PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajar

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
PENCEMARAN DAN PELESTARIAN
LINGKUNGAN
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2
Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
SEPTA TRISMANITA

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
pada
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2013

Septa Trismanita

ABSTRAK

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS
DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI
PENCEMARAN DAN PELESTARIAN
LINGKUNGAN
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2
Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013)
Oleh
SEPTA TRISMANITA

Hasil observasi di kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung, diketahui bahwa aktivitas
dan hasil belajar siswa masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, salah satunya dengan
menggunakan model Group Investigation (GI). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran GI terhadap aktivitas dan
hasil belajar siswa.

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimental dengan desain pretes postes nonequivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas X1 dan X3 yang dipilih dari
populasi secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif
dan kualitatif. Data kuantitatif berupa hasil belajar siswa yang diperoleh dari ratarata nilai pretes, postes dan N-gain yang dianalisis secara statistik menggunakan
uji-t dan uji U dengan bantuan program SPSS versi 17. Data kualitatif berupa

ii

Septa Trismanita

aktivitas belajar siswa, dan angket tanggapan siswa terhadap penerapan model
pembelajaran GI yang dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model kooperatif GI
berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas dan berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan aktivitas belajar siswa terjadi dalam
semua aspek. Pada aspek bekerjasama dengan teman bernilai sebesar (78,16);
aspek mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi kelompok sebesar (80,46);
aspek mengajukan pertanyaan sebesar (65,52); dan aspek membuat kesimpulan
sebesar (77,01). Hasil belajar juga mengalami peningkatan, dengan rata-rata nilai
pretes sebesar (47,59); nilai postes (77,76); dan N-gain (56,91). Selain itu,
sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model
GI. Data angket menunjukkan bahwa semua (100%) merasa senang mempelajari
materi pencemaran dan pelestarian lingkungan dengan model pembelajaran GI.
Dengan demikian, pembelajaran menggunakan model GI berpengaruh terhadap
peningkatan aktivitas belajar dan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan
hasil belajar siswa.

Kata kunci : GI, aktivitas belajar, hasil belajar, pencemaran dan pelestarian
lingkungan.

iii

ludul SkriPsi

Nama

: PENGARUH PENEMPAN MODEL
PEMBEIAIARAN KOOPERATIF GROUP
IN VESNGATIO N (GI) TE RHADAP
AKIVTTAS DAN HASIL BEWAR SISWA
PADA MATERI PENCEMAMN DAN
PELESTARIAN LINGKUNGAN
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X
Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung
Tahun Pelajaran 2OLZ120L3)

Mahasiswa : SePta Trismanita

No. Pokok Mahasiswa :0853024045
Program

Studi

: Pendidikan'Biologi

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETU]UI
1. Ksmisi Pembimbing

Jfu{
Dr. Tri Jalmo, M.Si.
NrP 19610910 198603 I 005

t,tr

Rini Rita T. MarPaung, S'Pd., M.Pd.
NrP 19770715 200801 2 020

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

,/
Dr. Caswita, M.Si.
NIP 19671004 199303 1 004

MENGESAHKAN

Tim Penguji
Ketua

: Dr. Tri Jalmo, M.Si.

:K?L
4u;11*

Sekretaris

: Rini Rita T. Marpaung, S.Pd., M'Pd"""1"""'1":':"

a ^l-r
c-*

15 1935$]{ 003

Tanggal Lulus Ujian Skipsi : 30 OKober 2013

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .........................................................................................
xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

xvii

I. PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang Masalah ....................................................................
Rumusan Masalah .............................................................................
Tujuan Penelitian ..............................................................................
Manfaat Penelitian ............................................................................
Ruang Lingkup Penelitian .................................................................
Kerangka Fikir ...................................................................................
Hipotesis ............................................................................................

1
4
5
5
6
7
9

II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
B.
C.
D.

Model Pembelajaran Kooperatif .......................................................
Pembelajaran Kooperatif Group Investigation ................................
Aktivitas Belajar ................................................................................
Hasil Belajar ......................................................................................

10
12
15
18

III. METODE PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Waktu dan Tempat Penelitian ...........................................................
Populasi dan Sampel .........................................................................
Rancangan Penelitian ........................................................................
Prosedur Penelitian.............................................................................
Jenis dan Teknik Pengambilan Data .................................................
Teknik Analisis Data .........................................................................

21
21
21
22
28
31

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .................................................................................
B. Pembahasan .......................................................................................

xiii

37
42

V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ...........................................................................................
B. Saran .................................................................................................

52
52

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

54

LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Silabus ................................................................................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................
Lembar Kerja Kelompok ..................................................................
Soal Pretes dan Postes .......................................................................
Data Hasil Penelitian .........................................................................
Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ......................................
Foto-Foto Penelitian ..........................................................................

xiv

57
62
82
135
141
145
153

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu faktor penunjang yang sangat penting bagi
perkembangan peradaban manusia dalam suatu bangsa. Bangsa yang
mempunyai peradaban maju adalah bangsa yang mempunyai sumber daya
manusia yang berkualitas, oleh karena itu harus dilakukan usaha untuk
meningkatkan mutu atau kualitas pendidikan (Azizah, 2012:1). Sesuai dengan
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 pada pasal 1
tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara (SNP, 2009:243).

