Penerapan Hukum Internasional dalam Menyelesaikan Konflik Internasional Israel dan Palestina.

 

1

PENERAPAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM MENYELESAIKAN
KONFLIK INTERNASIONAL ISRAEL DAN PALESTINA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
O
L
E
H
RENTHA NATALLIA PARDEDE
060200246
DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

JURUSAN HUKUM INTERNASIONAL
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

 

2

PENERAPAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM MENYELESAIKAN
KONFLIK INTERNASIONAL ISRAEL DAN PALESTINA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum
O
L
E
H
RENTHA NATALLIA PARDEDE
060200246
DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL
DISETUJUI OLEH :
KETUA DEPARTEMEN HUKUM INTERNASIONAL

(Sutiarnoto. MS, SH, M.Hum)
NIP. 195610101986031003

PEMBIMBING I :

PEMBIMBING II :

(Sutiarnoto. MS, SH, M.Hum)

(Prof. Dr. Ningrum N Sirait, SH, L.LM)

NIP. 195610101986031003

NIP.

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

Universitas Sumatera Utara

 

3

KATA PENGANTAR
Segala puji dan hormat syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus
Kristus Sang Kepala Gerakan sebagai Tuhan yang hidup yang telah mencurahkan
barkat dan karunia-Nya yang melimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan skripsi ini, sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk
menyelesaikan masa studinya dan memperoleh gelar Sarjana Hukum Jurusan
Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Sesuai dengan yang tercantum pada halaman depan skripsi ini, maka judul
yang dipiih adalah: “Penerapan Hukum Internasional dalam Menyelesaikan
Konflik Internasional Israel dan Palestina”.
Adapun yang menjadi latar belakang penulis dalam memilih judul tersebut
di atas tidaklah semata-mata hanya karena ingin membuat skripsi guna kelulusan
kegiatan akademik saja. Tetapi didasari oleh penulis karena melihat dan
mengamati bahwa lemahnya hukum internasional yang dapat diterapkan dalam
masalah konflik internasional antara Israel dan Palestina yang sudah terjadi sejak
lama. Konflik internasional kedua negara tersebut banyak melanggar ketentuan
hukum internasional, sebagai instrumen hukum yang mengatur negara-negara
dalam rangka perdamaian dan keamanan dunia internasional.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih
jauh dari sempurna, dalam penyusunan, pemilihan maupun merangkai kata demi
kata, serta kelalaian dalam proses pengeditan. Hal ini karena keterbatasan yang
dimiliki oleh penulis. Oleh karena itu, penulis bersedia menerima kritik dan saran

Universitas Sumatera Utara

 

4

yang membangun agar dapat menjadi acuan bagi penulis dalam karya penulisan
berikutnya.
Sebagai penghargaan dan ucapan terima kasih terhadap semua dukungan
dan perhatian yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. dr. Chairuddin P. Lubis, DTM & H, Sp.A(K), selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum
USU.
3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan I.
4. Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, M.Hum, DFM, selaku Pembantu Dekan II.
5. Bapak M. Husni, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan III.
6. Bapak Sutiarnoto, SH, M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum
Internasional, sekaligus Dosen Pembimbing I penulis. Terima kasih banyak
ya, Pak.
7. Ibu Prof. Ningrum Natasya Sirait, SH, M.LI, selaku Dosen Pembimbing II
yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membimbing penulis. Terima
kasih buat semuanya ya, Buk.
8. Bapak Arif, SH, M.H, selaku Sekretaris Departemen Hukum Internasional.
9. Bapak Dr. Faisal Akbar, SH, M.Hum, selaku Dosen Penasehat Akademik
penulis.
10. Bapak H. Edi Zulham, SH, M.Hum dan seluruh staf dosen di Fakultas Hukum
USU yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah mendidik

Universitas Sumatera Utara

 

5

penulis selama tujuh semester hingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan
S-1 dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan ini.
11. Keluargaku yang tercinta: Bapak dan Mamaku yang sangat luar biasa, yang
sangat kubanggakan. Thank you Lord for having them! Kakakku Intan, dan
abang iparku Sulaeman, juga ponakanku Sebastian. Buat kakakku Nita dan
Sondang, terima kasih! Adekku Ganda dan Christian. We are siblings and I
love us very much. Juni sepupuku yang menyemangatiku di Medan ini.
12. My all soul sisters, Leanny, Esther, Lya, Sari di UI, Ria di UGM, Julianna dan
Ayu di Tarakanita, Sherly di Trisakti.
13. Kakak dan teman Kelompok Kecil : Ka Evlyn and Lely, dan yang lainnya di
KMK.
14. Seluruh teman-teman penulis selama duduk di bangku perkuliahan khususnya
buat Maria (so motivating!), Debora and Melly (Thank God I’ve found you!),
Ingrid, Witra, Slamet, Siska (koridor sumber inspirasi), Agneselga I miss you,
Imelda, Helen, Iryanti (newcomer gahulisme), Jaswin yang berperan besar
bagiku melewati tiap semester lewat catatan kuliahnya, Chandra, Tondi,
Imanuel, Egi, Bambang, Budi, Ivan kapan kita karaoke lagi? Dan temanteman stambuk 2006 yang tidak bisa ditulis semua.
15. Senior dan junior, Bang Pel, Ka Debora DolokSaribu, Ka Indah, Murdani,
Helena, Bang Yunus, Derma, Nino, Jeremia, Oude, Bang Dedi, Yuthi, Grace,
Rahmi, Obe dan lainnya yang karena banyaknya tidak dapat ditulis semuanya.

Universitas Sumatera Utara

 

6

16. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ka Tella, Ka Sandes, Bang Vian,
Rossie, Ravlin dan teman-teman kos lainnya yang telah memberikan doa,
semangat dan informasi kepada penulis.
17. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia dan seluruh civitasnya yang telah
memberikan pembelajaran yang tak bernilai bagi penulis.
Akhirnya Penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi setiap pihak
terkhusus pembaca.
Medan, Desember 2009
Hormat Penulis,

RENTHA NATALLIA PARDEDE
NIM 060200246

Universitas Sumatera Utara

 

7

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………… i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. v
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………… vi
ABSTRAKSI …………………………………………………………………... vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang …………………………………………………………... 1
B. Perumusan Masalah ……………………………………………………. 7
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan …………………………………………. 7
D. Keaslian Penulisan ……………………………………………………... 8
E. Tinjauan Pustaka ……………………………………………………….. 8
F. Metode Penulisan ………………………………………………………. 16
G. Sistematika Penulisan …………………………………………………... 18
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG NEGARA
A. Pengertian dan Syarat-Syarat Terbentuknya Suatu Negara …………… 20
1. Pengertian Negara menurut beberapa Sarjana ……………………… 21
2. Syarat-Syarat Terbentuknya Negara ……………………………….. 23
B. Eksistensi Israel dan Palestina Sebagai Suatu Negara ………………… 29
dalam Hukum Internasional
1. Eksistensi Israel dalam Hukum Internasional ……………………… 32
2. Eksistensi Palestina dalam Hukum Internasional ………………….. 37

Universitas Sumatera Utara

 

8

BAB III KONSEP KONFLIK INTERNASIONAL
A. Pengertian dan Perbedaan Konflik dengan Sengketa Internasional ….. 42
1. Pengertian Konflik Internasional …………………………………..

