Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
MEDAN

ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH
TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN
KARO
SKRIPSI

Diajukan Oleh:

ROSMAWATI SINURAYA
060501057
EKONOMI PEMBANGUNAN

Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi
Medan
2010

Universitas Sumatera Utara

Abstract
As an organization, the government made a lot of spending to finance the
construction an running of the government which is reflected in special budget
expenditure.
Government expenditure or expenditure financing is all the local government
property which consists of direct costs and indirect as well as the establishment of
a reserve fund. The contribution of government expenditure to GDP from the
point of use in the distric karo by 9% for that still need to be optimized. National
income calculated in terms
Of expenditure can give you an idea to which poor economic growth rate (long
run ready steady state economy growth).
The purpose of this research is to determine the effect of government
expenditure to economic growth in the distric karo. Variabeles used ara Economic
Growth, government expenditures, consumtion expenditure, investmen. The data
used ara annual time series of priod 1990=2008 with OLS(ordinary least square)
approach method with data processing 5.1 untuk E-views of data procressing in
the writing of this skription.
Estimation results show that all independent variables can explain the
depednedt variables for 98,45% of government expenditure (X1) consumption
expenditure (X2),investment (X3) whether 1,55% can explanation by other
variables not included in the model, according to this hypothesis which states that
government expenditure, consumption expenditure, investment has a positive
effect on economic growth acceptable karo district.
Keywords: Economic Growth,GRDP(Gross Regional Domestic Product),
Expenditure
Government, Expenditure Consumption, Investmen.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Sebagai sebuah organisasi, pemerintah melakukan banyak sekali
pengeluaran untuk membiayai kegiatan pembangunan dan menjalankan roda
pemerintahan yang tercermin dalam APBD khusus pada pos pengeluaran.
Pengeluaran pemerintah atau pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran
kas daerah yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah yang terdiri dari biaya
langsung dan tidak langsung serta pembentukan dana cadangan. Kontribusi
pengeluaran pemerintah terhadap PDRB dari sudut penggunaan di kabupaten
karo sebesar 9% untuk itu masih perlu dioptimalkan. Pendapatan nasional yang
dihitung dari segi pengeluaran, dapat menaikkan dalam jangka penjang tingkat
pertumbuhan ekonomi (long run steady state growth economy)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran
pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten karo. Dengan variabel
Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi,
Investasi. Data yang digunakan adalah time series tahunan yaitu periode 19902008 dengan metode pendekatan OLS (ordinary least square) dengan pengolahan
data E-views 5.1untuk mengolah data dalam penulisan sekripsi ini.
Hasil estimasi menunjukan bahwa semua variabel independen dapat
menjelaskan variabel dependen sebesar 98,45% yaitu pengeluaran pemerintah(X1)
pengeluaran konsumsi(X2), investasi(X3) sedangkan 1,55% dapat diljelaskan oleh
variabel lain yang tidak terdapat dalam model, berdasarkan ini hipotesa yang
menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi, investasi
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten karo dapat
diterima.

Kata kunci : Pertumbuhan Ekonomi,PDRB (Produk Domestic Regional
Bruto),Pengeluaran
,

Pemerintah , Pengeluaran Konsumsi ,Investasi.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur dan penulis ucabkan kepada Tuhan Yesus Kristus
atas kasih setia dan berkat-Nya setiap waktu yang tak berkesudahan, yang selalu
menyertai penulis dalam melakukan segala aktivitas penulis hingga sampai pada
penyelesaian skripsi ini yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini
berjudul

“Analisis

Pengaruh

Pengeluaran

Pemerintah

Terhadap

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo”.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak, baik berupa dorongan semangat, materil, maupun sumbangan
pemikiran. Oleh sebab itu pula pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan
rasa terima kasih penulis yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan yang mendukung penyelesaian skripsi ini terutama kepada:
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec, sebagai Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, Selaku Ketua Departemen
Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc, PhD, sebagai sekretaris Departemen
Ekonomi Pembangunan FE USU.
4. Bapak Murbanto Sinaga MA selaku Dosen pembimbing penulis yang telah
memberikan bantuan bimbingan, saran, masukan, kritikan dan petunjuk
kepada penulis hingga terselesainya skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Drs.Rahmad Sumanjaya Hsb, Dosen Penguji I yang telah banyak
mem-berikan petunjuk, saran dan kritik yang membangun pada penulis.
6. Bapak Syarief fawzi,Mec selaku Dosen Penguji II yang telah banyak
memberikan petunjuk, saran dan kritik yang membangun pada penulis.
7. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec, selaku Dosen Wali yang telah
banyak membantu penulis selama perkuliahan.
8. Serta seluruh Staff Pengajar dan Staff Administrasi Fakultas Ekonomi
USU yang selama ini telah mendidik dan membimbing penulis dengan
baik.
9. Kedua Orangtua tercinta penulis Ayahanda Semangat Sinuraya dan Ibunda
Bias Br Sembiring, Dengan penghargaan dan kasih sayang yang sedalamdalamnya, terimakasih buat dukungan yang telah diberikan kepada penulis
baik dukungan materil maupun semangat dan doa yang tak ternilai
harganya.
10. Kakak/Adik penulis, Aslina br Sinuraya, Sri Kita br Sinuraya, dan Adiku
Martin Sinuraya yang telah banyak memberi dukungan dan semangat bagi
penulis.
11. Buat Teman-teman satu kost (K’ros, Dameria, Dina, Adelina) penulis
terimakasih buat motivasi dan suportnya selama ini yang penulis terima
dari kalian semua.
12 Buat temen-temen terdekat penulis (Lastri Siburian, Asniari Pasaribu,
Sonya Lumban Raja terimakasih buat bantuannya, doa dan semangat yang
diberikan kepada penulis.

Universitas Sumatera Utara

13. Buat teman-teman di Departemen Ekonomi pembangunan, khususnya
angkatan ’06 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
memberikan warna dan kebersamaan pada setiap hari yang kita lewati
bersama.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih memiliki
kekurangan ataupun kelemahan dan keterbatasan dalam penyusunanya oleh sebab
itu penulis menerima segala masukan yang konstruktif dari para pembaca guna
penyempurnaan isi maupun teknik penulisan yang benar. Akhir kata, semoga
penelitian ini bermanfaat bagi para pembaca, terimakasih.