Proses pendidikan dipandang sebagai aktivitas yang dapat merespon siswa
untuk terlibat aktif sehingga peserta didik perlu dipersiapkan sejak dini.
Keberhasilan suatu pendidikan terkait dengan masalah untuk mencapai
keberhasilan dalam proses belajar mengajar (Purwanto, 2008:16). Proses

2

pembelajaran yang baik adalah melibatkan siswa sepenuhnya. Keterlibatan
guru hanya sebagai fasilitator dan moderator dalam proses pembelajaran
tersebut (Anonim, 2010:1).

Dalam proses pembelajaran, nampaknya belum banyak guru yang
menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa untuk melakukan
proses pembelajaran dengan baik. Rendahnya hasil belajar dan aktivitas
belajar siswa terjadi karena dalam proses pembelajaran di sekolah, sebagian
besar guru belum menciptakan suasana belajar yang menuntut siswa terlibat
aktif. Guru secara aktif menyampaikan penjelasan materi pelajaran sementara
siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru oleh karena itu, guru
diharapkan dapat menyajikan pembelajaran yang penuh variasi agar menarik
dan merangsang keaktifan siswa. Melalui situasi pembelajaran yang efektif
ini, diharapkan tujuan-tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai.
Penggunaan model pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas dalam proses belajar mengajar (Setiawan, 2009 :2).

Penggunaan model pembelajaran sebagai perantara untuk mencapai tujuan
pembelajaran masih belum dioptimalkan. Proses pembelajaran menggunakan
metode yang masih konvensional membuat siswa tidak dapat mengembangkan
kemampuan awal yang dimilikinya dan membuat siswa kurang termotivasi
dalam pembelajaran karena metode pembelajaran tersebut siswa cenderung
pasif dalam proses pembelajaran. Akibatnya berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa (Kusuma, 2010:2). Hal ini sesuai dengan pendapat Trianto
(2010:5) bahwa masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal

3

(sekolah) saat ini adalah masih rendahnya hasil belajar peserta didik yang
merupakan hasil kondisi pembelajaran konvensional yang dalam proses
pembelajaran memberikan dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi
siswa untuk berkembang secara mandiri.

Rendahnya hasil belajar siswa juga terjadi di SMA Negeri 2 Kotaagung. Hasil
wawancara dengan guru biologi kelas X pada November 2012 bahwa nilai
paling rendah siswa pada materi pencemaran dan pelestarian lingkungan
tahun pelajaran 2011-2012 adalah 68 dan hanya 40 % yang mendapat nilai ≥
70, sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan di
sekolah yaitu 70. Kemudian berdasarkan hasil observasi kepada siswa yaitu
kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sehingga aktivitas
siswa sebagian besar hanya mendengar, menulis (mencatat) penjelasan
guru, latihan soal yang diberikan oleh guru, dan mengobrol dengan teman.

Selama proses pembelajaran guru menggunakan metode ceramah, latihan soal
dan diskusi. Metode – metode ini kurang merangsang aktivitas siswa, saat
proses pembelajaran dengan metode ceramah guru menjadi satu-satunya
sumber informasi bagi siswa, sehingga proses pembelajaran terlihat pasif
karena siswa hanya menerima informasi dari guru, latihan soal pun kurang
efektif karena siswa cenderung hanya menyalin jawaban dari buku yang telah
tersedia. Sedangkan pada saat diskusi, kegiatan diskusi masih didominasi oleh
guru sehingga keaktifan siswa dalam proses pembelajaran kurang optimal.

Berdasarkan kondisi di atas, maka dibutuhkan solusi model pembelajaran
yang diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Model

4

pembelajaran tersebut adalah model pembelajaran kooperatif GI. Model
pembelajaran ini melibatkan siswa untuk mencari sendiri materi (informasi)
pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan yang tersedia misalnya buku.
Selain itu, siswa dilibatkan dalam menentukan topik maupun cara untuk
mempelajarinya melalui investigasi. Hal tersebut juga didukung oleh
penelitian yang telah dilakukan oleh Dewi (2011:42) bahwa penggunaan
model pembelajaran kooperatif tipe GI dapat meningkatkan hasil belajar
siswa pada sub materi vertebrata. Selain itu, hasil penelitian yang menguji
efektivitas model pembelajaran kooperatif tipe GI adalah penelitian Priska
(2012:46). Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa penggunaan model
pembelajaran kooperatif GI dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas
siswa.

Berdasarkan uraian di atas, penulis akan melakukan penelitian dengan judul
“Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Group Investigation
(GI) Terhadap Aktivitas Dan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pencemaran
Dan Pelestarian Lingkungan. (Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas X
Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013)”.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif GI berpengaruh
terhadap aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun
Pelajaran 2012/2013 pada materi pencemaran dan pelestarian lingkungan?

5

2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif GI berpengaruh
signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung
Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi pencemaran dan pelestarian
lingkungan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
1. Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif GI
terhadap aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun
Pelajaran 2012/2013 pada materi pencemaran dan pelestarian lingkungan.
2. Mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif GI
terhadap hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun
Pelajaran 2012/2013 pada materi pencemaran dan pelestarian lingkungan.

D. Manfaat Penelitian

Setelah diadakan penelitian ini, diharapkan bermanfaat :
1. Bagi peneliti, dapat memberikan pengalaman, wawasan dan pengetahuan
bagi peneliti sebagai calon guru untuk menggali aktivitas dan hasil belajar
siswa.
2. Bagi guru, dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi guru dalam
memilih model pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa.