42

2. Pengertian Sengketa Internasional ………………………………... 57
B. Pengaruh Konflik Internasional Terhadap Keamanan dan Perdamaian
Dunia …………………………………………………… …………..

63

C. Penyelesaian Konflik Internasional ………………………………….

68

BAB

IV

PENERAPAN

MENYELESAIKAN

HUKUM

KONFLIK

INTERNASIONAL

INTERNASIONAL

DALAM

ISRAEL

DAN

PALESTINA
A. Konflik Internasional Israel dan Palestina ……………………………

74

B. Penerapan Hukum Internasional dalam Menyelesaikan Konflik Israel dan
Palestina ………………………………………………………………. 81
C. Tanggapan Israel dan Palestina Terhadap Upaya Hukum Internasional
Atas Konflik Internasional ……………………………………………. 97
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan …………………………………………………………… 102
B. Saran ………………………………………………………………….. 104
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………… 106

Universitas Sumatera Utara

 

9

PENERAPAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM MENYELESAIKAN
KONFLIK INTERNASIONAL ISRAEL DAN PALESTINA
ABSTRAKSI
Masalah dalam pemberlakuan hukum internasional berbenturan dengan
kedaulatan negara. Suatu negara memiliki kedaulatan penuh untuk menjalankan
hukum nasionalnya, serta melakukan setiap kebijakan dalam rangka mencapai
tujuan negara tersebut. Negara yang merdeka dan berdaulat berhak mengatur
dirinya tanpa ada gangguan dari pihak lain. Hukum internasional juga lemah
dalam hal pemberian sangsi bagi negara yang melanggar ketentuan hukum
internasional. Selain itu juga hukum internasional lemah dalam hal suatu negara
yang tidak meratifikasi perjanjian internasional yang telah dijadikan ketetapan
hukum internasional oleh negara-negara dalam rangka pergaulan internasional,
maka tidak ada kewajiban bagi negara tersebut untuk tunduk pada ketentuan
hukum internasional.
Dalam masalah konflik internasional, pada dasarnya hukum internasional
melarang penggunaan kekerasan oleh negara-negara dalam rangka menjaga dan
memelihara perdamaian dan keamanan dunia. Hukum internasional menganjurkan
negara yang berkonflik untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan cara-cara
damai. Hingga detik ini konflik internasional antara Israel dan Palestina belum
dapat terselesaikan secara keseluruhan. Akibat yang ditimbulkan tentu saja sangat
besar. Dalam konflik negara tersebut telah banyak melanggar ketentuan hukum
internasional yang bertujuan memelihara perdamaian dan keamanan dunia, serta
perlindungan terhadap hak-hak sipil warga.
Sebagai negara yang berdaulat dan juga merupakan negara anggota PBB,
Israel wajib untuk tunduk pada ketentuan Piagam PBB yang pada dasarnya
bertujuan untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia. Palestina juga
wajib tunduk pada ketentuan piagam untuk menjaga dan memelihara perdamaian
dan keamanan dunia, walaupun negara tersebut bukann negara anggota PBB. Jika
kedua negara tersebut “bandel”, maka hukum internasional seharusnya dapat
memberikan sangsi tegas dan adil agar negara yang berkonflik menghentikan
konflik mereka.
Dewan Keamanan PBB merupakan badan resmi berdasarkan ketentuan
hukum internasional yang bertugas menjaga dan memelihara perdamaian dunia.
Dewan dapat memberikan sangsi kepada negara yang “membandel”. Apabila
negara yang berkonflik tetap saja tidak tunduk pada ketentuan hukum
internasional, maka Dewan Keamanan dapat menggunaan kekuatan militer atau
yang biasa disebut dengan pasukan perdamaian di wilayah negara yang
berkonflik.

Universitas Sumatera Utara

 

9

PENERAPAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM MENYELESAIKAN
KONFLIK INTERNASIONAL ISRAEL DAN PALESTINA
ABSTRAKSI
Masalah dalam pemberlakuan hukum internasional berbenturan dengan
kedaulatan negara. Suatu negara memiliki kedaulatan penuh untuk menjalankan
hukum nasionalnya, serta melakukan setiap kebijakan dalam rangka mencapai
tujuan negara tersebut. Negara yang merdeka dan berdaulat berhak mengatur
dirinya tanpa ada gangguan dari pihak lain. Hukum internasional juga lemah
dalam hal pemberian sangsi bagi negara yang melanggar ketentuan hukum
internasional. Selain itu juga hukum internasional lemah dalam hal suatu negara
yang tidak meratifikasi perjanjian internasional yang telah dijadikan ketetapan
hukum internasional oleh negara-negara dalam rangka pergaulan internasional,
maka tidak ada kewajiban bagi negara tersebut untuk tunduk pada ketentuan
hukum internasional.
Dalam masalah konflik internasional, pada dasarnya hukum internasional
melarang penggunaan kekerasan oleh negara-negara dalam rangka menjaga dan
memelihara perdamaian dan keamanan dunia. Hukum internasional menganjurkan
negara yang berkonflik untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan cara-cara
damai. Hingga detik ini konflik internasional antara Israel dan Palestina belum
dapat terselesaikan secara keseluruhan. Akibat yang ditimbulkan tentu saja sangat
besar. Dalam konflik negara tersebut telah banyak melanggar ketentuan hukum
internasional yang bertujuan memelihara perdamaian dan keamanan dunia, serta
perlindungan terhadap hak-hak sipil warga.
Sebagai negara yang berdaulat dan juga merupakan negara anggota PBB,
Israel wajib untuk tunduk pada ketentuan Piagam PBB yang pada dasarnya
bertujuan untuk memelihara perdamaian dan keamanan dunia. Palestina juga
wajib tunduk pada ketentuan piagam untuk menjaga dan memelihara perdamaian
dan keamanan dunia, walaupun negara tersebut bukann negara anggota PBB. Jika
kedua negara tersebut “bandel”, maka hukum internasional seharusnya dapat
memberikan sangsi tegas dan adil agar negara yang berkonflik menghentikan
konflik mereka.
Dewan Keamanan PBB merupakan badan resmi berdasarkan ketentuan
hukum internasional yang bertugas menjaga dan memelihara perdamaian dunia.
Dewan dapat memberikan sangsi kepada negara yang “membandel”. Apabila
negara yang berkonflik tetap saja tidak tunduk pada ketentuan hukum
internasional, maka Dewan Keamanan dapat menggunaan kekuatan militer atau
yang biasa disebut dengan pasukan perdamaian di wilayah negara yang
berkonflik.

