Penerapan konsep maslahah mursalah dalam wakaf (tinjauan terhadap UU No.41 tahun 2004 tentang wakaf)

PENERAPAN KONSEP MASLAHAH MURSALAH DALAM WAKAF
(TINJAUAN TERHADAP UNDANG-UNDANG NO.41 TAHUN 2004
TENTANG WAKAF)
Skripsi
Di ajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :
Hadiratush Sholihah
NIM: 105043101274

KONSENTRASI PERBANDINGAN MAZHAB FIQIH
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi berjudul PENERAPAN KONSEP MASLAHAH MURSALAH DALAM
WAKAF (TINJAUAN TERHADAP UNDANG-UNDANG NO. 41 TAHUN 2004
TENTANG WAKAF) telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan
Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada 15 Maret 2010.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah
(S.Sy) pada Program Studi Perbandingan Mazhab Hukum Konsentrasi Perbandingan
Mazhab Fiqih.

Jakarta, 15 Maret 2010
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM.
NIP.195505051982031012

PANITIA UJIAN

1. Ketua

:Dr. H. Ahmad Mukri Aji, MA.

(........................)

NIP. 195703120985031003

2. Sekretaris

:Dr. H. Muhammad Taufiki, M. Ag.

(........................)

NIP. 196511191998031002

3. Pembimbing I :Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, M. Ag.

(........................)

NIP. 195003061976031001

4. Pembimbing II :Drs. H. Hamid Farihi, MA.

(........................)

NIP. 195811191986031001

5. Penguji I

:Dr. H. Fuad Thohari, M. Ag.

(........................)

NIP. 197003232000031001

6. Penguji II

:Nahrowi, SH, MH.
NIP. 197302151999031002

(........................)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Jakarta, 1 Maret 2010

Hadiratush Sholihah

KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang setinggi-tingginya penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang
Maha kuasa, Zat yang menjadi sandaran vertikal bagi setiap insan yang
mengharapkan ridlo-Nya.
Shalawat teriring salam senantiasa tercurah keharibaan rasul-Nya tercinta,
Muhammad saw, sosok manusia paripurna yang menjadi standar moral bagi manusia
dalam mengarungi bahtera kehidupannya.
Setelah sekian lama penulis berusaha menyelesaikan penulisan skripsi ini,
hanya syukur yang dapat penulis untaikan melalui tulisan ini, karena atas hidayah dan
inayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini tepat pada
waktunya. Ini berarti sebagian dari syarat-syarat dan tugas untuk mencapai gelar
sarjana pada jurusan Perbandingan Mazhab Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat terpenuhi.
Sehubungan dengan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalamdalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. Drs. H. M. Amin Suma, SH., MA., MM. Selaku Dekan Fakultas
Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Drs. H. A. Basiq Djalil, SH, M. Ag dan Bapak Drs. H. Hamid Farihi, Ma.,
selaku Dosen pembimbing skripsi, yang telah memberikan pengarahan, petunjuk,

serta bimbingan dalam menyelesaiikan penulisan skripsi ini dengan penuh
kesabaran.
3. Bapak Dr. H. Ahmad Mukri Aji, Ma dan bapak Dr. H . Muhammad Taufiki, M.
Ag., selaku ketua dan sekretaris jurusan Perbandingan Mazhab Hukum, yang
sangat membantu penulis dalam menyelesaikan persoalan akademik dan
administrasi di Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Seluruh staf

Dosen Fakultas Syariah dan hukum yang telah mendidik dan

membimbing penulis dalam menuntut ilmu selama menjadi mahasiswi dikampus
tercinta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Seluruh staf perpustakaan Utama, dan staf perpustakaan Syariah yang telah
membantu penulis dalam melayani peminjaman buku-buku, sehingga penulis bisa
menyelesaikan skripsi ini.
6. Kedua Orang Tua saya, Bapak H. Muhammad Nalim dan Ibu Hj. Sarwati yang
telah mendidik dan membesarkan sang putri, dan juga tidak pernah lelah
membantu memberikan motivasi dan juga do’anya sehingga saya dapat
menyelesaikan skripsi ini.
7.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................

i

DAFTAR ISI .......................................................................................................

iv

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah ..............................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ..........................................

9

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................

10

D. Metode Penelitian ........................................................................

11

E. Review Studi Terdahulu ..............................................................

13

F. Sistematika Penelitian .................................................................

15

MASLAHAH MURSALAH .............................................................

17

A. Pengertian Maslahah Mursalah dan Dasar Hukumnya ...............

15

B. Macam-Macam Maslahah ...........................................................

26

C. Syarat Berhujjah dengan Maslahah Mursalah .............................

32

D. Metode Analisa Maslahah Mursalah ...........................................

36

E. Objek dan Contoh Penggunaan Maslahah Mursalah...................

40

WAKAF DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM .......................

45

A. Pengertian dan Dasar Hukum Wakaf ..........................................

45

B. Rukun dan Syarat Wakaf .............................................................

52

BAB II

BAB III

iv

C. Macam-Macam, Fungsi dan Tujuan Wakaf ................................

57

D. Sejarah Singkat Lahirnya Undang-Undang Wakaf No.41

BAB IV

Tahun 2004 tentang Wakaf .........................................................

61

KANDUNGAN MASLAHAH MURSALAH ................................

67

A. Orientasi Maslahah ......................................................................

67

B. Maslahah Mursalah dalam Undang-Undang Wakaf No. 41
Tahun 2004 tentang Wakaf .........................................................

68

C. Analisis Penulis ..........................................................................

86

PENUTUP........................................................................................

93

A. Kesimpulan ..................................................................................

93

B. Saran ............................................................................................

94

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................

97

BAB V

v

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.
Komitmen bangsa dan negara Indonesia dalam membina hukum nasional
yang menjadi bagian garapan pembangunannya menempatkan hukum Islam
memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu bahan pokok yang sangat
diperlukan dalam membina hukum Nasional.
Hukum Islam sejak kedatangannya di bumi nusantara Indonesia hingga saat
ini tergolong hukum yang hidup (Living Law) dan dinamis di dalam masyarakat
Indonesia,1hukum Islam adalah suatu peraturan (syariat) yang diturunkan Allah
SWT untuk kemaslahatan umat manusia agar dapat hidup tenang, damai, tentram
dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Allah SWT dengan rahmat-Nya
tidak meninggalkan manusia dalam kegelapan. Dia mengutus para Rasul-Nya di
berbagai bangsa dan sepanjang waktu untuk menjelaskan dan menunjukan kepada
umat jalan yang ma’ruf dan jalan yang mungkar, yang benar dan yang salah.
Semua ajaran secara bertahap dibawa oleh para Rasul-Nya saling memperkuat
hingga ajaran terakhir yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.
Ajaran-ajaran tersebut berupa aturan dan ketentuan yang akan dipedomani dan
diamalkan oleh manusia dalam mencari kebahagiaan. Ajaran itulah yang akan

1

Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara Kritik atas Politik Hukum Islam di
Indonesia, (Yogyakarta ,LkiS,2001), h.81.