6

3. Bagi siswa, dapat memberikan suasana belajar yang berbeda, melatih siwa
untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi.
4. Bagi sekolah, dapat memberikan masukan untuk menggunakan model
pembelajaran GI, sumbangan informasi dan pemikiran dalam upaya
peningkatan mutu sekolah dan kualitas pembelajaran.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari anggapan yang berbeda terhadap masalah yang akan
dibahas maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut.
1. Model Pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran
Kooperatif GI siswa dibagi menjadi kelompok investigasi dengan anggota
5 sampai 6 orang siswa yang heterogen. Siswa dilibatkan sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk
mempelajarinya melalui investigasi. Model pembelajaran GI memiliki 6
tahapan belajar, yaitu: (1) memilih topik (2) perencanaan kooperatif (3)
implementasi(4) analisis dan sintesis (5) presentasi hasil akhir (6) evaluasi.
2. Aktivitas siswa yang diamati dalam penelitian ini adalah kegiatan siswa
yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung, yang terdiri atas
bekerjasama dengan teman, mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi
kelompok, mengajukan pertanyaan, dan membuat kesimpulan.
3. Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah ranah kognitif yang
diperoleh dari rata-rata nilai hasil pretest dan posttest.

7

4. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 sebagai kelas
eksperimen dan siswa kelas X3 sebagai kelas kontrol, semester genap SMA
Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013.
5. Materi yang diteliti yaitu KD. 4.2 “Menjelaskan keterkaitan antara
kegiatan manusia dengan masalah perusakan /pencemaran lingkungan dan
pelestarian lingkungan”.
F. Kerangka Pikir

Pelajaran Biologi merupakan salah satu mata pelajaran yang dianggap sulit
oleh siswa SMA Negeri 2 Kotaagung, nilai pelajaran biologi pada materi
pencemaran dan pelestarian lingkungan masih rendah. Hasil belajar
disebabkan oleh pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah
tanpa memperhatikan aktivitas belajar yang berpusat pada siswanya . Metode
pembelajaran tersebut menyebabkan kurangnya aktivitas siswa selama proses
pembelajaran dan berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar siswa. Hal ini
disebabkan penggunaan model pembelajaran sebagai perantara untuk
mencapai tujuan pembelajaran masih belum dioptimalkan oleh guru sehingga
menyebabkan aktivitas dan hasil belajar siswa rendah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut guru dapat menyajikan pembelajaran
yang penuh variasi agar menarik dan merangsang keaktifan siswa melalui
situasi pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatifnya yaitu
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif GI. Model
pembelajaran kooperatif GI merupakan salah satu bentuk model pembelajaran

8

kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk
mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui
bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran, siswa dilibatkan
dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui
investigasi sehingga siswa menjadi lebih aktif dan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa terhadap materi tersebut.

Model pembelajaran kooperatif GI melibatkan siswa dalam pemilihan topik
maupun cara untuk mempelajari topik tersebut melalui penyelidikan. Siswa
bekerja sama dalam kelompok kecil untuk menginvestigasi topik yang telah
dipilih dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber. Siswa diberi
kesempatan seluas-luasnya untuk mengeksplorasi pemikiran mereka dalam
menginvestigasi suatu topik. Dengan demikian aktivitas belajar siswa yang
aktif akan tercipta dan hasil belajar siswa akan meningkat.

Berikut adalah bagan kerangka berfikir dalam penelitian ini.

X

Y1
Y2

Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat
Ket : X : Variabel bebas (Model pembelajaran kooperatif GI)
Y1 : Variabel terikat (Aktivitas belajar siswa)
Y2 : Variabel terikat (Hasil belajar siswa)
Dari bagan diatas maka dapat dijelaskan bahwa variabel bebas mempengaruhi
variabel terikat, dimana X mempengaruhi Y1 dan Y2 .

9

G. Hipotesis

Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah:
1.

Penerapan model pembelajaran kooperatif GI berpengaruh terhadap
peningkatan aktivitas belajar siswa kelas X SMA Negeri 2 Kotaagung
Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi pencemaran dan pelestarian
lingkungan.

Hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah:
2.

H0 = Penerapan model pembelajaran kooperatif GI tidak berpengaruh
signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas X SMA
Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi
pencemaran dan pelestarian lingkungan
H1 = Penerapan model pembelajaran kooperatif GI berpengaruh
signifikan terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas X SMA
Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajaran 2012/2013 pada materi
pencemaran dan pelestarian lingkungan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Kooperatif

Model dimaknakan sebagai objek atau konsep yang digunakan untuk
merepresentasikan suatu hal. Sedangkan pembelajaran adalah usaha dari
seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa
dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang
diharapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah
suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pelajaran dalam tutorial
dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di
dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dan lain-lain (Trianto,
2010:21-22)

Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah usaha untuk meningkatkan
partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap
kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan
kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa
yang berbeda latar belakangnya. Menurut Lie (2003: 12) pembelajaran
kooperatif atau cooperative learning adalah sistem pengajaran yang memberi
kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa
dalam tugas-tugas yang terstruktur dengan guru bertindak sebagai fasilitator.

11

Lebih lanjut, Suherman (2009: 260) pembelajaran kooperatif mencakup suatu
kelompok kecil siswa yang bekerja dalam sebuah tim untuk menyelesaikan
sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk
mencapai tujuan bersama.

