EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) DENGAN DEMAM YANG DIINDUKSI VAKSIN DPT

(1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) DENGAN DEMAM YANG

DIINDUKSI VAKSIN DPT

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Luthfiana Syarifah G.0007098

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Surakarta 2010


(2)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii

PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi dengan judul : Efek Antipiretik Ekstrak Herba Meniran (Phyllanthus

niruri L.) terhadap Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan Demam yang Diinduksi Vaksin DPT

Luthfiana Syarifah, NIM : G.0007098, Tahun : 2010

Telah diuji dan sudah disahkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Pada Hari Kamis, Tanggal 16 Desember Tahun 2010

Pembimbing Utama

Nama : Nur Hafidha Hikmayani, dr., M.ClinEpid

NIP : 19761225 200501 2 001 ……… Pembimbing Pendamping

Nama : Vicky Eko N.H., dr., M.Sc., SpTHT-KL

NIP : 19770914 200501 1 001 .………... Penguji Utama

Nama : Samigun, dr., SU., P.Fark.

NIP : 19470707 197609 1 001 ……… Anggota Penguji

Nama : H. Endang Sutisna S., dr., M.Kes.

NIP : 19560320 198312 1 002 ………

Surakarta, ... Ketua Tim Skripsi


(3)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv Muthmainah, dr.,M.Kes

NIP : 19660702 199802 2 001 Dekan FK UNS

Prof. Dr. A.A. Subijanto, dr., M.S NIP : 19481107 197310 1 003


(4)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta, 16 Desember 2010

Luthfiana Syarifah G.0007098


(5)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi ABSTRAK

Luthfiana Syarifah, G.0007098, 2010. Efek Antipiretik Ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap Tikus Putih (Ra ttus norvegicus) dengan Demam yang Diinduksi Vaksin DPT. Skripsi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek

antipiretik ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap tikus putih

(Ra ttus norvegicus) dengan demam yang diinduksi vaksin DPT.

Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan pre test a ndpost test with control design. Subjek penelitian berupa tikus putih (Ra ttus norvegicus) jantan galur Wista r sebanyak 25 ekor berumur ± 2-3 bulan, BB ± 150-200 g. Sampel dibagi dalam 5 kelompok, masing-masing kelompok terdiri

dari 5 ekor tikus. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random

sa mpling. Kelompok I (kontrol negatif) diberi aquadest 2 ml, kelompok II (kontrol positif) diberi parasetamol 12,6 mg dalam 2 ml larutan /200 g BB tikus,


(6)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vii

kelompok III diberi ekstrak herba meniran dosis I (37,8 mg dalam 2 ml larutan /200 g BB tikus), kelompok IV diberi ekstrak herba meniran dosis II (75,6 mg dalam 2 ml larutan /200 g BB tikus) dan kelompok V diberi ekstrak herba meniran dosis III (151,2 mg dalam 2 ml larutan /200 g BB tikus). Tiap-tiap tikus sebelum diberi perlakuan diukur temperatur rektalnya, kemudian tikus dibuat demam dengan disuntik vaksin DPT 0,2 ml secara i.m. Tiga jam setelah pemberian vaksin, suhu rektal kembali diukur untuk mengetahui kenaikan suhu. Kemudian masing-masing kelompok mendapat perlakuan. Lima belas menit setelah

perlakuan, suhu rektal kembali diukur sampai percobaan pada menit ke 120 dengan interval 15 menit. Setelah data diperoleh, selanjutnya dianalisis dengan

menggunakan uji a nova repeated mea sures dan dilanjutkan dengan uji post hoc.

Hasil Penelitian: Hasil uji a nova repeated mea sures menunjukkan adanya perbedaan nilai yang bermakna dari penurunan suhu rektal pada pada subjek

antarwaktu dan antarkelompok perlakuan (p<0.05). Hasil uji post hoc

menunjukkan bahwa perbedaan yang bermakna (p<0.05) terdapat antara

kelompok parasetamol dengan kelompok aquadest dan dosis 1, sedangkan antara kelompok parasetamol dengan kelompok dosis 2 dan dosis 3 tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p>0.05).

Simpulan Penelitian: Terdapat efek antipiretik pada ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap tikus putih (Ra ttus norvegicus) dengan demam yang diinduksi vaksin DPT

Kata kunci: ekstrak herba meniran, antipiretik, tikus putih.

ABSTRACT

Luthfiana Syarifah, G.0007098, 2010. Anti-pyretic Effect of Leaf Flower

(Phylla nthus niruri L.) Herbs Extract on the DPT Vaccine-Induced Fevered White

Rats (Ra ttus norvegicus). Script, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University,

Surakarta.

Objective: The objectives of this research are to know the presence of anti-pyretic

effect of leaf flower (Phylla nthus niruri L.) herbs extract on the DPT


(7)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

Methods: This was laboratory experimental research with pre test and post test with control design. Subjects in this research were 25 Wistar strains white male

rats (Ra ttus norvegicus) 2-3 months old age and 150-200 g weight. Samples

divided into 5 groups of 5 rats each. Sampling technique used in this research was

purposive randomsampling. Group I (negative control) was given aquadest 2 ml,

group II (positive control) was given paracetamol 12,6 mg in 2 ml liquid /200 g rat weight, group III was given leaf flower herbs extract at dosages I (37,8 mg in 2 ml liquid /200 g rat weight), group IV was given leaf flower herbs extract at dosages II (75,6 mg in 2 ml liquid /200 g rat weight) and group V was given leaf flower herbs extract at dosages III (151,2 mg in 2 ml liquid /200 g rat weight). Each rat was measured by rectal temperature before the treatment, then each rat was fevered by injecting the 0,2 ml DPT vaccine i.m. Three hours after vaccine given, the rectal temperature was measured again to know about the temperature increased. Next each group was given treatment. 15 minutes later, rectal

temperature was measured again until the minute-120 by 15 minutes interval.

After the data obtained, then analized by a nova repeated mea sures testand

continued by post hoc test.

Results: Result of a nova repeated mea sures test showed that there was a

significant difference of temperature measurements over time and among the five groups (p<0.05). The result of post hoc test analysis showed that the significant difference (p<0.05) was between paracetamol group and both aquadest group and dose 1 group. No significant differences (p>0.05) were found between

paracetamol group and both dose 2 and dose 3 group.

Conclusion: The feeding of leaf flower herbs extract (Phylla nthus niruri L.) has

an antipyretic effect on on The DPT Vaccine-Induced Fevered White Rats (Ra ttus

norvegicus)

Key words: leaf flower herbs extract, anti-pyretic, white rat.

PRAKATA

Segala puji bagi Allah SWT, atas rahmat dan pertolongan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efek Antipiretik Ekstrak


(8)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

Herba Meniran (Phyllanthus niruri L.) terhadap Tikus Putih (Rattus

norvegicus) dengan Demam yang Diinduksi Vaksin DPT”. Shalawat dan salam terkirim kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunnahnya.

Penulisan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan program pendidikan dokter di FK UNS Surakarta. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis tak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. AA. Subijanto, dr., M.S, selaku Dekan FK UNS Surakarta.

2. Muthmainah, dr., M.Kes, selaku Ketua Tim Skripsi FK UNS Surakarta.

3. Nur Hafidha Hikmayani, dr., M.Clin.Epid, selaku Pembimbing Utama

yang telah memberikan bimbingan dan motivasi bagi penulis dalam penelitian ini.

4. Vicky Eko N.H., dr., M.Sc., SpTHT-KL, selaku Pembimbing Pendamping

yang telah memberikan bimbingan dan motivasi bagi penulis dalam penelitian ini.

5. Samigun, dr., SU., P.Fark., selaku Penguji Utama yang telah memberikan

saran dan masukan demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

6. H. Endang Sutisna S., dr., M.Kes., selaku Penguji Pendamping yang telah

memberikan saran dan masukan demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.

7. Seluruh Dosen dan Staf Laboratorium Farmakologi dan Bagian Skripsi FK

UNS Surakarta.

8. Seluruh Staf LPPT UGM Yogyakarta yang telah banyak membantu dalam

proses pembuatan ekstrak dan pihak USB dalam jalannya penelitian.

9. Mama (Dra. Nurul Hidayati) dan Papa (Ir. Ahmad Ridha, MT) tercinta,

serta Kakakku (Luthfi Riza Bahtiar) tersayang; atas doa, saran, dan motivasi di setiap waktu pada penulis.

10.Sahabat-sahabatku yang tak tergantikan Em, Mami, Dakoch, Bulet, Fenda,

Markus, Dito, Christ, Mitha, Tofan (partnerku yang baik hati) yang telah memberikan dukungan dan motivasi serta selalu setia menemani dan membantu penulis dalam suka dan duka. Spesial buat Aditya Iqbal Maulana yang telah banyak membantu dalam penelitian ini

11.Teman-teman Wisma Nurul Fikri khususnya mbak Rinda dan mas

Wawan, LKMI, dan Komedian 2007 atas kebersamaan yang tak terlupakan selama ini.

12.Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat.