Hormat Saya
Penulis,

(Rosmawati Sinuraya)

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRACT ....................................................................................................... i
ABSTRAK ......................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xi

BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................... 1
1.2 Perumusan Masalah................................................................................. 6
1.3 Hipotesis…..………………………………………………………………6
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................... 8
1.5 Manfaat Penelitian................................................................................... 8

BAB II: URAIAN TEORITIS
2.1 Pertumbuhan ekonomi ............................................................................. 9
2.1.1 Pengertian Pertumbuhan Ekonomi ................................................ 9
2.1.2 Dasar Teori Pertumbuhan Ekonomi ............................................ 11
2.2 Pengeluaran pemerintah ....................................................................... 12
2.2.1 Pengertian pengeluaran Pemerintah ............................................ 12
2.2.2 Teori Pengeluaran Pemerintah ................................................... 13
2.3 Investasi ................................................................................................. 17
2.2.3 Defenisi Dan Pengertian Investasi .............................................. 17
2.2.4 Jenis –jenis investasi .................................................................. 19
2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi investasi................................. 21
2.2.6 Dasar Teori Investasi .................................................................. 23
2.4 Pengeluaran Konsumsi .......................................................................... 25
2.4.1 Pengertian Pengeluaran Konsumsi ............................................... 25
2.2.7 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran konsumsi ........... 26
2.2.8 Dasar teori Pengeluaran Konsumsi.............................................. 28
2.5 APBD(Anggaran Pendapatan Belanja Negara) ....................................... 33
2.5.1 Kriteria Penyusunan APBD ......................................................... 33
2.5.2 Fungsi APBN .............................................................................. 34
2.5.3 Mekanisme Penyusunan APBN ..................................................... 35
BAB III: METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................... 37
3.2 Jenis dan Sumber Data .......................................................................... 37
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data……………………………. ...... 37
3.4 Pengolahan Data.................................................................................... 38
3.5 Metode Analisis .................................................................................... 38
3.5.1 Uji Akar Unit (Unit Root-Test) .................................................... 39

Universitas Sumatera Utara

3.6 Test of Goodness of Fit (uji Kesesuaian) .............................................. 42
3.6.1 Koefisien Determinasi (R-squre) ................................................ 42
3.6.2 Uji t-Statistik (Uji Parsial) .......................................................... 42
3.6.3 Uji f-Statistik (uji Keseluruhan) ................................................. 43
3.7 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ......................................................... 44
3.7.1 Multikolinearity .......................................................................... 44
3.7.2 Autocorrelation (DW-Test) ........................................................ 45
3.7 Defenisi Variabel Operasional ............................................................... 47

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Deskriptif Daerah Penelitian .................................................... 48
4.1.1 Gambaran Umum Kabupaten Karo ......................................... 48
4.1.2 Gambaran Perekonomian Kabupaten Karo ................................ 50
4.1.3 Perkembangan Pengeluaran pemerintah, Pengeluaran
Konsumsi, Investasi Kabupaten Karo ........................................ 58
4.2 Analisis Data ........................................................................................ 65
4.2.1 Hasil Uji Akar Unit dan Derajat Integrasi................................... 63
4.2.2 Hasil Estimasi Model ................................................................. 66
4.2.3 Interprestasi model..................................................................... 67
4.2.3.1 Analisis Koefisien Determinasi (R-Square) .................... 68
4.2.3.2 Hasil Uji T-Statistik ..................................................... 68
4.2.3.3 Hasil Uji F-Statistik ....................................................... 71
4.2.4 Uji Penyimpangan Asumsi Klasik ............................................. 73
4.2.4.1 Hasil Uji Multikolinerity ................................................ 73
4.2.4.2 Hasil Uji Autokorelasi ................................................... 74
4.3 Interprestasi Mode secara ekonomi ......................................................... 76
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .......................................................................................... 77
5.2 Saran .................................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. viii
LAMPIRAN
SURAT PERNYATAAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No. Tabel

4.1
4.2
4.3
4.4
4.5
4.6
4.7
4.8
4.9
4.10
4.12

Judul

Halaman

: Luas wilayah Kabupaten Karo ...................................................... 48
: Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Karo ....................................... 52
: Realisasi APBD Kabupaten Karo................................................. 53
: Tingkat Inflasi Kabupaten Karo .................................................... 55
: PDRB Kabupaten Karo ................................................................. 56
: PDRB/ Kapita Kabupaten Karo .................................................... 58
: Pengeluaran Pemerintah Kabupaten Karo ..................................... 59
: Pengeluaran Konsumsi Kabupaten Karo ...................................... 61
: Investasi Kabupaten Karo ............................................................. 62
:Hasil uji akar unit dan drajad integrasi ........................................... 63
:Hasil Regresi ................................................................................. 66

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar
2.1
2.1
2.2
3.1
4.1
4.1
4.2
4.3

Judul

Halaman

: Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah .......................................... 16
: Anggaran Konsumsi ..................................................................... 30
: Kendala Anggaran Konsumsi ....................................................... 30
: Kurva Autokorelasi....................................................................... 46
: Histrogram perkembangan APBD .................................................. 54
: Kurva Uji T-Statistik secara Parsial .............................................. 69
: Kurva Uji F-Statistik .................................................................... 72
: Kurva Uji Autokorelasi Parsial ..................................................... 75

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran
1

: Data variabel Regresi

2

: Hasil regres AdF Dan Derajat Integrasi
Untuk Uji Akar Unit Pada Pertumbuhan Ekonomi(Y)

3

: Hasil regres AdF Dan Derajat Integrasi Untuk Uji
Akar Unit Pada Pengeluaran Pemerintah(X1)

4

: Hasil regres AdF Dan Derajat Integrasi
Untuk Uji Akar Unit Pada PengeluaranKonsumsi(X2)

5

: Hasil regres AdF Dan Derajat Integrasi
Untuk Uji Akar Unit Pada Investasi (X3)