1

2

membimbing manusia kejalan yang benar menuju kepuasan hakiki yang diridhai
oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua upaya dan cara untuk mencapai kepuasan itu
adalah maslahah, mempertahankan, memelihara dan meningkatkan mutunya juga
merupakan maslahah. Oleh karena itu, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad
saw yang berupa syariat Islam adalah agama yang berorientasi pada
kemaslahatan.2
Kesempurnaan dan kelengkapan yang mendapat restu ilahi itu adalah
termasuk hukum yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama secara
keseluruhan. Sungguhpun demikian manusia dengan segala kondisinya senantiasa
berubah seiring dengan perkembangan zaman yang terjadi. Dalam hal seperti ini
ajaran Islam termasuk aspek hukum di dalamnya, tentunya mampu merespons
segala perubahan yang terjadi, karena kesempurnaan agama Islam yang ditegaskan
dalam al-Qur’an menjadikan ajaran Islam dan segala aspeknya selalu sesuai
dengan kondisi zaman dan tempat dimana umat manusia berada. Begitu pula
sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun”Hal ihwal umat manusia, adat
kebiasaan dan peradabannya tidaklah pada suatu gerak dan kekuatan yang tetap,
melainkan berubah dan berbeda-beda sesuai dengan perubahan zaman dan
keadaan”.3

2

Siti Musrifah, “Konsep Maslahah mursalah dalam Dunia Bisnis dengan Sistem Franchise:
Waralaba”, (Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, 2008), h.2.
3

Sobhi Mahmasani, alih bahasa Ahmad Sudjono, Filsafat Hukum dalam Islam, (Bandung: PT
Al-Ma’arif, 1976), h.214.

3

Sebagaimana kita ketahui, bahwa pada dasarnya hukum Islam itu hanya
bersumber dari al-Qur’an dan Hadits. Namun, setelah Islam semakin berkembang,
maka timbullah berbagai macam istilah-istilah dalam penggalian hukum Islam
(metode istinbath) yang dimunculkan oleh para mujtahid, sehingga dikenallah
istilah sebagai hukum primer dan hukum sekunder. Hukum primer yaitu hukumhukum yang telah disepakati oleh jumhur ulama (al-Qur’an, Hadits, Ijma’, dan
Qiyâs), dan sumber hukum sekunder, yaitu sumber-sumber hukum yang masih
diperselisihkan pemakaiannya dalam menetapkan hukum Islam oleh para ulama
(al-Istihsân, al-Maslahah al-Mursalah, al-Urf, al-Istishâb, Madzâhib Sahâbi, dan
al-Syar’u man qablanâ).4
Salah satu dari sumber hukum sekunder dalam Islam akan dibahas secara
lebih detail, yaitu maslahah mursalah. Secara umum maslahah mursalah adalah
hukum yang ditetapkan karena tuntutan maslahat yang tidak didukung maupun
diabaikan oleh dalil khusus, tetapi masih sesuai dengan Maqâsid al-Syarî’ah al‘Ammah (tujuan umum hukum Islam)5
Maslahah mursalah merupakan jalan yang ditempuh hukum Islam untuk
menerapkan kaidah-kaidah dan perintah-Nya terhadap peristiwa baru yang tidak
ada nashnya. Disamping itu maslahah mursalah juga menjadi jalan dalam
menetapkan aturan yang harus ada dalam perjalanan hidup umat manusia agar
4
Wahidul Kahar, “Efektifitas Mashlahah Mursalah dalam Penetapan Hukum Syara’”, (Tesis
Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: 2003), h.5.
5

Ibid., h. 5-6.

4

sesuai dengan Maqâsid al-Syarî’ah al-‘Ammah, dalam rangka menarik
kemaslahatan, menolak kemafsadatan dan menegakkan, kehidupan sesempurna
mungkin.6 Konsep maslahah mursalah tidak hanya terbatas pada masalah ibadah
tetapi juga masalah muamalah. Dan kali ini penulis berusaha menyoroti konsep
maslahah mursalah dari sisi muamalah, dalam hal ini lebih ditekankan pada
kegiatan perwakafan khususnya mengenai Undang-Undang No. 41 tahun 2004
tentang Wakaf.
Dalam sejarah Indonesia, wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh umat
Islam sejak agama Islam masuk di Indonesia. sebagai suatu lembaga Islam, wakaf
telah menjadi salah satu penunjang perkembangan masyarakat Islam dan juga
merupakan sarana dan modal yang amat penting dalam memajukan perkembangan
agama.7
Di Indonesia, legalisasi wakaf mengalami perkembangan cukup penting,
perwakafan pernah diatur dalam Undang-Undang No.5 tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dimana negara secara resmi menyatakan
perlindungan terhadap harta wakaf. Dalam pasal 49 ayat 3 dikatakan bahwa
perwakafan tanah milik dilindungi dan diatur menurut peraturan pemerintah yakni
Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1961 tentang pendaftaran tanah, lalu terbitnya
Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik.
6

Musthafa Ahmad al-Dzarqa, Hukum Islam dan Perubahan Sosial, Alih Bahasa: Ade Dedi
Rohaya, ( Jakarta: Riora Cipta, 2000), h. 33
7

Direktorat Pemberdayaan Wakaf
Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam,
perkembangan pengelolaan Wakaf di Indonesia,(Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat
Jendral Bimbingan Masyarakat Islam, 2006) h. 1

5

Peraturan ini tergolong sebagai peraturan yang pertama yang memuat unsur-unsur
subtansi dan teknis perwakafan, kemudian hadirnya intruksi presiden No. 1 tahun
1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, aturan ini membawa beberapa
pembaharuan dalam pengelolaan wakaf, pembaharuan ini pada dasarnya
merupakan elaborasi dan prinsip pembaharuan yang terdapat pada Peraturan
Pemerintah (PP) No. 28 tahun 1977 tentang Perwakafan tanah miik.
Perkembangan terakhir adalah dengan disahkanya Undang-Undang No. 41 tahun
2004 tentang Wakaf pada tanggal 20 Oktober 2004 serta Peraturan Pemerintah
tentang pelaksanaan Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Hal ini
mengindikasikan bahwa pemerintah Indonesia menaruh perhatian serius terhadap
lembaga wakaf serta mensiratkan kesungguhan pemerintah untuk memperkokoh
lembaga hukum Islam menjadi hukum nasional dalam bentuk transformasi
hukum.8
Lahirnya Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf ini mungkin
terkait dengan motif politik, ekonomi, dan tertib hukum sekaligus. Selain
bermaksud untuk mengakomodasi kepentingan sosial-religius umat Islam,
pemerintah menyadari bahwa berkembangnya lembaga wakaf dapat meningkatkan
kesejahteraan sosial masyarakat Islam. Karenanya, tidaklah mengherankan
pemerintah, diwakili oleh Departemen Agama, memainkan peranan yang

8

Tuti A. Najib, Ridwaan al-Makassary, Wakaf, Tuhan, dan Agenda Kemanusiaan: Studi
tentang Wakaf dalam Perpektif Keadilan Sosial di Indonesia, Jakarta, Center for the Study of religion
and Culture (CSRC), 2006, Cet. Pertama, h. 86-89

