Efektifitas Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) Di Kecamatan Medan Johor

Proposal Penelitian

Efektifitas Pelaksanaan Program Keluarga Harapan
(PKH)
Di Kecamatan Medan Johor

Disusun Oleh :

SUJI NOVANDA SARI
(060903015)

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA

HALAMAN PERSETUJUAN
Skripsi ini disetujui untuk diperbanyak dan dipertahankan oleh :
Nama

: Suji Novanda Sari

NIM

: 060903015

Departemen

: Ilmu Administrasi Negara

Judul

: Efektifitas Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan
Johor

Medan,

Maret 2011

Dosen Pembimbing

Ketua Departemen
Ilmu Administrasi Negara

Dra. Asima Yanty Siahaan, MA. PhD
NIP : 196401261988032002

Drs. M. Husni Thamrin Nst, MSI
NIP : 196401081991021001

Dekan FISIP USU

(Prof. Dr. Badaruddin, M.Si)
NIP : 196805251992031002

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Hal
DAFTAR ISI……………………………………………………………
DAFTAR TABEL………………………………………………………
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………...
ABSTRAKSI……………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………
1.1 Latar Belakang………………..………………..………….
1.2 Perumusan Masalah Penelitian

………..……… ………...

i
iii
vi
vii
1
1
9

1.3 Tujuan Penelitian ………………… ………………………

10

1.4 Manfaat Penelitian………………………………………..

10

1.5 Kerangka Teori…………………………………………….

11

1.5.1 Kebijakan Publik………………………………

12

1.5.2 Efektifitas……………………………………...

18

1.5.3 Kemiskinan………………………………........

32

1.5.4 Program Keluarga Harapan (PKH)…………..

34

1.6 Defenisi Konsep…………………………………………...

44

BAB II METODOLOGI PENELITIAN……………………………

46

2.1 Bentuk Penelitian…………………………………………
2.2 Lokasi Penelitian…………………..……………………..
2.3 Informan Penelitian………………………..……………..
2.4 Teknik Pengumpulan Data……………………………….
2.5 Teknik Analisa Data…………………………...…………
2.6 Penerapan Metode Penelitian di Lapangan………………

46
46
47
48
49
50

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN…………………...
3.1 Gambaran Umum Wilayah Kecamatan Medan Johor…..
3.1.1 Sejarah Terbentuknya kecamatan Medan Johor….
3.1.2 Batas-batas dan Luas Wilayah…………………….
3.2 Kependudukan…………………………………………….
3.3 Sarana dan Prasarana…………………………………….
3.4 Visi dan Misi Kecamatan Medan Johor…………………

52
52
52
53
54
58
66

Universitas Sumatera Utara

BAB IV PENYAJIAN DATA……………………………………..
4.1 Identitas Responden……………………………………..
4.2 Data Kuesioner……..……………………………………

69
70
74

BAB V ANALISA DATA………………………………………....
5.1. Kebijakan Publik…………………………………..……
5.2. Efektifitas…………………………………..……………
5.2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektifitas
di Dalam Pelaksanaan PKH………………………

97
97
97
101

BAB VI PENUTUP…………………………………………………
6.1 Kesimpulan……………………………………………….
6.2 Saran …………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA………………………………….……………

107
107
110
132

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Hal
Tabel 1 :
Tabel 2 :
Tabel 3 :
Tabel 4:

Data Kelurahan Yang Ada di Kecamatan Medan Johor……….. .
Jumlah Penerimaan Bantuan PKH di Kecamatan Medan Johor…
Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Johor Berdasarkan Suku…
Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Johor Berdasarkan Mata
Pencarian……………………………..………………………….
Tabel 5: Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Johor Berdasarkan Fasilitas
Umum Sosial……………………………………………….……

58

Tabel 6:

Jumlah Data Permukiman di Kecamatan Medan Johor…………………..

61

Tabel 7:

Jumlah Sekolah di Kecamatan Medan Johor…………….………..

62

Tabel 8:

57

Jumlah Kependudukan di Kecamatan Medan Johor Berdasarkan Sarana
Rumah Ibadah………………………………………………………..

Tabel 9 :

54
55
56

64

Jumlah Kependudukan Kecamatan Medan Johor Berdasarkan Status
Kewarganegaraan……………………………………………………….

65

Tabel 10 : Jumlah Penduduk Kecamatan Medan Johor Berdasarkan
Jenis Kelamin…………………………………………………………..

66

Tabel 11 :

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………………..

70

Tabel 12 :

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia……………………………

70

Tabel 13 : Karakteristik Responden Berdasarkan Suku…………………..……….

71

Tabel 14 : Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan…………………….

71

Tabel 15 : Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan……………………….

72

Tabel 16 : Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga….. .

73

Tabel 17 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Tujuan PKH…………….. .

74

Tabel 18 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Darimana
Mengetahui PKH.……………………………………………………..

75

Tabel 19 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Tahapan Pelaksanaan PKH...

76

Tabel 20 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Pemberian Kartu PKH……….

77

Tabel 21: Distribusi Jawaban Responden Tentang Ketepatan Pemilihan

Universitas Sumatera Utara

Peserta PKH……………………………………………………………

78

Tabel 22 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Ketepatan Waktu
Penyaluran Dana PKH………………………………………………….

79

Tabel 23 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Penyaluran Dana PKH
Sesuai dengan Prosedur…………………………………………………

80

Tabel 24 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Kesesuaian Penerimaan
PKH Bantuan……………………………………………………………

81

Tabel 25 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Adanya Pemotongan Dalam
Penyaluran Dana PKH…………………………………………………
Tabel 26 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Terkait Manfaat PKH..…….…

82
84

Tabel 27 : Distribusi Jawaban Responden Terhadap Jumlah Dana PKH
Yang Diterima…………………………………………………………..

85

Tabel 28 : Distribusi Jawaban Responden Terhadap Dana PKH Ditunjukan
Bagi Kesehatan Balita, kesehatan ibu hamil, dan Pendidikan………….

85

Tabel 29 : Distribusi Jawaban Responden Apakah Sudah Melaksanakan
Kewajiban Sebagai Perserta PKH………………………………………

86

Tabel 31 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Penerimaan Sanksi
atau Hukuman Peserta PKH……………………………………………

88

Tabel 31 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Keluhan-Keluhan Dalam
Pelaksanaan PKH di Kecamatan Medan Johor………………………

88

Tabel 32 : Distribusi Jawaban Responden Tentang Pelaksana PKH sudah
Menjalankan Tugas dengan Baik………………………………………

90

Tabel 33 : Distribusi Jawaban Responden Mengenai Sosialisasi yang
Dilakukan Terkait PKH Di Kecamatan Medan Johor………………
Tabel 34 :

90

Distribusi Jawaban Responden Mengenai Kinerja Koordinator
Pendamping PKH Dalam Melaksanakan Tugas dan

Universitas Sumatera Utara

Tanggung Jawabnya…………………………………………………
Tabel 35 :

93

Distribusi Jawaban Responden Mengenai Pelayanan Pada Saat
Pemberian Kartu Peserta dan Penyaluran Dana PKH………….…….

