Karakteristik Keluarga dan Pemberian ASI Eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah

KARAKTERISTIK KELUARGA DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI KAMPUNG KEMILI KECAMATAN BEBESEN KABUPATEN ACEH TENGAH
SKRIPSI KHAIRUL NOPANDI
091101008 FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Karakteristik Keluarga dan Pemberian ASI Eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah” untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar kesarjanaan pada Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir-butir pemikiran yang sangat berharga bagi penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada : 1. Dr. Dedi Ardinata, M.Kes selaku Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara dan Ibu Nur Asnah S. S.Kep, Ns, M.Kep selaku dosen pembimbing akademik. 2. Siti Zahara Nst, S.Kp, MNS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktu untuk memberikan arahan, bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat dalam penyusunan skripsi ini. 3. Nur Afi Darti, SKp., MKep. selaku penguji I dan Ellyta Aizar, S.Kp. selaku penguji II yang telah memberikan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. 4. Seluruh Dosen Pengajar S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang telah banyak mendidik penulis selama proses perkuliahan dan
Universitas Sumatera Utara

juga kepada seluruh staf pengajar beserta staf administrasi di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara Medan. 5. Kepala Puskesmas Bebesen, Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, Kepala Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, Kepala Kampung Blang Kolak I Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah, yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melaksanakan penelitian. 6. Teristimewa penulis ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada ayahanda Drs. MS. Midarman U. dan ibunda Dra. Sumarni yang menjadi tempat untuk berbagi keluh kesah, adik-adikku Khaira Wahdaini dan Miftahul Huda yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil dan segala yang terbaik untuk penulis. 7. Napisah selaku bibik peneliti, bidan desa Kampung Kemili, bidan desa Kampung Blang Kolak I, yang telah memberi masukan dan membantu peneliti dalam melakukan penelitian. 8. Teman-teman yang istimewa di kampus Fkep Irwana Fenata, Viyattalya Polina, Tengku Amin Putra, kak Irma Sarah Pohan, Lukas Franzona, Dendi Purnama, Muhammad Candra, teman sebimbingan Miranti Lubis dan Adelia Utari Arsa, teman kos Irfan Allhadi. 9. Teman-teman senasib seperjuangan stambuk 2009 Reguler A Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara

Semoga Allah SWT selalu mencurahkan kasih dan karunia-Nya kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis. Harapan penulis skripsi bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan khususnya profesi keperawatan.
Medan, Juli 2013 Penulis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR SKEMA DAFTAR TABEL BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang 2. Tujuan Penelitian 3. Pertanyaan Penelitian 4. Manfaat Penelitian
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. ASI Eksklusif
2.1.1. Pengertian ASI Eksklusif
2.1.2. Anatomi Payudara dan fisiologi Laktasi
2.1.3. Komposisi ASI 2.1.4. Manfaat Pemberian ASI 2.1.5. Cara Memberikan ASI 2.1.6. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian
ASI Eksklusif
2.1.7. Faktor yang Mempengaruhi Ibu tidak Memberikan ASI Eksklusif
2.2. Keluarga
2.2.1. Defenisi Keluarga
2.2.2. Tipe Keluarga
2.3. Karakteristik Keluarga 2.3.1. Umur Ibu 2.3.2. Tingkat Pendidikan Ibu 2.3.3. Pekerjaan 2.3.4. Pendapatan Keluarga 2.3.5. Jumlah Anggota Keluarga
2.3.6. Suku Keluarga
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Penelitian 2. Defenisi Operasional

i ii iii iv vii x xi xii
1 4 4 4
6
6
7
10 15 18
19
21
24
24
25
26 26 27 28 29 30
31
32 33

Universitas Sumatera Utara

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian 2. Populasi dan Sampel 3. Lokasi dan Waktu Penelitian 4. Pertimbangan Etik penelitian 5. Instrumen Penelitian 6. Uji Reliabilitas dan Validitas 7. Pengumpulan Data 8. Analisa Data
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian 1.1. Karakteristik Keluarga 1.1.1. Umur Ibu 1.1.2. Tingkat Pendidikan Ibu 1.1.3. Pekerjaan Kepala Keluarga 1.1.4. Pekerjaan Ibu 1.1.5. Penghasilan Keluarga 1.1.6. Jumlah Anggota Keluarga 1.1.7. Tipe Keluarga 1.1.8. Suku 1.1.9. Jumlah Anak 1.2. Pemberian ASI Eksklusif 1.3.Sumber Informasi ASI Eksklusif 2. Pembahasan 2.1.Umur Ibu 2.2. Tingkat Pendidikan Ibu 2.3. Pekerjaan Kepala Keluarga 2.4. Pekerjaan Ibu 2.5. Penghasilan Keluarga 2.6. Jumlah Anggota Keluarga 2.7. Tipe Keluarga 2.8. Suku 2.9. Jumlah Anak 2.10. Pemberian ASI Eksklusif 2.11. Sumber Informasi ASI Eksklusif
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan 2. Saran
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden 2. Jadwal Tentatif Penelitian

38 38 40 40 41 41 42 43
44 44 44 45 46 47 47 48 48 49 50 50 54 55 55 56 57 58 59 60 61 62 62 63 67
70 70

Universitas Sumatera Utara

3. Taksasi Dana 4. Instrumen Penelitian 5.Surat Izin Survey Awal 6. Surat Izin Penelitan 7. Lembar Bukti Bimbingan Skripsi 8. Hasil Pengolahan Data dengan Komputerisasi 9. Riwayat Hidup
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Anatomi Payudara

8

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SKEMA

Skema 1. Kerangka Penelitian karakteristik keluarga dan pemberian ASI Eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah

32

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Umur Ibu

45

Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Tingkat Pendidikan Ibu

46

Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Pekerjaan Kepala Keluarga

46

Tabel 4. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Status Pekerjaan Ibu

48

Tabel 5. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Penghasilan Keluarga

48

Tabel 6. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik jumlah anggota keluarga

