Model Persamaan Alometrik Penduga Biomassa dan Masa Karbon Pohon Di Hutan Alam Tropika Basah (Studi Kasus Di ArealIUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)

1
 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanasan global merupakan akibat dari fenomena efek rumah kaca yang
disebabkan oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer,
antara lain: karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dinitrogen oksida (N2O),
hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), dan sulfur heksafluorida (SF6)
yang mengakibatkan naiknya suhu udara di bumi. Apabila hal ini terus dibiarkan,
maka fenomena tersebut akan mengancam kehidupan semua mahkluk hidup di
bumi.
Berkaitan dengan fenomena tersebut para pemerhati lingkungan mulai
mengkhawatirkan kondisi yang akan terjadi di bumi apabila pemanasan global
terus berlanjut. Oleh karena itu perlu adanya usaha penurunan emisi gas rumah
kaca. Salah satu usaha tersebut adalah dengan melestarikan hutan/mengkonservasi
vegetasi di muka bumi ini karena vegetasi mampu mengendalikan gas rumah kaca
dengan jalan menyerap CO2 melalui proses fotosintesis.
Tumbuhan secara alami diberi kemampuan untuk dapat mengikat
karbondioksida di atmosfer melalui proses fotosintesisnya. Hasil fotosintesis ini
disimpan dalam bentuk biomassa yang menjadikan vegetasi tumbuh menjadi
makin besar atau makin tinggi. Pertumbuhan ini akan berlangsung terus sampai
vegetasi tersebut secara fisiologis berhenti tumbuh atau dipanen. Secara umum
hutan dengan pohon-pohon yang sedang berada pada fase pertumbuhan mampu
menyerap lebih banyak CO2, sedangkan hutan dewasa dengan pertumbuhan yang
kecil hanya menyimpan stok karbon tetapi tidak dapat menyerap CO2
berlebih/ekstra.
Karbon yang diserap oleh hutan tersimpan di atas dan di bawah
permukaan tanah.

Karbon di atas permukaan tanah disimpan dalam tegakan

berdiri, tumbuhan bawah, serasah, dan tegakan yang telah mati, sedangkan karbon
di bawah permukaan tanah tersimpan dalam akar, tanah, dan biota tanah.
Ekosistem alam dapat menyerap karbon dengan baik dan secara signifikan dapat
meningkat jika dilakukan pengelolaannya dengan baik. Hutan sebagai salah satu

2
 

ekosistem yang didominasi oleh vegetasi pepohonan dapat menyerap karbon di
udara yang diubah menjadi biomasa pohon dalam jumlah besar.
Kadar karbon dalam setiap lokasi dan jenis berbeda-beda, hal ini dapat
disebabkan karena perbedaan sifat fisik dan kualitas tempat tumbuhnya. Dengan
demikian untuk mengetahui kadar karbon disuatu tempat perlu diadakan
penelitian untuk menghitung stok karbon yang terdapat pada pohon yang tumbuh
di tempat tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan persamaan alometrik
biomassa pohon dan mendapatkan persamaan alometrik massa karbon di hutan
alam tropika basah di areal IUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur

3
 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hutan Tropika Dataran Rendah
Di dalam Undang–Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
dijelaskan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan
berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan
alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Ekosistem hutan di Indonesia dikelompokkan kedalam dua formasi, yaitu:
formasi klimatis dan formasi edafis. Formasi klimatis adalah formasi hutan yang
dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, seperti:
temperatur, kelembaban udara, intensitas cahaya, dan angin. Formasi edafis
adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh
keadaan tanah, seperti: sifat fisika, kimia, dan biologi tanah (Indriyanto 2005).
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1998) Indonesia memiliki berbagai
tipe hutan yaitu Hutan Hujan Tropika, Hutan Musim, Hutan Gambut, Hutan
Rawa, Hutan Payau, Hutan Kerangas, dan Hutan Pantai. Hutan tropika merupakan
hutan yang paling subur, hutan jenis ini terdapat diwilayah tropika atau berada
didekat garis equator yang terletak pada 10ºLU dan 10º LS. Hutan hujan tropika
merupakan habitat yang paling kaya dan kompleks. Hutan ini terdapat di wilayah
tropika dengan suhu relatif tinggi 25ºC-26ºC, serta curah hujan yang
berkelimpahan sekitar 2000 mm–4000 mm dan dengan kelembaban rata–rata
sekitar 80%.
Tegakan hutan hujan tropis didominsi oleh pepohonan yang selalu hijau.
Keanekaragaman spesies tumbuhan dan binatang yang ada dihutan hujan tropis
sangat tinggi. Hutan hujan tropis di Kalimantan memiliki lebih dari 40,000 spesies
tumbuhan, dan merupakan hutan yang paling kaya spesiesnya di dunia. Tajuk
hutan hujan tropis sangat rapat, terdapat tumbuhan yang memanjat, menggantung,
dan menempel pada dahan-dahan pohon.
Hutan Tropika Dataran Rendah merupakan salah satu tipe hutan di
Indonesia yang diklasifikasikan berdasarkan iklim dan ketinggian tempat. Hutan

4
 

Tropika Dataran Rendah biasanya memiliki ketinggian 0  sampai 1000 mdpl.
Penyebaran tipe ekosistem Hutan Tropika Dataran Rendah meliputi pulau–pulau
Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi dan beberapa pulau
Maluku. Di Hutan Tropika Dataran Rendah banyak terdapat spesies pohon
anggota family Dipterocarpaceae, terutama genus Shorea, Dipterocarpus, Hopea,
Vatica, Dryobalanops dan Cotylelobium. Hutan Tropika Dataran Rendah disebut
juga dengan hutan Dipterocarps (Indriyanto 2005)