94

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
HAL
GAMBAR 1: Organisasi Pelaksanaan PKH……………………………………...

40

GAMBAR 2: Mekanisme PKH………………………………………………….

43

GAMBAR 3: Pertemuan Sosialisasi PKH, dikelurahan Kwala Bekala
Kecamatan Medan Johor………………………………………

92

GAMBAR 4: Penandatanganan Pencairan Dana di Kantor Pos Medan Johor..

95

GAMBAR 5: Pengambilan Dana PKH di Kantor Pos Medan Johor………….

96

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI
KECAMATAN MEDAN JOHOR KOTA MEDAN

Nama
NIM
Departemen
Fakultas
Pembimbing

: Suji Novanda Sari
: 060903015
: Ilmu Administrasi Negara
: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
: Dra. Asima Yanty Siahaan, MA. PhD

Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan
kebijakan di bidang perlindungan sosial bagi keluarga rumah tangga sangat miskin (RTSM),
pemerintah mengeluarkan sebuah Program Keluarga Harapan yaitu sebuah bantuan bersyarat
sebagai jaminan sosial untuk mengakses kesehatan dan pendidikan yang mencakup kesehatan
balita dan ibu hamil serta pendidikan bagi anak usia pendidikan dasar.
PKH lebih dimaksudkan kepada upaya membangun sistem perlindungan sosial
kepada masyarakat miskin. Pelaksanaan di Indonesia diharapkan akan membantu penduduk
termiskin, bagian masyarakat yang paling membutuhkan uluran tangan dari siapapun juga.
Efektifitas pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Johor
adalah suatu keadaan yang menunjukkan kinerja kegiatan pelaksanaan bantuan dana Program
PKH untuk pencapaian tujuan ke masyarakat Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di
Kecamatan Medan Johor yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dengan kata lain kata
efektifitas yang merupakan sejauh mana Panitia PKH melaksanakan tugas pokoknya atau
sudah mencapai semua sasarannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan Program Keluarga
Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Johor, untuk mengetahui tanggapan peserta penerima
bantuan PKH, dan untuk mengetahui manfaat bagi penerima bantuan PKH .
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif .Teknik pengumpulan data melalui , wawancara kepada 3 orang informan kunci,
penyebaran kuesioner kepada 20 orang informan utama dan studi kepustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa
secara umum efektifitas pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan
Johor ini sudah berjalan dengan cukup baik. Ini dapat dilihat dari setiap tahapan proses
pelaksanaannya yang berjalan lancar.
Apabila diihat dari keadaan penerima bantuan PKH tersebut mereka menggunakannya
untuk membantu kondisi sosial dan pendidikan anak-anak Rumah Tangga Sangat Miskin,
membantu biaya kesehatan & gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak di bawah 6 tahun dari Rumah
Tangga Sangat Miskin, serta menyadarkan peserta PKH akan pentingnya layanan pendidikan
dan Posyandu.

Key words : Efektifitas Pelaksanaan, Program Keluarga Harapan (PKH)

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI

EFEKTIFITAS PELAKSANAAN PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI
KECAMATAN MEDAN JOHOR KOTA MEDAN

Nama
NIM
Departemen
Fakultas
Pembimbing

: Suji Novanda Sari
: 060903015
: Ilmu Administrasi Negara
: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
: Dra. Asima Yanty Siahaan, MA. PhD

Dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan sekaligus pengembangan
kebijakan di bidang perlindungan sosial bagi keluarga rumah tangga sangat miskin (RTSM),
pemerintah mengeluarkan sebuah Program Keluarga Harapan yaitu sebuah bantuan bersyarat
sebagai jaminan sosial untuk mengakses kesehatan dan pendidikan yang mencakup kesehatan
balita dan ibu hamil serta pendidikan bagi anak usia pendidikan dasar.
PKH lebih dimaksudkan kepada upaya membangun sistem perlindungan sosial
kepada masyarakat miskin. Pelaksanaan di Indonesia diharapkan akan membantu penduduk
termiskin, bagian masyarakat yang paling membutuhkan uluran tangan dari siapapun juga.
Efektifitas pelaksanaan Program Keluarga Harapan di Kecamatan Medan Johor
adalah suatu keadaan yang menunjukkan kinerja kegiatan pelaksanaan bantuan dana Program
PKH untuk pencapaian tujuan ke masyarakat Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) di
Kecamatan Medan Johor yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dengan kata lain kata
efektifitas yang merupakan sejauh mana Panitia PKH melaksanakan tugas pokoknya atau
sudah mencapai semua sasarannya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan Program Keluarga
Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Johor, untuk mengetahui tanggapan peserta penerima
bantuan PKH, dan untuk mengetahui manfaat bagi penerima bantuan PKH .
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif .Teknik pengumpulan data melalui , wawancara kepada 3 orang informan kunci,
penyebaran kuesioner kepada 20 orang informan utama dan studi kepustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian melalui wawancara dan kuesioner menunjukkan bahwa
secara umum efektifitas pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan
Johor ini sudah berjalan dengan cukup baik. Ini dapat dilihat dari setiap tahapan proses
pelaksanaannya yang berjalan lancar.
Apabila diihat dari keadaan penerima bantuan PKH tersebut mereka menggunakannya
untuk membantu kondisi sosial dan pendidikan anak-anak Rumah Tangga Sangat Miskin,
membantu biaya kesehatan & gizi ibu hamil, ibu nifas, dan anak di bawah 6 tahun dari Rumah
Tangga Sangat Miskin, serta menyadarkan peserta PKH akan pentingnya layanan pendidikan
dan Posyandu.

Key words : Efektifitas Pelaksanaan, Program Keluarga Harapan (PKH)

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Salah satu masalah utama pembangunan di Indonesia saat ini adalah masih besarnya

jumlah penduduk miskin dan pengangguran. Dalam sidang Kabinet Paripurna 13 Januari
2009, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat memaparkan Isu Strategis
Kesejahteraan Rakyat. Salah satu isu yang memerlukan perhatian di tahun 2009 adalah Isu
Penanggulangan Kemiskinan dan Pengurangan Pengangguran.

