat bekerja dengan banyak teknologi transport, mulai dari teknologi transport dalam LAN (seperti halnya Ethernet dan Token Ring), Man dan Wan (seperti halnya dial-up model yang berjalan di atas Public Switched Telephone Network (PSTN), Integrated Services Digital Network (ISDN), serta Asynchronous Transfer Mode (ATM).


(40)

2.11 IP Address

Alamat IP adalah deretan angka biner antar 32-bit sampai 128-bit yang dipakai sebagai alamat identifikasi untuk tiap komputer host dalam jaringan Internet. Panjang dari angka ini adalah 32-bit (untuk IPv4 atau IP versi 4), dan 128-bit (untuk IPv6 atau IP versi 6) yang menunjukkan alamat dari komputer tersebut pada jaringan Internet berbasis TCP/IP.

2.11.1 IP Address version 4

Alamat IP versi 4 adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host di seluruh dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256 (didapatkan dari 8 bit) dipangkat 4(karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamt IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255 dimana nilai dihitung dari nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah 256x256x256x256=4.294.967.296 host. sehingga bila host yang ada diseluruh dunia melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6.

Contoh alamat IP versi 4 adalah 192.168.0.3.


(41)

Alamat IP versi 4 umumnya diekspresikan dalam notasi desimal bertitik (dotted-decimal notation), yang dibagi ke dalam empat buah oktet berukuran 8-bit. Dalam beberapa buku referensi, format bentuknya adalah w.x.y.z. Karena setiap oktet berukuran 8-bit, maka nilainya berkisar antara 0 hingga 255 (meskipun begitu, terdapat beberapa pengecualian nilai).

Alamat IP yang dimiliki oleh sebuah host dapat dibagi dengan menggunakan subnet mask jaringan ke dalam dua buah bagian, yakni:

1. Network Identifier/NetID atau Network Address (alamat jaringan) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat jaringan di mana host berada. Dalam banyak kasus, sebuah alamat network identifier adalah sama dengan segmen jaringan fisik dengan batasan yang dibuat dan didefinisikan oleh router IP. Meskipun demikian, ada beberapa kasus di mana beberapa jaringan logis terdapat di dalam sebuah segmen jaringan fisik yang sama dengan menggunakan sebuah praktek yang disebut sebagai multinetting. Semua sistem di dalam sebuah jaringan fisik yang sama harus memiliki alamat network identifier yang sama. Network identifier juga harus bersifat unik dalam sebuah Internetwork. Jika semua node di dalam jaringan logis yang sama tidak dikonfigurasikan dengan menggunakan network identifier yang sama, maka terjadilah masalah yang disebut dengan routing error. Alamat network identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255.


(42)

2. Host Identifier/HostID atau Host address (alamat host) yang digunakan khusus untuk mengidentifikasikan alamat host (dapat berupa workstation, server atau sistem lainnya yang berbasis teknologi TCP/IP) di dalam jaringan. Nilai host identifier tidak boleh bernilai 0 atau 255 dan harus bersifat unik di dalam network identifier/segmen jaringan di mana ia berada.

2.12 ICMP (Internet Control Message Protocol)

adalah salah satu protokol inti dari keluarga protokol internet. ICMP utamanya digunakan oleh sistem operasi komputer jaringan untuk mengirim pesan kesalahan yang menyatakan, sebagai contoh, bahwa komputer tujuan tidak bisa dijangkau. ICMP berbeda tujuan dengan TCP dan UDP dalam hal ICMP tidak digunakan secara langsung oleh aplikasi jaringan milik pengguna. salah satu pengecualian adalah aplikasi ping yang mengirim pesan ICMP Echo Request (dan menerima Echo Reply) untuk menentukan apakah komputer tujuan dapat dijangkau dan berapa lama paket yang dikirimkan dibalas oleh komputer tujuan.

2.13 DNS (Domain Name System)

DNS adalah adalah sebuah sistem yang menyimpan informasi tentang nama host maupun nama domain dalam bentuk basis data tersebar (distributed database) di dalam jaringan komputer, misalkan: Internet. DNS menyediakan alamat IP untuk


(43)

setiap nama host dan mendata setiap server transmisi surat (mail exchange server) yang menerima surat elektronik (email) untuk setiap domain.

DNS menyediakan servis yang cukup penting untuk Internet, bilamana perangkat keras komputer dan jaringan bekerja dengan alamat IP untuk mengerjakan tugas seperti pengalamatan dan penjaluran (routing), manusia pada umumnya lebih memilih untuk menggunakan nama host dan nama domain, contohnya adalah penunjukan sumber universal (URL) dan alamat e-mail. DNS menghubungkan kebutuhan ini.

Penggunaan nama sebagai pengabstraksi alamat mesin di sebuah jaringan komputer yang lebih dikenal oleh manusia mengalahkan TCP/IP, dan kembali ke zaman ARPAnet. Dahulu, setiap komputer di jaringan komputer menggunakan file HOSTS.TXT dari SRI (sekarang SIR International), yang memetakan sebuah alamat ke sebuah nama (secara teknis, file ini masih ada - sebagian besar sistem operasi modern menggunakannya baik secara baku maupun melalui konfigurasi, dapat melihat Hosts file untuk menyamakan sebuah nama host menjadi sebuah alamat IP sebelum melakukan pencarian via DNS). Namun, sistem tersebut diatas mewarisi beberapa keterbatasan yang mencolok dari sisi prasyarat, setiap saat sebuah alamat komputer berubah, setiap sistem yang hendak berhubungan dengan komputer tersebut harus melakukan update terhadap file Hosts.


(44)

Dengan berkembangnya jaringan komputer, membutuhkan sistem yang bisa dikembangkan: sebuah sistem yang bisa mengganti alamat host hanya di satu tempat, host lain akan mempelajari perubaha tersebut secara dinamis. Inilah DNS.