Surakarta,16 Desember 2010


(9)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

DAFTAR ISI

PRAKATA ... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. ... Lata r Belakang Masalah ... 1

B. ... Ru musan Masalah... 4

C. ... Tuj uan Penelitian ... 4

D. ... Man faat Penelitian... 4

BAB II LANDASAN TEORI A. ... Tinj auan Pustaka ... 5

1. ... De mam... 5

2. ... Vak sin DPT ... 11

3. ... Anti piretik ... 12


(10)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

4. ... Men iran

a. ... Tak sonomi ... 17 b. ... Na ma Lain ... 17 c. ... Dae

rah Distribusi dan Habitat ... 18 d. ... Des

kripsi ... 18 e. ... Kan

dungan Kimia ... 19 f. ... Efe

k Farmakologis... 20 5. ... Ko mponen Meniran yang Mempunyai Efek Antipiretik ... 20 6. ... Ekst

rak... 22 B. ... Ker

angka Pemikiran ... 24 C. ... Hip

otesis... 25 BAB III METODE PENELITIAN

A. ... Jeni s Penelitian... 26 B. ... Lok

asi Penelitian... 26 C. ... Subj


(11)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii

D. ... Tek nik Sampling... 27 E. ... Iden

tifikasi Variabel Penelitian ... 27 F... Defi

nisi Operasional Variabel Penelitian... 28 1. ... Vari

abel Bebas... 28 2. ... Vari

abel Terikat ... 28 3. ... Vari

abel Luar ... 28 a. ... Ter

kendali ... 28 b. ... Tida

k Terkendali ... 29 G. ... Ran

cangan Penelitian ... 30 H. ... Instr

umentasi Penelitian ... 31 1. ... Alat

... 31 2. ... Bah

an ... 31 I. ... Jala

nnya Penelitian ... 32 1. ... Pers

iapan ... 32 2. ... Pem


(12)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

3. ... Sete lah Perlakuan ... 33 J. ... Pen

entuan Dosis

1. ... Dos is Parasetamol ... 33 2. ... Dos

is Ekstrak Herba Meniran ... 33 K. ... Tek

nik Analisis Data Statistik ... 35 BAB IV HASIL PENELITIAN

A. ... Dat a Hasil Penelitian... 37 B. ... Ana

lisis Data ... 39 BAB V PEMBAHASAN ... 43 BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

A. ... Sim pulan... 47 B. ... Sara

n ... 47 DAFTAR PUSTAKA ... 48 LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Rerata Hasil dan Simpangan Baku Pengukuran Suhu untuk Masing-masing Kelompok Tikus Putih


(13)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

Tabel 3. Ringkasan Hasil Uji Perbedaan Suhu Anova Repeated Mea sures Tabel 4. Ringkasan Hasil Uji Post Hoc

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Meniran (Phylla nthus niruri L.)

Gambar 2. Grafik rata-rata suhu rektal tikus pada beberapa titik waktu


(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xv

Gambar 4. Aquades

Gambar 5. Parasetamol

Gambar 6. Ekstrak Herba Meniran

Gambar 7. Timbangan Digital untuk Menimbang Tikus, Parasetamol dan Ekstrak Herba Meniran

Gambar 8. Sonde Lambung

Gambar 9. Termometer


(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Konversi Dosis untuk Manusia dan Hewan

Lampiran 2. Tabel Volume Maksimal Bahan Uji Peroral untuk Hewan Coba Lampiran 3. Lembar Kerja Uji Ekstraksi Laboratorium Pengujian LPPT-UGM Lampiran 4. Hasil Uji Normalitas, Homogenitas dan One wa y Anova Suhu

Awal (ta) dan Suhu 3 Jam Setelah Diinduksi Vaksin DPT (t0) Lampiran 5. Uji t Berpasangan suhu awal (ta) dan Suhu 3 Jam Setelah Diinduksi

Vaksin DPT (T0)

Lampiran 6. Hasil Uji Anova Repeated Mea sures dan Post Hoc

Lampiran 7. Surat Keterangan Unit Laboratorium Universitas Setia Budi

Lampiran 8. Hasil Pengukuran Suhu untuk Masing-Masing Kelompok Tikus Putih


(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Demam didefinisikan sebagai suatu perubahan mekanisme pengaturan suhu tubuh yang mengakibatkan naiknya temperatur tubuh di atas normal, di mana kenaikan suhu tubuh bersifat episodik atau persisten yang dalam

keadaan istirahat berada di atas 37,20C dengan pengukuran suhu oral.

Demam mungkin merupakan tanda utama penyakit yang paling tua dan paling umum diketahui dan merupakan suatu bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi, namun jika suhu terlalu tinggi akan

membahayakan tubuh. Suhu rektum yang melebihi 410C dalam jangka waktu

lama akan menyebabkan kerusakan otak permanen. Apabila melebihi 430C,

timbul heat stroke dan sering mematikan (Nelwan, 2007; Wilmana dan Gan,

2007; Ganong, 2008).

Obat-obatan yang biasa menjadi pilihan untuk mengatasi demam adalah obat antipiretik seperti parasetamol, asetosal, ibuprofen dan sejenisnya. Parasetamol atau asetaminofen merupakan derivat anilin yang masih berkaitan dengan fenasetin. Parasetamol merupakan suatu analgesik dan antipiretik, juga antiinflamasi, namun efek antiinflamasi parasetamol sangat lemah dan diberikan pada individu yang tidak mampu mentoleransi AINS. Obat ini bekerja dengan menghambat siklooksigenase dalam sintesis prostaglandin di sistem saraf pusat. Dibandingkan dengan aspirin,


(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

parasetamol diabsorbsi dengan baik di usus, memiliki efek samping gastrointestinal yang lebih sedikit, dan tidak menimbulkan masalah perdarahan ataupun toksisitas pada ginjal. Meskipun relatif lebih aman, parasetamol tetap memiliki efek samping berupa hepatotoksisitas, nekrosis hepar yang fatal, nekrosis tubuler ginjal dan koma hipoglikemik pada penggunaan jangka panjang atau dalam dosis yang berlebihan (Bennett dan

Brown, 2006; Juliana, 2008; DiPiro et a l., 2008).

Obat tradisional yang berasal dari kekayaan alam dapat menjadi pilihan sebagai antipiretik karena sangat mudah dilakukan dan mempunyai banyak khasiat bagi kesehatan serta toksisitasnya relatif lebih rendah dibanding obat-obatan sintetis. Obat-obat tradisional yang digunakan untuk

pengobatan harus mempunyai efek terapi, sehingga dapat

dipertanggungjawabkan penggunaannya. Akan tetapi pembuktian ilmiah mengenai khasiat dan pengawasan efek samping obat tradisional belum banyak dilakukan (Irma dan Gilang, 2007; Sugiarto, 2008).

Berbagai jenis tanaman yang berkhasiat obat sebenarnya banyak yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar, seperti di halaman rumah, pinggir jalan

atau di dapur sebagai bahan atau bumbu masakan. Meniran (Phylla nthus

niruri L.) merupakan salah satu tanaman yang banyak diperoleh di

lingkungan sekitar dan diduga memiliki efek antipiretik. Tanaman ini tersebar hampir di seluruh Indonesia, tumbuh liar dan hampir ada di setiap pinggir jalan, bahkan di ladang yang kering sekalipun. Selain itu tanaman ini juga dapat ditemukan di tempat yang lembab dan berbatu, seperti di


(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

sepanjang saluran air, semak-semak dan tanah, terlantar di antara rerumputan, bahkan di daerah dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut (PDPERSI, 2004; Badan POM RI, 2006; Sugiarto, 2008).

Kandungan utama meniran berupa senyawa flavonoid dan glikosida flavonoid. Flavonoid diduga mempunyai struktur yang mirip dengan asetaminofen, yaitu sama-sama merupakan golongan fenol dan memiliki cincin benzen. Flavonoid diketahui memiliki efek antipiretik karena kemampuannya dalam menghambat reaksi biosintesis prostaglandin melalui mekanisme penghambatan enzim siklooksigenase 2. Hal inilah yang membuat efek antipiretik flavonoid lebih baik daripada obat-obatan antipiretik sintetis yang cara kerjanya dengan menghambat enzim

siklooksigenase 1 (Badan POM RI, 2006; Bagalkotkar et a l., 2006).

Pada penelitian ini digunakan tikus putih strain Wistar. Tikus jenis ini paling banyak digunakan pada penelitian. Tikus putih jantan digunakan dalam penelitian ini karena tikus putih jantan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih stabil. Selain itu, kecepatan metabolisme obat pada tikus putih lebih cepat dan kondisi biologis tubuh yang lebih stabil dibandingkan dengan tikus jenis betina (Isroi, 2010).

Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti ingin membuktikan bahwa meniran mempunyai aktivitas sebagai antipiretik. Selain itu penelitian tentang penggunaan meniran di Indonesia masih sangat sedikit terutama mengenai aktivitasnya sebagai antipiretik, belum ada penelitian mengenai efek antipiretik ekstrak herba meniran. Oleh karena itu perlu diteliti lebih lanjut


(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

mengenai efek antipiretik ekstrak herba meniran tersebut agar dapat diperoleh informasi ilmiah yang bermanfaat.

B. Rumusan Masalah

Adakah efek antipiretik ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.)

terhadap tikus putih (Ra ttus norvegicus) dengan demam yang diinduksi

vaksin DPT? C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya efek antipiretik

ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap tikus putih (Rattus

norvegicus) dengan demam yang diinduksi vaksin DPT.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritik:

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai efek antipiretik ekstrak Herba Meniran terhadap tikus putih dengan demam yang diinduksi vaksin DPT serta dapat berguna sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut.

2. Manfaat Aplikatif:

Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar penelitian uji praklinis dan untuk menggali potensi serta aktivitas meniran sebagai antipiretik


(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Demam

Di dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi makanan dan oleh semua proses vital yang berperan dalam tingkat metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari tubuh melalui radiasi, konduksi dan penguapan air di saluran napas dan kulit. Keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas menentukan suhu tubuh

(Åstrand et a l., 2003; Ganong, 2008).

Suhu tubuh normal manusia umumnya berkisar 36,50C-37,20C.

Berbagai bagian tubuh memiliki suhu yang berlainan, dan besar perbedaan suhu antara bagian-bagian tubuh dengan suhu lingkungan

bervariasi. Suhu rektum dapat mencerminkan suhu pusat tubuh (score

temperature) dan merupakan bagian tubuh yang paling sedikit

dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan. Suhu oral pada keadaan

normal 0,50C lebih rendah daripada suhu rektum, tetapi suhu ini

dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk makanan/minuman panas atau dingin, mengunyah permen karet, merokok dan bernapas melalui mulut (Davey, 2005; Ganong, 2008).

Suhu pusat tubuh manusia mengalami fluktuasi sirkadian teratur


(21)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

pada siang hari (walaupun bertirah baring di rumah sakit), suhu paling rendah pada jam 6 pagi dan tertinggi pada malam hari. Suhu paling rendah saat tidur, sedikit lebih tinggi pada keadaan terjaga tetapi santai, dan meningkat seiring dengan aktifitas. Selain itu, pada perempuan terdapat siklus variasi suhu bulanan yang ditandai dengan peningkatan suhu basal pada saat ovulasi (Ganong, 2008).