2.2 Biomassa
Menurut Suhendang (2002) biomassa didefinisikan sebagai jumlah total
bahan organik hidup yang terdapat dalam tegakan yang dinyatakan dalam berat
kering oven dalam ton per unit area. Jumlah biomassa dalam hutan merupakan
selisih antara produksi melalui fotosintesis dan konsumsi melalui respirasi.
Menurut Brown (1997) biomassa menunjukkan jumlah potensial karbon
yang dapat dilepas ke atmosfer sebagai karbon dioksida ketika hutan ditebang dan
atau dibakar. Sebaliknya, melalui penaksiran dapat dilakukan perhitungan jumlah
karbondioksida yang dapat diikat dari atmosfer dengan cara melakukan reboisasi
atau dengan penanaman. Biomassa tumbuhan bertambah karena tumbuhan
menyerap karbondioksida dari udara dan mengubah zat tertentu menjadi bahan
organik melalui proses fotosintesis.
Biomassa dapat dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu: biomassa di atas
permukaan tanah atau above ground biomass dan biomassa di bawah permukaan
tanah atau below ground biomass. Biomassa di atas permukaan tanah adalah
semua materi hidup di atas permukaan, seperti: batang, tunggul, cabang, kulit
kayu, biji, dan daun dari vegetasi baik dari strata pohon maupun dari strata
tumbuhan bawah di lantai hutan, sedangkan biomassa di bawah permukaan tanah
adalah semua biomassa dari akar tumbuhan yang hidup (Sutaryo 2009).
Biomassa hutan adalah jumlah total bobot kering semua bagian tumbuhan
hidup, baik untuk seluruh atau sebagian tubuh organisme, produksi atau
komunitas dan dinyatakan dalam berat kering per satuan luas (ton/ha). Biomassa
hutan berperan penting dalam siklus karbon. Hutan mengabsorpsi CO2 selama

5
 

proses fotosintesis dan menyimpannya sebagai materi organik dalam biomassa
tanaman. Biomassa hutan menyediakan informasi penting dalam menduga
besarnya potensi penyerapan CO2 dan biomassa dalam umur tertentu yang dapat
dipergunakan untuk mengestimasi produktivitas hutan (Rused 2009).
Biomassa di hutan terdiri atas biomassa bahan hidup, biomassa bahan
mati, tanah dan produk kayu. Dari biomassa tersebut menurut Brown (1997)
umumnya karbon menyusun 40-50% bahan kering (biomassa) dari tanaman.

2.3 Metode Penghitungan Biomassa
Menurut Sutaryo (2009) terdapat 4 cara utama untuk menghitung
biomassa, sebagai berikut :
1. Sampling dengan pemanenan (Destructive sampling)
Metode ini dilaksanakan dengan memanen seluruh bagian tumbuhan termasuk
akarnya, mengeringkannya, dan menimbang berat biomassanya. Aplikasi
metode ini untuk mengukur biomassa hutan dapat dilakukan dengan
mengulang beberapa area cuplikan atau melakukan ekstrapolasi untuk area
yang lebih luas dengan menggunakan persamaan alometrik.
2. Sampling tanpa pemanenan (Non-destructive sampling)
Metode ini merupakan cara sampling dengan melakukan pengukuran tanpa
melakukan pemanenan. Metode ini antara lain dilakukan dengan mengukur
tinggi atau diameter pohon dan menggunakan persamaan alometrik untuk
mengeksplorasi biomassa.
3. Pendugaan melalui penginderaan jauh
Hasil penginderaan jauh dengan resolusi sedang sangat bermanfaat untuk
membagi area menjadi kelas-kelas vegetasi relatif homogen. Hasil pembagian
kelas ini menjadi panduan untuk proses survey dan pengambilan data
lapangan. Untuk mendapatkan estimasi biomassa dengan tingkat keakuratan
yang baik memerlukan hasil pengindaraan jauh dengan resolusi yang tinggi,
tetapi hal ini akan menjadi metode alternatif dengan biaya yang besar.

6
 

4. Pembuatan model
Model digunakan untuk menghitung estimasi biomassa dengan frekuensi dan
intensitas pengamatan insitu atau penginderaan jauh yang terbatas. Umumnya,
model empiris ini didasarkan pada jaringan dari sampel plot yang diukur
berulang, yang mempunyai estimasi biomassa yang sudah menyatu atau
melalui persamaan alometrik yang mengkonversi volume menjadi biomassa.

2.4 Karbon
Karbon adalah unsur kimia dengan nomor atom 6 dan massa atom
12,011115, bukan merupakan unsur logam yang dalam bentuk arang, berwarna
hitam, dalam bentuk grafit, berwarna abu-abu, dan dalam bentuk intan murni tidak
berwarna atau bening (Anonim 2007). Karbon merupakan salah satu bahan
organik terbesar yang menyusun kayu yaitu sebesar 49 %. Umumnya karbon
menyusun 45-50% bahan kering dari tanaman. Tumbuhan mendapatkan karbon,
dalam

bentuk

CO2

dari

atmosfer

melalui

stomata

daunnya

dan

menggabungkannya ke dalam bahan organik tersebut kemudian menjadi sumber
karbon bagi konsumen.
Menurut Hairiah dan Rahayu (2007), jumlah C (karbon) tersimpan antar
lahan berbeda-beda, tergantung pada keragaman dan kerapatan tumbuhan yang
ada, jenis tanahnya serta cara pengelolaannya. Penyimpanan C suatu lahan
menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik, atau dengan kata lain
jumlah C tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya
jumlah C tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah, BOT).
Hutan alami merupakan penyimpan karbon tertinggi karena keragaman
jenis vegetasi yang tinggi, tumbuhan bawah dan serasah di permukaan tanah yang
banyak. Melalui proses fotosintesis, CO2 di udara diserap oleh tanaman dan
diubah menjadi karbohidrat, kemudian disebarkan ke seluruh tubuh tanaman dan
ditimbun dalam biomasa berupa daun, batang, ranting, cabang, bunga, dan buah
(Hairiah & Rahayu 2007)

