PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampun

(1)

ABSTRAK

PENGARUH MODELPROBLEM BASED LEARNING(PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA

PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

(Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampung

Tahun Pelajaran 2014/2015) Oleh

LITA YUDHITYA

Hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA kelas VII SMP Padjajaran Bandar Lampung menyatakan kemampuan berpikir kritis siswa masih rendah. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar siswa adalah modelProblem Based Learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan modelPBL

dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

Desain penelitian ini adalahpretest-postest non ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIIAdan VIIB yang dipilih secarapurposive sampling. Data kuantitatif diperoleh dari rata-rata nilaipretest, posttest, danN-gainyang dianalisis menggunakan uji-t dan U. Data kualitatif diperoleh dari skor aktivitas belajar dan tanggapan siswa yang dianalisis secara deskriptif.


(2)

Lita Yudhitya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan modelPBLdapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dengan rata-rataN-gaindari nilaipretestdan

posttestkelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (eksperimen = 50,54; kontrol = 34,30). Rata-rata peningkatan pada aspek merumuskan masalah adalah 43,48, memberi argumen 34,78, melakukan induksi 60,87, melakukan deduksi 53,62, dan melakukan evaluasi 39,86. Peningkatan ini didukung dengan aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen yang berkriteria ‘tinggidan

tanggapan positif siswa terhadap penerapan model pembelajaranPBL. Dengan demikian, pembelajaran menggunakan modelPBLberpengaruh dalam

meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

Kata kunci : aktivitas belajar,kemampuan berpikir kritis, pengelolaan lingkungan,PBL


(3)

PENGARUH MODELPROBLEM BASED LEARNING(PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA

PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

(Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampung

Tahun Pelajaran 2014/2015) Oleh

LITA YUDHITYA Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PENDIDIKAN

Pada

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDARLAMPUNG 2015


(4)

PENGARUH MODELPROBLEM BASED LEARNING(PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA

PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN

(Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampung

Tahun Pelajaran 2014/2015) (Skripsi)

Oleh

LITA YUDHITYA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2015


(5)

xviii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat ... 8 2. Desainpretest-posttestnon-ekuivalen ... 24 3. Grafik tanggapan siswa mengenai penerapan modelPBLterhadap

KBK siswa... 41 4. Jawaban siswa dalam merumuskan masalah (LKK pertemuan II

kelas eksperimen)... 46 5. Jawaban siswa dalam melakukan induksi (LKK pertemuan I kelas

eksperimen) ... 48 6. Jawaban siswa dalam melakukan deduksi (LKK pertemuan II kelas

eksperimen) ... 49 7. Jawaban siswa dalam memberikan argumen (LKK pertemuan II

kelas eksperimen)... 50 8. Jawaban siswa dalam melakukan evaluasi (LKK pertemuan I kelas


(6)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tahap pembelajaran berbasis masalah ... 16

2. Karakteristik kemampuan berpikir... 17

3. Kemampuan berpikir kritis siswa... 19

4. Lembar observasi aktivitas belajar siswa ... 31

5. Item pernyataan pada angket tanggapan siswa... 33

6. Kriteria aktivitas belajar siswa ... 36

7. Skor perjawaban angket ... 36

8. Data angket tanggapan siswa terhadapPBL... 37

9. Kriteria persentase tanggapan siswa terhadapPBL... 37

10. Hasil uji normalitas dan homogenitas nilaipretest, posttest,dan N-gainKBK siswa pada kelas eksperimen dan kontrol... 38

11. Hasil analisis rata-rataN-gainsetiap aspek KBK siswa pada kelas eksperimen dan kontrol ... 39

12. Aktivitas belajar siswa pada kelas ekperimen dan kontrol ... 40

13. Nilaipretest, posttest,danN-gainkelas eksperimen ... 132

14. Nilaipretest, posttest,danN-gainkelas kontrol ... 133

15. Analisis butir soalpretestdanposttestkelas eksperimen ... 134

16. Analisis butir soalpretestdanposttestkelas kontrol ... 135

17. Analisis per aspek KBK pada soalpretestdanposttestkelas eksperimen ... 136

18. Analisis per aspek KBK pada soalpretestdanposttestkelas kontrol . 137 19. Analisis data aktivitas belajar siswa pada kelas eksperimen dan kontrol ... 138

20. Analisis data angket tanggapan siswa terhadap penggunaanPBL... 139


(7)

xvii

22. Hasil uji Hasil ujiMann-Whitney Upostes kelas eksperimen dan

kontrol ... 141

23. Hasil uji normalitasposttestkelas eksperimen dan kontrol ... 142

24. Hasil ujiMann-Whitney U posttestkelas eksperimen dan kontrol ... 143

25. Hasil uji normalitasN-gainkelas eksperimen dan kontrol ... 144

26. Hasil uji kesamaan dua varians dan kesamaan dua rata-rataN-gain kelas eksperimen dan kontrol... 145

27. Hasil uji satu pihakN-gainkelas eksperimen dan kontrol... 146

28. Hasil uji normalitas N-gainaspek merumuskan masalah kelas eksperimen dan kontrol... 147

29. Hasil ujiMann-Whitney U N-gainaspek merumuskan masalah kelas eksperimen dan kontrol ... 148

30. Hasil uji normalitasN-gainaspek memberikan argumen kelas eksperimen dan kontrol ... 149

31. Hasil ujiMann-Whitney U N-gainaspek memberikan argumen kelas eksperimen dan kontrol ... 150

32. Hasil uji normalitasN-gainaspek melakukan induksi kelas eksperimen dan kontrol ... 151

33. Hasil ujiMann-Whitney U N-gainaspek melakukan induksi kelas eksperimen dan kontrol ... 152

34. Hasil uji normalitas N-gainaspek melakukan deduksi kelas eksperimen dan kontrol ... 153

35. Hasil ujiMann-Whitney U N-gainaspek melakukan deduksi kelas eksperimen dan Kontrol ... 154

36. Hasil uji normalitasN-gainaspek melakukan evaluasi kelas eksperimen dan kontrol ... 155

37. Hasil ujiMann-Whitney U N-gainaspek melakukan evaluasi kelas eksperimen dan Kontrol ... 156


(8)

(9)

(10)

Motto

Katakanlah: tiap-tiap orang berbuat menurut

keadaannya masing-masing, maka Tuhanmu lebih

mengetahui siapa yang lebih benar jalannya

(Q.S. Al-Isra : 84)

What did FD Rosevelt do during the World

War II?

Believe. He believed what he had done for the world.

So you have to believe that you ll gonna make it too

(Rizky Vedyanto)

Keep what you have to keep and don t let it go

away from you


(11)

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Persembahan

Segala puji kupersembahkan untuk-Mu, Ya Allah, pencipta sel hingga supercluster semesta,

Shalawat dan salam kucurahkan pada Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat

karya ini kupersembahkan untuk:

IbuTrilistiani dan BapakTaufik, kedua pahlawan yang terus berjuang membahagiakanku

dengan kesabaran dan kasih sayang abadi,

Terima kasih telah menjadi yang terbaik dalam hidupku.

Dianita Ananda, Jelita Zuhra I, Angger Gilang M, M Nayaka A,

para anggota pandawaku yang mengalirkan semangat dan kebahagiaan tanpa batas.

My amazing Genk Skripsi, Tyas Kharimah T dan Fadhilah Khairani

Irreplaceable Bioblast 2011

Chibi Zhakia LS, Q Aina, Tyas KT, Fadhilah K, Karyanti, Herlinda O, Chintia M, Indah SP, Winda R

Lab Bio s Ani S, Yogi F, N Hidayah,

Harry Haryono, Soni Satrian Syah, Feri Pernando

Anak Lemong Desrina H, Evi N, Selvia O, Wulan S, Tia AP, Fredy S, G Agung I, Ewo PS, Muhrodin

Keluarga Cemara Gang Bukitku, ibu Dina Maulina, bapak Rio Arif

Lia S, Galuh AM, Ave SF, Janggan AAP

Guru, dosen, kakak pengajar, murobbi, yang telah mengajarkanku indahnya menikmati ilmu.

Almamaterku tercinta, Universitas Lampung.


(12)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tanjung Karang, Bandar Lampung, pada 8 Maret 1993. Penulis adalah anak pertama dari lima bersaudara pasangan Taufik dengan Trilistiani. Penulis beralamat di Jl. H. Syarif, Gg, Tarya, No.50, LK II, Kalibalau Kencana, Sukabumi, Bandar Lampung. No. HP 089631604013.

Pendidikan yang ditempuh penulis untuk pertama kali adalah TK Arussydah II Bandar Lampung (1997-1999), SDN 1 Tanjung Agung (1999-2005), SMP Negeri 5 Bandar Lampung (2005-2008), SMA Negeri 2 Bandar Lampung (2008-2011). Pada tahun 2011, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi FKIP Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tertulis.

Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mewakili Universitas Lampung dalam Olimpiade Nasional di tingkat Regional II (tahun 2013). Penulis juga pernah menjadi assisten praktikum mata kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan, Fisiologi Tumbuhan, dan Struktur Hewan. Penulis ditunjuk sebagai laboran di Laboratorium Pembelajaran Biologi (2014-2015). Penulis melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegrasi (KKN-KT) di Pekon Lemong,


(13)

viii

Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat dan Program pengalaman Lapangan (PPL) di SMP Negeri 2 Lemong, Kecamatan Lemong, Kabupaten Pesisir Barat (Tahun 2014), kemudian melaksanakan penelitian di SMP Padjajaran Bandar Lampung untuk meraih gelar sarjana pendidikan/S.Pd. (Tahun 2015).


(14)

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kepada Allah SWT karena atas berkah,

rahmat, dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “PENGARUH MODELPROBLEM BASED LEARNING(PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen Semu pada Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015)”

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung. 2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung. 3. Berti Yolida, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi

FKIP Unila.

4. Dr. Tri Jalmo, M.Si, selaku Pembimbing I dan Pembimbing Akademik penulis, yang terus memberi motivasi, nasehat, bimbingan, ilmu, saran, dan masukan dalam membimbing penulis saat menyusun skripsi ini.


