Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L) Merr)

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA
FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN
BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
SKRIPSI

OLEH:
ROSFIANITA M. NAPITUPULU
081524050

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA
FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN
BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
ROSFIANITA M. NAPITUPULU
081524050

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN SKRIPSI
ISOLASI DAN KARAKTERISASI SENYAWA
FLAVONOID UMBI DARI TUMBUHAN
BAWANG SABRANG (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)
OLEH:
ROSFIANITA M. NAPITUPULU
081524050
Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada tanggal : Juli 2011
Pembimbing I,

Panitia Penguji,

Prof.Dr.Siti Morin Sinaga,M.Sc.,Apt.
NIP 195008281976032002

Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt.
NIP 195304031983032001

Pembimbing II,
Prof. Dr. Siti Morin Sinaga,M.Sc.,Apt.
NIP 195008281976032002
Dr. Marline Nainggolan, MS., Apt.
NIP 195709091985112001
Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt.
NIP 195304031983032001

Dr. Suryadi Achmad, M.Sc., Apt.
NIP 195109081985031002
Medan, Juli 2011
Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP : 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
melimpahkan berkat dan anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
penelitian dan penulisan skripsi yang berjudul “Isolasi dan Karakterisasi Senyawa
Flavonoid Umbi dari Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L)
Merr)” untuk memenuhi syarat guna mencapai gelar sarjana farmasi pada
Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini dengan kerendahan hati penulis mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda tercinta T. M Napitupulu dan Ibunda
T. Gurning, serta kakanda dan adinda tersayang yang dengan penuh kesabaran dan
kasih sayang selalu memberi dorongan, bimbingan, nasehat serta doa.
Melalui tulisan ini ucapan terima kasih yang tulus dan ikhlas atas
bimbingan, petunjuk, pemberian fasilitas serta saran dan bantuan lainnya, sebelum
dan selama penelitian juga disampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah mensyahkan dan
memberikan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku dosen wali yang selama ini
telah banyak membina dan membimbing penulis selama masa
pendidikan.
3. Ibu Prof. Dr. Siti Morin Sinaga, M.Sc., Apt., dan Dr. Marline
Nainggolan, M.S., Apt., selaku dosen pembimbing yang telah
membimbing penulis dengan penuh kesabaran selama penelitian
hingga selesainya skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

4. Bapak Dr. M. Pandapotan Nasution., MPS., Apt, Bapak Drs. Suryadi
Achmad, M.Sc., Apt., dan Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt.,
selaku penguji dan memberikan masukan kepada penulis dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Dosen Staf Pengajar dan Asisten Laboratorium Fitokimia yang banyak
memberikan dorongan dan bantuan selama penelitian.
6. Teman-teman penulis khususnya Elwisda, Lastiur, Rogabe, Rosdiana,
Kak Vikha yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan
penelitian dan penulisan skripsi.
7. Semua mahasiswa/i farmasi khususnya farmasi ekstensi 2008 yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semangat
dan doanya.
Semoga skripsi ini dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi ilmu
pengetahuan khususnya pada ilmu farmasi. Penulis mengharapkan
kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Juli 2011
Penulis

(Rosfianita Napitupulu)

Universitas Sumatera Utara

Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid
dari Umbi Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

Abstrak
Telah dilakukan isolasi senyawa flavonoid umbi dari tumbuhan bawang
sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), yang dapat berkhasiat sebagai
antiemetik, disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul, diabetes
melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, kanker payudara, antimelanogenesis
dan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa
flavonoid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi terhadap
senyawa flavonoid dan hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV).
Terhadap serbuk umbi bawang sabrang dilakukan pemeriksaan
karakteristik simplisia dan skrining fitokimia, kemudian diekstraksi secara
maserasi dengan pelarut etanol 80%. Selanjutnya ekstrak etanol dipartisi dengan
pelarut n-heksan: air (1:1), kemudian dengan pelarut kloroform : air (1:1), fraksi
air direfluks dan difraksinasi dengan etilasetat. Fraksi etilasetat dianalisis secara
kromatografi kertas (KKt) dengan menggunakan lima jenis fase gerak yang
berbeda yaitu n-Butanol Asam asetat Air, Forestal, asam asetat 50%, asam asetat
15% dan asam klorida 1%, sedangkan sebagai penampak noda uap NH3, AlCl3
5% dan FeCl3 1%. Fraksi etilasetat dipisahkan dengan KKt preparatif
menggunakan fase gerak asam asetat 50% dan isolat yang diperoleh
dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift
reagent).
Hasil pemeriksaan makroskopik umbi bawang sabrang adalah berbentuk
bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau, serta berasa pahit.
Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan dengan pangkal daun di tengahnya dan
biasanya memiliki panjang 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil penetapan kadar air
dari serbuk simplisia diperoleh 8,98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%,
kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32% dan kadar abu
yang tidak larut dalam asam 0,84%. Hasil skrining fitokimia diperoleh adanya
alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakinon glikosida, tanin dan
triterpenoid/steroid. Hasil isolasi dari fraksi etilasetat diperoleh dua senyawa yaitu
F2 dengan harga Rf= 0,53 (berflouresensi jingga) diduga senyawa flavonoid
golongan flavon dengan gugus 5-OH pada cincin A dan F3 dengan harga Rf=
0,79 (berflouresensi biru) diduga senyawa flavonoid golongan flavon 4-OH pada
cincin B dan 6,7-diOH.