6

: Hasil Regresi Linear Berganda

7

: Hasil Regresi multikolineritas

Universitas Sumatera Utara

Abstract
As an organization, the government made a lot of spending to finance the
construction an running of the government which is reflected in special budget
expenditure.
Government expenditure or expenditure financing is all the local government
property which consists of direct costs and indirect as well as the establishment of
a reserve fund. The contribution of government expenditure to GDP from the
point of use in the distric karo by 9% for that still need to be optimized. National
income calculated in terms
Of expenditure can give you an idea to which poor economic growth rate (long
run ready steady state economy growth).
The purpose of this research is to determine the effect of government
expenditure to economic growth in the distric karo. Variabeles used ara Economic
Growth, government expenditures, consumtion expenditure, investmen. The data
used ara annual time series of priod 1990=2008 with OLS(ordinary least square)
approach method with data processing 5.1 untuk E-views of data procressing in
the writing of this skription.
Estimation results show that all independent variables can explain the
depednedt variables for 98,45% of government expenditure (X1) consumption
expenditure (X2),investment (X3) whether 1,55% can explanation by other
variables not included in the model, according to this hypothesis which states that
government expenditure, consumption expenditure, investment has a positive
effect on economic growth acceptable karo district.
Keywords: Economic Growth,GRDP(Gross Regional Domestic Product),
Expenditure
Government, Expenditure Consumption, Investmen.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Sebagai sebuah organisasi, pemerintah melakukan banyak sekali
pengeluaran untuk membiayai kegiatan pembangunan dan menjalankan roda
pemerintahan yang tercermin dalam APBD khusus pada pos pengeluaran.
Pengeluaran pemerintah atau pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran
kas daerah yang mengurangi kekayaan pemerintah daerah yang terdiri dari biaya
langsung dan tidak langsung serta pembentukan dana cadangan. Kontribusi
pengeluaran pemerintah terhadap PDRB dari sudut penggunaan di kabupaten
karo sebesar 9% untuk itu masih perlu dioptimalkan. Pendapatan nasional yang
dihitung dari segi pengeluaran, dapat menaikkan dalam jangka penjang tingkat
pertumbuhan ekonomi (long run steady state growth economy)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengeluaran
pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten karo. Dengan variabel
Pertumbuhan Ekonomi, Pengeluaran Pemerintah, Pengeluaran Konsumsi,
Investasi. Data yang digunakan adalah time series tahunan yaitu periode 19902008 dengan metode pendekatan OLS (ordinary least square) dengan pengolahan
data E-views 5.1untuk mengolah data dalam penulisan sekripsi ini.
Hasil estimasi menunjukan bahwa semua variabel independen dapat
menjelaskan variabel dependen sebesar 98,45% yaitu pengeluaran pemerintah(X1)
pengeluaran konsumsi(X2), investasi(X3) sedangkan 1,55% dapat diljelaskan oleh
variabel lain yang tidak terdapat dalam model, berdasarkan ini hipotesa yang
menyatakan bahwa pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi, investasi
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten karo dapat
diterima.

Kata kunci : Pertumbuhan Ekonomi,PDRB (Produk Domestic Regional
Bruto),Pengeluaran
,

Pemerintah , Pengeluaran Konsumsi ,Investasi.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Secara umum tujuan pembangunan ekonomi adalah untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, menjaga kesetabilan harga, mengatasi
masalah

penggaguran,

manjaga

keseimbangan

neraca

pembayaran,

dan

pendistribusian pendapatan yang lebih adil dan merata. Melalui tujuan
pembangunan ini diharapkan akan terjadi peningkatan kemakmuran masyarakat
secara bertahap dan berkesinambungan yaitu dengan cara meningkatkan
konsumsinya. Untuk mencapai tujuan itu peranan pemerintah sebagai 1) alokasi,
mengusahakan agar alokasi sumber-sumber ekonomi dilaksanakan secara efisien,
2) peranan distribusi pendapatan yaitu peran pemerintah dalam mendistribusikan
sumber daya, kesempatan dan hasil-hasil ekonomi secara adil dan merata dan
3) stabilisasi perekonomian yaitu pemerintah dalam memelihara stabilitas
perekonomian

dan

memulihkanya

apabila

berada

pada

disequlibrium.

(Mangkoesbroto,2001; 20)
Dalam konteks pembangunan ekonomi daerah di Indonesia diarahkan
untuk memacu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menggalakan prakarsa dan peran aktif
masyarakat, serta meningkatkan pendayagunaan potensi daerah secara optimal
dan terpadu dalam mengisi ekonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan
bertanggungjawab serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Universitas Sumatera Utara

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan masyarakat mengelola sumber daya - sumber daya yang ada dan
membantuk suatu pola kemitran antara pemerintah daerah dengan sektor swasta
untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan

ekonomi

(pertumbuhan

ekonomi)

dalam

wilayah

tersebut

(Arsyad,lincolin:1999)
Sebagai sebuah organisasi atau Rumah tangga, pemerintah melakukan
banyak sekali pengeluaran untuk membiayai kegiatan pembangunan. Pengeluaran
tersebut bukan saja untuk menjalankan roda pemerintahan sehari-hari akan tetapi
untuk membiayai kegiatan perekonomian. Bukan berarti pemerintah turut
berbisnis (meskipun hal ini sangat sering dilakukan, terutama oleh pemerintah
yang berada di Negara-negara sedang berkembang), melainkan dalam arti
pemerintah harus menggerakan dan merancang kegiatan ekonomi yang
masyarakatnya atau kalangan swasta tidak tertarik untuk menjalankannya, Dalam
kasus ini pemerintah memandang perlu untuk menangani sendiri berbagai
kegiatan ekonomi tertentu yang menurut penilaiannya sebaikanya tidak dijalankan
oleh pihak swasta, Itulah sebabnya pemerintah melakukan berbagai pengeluaran
bahkan dalam jumlah besar.
Pengeluaran pemerintah daerah adalah semua pengeluaran kas daerah
dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang mengurangi kekayan
pemerintah daerah. Berdasarkan kinerja dalam struktur anggaran daerah
pengeluaran daerah dibagi menjadi pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan, pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah yang
konsumtif, sebab pengeluaran ini manfaatnya hanya satu tahun anggaran dan tidak