(15)

xiii

5. Rini Rita T Marpaung, S.Pd., M.Pd., selaku Pembimbing II, yang tanpa henti memberi semangat, motivasi, bimbingan, perhatian dan kesabarannya kepada penulis hingga skripsi ini dapat selesai.

6. Drs. Arwin Achmad, M.Si., selaku pembahas dan dosen terbaik bagi penulis, yang selalu memberi saran perbaikan dan motivasi berharga bagi penulis. 7. Drs. H.A. Zainuddin Ys, M.TI., selaku Kepala SMP Padjajaran Bandar

Lampung, L.A. Widiastuti, S.Pd., dan Daryono, S.Pd. selaku guru mitra yang telah memberikan izin, arahan, dan bantuan selama penelitian; seluruh warga SMP Padjajaran Bandar Lampung atas kerjasama yang baik selama penelitian berlangsung;

8. Orangtua dan adik-adikku yang menjadi sumber kekuatan dan kesenangan, yang terus menyadarkanku tentang adanya kebahagiaan sederhana dalam kerasnya kehidupan.

9. SahabatBioblast(pendidikan biologi 2011), adik dan kakak tingkat P. Biologi UNILA yang terus memotivasi, menyemangati, dan memberi kekuatan untuk berjuang menyelesaikan skripsi ini.

10. Seluruh rekan di Lab Pembelajaran Biologi atas segala bentuk kerja sama, serta ledakan kegembiraan dan kehebohan yang tak pernah surut.

11. Semua pihak yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Bandar Lampung, 25 Agustus 2015 Penulis


(16)

(17)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xviii

I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

F. Kerangka Pikir... 7

G. Hipotesis Penelitian ... 9

II TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Problem Based Learning ... 10

B. Kemampuan Berpikir Kritis ... 17

C. Aktivitas Belajar Siswa ... 20

III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 23

B. Populasi dan Sampel ... 23

C. Desain Penelitian ... 23

D. Prosedur Penelitian ... 24

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ... 30

F. Teknik Analisis Data ... 34

IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 39


(18)

xv

V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan... 54

B. Saran ... 54

DAFTAR PUSTAKA ... 56

LAMPIRAN 1. Silabus ... 61

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 65

3. Kisi-kisi Soal ... 74

4. Soal PretestPosttest ... 79

5. Soal LKK ... 81

6. Kunci Jawaban Soal ... 83

7. Rubrik Soal ... 99

8. Data Hasil Penelitian ... 102

9. Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ... 110


(19)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan di era globalisasi saat ini merupakan suatu tantangan setiap bangsa untuk menciptakan generasi yang dapat memperkuat landasan segala sektor kehidupan. Setyawati (2013:1) menyatakan bahwa peningkatan kualitas pendidikan suatu bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Salah satu upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan melakukan berbagai inovasi dalam kurikulum, saat ini salah satunya adalah dengan memasukkan pendidikan kecakapan hidup atau life skill, soft skill, dan

pendidikan berkarakter. Dalam kehidupan, life skill dan soft skill dapat dengan mudah dikembangkan karena menurut Sudarma (2013:1), pada dasarnya manusia adalah makhluk yang dapat menciptakan kreativitas dan mampu berpikir secara kritis dalam menghasilkan sesuatu yang inovatif, didukung oleh karakter yang mampu dalam mengendalikan inovasi itu sendiri sehingga kemampuan berpikir kritis menjadi hal yang sangat penting untuk

dimunculkan pada setiap individu terutama siswa.

Kemampuan berpikir kritis sendiri merupakan kunci dari peluang kerja dan ekonomi pada abad ke-21. Menurut Rowles, et. al., Choy dan Cheah,


(20)

2

modal yang dimiliki oleh siswa untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang tidak hanya membutuhkan kemampuan kerja namun juga pemahaman konsep. harapan terbesar di masa depan adalah para guru di indonesia mampu meningkatkan kualitas pendidikan dengan menghasilkan lulusan yang memiliki soft skill dan life skill dengan

kemampuan berpikir kritis yang tinggi sehingga berkompeten dan mampu bersaing di era globalisasi.

Faktanya, berdasarkan hasil penelitian PISA (dalam Kemendikbud, 2011:1) yang dilaksanakan setiap 3 tahun sekali menunjukkan bahwa pada prestasi literasi sains siswa Indonesia meduduki peringkat ke-38 pada tahun 2000 dan 2003, dan menurun ke peringkat 50 pada 2006 dengan rata-rata skor prestasi 393, yang berarti 110 di bawah rata-rata internasional yaitu 500. Literasi sains sendiri adalah salah satu ranah prestasi yang diukur oleh PISA dalam hal pengetahuan dan cara siswa dalam mengidentifikasi masalah untuk memahami fakta-fakta dan membuat keputusan tentang alam serta perubahan yang terjadi pada lingkungan. Lebih lanjut, laporan penelitian Puspendik pada 2009 (dalam HEPI, 2015:1) menunjukkan bahwa estimasi kemampuan rata-rata siswa Indonesia berdasarkan data TIMSS 2007, paling tinggi adalah kemampuan pada level pengetahuan (knowing), sedangkan kemampuan pada level pena-laran (reasoning) dan penerapan (applying) lebih rendah. Dari data yang ditunjukkan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia belum mampu memunculkan bahkan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.


(21)

3

Hasil observasi dan wawancara dengan guru IPA di SMP Padjajaran Bandar Lampung menyatakan bahwa pembelajaran yang dilakukan masih banyak menggunakan metode ceramah. Pada materi tertentu, guru hanya memberikan tugas dari buku ajar tanpa menjelaskan materi dan pemahaman konsep terlebih dahulu sehingga kemampuan berpikir siswa hanya sebatas mengingat dan memahami. Selain itu, dalam pembelajaran biologi, pemberian materi masih bersifat teoritis sehingga saat siswa diberikan suatu permasalahan, siswa tidak mampu mengidentifikasi serta memberikan solusi penyelesaian masalahnya. Guru juga hanya menilai siswa hanya berdasarkan ranah kognitif. Selain itu, aktivitas belajar dalam proses pembelajaran sangat menentukan hasil belajar siswa. Seharusnya siswa dituntut untuk aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa mampu mengembangkan potensi dirinya terutama dalam kemampuan berpikir. Corebima (dalam Jailani, 2014:48-49) menyatakan bahwa implementasi aspek pelaksanaan pembelajaran harus selalu diupayakan agar tidak semata-mata mengacu kepada kepentingan transfer informasi, tetapi mengacu kepada kepentingan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis.

Kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan model pembelajaran yang tepat. Salah satu alternatif solusinya adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based learning atau PBL. Guedri (2001:1) menyatakan bahwa PBL adalah sebuah pendekatan pembelajaran pedagogik konstruktif yang mungkin dapat menjadi alat yang sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Model ini


(22)

4

berpikir kritis karena siswa dituntut untuk mengidentifikasi suatu

permasalahan, menyelesaikannya, serta memberikan berbagai macam solusi dari pengetahuan maupun pengalaman yang telah ia dapatkan. Penelitian yang dilakukan oleh Magsino (2014:1) menunjukkan bahwa PBL merupakan strategi instruksional pada kurikulum konvensional yang efisien dalam membangun atau meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skill) mahasiswa biologi kelautan De La Salle Lipa College. Serupa dengan penelitian Cinar dan Bayraktar (2014:1), PBL lebih efektif dibandingkan dengan instruksi tradisional dalam meningkatkan pencapaian siswa dalam level pemahaman. Lebih jauh, PBL juga dikatakan lebih berhasil dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan proses ilmiah siswa.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka akan dilakukan penelitian dengan

judul ”Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Aktivitas belajar siswa pada Materi Peran Manusia Dalam Pengelolaan Lingkungan (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015).

B. Rumusan Masalah

1. Apakah model PBL berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan?


(23)

5

2. Apakah model PBL berpengaruh dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan? 3. Bagaimanakah tanggapan siswa terhadap penerapan model PBL pada

materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

1. Pengaruh model PBL terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan

2. Pengaruh model PBL berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan

3. Tanggapan siswa mengenai penerapan model PBL pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Peneliti, yaitu dapat memberikan pengalaman baru, wawasan, dan bahan masukan bagi peneliti sebagai calon guru untuk memilh model

pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. 2. Guru, yaitu mendapatkan informasi alternatif model yang dapat

meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran. 3. Siswa, yaitu dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dalam


(24)

6

4. Sekolah, yaitu dapat memberi masukan untuk mengoptimalkan penggunaan model PBL dalam upaya peningkatan mutu sekolah dan kualitas pembelajaran.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Model PBL yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari langkah-langkah berikut: (1) mengorientasi siswa pada masalah; (2)

mengorganisasi siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah (Nurhadi dalam Kunandar, 2011:358).

2. Kemampuan berpikir kritis dengan aspek: (1) merumuskan masalah; (2) memberikan argumen; (3) melakukan induksi; (4) melakukan deduksi; (5) melakukan evaluasi (Jufri, 2013:104-105).

3. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang ditinjau berdasarkan perbandingan nilai N-gain yang diperoleh dari hasil pretes dan postes. 4. Aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran yang diukur melalui

lembar observasi aktivitas belajar dan angket tanggapan siswa. 5. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII SMP Padjajaran Bandar

Lampung tahun pelajaran 2014/2015 dengan kelas VII A sebagai kelas eksperimen dan kelas VII B sebagai kelas kontrol.

6. Materi yang digunakan adalah peran manusia dalam pengelolaan pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan KD 7.4 yaitu


(25)

7

mengaplikasikan peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

F. Kerangka Pikir

Pembelajaran IPA merupakan salah satu pemegang peran penting dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, baik dalam hal teori maupun penerapan. Pada pembelajaran IPA, salah satunya adalah mata pelajaran biologi, siswa tidak hanya dituntut untuk mengingat dan memahami materi pembelajaran, namun juga mencari tahu suatu kebenaran dari konsep sains dengan melakukan berbagai pengamatan. Dalam prosesnya, siswa harus aktif dalam menghubungkan antara suatu konsep dengan fakta yang mereka temukan melalui kemampuan berpikir tingkat tinggi, salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis.