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
memungkinkan siswa untuk bertukar pendapat dengan teman dalam satu
kelompok kecil untuk memecahkan masalah serta menyelesaikan tugas-tugas
yang terstruktur demi mencapai tujuan bersama. Menurut Nurulhayati (dalam
Rusman 2010:203) Dalam sistem pembelajaran yang kooperatif siswa belajar
bekerja sama dengan anggota lainnya dalam model ini siswa memiliki dua
tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu
sesama anggota kelompok untuk belajar. Siswa belajar bersama dalam sebuah
kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri. Selain itu
menurut Lie (2003: 31) pada model pembelajaran kooperatif harus
menerapkan lima unsur yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung
jawab perseorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, (5)
evaluasi proses kelompok. Jika kelima unsur tersebut dilaksanakan dengan
baik, maka akan tercipta suasana kerja kelompok yang maksimal.

Didalam kelas kooperatif siswa belajar bersama-sama dalam kelompokkelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang heterogen,
kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain membantu . tujuan
dari pembentukan tersebut adalah untuk memberi kesempatan pada semua
siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan

12

belajar. Mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat
bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar
aktif, memberi penjelasan dengan teman sekelompok dengan baik, berdiskusi
dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan
yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama
bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai
ketuntasan materi yang disajikan oleh guru dan saling membantu diantara
teman sekelompok untuk mencapai ketuntasan belajar (Trianto, 2010:56).

B. Pembelajaran Kooperatif Group Investigation

Salah satu tipe model pembelajaran kooperatif adalah tipe group investigation
(GI). Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam
perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan. Berbeda
dengan STAD dan jigsaw, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang
dipelajari maupun bagaimana jalannya penyelidikan mereka. Dalam
penerapan model pembelajaran kooperatif GI ini guru membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 siswa yang heterogen.
Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan menyelidikan
yang mendalam atas topik yang dipilih itu. Selanjutnya menyiapkan dan
mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas (Trianto, 2010:79). Hal
ini selaras dengan pendapat Nurhadi (2004 dalam Azizah 2012:14) para guru
yang menggunakan model GI umumnya membagi kelas menjadi lima hingga
enam siswa dengan karakteristik yang heterogen atau kesamaan minat dan
kesenangan berteman dan kedudukan guru dalam model pembelajaran ini

13

berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses yang terjadi dalam
kelompok (membantu siswa rencana, melaksanakan, mengelola kelompok)

Menurut Sharan , dkk (1984 dalam Trianto 2010:80-81) membagi langkahlangkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 fase yaitu :
1.

Memilih topik
Siswa memilih subtopik yang ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa
diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok,
komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun
etnis.

2.

Perencanaan kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan
khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap
pertama.

3.

Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam
tahap kedua. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan
menawarkan bantuan bila diperlukan.

4.

Analisis dan Sintesis
Siswa menganalisis dan menyintesis informasi yang diperoleh pada
tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas
dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk
dipresentasikan kepada seluruh kelas.

14

5.

Presentasi hasil Akhir
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikan dengan
cara yang menarik kepada seluruh kelas, presentasi dikoordinasi oleh
guru.

6.

Evaluasi
Siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja
kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi yang dilakukan dapat berupa
penilaian individual atau kelompok.

GI adalah sebuah media pengorganisasian yang efektif untuk mendorong dan
membimbing keterlibatan siswa dalam belajar. Dengan berkomunikasi secara
bebas dan kooperatif dalam merencanakan dan melaksanakan topic
penyelidikan yang mereka pilih, mereka dapat lebih aktif dibandingkan
mereka secara individu. Hasil akhir dari kerja kelompok mencerminkan
kontribusi masing-masing anggota, tetapi secara intelektual lebih bervariasi
daripada hasil kerja yang dilakukan secara individual oleh para siswa yang
sama (Sharan, 1990:17). Secara umun perencanaan pengorganisasian kelas
dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh
siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas
memilih sub topik dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan
diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok.
Interaksi dan komunikasi yang bersifat kooperatif di antara siswa dalam satu
kelas dapat dicapai dengan baik, jika pembelajaran dilakukan lewat
kelompok-kelompok belajar kecil.

15

Menurut Joyce (dalam Setiawan, 2009:15) GI mempunyai beberapa
kelebihan dibandingkan dengan model lainnya yaitu: (1) siswa menjadi
mandiri dalam mencari informasi tentang materi yang akan dipelajari (2)
siswa mempunyai jiwa kooperatif yang tinggi (3) siswa memiliki kemahiran
dalam berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam mensintesis
dan menganalisis (4) meningkatkan kemampuan siswa dalam berdiskusi.
Sedangkan kelemahan model GI menurut Trianto (2009:78) merupakan
model pembelajaran yang kompleks dan sulit untuk dilaksanakan dalam
pembelajaran kooperatif. Kemudian pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran GI juga membutuhkan waktu yang lama.

C. Aktivitas Belajar

Aktivitas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai
tujuan tertentu. Aktivitas sangat diperlukan dalam proses belajar agar
kegiatan belajar mengajar menjadi efektif. Pengajaran yang efektif adalah
pengajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan
aktivitas sendiri (Hamalik, 2004:171). Melalui aktivitas, siswa dapat
mengembangkan kemampuan yang dimilikinya. Seseorang dikatakan aktif
belajar jika dalam belajarnya mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tujuan
belajarnya, memberi tanggapan terhadap suatu peristiwa yang terjadi dan
mengalami atau turut merasakan sesuatu dalam proses belajarnya. Dengan
melakukan banyak aktivitas yang sesuai dengan pembelajaran, maka siswa
mampu mengalami, memahami, mengingat dan mengaplikasikan materi yang
telah diajarkan. Adanya peningkatan aktivitas belajar maka akan

16

meningkatkan hasil belajar (Hamalik, 2004:12).