7
 

Menurut Dury et al. (2002) diacu dalam Balinda (2008) menyebutkan
bahwa dalam tegakan hutan lokasi keberadaan karbon adalah sebagai berikut :
a. Pepohonan dan akar: Biomassa hidup, baik yang terdapat di atas permukaan
dan di bawah permukaan dari berbagai jenis pohon, termasuk batang, daun
dan cabang, serta akar.
b. Vegetasi lain: Vegetasi bukan pohon (semak, belukar, herba, dan rerumputan)
c. Sampah hutan: Biomassa mati di atas lantai hutan termasuk sisa pemanenan
d. Tanah: Karbon tersimpan dalam bahan organik (humus) maupun dalam
bentuk mineral karbonat. Karbon dalam tanah mungkin mengalami
peningkatan atau penurunan tergantung pada kondisi tempat sebelumnya dan
sekarang serta kondisi pengolahan tanah.
Hutan tropika merupakan salah satu penyedia karbon yang memiliki
potensi yang besar. Menurut Junaedi (2007) hutan tropis dataran rendah areal
bekas tebangan menyimpan massa karbon di atas permukaan tanah sebesar
57.68–107.71 ton C/ha dan di hutan primer sebesar 229.33 ton C/ha.
2.5 Kadar Air dan Berat Jenis Kayu
Kadar air didefinisikan sebagai berat air yang dinyatakan dalam persen air
terhadap berat kayu bebas air atau kering tanur (BKT). Air di dalam tumbuhan
dibagi menjadi dua, yaitu: air bebas dan air terikat. Air bebas merupakan air yang
berada pada rongga sel dan relatif mudah untuk dikeluarkan dan merupakan air
yang pertama hilang dalam proses pengeringan sedangkan air terikat adalah air
yang berada di dalam dinding sel dan terikat lebih kuat karena adsorbsi
permukaan dalam struktur kayu (Haygreen & Bowyer 1989).
Berat jenis adalah perbandingan antara kerapatan kayu (atas dasar berat
kering tanur dan volume pada kadar air yang telah ditentukan) dengan kerapatan
air pada 4ºC (Haygreen & Bowyer 1989). Berat jenis kayu merupakan satu sifat
fisik kayu yang paling penting. Berat jenis kayu biasanya dipengaruhi oleh umur
pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang, kecepatan tumbuh dan kadar air
yang terkandung di dalam kayu tersebut. Berat jenis suatu kayu akan naik jika
kandungan air yang menjadi dasarnya berkurang dibawah titik jenuh serat (TJS)
(Haygreen & Bowyer 1989).

8
 

2.6 Kadar Abu dan Zat Terbang
Menurut Achmadi (1990), diacu dalam Purwitasari (2011) kadar abu
adalah jumlah oksida-oksida logam yang tersisa pada pemanasan tinggi. Abu
tersusun dari mineral-mineral terikat kuat pada arang seperti kalsium, kalium dan
magnesium. Komponen utama abu dalam kayu tropis ialah kalium, kalsium,
magnesium dan silika. Galat dalam penetapan kadar abu dapat disebabkan oleh
hilangnya klorida logam alkali dan garam-garam amonia serta oksidasi tidak
sempurna pada karbonat dari logam alkali tanah . Kadar zat terbang adalah persen
kandungan zat-zat yang mudah menguap yang hilang pada pemanasan 950°C
yang terkandung pada arang terhadap berat kering bahan bebas air. Secara kimia
zat terbang terbagi menjadi tiga sub golongan, yaitu senyawa alifatik, terpena dan
senyawa fenolik. Zat-zat yang menguap ini akan menutupi pori-pori kayu dari
arang (Haygreen & Bowyer 1989).

2.7 Alometrik
Metode alometrik merupakan metode pengukuran pertumbuhan tanaman
yang dinyatakan dalam bentuk hubungan-hubungan eksponensial atau logaritma
antar organ tanaman yang terjadi secara harmonis dan perubahan secara
proporsional (Parresol 1999, diacu dalam Mugiono 2009). Persamaan alometrik
merupakan hubungan antara suatu peubah tak bebas yang diduga oleh satu atau
lebih peubah bebas. Contohnya adalah hubungan antara volume pohon, biomassa
atau massa karbon dengan diameter dan tinggi pohon.
Penelitian mengenai persamaan alometrik untuk menduga biomassa dan
karbon

telah

banyak

dikembangkan

oleh

para

ahli.

Brown

(1997)

mengembangkan model persamaan alometrik untuk menduga biomassa di hutan
tropika yang dikelompokkan berdasarkan curah hujan. Persamaan alometrik ini
menggunakan parameter diameter setinggi dada dan tinggi total pohon. Persamaan
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.

9
 

Tabel 1 Model alometrik penduga biomassa pohon menurut perbedaan curah
hujan
Tempat tumbuh
(curah hujan mm/th)
Kering ( < 1500)
Lembab (1500-4000)

Basah (>4000)

Persamaan alometrik
Y= 0.139D2.32
Y= 42.6 –12.8D+1.242D2
Y= 0.118D2.53
Y= 0.092D2.60
Y= 21.3 –6.95D+0.74D2
Y= 0.037D1.89H

Sumber : Brown (1997)
Keterangan :
Y : Biomassa pohon (kg/pohon)
H : Tinggi pohon (m)

Selang
diameter
Pohon contoh
(cm)
5-40
5-148
5-148
5-148
5-112
5-112

Jumlah
Pohon
contoh

R2

28
170
170
170
169
169

0.89
0.84
0.97
0.92
090

D : Diameter setinggi dada (cm)
(-) : Tidak ada keterangan

10 
 

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di hutan alam tropika di areal IUPHHK-HA PT Suka
Jaya Makmur, Kalimantan Barat. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama 3 bulan

yang terdiri dari 2 tahap, yaitu; tahap pengambilan data di lapangan pada Juli
2011 dan tahap pengujian contoh uji laboratorium untuk menganalisis sampel
bagian pohon, yaitu: daun, ranting, cabang, batang utama, dan akar yang
dilakukan pada Agustus–September 2011 di Laboratorium Kimia Hasil Hutan dan
Teknologi Peningkatan Mutu Kayu, Departemen Hasil Hutan, Fakultas
Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan untuk penelitian ini adalah pohon–pohon dominan
yang terdapat di areal IUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur sebanyak 40 pohon
yang terdiri dari kisaran diameter 5 sampai lebih dari 60 sentimeter yang dibagi
kedalam sembilan kelas. Dari masing-masing pohon diambil 3 contoh uji tiap-tiap
bagian pohon mulai dari daun, ranting, cabang, batang utama, dan akar
Alat yang digunakan pada penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu alat
yang digunakan untuk pengambilan data di lapangan, meliputi: buldozer,
chainsaw, meteran, pita keliling, kompas, tongkat sepanjang 1.3 m, timbangan,
parang, tambang, terpal, kantong plastik, sikat, kuas, katrol, tally sheet dan alat
tulis. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk pengujian contoh uji di
laboratorium, meliputi: timbangan, oven tanur listrik, desikator, cawan porselen,
alat penggiling (willey mill), dan alat saring (mesh screen) ukuran 40-60 mesh.