Paul Mockapetris menemukan DNS di tahun 1983; spesifikasi asli muncul di RFC 882 dan 883. Tahun 1987, penerbitan RFC 1034 dan RFC 1035 membuat update terhadap spesifikasi DNS. Hal ini membuat RFC 882 dan RFC 883 tidak berlaku lagi. Beberapa RFC terkini telah memproposikan beberapa tambahan dari protokol inti DNS.

2.14 DHCP ( Dynamic Host Configuration Protocol)

DHCP adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.

DHCP didefinisikan dalam RFC 2131 dan RFC 2132 yang dipublikasikan oleh Internet Engineering Task Force. DHCP merupakan ekstensi dari protokol Bootstrap Protocol (BOOTP). Karena DHCP merupakan sebuah protokol yang menggunakan


(45)

arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.

1. DHCP server merupakan sebuah mesin yang menjalankan layanan yang dapat "menyewakan" alamat IP dan informasi TCP/IP lainnya kepada semua klien yang memintanya. Beberapa sistem operasi jaringan seperti Windows NT Server, Windows 2000 Server, Windows Server 2003, atau GNU/Linux memiliki layanan seperti ini.

2. DHCP client merupakan mesin klien yang menjalankan perangkat lunak klien DHCP yang memungkinkan mereka untuk dapat berkomunikasi dengan DHCP Server. Sebagian besar sistem operasi klien jaringan (Windows NT Workstation, Windows 2000 Professional, Windows XP, Windows Vista, atau GNU/Linux) memiliki perangkat lunak seperti ini.

DHCP server umumnya memiliki sekumpulan alamat yang diizinkan untuk didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool. Setiap klien kemudian akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan alamat IP tersebut habis masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan alamat IP yang baru atau memperpanjangnya.

Berbeda dengan sistem DNS yang terdistribusi, DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP


(46)

dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi ke DHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.

Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.

2.15 Fedora

Fedora adalah sebuah distro Linux berbasis RPM dan yum yang dikembangkan oleh Fedora Project yang didukung oleh komunitas pemrogram serta disponsori oleh Red Hat. Nama Fedora berasal dari karakter fedora yang digunakan di logo Red Hat. Pada rilis 1 sampai 6 distro ini bernama Fedora Core yang kemudian berubah menjadi Fedora pada rilis ke-7. Fedora dikenal di dunia Linux sebagai sebuah distro yang menjadi pioneer dalam penggunaan teknologi terkini dan merupakan distro yang digunakan oleh Linus Torvalds.


(47)

2.16 YUM (Yellowdog Updater Modifier)

YUM adalah paket manajemen open source berbasis command line yang menghandle file-file RPM, biasanya secara default terinstall pada distro-distro redhat base, seperti CentOS, Fedora dan kawan-kawannya :D.

Contoh pemakaian YUM :

Menginstall Paket # yum install namapaket

misal kita ingin menginstall paket htppd jalankan perintah berikut # yum install httpd

Mengupdate Paket # yum update namapaket

Menghapus Paket yang terinstall # yum remove namapaket

Melihat paket yang dapat di insatll pada sistem # yum list all


(48)

Melihat paket yang terinstall pada sistem # yumlist installed

2.17 Cacti

Cacti (Cactus) merupakan aplikasi yang dapat menghasilkan laporan statistik jaringan dalam tampilan grafik. Cacti merupakan frontend RRDtools yang menyimoan semua informasi yang dipelukan untuk membuat graph dan menyimpan hasilnya ke dalam sebuah database MySQL. Frontend Cacti dibuat sepenuhnya dengan menggunakan bahasa PHP.

Cacti dapat digunakan untuk menyimpan graph, data source dan round robin archives ke dalam sebuah database. Aplikasi ini juga mendukung protokol SNMP sehingga dapat digunakan untuk membuat traffic graph. (Kundu dan Lavlu, 2009 : 6)

2.18 Zabbix

Zabbix merupakan aplikasi class enterprise yang dapat digunakan untuk mengawasi dan melacak status berbagai macam servis jaringan, server, hardware komputer dan perangkat jaringan lainnya.

Untuk menyimpan log data yang dihasilkan, zabbix memanfaatkan database server seperti MySQL, PostgreSQL atau Oracle untuk menyimpan data. Tampilan zabbix dibuat berbasiskan web dan dibuat sepenuhnya dengan menggunakan bahasa PHP.


(49)

Zabbix dapat dengan mudah mengetahui status keberadaan sejumlah standar servis seperti SMTP atau HTTP tanpa menginstalasi software tambahan lainnya pada komputer agent.

Agent menghasilkan statistik penggunaan resource hardware komputer, utilisasi jaringan dan sebagainya. Zabbix juga mendukung proses monitoring melalui protokol SNMP.

2.19 Protocol

Protocol adalah sebuah aturan atau standar yang mengatur atau mengijinkan terjadinya hubungan, komunikasi, dan perpindahan data antara dua atau lebih titik komputer. Protokol dapat diterapkan pada perangkat keras, perangkat lunak atau kombinasi dari keduanya. Pada tingkatan yang terendah, protokol mendefinisikan koneksi perangkat keras. Prinsip dalam membuat protokol ada tiga hal yang harus dipertimbangkan, yaitu efektivitas, kehandalan, dan Kemampuan dalam kondisi gagal di network. Protokol distandarisasi oleh beberapa organisasi yaitu IETF, ETSI, ITU, dan ANSI. Tugas yang biasanya dilakukan oleh sebuah protokol dalam sebuah jaringan diantaranya adalah :

1. Melakukan deteksi adanya koneksi fisik atau ada tidaknya komputer / mesin lainnya.


(50)

3. Negosiasi berbagai macam karakteristik hubungan.

4. Bagaimana mengawali dan mengakhiri suatu pesan.

5. Bagaimana format pesan yang digunakan.

6. Yang harus dilakukan saat terjadi kerusakan pesan atau pesan yang tidak sempurna.

7. Mendeteksi rugi-rugi pada hubungan jaringan dan langkah-langkah yang dilakukan selanjutnya.


(51)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Prosedur Penelitian

3.1.1 Pengumpulan Data

Metodologi pengumpulan data yang digunakan adalah : 1. Metode Studi Kepustakaan

Dilakukan dengan cara membaca buku-buku, artikel-artikel, majalah dan koran yang berhubungan dengan istilah komputer. Secara detail dapat dilihat di daftar pustaka.