Kemampuan berpikir kritis sangat perlu untuk dilatih dan dikembangkan oleh siswa. Kemampuan berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir dan bekerja dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya secara akurat. Karenanya, kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah maupun pencarian solusi dengan sudut pandang yang aktual.

Kemampuan ini dapat dikembangkan dengan menerapkan model PBL atau di Indonesia dikenal dengan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Model PBL

diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena kesesuaian sintaks dari model PBL memberikan kesempatan untuk


(26)

8

mengembangkan kemampuan tersebut. Tahap awal PBL dilaksanakan ketika guru mengorientasikan siswa pada masalah dengan cara memberi suatu masalah pada siswa dan memberikan motivasi untuk terlibat dalam berdiskusi dan mengidentifikasi masalah. Pada tahap ini siswa diharapkan mampu merumuskan masalah dan membuat hipotesis. Tahap selanjutnya, siswa mengumpulkan informasi yang sesuai untuk memecahkan masalah. Siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya dengan melakukan induksi berdasarkan permasalahan. Kemudian siswa merencanakan dan menyiapkan laporan. Pada kegiatan ini, siswa diharapkan mampu melakukan deduksi terhadap hasil identifikasi permasalahan. Saat menyampaikan laporan hasil diskusi, siswa diharapkan mampu memberi argumen dan melakukan evaluasi terhadap data pada hasil diskusi.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel X dan variabel Y. Variabel X adalah variabel bebas yaitu model pembelajaran PBL dan variabel Y adalah variabel terikat yaitu kemampuan berpikir kritis siswa. Hubungan antara kedua variabel tersebut digambarkan dalam diagram di bawah ini.

Keterangan: X = Model PBL

Y1 = Kemampuan berpikir kritis siswa Y2 = aktivitas belajar siswa

Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

X

Y1


(27)

9

G. Hipotesis Penelitian

1. Model PBL berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

2. Model PBL berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

3. Siswamemberikan tanggapan positif terhadap model PBL pada materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.


(28)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Problem Based Learning

Menurut Djamarah (2005:66), guru perlu menciptakan suatu masalah untuk dipecahkan oleh anak didik di kelas. Pemecahan masalah dapat mendorong anak didik untuk lebih tegar dalam menghadapi berbagai masalah belajar. Johnson (2008:215) menyatakan bahwa suatu permasalahan membutuhkan pencarian beberapa solusi serta alternatifnya. Walaupun akan sedikit menghabiskan waktu, namun proses ini akan menjadi kebiasaan yang cepat dan mudah serta akan membantu seorang anak dalam mengatasi masalahnya secara efektif, apakah itu masalah di sekolah, kehidupan karir masa depan, atau kehidupan pribadi.

Dickson (dalam Akcay, 2009:27) menyatakan bahwa siswa diharuskan untuk berbagi, berkomunikasi, dan bekerja sama. Dickson juga menyebutkan praktik Vygotskian mampu membimbing konstruktivisme sosial, menggabungkan ide yang sama dengan konstruktivisme individual Piaget dan kemudian

mengaplikasikannya pada interaksi siswa. Peran guru adalah membentuk kemampuan siswa untuk dapat menjelaskan berbagai konsep, proses, dan kemampuan.


(29)

11

PBL, atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Pembelajaran Berbasis Masalah, merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah yang mereka temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada sekitar tahun 1980-1990 an, model PBL diadopsi ke dalam berbagai sekolah kesehatan dan menjadi pendekatan instruksional yang diterima di Amerika dan Eropa. Ada beberapa pertanyaan mengenai efektivitas model ini terhadap keprofesionalan dokter, apakah dokter yang dilatih menggunakan model PBL lebih siap untuk praktik secara profesional dibandingkan dengan dokter yang dilatih dengan pendekatan tradisional. Penelitian secara luas telah membuktikannya. Meta-analisis selama 20 tahun mengenai studi evaluasi PBL yang dilakukan oleh Albanese dan Mitchell juga oleh Vernon dan Blake pada 1993 (dalam Savery, 2006:10), menyimpulkan bahwa model PBL memiliki kemampuan yang sama dengan pendekatan tradisional dalam hal tes konvensional pengetahuan dan bahkan siswa yang belajar menggunakan PBL menunjukkan kemampuan berpikir kritis lebih baik. Studi yang lebih kecil oleh Denton, Adams, Blatt, dan Lorish pada 2000 (dalam Savery, 2006:10) mengenai lulusan dokter program terapi, penggunaan PBL memperlihatkan kualitas lulusan program yang sama baiknya antara PBL dan pendekatan tradisional namun siswa lebih memilih pendekatan berbasis masalah.

PBL memiliki dasar permasalahan ill-structured yang bersifat tentative dan tidak biasa, memiliki kompleksitas dan ketidakjelasan, membutuhkan bimbingan, pengumpulan data/informasi, dan refleksi. Model ini berfokus


(30)

12

pada pemikiran terbuka, pembelajaran tentang investigasi dan permasalahan dunia nyata. Tiga karakteristik utama dari PBL adalah:

1. Siswa sebagai stakeholder dalam situasi permasalahan

2. Mengorganisasi kurikulum dalam permasalahan, memungkinkan siswa belajar dalam cara yang relevan.

3. Menciptakan lingkungan belajar dimana guru melatih kemampuan berpikir siswa dan membimbing siswa, serta memfasilitasi pemahaman yang lebih mendalam (Akcay, 2009:27-28).

Kunandar (2011:354-355) menyebutkan pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Guru dituntut untuk mengembangkan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadinya pertukaran ide secara terbuka. Dalam hal ini, Fogarty (dalam Hillman, 2003:3-4) menyatakan PBL biasa dipresentasikan kepada siswa melalui skenario non-fiksi. Skenario dapat diambil dari sebuah artikel di dalam jurnal, atau suatu informasi faktual, sebuah argumen, atau sebuah representasi. Ketika skenario dipresentasikan kepada siswa, mereka mengatur alur eksplorasi dalam menyelesaikan skenario yang telah diberikan.

Ommundsen (2015:1) mengatakan bahwa PBL adalah cara yang menyenangkan untuk mempelajari biologi dan model ini telah siap

dimasukkan ke dalam kelas besar dalam lingkup perkuliahan. PBL melibatkan siswa dalam menyelesaikan kasus biologikal autentik, menstimulasi diskusi pada siswa, dan memperkuat pembelajaran. Lingkungan pendidikan yang menggunakan PBL dapat membuat siswa mampu bersaing dalam tempat kerja


(31)

13

dan membentuk sikap belajar mandiri. Hal ini sangat disarankan terutama dalam lingkungan pembelajaran yang melibatkan siswa hanya melihat, mengingat, dan mengulang apa yang telah mereka dapatkan.

Biasanya siswa lebih termotivasi dalam mempelajari materi ataupun isu berdasarkan kisah nyata, terutama masalah yang berdampak pada kehidupan pribadi mereka. Implikasi terpenting untuk praktik pembelajaran adalah siswa dapat belajar dengan lebih baik jika isi dari silabus terkait dengan isu atau konteks kehidupan sebenarnya. Guru dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efektif dengan memasukkan kejadian sehari-hari dimana siswa dapat berperan di dalamnya sehingga siswa dapat lebih termotivasi dalam belajar (Chin dan Chia, 2015:2).

Berdasarkan penelitian McPhee (2002:66), penggunaan sintaks PBL dalam pembelajaran memungkinkan siswa dapat melihat isu penting dalam skala menyeluruh. Kesempatan yang ada pada pembelajaran mengenai teori, sikap, dan isu yang berkaitan dengan motivasi, disiplin dan kontrol, dan untuk investigasi kebijakan dan standar nasional. Model PBL sangat

direkomendasikan karena siswa dapat menginvestigasi hubungan sebab akibat antara sosial dan komunitas dan dapat melihat isu-isu sejenis sebagai

hubungan antara pembelajaran dan masyarakat luas, faktor keluarga yang dapat diasosiasikan dengan pembelajaran, bahkan mengamati kasus seperti obat-obatan terlarang pada remaja.

Menurut Nurhadi (dalam Kunandar, 2011:355:356), ciri-ciri pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:


(32)

14

a. Pembelajaran pertanyaan atau masalah

Pembelajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau keterampilan akademik tertentu, tetapi mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk peserta didik. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu.

b. Berfokus pada keterkaitan antardisiplin

Meskipun pembelajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu, tetapi dalam pemecahannya melalui solusi, siswa dapat meninjaunya dari berbagai mata pelajaran yang ada.

c. Penyelidikan autentik

Pembelajaran berbasis masalah mengharuskan peserta didik melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat interferensi, dan merumuskan kesimpulan.

d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya

Pembelajaran berbasis masalah menuntut peserta didik untuk

menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang


(33)

15

mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkrip debat, laporan, model fisik, video.

e. Kolaborasi

Hosnan (2014:300) menambahkan kolaborasi sebagai salah satu ciri dari pembelajaran berbasis masalah. Tugas-tugas berupa masalah harus diselesaikan bersama-sama antarsiswa dengan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun besar, dan bersama-sama antarsiswa dan guru.

Prinsip utama PBL adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus

mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah. Masalah nyata adalah masalah yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung apabila diselesaikan (Hosnan, 2014:300).

Tujuan utama PBL bukanlah penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan peserta didik untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri. PBL juga dimaksudkan untuk mengembangkan kemandirian belajar dan keterampilan sosial peserta didik yang terbentuk ketika mereka berkolaborasi uuntuk mengidentifikasi informasi, strategi, dan sumber belajar yang relevan untuk menyelesaikan masalah (Hosnan, 2014:299).

Menurut De Graaf dan Kolmos (dalam Magsino, 2014:2), terdapat 7 langkah pembelajaran berbasis masalah yang telah dikembangkan oleh


(34)

16

Universitas Maastricht di Belanda. Kerangka pembelajarannya terdiri dari 2 sesi pembelajaran dengan sesi antara. Sesi pertama memiliki lima langkah yaitu: (a) Mengklarifikasi konsep, (b) Mendefinisikan masalah, (c) menganalisis masalah (brainstorming), (d) mengorganisasikan fakta dan pengetahuan, (e) membuat objek pembelajaran. sesi kedua memiliki dua langkah yaitu (a) belajar mandiri (self-study), dan (b) diskusi. Sintaks atau langkah pembelajaran dalam model PBL lainnya tertuang dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Tahap pembelajaran berbasis masalah

Tahap Perilaku guru

Tahap-1

Orientasi siswa pada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih.