3.3 Metode Pengumpulan Data di Lapangan
Pengumpulan data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:
pengumpulan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan
secara langsung di lapangan, yaitu: meliputi data diameter dan panjang setiap
batang utama dan cabang serta berat basah dari daun, ranting, akar, dan tunggak.

11 
 
Sedangkan pengumpulan data sekunder diperoleh dari IUPHHK PT Suka Jaya
Makmur, sebagai berikut :

1. Peta lokasi penelitian
2. Keadaan lapangan yang meliputi topografi, tanah, geologi dan iklim
3. Keadaan hutan yang meliputi tipe hutan dan potensi hutan
4. Data ITSP (Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan) tahun 2011.

3.4 Metode Pengambilan Data Primer
3.4.1

Metode Pemilihan Pohon Sampel
Jumlah sampel pohon yang diperlukan dalam penelitian ini sebanyak 40

pohon dari jenis dominan yang akan dipilih dari kelas-kelas diameter pohon yang
terdapat di lapangan dan ditebang dari IUPHHK PT Suka Jaya Makmur. Pohon
yang dijadikan sampel merupakan pohon yang sehat dan normal yang diambil secara
purposive sampling.

Tiap-tiap pohon sampel diukur diameternya pada ketinggian 1.30 m dari
permukaan tanah dan diberi nomor pohon mulai dari nomor 1 sampai dengan 40.
Kemudian pohon-pohon tersebut ditebang dan diukur volume batang utama dan
cabangnya, serta berat basah ranting, daun, akar dan tunggak.

3.4.2

Metode Pengumpulan Data Pohon Sampel
Metode pengumpulan data pohon sampel melalui tahap sebagai berikut

(Elias 2010):
1. Persiapan Sebelum Penebangan Pohon Sampel
Persiapan sebelum penebangan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.

Menyiapkan peralatan berupa chainsaw untuk pemangkasan cabang,
penebangan dan pemotongan batang utama. Parang untuk pemangkasan
ranting dan daun. Bulldozer dan cangkul dipergunakan untuk menggali
tunggak dan akar kemudian dibersihkan dengan menggunakan kuas
tembaga.

b.

Menyiapkan wadah dari terpal di atas permukaan tanah di sekitar pohon
sampel

12 
 
c.

Menyiapkan pita keliling untuk pengukuran diameter batang utama dan
cabang serta timbangan untuk menimbang berat basah cabang, ranting,
daun, akar dan tunggak

d.

Menyiapkan tali tambang dan katrol untuk menahan cabang pohon yang
dipangkas agar tidak terjatuh langsung ke atas tanah, sehingga tidak
terjadi kerusakan dan kehilangan bagian-bagian pohon sampel.

2. Pengukuran Diameter Pohon Sampel.
Pengukuran diameter pohon sampel yang telah diberi nomor dilakukan
pada ketinggian setinggi dada dengan menggunakan pita keliling dan tongkat
sepanjang 1.30 m. Hasil pengukuran dicantumkan dalam tally sheet yang telah
disediakan sesuai dengan nomor pohonnya.
3. Pemangkasan Cabang
Sebelum perebahan batang utama pohon (penebangan) terlebih dahulu
dilakukan pemangkasan cabang-cabang pohon. Tujuan pemangkasan cabang
pohon berdiri yaitu mengumpulkan bagian daun, ranting dan cabang sampel
dengan saksama.

Pemangkasan cabang dilakukan dengan cara memanjat

pohon sampel dan dilakukan pemotongan cabang-cabang di atas pohon.
Cabang yang telah dipotong diturunkan secara berhati-hati ke atas permukaan
tanah dengan menggunakan penahan tali tambang yang telah disiapkan
sebelumnya. Cabang, ranting dan daun-daun hasil pemangkasan dikumpulkan
dan disimpan di atas wadah terpal yang telah disiapkan. Untuk kondisi
tertentu, yaitu jika pohon sampel terdapat dipinggir jalan maka pemangkasan
cabang tidak perlu dilakukan karena penebangan dapat diarahkan langsung ke
badan jalan sehingga bagian daun, ranting dan cabang pun dapat dikumpulkan
dengan saksama.
4. Penebangan Batang Utama
Penebangan

batang

utama

pohon

sampel

dilakukan

setelah

pemangkasan cabang selesai. Perebahan pohon kecil dilakukan dengan
memotong bagian tunggak yang dekat permukaan tanah secara langsung
sedangkan untuk perebahan batang utama pohon sampel yang berdiameter
besar (>30 cm) dilakukan dengan membuat takik rebah dan takik balas pada
tunggak pohon yang diusahakan sedekat mungkin dengan permukaan tanah.

13 
 
Bagian batang dari tunggak yang berada di atas permukaan tanah dipotong
setelah penggalian tunggak dan akar, dan bagian batang tersebut disatukan
dengan batang utama pohon.
5. Penggalian Tunggak dan Akar Pohon Sampel
Penggalian tunggak dan akar pohon harus dilakukan dengan hati-hati
agar semua bagian-bagian akar dapat digali dari dalam tanah. Bagian tunggak
dan akar yang masih terdapat tanah dibersihkan dengan parang, sikat dan kuas
hingga bersih dari kotoran dan tanah.
6. Pemisahan Bagian–Bagian Pohon
Bagian–bagian pohon dipisahkan kedalam kelompok masing-masing
yaitu:
a. Kelompok batang utama, yaitu batang mulai dari pangkal batang di atas
permukaan tanah sampai ujung batang utama berdiameter 10 cm
b. Kelompok cabang, yaitu bagian batang cabang berdiameter 10 cm ke atas
c. Kelompok ranting, terdiri dari bagian cabang dan ranting berdiameter
≤10 cm
d. Kelompok akar, terdiri dari bagian akar tunjang dan akar lainnya
e. Kelompok daun, terdiri dari bagian tangkai daun, daun – daun, bunga dan
buah.
7. Pengukuran Tinggi Pohon
Tinggi pohon diukur dalam keadaan batang utama sudah rebah di atas
permukaan tanah. Tinggi yang diukur adalah tinggi pohon bebas cabang
pertama dan tinggi pohon total. Alat yang digunakan adalah meteran.
8. Pengukuran Volume Batang Utama dan Cabang
Pengukuran volume batang utama dan batang cabang dilakukan secara
terpisah. Batang utama dan batang cabang diberi tanda dengan interval
panjang ±2 m. Parameter yang diukur adalah panjang (m) dan keliling (cm)
pada ujung–ujung tiap sekmen batang dari batang utama dan cabang.
9. Penimbangan Berat Basah Ranting, Daun, dan Akar
Penimbangan berat basah ranting, daun, dan akar dilakukan secara
terpisah. Akar–akar halus dan daun–daun yang akan ditimbang masing–
masing dimasukkan ke dalam karung plastik yang telah diketahui beratnya,

14 
 
kemudian ditimbang berat basahnya dalam satuan kilogram, untuk ranting,dan
akar berdiameter besar masing–masing diikat dengan tali plastik, dan
ditimbang berat basahnya.