2. Metode Observasi.

Mengumpulkan data dan informasi dengan cara mengamati langsung subjek yang bersangkutan pada PUSDATIN UIN Jakarta. Yang dilakukan di Fakultas Sains dan Teknologi pada hari senin dan selasa pada 15-16 Agustus 2011.

3.1.2 Pengembangan Sistem.

Metode pengembangan sistem yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah Network Development Life Cycle (NDLC). Secara spesifik NDLC adalah kegiatan yang dilakukan penulis dalam penelitian ini akan dijelaskan sebagai berikut.


(52)

Model utama didalam proses perancangan jaringan disebut sebagai network development life cycle (NDLC). Untuk lebih mendetail dapat dilihat di BAB IV. Dimana model ini terdiri dari beberapa fase yakni :

1. Fase analisis (analysis)

Tahap awal ini dilakukan analisis kebutuhan, analisis permasalahan yang muncul, analisis keinginan user, dan analisis topologi / jaringan yang akan atau sudah dibentuk.

2. Fase perancangan (design)

Dari data-data yang didapatkan dari fase analisis, tahap perancangan ini akan membuat gambar rancangan topologi jaringan interkoneksi yang akan dibangun, diharapkan dengan gambar ini akan memberikan gambaran seutuhnya kebutuhan yang ada.

3. Fase simulasi prototipe (simulation prototyping)

Fase ini bertujuan untuk melihat kinerja awal dari jaringan yang akan dibangun dan sebagai bahan pertimbangan sebelum jaringan benar-benar akan diterapkan. Biasanya fase ini menggambarkan secara simulasi atau dilakukan uji coba jaringan prapenerapan.

4. Fase penerapan (implementation)

Dalam tahap ini akan diterapkan semua yang telah direncanakan dan di rancang sebelumnya. Fase penerapan merupakan tahapan yang sangat menentukan dari berhasil / gagalnya project yang akan dibangun. 5. Fase pengawasan (monitoring)


(53)

Pengawasan merupakan tahapan yang penting, agar jaringan komputer dan komunikasi dapat berjalan sesuai dengan keinginan dan tujuan awal dari user pada tahap awal analisis, maka perlu dilakukan kegiatan monitoring.

6. Fase pengaturan (management)

Tahapan ini memiliki fungsi untuk membuat / mengatur agar sistem yang telah dibangun dan berjalan dengan baik dapat berlangsung lama dan unsur reliability terjaga. (Deris Setiawan, Fundamental Internetworking Development & Design Life Cycle, 2009)

Lingkaran analisis, perancangan, simulasi prototipe, penerapan, pengawasan dan pengaturan adalah satu kesatuan. Lingkaran ini dibutuhkan didalam jaringan yang penempatannya berada pada kondisi perubahan yang terus-menerus terjadi bersamaan perubahan bisnis, aplikasi atau kebutuhan data sehingga jaringan harus dirancang dengan sendirinya menjadi dinamis untuk mensukseskan kebutuhan perubahan. Network development life cycle melayani sebagai logika framework dimana perancangan jaringan yang dinamis bisa maju dengan pesat. (Goldman, James E. & Rawles, Philip T. Applied Data Communication; a Business Oriented Approach 3rd edition, 2001) Penulis menerapkan tahapan yang ada pada network development life cycle (NDLC), yaitu tahap analisis, desain, simulasi dasar, penerapan, monitoring dan manajemen. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan


(54)

hasil penelitian yang optimal dan bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan sebuah sistem jaringan nirkabel yang akan diterapkan.

3.2.2.1 Tahap Analisis

Tahap analisis merupakan tahap penelitian jaringan komputer yang akan dimonitoring pada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta dengan cara observasi dan studi kepustakaan dalam hal yang berkaitan dengan jaringan komputer.

Selain kegiatan penelitian sistem yang sedang berjalan, tujuan lain dari analisis ini adalah untuk mencari lebih lanjut tentang kelebihan dan kelemahan pada jaringan tersebut dan melakukan perancangan yang akan diterapkan. Dalam tahap analisis diuraikan masalah-masalah dari suatu struktur jaringan komputer secara utuh ke

dalam bagian-bagian komponennya dengan maksud untuk

mengidentifikasi dan mengevaluasi permasalahan yang ada, kesempatan, peluang, keuntungan, hambatan dan identifikasi segala kebutuhan untuk struktur jaringan komputer yang akan dirancang.

Dalam kegiatan analisis ini penulis mengumpulkan data serta tujuan yang akan dicapai berkaitan dengan kegiatan analisis diantaranya, yaitu:

1. Analisis kebutuhan jaringan komputer

Tujuannya untuk mengetahui keuntungan dan kekurangan dalam melakukan perancangan jaringan komputer pada lokasi perancangan.


(55)

Tujuannya untuk mengetahui alasan digunakannya Network Monitoring System pada jaringan di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.

3. Analisis perangkat lunak (software) yang digunakan

Tujuannya untuk menganalisis perangkat lunak apa saja yang akan digunakan dalam melakukan penelitian ini sehingga diketahui dan dipahami fungsi dari tiap-tiap perangkat lunak yang digunakan.

