UjiHeteroskedastisitas Uji Autokorelasi UjiAsumsiKlasik

53 b. Nilai VIF untuk variabel ROE adalah 2.475 10 dengannilaiTolerancevariabel ROE adalah 0.404 0.10 maka variabel ROE dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. c. Nilai VIF untuk variabel CR adalah 1.546 10 dengannilaiTolerancevariabel CR adalah 0.647 0.10 maka variabel CR dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. d. Nilai VIF untuk variabel DER adalah 1.141 10 dengannilaiTolerancevariabel DER adalah 0.876 0.10 maka variabel DER dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. e. Nilai VIF untuk variabel TATO adalah 1.448 10 dengannilaiTolerancevariabel TATO adalah 0.690 0.10 maka variabel TATO dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. f. Nilai VIF untuk variabel PBV adalah 2.594 10 dengannilaiTolerancevariabel PBVadalah 0.385 0.10 maka variabel PBV dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. g. Nilai VIF untuk variabel LN Total asset adalah 1.480 10 dengannilaiTolerancevariabel LN Total asset adalah 0.676 0.10 maka variabel LN Total asset dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas. h. Nilai VIF untuk variabel CFO adalah 1.973 10 dengannilaiTolerancevariabel DER adalah 0.507 0.10 maka variabel DER dapatdinyatakantidakterjadigejalamultikolinearitas.

4.1.3.3. UjiHeteroskedastisitas

Universitas Sumatera Utara 54 Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda disebut heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterplot, dengan dasar analisis Ghozali, 2005:139. 1. Jikapolatertentu, sepertititik-titik yang adamembentukpolatertentu yang teratur bergelombang, melebarkemudian menyempit, makamengindikasikantelahterjadiheteroskedastisitas. 2. Jikatidakadapola yang jelas, sertatitik – titikmenyebar di atasdandi bawahangka 0 padasumbu Y, makatidakterjadiheteroskedastisitas. Hasilujiheteroskedastisitasdenganmenggunakangrafikscatterplotdit unjukkan pada gambar 4.3 dibawahini: Universitas Sumatera Utara 55 Sumber: Pengolahan Data SPSS, Januari 2015 Gambar 4.3 Grafik Scatterplot Pada grafik scatterplot diatas, terlihat titik –titik menyebar secara acak, serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada model regresi yang digunakan.

4.1.3.4. Uji Autokorelasi

Ujiautokorelasidilakukanuntukmengujiapakahsebuah model regresiterdapatkorelasiantarakesalahanpengganggupadaperiode t dengankesalahanpengganggupadaperiode t-1 atausebelumnya Ghozali, 2005.Jikaterjadikorelasidinamakanadamasalahautokorelasi.Untukmendete Universitas Sumatera Utara 56 ksiadaatau tidaknya autokorelasi, peneliti menggunakan Durbin-Watson DW test.Hasilpengujianautokorelasidapatdilihatpada tabel berikut: Tabel 4.4 Hasil UjiAutokorelasidengan Durbin-Watson Model Summary b Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin- Watson 1 .799 a .639 .513 63.19510 2.168 a. Predictors: Constant, CFO, DER, CR, LNTotalasset, TATO, NPM, ROE, PBV b. Dependent Variable: EPS Sumber: Pengolahan Data SPSS, Januari 2015 Berdasarkan hasilpengujian Durbin-Watson dengan menggunakan SPSS 20.0 makadiperolehnilai Durbin-Watson sebesar 2.168, yang berartiberdasarkankriteria Durbin-Watson hasil tersebut 1.65 2.168 2.35 yang berarti tidak terjadi autokorelasi.

4.1.4. Model RegresiBerganda

Dokumen yang terkait

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

2 52 101

Analisis Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Investment Opportunity Set, Free Cash Flow, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI)

1 46 91

PENGARUH FREE CASH FLOW, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, UKURAN PERUSAHAAN DAN PROFITABILITAS TERHADAP KEBIJAKAN HUTANG PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA.

0 2 20

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 1 10

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 0 2

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 0 7

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 0 21

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 0 3

Analisis Pengaruh Free Cash Flow, Kepemilikan Manajerial, Set Kesempatan Investasi, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang pada Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia

0 0 12

PENGARUH FREE CASH FLOW DAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL TERHADAP KEBIJAKAN HUTANG PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

0 0 88