Universitas Sumatera Utara

 

10

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Hubungan-hubungan internasional pada hakikatnya merupakan proses

perkembangan hubungan antar negara yang diadakan oleh negara-negara baik
yang bertetangga ataupun antar benua yang kemudian dengan banyak negara
melalui utusan masing-masing negara, negara dengan individu, atau negara
dengan organisasi-organisasi internasional lainnya dan juga antar sesama subjek
hukum lainnya yang diakui oleh hukum internasional tidak selamanya terjalin
dengan baik. Sering terjadi bahwa hubungan tersebut menimbulkan konflik yang
dapat bermula dari berbagai potensi konflik, yang salah satunya adalah mengenai
batas wilayah. Suatu negara berbatasan dengan wilayah negara lain. Kadang antar
negara terjadi ketidak sepakatan tentang batas wilayah masing – masing1.
Tidak satu masyarakat pun dalam suatu negara ini yang tidak pernah
mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya.
Terdapat suatu pandangan yang ekstrim, manusia adalah makhluk sosial,
beragama, memiliki intelejensi, tidaklah keliru apabila dikatakan bahwa konflik
internasional merupakan suatu atribut yang tidak lepas dari masyarakat dunia.
Konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri2.
Demikian halnya juga dalam pergaulan antar negara di dunia, dimana tiap-tiap
                                                            
1

http://www.wikipedia.com/sengketa/internasional/civic/hukum.html., tanggal 9 Mei

2009.
2

http://www.wikipedia.com/pengertian/konflik, tanggal 9 Mei 2009.

Universitas Sumatera Utara

 

11

negara memiliki kepentingan berbeda dalam mencapai tujuannya masing-masing
yang dapat menjadi pemicu terjadinya konflik internasional. Tidak tanggungtanggung konflik internasional tersebut diwujudkan dengan perang (use of force).
Sudah terbukti bahwa akibat daripada perang tersebut dapat menimbulkan
penderitaan bagi penduduk sipil. Sebagai salah satu contoh dapat kita ambil dari
yang terjadi di Timur Tengah, yaitu konflik internasional antara Israel dan
Palestina yang merupakan konflik tidak terkontrol yang menimbulkan kekerasan
bahkan hilangnya nyawa penduduk sipil dalam jumlah yang besar.
Konflik persenjataan antar negara sering terjadi bukan saja pada zaman
sekarang ini, tapi sejak zaman dahulupun itu sudah terjadi bahkan sudah menjadi
suatu kebiasaan. Konflik Palestina dan Israel adalah konflik yang paling lama
berlangsung di wilayah Timur Tengah (dengan mengenyampingkan Perang Salib),
yang menyebabkannya menjadi perhatian masyarakat internasional. Sebagai
contoh, konflik antara Israel dan Palestina menjadi agenda pertama dalam Sidang
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ketika PBB baru terbentuk
sampai sekarang ini hal tersebut belum dapat diselesaikan meski telah banyak
resolusi Dewan Keamanan PBB yang telah dikeluarkan3. Konflik Israel dan
Palestina mendapat perhatian khusus dari masyarakat internasional mengingat
pengaruh konflik tersebut terhadap hak-hak asasi manusia di wilayah Negara
tersebut, serta keamanan dan perdamaian internasional.

                                                            
3

Ma Naparin H. Husin, Bunga Rampai Dari Timur Tengah, (Jakarta: Kalam Mulia,
2000), hlm. 47.

Universitas Sumatera Utara

 

12

Isu mengenai hak-hak asasi manusia serta keamanan dan perdamaian
internasional merupakan isu hangat yang tak henti-hentinya dibicarakan dalam
kalangan masyarakat internasional. Pasca perang dunia I dan Perang dunia II
banyak sarana, prasarana dan infrastruktur di banyak Negara rusak dan hancur
akibat perang tersebut. Korban-korban jiwa berjatuhan serta

keadaan

perekonomian dunia mengalami krisis dan semakin memburuk. Perang dunia I
dan II merupakan malapetaka terburuk sepanjang peradaban manusia yang paling
menyita perhatian masyarakat internasional. Pada Perang Dunia I menelan korban
jiwa sebanyak 38 juta jiwa dan Perang dunia II menelan korban hampir dua kali
lipatnya yaitu 61 juta jiwa4. Yang baru-baru ini terjadi yaitu agresi Israel ke
Palestina tahun 2008. Menurut data dari para pejabat Palestina dan PBB, serangan
udara tiga hari berturut-turut dari Israel yaitu pada tanggal 27, 28, dan 29
Desember 2008 telah menyebabkan 345 orang meninggal dan 1600 luka,
kebanyakan dari mereka adalah anggota Hamas dan paling sedikitnya 50 warga
sipil5.
Fakta bahwa suatu negara dan masyarakat internasional menghadapi era
globalisasi sebagai era kemajuan hukum intenasional dalam menyelesaikan
perselisihan antar negara, namun masih saja ada negara yang menggunakan
kekerasan (use of force) dan konflik bersenjata bahkan sampai perang besar demi
                                                            
4

Penghormatan Terhadap Hukum Humaniter Internasional, International Committee of
the Red Cross Inter-Paliamentary Union, September 1968 (sebagaimana dikutip dari buku Boer
Mauna, Hukum Internasional-Peranan dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global: Bandung, PT
Alumni, 2005), hlm 289.
5
http://www.google.co.id, mengenai Serangan-menyeluruh-terhadap-hamas-membuatgaza-bertambah-krisis.html., tanggal 9 Mei 2009.

