Objek dan Subjek PPh Pasal 21 pada PT. Indonesia Asahan Aluminium 1

6 Keputusan Direktorat Jenderal Pajak No. KEP-545PJ2000 tanggal 29 Desember 2000 tentang petunjuk pelaksanaan pemotongan, penyetoran, dan pelaporan PPh Pasal 21 dan 26 sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi.

B. Objek dan Subjek PPh Pasal 21 pada PT. Indonesia Asahan Aluminium 1

Objek Pajak Penghasilan Pasal 21 Objek Pajak Penghasilan Pasal 21 pada PT. Inalum adalah penghasilan yang diterima atau diperoleh baik penghasilan yang diterima secara teratur maupun penghasilan yang diterima atau diperoleh secara tidak teratur, misalnya bonus dan Tunjangan Hari Raya. 2 Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21 Subjek Pajak Penghasilan Pasal 21 pada PT. Inalum adalah seluruh karyawan tetap pada PT. Inalum yang melakukan pekerjaan berdasarkan perjanjian, termasuk yang melakukan pekerjaan dan menerima atau memperoleh gaji dalam jumlah tertentu secara berkala dari PT. Inalum. C. Tata Cara Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Gaji Karyawan Tetap pada PT. Indonesia Asahan Aluminium PT. Inalum adalah Perusahaan kelas dunia dalam bidang aluminium dan industri terkait yang menurut Undang-undang perpajakan diwajibkan memenuhi kewajiban perpajakannya dan dalam memenuhi kewajiban tersebut PT. Inalum melaksanakan administrasi perpajakannya dengan menghitung, menyetor dan melaporkan Pajak Penghasilannya. Dalam hal ini PT. Inalum selaku pemotong pajak melakukan pemotongan terhadap gaji ataupun penghasilan yang diterima oleh karyawan tetapnya setiap bulan. Dalam menghitung Pajak Penghasilan Universitas Sumatera Utara Pasal 21 atas gaji karyawan tetapnya, PT. Inalum menggunakan system komputerisasi untuk kelengkapan administrasinya. Selama PKLM ini penulis juga melakukan beberapa wawancara dengan salah satu karyawan PT. Inalum untuk memperoleh prosedur yang dilakukan dalam pemotongan gaji karyawan tetapnya. Dari wawancara tersebut, penulis menyimpulkan “karyawan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah karyawan tetap yang menerima penghasilan berupa gaji, Tunjangan Hari Tua, bonus, tunjangan hari raya, dan tunjangan-tunjangan lainnya”. Kemudian gaji pokok ditambah dengan tunjangan-tunjangan tersebut maka dapat diperoleh penghasilan bruto sebulan karyawan tetap PT. Inalum. Untuk kemudian dicari berupa penghasilan netonyasehingga dapat dicari berapa besar pajak penghasilannya. Yaitu jumlah penghasilan bruto dikurangi dengan biaya jabatan 5 dari penghasilan bruto sebulan dan iuran pensiun serta iuran tabungan hari tua THT jika ada yang dibayar sendiri oleh karyawan tetap yang bersangkutan maka didaptkan penghasilan neto sebulan. Untuk mengetahui berapa jumlah penghasilan neto karyawan tetap setahun, penghasilan neto sebulan dikalikan dengan 12 bulan. Kemudian penghasilan neto karyawan tetap setahun dikurangi dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak PTKP yang sesuai dengan status dan tanggungan pribadi karyawan tetap tersebut maka diketahuilah Penghasilan Kena Pajak PKP yang merupakan dasar perhitungan PPh Pasal 21 karyawan tetap pada PT. Inalum dan seterusnya dikalikan dengan tarif pasal 17 UU No. 17 Tahun 2000 yang telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir pada tahun 2006 sehingga diketahuilah seberapa besar jumlah PPh Pasal 21 setahun ataupun perbulannya dengan membagi 12 bulan. Universitas Sumatera Utara Dari pengamatan yang penulis lakukan selama menjalani PKLM di PT. Inalum, penulis dapat menyimpulkan bahwa pemotongan dan pelaporan telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dimana PT. Inalum sebagai pemotong pajak melakukan pemotongan setiap bulannya terhadap gaji karyawan tetapnya. Tidak ada permasalahan yang harus dibahas secara detail, seperti kebanyakan studi kasus pemotongan PPh Pasal 21 belakangan ini, yaitu pada karyawati