Kata

kunci:

umbi bawang sabrang, flavonoid,
spektrofotometri ultraviolet.

kromatografi

kertas,

Universitas Sumatera Utara

Isolation and Characterization of Flavonoids Compound
from Tree Bawang Sabrang Bulb (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

Abstract
The flavonoid compounds have been isolated from tree bawang sabrang
bulbs (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.), which can be efficacious as an
antiemetic, dysuria, colitis, dysentery, jaundice, wounds, ulcers, diabetes mellitus,
hypertension, lowering cholesterol, breast cancer, antimelanogenesis and as an
antioxidant. The purpose of this study was to isolated flavonoid compounds from
bawang sabrang bulbs and characterization of isolated with a ultraviolet
spectrophotometry (UV).
The characterization and phytochemical screening of the powder of
bawang sabrang bulb was extracted by maceration with 80% ethanol, and
partitioned with n-heksan : water (1:1), it was then partitioned with chloroform :
water (1:1), aqueous residue was refluxed and fractionated with ethylacetate. Each
of the ethylacetate fraction was analysed using paper chromatography five kinds
difficult with n-Butanol Acetic acid Water, Forestal, 50% acetic acid, 15% acetic
acid and 1% hydrochloric acid, visualisation using NH3 vapors, 5% aluminium
chloride and 1% ferry chloride. The ethylacetate fraction was separated by
preparative paper chromatography using 50% acetic acid as mobile phase and the
isolate were identified with spectrophotometry UV using shift reagent.
The results of macroscopic of bawang sabrang bulb is elongated oval
shaped, red, not odor and taste bitter. Bulb consists of 5-6 layers with a base of the
leaf in the center and usually has a length of 4-5 cm and 1-3 cm diameter. The
result of the determination of water content of 8.98% from simplex powder, levels
of water-soluble extract 8.03%, levels of soluble extract in ethanol 9.63%, 4.32%
total ash content and ash content that does not dissolve in acid 0.84%. The
phytochemical screening results indicate the existence of alkaloids, flavonoids,
glycosides, saponin, anthraquinone glycosides, tannins and triterpenoids/steroids.
Isolate from ethylacetate fraction obtained two pure isolate, that were F2 with Rf
value = 0,53 (orange fluoresence) that was flavon containing 5-OH groups in ring
A, whereas F3 with Rf = 0,79 (blue fluoresence) that was flavon containing 4-OH
groups in ring B and 6,7-diOH.
Keyword:

Bawang sabrang bulb,
UV spectrophotometry.

flavonoids,

paper

chromatography,

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Judul . ......................................................................................................

i

Halaman Pengesahan ..............................................................................

iii

Kata Pengantar ........................................................................................

iv

Abstrak ...................................................................................................

vi

Abstract ..................................................................................................

vii

Daftar Isi .................................................................................................

viii

Daftar Tabel ............................................................................................

xiii

Daftar Gambar . .......................................................................................

xiv

Daftar Lampiran ......................................................................................

xvi

BAB I PENDAHULUAN .....................................................................

1

1.1 Latar belakang ...........................................................................

1

1.2 Perumusan Masalah ...................................................................

2

1.3 Hipotesis ...................................................................................

3

1.4 Tujuan Penelitian ......................................................................

3

1.5 Manfaat Penelitian .....................................................................

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA . ............................................................

4

2.1 Uraian Tumbuhan . ......................................................................

4

2.1.1 Habitat ..............................................................................

4

2.1.2 Morfologi Tumbuhan ........................................................

4

2.1.3 Sistematika Tumbuhan . ....................................................

5

2.1.4 Nama daerah. .....................................................................

5

2.1.5 Kandungan kimia...............................................................

5

Universitas Sumatera Utara

2.1.6 Khasiat. .............................................................................

5

2.2 Flavonoid. ...................................................................................

6

2.3 Ekstraksi. ....................................................................................

10

2.4 Kromatografi kertas.....................................................................

12

2.5 Spektrofotometri ultraviolet.........................................................

15

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................

18

3.1 Alat dan Bahan ...........................................................................

18

3.1.1 Alat-alat yang digunakan ..................................................

18

3.1.2 Bahan-bahan ....................................................................

18

3.2 Pengambilan dan Pengolahan Sampel ........................................

19

3.2.1 Pengambilan Sampel ......................................................

19

3.2.2 Identifikasi Tumbuhan ...................................................

19

3.2.3 Pengolahan Sampel ........................................................

19

3.3 Pembuatan Pereaksi ...................................................................

20

3.3.1 Pereaksi Asam klorida 2 N .............................................

20

3.3.2 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N ...................................

20

3.3.3 Pereaksi besi (III) klorida 1% .........................................

20

3.3.4 Pereaksi Bouchardat .......................................................

20

3.3.5 Pereaksi Dragendorff .....................................................

20

3.3.6 Pereaksi Mayer ..............................................................

21

3.3.7 Pereaksi Molish .............................................................

21

3.3.8 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4 N ....................................

21

3.3.9 Pereaksi Liebermann-Burchard ......................................

21

3.3.10 Pereaksi Kalium Hidroksida 10% ...................................

21

Universitas Sumatera Utara

3.3.11 Pereaksi Aluminium Klorida 5% ....................................

21

3.3.12 Pereaksi Asam Sulfat 2 N................................................

22

3.3.13 Pereaksi BAA .................................................................

22

3.3.14 Pereaksi Forestal .............................................................

22

3.3.15 Pereaksi Asam Asetat 15% .............................................

22

3.3.16 Pereaksi Asam Asetat 50% .............................................

22

3.3.17 Pereaksi Asam Klorida 1% .............................................

22

3.4 Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang ....................

23

3.4.1 Pemeriksaan Makroskopik .............................................

23

3.5 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia .........................................

23

3.5.2 Penetapan Kadar Air ......................................................

23

3.5.3 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air ...........................

24

3.5.4 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol ......................

24

3.5.5 Penetapan Kadar Abu Total ...........................................

25

3.5.6 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam .............

25

3.6 Skrining Fitokimia ....................................................................

25

3.6.1 Pemeriksaan alkaloid .....................................................

25

3.6.2 Pemeriksaan flavonoid ...................................................

26

3.6.3 Pemeriksaan glikosida ....................................................

27

3.6.4 Pemeriksaan saponin ......................................................

27

3.6.5 Pemeriksaan glikosida antrakuinon ................................

27

3.6.6 Pemeriksaan glikosida sianogenik ...................................

28

3.6.7 Pemeriksaan tanin ..........................................................

28

3.6.8 Pemeriksaan triterpenoid/steroid ....................................

28

Universitas Sumatera Utara

3.7

Pembuatan Ekstrak ..................................................................

29

3.8

Isolasi Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Etanol .......................