Demam didefinisikan sebagai suatu bentuk sistem pertahanan nonspesifik yang menyebabkan perubahan mekanisme pengaturan suhu tubuh yang mengakibatkan kenaikan suhu tubuh di atas variasi sirkadian yang normal sebagai akibat dari perubahan pusat termoregulasi yang terletak dalam hipotalamus anterior. Suhu tubuh normal dapat dipertahankan pada perubahan suhu lingkungan, karena adanya kemampuan pada pusat termoregulasi untuk mengatur keseimbangan antara panas yang diproduksi oleh jaringan, khususnya oleh otot dan hepar, dengan panas yang hilang. Mekanisme kehilangan panas yang penting adalah vasodilatasi dan berkeringat. Berkeringat terutama menonjol saat demam mulai turun (Dinarello dan Gelfrand, 2001; Wilmana dan Gan, 2007; Ganong, 2008).

Demam perlu dibedakan dengan hiperpireksia, di mana batasan demam adalah suhu tubuh seseorang dalam keadaan istirahat berada di

atas 37,20C dengan pengukuran suhu oral, sedangkan hiperpireksia

adalah suatu keadaan kenaikan suhu tubuh mulai 41,2°C atau lebih (Nelwan, 2007).


(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

Banyak mekanisme patogenik yang kompleks yang dihubungkan dengan sebab terjadinya demam. Pirogen merupakan substansi yang menyebabkan demam dan berasal baik dari eksogen maupun endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar hospes, sementara pirogen endogen diproduksi oleh hospes. Pirogen endogen umumnya diproduksi sebagai respon terhadap stimulan awal yang biasanya timbul oleh karena infeksi atau inflamasi. Penyebab eksogen demam antara lain bakteri, jamur, virus, dan produk-produk yang dihasilkan oleh agen-agen tersebut (misal endotoksin), serta kerusakan jaringan oleh sebab apapun (misalnya trauma, cedera atau tergencet). Selanjutnya faktor-faktor imunologik seperti kompleks imun dan limfokin menimbulkan demam. Seluruh substansi di atas menyebabkan sel-sel fagosit mononuklear (monosit, makrofag jaringan atau sel Kupffer) membuat sitokin yang bekerja sebagai pirogen endogen, suatu protein kecil yang mirip interleukin, yang merupakan suatu mediator proses imum antar sel yang penting. Sitokin-sitokin tersebut dihasilkan secara sistemik ataupun lokal dan berhasil

memasuki sirkulasi. Interleukin-1, interleukin-6, tumor necrosis factor α

dan interferon α, interferon β serta interferon γ merupakan sitokin yang berperan terhadap proses terjadinya demam. Sitokin-sitokin tersebut juga diproduksi oleh sel-sel di Susunan Saraf Pusat (SSP) dan kemudian bekerja pada daerah preoptik hipotalamus anterior. Sitokin akan memicu pelepasan asam arakidonat dari membran fosfolipid dengan bantuan enzim fosfolipase A2. Asam arakidonat selanjutnya diubah menjadi


(23)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

prostaglandin karena peran dari enzim siklooksigenase (COX, atau disebut juga PGH sintase) dan menyebabkan demam pada tingkat pusat termoregulasi di hipotalamus (Dinarello dan Gelfrand, 2001; Fox, 2002; Wilmana dan Gan, 2007; Ganong, 2008; Juliana, 2008; Sherwood, 2010).

Enzim siklooksigenase terdapat dalam dua bentuk (isoform), yaitu siklooksigenase-1 (COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2). Kedua isoform berbeda distribusinya pada jaringan dan juga memiliki fungsi regulasi yang berbeda. COX-1 merupakan enzim konstitutif yang mengkatalisis pembentukan prostanoid regulatoris pada berbagai jaringan, terutama pada selaput lendir traktus gastrointestinal, ginjal, platelet dan epitel pembuluh darah. Sedangkan COX-2 tidak konstitutif tetapi dapat diinduksi, antara lain bila ada stimuli radang, mitogenesis atau onkogenesis. Setelah stimulasi tersebut lalu terbentuk prostanoid yang merupakan mediator nyeri dan radang. Penemuan ini mengarah

kepada hipotesis, bahwa COX-1 mengkatalisis pembentukan

prostaglandin yang bertanggung jawab menjalankan fungsi-fungsi regulasi fisiologis, sedangkan COX-2 mengkatalisis pembentukan prostaglandin yang menyebabkan radang. Sehubungan dengan hipotesis tersebut maka toksisitas obat AINS pada saluran gastrointestinal disebabkan oleh hambatan tidak selektif obat tersebut terhadap aktifitas

COX-1 dan COX-2, khususnya COX-1 (Dachlan et al., 2001; Davey,


(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

Prostaglandin E2 (PGE2) adalah salah satu jenis prostaglandin yang

menyebabkan demam. Hipotalamus anterior mengandung banyak neuron termosensitif. Area ini juga kaya dengan serotonin dan norepineprin yang memerantarai terjadinya demam, pirogen endogen meningkatkan konsentrasi mediator tersebut. Selanjutnya kedua monoamina ini akan meningkatkan adenosin monofosfat siklik (cAMP) dan prostaglandin di susunan saraf pusat sehingga suhu termostat meningkat dan tubuh menjadi panas untuk menyesuaikan dengan suhu termostat (Dinarello dan Gelfrand, 2001; Fox, 2002; Wilmana dan Gan, 2007; Ganong, 2008; Juliana, 2008; Sherwood, 2010).

Manfaat demam bagi organisme masih belum diketahui secara pasti. Demam mungkin bermanfaat karena timbul dan menetap sebagai respons terhadap infeksi dan penyakit lain. Banyak mikroorganisme tumbuh subur dalam rentang suhu relatif sempit, dan peningkatan suhu akan menghambat pertumbuhannya. Selain itu, pembentukan antibodi dan aktifitas sel-sel fagosit meningkat jika suhu tubuh meningkat.

Terdapat bukti-bukti bahwa demam karena infeksi bersifat

menguntungkan, karena meningkatkan efek interferon dan merangsang mobilitas leukosit serta aktivitas bakterisidal. Peningkatan suhu tubuh juga dapat menyebabkan hepar dan limpa mengeliminasi besi sehingga kadar besi dalam darah menurun (Ganong, 2008; Juliana, 2008; Shier, 2009).


(25)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

Penurunan kadar besi dalam darah dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangbiakkan bakteri dan jamur sehingga menjadi lebih lambat bahkan berhenti. Hal itu terjadi karena pada suhu yang lebih tinggi bakteri dan jamur membutuhkan lebih banyak besi. Selain itu penurunan kadar besi tersebut juga dapat meningkatkan aktivitas neutrofil dan produksi interferon (Dinarello dan Gelfrand, 2001; Fox, 2002; Wilmana dan Gan, 2007; Ganong, 2008).

Menurut Nelwan (2007), terdapat beberapa tipe demam yang mungkin dijumpai, antara lain:

a. Demam septik

Pada tipe demam septik, suhu tubuh berangsur naik ke tingkat yang tinggi sekali pada malam hari dan turun kembali ke tingkat di atas normal pada pagi hari. Demam sering disertai keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.

b. Demam remiten

Pada tipe demam remiten, suhu tubuh dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu tubuh normal. Perbedaan suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat pada demam septik.

c. Demam intermiten

Pada tipe demam intermiten, suhu tubuh turun ke tingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini


(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

terjadi setiap dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari bebas demam di antara dua serangan demam disebut kuartana.

d. Demam kontinyu

Pada tipe demam kontinyu variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat.

e. Demam siklik

Pada tipe demam siklik terjadi kenaikan suhu tubuh selama beberapa hari yang diikuti oleh periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperti semula.

2. Vaksin DPT

Vaksin DPT terdiri atas kuman difteri yang dilemahkan atau

toksoid difteri (a lumprecipitated toxoid), toksoid tetanus dan vaksin

pertusis dengan menggunakan fraksi sel (selular) yang berisi komponen

spesifik dari Bordettella pertusis (Tumbelaka dan Hadinegoro, 2005;

Hay et a l., 2009).

Dosis yang diberikan adalah 0,5 ml intramuskular tiap kali pemberian pada umur 2, 4 dan 6 bulan sebagai imunisasi dasar. Reaksi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan, kemerahan dan nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari. Efek samping dapat berupa demam tinggi, kejang dan abses. Kontraindikasi

pemberian vaksin adalah panas yang lebih dari 380C, riwayat kejang


(27)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

tinggi dengan kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilaktik

lainnya (Isbagio et a l., 2004; Rampengan, 2007; DiPiro et a l., 2008; Hay

et a l., 2009).

Vaksin DPT yang memiliki efek samping demam terutama vaksin

DPT dengan fraksi seluler Bordettella pertusis, bukan vaksin DPaT yang

mengandung fraksi aseluler kuman tersebut. Fraksi seluler Bordettella

pertusis diduga berperan sebagai pirogen eksogen terhadap tubuh

sehingga menyebabkan tubuh menjadi demam karena terjadi mekanisme

pembentukan antibodi terhadap kuman dalam vaksin DPT (Hay et a l.,

2009). 3. Antipiretik

Obat analgetik antipiretik serta obat Antiinflamasi Non Steroid (AINS) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen secara kimia dan memiliki banyak persamaan dalam efek terapi maupun efek samping. Prototip obat golongan ini disebut juga sebagai obat mirip aspirin (aspirin-like drugs) (Wilmana dan Gan, 2007).

Antipiretik adalah obat yang menekan suhu tubuh pada keadaan demam. Semua analgetik perifer memiliki kerja antipiretik, yaitu menurunkan suhu tubuh pada keadaan demam, maka disebut pula

analgetik antipiretik. Khasiat antipiretik ditentukan berdasar

rangsangannya terhadap pusat pengaturan panas di hipotalamus yang mengakibatkan vasodilatasi perifer (di kulit), ditandai dengan


(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

bertambahnya pengeluaran kalor disertai keluarnya banyak keringat (Tjay dan Rahardja, 2002).

Obat AINS terdiri atas golongan asam karboksilat dan asam enolat. Asam karboksilat terbagi atas asam asetat, derivat asam salisilat, derivat asam propionat dan derivat asam fenamat. Sedangkan asam enolat terdiri atas derivat pirazolon dan oksisikam (Wilmana dan Gan, 2007).

Obat analgesik-antipiretik yang biasa dipakai terdiri atas empat golongan yaitu golongan salisilat (aspirin, asetosal), golongan paraaminofenol (parasetamol), golongan pirazolon (metamizol), dan golongan asam (asam-mefenamat). Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu tubuh hanya dalam keadaan demam.

Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik In vitro,

tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama (Wilmana dan Gan, 2007).

Parasetamol atau asetaminofen (N-a cetyl-p-a minophenol, APAP)

pertama kali digunakan secara klinis sebagai analgesik (penghilang nyeri atau rasa sakit) dan antipiretik (penurun suhu pada demam) di Amerika Serikat pada tahun 1950. Parasetamol relatif aman jika dikonsumsi dalam dosis terapi. Keracunan dapat terjadi pada penggunaan parasetamol dalam dosis yang berlebihan. Di Indonesia, parasetamol

dijual bebas sebagai obat OTC (over-the-counter), baik sebagai obat

tunggal maupun obat terkombinasi dalam obat influenza (Ngatidjan,


(29)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

Parasetamol merupakan metabolit aktif dari fenasetin yang efektif sebagai terapi pengganti aspirin karena efek analgesik dan antipiretik yang dimilikinya. Namun, efek antiinflamasi parasetamol sangat lemah sehingga tidak diindikasikan sebagai pengganti aspirin atau AINS lainnya pada pasien dengan kondisi inflamasi kronis. Efek analgesik-antipiretik parasetamol diperantarai oleh rangsangan terhadap pusat pengatur panas di hipotalamus yang bekerja dengan dua proses: 1) efek sentral, yaitu dengan menghambat siklus COX-1 sehingga tidak terjadi pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat, prostaglandin tidak akan merangsang lagi termostat untuk menaikkan suhu tubuh. 2) efek perifer, saraf simpatis di kulit bekerja mengaktifkan reseptor-reseptor panas di kulit sehingga terjadi vasodilatasi perifer. Dengan terjadinya vasodilatasi ini, panas lebih cepat terkonduksi ke jaringan kulit dan melalui aliran udara terjadi konveksi sehingga panas dikeluarkan disertai keluarnya keringat, sehingga lama-kelamaan suhu tubuh akan turun

(Goodman et a l., 2006; Hoffman et a l., 2007; DiPiro et a l., 2008).

Parasetamol diberikan secara oral dan absorbsinya tergantung pada laju pengosongan lambung serta dapat diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi puncak plasma terjadi dalam 30-60 menit, sedangkan waktu paruh plasmanya adalah sekitar dua jam setelah pemberian dosis terapeutik. Konsentrasi puncak plasma dihambat oleh makanan dan konsumsi bersama opioid atau antikolinergik. Parasetamol terdistribusi secara merata ke seluruh cairan tubuh serta dapat melintasi


(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

sawar plasenta dan sawar darah otak (Goodman et a l., 2006; Hoffman et

a l., 2007; Foegh dan Ramwell, 2007).

Dalam plasma, 10-30% parasetamol terikat pada protein plasma dan sebagian lagi dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Setelah diabsorbsi, normalnya sekitar 90% parasetamol akan mengalami glukoronidasi (40-67%) dan sulfasi (20-46%) di hepar untuk membentuk metabolit inaktif (asam glukoronat dan asam sulfat) yang kemudian akan diekskresikan dalam urin. Kurang dari 5% fraksi parasetamol akan diekskresikan dalam bentuk asalnya, sedangkan sisanya (5-15%) dalam bentuk terkonjugasi dan kemudian diekskresikan dalam urin (Murray,

2003; Hoffman et a l., 2007; Foegh dan Ramwell, 2007; Wilmana dan

Gan, 2007).

Waktu paruh eliminasi parasetamol adalah sekitar 2 - 3 jam setelah dosis terapeutik, tetapi dapat memanjang pada pasien dengan gangguan

hepar (Murray, 2003; Hoffman et a l., 2007; Foegh dan Ramwell, 2007).

Parasetamol aman diberikan peroral dengan dosis 325-1000 mg per hari dan tidak boleh melebihi 4000 mg (2000 mg/hari untuk alkoholik kronis). Dosis tunggal untuk anak-anak berkisar antara 40-480 mg tergantung pada usia dan berat tubuh. Umumnya dosis 10 mg/kg berat badan masih aman untuk dikonsumsi. Parasetamol berguna untuk mengatasi nyeri ringan sampai sedang. Konsumsi parasetamol dengan dosis terapeutik tunggal maupun terbagi tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler, sistem respirasi, keseimbangan asam-basa, kadar asam


(31)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

urat, maupun koagulasi darah. Obat ini juga tidak menghambat kerja trombosit, tidak mengantagonis obat urikosurik, dan tidak mengiritasi

lambung (Goodman et a l., 2006; Foegh dan Ramwell, 2007).

Parasetamol biasanya dapat ditoleransi dengan baik pada dosis terapeutik. Reaksi alergi karena parasetamol jarang terjadi. Manifestasi dari reaksi alergi biasanya berupa eritem atau urtikaria. Efek samping yang paling serius dari overdosis parasetamol adalah nekrosis hepar yang fatal. Nekrosis tubuler ginjal dan koma hipoglikemik juga dapat terjadi. Pada orang dewasa, hepatotoksisitas dapat terjadi dengan pemberian dosis tunggal 10-15 gram (150-250 mg/kg BB) parasetamol.

Dosis 20-25 gram atau lebih dapat berakibat fatal (Goodman et a l., 2006;

Wilmana dan Gan, 2007; Highleyman dan Franciscus, 2009).

Manifestasi klinis yang muncul pada keracunan akut parasetamol tergantung pada waktu dari awal konsumsi, keberadaan faktor risiko, dan konsumsi obat-obatan lain. Gejala yang muncul selama 12-24 jam pertama keracunan akut parasetamol berupa gangguan lambung (mual, nyeri abdominal, dan anoreksia), tetapi banyak pasien yang asimtomatis pada periode waktu ini. Selama 1 - 3 hari berikutnya, terjadi kenaikan

enzim-enzim hepar dan bilirubin (Hoffman et a l., 2007; DiPiro et a l.,


(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

4. Meniran

a. Taksonomi

Menurut Badan POM RI (2006), taksonomi meniran adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Divisi : Spermathophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Euphobiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Phyllanthus

Spesies : Phylla nthus niruri Linn

b. Nama Lain

Nama-nama yang diberikan untuk meniran berbeda-beda untuk

tiap-tiap daerah di dunia. Di Cina meniran disebut zhen zhu cao atau ye

xia xhu. Di Inggris meniran disebut child a ba ck. Di Amerika Selatan

biasa disebut stone brea ker atau lea fflower sedangkan di Indonesia

sendiri ada perbedaan dalam penamaan tanaman ini (Kardinan dan Kusuma, 2004; Sulaksana dan Jayusman, 2004).

Di Indonesia, nama-nama meniran sangat beragam, di antaranya di daerah Ternate tanaman ini biasa disebut gasau madungi, di Jawa biasa


(33)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

disebut meniran, orang-orang Sunda biasa menyebut memeniran, sedangkan di Maluku biasa disebut dukung anak atau balalang babiji (Kardinan dan Kusuma, 2004).

c. Daerah Distribusi dan Habitat

Meniran merupakan rumput liar yang berasal dari Asia Tropik yang tersebar di seluruh daratan Asia, Afrika, Amerika dan Australia. Meniran tumbuh di daerah dataran rendah sampai ke dataran tinggi dengan ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut. Meniran dapat dijumpai pada hampir semua tempat, di semak-semak, pekarangan rumah, di antara rerumputan, dan di tempat-tempat lain. Meniran dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, terutama tanah berpasir. Meniran menyukai tempat yang lembab dan akan tumbuh dengan subur apabila tanah kaya akan bahan organik. Meniran hijau lebih toleran tumbuh di tanah yang miskin bahan organik dibandingkan dengan meniran merah (Badan POM RI, 2006).

d. Deskripsi

Tinggi batangnya 30 – 50 cm, berwarna hijau kemerahan atau hijau pucat, bercabang-cabang. Daunnya tunggal dan letaknya berseling. Helaian daunnya bundar telur sampai bundar memanjang, ujung tumpul, pangkal membulat, permukaan bawah berbintik kelenjar, tepi daun rata, panjang 1,5 cm, lebar sekitar 7 mm, berwarna hijau (Dalimartha, 2006).


(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

Pada satu tanaman terdapat bunga jantan dan bunga betina. Bunga jantan keluar dari bawah ketiak daun, sedangkan bunga betina keluar dari atas ketiak daun. Bunga ini tumbuh subur sekitar bulan April-Juni. Buah meniran berupa buah kotak, ulat pipih, licin, diameter 2-2,5 mm. Bijinya kecil, keras, berbentuk ginjal, berwarna coklat. Buah timbul sekitar bulan Juli-Nopember. Semua bagian tumbuhan dapat digunakan untuk mendapatkan ekstrak Herba Meniran (Dalimartha, 2006).

Gambar 1. Meniran (Phylla nthus niruri L.) (Badan POM RI, 2006)

e. Kandungan Kimia

Menurut Badan POM RI (2006), meniran mengandung senyawa sebagai berikut:

1) Lignan, terdiri dari phyllanthine, hypophyllanthine, phyltetralin,

lintretalin, nirathin, nitretalin, nirphylline, nirurin, dan niruriside.


(35)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

3) Flavonoid, terdiri dari quercetin, quercitrin, isoquercitrin,

astragalin, rutine, dan physetinglucoside.

4) Lipid, terdiri dari ricinoleic acid, dotriancontanoic acid, linoleic

acid, dan linolenic acid.

5) Benzenoid, terdiri dari methylsalicilate.

6) Alkaloid, terdiri dari norsecurinine, 4-metoxynorsecurinine,

entnorsecurinina, nirurine, phyllantin, dan phyllochrysine.

7) Steroid 41 berupa beta-sitosterol.

8) Alcanes berupa triacontanal dan triacontanol.

9) Komponen lain berupa tannin, vitamin C dan vitamin K.

f. Efek Farmakologis

Efek farmakologis dari herba ini adalah sebagai antioksidan,

antikarsinogen, antiradang, antibakteri, membersihkan hepar,

menurunkan kadar glukosa darah, peluruh kencing (diuretik), antihepatotoksik, peluruh dahak, peluruh haid, menerangkan penglihatan, menghancuran batu kandung kemih, penambah nafsu

makan dan sebagai antipiretik (Sarisetyaningtyas et a l., 2006).