6

signifikan dalam memfasilitasi lahirnya Undang-Undang No. 41 tahun 2004
tentang Wakaf.9
Keterlibatan pemerintah untuk mengatur masalah perwakafan merupakan atas
dasar kepentingan kemaslahatan (al-Maslahah al-Mursalah). Karena hal tersebut
sudah menyangkut kepentingan umum (masyarakat banyak) jika tidak akan
menimbulkan ketidaktertiban, sesuai kaidah fiqhiyah “Pemerintah berkewajiban
mengatur kepentingan masyarakat berdasarkan kemaslahatan.”10
Sebagai hukum Islam yang bercorak khas Indonesia, sudah tentu kaidah
hukum maupun pola pikir yang mendasari Undang-Undang Wakaf No. 41 tahun
2004 tentang Wakaf akan menunjukan beberapa perbedaan dengan hukum Islam
yang diberlakukan di negara-negara lain, sekalipun sifat dasar dan subtansi
hukumnya tetap sama bersumber pada al-Qur’an dan sunnah. karena pada
dasarnya fleksibelitas ajaran Islam terletak pada nilai-nilai dasar dan prinsipprinsip umum yang terkandung dalam sumber ajarannya. Begitu pula sebagaimana
yang dijelaskan oleh Abdul Wahab Khalaf dalam usul fiqhnya bahwa nash telah
mensyariatkan hukum terhadap berbagai macam undang-undang, baik mengenai
perdata, pidana, ekonomi, dan undang-undang dasar telah sempurna dengan
adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun
tasyrik yang kullî yang tidak terbatas terhadap suatu cabang undang-undang, al9

Ibid., h. 84

10

Abdul Salam, Wakaf dan Perwakafan di Indonesia, artikel diakses pada 20 Desember 2009
dari http://www.pkesinteraktif.com/content/view/2330/36/lang,ar/.

7

Qur’an membatasi diri untuk menerangkan dasar-dasar yang menjadi sendi bagi
tiap-tiap undang-undang agar membuahkan hukum.11
Keluesan dan keelastisan hukum nash-nash al-Qur’an itu merupakan koleksi
membentuk undang-undang yang terdiri dari dasar-dasar dan prinsip-prinsip
umum yang membantu ahli undang-undang dalam usaha mewujudkan keadilan
dan kemaslahatan umat disetiap masa dan tidak bertentangan dengan setiap
undang-undang yang adil yaitu mewujudkan kemaslahatan masyarakat.12
Setiap pembentukan peraturan perundang-undangan itu pada dasarnya
dilandasi oleh asas kemaslahatan, begitu halnya Undang-Undang No.41 tahun
2004 tentang Wakaf juga dilandasi oleh kemaslahatan yang sesuai dengan sosio
kultural umat Islam Indonesia. dengan demikian materi hukum yang ada dalam
Undang-Undang Wakaf No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf mengandung hal-hal
yang dianggap “ketentuan baru” yang tidak didapat dalam rumusan para ulama
fiqh terdahulu, dengan kata lain banyak dimasuki unsur siyasah syar’iyah yang
dalam kajian ushul fiqh didasarkan kepada maslahah mursalah.
Pada dasarnya peraturan-peraturan mengenai wakaf sudah cukup berkembang.
Namun dalam Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf terdapat
berbagai macam aturan yang tidak didapati dalam Peraturan Pemerintah No. 28
tahun 1977 dan Instruksi Presiden No. 1 tahun 1999 Buku III sehingga dalam

11

Muchlis Usman, Kaidah-kaidah Istinbath Hukum Islam (kaidah-kaidah ushuliyyah dan
fiqhiyyah ). (Jakarta: Pt Raja Grapindo Persada, 1996), h.103.
12

Ibid., h.104.

8

Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf terdapat banyak paradigma
baru wakaf agar praktek wakaf semakin berkembang, oleh karenanya perlulah
dilakukan peninjauan dalam hal tersebut.
Mengingat hal di atas, perlulah kiranya tinjauan secara khusus terhadap
materi-materi dalam Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf yang
aplikasinya didasarkan atas maslahat berdasarkan kaidah-kaidah hukum Islam.
Sebagaimana telah diketahui, bahwa tujuan utama pensyariatan ajaran-ajaran yang
dibawa oleh Nabi Muhammad saw, adalah demi kemaslahatan umat manusia itu
sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiyaa’ (21):107

(١٠۷:٢١/‫ )ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ‬‫ﻦ‬‫ﻤﻴ‬ ‫ﻠﹶ‬‫ﺔﹰ ﻟﱢﻠﹾﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ ﺇﹺﻻﱠ ﺭ‬‫ﻚ‬‫ ﹾﻠﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺂ ﺃﹶﺭ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬
Artinya :” Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi semesta alam”
Dengan latar belakang permasalahan ini, penulis merasa tertarik dan perlu
membahas secara spesifik tentang bagaimana penerapan konsep maslahah
mursalah yang terdapat dalam materi Undang-undang Wakaf yakni UndangUndang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf. Atas dasar itu, penulis menyusun
skripsi ini dengan judul : “Penerapan Konsep Maslahah Mursalah dalam Wakaf
(Tinjauan Terhadap Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf”).

9

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dalam penulisan Skripsi ini berdasarkan latar belakang masalah
diatas, penulis membatasi permasalahan hanya pada penerapan konsep
maslahah mursalah dalam Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang
Wakaf. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan tidak keluar dari pokok
pembahasan, disamping karena terbatasnya wawasan dan pengetahuan penulis
sendiri.
2. Perumusan Masalah
Undang-Undang No.41 tahun 2004 tentang Wakaf yang dilandasi oleh
kemaslahatan mengandung hal-hal yang dianggap “ketentuan baru” yang tidak
didapat dalam rumusan para ulama fiqh terdahulu, dengan kata lain banyak
dimasuki unsur siyâsah syar’iyah yang dalam kajian ushul fiqh didasarkan
kepada maslahah mursalah. Dengan demikian perlu kiranya peninjauan
bagaimana penerapan konsep maslahah mursalah dalam Undang-Undang No.
41 tahun 2004 tentang Wakaf.
Untuk mempermudah dalam penulisan skripsi ini, penulis menentukan
rumusan permasalahan sebagai berikut :
a. Apa yang dimaksud dengan konsep maslahah mursalah dan bagaimana
kedudukannya dalam syariat Islam
b. Bagaimana penerapan konsep maslahah mursalah dalam Undang-Undang
No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf

10

c. Bagaimana implementasi Maslahah Mursalah dalam pasal-pasal UndangUndang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Secara

umum

penelitian

ilmiah

bertujuan

untuk

menemukan,

mengembangkan dan menguji kebenaran suatu objek penelitian. Menemukan
berarti mendapatkan dan melahirkan suatu hal baru yang sebelumnya tidak ada,
mengembangkan berarti memperluas atau mngkaji lebih dalam yang sudah ada
sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika terdapat keraguan terhadap apa
yang sudah ada sebelumnya. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep maslahah mursalah dan
bagaimana kedudukan dalam syariat Islam.
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan konsep maslahah mursalah dalam
Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf
3. Mencoba memberikan dukungan normatif atas implementasi maslahah
mursalah dalam pasal-pasal Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang
Wakaf
Adapun manfaat dari penelitian ini bagi penulis secara umum adalah
menyumbangkan pemikiran berupa gagasan buah pikir sebagai hasil kegiatan
penelitian berdasarkan prosedur, ilmiah serta melatih kepekaan penulis sebagai
mahasiswa terhadap masalah-masalah yang berkembang dilingkungan sekitar,
sedangkan lebih khusus lagi pentingnya melakukan penelitian ini adalah untuk:

11

1. Kegunaan teoritis, dapat menambah khazanah keilmuan di bidang hukum
perdata khususnya dalam

lingkup perwakafan. Memberi informasi lebih

tentang maslahah mursalah dalam ushul fiqh yang dapat menjadi hujjah
dalam penyelesaian masalah-masalah mua’malah khususnya masalah wakaf.
2. Kegunaan praktis, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi kalangan
pelajar, mahasiswa, akademis lainnya dan terutama para pelaku yang terkait
dengan penelitian ini.
D. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Adapun jenis Penelitian yang penulis gunakan adalah Penelitian
kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan yaitu mencari data-data yang diperoleh dari
literatur-literatur dan referensi yang berhubungan dengan judul Skripsi diatas.
Referensi diambil dari al-Qur’an dan Hadits, juga kitab-kitab Fiqh klasik dan
kontemporer yang berkaitan dengan materi Penelitian, kemudian buku-buku
ushul fiqh baik yang langsung maupun tidak langsung membahas mengenai
maslahah mursalah, dan buku-buku yang berkaitan dengan Wakaf, UndangUndang diantaranya Undang-Undang No. 41 tahun 2004 tentang Wakaf,
Peraturan Perundang-undangan dan peraturan pemerintah mengenai Wakaf,
serta bahan-bahan lainnya yang dapat mendukung judul skripsi ini.

12

2. Pendekatan Penelitian
Dalam

penyusunan

Penelitian,

Penulis

menggunakan

Metode

Normatif yaitu pemecahan masalah dengan cara mengumpulkan informasi
yang berbentuk sebuah peraturan-peraturan atau undang-undang, buku-buku
yang berkaitan dengan judul Penelitian, serta dokumen-dokumen yang penulis
anggap penting sebagai landasan penulisan Penelitian.
3. Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang penulis gunakan terdiri dari dua
sumber yakni:
a) Sumber Primer, yaitu berupa dokumen-dokumen, buku-buku yang
menyangkut mengenai Maslahah Mursalah, Wakaf serta Undang-undang
No. 41 tahun 2004.
b) Sumber Sekunder, yakni memberikan penjelasan dan menguatkan data
primer yang mencakup karya tulis berupa Makalah, Koran, Majalah, dan
lain-lain dengan mengambil materi yang relevan dengan pembahasan
Skripsi ini.
4. Tekhnik Pengolahan Data
Dalam Penelitian yang menggunakan Metode Library Research ini
dalam pengolahan data digunakan Metode Kualitatif, yakni dengan cara
pengumpulan

data

sebanyak-banyaknya

kemudian

diolah

menjadi

satukesatuan data untuk mendeskripsikan permasalahan yang akan dibahas
dengan mengambil materi-materi yang relevan dengan permasalahan lalu di

13

komparasikan. Yaitu berupa dokumen-dokumen, buku-buku ushul fiqh yang
membahas mengenai Maslahah mursalah, wakaf, serta Undang-undang wakaf
yaitu Undang-Undang No.41 tahun 2004 tentang Wakaf serta peraturan
perundang-undangan dan peraturan pemerintah mengenai wakaf.
5. Tehnik Analisa Data
Metode Analisis data dalam Skripsi ini adalah Kualitatif Normatif,
yakni pengumpulan data dari berbagai dokumen-dokumen, buku-buku yang
berkaitan dengan permasalahan dalam Skripsi ini.
Selain itu dalam penulisan Skripsi ini, penulis juga menggunakan
Metode Analisis Induktif, yaitu dengan cara menganalisa data yang bertitik
tolak dari data yang bersifat khusus kemudian ditarik pada kesimpulan umum.
6. Penulisan Skripsi
Dalam penulisan Skripsi ini, penulis berpedoman pada buku pedoman
penulisan Skripsi tahun 2007 yang diterbitkan oleh Fakultas Syari’ah dan
Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
E. Review Studi Terdahulu
Dalam kajian ini penulis, membahas tentang konsep maslahah secara umum,
secara lebih spesifik membahas kandungan maslahah mursalah serta aplikasinya
di dalam peraturan perundang-undangan. Dalam hal ini khususnya Peraturan
Perundang-undangan No.41 tahun 2004 tentang Wakaf yang akan dibahas dalam
kajian ini.

14

Dalam Undang-Undang No.41 tahun 2004 tentang Wakaf ini banyak
didapati paradigma baru dalam praktik wakaf yang tidak ada dalam aturan fiqh
terdahulu, sehingga dengan kata lain Undang-Undang No.41 tahun 2004 tentang
Wakaf ini banyak dimasuki unsur siyasah syar’iyah yang dalam kajian ushul fiqh
didasarkan kepada maslahah mursalah
Sepanjang pengetahuan penulis topik penelitian yang sama dengan topik
yang penulis teliti baik dalam katalog perpustakaan utama ataupun perpustakaan
fakultas syariah dan hukum, belum pernah diteliti oleh peneliti lainnya, namun ada
beberapa judul tesis dan skripsi yang mendekati permasalahan bahasan penulis.
Diantaranya adalah tesis wahidul kahhar (UIN Syarif Hidayatullah. 2003),
dengan judul “Efektifitas al-Mashlahah al-Mursalah dalam Penetapan Hukum
Syara’”. Skripsi Didin Najmudin (UIN Syarif Hidayatullah. Fakultas Syariah dan
Hukum tahun 2000 SJAS), dengan judul “Tinjauan Kaidah Fiqhiyyah Tentang
Konsep Maslahat dalam Kompilasi Hukum Islam di Indonesia”
Selain itu penulis juga meriview kajian tentang wakaf, yaitu skripsi dari
Fikri Amin Hulaifi (UIN Syarif Hidayatullah. Fakultas Sayriah dan Hukum tahun
2009 SJAS), dengan judul “ Politik Hukum Filantropi Islam di Indonesia Studi
Tentang Paradigma Wakaf Dalam PP No.28 tahun 1977 Tentang Perwakafan
Tanah Milik, KHI,dan UU No.41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.
Dari beberapa judul karya ilmiah tersebut, belum ada yang menjelajahi tema
yang penulis angkat dalam skripsi ini. Yaitu Penerapan Konsep Maslahah

15

Mursalah dalam Wakaf, Tinjauan terhadap Undang-Undang No. 41 tahun 2004
tentang Wakaf.
F. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan skripsi ini, penulis membagi pembahasan materi dalam
bagian-bagian atau bab-bab dan sub-sub bab dengan menguraikan pembahasan
setiap bab secukupnya.
Adapun secara garis besar isi dari setiap bab adalah sebagai berikut.
BAB I : Merupakan bab pendahuluan dari skripsi ini. Dalam pendahuluan ini
penulis menguraikan latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan
masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, review studi
terdahulu serta sistematika dalam penulisan skripsi ini.
BAB II : Merupakan isi dari skripsi ini berisi tentang tinjauan umum mengenai
maslahah mursalah yang meliputi pengertian maslahah mursalah dan dasar
hukumnya, macam-macam maslahah, syarat berhujjah dengan maslahah
mursalah, metode analisa maslahah mursalah serta objek dan contoh penggunaan
maslahah mursalah
BAB III : Merupakan isi dari skripsi ini, berisi tentang sekilas mengenai Wakaf
dan Undang-undang No. 41 tahun 2004 yang meliputi ruang lingkup wakaf yang
berisi pengertian, dasar hukum, rukun, syarat,macam-macam, fungsi dan tujuan
wakaf menurut hukum Islam dan Undang-Undang Wakaf No.41 tahun 2004
tentang Wakaf, sejarah singkat lahirnya Undang-Undang No.41 tahun 2004
tentang Wakaf.

