Karakteristik Penderita Otitis Media Supuratif Kronis Di Rsup Haji Adam Malik Medan Pada Tahun 2011-2013

(1)

i

HASIL PENELITIAN

KARAKTERISTIK PENDERITA OTITIS MEDIA SUPURATIF

KRONIS DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN PADA

TAHUN 2011-2013

Oleh :

SASVENE VARATHERAJU

110100500

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2014


(2)

(3)

ABSTRAK

Pendahuluan : Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan pada populasi di dunia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penderita berdasarkan jumlah, kelompok usia yang terbanyak, perbandingan jenis kelamin, tipe, keluhan utama, gejala klinis, jenis perforasi, komplikasi tersering dan terapi pada penderita OMSK.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita OMSK periode tahun 2011-2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP. H. Adam Malik Medan. Sampel pada penelitian ini di ambil melalui data sekunder (rekam medis) dengan metode total sampling. Data yang diperoleh akan di tampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Hasil : Dari penelitian ini diperoleh jumlah penderita OMSK pada tahun 2011 hingga 2013 terdapat sebanyak 850 penderita. Penderita OMSK lebih banyak di temukan pada kelompok usia 21-30 tahun (19,9%). Penderita OMSK lebih banyak di temukan pada laki-laki (59,5%) dibandingkan perempuan (40,5%). Penderita OMSK dengan keluhan utama yang paling banyak adalah otorea (81,7%). Jumlah penderita menurut tipe OMSK yang paling banyak di derita oleh penderita OMSK adalah tipe benigna (88,4%). Penderita OMSK dengan gejala klinis yang terbanyak adalah otorea sebanyak 663 kasus.. Penderita OMSK dengan perforasi tertinggi adalah perforasi sentral (87,6%). Penderita OMSK dengan komplikasi yang paling banyak adalah pada penderita yang tidak mempunyai komplikasi (93,9%). Penderita OMSK yang paling banyak adalah yang menjalankan jenis terapi adalah medikamentosa (87,8%)

Kesimpulan : Penderita OMSK paling banyak ditemukan pada kelompok usia 21-30 tahun.

Kata kunci: Otitis media supuratif kronis, Benigna


(4)

ABSTRACT

Introduction : Chronic suppurative otitis media (OMSK) is a disease that is often found in populations around the world. This study was conducted to determine the characteristics of the patient based on the number, most age groups, the sex ratio, the type, the main complaint, clinical symptoms, types of perforations, the most common complication and therapy in patients with OMSK.

Methods : This study is a descriptive study. The total population in this study are all OMSK patients from the year 2011-2013 which meet the criteria of inclusion and exclusion from department of Adam Malik. The sample in this study was taken from secondary data (medical records) with a total sampling method. The data obtained will be displayed in the form of a frequency distribution table.

Results : The total patients from this study from the year 2011-2013 is 850 cases. This study obtained patients were found in the age group 21-30 years (19.9%). OMSK patients found more in males (59.5%) than women (40.5%). OMSK patients with most major complaint is otorea (81.7%). Number of patients according to the type most widely OMSK is suffered by patients with benign type (88.4%). OMSK patients with most clinical symptoms are otorea which has 663 cases. OMSK patients with the highest perforation is central perforation (87.6%). Patients with OMSK complications is people without complications (93.9%). Most OMSK patients is treated medicaly (87.8%).

Conclusion : Patients with OMSK is most prevalent in the age group of 21-30 years

Keywords: Chronic suppurative otitis media, Benign


(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya pajatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan kasih sayang dan keridhoan-Nya sehingga saya mendapatkan kekuatan dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul karekteristik penderita otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011-2013 dengan baik dan tiada hambatan suatu apapun.

Penulis menyadari bahwa yang disajikan dalam karya tulis ilmiah ini masih terdapat kekurangan yang harus di perbaiki. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dr. Aliandri sp THT-KL, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.

Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, untuk itu pada kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedoteran Universitas Sumatera Utara.

2. Dosen pembimbing KTI saya dr. Aliandri sp THT-KL yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis sehingga karya tulis ilmiah ini dapat terselesaikan dengan baik.

