Budidaya Tanaman Stroberi Sebagai Penunjang Kepariwisataan Di Daerah Ciwidey

BUDIDAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY

KERTAS KARYA
OLEH

SISKA PERTIWI
082204076

PROGRAM STUDI D-III PARIWISATA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011

LEMBAR PERSETUJUAN

BUDIDAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY

OLEH
SISKA PERTIWI
082204076

Dosen Pembimbing,

Dosen Pembaca,

Drs. Marzaini Manday, MSPD
NIP. 19570322 198602 1 002

Drs. Jhonson Pardosi, M. Si
NIP. 19660420 199203 1 003

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Kertas Karya :Budidaya Tanaman Stroberi Sebagai
Penunjang
Kepariwisataan di Daerah Ciwidey
Oleh

: Siska Pertiwi

NIM

: 082204076

FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Dekan,

Dr.Syahron Lubis, M.A.
NIP. 19511013 197603 1 001

PROGRAM STUDI D3 PARIWISATA
Ketua,

Arwina Sufika, S.E., M.Si.
NIP. 19640821 199802 2 001

ABSTRAK
BUDIDAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY
Ciwidey merupakan salah satu dari ratusan daerah tujuan wisata yang
memukau di Indonesia . salah satu objek wisatanya adalah agrowisata stroberi yang
terletak di sepanjang jalan menuju objek wisata alam Ciwidey. Dengan adanya
keberadaan agrowisata ini diharapkan mampu mendongkrak kepariwisataan di daerah
ini yang lebih dikenal dengan wisata alamnya. Bukan hanya itu saja, keberadaan
agrowisata ini juga diharapkan dapat menghilangkan kejenuhan wisatawan terhadap
objek wisata alam yang tanpa aktivitas dengan memetik sendiri stroberi yang ada di
kebun-kebun milik petani. Sumber ini didapatkan dari data primer yang di dapat dari
lapangan dan data sekunder di dapat dari informasi- informasi dari buku.
Keywords : Agrowisata Ciwidey.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
anugerahNya, sehingga penulis kertas karya yang berjudul : “ Budidaya Tanaman
Stroberi Sebagai Penunjang Kepariwisataan di Daerah Ciwidey”

dapat

diselesaikan oleh penulis dengan baik.
Kertas karya ini merupakan tugas akhir untuk menyelesaikan studi pada
Program Studi Pariwisata dan disusun untuk memenuhi salah satu syarat akademis
dalam menempuh ujian Diploma III dalam Program Studi Pariwisata, Bidang
Keahlian Usaha Wisata, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
Dan dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih
atas bimbingan, nasehat, dan bantuan yang telah diberikan sebelum dan sesudahnya
kepada :
1. Drs. Syahron Lubis, M.A., Selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas
Sumatera Utara.
2. Arwina Sufikha, S.E., M.Si. selaku Ketua Program Studi Pariwisata, Fakultas
Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.
3. Solahuddin Nasution, S.E, M.SP, selaku Koordinator Praktek Bidang Keahlian
Usaha Wisata, Jurusan Pariwisata Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera
Utara.
4. Marzaini Manday, MSPD, selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan
bimbingan dan petunjuk dalam menyelesaikan kertas karya ini.

5. Drs. Jhonson Pardosi, M.Si. selaku Dosen Pembaca yang telah memberikan
saran dan petunjuk atas penyempurnaan kertas karya ini.
6. Yang sangat berarti dan istimewa yaitu Ayahanda Ilham Siswanto dan Ibunda
Marini, terima kasih buat doa dan kasih sayang yang tak ternilai dan
pengorbanan yang tidak henti-hentinya.
7. Teman-temanku yang tak terlupakan di Usaha Wisata 2008: Risha Suciana
Argenso, Putri Nurisa, Vachriza Risty atas bantuan dan dukunganya, buat Armes
dan Yusardi yang membantu penulis dalam menyelesaikan kertas karya ini.
Penulis menyadari banyak kekurangan yang terdapat dalam kertas karya ini.
Untuk itu, penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun dari para
pembaca. Besar harapan penulis kiranya kertas karya ini dapat berguna bagi para
pembaca.

Medan, Maret 2011
Penulis

Siska Pertiwi
NIM : 082204076

DAFTAR ISI

HALAMAN
KATA PENGANTAR ..............................................................................

i

DAFTAR ISI ............................................................................................

iii

ABSTRAK .................................................................................................

v

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Alasan Pemilihan Judul .......................................................................

1

1.2 Pembatasan Masalah ...........................................................................

2

1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................

2

1.4 Metode Penelitian ................................................................................

2

1.5 Sistematika Penulisan ........................................................................

3

BAB II

URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN DAN
AGROWISATA

2.1 Pengertian Pariwisata ......................................................................... 5
2.2 Pengertian Industri Pariwisata ............................................................. 8
2.3 Pengertian Agrowisata ........................................................................ 10
BAB III

TINJAUAN UMUM DAERAH CIWIDEY

3.1 Keadaan umum daerah Ciwidey .......................................................... 15
3.2 Kependudukan ..................................................................................... 16

3.3 Kepariwisataan daerah Ciwidey ......................................................... 16
BAB IV BUDI DAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY
4.1 Sejarah Tanaman Stroberi ……………………………………………. 23
4.2 Manfaat Stroberi …………………………………………………….. 27
4.3 Peran Stroberi Dalam Menunjang Kepariwisataan ………………….. 27
4.2 Pertanian Organik Sebagai Upaya Meningkatkan Jumlah
Wisatawan…………………………………………………………… 30
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
5.1 Kesimpulan ........................................................................................ 35
5.2 Saran-saran ......................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 37
LAMPIRAN

ABSTRAK
BUDIDAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY
Ciwidey merupakan salah satu dari ratusan daerah tujuan wisata yang
memukau di Indonesia . salah satu objek wisatanya adalah agrowisata stroberi yang
terletak di sepanjang jalan menuju objek wisata alam Ciwidey. Dengan adanya
keberadaan agrowisata ini diharapkan mampu mendongkrak kepariwisataan di daerah
ini yang lebih dikenal dengan wisata alamnya. Bukan hanya itu saja, keberadaan
agrowisata ini juga diharapkan dapat menghilangkan kejenuhan wisatawan terhadap
objek wisata alam yang tanpa aktivitas dengan memetik sendiri stroberi yang ada di
kebun-kebun milik petani. Sumber ini didapatkan dari data primer yang di dapat dari
lapangan dan data sekunder di dapat dari informasi- informasi dari buku.
Keywords : Agrowisata Ciwidey.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Alasan pemilihan judul
Dengan posisi geografis di khatulistiwa serta kondisi alam, hayati dan budaya

yang beragam, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan agrowisata.
Kegiatan ini di harapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus
melestarikan sumber daya lahan yang ada. Agrowisata merupakan bagian dari objek
wisata yang memanfaatkan usaha pertanian sebagai objek wisata. Melalui
pengembangan agrowisata yang menonjolkan budaya lokal dalam memanfaatkan
lahan, kita bisa meningkatkan pendapatan petani sambil melestarikan sumber daya
lahan, serta memelihara budaya maupun teknologi lokal yang umumnya telah sesuai
dengan kondisi lingkungan alaminya.
Ciwidey adalah sebuah kecamatan di kabupaten Bandung, Jawa Barat yang di
kenal sebagai tujuan pariwisata, dan juga sebagai daerah penghasil produk-produk
pertanian dan perkebunan, salah satunya adalah stroberi. Stroberi merupakan salah
satu jenis buah-buahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Prospek usaha stroberi
sangat menjanjikan. Produksi buah yang sampai sekarang belum dapat memenuhi
permintaan pasar ini memiliki harga jual yang cukup tinggi. Produk olahan stroberi
juga banyak di minati di pasaran. Stroberi dapat di olah menjadi selai, manisan, sirop,
dodol, yoghurt, maupun es krim.
Berdasarkan alur pikir tersebut, penulis tertarik untuk menguraikan beberapa
hal yang menyangkut tanaman stroberi dalam sebuah karya tulis dengan judul :