5. Mekanisme Flavonoid sebagai Antipiretik

Sebagai antipiretik meniran memiliki komponen yang berperan, yaitu flavonoid. Flavonoid adalah senyawa antioksidan yang lebih kuat dibandingkan dengan vitamin E. Flavonoid menempel di sel imun dan memberikan sinyal intraseluler atau rangsangan untuk mengaktifkan kerja sel imun agar lebih baik. Aplikasi flavonoid sangat luas, yaitu untuk


(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

mengobati penyakit infeksi kronis dan infeksi virus. Flavonoid merupakan komponen meniran yang mempunyai efek antipiretik. Selain itu alkaloid dalam meniran juga diduga mampu bekerja sebagai antipiretik (Robinson, 1995; Shokunbi dan Odetola, 2008).

Flavonoid merupakan golongan senyawa fenol terbesar di alam. Senyawa fenol mempunyai ciri yang sama yaitu memiliki cincin aromatik yang mengandung satu atau dua gugus hidroksil (Robinson, 1995).

Efek flavonoid terhadap berbagai organisme sangat beragam. Flavonoid dapat menghambat aldoreduktase, monoaminoksidase,

proteinkinase, DNA polimerase, dan siklooksigenase (Fang et a l., 2008;

Shokunbi dan Odetola, 2008).

Penghambatan siklooksigenase dapat menimbulkan pengaruh lebih luas karena reaksi siklooksigenase merupakan langkah pertama pada jalur yang menuju hormon eikosanoid yang merupakan zat aktif biologik yang berasal dari asam arakidonat seperti prostaglandin dan tromboksan. Kandungan flavonoid pada meniran dapat menghambat enzim siklooksigenase-2, sehingga efek toksisitas pada pemberian obat AINS pada saluran gastrointestinal yang disebabkan oleh hambatan tidak selektif obat tersebut terhadap aktivitas COX-1 dan COX-2 (terutama COX-1) dapat dihindari (Robinson, 1995).


(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

6. Ekstrak

Ada 3 prinsip ekstraksi tumbuhan, yaitu ekstraksi, maserasi, dan perkolasi. Ekstraksi ialah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih di mana zat yang diinginkan larut. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan komponen yang berada dalam campuran secara selektif dengan pelarut yang sesuai. Metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian terhadap tiap macam metode ekstraksi, dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat. Sifat dari bahan mentah merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi. Pada kenyataannya sering digunakan kombinasi dari proses maserasi dan perkolasi dalam mengekstraksi bahan mentah obat. Sediaan yang diperoleh dari hasil ekstraksi dinamakan ekstrak, pelarutnya disebut penyari, sedangkan sisa-sisa yang tidak ikut tersari disebut ampas (Ansel, 1989; Howard, 1989; Harbone, 1994; Voigt, 1994).

Metode ekstraksi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

perkolasi. Istilah perkolasi berasal dari bahasa latin per yang artinya

melalui dan cola re yang artinya merembes. Perkolasi dilakukan dengan

cara, bahan ekstraksi dimampatkan dari atas secara kontinyu ke dalam alat ekstraksi khusus disebut perkolator hingga dihasilkan ekstrak berupa filtrat. Ekstrak yang telah dikumpulkan disebut perkolat. Hasil ekstraksi berupa bahan aktif yang tinggi dan kaya ekstrak. Dengan demikian


(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

keuntungan perkolasi adalah pemanfaatan herba secara optimal serta memerlukan waktu yang singkat (Ansel, 1989; Voigt, 1994).

Sebagai cairan pengekstraksi, air atau etanol lebih disukai penggunaannya. Ekstraksi air dari suatu bagian tumbuhan dapat melarutkan gula, bahan lendir, amina, tannin, vitamin, asam organik, garam organik serta bahan pengotor lain. Sedangkan etanol dapat menarik balsam dan klorofil, serta hanya sedikit menarik asam organik, garam anorganik dan gula (Voigt, 1994).

Etanol tidak menyebabkan pembengkakan membran sel, sehingga memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Dengan etanol kadar 70% volume, dapat dihasilkan bahan aktif yang optimal, karena bahan pengotor hanya larut dalam skala kecil (Voigt, 1994).


(39)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

B. Kerangka Pemikiran

Infeksi Non infeksi

Pirogen eksogen

Pirogen endogen (monosit, neutrofil, makrofag, limfosit)

Sitokin Vaksin DPT

0,2 ml

Fosfolipid

Asam arakidonat

PGE-2 Leukotrien

siklooksigenase 2 lipooksigenase

Flavonoid pada meniran

sikloksigenase 1 Parasetamol

Set point meningkat

Demam

Keterangan:

: mekanisme demam; di luar tubuh hospes : induksi demam pada tubuh hospes

: mekanisme demam; di dalam tubuh hospes : menghambat demam; efek antipiretik : enzim


(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

C. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus

niruri L.) memiliki efek antipiretik terhadap tikus putih (Ra ttus norvegicus) yang


(41)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dengan rancangan

penelitian pre test and post test with control design.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi Universitas Setia Budi.

C. Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih (Ra ttus

norvegicus) jantan galur Wistar sebanyak 25 ekor berumur ± 2-3 bulan, BB ± 150-200 gr. Sampel dibagi dalam 5 kelompok yang dipilih secara acak. Jumlah tikus putih tiap kelompok ditentukan dengan rumus Federer, di mana (t) adalah jumlah kelompok dan (n) adalah jumlah sampel dalam tiap kelompok (Purawisastra, 2001).

(n-1)(t-1) > 15 (n-1)(5-1) > 15 4n-4 > 15 4n > 19 n > 4,75


(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

Jadi, jumlah tikus putih minimal dalam tiap kelompok adalah 5 ekor (n > 4,75).

D. Teknik Sampling

Populasi subjek penelitian didapatkan dari Laboratorium Farmakologi

Universitas Setia Budi secara purposive ra ndom sa mpling dengan kriteria

inklusi berupa tikus putih (Ra ttus norvegicus) jantan galur Wistar sebanyak

25 ekor berumur ± 2-3 bulan, BB ± 150-200 gr. Sedangkan kriteria eksklusi

berupa tikus dengan keadaan tidak sehat sebelumnya atau cacat fisik. Subjek pada penelitian ini selanjutnya dibagi menjadi lima kelompok secara acak yang masing-masing kelompok berjumlah 5 ekor tikus.

E. Identifikasi Variabel Penelitian

1. Variabel bebas : Ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.)

2. Variabel terikat : Efek antipiretik pada tikus putih

3. Variabel luar :

a. Terkendali : jenis kelamin, berat badan tikus, umur tikus, jenis tikus dan

makanan serta minuman

b. Tidak terkendali : variasi kepekaan tikus putih terhadap zat dan obat

yang digunakan, zat perangsang pirogen endogen, zat inhibisi pirogen endogen, keadaan lambung tikus putih, absorpsi zat dan obat pada saluran pencernaan tikus putih, adanya stres terhadap adaptasi lingkungan tempat percobaan.


(43)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

F. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Bebas :

Ekstrak Herba Meniran yang digunakan berasal dari hasil ekstraksi tanaman

Herba Meniran (Phyllantus niruri L.) di Unit Pra Klinik Laboratorium Penelitian

dan Pengujian Terpadu (LPPT) Universitas Gadjah Mada. Skala pengukuran variabel ini menggunakan skala ordinal. Alat ukur menggunakan timbangan digital dengan satuan miligram. Variabel ekstrak Herba Meniran merupakan variabel yang sepenuhnya dapat dikendalikan dengan cara pemberian peroral melalui sonde lambung sebanyak X gram, 2X gram dan 4X gram yang diperoleh dengan pelarut etanol 70% dan metode perkolasi.

2. Variabel Terikat :

Efek antipiretik pada tikus putih yaitu nilai rata-rata penurunan suhu rektal tikus putih setelah 3 jam diberikan vaksin DPT hingga setelah diberikan perlakuan pada tiap kelompok yang diukur dengan menggunakan termometer digital tiap 15 menit selama 120 menit dengan satuan derajat Celcius. Skala pengukuran variabel ini adalah skala rasio. Penurunan suhu yang diharapkan

minimal adalah sekitar 0,10C

3. Variabel Luar

a. Terkendali

1) Jenis kelamin tikus yang digunakan adalah jantan. Tikus jantan

dipilih untuk menghindari adanya kesalahan hasil karena pada tikus putih betina mempunyai siklus estrus, di mana siklus ini dapat menaikkan temperatur tubuh tikus.


(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

3) Umur tikus pada penelitian ini adalah 2-3 bulan.

4) Jenis tikus yang dipilih adalah galur Wistar. Tikus galur Wistar

dipilih karena dapat tinggal sendirian dalam kandang asal dapat mendengar dan melihat tikus lain, tenang dan mudah ditangani serta lebih besar daripada mencit.

5) Makanan yang diberikan berupa pelet dan minuman dari air PAM.

b. Tidak Terkendali

Variabel luar tidak terkendali dapat mempengaruhi hasil percobaan karena tiap tikus memiliki variasi kepekaan, zat perangsang pirogen endogen, zat inhibisi pirogen endogen, keadaan lambung tikus putih, absorpsi zat dan obat pada saluran pencernaan, metabolisme, imunitas dan tingkat stres yang berbeda-beda. Reaksi hipersensitivitas dapat terjadi karena adanya variasi kepekaan terhadap zat yang digunakan. Kondisi psikologis tikus dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lingkungan yang terlalu ramai dan gaduh, pemberian perlakuan yang berulang kali, dan perkelahian antar tikus dapat mempengaruhi kondisi psikologis tikus.