Universitas Sumatera Utara

dapat

menambah

asset

atau

kekayaan

daerah,

sedangkan

pengeluaran

pembangunan merupakan pengeluaran pemerintah yang bersifat produktif karena
pengeluaran ini digunakan untuk membiayai sektor- sektor produktif yang dapat
menambah kekayan daerah. Hal inilah membuat pengeluaran ini disebut investasi
pemerintah.
Menurut teori Keynesian, stimulus fiskal dalam bentuk pengeluaran
pemerintah baik belanja barang dan jasa, maupun belanja modal atau investasi
dapat membantu menggerakan sektor rill. Setimulus fiskal tersebut tercermin di
APBN atau APBD khususnya pada pos pengeluaran, yang memang ditujukan
untuk menggerakan prekonomian nasional maupun daerah selama masih berada
dalam batas - batas yang ditopang oleh penerimaan. Pemberian stimulus fiskal
berupa insentif perpajakan; belanja Negara untuk sarana dan perasarana
pembangunan, serta meningkatkan daya beli aparatur daerah dan masyarakat
berpenghasilan rendah; dan dukungan pemerintah kepada swasta dalam
pembangunan infrastruktur.
Pengeluaran pemerintah (government expenditure) pada pertumbuhan
ekonomi memang tak bisa diabaikan, pangsa pangaluaran pemerintah pada
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dari segi penggunaan di Kabupaten
Karo sekitar 9 persen di tahun 2006. Sementara instrumen lain seperti konsumsi,
investasi swasta dan ekspor neto masing-masing 26 persen, 24 persen dan 5
persen. Untuk itu masih perlu dioptimalkan. Namun tidak semua pengeluaran
dikatakan beperan kepada pembangunan melainkan sebagian saja seperti belanja
barang-barang modal dan belanja barang dan jasa.

Universitas Sumatera Utara

Untuk mengoptimalkan pengeluaran, maka penyerapan anggaran yang

tercermin dari belanja pemerintah harus benar-benar dimanfaatkan sesuai sasaran
dan tentunya didukung kuat oleh penerimaan. Beberapa langkah strategis harus
dilakukan agar penyerapan anggaran memberi kontribusi besar bagi pembangunan
nasional maupun daerah yaitu: Pelaksanan program-program, proyek yang
ditujukan untuk kepentingan rakyat harus dijalankan dengan kesadaran dan tepat
sasaran, bukan menghabiskan anggaran agar dikatakan berhasil menyerap dana
yang tersedia. (Harian Ekonomi Neraca, 2008)
Pengeluaran pemerintah merupakan salah satu unsur permintaan agregat.
Konsep perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran
menyatakan bahwa Y= C+I+G+X-M.
Dengan membandingkan nilai G terhadap Y serta mengamaati dari waktu ke
waktu dapat diketahui seberapa besar kontribusi pengeluaran pemerintah dalam
pembentukan permintaan agregat atau pendapatan nasional, dengan ini pula dapat
di analisis seberapa pentingnya peranan pemerintah terhadap perekonomian
nasional.
Sebagai indentitas pendapatan nasional. Variable Y melambangkan
pendapatan nasional (dalam arti luas), sekaligus mencerminkan penawaran
agregat, sedangkan varibel-variabel di ruas kanan disebut permintaan agregat.
Variable G melambangkan pengeluaran pemerintah (government expenditure).
Data pendapatan nasional yang dihitung dengan cara pengeluaran akan dapat
memberi gambaran tentang (a) sampai dimana buruknya masalah ekonomi yang
dihadapi atau sampai dimana baikanya tingkat pertumbuhan yang dicapai dengan
tingkat kemakmuran yang sedang dinikmati,dan (b) memberikan informasi dan

Universitas Sumatera Utara

data yang dihitung dengan cara pengeluaran dapat digunakan sebagai landasan
untuk mengambil langkah-langkah dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi
yang dihadapi. Penghitungan pendapatan nasional dengan cara pengeluaran
membedakan pengeluaran ke atas barang dan jasa yang dihasilkan dalam
perekonomian kepada 4 komponen, yaitu: konsumsi, rumah tangga, pengeluaran
pemerintah, pembentukan modal sektor swasta (investasi) dan ekspor neto (ekspor
dikurangi impor)
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah atau
lebih umumnya adalah dari sektor publik, menjedi subyek penting dan menarik
untuk dianalisis karena sektor ini dapat menaikan dalam jangka panjang tingkat
pertumbuhan ekonomi (long run steady state growth economy).
Fakta menunjukan bahwa hubungan antara pengeluaran pemerintah
dengan pertumbuhan ekonomi tidak ada yang konsisten bisa positif atau negatif,
bukti dan hasilnya

berbeda di setiap negara maupun di

daerah. Sifat dari

pengeluaran publik/pemerintah akan tergantung kondisinya (Barro,1990).
Hal ini juga ditegaskan oleh penelitian lainnya bahwa kontribusi pengeluaran
produktif positif terhadap pertumbuhan ekonomi sebaliknya untuk pengeluaran
tidak produktif hasilnya negatif terhadap pertumbuhan ekonomi (folster dan
Henrekson,1999)
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti dan menulis
skripsi dengan judul: “Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Kabupaten
Karo Terhadap Pertumbuhan Ekonomi”.