3. Dosen penguji saya dr. Yawardiah Siregar, Ph.D dan dr. Kiki Mohammad Iqbal Sp.S yang telah memberikan saran dan kritikan yang membangun dalam penyelesaian hasil penelitian ini.

4. Seluruh pegawai dan staf bagian rekam medis Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan yang telah membantu dalam pengumpulan data karya tulis ilmiah ini.

5. Terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga saya Ayahanda Varatheraju Sinnadurai dan Ibunda Malar Villi Letchumana Doss.


(6)

6. Terima kasih juga saya sampaikan kepada sahabat-sahabat saya, Thivyah Sekar, Helvina Siahaan, Kamieshwaary Pramandam, Niza Novrizal dan Keethaswini atas semua bantuan, dukungan dan semangat yang diberikan.

Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa sentiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua, dan penulis berharap semoga karya tulis ini dapat diterima dan memberikan sumbangan pemikian yang berguna bagi semua pihak.

Medan, Desember 2014 Penulis

SASVENE VARATHERAJU


(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ... i

ABSTRAK……… ... ii

ABSCTRACT……… ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR SINGKATAN ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.3.1 Tujuan Umum ... 2

1.3.2 Tujuan Khusus ... 2

1.4 Manfaat Penelitian ... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4

2.1 Anatomi telinga ... 4

2.1.1 Telinga luar ... 4

2.1.2 Telinga tengah ... 4

2.1.3 Telinga dalam ... 5

2.2 Fungsi telinga ... 5

2.3 Otitis Media Supuratif Kronik ... 6

2.3.1 Definisi Otitis Media Supuratif Kronik ... 6

2.3.2 Epidemiologi Otitis Media Supuratif Kronik... 6

2.3.3 Etiologi Otitis Media Supuratif Kronik ... 7

2.3.4 Klasifikasi Otitis Media Supuratif Kronik ... 9

2.3.5 Patogenesis Otitis Media Supuratif Kronik ... 10


(8)

2.3.6 Gejala Klinis Otitis Media Supuratif Kronik ... 10

2.3.7 Diagnosa Otitis Media Supuratif Kronik ... 13

2.3.8 Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronik ... 16

2.3.9 Penatalaksanaan ... 16

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 18

3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 18

3.2 Definisi Operasional ... 19

BAB 4 METODEOLOGI PENELITIAN ... 22

4.1 Jenis Penelitian ... 22

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 22

4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 22

4.3.1 Populasi Penelitian ... 22

4.3.2 Sampel ... 22

4.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi... 22

4.4.1 Kriteria Inklusi ... 22

4.4.2 Kriteria Eksklusi ... 22

4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 23

4.6 Pengolahan dan Analisa Data ... 23

BAB 5 HASIL PENELITIAN ... 24

5.1 Hasil Penelitian ... 24

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 24

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Sampel ... 24

5.2 Pembahasan ... 28


(9)

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN……….. .... 32

6.1 Kesimpulan……… ... 32

6.2 Saran………... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 34

LAMPIRAN


(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

3.2 Definisi Operasional ... 19

5.1 Distribusi Jumlah Penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik ... 24

5.2 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Kelompok Usia dan jenis

kelamin ... 25

5.3 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Keluhan Utama

dan Tipe OMSK ... 25

5.4 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Gejala Klinis ... 26

5.5 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Jenis Perforasi ... 26

5.6 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Kompikasi dan jenis terapi OMSK ... 27


(11)

DAFTAR SINGKATAN

ISO : International Organization for Standardization

OMSK : Otitis Media Supuratif Kronik

CSOM : Chronic Suppurative Otitis Media

OMSA : Otitis Media Supuratif Akut

RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat

RS : Rumah Sakit

SPSS : Statistical Product and Service Solution

THT : Telinga, Hidung, Tenggorok

WHO : World Health Organization


(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

3.1 Konsep Penelitian ... 18


(13)