Isu penanggulangan

kemiskinan dan pengurangan pengangguran menjadi isu yang utama dan sangat penting
karena pada tahun 2008 jumlah penduduk miskin di Indonesia masih cukup banyak, yakni
34,96 juta jiwa (15,4%), sementara itu jumlah pengangguran pada tahun 2008 sebanyak 9,43
jiwa (8,46%). (http://www.setneg.go.id. diakses pada tanggal 19-09-2010)
Meskipun penanggulangan kemiskinan senantiasa diprioritaskan dalam pembangunan,
namun target penurunan angka kemiskinan maupun pengangguran sebagaimana tercantum
dalam RPJM 2004-2009 masih sulit dicapai. Kenaikan harga minyak dunia selama tahun 2005
yang mengharuskan pemerintah menerapkan kebijakan pengurangan subsidi BBM memicu
tingginya inflasi yang kemudian menyebabkan bertambahnya penduduk miskin.
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup
memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu
memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok. Pada masyarakat modern

Universitas Sumatera Utara

yang rumit, kemiskinan menjadi suatu problema sosial karena sikap yang membenci
kemiskinan.
Kemiskinan yang terjadi dalam suatu negara memang perlu dilihat sebagai suatu
masalah yang sangat serius, karena saat ini kemiskinan, membuat banyak masyarakat
Indonesia mengalami kesusahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Persoalan kemiskinan
ini lebih dipicu karena masih banyaknya masyarakat yang mengalami pengangguran dalam
bekerja. Pengangguran yang dialami sebagian masyarakat inilah yang membuat sulitnya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Sunyoto (2004:128) pada tingkat masyarakat, kemiskinan terutama ditujukan
oleh tidak terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif.
Mereka seringkali memperoleh perlakuan sebagai objek yang perlu digarap daripada sebagai
subjek yang perlu diberi peluang untuk berkembang.
Menurut Chambers dalam Soetomo (2006:285) menyatakan bahwa kondisi
kemiskinan yang dialami suatu masyarakat seringkali telah berkembang dan bertali-temali
dengan berbagai faktor lain yang membentuk jaringan kemiskinan yang dalam proses
berikutnya dapat memperteguh kondisi kemiskinan itu sendiri. Faktor-faktor yang
diidentifikasi membentuk jaringan atau perangkap kemiskinan tersebut adalah: kelemahan
fisik, isolasi, kerentanan, dan ketidakberdayaan.
Faktor kelemahan fisik dapat disebabkan karena kondisi kesehatan dan faktor gizi
buruk, sehinggga dapat mengakibatkan produktivitas kerja yang rendah. Faktor isolasi terkait
dengan lingkup jaringan ineteraksi sosial yang terbatas, serta akses terhadap informasi,
peluang ekonomi dan fasilitas pelayanan yang terbatas pula. Faktor kerentanan terkait dengan

Universitas Sumatera Utara

tingkat kemampuan yang rendah dalam menghadapi kebutuhan dan persoalan mendadak.
Faktor ketidakberdayaan terkait dengan akses dalam pengambilan keputusan, akses terhadap
penguasaan sumber daya dan posisi tawar (bargaining position).
Belum lagi ketika meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri
sejalan naiknya harga minyak dunia, yang berlanjut pada krisis pangan dan gejolak ekonomi
global telah memberi andil terhadap tingginya angka penduduk miskin di Indonesia.
Tingginya angka penduduk miskin akan menyebabkan terjadinya penurunan sumber daya
manusia dan menjadikan semakin lemahnya daya saing bangsa.
Kemiskinan pada dasarnya bukan hanya permasalahan ekonomi tetapi lebih bersifat
multidimensional dengan akar permasalahan terletak pada sistem ekonomi dan politik bangsa.
Dimana kebijakan yang ditetapkan pemerintah terkadang malah membuat hidup masyarakat
makin terasa sulit dari segi ekonomi khususnya, sehingga mereka tidak memiliki akses yang
memadai dalam kehidupan sehari-hari. Yang sering terjadi ketika kelompok masyarakat hidup
dalam bayang-bayang kemiskinan, mereka menjadi terpinggirkan, bahkan terabaikan.
Pembangunan selama ini yang lebih ditujukan pada sisi supply atau pelayanan dasar
kesehatan dan pendidikan belum memberikan dampak yang efektif terhadap peningkatan
kualitas sumberdaya manusia, khususnya masyarakat yang tergolong miskin. Rendahnya
tingkat pendidikan sebuah rumah tangga sangat miskin menyebabkan mereka tidak mampu
memenuhi kebutuhan kesehatan dan pendidikan anak-anaknya. Keluarga ini pun tidak mampu
menjaga kesehatan ibu mengandung sehingga mengakibatkan tingginya resiko kematian ibu
saat melahirkan, dan buruknya kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan. Anak-anak keluarga
miskin juga banyak yang putus sekolah atau bahkan sama sekali tidak mengenyam bangku

Universitas Sumatera Utara

sekolah karena harus bekerja membantu mencari nafkah. Tidak adanya intervensi kebijakan
untuk perbaikan pendidikan, kesehatan dan nutrisi keluarga miskin akan mengakibatkan
kualitas generasi penerus keluarga miskin selalu rendah dan akhirnya senantiasa terjerat pada
lingkaran setan kemiskinan. (http://www.pkh.depsos.go.id diakses pada tanggal 20-09-2010) .
Upaya penanggulangan kemiskinan harus senantiasa didasarkan pada penentuan garis
kemiskinan yang tepat, dan pada pemahaman yang jelas mengenai sebab-sebab timbulnya
persoalan tersebut. Setiap upaya penanggulangan kemiskinan yang mengabaikan kedua hal
tersebut tidak hanya cenderung tidak efektif, tetapi pada tempatnya dicurigai sebagai retorika
belaka (Baswir, 1999:18).
Menyikapi fenomena tersebut, pemerintah Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa
terdapat kebutuhan untuk membangun Program Jaringan Pengaman sosial untuk menutupi
penurunan daya beli mayoritas penduduk masyarakat yang tergolong miskin dan membantu
secara langsung masyarakat yang membutuhkan. Misalnya saja program pendidikan
perlindungan sosial adalah untuk memelihara jasa pelayanan kepada keluarga miskin dengan
pembebasan terhadap pembayaran uang sekolah. Dalam sektor kesehatan, program jaringan
pengaman sosial mencakup empat aktifitas utama, yaitu: memberikan pelayanan kesehatan
dasar bagi keluarga miskin, memberikan bantuan pelayanan kehamilan, kelahiran, dan
pengasuhan anak. Juga memberikan makanan tambahan bagi bayi serta bagi anak sekolah
dari keluarga miskin (Soemitro, 2002:31).
Dalam Bappenas 2005, Permasalahan kemiskinan tersebut memerlukan penanganan
secara sungguh-sungguh untuk menghindari kemungkinan merosotnya mutu generasi (lost
generation) di masa mendatang. Dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan akibat krisis