16

BAB IV : Juga merupakan isi skripsi ini, berisi tentang kandungan maslahah
mursalah, yang meliputi orientasi maslahah, penerapan konsep Maslahah
mursalah yang terdapat di dalam materi pasal-pasal Undang-Undang No.41 tahun
2004 tentang wakaf serta analisis penulis mengenai penerapan konsep maslahah
mursalah dalam Undang-undang Wakaf.
BAB V : Merupakan penutup dari skripsi ini. Dalam bab ini penulis membaginya
dalam dua sub bab, yaitu kesimpulan dan saran

17

BAB II
MASLAHAH MURSALAH

A. Pengertian Maslahah Mursalah dan Dasar Hukumnya
Untuk memahami maslahah mursalah secara baik, terlebih dahulu perlu
diketahui makna dalam kajian ushul fiqh. Secara etimologis term ”maslahah
mursalah” terdiri atas dua suku kata, yaitu maslahah dan mursalah
Secara etimologi, kata maslahah berasal dari kata ‘salaha’ atau ‘saluha’
yang berarti baik. Kata ini adalah antonim dari kata ‘fasada’ yang berarti rusak.
Dengan demikian kata maslahah adalah kebalikan dari kata mafsadah
(kerusakan).
Kata maslahah itu merupakan bentuk tunggal (mufrad) dari kata masalih.
Pengarang kamus”Lisan al-Arab” menjelaskan pengertian maslahat dari dua
arah, yaitu maslahah yang mempunyai arti ‘al-shalah’ dan maslahah sebagai
bentuk tunggal (mufrad) dari kata ‘al-mashalih’ semuanya mengandung arti
adanya manfaat baik secara asal maupun melalui proses, seperti menghasilkan
kenikmatan dan faedah, ataupun pencegahan dan penjagaan.1
Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa maslahah
mempunyai arti “sesuatu yang mendatangkan kebaikan, faedah dan guna”

1

Rachmat Syafe’I, Ilmu Ushul Fiqih. (Bandung : CV. Pustaka Setia, 1999), cet. ke-1 h.117.

17

18

sedangkan kemaslahatan berarti kegunaan, kebaikan, manfaat kepentingan.2
Dalam arti yang umum adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia,
baik dalam arti menarik atau menghasilkan seperti menghasilkan keuntungan dan
ketenangan, atau dalam arti menolak atau menghindarkan seperti menolak
kemudharatan atau kerusakan. Sehingga setiap yang mengandung manfaat patut
disebut maslahah.
Sedangkan kata mursalah merupakan bentuk isim maf’ul dari kata : arsalayursilu-irsal yang artinya: ‘adam al-taqyid (tidak terikat); atau yang berarti juga:
al-mutlaqah (bebas atau lepas)3
Kemudian pengertian maslahah secara terminologi, terdapat beberapa
definisi maslahah yang dikemukakan ulama ushul fiqh, tetapi seluruh definisi
tersebut

mengandung

esensi

yang

sama.

Imam

al-Ghazali

misalnya,

mengemukakan bahwa pada prinsipnya maslahah adalah “mengambil manfaat
dan menolak kemudharatan dalam rangka memelihara tujuan-tujuan syara’4
Tujuan syara’ yang harus dipelihara tersebut ada lima bentuk, yaitu:
memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Apabila seseorang
melakukan sesuatu perbuatan yang pada intinya untuk memelihara kelima aspek

2

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta:Balai
Pustaka, 1996), cet. ke-2 h.634.
3

Ahmad Mukri Aji, Pandangan al-Ghazali Tentang Maslahah Mursalah, Jurnal Ahkam, IV,
08, (Jakarta:2002), h.38.
4

Ma’ruf Amin, fatwa dalam sistem hukum islam, (Jakarta:Paramuda Advertising, 2008), cet.
ke-1,h.152.

19

tujuan syara’ tersebut maka dinamakan maslahah, dan upaya untuk menolak
segala bentuk kemudharatan yang berkaitan dengan kelima aspek tujuan syara’
tersebut juga dinamakan maslahah.5
Dalam kaitan dengan ini, Imam al-Syâthibi mengatakan bahwa kemaslahatan
tidak dibedakan antara kemaslahatan dunia maupun kemaslahatan akhirat, karena
kedua kemaslahatan tersebut apabila bertujuan untuk memelihara kelima tujuan
syara’ termasuk kedalam konsep maslahah. Dengan demikian, menurut alSyâthibi, kemaslahatan dunia yang dicapai seorang hamba Allah harus bertujuan
untuk kemaslahatan diakhirat6
Sedangkan definisi maslahah menurut said Ramadhan al-Buthi adalah:

‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺳ‬‫ﻔﹸﻮ‬‫ ﻧ‬‫ ﻭ‬‫ﻳﻨﹺﻬﹺﻢ‬‫ﺩ‬ ‫ﻔﹾﻆ‬‫ ﺣ‬‫ﻦ‬‫ ﻣ‬‫ﻩ‬‫ﺒﺎﹶﺩ‬‫ﻌ‬‫ ﻟ‬‫ﻢ‬‫ﻴ‬‫ ﺍﳊﹶﻜ‬‫ﺎﺭﹺﻉ‬‫ﻫﺎﹶ ﺍﻟﺸ‬‫ﺪ‬‫ﻲ ﹶﻗﺼ‬‫ﺔﹸ ﺍﹶّﻟﹶﺘ‬‫ﻔﹶﻌ‬‫ ﺍ ﹶﳌﻨ‬: ‫ﺔﹸ‬‫ﻠﹶﺤ‬‫ﺍ ﹶﳌﺼ‬
٧
‫ﻬﺎﹶ‬‫ﻴﻨ‬‫ﻤﺎﹶ ﺑ‬‫ﻓﻴ‬ ‫ﺐﹴ‬‫ﻴ‬‫ﺮﺗ‬ ‫ ﺗ‬‫ﻖ‬‫ ﹶﻃﺒ‬‫ﻬﹺﻢ‬‫ﺍﻟ‬‫ﻮ‬‫ﺍﹶﻣ‬‫ ﻭ‬‫ﻠﻬﹺﻢ‬‫ﺴ‬‫ﻭﺗ‬ ‫ﻬﹺﻢ‬‫ﻟ‬‫ﻘﹸﻮ‬‫ﻋ‬‫ﻭ‬
Artinya:”al-maslahah adalah manfaat yang ditetapkan syar’i untuk para
hambanya yang meliputi pemeliharaan agama, diri, akal, keturunan&harta
mereka sesuai dengan ukuran tertentu diantaranya.”
Dari definisi tersebut, tampak yang menjadi tolak ukur maslahah adalah
tujuan syara’ atau berdasarkan ketetapan syar’i. Inti kemaslahatan yang

5

Ibid., h.153.