Universitas Sumatera Utara

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, maka penulis membuat
beberapa perumusan masalah. Adapun perumusan masalah yang diteliti adalah:

1. Bagaimana

pengaruh

dan

seberapa

besar

pengaruh

pengeluaran

pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi ?
2. Bagaimana pengaruh dan seberapa besar pengaruh pengeluaran konsumsi
terhadap pertumbuhan ekonomi ?
3. Bagaimana

pengaruh dan seberapa besar pengaruh investasi terhadap

pertumbuhan ekonomi ?
1.3 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap permasalahan yang menjadi
objek penelitian dan masih perlu dikaji kebenarannya dengan menggunakan data
yang mempunyai hubungan.
Dari permasalahan yang ada, maka hipotesisnya adalah sebagai berikut:
1. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi.
2. Pengeluaran konsumsi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi
3. Investasi berpengaruh positif dan signifikan

terhadap pertumbuhan

ekonomi

Universitas Sumatera Utara

1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui

pengaruh dan besarnya pengaruh pengeluaran

pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi
2. Untuk mengetahui pengaruh dan besarnya pengaruh pengeluaran konsumsi
terhadap pertumbuhan ekonomi
3. Untuk mengetahui pengaruh dan besarnya pengaruh invastasi terhadap
pertumbuhan ekonomi

1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh dan besarnya pengaruh investasi, pengeluaran
pemerintah, pengeluaran konsumsi, terhadap pertumbuhan ekonomi.
2. Menambah pengetahuan penulis dan sebagai pelengkap salah satu syarat
menyelesaikan kuliah di Fakultas ekonomi, jurusan ekonomi pembangunan
khususnya.
3.

Sebagai bahan informasi bagi Pemerintah, Instansi/ lembaga yang terkait

dalam menentukan kebijaksanaan dan dalam usaha meningkatkan pertumbuhan
ekonomi khususnya di Kabupaten Karo.
4.

Menambah hasil-hasil penelitian yang ada,

khususnya mengenai

pengeluaran pemerintah, pengeluaran konsumsi dan investasi.

Universitas Sumatera Utara

5.

Sebagai bahan studi dan tambahan literatur bagi mahasiswa/i Fakultas

ekonomi Universitas Sumatera Utara khususnya mahasiswa/i jurusan ekonomi
pembangunan

Universitas Sumatera Utara

BAB II
URAIAN TEORITIS

2.I Pertumbuhan Ekonomi
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah
daerah dan masyarakatnya mengelola sumber daya yang ada dan membentuk
suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk
menciptakan lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan ekonomi
(pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut (Arsyad, 1999: Blakely, 1989).
Menko perekonomian Hatta Rasaja menegaskan pertumbuhaan ekonomi
yang tinggi diperlukan untuk menampung penambahan angkatan kerja dan
mengurangi angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi satu persen hanya bisa
menampung 350.000 pekerja, menurut sekenario optimistis Kamar Dagang dan
Industri (KADIN) Indonesia, perekonomian hanya bisa tumbuh rata-rata 6,9
persen per tahun dalam lima tahun kedepan. Untuk memecu pertumbuhan
ekonomi yang tinggi, pemerintah mesti bekerja keras untuk menghapus segala
macam hambatan seperti infrastruktur yang buruk, ketersediaan energi,
pembiayaan yang mahal. (Kompas,2009)
Pertumbuhan ekonomi berkitan dengan kenaikan output perkapita. Yang
perlu diperhatikan adalah sisi output totalnya (PDB) dan jumlah penduduknya.
Output perkapita adalah kenaikan output total dibagikan dengan jumlah regional
digunakan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) perkapita.
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan dalam PDB tanpa
memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pada tingkat

Universitas Sumatera Utara

pertumbuhan penduduk, atau ada tidaknya perubahan dalam struktur ekonomi
(Sukirno,2000:19). Hal ini memungkinkan kita untuk mengukur sejauh mana
kebijaksanaan - kebijaksanaan ekonomi yang diterapkan pemerintah mampu
mendorong aktivitas perekonomian domestik (Hera, At. All, 1995:23).
Menurut Rahardja, istilah pertumbuhan ekonomi digunakan untuk
menggambarkan terjadinya kemajuan atau perkembangan ekonomi dalam suatu
Negara. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan jika jumlah
produk barang dan jasa meningkat. Angka yang digunakan untuk menaksir
pertumbuhan ekonomi adalah PDRB harga konstan karena telah dihilangkan
pengaruh inflasinya.
Hal ini sejalan dengan pendapat I Made Dharma Setiawan yang
menyatakan bahwa suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan atau
perkembangan jika tingkat kegiatan ekonominya meningkat atau lebih tinggi jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya
baru terjadi jika jumlah barang dan jasa secara fisik yang dihasilkan
perekonomian tersebut bertambah besar pada tahun-tahun berikutnya. Untuk
melihat peningkatan jumlah barang yang dihasilkan maka pengaruh perubahan
harga-harga terhadap nilai pendapatan daerah pada berbagai tahun harus
dihilangkan dengan cara melakukan perhitungan pendapatan daerah yang
didasarkan atas harga konstan.
Sedangkan menurut Budiono, pertumbuhan ekonomi adalah proses
kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Ada empat faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan ekonomi menurut pandangan para ekonom klasik
maupun ekonom neoklasik, yaitu jumlah penduduk, jumlah stok barang modal,

Universitas Sumatera Utara

luas tanah dan kekayaan alam serta tingkat teknologi yang digunakan (Mudrajad,
2004)
2.1.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Prof. Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi sebagai kenaikan
jangka panjang dalam kemampuan suatu Negara untuk menyediakan semakin
banyak jenis barang – barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini
tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi dan penyesuaian kelembagaan dan
ideologi yang diperlukan. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi ditandai dengan 3
ciri pokok, yaitu: Laju pertumbuhan, pendapatan perkapita riil, distribusi angkatan
kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkah dan pola
persebaran penduduk.
a. Teori Pertumbuhan Klasik
Adam Smith sebagai pelopor teori klasik mengatakan bahwa output akan
berkembang sejalan dengan perkembangan penduduk. Pertambahan penduduk
berarti

peningkatan

produk

nasional.

Teori

pertumbuhan

klasik

juga

mengemukakan keterkaitan antara pendapatan perkapita dengan jumlah penduduk
yang dikenal dengan teori penduduk optimum. Teori ini menyatakan bahwa :
-

Apabila produksi marginal lebih tinggi dari pada pendapatan perkapita,
jumlah penduduk sedikit dan tenaga kerja masih kurang, maka
pertambahan jumlah penduduk akan menambah tenaga kerja dan
menaikkan pertumbuhan ekonomi.