30

3.9

Analisis Fraksi Etilasetat dengan Cara Kromatografi Kertas
(KKt) ......................................................................................

31

Pemisahan Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat dengan
Cara Kromatografi Kertas (KKt) Preparatif .............................

32

Uji Kemurnian terhadap Senyawa Flavonoid Hasil
Kromatografi Kertas Preparatif ...............................................

33

3.11.1 Uji kemurnian isolat hasil isolasi dengan KKt satu arah ..........

33

3.11.2 Uji kemurnian isolat hasil isolasi dengan KKt dua arah ….

33

3.10

3.11

3.12

Identifikasi Senyawa Hasil Isolasi ............................................

34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................

36

4.1

Hasil Identifikasi tumbuhan .......................................................

36

4.2

Hasil Pemeriksaan Makroskopik Umbi Bawang Sabrang ...........

36

4.3

Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia ................................

36

4.4

Hasil Ekstraksi dan Isolasi ………………………………………

40

4.5

Hasil Analisis Fraksi Etilasetat dengan cara Kromatografi Kertas
(KKt) ……………………………………………………………

40

Hasil Pemisahan Senyawa Flavonoid dari Fraksi Etilasetat
dengan cara KKt Preparatif …………………………………

41

4.7

Hasil pengujian dengan KKt Satu Arah dan Dua Arah ……….

41

4.8

Hasil Penafsiran Isolat F2 dan F3 secara Spektrofotometri UV….

42

4.6

4.8.1 Penafsiran spektrum ultraviolet untuk isolat F2 ……………….

42

4.8.2 Penafsiran spektrum ultraviolet untuk isolat F3 ………….........

48

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................

56

5.1

Kesimpulan .............................................................................

56

Universitas Sumatera Utara

5.2

Saran .......................................................................................

56

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

57

LAMPIRAN ...........................................................................................

60

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1. Hasil Karakterisasi Serbuk Simplisia Umbi Bawang Sabrang ..

38

Tabel 4.2. Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia Umbi bawang
Sabrang………………………………………………………..

39

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Struktur Kerangka dasar flavonoid…………………..…

6

Gambar 2.2. Struktur flavonoid dasar dengan kerangka penomoran…

6

Gambar 2.3. Struktur flavon dan struktur flavonol.………………….

7

Gambar 2.4. Struktur isoflavon………………………………………

8

Gambar 2.5. Struktur flavanon dan Struktur flavanonol …………….

9

Gambar 2.6. Struktur antosianin……………………………………….

9

Gambar 2.7. Struktur auron dan Struktur khalkon…………………….

10

Gambar 4.1. Spektrum ultraviolet dari isolat F2 dalam metanol……….

42

Gambar 4.2. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol dan
setelah penambahan NaOH 2 N………………………

43

Gambar 4.3. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol
dengan penambahan NaOH 2 N dan spektrum yang
diukur setelah 5 menit…………………………………

44

Gambar 4.4. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol dan
setelah penambahan AlCl3 5%/HCl 6 N ………………

45

Gambar 4.5. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol
dengan penambahan AlCl3 5% dan setelah penambahan
AlCl3 5%/HCl 6 N ……………………………………

46

Gambar 4.6. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol dan
setelah penambahan NaOAc …………………………

47

Gambar 4.7. Spektrum ultraviolet isolat F2 dalam metanol dan
setelah penambahan NaOAc/H3BO3 …………………

47

Gambar 4.8. Struktur Flavonoid dengan gugus 5-OH flavon…………

48

Gambar 4.9. Spektrum ultraviolet dari isolat F3 dalam metanol …..

49

Universitas Sumatera Utara

Gambar 4.10. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol dan
setelah penambahan NaOH 2 N ……………………….

50

Gambar 4.11. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol
dengan penambahan NaOH 2N dan spektrum yang diukur
setelah 5 menit …………………………………………..

50

Gambar 4.12. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol dan
setelah penambahan AlCl3 5%/HCl 6N ……………

51

Gambar 4.13. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol
dengan penambahan AlCl3 5% dan setelah penambahan
AlCl3 5%/HCl 6 N ……………………………………..

52

Gambar 4.14. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol dan
setelah penambahan NaOAc ……………………………

53

Gambar 4.15. Spektrum ultraviolet isolat F3 dalam metanol dan setelah
penambahan NaOAc/H3BO3 …………………………..

54

Gambar 4.16. Struktur Flavonoid dengan gugus 4-OH pada cincin B
dan 6,7-diOH flavon……………………………………

55

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.

Hasil Identifikasi Tumbuhan bawang sabrang (Eleutherin
palmifolia (L.) Merr) ......................................................

60

Lampiran 2.

Gambar Tumbuhan, Umbi, Simplisia bawang sabrang ...

61

Lampiran 3.

Perhitungan Kadar Air Serbuk Simplisia Umbi Bawang
Sabrang ..........................................................................

62

Perhitungan Kadar Sari Larut dalam Air Serbuk
Simplisia Umbi Bawang sabrang ....................................

63

Perhitungan Kadar Sari Larut dalam Etanol Serbuk
Simplisia Umbi Bawang Sabrang ...................................

64

Perhitungan Kadar Abu Total Serbuk Simplisia Umbi
Bawang Sabrang .............................................................

65

Perhitungan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam Serbuk
Simplisia Umbi Bawang Sabrang ...................................

66

Kromatogram hasil KKt fraksi etilasetat dengan fase
gerak BAA .....................................................................

67

Kromatogram hasil KKt fraksi etilasetat dengan fase
gerak Forestal ................................................................

69

Lampiran 10. Kromatogram hasil KKt fraksi etilasetat dengan fase
gerak asam asetat 50% ...................................................

71

Lampiran 11. Kromatogram hasil KKt fraksi etilasetat dengan fase
gerak asam asetat 15% ...................................................

73

Lampiran 12. Kromatogram hasil KKt fraksi etilasetat dengan fase
gerak asam klorida 1% v/v ..............................................

75

Lampiran 13. Pembagian kromatogram hasil KKt preparatif dengan
fase gerak asam asetat 50% ............................................