Universitas Sumatera Utara

telah dilaksanakan program Jaringan Pengaman Sosial (JPS) yang dirancang khusus untuk
membantu masyarakat miskin. Dalam upaya mengurangi kemiskinan perlu dilakukan
pendekatan kemanusiaan yang menekankan pemenuhan kebutuhan dasar, pendekatan
kesejahteraan melalui peningkatan pendekatan usaha ekonomi produktif, serta penyediaan
jaminan sosial dan perlindungan. Pengentasan kemiskinan perlu dilakukan secara
komprehensif dan terpadu yang melibatkan semua pihak baik Pemerintah, dunia usaha,
perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, maupun
masyarakat miskin sendiri agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi perbaikan
kondisi sosial, ekonomi dan budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin.
Dalam buku pedoman Umum PKH 2008 menyebutkan bahwa tingkat kemiskinan
suatu rumah tangga secara umum terkait dengan tingkat pendidikan dan kesehatan.
Rendahnya penghasilan keluarga sangat miskin menyebabkan keluarga tersebut tidak mampu
memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan, untuk tingkat minimal sekalipun.
Pemeliharaan kesehatan ibu sedang mengandung pada keluarga sangat miskin sering tidak
memadahi sehingga sehingga menyebabkan buruknya kondisi kesehatan bayi yang dilahirkan
atau bahkan kematian bayi. Angka kematian bayi pada kelompok penduduk berpendapatan
terendah pada tahun 2003 adalah 61 persen. Angka kematian ibu di Indonesia juga tinggi,
yaitu sekitar 310 wanita per 100 ribu kelahiran hidup, atau tertinggi di Asia Tenggara.
Tingginya angka kematian ibu ini disebabkan oleh tidak adanya kehadiran tenaga
medis pada kelahiran, fasilitas kesehatan yang tidak tersedia pada saat dibutuhkan tindakan,
atau masih banyaknya rumah tangga miskin yang lebih memilih tenaga kesehatan tradisional
daripada tenaga medis lainnya.. Rendahnya kondisi kesehatan keluarga sangat miskin
berdampak pada tidak optimalnya proses tumbuh kembang anak, terutama pada usia 0-5

Universitas Sumatera Utara

tahun. Pada tahun 2003, angka kematian balita pada kelompok penduduk berpendapatan
terendah adalah 77 persen per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2002-2005, terdapat
kecenderungan bertambahnya kasus gizi kurang yang meningkat dari 24,5 persen pada tahun
2000 menjadi 29 persen pada tahun 2005.
Gizi kurang berdampak buruk pada produktivitas dan daya tahan tubuh seseorang
sehingga menyebabkan terperangkap dalam siklus kesehatan yang buruk. Seringnya tidak
masuk sekolah karena sakit dapat menyebabkan anak putus sekolah atau setidaknya kurang
berprestasi di sekolah. Ada juga sebagian dari anak-anak keluarga sangat miskin sama sekali
tidak pernah mengenyam bangku sekolah karena harus membantu mencari nafkah. Meskipun
angka partisipasi sekolah dasar tinggi, namun masih banyak anak keluarga miskin yang putus
sekolah atau tidak melanjutkan ke SMP/MTs.
Masih banyaknya keluarga miskin yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar
pendidikan dan kesehatan disebabkan oleh akar permasalahan yang terjadi baik pada sisi
demand maupun sisi pelayanan (supply). Pada sisi demand, alasan terbesar untuk tidak
melanjutkan sekolah ialah karena tidak adanya biaya, bekerja untuk mencari nafkah, dan
alasan lainnya. Demikian halnya untuk kesehatan, keluarga miskin tidak mampu membiayai
pemeliharaan atau perawatan kesehatan bagi angggota keluarganya akibat rendahnya tingkat
pendapatan.
Sementara itu, pada sisi supply yang menyebabkan rendahnya akses terhadap
pendidikan dan kesehatan antara lain adalah belum tersedianya pelayanan kesehatan dan
pendidikan yang terjangkau oleh rumah tangga miskin. Biaya pelayanan yang tidak terjangkau
oleh rumah tangga miskin serta jarak antara tempat tinggal dan lokasi pelayanan yang relatif
jauh merupakan tantangan utama bagi penyedia pelayanan pendidikan dan kesehatan.

Universitas Sumatera Utara

Dengan memperhatikan kondisi yang seperti di atas, maka pemerintah mengeluarkan
kebijakan program yang merupakan penegembangan sistem perlindungan sosial yang dapat
meringankan dan membantu rumah tangga sangat miskin dalam hal mendapatkan akses
pelayanan kesehatan dan Pendidikan Dasar dengan harapan program ini akan dapat
mengurangi kemiskinan di negara kita. Dengan demikian, dalam rangka percepatan
penanggulangan kemiskinan dan pengembangan sistem jaminan sosial, pemerintah
meluncurkan Program Keluarga Harapan (PKH). Program ini dilatarbelakangi oleh adanya
permasalahan utama pembangunan yaitu masih besarnya jumlah penduduk miskin serta
rendahnya kualitas SDM.
PKH adalah asistensi sosial kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang
memenuhi kualifikasi tertentu (RTM kronis, rentan terhadap goncangan) dengan
memberlakukan persyaratan tertentu yang dapat mengubah prilaku individu maupun
masyarakat. PKH sebagai perlindungan sosial merupakan upaya dalam mengangkat tingkat
kesejahteraan masyarakat yang tidak memiliki kekuatan, sehingga diperlukan penguatan atau
pemberdayaan agar warga tersebut memiliki daya untuk keluar dari lingkaran kemiskinannya.
(www.sinarmedia-ws.com/index.php di akses pada tanggal 20-09-2010).
Program Keluarga Harapan ini mulai diberlakukan di Provinsi Sumatera Utara pada
tahun 2008 yang meliputi tiga Kabupaten/Kota yakni Medan, Nias dan Tapanuli Tengah
sebagai daerah percontohan dengan total 33 kecamatan. Sumatera Utara dijadikan salah satu
daerah sasaran Program Keluarga Harapan mengingat kondisi kemiskinan di daerah ini masih
cukup tinggi, dimana menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut per Juni 2009 terdapat
sekitar 11,5 % atau setara 1,5 juta jiwa dari total 13,248 juta jiwa penduduk dalam garis
kemiskinan. Kondisi kemiskinan ini menyebabkan banyak keluarga miskin yang tidak dapat