Belajar bukanlah hanya sekedar menghafal sejumlah fakta atau informasi.
Belajar adalah berbuat, memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar siswa harus
dapat mendorong agar siswa beraktivitas melakukan sesuatu. Aktivitas tidak
dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas
yang bersifat psikis seperti aktivitas mental (Sanjaya, 2009:170). Aktivitas
fisik ialah peserta didik giat-aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu,
bermain atau bekerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau
hanya pasif. Peserta didik yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah,
jika daya jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya atau banyak berfungsi dalam
rangka pengajaran (Rohani, 2004:6).

Dalam proses pembelajaran, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam
berpikir maupun berbuat. Penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa
sendiri, kesan itu tidak akan berlalu begitu saja, tetapi dipikirkan, diolah
kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk berbeda. Atau siswa akan bertanya,
mengajukan pendapat, menimbulkan diskusi dengan guru. Dalam berbuat
siswa dapat menjalankan perintah, melaksanakan tugas, membuat grafik,
diagram, intisari dari pelajaran yang disajikan oleh guru. Bila siswa menjadi
partisipasi yang aktif, maka ia memiliki ilmu/pengetahuan itu dengan baik
(Slameto, 2003: 36). Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan serangkaian dari proses
kegiatan pembelajaran untuk menunjang prestasi belajar.

17

Aktivitas tidak dapat terjadi begitu saja. Ada enam aspek penyebab terjadinya
keaktifan siswa yaitu; (1) Partisipasi siswa dalam menetapkan tujuan
pembelajaran; (2) Tekanan pada aspek afektif dalam kegiatan; (3) Partisipasi
siswa dalam pembelajaran, terutama yang berbentuk interaksi antar siswa; (4)
Kekompakan kelas sebagai kelompok belajar; (5) Kebebasan belajar yang
diberikan kepada siswa dan kesempatan untuk berbuat serta mengambil
keputusan penting dalam pembelajaran; (6) Pemberian waktu untuk
menaggulangi masalah pribadi siswa, baik berhubungan maupun tidak
berhubungan dengan pembelajaran (Mc. Keadlie dalam Yamin, 2007:77).

Menurut Diedrich (dalam Rohani, 2004:9) terdapat macam-macam kegiatan
peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani dan aktivitas jiwa sebagai
berikut:
1. Visual activities, membaca,memperhatikan gambar, demonstrasi,
percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
2. Oral activities, menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan interview, diskusi, interupsi, dan
sebagainya.
3. Listening activities, mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi,musik,
pidato dan sebagainya.
4. Writing activities, menulis : cerita, karangan, laporan, tes angket,
menyalin dan sebagainya.
5. Drawing activities, menggambar, membuat grafik,peta, diagram, pola
dan sebagainya.
6. Motor activities, melakukan percobaan, membuat konstruksi, model,
mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.
7. Mental activities, menganggap, mengingat, memecahkan masalah,
menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
8. Emotional activities, menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani
tenang, gugup dan sebagainya.
Aktivitas-aktivitas tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Dalam setiap
aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai oleh perasaan tertentu
dan pada setiap pelajaran terdapat berbagai aktivitas yang dapat diupayakan.

18

Dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan segala kegiatan yang
dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai
tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada
siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
terciptalah situasi belajar aktif.

D. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi
belajar, sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses
belajar (Dimyati dan Mujiono, 2002: 3). Berakhirnya suatu proses
pembelajaran, maka siswa memperoleh hasil belajar.

Hasil belajar siswa merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kemampuan
siswa dalam menyerap atau memahami suatu materi yang disampaikan.
Dengan kata lain, hasil belajar merupakan bukti adanya proses pembelajaran
antara guru dan siswa. Hasil belajar yang bisa diperoleh siswa setelah
pembelajaran dapat berupa informasi verbal, keterampilan intelek,
keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. Kelima hasil belajar tersebut
merupakan kapabilitas siswa.
Kapabilitas siswa tersebut berupa:
1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi
verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.

19

2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk
berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep
dan lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak,
konsep konkret dan definisi, dan prinsip.
3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan
kaidah dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut (Dimyati dan Mujiono, 2002: 10).
Anderson, dkk (2000: 67-68), Hasil belajar dari ranah kognitif mempunyai
hirarki atau tingkatan. Tingkatan tersebut terdiri dari 6 jenis perilaku yaitu:
1) Remember mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah
dipelajaridan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu meliputi fakta
peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, dan metode.
2) Understand mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang
dipelajari.
3) Apply mencakup kemampuan menerapkam metode dan kaidah untuk
meghadapi masalah yang nyata dan baru.
4) Analyze mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan kedalam bagian
bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
Misalnya mengurai masalah menjadi bagian yang lebih kecil.
5) Evaluate mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu.
6) Create mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil
belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok,
ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan

20

tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada
akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran
yang terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah
diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil
belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas.
Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal
ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar
tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa.
Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan
perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut
berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut.