“BUDI

DAYA

TANAMAN

STROBERI

SEBAGAI

PENUNJANG

KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY”.

1.2

Batasan masalah
Agar penulisan kertas karya ini tidak keluar dari jalur yang sebenarnya, maka

penulis membatasinya dalam ruang lingkup permasalahan. Dan masalah yang di
tuangkan hanyalah sebatas bagaimana peranan budi daya tanaman stroberi sebagai
penunjang kepariwisataan di daerah Ciwidey?
Dengan memberikan batasan masalah tersebut, di harapkan pembaca dapat
mengerti dan memahami dari hal yang di jabarkan dalam penulisan agar tercapai
maksud dan tujuan penulisan.

1.3

Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan penulisan kertas karya ini adalah untuk mengetahui budidaya

tanaman stroberi sebagai penunjang kepariwisataan di daerah Ciwidey.
Adapun manfaat penulisan kertas karya ini adalah :
1. Sebagai salah satu syarat akademis untuk menyelesaikan pendidikan
Diploma III Program Studi Bidang Keahlian Usaha Wisata Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara.
2. Dapat menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam bidang
agrowisata.
3. Sebagai bahan kajian dan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan
dalam bidang agrowisata.

1.4

Metode Penelitian
Dalam penulisan kertas karya ini, penulis mendapat informasi baik itu

langsung ataupun tidak langsung yang berkaitan dengan judul kertas karya ini.dalam
mengumpulkan data-data yang akurat, penulis mengambil dari beberapa sumber,
yaitu :
1.

Library research (studi kepustakaan),yaitu mengambil informasi yang
berkaitan dengan judul melalui sumber tulisan dari data-data
kepustakaan atau diktat-diktat dan sumber data informasi yang dapat di
pertanggung-jawabkan.

2.

Field research(studi ke lapangan), yaitu pengumpulan data ke objek itu
sendiri dengan langsung mengadakan penyelidikan di lapangan.

1.5

Sistematika Penulisan
Penulisan kertas karya ini mempunyai sistematika penulisan yang bertujuan

memperoleh suatu bentuk susunan karangan ilmiah yang sistematis dan memudahkan
pembaca mengikuti dan memahami kertas karya ini. Untuk itu penulis menguraikan
dalam bab demi bab yang terdiri dari 5 bab, yakni sebagai berikut :
Bab I :

Merupakan bab pendahuluan yang memuat tentang alasan
pemilihan

judul,

ruang

lingkup

permasalahan,

tujuan

penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II :

Mencakup uraian teoritis tentang pengertian kepariwisataan
dan pengertian agrowisata.

Bab III :

Berisikan tentang tinjauan umum daerah Ciwidey yang terdiri
dari keadaan dan letak geografi, kependudukan serta
kepariwisataan di daerah Ciwidey.

Bab IV :

Budi daya tanaman stroberi sebagai penunjang kepariwisataan
di daerah ciwidey yang terdiri dari sejarah tanaman stroberi,
manfaat

stroberi,

kepariwisataan

peran

serta

stroberi

usaha

petani

dalam

menunjang

stroberi

dalam

meningkatkan mutu dan kualitas hasil panennya
Bab V :

Merupakan bab penutup dalam kertas karya ini yang berisikan
tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN
DAN AGROWISATA

2.1.

Pengertian Pariwisata
Jika kita tinjau lebih dalam arti dari Pariwisata itu menurut asal katanya, pari

yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar dan wisata yang berarti perjalanan
atau bepergian. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa pariwisata merupakan
suatu perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat ke
tempat lain (Yoeti, 1996:112). Kegiatan pariwisata sejak dahulu sesungguhnya sudah
banyak dilakukan oleh masyarakat kita, hanya saja istilah tersebut mulai terdengar
dan menjadi popular di tengah-tengah masyarakat Indonesia sekitar tahun 1958, yaitu
setelah diselenggarakanya Musyawarah Nasional Tourism ke II tretes, Jawa Timur
pada tanggal 12 sampai dengan 14 Juni 1958.
Menurut Robert W. Mac Intosh, (Dalam Yoeti, 2003:48) “…Pariwisata adalah
sejumlah gejala dan hubungan yang timbul, mulai dari interaksi antara wisatawan,
perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan dan
pemerintah serta masyarakat yang bertindak sebagai tuan rumah dalam proses
menarik dan melayani wisatawan yang dimaksud”, Sedangkan menurut Salah Wahap
(Dalam Yoeti, 1996 : 116) “…Pariwisata adalah suatu aktivitas manusia yang
dilakukan secara sadar yang mendapat pelayanan dalam suatu negara itu sendiri
(diluar negeri), untuk sementara waktu dalam mencari kepuasan yang beranekaragam
dan berbeda dengan apa yang dialaminya dimana ia memperoleh pekerjaan tetap”.

Sedangkan

menurut

Undang-Undang

No.

9

tahun

1990

tentang

kepariwisataan menyatakan bahwa :
1. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut
yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati
objek dan daya tarik wisata.
2. Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.
3. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan atau berkaitan
dengan wisata, yakni semua penyelenggara wisata.
4. Pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan dari suatu tempat ke tempat
lain yang dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah tour.
Dari beberapa batasan yang telah diberikan oleh para ahli seperti di atas,
walaupun berbeda cara pengungkapannya namun pada dasarnya memiliki ciri dan arti
yang dapat disamakan.

2.1.2

Pengertian Wisatawan
Pengertian wisatawan yang diberikan oleh International Union Of Official

Travel Organization (IUOTO) dikemukakan dalam The United Conference On
International Travel and Tourism pada konferensi Roma tahun 1963 “…Wisatawan
adalah seseorang yang berpergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat
lain dan berdiam di tempat tersebut lebih dari 24 jam”, ( Kusudianto Hadinoto, 1996 :
14).