77

Lampiran 14. Kromatogram hasil KKt isolat F2 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak BAA ..........

78

Lampiran 15. Kromatogram hasil KKt isolat F2 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak Forestal ......

79

Lampiran 4.

Lampiran 5.

Lampiran 6.

Lampiran 7.

Lampiran 8.

Lampiran 9.

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 16. Kromatogram hasil KKt isolat F2 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak asam asetat
50% ...............................................................................

80

Lampiran 17. Kromatogram hasil KKt isolat F3 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak BAA ...........

81

Lampiran 18. Kromatogram hasil KKt isolat F3 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak Forestal ......

82

Lampiran 19. Kromatogram hasil KKt isolat F3 menggunakan fase
diam kertas Whatmann No.1 dan fase gerak asam asetat
50% ...............................................................................

83

Lampiran 20. Kromatogram hasil uji kemurnian isolat F2 dengan KKt
2 arah menggunakan fase diam kertas Whatmann No.1,
fase gerak I asam asetat 50% dan fase gerak Forestal .....

84

Lampiran 21. Kromatogram hasil uji kemurnian isolat F3 dengan KKt
2 arah menggunakan fase diam kertas Whatmann No.1,
fase gerak I BAA dan fase gerak asam asetat 50% .........

85

Lampiran 22. Harga Rf Hasil Uji Kemurnian Kromatografi Kertas Satu
Arah ...............................................................................

86

Universitas Sumatera Utara

Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Flavonoid
dari Umbi Tumbuhan Bawang Sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

Abstrak
Telah dilakukan isolasi senyawa flavonoid umbi dari tumbuhan bawang
sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), yang dapat berkhasiat sebagai
antiemetik, disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul, diabetes
melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol, kanker payudara, antimelanogenesis
dan sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh senyawa
flavonoid dari umbi bawang sabrang dan melakukan karakterisasi terhadap
senyawa flavonoid dan hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV).
Terhadap serbuk umbi bawang sabrang dilakukan pemeriksaan
karakteristik simplisia dan skrining fitokimia, kemudian diekstraksi secara
maserasi dengan pelarut etanol 80%. Selanjutnya ekstrak etanol dipartisi dengan
pelarut n-heksan: air (1:1), kemudian dengan pelarut kloroform : air (1:1), fraksi
air direfluks dan difraksinasi dengan etilasetat. Fraksi etilasetat dianalisis secara
kromatografi kertas (KKt) dengan menggunakan lima jenis fase gerak yang
berbeda yaitu n-Butanol Asam asetat Air, Forestal, asam asetat 50%, asam asetat
15% dan asam klorida 1%, sedangkan sebagai penampak noda uap NH3, AlCl3
5% dan FeCl3 1%. Fraksi etilasetat dipisahkan dengan KKt preparatif
menggunakan fase gerak asam asetat 50% dan isolat yang diperoleh
dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift
reagent).
Hasil pemeriksaan makroskopik umbi bawang sabrang adalah berbentuk
bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau, serta berasa pahit.
Umbi lapis terdiri dari 5-6 lapisan dengan pangkal daun di tengahnya dan
biasanya memiliki panjang 4-5 cm dan diameter 1-3 cm. Hasil penetapan kadar air
dari serbuk simplisia diperoleh 8,98%, kadar sari yang larut dalam air 8,03%,
kadar sari yang larut dalam etanol 9,63%, kadar abu total 4,32% dan kadar abu
yang tidak larut dalam asam 0,84%. Hasil skrining fitokimia diperoleh adanya
alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, antrakinon glikosida, tanin dan
triterpenoid/steroid. Hasil isolasi dari fraksi etilasetat diperoleh dua senyawa yaitu
F2 dengan harga Rf= 0,53 (berflouresensi jingga) diduga senyawa flavonoid
golongan flavon dengan gugus 5-OH pada cincin A dan F3 dengan harga Rf=
0,79 (berflouresensi biru) diduga senyawa flavonoid golongan flavon 4-OH pada
cincin B dan 6,7-diOH.

Kata

kunci:

umbi bawang sabrang, flavonoid,
spektrofotometri ultraviolet.

kromatografi

kertas,

Universitas Sumatera Utara

Isolation and Characterization of Flavonoids Compound
from Tree Bawang Sabrang Bulb (Eleutherine palmifolia (L.) Merr)

Abstract
The flavonoid compounds have been isolated from tree bawang sabrang
bulbs (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.), which can be efficacious as an
antiemetic, dysuria, colitis, dysentery, jaundice, wounds, ulcers, diabetes mellitus,
hypertension, lowering cholesterol, breast cancer, antimelanogenesis and as an
antioxidant. The purpose of this study was to isolated flavonoid compounds from
bawang sabrang bulbs and characterization of isolated with a ultraviolet
spectrophotometry (UV).
The characterization and phytochemical screening of the powder of
bawang sabrang bulb was extracted by maceration with 80% ethanol, and
partitioned with n-heksan : water (1:1), it was then partitioned with chloroform :
water (1:1), aqueous residue was refluxed and fractionated with ethylacetate. Each
of the ethylacetate fraction was analysed using paper chromatography five kinds
difficult with n-Butanol Acetic acid Water, Forestal, 50% acetic acid, 15% acetic
acid and 1% hydrochloric acid, visualisation using NH3 vapors, 5% aluminium
chloride and 1% ferry chloride. The ethylacetate fraction was separated by
preparative paper chromatography using 50% acetic acid as mobile phase and the
isolate were identified with spectrophotometry UV using shift reagent.
The results of macroscopic of bawang sabrang bulb is elongated oval
shaped, red, not odor and taste bitter. Bulb consists of 5-6 layers with a base of the
leaf in the center and usually has a length of 4-5 cm and 1-3 cm diameter. The
result of the determination of water content of 8.98% from simplex powder, levels
of water-soluble extract 8.03%, levels of soluble extract in ethanol 9.63%, 4.32%
total ash content and ash content that does not dissolve in acid 0.84%. The
phytochemical screening results indicate the existence of alkaloids, flavonoids,
glycosides, saponin, anthraquinone glycosides, tannins and triterpenoids/steroids.
Isolate from ethylacetate fraction obtained two pure isolate, that were F2 with Rf
value = 0,53 (orange fluoresence) that was flavon containing 5-OH groups in ring
A, whereas F3 with Rf = 0,79 (blue fluoresence) that was flavon containing 4-OH
groups in ring B and 6,7-diOH.
Keyword:

Bawang sabrang bulb,
UV spectrophotometry.

flavonoids,

paper

chromatography,

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kekayaan jenis tumbuhan di Indonesia cukup berlimpah, termasuk di
dalamnya tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan.
Penggunaan dan permintaan terhadap tanaman obat tradisional bertambah
sehingga penelitian kearah obat-obatan tradisional semakin meningkat. Hal ini
disebabkan efek samping obat tradisional yang lebih kecil dibanding obat modern
(Fajiriah, dkk., 2007).
Salah satu tumbuhan berkhasiat yang digunakan sebagai obat adalah umbi
dari tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr), termasuk suku
Iridaceae. Tumbuhan ini dapat tumbuh hampir di setiap daerah di Indonesia
seperti di Kalimantan, Jawa dan Sumatera. Bentuk dan warna umbi bawang
sabrang mirip dengan bawang merah (Nawawi, dkk., 2007). Umbi tumbuhan ini
banyak digunakan sebagai obat kanker yaitu dengan cara merebus umbinya
dengan air atau dimakan, namun informasi tentang tumbuhan ini masih sedikit
sekali. Hasil uji yang telah dilakukan

menunjukkan bahwa tanaman bawang

sabrang memiliki hampir semua kandungan fitokimia, antara lain alkaloid,
glikosida, flavonoid, fenolik dan steroid (Galingging, 2009). Umbinya bermanfaat
sebagai antiemetik, disuria, radang usus, disentri, penyakit kuning, luka, bisul
(Ogata, 1995; Heyne, 1987), diabetes melitus, hipertensi, menurunkan kolesterol
dan kanker payudara (Galingging, 2009), antimelanogenesis dan sebagai
antioksidan (Arung, dkk., 2009).

Universitas Sumatera Utara

Senyawa flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang
tersebar jumlahnya dan digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati
gangguan hati, menghambat pendarahan, inhibitor kuat, antihipertensi, antivirus,
antiinflamasi dan sitotoksik. Alasan ini yang menjelaskan kenapa tumbuhan yang
mengandung senyawa flavonoid banyak digunakan sebagai obat tradisional
(Farnsworth, 1966; Robinson, 1995).
Salah satu kandungan senyawa kimia dari umbi tumbuhan bawang sabrang
adalah flavonoid dan dapat digunakan sebagai pengobatan kanker payudara.
(Wardani, 2009). Berdasarkan hal diatas maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian terhadap umbi dari tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia
(L.) Merr). Pada penelitian ini dilakukan karakterisasi simplisia, skrining
fitokimia, isolasi senyawa flavonoid menggunakan kromatografi kertas (KKt)
serta identifikasi senyawa hasil isolasi dengan spektrofotometri ultraviolet (UV)
menggunakan pereaksi geser (shift reagent).

1.2 Perumusan Masalah
1.

Apakah senyawa flavonoid yang terdapat pada umbi dari tumbuhan bawang
sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dapat diisolasi dengan metode
KKt?

2. Apakah senyawa flavonoid hasil isolasi dapat dikarakterisasi secara
spektrofotometri UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent)?

Universitas Sumatera Utara

1.3 Hipotesis
1.

Senyawa flavonoid yang terdapat pada umbi dari tumbuhan bawang sabrang
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr) dapat diisolasi dengan metode KKt.

2.

Senyawa flavonoid hasil isolasi dapat dikarakterisasi secara spektrofotometri
UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent).

1.4 Tujuan Penelitian
1. Mengisolasi senyawa flavonoid umbi dari tumbuhan bawang sabrang
(Eleutherine palmifolia (L.) Merr).
2. Melakukan karakterisasi senyawa flavonoid hasil isolasi umbi dari tumbuhan
bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) secara spektrofotometri
UV menggunakan pereaksi geser (shift reagent).

1.5 Manfaat Penelitian
Sebagai informasi tentang senyawa flavonoid hasil isolasi umbi dari
tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr).

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan
Uraian tumbuhan meliputi habitat dan daerah tumbuh, morfologi
tumbuhan, sistematika tumbuhan, nama daerah, kandungan kimia dan khasiat.
2.1.1 Habitat
Terna bawang sabrang berasal dari Amerika tropis, di Jawa dipelihara
sebagai tanaman hias dan di beberapa tempat tumbuh liar antara 600 hingga
1500 m di atas permukaan laut, kadang-kadang didapati dalam jumlah besar di
pinggir-pinggir jalan yang berumput dan di dalam kebun-kebun teh, kina dan
karet (Heyne, 1987; Ogata, 1995).
2.1.2 Morfologi Tumbuhan
Tumbuhan ini merumpun sangat kuat, tinggi 26 hingga 50 cm. Umbi
berbentuk bulat telur memanjang, berwarna merah dan tidak berbau. Bunga
berwarna putih, mekar jam lima sore hari, dan menutup kembali pada jam tujuh.
Daun mirip dengan daun anggrek tanah, hijau bergerigi dengan lebar beberapa jari
(Juhara, 2009). Daun tunggal, letak daun berhadapan, warna daun hijau muda,
bentuk daun sangat panjang dan meruncing (acicular), tepi daun halus tanpa
gerigi (entire), pangkal daun berbentuk runcing (acute) dan ujung daun meruncing
(acuminate) permukaan daun atas dan bawah halus (glabrous), tulang daun
paralel/sejajar (Krismawati dan Sabran, 2006).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Sistematika Tumbuhan
Sistematika dari tumbuhan bawang sabrang (Tjitrosoepomo, 2007) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Liliales

Famili

: Iridaceae

Genus

: Eleutherine

Spesies

: Eleutherine palmifolia (L.) Merr.