ABSTRAK

Pendahuluan : Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) merupakan salah satu penyakit yang sering ditemukan pada populasi di dunia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penderita berdasarkan jumlah, kelompok usia yang terbanyak, perbandingan jenis kelamin, tipe, keluhan utama, gejala klinis, jenis perforasi, komplikasi tersering dan terapi pada penderita OMSK.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penderita OMSK periode tahun 2011-2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP. H. Adam Malik Medan. Sampel pada penelitian ini di ambil melalui data sekunder (rekam medis) dengan metode total sampling. Data yang diperoleh akan di tampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

Hasil : Dari penelitian ini diperoleh jumlah penderita OMSK pada tahun 2011 hingga 2013 terdapat sebanyak 850 penderita. Penderita OMSK lebih banyak di temukan pada kelompok usia 21-30 tahun (19,9%). Penderita OMSK lebih banyak di temukan pada laki-laki (59,5%) dibandingkan perempuan (40,5%). Penderita OMSK dengan keluhan utama yang paling banyak adalah otorea (81,7%). Jumlah penderita menurut tipe OMSK yang paling banyak di derita oleh penderita OMSK adalah tipe benigna (88,4%). Penderita OMSK dengan gejala klinis yang terbanyak adalah otorea sebanyak 663 kasus.. Penderita OMSK dengan perforasi tertinggi adalah perforasi sentral (87,6%). Penderita OMSK dengan komplikasi yang paling banyak adalah pada penderita yang tidak mempunyai komplikasi (93,9%). Penderita OMSK yang paling banyak adalah yang menjalankan jenis terapi adalah medikamentosa (87,8%)

Kesimpulan : Penderita OMSK paling banyak ditemukan pada kelompok usia 21-30 tahun.

Kata kunci: Otitis media supuratif kronis, Benigna


(14)

ABSTRACT

Introduction : Chronic suppurative otitis media (OMSK) is a disease that is often found in populations around the world. This study was conducted to determine the characteristics of the patient based on the number, most age groups, the sex ratio, the type, the main complaint, clinical symptoms, types of perforations, the most common complication and therapy in patients with OMSK.

Methods : This study is a descriptive study. The total population in this study are all OMSK patients from the year 2011-2013 which meet the criteria of inclusion and exclusion from department of Adam Malik. The sample in this study was taken from secondary data (medical records) with a total sampling method. The data obtained will be displayed in the form of a frequency distribution table.

Results : The total patients from this study from the year 2011-2013 is 850 cases. This study obtained patients were found in the age group 21-30 years (19.9%). OMSK patients found more in males (59.5%) than women (40.5%). OMSK patients with most major complaint is otorea (81.7%). Number of patients according to the type most widely OMSK is suffered by patients with benign type (88.4%). OMSK patients with most clinical symptoms are otorea which has 663 cases. OMSK patients with the highest perforation is central perforation (87.6%). Patients with OMSK complications is people without complications (93.9%). Most OMSK patients is treated medicaly (87.8%).

Conclusion : Patients with OMSK is most prevalent in the age group of 21-30 years

Keywords: Chronic suppurative otitis media, Benign


(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Otitis media supuratif kronis (OMSK) termasuk salah satu masalah kesehatan utama yang ditemukan pada banyak populasi di dunia, dan merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas yang cukup signifikan. Penyakit ini biasa di temukan pada masyarakat kelas menengah ke bawah di negara-negara berkembang dan menyebabkan meningkatnya biaya untuk pengobatan (Dhingra, 2007).

Otitis media supuratif kronis adalah infeksi kronik telinga tengah yang di sertai perforasi membran timpani dan keluar sekret secara terus-menerus atau hilang timbul dan biasanya disertai dengan gangguan pendengaran. Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan dari Otitis Media Supuratif Akut (OMSA) dan sebagian kecil disebabkan oleh perforasi membran timpani akibat trauma telinga. Infeksi ini disertai dengan pengeluaran cairan seperti bening atau keruh dari liang telinga sehingga disebut supuratif. Istilah kronik digunakan apabila penyakit ini hilang timbul atau menetap selama 2 bulan atau lebih (Djaafar, 2007).