4. Analisis lokasi pemasangan

Tujuannya untuk melakukan survey lapangan pemasangan sebelum pemasangan jaringan komputer yang akan dirancang.

5. Analisis peralatan (hardware) yang digunakan

Tujuannya untuk menganalisis peralatan apa saja yang akan digunakan dalam melakukan perancangan jaringan komputer sehingga memberikan hasil yang optimal. Untuk selanjutnya bisa dikalkulasikan juga biaya yang akan dikeluarkan.

6. Analisis Network Monitoring System (NMS)

Tujuannya untuk memberikan gambaran NMS melalui diagram alir data sehingga bisa diketahui input, proses dan output yang strukutur jaringan komputer dengan objek NMS. Mengetahui cara kerja NMS yang digunakan dalam jaringan komputer Fakultas Sains dan Teknologi UIN JAkarta.

Dari analisis yang dilakukan oleh penulis bisa menemukan permasalahan yang dihadapi dan memberikan solusi dalam melakukan


(56)

perancangan jaringan komputer ini. Sehingga bisa memberikan hasil yang optimal dan memberikan masukan kepada Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.

3.2.2.2 Tahap Perancangan

Tahap perancangan merupakan tahapan yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

1. Perancangan Struktur Jaringan Komputer

Setelah perancangan sistem dilakukan kemudian penulis merancang struktur jaringan komputer dengan menggunakan alat bantu berupa software untuk mengkonfigurasi dan alat bantu berupa peralatan untuk membangunnya. Untuk mengefisiensikan dan mengefektifkan penulis melakukan observasi di lapangan terlebih dahulu. Perancangan peralatan jaringan komputer merupakan perancangan fisik jaringan, sedangkan konfigurasi addressing, signaling, traffic manajemen dan keamanan merupakan perancangan logik jaringan.

3.2.2.3 Tahap Simulasi Prototipe

Sebelum melakukan implementasi secara utuh penulis melakukan tahap simulasi atau uji coba terhadap sistem yang telah dirancang, berikut ini beberapa uji coba yang dilakukan:

1. Uji coba peralatan jaringan komputer: addressing, signaling, keamanan dan traffic manajemen.


(57)

3. Uji coba sistem Network Monitoring System pada Fedora 13, dan user.

Setelah melakukan uji coba prototipe jaringan komputer bisa didapatkan hasil apakah jaringan komputer tersebut sudah bekerja dengan baik atau belum.

3.2.2.4 Tahap Penerapan.

Pada tahap ini penulis menerapkan jaringan komputer pada tempat yang telah ditentukan dan telah di uji coba. Pada penelitian ini penulis hanya melakukan penerapan simulasi sehingga pengoperasian sepenuhnya dilakukan oleh penulis dan oleh para sukarelawan yang ingin menguji sistem ini. Pada proyek di lapangan NMS sepenuhnya dilakukan oleh penulis.

3.2.2.5 Tahap Monitoring

Pada tahap ini penulis melakukan monitoring baik pada server NMS langsung ataupun pada sistem Network Monitoring System. Software yang digunakan untuk monitoring pada server adalah NAGIOS. Sedangkan untuk memberikan hasil pada sistem monitoring mrnggunakan MRTG (Multi Traffic Router Grapher). Monitoring juga dilakukan pada struktur jaringan komputer yang telah dirancang, bisa dilakukan didalam access point mikrotik. Monitoring dilakukan sebagai tolak ukur kinerja sistem yang telah dirancang.


(58)

Tahap ini adalah tahap dimana sebagai admin kita bisa melakukan modifikasi baik pada strukutur jaringan komputer ataupun pada sistem tersebut. Pada tahap ini penulis hanya diizinkan untuk melakukan manajemen user tidak diberikan otoritas penuh untuk memodifikasi sistem yang telah ada.

3.1.3 Sistem yang Sedang Berjalan

Untuk saat ini sistem yang sedang berjalan masih terpusat pada server utama dan yang memiliki akses ke server masih terbatas dan menyulitkan untuk dilakukan segera perbaikan ketika ada masalah yang timbul.

Oleh karena itu diperlukan sebuah sever cadangan guna mengantisipasi masalah tersebut, dan juga karena admin adalah seorang ketua yang tentu memiliki job description yang tidak sedikit maka dengan adanya server cadangan ini akan ada admin lain yang memiliki pengetahuan dan akses ke

Network Monitoring System (NMS), saat ini dipakai di PUSDATIN adalah Nagios.

3.1.4 Pembuatan Laporan

Pembuatan laporan yang dimaksud di sini adalah penyusunan skripsi berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, pembuatannya diperkirakan akan dimulai dari semenjak pengesahan proposal sampai skripsi disetujui oleh dosen pembimbing.


(59)

Gambar 3.2 Diagram Ilustrasi Metode Penelitian

Perencanaan Skripsi

Metode Pengumpulan Data

Metode Pengembangan Sistem

Network Development Life Cycle (NDLC)

Analysis Design

Simulation Prototyping Implementation

Monitoring Management

Perumusan Kesimpulan Pembuatan Laporan


(60)

BAB IV

ANALISIS IMPLEMENTASI 4.1 Profil PUSDATIN

1. Pendahuluan

Seiring dengan berkembangnya organisasi dimana menuntut Fakultas Sains dan Teknologi (FST) untuk dapat melaksanakan tugas pelayanan yang lebih baik, baik itu layanan kepada mahasiswa, dosen, karyawan, alumni dan segenap civitas akademika, maupun masyarakat secara luas. Salah satu bentuk pelayanan yang lebih baik adalah tersedianya data dan informasi yang tepat dan akurat, termasuk ketersediaan dan keberfungsian sarana dan prasarana untuk mengakses/mendapatkan data dan informasi tersebut. Sementara ini, di FST telah terdapat Network Operation Center (NOC) yang pada tugas sehari-hari lebih kepada pelayanan ketersediaan dan keberfungsian jaringan komputer yang ada di FST, termasuk didalamnya penanganan laboratorium-laboratorium komputernya. Sedangkan pelayanan kebutuhan data dan informasinya sendiri yang sebenarnya tidak kalah penting, belum dapat dilakukan secara optimal. Untuk itu, perlu dibentuk/dioptimalkannya kembali lembaga Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) di lingkungan FST – UIN Jakarta.


