Analisis Penyiangan Koleksi Tercetak Di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara

(1)

LAMPIRAN I

PEDOMAN WAWANCARA

A. Pertanyaan wawancara tentang penyiangan yang diajukan kepada kepala bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka diperpustakaan USU.

1. Alasan penyiangan?

2. Tujuan dilaksanakan pernyiangan?

3. Pedoman USU dalam menyiangi bahan pustaka, jika ada pedoman? 4. Waktu penyiangan dilakukan?

5. Penyiangan telah masuk menjadi agenda kerja perpustakaan? 6. Perpustakaan USU memiliki peraturan tertulis tentang penyiangan?

7. Apakah perpustakaan USU dalam melakukan penyiangan berdasarkan jangka waktu 5tahun atau 10 tahun sekali?

8. Menurut teori CREW dikatakan penyiangan yang baik seharusnya dilakukan tanpa melihat jangka waktu tetapi berdasarkan masa kegunaan buku mengapa perpustakaan USU tidak melakukan penyiangan berdasarkan teori tersebut ? 9. Siapa yang berwenang melakukan penyiangan? Apakah tugas penyiangan

diserahkan pada bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka atau dibentuk tim khusus?.

10.Siapa yang bertugas menulis laporan tentang bahan atau koleksi yang disiangi? apakah kepala bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka atau kepala tim yang ditunjuk khusus?.

11.Sudah berapa kali Perpustakaan USU melakukan penyiangan? 12.Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam melakukan penyiangan? 13.Buku-buku subyek apa saja yang disiangi?

14.Apa alasan buku-buku subyek tersebut disiangi?

15.Kerusakan apa yang sering ditemukan pada bahan pustaka yang disiangi? 16.Setelah bahan pustaka disiangi di apakan selanjutnya?

17.Setelah bahan pustaka disiangi apakah langsung di bakar, dihibahkan dijual atau Sebagainya?


(2)

18.Apakah petugas pernah menjumpai kejadian dimana pengguna perpustakaan meminta bahan koleksi yang disiangi? jika pernah apakah pustakawan memberi buku tersebut di pinjam pengguna tersebut

19.Apa kendala yang dihadapi dalam melakukan penyiangan?

20.Apakah petugas mengalami keragu-raguan dalam melakukan penyiangan? 21.Apa saja keragu-raguan yang dialami petugas?


(3)

LAMPIRAN II

HASIL TRANSKRIP WAWANCARA

1. Hasil Transkrip Wawancara Informan 1

Wawancara ini diambil pada tanggal 23 maret pada pukul 11:00 wib bertempat di kantor devisi pemeliharaan dan penyiangan koleksi gedung perpustakaan USU. Q adalah simbol dari penulis dan I adalah informan.

1. P :Apa alasan penyiangan dilakukan ?

I1: Buku tersebut tidak dipinjam, ada edisi terbaru, rusak, tulisan tidak dipahami, kurang diminati, ada halaman yang rusak, karena penggunanya tidak ada, salinan atau duplikat terlalu banyak, dan rak terlalu penuh

2. Q : Apakah tujuan dilaksanakan pernyiangan tersebut? Pengurangan koleksi yang kelebihan duplikat, koleksi yang rusak, halaman yang hilang

3. Q :Apakah perpustakaan USU memliki pedoman dalam menyiangi bahan pustaka? Jika ada pedoman apa yang dipakai? Pedoman penyiangan yang dipakai adalah pedoman penyiangan secara umum yaitu Buku yang sudah ada edisi baru, di mana terdapat banyak perubahan pada edisi-edisi sebelumnya, Buku yang isinya kurang bermanfaat bagi pengguna perpustakaan, Buku yang eksemplarnya dianggap terlau banyak , Buku yang isinya out of date, Buku yang hilang bagiannya atau tidak lengkap, Buku yang tidak sesuai denagan subjek yang di butuhkan oleh pengguna. Buku yang rusak berat sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi.

4. Kapan saat penyiangan dilakukan? Apabila dijumpai buku yang rusak, ada edisi baru, ada halaman yang hilang

5. Apakah penyiangan telah masuk menjadi agenda kerja perpustakaan? Belum 6. Apakah perpustakaan USU telah memiliki peraturan tertulis tentang penyiangan? Tidak ada

7. Apakah perpustakaan USU dalam melakukan penyiangan berdasarkan jangka waktu 5 tahun atau 10 tahun sekali? Tidak tetapi berdasarkan devisi masing masing Karena perustakaan usu telah mempunyai bagian atau devisi kerja masing- masing


(4)

8. Q: Menurut teori CREW dikatakan penyiangan yang baik seharusnya dilakukan tanpa melihat jangka waktu tetapi berdasarkan masa kegunaan buku mengapa perpustakaan USU tidak melakukan penyiangan berdasarkan teori tersebut ?

a :karena menurut kami terlalu sulit untuk melakukannya,karena jika mengikuti metode tersebut maka perpustakaan akan kehilangan banyak koleksi

9. Siapa yang berwenang melakukan penyiangan? Apakah tugas penyiangan diserahkan pada bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka atau dibentuk tim khusus?

a ; ya ada tim yang dibentuk yang dipilih dari masing masing devisi

10. Q :Sudah berapa kali Perpustakaan USU melakukan penyiangan?

a : penyiangan biasanya dilakukan perdevisi, seperti baru-baru ini ruang referensi melakukan penyiangan dan devisi pelayanan sirkulasi melakukan penyiangan buku- buku sumbangan asian development bak dan juga jika bagian sirkulasi menemukan koleksi yang rusak, jilidan lepas, halaman yang hilang.


(5)

B. Pedoman wawancara tentang penyiangan yang diajukan kepada petugas bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka diperpustakaan USU. 1. Q; Apa alasan penyiangan dilakukan ?

e : penyiangan dilakukan apabila petugas menjumpai koleksi yang sudah rusak, jilidan lepas, dan ada halaman yang hilang

j: penyiangan dilakukan karena koleksi yang kertasnya menguning, jilidan lepas, dan karena ada penambahan rak

2.Q :Sudah berapa kali Perpustakaan USU melakukan penyiangan?

e: penyiangan dilakukan jika petugas menemukan koleksi yang rusak, dapat dikatakan penyiangan dapat dilakukan secara harian, tergantung kondisi yang ditemui

j: penyiangan dilakukan sesuai devisi atau sub bagian, jadi penelitian tidak dilakukan secara serentak

3.Q : Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam melakukan penyiangan?

e: karena penyiangan dilakukan secara harian, tidak menentu, jadi tidak ada batasan waktu

J: penyiangan membutukan waktu yang lama sekitar 3 minggu hingga 1 bulan lebih karena ada penambahan rak sehingga ada pergeseran posisi koleksi

4. Q: Apa alasan buku-buku subyek tersebut disiangi?

e ;Subek tertentu, buku yang rusak, buku yang tidak ada pengguna, ada edisi baru.

J: informasi sudah usang. Sampul rusak, halaman yang hilang.

5. Q: Kerusakan apa yang sering ditemukan pada bahan pustaka yang disiangi?

e: jilidan rusak, Halaman yang hilang. Sampul yang rusak

J: kerusakan yang sering dijumpai adalah: halaman yang lepas, kertas menguning dan berjamur.

6. Q : Setelah bahan pustaka disiangi di apakan selanjutnya?


(6)

j: akan disisihkan dan disimpan ditempat lain koleksi akan dipilah-pilah dahulu.

7. Q: Apakah petugas pernah menjumpai kejadian dimana pengguna perpustakaan meminta bahan koleksi yang disiangi? jika pernah apakah pustakawan memberi buku tersebut di pinjam pengguna tersebut.

e: pernah, ya karena buku tersebut disimpan ditempat lain jadi dapat dipinjam lagi beberapa hari setelah buku tersebut diminta oleh pengguna. j: ya pernah

8. Q: Apa kendala yang dihadapi dalam melakukan penyiangan? e: fasiltas kurang lengkap

j: tidak ada

9. Q:Apakah petugas mengalami keragu-raguan dalam melakukan penyiangan?Apa saja keragu-raguan yang dialami petugas?

e ; tidak ada keraguan karena telah dipastikan dengan matang koleksi yang akan disingkirkan.

10.Q: Kriteria yang dipakai usu dalam melakukan penyiangan.

e; kriteria yang dipakai adalah ada edisi baru, kurang bermanfaat bagi pengguna, ada halaman yang hilang

J: “kriteria yang dipakai adalah ada halaman yang hilang rusak berat”


(7)

DAFTAR PUSTAKA

Andriaty, Etty dkk. 2001. Penyiangan Koleksi Perpustakaan. Bogor : Departemen Pertanian.

Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penilitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Boon, Belinda.1995. The CREW method : expanded guidelines for collection evaluation and weeding for small and medium-sized public libraries / revised and updated by Belinda Boon. Austin, Texas : Texas State Library. Budi, Haekal. 2011. Penyiangan koleksi diperpustakaan universitas sumatera

Utara Medan: Universitas Sumatera Utara.

Douglas.M.P. 1999. Perawatan koleksi. Jakarta : Gramedia.

Encyclopedia. 1994.Weeding Article in of Library and Information Science, (vol 54. Page 367-368 )

Evans, G. Edward, and Margaret R. Zarnosky.Developing Library andInformation Center Collections. 4th ed. Englewood, CO : Libraries Unlimited, 2000. Gorman, G.E dan Howes B.R. 1991.Collction Development for libraries. London:

Bowker- saur.

Hakim, Mufti. 2008. Pengembangan Koleksi Perpustakaan: Studi Kasus di Sekolah Lanjutan Pertama Negeri 142,206, dan 215 Jakarta Barat. Depok : Universitas Indonesia.

Indonesia. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, No 19 Tahun 2005, Tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta. Cet----3.

Kramer, Pamela K. 2002. Weeding is a Part of a Collection Development. USA: ISLMA.

Kriyantono. 2006. Teknik Praktik Riset Komunikasi. Jakarta : Prenada Media Group.


(8)

Larson, Jeanette. 2008. CREW: A Weeding Manual for Modern Libraries/Revised and Updated by Jeanette Larson. Austin, Texas : Texas State Library. Lasa HS. 1990. Kamus Istilah Perpustakaan.Yogyakarta: Kanisius

Moleong. 2005. Metodologi Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja rosdakarya.

Moore, Jo Anne. 2010. Guidelines for Collection Evaluation and

Weeding.http://www.tea.state.tx.us/technology/libraries/lib_downloads/weedingl. pdf (diambil tgl.04 maret 2012) 2nd ed.Gower Publishing. Hampshire, England.

Nurjanah, yuni.2010.Perawatan dan penyiangan bahan pustaka : Pengembangan koleksi modul 9.

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Thompson, Elisabeth H, 1943. A.L.A Glosary of Library Terms.Chicago :American Library Association.