Universitas Sumatera Utara

mengakses pendidikan dan kesehatan secara layak. (http//www.pkh.depsos.go.id. di akses tanggal
20-09-2010)
Dan khusus untuk Kota Medan, ada 11 Kecamatan yang telah memberlakukan
Program Keluarga Harapan ini. Salah satunya adalah Kecamatan Medan Johor. Dengan
adanya kucuran bantuan Program Keluarga Harapan ini diharapkan sedikit banyak dapat
mengurangi beban rumah tangga sangat miskin yang menjadi penerima PKH di Kecamatan
Medan Johor dalam mengakses pelayanan dasar tersebut.
Dan berdasarkan dari paparan di atas, penulis merasa tertarik untuk melihat efektifitas
pelaksanaan PKH secara langsung di lapangan yang meliputi proses tahapan, permasalahan
hingga hasil dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat miskin tersebut. Oleh karena itu
penulis mengangkatnya dalam sebuah penelitian yang berjudul “Efektifitas Pelaksanaan
Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Johor.”

I.2

Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka permasalahan yang

menjadi perhatian penulis dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah Efektifitas
Pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Medan Johor”

I.3

Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan Program Keluarga

Harapan (PKH) di

Kecamatan Medan Johor.

Universitas Sumatera Utara

2. Untuk mengetahui komitmen peserta PKH sebagai penerima bantuan PKH di Kecamatan
Medan Johor.
3. Untuk mengetahui manfaat bagi penerima bantuan PKH.

I.4

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dan dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1.

Secara subyektif. Sebagai suatu sarana untuk melatih dan mengembangkan
kemampuan berpikir ilmiah, sistematis dan metodologis penulis dalam menyusun
berbagai kajian literature untuk menjadikan suatu wacana baru dalam memperkaya
khazanah kepustakaan pendidikan.

2.

Secara praktis. Dalam hal ini memberikan data dan informasi yang berguna bagi
semua kalangan terutama bagi mereka yang secara serius mengamati jalannya
pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) serta dapat dijadikan sebagai
kontribusi terhadap pemecahan permasalahan yang terkait dengan program tersebut.

3.

Secara akademis. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara
langsung maupun tidak bagi kepustakaan departemen Ilmu Administrasi Negara dan
bagi kalangan penulis lainnya yang tertarik untuk mengeksplorasi kembali kajian
tentang program Keluarga Harapan ini.

I.5

Kerangka Teori
Sebagai titik tolak atau landasan berpikir dalam menyoroti atau memecahkan masalah

perlu adanya pedoman teoritis yang dapat membantu. Landasan teori perlu ditegakkan agar

Universitas Sumatera Utara

penelitian mempunyai dasar yang kokoh dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and
error) landasan teoritis (Sugiyono, 2006:55).
Menurut Hoy dan Miskel dalam Sugiyono (2006:55) teori adalah seperangkat konsep,
asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan
perilaku dalam organisasi. Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, seorang peneliti harus
menyusun suatu kerangka teori sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut
mana peneliti menyoroti masalah yang dipilihnya.

1.5.1. Kebijakan Publik
Menurut Chandler dan Plano dalam Tangkilisan (2003:1) berpendapat bahwa
kebijakan publik adalah adalah pemanfaatan yang strategis terhadap sumber daya-sumber
daya yang ada untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Dalam
kenyataannya kebijakan tersebut telah banyak membantu para pelaksana pada tingkat
birokrasi pemerintah maupun para politisi untuk memecahkan masalah-masalah publik.
Selanjutnya dikatakan bahwa Kebijakan Publik merupakan suatu bentuk intervensi yang
dilakukan secara terus menerus oleh pemerintah demi kepentingan kelompok yang kurang
beruntung dalam masyarakat agar mereka dapat hidup, dan ikut berpartisipasi dalam
pembangunan secara luas.
Menurut H. Hugh Heglo dalam Abidin (2004:21) kebijakan adalah suatu tindakan yang
bermaksud untuk mencapai suatu tujuan tujuan tertentu. Sedangkan Anderson dalam Abidin
(2004:21) mendefinisikan kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan
tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna
memecahkan suatu masalah tertentu.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Charles O. Jones dalam Winarno (2007:16) istilah kebijakan (policy term)
digunakan dalam praktek sehari-hari namun digunakan untuk menggantikan kegiatan atau
putusan yang sangat berbeda. Istilah ini sering dipertukarkan dengan tujuan (goals), program,
keputusan (decisions), standard, proposal, dan grand design. Namun demikian, meskipun
kebijakan publik mungkin kelihatannya sedikit abstrak atau mungkin dapat dipandang sebagai
sesuatu yang terjadi terhadap seseorang.
Sedangkan menurut Woll dalam Tangkilisan (2003:2) kebijakan publik adalah sejumlah
aktifitas pemerintah untuk memecahkan masalah di masyarakat, baik secara langsung
maupun melalui lembaga yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan
kebijakan publik terdapat tiga tingkat pengaruh sebagai implikasi dari tindakan pemerintah
yaitu:
a.

Adanya pilihan kebijakan atau keputusan yang dibuat oleh politisi, pegawai
pemerintah atau yang lainnya yang bertujuan menggunakan kekuatan publik untuk
mempengaruhi kehidupan masyarakat.

b.

Adanya output kebijakan, dimana kebijakan yang diterapkan pada level ini
menuntut pemerintah untuk melakukan pengaturan, penganggaran, pembentukan
personil dan membuat regulasi dalam bentuk program yang akan mempengaruhi
kehidupan masyarakat.