2.1.3

Pengertian dan Defenisi Objek dan Atraksi Wisata
Dalam dunia kepariwisataan, objek dan atraksi wisata merupakan salah satu

unsur yang sangat menentukan berkembang tidaknya suatu industri pariwisata. Istilah

objek dan atraksi wisata ini baru dikenal oleh masyarakat kita setelah dikeluarkanya
UU No. 24 tahun 1990 tentang kepariwisataan sebagai berikut :
1. Keputusan Menparpostel No. KM. 98/PW/MPPT-87 tentang Ketentuan Usaha
Objek Wisata, menyatakan bahwa “…Objek Wisata adalah tempat atau keadaan
alam yang memiliki sumber daya wisata yang dibangun dan dikembangkan
sehingga mempunyai daya tarik dan diusahakan sebagai tempat yang dikunjungi
wisatawan”.
2. Keputusan Bersama Menparpostel, Mendikbud dan Mendagri No. KM
139/PW/.004/MPPT-89;

No.

0712/u/1989

tentang Pembinaan dan

Pengembangan Objek Wisata Budaya, menyatakan bahwa “…Atraksi Wisata
adalah tempat atau keadaan alam, system sosial, budaya serta peninggalan
sejarah dan perwujudan ciptaan manusia yang menarik untuk dikunjungi oleh
wisatawan”.
Jika kita perhatikan secara sepintas kedua unsur di atas, yaitu objek dan
atraksi wisata memiliki pengertian yang sama, namun sesungguhnya terdapat sedikit
perbedaan. Adapun perbedaanya adalah : “…Objek Wisata yaitu suatu tempat atau
keadaan alam yang memiliki sumber daya wisata yang sudah ada secara turuntemurun ataupun yang dibangun serta dikembangkan, sehingga mempunyai daya
tarik”. Sedangkan “…Atraksi Wisata (Tourist Attraction) yaitu segala sesuatu yang
menarik untuk dilihat, dirasakan serta untuk dinikmati yang memerlukan persiapan
terlebih dahulu untuk disuguhkan bagi wisatawan”, (Dalam yoeti, 1996 : 178, 181).
Menurut Marioti (Dalam Yoeti, 1996:172), jika ditinjau dari beberapa unsur
yang terkandung di dalamnya, objek dan atraksi wisata memiliki pengertian sebagai

segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata merupakan daya tarik agar
orang-orang mau datang berkunjung ke tempat tersebut. Oleh karena itu objek dan
atraksi wisata sebagai daya tarik wisata dapat dibagi ke dalam 4 kelompok , yaitu
sebagai berikut:
1. Alam (nature) adalah segala sesuatu yang berasal dari alam yang
dimanfaatkan dan diusahakan menjadi tempat wisata yang dapat dinikmati
dan dapat memberi kepuasan bagi wisatawan,misalnya keindahan alam,
flora dan fauna, pemandangan alam, dan lain-lain.
2. Kebudayaan (culture) adalah segala sesuatu yang berupa daya tarik yang
berasal dari seni dan kreasi manusia, misalnya upacara adat dan upacara
keagamaan.
3. Buatan manusia (man made) adalah segala sesuatu yang merupakan hasil
karya ciptaan manusia yang dapat dijadikan sebagai objek wisata,
misalnya candi-candi, prasasti,monument, dan kerajinan tangan.
4. Manusia (human being) adalah segala sesuatu yang merupakan aktivitas
atau kegiatan hidup manusia (way of life) yang khas dan mempunyai daya
tarik tersendiri yang dapat dijadikan sebagai objek wisata, misalnya sukusuku pedalaman yang berada di daerah Kalimantan dan Irian Jaya dengan
cara hidup mereka yang masih primitif dan unik.
Menurut Soekadijo (1997 : 61-62), atraksi wisata yang baik seharusnya
memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1. Kegiatan (act) dan objek (artifact) yang merupakan atraksi itu sendiri
harus dalam keadaan yang baik.
2. Karena atraksi wisata itu harus disajikan di hadapan wisatawan, maka cara
penyajianya harus tepat.
3. Keadaan di tempat atraksi harus dapat menahan wisatawan cukup lama
4. Kesan yang diperoleh wisatawan waktu menyaksikan atraksi wisata harus
diusahakan dapat bertahan selama mungkin
2.2

Pengertian Industri Pariwisata
Dalam literatur kepariwisataan luar negeri kata industri pariwisata disebut

dengan istilah Tourism Industry atau ada pula yang menyebutnya dengan istilah
Travel Industry. Sebenarnya pengertian kedua istilah itu dapat disamakan, hanya saja
dalam bahasa Indonesia kedua istilah itu lebih menunjukan sifat jamaknya, sedangkan

yang biasa dipergunakan sehari-hari adalah Industri Pariwisata sama halnya dengan
penggunaan istilah Tourism Industry di luar negeri.
Pariwisata sebagai suatu industri baru dikenal di Indonesia setelah
dikeluarkanya Instruksi Presiden RI No. 9 tahun 1969 pada tanggal 6 Agustus 1969
(dalam Yoeti, 1996:11), dimana dalam Bab II pasal 3 disebutkan “…Usaha-usaha
pengembangan pariwisata di Indonesia bersifat suatu pengembangan industri
pariwisata dan merupakan bagian dari usaha pengembangan dan pembangunan serta
kesejahteraan masyarakat dan negara”.
Menurut Kusudianto Hadinoto (1996:11), “…Industri Pariwisata adalah suatu
susunan organisasi, baik pemerintah maupun swasta yang terkait dalam
pengembangan, produksi, dan pemasaran produk suatu layanan untuk memenuhi
kebutuhan dari orang yang sedang berpergian (pelancong atau musafir)”.
Sementara itu Bernecker (1956) mengatakan bahwa, “…Industri Pariwisata
merupakan kesatuan ekonomi yang memberi pelayanan untuk memberi kepuasan
serta memenuhi kebutuhan wisatawan atau yang berkaitan dengan itu”. (Dalam Yoeti,
2003 :52)
Pendapat di atas mempunyai kesamaan pengertian dengan definisi yang
diberikan oleh R.S. Damarjadi (Dalam Yoeti, 1996: 153), yakni “…Industri
pariwisata adalah kumpulan dari bermacam-macam perusahaan yang secara bersama
menghasilkan barang-barang dan jasa yang dibutukan wisatawan pada khususnya dan
traveler pada umumnya selama dalam perjalananya”.
Secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa pariwisata dapat
dikatakan sebagai suatu industri karena dibentuk oleh beberapa atau gabungan dari

berbagai perusahaan yang bergerak dibidang jasa ataupun non jasa yang saling
bekerja sama dan sama-sama bekerja menghasilkan suatu barang atau produk wisata
yang dibutuhkan oleh wisatawan pada khususnya dan traveler pada umumnya selama
dalam perjalananya semenjak ia meninggalkan tempat kediamanya dimana biasa ia
tinggal sampai di tempat tujuan dan kembali lagi ke rumah dari mana ia berangkat
semula.
Untuk dapat membedakan antara industri biasa pada umumnya dengan
industri pariwisata, berikut ini dijelaskan sifat-sifat khusus industri pariwisata yang
dapat menuntun kita kepada pengertian yang benar akan industri pariwisata (Dalam
Yoeti, 1996: 169-167) :
1. Hasil atau produk industri pariwisata itu tidak dapat di pindah tempatkan.
2. Kegiatan produksi dan konsumsi terjadi pada saat yang bersamaan.
3. Hasil dan produk industri tidak dapat ditimbun, seperti halnya terjadi pada
industri barang lainya.
4. Hasil atau produk industri pariwisata itu tidak mempunyai standar atau
ukuran yang obyektif, seperti halnya dengan industri barang lainya yang
mempunyai ukuran panjang,lebar, isi, dan lain-lain.
5. Calon konsumen tidak dapat mencoba atau mencicipi produk yang
dibelinya.
6. Dari segi kepemilikan usaha, penyediaan produk industri pariwisata
dengan membangun sasaran kepariwisataan yang memakan biaya besar,
memiliki tingkat resiko yang tinggi karena perubahan elastisitas
permintaan sangat peka sekali.