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 tahun pelajaran
2012/2013 di SMA Negeri 2 Kotaagung Kabupaten Tanggamus.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester genap
SMA Negeri 2 Kotaagung tahun pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari 4
kelas. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 sebagai kelas
eksperimen dan kelas X3 sebagai kelas kontrol, pengambilan sampel dipilih
dengan teknik purposive sampling atau sampel bertujuan khusus.

C. Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu (quasi eksperiment)
dengan mengunakan desain pretes-postes kelompok tak ekuivalen. Kelas
eksperimen (kelas X1) diberi perlakuan dengan model pembelajaran GI
sedangkan kelas kontrol (kelas X3) menggunakan metode diskusi. Setelah itu,
kedua kelompok diberi tes/soal di awal dan akhir kegiatan pembelajaran

22

(pretes-postes). Hasil pretes dan postes pada kedua kelompok subyek
dibandingkan.
Struktur desain penelitian ini adalah sebagai berikut :
Kelas
I
II

Pretes
O1
O1

Perlakuan
X
C

Postes
O2
O2

Keterangan:
I = Kelas eksperimen (kelas X1)
II = Kelas kontrol (kelas X3)
X = Perlakuan di kelas eksperimen (model pembelajaran kooperatif GI)
C = Perlakuan di kelas kontrol (metode diskusi)
O1 = Pretes
O2 = Postes
Gambar 2. Desain penelitian pretes-postes kelompok tak ekuivalen
(dimodifikasi dari Riyanto, 2001: 43).

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan
penelitian. Langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian sebagai berikut:
a. Membuat surat izin penelitian ke bagian akademik FKIP untuk
melakukan penelitian ke sekolah SMA Negeri 2 Kotaagung.
b. Melakukan wawancara dengan guru biologi dan pengamatan siswa
pada saat kegiatan pembelajaran biologi di kelas X SMA Negeri 2
Kotaagung berlangsung.
c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen yaitu kelas
X1 dan kelas kontrol yaitu X3.

23

d. Mengelompokkan siswa secara heterogen pada kelas eksperimen
dan kontrol berdasarkan nilai akademik siswa, nilai diperoleh dari
dokumentasi pada guru kelas. Setiap kelompok terdiri dari 5-6
siswa.
e. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus,
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja
Kelompok (LKK).
f. Membuat instrument penelitian berupa: soal pretes/postes, lembar
observasi aktivitas belajar siswa dan angket tanggapan siswa
terhadap model pembelajaran GI.
2. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan menerapkan model GI untuk
kelas eksperimen dan metode diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini
dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan, pertemuan pertama
membahas tentang keterkaitan antara kegiatan manusia dengan masalah
kerusakan/pencemaran lingkungan sedangkan pertemuan kedua
membahas tentang keterkaitan antara kegiatan manusia dengan
pelestarian lingkungan. Penelitian dilaksanakan dengan langkahlangkah pembelajaran sebagai berikut:
a. Kelas Eksperimen (Pembelajaran Model GI)
1) Kegiatan Pendahuluan
(1) Siswa mengerjakan pretes dalam bentuk uraian pada
pertemuan pertama

24

(2) Apersepsi kepada siswa dengan memperhatikan penjelasan
guru
Pertemuan I : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
menanyakan ” Kegiatan manusia yang berdampak negatif
dapat menyebabkan terjadinya kerusakan/pencemaran
lingkungan. Kegiatan manusia seperti apa saja yang kalian
ketahui yang dapat menyebabkan kerusakan/pencemaran
lingkungan?”
Pertemuan II : Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan menanyakan “ Kegiatan/upaya apa yang dapat kita
lakukan untuk melestarikan lingkungan sekitar kita agar tidak
terjadi kerusakan/pencemaran?”
(3) Siswa memperoleh motivasi dari guru:
Pertemuan I: Dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui berbagai macam kerusakan/pencemaran
lingkungan, sehingga kita dapat berusaha untuk menjaga
lingkungan disekitar kita
Pertemuan II: Dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui berbagai upaya untuk melestarikan lingkungan,
sehingga lingkungan dapat terjaga hingga generasi
selanjutnya
2) Kegiatan Inti
(1) Siswa memilih topik yang diselidiki berkaitan dengan
materi kerusakan/pencemaran dan pelestarian lingkungan.

25

Topik meliputi:
(Pertemuan I) : Kerusakan hutan, kerusakan laut,
pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah.
(Pertemuan II) : Pelestarian hutan, Pelestarian laut dan
pantai, pelestarian udara, pelestarian tanah, pelestarian flora
dan fauna.
(2) Siswa merencanakan secara kooperatif untuk menyelesaikan
topik yang telah dipilih.
(3) Siswa mengerjakan LKK sesuai topik yang dipilih dengan
melakukan penyelidikan dari sumber yang tersedia
misalnya buku teks yang berkaitan dengan materi.
(4) Siswa menganalisis dan mensintesis informasi yang
diperoleh dari kerja kelompok.
(5) Setiap perwakilan topik mempersentasikan hasil
penyelidikannya.
(6) Guru dan kelompok lain mengevaluasi hasil presentasi tiap
kelompok dengan berbagai tanya jawab, kritik, dan saran.
3) Kegiatan Penutup
(1) Siswa bersama-sama guru merefleksikan hasil
pembelajaran.
(2) Siswa mengerjakan soal postes yang berupa soal uraian
pada pertemuan kedua.
(3) Siswa memperhatikan penyampaian guru tentang rencana
pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