Adanya dampak kebijakan yang merupakan efek pilihan kebijakan yang
mempengaruhi kehidupan masyarakat. Konsep kebijkan publik ternyata juga dimaknai dan
dirumuskan secara beragam. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa sebagian besar defenisi
yang dikemukakan dipengaruhi oleh masalah-masalah tertentu yang ingin dilihat. Pandangan

Universitas Sumatera Utara

pertama, ialah pendapat para ahli yang mengidentikkan kebijakan publik dengan tindakantindakan yang dilakukan pemerintah. Beranggapan bahwa semua tindakan yang dilakukan
oleh pemerintah pada dasarnya disebut sebagai kebijakan publik.
R.S Parker dalam Wahab (2008:51), menyatakan bahwa kebijakan publik adalah
suatu tujuan tertentu, atau serangkaian asas tertentu, atau tindakan yang dilaksanakan oleh
pemerintah pada suatu waktu tertentu dalam kaitannya dengan suatu subjek atau sebagai
respon terhadap keadaan yang kritis. Sedangkan Thomas R. dye merumuskan kebijakan
publik sebagai semua pilihan atau tindakan yang dilakukan pemerintah. Dalam hal ini Dye
beranggapan bahwa kebijakan publik itu menyangkut pilihan-pilihan apapun yang dilakukan
oleh pemerintah, baik untuk melakukan sesuatu ataupun untuk tidak berbuat sesuatu.
Pandangan yang kedua, ialah pendapat para ahli melihat kebijakan publik sebagai keputusankeputusan yang mempunyai tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran tertentu dan mempunyai
dampak dan akibat- akibat yang diramalkan (predictable), atau dapat diantisipasikan
sebelumnya. Seperti apa yang dikemukakan Nakamura dan Smal Wood dalam Wahab
(2008:52), bahwa kebijakan publik adalah serentetan instruksi/perintah dari para pembuat
kebijakan yang ditujukan kepada para pelaksana kebijakan yang menjelaskan tujuan-tujuan
serta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Namun pada hakekatnya, bahwa pendefinisian kebijakan tetap harus mempunyai
pengertian mengenai apa yang sebenarnya dilakukan daripada apa yang diusulkan dalam
tindakan mengenai suatu persoalan tertentu.
Seperti yang dikemukakan oleh James Anderson dalam Tangkilisan (2003:2) bahwa
kebijakan publik merupakan arah tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh

Universitas Sumatera Utara

seorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau persoalan. Konsep
kebijakan publik ini kemudian mempunyai beberapa implikasi, yakni:
a. Kebijakan publik selalu mempunyai tujuan tertentu atau mempunyai tindakantindakan yang berorientasi pada tujuan.
b. Kebijakan publik itu berisi tindakan-tindakan pemerintah.
c. Kebijakan publik merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah, jadi
bukan merupakan apa yang masih dimaksudkan untuk dilakukan.
d. Kebijakan pemerintah tersebut didasarkan pada peraturan perundangan yang bersifat
mengikat dan memaksa.

Dalam memecahkan sebuah permasalahan yang dihadapi kebijakan publik, Dunn
dalam Tangkilisan (2003:6) mengemukakan bahwa ada beberapa tahap analisis yang harus
dilakukan, yaitu:
1. Agenda Setting (agenda kebijakan)
Tahap penetapan agenda kebijakan ini adalah penentuan masalah publik yang akan
dipecahkan,

dengan

memberikan

informasi

mengenai

kondisi-kondisi

yang

menimbulkan masalah. Dalam hal ini isu kebijakan dapat berkembang menjadi agenda
kebijakan apabila memenuhi syarat, seperti: memiliki efek yang besar terhadap
kepentingan masyarakat, dan tersedianya teknologi dan dana untuk menyelesaikan
masalah publik tersebut.
2. Policy Formulation (formulasi kebijakan)
Formulasi kebijakan berarti pengembangan sebuah mekanisme untuk menyelesaikan
masalah publik. Dalam menentukan kebijakan pada tahap ini dapat menggunakan
analisis biaya manfaat dan analisis keputusan, dimana keputusan yang harus diambil

Universitas Sumatera Utara

pada posisi tidak menentu dengan informasi yang serba terbatas. Pada tahap ini
diidentifikasi kemungkinan kebijakan yang dapat digunakan melalui prosedur
forecasting untuk memecahkan masalah yang didalamnya terkandung konsekuensi
dari setiap pilihan kebijakan yang akan dipilih.
3. Policy Adoption (adopsi kebijakan)
Merupakan tahap untuk menentukan pilihan kebijakan yang akan dilakukan. Terdapat
di dalamnya beberapa hal yaitu identifikasi alternative kebijakan yang dilakukan
pemerintah untuk

merealisasikan masa

depan yang

diinginkan

dan

juga

mengidentifikasi alternative-alternative dengan menggunakan kriteria-kriteria yang
relevan agar efek positif alternative kebijakan lebih besar daripada efek negative yang
akan terjadi.
4. Policy Assesment (evaluasi kebijakan)
Tahap akhir dari proses pembuatan kebijakan adalah penilaian terhadap kebijakan
yang telah diambil dan dilakukan. Dalam penilaian ini semua proses pelaksanaan
dinilai apakah telahsesuai dengan yang telah ditentukan atau direncanakan dalam
program kebijakan tersebut sesuai dengan ukuran-ukuran (kriteria-kriteria) yang telah
ditentukan. Evaluasi kebijakan dapat dilakukan oleh lembaga independen maupun
pihak birokrasi pemerintah sendiri (sebagai eksekutif) untuk mengetahui apakah
program yang dibuat oleh pemerintah telah mencapai tujuannya atau tidak. Apabila
ternyata tujuan program tidak tercapai atau memiliki kelemahan, maka perlu diketahui
apa penyebabnya sehinggga kesalahan yang sama tidak terulang di masa yang akan
datang.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Robert Eyestone dalam Winarno (2007:17), kebijakan publik dapat
didefinisikan sebagai hubungan suatu unit pemerintah dengan lingkungannya.

1.5.2

Efektifitas

1.5.2.1 Pengertian Efektifitas
Dalam setiap organisasi, efektifitas merupakan hal yang sangat penting dalam
pencapaian tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain, suatu
akktifitas yang dikatakan efektif apa bila sudah tercapainya tujuan dan sasaran yang telah
ditentukan secara sederhana dapat dikatakan efektifitas kerja berarti penyelesaian suatu
pekerjaan tetap pada waktunya yang telah ditetapkan, atau bisa dikatakan sesuai dengan
rencana yang telah disusun.
The Liang Gie (1981:108) mengatakan efektifitas itu adalah suatu kegiatan yang
mengandung pengertian tentang terjadinya sesuatu akibat yang dikehendaki. Bila sasaran dan
tujuan telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya maka hal itu disebut efektif. Begitu
juga sebaliknya jika tujuan dan sasaran itu tidak tercapai atau tidak sesuai dengan yang
direncanakan maka pekerjaan itu tidak efektif.
Menurut Emerson dalam Strees (1995:48) efektifitas adalah pengukuran dalam arti
tercapainya sasaran atau tujuan yang ditentukan sebelumnya. Jelaslah sasaran dan tujuan hal
tercapai sesuai dengan sasaran yang direncanakan, hal ini dikatakan efektif jadi apabila tujuan
dan sasaran tidak sesuai dengan yang telah ditentukan maka pekerjaan itu dikatakan efektif.
Menurut Stoner dalam Tangkilisan (2000:138) yang menekankan pentingnya
efektifitas organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi, dan efektifitas adalah kunci
dari suatu kesuksesan suatu apa bila sudah tercapainya tujuan dan sasaran yang telah