2.1.4 Nama Daerah
Nama daerah dari tumbuhan bawang sabrang adalah sebagai berikut:
bawang hantu (Kalimantan); brambang sabrang, luluwan sapi, teki sabrang,
bebawangan beureum, bawang siem (Jawa); bawang kapal (Sumatera).
2.1.5 Kandungan Kimia
Bawang sabrang mengandung senyawa-senyawa yang meliputi alkaloid,
glikosida, flavonoid, fenolik, triterpenoid/steroid dan tanin (Galingging, 2009).
2.1.6 Khasiat
Umbi tumbuhan bawang sabrang digunakan sebagai diuretik, pencahar,
antiemetik. Rebusan umbi sebagai astringen, menyembuhkan disentri, hati dan
penyakit kelamin. Daunnya digunakan sebagai antipiretik dan antiemetik (Ogata,
1995). Menurut Kusuma, dkk., (2010), komponen aktif tumbuhan ini mempunyai
aktivitas sebagai antidermatofit, antimelanogenesis dan antikanker.

Universitas Sumatera Utara

2.2 Flavonoid
Senyawa flavonoid adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua
cincin aromatik yang dihubungkan oleh tiga satuan karbon (Sastrohamidjojo,
1996; Markham, 1988; Manitto, 1992). Golongan flavonoid dapat digambarkan
sebagai deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya, kerangka karbonnya terdiri atas dua
gugus C6 disambungkan oleh rantai alifatik tiga-karbon (Robinson, 1995).
Gambar struktur kerangka dasar flavonoid dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1. Struktur Kerangka dasar flavonoid

Flavonoid mempunyai cincin piran yang menghubungkan rantai tigakarbon dengan cincin benzen (Robinson, 1995). Setiap cincin diberi tanda: A, B
dan C; atom karbon dinomori dengan angka biasa pada cincin A dan C, serta
angka beraksen untuk cincin B (Markham, 1988). Gambar struktur flavonoid
dengan kerangka penomoran dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. Struktur flavonoid dasar dengan kerangka penomoran

Universitas Sumatera Utara

Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan, terikat pada gula sebagai
glikosida. Aglikon flavonoid mungkin saja terdapat dalam beberapa bentuk
kombinasi glikosida dalam satu tumbuhan, sehingga dalam menganalisis
flavonoid biasanya lebih baik bila kita memeriksa aglikon yang terdapat dalam
ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis dari pada mengamati bentuk
glikosidanya yang rumit (Harborne, 1987). Menurut Robinson (1995), senyawa
flavonoid dapat dibedakan menjadi :
1.

Flavon dan Flavonol
Flavon dan flavonol merupakan pigmen berwarna kuning yang tersebar

secara luas pada tumbuhan tinggi (Robinson, 1995; Tyler, et al., 1976). Flavon
sering terdapat sebagai glikosida. Aglikon flavonol yang umum, yaitu : kaemferol,
kuersetin dan mirisetin. Flavon juga terdapat sebagai glikosida tetapi jenis
glikosidanya lebih sedikit daripada jenis glikosida pada flavonol. Jenis yang
paling umum yaitu: 7-glukosida. Flavon berbeda dengan flavonol karena pada
flavon tidak terdapat gugus 3-OH. Hal ini mempengaruhi serapan UV, gerakan
kromatografi, serta reaksi warnanya, dan karena itu, flavon dapat dibedakan dari
flavonol berdasarkan ketiga sifat tersebut (Harborne, 1987). Gambar struktur
flavonoid dari flavon dan flavonol dapat dilihat pada gambar 2.3.

Gambar 2.3.a. Struktur Flavon

Gambar 2.3.b. Struktur Flavonol

Universitas Sumatera Utara

2.

Isoflavon
Isoflavon merupakan golongan flavonoid yang langka dan umumnya

terdapat pada anak suku Leguminosae (Papilionoideae) (Harborne, 1987).
Beberapa isoflavon memberikan warna biru muda cemerlang dengan sinar UV
bila diuapi amonia, tetapi kebanyakan tampak sebagai bercak lembayung pudar
yang dengan amonia berubah menjadi coklat pudar (Harborne, 1987). Gambar
struktur flavonoid dari isoflavon dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4. Struktur Isoflavon
3.

Flavanon dan Flavanonol
Senyawa ini hanya terdapat dalam jumlah yang sedikit sekali jika

dibandingkan dengan golongan flavonoid lainnya. Kedua senyawa ini tidak
berwarna atau hanya kuning sedikit. Beberapa glikosida flavanon (atau
dihidroflavon) yang dikenal, yaitu: hesperidin dan naringin, sedangkan flavanonol
(atau dihidroflavonol) merupakan flavonoid yang paling kurang dikenal dan tidak
diketahui apakah senyawa ini terdapat sebagai glikosida (Robinson, 1995).
Gambar struktur flavonoid dari flavonon dan flavononol dapat dilihat pada
gambar 2.5.

Universitas Sumatera Utara

Gambar
2.5.a. Struktur Flavanon
4.

Gambar 2.5.b. Struktur Flavanonol

Antosianin
Antosianin merupakan zat warna yang paling penting dan tersebar paling

luas dalam tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini adalah
penyebab hampir semua warna merah jambu, merah marak, merah, merah
senduduk, ungu dan biru dalam daun, bunga dan buah pada tumbuhan tinggi
(Harborne, 1987; Bohm, 1998). Antosianin selalu terdapat sebagai glikosida dan
bila antosianin dihidrolisis dengan asam akan terbentuk antosianidin yang
merupakan aglikon dari antosianin (Robinson, 1995; Salisbury and Ross, 1995).
Antosianin yang paling umum, yaitu sianidin yang berwarna merah lembayung
(Harborne, 1987). Gambar struktur flavonoid dari antosianin dapat dilihat pada
gambar 2.6.

Gambar 2.6. Antosianidin
5.