2.3

Pengertian Agrowisata
Agrowisata merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris, agrotourism.

Agro berarti pertanian dan tourism berarti pariwisata/kepariwisataan. Agrowisata
adalah berwisata ke daerah pertanian. Pertanian dalam arti luas mencakup pertanian
rakyat, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Pengembangan agrowisata atau desa

wisata akan membangun komunikasi yang intensif antara petani dengan wisatawan.
Harapanya petani bisa lebih kreatif mengola usaha taninya sehingga mampu
menghasilkan produk yang menyentuh hati wisatawan.
Menurut Yoeti (2000:143) “…Agrowisata adalah suatu jenis pariwisata yang
khusus menjadikan hasil pertanian, peternakan, perkebunan sebagai daya tarik bagi
wisatawan”. Dan menurut R.S. Damardjati (1995:5) “…Agrowisata adalah wisata
pertanian dengan objek kunjungan daerah pertanian atau perkebunan yang sifatnya
khas, yang telah dikembangkan sedemikian rupa sehingga berbagai aspek yang terkait
dengan jenis tumbuhan yang dibudidayakan itu telah menimbulkan motivasi dan daya
tarik bagi wisatawan yang mengunjunginya”. Aspek-aspek itu antara lain jenis
tanaman yang khas, cara budidaya dan pengelolaan produknya, penggunaan teknik
dan teknologi, aspek kesejarahanya, lingkungan alam dan juga sosial budaya
disekelilingnya.
Pengembangan agrowisata merupakan kombinasi antara pertanian dan dunia
wisata untuk liburan di desa. Atraksi dari agrowisata adalah pengalaman bertani dan
menikmati produk kebun bersama dengan jasa yang disediakan. agrowisata telah
berkembang dan tercatat dalam basis data Direktorat Jenderal Pariwisata 1994/1995
terdapat delapan propinsi yaitu Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah dan
DIY, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Agrowisata
umumnya masih berupa hamparan suatu areal usaha pertanian dari perusahaanperusahaan besar hingga petani kecil yang dikelola secara modern maupun tradisional
dengan latar belakang keindahan alam.

Agrowisata dapat dikelompokan ke dalam wisata ekologi (eco-tourism),
Deptan (2005:94) yakni”…kegiatan perjalanan wisata dengan tidak merusak atau
mencemari alam dengan tujuan untuk mengagumi dan menikmati keindahan alam,
hewan atau tumbuhan liar dilingkungan alaminya serta sebagai sarana pendidikan”.
Antara ekowisata dan agrowisata berpegang pada prinsip yang sama. Prinsip-prinsip
tersebut, menurut Wood, 2000 (Dalam Pitana, 2002) adalah sebagai berikut:
1. Menekankan serendah-rendahnya dampak negatif terhadap alam dan
kebudayaan yang dapat merusak daerah tujuan wisata.
2. Memberikan pembelajaran kepada wisatawan mengenai pentingnya suatu
pelestarian.
3. Menekankan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab yang
bekerjasama dengan unsur pemerintah dan masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan penduduk lokal dan memberikan manfaat pada usaha
pelestarian.
4. Mengarahkan keuntungan ekonomi secara langsung untuk tujuan
pelestarian, manajemen sumberdaya alam dan kawasan yang dilindungi.
5. Memberikan penekanan pada kebutuhan zona pariwisata regional dan
penataan serta pengelolaan tanam-tanaman untuk tujuan wisata di
kawasan-kawasan yang ditetapkan untuk tujuan wisata tersebut.
6. Memberikan penekanan pada kegunaan studi-studi berbasiskan
lingkungan dan sosial, dan program-program jangka panjang, untuk
mengevaluasi dan menekan serendah-rendahnya dampak pariwisata
terhadap lingkungan.
7. Mendorong usaha peningkatan manfaat ekonomi untuk negara, pebisnis,
dan masyarakat lokal, terutama penduduk yang tinggal di wilayah sekitar
kawasan yang dilindungi.
8. Berusaha untuk meyakinkan bahwa perkembangan pariwisata tidak
melampui batas-batas sosial dan lingkungan yang dapat diterima seperti
yang ditetapkan para peneliti yang telah bekerjasama dengan penduduk
lokal.
9. Mempercayakan pemanfaatan sumber energi, melindungi tumbuhtumbuhan dan binatang liar, dan menyesuaikanya dengan lingkungan alam
dan budaya.
Menurut Utama (2005) Pengembangan agrowisata dapat diarahkan dalam
bentuk ruangan tertutup, ruangan terbuka atau kombinasi antara keduanya.

Agrowisata ruang terbuka dapat dilakukan dalam dua pola yaitu alami dan buatan,
yang dapat dirinci sebagai berikut :
1. Agrowisata Ruang Terbuka Alami
Objek agrowisata ruangan terbuka alami ini berada pada areal dimana
kegiatan tersebut dilakukan langsung oleh masyarakat petani setempat sesuai
dengan kehidupan keseharian mereka. Masyarakat melakukan kegiatanya
sesuai dengan apa yang biasa mereka lakukan tanpa ada pengaturan dari pihak
lain. Untuk memberikan tambahan kenikmatan kepada wisatawan, atraksiatraksi spesifik yang dilakukan oleh masyarakat dapat lebih ditonjolkan,
namun tetap menjaga nilai estetika alaminya. Sementara fasilitas pendukung
untuk kenyamanan wisatawan tetap disediakan sejauh tidak bertentangan
dengan kultur dan estetika asli yang ada, seperti sarana transportasi, tempat
berteduh dan keamanan dari binatang buas. Contoh agrowisata terbuka alami
adalah kawasan Suku Baduy di Pandeglang dan Suku Naga di Tasikmalaya,
Jawa Barat, Suku Tengger di Jawa Timur, Bali dengan teknologi subaknya
dan Papua dengan berbagai pola atraksi pengelolaan lahan untuk budidaya
umbi-umbian.
2. Agrowisata Ruang Terbuka Buatan
Kawasan agrowisata ruang terbuka buatan ini dapat didesain pada kawasankawasan yang spesifik, namun belum dikuasai atau disentuh oleh masyarakat
adat. Tata ruang peruntukan lahan diatur sesuai dengan daya dukungnya dan
komoditas pertanian yang dikembangkan memiliki nilai jual untuk wisatawan.
Demikian pula teknologi yang diterapkan diambil dari budaya masyarakat
lokal yang ada, diramu sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan produk
atraksi agrowisata yang menarik. Fasilitas pendukung untuk akomodasi
wisatawan dapat disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern,
namun tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada. Kegiatan wisata
ini dapat dikelola oleh suatu badan usaha, sedang pelaksananya tetap
dilakukan oleh petani lokal yang memiliki teknologi yang diterapkan.
Menurut Tirtawinata dan Fachruddin (1996), prinsip yang harus dipegang
dalam sebuah perencanaan agrowisata yaitu sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Perencanaan agrowisata sesuai dengan rencana pengembangan wilayah
tempat agrowisata itu berada,
Perencanaan dibuat secara lengkap, tetapi sesederhana mungkin,
Perencanaan mempertimbangkan tata lingkungan dan kondisi sosial
masyarakat sekitar,
Perencanaan selaras dengan sumber daya alam, sumber daya manusia,
sumber dana dan teknik-teknik yang ada dan
Perlu dilakukan evaluasi sesuai dengan perkembangan yang ada.