University William Library. 2010. Weeding Policy.Texas : University Galveston. http://www.tamug.edu/library/librarypolicies/weedingpolicy.html.diunduht anggal 24 november 2012).

Winoto, Yunus. 2004. Info persada: Media Informasi Perpustakaan Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta : Perpustakaan Universitas Sanata Darma. Yulia, Yuyu. dan Sujana, Janti G. 2010. Modul Pengembangan Koleksi.


(9)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian adalah tata cara bagaimana suatu penelitian yang sedang dilaksanakan, menurut Sugiyono (2009 : 6) menjelaskan bahwa metode penelitian adalah cara- cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu penelitian tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, peneliti hanya mengembangkan konsep dan menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Oleh sebab itu penelitian ini terbatas pada usaha mengungkapkan suatu keadaan, peristiwa subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan pada fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. yang didukung oleh metode survei dengan observasi dan wawancara.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Perpustakaan Universitas Sumtera Utara, yang berlokasi dijalan Perpustakaan No. 1 Kampus USU Padang Bulan , 20155 Medan.

3.3 Unit Analisis

Unit analisis dalam suatu penelitian adalah satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan fokus/komponen yang diteliti. Arikunto (2002:121) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan unit analisis dalam penelitian adalah “satuan tertentu yang diperhitungkan sebagai subjek penelitian, yang dapat diklasifikasikan sebagai subjek penelitian adalah benda atau manusia”, unit analisis dalam penelitian ini, pegawai atau pelaku kegiatan.


(10)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah teknik yang digunakan dalam memperoleh data yang dibutuhkan oleh peneliti. Teknik pengumpulan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui data primer yang meliputi :

3.4.1 Wawancara

Wawancara dapat diartikan sebagai percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antar narasumber dan pewawancara, wawancara dilakukan untuk menggali informasi yang dibutuhkan peneliti. Orang yang menjadi informan sebanyak 3 orang yang terdiri dari 1 kepala dan 2 pegawai bidang perawatan dan penyiangan koleksi di perpustakaan USU, wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur, dimana peneliti menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis.

3.4.2 Observasi

Metode pengumpulan data melalui observasi langsung atau peninjauan secara cermat dan berlangsung pada objek dilapangan atau lokasi penelitian, Kriyantono (2006:106) menyatakan observasi sebagai kegiatan mengamati secara langsung tanpa mediator sesuatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut.

Observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah pengamatan, yang di observasi adalah kegiatan dan metode penyiangan di perpustakaan USU. 3.4.3 Dokumentasi

Dokumentasi dilakukan untuk pencarian data penunjang yang berhubungan dengan masalah penelitian yang akan diteliti dari berbagai sumber informasi, baik dari buku-buku atau sumber informasi lainnya, khususnya yang berhubungan dengan Ilmu Perpustakaan.

3.5 Instrumen penelitian

Karena jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, maka yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti sendiri.


(11)

3.6 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi data, menganalisis data–data dari hasil wawancara, membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara yang didapat dari informan serta membandingkan dengan dokumen.


(12)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini adalah staf perpustakaan pada bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka di perpustakaan Universitas Sumatera Utara. wawancara dilakukan melalui pendekatan dan perkenalan terlebih dahulu dengan para informan. Setelah melalui perkenalan barulah kemudian diminta waktuny untuk bersedia diwawancara. Adapun karakteristik dari para informan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel -4.1 : Karakteristik Informan No. Jabatan Usia Pendidikan I1 Kepala bagian 56 D3 Perpustakaan I2 Staf 38 D3 Perpustakaan I3 Staf 35 S1 Ilmu Perpustakaan

Bapak abdul (I1) merupakan kepala bagian perawatan dan pemeliharaan bahan pustaka di USU, dengan latar belakang pendidikan D3 Perpustakaan 4.2. Kategori

Setalah melakukan wawancara peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding, memilih data yang relevan dengan judul penelitian sehingga menghasilkan beberapa kategori sebagai berikut :

4.2.1. Penyiangan

Penyiangan merupakan kegiatan pemilihan terhadap koleksi perpustakaan, dimana koleksi dinilai tidak bermanfaat lagi bagi perpustakaan. Hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut :

I1 : “Buku tersebut tidak dipinjam, ada edisi terbaru, rusak, tulisan tidak dipahami, kurang diminati, ada halaman yang rusak, karena penggunanya tidak ada, salinan atau duplikat terlalu banyak, dan rak terlalu penuh”

I2 : “penyiangan dilakukan apabila petugas menjumpai koleksi yang sudah rusak, jilid dan lepas, dan ada halaman yang hilang”

I3 : “penyiangan dilakukan karena koleksi yang kertasnya menguning, jilidan lepas, dan karena ada penambahan rak”


(13)

Dari beberapa pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa alasan dilakukannya penyiangan di perpustakaan USU antara lain :

a. Isi koleksi sudah tidak sesuai b. Koleksi Edisi lama

c. Koleksi rusak

d. Jumlah koleksi terlalu banyak

4.2.2. Tujuan Penyiangan

Dilakukannya penyiangan tentunya memiliki tujuan tertentu. Tujuan dari penyiangan ini dapat dilihat dari petnyataan informan berikut :

I1 : “adapun tujuan penyiangan ini adalah pengurangan koleksi yang kelebihan duplikat, koleksi yang rusak, halaman yang hilang”

I2 : “ memperbaiki buku yang rusak, mengambil buku yang tidak layak pakai, memilih judul yang banyak digunakan perpustakaan jika sering dipakai maka buku tersebut cepat rusak.

I3 : “ Penarikan koleksi yang rusak, kertas menguning, jilidan rusak”.

Berdasarkan pernyataan informan diatas, dapat disimpukan bahwa tujuan dilakukannya penyiangan di perpustakaan USU adalah untuk mengurangi kelebihan koleksi sehingga menghemat ruangan dan mengurangi biaya perawatan. 4.2.3. Pedoman Penyiangan

Dalam melakukan penyiangan tentunya harus memikili pedoman agar tidak terjadi kesalahan dalam menyiangi koleksi. Untuk pedoman penyiangan dapat dilihat dari pernyataan informan berikut :

I1 : “Pedoman penyiangan yang dipakai adalah pedoman penyiangan secara umum yaitu Buku yang sudah ada edisi baru, di mana terdapat banyak perubahan pada edisi-edisi sebelumnya, Buku yang isinya kurang bermanfaat bagi pengguna perpustakaan, Buku yang eksemplarnya dianggap terlau banyak , Buku yang isinya out of date, Buku yang hilang bagiannya atau tidak lengkap, Buku yang tidak sesuai dengan subjek yang di butuhkan oleh pengguna. Buku yang rusak berat sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi.”

I2 ; “Subjek tertentu, buku yang rusak, buku yang tidak ada pengguna, ada edisi baru”.

I3 : “Hanya dilihat apakah informasnyai sudah usang, Sampul rusak, halaman yang hilang.”


(14)

Dari pernyataan informan diatas, disimpulkan bahwa perpustakaan USU melakukan penyiangan hanya berdasarkan pada pedoman umum saja, meliputi :

a. Koleksi yang sudah ada edisi baru, di mana terdapat banyak perubahan pada edisi-edisi sebelumnya.

b. Koleksi yang isinya kurang bermanfaat bagi pengguna perpustakaan c. Koleksi yang eksemplarnya dianggap terlalu banyak

d. Koleksi yang rusak berat sehingga tidak mungkin diperbaiki lagi

4.2.4. Waktu Penyiangan

Waktu penyiangan tentunya dilakukan pada saat-saat tertentu. Sesuai dengan pernyataan informan berikut :

I1 : “Apabila dijumpai buku yang rusak, ada edisi baru, ada halaman yang hilang”

I2:“karena penyiangan dilakukan secara harian, tidak menentu, jadi tidak ada batasan waktu”

I3: “penyiangan membutukan waktu yang lama sekitar 3 minggu hingga 1 bulan lebih karena ada penambahan rak sehingga ada pergeseran posisi koleksi”

Berdasarkan beberapa pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa penyiangan di perpustakaan USU dilakukan tidak berdasarkan batasan waktu tertentu, Penyiangan dilakukan apabila di temukan buku rusak.

Pada perpustakaan USU ini belum memiliki agenda kerja atau aturan tertulis yang mengatur menyiangan. Penyiangan dilakukan berdasarkan devisi masing-masing tidak berdasarkan teori CREW. hal ini sesuai dengan pernyataan informan berikut :

I1 : “Belum” I1 : “Tidak ada”

I1 :“ Tidak tetapi berdasarkan devisi masing masing Karena perpustakaan USU telah mempunyai bagian atau devisi kerja masing- masing” I1 : “ karena menurut kami terlalu sulit untuk melakukannya,karena jika

mengikuti metode tersebut maka perpustakaan akan kehilangan banyak koleksi”

Berdasarkan beberapa pernyataan informan diatas, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan USU tidak melakukan penyiangan berdasarkan teori CREW karena mereka berpendapat teori tersebut terlalu sulit dan akan mengurangi banyak koleksi.


(15)

4.2.5. Kewenangan Penyiangan

Dalam melakukan penyiangan tentunya seorang pustakawan memiliki kewenangan. Seperti yang disampaikan informan berikut :

I1 : “ ya ada tim yang dibentuk yang dipilih dari masing masing devisi” Dari pernyataan informan diatas dapat simpulkan bahwa kewenangan penyiangan koleksi di perpustakaan USU diserahkn kepada masing-masing divisi. Karena perpustakaan USU terdiri dari beberapa divisi sesuai bidang ilmu yang ada.

4.2.6. Kriteria Penyiangan

Untuk menyiangi koleksi staf perpustakaan harus memiliki kriteria tertentu untuk koleksi yang akan disiangi. kriteria tersebut seperti yang dijelaskan informan berikut :

I1 ; “Tidak ada pengguna, ada edisi baru yang isinya jaug berbeda dengan edisi yang lama tingkat peminjaman rendah, bahasa tidak dimengerti.” I2 ; “kriteria yang dipakai adalah ada edisi baru, kurang bermanfaat bagi

pengguna, ada halaman yang hilang”

I3 : “kriteria yang dipakai adalah ada halaman yang hilang rusak berat” Berdasarkan pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa kriteria koleksi yang akan disisangi adalah sebagai berikut :

a. Format b. Edisi c. Nilai guna d. Fisik.

4.2.7. Kendala Penyiangan

Dalam melakukan penyiangan koleksi tentunya petugas perpustakaan memiliki kendala. Adapun kendala yang dialami sesuai pernyataan informan berikut :

I1 ; “tidak ada keraguan karena telah dipastikan dengan matang koleksi yang akan disingkirkan.”

I2 ; “fasiltas kurang lengkap” I3 : “ tidak ada”


(16)

Berdasarkan pernyataan informan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam memakukan penyiangan koleksi di Perpustakaan USU tidak ada keaguan dalam pemilihan koleksi yang akan disiangi, akan tetapi kendala yang dialami hanya kurangnya fasilitas penyiangan.