(61)

1. Visi

Menjadi sumber data dan informasi yang lengkap, akurat dan terpercaya untuk mendukung Fakutas Sains dan Teknologi UIN menjadi lembaga terkemuka baik ditingkat nasional maupun internasional dengan berlandaskan pada nilai keislaman dan keindonesiaan.

2. Misi

1. Membangun dan mengembangkan sistem jaringan komputer; 2. Mengembangkan metodologi pengumpulan dan pengolahan data; 3. Melakukan pengumpulan, pengolahan, penyebarluasan data dan

informasi;

4. Membina SDM dan kelembagaan bidang Teknologi Informasi dan Komputer

3. Tugas Pokok dan Fungsi

Pusat Data dan Informasi FST mempunyai tugas melaksanakan pelayanan ketersediaan data dan informasi, pembinaan, serta pengembangan system informasi, untuk mendukung Fakultas Sains dan Teknologi.


(62)

Mengingat kondisi dan keterbatasan SDM di lingkungan FST-UIN, maka untuk awal-awal terbentuknya PUSDATIN ini, sementara ini dapat terdiri-dari:

1. Penasehat

• Memberikan nasehat dan arahan-arahan agar selalu sejalan dengan visi dan misinya.

2. Koordinator/Kepala PUSDATIN

• Bertanggungjawab secara keseluruhan terhadap keberlangsungan dan kemajuan PUSDATIN

3. Bidang Jaringan dan Perangkat Komputer

• Bertanggungjawab terhadap ketersediaan dan keberfungsian jaringan komputer di lingkungan FST

• Bertanggungjawab terhadap ketersediaan dan keberfungsian perangkat keras dan perangkat lunak di lingkungan FST

• Bertanggungjawab terhadap keberfungsian perangkat di laboratorium komputer di lingkungan FST

4. Bidang Pengembangan Sistem Informasi

• Bertanggungjawab mengembangkan sistem yang dapat mendukung FST.


(63)

a) Terbentuk berdasarkan SK Dekan No: 01 Tahun 2009 tertanggal 1 Maret 2009.

b) Membangun, mengembangkan dan memelihara infrastruktur TIK di lingkungan FST.

c) Membangun, mengembangkan dan memelihara Sistem Informasi Terpadu dan Lengkap untuk FST.

d) Menjadi sumber data dan informasi yang lengkap, akurat dan terpercaya untuk melayani dan mendukung FST & UIN Jakarta khususnya, serta lembaga-lembaga lain & masyarakat pada umumnya.

6. Yang Telah dilakukan

a) Terpeliharanya infrastruktur TIK di lingkungan FST

b) Terwujudnya prototype Sistem Informasi Akademik Fakultas yang merupakan bagian dari Sistem Informasi Manajemen Terpadu.

7. Permasalahan

a) Internet akses masih sangat terbatas

1. Mendapat kuota 512 Kbps dari pusat dibagi /share untuk FST, FEIS dan PLT.

2. Sementara komputer yang terhubung ke jaringan (dedicated) di lingkungan FST sejumlah 130 → tidak memadai

b) Portal dan mail server yang belum terwujud 1. Tidak adanya IP public


(64)

2. Perlu pengembangan

3. Hardware server tidak memadai

c) Sistem Informasi Manajemen Terpadu dan Lengkap belum terwujud 1. Perlu pengembangan sistem

2. Perlu hardware server yang memadai

3. Perlu infrastruktur pendukung lainnya yang memadai (Rack, dll) d) Sumber Daya Manusia, baik dari segi kuantitas dan kualitas yang

masih terbatas

1. Kuantitas : ... person

2. Kualitas : banyak yang perlu ditingkatkan 8. Rencana Program Kerja

a) Program Kerja 2009

a. penyusunan struktur organisasi & konsolidasi Organisasi,

b. terwujudnya akses internet yang memadai khususnya bagi dosen & karyawan, serta mahasiswa program khusus (internasional)

c. terwujudnya portal, mail server proxy Server, & DNS Server d. pengembangan sistem informasi akademik terintegrasi, e. Kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait,

f. Peningkatan kualitas SDM (pelatihan-pelatihan) b) Program Kerja 2010

g. Pemantapan akses internet bagi dosen & karyawan h. Peningkatan akses internet bagi mahasiswa


(65)

i. Pemantapan Implementasi Sistem Informasi Akademik Terintregasi, j. Pengembangan Sistem Informasi Terpadu yang mendukung ADKUM

(absensi, kepegawaian, keuangan,dll.).

k. Peningkatan kualitas SDM (pelatihan-pelatihan) l. Program Kerja 2011

m. Pemantapan Implementasi Sistem Informasi Terpadu ADKUM n. Pengembangan Sistem Informasi Terpadu Lainnya (Learning,

e-Library, Kolaborasi, dll.)

o. Melakukan pengumpulan, pengolahan, penyebarluasan data dan informasi baik untuk keperluan internal maupun eksternal.

p. Peningkatan kualitas SDM (pelatihan-pelatihan) c) Program Kerja 2012

q. Pemantapan Implementasi Sistem Informasi Terpadu.