48

Tabel7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik tipe keluarga

49

Tabel 8. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik suku

49

Tabel 9. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Karakteristik Jumlah Anak

50

Tabel 10. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Pemberian Kolostrum

51

Tabel 11. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Pemberian ASI Enam Bulan

51

Tabel 12. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Pemberian Makanan Tambahan Selain ASI

52

Tabel 13. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner Mengenai

Usia Pemberian Makanan Lain Selain ASI

53

Tabel 14. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner

Mengenai Pemberian ASI Eksklusif

53

Tabel 15. Distribusi Frekuensi dan Persentase Jawaban dari Kuesioner

Mengenai Sumber Informasi ASI Eksklusif

55

Universitas Sumatera Utara

Judul

: Karakteristik Keluarga dan Pemberian ASI Eksklusif di

Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh

tengah

Nama Mahasiswa : Khairul Nopandi

Nim : 091101008

Jurusan

: Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Tahun

: 2013

ABSTRAK

Prevalensi pemberian ASI eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan

Bebesen Kabupaten Aceh Tengah masih rendah yakni sebesar 18%, dibandingkan

dengan target nasional pemberian ASI Eksklusif sebesar 80%. Penelitian ini

bertujuan untuk menggambarkan karakteristik keluarga dan pemberian ASI

eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh tengah.

Desain penelitian adalah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik insidental

sampling. Sampel sebanyak 67 responden yang terdiri dari keluarga yang

mempunyai anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun di Kampung Kemili. Penelitian

ini dilakukan pada bulan Maret 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

mayoritas responden berada pada usia 20-35 tahun (79,4%), tingkat pendidikan

SMA (45,6%), pekerjaan kepala keluarga sebagai wiraswasta (58,8%), ibu bekerja

(51,5%), penghasilan keluarga Rp. 1.400.000-Rp. 2.800.000 (41,2%), anggota

keluarga kurang dari empat orang (50%), tipe keluarga inti (79,4%), suku Gayo

(58,8%), anak kurang dari dua anak (57,4%). Memberikan kolostrum (86,8%),

tidak memberikan ASI enam bulan (64,7%), memberikan makanan tambahan

selain ASI (69,1%), memberikan makanan lain selain ASI kepada anak pada usia

1-4 bulan (44,1%), tidak memberikan ASI Eksklusif (74,6%), mendapatkan

informasi tentang ASI Eksklusif hanya dari pelayanan kesehatan (32,4%). Untuk

penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan karakteristik keluarga dan

pemberian ASI Eksklusif, dipandang perlu meneliti karakteristik suami terhadap

dukungan pemberian ASI Eksklusif.

Kata kunci : Pemberian ASI Eksklusif, Karakteristik Keluarga

Universitas Sumatera Utara

Title
Name Std. ID Number Study Program Academic Year

: The Family Characteristics and Giving Exclusive ASI at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District
: Khairul Nopandi : 091101008 : Nursing : 2013

Abstract
The prevalence of giving exclusive ASI (breast milk) at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District, is still low (18%), compared to the national target of giving exclusive ASI of 80%. The objective of the study was to describe the characteristics of family and giving exclusive ASI at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District. The study used descriptive design. The samples consisted of 67 families who had six month to two year-old children at Kemili Village, using incidental sampling technique. The study was conducted in March, 2013. The result of the study showed that the majority of respondent (79.4%) was 20-35 years old, High School graduates (45.6%), the head of families were entrepreneurs (58.8%), working mothers (51.5%), family’s income was Rp. 1,400,000 – Rp. 2,800,000 (41.2%), family members fewer than four (50%), core family type (79.4%), Gayonese (58.8%), having fewer than two children (57.4%), giving colostrums (86.8%), not giving ASI (69.1%), giving food supplement to one to four month-old babies (44.1%), not giving exclusive ASI (74.6%) and getting information about exclusive ASI from health service (32.4%). It is suggested that the next studies related to family characteristics and giving exclusive ASI should study on the characteristics of husbands in supporting to give exclusive ASI.
Keywords: Giving Exclusive ASI, Family Characteristics

Universitas Sumatera Utara

Judul

: Karakteristik Keluarga dan Pemberian ASI Eksklusif di

Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh

tengah

Nama Mahasiswa : Khairul Nopandi

Nim : 091101008

Jurusan

: Sarjana Keperawatan (S.Kep)

Tahun

: 2013

ABSTRAK

Prevalensi pemberian ASI eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan

Bebesen Kabupaten Aceh Tengah masih rendah yakni sebesar 18%, dibandingkan

dengan target nasional pemberian ASI Eksklusif sebesar 80%. Penelitian ini

bertujuan untuk menggambarkan karakteristik keluarga dan pemberian ASI

eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh tengah.

Desain penelitian adalah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik insidental

sampling. Sampel sebanyak 67 responden yang terdiri dari keluarga yang

mempunyai anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun di Kampung Kemili. Penelitian

ini dilakukan pada bulan Maret 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

mayoritas responden berada pada usia 20-35 tahun (79,4%), tingkat pendidikan

SMA (45,6%), pekerjaan kepala keluarga sebagai wiraswasta (58,8%), ibu bekerja

(51,5%), penghasilan keluarga Rp. 1.400.000-Rp. 2.800.000 (41,2%), anggota

keluarga kurang dari empat orang (50%), tipe keluarga inti (79,4%), suku Gayo

(58,8%), anak kurang dari dua anak (57,4%). Memberikan kolostrum (86,8%),

tidak memberikan ASI enam bulan (64,7%), memberikan makanan tambahan

selain ASI (69,1%), memberikan makanan lain selain ASI kepada anak pada usia

1-4 bulan (44,1%), tidak memberikan ASI Eksklusif (74,6%), mendapatkan

informasi tentang ASI Eksklusif hanya dari pelayanan kesehatan (32,4%). Untuk

penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan karakteristik keluarga dan

pemberian ASI Eksklusif, dipandang perlu meneliti karakteristik suami terhadap

dukungan pemberian ASI Eksklusif.