Gejala otitis media supuratif kronis antara lain otorrhoe yang bersifat purulen atau mukoid, terjadi gangguan pendengaran, otalgia, tinitus, rasa penuh di telinga dan vertigo. OMSK dapat menyebabkan gangguan pendengaran sehingga menimbulkan dampak yang serius terutama bagi anak-anak, karena dapat menimbulkan pengaruh jangka panjang pada komunikasi anak, perkembangan bahasa, proses pendengaran, psikososial dan perkembangan kognitif serta kemajuan pendidikan. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom seperti abses ekstradural, abses subdural, tromboflebitis, meningitis, abses otak dan hidrosefalus otitis (Djaafar, 2007).

Menurut World Health Organization, prevalensi OMSK di seluruh dunia terdapat 65-330 juta penderita dengan telinga berair, sedangkan penderita OMSK yang mengalami gangguan pendengaran sekitar 39-200 juta. Hal Ini menjadi


(16)

masalah penting pada masyarakat khususnya di negara berkembang. Sekitar 28.000 populasi di negara berkembang mengalami kematian oleh karena OMSK dapat mengalami penyebaran infeksi ke tulang temporal atau di sebut dengan komplikasi intrakranial (WHO, 2004).

Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki prevalensi tinggi yang menjadi masalah kesehatan di masyarakat khusunya negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat di Amerika dan Inggris (< 1 %). Menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, prevalensi OMSK di Indonesia, adalah 3,1% populasi dengan usia terbanyak (7-18 tahun) (Boesoirie, 2007).

Data poliklinik THT FK USU/ RS.H.Adam Malik Medan, kunjungan penderita OMSK cukup tinggi yaitu pada bulan Januari sampai Desember 2008, sebanyak 208 penderita yang terdiri dari laki-laki 106 (50,96%) dan kelompok umur terbanyak 11-30 tahun 86 (41,36%) dan kelompok umur 1-10 tahun sebanyak 40 (19,23%) (Aboet, 2007). Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2010-2013.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana karakterisitik penderita Otitis Media Supuratif Kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013?”.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Mengetahui karakteristik penderita Otitis Media Supuratif Kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui jumlah penderita, kelompok usia yang terbanyak dan perbandingan jenis kelamin yang menderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011-2013.


(17)

2. Mengetahui tipe OMSK yang paling sering di jumpai pada penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik.

3. Mengetahui keluhan utama yang terbanyak yang di jumpai pada penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik.

4. Mengetahui gejala klinis yang tersering pada penderita OMSK RSUP Haji Adam Malik.

5. Mengetahui jenis perforasi membran timpani yang di jumpai pada penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik.

6. Mengetahui komplikasi tersering pada OMSK.

7. Mengetahui terapi yang di berikan pada penderita OMSK.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Memberikan pengalaman dan menambah ilmu serta wawasan dalam melakukan penelitian bagi penulis.

2. Memberikan informasi tambahan kepada RSUP Haji Adam Malik Medan. 3. Memperoleh data terbaru untuk penelitian selanjutnya.


(18)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi telinga

Telinga merupakan organ penginderaan dengan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam (Dhingra, 2007).

2.1.1. Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna) dan liang telinga (meatus auditorius eksternus). Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada 1/3 bagian luar, sedangkan 2/3 bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang, panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. Satu pertiga bagian liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut, namun pada 2/3 bagian dalam hanya di jumpai sedikit kelenjar serumen (Dhingra, 2007).

2.1.2. Telinga Tengah

Telinga tengah terdiri dari gendang telinga (membrane tympanic), tulang pendengaran (malleus, incus, stapes) dan tuba eustachius. Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila di lihat dari arah liang telinga, mempunyai ukuran panjang vertical rata-rata 9-10 mm, diameter 8-9 mm dan tebalnya kira-kira 0,1 mm. Bagian atas di sebut pars flaksida, sedangkan bagian bawah di sebut

pars tensa. Pars flaksida hanya berpalis dua, yaitu bagian luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia.

Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier di bagian luar dan sirkuler di bagian dalam (Dhingra, 2007).