6

Abu Ishak Ibrahim ibn Musa ibn Muhammad al-Syâtibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah,
(t,t:Dar ibn Affan, 1997) cet, ke-1 jilid 2,h. 17-18. Lihat juga Ma’ruf Amin, fatwa dalam sistem
hukum Islam, (Jakarta:Paramuda Advertising, 2008),cet. ke-1,h.153.
7

Said Ramadhan al-Buthi, Dwabit al-Maslahah Fi al-Syari’ah al-Islamiyah.(Beirut:Muassah
al-Risalah,1990),cet. Ke-3, h.27.

20

ditetapkan syar’i adalah pemeliharaan lima hal pokok (kulliyat al-Khamsah),
semua bentuk tindakan seseorang yang mendukung pemeliharaan kelima aspek
ini adalah maslahah. Begitu pula segala upaya yang berbentuk tindakan menolak
kemudharatan terhadap kelima hal ini juga disebut maslahah.8
Sifat dasar dari maqâsid al-syari’ah adalah pasti, dan kepastian disisni
merujuk pada otoritas maqâsid al-syari’ah itu sendiri. Dengan demikian
eksistensi maqâsid al-syari’ah pada setiap ketentuan hukum syariat menjadi hal
yang tidak terbantahkan baik yang bersifat perintah wajib ataupun larangan.9
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa al-Ghazali mengajukan
teori maqâsid al-syari’ah ini dengan membatasi pemeliharaan syariah pada
kulliat al-khamsah. Konsep pemeliharaan tersebut dapat diimplementasikan
dalam dua metode: pertama, metode konstruktif (bersifat membangun) dan
kedua, metode preventif (bersifat mencegah). Dalam metode konstruktif,
kewajiban-kewajiban Agama dan berbagai aktifitas sunat yang baik dilakukan
dapat dijadikan contoh dalam metode ini. Sedangkan berbagai larangan pada
semua perbuatan bisa dijadikan sebagai contoh preventif kedua metode tersebut
bertujuan mengukuhkan elemen maqâsid al-syari’ah sebagai jalan menuju
kemaslahatan

8

Firdaus, Ushul Fiqh Metode Mengkaji dan Memahami Hukum Islam Secara Komprehensi,
(Jakarta:Zikrul Hakim,2004). Cet, ke-1, h.81.
9

Hasbi Umar, Nalar Fiqh Kontemporer.( Jakarta: Gaung Persada Pers ,2007), cet. ke-1 h.129.

21

Dari beberapa definisi tentang maslahah dengan rumusan yang berbeda
tersebut dapat disimpulkan bahwa maslahah itu adalah sesuatu yang dipandang
baik oleh akal sehat karena mendatangkan kebaikan dan menghindarkan
kerusakan pada manusia, sejalan dengan tujuan syara’ dalam menetapkan
hukum.10
Sedangkan secara terminologi Ada beberapa rumusan definisi yang berbeda
tentang maslahah mursalah ini, namun masing-masing memiliki kesamaan dan
berdekatan pengertiannya. Diantara definisi tersebut adalah:
1. Al-Ghazali merumuskan maslahah mursalah sebagai berikut: “ Apa-apa
(maslahah) yang tidak ada bukti baginya dari syara’ dalam bentuk nas tertentu
yang membatalkannya dan tidak ada yang memperhatikannya.”11
2. Abdul Wahab Khalaf memberi rumusan berikut :
“Maslahah Mursalah ialah maslahat yang tidak ada dalil syara’ datang untuk
mengakuinya atau menolaknya.”12
3. Muhammad Abu Zahra memberi definisi :
“Maslahah yang selaras dengan tujuan syariat Islam dan tidak ada petunjuk
tertentu yang membuktikan tentang pengakuannya atau penolakannya.”13

10

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, (Jakarta:Kencana Prenada Media Group, 2008), cet.
ke- 4, h.325.

142.

11

Al-Ghazali, al-mustashfa, (Beirut:Dar- al-Fikr,tt.), h.286.

12

Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, (Bandung:Gema Risalah Press, 1996), cet. 7,h.

22

Dalam kaitannya dengan ini Wahbah Zuhaili14 mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan maslahah mursalah adalah beberapa sifat yang sejalan dengan
tindakan dengan tujuan syara’, tetapi tidak ada dalil tertentu dari syara yang
membenarkan atau menggugurkan, dan dengan ditetapkan hukum padanya akan
tercapai kemaslahatan dan tertolak kerusakan dari padanya, sejalan dengan hal
ini Ahmad Munif Suratmaputra15 juga mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
maslahah mursalah adalah maslahat yang sejalan dengan tindakan syara’ dan
tidak ada dalil tertentu yang membenarkan atau membatalkanya.
Dari beberapa rumusan definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan tentang
hakikat dari maslahah mursalah tersebut, sebagai berikut:
a.

Ia adalah sesuatu yang baik menurut akal dengan pertimbangan dapat
mewujudkan kebaikan atau menghindarkan keburukan bagi manusia

b.

Apa yang baik menurut akal itu, juga selaras dan sejalan dengan tujuan
syara’ dalam menetapkan hukum

c.

Apa yang baik menurut akal dan selaras pula dengan tujuan syara’ tersebut
tidak ada petunjuk syara’ secara khusus yang mengakuinya.16

13
Muhammad Abu Zahrah penerjemah Saefullah Ma’sum dkk, Ushul Fiqih, (Jakarta:Pustaka
Firdaus, 2008), cet.ke-11, h.427.
14

Wahbah Zuhaili, Ushul al-Fiqh al Islam, (Bairut:Dar al-Fikr,1986), h.757

15
Ahmad Munif Suramaputra, filsafat Hukum Islam al-Ghazali Maslahah Mursalah &
Relevansinya dengan Pembaharuan Hukum Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), cet. ke- 1, h.71
16

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h.334

23

Pada perkembangan selanjutnya penggunaan term maslahah mursalah telah
terjadi perbedaan dikalangan ulama Ushul Fiqh. Sebagian ulama ada yang
menyebutkan dengan istilah: al-munâsib al-mursal, al-istidlâl al-mursal, alQiyâs al-Maslahi, sedangkan Imam al-Ghazali menyebutnya dengan nama”alistislâh”.17
Para ulama ushul fiqh sepakat menyatakan bahwa maslahah al-mu’tabarah
dapat dijadikan sebagai dalil hukum dalam menetapkan hukum. Kemaslahatan
seperti ini termasuk dalam metode qiyas. Adapun mengenai maslahah mursalah
pada prinsipnya jumhur ulama menerimanya sebagai salah satu alasan dalam
menetapkan hukum syara’, sekalipun dalam penerapan dan penempatan
syaratnya mereka berbeda pendapat.18
Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa untuk menjadikan maslahah mursalah
sebagai dalil disyaratkan maslahah tersebut berpengaruh pada hukum. artinya,
ada ayat, hadits atau ijma’ yang menunjukakan bahwa sifat yang dianggap
sebagai kemaslahatan itu merupakan ‘illât (motivasi hukum) dalam penetapan
suatu hukum, atau jenis sifat yang menjadi motivasi hukum tersebut digunakan
oleh nash sebagai motivasi suatu hukum. Misal jenis sifat yang dijadikan
motivasi dalam suatu hukum adalah, dalam sebuah Hadits diterangkan
(“Rasulullah saw Melarang pedagang menghambat para petani di perbatasan kota
17

Rachmat Syafe’I, Ilmu Ushul Fiqih, h.118.