Kata kunci : Pemberian ASI Eksklusif, Karakteristik Keluarga

Universitas Sumatera Utara

Title
Name Std. ID Number Study Program Academic Year

: The Family Characteristics and Giving Exclusive ASI at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District
: Khairul Nopandi : 091101008 : Nursing : 2013

Abstract
The prevalence of giving exclusive ASI (breast milk) at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District, is still low (18%), compared to the national target of giving exclusive ASI of 80%. The objective of the study was to describe the characteristics of family and giving exclusive ASI at Kemili Village, Bebesan Subdistrict, Central Aceh District. The study used descriptive design. The samples consisted of 67 families who had six month to two year-old children at Kemili Village, using incidental sampling technique. The study was conducted in March, 2013. The result of the study showed that the majority of respondent (79.4%) was 20-35 years old, High School graduates (45.6%), the head of families were entrepreneurs (58.8%), working mothers (51.5%), family’s income was Rp. 1,400,000 – Rp. 2,800,000 (41.2%), family members fewer than four (50%), core family type (79.4%), Gayonese (58.8%), having fewer than two children (57.4%), giving colostrums (86.8%), not giving ASI (69.1%), giving food supplement to one to four month-old babies (44.1%), not giving exclusive ASI (74.6%) and getting information about exclusive ASI from health service (32.4%). It is suggested that the next studies related to family characteristics and giving exclusive ASI should study on the characteristics of husbands in supporting to give exclusive ASI.
Keywords: Giving Exclusive ASI, Family Characteristics

Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi, karena mengandung zat gizi yang paling sesuai dengan kebutuhan bayi yang sedang dalam tahap percepatan tumbuh kembang (IDAI, 2008).
Kementerian Kesehatan RI, World Health Organization (WHO) dan United Nations Children’s Fund (UNICEF) menganjurkan pemberian ASI secara eksklusif, yaitu pemberian ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan, tanpa tambahan cairan ataupun makanan lain selain ASI (Depkes, 2012). Target pencapaian pemberian ASI Eksklusif tahun 2010-2014 sebesar 80% yang tertuang dalam rencana Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat oleh Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI (Depkes 2012).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan capaian pemberian ASI di Indonesia sangat rendah, persentase bayi yang diberi ASI secara Eksklusif sampai dengan bayi berusia 6 bulan hanya 15,3 persen. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah (Depkes, 2011).
ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. Setiap tetes ASI juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibodi yang lebih efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula (Depkes, 2011). Air Susu Ibu (ASI)
Universitas Sumatera Utara

merupakan makanan tunggal dan alamiah untuk bayi karena ASI memiliki kandungan zat gizi yang lengkap antara lain 88,1% air, 3,8% lemak, 0,9% protein, 7% laktosa, serta 0,2% berupa DHA, DAA, Shpynogelin dan zat gizi lainnya. Selain itu, ASI juga mudah dicerna, memberikan perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk diminum. Dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan juga berdasarkan jumlah ASI yang diperoleh (Sarwono, 2008; Elinofia, dkk, 2011).
Menurut Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak masalah utama masih rendahnya penggunaan ASI di Indonesia adalah faktor sosial budaya, kurangnya pengetahuan ibu, keluarga dan masyarakat akan pentingnya ASI, serta jajaran petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung peningkatan pemberian ASI (Depkes, 2011).
Alasan ibu-ibu tidak memberikan ASI karena ibu merasa ASI yang mereka hasilkan tidak cukup, merasa ASI mereka encer, atau tidak keluar sama sekali (Widjaya, 2004; Elinofia, dkk 2011). Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan berpendapat, faktor sosial budaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada bayi dan balita di Indonesia, seperti ketidaktahuan ibu, gencarnya promosi susu formula, minimnya dukungan keluarga. Pemahaman yang rendah juga mengakibatkan munculnya pendapat bahwa ASI ibu tidak cukup, menyusui mengurangi keindahan tubuh dan nilainilai yang mendorong untuk tidak memberikan ASI eksklusif (Elinofia, dkk, 2011).
Universitas Sumatera Utara

Ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dalam periode 6 bulan pertama dikarenakan kepercayaan dan sikap yang salah terhadap pemberian ASI eksklusif. Alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif meliputi: rasa takut ASI yang mereka hasilkan tidak cukup atau ASI yang mereka hasilkan memiliki mutu yang jelek, ASI terlambat diberikan kepada bayi dan praktik membuang kolostrum, teknik pemberian ASI yang salah, kepercayaan bahwa bayi mereka memerlukan cairan tambahan selain ASI, kurangnya dukungan dari pelayanan kesehatan, dan gencarnya pemasaran susu formula (Gibney, dkk, 2005).
Menurut Meiliasari (2002), bahwa sukses pemberian ASI eksklusif adalah hasil kerja tim, yang beranggotakan paling sedikit dua orang, ayah dan ibu (Elizaberh, 2010). Menurut Roesli (2008), pemberian ASI Eksklusif merupakan aktivitas keluarga, peran keluarga dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif sangat besar khususnya dalam mendukung keberhasilan pemberikan ASI Eksklusif.
Menurut salah satu petugas kesehatan Puskesmas Bebesen, alasan yang menyebabkan beberapa orang tua tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayi di daerah itu karena ada anggapan bahwa ASI menyebabkan gatal-gatal pada bayi yang disebut penyakit dena oleh masyarakat, beberapa ibu merasa ASI yang mereka hasilkan tidak cukup, tidak ingin direpotkan dengan memberi ASI eksklusif, kemudian karena alasan bekerja.
Berdasarkan data Puskesmas Bebesen Kecamatan Bebesen capaian pemberian ASI Eksklusif di Desa Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah keadaan tahun berjalan 2012 adalah 18 %, capaian ini lebih rendah
Universitas Sumatera Utara