r. Pemantapan pengumpulan, pengolahan, penyebarluasan data dan informasi baik untuk keperluan internal maupun eksternal.

s. Peningkatan kualitas SDM (pelatihan-pelatihan) 9. Usulan-Usulan Program

a) Peningkatan Akses Internet Kampus b) Pengembangan Sistem Informasi FST c) Pengembangan Pusdatin Lainnya 10.Peningkatan Akses Internet Kampus


(66)

a. Untuk tahap awal bisa 1Mbps b. Diharapkan dapat mencapai 5Mbps c. Mimpi: mencapai 70-100Mbps

b) Sistem/Aplikasi Pendukung Akses Internet d. Portal

e. Mail Server f. Proxy Server

g. Administrasi & Pengelolaan h. NMS

i. Keamanan Jaringan (firewall, penangkal virus dll) c) Infrastruktur

j. Data Center Pusdatin@FST (Ruangan, Rack Server, dll) k. Hardware Server:

i. Portal ii. Mail Server iii. DNS Server iv. Proxy Server

v. Administrasi & Pengelolaan vi. NMS

vii. Keamanan Jaringan (penangkal virus dll) l. Networking devices (Switch, Router, dll)


(67)

n. Internet &/ Students Center (30 - 40 PC) o. Akses untuk Dosen & Pegawai

11.Pengembangan Sistem Informasi Terpadu a) Sistem/Aplikasi Terpadu & Lengkap a. Akademik

b. Alumni c. Kepegawaian d. Absensi e. Keuangan f. Inventaris g. E-Learning h. E-Library i. Perpustakaan

j. Kolaborasi (Islamic Social Network) k. Ujian penerimaan

l. Mobile Gateway

m. Portal Sekolah &/Pontren (Pengabdian Masyarakat)

n. Cyber Campus IP Telephony (Messaging, Conferencing, dll) b) Infrastruktur

o. Hardware Server (Untuk masing-masing aplikasi) p. Rack Server


(68)

a) Sosialisasi

a. Pusdatin & program-programnya b. Sistem/Aplikasi

b) Pelatihan/Peningkatan SDM

c. Pelatihan Kemampuan Arsitek/Administrator Jaringan d. Pelatihan Instalasi Program (SO, Aplikasi Paket, dll) e. Pelatihan Pengelolaan

f. Pelatihan Kemampuan Pemrograman

g. Pelatihan Kemampuan standarisasi Pengembangan Sistem h. Sertifikasi

i. Kunjungan/Studi banding ke Data Center (DACEN) lainnya c) Dukungan & Pemeliharaan Sistem (Support & Maintenance) d) Infrastruktur

a. Multimedia equipment untuk Kelas

Ka PusDatin Imam M. Shofi Penasehat


(69)

Gambar 3.1 Struktur Organisasi PUSDATIN

Sesuai dengan metode pengembangan sistem yang digunakan penulis berikut ini beberapa hal yang dilakukan penulis dengan berpedoman pada metode pengembangan Network Development Life Cycle (NDLC).

4.1 Tahap Analisis (Analysis)

Pada tahap analisis ini penulis melakukan beberapa bentuk analisis sebelum melakukan perancangan. Berikut ini beberapa analisis yang dilakukan oleh penulis.

1. Analisis kebutuhan jaringan

Hal pertama yang dilakukan penulis adalah mencari alasan kenapa Network Monitoring System (NMS) ingin digunakan, selanjutnya penulis mencoba mencari kelebihan bila NMS yang digunakan di tempat tersebut. Penulis menemukan beberapa alasan kenapa jaringan NMS bisa diterapkan:


(70)

1. Pemakaian jaringan NMS yang memiliki koneksi terpusat pada server dimana admin dapat melakukan remote jaringan pada NMS selama komputer yang digunakan masih terhubung baik secara kabel ataupun secara wireless sehingga mempermudah admin untuk melakukan konfigurasi pada jaringan tersebut.

2. Penginstallan NMS tergolong mudah sehingga memudahkan orang awam untuk melakukan konfigurasi dengan melihat cara yang sudah di sediakan dalam situs-situs di internet, sehingga orang awam pun dapat menginstallnya.

Terlepas dari kelebihan-kelebihan Network Monitoring System, penerapan jaringan NMS memiliki kendala seperti:

1. Memakai Sistem Operasi LINUX.

2. Jika remote menggunakan wireless terdapat Noise dan halangan. 3. Konfigurasi server yang cukup memakan waktu.

Baik kelebihan dan kekurangan jaringan NMS harus dipikirkan secara matang bila ingin menerapkan jaringan tersebut.

3. Salah satu permasalahan yang ada di Fakultas Sains dan Teknologi (FST) adalah masalah pengawasan terhadap jaringan komputer yang berada di ruang lingkup gedung FST. Dan juga pembagian IP Address dan IP Public untuk digunakan oleh user untuk terhubung ke dalam jaringan atau internet. Pengawasan terhadap komputer dalam sebuah jaringan diharapkan dapat diberikan secara maksimal sehingga tidak mengganggu kinerja sistem


(71)

jaringan komputer yang ada. Yang masih terjadi sekarang adalah penggantian IP Address oleh pengguna yang tidak dikelola dengan baik oleh admin sehingga terjadi ketidaksinkronan dalam jaringan tersebut. Oleh karenanya itulah dibutuhkan sebuah aplikasi yang dapat mengawasi sistem jaringan yang ada di FST dan dapat mengirimkan data-data yang berkaitan dengan maintenance server jaringan secara otomatis dari komputer client akan sangat berguna, dan jika ada trouble maka komputer client akan langsung mengirimkan laporan ke server, lalu server akan langsung mengirimkan pesan ke admin melalui pesan email dan sms. Dan juga semua data dari komputer client akan terdokumentasi di komputer server.