4.3. Rangkuman Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan para informan, melalui proses analisis data yang menjaga keabsahan data, sehingga diperoleh beberapa kategori Analisis Penyiangan Koleksi Dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara adalah sebagai berikut :

Tabel -4.2 : Rangkuman Hasil Penelitian

No. Kategori Indikator

1 Penyiangan a. Isi koleksi sudah tidak sesuai b. Koleksi Edisi lama

c. Koleksi rusak

d. Jumlah koleksi terlalu banyak 2 Tujuan Penyiangan a. Penghematan ruangan

b. Penghematan biaya perawantan 3 Pedoman Penyiangan Pedoman umum Penyiangan Koleksi 4 Waktu Penyiangan Bergantung pada masing-masing divisi 5 Kewenangan Penyiangan Masing-masing divisi

6 Kriteria Penyiangan a. Format b. Edisi c. Nilai guna d. Fisik. 7 Kendala Penyiangan Falilitas

Dari tabel diatas menunjukkan masing-masing kategori memiliki beberapa indikator penentu dalamAnalisis Penyiangan Koleksi Dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding. Kategori tersebut dapat digambarkan sebagai peta


(17)

indikator Analisis Penyiangan Koleksi Dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding, yaitu :

Gambar -4.1 : Peta Indikator Analisis Penyiangan Koleksi Dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding

Analisis Penyiangan

Koleksi tercetak di

Perpustakaan USU

Penyiangan

Tujuan

Penyiangan

Pedoman

Penyiangan

Kewenangan

Penyiangan

Kriteria

Penyiangan

Kendala

Penyiangan

Waktu

Penyiangan

Isi koleksi sudah tidak sesuai Koleksi Edisi lama

Koleksi rusak Jumlah koleksi terlalu

banyak

Penghematan ruangan Penghematan biaya

perawantan

Pedoman umum Penyiangan Koleksi

perawantan

Bergantung pada masing-masing

divisi

Falilitas masing-masing

divisi

format

edisi

Nilai guna


(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari wawancara langsung , maka dapat disimpulkan bahwa Analisis Penyiangan Koleksi Dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding dilihat dari beberapa kategori. Adapun kesimpulan dari masing-masing kategori tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penyiangan koleksi pada Perpustakaan USU dilakukan dengan alasan : a. Isi koleksi sudah tidak sesuai

b. Koleksi edisi lama c. Koleksi rusak

d. Jumlah koleksi terlalu banyak

2. Tujuan enyiangan koleksi di perpustakaan USU bertujuan untuk : a. Penghematan ruangan

b. Penghematan biaya perawatan

3. Pedoman penyiangan koleksi di Perpustakaan USU berdasarkan pada pedoman umum penyiangan koleksi perpustakaan.

4. Waktu penyiangan koleksi di Perpustakaan USU dilakukan tidak berbatas waktu, sesuai dengan divisi masing-masing.

5. Kewenangan penyiangan koleksi diserahkan kepada masing-masing divisi perpustakaan USU

6. Kriteria Penyiangan pada perpustakaan USU koleksi yang disiangi memiliki kriteria sebagai berikut :

a. Format b. Edisi c. Nilai guna d. Fisik

7. Penyiangan secara umum penyiangan koleksi di perpustakaan USU sudah sesuai prosedur akan tetapi dalam pelaksanaannya petugas perpustakaan mengalami kendala dengan fasilitas penyiangan.

8. Perpustakaan USU tidak melakukan melakukan metode CREW dalam penyiangan, penyiangan di lakukan dengan metode secara umum.

Berdasarkan kesimpulan hasil wawancara yang peneliti peroleh tentang Analisis Penyiangan Koleksi dengan Metode Continuous, Review, dan Weeding


(19)

di Perpustakaan Universitas Sumatera Utara sudah berjalan dengan baik akan tetapi perpustakaan USU tidak memiliki pedoman kebijakan tertulis mengenai kebijakan penyiangan, dan kurangnya fasilitas penyiangan menjadi kendala. peneliti menyarankan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara melengkapi fasilitas penyiangan koleksi di perpustakaan.

5. 2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan perpustakaan USU untuk Smelengkapi fasilitas penyiangan koleksi diperpustakaan, perpustakaan hendaknya juga membuat pedoman tertulis mengenai kebijakan penyiangan koleksi. Sehingga petugas dapat melakukan penyiangan dengan baik dan terarah meminimalisasi kesalahan yang akan terjadi selama penyiangan.


(20)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1. Pengertian Penyiangan

Penyiangan adalah pemilahan terhadap koleksi bahan pustaka perpustakaan, yang dinilai tidak bermanfaat lagi bagi perpustakaan. Menurut Thompson (1943:148) Penyiangan adalah suatu praktek yang dilakukan untuk menarik koleksi atau mengirim koleksi yang kelebihan copy, serta jarang digunakan dimana tingkat pemakaiannya sangat rendah, yang merupakan bagian penting dari pengembangan koleksi, hal ini sangat penting sehingga bahan pustaka yang tidak sesuai lagi diganti dengan bahan pustaka yang baru. Pengguna mendapat informasi terbaru dan faktual, koleksi yang terus menerus disiangi juga tidak terlihat menumpuk dirak buku, koleksi berada ditempat yang seharusnya membutuhkan koleksi tersebut, dan lebih menarik bagi pengguna dalam melakukan penelusuran penyiangan. Juga membantu pustakawan untuk menyingkirkan koleksi yang tidak diminati pengguna, Menurut Lasa Hs (1998:127) weeding merupakan upaya mengeluarkan koleksi dari susunan koleksi

karena kurang diminati, terlalu banyak eksemplarnya, dan telah ada edisi baru. Penyiangan merupakan bagian dari pengembangan koleksi (Collection

Development) perpustakaan, yang merupakan bagian penting dalam mencapai tujuan perpustakaan. Dalam hal ini Evans (2000) menyebutkan bahwa, weeding is cosidered as an integral part of the collection development program by authors of standards collection development yang artinya adalah bahwa penyiangan merupakan bagian integral dalam pengembangan koleksi.

Sedangkan menurut Gorman dan Howes (1991:323) penyiangan adalah proses mengeluarkan koleksi dari jajaran perpustakaan dan menilai kembali sesuai dengan kebutuhan pengguna saat ini. Terkadang penyiangan mengalami kendala terutama untuk memilih jenis dan usia koleksi yang akan disiangi, oleh karenanya perlu dibuat kriteria yang mengatur kapan suatu koleksi dapat disiangi. Menurut Gorman dan Howes (1991: 325) alasan suatu koleksi perlu disiangi umumnya antara lain:


(21)

1. Koleksi dan informasi yang terkandung didalamnya sudah tidak mutakhir.

2. Koleksinya sudah rusak dari segi fisik.

3. Edisi terbaru dengan judul yang spesifik telah tersedia di toko-toko buku atau penerbit.

4. Kebutuhan pengguna dalam komunitas perpustakaan berubah.

5. Tujuan institusi perpustakaan yang menaungi perpustakaan telah berubah, sehingga tujuan perpustakaan pun ikut berubah.

6. Material yang tidak diinginkan dengan alasan tertentu. 7. Biaya penyimpanan yang relatif besar.

Koleksi secara berkala perlu disiangi, agar bahan pustaka yang sudah tidak sesuai lagi dapat diganti dengan bahan pustaka yang baru. Pemilihan bahan pustaka yang dikeluarkan dari koleksi sebaiknya dilakukan oleh petugas perpustakaan dan ahlinya.

Kemudian dipisahkan, dipindahkan, dihibahkan atau dimusnahkan. Kepustusan tersebut berdasarkan pertimbangan kemutakhiran, kesesuaian dan kondisi fisik dokumen, adapun alasan pengeluaran bahan pustaka dari koleksi adalah sebagai berikut:

1. Bahan pustaka yang isinya sudah tidak sesuai lagi. 2. Edisi dan cetakan lama.

3. Bahan pustaka yang rusak dan tidak dapat diperbaiki. 4. Bahan pustaka yang isinya tidak lengkap.

5. Bahan pustaka yang jumlah copynya terlalu banyak

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan, bahwa penyiangan bahan pustaka adalah penyeleksian dan menyingkirkan bahan pustaka dari rak koleksi karena berbagai faktor. Baik faktor fisik maupun faktor nilai bahan pustaka seperti bahan pustaka yang isinya tidak mutakhir lagi, rusak, ada edisi baru, untuk menjaga agar nilai informasi koleksi yang dimiliki perpustakaan tersebut tetap up-to-date.


(22)

2.1.2 Manfaat penyiangan

Manfaat penyiangan menurut Boon (1995 : 5 - 6) ada enam manfaat penyiangan yaitu:

1. Save space.

2. Save the time of patrons

3. Make the collection more appealing. 4. Enhance your library’s reputation. 5. Keep up with collection needs.

6. Constant feedback on the collection’s strengths and weakness.

Dari pendapat diatas dapat diuraikan bahwa penyiangan dapat menghemat ruang, karena perpustakaan tidak perlu menambah rak baru untuk menampung koleksi. Selain itu, mempertahankan bahan yang tidak terpakai akan membutuhkan ruang yang lebih luas, sehingga rak yang digunakan untuk menampilkan item terbaru berkurang. Dengan menghemat ruang penyimpanan perpustakaan tidak perlu menambah lebih banyak rak, pengguna juga tidak kehilangan kesabaran ketika mencari item yang dijejalkan ke rak-rak yang kepenuhan.

Melakukan penyiangan pustakawan dapat menghemat waktu pengguna, staff, pustakawan dalam menggunakan koleksi untuk melayani pelayanan pengguna dan petugas kebersihan dalam menelusur koleksi, menganalisis dan mengevaluasi koleksi, menyusun koleksi ke rak, membersihkan perpustakaan.

Dengan penyiangan, koleksi yang dimiliki perpustakaan akan lebih menarik, mengganti buku yang sudah terlihat acak-acakan, buram, sirkulasi dapat ditingkatkan dengan membuat rak terlihat lebih rapi untuk kehandalan penelusuran, dan ke up-to-datean informasi, serta membangun kepercayaan publik.

Penyiangan juga dapat meningkat reputasi perpustakaan, karena pengguna menganggap bahwa bahan pustaka dipilih oleh orang yang ahli dibidangnya, dan perpustakaan memiliki kewajiban untuk melakukan hal tersebut serta informasinya up-to-date dapat diandalkan oleh banyak pengguna, memeriksa apakah perlu memperbaiki, menjilid, menghitung volume koleksi lebih akurat, selalu memeriksa, meriview dan mengevaluasi koleksi sehingga pustakawan dan staff dapat mengetahui koleksi yang rusak, hilang dan koleksi yang perlu diganti.