3.4.3

Metode Pengambilan Bahan Uji Laboratorium di Lapangan
Sampel bahan uji di laboratorium diambil dari bagian-bagian pohon

masing-masing sampel pohon, yakni dari bagian batang utama, batang cabang,
ranting, daun, dan akar. Sampel yang diambil dari masing-masing bagian pohon
sampel adalah sebanyak 3 kali ulangan. Sehingga jumlah sampel bahan uji di
laboratorium sama dengan 40x5x3 buah atau berjumlah 600 sampel, sebagai
berikut :
1.

120 buah sampel batang utama

2.

120 buah sampel batang cabang

3.

120 buah sampel ranting

4.

120 buah sampel daun

5.

120 buah sampel akar.
Cara pengambilan sampel bahan uji di lapangan adalah sebagai berikut

(Elias 2010)
1. Sampel batang utama (Bt U), diambil dari ujung (U), pangkal (P) dan bagian
tengah (T) batang utama dengan membuat potongan melintang batang setebal
± 5 cm
2. Sampel batang cabang (Bt C) diambil dari cabang yang besar (B), sedang (S)
dan kecil (K) yang diameternya >10 cm. Sampel diambil dengan cara
membuat potongan melintang batang cabang setebal ±5 cm
3. Sampel ranting (R), diambil dari ranting-ranting besar (B), ranting sedang (S)
dan ranting kecil (K) yang panjangnya dipotong-potong menjadi bagian
ranting-ranting sepanjang ±20-30 cm. Setiap sampel beratnya ±1 kg
4. Sampel daun (D) diambil dari daun-daun yang telah dicampur sebanyak ±1 kg
sebagai sampel
5. Sampel akar (A) diambil dari akar tunjang (T), akar besar (B) yang
diameternya >5 cm dan akar kecil (K) yang diameternya 5 cm dibuat dengan ukuran 2cmx2cmx2cm. Sedangkan contoh
uji dari bagian daun, ranting dan akar kecil (berdiameter t tabel
4. Menentukan nilai uji statistik (nilai t-hit)
Rumus yang digunakan adalah (Walpole 1993) :
T hitung =

(x1 − x2 ) − d 0
⎛ s12 ⎞ ⎛ s22 ⎞
⎜⎜ ⎟⎟ − ⎜⎜ ⎟⎟
⎝ n1 ⎠ ⎝ n2 ⎠

Keterangan :
t hitung
x1
x2
d0
S21
S22
n1
n2

: Beda nilai tengah
: Rataan kadar karbon bagian pohon ke-1
: Rataan kadar karbon bagian pohon ke-2
: Selisih nilai beda tengah populasi = 0
: Ragam bagian pohon ke-1
: Ragam bagian pohon ke-2
: Jumlah contoh bagian pohon ke-1
: Jumlah contoh bagian pohon ke-2

5. Membuat kesimpulan
Menyimpulkan Ho diterima atau ditolak.

22 
 

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Letak dan Luas Areal
PT Suka Jaya Makmur merupakan salah satu anak perusahaan yang
tergabung dalam kelompok Alas Kusuma Group berdasarkan Surat Keputusan
IUPHHK No. 106/KPTS-II/2000 tanggal 29 Desember 2000. Luas areal
berdasarkan SK Menhut No. 106/KPTS-II/2000 adalah seluas 171,340 ha, dimana
luas Hutan Produksi Terbatas seluas 158.340 ha dan Hutan Produksi Tetap seluas
13,000 ha. Letak areal penelitian (RKT 2011) dalam areal kerja PT Suka Jaya
Makmur dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.Areal kerja PT Suka Jaya Makmur.
Menurut pembagian wilayah administrasi pemerintahan, areal IUPHHK
PT Suka Jaya Makmur meliputi Kecamatan Tumbang Titi, Nanga Tayap, Sandai,
Matan Hilir Selatan dan Sokan, Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Sintang,
Provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan pembagian administrasi kehutanan, areal
IUPHHK PT Suka Jaya Makmur termasuk ke dalam wilayah Kesatuan
Pemangkuan Hutan Ketapang dan Sintang Selatan, Dinas Kehutanan Provinsi
Kalimantan Barat. Sedangkan berdasarkan pembagian kesatuan wilayah Daerah

23 
 

Aliran Sungai (DAS), areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur termasuk ke dalam
wilayah DAS Pawan sub DAS Pesaguan (sub-sub DAS Pending, sub-sub DAS
Burung), sub DAS Kerabai, sub DAS Tayapdan sub DAS Pinoh.
Secara geografis, areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur merupakan areal
kompak yang terletak diantara 110˚20’ BT - 111˚20’ BT dan 01˚20’ LS-01˚55’
LS. Selain batas geografis , terdapat juga batas-batas persekutuan sebagai berikut :
Utara

: IUPHHK PT Duaja II dan PT Wanasokan Hasilindo

Timur

: Hutan Lindung dan Hutan Negara

Selatan

: IUPHHK PT Wanakayu Batuputih dan Hutan Negara

Barat

: HPT PT Triekasari, PT Kawedar, dan Hutan Negara

4.2 Topografi
Topografi areal IUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur umumnya
bergelombang, datar dan landai hingga agak curam dengan persentase kemiringan
lapangan seperti yang disajikan padaTabel 2. Areal tersebut memiliki ketinggian
minimum 300 m dpl dan maksimum 700 m dpl, dengan rata-rata ketinggian
500 m dpl.
Tabel 2.Luas areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur berdasarkan kelas lereng
Klasifikasi
Datar
Landai
Bergelombang
Curam
Sangat Curam
Jumlah