Hasil rumusan permasalahan diatas dibutuhkan pemahaman yang baik agar dapat menghasilkan solusi yang tepat guna. Dengan menggunakan metode studi pustaka, peneliti memanfaatkan perpustakaan dan internet untuk mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari berbagai sumber dalam bentuk buku-buku, makalah, literatur, artikel dan berbagai situs web mengenai topik permasalahan terkait. Hasilnya digunakan untuk memahami permasalahan yang terjadi untuk merumuskan solusi efektif dalam menyelesaikan rumusan permasalahan. Pemahaman ini pula yang peneliti gunakan untuk mengimplementasikan sistem yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang ada.


(72)

Hasil pemahaman peneliti akan digunakan sebagai masukan untuk menganalisa sistem solusi yang dapat mengatasi rumusan permasalahan. Hasil analisanya adalah peneliti akan mengimplementasikan NMS open source berbasis LINUX. Dalam tahap ini, peneliti akan membandingkan 3 (tiga) NMS yaitu Cacti, Nagios dan Zabbix. Tujuan dari perbandingan ini adalah untuk menentukan NMS yang sesuai dengan kebutuhan di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta. Dalam proses analisa ini peneliti juga meminta pendapat Bapak Adam selaku admin jaringan PUSDATIN tempat peneliti akan mengoperasikan sistem yang peneliti bangun ketika sudah diimplementasikan.

NMS yang akan dibandingkan merupakan paket dasar (default) tanpa tambahan plugins atau add-on.

Berdasarkan tujuan dari dikembangkannya sistem untuk mengawasi jaringan komputer dan mengirimkan data-data yang berkaitan dengan maintenance jaringan secara otomatis dari komputer client dan jika ada trouble akan langsung mengirimkan data ke server, lalu server akan mengirimkan pesan ke admin melalui email, makan peneliti akan memfokuskan perbandingan hanya pada :

1. Fitur pengawasan hardware (cpu, memory dan harddisk) komputer di NMS tersebut. (Monitoring)

2. Fitur pengiriman pesan dari server (NMS) ke admin melalui email dan atau sms. (Alert)


(73)

3. Kemudahan dalam menambah host/client NMS. (Agent) Tabel 4.1 Komparasi NMS

Cacti Nagios Zabbix

Fitur pengawasan hardware (Monitoring)

Sudah terdapat fitur pengawasan hardware, yang

langsung ditampilkan dalam

bentuk grafis.

Belum ada, harus ditambahkan sebuah plugin untuk pengawasan hardware yang bernama supermicro. Sudah terdapat fitur pengawasan hardware, yang ditentukan dengan konfigurasi items melalui web-console Fitur pengiriman

pesan dari server (NMS) (Alert)

Belum ada, harus ditambahkan sebuah plugin untuk alert yang

bernama thold

Sudah terdapat fitur alert yang dapat

dikonfigurasi langsung melalui web-console, dapat

mengirim pesan email dan sms. Jika

ada masalah, NMS langsung mengirimkan pesan

pada admin, sehingga masalah yang muncul dapat

diselesaikan dengan cepat.

Sudah terdapat fitur alert yang

dapat dikonfigurasi langsung melalui web-console, dapat mengirimkan pesan email dan

sms. Jika ada masalah, NMS langsung mengirimkan pesan pada admin, sehingga masalah yang muncul dapat diselesaikan dengan cepat. Kemudahan dalam penambahan host/client (Agent) Menambahkan host/client baru melalui console. Tidak terdapat software agent untuk diinstall pada

host.

Menambahkan host/client bisa melalui software agent yang diinstal pada komputer host

, dikonfigurasi melalui web-console sehingga jauh lebih mudah,

Menambahkan host/client bisa melalui software

agent yang diinstal pada komputer host ,

dikonfigurasi melalui


(74)

dengan aplikasi yang bernama NSClient. Dapat juga melalui script,

dengan memanfaatkan fitur auto discovery. sehingga jauh lebih mudah, dengan aplikasi yang bernama Zabbix Agent. Juga terdapat fitur auto discovery untuk automatisasi penambahan host

Masing-masing NMS tersebut memliki kelebihan, Cacti yang sangat bagus dalam hal tampilan grafik dari objek yang diawasi, tetapi Cacti hanya dapat menampilkan datanya saja, tidak terdapat fitur untuk langsung mengirimkan pesan peringatan (alert) kepada admin ketika suatu kondisi tertentu menunjukkan sedang ada trouble dalam jaringan tersebut.

Nagios, memiliki fitur yang sangat lengkap, tetapi jika semua plugin-nya diinstal. Kemampuan untuk mengirimkan alert dan dokumentasi data dari client ke database cukup baik. Tetapi untuk fitur pengawasan hardware masih perlu diinstal plugin tambahan.

Zabbix, fitur untuk pengawasan hardware dan alert sudah terdapat di dalam paket standarnya, tanpa perlu adanya tambahan plugin. Tampilan grafik Zabbix juga cukup bagus dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan admin.

Berdasarkan hasil analisa, peneliti memutuskan untuk mengembangkan NMS dengan Nagios, karena sesuai dengan kebutuhan di gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.


(75)

Proses akhir dari fase analisa adalah pelaporan yang berisi rincian dari berbagai komponen atau elemen termasuk IP Address komputer yang terdapat di gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta, MAC Address dan Spesifikasi Windows atau LINUX yang digunakan oleh masing-masing komputer client. Dan juga mencakup :

 Spesifikasi sistem yang akan dibangun yaitu NMS menggunakan Nagios yang bertindak sebagai sistem pengawasan komputer client yang ada di jaringan komputer Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta

 Spesifikasi software yang digunakan diantaranya adalah sistem operasi server NMS menggunakan distribusi LINUX Ubuntu Server 10, sistem operasi Windows XP sebagai sistem operasi komputer client, Apache sebagai aplikasi untuk membuat HTTP Server/ Web Server, MySQL sebagai aplikasi database, PHP sebagai bahasa pemrograman yang digunakan dalam web interface Nagios.