Tulang pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan dengan


(19)

pada incus dan incus melekat pada stapes. Stapes terletak pada sisi cochlea yang bersifat oval (Dhingra, 2007).

Tuba eustachius merupakan saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Tuba eustachius terdiri dari tulang pada1/3 bagian luar dan tulang rawan pada 2/3 ke arah nasofaring. Pada anak, tuba lebih pendek, lebih lebar dan kedudukannya lebih horizontal dari tuba orang dewasa. Panjang tuba orang dewasa 37,5 mm dan pada anak di bawah 9 bulan adalah 17,5 mm (Dhingra, 2007).

2.1.3. Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari semicircular canalis dan rumah siput (cochlea).

Semicircular canalis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Cochlea melengkung seperti cangkang siput, pada irisan melintang cochlea tampak vestibuli di sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media di antaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perlimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli di sebut membrani vestibuli, sedangkan dasar skala media adalah membran basalis, pada membrani ini terletak organ corti (Dhingra, 2007).

2.2. Fungsi Telinga

Telinga berfungsi sebagai indra pendengaran dan keseimbangan. Gelombang suara dikumpulkan oleh telinga luar dan di salurkan ke lubang telinga dan menuju gendang telinga. Gendang telinga bergetar untuk merespons gelombang suara, getaran ini mengakibatkan tiga tulang pendengaran (ossicle) di telinga tengah bergerak. Secara mekanis geteran dari gendang telinga ini akan disalurkan, menuju cairan yang berada di rumah siput (cochlea). Getaran yang sampai di cochlea ini akan menghasilkan gelombang, sehingga rambut sel yang ada di cochlea akan bergerak. Gerakan ini mengubah energi mekanik menjadi energi elektrik ke saraf pendengaran (auditory nerve) dan menuju ke pusat pendengaran di otak. Pusat ini akan menerjemahkan energi tersebut menjadi suara yang dapat di kenal oleh otak. Dalam fungsi keseimbangan, rangsangan di


(20)

transmisikan sepanjang serat saraf nervus cranialis kedelapan (auditorius) pars vestibularis ke otak tengah, medulla oblongata, cerebelum dan medulla spinalis.

Rangsangan ini memulai perubahan refleks pada otot-otot leher, mata, badan dan ekstremitas untuk mempertahankan keseimbangan, postur, serta mata dapat difiksasi pada objek yang bergerak (Dhingra, 2007).

2.3. Otitis Media Supuratif Kronik 2.3.1. Definisi

Otitis media merupakan suatu keadaan inflamasi pada telinga tengah dan rongga mastoid tanpa melihat pada etiologi atau patogenesis. Ada tidaknya efusi telinga tengah dan lamanya efusi akan membantu dalam mendefinisikan prosesnya. Efusi bisa serous, mukoid, atau purulen, jangka waktunya di bagi atas akut (0-3 minggu), subakut (3-12 minggu), atau kronik (>12 minggu). OMSK di cirikan dengan adanya sekret purulen yang persisten melalui membran timpani yang perforasi ataupun tympanostomy tuba yang tidak respon dengan terapi medikamen. Otitis media supuratif kronik adalah suatu radang kronis telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan riwayat keluarnya sekret dari telinga (otorea) lebih dari 2 bulan, baik terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah (Kenna dan Latz, 2006).

2.3.2. Epidemiologi

Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain di sebabkan kondisi sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, hygine dan nutrisi yang jelek. Otitis media kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di Negara sedang berkembang. Di negara maju seperti Inggris sekitar 0,9% dan di Israel hanya 0,0039%. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggeris kurang dari 1% (Lasminingrum L, 2000).


(21)

2.3.3. Etiologi

Kejadian OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa.Faktor infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis) mencapai telinga tengah melalui tuba Eustachius. Fungsi tuba Eustachius yang abnormal merupakan faktor predisposisi yang di jumpai pada anak dengan cleftpalate dan down’s syndrom. Faktor host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang relatif tinggi adalah defisiensi immun sistemik.