-

Penduduk akan meningkatkan jumlah tenaga kerja yang tersedia, tetapi
terjadi penurunan pendapatan perkapita dan pertumbuhan ekonomi yang
peningkatannya semakin kecil.

Universitas Sumatera Utara

-

Apabila produk marginal bernilai sama dengan pendapatan per kapita,
yang berarti pendapatan perkapita yang maximum dengan jumlah
penduduk optimal, maka pertambahan penduduk akan membawa pengaruh
yang tidak baik terhadap pertumbuhan ekonomi.

b. Teori Pertumbuhan Neoklasik
Menurut Robert Solow, pertumbuhan produk nasional ditentukan oleh
pertumbuhan dua jenis input (pertumbuhan modal dan pertumbuhan tenaga kerja),
kemajuan teknologi dan peningkatan keahlian serta keterampilan tenaga kerja.
Apabila terjadi penambahan modal, berarti terjadi peningkatan kegiatan usaha
yang akan memperluas lapangan pekerjaan. Produksi optimum baru akan
diperoleh apabila diikuti dengan kemajuan tehnologi dan peningkatan ketrapilan
tenaga kerja. Selanjutnya, produktivitas akan meningkat dan terjadilah
pertumbuhan produk nasional di wilayah tersebut.
Menurut Rostow, pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses dari berbagai
perubahan, yaitu: perubahan reorganisasi ekonomi, perubahan pandangan
masyarakat, perubahan cara menabung atau menanam modal serta perubahan
pandangan terhadap faktor alam.
2.2 Pengeluaran Pemerintah
2.2.1 Pengertian Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah daerah adalah semua pengeluaran kas daerah
dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang mengurangi kekayaan
pemerintah daerah. Berdasarkan pendekatan kinerja dalam struktur anggaran
daerah, pengeluaran daerah dibagi menjadi pengeluaran rutin dan pengeluaran
pembangunan. Pengeluaran rutin merupakan pengeluaran pemerintah yang

Universitas Sumatera Utara

konsumtif, sebab pengeluaran ini manfaatnya hanya satu tahun anggaran dan tidak
dapat

menambah

aset

atau

kekayaan

daerah,

sedangkan

pengeluaran

pembangunan merupakan pengeluaran pemerintah yang bersifat produktif, karena
pengeluaran ini digunakan untuk membiayai sektor-sektor produktif yang dapat
menambah kekayaan daerah. Hal inilah yang membuat pengeluaran pembangunan
umumnya disebut sebagai investasi pemerintah.
Pengeluaran pemerintah mencerminkan kebijakan pemerintah, Apabila
pemerintah telah menetabkan suatu kebijakan untuk membeli barang dan jasa,
biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah untuk melaksanakan kebijakan
tersebut. (Mangkoesoebroto,2000:169).
Teori mengenai pengeluaran pemerintah dapat digolongkan menjadi dua bagian,
yaitu teori makro dan teori mikro.

Teori Di bawah ini adalah teori-teori

pengeluaran baik secara makro maupun secara mikro.
2.2.2 Dasar Teori Pengeluaran Pemerintah
a.Teori Rostow dan Musgrave.
Model

ini

dikembangkan

oleh

Rostow

dan

Musgrave

yang

menghubungkan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan
ekonomi yang dibedakan antara tahap awal, tahap menengah, tahap lanjut. Pada
tahap awal perkembangan ekonomi, persentase investasi pemerintah terhadap total
investasi besar sebab pada tahap ini pemerintah harus menyediakan perasarana,
seperti misalnya pendidikan, kesehatan, perasarana transportasi, dan sebagainya.
Pada tahap menengah pembangunan ekonomi, investasi pemerintah tetap
diperlukan untuk meningkatakan pertumbuhan ekonomi agar dapat tinggal landas,
namun pada tahap ini peranan investai swasta sudah semakin membesar. Peranan

Universitas Sumatera Utara

pemerintah tetap besar pada tahap menengah, oleh karena peranan swasta yang
semakin besar ini banyak menimbulkan kegagalan pasar, dan juga menyebabkan
pemerintah harus menyediakan barang dan jasa publik dalam jumlah yang lebih
banyak dan kualitas yang lebih baik. Selain itu, pada tahap ini perkembangan
ekonomi menyebabkan hubungan antar sektor yang semakin rumit (complicated).
Misalnya pertumbuhan ekonomi yang ditimbulkan oleh perkembangan sektor
industri, menimbulkan semakin tingginya tingkat pencemaran udara dan air, dan
pemerintah harus turun tangan untuk mengatur dan mengurangi akibat negatif dari
polusi itu terhadap masyarakat. Musgrave berpendapat bahwa dalam suatu proses
pembangunan, investasi swasta dalam persentase terhadap GNP semakin besar
dan persentase investasi pemerintah dalam persentase terhadap GNP akan
semakin kecil. Pada tingkat ekonomi lebih lanjut, Rostow mengatakan bahwa
pembangunan ekonomi, aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan perasarana
ke pengeluaran- pengeluaran

untuk aktivitas sosial seperti halnya, program

kesejahtraan hari tua, program pelayanan kesehatan masyarakat, dan sebaginya.
Teori perkembangan peranan pemerintah yang dikembangkan oleh Musgrave dan
Rostow adalah suatau pandangan yang ditimbulkan dari pengamatan berdasarkan
pembangunan ekonomi yang didalami oleh banyak Negara, tetapi tidak
didasarkan oleh suatu teori tertentu. Di sini diperlukan pemerintah untuk mangatur
hubungan antara masyarakat, industri, hukum, pendidikan, dan lain-lain.
b.Hukum Wagner
Wagner mengemukakan suatu teori mengenai perkembangan pengeluaran
pemerintah yang semakin besar dalam persentase terhadap GNP yang juga
didasarkan pula pengamatan di Negara-negara Eropa, USA, dan Jepang pada abad