Kelerengan (%)
0–8
8 – 15
15 – 25
25 – 40
>40

Luas (ha)
35,726.02
26,883.34
65,744.38
35,529.57
7,456.69
171,340

Persentase (%)
20.85
15.69
38.72
20.74
4.00
100

Sumber : Peta topografi PT Suka Jaya Makmur

4.3 GeologidanJenis Tanah
Berdasarkan Peta Geologi Provinsi Kalimantan Barat, diketahui bahwa
batuan yang terdapat pada areal unit hutan produksi PT Suka Jaya Makmur adalah
basal bunga, batuan gunung api kerabai, granit laur, granit sangiang dan granit
suka dana. Formasi-formasi tersebut mengandung sedikit kadar magnetik yang
merupakan peleburan dari sisa-sisa letusan gunung api. Pada areal hutan produksi
ini tidak terdapat tambang

24 
 

Sesuai dengan peta tanah Provinsi Kalimantan Barat, jenis tanah yang
terdapat pada areal pengusahaan hutan PT Suka Jaya Makmur hampir seluruhnya
terdiri atas tanah podsolik merah kuning. Sebagian besar jenis tanah di PT Suka
Jaya Makmur adalah Podsolik merah, latosol, litosol dengan batuan induknya
adalah batuan sedimen, batuan beku dan batuan metamorf.
4.4 Hidrologi
Areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur pada dasarnya masuk dalam
Kesatuan DAS Pawan, Sub DAS Pesaguan (Sub-sub DAS Pending, Sub-sub DAS
Burung), Sub DAS Kerabai, Sub DAS Tayapdan Sub DAS Pinoh. Sungai utama
adalah sungai Pawan dengan lebar 150–300 m dengan kedalaman 5–15 m dan
sungai Pesaguan dengan lebar 60–150 m dengan kedalaman 4–10 m dimana
kedua sungai tersebut bermuara kelaut Cina Selatan.
4.5 Iklim
Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1952), kondisi iklim
di areal PT Suka Jaya Makmur termasuk tipe iklim A, dengan curah hujan
rata-rata tahunan berkisar antara 1500-3000 mm/thn. Hasil pengukuran curah
hujan dan hari hujan rata-rata di stasiun pengamatan cuaca terdekat dengan areal
IUPHHK PT Suka Jaya Makmur (stasiun pengamatan cuaca TumbangTiti) dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Curah hujan dan hari hujan rata-rata bulanan di areal IUPHHK PT Suka
JayaMakmur
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
Rata-rata

Curah hujan (mm)
203
212
232
248
237
189
147
156
219
314
315
289
2,761
230

Sumber : Badan Meteorologi Kabupaten Ketapang, tahun 2007

Hari hujan
11.5
8.9
9.4
10.4
9.2
6.4
5.1
5.7
6.9
9.5
10.9
12.4
184.1
8.7

25 
 

4.6 Kondisi Vegetasi Hutan
Kawasan hutan pada areal kerja PT Suka Jaya Makmur termasuk tipe
hutan hujan tropika basah yang didominasi oleh jenis-jenis Dipterocarpaceae
antara lain meranti kuning, meranti merah, melapi, keruing, medang, sawang,
benuang, kempas, mersawa, dan jenis-jenis komersil lainnya.
Berdasarkan peta paduserasi (RTRWP & TGHK) Provinsi Kalimantan
Barat dan peta penunjukan kawasan hutan dan perairan Provinsi Kalimantan Barat
areal PT Suka Jaya Makmur seluas 171,430 ha terdiri dari Hutan Produksi
Terbatas (HPT) seluas 153,185 ha dan Hutan Produksi Tetap (HP) seluas 18,175
ha. Dari hasil pengukuran luas secara planimetris pada foto citra landsat liputan
tahun 2009 skala 1: 100,000 luas areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur 171,340
ha, dengan kondisi penutupan lahan (vegetasi) dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kondisi penutupan vegetasi dan fungsi hutan areal IUPHHK. PT Suka
Jaya Makmur
No

Penutupan Lahan

Fungsi Hutan (ha)
HPT

HP

Buffer
Zone HL

jumlah

Persen
(%)

1

Hutan Primer

2,474

25,320

3,180

31,174

18.19

2

Hutan Bekas Tebangan

13,826

105,746

6,807

126,379

73.76

3

Non Hutan

1,475

2,950

-

4,425

2.58

4

Tertutup Awan

1,569

7,420

373

9,362

5.47

19,344

141,436

10,360

171,340

100.00

Jumlah
Sumber : PT Suka Jaya Makmur

Potensi tegakan hutan berdasarkan hasil ITSP (Inventarisasi Hutan
Sebelum Penebangan) pada RKT (Rencana Kerja Tahunan) tahun 2011 di areal
IUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur disajikan pada Tabel 5.

26 
 

Tabel 5.Rekapitulasi hasil ITSP di areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur tahun 2011
Kelas Diameter
20-29 cm
Kelompok
Jenis

No

1
2
3

Kelompok
Meranti
Rimba
Campuran
Kayu Indah

Jumlah

30-39 cm

40-49 cm

50-59 cm

60 cm up

20 cm up

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

N
(individu
/Ha)

Vol
(m3/Ha)