yang bekerja pada suatu perusahaan, terlihat bahwa karyawati tersebut menikah, tetapi suaminya tidak bekerja atau tidak berpenghasilan, disamping anak yang harus menjadi beban lainnya. Maka penghasilan tidak kena pajaknya tidak hanya dikenakan untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk status kawinnya, apabila karyawati tersebut telah memberi keterangan tertulis dari Pemerintah Daerah setempat yang menyatakan bahwa suaminya tidak mempunyai penghasilan. Hal ini dapat kita sesuai kan dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 137PMK.032005 tentang penyesuaian besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak, yakni: “ Dalam hal karyawati kawin, PTKP yang dikurangkan adalah harta untuk dirinya sendiri. Dan dalam hal tidak kawin pengurangan PTKP selain untuk dirinya sendiri ditambah dengan PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya. Bagi karyawati yang menunjukkan keterangan tertulis dari Pemerintah Daerah setempat serendah-rendahnya kecamatan bahwa suaminya tidak menerima atau memperoleh penghasilan, diberikan tambahan PTKP sejumlah Rp 1.200.000,00 satu juta dua ratus ribu rupiah setahun atau Rp 100.000,00 seratus ribu rupuah sebulan dan ditambahkan PTKP untuk keluarganya”. Dalam penelitian yang penulis lakukan pada PT. Inalum, hal ini tidak terjadi. Berikut penulis dapat menggambarkan contoh dalam prosedur pemotongan dan perhitungan yang dilakukan oleh PT. Inalum : Universitas Sumatera Utara Perhitungan Pajak Penghasilan Pasal 21 Karyawan Tetap PT. Inalum Nama : Budi PTKP : K 3 Jabatan : Operator Penghitungan PPh Pasal 21 : Gaji sebulan Rp 3.379.000,00 Premi Jaminan Kecelakaan Kerja Rp 50.000,00 Penghasilan bruto Rp 3.429.000,00 Pengurangan : Biaya jabatan 5 x Rp 3.429.000,00 Rp 171.450,00 Maksimum diperkenankan Rp 108.000,00 Rp 108.000,00 Pengahsilan neto sebulan Rp 3.428.892,00 Penghasilan neto setahun 12 x Rp 3.428.892,00 Rp 41.146.704,00 PTKP  Untuk WP sendiri Rp 13.200.000,00  Tambahan WP kawin Rp 1.200.000,00  Tambahan 3 anak Rp 3.600.000,00 Rp 18.000.000,00 Universitas Sumatera Utara Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 23.146.704,00 PPh Pasal 21 terutang 5 x Rp 23.146.704,00 = Rp 1.157.335,00 PPh Pasal 21 sebulan Rp 1.157.335,00 : 12 = Rp 96.444,00 D. Tata Cara Penyetoran Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Gaji Karyawan Tetap Pada PT. Indonesia Asahan Aluminium Adapun tata cara yang dilakukan oleh PT. Inalum dalam menyetorkan PPh Pasal 21 atas penghasilan karyawan tetapnya adalah sebagai berikut : 1. Setelah seluruh PPh Pasal 21 dihitung dan dipotong setiap bulannya oleh PT. Inalum selanjutnya menyetorkan PPh Pasal 21 yang telah dipotong tersebut ke BNI 46 Kuala Tanjung yang telah ditunjuk sebagai tempat pembayaran dan penyetoran pajak. 2. Batas waktu pembayaran dan penyetoran PPh Pasal 21 yang telah dipotong oleh PT. Inalum adalah :  Untuk pembayaran Masa PPh Pasal 21 paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.  Pembayaran kekurangan pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh Pasal 21 dibayar lunas selambat-lambatnya tanggal 25 bulan ketiga setelah tahun pajak atau bagian tahun pajak berakhir, sebelum SPT itu disampaikan. Universitas Sumatera Utara 3. Sarana yang digunakan dalam pembayaran dalam penyetoran PPh Pasal 21 yang terutang adalah dengan menggunakan SSP surat setoran pajak. Dimana SSP harus diisi dengan jumlah seluruh PPh Pasal 21 yang terutang atau yang akan disetor. 4. SSP yang digunakan terdiri dari 5 rangkap yang antara lain : a Lembar 1 untuk PT. Inalum b Lembar 2 untuk Kantor Pelayanan Pajak KPP c Lembar 3 untuk dilaporkan PT. Inalum ke KPP d Lembar 4 untuk BNI 46 sebagai tempat penyetoran PPh Pasal 21 e Lembar 5 untuk arsip Wajib Pajak atau pihak lain.

E. Tata Cara Pelaporan PPh Pasal 21 atas Gaji Karyawan Tetap Pada PT. Indonesia Asahan Aluminium