Universitas Sumatera Utara

ke-19. Wagner mengemukakan pendapatnya dalam bentuk suatu hukum, akan
tetapi dalam pandanganya tersebut tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan
pertumbuhan pengeluaran pemerintah dan GNP, apakah dalam pengertian
pertumbuhan secara relative ataukah secara absolut. Apabila yang dimaksud oleh
hukum wagner adalah perkembangan pengeluaran pemerintah secara relatif
sebagaimana teori Musgrave, maka hukum wagner adalah sebagai berikut: dalam
suatu perekonomian, apabila pendapatan perkapita meningkat, secara relatif
pengeluaran pemerintah pun akan meningkat. Wagner menyatakan berdasarkan
pengamatan dari negara- negara maju disimpulkan bahwa dalam perekonomian
suatu Negara, pengeluaran pemerintah akan meningkat sejalan dengan
peningkatan pendapatan perkapita Negara tersebut. Di negara-negara maju,
kegagalan pasar bisa saja terjadi, menimpa industri-industri tertentu dari Negara
tersebut. . Kegagalan dari suatu industri dapat saja merembet ke industri lain yang
saling terkait
Kelemahan hukum wagner adalah karena hukum tersebut tidak didasarkan
pada suatu teori mengenai pemilihan barang-barang publik. Wagner mendasarkan
pandanganya dengan suatu teori yang disebut teori orgonis mengenai pemerintah
(organic theory of the state) yang menganggap pamerintah sebagimana individu
yang bebas bertindak, terlepas dari anggota masyarakat lainnya

Universitas Sumatera Utara

Hukum wagner dapat diformulasi sebagai berikut:
Kurva 1

PkPP
PKK

Kurva 2

0

1

2

3

Gambar 2.1 Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah
Menurut wagner

c.Teori Peacock dan Wisemen
Peacocok dan Wisemen adalah dua orang yang menemukakan teori
mengenai perkembangan pengeluaran pemerintah yang terbaik. Teori ini mereka
didasarkan pada suatu pandangan bahwa pemerintah senantiasa berusaha untuk
memperbesar pengeluaran sedangkan masyarakat tidak suka membayar pajak
yang semakin besar untuk membiayai pengeluaran pemerintah yang semakin
besar tersebut, sehingga teori peacocok dan Wismen merupakan dasar dari teori
pemungutan suara. Peacocok dan wismen mendasarkan teori mereka pada suatu
teori bahwa masyarakat mempunyai suatu tingkat toleransi pajak, yaitu suatu
tingkat di mana masyarakat dapat memahami besarnya pungutan pajak yang
dibutuhkan oleh pemerintah untuk membiayai aktivitas pemerintah sehingga
mereka mempunyai suatu tingkat kesediaan masyarakat untuk membayar pajak.
Tingkat toleransi pajak ini merupakan kendala bagi pemerintah untuk menaikan

Universitas Sumatera Utara

pemungutan pajak secara semena-mena teori peacocok dan Wismen adalah
sebagai berikut : Perkembangan ekonomi menyebabkan pemungutan pajak yang
semakin meningkat walaupun tarif pajak tidak berubah; dan meningkatkannya
peneriman pajak menyebabkan pengeluaran pemerintah juga semakin meningkat.
Oleh karena itu, dalam keadan normal, meningkatnya GNP menyebabkan
peneriman pemerintah yang semaki besar, begitu juga dengan pengeluaran
pemerintah menjadi semakin besar.
Apabila keadaan normal tersebut terganggu, misalnya karena adanya
perang, maka pemerintah harus memperbesar pengeluarannya untuk membiayai
perang karena itu penerimaan dari pajak akan meningkat, dan pemerintah
meningkatkan penerimanya tersebut dengan cara menaikan tariff pajak sehingga
dana swasta untuk investasi dan konsumsi menjadi berkurang. Keadaan ini
disebut efek pengalihan, (displacement effect) yaitu adanya suatu gangguan sosial
menyebabkan aktivitas swasta dialihkan pada aktivitas.

2.3 INVESTASI

Secara umum investasi meliputi pertambahan barang - barang dan jasa
dalam masyarakat seperti pertambahan mesin-mesin baru, pembuatan jalan baru,
pembukaan tanah baru dan sebagainya.
Menurut Sadono Sukirno (2008), investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran
penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli barang- barang modal
dan

perlengkapan-perlengkapan

produksi

untuk

menambah

kemampuan

memproduksi barang-barang dan jasa-jasa dalam perekonomian. Dengan

Universitas Sumatera Utara

perkataan lain, dalam teori ekonomi investasi berarti kegiatan perbelanjaan untuk
meningkatkan kapasitas memproduksi sesuatu dalam prekonomian. Dalam
peraktiknya, yang digolongkan sebagai

investasi (pembentukan modal atau

penanamaan modal) meliputi pengeluaran-pengeluaran sebagai berikut:
-

Pembelian berbagai jenis barang modal, yaitu mesin-mesin dan peralatan
produksi lainya untuk mendirikan berbagai jenis industri dan perusahaan

-

Pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal, bangunan kantor,
bangunaan pabrik dan bangunan-bangunan lainnya

-

Pertambahaan nilai stok barang-barang yang belum terjual, bahan mentah
dan barang yang masih dalam proses produksi pada akhir tahun
penghitungan pendapatan nasional.

Michael P.Todarao (2004:127), menyatakan sumber daya yang akan
digunakan untuk meningkatkan pendapatan dan konsumsi dimasa yang akan
datang disebut investasi diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan
penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang–barang
modal dan perlengkapan–perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan
memproduksi barang dan jasa yang tersedia dalam prekonomian.
Dari beberapa pendapat diatas tentang investasi, maka dapat disimpulkan investasi
merupakan suatu pengeluaran sejumlah dana dari investor atau pengusaha guna
membiayai kegiatan produksi untuk mendapatkan keuntungan dimasa yang akan
datang.