(23)

Dari pengertian diatas dapat uraikan bahwa penyiangan akan membantu staff dan pustakawan mengetahui kelemahan dan kelebihan koleksi juga membantu ketika ingin mengetahui buku yang up-to-date.

Alasan lainnya menurut Weeding article in encyclopedia of library and information Science, (vol 54. 1994. Page 367 - 368) yaitu:

Saving space

Saving patrons’ and staffs’ time

Increasing library appeal

Enhancing collection’s reputation for being up to date

Providing feedback on care of items

Providing feedback of collection’s strengths and weaknesses

Increasing use of other materials

Making room for more valuable materials

Encouraging patrons to be more careful handling materials. Broadcasting need for more materials.

Reducing duplicate copies. Withdrawing sexist materials.

Eliminating items no longer fitting library’s mission.

Eliminating items outside patrons reading level. Instilling greater sensitivity in selection.

Eliminating items no longer of interest to patrons. Saving overhead costs of retaining books.

Reducing binding costs.

Encumbering catalog and saving time in its use. Protecting readers from inaccurate information. Withdrawing irreplaceable books.

Reducing expenses for fire insurance. Saving time inventorying.

Encouraging browsing

Forcing librarians to write logical and meaningful collection development

policies.

Forcing more communication with faculty. Improving library safety.

Dapat disimpulkan bahwa penyiangan bermanfaat untuk : menghemat ruangan, menghemat waktu pengguna, menjadikan koleksi lebih menarik, meningkatkan reputasi perpustakaan, menjaga kebutuhan koleksi, pustakawan meninjau secara terus menerus tentang kelebihan dan kelemahan koleksi, mendorong pengguna untuk lebih berhati-hati menggunakan koleksi, mengurangi salinan/duplikat, penarikan koleksi pornografi, mengeluarkan item yang tidak


(24)

sesuai dengan misi perpustakaan, mengeluarkan item yang tidak sesuai kebutuhan informasi pengguna, menanamkan kemampuan yang lebih besar dalam pemilihan koleksi, mengeluarkan item yang tidak lagi menarik bagi pengguna, penghematan biaya penanganan buku yang berlebihan, mengurangi biaya penjilidan buku, beban katalog dan menghemat waktu pengguna, melindungi pembaca dari informasi yang tidak akurat, penarikan buku tak tergantikan, mengurangi biaya untuk asuransi kebakaran, acuan pustakawan untuk menulis kebijakan pengembangan koleksi yang logis dan bermanfaat, adanya komunikasi yang lebih intens dengan fakultas, meningkatkan keamanan perpustakaan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa manfaat penyiangan dilakukan adalah untuk menyingkirkan bahan pustaka yang tidak sesuai lagi dengan pengguna menghemat ruang, rak koleksi, menyingkirkan salinan koleksi yang berlebihan, menyingkirkan koleksi yang tidak sesuai dengan informasi saat ini, dan menghemat waktu pengguna dalam melakukan penelusuran.

2.1.3 Prosedur penyiangan

Dalam melaksanakan penyiangan, harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan prosedur yang ditetapkan perpustakaan. Adapun prosedur penyiangan menurut Adriaty (2001:10-11) adalah sebagai berikut :

1. Pustakawan bersama dengan dosen atau peneliti yang berwenang mengadakan pemilihan bahan pustaka yang perlu dikeluarkan dari koleksi berdasarkan pedoman penyiangan yaitu menentukan persyaratan koleksi pustaka yang akan disiangi misalnya atas dasar: usia terbit, subjek, cakupan, kandungan informasi.

2. Menentukan jenis koleksi yang akan disiangi, misalnya buku, majalah, brosur, leaflet, kaset rekaman, laporan tahunan/bulanan dan sebagainya. 3. Pemilihan/seleksi koleksi pustaka yang perlu dikeluarkan/disiangi. pada

tahap ini perlu dipertimbangkan koleksi pustaka yang dianggap sudah tidak bermanfaat bagi pemakai perpustakaan, terutama dalam hal edisi terbitan, volume, nomor dan subjek.

4. Mengeluarkan kartu buku, mencabut katalog dari semua jajaran katalog, menghapus data dari pangkalan data/katalog elektronik.

5. Membuat berita acara tentang hasil penyiangan/penghapusan untuk keperluan.

6. Menyimpan di gudang atau menawarkan ke perpustakaan lain yang diperkirakan lebih membutuhkan.


(25)

Sedangkan prosedur umum penyiangan koleksi perpustakaan menurut Yuyu (2010 : 937 ) yaitu:

1. Pustakawan (bersama dengan dosen, guru atau peneliti yang berwenang, tergantung dari jenis perpustakaannya mengadakan pemilihan bahan pustaka yang perlu dikeluarkan dari koleksi berdasarkan pedoman penyiangan.

2. Pustakawan perlu mendata calon buku-buku yang akan disiangi, dalam tiga tahun terakhir buku- buku itu dipinjam berapa kali dalam setahun, dan kapan terakhir buku itu dipinjam oleh pengguna

3. Apabila memungkinkan, sertakan juga data pemanfaatan buku itu diruang baca. data itu semua akan membuat keputusan penyiangan menjadi lebih akurat.

4. Untuk mempercepat proses penyiangan bisa saja pustakawan membuat daftar dari bahan pustaka yang mungkin sudah waktunya dikeluarkan dri koleksi. Namun, tidak dianjurkan untuk menyiangi bahan pustaka itu dengan hanya membaca daftar itu. melihat langsung bahan pustaka tersebut perlu dilakukan sebelum memutuskan untuk mengeluarkan dari koleksi.

5. Buk yang dikeluarkan dari koleksi, kartu bukunya dikluarkan dari kantong buku yang bersangkutan. Begitu pula kartu katalognya, baik untuk katalog pengarang, judul, subek, dan sebagainya dicabut dari jajaran katalog.

6. Buku-buku tersebut dicap “Dikeluarkan dari koleksi perpustakaan” sebagai bukti bahwa bahan pustaka itu sudah bukan milik perpustakaan lagi.

7. Apabila bahan tersebut masih dapat dipakai orang lain ( terutama yang kopiannya banyak dan belum out of date isinya ) maka dapat disisihkan untuk bahan penukaran atau dihadiahkan.

8. Apabila pustakawan merasa ragu bahwa buku yang dikeluarkan dari koleksi itu mungkin masih dicari-cari penggun sekali-sekali maka buku-buku seperti itu bisa disusun digudang terlebih dahulu, Agar masih bisa dicari kembali dengan mudah, susun pula kartu-kartu katalognya dan tempatkan didekat susunan buku-buku tersebut.

9. Apabila dalam beberapa tahun buku tersebut tidak ada yang membutuhkan, maka buku itu dapat dikeluarkan dari perpustakaan. 10.Bahan pustaka yang akan dikeluarkan dari perpustakaan harus dibuatkan

berita acara, dan beberapa prosedur administrasi lainnya dengan memperhatikan peraturan yang berlaku tentang penghapusan barang milik negara, terutama untuk perpustakaan yang bernaung dibawah badan pemerintah.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat diuraikan yang dimaksud dengan prosedur penyiangan adalah langkah-langkah yang dilakukan sebelum penyiangan dilakukan, pustakawan maupun orang yang ikut serta dalam kegiatan penyiangan, harus benar-benar memperhatikan peraturan dan pedoman penyiangan yang


(26)

berlaku tentang penyiangan, agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan penyiangan.

2.1.4 Kriteria Penyiangan

Menurut Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia (2005:65), kriteria penyiangan sering bersifat relatif. Sehingga perpustakaan perlu memiliki kebijakan tertulis tentang penyiangan koleksi yang merujuk pada peraturan perundang-undangan. Dengan demikian ada pegangan dalam melaksanakan penyiangan dari waktu ke waktu, dalam menentukan kebijakan penyiangan, perpustakaan perlu meminta bantuan pada ahli dan staff yang berwenang. Bersama dengan pustakawan, mereka menentukan bahan pustaka mana yang perlu dikeluarkan dari koleksi, beberapa faktor yang harus diperhatikan selama proses penyiangan faktor-faktor ini meliputi:

1. Tanggapan Layanan perpustakaan yang dipilih dan tujuan yang dihasilkan.

2. Kebutuhan dan tuntutan dari komunitas pengguna perpustakaan. 3. Ketersediaan bahan yang lebih cocok.

4. Anggaran yang cukup untuk menyediakan dana untuk membeli item yang lebih memuaskan.

5. Hubungan antara item tertentu kepada orang lain tentang hal itu. 6. Perjanjian kooperatif dengan perpustakaan lain dan kemampuan

pengguna untuk menggunakan perpustakaan lain di daerah tersebut. 7. Sejauh mana perpustakaan berfungsi sebagai arsip atau pusat sejarah

lokal.

8. Kegunaan kemungkinan masa depan item tertentu. 9. Ketersediaan informasi terkini di Internet.

10. Kemampuan perpustakaan untuk meminjam item melalui pinjaman antar perpustakaan.

Selama proses penyiangan, juga perlu memeriksa kepemilikan perpustakaan terhadap setiap database terpusat yang berada di perpustakaan. Akan lebih mudah untuk penyiangan judul yang tidak lagi pinjamkan, jika dapat dengan mudah memperolehnya dari perpustakaan lain melalui pinjaman antar perpustakaan. Konsultasi alat bantu bibliografi standar ketika mengevaluasi kualitas item tertentu jika anda tidak yakin. Lihat bibliografi untuk daftar alat bantu koleksi standar, serta panduan subjek tertentu yang dapat membantu membuat keputusan. Dalam menentukan kriteria buku yang akan disiangi


(27)

hendaknya perpustakaan meminta bantuan dari para spesialis subjek pustaka yang akan disiangi, untuk bersama-sama menentukan apa yang perlu dikeluarkan dari koleksi perpustakaan serta apa yang harus dilakukan terhadap hasil penyiangan itu.

Menurut Yulia (2010 : 934) kriteria bagaimana suatu bahan pustaka itu keluar dari koleksi perpustakaan antara lain adalah:

1. Subjek tidak sesuai lagi dengan kebutuhan pengguna perpustakaan. 2. Bahan pustaka yang sudah using isinya.

3. Edisi yang terbaru dudah ada sehigga yang baru dapat dikeluarkan dari koleksi.

4. Bahan pustaka yang sudah terlalu rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi.

5. Bahan pustaka yang isinya tidak lengkap lagi dan tidak dapat diusahakan penggunanya.

6. Bahan pustaka yang jumlah duplikatnya banyak, tetapi frekuensi pemakaiannya rendah.

7. Bahan pustaka terlarang yang ajarannya menyesatkan, koleksi yang di larang oleh pemerintah untuk di baca oleh pengguna.