18

Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1, (Ciputat: Logos Publishing House, 1996), cet I, h.120, lihat
juga Ma’ruf Amin, fatwa dalam sistem hukum islam, h.160

24

dengan maksud untuk membeli barang mereka, sebelum para petani itu
memasuki pasar”). Larangan ini dimaksudkan untuk menghindari”kemudharatan
bagi petani” dengan terjadinya penipuan harga oleh para pedagang yang membeli
barang petani tersebut dibatas kota, dan menolak kemudharatan itu meruapakan
konsep al-maslahah al-mursalah.19
Dengan demikian ulama Hanafiyah menerima maslahah mursalah sebagai
dalil dalam menetapkan hukum; dengan syarat sifat kemaslahatan itu terdapat
dalam nash dan ijma’ dan jenis sifat kemaslahatan itu sama dengan jenis sifat
yang didukung oleh nash atau ijma’. Dan penerapan konsep maslahah almursalah dikalangan Hanafiyah terlihat secara luas dalam metode istihsân.20
Ulama Malikiyah dan Hanabillah menerima maslahah mursalah sebagai
dalil dalam menetapkan hukum, bahkan mereka dianggap sebagai ulama fiqh
yang paling banyak dan luas menerapkannya. Menurut mereka maslahah
mursalah merupakan induksi dari logika sekumpulan nash, bukan dari nash yang
rinci seperti yang berlaku dalam qiyâs. Bahkan Imam Syâthibi mengatakan
bahwa keberadaan dan kualitas maslahah mursalah itu bersifat pasti (qat’i),
sekalipun dalam penerapannya bersifat zanni (relatif).21
Begitu halnya dengan ulama golongan Syafi’iyyah pada dasarnya, juga
menjadikan maslahah sebagai salah satu dalil syara’, akan tetapi Imam al-Syafi’I
19

Ibid., h. 121.

20

Ibid., h.120-121.

21

Nasrun Haroen, Ushul Fiqh 1, h.121-122.

25

memasukkannya kedalam qiyâs, namun salah satu pengikut mazhab ini Imam alGhazali, bahkan secara luas dalam kitab-kitab ushul fiqhnya membahas
permasalahan maslahah mursalah, walaupun beliau menyebutnya dengan istilah
al-istislâh. Dengan demikian, jumhur ulama sebenarnya menerima maslahah
mursalah sebagai salah satu metode dalam mengistinbathkan hukum Islam.22
Adapun penggunaan maslahah dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan
hukum oleh jumhur ulama ini didasarkan pada sejumlah alasan sebagai berikut:
1. Hasil induksi terhadap ayat atau hadits menunjukkan bahwa setiap hukum
mengandung kemaslahatan bagi umat manusia. Dalam hubungan ini, Allah
berfirman:

(١٠۷:٢١/‫ )ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ‬‫ﻦ‬‫ﻴ‬‫ﻠﹶﻤ‬‫ﺔﹰ ﻟﱢﻠﹾﻌ‬‫ﻤ‬‫ﺣ‬‫ ﺇﹺﻻﱠ ﺭ‬‫ﻚ‬‫ ﹾﻠﻨ‬‫ﺳ‬‫ﺂ ﺃﹶﺭ‬‫ﻣ‬‫ﻭ‬
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat
bagi seluruh manusia. (QS. Al-Anbiya 21:107)
Ketentuan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, seluruhnya
dimaksudkan untuk mencapai kemaslahatan umat manusia, di dunia dan
akhirat. Oleh sebab itu, memberlakukan maslahah terhadap hukum-hukum
lain yang juga mengandung kemaslahatan adalah legal.
2. Kemaslahatan manusia akan senantiasa dipengaruhi perkembangan tempat,
zaman, dan lingkungan mereka sendiri. Apabila syari’at Islam terbatas pada
hukum-hukum yang ada saja, akan membawa kesulitan.
22

Ibid.,h.123.

26

3. Jumhur ulama juga beralasan dengan merujuk kepada beberapa perbuatan
sahabat, seperti Abu Bakar mengumpulkan al-Qur’an atas saran ‘Umar bin alKhatab, sebagai salah satu kemaslahatan untuk melestarikan al-Qur’an dan
menuliskan al-Qur’an pada satu bahasa di zaman ‘Utsman bin‘Affan demi
memelihara tidak terjadinya perbedaan bacaan al-Qur’an itu sendiri.23
B. Macam-Macam Maslahah
Para pakar ushul fiqh membagi maslahah dalam beberapa bagian, antara lain
adalah :
1. Dari segi eksistensinya/ keberadaan maslahah menurut syara’ terbagi kepada
tiga macam, yaitu:24
a. Maslahah Mu’tabarah
Maslahah Mu’tabarah, yaitu kemaslahatan yang terdapat nash secara
tegas menjelaskan dan mengakui keberadaannya, dengan kata lain
kemaslahatan yang diakui syar’i secara tegas dengan dalil yang khusus baik
langsung maupun tidak langsung yang memberikan petunjuk pada adanya
maslahah yang menjadi alasan dalam menetapkan hukum. Contohnya untuk
memelihara kelangsungan hidup manusia, disyariatkanlah hukum qisas
terhadap

pelaku

pembunuhan

dengan

sengaja.

Untuk

memelihara

kehormatan manusia, disyariatkanlah hukum dera bagi penuduh dan pelaku

h.162.

23

Ma’ruf Amin. fatwa dalam sistem hukum islam, h.164-165.