Tahap-2

Mengorganisasi siswa untuk belajar

Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang

berhubungan dengan masalah tersebut.

Tahap-3 Membimbing penyelidikan individual

maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.

Tahap-4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.

Tahap-5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.


(35)

17

B. Kemampuan Berpikir Kritis

Karakteristik 4 kemampuan berpikir oleh Swartz dan Perkin (dalam Bruning

et. al., 1995:204)

Tabel 2. Karakteristik kemampuan berpikir

Tipe kemampuan Tujuan Komponen kemampuan

Berpikir kritis Untuk mengevaluasi suatu perbedaan dalam keadaan atau mengklarifikasi ide

Mengidentifikasi keadaan atau ide, menganalisis berbagai pandangan, mempertimbangkan fakta, mengumpulkan informasi baru

Berpikir kreatif Untuk menciptakan ide baru, membangun produk baru

Menetapkan kebutuhan untuk ide, menstruktur ulang sudut pandang permasalahan, menciptakan berbagai kemungkinan

Membuat keputusan Untuk mencapai keputusan yang telah dibuat

Mempertimbangkan informasi yang ada, mengevaluasi informasi, mengidentifikasi opsi, mempertimbangkan opsi, membuat keputusan

Pemecahan masalah Untuk mencapai satu atau beberapa solusi yang memungkinkan untuk suatu permasalahan

Mengidentifikasi, mengambarkan, memilih strategi, menjalankan strategi, mengevaluasi proses

Kemampuan berpikir kritis dikategorikan sebagai kemampuan yang sulit. Walaupun terlihat mendasar, namun kemampuan berpikir kritis membutuhkan proses yang cukup rumit dalam pencapaiannya. Terlebih lagi, manusia tidak secara alami dapat berpikir kritis. Sekalipun manusia terlahir dengan

kemampuan berpikir kritis, manusia tersebut masih belum mampu

menguasainya karena berpikir kritis adalah aktivitas kompleks yang dibangun dengan kemampuan lainnya yang lebih mudah diperoleh (Gelder, 2005:42). Bagaimanapun, anak memang terlahir dengan rasa keingintahuan alami, yang menjadi salah satu pengenalan awal untuk pembelajaran dan lingkungan harus mengajarkan mereka untuk mengeksplorasi, bertanya, dan menyelesaikan masalah mereka dalam pembelajaran informal. Anak yang tumbuh dalam


(36)

18

lingkungan yang disisipkan suasana discovery terlihat lebih siap untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan siap pula untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya (Thompson, 2011:3).

Zuchdi (dalam Zubaedi, 2012:241) menyebutkan ciri-ciri orang yang berpikir kritis yaitu: 1) mencari kejelasan pernyataan atau pernyataan; 2) mencari alasan; 3) mencoba memperoleh informasi yang benar; 4) menggunakan sumber yang dapat dipercaya; 5) mempertimbangkan keseluruhan situasi; 6) mencari alternatif; 7) bersikap terbuka; 8) mengubah pandangan apabila ada bukti yang dapat dipercaya; 9) mencari ketepatan suatu permasalahan; 10) sensitif terhadap perasaan, tingkat pengetahuan, dan tingkat kecanggihan orang lain.

Ciri-ciri tersebut di atas hanya dapat dikembangkan lewat latihan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Berpikir kritis dapat mengarah pada pembentukan sifat bijaksana. Berpikir kritis memungkinkan seseorang dapat menganalisis informasi secara cermat dan membuat keputusan yang tepat dalam menghadapi isu-isu yang

kontroversial (Zubaedi, 2012:241).

Jufri (2013:104-105) menyatakan terdapat 6 indikator kemampuan berpikir kritis pada siswa yang terdapat dalam Tabel 3 berikut:


(37)

19

Tabel 3. Kemampuan berpikir kritis siswa

Indikator kemampuan berpikir kritis

Deskripsi kemampuan berpikir kritis

Merumuskan masalah a. memformulasikan pertanyaan yang mengarahkan investigasi jawaban

Memberikan argumen a. argumen sesuai dengan kebutuhan

b. menunjukkan persamaan dan perbedaan

c. argumen yang ditunjukkan orisinil dan utuh

Melakukan deduksi a. mendeduksi secara logis b. menginterpretasikan secara tepat

Melakukan induksi a. menganalisis data b. membuat generalisasi c. menarik kesimpulan

Melakukan evaluasi a. mengevaluasi berdasarkan fakta b. memberikan alternatif lain Mengambil keputusan dan

menentukan tindakan

a. menentukan jalan keluar b. memilih kemungkinan yang akan dilaksanakan

Menurut Rowles dkk. (dalam GDC, 2015), Asosiasi Universitas dan Kampus Amerika, Standar dan Akreditasi Program Pendidikan Kedokteran, dan beberapa organisasi lainnya menempatkan kemampuan berpikir kritis sebagai kemampuan intelektual dan praktikal terbesar, terutama pada bidang

kesehatan, sains, dan terutama di bidang pendidikan. Kemampuan berpikir kritis adalah sesuatu yang telah banyak ditemukan pada sekolah tingkat dasar, menengah atas, dan menengah tinggi, dimana siswa diajarkan untuk belajar sebagaimana mereka mengolah dan menganalisis informasi yang mereka dapatkan.


(38)

20

Paul dan Elder (dalam Shriner, 2015:63) meneliti perkembangan kemampuan berpikir kritis dengan membuat artikel tentang kemampuan berpikir kritis dan dibuktikan melalui poling dan survei bahwa pada umumnya pendidik tidak terlalu mengerti apa itu berpikir kritis dan bagaimana cara mengajarkannya. Tiga template yang disediakan di dalam artikel telah ditulis dengan baik dan bermanfaat bagi banyak kelas. Template tersebut membantu siswa dalam menganasis logika pada artikel, essay, atau bab dan sub-bab. Setiap template

memiliki delapan pertanyaan yang menanyakan tentang ide pokok, kunci dari pertanyaan, informasi yang paling penting, referensi utama atau implikasi, dan sudut pandang utama. Dengan menggunakan tiga template tersebut saat

membaca sebuah artikel atau sub-bab, siswa akan memahami kemampuan berpikir kritis dengan baik seperti proses yang memungkinkan mereka untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi informasi.

C. Aktivitas Belajar Siswa

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002: 34), keaktifan siswa dalam

pembelajaran memiliki bentuk yang beraneka ragam, dari kegiatan fisik yang mudah diamati sampai kegiatan psikis yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang dapat diamati diantaranya adalah kegiatan dalam bentuk membaca,

mendengarkan, menulis, meragakan, dan mengukur. Sedangkan contoh kegiatan psikis diantaranya adalah seperti mengingat kembali isi materi pelajaran pada pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan


(39)

21

yang dimiliki untuk memecahkan masalah, menyimpulkan hasil eksperimen, membandingkan satu konsep dengan konsep yang lain, dan lainnya.

Pengalaman belajar merupakan segala aktivitas siswa yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan kompetensi baru sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Aktivitas tidak terbatas pada aktivitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktivitas mental. Seorang siswa yang tampaknya hanya mendengarkan saja, tidak berarti memiliki kadar aktivitas yang rendah dibanding dengan siswa yang sibuk mencatat. Mungkin saja yang duduk itu secara mental aktif, misalnya menyimak, menganalisis dalam pikirannya dan menginternalisasi nilai dari setiap informasi yang disampaikan. Sebaliknya siswa yang sibuk mencatat, tidak dapat dikatakan memiliki kadar keaktifan yang tinggi, kalau yang bersangkutan hanya sekadar secara fisik aktif mencatat namun tidak diikuti dengan aktivitas mental (Sanjaya, 2009:180).

Paul D. Dietrich (dalam Hamalik, 2011: 172) membagi aktivitas belajar ke dalam 8 kelompok, yaitu:

1. Kegiatan-kegiatan visual, yang termasuk di dalam kegiatan visual

diantaranya membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2. Kegiatan-kegiatan lisan (oral), yang termasuk di dalamnya antara lain

mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.


(40)

22

3. Kegiatan-kegiatan mendengarkan, yang termasuk di dalamnya antara lain mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.

4. Kegiatan-kegiatan menulis, yang termasuk di dalamnya antara lain menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.

5. Kegiatan-kegiatan menggambar, yang termasuk di dalamnya antara lain menggambar, membuat grafik, diagram peta, dan pola.

6. Kegiatan-kegiatan metrik, yang termasuk di dalamnya antara lain melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun. 7. Kegiatan-kegiatan mental, yang termasuk di dalamnya antara lain

merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat, hubungan-hubungan dan membuat keputusan.

8. Kegiatan-kegiatan emosional, yang termasuk di dalamnya antara lain minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain.


(41)

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2015 tahun pelajaran 2014/2015 di SMP Padjajaran Bandar Lampung.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII semester genap SMP Padjajaran Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2014/2015. Pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik Purposive Sampling atau pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan peneliti (Budiarto, 2003:27). Sampel

penelitian ini adalah kelas VIIB sebagai kelas eksperimen dengan jumlah siswa 23 orang dan kelas VIIA sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 21 orang.

C. Desain Penelitian

Pada penelitian ini, untuk mengukur kemampuan berpikir kritis, desain yang digunakan adalah desain pretest-posttest kelompok non ekuivalen (Riyanto, 2001: 43). Penelitian ini menggunakan dua variabel, yakni variabel X dan variabel Y. Variabel X pada penelitian ini adalah model pembelajaran yang digunakan yaitu model PBL. Sedangkanvariabel Y yang diukur dalam


(42)

24

penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis. Kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen menggunakan kelas yang ada dengan kondisi yang homogen dalam hal jenjang pendidikannya yaitu kelas VII dan diajar oleh guru yang sama. Kelas eksperimen (kelas VIIB) diberi perlakuan dengan model PBL, dan kelas kontrol (kelas VIIA) diberi perlakuan dengan metode diskusi. Kedua kelas diberi tes/soal penyelesaian masalah berupa soal essay

yang sama. Pretest sebelum pembelajaran dimulai dan posttest pada akhir pertemuan kedua setelah pembelajaran (Gambar 2).