8. Hadiah yang diperoleh tanpa diminta, dan memang tidak sesuai dengan kebutuhan pengguna.

9. Bahan pustaka yang tidak digunakan lagi, dan tidak dibutuhkan. Beberapa kriteria umum yang yang dipakai sebagai pedoman oleh petugas dalam melakukan kegiatan penyiangan koleksi di Perpustakaan Universitas William (2010) adalah:

1. Format (available in other formats). 2. Duplication.

3. Textbooks.

4. Currency (when relevant, varies by discipline). 5. Physical condition of item.

6. Curriculum needs.

7. Core title (check standard lists, such as Books for College Libraries). 8. New title available in collection (superseded volume).

9. Circulation (use statistics, when available). 10.Multiple copies available (with low circulation).

11.Textbooks (generally not to be included in the collection).

12.Publisher (well known in field and may include professional associations).

13.Credibility of author, known experts in the field. 14.Critics' reviews of book.

15.If ten (10) copies of a title are available on OCLC or if one (1) other library in Texas owns the title, then it is acceptable for the title to be weeded.


(28)

17.Appropriate monograph level (undergraduate, graduate, professional, non-academic).

“Dapat disimpulkan bahwa pedoman penyiangan di perpustakaan University William adalah: format buku, duplikat, buku teks, relevansi informasi, kondisi fisik buku, kesesuaian dengan kurikulum pendidikan, kopian buku yang banyak, kredibilitas penulis, kritikus buku, dan lain sebagainya’’.

Sedangkan Menurut Boon (1995 : 8) koleksi yang dapat disiangi antara lain:

1. Materials/Books of Poor Content: Outdated and obsolete information (especially on the subjects of computers, law, science,space, health andmedicine, technology, geography, travel, and transportation)

Trivial subject matter Mediocre writing style

Inaccurate or false information Unused sets of books

Repetitious series Superseded editions Not on standard lists

Biased or sexist terminology or views Unneeded duplicates

Unsolicited and unwanted gifts

Dapat disimpulkan sebagai, material/bahan usang dan informasinya telah usang ( terutama pada mata pelajaran komputer, ilmu hukum,ruang angkasa, kesehatan, danobat-obatan, teknologi, geografi, travel, serta transportasi), Subyek trivial, Gaya penulisan biasa-biasa saja, Informasi tidak akurat atau salah, Buku berseri yang tidak terpakai, Seri berulang-ulang, Edisi baru, Tidak ada ada daftar standar, Bias, Duplikat berlebihan’’

2. Materials/Books of Poor Appearance: Worn out, ragged items

Poorly bound or poorly printed editions

Items that are dirty, shabby, warped, bug infested, or otherwise marked up, mutilated, or "edited" by patrons

Small print, poor quality pictures

Brittle film, magnetic tape (in the case of video- and

audiocassettes and films) or paper Yellowed, torn, or missing pages.

‘’Dapat disimpulkan material yang disiangi adalah : material/penampilan buku yang jelek, Usang, compang-camping item, jilidan atau edisi cetakan yang


(29)

jelek, Item yang kotor, kumuh, robek, atau "diedit" oleh pelanggan, cetakan Kecil, gambar berkualitas buruk, film/pita magnetik rapuh (dalam kasus video dan kaset audio dan film) serta kertas yang menguning, juga halaman yang hilang.

2. Unused Materials:

Items uncirculated for 3-5 years and not needed for reference or in- house use

Duplicate copies no longer needed Periodicals that are not indexed Unused volumes of sets

Unneeded titles in little-used subject areas

Materials on the "hot topics" of several years ago More books than are needed on any one subject.

‘’Dapat disimpulkan sebagai, material yang tidak terpakai. Item yang tidak dipinjam selama 3-5 tahun, salinan yang tidak dibutuhkan, terbitan berseri yang tidak diindeks, set volume yang tidak gunakan, judul yang tidak dibutuhkan pada subjek area tertentu, material yang topik hangat beberapa tahun lalu, buku yang

berlebihan dari yang dibutuhkan pada satu subjek”.

3. Topics No Longer Within Your Collection Priorities:Titles (print and nonprint) readily available elsewhere in your community Subjects no longer relevant to your changing clientele.

‘’Dapat disimpulkan bahwa material yang akan disiangi meliputi: topik yang tidak sesuai lagi dengan perpustakaan: judul ( tercetak maupun tidak tercetak), subjek yang tidak relevan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa kriteria penyiangan adalah syarat-syarat bahan pustaka yang dapat disiangi, kriteria koleksi yang dapat disiangi sangat banyak, seperti berdasarkan tahun terbit buku, kondisi fisik yang rusak, bahasa yang tidak dikenal, buku yang tidak pernah dipinjam, dan pokok bahasan yang tidak relevan lagi.

2.1.5 Masalah Dalam Penyiangan

Penyiangan tidak mudah dilaksanakan, karena pustakawan dihadapkan kepada masalah atau keragu- raguan untuk menentukan kriteria buku yang dianggap tidak bermanfaat lagi. Untuk mengatasi keragu-raguan ini hendaknya perpustakaan meminta bantuan para spesialis subyek dari bahan pustaka yang


(30)

akan disiangi, untuk bersama- sama menentukan apa yang perlu dikeluarkan dari koleksi perpustakaan serta apa yang harus dilakukan terhadap hasil penyiangan tersebut.

Menurut Boon (1995 : 53-55) ada keraguan di kalangan pustakawan untuk menyingkirkan buku dari koleksi perpustakaan. Untuk alasan itu, rintangan utama adalah meyakinkan pustakawan, serta pengurus universitas dan fakultas, bahwa informasi koleksi akan semakin meningkat jika bahan koleksi yang tidak digunakan disingkirkan. Ada beberapa keragu-raguan dalam melakukan penyiangan pada pustakawan yang merasa tidak nyaman melaksanakan penyiangan yaitu:

1. I am proud of having a large selection of books for my patrons. 2. I don't have the time.

3.If i throw this book out, someone will ask it tomorrow. 4. This old book may be rare and valuable, also first edition.

5. Discard a book because it has not been used, is admitting publicly a

mistake in selecting.

6. Weeding really just irresponsible destruction of public property.

7. Need to have something (or anything) on this subject. and every copy of this classic for the school rush.

“Dari pengertian diatas dapat diuraikankan bahwa pustakawan memilki kebanggaan jika mereka koleksi dalam jumlah besar, sehingga mereka juga akan memiliki pengguna yang banyak juga untuk memenuhi standar tertentu. Padahal kualitas lebih baik dari pada kuantitas, perpustakaan yang baik belum tentu perpustakaan yang besar, karena tingkat dan kualitas pelayanan diperpustakaan merupakan hal yang terpenting.

Perpustakaan merasa tidak memiliki waktu padahal jika pustakawan memiliki waktu untuk memilih buku-buku baru, maka pustakawan juga memiliki waktu untuk menyiangi buku – buku yang tidak lagi berguna untuk koleksi perpustakaan. Imej perpustakaan, kredibilitas, dan kualitas layanan perpustakan sangat dipertaruhkan, untuk membantu menemukan waktu yang dibutuhkan, buatlah penyiangan menjadi bagian rutin dari rutinitas pustakawan.


(31)

Pustakawan memiliki keraguan melakukan penyiangan adanya pengguna yang ingin meminjam koleksi yang sudah disiangi, padahal situasi ini jarang benar-benar terjadi dan tidak umum terjadi. Bahan pustaka yang telah disiangi, buku yang belum digunakan dalam lima tahun terakhir tidak mungkin lagi digunakan lima tahun ke depan.

Pustakawan menganggap buku tua yang langka bahkan merupakan edisi pertama sangat berharga, padahal walaupun buku tua tersebut telah terbit sebelum tahun 1900, hanya satu dari beberapa kemungkinan. Walaupun buku tersebut merupakan buku yang berharga, sangat jarang menarik bagi kolektor. karena perpustakaan menandai buku tersebut dengan dengan nomor akses, barkode, stempel kepemilikan, dll yang membuat buku tersebut jelek .

Pustakawan memiliki kekhawatiran penyiangan koleksi dilakukan karena pustakawan melakukan kesalahan dalam pengadaan bahan pustaka sehingga tidak digunakan. Padahal pustakawan juga manusia yang tidak luput dari kesalahan, karena seleksi tidak didasarkan pada formula ilmiah atau pengukuran obyektif. Sebagian besar pemilihan harus didasarkan penilaian pustakawan pada buku tersebut. penghakiman dari orang-orang dapat mempertajam pelatihan dan pengalaman, walaupun tidak akan pernah sempurna.

Pustakawan memiliki anggapan bahwa penyiangan adalah perusakan milik public, padahal penyiangan adalah proses yang konstruktif yang meningkatkan kemampuan perpustakaan untuk memberikan pelayanan yang baik, dan meningkatkan kenyamanan di gedung perpustakaan, pustakawan juga ingin menyimpan apa yang menjadi milik perpustakaan seperti subjek tertentu, salinan tambahan di simpan di ruang penyimpanan”.

Gardner (1982 : 212 ) mengatakan bahwa sebagian besar pustakawan menentang penyiangan dilakukan dengan beberapa alasan antara lain:

1. Yang besar akan menjadi yang terbaik.

2. Kurang waktu untuk melakukan penyiangan, karena masih banyak pekerjaan lain harus diprioritaskan.

3. Membutuhkan banyak dana.

4. Penyiangan tidak mudah dilakukan.

5. Ada perasaan yang menyatakan bahwa koleksi harus diperlakukan dengan banyak baik.


(32)

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan keragu-raguan dalam melakukan penyiangan adalah mempertahankan volume koleksi, tidak memiliki waktu yang cukup dalm melakukan penyiangan, juga ada ketakutan pada pustakawan bahwa penyiangan menjadi pertanda bahwa pustakawan melakukan kesalahan dalam pemilihan bahan pustaka.

2.2 Metode Continuous, Review, Evaluation, and Weeding

Dalam Penyiangan dikenal salah satu metode penyiangan yaitu, CREW. Menurut Boon (1995 : 3 - 4) fungsi CREW begitu penting, bahkan sangat vital bagi pengguna perpustakaan. Karena menjadi metode untuk memperlambat penumpukan koleksi yang tidak terpakai, pustakawan perpustakaan bertanggungjawab untuk siklus pelayanan yang disebut "pengembangan Koleksi". Yaitu serangkaian rutinitas yang berkelanjutan yangterus menerus menambah, menyingkirkan, interpretasi untuk menyesesuaikan koleksi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna dan pengguna potensial.Proses ini dimulai dari seleksi dan akuisisi, lalu bergerak ke pengatalogan dan pengolahan, kemudian dilanjutkan dengan sirkulasi dan referensi dan memasuki sebuah metode yang disebut continuous, review, evaluation dan weeding yang disingkat menjadi CREW (tinjauan secaraberkelanjutan, evaluasi, dan penyiangan). Ketika telah melakukan evaluasi dan penyiangan maka pustakawan dapat mengetahui bahwa masa penggunaan suatu bahan atau material perpustakaan telah usai, dan bisa disingkirkan dari rak. Penyiangan sangat penting untuk perawatan koleksi, mempertahankan bahan untuk meningkatkan jumlah koleksi, karena itu jika penyiangan sulit dilakukan, memakan waktu pekerjaan yang lama adalah kekalahan diri sendiri sebelum melakukannya. Penyiangan sangat dibutuhkan dipelayanan karena akan meningkatkan kredibilitas dan penggunaan perpustakaan, dengan metode CREW akan menghasilkan informasi mengenai kelemahan, kelebihan, kesenjangan, dan titik jenuh koleksi.