Penyebab OMSK antara lain:

a) Lingkungan

Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi mempunyai hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosioekonomi dimana kelompok sosioekonomi rendah memiliki insiden yang lebih tinggi, tetapi sudah hampir dipastikan hal ini berhubungan dengan kesehatan secara umum, diet dan tempat tinggal yang padat (Kumar, 1996).

b) Genetik

Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau sekunder (Kumar, 1996).

c) Otitis media sebelumnya

Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan bukan yang lainnya berkembang menjadi kronis (Kumar, 1996).


(22)

d) Infeksi

Bakteri yang di isolasi dari mukopus atau mukosa telinga tengah hampir tidak bervariasi pada otitis media kronik yang aktif menunjukkan bahwa metode kultur yang digunakan adalah tepat. Organisma yang terutama dijumpai adalah Gram- negatif dan beberapa organisma lainnya (Kumar, 1996).

e) Infeksi saluran nafas atas

Kuman penyebab OMSK antara lain kuman Staphylococcus aureus (26%), Pseudomonas aeruginosa (19,3%), Streptococcus epidermidimis (10,3%), gram positif lain (18,1%) dan kuman gram negatif lain (7,8%). Biasanya pasien mendapat infeksi telinga ini setelah menderita saluran napas atas misalnya influenza atau sakit tenggorokan. Melalui saluran yang menghubungkan antara hidung dan telinga (tuba Auditorius), infeksi di saluran napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat menjalar sampai mengenai telinga (Kumar, 1996).

f) Autoimun

Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insiden lebih besar terhadap otitis media kronis (Kumar, 1996).

g) Alergi

Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang lebih tinggi dibanding yang bukan alergi (Kumar, 1996).

h) Gangguan fungsi tuba eustachius.

Pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustachius sering tersumbat oleh edema tetapi apakah hal ini merupakan fenomen primer atau sekunder masih belum diketahui. Pada telinga yang inaktif berbagai metode telah digunakan untuk mengevaluasi fungsi tuba eustachius dan umumnya menyatakan bahwa tuba tidak mungkin mengembalikan tekanan negatif menjadi normal (Kumar, 1996).


(23)

2.3.4. Klasifikasi

Secara klinis OMSK dapat dibagi atas 2 tipe yaitu: tipe tubotimpanal (tipe mukosa = tipe benigna) dan tipe atikoantral (tipe tulang = tipe maligna). Penyakit tubotimpanal ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa dengan gejala klinik yang bervariasi dari luas serta tingkat keparahan penyakit. Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi tuba Eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah, disamping itu campuran bakteri aerob dengan anaerob luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous (Dhingra, 2007).

Secara klinis penyakit tipe tubotimpanal terbagi atas: penyakit aktif dan tidak aktif. Pada yang aktif terdapat sekret pada telinga dan tuli. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran nafas atas melalui tuba Eutachius atau setelah berenang, kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi dari mukoid sampai muko purulen. Ukuran perforasi bervariasi dari sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada parstensa. Jarang di temukan polip yang besar pada liang telinga luar. Sedangkan yang tidak aktif, pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti vertigo, tinnitus atau suatu rasa penuh dalam telinga (Dhingra, 2007).

Pada tipe antikoantral ditemukan adanya kolesteatom yang berbahaya. Penyakit atikoantral lebih sering mengenai pars flaksida dan khasnya dengan menghasilkan kolesteatom. Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega dan berwarna putih. Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu: kolesteatom kongenital dan kolesteatom didapat (Mills, 1997).

Kolesteatom didapat terbagi atas primary acquired cholesteatoma dimana kolesteatom terjadi pada daerah atik atau parsflaksida, dan secondary acquired cholesteatoma yang berkembang dari suatu kantong retraksi yang disebabkan peradangan kronis, biasanya bagian postero superior dari pars tensa. Khasnya perforasi marginal pada bagian postero superior (Meyer, 2006).