Universitas Sumatera Utara

2.3.1 Jenis-Jenis Investasi
Menurut Nasution (1998:105) secara umum didalam pembangunan
ekonomi terdapat 4 jenis investasi, yaitu:
a. Investasi yang terdorong (Indunced Investment) dan Investasi otonom
(autonomous Investasi)
Investasi yang tergolong (Indunced Invesment) yaitu investasi yang sangat
dipengaruhi oleh tingkat pendapatan baik itu pendapatan pusat maaupun nasional.
Investasi ini diadakan akibat adanya pertambahan permintaan, pertambahan
permintaan yang mana adalah akibat pertambahan pendapatan. Jelasnya apabila
pendapatan bertambah maka pertambahan permintaan akan digunakan untuk
tambahan konsumsi, dan apabila ada tambahan permintaan akan mendorong
berdirinya pabrik baru atau memperluas pabrik lama untuk dapat memenuhi
tambahan permintaan tersebut.
Investasi otonom yakni investasi yang dilakukan oleh pemerintah karena
disamping biayanya sangat besar juga investasi ini tidak memberikan keuntungan,
dimana besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh pendapatan baik itu pendapatan
daerah ataupun pendapatan pusat atau nasional tetapi dapat berubah karena
adanya

perubahan

faktor-faktor

pendapatan

seperti

tingkat

teknologi,

kebijaksanaan pemerintah, harapan para pengusaha dan sebagainya. Investasi ini
dilakukan atau diadakan secara bebas, artinya investasi ini diadakan bukan karena
pertambahan permintaan efektif. Besarnya investasi otonom tidak tergantung pada
besar kecilnya pendapatan nasional. Dengan perkataan lain tinggi rendahnya
pendapatan nasional tidak menentukan jumlah investasi yang dilakukan oleh
perusahaan-perusaahan contohnya investasi bendungan untuk saluaran irigasi

Universitas Sumatera Utara

tidak akan memberikan keuntungan kepada pemerintah tetapi dengan irigasi akan
meningkatkan produksi hasil pertanian.

b. Public Investment and Privat Investment.
Public investment adalah investasi atau penanaman modal yang dilakukan
oleh pemerintah. Yang dimaksud dengan pemerintah disini adalah pemerintah
pusat/daerah yang bersifat resmi.
Sedangkan privat investment adalah investasi yang dilakukan oleh swasta,
dimana keuntungan yang menjadi prioritas utama berbeda dengan public
investment yang diarahkan untuk melayani dan mencibtakan kesejahtraan bagi
rakyat banyak.
c. Domestic Investment and Foreigen Investment
Domestic Investment adalah penanaman modal dalam negeri foreigen
investment adalah penanaman modal asing. Suatu Negara yang memiliki banyak
sekali faktor- faktor produksi namun tidak memiliki faktor produksi modal yang
cukup untuk mengolah sumber- sumber yang dimilikinya itu, akan mengundung
modal asing ini, agar sumber-sumber yang ada dapat dimanfaatkan sepenuhnya.
d. Gross Invesment and Net investment
Gross investment adalah total seluruh investasi yang diadakan atau
dilaksanakan pada suatu waktu. jadi mencakup segala jenis investasi, baik itu
autonomous maupun induced, baik privat maupun public, artinya seluruh
investasi yang dilakukan disuatu Negara atau daerah pada atau Selama suatu
priode waktu tertentu dinamakan gross investment. Net investment adalah selisih
antara investasi bruto dengan penyusutan. Apabila misalnya investasi bruto tahun

Universitas Sumatera Utara

ini 30 juta sedangkan penyusutan yang terjadi selama tahun lalu 10 juta maka
investasi nettonya adalah sebesar 20 juta.
2.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Investasi
 Tingkat bunga
Tingkat bunga sangat berperan dalam menentukan tingkat investasi yang
terjadi dalam suatu Negara. Apabila tingkat bunga rendah maka tingkat investasi
yang terjadi akan tinggi karena kredit dari bank masih menguntungkan untuk
mengadakan investasi. Sebaliknya tingkat bunga tinggi, maka ivestasi kredit bank
tidak menguat
Dalam literatur ada istilah yang dapat digunakan untuk melihat tingkat suku
bunga dari investasi yaitu:
1. Marginal efficiency of investment (MEI), yang mengambarkan hubungan
antara tingkat suku bunga dengan investasi yang senyatanya dilakukan
oleh para pengusaha dalam jangka waktu tertentu.
2. Marginal efficiency of capital (MEC), yang menggambarkan hubungan
antara tingkat suku bunga dengan penanaman modal yang seharusnya
dilakukan untuk usaha-usaha, tingkat pengembalian modalnya (rate of
return) nya lebih besar dari pada tingkat suku bunga berlaku.
Keynes mengatakan bahwa investasi baik ditinjau dari penentuan
jumlahnya maupun kesempatan untuk mengadakan investasi itu sendiri,
didasarkan pada konsep Marginal efficiency of capital (MEC). MEC merupakan
tingkat keuntungan yang diharapkan dari investasi yang dilakukan (Return of
investment)

Universitas Sumatera Utara

 Peningkatan aktivitas prekonomian
Harapan adanya peningkatan perekonomian di masa yang akan
mendatang, merupakan salah satu faktor penentu untuk mengadakan investasi atau
tidak. Kalau ada perkiraan akan terjadi peningkatan perekonomian di masa yang
akan datang, walaupun tingkat bunga lebih besar dari tingkat MEC (sebagai
penentu investasi), investasi mungkin akan tetap dilakukan oleh investor yng
instingnya tajam melihat peluang meraih keuntungan yang lebih besar dimasa
yang akan datang.
 Kemajuan Teknologi
Yang menentukan besarnya investasi yang akan dilakukan oleh para
pengusaha adalah kegiatan para pengusaha untuk menggunakan penemuanpenemuan teknologi yang baru dalam proses produksi. Kegiatan para pengusaha
untuk menggunakan dikembangkan didalam kegiatan produksi atau menejemen
dinamakan mengadakan pembaharuan atau inovasi.
 Tingkat keuntungan yang akan diperoleh
Ramalan mengenai keuntungan masa depan akan memberikan gambaran pada
pengusaha untuk melakukan investasi saat ini atau di masa depan.

Universitas Sumatera Utara

2.3.3 Dasar Teori Investasi
a. Teori Klasik (Adam Smith)
Semua kaum klasik memandang pemupukan modal sebagai kunci
pertumbuhan ekonomi. Karena itu mereka menekankan betapa pentingnya
tabu