1.58

0.60

2.38

1.96

2.58

3.99

2.09

5.03

5.83

32.84

14.45

44.43

3.36

1.24

3.82

3.02

2.62

3.86

1.01

2.35

1.12

5.14

11.94

15.62

0.30

0.10

0.47

0.35

0.39

0.50

0.23

0.45

0.29

1.14

1.67

2.53

5.23

1.95

6.67

5.33

5.59

8.35

3.33

7.82

7.24

39.13

28.06

62.58

26

27 
 

4.7 Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat
Penduduk desa yang berada disekitar IUPHHK PT Suka Jaya Makmur hampir
seluruhnya merupakan Etnis Dayak dan sisanya merupakan Suku Melayu, Tionghoa,
dan Jawa. Etnis Dayak yang berdomisili di wilayah IUPHHK PT Suka Jaya Makmur
adalah Dayak Kapus, Dayak Laman Tawa, Dayak Laman Tuha, dan Dayak Keluas.
Mayoritas Agama yang dipeluk oleh penduduka dalah agama Katolik. Kedua terbesar
adalah agama Kristen Protestan, sisanya pemeluk agama Islam, dan agama lainnya.
Pada umumnya mata pencaharian penduduk desa di sekitar IUPHHK PT Suka
Jaya Makmur adalah petani tradisional yang lebih dikenal sebagai peladang
berpindah. Selain berladang sebagian penduduk desa juga mempunyai aktifitas di
kebun karet, sawah, dan mengumpulkan biji tengkawang pada musim buah.
4.8 Aksesibilitas
Areal IUPHHK PT Suka Jaya Makmur memiliki tingkat aksesiblitas yang
cukup tinggi. Untuk menuju base camp IUPHHK PT Suka Jaya Makmur secara
umum melalui kota Ketapang. Dari kota Ketapang ke base camp, dapat melalui 2
macam jalan ,yaitu : (a) Jalan darat yang melalui ruas jalan Ketapang–Siduk (60 km),
Siduk–DesaSei Kelly (61 km) dan Desa Sei Kelly–base camp (37 km), (b) jalan air
melalui sungai Pawan antara Ketapang–log pond di desa Sei Kelly (± 3 jam ) dan
jalan darat antara log pond–base camp (38 km). Sebagian besar jalan darat tersebut
dapat dilalui kendaraan pada musim kemarau.
Untuk mencapai lokasi setiap blok tebangan dapat melalui jalan darat yang
berupa jalan pengerasan yang keadaanya baik. Sedangkan di dalam blok, banyak
terdapat jalan tanah yang dalam rencana akan dikembangkan menjadi jalan cabang
maupun jalan induk.
Lapangan udara Rahadi Oesman di Ketapang adalah lapangan udara yang
terdekat dengan areal IUPHHKPT Suka Jaya Makmur. Lapangan udara tersebut
untuk pendaratan pesawat jenis Twin Otter dari Pontianak maupun dari Jakarta.
Hubungan

antara

Ketapang

dan

Pontianak

dilaksanakan

oleh

perusahaan

penerbanagan Merpati Air Lines (MNA) dan Dirgantara Air Service (DAS) dengan

28 
 

frekwensi 3 kali sehari. Sedangkan dari Jakarta hanya dilayani oleh MNA dengan
frekwensi 3 kali seminggu. Pelabuhan laut juga terdapat di Ketapang yang dapat di
singgahi oleh jenis kapal untuk pelayaran samudra nusantara, local rakyat dan khusus.
Hubungan pos dan telekomunikasi yang terdapat di Ketapang berupa telepon
sambungan langsung jarak jauh (SLJJ) sedangkan hubungan antara kampong dengan
kampung lain atau kampong dengan kecamatan dan sebaliknya dilaksanakan dengan
sistem kurir.

29
 

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pohon Sampel
Kusuma (2009) menyebutkan terdapat 40 jenis pohon dominan di lokasi
penelitian. Berdasarkan data dominansi jenis-jenis tersebut dalam penelitian ini
dipilih jenis-jenis yang paling dominan, yang: menghasilkan 14 jenis pohon
sampel. Empat belas jenis pohon tersebut yaitu meranti merah (Shorea pinanga),
kumpang (Knema comferta), ubar (Sizigium junghuhnii), ulin (Eusideroxylon
zwageri), nyatoh (Palaquium innophylum), sawang, keruing (Dipterocarpus
creenitus), mayau (Shorea johorensis), meranti kuning (Shorea accuminattisima),
lengkuham (Letcea letocarpa), rambutan (Nephylium indum), keranji (Dialium
cuspidatum), medang (Dahasia cahesea), dan kempas (Kempasia excelsa).
Jenis-jenis pohon sampel dan jumlahnya dalam kelas diameter dapat dilihat pada
Tabel 6.
Tabel 6 Jenis dan jumlah pohon sampel dalam tingkat kelas diameter
Kelas Diameter
Jenis Pohon
Jumlah Pohon
(cm)
Meranti merah
1
Kumpang
2
Ubar
2
Ulin
1
5‐10
Nyatoh
1
Sawang
1
keruing
2
Meranti merah
1
Mayau
2
Meranti Kuning
1
10‐15
Lengkuham
2
Rambutan
1
keranji
1
Kumpang
1
Mayau
1
Meranti merah
2
15‐20
Medang
1
Sawang
2
Kumpang
1
Meranti merah
2
Medang
1
20‐25
Ubar
1
Lengkuham
1
Meranti merah
1
Mayau
1
25‐30
Kumpang
1

Total

10

8

7

6

3

30
 
Tabel 6 Jenis dan jumlah pohon sampel dalam tingkat kelas diameter (lanjutan)
Kelas Diameter
(cm)
30‐40
40‐50
50‐60
60 up

Jenis Pohon

Jumlah Pohon

Meranti merah
Mayau
Nyatoh
Kempas
Meranti merah
Mayau

1
1
1
1
1
1

Total
3
1
1
1

5.2 Sifat Fisik dan Kimia Bagian Pohon
5.2.1 Kadar air
Air merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan oleh semua mahluk
hidup untuk melakukan metabolisme tidak terkecuali pohon. Pada pohon air
diserap oleh xilem bersama unsur

hara yang dibutuhkan. Air dalam kayu

diekspresikan dalam bentuk kadar air. Kadar air kayu adalah banyaknya air yang
terdapat di dalam kayu atau produk kayu, biasanya dinyatakan secara kuantitatif
dalam persen (%) terhadap berat kayu bebas air atau berat kering tanur (BKT).
Berdasarkan hasil analisis laboratorium terdapat perbedaan kadar air pada
bagian-bagian pohon maupun pada kelas dimeter pohon yang disajikan pada
Tabel 7.
Tabel 7 Rata-rata kadar air berdasarkan kelas diameter dan bagian-bagian pohon
Kelas
Diameter
(cm)
5-10
10-15
15-20
20-25
25-30
30-40
40-50
50-60
>60
Rata-rata
Keterangan

Kadar Air (%)
Cabang

Ranting

Daun

54.67
62.19
70.20
66.92
80.90
51.21
38.45
107.15
59.35

Batang
Utama
59.45
61.47
71.66
63.85
75.30
58.43
53.29
81.17
67.18

56.44
51.28
77.61
53.61

54.83
49.94
63.34
48.62
53.68
48.81
44.70
56.87
43.87

29.06
23.56
31.03
30.93
35.05
36.44
16.94
27.10
20.56

65.67

65.76

59.73

51.63

27.85

Akar

: (-) tidak ada sampel

Kadar air pada bagian batang 65.76% merupakan kadar air paling tinggi
setelah akar 65.67%, cabang 59.73%, ranting 51.63% dan daun 27.85%. Kadar air