Auron dan Kalkon
Auron dan kalkon merupakan pigmen kuning yang bila dideteksi dengan

uap amonia akan menghasilkan warna jingga atau merah. Salah satu kalkon yang
umum, yaitu: butein, dan salah satu auron yang umum, yaitu: aureusidin.
Keduanya terdapat di alam sebagai glikosida dan terdapat khas dalam suku

Universitas Sumatera Utara

Compositae (Harborne, 1987). Gambar struktur flavonoid dari auron dan kalkon
dapat dilihat pada gambar 2.7.

Gambar 2.7.a. Struktur Auron

Gambar 2.7.b. Struktur Kalkon

2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Senyawa
aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam
golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain. Diketahuinya senyawa
aktif yang dikandung oleh simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan
cara ekstraksi yang tepat. Simplisia yang lunak seperti rimpang dan daun mudah
diserap oleh pelarut, karena itu pada proses ekstraksi tidak perlu diserbuk sampai
halus. Simplisia yang keras seperti biji, kulit kayu dan kulit akar susah diserap
oleh pelarut, karena itu perlu diserbuk sampai halus (Ditjen POM, 2000).
Metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000) ada beberapa cara, yaitu:
maserasi, perkolasi, refluks, sokletasi, digesti, infus dan dekok.
1. Maserasi
Maserasi adalah suatu cara penyarian simplisia dengan cara merendam
simplisia tersebut dalam pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur kamar, sedangkan remaserasi adalah pengulangan

Universitas Sumatera Utara

penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama dan
seterusnya. Keuntungan metode maserasi adalah prosedur dan peralatannya
sederhana (Agoes, 2007; Depkes, 1986; Ditjen POM, 2000; Syamsuni, 2006)).
2. Perkolasi
Perkolasi adalah suatu cara penyarian simplisia menggunakan perkolator
dimana simplisianya terendam dalam pelarut yang selalu baru dan umumnya
dilakukan pada temperatur kamar. Prosesnya terdiri dari tahapan pengembangan
bahan,

tahap

maserasi

antara,

tahap

perkolasi

sebenarnya

(penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus sampai diperoleh ekstrak
(perkolat) (Ditjen POM, 2000; Syamsuni, 2006)).
Keuntungan metode perkolasi adalah proses penarikan zat berkhasiat dari
tumbuhan lebih sempurna, sedangkan kerugiannya adalah membutuhkan waktu
yang lama dan peralatan yang digunakan mahal (Agoes, 2007).

3. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya
dalam jangka waktu tertentu dimana pelarut akan terkondensasi menuju pendingin
dan kembali ke labu (Ditjen POM, 2000; Mayo, et al., 1955; Landgrebe, 1982).
4. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi kontinu menggunakan alat soklet dimana pelarut
akan terkondensasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh membasahi
sampel dan mengisi bagian tengah alat soklet. Tabung sifon juga terisi dengan
larutan ekstraksi dan ketika mencapai bagian atas tabung sifon, larutan tersebut

Universitas Sumatera Utara

akan kembali ke dalam labu (Ditjen POM, 2000; Mayo, et al., 1955; Landgrebe,
1982).
5. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar, umumnya dilakukan pada
suhu 40-60oC (Ditjen POM, 2000; Syamsuni, 2006).
6. Infundasi
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama 1520 menit (Ditjen POM, 2000; Syamsuni, 2006; Anief, 2000).
7. Dekoktasi
Dekok adalah ekstraksi pada suhu 90oC- 98oC menggunakan pelarut air
selama 30 menit (Ditjen POM, 2000; Agoes, 2007).
2.4 Kromatografi Kertas
Kromatografi kertas merupakan metode kromatografi cair-cair (KCC)
dengan fase diam cair, biasanya air yang berada pada serabut kertas (Gritter, et al.,
1991). Metode ini merupakan jenis dari sistem partisi dimana fase gerak biasanya
merupakan campuran dari satu atau lebih pelarut-pelarut organik dan air. Kertas
yang digunakan pada percobaan awal adalah kertas Whatmann No.1, sedangkan
kertas Whatmann No.3 biasanya digunakan untuk pemisahan pada jumlah yang
lebih besar karena dapat menampung lebih banyak cuplikan (Sastrohamidjojo,
1985a).
Jenis-jenis fase gerak yang biasa digunakan pada analisis flavonoid antara
lain : BAA (n-butanol : asam asetat : air = 4 : 1 : 5), Forestal (asam asetat : air :
asam klorida = 30 : 10 : 3), asam format (asam formiat : air : asam klorida = 5 : 3 :

Universitas Sumatera Utara

2), Bu/HCl (n-butanol : asam klorida 2 N = 1 : 1), asam klorida 1%, fenol (4 g) :
air (1 ml) (Markham, 1988; Harborne, 1987), TBA (t-butanol : asam asetat : air =
3 : 1 : 1), KAA (kloroform : asam asetat : air = 30 : 15 : 2), BEA (n-butanol :
etanol : air = 4 : 1 : 2,2), benzen : asam asetat : air (125 : 72 : 3), EPAA (etil asetat
: piridin : asam asetat : air = 36 : 36 : 7 : 21), air, asam asetat 5%, asam asetat
15%, asam asetat 50% dan BBPA (n-butanol : benzen : piridin : air = 5 : 1 : 3 : 3)
(Markham, 1988).
Adapun jenis penyemprot yang dapat digunakan pada analisis flavonoid
antara lain: larutan aluminium klorida 5% dalam metanol, larutan kompleks
difenil-asam borat-etanolamin 1% dalam metanol, asam sulfanilat yang
terdiazotasi, vanilin-asam klorida (Markham, 1988), uap amonia dan larutan besi
(III) klorida 1% dalam air (Harborne, 1987).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan pemisahan dengan
kromatografi kertas (Sastrohamidjojo, 1985a) :
1. Metode pemisahan (penaikan, penurunan atau mendatar).
2. Macam dari kertas.
3. Pemilihan dan pembuatan pelarut (fase gerak).
4. Kesetimbangan dalam bejana yang dipilih.
5. Pembuatan cuplikan.
6. Waktu pengembangan.
7. Metode deteksi dan identifikasi
Kromatografi kertas dapat dikembangkan dengan cara menaik, menurun,
dan mendatar.
1. Menaik
Pada kromatografi kertas menaik, ujung bawah kertas dicelupkan ke dalam
fase gerak hingga fase gerak merambat naik pada kertas (Depkes, 1979a). Kertas