Siklus layanan merupakan tempat yang bagi cocok CREW, diagram di bawah merupakan aliran kedua layanan perpustakaan langsung dan tidak langsung,


(33)

ini berbentuk lingkaran karena setiap proses mengarah ke proses berikutnya. Yang melibatkan rutinitas yang berkelanjutan secara keseluruhan yaitu.

1. SA is the Selection (through reviews and requests) and the Acquisition (ordering and paying for) of the library's materials.

2. CP is the Cataloging (including classification) and Processing (accessioning, stamping, pocketpasting, data entry, etc.) of the same materials.

3. CR is the Circulation and Reference step, in which the prepared books are out on the shelves being used in the public services.

Selection and Acquistion (SA) adalah seleksi untuk memilih dan menganalisis dampaknya, utilitas , dan prediktif value (biasanya melalui ulasan pembaca, meneliti katalog dan mempertimbangkan permintaan pengguna) dan akuisisi (pemesanan dan membayar untuk) pembelian bahan perpustakaan.

Cataloging and Processing (CP) adalah katalogisasi (termasuk klasifikasi) dan pengolahan (stempel buku, barkode dan entri data ke katalog online, dll) dari bahan yang sama.

Circulation and Reference (CR) adalah sirkulasi dan referensi, di mana buku yang tersedia keluar dari rak karena digunakan pengguna dan staff perpustkaaan di pelayanan publik.

Metode yang disebut CREW (tinjauan secara berkelanjutan, evaluasi, dan Penyiangan) yang mengintegrasikan semua proses menjadi suatu kegiatan rutin yang perlahan, efisien, dan berkelanjutan yang menjamin bahwa semua material yang tidak diperlukan orang akan disingkirkan dengan cara yang efektif.


(34)

Gambar- 2. 1 : Continiuous Review Evaluation and Weeding

Sumber :The CREW METHOD: Expanded Guidelines for Collection Evaluation and Weeding for Small and Medium – Size Public Libraries, 1995, page 3.

Setelah memasuki sirkulasi dan referensi (CR), maka bahan perpustakaan akan memasuki proses CREW dari inventarisir dan pemeliharaan. Setiap item memiliki siklus masa aktif manfaat. Seringkali item baru akan sangat populer pada awalnya, yang akan dipinjam pada periode waktu yang singkat. Kemudian item akan berada dirak terus menerus, hanya akan keluar sesekali. Akhirnya dalam banyak kasus, item menjadi usang, informasi menjadi usang atau digantikan oleh informasi baru.

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dengan CREW, pustakawan dapat mengetahui koleksi apa yang dibutuhkan, karena metode CREW melakukan evaluasi secara terus menerus dan berkelanjutan pada kebutuhan untuk memperbaiki, meningkatkan, memperingatkan staff, pustakawan, pengguna yang mengilangkan koleksi untuk mengganti, dan menjamin penghitungan jumlah koleksi yang lebih akurat. Proses ini juga memungkinkan untuk mengadakan penyiangan, item yang sudah usang, tidak digunakan lagi, dapat disingkirkan dengan mudah, dan menjadwalkan penyiangan. Dimana pustakawan dapat melihat secara spesifik bidang koleksi secara teratur, serta


(35)

pustakawan yang melakukan penyiangan secara terus menerus memiliki pengetahuan yang lebih luas mengenai koleksi yang ada.

2.2.1 Panduan Continuous, Review, Evaluation, and Weeding Untuk Menyiangi Koleksi Dengan Rumus Misleading, Ugly, Superseded, Trivial, Irrelevant, Serta Elsewhere.

Panduan CREW untuk menyiangi koleksi diberikan dengan berbagai aturan praktik klasifikasi kelas Dewey berdasarkan pendapat profesional yang ahli dibidangnya dalam literatur dan pengalaman langsung. Menurut Boon (1995 : 31) rumus dalam setiap kasus terdiri dari tiga bagian yaitu:

1. Angka pertama mengacu pada tahun sejak tanggal hak cipta buku baru (relevansi materi dalam buku).

2. Angka kedua mengacu pada waktu maksimum yang diizinkan tanpa penggunaan (dalam hal tahun sejak sirkulasi yang terakhir direkam). 3. Yang ketiga mengacu pada adanya berbagai faktor negatif yang disebut

faktor misleading, ugly, superseded, triavility, irrelevant, dan elsewhere

( MUSTIE ).

Misalnya, rumus "8/3/MUSTIE" artinya: "memertimbangkan buku di kelas ini untuk dibuang ketika hak cipta terakhir lebih dari 8 tahun yang lalu atau ketika penggunaan di sirkulasi terakhir lebih dari 3 tahun yang lalu dan / atau, bila

memiliki satu atau lebih dari satu faktor “MUSTIE’

Kebanyakan formula termasuk "3" dalam kategori penggunaan, dan MUSTIE dalam kategori faktor negatif. Ciri – ciri dalam kategori usia bervariasi dari subjek ke subjek, jika salah satu dari tiga faktor ini tidak berlaku untuk subjek tertentu, kategori tersebut diisi dengan "X".

MUSTIE adalah singkatan yang mudah diingat untuk enam faktor negatif yang sering merusak kegunaan buku dan menandainya untuk disiangi yaitu :

1. Misleading yaitu menyesatkan dan tidak faktual atau tidak akurat karena adanya penemuan baru, revisi, pemikiran atau teori yang baru atau informasi baru yang kini diterima oleh para profesional dibidang subjek tersebut. bahkan dalam bidang-bidang seperti fisika, yang dianggap cukup mapan, perubahan radikal terjadi akibat dampak dari akurasi dan validitas informasi.

2. Ugly yaitu jelek atau sudah usang sehingga tidak bisa diperbaiki, faktor meliputi sebagian besar elemen yang berhubungan dengan kondisi fisik item yang pakai, kerusakan, noda, kotor, dan rusak yang membuatnya kurang menarik bagi pengguna perpustakaan.


(36)

3. Superseded yaitu diganti dengan edisi yang benar-benar baru atau sebuah buku yang jauh lebih baik isinya.

4. Triviality yaitu tidak ada manfaat sastra atau ilmiah yang didapat. 5. Irrelevant yaitu berarti tidak relevan dengan kebutuhan dan

kepentingan pengguna karena berubah dari waktu ke waktu.

6. Elsewhere yaitu materi yang dapat diperoleh secara cepat melalui tempat lain pinjaman antar perpustakaan lain, juga banyak buku yang sekarang tersedia secara online melalui layanan seperti NetLibrary.

Dengan pengecualian buku sejarah lokal dan dokumen regional, hampir semuanya tersedia di tempat lain.

Dalam semua kasus, keputusan penyiangan pada akhirnya tergantung pada penilaian profesional atau ahlinya, staff perpustakaan, staf yang bertanggung jawab untuk pemilihan bahan dalam memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan. Sementara rumus MUSTIE dapat digunakan sebagai panduan dalam membuat keputusan penyiangan, pedoman ini dapat dan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik perpustakaan. Dengan menggantikan angka yang paling mencerminkan misi perpustakaan dan tujuan perpustakaan, dan berhati-hati dalam mempertimbangkan semua faktor yang terlibat dalam proses penyiangan, lebih daripada penyiangan secara otomatis yang membuang item berdasarkan tanggal hak cipta.

Metode CREW membuat pustakawan dapat mengehui feedback konstan dari kekuatan dan kelemahan koleksi perpustakaan. Informasi ini dapat membantu dalam mengambil keputusan ketika menerima sumbangan koleksi dan membuat keputusan tentang pengadaan dan pembelian. CREW juga menjaga bentuk sekarang dari seluruh koleksi secara jelas, dan membantu merencanakan arah masa depan koleksi.


(37)

Tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey

Kelas Siklus Keterangan

000 umum

Kategori 000 sangat luas dan seringkali memerlukan penyiangan antar area dengan area lainnya dalam klasifikasi Dewey. misalnya, buku-buku tentang menjalankan konsultasi bisnis dapat diklasifikasikan dalam 001 (pengetahuan) atau 650 (manajemen).

004 (Komputer) 3/X/MUSTIE

Buku komputer jarang digunakan setelah tiga tahun. Begitu juga dengan mikro komputer dan perangkat lunak yang memiliki rentang hidup lebih pendek (1-2 tahun).

010 (Bibliografi) 10/3/MUSTIE Singkirkan setelah sepuluh tahun sejak tanggal hak cipta

020 (Perpustakaan &

ilmu Informasi) 10/3/MUSTIE

Singkirkan semua buku yang tidak sesuai lagi dengan keadaan saat ini,edisi sebelum revisi, dan jenis materi atau peralatan perpustakaan yang telah usang.

030 (Ensiklopedia

Umum) 5/X/MUSTIE

Ensiklopedia terbaru cepat telah tersedia secara online melalui TexShare atau melalui sumber database lainnya, jika memungkinkan. Ensiklopedia cetak yang paling baru pertahankan di koleksi referensi, koleksit tua dapat dijual atau tetap diedarkan, tapi harus menariknya setelah beredar delapan tahun.

000 lainnya 5/X/MUSTIE

Kecuali buku- buku trivia, dapat disimpan tanpa batas waktu, sampai dianggap tidak penting lagi.

100 (Filsafat dan Psikologi)

Kategori ini berfokus pada filosofi, psikologi, para psikologi, etika, dan logika.

133 (Fenomena

Paranormal) 15/3/MUSTIE

Penggunaan buku-buku tentang paranormal umumnya sangat tinggi dan harus disimpan sampai dipakai. Ini akan diperlukan untuk menggantikan buku yang hilang atau dicuri, karena topik ini sangat populer


(38)

Sambungan tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey.

150 (Psikologi) 10/3/MUSTIE

Selain dari psikologi klasik yang dapat digunakan oleh pengguna universitas, banyak judul dalam kategori ini yang dapat disiangi berdasarkan popularitas dan penggunaan. Mengganti yang lama dengan edisi baru. Perkembangan psikologi berlangsung dalam waktu lima sampai delapan tahun

160 (Logic) & 170 (Etika dan

Moralitas)

10/3/MUSTIE

Ganti yang sudah usang dengan edisi paper back yang menarik, buang jika tidak lagi menarik.