Universitas Sumatera Utara

 

13

sebuah kepentingan yang tidak mengindahkan lagi akibat yang paling fatal, yaitu
korban jiwa.
Dengan adanya kontak atau hubungan antar negara pada prinsipnya,
sebagaimana suatu bentuk organisasi yang merupakan hasil dari perjanjian yang
dilakukan oleh masyarakat untuk membentuk suatu negara tadi (Teori Perjanjian
Masyarakat)6, adalah untuk menjamin pencapaian kepentingan masing-masing
negara ataupun antar warga negara dari negara-negara yang tergabung dalam
suatu pergaulan internasional demi tercapainya tujuan bersama dari semua negara
yang ada yaitu perdamaian dan ketertiban dunia. Sejarah mencatat pada generasi
berikutnya bahwa perang merupakan suatu hal yang tak dapat dipisahkan dari
masyarakat manusia yang beraneka ragam.
Jika melihat pada sejarah yang ada bahwasannya konflik internasional
antara Israel dan Palestina ini telah berlangsung lama yaitu sejak tahun 1917 yaitu
terjadinya peristiwa Deklarasi Pembentukkan Negara Israel secara sepihak, yang
menyebabkan Negara-negara Arab disekitarnya menyatakan genderang perang
untuk melawan Israel7. Kedua negara tersebut “bertarung” di kawasan Timur
Tengah semenjak berdirinya Israel pada tahun 1948. Dalam beberapa waktu
belakangan ini, telah terjadi serangkaian peristiwa penting yang menandai proses
perdamaian antara kedua negara tersebut. Perkembangan terakhir yang didapat
adalah dari perjalanan Jimmy Carter yang sedang melakukan safari di wilayah
Palestina. Dari perjalanan tersebut, Hamas akhirnya bersedia mengakui eksistensi
                                                            
6
7

Samidjo, Ilmu Negara, (Bandung: Armico, 2002), hlm. 59.
http://www.wikipedia.com, mengenai Konflik Israel-Palestina, tanggal 9 Mei 2009.

Universitas Sumatera Utara

 

14

Israel sebagai suatu negara di wilayah Palestina yang sekaligus menandai platform
politik yang cukup fundamental dari kelompok Hamas mengingat mereka
merupakan partai politik yang mengecam kehadiran Israel di wilayah Palestina8.
Baru-baru ini terjadi lagi konflik internasional antara Israel dan Palestina
yaitu di penghujung tahun 2008 hingga awal tahun 2009, yaitu melalui agresi
yang dilakukan Israel ke Palestina serta serangan balasan oleh Palestina (dapat
disebut sebagai suatu kondisi perang) yang menyebabkan banyaknya korban jiwa
yang berjatuhan. Perlu diketahui disini bahwa konflik antar kedua negara tersebut
tidak hanya berdampak bagi kedua negara saja, akan tetapi juga bahwa konflik
tersebut berpengaruh bagi perdamaian dan ketertiban internasional. Ini bisa dilihat
dari tanggapan dunia internasional yang mengecam konflik kedua negara tersebut.
Serta akan terulang kembali peristiwa yang sama di kemudian hari oleh negaranegara lain. Untuk itu ketika sudah menyangkut hilangnya nyawa penduduk sipil
secara kolektif dalam jumlah besar serta mengganggu perdamaian dan ketertiban
internasional,

maka

disinilah

hukum

internasional

diperlukan

untuk

menyelesaikan suatu konflik internasional. Permasalahannya adalah apakah Israel
dan Palestina memang merupakan suatu negara berdasarkan hukum internasional
sehingga mewajibkan kedua negara tersebut untuk tunduk pada ketentuan hukum
internasional

dan

bagaimanakah

peranan

hukum

internasional

dalam

menyelesaikan konflik negara mereka.

                                                            
8

Ma Naparin H. Husin, Loc. cit.

Universitas Sumatera Utara

 

15

Mengenai penerapan hukum internasional, Piagam PBB Pasal 1 ayat (1)
yang merupakan salah satu pedoman hukum internasional dan bersumber dari
perjanjian internasional menyebutkan bahwa pembentukkan PBB bertujuan untuk
memelihara perdamaian dan ketertiban internasional. Ketentuan ini juga berlaku
untuk negara bukan anggota PBB, yang dapat kita lihat dalam Pasal 1 ayat (6)
Piagam PBB. Dengan demikian, semua negara yang ada di dunia tanpa terkecuali
wajib memelihara perdamaian dan ketertiban internasional. dan tercatat bahwa
Israel dan Palestina termasuk dalam daftar anggota PBB, sehingga merupakan
suatu kewajiban bagi kedua negara tersebut untuk memelihara perdamaian dan
ketertiban internasional. Dengan konflik yang terjadi antara kedua Negara tersebut
berdampak pada terganggunya perdamaian dan ketertiban internasional, maka
dapat dikatakan bahwa Israel dan Palestina telah melanggar ketentuan hukum
internasional. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah apakah ketentuan
hukum internasional dapat dipaksakan untuk diberlakukan terhadap suatu negara
dengan adanya prinsip dalam hukum internasional Par in Paren Non Habet in
Imperium9 yang berarti bahwa suatu negara berdaulat dapat menjalankan hukum
nasional negaranya dalam rangka mencapai tujuan negara tersebut tadi yang
berarti hukum internasional yang tidak dapat dipaksakan pemberlakuannya di
suatu negara tadi. Suatu negara memiliki hak penuh dalam melaksanakan
kebijakan-kebijakan, baik didalam negara maupun di luar negaranya demi
mencapai kepentingan dasar negara tersebut.
                                                            
9

J. G. Starke, Pengantar hukum Internasional I-edisi kesepuluh (Jakarta: Sinar Grafika
Indonesia, 2008), hlm. 192.

Universitas Sumatera Utara

 

16

Ketentuan hukum internasional juga mengatur apabila suatu konflik
internasional antar Negara yang berakibat pada terjadinya perang, yaitu
perlindungan

terhadap

penduduk

sipil.

Fakta

mencatat

bahwa

konflik

internasional antara Israel dan Palestina telah memakan banyak korban jiwa, yaitu
penduduk sipil. Ini sudah tentu melanggar ketentuan dalam hukum internasional.
Untuk itu perlu bagi negara yang ada di dunia untuk dapat menyelesaikan
konflik internasional dengan cara-cara damai sesuai dengan yang diakui Hukum
Internasional, dalam rangka menghindari akibat-akibat dari terjadinya perang
terutama perlindungan terhadap penduduk sipil.

B.