Universitas Sumatera Utara

ditentukan secara sederhana dapat dikatakan efektifitas kerja berarti penyelesaian suatu
pekerjaan tetap pada waktunya yang telah ditetapkan, atau bisa dikatakan sesuai dengan
rencana yang telah disusun.
The Liang Gie (1981:108) mengatakan efektifitas itu adalah suatu kegiatan yang
mengandung pengertian tentang terjadinya sesuatu akibat yang dikehendaki. Bila sasaran dan
tujuan telah sesuai dengan yang direncanakan sebelumnya maka hal itu disebut efektif. Begitu
juga sebaliknya jika tujuan dan sasaran itu tidak tercapai atau tidak sesuai dengan yang
direncanakan maka pekerjaan itu tidak efektif.
Menurut Emerson dalam Strees (1995:48) efektifitas adalah pengukuran dalam arti
tercapainya sasaran atau tujuan yang ditentukan sebelumnya. Jelaslah sasaran dan tujuan hal
tercapai sesuai dengan sasaran yang direncanakan, hal ini dikatakan efektif jadi apabila tujuan
dan sasaran tidak sesuai dengan yang telah ditentukan maka pekerjaan itu dikatakan efektif.
Menurut Stoner dalam Tangkilisan (2000:138) yang menekankan pentingnya
efektifitas organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi, dan efektifitas adalah kunci
dari suatu kesuksesan suatu hasil dari suatu pekerjaan agar dapat diperoleh hasil pekerjaan
secara maksimal.
Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, ada empat hal yang merupakan unsur-unsur
efektifitas yaitu sebagai berikut:

1. Pencapaian tujuan, suatu kegiatan dikatakan efektif apabila dapat mencapai tujuan atau
sasaran yang telah ditentukan sebelumnya.
2. Ketepatan waktu, sesuatu yang dikatakan efektif apabila penyelesaian atau tercapainya
tujuan sesuai atau bertepatan dengan waktu yang telah ditentukan.

Universitas Sumatera Utara

3. Manfaat, sesuatu yang dikatakan efektif apabila tujuan itu memberikan manfaat bagi
masyarakat sesuai dengan kebutuhannya.
4. Hasil, sesuatu kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan itu memberikan hasil.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan efektifitas adalah
tercapainya tujuan yang telah di tetapkan. Adanya ketentuan waktu dalam memberikan
pelayanan serta adanya manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap pelayanan yang
diberikan padanya.
Dalam setiap organisasi, efektifitas merupakan unsur yang sangat penting dalam
pencapaian tujuan atau sasaran yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuannya agar dapat
meringankan beban masyarakat yang tergolong Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM).
Dalam bidang Pendidikan dan kesehatan. Dengan kata lain, suatu aktifitas dikatakan efektif
apabila tercapai tujuan atau sarana yang telah di tetapkan. Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa efektifitas kerja berarti penyelesaian suatu pekerjaan tepat pada waktu yang telah
ditetapkan, atau juga bisa dikatakan sesuai dengan rencana yang telah di susun. Dalam hal ini
dituntut juga ketepatan waktu dalam pencairan dana yang telah ditetapkan atau yang sudah
dijadwalkan. Dikatakan efektif suatu program apabila memberikan hasil kepada masyarakat
Secara nyata Stoner dalam Tangkilisan (2005:138) menekankan pentingnya efektifitas
organisasi dalam pencapaian tujuan-tujuan organisasi, dan efektifitas adalah kunci dari
kesuksesan suatu organisasi. Pendapat di atas sesuai pendapat Komaruddin (1994:269) yang
mengatakan, efektifitas adalah suatu keadaan yang menunjukkan tingkat keberhasilan
kegiatan manajemen dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dan juga di

Universitas Sumatera Utara

dukung oleh pendapat Steers (1985:46) yang mengatakan bahwa efektifitas adalah sejauh
mana organisasi melaksanakan tugas pokoknya atau mencapai semi sasarannya.
Lain halnya dengan pendapat Sondang P. Siagian yang menyatakan bahwa efektifitas
tidak hanya di pandang dari segi pencapaian tujuan tetapi juga dari segi ketepatan waktu
dalam mencapai tujuan tersebut. Lebih rinci Sondang P. Siagian (2000:171) mengatakan
bahwa efektifitas adalah tercapainya berbagai sasaran yang telah di tetapkan sebelumnya tepat
pada waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu yang sudah dialokasikan untuk
melakukan kegiatan. Secara rinci dapat dikatakan bahwa aktifitas seseorang atau organisasi
dapat dikatakan efektif apabila aktifitas atau perbuatan tersebut menimbulkan akibat
sebagaimana yang dihendaki atau direncanakan.
1.5.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektifitas
Steers (1985:209) mengidentifikasi ada empat rangkaian variabel yang berhubungan
dengan efektifitas, yaitu:
1. Ciri Organisasi
Struktur dan teknologi organisasi dapat mempengaruhi segi-segi tertentu dari
efektifitas, dengan berbagai cara. Mengenai struktur, ditemukan bahwa meningkatnya
produktivitas dan efisiensi sering merupakan hasil dari meningkatnya spesialisasi fungsi,
ukuran organisasi, sentralisasi pengmbilan keputusan, dan formalisasi.
Teknologi juga dapat berakibat atas tingkat efektifitas selanjutnya, walaupun mungkin
tidak secara langsung. Bukti-bukti ini menunjukan bahwa fariasi teknologi berinteraksi
dengan struktur dalam pengaruhnya terhadap keberhasilan organisasi. Artinya, efektifitas jelas

Universitas Sumatera Utara

dipelancar bila susunan sruktur sumber daya organisasi sedemikian rupa, sehingga paling
cocok untuk menangani teknologi yang dipakai.
2. Ciri lingkungan
Di samping kiri organisasi lingkunan luar dan dalam juga telah dinyatakan
berpengaruh atas efektifitas. Keberhasilan hubungan organisasi lingkungan tampaknya amat
bergantung pada tiga variabel kunci:

a. Tingkat keterdugaan lingkungan,
b. Ketepatan persepsi atas keadaan lingkungan,
c. Tingkat rasionalisasi organisasi.