dibandingkan dengan capaian pemberian ASI Eksklusif di Kabupaten Aceh Tengah tahun 2011 yaitu 39.7 % dan sangat jauh dari target pencapaian pemberian ASI Eksklusif tahun 2010-2014 sebesar 80%.
Dari uraian di atas peneliti tertarik meneliti karakteristik keluarga (umur ibu, tingkat pendidikan ibu, pekerjaan kepala keluarga, pekerjaan ibu, penghasilan keluarga/bulan, jumlah anggota keluarga, tipe keluarga, suku, jumlah anak) dan pemberian ASI eksklusif di Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh tengah sebagai salah satu kampung yang berada di lingkup Puskesmas Bebesen Kecamatan Bebesen.
1. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: menggambarkan karakteristik keluarga dan pemberian ASI Eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah.
2. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan dari penelitian ini adalah: bagaimana gambaran karakteristik keluarga dan pemberian ASI Eksklusif di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah.
3. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak.
Universitas Sumatera Utara

a. Pendidik Keperawatan Hasil ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi pendidik keperawatan tentang karakteristik keluarga dan pemberian ASI Eksklusif.
b. Bagi Peneliti Keperawatan Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan atau sumber data bagi peneliti selanjutnya untuk dapat melakukan penelitian yang sejenis pada masa yang akan datang.
c. Pelayanan Keperawatan Sebagai sumber informasi tambahan dalam meningkatkan pemberian ASI Eksklusif.
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. ASI Eksklusif 2.1.1. Pengertian ASI Eksklusif
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif, ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara ibu.
Menurut Farrer (2001), ASI merupakan makanan yang paling cocok untuk kemampuan pencernaan bayi, karena bayi dapat menyerapnya dengan baik, tidak menyebabkan sembelit, dan bayi merasa puas, ASI juga bebas dari kuman, ASI mengandung anti bodi sehingga bayi yang mendapatkan ASI umumnya jarang terserang penyakit dan jarang menderita alergi jika dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan susu formula (Rohani, 2007).
WHO merekomendasikan untuk memberikan ASI Eksklusif Sebelum tahun 2001 selama 4-6 bulan, namun pada tahun 2001 setelah melakukan telaah tentang pemberian ASI, WHO merevisi rekomendasi ASI Eksklusif tersebut dari 4-6 bulan menjadi 6 bulan (Fikawati & Syafiq, 2010).
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang pemberian ASI Eksklusif, ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada Bayi sejak dilahirkan sampai bayi berusia 6 bulan, tanpa tambahan makanan atau minuman lain.
Universitas Sumatera Utara

ASI eksklusif adalah pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan (Purwanti, 2004).
Menurut WHO ASI Eksklusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa cairan atau makanan padat apapun kecuali vitamin, mineral, atau obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan (Fikawati & Syafiq, 2010).
2.1.2. Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi Payudara terdiri dari bagian luar atau eksternal dan bagian dalam atau
internal. Bagian luar payudara terdiri dari sepasang buah dada yang terletak di dada, putting susu, dan daerah kecoklatan di sekitar putting susu atau areola mammae. Bagian dalam payudara terdiri dari kelenjar susu atau mammary alveoli yang merupakan tempat ASI diproduksi atau dibuat, gudang susu atau sinus lactiferous yang berfungsi menampung ASI, yang terletak di bawah daerah kecoklatan di sekitar putting susu, saluran susu atau ductus lactiferous yang mengalirkan susu dari pabrik susu ke gudang susu, serta jaringan penunjang dan pelindung seperti jaringan ikat dan sel lemak yang melindungi kelenjar payudara (Roesli, 2000).
Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Anatomi Payudara
ASI diproduksi atas hasil kerja gabungan antara hormon dan refleks. Selama kehamilan, terjadi perubahan pada hormon yang berfungsi mempersiapkan jaringan kelenjar susu untuk menproduksi ASI, pada waktu bayi mulai menghisap ASI, akan terjadi dua refleks yang menyebabkan ASI keluar yaitu refleks pembentukan/produksi ASI atau refleks prolaktin yang diransang oleh hormon prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI atau let down reflex (Roesli, 2000).
pada menjelang akhir kehamilan, hormon prolaktin memegang peranan penting untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktifitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya tinggi. Setelah plasenta keluar, korpus luteum berkurang fungsinya sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan areola. Rangsangan ini akan merangsang ujung-
Universitas Sumatera Utara

ujung saraf sensori yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini kemudian dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spnalis dan mesensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya akan merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memicu sekresi prolaktin. Faktor-faktor ini kemudian akan merangsang hipofise anterior sehingga mengeluarkan prolaktin. Prolaktin kemudian dialirkan ke kelenjar payudara untuk merangsang pembutan ASI. Hormon ini merangsang selsel alveoli yang berfungsi membuat air susu (Soetjiningsih,1997).
Ditambahkan oleh Soetjiningsih bahwa pada ibu menyusui, prolaktin akan meningkat dalam keadaan-keadaan seperti: stres atau pengaruh psikis, anastesi, operasi, rangsangan puting susu, hubungan kelamin, obat-obatan tranqulizer seperti reserpin, klorpromazin, fenotiazid. Sedangkan keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran prolaktin adalah gizi ibu yang buruk dan konsumsi obat-obatan.
ASI yang telah di buat di alveoli akan dikeluarkan dan dialirkan ke sinus lactiferous yang merupakan gudang susu, pengeluaran ASI terjadi karena sel otot halus di sekitar kelenjar payudara mengkerut karena hormon oksitosin sehingga memeras ASI keluar (Roesli, 2000).
Ketika ada rangsangan dari isapan bayi, ujung saraf di sekitar payudara dirangsang, sehingga mengirim pesan ke hipotalamus untuk merangsang hipofise posterior menghasilkan hormon oksitosin, oksitosin kemudian akan masuk ke aliran darah menuju payudara sehingga menyebabkan sel otot halus di sekitar payudara berkontraksi. Kontraksi ini akan memeras air susu yang telah dibuat
Universitas Sumatera Utara

keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang selanjutnya akan mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi (Soetjiningsih, 1997).
2.1.3. Komposisi ASI Soetjiningsih (1997), menyatakan bahwa komposisi ASI ini ternyata tidak
konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu. Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah (1) stadium laktasi, (2) ras, (3) keadaan nutrisi, (4) diet ibu.
ASI menurut stadium laktasi menurut Purwanti (2004): a. Kolostrum
Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara yang disekresi dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat. Kolostrum bewarna kekuning-kuningan di sebabkan oleh tingginya komposisi lemak dan sel-sel hidup. Kolostrum ini merupakan pembersih usus bayi yang ideal untuk membersihkan mekoneum sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima ASI.
Kolostrum mengandung lebih banyak protein dibandingkan dengan ASI matur dengan protein utamanya adalah globulin yang membuat konsistensi kolostrum menjadi pekat atau padat sehingga bayi lebih lama merasa kenyang meskipun hanya mendapat sedikit kolostrum. Kolostrum mengandung lebih banyak antibodi dibandingkan ASI matur sehingga dapat memberikan perlindungan bagi bayi ketika kondisi sangat lemah, kadar karbohidrat dalam kolostrum lebih rendah dibanding ASI matur karena aktivitas bayi pada tiga hari pertama masih sedikit dan tidak terlalu banyak memerlukan kalori. tetapi kadar
Universitas Sumatera Utara

mineral terutama natrium, kalium dan kloridanya lebih tinggi. Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi sedangkan vitamin yang larut dalam air lebih sedikit. b. ASI peralihan
ASI peralihan diproduksi dari hari ke-4 sampai hari ke-10. komposisi protein dalam ASI peralihan semakin merendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak semakin meninggi yang berguna untuk memenuhi aktivitas bayi yang mulai aktif karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan, pengeluaran ASI pada masa peralihan ini mulai setabil begitu juga kondisi fisik ibu. c. ASI matur
ASI matur merupakan ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya. Komposisi nutrisi ASI matur terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi samapai berumur 6 bulan.
Secara umun komposisi dari ASI menurut Soetjiningsih (1997) adalah: a. Protein
ASI mengandung protein lebih rendah dari susu sapi tetapi protein dalam ASI mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan mudah dicerna. ASI mengandung asam amino esensial taurin yang tinggi yang penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin. Selain itu ASI juga mengandung sistin yang tinggi yang merupakan asam amino yang sangat penting untuk pertumbuhan otak bayi. b. Karbohirat
ASI mengandung karbohidrat yang relatif lebih tinggi daripada susu sapi. Karbohidrat yang utama terdapat pada ASI adalah laktosa. Kadar laktosa yang tinggi ini sangat menguntungkan karena laktosa ini akan difermentasi menjadi
Universitas Sumatera Utara

asam laktat yang akan memberian kondisi asam dalam usus bayi. Suasana asam ini akan memberikan beberapa keuntungan, yaitu: menghambat pertumbuhan bakteri yang patologis, memacu pertumbuhan mikoroorganisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin, memudahkan terjadinya pengendapan dari Ca-caseinat, serta mempermudah absorpsi mineral seperti kalsium, fosfor dan magnesium.
Selain laktosa, juga terdapat glokosa, galaktosa, dan glukosamin. Galaktosa penting untuk pertumbuhan otak dan medula spinalis. Glukosamin merupakan bifidus faktor di samping laktosa, yang dapat memacu pertumbuhan Lactobacilus bifidus yang sangat menguntungkan bayi. c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI relatif sama dengan susu sapi dan merupakan sumber kalori utama bagi bayi, sumber vitamin larut lemak, dan sebagai sumber asam lemak esensial, tetapi lemak dalam ASI memiliki bentuk emulsi lebih sempurna karena ASI mengandung enzim lipase yang memecah trigiliserida menjadi monogliserida sebelum pencernaan di usus terjadi. Selain itu kadar asam lemak tidak jenuh dalam ASI 7-8 kali lebih banyak dari susu sapi. d. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai berumur 6 bulan. Total mineral selama masa laktasi adalah konstan tetapi beberapa mineral yang spesifik kadarnya tergantung diet ibu dan stadium laktasi. Garam oraganik yang terapat dalam ASI terutama adalah: kalsium, kalium, dan natrium dari asam klorida dan fosfat. Mineral yang
Universitas Sumatera Utara

terbanyak adalah kalium sedangkan kadar Cu, Fe, dan Mn yang merupakan bahan pembuat darah relatif sedikit. e. Air
Kira-kira 88% dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk melarutkan zat-zat yang terdapat di dalamnya. ASI merupakan sumber air yang secara metabilik adalah aman. Kadar ASI yang relatif tinggi dalam ASI ini akan meredakan rangsangan haus dari bayi. f. Vitamin
Vitamin dalam ASI cukup lengkap. Vitamin A, D, dan C jumlahnya cukup, sedangkan golongan vitamin B kecuali riboflavin dan asam pantothenik tergolong kurang. g. Kalori
Jumlah kalori dalam ASI relatif rendah, yaitu hanya 77 kal/100 ml ASI. Sekitar 90% dari jumlah kalori tersebut berasal dari karbohidrat dan lemak, sedangkan 10% berasal dari protein. h. Unsur-unsur lainnya
Unsur-unsur lainnya yang terkandung dalam ASI adalah laktorom, kreatinin, urea, xanthin, amonia, dan asam sitrat.
ASI bukan hanya merupakan sumber nutrisi bagi bayi, tetapi juga zat anti melawan jasat renik, penelitian mengenai ASI membuktikan di dalam ASI terdapat IgA, IgM, dan IgG yang berfungsi melindungi bayi terhadap berbagai ancaman jasat renik penyebab infeksi, zat kebal tubuh yang terdapat di dalam ASI untuk melawan berbagai macam kuman (Alkatiri, 1996).
Universitas Sumatera Utara