Ada beberapa aspek yang perlu dilaksanakan untuk pengembangan wisata
agro menurut Situs Departemen Pertanian (2007) yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Aspek pengembangan sumber daya manusia
Aspek sumber daya alam
Aspek promosi, baik melalui media informasi atau dari mulut ke mulut
Aspek sarana transportasi
Aspek kelembagaan, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat

Pengembangan agrowisata diharapkan sesuai dengan kapabilitas, tipologi, dan
fungsi ekologis lahan sehingga akan berpengaruh langsung terhadap kelestarian
sumber daya lahan dan pendapatan petani serta masyarakat sekitarnya. Kegiatan ini
secara tidak langsung akan meningkatkan persepsi positif petani serta masyarakat
sekitarnya akan arti pentingnya pelestarian sumber daya lahan pertanian.

BAB III
TINJAUAN UMUM DAERAH CIWIDEY

3.1

Keadaan dan letak geografi
Ciwidey adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa

Barat yang berjarak ± 8 Km di sebelah selatan kota Bandung, dapat ditempuh dengan
transportasi darat selama lebih kurang satu setengah jam perjalanan. Ciwidey terletak
pada ketinggian ± 1600 diatas permukaan laut yang merupakan bagian dari
Kabupaten Bandung yang terletak pada koordinat 6° 41` - 7° 19` LS dan 107 °22` 108° 5` BT, dan berbatasan dengan :
- Sebelah utara berbatasan dengan Kota Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten
Sumedang
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Garut
Luas Kabupaten Bandung lebih kurang 1.762,39 km2 dengan jumlah
penduduk lebih kurang 3.038.038 jiwa pada survei tahun 2007. Terdapat 31
Kecamatan di Kabupaten Bandung dan 277 Desa/Kelurahan. Salah satunya adalah
Kecamatan Ciwidey yang mempunyai 7 desa/kelurahan antara lain : Ciwidey,
Lebakmuncang, Panundaan, Panyocokan, Rawabogo, dan Sukawening.
Kecamatan Ciwidey berhawa dingin dengan suhu rata-rata 23,5 C. Suhu udara
yang sejuk menjadikan Ciwidey sebagai daerah perkebunan dan agrowisata serta

sangat ideal sebagai daerah peristirahatan bagi wisatawan domestik maupun
mancanegara. (Pengembangan Pariwisata Bandung Selatan, 2010)

3.2

Kependudukan
Di Kecamatan Ciwidey mayoritas penduduknya adalah suku Sunda yang

bertutur dengan menggunakan bahasa sunda dan diikuti dengan suku Jawa, Betawi
dan Cirebon. Agama yang dianut mayoritas adalah Islam diikuti dengan Agama
Kristen, Budha dan Hindu. Sebahagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian
dan juga bercocok tanam hal ini dikarenakan keadaan tanah yang subur sehingga
sangat cocok untuk daerah pertanian. Dengan iklim yang sejuk dan tanah yang subur,
maka banyak jenis tanaman dan buah-buahan yang dihasilkan di daerah ini. Selain itu
penduduk di di daerah Ciwidey juga sebagian bermata pencaharian di bidang Industri,
Perdagangan dan Sektor Pelayanan.

3.3

Kepariwisataan daerah Ciwidey

3.3.1

Potensi Objek
Daerah Ciwidey yang terletak di dataran tinggi yang mempunyai udara sejuk

dan kondisi alamnya yang sangat mendukung menyimpan potensi yang luar biasa
yang dapat diandalkan untuk dikembangkan menjadi sentra-sentra pembangunan
daerah wisata. Adapun beberapa objek wisata yang berada di daerah tersebut antara
lain :

1. Situ Patenggan
Situ Patenggang adalah sebuah danau yang disertai legenda klasik kerajaan
masa lampau. Sejarah atau mitos tentang situ atau danau ini muncul ke permukaan
disebabkan karena seorang pangeran keponakan Prabu Siliwangi, Ki Santang dan
seorang putri gunung nan cantik jelita, Dewi Rengganis yang saling jatuh cinta.
Namun perjalanan cinta mereka tidak semulus dan seindah yang dibayangkan oleh
keduanya karena dipisahkan oleh keadaan. Sehingga air mata mereka membentuk
sebuah situ atau danau. Selanjutnya danau itu dinamai Situ Patenggan yang diambil
dari kata pateangan-teangan yang berasal dari bahasa sunda yang artinya saling
mencari-cari. Pada akhirnya mereka dapat berkumpul kembali pada sebuah batu di
situ tersebut yang diberi nama batu cinta. Di dalam danau terdapat berbagai jenis
ikan, antara lain mujair, nila, ikan mas, nilem, lele, dan paray. Di sekitar danau hidup
berbagai burung berparuh panjang, yang oleh masyarakat setempat dinamai burung
blekek dan tikukur. Di sekitar danau juga terdapat hutan lindung yang ditumbuhi
rumput dan pepohonan khas Jawa Barat. (Her Suganda, 2011)
2. Kawah Putih
Kawah putih terletak di daerah Selatan Kota Bandung, berjarak 46 km atau
2,5 jam dari kota Bandung sampai pintu gerbang menuju lokasi kawah. Dari pintu
masuk hingga ke kawah jaraknya sekitar 5 km atau bisa ditempuh sekitar 20 menit.
Melalui jalan beraspal yang berkelok-kelok dengan pemandangan hutan alam dengan
aneka ragam spesies tanaman. Kawah putih terletak di sebuah gunung yang bernama
Gunung Patuha. Dahulu kala, masyarakat menganggap kawah ini kawasan yang
angker karena banyak burung mati ketika melewati kawah ini.