24

Romli, Muqaranah Mazahib fil Ushul, (Jakarta:Gaya Media Pratama, 1999), cet. ke-1,

27

zina. Untuk memelihara harta benda, disyariatkanlah hukum potong tangan
bagi pencuri, baik laki-laki maupun perempuan
b. Maslahah Mulgâh
Maslahah Mulgâh, yaitu kemaslahatan yang berlawanan dengan
ketentuan nash. Dengan kata lain, kemaslahatan yang tertolak karena ada
dalil yang menunjukan bahwa ia bertentangan dengan ketentuan dalil yang
jelas.
Contoh dari maslahah mulgâh ialah menyamakan pembagian seorang
anak perempuan dengan bagian anak laki-laki dalam hal harta warisan,
penyamaan pembagian “jatah” harta waris antara anak perempuan dengan
bagian anak laki-laki secara sepintas memang terlihat ada kemaslahatanya,
tetapi berlawanan

dengan ketentuan dalil nash yang jelas dan rinci,

sebagaimana firman Allah SWT dalam Quran surat an-Nisaa/4:1125

(١١:٤/‫ﺴﺎﺀ‬‫ﻦﹺ )ﺍﻟﻨ‬‫ﻴﻴ‬‫ﻧﹶﺜ‬‫ﻆﱢ ﺍﹾ ُﻷ‬‫ﺜﹾﻞﹸ ﺣ‬‫ﻠﺬﹶّﻛﹶﺮﹺ ﻣ‬‫ ﻟ‬‫ﻛﹸﻢ‬‫ﻟﹶﺪ‬‫ﻰ ﺃﹶﻭ‬‫ ﻓ‬‫ ﺍﻟﻠﱠﻪ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﺻﻴ‬
 ‫ﻳﻮ‬
Artinya:”Allah telah menetapkan bagi kamu(tentang pembagian harta
pusaka) untuk anak-anak kamu, yaitu bagi seorang anak laki-laki sama
dengan bagian dua orang anak perempuan.”(Q.S.an-Nisaa/4:11)
c. Maslahah Mursalah
Maslahah Mursalah, yang juga biasa disebut dengan istishlâh, yaitu
maslahah yang secara eksplisit tidak ada satu dalil pun baik yang
mengakuinya maupun yang menolaknya. Secara lebih tegas maslahah

25

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh Jilid 2, h.331-332.

28

mursalah ini termasuk jenis maslahat yang didiamkan oleh nash. Diakui
dalam kenyataannya maslahat jenis ini terus tumbuh dan berkembang
seiring dengan perkembangan masyarakat Islam yang dipengaruhi oleh
perbedaan kondisi dan tempat.26
Dan istishlâh atau maslahah mursalah inilah yang akan menjadi pokok
bahasan dalam skripsi ini.
2. Maslahah ditinjau dari segi esensi dan kualitasnya
Ditinjau dari segi esensi dan kualitasnya, maslahah terdiri dari tiga macam,
yaitu maslahah darûriyyah, maslahah hâjiyyah, dan maslahah tahsîniyyah.27
a. Maslahah Darûriyah
Maslahah darûriyyah adalah kemaslahatan yang berhubungan dengan
kebutuhan pokok umat manusia di dunia dan akhirat, yakni kemaslahatan
yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh kehidupan manusi artinya,
kehidupan manusia tidak ada apa-apa bila satu saja dari prinsip yang lima itu
tidak ada. Segala usaha yang secara langsung menjamin atau menuju pada
keberadaan lima prinsip (agama, jiwa, akal, keturunan dan harta) tersebut
adalah baik atau maslahah dalam tingkat darûri.28
Segala usaha atau tindakan yang secara langsung menuju pada atau
menyebabkan lenyap atau rusaknya satu diantara lima pokok tersebut adalah
26

27

28

Romli, Muqaranah Mazahib fil Ushul, h.164.
Amir Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2 ,h.327-328.
Ibid, h.327.

29

buruk, karena itu Allah melarangnya. Meninggalkan dan menjauhi larangan
Allah tersebut adalah baik atau maslahah dalam tingkat darûri. Dalam hal
ini Allah melarang murtad untuk memelihara Agama; melarang membunuh
untuk memelihara jiwa; melarang minum minuman keras untuk memelihara
akal; melarang berzina untuk memelihara keturunan; dan melarang mencuri
untuk memelihara harta.29
b. Maslahah Hâjiyyah
Maslahah hâjiyyah adalah kemaslahatan yang tingkat hidup manusia
kepadanya tidak berada pada tingkatan darûri. Bentuk kemaslahatannya
tidak secara langsung bagi pemenuhan kebutuhan pokok yang lima (darûri),
tetapi secara tidak langsung menuju kearah sana, seperti dalam hal yang
memberi kemudahan bagi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Sehingga
dapat

diartikan kemaslahatan yang dibutuhkan dalam menyempurnakan

kemaslahatan pokok (mendasar) sebelumnya yang berbentuk keringanan
untuk mempertahankan dan memelihara kebutuhan mendasar manusia.30
Seperti dalam bidang ibadah, orang yang sedang sakit atau dalam
perjalanan jauh (musafir) dalam bulan ramadhan, diberi keringanan atau
rukhsah oleh syariat untuk tidak berpuasa dengan kewajiban mengganti

29
Baharuddin Ahmad, Hukum Perkawinan Di Indonesia (Studi Historis Metodologis),
(Jakarta:Gaung Persada Press, 2008), h. 20.
30

Nasrun Haroen, Ushul Fiqh, h.116.

30

puasa yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain setelah ia sembuh atau
setelah kembali dari perjalananya.
Firman Allah dalam al-Quran surat Al-baqarah/2:184:

(١۸٤:۲/‫)ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬...‫ﺮ‬‫ﺎﻡﹴ ﺃﹸﺧ‬‫ ﺃﹶﻳ‬‫ﻦ‬‫ ﺓﹲ ﻣ‬‫ﺪ‬‫ ﻓﹶﻌ‬‫ﻔﹶﺮ‬‫ﻠﹶﻰ ﺳ‬‫ ﻋ‬‫ﺎ ﺃﹶﻭ‬‫ﻳﻀ‬‫ ﹺﺮ‬‫ ﻣ‬‫ﻜﹸﻢ‬‫ﻣﻨ‬ ‫ ﻛﺎﹶﻥﹶ‬‫ﻦ‬‫ﻓﹶﻤ‬...
Artinya:“…Dan siapa saja diantara kamu yang sakit atau sedang dalam
perjalanan(musafir) hendaklah ia berpuasa di hari-hari yang lain…”
Demikian pula dalam bidang muamalah diperbolehkannya berburu
binatang dan memakan makanan yang baik-baik, dibolehkan melakukan jual
beli pesanan (bay’ al-salâm), kerjasama dalam pertanian (muzâra’ah) dan
perkebunan

(musaqah).

Semuanya

disyariatkan

oleh

Allah

untuk

mendukung kebutuhan mendasar al-Maslahah al-Khamsah diatas.
c. Maslahah Tahsîniyah
Maslahah tahsîniyah adalah maslahah yang kebutuhan hidup manusia
kepadanya tidak sampai tingkat darûri, juga tidak sampai tingkat hâjîy,
namun kebutuhan tersebut perlu dipenuhi dalam rangka memberi
kesempurnaan dan keindahan bagi hidup manusia. Maslahah dalam bentuk
tahsînî tersebut, juga berkaitan dengan lima kebutuhan pokok manusia.31
Tiga bentuk maslahah tersebut, secara berurutan menggambarkan
tingkatan peringkat kekuatanya, yang kuat adalah maslahah darûriyah,
kemudian maslahah hâjiyah dan berikutnya maslahah tahsîniyah. Darûriyah
yang lima juga ada berbeda tingkat kekuatannya, yang secara berurutan
31

Amir Syarifudin, Ushul Fiqh Jilid 2, h.328.

31

adalah: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Perbedaan tingkat kekuatan
ini terlihat bila terjadi perbenturan kepentingan antara

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23