Menurut Alkatiri (1996), imunoglobulin di dalam ASI antara lain: a. Imunnuglobulin A (IgA)
Pada ASI kadar IgA jumlahnya tiga kali lebih besar bila dibandingkan dengan kadar IgG, sebaliknya di dalam serum kadar IgG empat sampai lima kali dari kadar IgA, kadar IgA di dalam ASI lebih tinggi dari pada kadar IgA serum karena berbeda tempat sintesa, fungsi IgA di dalam ASI adalah melindungi tubuh terhadap infeksi lokal atau mencegah masuknya jasat renik selain itu juga dapat menetralisir toksin dan meninggikan efek bakteriolitik dengan cara mengaktifkan komponen memalui jalur alternatif, IgA sebagai pelindung terhadap infeksi yang di sebabkan kuman, seperti menurunkan sifat melekat bakteri pada selaput mukosa, selain itu IgA berguna untuk melawan virus seperti virus polio dan virus lainnya dan juga berperan sebagai pelindung terhadap infeksi yang disebabkan oleh jamur seperti kandidiasis. b. Imunnuglobulin M (IgM)
Imunoglobulin ini merupakan immunoglobulin dengan berat molekul terbesar di sentesa local pada jaringan sekresi, fungsi IgM di dalam ASI adalah mencegah gerakan jasat renik/antigen, selain itu IgM merupakan zat kebal tubuh yang dapat mengaktifkan komplemen lewat jalur klasik. c. Imunnuglobulin G (IgG)
IgG di dalam ASI tidak mempunyai kemampuan untuk berikatan dengan komponen sekretoris, IgG berasal dari transudasi IgG serum, meskipun sintesa lokal dapat terjadi.
Universitas Sumatera Utara

2.1.4. Manfaat Pemberian ASI Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi antara lain:
a. ASI sebagai nutrisi ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang karena disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhannya. ASI adalah makanan yang paling sempurna, baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan melaksanakan tatalaksana menyusui yang tepat dan benar, produksi ASI seorang ibu akan cukup sebagai makanan tunggal bagi bayi normal sampai dengan usia enam bulan. Setelah usia enam bulan, bayi harus mulai diberi makanan padat, tetapi ASI masih dapat diteruskan sampai dua tahun atau lebih (Roesli, 2000). b. ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi baru lahir secara alamiah mendapat immunoglobulin (zat kekebalan tubuh) dari ibunya melalui ari-ari. Namun, kadar zat ini akan cepat sekali menurun segera setelah bayi lahir. Pada saat kadar zat kekebalan menurun, sedangkan yang dibentuk oleh badan bayi belum mencukupi maka akan terjadi kesenjangan zat kekebalan pada bayi. Kesenjangan akan hilang apabila bayi diberi ASI, karena ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit, dan jamur. Bagi bayi pemberian ASI eksklusif ternyata akan lebih sehat dan lebih jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Anak yang sehat tentu akan lebih berkembang kepandaiannya dibanding anak yang sering sakit terutama bila sakitnya berat (Roesli, 2000).
Universitas Sumatera Utara

c. ASI eksklusif meningkatkan kecerdasan Faktor-faktor yang memengaruhi kecerdasan meliputi: (1) faktor genetik
atau faktor bawaan yang menentukan potensi genetik atau bawaan yang diturunkan oleh orangtua. Faktor ini tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa, (2) faktor lingkungan, adalah faktor yang menentukan apakah faktor genetik akan dapat tercapai secara optimal. Faktor ini mempunyai banyak aspek dan dapat dimanipulasi dan direkayasa (Roesli, 2000).
Secara garis besar ada 3 jenis kebutuhan untuk faktor lingkungan yaitu kebutuhan untuk pertumbuhan fisik-otak (asuh), kebutuhan untuk perkembangan emosional (asih), kebutuhan untuk perkembangan intelektual dan sosialisasi (asah). Dengan memberikan ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan menjamin tercapainya pengembangan potensial kecerdasan anak secara optimal, hal ini karena selain sebagai nutrien yang ideal, dengan komposisi yang tepat, serta disesuaikan dengan kebutuhan bayi, ASI juga mengandung nutriennutrien yang diperlukan otak bayi agar tumbuh optimal, nutrien-nutrien khusus tersebut tidak terdapat atau hanya sedikit terdapat pada susu sapi seperti taurin, laktosa, asam lemak ikatan panjang (DHA, AA, omega-3, omega-6) (Roesli, 2000).
Hasil penelitian Lucas tahun 1993 terhadap 300 bayi prematur membuktikan bahwa bayi bayi prematur yang diberi ASI eksklusif mempunyai IQ yang lebih tinggi secara bermakna (8,3 point lebih tinggi) dibanding bayi prematur yang tidak diberi ASI. Pada penelitian Riva ditemukan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif, ketika berusia 9,5 tahun mempunyai tingkat IQ 12,9 point
Universitas Sumatera Utara

lebih tinggi dibanding anak yang ketika bayi tidak diberi ASI eksklusif (dr. Utami R., SpA). Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan mempunyai kecerdasan yang lebih tinggi di masa dewasanya(Pedoman Kesehatan dan Perawatan Anak, 1996). Dari hasil pemeriksaan otak, ternyata otak bayi yang mendapatkan ASI eksklusif mempunyai kandungan asam lemak tak jejuh (DHA atau asam linoleat) yang lebih tinggi (Purwanti, 2004). d. ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusui akan merasakan kasih sayang ibunya. Ia juga akan merasa aman dan tentram, terutama karena masih dapat mendengar detak jantung ibunya yang telah ia kenal sejak dalam kandungan. Perasaan terlindung dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan emosi bayi dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan dasar spritual yang baik (Roesli, 2000).
Manfaat pemberian ASI bagi ibu: pemberikan ASI menyebabkan uterus ibu berkontraksi sehingga pengembalian uterus ke keadaan fisiologis (sebelum kehamilan) lebih cepat, perdarahan setelah melahirkan tipe lambat berkurang, pemberian ASI akan mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara pada masa mendatang, dengan memberikan ASI kesuburan ibu akan berkurang untuk beberapa bulan sehingga dapat membantu keluarga berencana (Soetjiningsih, 1997). Manfaat lain pemberian ASI bagi ibu menurut Roesli (2000), menyusui dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, karena pada ibu yang menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin yang berguna untuk penutupan pembuluh darah sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti, menyusui dapat mengurangi
Universitas Sumatera Utara