Kepercayaan inipun lantas dibantah, ketika pada tahun1837 seorang ilmuan
Belanda Jerman Dr. Franz Wilhelm Junghun yang juga seorang pengusaha
perkebunan Belanda yang mencintai kelestarian alam melakukan penelitian dan
menemukan bahwa keangkeran tersebut tidak lain disebabkan oleh adanya semburan
lava belerang yang berbau sangat menyengat. Namun saat ditemukanya fakta tersebut
masyarakat belum tertarik menjadikan tempat ini sebagai objek wisata. Baru setelah
PT. Perhutani mengembangkan tahun 1987, kawasan Kawah Putih dijadikan sebuah
objek wisata di Jawa Barat. Air kawah di gunung ini selain warna airnya yang terang
dan juga selalu berubah-ubah. Inilah yang pada akhirnya menjadi daya tarik
tersendiri.
Permukaan kawah umumnya berbatu dan berpasir warna putih, sehingga
kawah ini kemudian dikenal sebagai kawah putih. Beberapa peneliti mengatakan
bahwa Gunung Patuha masih aktif, sehingga ditemukan beberapa pancaran kawah
yang masih bergejolak. Didekat tempat ini pula ditemukan sebuah goa sedalam 5
meter yang pernah dipakai sebagai tambang belerang.
Keindahan

danau

Kawah

Putih,

memang

sangat

mempesona

dan

menakjubkan. Ditambah lagi suhunya yang sejuk sepanjang hari. Mungkin karena
kawah ini terletak di gunung yang memiliki ketinggian sekitar 2.434m diatas
permukaan laut. Bahkan, jika sudah mengetahui keajaiban alamnya, pasti akan
mengatakan tak ada kawah yang seindah kawah putih. (Her Suganda, 2011)
3. Penangkaran Rusa Ranca Upas
Penangkaran Rusa Ranca Upas terletak di desa Alam Endah, Kecamatan
Ciwidey, Kabupaten Bandung. Wahana wisata ini terletak pada ketinggian 1700 m di

atas permukaan laut. Suhu udara rata-rata 18-230 C dengan curah hujan 3740-4050
mm/tahun. Hutan alam di sekitar Ranca Upas ditumbuhi pohon Puspa, Jamuju, Huru,
Kitambang, Kihujan, Hamirung dan Kurai. Sedangkan fauna yang dapat ditemukan di
kawasan ini antara lain burung tekukur, gagak, elang, monyet dan macan.
Pemandangan hutan alam serta penangkaran rusa dengan dengan kegiatan
wisata yang dapat dilakukan diantaranya berkemah, lintas alam dan pemandian air
panas. Pemandangan khas bumi perkemahan Ranca Upas adalah rusa-rusa jinak.
Tujuh ekor rusa pertama yang di ambil dari ragunan untuk ditangkarkan di Ranca
Upas di atas areal seluas 4-5 hektar. Tapi, setelah populasinya bertambah, hewanhewan itu tumbuh menjadi daya pikat bumi perkemahan. (Her Suganda, 2011)
4. Pemandian Air Panas Alam Cimanggu
Kolam pemandian air panas cimanggu berada pada ketinggian kurang lebih
1.100m di atas permukaan laut. Dikawasan objek wisata ini para pengunjung dapat
berjalan-jalan santai sambil menikmati kesejukan udara dan keindahan alam disekitar
objek wisata yang mempunyai dataran landai serta kawasan yang sedikit
bergelombang. Cimanggu terkenal dengan sumber air panasnya, dengan kandungan
belerang yang dapat dimanfaatkan untuk terapi penyembuhan berbagai penyakit
seperti penyakit kulit dan rematik ditempat ini juga disediakan berbagai fasilitas
kegiatan berwisata seperti kolam renang untuk anak dan dewasa, kamar-kamar tempat
berendam serta area tempat bermain anak. ( Her Suganda, 2011).

5. Perkebunan Teh
Keindahan panorama perkebunan teh merupakan daya tarik tersendiri daerah
wisata Ciwidey. Hamparan perkebunan teh yang tertata rapi dengan udara yang sejuk
dan segar memberikan kesan bagi siapa saja yang berkunjung.
6. Kampung Stroberi
Di daerah Ciwidey banyak sekali terdapat kebun stroberi yang di kelola secara
tradisional hingga professional. Stroberi adalah penghasilan utama penduduk di
Ciwidey. Hampir semua petani di Ciwidey menanam stroberi, dari di kebun hingga
pekarangan rumah. Wisatawan yang berkunjung diperbolehkan memetik sendiri,
sehingga ada kesan tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung saat memetik stroberi.
7. Kawah Cibuni
Letaknya kawah ini di kompleks gunung sepuh, Ciwidey. Areal kawah ini
memang layak dijadikan objek wisata. Panorama yang bagus dan juga hawanya yang
sejuk membuat kesenangan tersendiri bagi wisatawan. Meskipun jarak yang ditempuh
lumayan jauh, tetapi selalu saja ada orang berkunjung ke tempat ini untuk berekreasi.
Selain itu, ada pula yang berkunjung khusus untuk melakukan puja semedi dan
pengobatan alternatif. Tempat ini ditemukan oleh Jaka Lelana tahun 60-an. Jaka
Lelana adalah seorang pertapa yang sudah berkelana ke berbagai penjuru. Suatu
ketika, ia menemukan tempat ini setelah bertapa sekian lama. Jaka lalu masuk ke
dalam aliran Kawah Cibuni yang panas, namun tidak mengalami sesuatu apapun pada
tubuhnya. Jaka justru merasakan sesuatu yang aneh menjalari tubuh. Ada semacam
kekuatan yang meresap hingga tulang sumsum. Tak lama kemudian ia sadar bila air
dari kawah itu bisa menjadi obat mujarab untuk menangkal segala penyakit. Hanya

saja, saat Jaka naik kembali, tubuhnya mulai merasakan hawa panas dari air kawah.
Teryata, sewaktu masuk ke dalam air dirinya punya kekebalan akan rasa panas.
Air panas yang dihasilkan dari Kawah Cibuni memang mujarab mengobati
berbagai macam penyakit. Namun tidak semua orang kuat merasakan hawa panasnya.
Dia lantas melakukan semadi, berkomunikasi dengan penguasa alam gaib tempat itu.
Tempatnya di sekitar Pancoran Lima. Akhirnya, Jaka menemukan cara agar tempat
itu bisa dijadikan pemandian yang berfungsi untuk mengobati orang. Caranya, setiap
akan melakukan pengobatan harus di adakan semacam ritual berupa permohonan doa
kepada yang maha kuasa. Usai ritual, barulah air kawah bisa dipakai mandi, tanpa
merasakan panas meskipun air kawah dalam keadaan mendidih. Selanjutnya oleh
Jaka tempat itu kemudian dimodifikasi menjadi tempat pemandian, sekaligus tempat
olah kebatinan. Sejak saat itu, banyak orang menemukan kesembuhan setelah
berendam di Kawah Cibuni. Karena di makan usia, Ki Jaka kemudian meninggal
dunia. Peran beliau mengobati sesama digantikan oleh putranya, Ki Ulloh Maulana.
Dan seterusnya, setelah Ki Ulloh wafat, dilanjutkan istrinya Ibu Popon Ratnawaty,
yang hingga kini dengan setia menunggui Kawah Cibuni sekaligus menjadi juru
kunci (Eko Risanto, 2009).
3.3.2

Sarana dan Prasarana Pariwisata
Menurut Rahmat Lubis (1981 : 3) “…Prasarana adalah Semua fasilitas yang

memungkinkan proses perekonomian dapat berjalan dengan lancar sedemikian rupa
sehingga dapat memudahkan untuk memenuhi kebutuhanya”. Dunia kepariwisataan
juga mengenal prasarana dan sarana, dan bahkan tanpa prasarana dan sarana dunia

kepariwisataan tidak dapat memenuhi fungsinya dalam memberikan pelayanan.
Adapun prasarana yang tersedia antara lain:
1. Pada akhir tahun 2010 mulai dilaksanakan pembangunan jalan tol SoreangPasirkoja

dan

pelebaran

jalan

Ciwidey-Rancabali-Cianjur

Selatan.