PERUMUSAN MASALAH
Sehubungan dengan latar belakang tersebut maka dalam penulisan

dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah eksistensi Israel dan Palestina sebagai suatu negara
dalam hukum internasional?
2. Bagaimanakah

penerapan

hukum

internasional

dalam

menyelesaikan konflik internasional Israel dan Palestina yang telah
berlangsung sejak lama?

C.

TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Tujuan penulisan ini adalah :

Universitas Sumatera Utara

 

17

1. Untuk mengetahui eksistensi Israel dan Palestina sebagai suatu
negara dihadapan hukum internasional.
2. Untuk mengetahui sejauh mana penerapan hukum internasional
menyelesaikan konflik internasional antara Israel dan Palestina
yang telah berlangsung sejak lama.
Manfaat penulisan ini adalah :
1. Sebagai bahan informasi yang dapat digunakan untuk memperluas
wacana

mengenai

peranan

menyelesaikan suatu konflik

hukum

internasional

dalam

internasional yang berujung pada

terjadinya perang.
2. Sebagai bahan referensi yang menjadi acuan untuk penulisan lebih
lanjut pada perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara secara khusus dan pembaca pada umumnya.

D.

KEASLIAN PENULISAN
Skripsi

ini

berjudul

“Penerapan

Hukum

Internasional

dalam

Menyelesaikan Konflik Intenasional antara Israel dan Palestina”.
Topik utama dalam penulisan skripsi ini adalah tentang bagaimana
penerapan hukum internasional sebagai suatu pranata hukum yang dapat mengikat
suatu negara yang berdaulat terutama dalam penyelesaian suatu konflik secara
damai. Disadari penulis ini merupakan tulisan awal/pertama di Fakultas Hukum

Universitas Sumatera Utara

 

18

Universitas Sumatera Utara. Penulis meyakini bahwa belum pernah ada tulisan
yang sama seperti topik ini sebagai bahan utama penulisan skripsi.

E.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Konflik internasional merupakan suatu pertikaian atau sengketa yang

terjadi antara dua negara atau lebih yang diakibatkan oleh suatu permasalahan
tertentu. Dalam hubungan internasional, konflik dan kekerasan merupakan isu
atau topik menarik yang terus berkembang sebagai bentuk-bentuk interaksi antar
“aktor” internasional.

Mahkamah Internasional mengungkapkan pendapat

hukumnya (advisory opinion) dalam kasus Interpretation of Peace Treaties (1950,
ICJ Rep.65) bahwa untuk menyatakan ada tidaknya suatu konflik internasional
harus ditentukan secara objektif. Menurut Mahkamah, konflik internasional
merupakan suatu situasi ketika dua negara mempunyai pandangan yang
bertentangan mengenai dilaksanakan atau tidaknya kewajiban-kewajiban yang
terdapat dalam perjanjian10. Upaya-upaya penyelesaian terhadap suatu konflik tadi
telah menjadi perhatian yang cukup penting di masyarakat internasional sejak
awal abad ke-20, yaitu dengan cara persuasif atau jalan damai (persahabatan).
Upaya-upaya ini ditujukan untuk menciptakan hubungan antar negara yang lebih
baik lagi berdasarkan prinsip perdamaian dan keamanan internasional. Jika dilihat
keamanan kolektif berarti bahwa setiap negara yang melakukan agresi atau
                                                            
10

Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, (Jakarta : Sinar Grafika,
2004), hlm. 2.

Universitas Sumatera Utara

 

19

berusaha menyerang negara lain secara langsung akan berhadapan dengan sanksisanksi militer, ekonomi, serta diplomatik yang ditetapkan oleh banyak negara
yang ada di dunia. Dengan begitu dari keamanan kolektif diharapkan mampu
menciptakan dunia yang bebas dari perang.
Peran yang dimainkan hukum internasional dalam menyelesaikan suatu
konflik internasional adalah memberikan aturan-aturan pokok kepada negaranegara dalam menyelesaikannya11. Pada tahun 1945 didirikanlah sebuah
organisasi internasional yang bernama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui
suatu piagam yang memperoleh ratifikasi dari negara-negara yang tergabung
didalamnya (Piagam PBB). Seperti yang termuat dalam Pasal 1 Piagam PBB,
tujuan utama dari PBB

adalah menciptakan perdamaian dan keamanan

internasional, menghindarkan generasi yang akan dating dari peperangan,
memajukan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan dasar
serta mendorong negara-negara untuk menyelesaikan konflik-konflik melalui
cara-cara

penyelesaian

dengan

hubungan

yang

bersahabat12.

Dalam

perkembangan awalnya, hukum internasional mengenal 2 (dua) cara penyelesaian
sengketa internasional, yaitu penyelesaian secara damai dan penyelesaian secara
paksa atau dengan menggunakan kekuatan militer (perang)13. PBB juga dapat
memaksa setiap negara baik yang merupakan anggota ataupun bukan negara
anggota untuk tunduk pada ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama
                                                            
11

Ibid., hlm. 8.
Mizwar Djamili, Mengenal PBB dan 170 Negara di Dunia, (Jakarta : PT Kreasi Jaya
Utama, 1995), hlm. 10.
13
Christine S.T Kansil, Modul Hukum Internasional (Jakarta: Djambatan, 2002), hlm. 7.
12

Universitas Sumatera Utara

 

20

dalam Piagam PBB.

Dalam hal pemeliharaan perdamaian dan keamanan

internasional, berdasarkan Bab VII piagam organ dari PBB yang berwenang
adalah Dewan Keamanan melalui keputusan-keputusan (Resolusi DK PBB)
ataupun sangsi-sangsi.
Segala sesuatu masalah yang berkaitan dengan keamanan dan perdamaian
dunia bukanlah menjadi sesuatu hal yang baru lagi, melainkan telah menjadi
sesuatu wacana yang sering

diperbincangkan oleh masyarakat internasional.

Namun yang perlu dikaji lebih lanjut adalah bagaimanakah eksistensi Israel dan
Palestina sebagai seuatu negara dihadapan hukum internasional sehingga
mewajibkan kedua negara tersebut tunduk pada ketentuan hukum internasional
dalam rangka memelihara perdamaian dan keamanan internasional, yaitu dengan
melihat pada syarat-syarat terbentuknya suatu negara secara hukum internasional
serta sejauh mana penerapan hukum internasional menyelesaikan konflik kedua
negara tersebut.
Untuk mengetahui apakah Israel dan Palestina masing-masing merupakan
suatu negara yaitu dengan melihat syarat-syarat terbentuknya suatu negara, baik
dari segi hukum maupun politik. Secara umum syarat-syarat terbentuknya suatu
negara adalah adanya penduduk yang tetap, adanya wilayah, pemerintahan yang
berdaulat, pengakuan dari negara lain serta kemampuan untuk mengadakan
hubungan kerjasama dengan negara lain14. Kaitannya dengan syarat terbentuknya
suatu negara yaitu pengakuan dari negara lain, banyak negara di dunia
                                                            
14

Samidjo, Op cit., hlm. 34.