anemia bagi ibu karena kekurangan zat besi, menyusui dapat membuat ibu lebih cepat langsing karena menyusui memerlukan energi maka tubuh akan mengambilnya dari lemak yang tertimbun selama hamil, menyusui memberikan kepuasan bagi ibu.
Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi ayah yaitu: Praktis dan tidak merepotkan karena tidak perlu membuat susu formula di malam hari, dan jika berpergian dengan bayi ASI eksklusif lebih mudah dan tidak perlu repot membawa bermacam peralatan menyusui (Roesli, 2000).
Keuntungan pemberian ASI bagi keluarga antara lain: menyusui menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli susu formula, menyusui juga mengurangi biaya untuk berobat karena bayi jarang sakit jika menyusui secara eksklusif, menyusui merupakan metode penjarangan kehamilan alami selama 6 bulan pertama, menyusui meningkatkan kehangatan dan kedekatan emosional antar-anggota keluarga (Fransiska, 2010).
2.1.5. Cara Memberikan ASI Menurut Perinasia (2003), langkah-langkah memberikan ASI yang benar
adalah: (a) Sebelum memberikan ASI, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. (b) Bayi diletakkan menghadap perut ibu atau payudara. (c) Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu saja atau areolanya saja. (d) Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut dengan cara
Universitas Sumatera Utara

menyentuh pipi dengan puting susu atau menyentuh sisi mulut bayi. (e) Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukkan ke mulut bayi. (f) Usahakan sebagian besar areola dapat masuk ke dalam mulut bayi, sehingga puting susu berada di bawah langit-langit dan lidah bayi akan menekan ASI ke luar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola. (g) Setelah bayi mulai menghisap, payudara tidak perlu disanggah lagi (simbolon, 2011).
Menurut Purwanti (2004), waktu menyusui bayi adalah : 1. Menyusui bayi tidak perlu dijadwal. Bila bayi membutuhkan atau menangis,
ibu harus segera memberikan ASI 2. Bila bayi puas menyusu, bayi akan tertidur pulas. 3. Ketika bayi tertidur dalam keadaan masih menyusu, secara perlahan ibu dapat
melepaskan puting susu dari mulut bayi, hal ini untuk menghindari puting susu lecet.
2.1.6. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Pemberian ASI secara eksklusif mempengaruhi seluruh keluarga, idealnya
suami, kakek, nenek dan kakak dilibatkan dalam langkah keberhasilan pemberian ASI Eksklusif karena dukungan keluarga sangat berarti. Langkah penting dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif adalah: (1) ibu mempersiapkan payudara, bila diperlukan, (2) ibu dan keluarga mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui, (3) menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya, (4) memilih tempat melahirkan di tempat pelayanan kesehatan seperti rumah sakit, rumah bersalin, (5)
Universitas Sumatera Utara

memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara Eksklusif, (6) konsultasi dengan ahli menyusui seperti berkunjung ke klinik laktasi untu persiapan apabila menemukan kesulitan dalam pemberian ASI, (7) menciptakan sikap yang positif tentang ASI dan menyusui (Roesli, 2000).
Ayah merupakan bagian yang vital dalam keberhasilan pemberian ASI Eksklusif, karena ayah akan menentukan kelancaran reflek pengeluaran ASI atau let down reflex, yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. Ayah dapat berperan aktif dalam keberhasilan pemberian ASI dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan membantu dalam proses menyusui seperti ayah menyendawakan bayi, ayah memandikan bayi, ayah bermain, bergurau, dan mendendangkan bayi, ayah mengganti popok, ayah memijat bayi, dan ayah mengendong bayi (Roesli, 2008)
Faktor informasi ASI Eksklusif merupakan faktor penting dalam mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif. Faktor informasi ASI Eksklusif meliputi: (1) sumber tempat mendapatkan informasi tentang ASI eksklusif, yaitu mendapatkan informasi ASI Eksklusif di tempat pelayanan kesehatan (yankes) dan mendapatkan informasi ASI Eksklusif bukan di tempat pelayanan kesehatan (non-yankes), mendapatkan informasi tentang ASI eksklusif di tempat pelayanan kesehatan (yankes) seperti mendapatkan informasi ASI Eksklusif di puskesmas atau posyandu, mendapatkan informasi tentang ASI eksklusif bukan di tempat pelayanan kesehatan (non-yankes) seperti mendapatkan informasi ASI Eksklusif di rumah orang tua, saudara dan tetangga, (2) sumber mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari tenaga kesehatan, yaitu dari Dokter, paramedis, (3)
Universitas Sumatera Utara

sumber mendapatkan informasi tentang ASI Eksklusif dari kontak interpersonal, yaitu dari keluarga dan dari nonkeluarga, keluarga seperti dari ibu kandung/ibu mertua dan suami, nonkeluarga seperti dari tetangga, kader posyandu. (4) jenis media informasi tentang ASI yang diterima, yaitu media cetak dan media elektronik, media cetak seperti koran, majalah, buku, dan poster, sedangkan media elektronik seperti TV dan radio (Hermina & Hidayat, 2011).
Keberhasilan pemberian ASI sangat penting untuk mecegah kekurangan gizi pada bayi, keberhasilah pemberian ASI tersebut dipengaruhi oleh pendidikan, pekerjaan, nilai-nilai budaya, penghasilan keluarga, dan kemudahan dalam mendapatkan akses ke pelayanan kesehatan (Agunbiade & Ogunleye, 2012).
2.1.7. Faktor yang Memengaruhi Ibu tidak Memberikan ASI Eksklusif Menurut Roesli (2000), alasan ibu untuk tidak menyusui terutama secara
eksklusif sangat bervariasi. Beberapa faktor yang menyebabkan ibu tidak mau memberikan ASI secara eksklusif, yaitu: 1. ASI tak cukup
Alasan ini merupakan alasan utama para ibu untuk tidak menyusui secara eksklusif. Walaupun banyak ibu yang merasa ASInya kurang, teapi hanya sedikit (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASI-nya. Selebihnya, ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya. Umumnya tidak ada ibu yang tidak dapat menyusui tetapi untuk menyusui dengan benar harus belajar.
Universitas Sumatera Utara