Rencananya peletakan batu pertama pembangunan jalan tol Soraja dilakukan
akhir 2010 dan diharapkan selesai pada tahun 2013.
2. Pembangkit listrik dan air bersih yang sudah tersedia
3. Penyulingan bahan bakar minyak
4. Sistem telekomunikasi
5. Prasarana keamanan
Sarana pariwisata adalah fasilitas dan perusahaan yang memberikan
mundurnya pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak
langsung. Maju sarana kepariwisataan tergantung pada jumlah kunjungan wisatawan.
Sarana pariwisata yang tersedia meliputi :
1. Perusahaan perjalanan seperti agen perjalanan dan biro perjalanan
2. Sarana transportasi terutama transportasi angkutan wisata

BAB IV
BUDI DAYA TANAMAN STROBERI SEBAGAI PENUNJANG
KEPARIWISATAAN DI DAERAH CIWIDEY

4.1

Sejarah Tanaman Stroberi
Strawberry di kenal dengan nama arbei yang berasal dari bahasa belanda,

aardbei yaitu sebuah genus tumbuhan dalam keluarga Rosaceae. Di Indonesia, buah
ini di sebut “stroberi”. Ada kurang lebih 20 spesies stroberi. Spesies yang paling
umum ditanam untuk di jual adalah dari hasil penyilangan Fragaria x ananassa.
Stroberi merupakan berry yang paling terkenal dari semua berry dan termasuk
tanaman semak.
Nama lain buah lambang cinta ini adalah Fragaria. Nama tersebut berkaitan
dengan ‘fragrance’ atau ‘aroma’. Sedangkan nama strawberry berasal dari bahasa
inggris kuno streawberige yang merupakan gabungan dari strew atau “straw” dan
berige atau “berry”. Alasan pemberian nama ini masih tidak jelas. Konon nama
tersebut berkaitan dengan ‘straw’ alias merang yang di pakai untuk mengalasi buah
strawberry.
Tanaman ini sudah di budidayakan secara luas di area subtropika berbagai
belahan bumi. Melalui persilangan jenis tanaman ini di hasilkan berbagai jenis
stroberi baik dari ukuran, warna, bentuk, dan rasanya. Sebagai contoh, stroberi jenis
fragaria virginiana dari amerika utara di kenal dengan aromanya yang baik
sedangkan jenis fragaria chiloensis dari Chili di kenal dengan ukurannya yang besar.

Buah stroberi memang bukan buah asli Indonesia. Tanaman yang tergolong
sebagai tanaman buah herba ini pertama kali di temukan di Negara Chili, Amerika.
Salah satu spesiesnya yang terkenal adalah Fragaria chiloensis yang menyebar ke
berbagai belahan dunia seperti Amerika, Eropa, dan Asia. Selain itu, ada spesies
Fragaria vesca yang penyebarannya lebih luas lagi dan jenis stroberi inilah yang
pertama kali masuk ke Indonesia.
Sekarang ini ada lebih dari 700 macam buah stroberi yang menyebar di
seluruh penjuru dunia dan yang banyak kita temukan di pasar swalayan adalah
stroberi modern (komersil) fragaria x ananassa var duchesne yang di hasilkan dari
persilangan F. virgina var Duchesne asal amerika utara dengan F. chiloensis var
Duchesne asal Chili. Negara penghasil stroberi terbesar di dunia adalah Amerika
Serikat yang mencapai 245% dari total produksi dunia. Negara produsen lain yang
cukup potensial adalah Jepang, Meksiko, Polandia, Italia, dan New Zealand.
Di Amerika Serikat, stroberi di tanam terutama di Negara bagian California
dengan luas areal mencapai 37,7% dari seluruh areal produksi stroberi AS. Negara
bagian lain yang juga memproduksi stroberi adalah Florida, Oregon, Washington,
Louisiana, Michigan, New York, Ohio, New Jersey, dan Arkansas. Beberapa kultivar
stroberi yang banyak di tanam adalah Douglas, Pajaro, Chandler, dan Parker.
Indonesia pun tidak ketinggalan. Walaupun tidak sehebat di AS, stroberi juga sudah
di kenal luas oleh masyarakat Indonesia. Nenek moyang stroberi yang di budidayakan
di Indonesia berasal dari Amerika.

Buah stroberi yang di tanam di berbagai wilayah di dunia berasal dari buah
berry liar. Kalau awal jenisnya tak sampai 10 jenis, kini berkat perkembangan
teknologi pangan jenis stroberi menjadi ratusan. Hampir tiap wilayah memiliki jenis
yang berbeda. Demikian juga jenis stroberi yang di tanam di Indonesia, ada yang
berasal dari Belgia, Italia, dan Belanda. Bentuk buahnya ada yang kecil merah, kecil
agak pucat hingga jenis manis yang besar berwarna merah menyala.
Pada pertengahan tahun 1990-an, tanaman buah ini mulai di kenal dan di
kembangkan oleh petani Indonesia, khususnya oleh petani Rancabali Bandung, Jawa
Barat. Stroberi tumbuh cukup baik di daerah ini karena udaranya dingin menyerupai
habitat aslinya. Jenis stroberi yang banyak di tanam penduduk adalah fragaria
nilgerrensis, yang oleh warga setempat lebih di kenal sebagai stroberi nyoho. Stroberi
jenis lain yang juga mulai dibudidayakan adalah stroberi California (Fragaria
versca), Holland, dan Ananassa (Fragaria ananassa).
Sekitar tahun 1995, seorang petani diketahui membeli bibit stroberi dari luar
negeri dan mencoba menanamnya di Rancabali. Namun baru dua tahun kemudian,
yaitu tahun 1997, stroberi menjadi tanaman yang umum ditemui di halaman rumah
penduduk. Menyadari potensinya, pada tahun 1999 masyarakat mulai menaman
stroberi dalam skala besar.hanya saja ketika itu, pemasaran buah berwarna merah
berbintik kuning itu masih sulit karena mudah membusuk sedangkan pemasaranya
pun tidaklah jauh, baru seputar Bandung.