Universitas Sumatera Utara

digantungkan pada bagian tutup bejana kromatografi dan fase gerak diletakkan di
bagian bawah bejana (Sastrohamidjojo, 1985a; Gritter, et al., 1991).
2. Menurun
Pemisahan zat dengan cara kromatografi kertas menurun dilakukan dengan
membiarkan fase gerak merambat turun pada kertas kromatografi (Depkes,
1979a).
Bejana yang digunakan berukuran lebih besar terbuat dari gelas, platina
atau logam tahan karat yang ditutup bagian atasnya untuk mencegah penguapan
dari pelarut, juga dilengkapi dengan wadah pelarut yang dipasang pada penopang.
Kertas kromatografi dicelupkan ke dalam pelarut dan diberi penahan dari batang
gelas agar tidak terlepas (Gritter, et al., 1991; Sastrohamidjojo, 1985a).
3. Mendatar
Pada metode ini, kertas dibentuk bulat dan di tengahnya diberi lubang
sebagai tempat untuk meletakkan sumbu yang terbuat baik dari gulungan kertas
atau benang. Fase gerak akan naik, membasahi kertas dan merambat melingkar
membawa senyawa yang dipisahkan (Sastrohamidjojo, 1985a).
Keuntungan dari kromatografi kertas adalah peralatan yang digunakan
sederhana dan mudah dalam pelaksanaan pemisahan (Harborne, 1987;
Sastrohamidjojo, 1985a). Selain itu, keterulangan Rf (retordation factor)
merupakan parameter yang berharga dalam memaparkan senyawa tumbuhan baru
(Harborne, 1987).
Harga Rf =
(Sastrohamidjojo, 1985a)

Universitas Sumatera Utara

Bilangan Rf diperoleh dengan mengukur jarak antara titik awal dan pusat
bercak yang dihasilkan senyawa dibagi dengan jarak antara titik awal dan garis
batas pengembang. Bilangan ini terletak antara 0,01 dan 0,99 (Harborne, 1987).

2.5 Spektrofotometri Ultraviolet
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan
antara panjang gelombang atau frekuensi serapan terhadap intensitas serapan
(transmitasi atau absorbansi) (Sastrohamidjojo, 1985b). Apabila suatu molekul
menyerap radiasi ultraviolet, di dalam molekul tersebut terjadi perpindahan
tingkat energi elektron-elektron ikatan pada orbital molekul paling luar dari
tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi (Noerdin,
1985).
Spektrum ultraviolet senyawa biasanya diperoleh dengan melewatkan
cahaya berpanjang gelombang tertentu melalui larutan encer senyawa tersebut
dalam pelarut yang tidak menyerap, misalnya air, etanol dan heksana (Creswell, et
al., 1982).
Beberapa istilah dalam spektrofotometri ultraviolet menurut Noerdin
(1985) dan Silverstein, et al. (1981) antara lain :
1. Khromofor didefinisikan sebagai gugus fungsi yang menyerap radiasi di
daerah ultraviolet dekat dan daerah tampak, contoh : C=C, C≡C, C=O, NO2.
2. Auksokrom didefinisikan sebagai gugus fungsi yang mempunyai elektron
tidak berpasangan, tidak menyerap radiasi pada panjang gelombang lebih
besar dari 200 nm, dan bila terikat dengan gugus khromofor akan mengubah
panjang gelombang dan intensitas penyerapan, contoh: OH, NH2, Cl.

Universitas Sumatera Utara

3. Efek batokromik (pergeseran merah) adalah suatu pergeseran pita serapan ke
panjang gelombang yang lebih panjang akibat terikat dengan gugus khromofor
atau efek pelarut.
4. Efek hipsokromik (pergeseran biru) adalah suatu pergeseran pita serapan ke
panjang gelombang yang lebih pendek akibat terikat dengan gugus khromofor
atau efek pelarut.
5. Efek hiperkromik adalah peningkatan intensitas penyerapan.
6. Efek hipokromik adalah penurunan intensitas penyerapan.
Spektroskopi ultraviolet merupakan cara yang paling berguna untuk
menganalisis struktur flavonoid. Cara tersebut digunakan untuk membantu
mengidentifikasi jenis flavonoid dan menentukan pola oksigenasi. Selain itu,
kedudukan gugus hidroksil fenol bebas pada inti flavonoid dapat ditentukan
dengan menambahkan pereaksi geser ke dalam larutan cuplikan dan mengamati
pergeseran puncak serapan yang terjadi untuk menentukan kedudukan gula atau
metil yang terikat pada salah satu gugus hidroksil fenol.
Keuntungan utama cara ini adalah jumlah flavonoid yang diperlukan untuk
analisis sangat sedikit (biasanya sekitar 0,1 mg). Spektrum senyawa flavonoid
terdiri atas dua pita absorpsi maksimum, yaitu pita I pada rentang 300-550 nm dan
pita II pada 240-285 nm (Markham, 1988).

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat-alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat gelas, bejana
kromatografi (Dessaga), blender (Philips), eksikator, krus porselin, lampu UV 366
nm (Diamond), mikroskop cahaya, neraca kasar (Home Line), neraca listrik
(Vibra AJ), oven (Memmert), penangas air (Yenaco), rotary evaporator (Haake
D1),

seperangkat

alat

penetapan kadar

air,

seperangkat

alat

refluks,

spektrofotometer ultraviolet (Shimadzu) dan tanur.
3.1.2 Bahan-bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi dari
tumbuhan bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Bahan kimia yang
digunakan kecuali dinyatakan lain adalah berkualitas proanalisa, yaitu alfa-naftol,
aluminium (III) klorida, ammonium hidroksida, asam asetat, asam asetat
anhidrida, asam borat, asam klorida pekat, asam nitrat pekat, asam sulfat pekat,
benzen, besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, n-butano

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23