2. Ibu bekerja dengan cuti hamil 3 bulan Bekerja sebenarnya bukan alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif
karena waktu ibu bekerja, bayi dapat diberikan ASI perah yang diperah sehari sebelumnya. 3. Takut ditinggal suami
Dari sebuah suvei yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia tahun 1995 dalam Roesli (2000), diperoleh data bahwa alasan pertama berhenti memberikan ASI pada bayinya adalah “takut ditinggal suami”. Hal ini dikarenakan mitos yang mengatakan bahwa menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. Pada hal sebenarnya yang mengubah bentuk payudara adalah kehamilan bukan menyusui. 4. Pendapat bahwa tidak diberi ASI tetap berhasil “jadi orang”
Dengan diberi susu formula memang bayi dapat tumbuh besar, bahkan mungkin berhasil “jadi orang“. Namun, kalau bayi ini diberi ASI eksklusif akan menjadi lebih berhasil. Hal ini dikarenakan ASI memiliki semua yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh secara optimal. Dengan menyusui berarti seorang ibu tidak hanya memberikan makanan yang optimal, tetapi juga rangsangan emosional, fisik dan neurologik yang optimal pula. Dengan demikian, dapat dimengerti mengapa bayi eksklusif akan lebih sehat, lebih tinggi kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya, lebih mudah bersosialisasi dan lebih baik spritualnya.
Universitas Sumatera Utara

5. Bayi akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dan manja Pendapat bahwa bayi akan tumbuh menjadi anak manja karena terlalu
sering didekap dan dibelai ternyata salah. Anak menjadi kurang mandiri, manja, dan agresif karena kurang perhatian bukan karena terlalu diperhatikan oleh orang tuanya. 6. Susu formula lebih praktis
Pendapat ini justru tidak benar, karena untuk membuat susu formula diperlukan api atau listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril, dan perlu waktu untuk mendinginkan susu formula yang baru dibuat. Sementara itu, ASI yang siap pakai dengan suhu yang tepat setiap saat serta tidak memerlukan api, listrk, dan perlengkapan yang harus steril jauh lebih praktis dari pada susu formula. 7. Takut badan tetap gemuk
Pendapat bahwa ibu menyusui akan sukar menurunkan berat badan adalah tidak benar. Pada waktu hamil, badan telah mempersiapkan timbunan lemak untuk membuat ASI. Didapatkan bukti bahwa menyusui secara eksklusif akan membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat dari pada ibu yang tidak menyusui secara secara eksklusif. Timbunan lemak yang terjadi sewaktu sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sukar untuk menghilangkan timbunan lemak ini.
Kendala pemberian ASI Eksklusif berdasarkan penelitian Agunbiade & Ogunleye (2012), ialah adanya persepsi keluarga bahwa bayi akan terus merasa lapar setelah menyusui sehingga perlu makanan tambahan, karena masalah
Universitas Sumatera Utara

kesehatan ibu, adanya ketakutan bayi akan kecanduan ASI, tekanan dari ibu mertua agar tidak memberikan ASI, nyeri pada payudara ketika memberikan ASI, kebutuhan ibu untuk bekerja, serta pemberian ASI Eksklusif terganggu karena jumlah anak yang banyak.
2.2. Keluarga 2.2.1. Defenisi Keluarga
Pengertian keluarga menurut beberapa pendapat dalam Ali (2009): a. Menurut Duval, keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan
oleh ikatan perkawinan, adaptasi, dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, dan emosional serta sosial individu yang ada di dalamnya. b. Menurut departemen kesehatan RI, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling bergantung. c. Menurut Bailon dan maglaya, keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga, yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya.
Universitas Sumatera Utara

2.2.2. Tipe Keluarga Menurut Suprajitno (2004), secara tradisional keluarga dikelompokkan
menjadi dua, yaitu: 1. Keluarga inti, adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak
yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya. 2. Keluarga besar, adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang
masih mempunyai hubungan darah seperti kakek, nenek, paman, dan bibi. Menurut Friedman dalam Ali (2009) membagi tipe keluarga seperti
berikut: 1. Nuclear family (keluarga inti), terdiri dari orang tua dan anak yang menjadi
tanggungan orang tua dan tinggal dalam satu rumah, terpisah dari sanak keluarga lainnya. 2. Extended family (keluarga besar), adalah satu keluarga yang terdiri dari satu atau dua keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang satu sama lain. 3. Single parent family, adalah satu keluarga yang dikepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup bersama dengan anak-anak yang masih bergantung kepada kepala keluarga. 4. Nuclear dyed, adalah keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal dalam satu rumah yang sama. 5. Blended family, adalah suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan, yang masing-masing pernah menikah dan membawa anak hasil perkawinan terdahulu.
Universitas Sumatera Utara

6. Three generation family, adalah keluarga yang terdiri dari tiga generasi, yaitu kakek, nenek, bapak, ibu, dan anak dalam satu rumah.
7. Single adult living alone, adalah bentuk keluarga yang hanya terdiri dari satu orang dewasa yang hidup dalam rumah.
8. Middle age atau elderly couple, yaitu keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri paruh baya.
2.3. Karakteristik Keluarga Karakteristik keluarga adalah segala hal yang melekat pada keluarga
tersebut dan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak yang berada dalam keluarga tersebut (Rahayu, 2011). Menurut Sudarman (2008), karakteristik keluarga dalam pelayanan kesehatan meliputi: umur, jumlah, tingkat pendidikan, p

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1872 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 494 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 434 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 576 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 493 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 586 23