Universitas Sumatera Utara

 

21

internasional tidak mengakui keberadaan Israel sebagai suatu negara dalam hal
menetapkan perbatasan wilayah negaranya. Pengakuan juga diberikan untuk
mengungkapkan suatu pemerintahan dalam negerinya, oleh karena tindakantindakan suatu negara hanya dapat dilakukan melalui pemerintahannya15. Negara
Palestina mengalami krisis Pemerintahan dalam negaranya, dimana terjadi
“Perang Saudara” antara kelompok Hamas dan Fatah yang dimulai sejak tahun
200616.
Perebutan kekuasaan antara Hamas dan Fatah berakibat buruk bagi
Palestina. Sejak 1993, Hamas menjadi kekuatan kedua yang tidak dilibatkan
dalam pemerintahan Yasser Arafat. Oleh karena itu untuk menunjukkan
keberadaannya, Hamas memilih aksi-aksi bersenjata atau militer terhadap proses
perdamaian konflik dengan Israel17.
Hukum Internasional menghendaki adanya suatu pemerintahan yang stabil
dan efektif untuk memudahkan hubungannya atau penerapannya dengan negara
yang bersangkutan18. Pada dasarnya ketentuan hukum internasional telah
melarang penggunaan kekerasan dalam hubungan antar negara seprti yang
dicantumkan dalam Pasal 2 ayat (4) Piagam PBB.
Konflik internasional antara Israel dan Palestina merupakan salah satu dari
banyaknya konflik internasional yang terjadi, dimana sudah pasti akibat dari
                                                            
15

Berdasarkan Pasal 7 Konvensi Montevidio Tahun 1933.
http:// www.wikipedia.com, tentang Konflik Fatah-Hamas, tanggal 9 Mei 2009.
17
Trias Kuncahyono, Jalur Gaza-Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis,
(Jakarta: Kompas, 2009), hlm. 289.
18
Boer Mauna, Op. cit., hlm. 22.
16

Universitas Sumatera Utara

 

22

konflik tersebut melanggar ketentuan hukum internasional. Tercatat antara tahun
1945-1967 telah terjadi 82 konflik yaitu 26 kali dalam bentuk perang antar negara
dan yang lainnya konflik tersebut berlangsung dalam bentuk perang saudara,
pemberontakkan

dan

sejenisnya

yang

seluruhnya

merupakan

implikasi

internasional penting. Sejak dekade tahun 1967 berbagai konflik internasional
tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, seperti yang terjadi antara Israel dengan
Palestina yang bahkan masih berlangsung hingga awal tahun 2009. Pelanggaran
hukum internasional dari konflik internasional antara Israel dan Palestina adalah
mengganggu pardamaian dan ketertiban internasional serta terhadap hak
penduduk sipil yang dilindungi oleh hukum internasional.
Untuk mengetahui instrumen hukum internasional yang mengatur tentang
konflik internasional Israel dan Palestina, maka sebelumnya kita dapat melihat
pada sumber-sumber hukum internasional itu, yang terdiri dari19 :
a. Perjanjian Internasional (Treaty), baik yang bersifat umum maupun
yang bersifat khusus
b. Kebiasaan Internasional yang terbukti telah merupakan praktekpraktek umum yang diterima sebagai hukum
c. Prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa yang beradab
d. Yurisprudensi
e. Doktrin para sarjana ahli hukum

                                                            
19

Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional 1998.

Universitas Sumatera Utara

 

23

Hampir keseluruhan kaedah dalam hukum internasional bersumber dari
perjanjian-perjanjian internasional (sumber hukum utama) yang disepakati oleh
Negara-negara (Law making treaties)20, termasuk dalam menyelesaikan masalah
konflik internasional dan menyebabkan terjadinya perang. Implementasinya
terhadap konflik internasional antara Israel dan Palestina serta akibat-akibat yang
ditimbulkan bahwa pertama sekali dapat mengacu pada ketentuan Piagam PBB
yang menunjukkan pembentukkan organisasi internasional PBB bertujuan untuk
memelihara perdamaian dan ketertiban internasional. PBB yang beranggotakan
Negara merdeka dan berdaulat diwajibkan untuk tunduk pada ketentuan ini. Selain
itu juga, bagi Negara yang bukan anggota juga wajib ikut serta dalam upaya
memelihara perdamaian dan keamanan internasional, seperti yang terdapat dalam
Pasal 1 ayat (6) Piagam PBB. Sebagai tindak lanjut terhadap konflik internasional
antara Israel dan Palestina yang berlangsung sejak lama, PBB sebagai organisasi
internasional yang bertugas menjaga perdamaian dan ketertiban dunia telah
melakukan kebijakan-kebijakan yaitu antara lain mengeluarkan resolusi Dewan
Keamanan PBB untuk mengadakan gencatan senjata diantara kedua negara yang
sedang konflik.
Sering terjadi konflik-konflik dan kadang-kadang diselesaikan dengan
kekerasan, misalnya negara yang lebih kuat secara militer, ekonomi dan politik
menyerang atau mengagresi negara lawannya yang lebih lemah. Jika negara yang
diserang atau diagresi tersebut mengadakan pembalasan dengan menggunakan
kekerasan

bersenjata,

maka

terjadilah

konflik

bersenjata

internasional

                                                            
20

Boer Mauna, Op cit., hlm. 9.