Kelas Pretest Perlakuan Posttest Berpikir Kritis

I O1 X O2 O3

II O1 C O2 O3

Keterangan:

I = Kelas eksperimen (kelas VIIB) II = Kelas kontrol (kelas VIIA) O1 = Pretest

O2 = Posttest

O3 = Kemampuan berpikir kritis

X = Perlakuan di kelas eksperimen dengan PBL C = Perlakuan di kelas kontrol dengan diskusi

Gambar 2. Desain pretest-posttest non ekuivalen (Riyanto, 2001:43)

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut.

1. Prapenelitian

Kegiatan pada saat prapenelitian adalah sebagai berikut :

a. Membuat surat izin penelitian ke FKIP yang ditujukan ke sekolah tempat diadakannya penelitian.


(43)

25

b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang menjadi subjek penelitian.

c. Menetapkan sampel penelitian.

d. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Kelompok (LKK).

e. Membuat instrumen penelitian yaitu soal pretest/posttest, rubrik kemampuan berpikir kritis siswa, dan angket tanggapan siswa. f. Menentukan jumlah kelompok beserta jumlah anggota diskusi yang

bersifat heterogen berdasarkan jenis kelamin. Jumlah siswa kelas eksperimen 23 orang. Jumlah kelompok sebanyak 5 dengan setiap kelompok berjumlah 3-4 siswa yang terdiri dari 2 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki dan 1 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan dan 1 siswa laki-laki. Jumlah siswa kelas kontrol 21 orang. Jumlah kelompok sebanyak 5 dengan setiap kelompok berjumlah 4-5 siswa yang terdiri dari 2 siswa perempuan dan 2 siswa laki-laki dan 1 siswa perempuan dan 4 siswa laki-laki.

2. Pelaksanaan Penelitian

Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan menerapkan model PBL untuk kelas eksperimen dan diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini

dilaksanakan sebanyak dua kali pertemuan dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut :


(44)

26

a. Kelas Eksperimen (Pembelajaran Model PBL) 1) Kegiatan Pendahuluan

a) Siswa mengerjakan soal pretest pada pertemuan pertama dalam bentuk uraian dengan materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

b) Mengorientasi peserta didik terhadap masalah dengan menginformasikan tujuan pembelajaran.

c) Pemberian apresepsi

(Pertemuan I) guru menunjukkan gambar orang membuang sampah di sungai dan orang menanam pohon, lalu

menanyakan “pernahkah kalian melakukan kedua aktivitas tersebut? Bagaimana dampaknya bagi lingkungan sekitar?” (Pertemuan II) guru memberikan ulasan singkat mengenai materi sebelumnya dengan melakukan tanya jawab. d) Siswa memperoleh penjelasan dan motivasi dari guru:

(Pertemuan I) “Dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui peran manusia dalam mengatasi pencemaran lingkungan”.

(Pertemuan II) “Dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui peran manusia dalam mengatasi kerusakan lingkungan”.


(45)

27

2) Kegiatan Inti

a) Mengorganisasi siswa dengan membaginya dalam 5 kelompok secara heterogen berdasarkan jenis kelamin, masing-masing kelompok terdiri dari 3-4 orang.

b) Setiap kelompok memperoleh satu LKK berbasis masalah dengan materi:

(Pertemuan I) peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan.

(Pertemuan II) : peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi kerusakan lingkungan

c) Memberikan pengarahan kepada siswa dalam mengerjakan LKK

d) Guru membimbing siswa berdiskusi dan mencari informasi dengan kajian literatur sesuai topik permasalahan yang ada pada LKK di dalam kelompoknya masing-masing (untuk pertemuan I dan II).

e) Setiap kelompok mengumpulkan LKK yang sudah dikerjakan (pada pertemuan I dan II).

f) Guru memberi kesempatan kepada perwakilan setiap kelompok mempresentasikan LKK dan kelompok lain memberi tanggapan.

g) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan tanya jawab mengenai hasil LKK kelompok masing-masing


(46)

28

h) Guru memberi konfirmasi terhadap hasil diskusi dan presentasi yang telah disampaikan siswa

3) Kegiatan Penutup

a) Siswa membuat simpulan/rangkuman materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru.

b) Siswa mengerjakan posttest pada pertemuan ke II yang sama dengan soal pretest pada pertemuan ke I.

c) Siswa memperhatikan penyampaian guru tentang rencana pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.

b. Kelas Kontrol (Pembelajaran Metode Diskusi) 1) Kegiatan Pendahuluan

a) Siwa mengerjakan soal pretest pada pertemuan I dalam bentuk

essay dengan materi peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan.

b) Pemberian apresepsi

(Pertemuan I) guru menunjukkan gambar orang membuang sampah di sungai dan orang menanam pohon, lalu

menanyakan “pernahkah kalian melakukan kedua aktivitas tersebut? Bagaimana dampaknya bagi lingkungan sekitar?” (Pertemuan II) guru memberikan ulasan singkat mengenai materi sebelumnya dengan melakukan tanya jawab. c) Siswa memperoleh penjelasan dan motivasi dari guru


(47)

29

Pertemuan I “Dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui peran manusia dalam mengatasi pencemaran lingkungan”.

Pertemuan II “Dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui peran manusia dalam mengatasi kerusakan lingkungan”.

2) Kegiatan Inti

a) Siswa dibagi dalam 5 kelompok secara heterogen berdasarkan nilai dan jenis kelamin, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 orang.

b) Setiap kelompok memperoleh LKK dengan materi: (Pertemuan ke I) peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran lingkungan. (Pertemuan ke II) : peran manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi kerusakan lingkungan c) Setiap siswa mendiskusikan soal pada LKK dalam

kelompoknya masing-masing (untuk pertemuan ke I dan II). d) Setiap kelompok menyelesaikan LKK kemudian

mengumpulkan LKK yang sudah dikerjakan.

e) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan kelompok lain memberi tanggapan (untuk pertemuan ke I dan II).


(48)

30

f) Siswa mengemukakan pendapat dan menanyakan hal-hal yang belum dipahami kepada guru dan guru memberikan konfirmas (untuk pertemuan ke I dan II).

3) Kegiatan Penutup

a) Siswa membuat simpulan/rangkuman materi yang telah dipelajari dengan bimbingan guru.

b) Siswa mengerjakan posttest pada pertemuan ke II yang sama dengan soal pretest pada pertemuan ke I.

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis dan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:

1. Jenis Data

Terdapat dua jenis data yang diperoleh dari penelitian ini yaitu data kuantitatif dan kualitatif yang diuraikan sebagai berikut:

a. Data Kuantitatif

Data kuantitatif yaitu berupa skor kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest. Selisih dari nilai pretest

dan posttest didapatkan nilai gain. Untuk menghindari kesimpulan yang bias karena nilai kedua kelompok sudah berbeda, maka digunakan uji normalitas. Kelebihan penggunaan model dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis ditinjau berdasarkan perbandingan nilai gain yang dinormalisasi (N-gain).


(49)

31

b. Data Kualitatif

Data kualitatif dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis siswa yang diamati selama proses pembelajaran. Selain itu, digunakan data pendukung berupa angket tanggapan siswa terhadap penggunaan model PBL dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Pretest dan Posttest

Data kemampuan berpikir kritis adalah berupa perbandingan nilai

pretest dan posttest. Nilai pretest diambil pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai posttest

di akhir pertemuan kedua setiap kelas. Soal yang diberikan adalah lima butir soal essay.

b. Lembar Kerja Kelompok (LKK)

Lembar kerja kelompok digunakan selama proses pembelajaran sebagai data pendukung dalam menganalisis peningkatan KBK siswa. Kelas eksperimen menggunakan LKK berbasis masalah sedangkan kelas kontrol menggunakan LKK dengan metode diskusi.

c. Lembar Observasi Aktivitas belajar siswa

Lembar observasi aktivitas belajar siswa berisi aspek kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran di kedua kelas. Siswa pada pertemuan I dan pertemuan II diamati poin kegiatan yang dilakukan


(50)

32

dengan cara memberi tanda (√) pada lembar observasi pada Tabel 4 sesuai dengan aspek yang telah ditentukan.

Tabel 4. Lembar observasi aktivitas belajar siswa

No Nama

Skor Aspek Aktivitas Belajar Siswa

A B C D E

0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2 0 1 2

1 2 3 4 Dst Jumlah skor Skor maksimum Persentase Kriteria

Sumber: dimodifikasi dari Suwandi (2012: 32).