Sekitar tahun 2000, pasar stroberi mulai merambah ke luar Bandung, yaitu ke
Jakarta. Menyusul perbaikan di segi pengumpulan, pengemasan dan pemasaran,
terjadi booming stroberi pada tahun 2001. Setelah tiga tahun berselang, di tahun 2004
kebun stroberi mendominasi pertanian di dua kecamatan yang letaknya tidak jauh dari
Gunung Patuha. Ciwidey dan Rancabali yang dulu dikenal dengan kebun tehnya,
sekarang lebih dikenal dengan kebun stroberi.
Selain di daerah Jawa Barat, tanaman stroberi juga dapat di jumpai di Jawa
Tengah, yaitu di sentra pertanian Tawangmangu Kabupaten Karang Anyar. Jenis
stroberi yang di budidayakan yaitu jenis daun keriting tristar yang memang cocok di
tanam di daerah ini. Budidaya stroberi juga sudah di lakukan di daerah Sukabumi,
Cipanas, Lembang, Batu, dan Bedugul (Bali). Warna buah yang sangat mencolok
dengan bentuk mungil serta rasa yang manis segar telah menempatkan stroberi
sebagai tanaman buah yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Warna dan rasanya
yang khas menyebabkan buah stroberi sangat di gemari oleh seluruh lapisan
masyarakat, dari anak-anak hingga usia lanjut.
Paduan rasa manis dan asam, rupanya sudah jadi ciri buah mungil ini.
Uniknya, biji buah ini berada di bagian luar buah berbentuk sangat kecil sehingga
membuat tampilan buah jadi makin solid. Stroberi di jadikan lambang cinta pada
zaman yunani kuno. Apa karena bentuknya yang seperti hati? Teryata bukan. Stroberi
di jadikan sebagai lambang cinta oleh masyarakat yunani kuno karena warna, rasa,
dan manfaat buah ini. Buah berwarna merah ini kaya akan pigmen warna antosianin
dan mengandung antioksidan yang tinggi, sehingga stroberi mempunyai khasiat yang

sangat banyak. Selain itu stroberi teryata kaya vitamin C, rendah kalori, mengandung
serat, folat, potasium,serta asam ellagic. Stroberi masih termasuk jenis buah yang
memiliki nilai ekonomi tinggi. Ada yang mematok dengan harga Rp. 25.000,- sampai
dengan Rp. 50.000,- per kilogramnya. Bervariasinya harga buah ini di sesuaikan
dengan jenis-jenis stroberi.
Sepertinya, harga elit buah ini tak berpengaruh pada prospek agrobisnis
stroberi. Di Indonesia sendiri, prospeknya cukup cerah. Itu di lihat dari daya serap
pasar dan permintaan dunia dari tahun ke tahun yang meningkat. Pasalnya, potensi
budidaya stroberi ini juga di dukung oleh kondisi kondisi lingkungan yang sesuai
dengan pertumbuhan tanaman. Seperti di Jawa Barat yang sudah cukup lama jadi
produsen stroberi jenis lokal. Tak sedikit yang memanfaatkan lokasi ini sebagai lahan
budidaya stroberi. Bahkan terlihat orang berbondong-bondong ke daerah puncak ini
hanya untuk meluangkan waktu liburan sambil menikmati stroberi (Tim Karya Tani
Mandiri, 2010).
4.2

Manfaat Stroberi
Menurut Wijayakusuma (1992) banyak manfaat yang terkandung dalam buah

stroberi, antara lain baik untuk kesehatan. Adapun manfaat dari buah stroberi yaitu:
1. Stoberi mampu menyusutkan kadar kolestrol.
2. Stroberi dapat membantu melumpuhkan kerja aktif kanker karena asam
ellagic yang dikandungnya.
3. Stroberi mengandung zat anti bakteri dan anti radang.
4. Konsentrasi tujuh zat antioksidan yang ada pada stroberi lebih tinggi
dibandingkan buah atau sayuran lain, sehingga stroberi merupakan buah yang
efektif mencegah proses oksidasi pada tubuh (Oksidasi ialah hancurnya
jaringan tubuh karena radikal bebas. Oksidasi juga bertanggung jawab pada
proses penuaan)

5. Stroberi yang kaya vitamin C sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak
6. Stroberi yang hanya sedikit mengandung gula juga cocok untuk diet bagi
penderita diabetes
7. Stroberi yang dimakan teratur dapat menghaluskan kulit dan membuat warna
kulit terlihat lebih cerah dan bersih.
8. Stroberi dapat memutihkan atau membersihkan permukaan gigi
9. Kebutuhan vitamin C orang dewasa per harinya dapat dicukupi oleh 8 buah
stroberi (98 mg). Kebutuhan serat juga sekaligus dapat terpenuhi.

4.3

Peran Stroberi Dalam Menunjang Kepariwisataan
Kawasan wisata Ciwidey di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, kini punya daya

tarik lain. Tempat itu tidak lagi hanya menyuguhkan panorama yang eksotik, tetapi
juga sudah di lengkapi dengan wisata agro. Beberapa objek wisata yang terletak di
antara kecamatan Ciwidey dan Rancabali dikenal sebagai primadona wisata di
Bandung Selatan dengan objek wisata kawah putih Ciwidey, Situ Patengan, maupun
pemandian air panas Cimanggu. Menurut perhitungan, seorang wisatawan akan
segera bosan dalam waktu dua jam di dalam objek wisata alam yang tanpa aktivitas
alias diam. Bahkan,bila tidak ada kegiatan lain yang ditawarkan, rasa bosan bisa
datang lebih cepat dari dua jam/papar Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wisata
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bandung Yoharman Syamsu”.
Untuk memberi kesan yang unik bagi wisatawan, di objek wisata Ciwidey
kini di kembangkan agrowista stroberi, yaitu di Kecamatan Ciwidey, Rancabali, dan
Pasirjambu. Letaknya di sepanjang jalur menuju objek wisata alam Ciwidey.
Harapannya, agrowisata ini mampu penjadi ciri khas yang menguatkan objek wisata
alam sehingga wisatawan yang datang ke Kawah Putih bisa mampir dan merasakan
pengalaman yang berbeda. Sama dengan agrowisata di Kota Batu, Jawa Timur, yang

menawarkan agrowisata petik apel langsung, wisatawan di Ciwidey juga
diperbolehkan memetik langsung stroberi di kebun-kebun milik petani. Mereka bebas
mengelilingi kebun yang dipenuhi ratusan tanaman stroberi. Mereka bisa mengambil
buah berdasarkan warna yang merah atau ukuran yang besar. Setelah merasa cukup,
buah hasil petikannya diserahkan kepada pihak pengelola wisata alam tersebut untuk
ditimbang dan dibayar. Harganya mencapai Rp. 25.000-35.000,- per kilogram. Buah
yang telah dibeli itu bisa dibawa untuk oleh-oleh atau cemilan ditengah jalan atau
bisa langsung diblender untuk dijadikan jus.
Kawasan wisata Ciwidey ini terletak sekitar 25 Kilometer arah selatan Kota
Bandung. Untuk menuju kawasan wisata agro tersebut, wisatawan bisa mengambil
arah menuju Kawah Putih Ciwidey karena lokasinya beberapa kilometer sebelum
kawah. Wisatawan bisa memilih kebun stroberi yang mereka kunjungi.

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1891 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 497 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 438 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 265 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 582 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 511 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 323 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 502 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 594 23