Universitas Sumatera Utara

 

24

(international armed conflict). Jika sudah terjadi perang atau kontak senjata, maka
selanjutnya hukum perang dan hukum humaniterlah yang berperan21, mengacu
pada Konvensi Geneva 1949 yang mengatur mengenai perlindungan terhadap
korban perang. Dengan ditambahkan lagi aturan Protokol Tambahan 1977 sebagai
suatu penyesuaian terhadap perkembangan pengertian konflik bersenjata,
pentingnya perlindungan yang lebih lengkap lagi bagi mereka yang luka, sakit dan
korban karam dalam suatu peperangan, serta antisipasi terhadap perkembangan
mengenai alat dan cara berperang22. Kedua aturan hukum internasional tersebut
diatas merupakan instrumen hukum humaniter yang pada dasarnya bertujuan
untuk memberikan perlindungan terhadap kombatan maupun penduduk sipil dari
penderitaan yang tidak perlu, menjamin hak asasi manusia yang sangat
fundamental bagi mereka yang jatuh ke tangan musuh, serta mencegah
dilakukannya perang secara kejam tanpa mengenal batas23.
Instrumen hukum internasional lainnya yang dapat diterapkan dalam
menyelesaikan konflik internasional Israel dan Palestina adalah dengan mengacu
pada ketentuan Statuta Roma 1998 tentang Mahkamah Pidana Internasional
(International Criminal Court). Pembentukkan Mahkamah Pidana International
yang terletak di Den Haag dalam rangka mengadili subjek hukum internasional
secara individual yang diakui sebagai subjek hukuim internasional dalam
melakukan tindak pidana internasional atau pelanggaran terhadap hak-hak asasi
                                                            
21

I Wayan Pathiana, Hukum Pidana Internasional (Bandung: Yrama Widya, 2006), hlm

79.
22

Abdul Rahman dkk, Diktat Hukum Humaniter, 2008, hlm. 33.
Frederic de Mullinen, Handbook on the law of the War for Armed Forces, ICRC,
Geneve, 1987, hal 2 (sebagaimana dikutip dari Abdul Rahman, Suhaidi, Ibid., hlm. 12).
23

Universitas Sumatera Utara

 

25

manusia “berat” atau yang biasa disebut dengan kejahatan internasional. Dalam
Statuta Roma 1998 disebutkan bahwa yang menjadi bentuk-bentuk pelanggaran
hak asasi manusia “berat’ antara lain adalah kejahatan perang, genosida, agresi
dan kejahatan terhadap kemanusiaan24. Berdasarkan Statuta Roma 1998
menyebutkan bahwa kejahatan perang adalah mencakup tindakan-tindakan yang
berupa:25
1. Pelanggaran berat terhadap Konvensi-Konvensi Genewa 1949;
2. Pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam
situasi sengketa bersenjata internasional;
3. Pelanggaran serius terhadap artikel 3 yang merupakan common article dari
keempat Konvensi Genewa 1949, dalam hal terjadi konflik bersenjata
yang tidak bersifat internasional;
4. Pelanggaran serius terhadap hukum dan kebiasaan yang berlaku dalam
situasi sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional.
Konflik internasional antara Israel dan Palestina berakibat pada terjadinya
perang antar kedua negara, yaitu dengan agresi yang dilakukan Israel terhadap
Palestina. Serta serangan balasan dari Palestina. Dengan melihat pada sumbersumber yang ada bahwa konflik internasional antara kedua negara terjadi lagi
pada akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009 kemarin, maka dapat diketahui
telah terjadi pelanggaran ketentuan hukum internasional yang berpengaruh pada
hilangnya suatu kelompok komunitas masyarakat Negara atau penduduk sipil
                                                            
24

Pasal 5 Statuta Roma 1998.
Mochtar Kusumaatmadja, Hukum Humaniter Internasional Dalam Pelaksanaan dan
Penerapannya di Indonesia, 1980), hlm. 98.
25

Universitas Sumatera Utara

 

26

yang menjadi korban perang dan dapat dikategorikan sebagai suatu pelanggaran
hak asasi manusia “berat”. Dengan demikian dapat diketahui bahwa
pembentukkan Mahkamah Pidana Internasional ini merupakan suatu langkah
besar untuk kemajuan hukum internasional bagi perlindungan hak-hak asasi
manusia dan hukum humaniter terutama dalam menyelesaikan konflik yang antara
Israel dan Palestina26.

F.

METODE PENULISAN
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Penelitian

Hukum Normatif (legal research), yaitu dengan mengacu pada berbagai norma
hukum, dalam hal ini adalah perangkat hukum internasional yang terdapat di
dalam berbagai sumber terkait dengan konflik internasional serta penyelesaiannya
2. Data Penelitian
Data penelitian yang digunakan, diuraikan menjadi beberapa bagian,
mulai dari yang terutama hingga yang bersifat sebagai penyokong. Bahan hukum
primer yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah Piagam Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Konveni Genewa 1949 serta Prtokol Tambahan 1977, serta
Statuta Roma 1998. Bahan hukum sekunder adalah buku-buku, artikel-artikel,
jurnal-jurnal, keputusan-keputusan atau resolusi Dewan Keamanan Perserikatan
Bangsa-Bangsa serta dari media cetak dan media internet, dan bahan-bahan
                                                            
26

Boer Mauna, Op.cit., hlm. 303.

Universitas Sumatera Utara

 

27

lainnya yang memuat penjelasan-penjelasan yang berhubungan dengan penulisan
skripsi ini, dan yang menjadi bahan penunjang terhadap penulisan skripsi ini
berupa kamus Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris ataupun kamus istilah-istilah
hukum serta pedoman lainnya untuk penulisan.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan
(library research), baik untuk memperoleh bahan hukum primer maupun sekunder
dan tersier.
4. Analisis Data
Analisis data dalam penulisan skripsi ini adalah analisis kualitatif,
dimana data-data yang dikumpulkan kemudian dipisahkan menurut kategori
masing-masing dan kemudian ditafsirkan untuk mencari jawaban dari
permasalahan.

G.

SISTEMATIKA PENULISAN
- Kata Pengantar
-

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
D. Keaslian Penulisan

Universitas Sumatera Utara

 

28

E. Tinjauan Kepustakaan
F. Metode Penulisan
G. Sistematika Penulisan
- BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG NEGARA
A. Pengertian dan Syarat-Syarat Terbentuknya Suatu
Negara
B. Eksistensi Israel dan Palestina Sebagai Suatu Negara
dalam Hukum Internasional

- BAB III

KONSEP KONFLIK INTERNASIONAL
D. Pengertian dan Perbedaan Konflik dengan Sengketa
Internasional
E. Pengaruh Konflik Internasional Terhadap Keamanan
dan Perdamaian Dunia
F. Penyelesaian Konflik Internasional

-

BAB IV

PENERAPAN HUKUM INTERNASIONAL DALAM
MENYELESAIKAN

KONFLIK

INTERNASIONAL

ISRAEL DAN PALESTINA
A. Konflik Internasional Israel dan Palestina
B. Penerapan Hukum Internasional dalam Menyelesaikan
Konflik Israel dan Palestina
C. Tanggapan Israel dan Palestina Terhadap Upaya
Hukum Internasional Atas Konflik Internasional

Universitas Sumatera Utara

 

29

-

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

Universitas Sumatera Utara

 

30

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG NEGARA

A.