G. Rancangan Penelitian

Tikus 25 ekor

Kelompok I

Kelompok II

Kelompok III

Kelompok IV

Kelompok V


(45)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

ta ta ta ta ta

Vaksin DPT 0,2 ml Vaksin DPT 0,2 ml Vaksin DPT 0,2 ml Vaksin DPT 0,2 ml 3 jam (t0)

3 jam (t0)

3 jam (t0)

3 jam (t0)

3 jam (t0)

Aquades Parasetamol Meniran

Dosis I Meniran Dosis II Meniran Dosis III t15 t120 Analisis Data t15 t15

t15 t15

t120 t120

t120 t120 Interval 15 menit Interval 15 menit Interval 15 menit Interval 15 menit Interval 15 menit


(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

Keterangan:

ta = pengukuran suhu rektal sebelum perlakuan

t0 = pengukuran suhu rektal 3 jam setelah penyuntikan vaksin DPT

t15 = pengukuran suhu rektal menit ke 15 setelah perlakuan

t120 = pengukuran suhu rektal menit ke 120 setelah perlakuan H. Instrumentasi Penelitian

1. Alat :

a. Kandang tikus

b. Timbangan hewan

c. Becker glass

d. Sonde lambung

e. Termometer digital

f. Stopwatch

g. Kapas steril

2. Bahan

a. Ekstrak Herba Meniran

b. Vaksin DPT

c. Parasetamol

d. Aquades

e. Alkohol


(47)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

I. Jalannya Penelitian 1. Persiapan

a. Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan

b. Hewan uji dipuasakan 18 jam sebelum perlakuan namun tetap diberi

minum secukupnya, setelah diadaptasi selama kurang lebih 3 hari di tempat percobaan dengan perawatan yang sama. Hewan uji kemudian dibagi menjadi 5 kelompok secara acak, masing-masing terdiri atas 5 ekor tikus putih.

2. Pemberian Perlakuan

a. Tiap-tiap tikus sebelum diberi perlakuan diukur temperatur rektalnya

terlebih dahulu untuk mengetahui temperatur normal, kemudian tikus disuntik vaksin DPT 0,2 ml secara i.m.

b. Tiga jam setelah pemberian vaksin, suhu rektal kembali diukur untuk

mengetahui kenaikan suhu setelah pemberian vaksin DPT.

c. Kemudian masing-masing kelompok mendapat perlakuan sebagai

berikut:

Kelompok I : Diberi aquades 2 ml/200 gr BB tikus sebagai

kontrol negatif

Kelompok II : Diberi Parasetamol 12,6 mg dalam 2 ml

larutan/200 gr BB tikus sebagai kontrol positif

Kelompok III : Diberi ekstrak Herba Meniran dosisI (X mg)

Kelompok IV : Diberi ekstrak Herba Meniran dosisII (2X mg)


(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

2. Setelah perlakuan

Lima belas menit setelah perlakuan, suhu rektal kembali diukur sampai percobaan pada menit ke 120 dengan interval 15 menit. Setelah data diperoleh, selanjutnya dilakukan analisis statistik.

J. Penentuan Dosis 1. Dosis Parasetamol

Berdasarkan tabel konversi perhitungan dosis untuk berbagai jenis hewan uji dari berbagai spesies dan manusia, maka konversi dosis manusia dengan berat tubuh 70 kg, pada tikus berat tubuh 200 gr adalah 0,018 (Ngatidjan, 2006). Dosis Parasetamol yang biasa diberikan untuk orang dewasa adalah 500 mg. Orang dewasa Indonesia berat rata-ratanya 50 kg, jadi dosis untuk tikus= (500 mg x 0,018 x 70/50) / 200 gr BB tikus = 12,6 mg/200 gr BB tikus, ekuivalen dengan 6,3 mg/100g BB tikus.

Dosis parasetamol yang disondekan untuk tikus adalah berupa tablet parasetamol yang telah diencerkan dengan aquades. Ekstrak tersebut diberikan ke tikus putih secara peroral dengan menggunakan spuit 2 ml yang dilarutkan dalam 20 ml aquades dengan perhitungan sebagai berikut.

12,6/2 x 20 = 126 mg

2. Dosis ekstrak Herba Meniran

Dosis yang akan diberikan untuk tikus adalah berupa ekstrak Herba Meniran. Proses ekstraksi hanya akan menyisakan 10% dari berat awal


(49)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

meniran segar dengan jumlah kandungan kimia yang tetap. Takaran Herba Meniran yang biasa digunakan masyarakat adalah 1,5 gr/50 kg BB ekstrak Herba Meniran (Kardinan dan Kusuma, 2004). Faktor konversi dosis untuk manusia dengan berat tubuh 70 kg pada tikus dengan berat tubuh 200 gr adalah 0,018 (Ngatidjan, 2006), sehingga dosis ekstrak Herba Meniran untuk tikus yaitu:

= (1,5 gr x 0,018 x 70/50) / 200 gr BB tikus

= 0,0378 gr/200 gr BB tikus, ekuivalen dengan 0,0189 gr ekstrak/100 gr BB tikus.

Dosis ekstrak Herba Meniran untuk tikus dibedakan menjadi 3 dosis, yaitu :

a. Dosis 1 = ekstrak Herba Meniran 37,8 mg dalam 2 ml larutan /200

gr BB tikus.

Dosis ekstrak Herba Meniran yang disondekan untuk tikus

adalah berupa ekstrak Herba Meniran yang telah diencerkan dengan aquades. Ekstrak tersebut diberikan ke tikus putih secara

peroral dengan menggunakan Spuit 2 ml yang dilarutkan dalam 20

ml aquades dengan perhitungan sebagai berikut. 37,8/2 mg x 20 = 378 mg

b. Dosis 2 = ekstrak Herba Meniran 75,6 mg dalam 2 ml larutan /200

gr BB tikus

Dosis ekstrak Herba Meniran yang disondekan untuk tikus


(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

dengan aquades. Ekstrak tersebut diberikan ke tikus putih secara

peroral dengan menggunakan Spuit 2 ml yang dilarutkan dalam 20

ml aquades dengan perhitungan sebagai berikut. 75,6/2 mg x 20 = 756 mg

c. Dosis 3 = ekstrak Herba Meniran 151,2 mg dalam 2 ml larutan

/200 gr BB tikus

Dosis ekstrak Herba Meniran yang disondekan untuk tikus

adalah berupa ekstrak Herba Meniran yang telah diencerkan dengan aquades. Ekstrak tersebut diberikan ke tikus putih secara

peroral dengan menggunakan Spuit 2 ml yang dilarutkan dalam 20

ml aquades dengan perhitungan sebagai berikut. 151,2/2 mg x 20 = 1512 mg

K. Teknik Analisis Data Statistik

Teknik analisis data yang akan digunakan tergantung pada hasil distribusi data. Jika distribusi data yang didapatkan normal dan varians homogen, maka teknik analisis data yang digunakan adalah uji t berpasangan untuk menguji perbedaan suhu rektal sebelum dan 3 jam

setelah pemberian vaksin DPT pada setiap kelompok. Uji a nova repeated

mea sures digunakan untuk menguji efek antipiretik pada subjek

antarwaktu pengukuran dan subjek antarkelompok. Uji ini digunakan untuk membandingkan perbedaan mean lebih dari 2 kelompok terhadap waktu dan perubahan pada kelompok (Murti, 2010). Jika terdapat


(51)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

perbedaan yang bermakna maka dilanjutkan dengan uji post hoc. Derajat


(52)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Data Hasil Penelitian

Setelah dilakukan penelitian mengenai efek antipiretik ekstrak Herba Meniran terhadap tikus putih dengan demam yang diinduksi vaksin DPT, didapatkan data hasil pengamatan penurunan suhu pada masing-masing kelompok pelakuan. Data hasil penelitian ini berupa data interval yaitu besar penurunan suhu pada tiap tikus dalam masing-masing kelompok. Hasil pengamatan besar penurunan suhu untuk masing-masing kelompok disajikan pada Lampiran 4. Hasil pengukuran suhu untuk masing-masing kelompok dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rerata dan Simpangan Baku Hasil Pengukuran Suhu untuk Masing-Masing Kelompok Tikus Putih

(Data Primer, 2010) Kelompok

waktu

Kontrol (-) Kontrol (+) Dosis I Dosis II Dosis III

Ta 36,46 ± 0,18 36,96 ± 0,34 36,80 ± 0,19 36,58 ± 0,28 36,92 ± 0,31

t0 38,62 ± 0,13 38,42 ± 0,08 38,46 ± 0,11 38,44 ± 0,11 38,24 ± 0,11

t15 38,44 ± 0,89 38,32 ± 0,11 38,32 ± 0,13 38,28 ± 0,15 38,16 ± 0,15

t30 38,40 ± 0,07 38,16 ± 0,05 38,34 ± 0,09 38,24 ± 0,17 38,10 ± 0,12

t45 38,42 ± 0,08 38,08 ± 0,16 38,36 ± 0,05 38,06 ± 0,15 38,06 ± 0,11

t60 38,44 ± 0,18 38,04 ± 0,09 38,20 ± 0,14 38,04 ± 0,11 38,04 ± 0,15

t75 38,26 ± 0,30 38,00 ± 0,25 38,22 ± 0,04 37,80 ± 0,19 37,96 ± 0,19

t90 38,38 ± 0,30 37,86 ± 0,15 38,10 ± 0,25 37,74 ± 0,27 37,78 ± 0,26

t105 38,38 ± 0,08 37,94 ± 0,11 38,04 ± 0,21 37,74 ± 0,13 37,80 ± 0,07


(53)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

Keterangan:

Kontrol (-) : Kelompok kontrol negatif (Aquades 2 ml/200 gr BB)

Kontrol (+) : Kelompok kontrol positif (Parasetamol 12,6 mg/200 gr

BB)

Dosis I : Kelompok meniran dosis I (37,8 mg/200 gr BB tikus)

Dosis II : Kelompok meniran dosis II (75,6 mg/200 gr BB tikus)

Dosis III : Kelompok meniran dosis III (151,2 mg/200 gr BB tikus)

ta : Pengukuran suhu rektal sebelum penyuntikan vaksin

DPT

t0 : Pengukuran suhu rektal 3 jam setelah penyuntikan vaksin

DPT

t15- t120 : Pengukuran suhu rektal menit ke 15 hingga menit ke 120

setiap 15 menit setelah perlakuan

Hasil pengukuran rata-rata suhu rektal tikus putih pada setiap kelompok perlakuan dapat dilihat dalam gambar 2.