200 (Agama dan

Mitologi)

10/3/MUSTIE Or

5/3/MUSTIE

Gunakan 10/3/MUSTIE kecuali untuk daerahyang cepat berubah gunakan 5/3/MUSTIE.

area ini sulit untuk di weeding karena:

(a) barang-barang yang sering disumbangkan dan pustakawan takut dikritik, dan

(b) karya agama seharusnya diperlakukan sangat baik, tetapi harus tetap disiangi.

300(Ilmu Sosial)

Daerah ini mencakup berbagai topik, termasuksosiologi, cerita rakyat, budaya, kriminalitas, dan pendidikan, pengumpulan harus mencakup informasi yang mewakili berbagai sudut pandang tentang isu-isu kontroversial saat ini, akurat, dan adil.

310 (Statistik

Umum) 2/X/MUSTIE

Jarang digunakan setelah 2 tahun berlalu, tetap pertahankan hingga tiga tahun.

320 (Ilmu Politik) 5/3/MUSTIE Untuk buku teori koleksi sejarah dinilai berdasarkan Penggunaan : 10/3/MUSTIE.


(39)

Sambungan tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey.

330 (Ekonomi) 5/3/MUSTIE

Perbarui item yang tersedia dalam edisi revisi, waspadai perubahan radikal dalam undang-undang, peraturan, perubahan tentang iklim, investasi, penulis ternama, item yang dimaksudkan sebagai sejarah era tertentu dapat dipertahankan jika faktor MUSTIE dapat diterima.

340 (Law) 10/X/MUSTIE

Ganti ketika data terbaru telah tersedia. Jangan pernah menyimpan edisi lama, bahkan pada topik yang masih banyak digunakan

350 (Administrasi

Publik)

10/X/MUSTIE

Tetap up-to-date, ganti ketika ada perubahan administrasi atau terjadi reformasi konstitusi.

360 (Pelayanan Sosial)

5/X/MUSTIE Singkirkan buku teori setelah lima tahun

370

(Pendidikan) 10/3/MUSTIE

Pertahankan buku sejarah yang masih digunakan. Buang semua teori yang telah usang. 390 Etiket Adat-istiadat dan folklore 5/3/MUSTIE 10/3/MUSTIE

Pertahankan buku standar, lakukan penyiangan siangi sesuai dengan yang digunakan.

Pertahankan buku dasarnya, judul up-to – date

400 (Bahasa) 10/3/MUSTIE

Menyingkirkan buku teks lama, tak nyaman dipandang, ketinggalan zaman, buku tata bahasa. Buku-buku yang mengeksplorasi sejarah bahasa dan asal kata harus dibuang ketika masuk kategori MUSTIE.


(40)

Sambungan tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey.

500 (Ilmu Pengetahuan

Alam)

5/3/MUSTIE

Evaluasi dengan hati- hati buku yang telah lewat dari 5 tahun, kecuali botani dan sejarah alam. ganti yang sudah usang dengan edisi baru, perhatikan secara khusus fisika, tentang isu lingkungan hidup, dan bagian astronomi. Banyak materi yang berhubungan dengan lingkungan masih sesuai sampai lima belas tahun sementara bahan tentang atomtidak akurat setelah dua tahun.

510 (Matematika)

10/3/MUSTIE

Mengganti bahan yang usang pada aljabar, geometri, trigonometri, dan kalkulus dengan edisi revisi. buang buku yang fokus pada metode pengajaran dan teknik yang sudah usang.

550 (Ilmu Bumi) X/3/MUSTIE

Bagian ini termasuk juga tentang gempa bumi, gunung berapi, dan topik geologi lainnya. Singkirkan buku-buku yang tidak mencerminkan teori terbaru dan ilmu pengetahuan tentang kegiatan geologi. juga siangi buku yang memiliki informasi yang telah usang seperti bencana besar yang telah lama terjadi.

570 (Ilmu alam ) 5/3/MUSTIE

Gunakan metode 5/2/MUSTIE pada buku-buku tentang genetika, rekayasa genetika, manusia biologi, dan evolusi karena perubahan yang cepat dalam praktek ilmiah dibidang tersebut.

580 (Ilmu botani)

10/3/MUSTIE

Ilmu botani mengalami perubahan yang lambat daripada yang lain, perubahan ilmu botani kurang cepat daripada beberapa daerah ilmu pengetahuan lain. Siangi buku-buku yang tidak memiliki ilustrasi berwarna, perhatikan panduan tentang makanan atau obat, tanaman dan rempah-rempah


(41)

Sambungan tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey. 600 (Teknologi,

Ilmu Terapan)

610 (Kedokteran) 5/3/MUSTIE

Siangi secara ketat tentang praktek medis terbaru, pelanggan mengandalkan ke up-to-datean informasi dan informasi usang bisa berbahaya, pertahankan bahan baru selama 2 tahun (satu referensi, satu disirkulasi) dari

Physician’s Desk Reference (PDR),

direktori obat diganti ketika edisi baru telah tersedia. Jangan menyimpan panduan obat yang lebih dari tiga tahun .

630 (Pertanian) 5/3/MUSTIE

Tetap up-to-date, pastikan untuk mengumpulkan informasi tentang teknik terbaru dan hibrida jika anda melayani petani atau peternak

635 (Hortikultura)

10/3/MUSTIE

Buku berkebun umumnya berguna hingga 20 tahun. buku-buku tentang propagasi bunga atau tanaman tertentu dianggap usang setelah 10 tahun. juga bahan pustaka yang membahas penggunaan pestisida dan bahan kimia

670 (Manufaktur)

10/3/MUSTIE

Penyiangan dilakukan berdasarkan pada penggunaan dan kondisi. pertahankan panduan perbaikan peralatan manual tanpa batas waktu kecuali teknologi sudah begitu usang, beberapa sumber mungkin berisi nilai informasi sejarah dapat terus gunakan pada alat, alat pertanian, dll yang masih digunakan dalam komunitas.

600 lainnya (juga bisnis)

5/3/MUSTIE

Teknologi membuat kemajuan pesat sehingga setiap material selama lima tahun harus diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan obat-obatan, ruang teknologi, pendidikan seks, radio, televisi, kesehatan dan tentang kantor. Pertahankan salah satu bahan yang memiliki nilai historis.


(42)

Sambungan tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey.

770 (Photografi) 5/3/MUSTIE

Periksa secara ketat buku teknik yang sudah usang, dan terutama pada peralatan yang usang, jika ragu, periksa pada klub fotografilokal ataupenggemar photografi. Pekerjaan tentang fotografer tertentu, terutama tokoh sejarah, dapat disimpan jika berminat.

790 (Rekreasi) 10/3/MUSTIE Buang dan ganti sesuai aturan dan perubahan kepentingan.

700 lainnya X/X/MUSTIE

Pertahankan materi dasar, terutama sejarah seni dan musik. Ganti dengan edisi baru ketika telah usang dan tidak menarik

800 (Sastra) X/X/MUSTIE

Pertahankan materi dasar, terutama kritik penulisklasik. Buang semua karya-karya penulis yang kurang dikenal yang tidak lagi baca dibaca lagi, kecuali ada permintaan 900 (Geografi dan Sejarah 910 (Geografi dan Perjalanan) 5/3/MUSTIE 0/3/MUSTIE

Buku panduan wisata akan usang dalam waktu satu atau dua tahun. Pertahankan tidak lebih dari tiga tahun. Sejarah wisata dan panduan wisata, terutama yang menjelaskan atraksi lokal, dapat disimpan lebih lama untuk keperluan arsip jika berminat.

Untuk informasi secara perjalanan pribadi,

900 Lainnya 15/3/MUSTIE

Faktor utama adalah permintaan, akurasi fakta, dan penafsiran. Pertimbangkan membuang narasi pribadi dan memoar perang seperti Perang Dunia II, Konflik Korea, dan Perang Indochina, yang mendukung konflik sejarah yang lebih luas, kecuali penulis adalah orang lokal, atau buku yang dikutip dalam bibliografi atau memiliki gaya atau wawasan yang luar biasa.


(43)

Sambungan tabel-2.1 :Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey.

B atau 92 (Biografi)

X/3/MUSTIE

Ganti biografi orang-orang penting secara berkelanjutan dengan judul baru, setidaknya sekali dalam satu dekade, sebagai interpretasi kehidupan mereka dan persepsi publiktentang pengaruh mereka yang berubah dari waktu ke waktu.

F (Fiksi) X/2/MUSTIE

Singkirkan jika tidak diminati lagi, pertimbangkan untuk membuang semua judul dalam seri jika perpustakaan tidak mampu atau bersedia mengganti judul yang hilang.

Sumber : The CREW METHOD: Expanded Guidelines for Collection Evaluation and Weeding for Small and Medium – Size Public Libraries, 1995,page 33 – 47.

Dalam beberapa kasus keputusan penyiangan pada akhirnya tergantung pada penilain orang yang professional dan ahli dibidangnya, staff perpustakaan, staff yang bertanggung jawab, untuk pemilihan bahan dalam memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan. Sementara rumus MUSTIE dapat digunakan sebagai panduan dalam membuat keputusan penyiangan, pedoman ini dapat dan harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik perpustakaan, dengan mengganti angka yang paling mencerminkan misi perpustakaan dan tujuan perpustakaan.

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa, metode CREW adalah metode berupa serangkaian rutinitas yang berkelanjutan. Mengetahui dengan cepat koleksi yang dapat disiangi, menambah koleksi, menyingkirkan, interpretasi untuk menyesesuaikan koleksi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna, dengan berpedoman pada MUSTIE. Sebagai panduan bagi pustakawan dalam mengambil keputusan penyiangan bahan pustaka, yang dapat disiangi berdasarkan usia sebuah koleksi sejak diterbitkan.


(44)

2.2.2 Sepuluh langkah metode CREW

Menurut Belinda Boon (1995: 13-17) ada 10 langkah-langkah penyiangan yaitu :

1. Step One: make weeding a part of policy.

2. Step Two: Gather usage statistics of your library's collection. 3. Step Three : Build weeding into the year's work calendar.

4. Step Four: Gather the following materials on a book truck at the shelves to be analyzed.

5. Step Five: For weeding, study the subject area(s) in your collection as a whole, then examine each item in turn.

6. Step Six: Check the library's holdings. At the same time you weed, you may choose to take inventory.

7. Step Seven: Check the pulled books against the standard indexes the library holds.

8. Step Eight: Treat the books according to their statue, Bindery, mending, discard, replacement dan recycling.

9. Step Nine : Replacement checking and ordering. Order replacements at the conclusion of weeding a major classification.

10. Step Ten : Set up displays for low circulating, high quality books that would benefit from better exposure.

Dari langkah-langkah penyiangan diatas dapat di uraikan bahwa penyiangan harus menjadi bagian dari kebijakan agar dapat menentukan tindakan dan keputusan yang akan dilakukan. Kebijakan juga membantu staff berhadapan dengan isu-isu yang akan timbul selama melakukan kegiatan penyiangan, kebijakan sebaiknya dibicarakan dan ditetapkan dahulu.