2. Analisis kebutuhan Nagios

Setelah melakukan beberapa pengujian dan analisis pada sistem jaringan NMS, penulis menemukan beberapa alasan kenapa Nagios digunakan sebagai media untuk memonitoring jaringan NMS:

1. Penginstallan dan pengkonfigurasian yang mudah untuk segala macam distro LINUX yang digunakan.


(1)

Hal ini menyebabkan komputer tersebut tidak dapat meremote dari komputer ke remote komputer sehingga tidak dapat diawasi penggunaan komputer oleh client.

4.5.3.6 Masalah pada IMAP


(2)

Admin menerima pesan atau notifikasi dari NMS Nagios, bahwa terjadi trouble pada komputer host. Host tersebut sedang bermasalah pada IMAPnya. Hal ini menyebabkan mesin penerima email tidak berjalan dengan baik sehingga tidak dapat update berita perihal pekerjaan yang sedang dikerjakan.

4.6 Tahap Management

Tahap selanjutnya pada model NDLC adalah manajemen (pengelolaan). Tahap ini meliputi aktivitas pengelolaan dan pemeliharaan dari keseluruhan sistem jaringan dan sistem NMS yang dibangun. Tahapan manajemen melalui serangkaian proses pengelolaan, pemeliharaan atau perawatan dilakukan untuk sejumlah tujuan :

a. Memperbaiki sejumlah kesalahan yang terdapat pada penerapan sistem sebelumnya (sistem yang sudah ada).

b. Menambahkan fungsionalitas atau komponen spesifik atau fitur tambahan terbaru untuk melengkapi kekurangan pada sistem sebelumnya.

c. Mengadaptasi sistem yang sudah dibangun terhadap platform dan teknologi baru dalam mengatasi sejumlah perkembangan permasalahan yang baru muncul.


(3)

Pada pembangunan dan pengembangan NMS yang peneliti lakukan, tahapan manajemen direpresentasikan dengan sejumlah aktivitas berikut :

a. Menambahkan item, triggers dan action supaya pengawasan dapat mencakup keseluruhan jaringan yang ada di gedung Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.

b. Menambahkan media types, sehingga notifikasi bisa melalui sms.

c. Penyesuaian piranti keras dari server NMS Nagios agar dapat beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan sistem jaringan komputer, seperti penambahan IP Public dan lain sebagainya.


(4)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian mengenai penggunaan NAGIOS untuk memonitor jaringan komputer, penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Jaringan komputer ini telah dimonitoring dengan baik oleh NAGIOS yang menghasilkan laporan secara detail untuk admin ketika ada trouble yang terjadi pada jaringan. Untuk melihat contoh dapat melihat di BAB IV pada bagian pengujian koneksi.

2. Sistem Operasi yang digunakan disini menggunakan LINUX UBUNTU sehingga untuk masalah kemanan NAGIOS sudah baik. Dikarenakan LINUX adalah Sistem Operasi yang bersifat open source sehingga dapat dikatakan memiliki sistem yang lebih rumit jika dibandingkan dengan Windows. Keamanan LINUX terjadi karena :

a. Account Pemakai (User Account)

b. Kontrol Akses secara Diskresi (Discretionary Access Control) c. Kontrol Akses Jaringan (Network Access Cotrol)

d. Enkripsi (Encryption)

e. Logging


(5)

3. Fasilitas kumpulan data yang tersedia pada NMS Nagios dapat membantu admin menganalisa masalah yang terjadi pada client yang terdapat dalam email pemberitahuan masalah dari NMS Nagios, dapat membantu admin dalam menyelesaikan masalah client dengan cepat.

5.2 Saran

Untuk mengembangkan NMS Nagios pada masa yang akan datang peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut :

1) Kepada PUSDATIN UIN Jakarta, pengembangan lebih lanjut terhadap NMS Nagios akan sangat berguna untuk mengawasi sistem dan kinerja komputer di Fakultas Sains dan Teknologi.

2) Kepada pembaca yang ingin meneruskan pengembangan ini dengan menggunakan NAGIOS dapat menambahkan tools yang dapat menampilkan hasil secara grafik sehingga dapat mempermudah kualitas kerja seorang admin.

3) Kepada pembaca, pengembangan ruang lingkup wilayah kerja NMS Nagios dapat diperluas ke dalam jaringan WAN sehingga tidak hanya satu buah gedung saja tetapi dapat seluruh Kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.


(6)

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer. 2004. Kamus Lengkap

Jaringan Komputer, Salemba Infotek.

Barth, Wolfgank. 2005. Nagios System and Network Monitoring, No Starch Press. San Francisco.

Kundu and Lavlu, 2009. Cacti 0.8 Network Monitoring, Packt Publishing. Birmingham.

Clemm, Alexander. 2007. Network Management Fundamentals, Cysco Press. Indianapolis.

Syafrizal, Melwin. 2005. Pengantar Jaringan Komputer, ANDI. Yogyakarta.

Tanenbaum, Andrew S. 2003. Computer Networks, Fourth Edition, Prentice Hall. New Jersey.

Tim Penelitian dan Pengembangan Wahana Komputer. 2005. Pengembangan Web di

LINUX dengan Apache, MySQL, dan PHP (LAMP), Salemba Infotek.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka.

Hartono, Jogiyanto. 1999. Pengenalan Komputer, ANDI. Yogayakarta. Rafiza, H. 2006. Panduan dan Referensi Kamus Fungsi PHP 5, Elex Media Komputindo. Jakarta.