26

b. Kelas Kontrol (Pembelajaran Metode Diskusi)
1) Kegiatan Pendahuluan
(1) Siswa mengerjakan pretes dalam bentuk uraian pada
pertemuan pertama
(2) Apersepsi kepada siswa dengan memperhatikan penjelasan
guru.
Pertemuan I : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
menanyakan ” Kegiatan manusia yang berdampak negatif
dapat menyebabkan terjadinya kerusakan/pencemaran
lingkungan. Kegiatan manusia seperti apa saja yang kalian
ketahui yang dapat menyebabkan kerusakan/pencemaran
lingkungan?”
Pertemuan II : Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan menanyakan ” Kegiatan/Upaya apa yang dapat kita
lakukan untuk melestarikan lingkungan sekitar kita agar tidak
terjadi pencemaran?”
(3) Siswa memperoleh motivasi dari guru:
Pertemuan I: Dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui berbagai macam kerusakan/pencemaran
lingkungan, sehingga kita dapat berusaha untuk menjaga
lingkungan disekitar kita
Pertemuan II : Dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui berbagai upaya untuk melestarikan lingkungan,

27

sehingga lingkungan dapat terjaga hingga generasi
selanjutnya.
2) Kegiatan Inti
(1) Setiap kelompok siswa memperoleh LKK.
(2) Setiap siswa mendiskusikan soal pada LKK bersama
kelompoknya.
(3) Siswa menyelesaikan LKK .
(4) Guru meminta perwakilan siswa untuk mempresentasikan
hasil diskusi kelompoknya.
(5) Guru mengkonfirmasi hasil diskusi LKK yang telah
dipresentasikan dan menjelaskan materi yang belum
dipahami oleh siswa.
3) Kegiatan Penutup
(1) Siswa bersama-sama guru merefleksikan hasil
pembelajaran.
(2) Siswa mengerjakan soal postes yang berupa soal uraian
pada pertemuan kedua.
(3) Siswa memperhatikan penyampaian guru tentang rencana
pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

28

E. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data

Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah :

1. Jenis Data
Terdapat dua jenis data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu data
kualitatif dan data kuantitatif yang diuraikan sebagai berikut :
a. Data Kualitatif
Data kualitatif berupa data lembar observasi aktivitas siswa dan angket
tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif GI.
b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa data hasil belajar siswa yang diperoleh dari nilai
pretes dan nilai postes, kemudian dihitung selisih antara nilai pretes
dengan postes. Nilai selisih tersebut disebut sebagai skor N-gain lalu
dianalisis secara statistik.

2. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a) Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar observasi aktivitas siswa yang bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Lembar
observasi aktivitas siswa berisi aspek kegiatan yang diamati pada saat
proses pembelajaran di kedua kelas. Setiap siswa diamati point kegiatan
yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada lembar observasi
sesuai dengan aspek yang telah ditentukan.

29

Tabel 1. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
No Nama
Aspek yang di amati
A
B
C
D
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1
2
3
4
5
Dst
Xi
X
Ket
(dimodifikasi dari Arikunto, 2009:183)

Keterangan :
A. Bekerjasama dengan teman
1. Tidak bekerjasama dengan teman (diam saja).
2. Bekerjasama tetapi hanya satu atau dua teman.
3. Bekerjasama baik dengan semua anggota kelompok.
Petunjuk penilaian: melihat kegiatan siswa di dalam kelompok
pada saat berdiskusi.
B. Mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi kelompok
1. Tidak mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi kelompok
dan tidak dapat menjawab pertanyaan (diam saja).
2. Mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi tetapi tidak dapat
menjawab pertanyaan dengan benar
3. Mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi dan menjawab
pertanyaan dengan benar.
Petunjuk penilaian: melihat kegiatan siswa di dalam kelompok
pada saat mempresentasikan hasil penyelidikan/diskusi kelompok.
C.Mengajukan pertanyaan
1. Tidak mengajukan pertanyaan.
2. Mengajukan pertanyaan, tetapi tidak mengarah pada
permasalahan.
3. Mengajukan pertanyaan yang mengarah dan sesuai dengan
permasalahan.
Petunjuk penilaian: melihat siswa yang mengajukan pertanyaan
pada saat presentasi kelas & pada saat proses pembelajaran.
D. Membuat kesimpulan
1. Tidak membuat kesimpulan.
2. Membuat kesimpulan tetapi tidak sesuai materi.
3. Membuat kesimpulan sesuai dengan materi.
Petunjuk penilaian: pada saat siswa membuat kesimpulan di akhir
pembelajaran.

30

b) Pretes dan Postes
Data hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil
pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol,
sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran pada pertemuan
kedua setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol dengan bentuk dan
jumlah soal yang sama. Bentuk soal adalah soal uraian kemudian
dihitung selisih antara nilai pretes dengan postes Selisih tersebut disebut
sebagai skor gain.

Untuk mendapatkan skor yang diharapkan dari pretes dan postes
menggunakan rumus berikut :

Keterangan : S = nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari
item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes
tersebut (Purwanto, 2008 : 112).
c) Angket Tanggapan Siswa
Angket ini berisi pendapat siswa tentang model pembelajaran
kooperatif GI yang telah dilaksanakan. Angket ini berupa 10
pernyataan, terdiri dari 5 pernyataan positif dan 5 pernyataan negatif.
Setiap siswa memilih jawaban yang menurut mereka sesuai dengan
pendapat mereka pada lembar angket yang telah diberikan. Angket
tanggapan siswa ini memiliki 2 pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak
setuju.