31
 

tertinggi pada bagian batang dapat disebabkan oleh faktor anatomi kayu dimana
pada bagian batang biasanya memiliki dinding sel yang lebih tebal sehingga dapat
menampung air lebih banyak (Kusuma 2009). Daun yang memiliki luas
permukaan yang besar dan stomata/mulut daun akan sangat mudah menguapkan
air yang disimpan sehingga pada hasil pengukuran kadar air didapatkan nilai yang
paling kecil yaitu 27.85% karena terjadi penguapan alami selama pengambilan
contoh uji sampai pengujian di laboratorium. Hasil ini selaras dengan hasil
penelitian Rahayuningsih (2011), bahwa kadar air batang utama memiliki nilai
rata-rata 82.65 % yang lebih besar bila dibandingkan dengan bagian pohon yang
lain.
Terdapat keragaman kadar air yang bervariasi pada setiap bagian pohon.
Keragaman kadar air dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama jenis pohon,
kondisi tempat tumbuh yang berkaitan dengan kesuburan tanah, persaingan dan
iklim. Menurut Haygreen dan Bowyer (1989), pohon yang tumbuh di tanah yang
subur dengan tingkat persaingan yang rendah dan iklim yang cocok akan
menghasilkan nilai kadar air pada suatu pohon yang lebih tinggi karena jumlah
lumen dan rongga sel yang lebih banyak.
5.2.2 Berat Jenis
Berat jenis adalah rasio antara kerapatan kayu dengan kerapatan air pada
kondisi anomali air (4ºC), dimana kerapatan air pada kondisi tersebut besarnya
adalah 1 g/cm3 (Simpson et al 1999, diacu dalam Iswanto 2008). Berat jenis
biasanya dipengaruhi oleh umur pohon, tempat tumbuh, posisi kayu dalam batang
dan kecepatan tumbuh, selain itu berat jenis juga dipengaruhi oleh kadar air yang
terkandung dalam kayu tersebut. Tabel 8 dibawah ini merupakan hasil
pengukuran berat jenis pada semua bagian pohon yang diteliti.

32
 

Tabel 8 Rata-rata berat jenis berdasarkan kelas diameter dan bagian-bagian pohon
Berat Jenis

Kelas
Diameter
(cm)

Akar

Batang
Utama

Cabang

Ranting

5-10
10-15
15-20
20-25
25-30
30-40
40-50
50-60
>60

0.55
0.49
0.44
0.48
0.40
0.50
0.87
0.40
0.63

0.57
0.49
0.43
0.51
0.43
0.42
0.78
0.41
0.47

0.37
0.76
0.45
0.55

0.51
0.49
0.41
0.48
0.38
0.40
0.78
0.46
0.55

0.53

0.50

0.53

0.50

Rata-rata
Keterangan

: (-) tidak ada sampel

Dari Tabel diatas dapat dilihat nilai berat jenis kayu pada penelitian ini
berkisar antara 0.50–0.53. Bagian pohon yang memiliki rata–rata berat jenis
tertinggi terdapat pada bagian pohon akar dan cabang sebesar 0.53 yang kemudian
disusul oleh batang utama dan ranting yang memiliki berat jenis sebesar 0.50.
Berat jenis pada akar dan cabang yang lebih tinggi dapat disebabkan karena akar
dan cabang memiliki pertumbuhan yang lambat. Haygreen dan Bowyer (1989)
menyatakan bahwa berat jenis bagian cabang lebih besar dari pada bagian pohon
lainnya hal ini berkaitan dengan pertumbuhannya yang lambat berbanding lurus
terhadap berat jenis. Hasil penelitian ini hampir sama dengan penelitian Kusuma
(2009) yang mennyatakan bahwa berat jenis rata-rata tertinggi terdapat pada cabang
sebesar 0.606 dibandingkan dengan batang setelah cabang pertama (0.562) dan
batang ujung (0.566)
Nilai berat jenis bervariasi pada setiap bagian pohon dan kelas diameter,
disebabkan oleh umur pohon, semakin tua umur pohon maka akan semakin tinggi
pula nilai berat jenisnya. Selain itu, berat jenis suatu contoh uji akan naik jika air
yang menjadi dasarnya berkurang dibawah titik jenuh serat (TJS). Hal ini terjadi
karena berat kering tetap konstan sedangkan volumenya berkurang selama
pengeringan (Haygreen & Bowyer 1989).

33
 

5.2.3 Kadar Zat Terbang dan Kadar Abu
Zat terbang merupakan zat ekstraktif kayu yang tersusun dari senyawa
alifatik, terpena dan fenolik yang mudah menguap pada suhu tinggi. Rata-rata
kadar zat terbang hasil penelitian ini disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Rata-rata kadar zat terbang pada berbagai bagian pohon dan kelas
diameter pohon
Kadar Zat Terbang (%)

Kelas
Diameter
(cm)

Akar

Batang
Utama

Cabang

Ranting

Dau
n

5-10
10-15
15-20
20-25
25-30
30-40
40-50
50-60
>60
Rata-rata

41.93
48.79
53.06
44.64
44.61
44.67
23.54
35.34
31.14
40.86

27.64
32.84
37.16
32.02
33.92
28.80
17.70
30.91
31.89
30.32

54.34
31.96
54.29
39.85
45.11

50.76
52.58
54.03
51.90
57.66
53.36
51.90
57.76
43.62
52.62

60.51
60.31
62.87
61.54
60.41
60.88
58.56
60.84
63.43
61.04

Keterangan

: (-) tidak ada sampel

Berdasarkan hasil analisis laboratorium, nilai rata-rata zat terbang yang
paling tinggi adalah pada bagian daun sebesar 61.04%, sedangkan rata-rata kadar
zat terbang terkecil terdapat pada bagian batang sebesar 30.32%. Hasil ini sejalan
dengan hasil penelitian Kusuma (2009) bahwa rata-rata kadar zat terbang tertinggi
pada jenis pohon dominan di areal IUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur terdapat
pada daun sebesar 66.45% dan ter

Dokumen yang terkait

Model Persamaan Alometrik Penduga Biomassa dan Masa Karbon Pohon Di Hutan Alam Tropika Basah (Studi Kasus Di ArealIUPHHK-HA PT Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)