Keterangan skor aspek aktivitas belajar siswa:

A. Menuliskan/mengungkapkan rumusan masalah yang beragam pada LKK (Mengorientasikan Siswa Pada Masalah)

Skor Keterangan

0 Tidak mengungkapkan rumusan masalah yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

1 Mengungkapkan rumusan masalah namun kurang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

2 Mampu mengungkapkan rumusan masalah yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

B. Melakukan induksi dengan menjabarkan permasalahan dari informasi yang didapatkan pada LKK (Mengorganisasikan Siswa Untuk Belajar)

Skor Keterangan

0 Siswa tidak menjabarkan permasalahan-permasalahan yang sesuai dengan topik pembicaraan pada LKK.

1

Siswa mengumpulkan informasi, namun kurang memahaminya sehingga penjabarkan dari permasalahan kurang sesuai dengan topik pada LKK

2

Siswa mengumpulkan dan memahami informasi yang didapat sehingga penjabarkan dari permasalahan sesuai dengan topik pada LKK

C. Membuat kesimpulan (deduksi) berdasarkan permasalahan (Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok)

Skor Keterangan

0 Siswa tidak membuat kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan yang diberikan

1 Siswa membuat kesimpulan namun kurang sesuai dengan permasalahan yang diberikan

2 Siswa membuat kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan yang diberikan


(51)

33

D. Aktif dalam memberikan argumen yang sesuai dengan permasalahan (menyajikan hasil karya)

Skor Keterangan

0 Tidak memberikan argumen yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

1 Memberikan argumen namun kurang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

2 Mampu memberikan argumen yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajaran

E. Melakukan evaluasi dengan memberikan solusi (Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Mengatasi Masalah)

Skor Keterangan

0 Siswa tidak dapat memberikan solusi-solusi yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajraan.

1 Siswa memberikan solusi, namun kurang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajraan

2 Siswa mampu memberikan solusi-solusi yang sesuai dengan topik pembicaraan saat pembelajraan

d. Angket Tanggapan Siswa

Angket ini berisi tentang pendapat siswa mengenai model

pembelajaran PBL. Angket ini berupa 8 pernyataan, terdiri dari 4 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif dengan dua pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak setuju. Siswa menjawab setiap

pernyataan dengan cara memberi tanda (√) pada kolom yang tersedia. Tabel 5. Item pernyataan pada angket tanggapan siswa

No Pernyataan S TS

1 Saya mampu menentukan permasalahan yang terjadi berdasarkan wacana (merumuskan masalah)

2 Saya tidak dapat mengidentifikasi akibat dari suatu permasalahan (melakukan induksi)

3 Saya mampu memahami dan mengungkapkan kembali permasalahan yang diberikan (melakukan deduksi) 4 Saya mampu mempertahankan pendapat dengan memberi

alasan yang logis (memberi argumen)

5 Saya tidak dapat memberi solusi yang mungkin dalam pemecahan masalah (melakukan evaluasi)

6 Saya merasa lebih kritis dalam menyikapi permasalahan setelah selesai pembelajaran

7 Saya kesulitan dalam menjawab soal-soal yang diberikan 8 Saya tidak mampu mengungkapkan pendapat saat berdiskusi


(52)

34

F. Teknik Analisis Data 1. Data Kuantitatif

Data pretest dan posttest pada kelas eksperimen dan kontrol diolah menggunakan rumus sebagai berikut:

S=

x 100

Keterangan : S = Nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar; N = skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008: 112).

Kemudian mengukur peningkatan (N-gain) kemampuan berpikir kritis (KBK) siswa baik secara keseluruhan maupun untuk setiap aspek, digunakan rumus Hake (1999: 1) sebagai berikut:

N-gain = x 100%

Keterangan:

N-gain = rata-rata gain yang telah dinormalisasi

Spost = rata-rata skor posttest

Spre = rata-rata skor pretest

Smax = skor maksimum

Nilai pretest, posttest, dan N-gain pada kelas eksperimen dan kontrol dianalisis menggunakan uji U dan uji-t dengan program SPSS versi 17, yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa uji normalitas dan homogenitas data:

a. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dilakukan menggunakan uji Lilliefors dengan program SPSS versi 17.

1) Hipotesis

Spost – Spre


(53)

35

H0 = Sampel berdistribusi normal H1 = Sampel tidak berdistribusi normal 2) Kriteria Pengujian

Terima Ho jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak Ho untuk harga yang lainnya (Pratisto. 2004: 5).

Data berdistribusi normal dalam penelitian ini adalah data N-gain, maka dilanjutkan dengan uji homogenitas, uji t1, dan uji t2 dengan menggunakan program SPSS versi 17.

b. Uji Homogenitas 1) Hipotesis

Ho = Kedua sampel mempunyai varians yang sama H1 = Kedua sampel mempunyai varians yang berbeda 2) Kriteria Uji

Jika Fhitung < Ftabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima, Jika Fhitung > Ftabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:71).

c. Uji t1

1)Hipotesis

Ho = rata-rata pretes kedua sampel tidak berbeda secara signifikan

H1 = rata-rata pretes kedua sampel berbeda secara signifikan 2)Kriteria Uji

Jika –ttabel <thitung < ttabel, maka Ho diterima, Jika thitung < -ttabel atau thitung > ttabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:73).


(54)

36

d. Uji t2

1) Hipotesis

Ho = rata-rata N-gain pada kelas eksperimen sama dengan kelas kontrol

H1 = rata-rata N-gain pada kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol.

2) Kriteria Uji

Jika –ttabel <thitung < ttabel, maka Ho diterima, Jika thitung < -ttabel atau thitung > ttabel maka Ho ditolak (Pratisto, 2004:76).

e. Pengujian Hipotesis

Data pretest, posttest, dan semua aspek KBK tidak berdistribusi normal, maka dilakukan Uji U atau Uji Mann Whitney.

1) Hipotesis

Ho = Tidak terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol

H1 = Terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol

2) Kriteria Uji

a. Jika p-value > 0,05 maka terima Ho


(55)

37

2. Data Kualitatif

A. Aktivitas belajar siswa

1) Memberi skor sesuai rubrik penilaian observasi aktivitas belajar siswa pada Tabel 4, lalu memasukkan data ke dalam Tabel 19 Lampiran 6.

2) Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

P = x 100%

Keterangan:

P = persentase aktivitas belajar siswa R = skor yang diperoleh

M = skor maksimum dari tes bersangkutan (Purwanto, 2008:102).

3) Setelah data diolah dan diperoleh nilainya, maka aktivitas belajar siswa tersebut dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut.

Tabel 6. Kriteria aktivitas belajar siswa

Nilai Kriteria

80,1 – 100 60,1 – 80 40,1 – 60 20,1 - 40 0 – 20

Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

Sumber: dimodifikasi dari Arikunto (2010: 245).

B. Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan Model PBL

Data tanggapan siswa terhadap pembelajaran dikumpulkan melalui penyebaran angket. Pengolahan data angket dilakukan sebagai berikut: 1) Menghitung skor angket pada setiap jawaban sesuai dengan


(56)

38

Tabel 7. Skor perjawaban angket

Sifat Pernyataan Skor

1 0

Positif S TS

Negatif TS S

Keterangan: S = setuju; TS = tidak setuju (dimodifikasi dari Rahayu, 2010: 29).

2) Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket.

Tabel 8. Tabulasi data angket tanggapan siswa terhadap PBL

No. Pertanyaan Angket

Pilihan Jawaban

Nomor Responden (Siswa)

Persentase

1 2 3 dst.

1 S

TS

2 S

TS

dst. S

TS Sumber: Rahayu (2010: 31).

3) Menafsirkan atau menentukan persentase tanggapan siswa terhadap penggunaan model PBL pada Tabel 10.

Tabel 9. Kriteria persentase tanggapan siswa terhadap PBL

Persentase (%) Kriteria

100 76 – 99 51 – 75

50 26 – 49

1 – 25 0 Semuanya Sebagian besar Pada umumnya Setengahnya Hampir setengahnya Sebagian kecil Tidak ada


(57)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Model Problem Based Learning (PBL) berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

2. Model Problem Based Learning (PBL) berpengaruh dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi pokok peran manusia dalam

pengelolaan lingkungan.

3. Sebagian besar siswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model Problem Based Learning (PBL) pada materi pokok peran manusia dalam pengelolaan lingkungan.

B. Saran

Untuk kepentingan penelitian, maka penulis menyarankan sebagai berikut: 1. Untuk peneliti selanjutnya, dalam menentukan waktu pengerjaan soal

KBK berbasis masalah hendaknya mempertimbangkan kemampuan siswa dalam menjawab soal sehingga alokasi waktu pada kegiatan pembelajaran


(58)

56

tidak menyimpang dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah dirancang.

2. Untuk guru, model Problem Based Learning (PBL) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan KBK oleh siswa pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan.

3. Untuk siswa, sebaiknya lebih sering mengerjakan soal berbasis permasalahan sehingga kemampuan berpikir kritis dapat lebih mudah untuk ditingkatkan.

4. Untuk sekolah, lebih mendukung dan memfasilitasi guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar siswa dalam meningkatkan mutu sekolah.


(59)

DAFTAR PUSTAKA

Akcay, B. 2009.Problem-Based Learning in Science Education. Journal of Turkish Science Education. Vol. 6. No. 1. April 2009. 26-36. (online). (https://www.pegem.net/dosyalar/dokuman/48116-20090429114931-04problem-based-learning-in-science-education.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:50 WIB).

Anggraeni, F.M. 2014. Studi tentang Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Mantup pada Materi Statistika. (online).

(http://www.researchgate.net/publication/50928365_STUDI_TENTANG_K EMAMPUAN_KOMUNIKASI_MATEMATIKA_SISWA_KELAS_XI_IP A_SMAN_1_MANTUP_PADA_MATERI_STATISTIKA, diakses pada 30 April 2015; 11.41 WIB).

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi 2010). PT. Rineka Cipta. Jakarta. 228 hlm.

Budiarto, E. 2003. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 309 hlm.

Bruning, R., G. Schraw, and R. Ronning. 1995. Cognitive Psychology and Instruction 2nd edition. Prentice-Hall, Inc. USA. 434 hlm.

Chin, C. dan C. Li-Gek. 2015. Implementing Problem-Based Learning in Biology. 1-10. (online).

(http://www.tp.edu.sg/staticfiles/TP/files/centres/pbl/pbl_christinechinligekc hia.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:47 WIB).

Cinar, D. dan S. Bayraktar. 2014. The Effects of the Problem Based Learning Approach on Higher Order Thinking Skills in Elementary Science Education. 1-6. (online).

(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/3453412/4-libre.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=141 5339748&Signature=ts0EHcAFqUwr82s2AHSud%2Br7wIM%3D, diakses pada 7 November 2014; 11:59 WIB).


(60)

57

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta. Jakarta. 308 hlm.

Djamarah, S.B. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis (edisi revisi). PT Rineka Cipta. Jakarta. 226 hlm.

Foshay, W.R. dan A. Gibbons. 2005. Learning, Teaching, and Designing Problem-Solving: An Assessment. (online). (http://www.foshay.org, diakses pada 10 Mei 2015; 23:58 WIB).

GDC. 2015. The Importance of Teaching Critical Thinking. (online).

(https://globaldigitalcitizen.org/the-importance-of-teaching-critical-thinking, diakses pada 3 Maret 2015; 17:12 WIB).