Pengertian dan Syarat-Syarat Terbentuknya Negara

Sudah menjadi kodrat alam, bahwa manusia sejak dahulu kala selalu hidup
bersama-sama dalam suatu kelompok (zoon politicon). Dalam kelompok manusia
itulah mereka berjuang bersama-sama mempertahankan hidupnya mencari makan,
melawan bahaya dan bencana serta melanjutkan keturunannya. Mereka
berinteraksi, mengadakan hubungan sosial. Untuk mempertahankan hak mereka
untuk dapat hidup di tempat tinggal tertentu yang mereka anggap baik untuk
sumber penghidupan, diperlukan seseorang atau sekelompok kecil orang-orang
yang ditugaskan mengatur dan memimpin kelompoknya. Kepada pemimpin
kelompok inilah diberikan kekuasaan-kekuasaan tertentu dan kelompok manusia
tadi diharuskan menaati peraturan-peraturan perintah pemimpinnya27.

. Negara adalah lanjutan dari kehendak manusia bergaul antara seorang
dengan orang lainnya dalam rangka menyempurnakan segala kebutuhan hidupnya.
Semakin luasnya pergaulan manusia tadi maka semakin banyak kebutuhannya,
maka bertambah besar kebutuhannya kepada sesuatu organisasi negara yang akan
melindungi dan memelihara hidupnya. Secara etimologi, negara dapat
diterjemahkan dari kata-kata asing staat (bahasa Belanda), state (bahasa Inggris)
                                                            
27

C.S.T. Kansil, Ilmu Negara Umum dan Indonesia (Jakarta :PT Pradnya Paramita,
2001), hlm. 133.

Universitas Sumatera Utara

 

31

dan Etat (bahasa Prancis). Asalnya adalah bahasa latin yang berarti menaruh
dalam keadaan berdiri; membuat berdiri;menempatkan28.

Pada dasarnya tidak ada suatu definisi yang tepat terhadap pengertian
suatu Negara. Namun kita dapat mengambil beberapa pengertian suatu negara
berdasarkan pengertian-pengertian oleh para ahli yang dapat dijadikan sebagai
suatu sumber hukum atau biasa disebut dengan doktrin para sarjana. Serta
pengertian suatu negara berdasarkan hukum internasional yang dapat kita ambil
dari Konvensi Montevidio tahun 1933.
1. Pengertian Negara Menurut beberapa Sarjana
Menurut Plato, negara adalah suatu tubuh yang senantiasa maju,
berevolusi dan terdiri dari orang-orang (individu-individu) yang timbul atau ada
karena masing-masing dari orang itu secara sendiri-sendiri tidak mampu
memenuhi kebutuhan dan keinginannya yang beraneka ragam, yang menyebabkan
mereka harus bekerja sama untuk memenuhi kepentingan mereka bersama.
Kesatuan inilah yang kemudian disebut masyarakat atau negara29. Dari pengerian
yang disampaikan sarjana ini dapat diketahui bahwa suatu negara ada karena
hungan manusia dengan sesamanya karena manusia menyadari tidak dapat hidup
secara sendiri-sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya, atau berdasarkan doktrin
yang diajarkan oleh Aristoteles biasa kita kenal dengan istilah zoon political.

                                                            
28
29

Samidjo, Op.cit., hlm. 31.
Soehino, Ilmu Negara (Yogyakarta : Liberty, 1980), hlm. 17.

Universitas Sumatera Utara

 

32

Menurut Thomas Hobbes bahwa negara adalah suatu tubuh yang dibuat
oleh orang banyak beramai-ramai, yang masing-masing berjanji akan memakainya
menjadi alat untuk keamanan dan pelindungan mereka30. Berdasarkan pengertian
yang disampaikan oleh sarjana ini adalah bahwa suatu negara terbentuk oleh
sekumpulan manusia yang menyatukan dirinya dan kemudian mengadakan
perjanjian antar sesama mereka untuk menjadikan negara yang mereka bentuk
sendiri sebagai alat untuk keamanan dan perlindungan bagi mereka (Teori
Perjanjian Masyarakat atau teori kontrak sosial). Dari sini juga dapat diketahui
bahwa negara dibentuk dalam rangka memberikan rasa aman dan perlindungan
bagi masing-masing mereka, yang berarti juga bahwa manusia menyadari mereka
dapat menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus) dalam pencapaian
kepentingan masing-masing mereka, yang kemudian dalam skala yang besar dapat
menyebabkan terjadinya perlawanan atau perang (bellum omnium contra omnes).
Menurut George Jellinek yang juga disebut sebagai Bapak Negara memberikan
pengertian tentang Negara yang merupakan organisasi kekuasaan dari kelompok
manusia yang telah berdiam di suatu wilayah tertentu.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
dasarnya negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya
baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan
yang berada di wilayah tersebut. Negara adalah pengorganisasian masyarakat
yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang
                                                            
30

Samidjo, Op.Cit., hlm. 29.

Universitas Sumatera Utara

 

33

yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah
adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang
disebut dengan kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai
pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu
berada31.

2. Syarat-Syarat Terbentuknya Negara

Sesuai dengan pelaku utama hubungan internasional adalah negara, maka
yang menjadi perhatian utama hukum internasional adalah hak dan kewajiban
serta kepentingan negara. Negara sebagai salah satu subjek hukum internasional,
bahkan menjadi subjek hukum internasional yang pertama dan utama serta
terpenting (par excellence). Negara menjadi subjek hukum internasional yang
pertama-tama, sebab kenyataan menunjukkan bahwa yang pertama-tama yang
mengadakan hubungan internasional. Negara sebagai suatu kesatuan politik dalam
hukum internasional yang juga sifatnya keterutamaannya maka suatu negara harus
memiliki unsur-unsur tertentu berdasarkan hukum internasional. Aturan hukum
internasional yang disediakan masyarakat internasional dapat dipastikan berupa
aturan tingkah laku yang harus ditaati oleh negara apabila mereka saling
mengadakan hubungan kerjasama32. Untuk lebih jelasnya lagi dalam merumuskan
pengertian suatu negara berdasarkan hukum internasional dapat kita lihat pada
ketentuan Konvensi Montevidio tahun 1993 mengenai hak-hak dan kewajiban      

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

111 3564 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 912 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 830 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 539 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 696 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1194 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

62 1098 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 701 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 974 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1190 23