Ketiga faktor ini mempengaruhi ketepatan tanggapan organisasi terhadap perubahan
lingkungan semakin tepat tanggapannya, makin berhasil adaptasi yang dilakukan oleh
organisasi.
3. Ciri kerja
Faktor pengaruh penting yang ketiga atas efektifitas adalah para pekerja itu sendiri.
Pada kenyataan, para anggota organisasi mungkin merupakan faktor pengaruh yang paling
penting atas efektifitas karena prilaku merekalah yang dalam jangka panjang akan
memeperlancar atau merintangi tercapainya tujuan organisasi.
Sarana pokoknya untuk mendapat dukungan yang diperkukan ini dari pekerja adalah
dengan mengintegrasikan tujuan pribadi dengan sasaran organisasi. Jika pekerja dapat
memperbesar kemungkinan tercapainya tujuan pribadi dengan kerja mencapai sasaran
organisasi, adalah logis untuk membuat asumsi bahwa baik keterikatan pada organsasi

Universitas Sumatera Utara

manapun prestasi kerja akan meningkat. Di pihak lain, jika para pegawai dihadapkan pada
situasi dimana tujuan pribadi mereka bertentangan dengan sarana organisasi, usaha para
pekerja akan diboroskan dengan mudah dengan akibat jumlah energi yang tersedia untuk
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan efektifitas berkurang.
4.Kebijakan dan Praktek Manajemen
Terdapat beberapa mekanisme khusus untuk meningkatkan efektifitas organisasi yaitu
meliputi penetapan tujuan strategi, pemanfaatan sumberdaya secara efisien, struktur birokrasi,
proses komunikasi, kepemimpinan dan pengambil keputusan, serta penyuluhan dan inovasi
pembangunan.
Berdasarkan sifatnya, organisasi cenderung dalam kesatuan yang komplit, yang
berusaha mengalokasikan sumber dayanya secara rasional demi tercapainya tujuan. Makin
rasional suatu organisasi, makin besar kemajuan yang diperoleh kearah tujuan, maka
organisasi makin efektif pula. Dengan demikian efektifitas dipandang sebagai tujuan akhir
oleh sebagian besar organisasi, setidaknya secara teoritis (Steers, 1985:2). Sebagai tujuan
efektiftas sangat perlu dicapai oleh setiap organisasi.

a. Tujuan Strategi
Menurut Stoner (1991:139) strategi dapat didefenisikan paling sedikit dua perspektif
yang berbeda: dari perspektif mengenai apa yang akan dilakukan oleh sebuah organisasi, dan
juga dari perspektif mengenai apa yang akan dilakukan oleh sebuah organisasi, apakah
tindakannya sejak semula memang sudah demikian direncanakan atau tidak.

Universitas Sumatera Utara

Dari perspektif yang pertama, strategi adalah “program yang luas untuk
mendefenisikan dan mencapai tujuan organisasi dan melaksanakan misinya”. Kata “program”
dalam defenisi ini menyiratkan adanya peranan peran yang aktif, yang didasari, dan yang
rasional, yang dimainkan oleh manajer dalam merumuskan strategi organisasi/perusahaan.
Dari perspektif yang ke dua, strategi adalah “pola tanggapan organisasi yang
dilakukan terhadap lingkunganya sepanjang waktu.” Dalam definisi ini, setiap organisasi
mempunyai suatu strategi, walaupun tidak harus selalu efektif, sekalipun strategi itu tidak
pernah dirumuskan secara eksplisit. Artinya setiap organisasi mempunyai hubungan dengan
lingkungannya yang dapat diamati dan dijelaskan. Pandangan seperti ini mencakup organisasi
di mana perilaku para manajernya adalah reaktif, artinya para manajer menanggapi dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan hanya jika mereka merasa perlu untuk melakukannya.

b. Pemanfaatan sumberdaya secara efisien,

Sumber daya adalah faktor paling penting dalam pelaksanaan di dalam kebijakan agar
efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, yakni kompetensi
pelaksana, dan sumber daya financial. Tanpa adanya sumber daya, kebijakan hanya tinggal di
kertas menjadi dokumen saja. Untuk memiliki sumberdaya manusia yang terlatih dan terampil
sebuah organisasi bisnis dapat melakukan pelatihan, pendidikan dan bimbingan bagi
sumberdaya manusianya. Hanya saja untuk menghasilkan prestasi kerja yang tinggi seorang
karyawan tidak hanya perlu memiliki keterampilan, tetapi ia juga harus memiliki keinginan
dan kegairahan untuk berprestasi tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Sistem atau teknik dalam bidang sumberdaya manusia yang diyakini akan mendorong
tenaga tenaga kerja untuk meningkatkan prestasi kerjanya yang tiada lain adalah “Sistem
Manajemen Kinerja”
Definisi manajemen Kinerja menurut Achmad (2001:6) Manajemen Kinerja adalah
memanajemeni prestasi kerja karyawan, berkaitan dengan usaha, kegiatan atau program yang
diprakarsai dan dilaksanakan oleh pimpinan organisasi (perusahaan) untuk “merencanakan,
mengarahkan dan mengendalikan prestasi karyawan.”
Menurut Stephen (2001:319), system manajemen kinerja yaitu proses penetapan
standar kinerja dan penilaian kinerja karyawan untuk menghasilkan keputusan sumber daya
manusia yang obyektif dan juga memberikan dokumentasi untuk mendukung keputusan itu.
Penilaian kinerja tersebut merupakan bagian penting dari system manajemen kinerja.
Sedangkan menurut Van Meter dan van Horn dalam Subarsono (2005:99) menyatakan
bahwa ada enam variabel yang mempengaruhi kinerja pelaksanaan yakni:
1) Standar dan Sasaran Kebijakan
Standar dan sasaran kebijakan harus jelas dan terukur sehingga dapat direalisasikan.
Apabila standardan sasaran kebijakan kabur, maka akan terjadi multiinterpretasi dan
mudah menimbulkan konflik diantara para agen pelaksana.
2) Sumber Daya
Pelaksanaan kebijakan perlu dukungan sumber daya, baik sumber daya manusia
maupun sumber daya non manusia.
3) Komunikasi antar Organisasi dan Penguatan Aktifitas

Universitas Sumatera Utara

Dalam pelaksanaan program perlu dukungan dan koordinasi dengan instansi lain.
Untuk

Dokumen yang terkait

Dokumen baru