31

Table 2. Pernyataan Angket Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan Model
Pembelajaran GI
No
Pernyataan
S TS

1

2

3

4

5

6

7
8
9

10

Saya senang mempelajari materi Pencemaran dan
Pelestarian Lingkungan dengan pembelajaran
yang diberikan oleh guru
Pembelajaran yang diberikan oleh guru membuat
saya tertarik melakukan penyelidikan dengan
topik yang telah saya pilih
Pembelajaran yang diberikan oleh guru membuat
saya lebih aktif dalam diskusi kelas dan
kelompok
Pertanyaan dalam LKK tidak menantang saya
untuk melakukan penyelidikan dan mencari
informasi dari berbagai sumber
Saya termotivasi untuk melakukan penyelidikan
dan mencari informasi dari berbagai sumber
untuk menyelesaikan pertanyaan dalam LKK
pembelajaran yang saya ikuti membuat saya
menjadi lebih bingung dan tidak memahami
materi tersebut.
Pembelajaran yang saya ikuti tidak menjadikan
saya lebih aktif dalam proses pembelajaran
Saya merasa bosan dalam proses belajar dengan
pembelajaran yang diberikan oleh guru
Pembelajaran yang diberikan oleh guru
menjadikan saya percaya diri dan berani untuk
mempresentasikan hasil penyelidikan
Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman
dalam proses pembelajaran yg berlangsung

F. Teknik Analisis Data

a) Data Kualitatif

1. Aktivitas Belajar Siswa
Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung
merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut
dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa.
Langkah–langkah yang dilakukan yaitu:

32

1) Menghitung rata-rata skor aktivitas dengan menggunakan rumus:



x

Ket: 
∑xi
n

n

i

x100%

= Rata-rata skor aktivitas siswa
= Jumlah skor aktivitas yang diperoleh
= Jumlah skor aktivitas maksimum
(Sudjana, 2005 : 69).

2) Menafsirkan atau menetukan kategori Persentase Aktivitas Siswa
sesuai kriteria pada table 3
Tabel 3. Kriteria Persentase Aktivitas Siswa
Persentase (%)
Kriteria
87,50 – 100
Sangat baik
75,00 – 87,49
Baik
50,00 – 74,99
Cukup
0 – 49,99
Kurang
(dimodifikasi dari Hidayati dalam Trisila, 2012:32)

2. Angket Tanggapan Siswa

Data tanggapan siswa pada kelas eksperimen terhadap model
pembelajaran GI dikumpulkan melalui penyebaran angket. Angket
tanggapan berisi 10 pernyataan yang terdiri atas 5 pernyataan positif
dan 5 pernyataan negatif.
a. Menghitung skor angket pada setiap jawaban sesuai dengan
ketentuan pada Tabel 4.
Tabel 4. Skor per jawaban angket
Sifat Pernyataan
Skor
1
0
Positif
S
TS
Negatif
TS
S
Keterangan :S=Setuju; TS= Tidak Setuju (dimodifikasi dari
Sukarsih, 2012:30)

33

b. Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan
klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran
frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan
pernyataan angket.
Tabel 5. Tabulasi Angket Tanggapan Siswa terhadap Penerapan
model pembelajaran GI
No.
Pilihan
Nomor Responden (Siswa) Persentase
Pernyata jawaban
an
1 2 3 4 5 dst.
Angket
1
S
TS
2
S
TS
3
S
TS
4
S
TS
5
S
TS
dst.
S
TS
(dimodifikasi dari Sukarsih, 2012: 31)

c. Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
X in 

 S  100%

S maks

Keterangan: X in = Persentase jawaban siswa;

S

= Jumlah

skor jawaban; S maks = Skor maksimum yang
diharapkan (Sudjana, 2002:69).

d. Menafsirkan persentase angket untuk mengetahui tanggapan
siswa terhadap penerapan model pembelajaran GI

34

Tabel 6. Tafsiran Kriteria Tanggapan Siswa Terhadap Model
Pembelajaran GI
Persentase
Kriteria
> 70
30 ≤ x

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA SUB MATERI POKOK KERUSAKAN/ PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Arjuna Bandar Lampung Tahun Pe

10 38 59

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 9 Metro Tahun Pelajaran 2011/2012)

0 15 54

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN PENGUASAAN MATERI BIOLOGI PADA MATERI POKOK KINGDOM PLANTAE (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Semester Genap Tah

4 59 52

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP KETERAMPILAN MEMECAHKAN MASALAH OLEH SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN

2 14 52

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajar

1 10 49

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) DITINJAU DARI HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 8 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 14 48

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 2 49

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK TERHADAP AFEKTIF RECEIVING DAN RESPONDING SISWA PADA MATERI POKOK PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN LIMBAH (Studi Eksperimen Siswa Kelas X SMA PERSADA Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2013/2014)

0 10 98

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GROUP INVESTIGATION TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 7 Bandarlampung Tahun Ajaran

1 20 140

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 14 Bandar Lampung T.P 2014/2015)

0 7 59

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

111 3562 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 911 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 829 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 539 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 696 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1192 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

62 1097 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 700 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 973 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1190 23