Gelder, T. V. 2005.Teaching Critical Thinking: Some Lessons from Cognitive Science. College teaching. Vol. 53. No. 1. 2005. 41-46. (online).

(https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=sites&srcid=ZGVmYXVsdGRv bWFpbnx0aW12YW5nZWxkZXJ8Z3g6NDI4Y2UyNjc4MDUxMzQxMg, diakses pada 3 Maret 2015; 16:35 WIB).

Guedri, Z. 2001. Problem Based Learning: Bringing Higher Order Thinking to Business Schools. Cahier de recherche OIPG. 2001. ISSN : 1495-9305. (online). (http://neumann.hec.ca/oipg/fichiers/2001-002_-_Problem-Based_Learning....pdf, diakses pada 7 November 2014; 11:52 WIB). Hake, R.R. 1999. Analizing Change/Gain Score. 1-4. (online).

(http://www.physics.indiana.edu/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf, diakses pada 21 Desember 2014; 14:30 WIB).

Hamalik, O. 2011. Media Pendidikan. Alumni. Bandung. 246 hlm.

Hastriani, A. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. 158 hlm.

HEPI. 2015. Meta Analisis Berpikir Tingkat Tinggi vs Sains. (online).

(http://www.hepibali.org/index.php/kti/31-meta-analisis, diakses pada 3 Maret 2015; 17:32 WIB).

Hillman, W. 2003. Learning How to Learn: Problem-Based Learning. Australian Journal of Teacher Education. Vol. 28. No.2. November 2003. 1-11. (online).

(http://ro.ecu.edu.au/cgi/viewcontent.cgi?article=1337&context=ajte, diakses pada 3 Maret 2015; 16:25 WIB).

Hosnan. 2014. Pendekatan Scientifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Ghalia Indonesia. Bogor. 456 hlm.


(61)

58

Jailani. 2014. Peningkatan Prestasi Belajar Biologi Melalui Pemberdayaan Penalaran Siswa. 47-52. (online).

(http://jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/download/805/744, diakses pada 6 November 2014; 16:07 WIB).

Johnson, L. 2008. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik: Cara Membangkitkan Minat Siswa melalui Pemikiran. PT Indeks. Jakarta. 434 hlm.

Jufri, W. 2013. Belajar dan Pembelajaran Sains. PT. Rineka Cipta. Bandung. 200 hlm.

Kemendikbud. 2011. Survey Internasional PISA. (online).

(http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-pisa, diakses pada 3 Maret 2015; 17:10 WIB).

Kumara, A. 2001. Dampak Kemampuan Verbal terhadap Kualitas Ekspresi Tulis. Jurnal Psikologi 2001. No. 1. 35-40. (online).

(http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/121/112, diakses pada 30 April 2015; 11.11 WIB).

Kunandar. 2011. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Rajawali Pres. Jakarta. 441 hlm.

Kusumah, W. 2009. Horeee, Soalnya Pilihan Ganda Semua! (online).

(http://edukasi.kompasiana.com/2009/11/01/horeee-soalnya-pilihan-ganda-semua-20801.html, diakses pada 1 Mei 2015; 11.42 WIB).

Lewy. 2014. Pengembangan Soal untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Kelas IX Akselerasi SMP Xaverius Maria Palembang, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 3. No. 2, Desember 2009.14-28. (online).

(http://eprints.unsri.ac.id/820/1/2_Lewy_14-28.pdf, diakses pada 1 Mei 2015; 11.03 WIB).

Magsino, R.M. 2014.Enhancing Higher Order Thinking Skills in a Marine Biology Class through Problem-Based Learning. Asia Pasific Journal of Multidisciplinary Research. Vol. 2. No. 5. October 2014. 1-6. (online). (http://isindexing.com/isi/papers/1410911441.pdf, diakses pada 7 November 2014; 11:54 WIB).

Masek, A. dan S. Yamin. 2012. The Impact of Instructional Methods on Critical Thinking: A Comparison of Problem-Based Learning and Conventional Approach in Engineering Education. International Scholarlu Research Network. ISRN Education. Vol. 2012. 1-6. (online).

(http://downloads.hindawi.com/journals/isrn/2012/759241.pdf, diakses pada 27 April 2015; 11.24 WIB).


(62)

59

McPhee, A.D. 2002. Problem-Based Learning in Initial Teacher Education: Taking the Agenda Forward. Journal of Educational Enquiry, Vol. 3. No. 1. 2002. 60-78. (online).

(http://www.hear.ac.uk/assets/Documents/subjects/escalate/5675.pdf, diakses pada 27 Februari 2015; 09:12 WIB).

Ommundsen, P. 2015. Problem-Based Learning in Biology with 20 case

examples. (online).(http://capewest.ca/pbl.html, diakses pada 3 Maret 2015; 17:20 WIB).

Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12. Gramedia. Jakarta. 279 hlm.

Purwanto, N. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Penerbit Remaja Rosdakarya. Bandung. 166 hlm.

Rahayu, S.P. 2010. Deskripsi Sikap Siswa Terhadap Lingkungan Melalui Pendekatan Pengungkapan Nilai (Values Clarification Approach) Pada Kelas VII MTs Guppi Natar. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 167 hlm.

Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi bagi Guru, Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas..

Penerbit kencana Prenada Media Group. Jakarta. 316 hlm.

Sanjaya, W. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana. Jakarta. 300 hlm.

Savery, J.R. 2006. Overview of Problem-based Learning: Definitions and

Distinctions. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Vol. 1. No. 1. May 2006. 9-20. (online).

(http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1002&context=ijpb

l&sei-redir=1&referer=http%3A%2F%2Fscholar.google.com%2Fscholar%3Fq %3Dproblem%2Bbased%2Blearning%2Bjournal%26btnG%3D%26hl%3 Did%26as_sdt%3D0%252C5, diakses pada 27 Februari 2015; 08:54 WIB).

Setyawati, LY. 2013. Wawasan Globalisasi dalam Pendidikan. (online). (http://punya-lilyyunisetyawati.blogspot.com/2013/10/makalah-wawasan-globalisasi-dalam.html, diakses pada 21 Desember 2014; 15:21 WIB). Shriner, M. 2015. Critical Thinking in Higher Education: An Annotated

Bibliography. Vol. 1, 2006. 59-66. (online).

(http://www.insightjournal.net/Volume1/Critical%20Thinking%20in%20Hi gher%20Education-%20An%20Annotated%20Bibliography.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 17:04 WIB).


(63)

60

Sudarma, M. 2013. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Rajawali Pers. Jakarta. 266 hlm.

Suwandi, T. 2012. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Open-Ended

terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah oleh Siswa.

(Skripsi). Unila. Bandar Lampung. 117 hlm.

Thompson, C. 2011. Critical Thinking across the Curriculum: Process over Output. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 1. No. 9. Special Issue, July 2011. 1-7. (online).

(http://www.ijhssnet.com/journals/Vol._1_No._9_Special_Issue_July_2011/ 1.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:52 WIB).

Trihardiyanti. 2010. Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. (online).

(http://www.sd-binatalenta.com/arsipartikel/artikel_tri.pdf, diakses pada 10 Mei 2015; 23.50 WIB).

Wattimena, R.A.A. 2011. Metode Induksi dalam Penelitian Ilmiah. (online). (http://rumahfilsafat.com/2011/09/27/metode-induksi-di-dalam-penelitian-ilmiah/, diakses pada 3 Juni 2015; 01.14 WIB).

Wingate, U. 2011. ‘Argument!’ Helping Student Understand what Essay Writing

is about. Journal of English for Academic Purposes xxx. 2011. 1-10. (online).

(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31986262/JEAP_2011_ Argument.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires =1430307945&Signature=AnPFlx7sFQnbke45Vr5%2B60qNNMs%3D, diakses pada 29 April 2015; 17.45 WIB).

Zubaedi. 2012. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 418 hlm.


(1)

56

tidak menyimpang dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah dirancang.

2. Untuk guru, model Problem Based Learning (PBL) dapat digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan KBK oleh siswa pada Materi Pokok Peran Manusia dalam Pengelolaan Lingkungan.

3. Untuk siswa, sebaiknya lebih sering mengerjakan soal berbasis permasalahan sehingga kemampuan berpikir kritis dapat lebih mudah untuk ditingkatkan.

4. Untuk sekolah, lebih mendukung dan memfasilitasi guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan aktivitas belajar siswa dalam meningkatkan mutu sekolah.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

Akcay, B. 2009.Problem-Based Learning in Science Education. Journal of Turkish Science Education. Vol. 6. No. 1. April 2009. 26-36. (online). (https://www.pegem.net/dosyalar/dokuman/48116-20090429114931-04problem-based-learning-in-science-education.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:50 WIB).

Anggraeni, F.M. 2014. Studi tentang Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa Kelas XI IPA SMAN 1 Mantup pada Materi Statistika. (online).

(http://www.researchgate.net/publication/50928365_STUDI_TENTANG_K EMAMPUAN_KOMUNIKASI_MATEMATIKA_SISWA_KELAS_XI_IP A_SMAN_1_MANTUP_PADA_MATERI_STATISTIKA, diakses pada 30 April 2015; 11.41 WIB).

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi 2010). PT. Rineka Cipta. Jakarta. 228 hlm.

Budiarto, E. 2003. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 309 hlm.

Bruning, R., G. Schraw, and R. Ronning. 1995. Cognitive Psychology and Instruction 2nd edition. Prentice-Hall, Inc. USA. 434 hlm.

Chin, C. dan C. Li-Gek. 2015. Implementing Problem-Based Learning in Biology. 1-10. (online).

(http://www.tp.edu.sg/staticfiles/TP/files/centres/pbl/pbl_christinechinligekc hia.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:47 WIB).

Cinar, D. dan S. Bayraktar. 2014. The Effects of the Problem Based Learning Approach on Higher Order Thinking Skills in Elementary Science Education. 1-6. (online).

(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/3453412/4-libre.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=141 5339748&Signature=ts0EHcAFqUwr82s2AHSud%2Br7wIM%3D, diakses pada 7 November 2014; 11:59 WIB).


(3)

57

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. PT Rineka Cipta. Jakarta. 308 hlm.