(54)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

39

Gambar 2. Grafik Rata-Rata Suhu Rektal Tikus pada Beberapa Titik Waktu Pada grafik di atas, dapat dilihat bahwa pada kelompok parasetamol, dosis 2 dan dosis 3 dari beberapa titik waktu menunjukkan penurunan suhu yang lebih besar dibandingkan kelompok aquades dan dosis 1

B. Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan uji t berpasangan untuk menguji efek demam dari induksi vaksin DPT

pada setiap kelompok. Uji a nova repeated mea sures digunakan untuk

menguji efek antipiretik pada subjek antarwaktu pengukuran (within subjects

fa ctors) dan pada subjek antarkelompok (between subjects fa ctors). Jika

terdapat perbedaan bermakna, maka analisis data dilanjutkan dengan uji post

hoc multiple compa risons. Derajat kemaknaan yang digunakan adalah α = 0,05. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

37.2 37.4 37.6 37.8 38 38.2 38.4 38.6 38.8

0 15 30 45 60 75 90 105 120

su h u ( 0C ) menit ke-aquadest parasetamol dosis 1 dosis 2 dosis 3


(55)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

40

program komputer Statistica l Product a nd Service Solution (SPSS) 17.0 for

Windows.

Metode analisis yang digunakan untuk menentukan jenis sebaran data pada penelitian ini adalah uji Saphiro-Wilk karena sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 25 ekor tikus putih. Selanjutnya, peneliti

melakukan uji Homogeneity of Va ria nces untuk mengetahui kesamaan

varians data. Hasil uji homogenitas varians menunjukkan P >0.05 yang berarti bahwa variansnya sama

Analisis statistik terhadap data hasil penelitian kemudian dilakukan

dengan ujit berpasangan untuk menguji efek demam dari induksi vaksin DPT

pada setiap kelompok

Tabel 2. Hasil Uji t Berpasangan Suhu Awal dan Suhu Setelah Induksi

Kelompok P value Keterangan

Kontrol (-) 0,000 Signifikan

Kontrol (+) 0,000 Signifikan

Dosis I 0,000 Signifikan

Dosis II 0,000 Signifikan

Dosis III 0,001 Signifikan

(Data Primer, 2010)

Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa induksi demam dengan menggunakan vaksin DPT pada masing-masing kelompok berhasil secara statistik karena didapatkan perbedaan yang bermakna dari hasil uji t berpasangan (p<0.05).


(56)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

41

Untuk menguji efek antipiretik pada penelitian ini, maka dilakukan uji statistik pada subjek antarwaktu pengukuran dan subjek antarkelompok. Uji

yang dipakai adalah uji Anova repeated mea sures.

Tabel 3. Ringkasan Hasil Uji Perbedaan Suhu Anova Repeated Mea sures

Subjek P value Keterangan

antarwaktu (within subjects) 0,000 Signifikan

antarkelompok (between subjects) 0,000 Signifikan

(Data Primer, 2010)

Simpulan yang dapat diambil dengan melihat nilai P di atas adalah variabel bebas (ekstrak meniran) berkontribusi dalam memprediksi nilai variabel terikat (suhu rektal tikus) sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kelompok waktu.

Namun juga terdapat interaksi antara waktu dan kelompok (p=0,009) sehingga perbedaan antarwaktu tersebut tidak independen melainkan dipengaruhi oleh perbedaan antarkelompok. Idealnya, tidak terdapat interaksi (p>0,05) sehingga efek antipiretik menurut beberapa titik waktu benar-benar bisa dianalisis.

Analisis kemudian dilanjutkan dengan uji post hoc untuk mengetahui

kelompok mana yang mempunyai perbedaan bermakna tersebut. Uji post hoc

multiple comparisons yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji LSD.


(57)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

42

Tabel 4. Ringkasan Hasil Uji Post Hoc

Kelompok P va lue Keterangan

parasetamol dengan dosis I parasetamol dengan dosis II parasetamol dengan dosis III parasetamol dengan aquadest

aquadest dengan dosis I aquadest dengan dosis II aquadest dengan dosis III

dosis I dengan dosis II dosis I dengan dosis III dosis II dengan dosis III

0,003 0,438 0,172 0,000 0,004 0,000 0,000 0,001 0,000 0,539 Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan

(Data Primer, 2010)

Dari hasil uji post hoc menunjukkan perbedaan yang bermakna (p<0.05)

antara kelompok aquades dengan dosis I, dosis II dan dosis III, parasetamol dengan aquades dan dosis I, serta kelompok dosis I dengan dosis II dan dosis III. Sedangkan hasil analisis antara kelompok parasetamol dengan kelompok dosis II dan dosis III serta kelompok dosis II dengan dosis III menunjukkan tidak adanya perbedaan yang bermakna (p>0.05).


(58)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

43

BAB V PEMBAHASAN

Dari data diperoleh hasil pengukuran suhu rektal tikus putih pada suhu awal semua kelompok perlakuan relatif sama. Setelah pemberian vaksin DPT (t0) menunjukkan bahwa semua tikus putih sedang dalam kondisi demam. Besarnya kenaikan suhu yang bervariasi untuk setiap tikus.

Pemberian vaksin DPT dapat menimbulkan efek samping berupa demam. Menurut Tumbelaka dan Hadinegoro (2005) vaksin DPT terdiri atas kuman difteri

yang dilemahkan atau toksoid difteri (a lumprecipitated toxoid), toksoid tetanus

dan vaksin pertusis dengan menggunakan fraksi sel (selular) yang berisi

komponen spesifik dari Bordettella pertusis. Komponen tersebutlah yang

kemudian memicu terjadinya demam.

Penurunan suhu yang terjadi setelah perlakuan menandakan demam mulai turun yang besarnya juga bervariasi untuk setiap tikus, dapat dilihat dalam Tabel 1. Variasi inilah yang kemudian dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya penurunan yang bermakna atau signifikan sebagai respons terhadap perlakuan.

Grafik menunjukkan bahwa onset kelompok aquades, parasetamol, dosis I dosis II dan III ekstrak meniran sudah dimulai pada menit ke-15. Dilihat secara keseluruhan dari menit ke-15 sampai menit ke 120, pada kelompok aquades terjadi penurunan suhu rektal paling rendah dan tidak signifikan dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang lain. Hal ini berarti bahwa pada penelitian ini,


(59)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

44

aquades dianggap tidak memiliki efek antipiretik dan digunakan sebagai kontrol negatif.

Efek antipiretik aquades lemah tetapi tetap ada karena menurut Åstrand et

a l (2003), aquades berperan mengatasi dehidrasi (penyebab demam noninfeksi).

Hal inilah yang menjelaskan terjadinya penurunan suhu pada kelompok yang diberi perlakuan aquades.

Pada penelitian ini digunakan parasetamol sebagai pembanding, karena parasetamol merupakan obat yang biasa digunakan sebagai antipiretik. Kelompok perlakuan parasetamol pada penelitian ini menunjukkan efek antipiretik yang bermakna. Pada kelompok parasetamol penurunan suhu sudah mulai tampak pada menit ke-15 namun sangat kecil, baru pada menit ke-30 terjadi penurunan suhu yang cukup bermakna karena konsentrasi puncak plasma terjadi dalam 30-60 menit

Dosis I ekstrak Herba Meniran telah memperlihatkan efek penurunan suhu yang tidak cukup bermakna. Hal tersebut dapat disebabkan karena dosis yang diberikan masih belum optimal, sehingga reseptor-reseptor dari tubuh belum semua terikat. Naik turunnya suhu yang tidak terlalu besar ini bisa terjadi akibat faktor-faktor luar yang tidak terkendali seperti status hidrasi, status imunitas, metabolisme fungsi hati tikus dan lain-lain. Selain itu, teknik pemberian peroral yang kurang tepat, daya serap obat peroral yang lambat dan terhambatnya tahapan pada penyerapan obat sampai ke pembuluh darah juga dapat mempengaruhi hasil percobaan.


(60)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

45

Dosis II tidak berbeda secara signifikan dengan parasetamol, maka dosis tersebut dapat dianggap efektif untuk menurunkan demam. Namun pada menit ke-120 terjadi sedikit kenaikan suhu. Hal tersebut dapat terjadi akibat reseptor suhu tubuh sudah jenuh mengikat dan berinteraksi dengan zat-zat yang diterima. Selain itu juga diduga karena kecepatan absorbsi, distribusi, klirens dan waktu paruh dari dosis II ekstrak herba meniran yang cepat.

Dosis III pada penelitian ini juga tidak memiliki perbedaan secara signifikan dengan parasetamol. Di mana pada menit ke-15 sudah terlihat perbedaan yang sangat bermakna dengan kelompok aquades hingga akhir penelitian pada menit ke-120. Dari grafik pada gambar 2 dapat dilihat bahwa dosis III ekstrak herba meniran menunjukkan penurunan suhu yang stabil hampir seperti parasetamol. Hal tersebut dapat disebabkan oleh dan ikatan zat-zat terhadap

reseptor tubuh yang bagus. Suhu akhir dosis ini adalah 37,760C yang telah

mendekati suhu normal tubuh.

Kelima kelompok perlakuan tidak dapat mengembalikan suhu tubuh dalam

batas normal (36,5oC-37,2oC). Hal ini disebabkan karena waktu yang diperlukan

untuk pengukuran percobaan hanya sampai menit ke-120. Namun efek antipiretik

meniran dosis III memiliki suhu rektal yang sama (37,76 oC) dengan efek yang

ditimbulkan parasetamol. Hal itu menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut

dapat menurunkan suhu hingga subfebril (37,2oC-37,8oC).

Adanya efek antipiretik tersebut karena herba meniran mengandung

senyawa flavonoid. Menurut Robinson (1995) flavonoid dapat menghambat


(61)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

46

biosintesis prostaglandin sehingga demam terhambat. Hal tersebut juga didukung

dengan hasil penelitian Dalimartha (2006), Sarisetyaningtyas et a l. (2006), Fang et

a l. (2008) serta Shokunbi dan Odetola (2008) yang menyatakan bahwa flavonoid

memiliki aktivitas antipiretik selain aktivitasnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.

Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa tanaman yang mengandung flavonoid memiliki efek antipiretik seperti tanaman jati belanda (Kusumandaru, 2009), umbi bawang merah (Setiyawan, 2005) dan asam jawa (Juliana, 2008)

Penurunan suhu rata-rata tikus bervariasi meskipun terdapat dalam satu kelompok yang sama. Hal tersebut disebabkan oleh faktor endogen masing-masing tikus yang berbeda-beda terhadap zat pirogen. Stres pada tikus karena pengukuran suhu rektal yang berulang-ulang juga termasuk faktor yang dapat menyebabkan kenaikan suhu tikus. Penurunan efek obat mungkin merupakan akibat dari penyerapan yang jelek pada saluran cerna, pembuluh darah atau peningkatan ekskresi ginjal


(62)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

47

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Terdapat efek antipiretik pada ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri

L.) terhadap tikus putih (Ra ttus norvegicus) dengan demam yang diinduksi

vaksin DPT.

2. Ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.) dosis 75,6 mg/200 gr BB

tikus dan 151,2 mg/200 gr BB tikus memiliki efek antipiretik yang sebanding dengan parasetamol.

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis ekstrak Herba

Meniran (Phylla nthus niruri L.) yang lebih bervariasi dan waktu

pengukuran suhu yang lebih lama sehingga dapat diketahui dosis efektif yang berefek antipiretik.

2. Untuk menjamin keamanan pemakaiaannya, hendaknya dilakukan uji

toksisitas ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap

organ-organ tertentu, seperti hati, lambung dan ginjal.

3. Perlu dilakukan isolasi dan penelitian lebih lanjut mengenai substansi yang

terdapat pada ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) yang diduga


(63)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user


(1)

commit to user

BAB V PEMBAHASAN

Dari data diperoleh hasil pengukuran suhu rektal tikus putih pada suhu awal semua kelompok perlakuan relatif sama. Setelah pemberian vaksin DPT (t0) menunjukkan bahwa semua tikus putih sedang dalam kondisi demam. Besarnya kenaikan suhu yang bervariasi untuk setiap tikus.

Pemberian vaksin DPT dapat menimbulkan efek samping berupa demam. MenurutTumbelaka dan Hadinegoro (2005) vaksin DPT terdiri atas kuman difteri yang dilemahkan atau toksoid difteri (a lumprecipitated toxoid), toksoid tetanus dan vaksin pertusis dengan menggunakan fraksi sel (selular) yang berisi komponen spesifik dari Bordettella pertusis. Komponen tersebutlah yang kemudian memicu terjadinya demam.

Penurunan suhu yang terjadi setelah perlakuan menandakan demam mulai turun yang besarnya juga bervariasi untuk setiap tikus, dapat dilihat dalam Tabel 1. Variasi inilah yang kemudian dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya penurunan yang bermakna atau signifikan sebagai respons terhadap perlakuan.

Grafik menunjukkan bahwa onset kelompok aquades, parasetamol, dosis I dosis II dan III ekstrak meniran sudah dimulai pada menit ke-15. Dilihat secara keseluruhan dari menit ke-15 sampai menit ke 120, pada kelompok aquades terjadi penurunan suhu rektal paling rendah dan tidak signifikan dibandingkan dengan kelompok perlakuan yang lain. Hal ini berarti bahwa pada penelitian ini,


(2)

commit to user

aquades dianggap tidak memiliki efek antipiretik dan digunakan sebagai kontrol negatif.

Efek antipiretik aquades lemah tetapi tetap ada karena menurut Åstrand et a l (2003), aquades berperan mengatasi dehidrasi (penyebab demam noninfeksi). Hal inilah yang menjelaskan terjadinya penurunan suhu pada kelompok yang diberi perlakuan aquades.

Pada penelitian ini digunakan parasetamol sebagai pembanding, karena parasetamol merupakan obat yang biasa digunakan sebagai antipiretik. Kelompok perlakuan parasetamol pada penelitian ini menunjukkan efek antipiretik yang bermakna. Pada kelompok parasetamol penurunan suhu sudah mulai tampak pada menit ke-15 namun sangat kecil, baru pada menit ke-30 terjadi penurunan suhu yang cukup bermakna karena konsentrasi puncak plasma terjadi dalam 30-60 menit

Dosis I ekstrak Herba Meniran telah memperlihatkan efek penurunan suhu yang tidak cukup bermakna. Hal tersebut dapat disebabkan karena dosis yang diberikan masih belum optimal, sehingga reseptor-reseptor dari tubuh belum semua terikat. Naik turunnya suhu yang tidak terlalu besar ini bisa terjadi akibat faktor-faktor luar yang tidak terkendali seperti status hidrasi, status imunitas, metabolisme fungsi hati tikus dan lain-lain. Selain itu, teknik pemberian peroral yang kurang tepat, daya serap obat peroral yang lambat dan terhambatnya tahapan pada penyerapan obat sampai ke pembuluh darah juga dapat mempengaruhi hasil percobaan.


(3)

commit to user

Dosis II tidak berbeda secara signifikan dengan parasetamol, maka dosis tersebut dapat dianggap efektif untuk menurunkan demam. Namun pada menit ke-120 terjadi sedikit kenaikan suhu. Hal tersebut dapat terjadi akibat reseptor suhu tubuh sudah jenuh mengikat dan berinteraksi dengan zat-zat yang diterima. Selain itu juga diduga karena kecepatan absorbsi, distribusi, klirens dan waktu paruh dari dosis II ekstrak herba meniran yang cepat.

Dosis III pada penelitian ini juga tidak memiliki perbedaan secara signifikan dengan parasetamol. Di mana pada menit ke-15 sudah terlihat perbedaan yang sangat bermakna dengan kelompok aquades hingga akhir penelitian pada menit ke-120. Dari grafik pada gambar 2 dapat dilihat bahwa dosis III ekstrak herba meniran menunjukkan penurunan suhu yang stabil hampir seperti parasetamol. Hal tersebut dapat disebabkan oleh dan ikatan zat-zat terhadap reseptor tubuh yang bagus. Suhu akhir dosis ini adalah 37,760C yang telah mendekati suhu normal tubuh.

Kelima kelompok perlakuan tidak dapat mengembalikan suhu tubuh dalam batas normal (36,5oC-37,2oC). Hal ini disebabkan karena waktu yang diperlukan untuk pengukuran percobaan hanya sampai menit ke-120. Namun efek antipiretik meniran dosis III memiliki suhu rektal yang sama (37,76 oC) dengan efek yang ditimbulkan parasetamol. Hal itu menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut dapat menurunkan suhu hingga subfebril (37,2oC-37,8oC).

Adanya efek antipiretik tersebut karena herba meniran mengandung

senyawa flavonoid. Menurut Robinson (1995) flavonoid dapat menghambat


(4)

commit to user

biosintesis prostaglandin sehingga demam terhambat. Hal tersebut juga didukung dengan hasil penelitian Dalimartha (2006), Sarisetyaningtyas et a l. (2006), Fang et a l. (2008) serta Shokunbi dan Odetola (2008) yang menyatakan bahwa flavonoid memiliki aktivitas antipiretik selain aktivitasnya sebagai antiinflamasi dan analgesik.

Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa tanaman yang mengandung flavonoid memiliki efek antipiretik seperti tanaman jati belanda (Kusumandaru, 2009), umbi bawang merah (Setiyawan, 2005) dan asam jawa (Juliana, 2008)

Penurunan suhu rata-rata tikus bervariasi meskipun terdapat dalam satu kelompok yang sama. Hal tersebut disebabkan oleh faktor endogen masing-masing tikus yang berbeda-beda terhadap zat pirogen. Stres pada tikus karena pengukuran suhu rektal yang berulang-ulang juga termasuk faktor yang dapat menyebabkan kenaikan suhu tikus. Penurunan efek obat mungkin merupakan akibat dari penyerapan yang jelek pada saluran cerna, pembuluh darah atau peningkatan ekskresi ginjal


(5)

commit to user

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Terdapat efek antipiretik pada ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri

L.) terhadap tikus putih (Ra ttus norvegicus) dengan demam yang diinduksi vaksin DPT.

2. Ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.) dosis 75,6 mg/200 gr BB tikus dan 151,2 mg/200 gr BB tikus memiliki efek antipiretik yang sebanding dengan parasetamol.

B. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dosis ekstrak Herba Meniran (Phylla nthus niruri L.) yang lebih bervariasi dan waktu pengukuran suhu yang lebih lama sehingga dapat diketahui dosis efektif yang berefek antipiretik.

2. Untuk menjamin keamanan pemakaiaannya, hendaknya dilakukan uji

toksisitas ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) terhadap organ-organ tertentu, seperti hati, lambung dan ginjal.

3. Perlu dilakukan isolasi dan penelitian lebih lanjut mengenai substansi yang terdapat pada ekstrak herba meniran (Phylla nthus niruri L.) yang diduga memiliki efek antipiretik.


(6)

Dokumen yang terkait

PENGARUH EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DIINDUKSI POTASIUM OKSONAT

3 32 19

EFEK ANTIPIRETIK DEKOK DAUN SIRIH (Piper betle L) TERHADAP PENURUNAN SUHU TUBUH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIBERI VAKSIN DPT

1 23 1

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK HERBA MENIRAN (Phyllantus niruri L.) SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR TERHADAP KADAR BILIRUBIN TOTAL SERUM TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

1 5 1

PENGARUH EKSTRAK MENIRAN (Phyllanthus niruri L.) TERHADAP KADAR MALONDIALDEHID (MDA) PLASMA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus strain wistar) YANG DIPAPAR ASAP ROKOK

0 11 15

EFEK HAMBATAN PEMBENTUKAN DEMAM YANG DIINDUKSI VAKSIN DPT OLEH PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

0 3 16

EFEK HAMBATAN PEMBENTUKAN DEMAM YANG DIINDUKSI VAKSIN DPT OLEH PERASAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) TERHADAP TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) (PENELITIAN EKSPERIMENTAL LABORATORIS)

0 3 16

PENGARUH EKSTRAK HERBA MENIRAN (Phyllantus niruri L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

0 3 70

UJI EFEK ANTIPIRETIK FRAKSI ETIL ASETAT DARI EKSTRAK ETANOL HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri. L) TERHADAP TIKUS Uji efek antipiretik fraksi etil asetat dari ekstrak etanol herba meniran (phyllanthus niruri. l)terhadap tikus putih jantan(rattus norvegicu

0 0 14

PENDAHULUAN Uji efek antipiretik fraksi etil asetat dari ekstrak etanol herba meniran (phyllanthus niruri. l)terhadap tikus putih jantan(rattus norvegicus) galur wistar.

0 1 5

DAFTAR PUSTAKA Uji efek antipiretik fraksi etil asetat dari ekstrak etanol herba meniran (phyllanthus niruri. l)terhadap tikus putih jantan(rattus norvegicus) galur wistar.

0 1 5