Mengumpulkan catatan statistik sirkulasi memungkinkan pustakawan untuk menganalisis koleksi dengan penggunaan terbesar dan yang paling membutuhkan, hal ini sangat membantu ketika akan menetapkan anggaran, atau mencari dana hibah. Buku-buku tentang kesehatan dan kebugaran beredar rata-rata empat kali per tahun, sehingga perlu untuk memperbarui dan mengganti judul lebih sering dari yang dilakukan pada area lain dengan bahan yang hanya beredar rata-rata setahun sekali.

Dengan membuat penyiangan kedalam agenda kerja dapat menetapkan prioritas (daerah-daerah tertentu dari koleksi yang paling membutuhkan penyiangan atau yang akan dimasukkan ke dalam database) terutama jika ingin


(45)

mengantisipasi mengotomatisasi atau memasuki koleksi ke dalam database komputer koleks dan mengatur jadwal waktu

Koleksi yang akan di siangi juga hal lainnya dikumpulkan dan di kelompokkan seperti laci sesuai dari rak daftar katalog atau cetakan komputer dari yang bagian yang dipertimbangkan, seberkas slip daftar kategori berbagai pembuangan (lihat contoh berikut)

Contoh -2.1 Slip disposal koleksi perpustakaan Slip disposal koleksi perpustakaan ( ) Bindery ( ) Buang

( ) Memperbaiki/Preserve ( ) Pesan dijual ( ) Promosi ( ) Penggantian/EdisiBaru

( ) Donasi untuk --- ( ) Perdagangan dengan --- ( ) Periksa database untu ke lokasi lain dari judul ini

Lokasi lain dari judul ini:---

Penggantian judul: ________________________________________ Sumber : The CREW METHOD: Expanded Guidelines for Collection Evaluation and Weeding for Small and Medium – Size Public Libraries, 1995, page 14.

Sebelum penyiangan pelajari lebih dahulu subjek area dan kemudian periksa setiap item secara bergiliran, memeriksa kondisi fisik, tanggal sirkulasi, tanggal hak cipta, dan kesesuaian dengan koleksi, gunakan tabel pedoman panduan tetapi anda juga bebas untuk mengubah formula sesuai dengan kebutuhan, khususnya dengan menggunakan pengalaman dan pengetahuan pengguna juga kebutuhan mereka.

Periksa kepemilikan perpustakaan, basis data terpusat yang dimilki perpustakaan dan alat bantu bibliografi. Untuk mempertimbangkan material yang akan disiangi, dan untuk lokasi alternatif judul marjinal. Tempatkan slip dalam buku-buku yang memerlukan perawatan atau yang akan disingkirkan (menandai kategori penanganan yang diperlukan), dan reshelve buku-buku yang baik-baik saja. Jika anda menghentikan pekerjaan sementara, tandai titik perhentian dengan penanda rak dan menandai kartu katalog atau entri pada hasil cetakan. Dengan

double check perhatikan nomor panggilan dari buku terakhir di kertas, juga dimungkinkan untuk membuat catatan ketika akan membuat tampilan lanjutan, daftar buku, atau menyiapkan indeks lokal.


(46)

Ketika penyiangan pustakawan harus memeriksa buku yang akan disiangi, buat tanda check dengan pensil warna pada sisi belakang halaman judul atau pada bagian yang tidak akan dilihat atau dihapus oleh pengguna. Seperti sudut kanan atas halaman judul, membuat tanda yang sesuai pada kartu daftar rak atau pada cetakan untuk buku di sampingan aksesi atau nomor barcode untuk copyan buku tersebut, hal ini hanya berlaku pada buku yang ada secara fisik pada saat penyiangan, kecuali jika sistem sirkulasi mampu membuat cetakan dari item yang dipinjam.

Jika tidak yakin untuk menyingkirkan buku atau mengganti yang sudah lusuh, periksa indeks standard perpustakaan proses ini akan mengingatkan item yang mungkin banyak digunakan oleh pustakawan referensi, jika perpustakaan memiliki kertas indeks maka akan sangat membantu mengarahkan pengguna dan staf menemukan buku yang dipertimbangkan untuk disingkirkan tersebut.

Isi status buku sesuai dengan status buku seperti contoh di bawah yaitu: 1. Bindery: Siapkan form penjilidan untuk buku yang membutuhkan

penjilidan dan menyimpannya untuk penjilidan

2. Mending: Lakukan pembenahan yang diperlukan atau menempatkan buku yang disisihkan untuk diperbaiki petugas atau sukarelawan 3. Discard: Proses membuang dengan menghapus atau menandai melalui

semua tanda identifikasi perpustakaan, menarik dari daftar rak dan kartu katalog untuk yang salinan terakhir, menghapus informasi duplikat buku dari database, dan mencoret aksesi nomor atau barcode

pada daftar rak untuk duplikat buku merobek saku buku, kartu buku dan barcode, stempel istilah yang tepat (misalnya, "membuang," "ditarik," "pinjaman permanen") pada bagian dalam depan dan belakang, menempatkan buku yang akan dibuang untuk dijual dan menyimpannya untuk dijual pada pameran buku tahunan atau disumbangkan pada perpustakaan lain. atau jika disumbangkan untuk perpustakaan lain tempatkan semua kartu katalog dibagian depan buku, sehingga perpustakaan penerima akan langsung menempatkannya dibagian sirkulasi jika disertai kartu katalog, ingat


(47)

untuk menghapus barcode atau tanda identifikasi sebelum membuang atau memberikan pada perpustakaan lain.

4. Replacement : Tempatkan disamping untuk pertimbangan yang cermat pada setiap buku yang membutuhkan pengganti dengan salinan baru, edisi baru, atau judul yang lebih baik pada subjek yang sama.

5. Recyling : Perpustakaan sudah menjadwalkan untuk melakukan daur ulang. Untuk surat kabar, majalah, dan bahan daur ulang lainnya (misalnya, potongan laminating film, kertas konstruksi, jika jumlah daur ulang jauh lebih besardari biasanya, beritahu bagian pelayanan sehingga mereka dapat menyiapkan ruang yang lebih besar untuk mengangkutnya, perintahkan relawan untuk membantu membuka sampul buku,sampul plastik dan sebagainya.

Sebelum penyiangan perlu memeriksa checklist penyeleksian dan pemesanan buku pengganti serta membandingkan dengan buku-buku yang akan disiangi dan disisihkan untuk buku pengganti dengan judul edisi baru dari koleksi bibliografi dan indeks untuk judul baru. Jika koleksi perpustakaan tidak memiliki judul yang direkomendasikan pada area spesifik, pertimbangkan untuk menggunakan bibliografi koleksi untuk mencari judul yang sesuai dengan yang direkomendasikan, kecuali ada permintaan untuk mata pelajaran tertentu, standar koleksi bibliografi, daftar yang direkomendasikan, indeks, database dan daftar bacaan lainnya.

Perlu mengatur tampilan rak dengan buku yang memiliki informasi berkualitas tinggi dan relevan dengan permasalahan dan kepentingan pengguna saat ini harus lebih mudah dicari, memberikan tampilan yang aktraktif dan menarik. Jika buku tidak diminati masukkan ke bagian buku yang akan di tukar dengan perpustakaan lain atau untuk di sumbangkan, jika dilakukan secara rutin setiap hari, atau bahkan setiap minggu, tinjauan koleksi ini akan memperdalam pengetahuan pustakawan tentang milik perpustakaan, memberi sumber referensi yang mungkin, mempersiapkan pustakawan untuk pemilihan informasi material baru atas dasar penggunaan aktual dan nyata dari kekuatan dan kelemahan koleksi.


(48)

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa langkah-langkah dalam penyiangan, adalah langkah-langkah yang membantu dan memudahkan pustakawan dalam melakukan penyiangan. Seperti mengumpulkan statistik penggunaan koleksi perpustakaan, catatan sirkulasi statistik memungkinkan pustakawan untuk menganalisis dokumen dibidang penggunaan terbesar dan yang paling membutuhkan. Membuat penyiangan ke dalam agenda kalender kerja tahunan, mengumpulkan bahan pustakal yang akan disingkirkan pada sebuah troli buku dirak-rak yang akan dianalisis dan sebagainya.


(1)

Akhir kata penulis menyadari masih banyak terdapat kesalahan dalam penulisan . Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan. Juga berharap semoga kertas karya ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, April 2013 Penulis,

Riris Silaban. NIM. 080709031


(2)

5 DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 3

1.4. Manfaat Penelitian ... 4

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1. Pengertian Penyiangan ... 5

2.1.2. Manfaat Penyiangan ... 7

2.1.3. Prosedur Penyiangan ... 9

2.1.4 Kriteria Penyiangan ... 11

2.1.5 Masalah Dalam Penyiangan ... 15

2.2. Metode Continuous, Review, Evaluation, dan Weeding ... 17

2.2.1. Panduan Continuous, Review, Evaluation, and Weeding Untuk Menyiangi Koleksi Dengan Rumus Misleading, Ugly, Superseded, Trivial, Irrelevant, Serta Elsewhere ... 20

2.2.2. Sepuluh Langkah Metode CREW ... 29

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 34

3.2. Lokasi Penelitian ... 34

3.3. Unit Analisis ... 34


(3)

3.4. Teknik Pengumpualn Data ... 35

3.4.1. Wawancara ... 35

3.4.2. Observasi ... 35

3.4.3. Dokumentasi ... 35

3.5. Instrumen Penelitian ... 35

3.6. Uji Keabsahan Data ... 36

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Informan ... 37

4.2. Kategori ... 37

4.2.1 Penyiangan ... 37

4.2.2 Tujuan Penyiangan ... 38

4.2.3. Pedoman Penyiangan ... 38

4.2.4 Waktu Penyiangan ... 39

4.2.5 Kewenangan Penyiangan ... 40

4.2.6 Kriteria Penyiangan ... 40

4.2.7 Kendala Penyiangan ... 40

4.3 Rangkuman Hasil Penelitian ... 41

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 43

5.1. Saran ... 44


(4)

7

DAFTAR TABEL

Tabel-2.1 : Pedoman Penyiangan Berdasarkan Klasifikasi Dewey ... 22 Tabel-4.1 : Karakteristik Informan ... 37 Tabel-4.2 : Rangkuman Hasil Penelitian ... 41


(5)

DAFTAR GAMBAR

Gambar- 2. 1 : Continiuous Review Evaluation and Weeding ... 19 Gambar- 4. 1 : Peta Indikator Analisis Penyiangan Koleksi Dengan Merode Continous, Review, Evaluation, dan Weeding... 42


(6)

9

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Pedoman Wawancara ... 47 Lampiran II Hasil Transkrip Wawancara ... 49