Djamarah, S.B. 2005. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis (edisi revisi). PT Rineka Cipta. Jakarta. 226 hlm.

Foshay, W.R. dan A. Gibbons. 2005. Learning, Teaching, and Designing Problem-Solving: An Assessment. (online). (http://www.foshay.org, diakses pada 10 Mei 2015; 23:58 WIB).

GDC. 2015. The Importance of Teaching Critical Thinking. (online).

(https://globaldigitalcitizen.org/the-importance-of-teaching-critical-thinking, diakses pada 3 Maret 2015; 17:12 WIB).

Gelder, T. V. 2005.Teaching Critical Thinking: Some Lessons from Cognitive Science. College teaching. Vol. 53. No. 1. 2005. 41-46. (online).

(https://docs.google.com/viewer?a=v&pid=sites&srcid=ZGVmYXVsdGRv bWFpbnx0aW12YW5nZWxkZXJ8Z3g6NDI4Y2UyNjc4MDUxMzQxMg, diakses pada 3 Maret 2015; 16:35 WIB).

Guedri, Z. 2001. Problem Based Learning: Bringing Higher Order Thinking to Business Schools. Cahier de recherche OIPG. 2001. ISSN : 1495-9305. (online). (http://neumann.hec.ca/oipg/fichiers/2001-002_-_Problem-Based_Learning....pdf, diakses pada 7 November 2014; 11:52 WIB). Hake, R.R. 1999. Analizing Change/Gain Score. 1-4. (online).

(http://www.physics.indiana.edu/~sdi/AnalyzingChange-Gain.pdf, diakses pada 21 Desember 2014; 14:30 WIB).

Hamalik, O. 2011. Media Pendidikan. Alumni. Bandung. 246 hlm.

Hastriani, A. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. 158 hlm.

HEPI. 2015. Meta Analisis Berpikir Tingkat Tinggi vs Sains. (online).

(http://www.hepibali.org/index.php/kti/31-meta-analisis, diakses pada 3 Maret 2015; 17:32 WIB).

Hillman, W. 2003. Learning How to Learn: Problem-Based Learning. Australian Journal of Teacher Education. Vol. 28. No. 2. November 2003. 1-11. (online).

(http://ro.ecu.edu.au/cgi/viewcontent.cgi?article=1337&context=ajte, diakses pada 3 Maret 2015; 16:25 WIB).

Hosnan. 2014. Pendekatan Scientifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Ghalia Indonesia. Bogor. 456 hlm.


(4)

Jailani. 2014. Peningkatan Prestasi Belajar Biologi Melalui Pemberdayaan Penalaran Siswa. 47-52. (online).

(http://jurnal.unsyiah.ac.id/JBE/article/download/805/744, diakses pada 6 November 2014; 16:07 WIB).

Johnson, L. 2008. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik: Cara Membangkitkan Minat Siswa melalui Pemikiran. PT Indeks. Jakarta. 434 hlm.

Jufri, W. 2013. Belajar dan Pembelajaran Sains. PT. Rineka Cipta. Bandung. 200 hlm.

Kemendikbud. 2011. Survey Internasional PISA. (online).

(http://litbang.kemdikbud.go.id/index.php/survei-internasional-pisa, diakses pada 3 Maret 2015; 17:10 WIB).

Kumara, A. 2001. Dampak Kemampuan Verbal terhadap Kualitas Ekspresi Tulis. Jurnal Psikologi 2001. No. 1. 35-40. (online).

(http://jurnal.psikologi.ugm.ac.id/index.php/fpsi/article/view/121/112, diakses pada 30 April 2015; 11.11 WIB).

Kunandar. 2011. Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Rajawali Pres. Jakarta. 441 hlm.

Kusumah, W. 2009. Horeee, Soalnya Pilihan Ganda Semua! (online).

(http://edukasi.kompasiana.com/2009/11/01/horeee-soalnya-pilihan-ganda-semua-20801.html, diakses pada 1 Mei 2015; 11.42 WIB).

Lewy. 2014. Pengembangan Soal untuk Mengukur Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pokok Bahasan Barisan dan Deret Bilangan di Kelas IX Akselerasi SMP Xaverius Maria Palembang, Jurnal Pendidikan Matematika, Vol. 3. No. 2, Desember 2009. 14-28. (online).

(http://eprints.unsri.ac.id/820/1/2_Lewy_14-28.pdf, diakses pada 1 Mei 2015; 11.03 WIB).

Magsino, R.M. 2014.Enhancing Higher Order Thinking Skills in a Marine Biology Class through Problem-Based Learning. Asia Pasific Journal of Multidisciplinary Research. Vol. 2. No. 5. October 2014. 1-6. (online). (http://isindexing.com/isi/papers/1410911441.pdf, diakses pada 7 November 2014; 11:54 WIB).

Masek, A. dan S. Yamin. 2012. The Impact of Instructional Methods on Critical Thinking: A Comparison of Problem-Based Learning and Conventional Approach in Engineering Education. International Scholarlu Research Network. ISRN Education. Vol. 2012. 1-6. (online).

(http://downloads.hindawi.com/journals/isrn/2012/759241.pdf, diakses pada 27 April 2015; 11.24 WIB).


(5)

59

McPhee, A.D. 2002. Problem-Based Learning in Initial Teacher Education: Taking the Agenda Forward. Journal of Educational Enquiry, Vol. 3. No. 1. 2002. 60-78. (online).

(http://www.hear.ac.uk/assets/Documents/subjects/escalate/5675.pdf, diakses pada 27 Februari 2015; 09:12 WIB).

Ommundsen, P. 2015. Problem-Based Learning in Biology with 20 case

examples. (online). (http://capewest.ca/pbl.html, diakses pada 3 Maret 2015; 17:20 WIB).

Pratisto, A. 2004. Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik dan Rancangan Percobaan dengan SPSS 12. Gramedia. Jakarta. 279 hlm.

Purwanto, N. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Penerbit Remaja Rosdakarya. Bandung. 166 hlm.

Rahayu, S.P. 2010. Deskripsi Sikap Siswa Terhadap Lingkungan Melalui Pendekatan Pengungkapan Nilai (Values Clarification Approach) Pada Kelas VII MTs Guppi Natar. (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 167 hlm.

Riyanto, Y. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi bagi Guru, Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas.. Penerbit kencana Prenada Media Group. Jakarta. 316 hlm.

Sanjaya, W. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Kencana. Jakarta. 300 hlm.

Savery, J.R. 2006. Overview of Problem-based Learning: Definitions and

Distinctions. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning. Vol. 1. No. 1. May 2006. 9-20. (online).

(http://docs.lib.purdue.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1002&context=ijpb

l&sei-redir=1&referer=http%3A%2F%2Fscholar.google.com%2Fscholar%3Fq %3Dproblem%2Bbased%2Blearning%2Bjournal%26btnG%3D%26hl%3 Did%26as_sdt%3D0%252C5, diakses pada 27 Februari 2015; 08:54 WIB).

Setyawati, LY. 2013. Wawasan Globalisasi dalam Pendidikan. (online). (http://punya-lilyyunisetyawati.blogspot.com/2013/10/makalah-wawasan-globalisasi-dalam.html, diakses pada 21 Desember 2014; 15:21 WIB). Shriner, M. 2015. Critical Thinking in Higher Education: An Annotated

Bibliography. Vol. 1, 2006. 59-66. (online).

(http://www.insightjournal.net/Volume1/Critical%20Thinking%20in%20Hi gher%20Education-%20An%20Annotated%20Bibliography.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 17:04 WIB).


(6)

Sudarma, M. 2013. Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kreatif. Rajawali Pers. Jakarta. 266 hlm.

Suwandi, T. 2012. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Open-Ended terhadap Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah oleh Siswa. (Skripsi). Unila. Bandar Lampung. 117 hlm.

Thompson, C. 2011. Critical Thinking across the Curriculum: Process over Output. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 1. No. 9. Special Issue, July 2011. 1-7. (online).

(http://www.ijhssnet.com/journals/Vol._1_No._9_Special_Issue_July_2011/ 1.pdf, diakses pada 3 Maret 2015; 16:52 WIB).

Trihardiyanti. 2010. Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. (online).

(http://www.sd-binatalenta.com/arsipartikel/artikel_tri.pdf, diakses pada 10 Mei 2015; 23.50 WIB).

Wattimena, R.A.A. 2011. Metode Induksi dalam Penelitian Ilmiah. (online). (http://rumahfilsafat.com/2011/09/27/metode-induksi-di-dalam-penelitian-ilmiah/, diakses pada 3 Juni 2015; 01.14 WIB).

Wingate, U. 2011. ‘Argument!’ Helping Student Understand what Essay Writing is about. Journal of English for Academic Purposes xxx. 2011. 1-10. (online).

(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/31986262/JEAP_2011_ Argument.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires =1430307945&Signature=AnPFlx7sFQnbke45Vr5%2B60qNNMs%3D, diakses pada 29 April 2015; 17.45 WIB).

Zubaedi. 2012. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 418 hlm.


Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA MATERI POKOK EKOSISTEM TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII SMPN 13 Bandar Lampung Semester Genap T.P 2011/2012)

0 3 53

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA SUB MATERI POKOK KERUSAKAN/ PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Arjuna Bandar Lampung Tahun Pe

10 38 59

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DALAM TULISAN ARGUMENTATIF SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Ekperimen pada Siswa Kelas VII SMP Satya Dharma

2 29 64

PENGARUH PENGGUNAAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) BERBASIS MASALAH TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 21 Bandar Lampung Tahun

0 11 67

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas VII SMP Perintis 2 Bandar Lampung Tahun Pelajaran

2 26 71

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 14 Bandar Lampung T.P 2014/2015)

0 7 59

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI TERTULIS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Nusantara

1 14 73

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF PADA MATERI POKOK PENGARUH KEPADATAN POPULASI MANUSIA TERHADAP LINGKUNGAN (Studi Eksperimen Siswa Kelas VII SMP Negeri 2 Jati Agung Semester Genap TP. 2014/2015)

3 20 65

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI TERTULIS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas VII SMP Kartika II-2 Bandar Lampung Sem

0 7 60

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK PERAN MANUSIA DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Padjajaran Bandar Lampun

12 104 63