(24)

2.3.5. Patogenesis

Patogenesis OMSK benigna terjadi karena proses patologi telinga tengah, pada tipe ini didahului oleh kelainan fungsi tuba, maka disebut juga sebagai penyakit tubotimpanal. Terjadinya OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada anak, jarang di mulai setelah dewasa (Helmi, 2005). Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan (Djaafar, 2007). Kadang-kadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani, maka terjadilah proses inflamasi. Bila terbentuk pus akan terperangkap didalam kantong mukosa telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat, adekuat dan dengan perbaikan fungsi ventilasi telinga tengah, biasanya proses patologis akan berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal (Helmi, 2005).

Pada primary acquired cholesteatoma tidak ditemukan riwayat penyakit otitis media atau perforasi membran timpani sebelumnya. Kolesteatom ini timbul akibat terjadi proses invaginasi dari membran timpani pars flaksida karena adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba (Dhingra, 2007 dan Djaafar, 2007).

Pada secondary acquired cholesteatoma, kolesteatom yang terbentuk setelah adanya perforasi membran timpani. Kolesteatom terbentuk sebagai akibat dari masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi membran timpani ke telinga tengah atau terjadi akibat metaplasi mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang berlangsung lama (Dhingra, 2007 dan Djaafar, 2007).

2.3.6. Gejala Klinis

1. Telinga berair (otorrhoe)

Sekret bersifat purulen (kental dan putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus di hasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai


(25)

reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi, keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. Pada OMSK stadium inaktif tidak di jumpai adannya sekret telinga. Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil, berwarna putih dan mengkilat. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis (Kerschner, 2007).

2. Gangguan pendengaran

Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. Biasanya di jumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus di interpretasikan secara hati-hati. Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramenrotundum) atau fistellabirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea (Kerschner, 2007).


(26)

3. Perforasi

Pada yang jinak biasanya sentral, bisa di anterior, posterior atau inferior dari malleus dan pada yang ganas di daerah postero superior (Dhingra, 2007). Tala (2010) di Medan mendapatkan 36 telinga perforasi total, perforasi sentral sebanyak 26 telinga, perforasi subtotal dan posterosuperior masing-masing 1 telinga. Ologe dan Nwawolo mendapatkan 6% siswa SD negeri di desa dengan OMSK yang ditandai dengan perforasi persisten membran timpani lebih dari 3 bulan (Ologe dan Nwawolo, 2003).

4. Mukosa kavum timpani

Tampak pada perforasi membran timpani yang besar. Secara normal warnanya merah muda, saat terjadi inflamasi warnanya menjadi merah, udem dan lunak dan kadang-kadang tampak granulasi (Dhingra, 2007).

5. Otalgia (nyeri telinga)

Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis (Helmi, 1990).

6. Vertigo

Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya. Keluhan vertigo sering kali merupakan tanda telah terjadinya fistellabirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang


(27)

akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum (Helmi, 1990).

2.3.7. Diagnosa

Untuk melengkapi pemeriksaan dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagai berikut:

1) Pemeriksaan Audiometri

Pada pemeriksaan audiometri penderita OMSK biasanya di dapati tuli konduktif. Tapi dapat pula di jumpai adanya tuli sensotineural beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara di telinga tengah. Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui membran fenstrarotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer/permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea. Gangguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan, sedang, berat dan ketulian total, tergantung dari hasil pemeriksaan (audiometri atau test berbisik). Skala ISO mengklasifikasikan ketulian menjadi beberapa derajat (berdasarkan batas ambang pendengaran pada pemeriksaan audiometri), yaitu :

Normal : 0 dB sampai 25 dB

Tuli ringan : 26 dB sampai 40 dB Tuli sedang : 41 dB sampai 60 dB

Tuli berat : 61 dB sampai 90 dB

Tuli sangat berat : lebih dari 90 dB

Evaluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi kohlea dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian tutur, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat


(28)

di perkirakan dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. Untuk melakukan evaluasi ini, observasi berikut bias membantu:

• Perforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 15-20 dB.

• Kerusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif 30-50 dB apabila di sertai perforasi.

• Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran di belakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif 55-65 dB.

• Kelemahan diskriminasi tutur yang rendah, tidak peduli bagaimana pun keadaan hantaran tulang, menunjukan kerusakan kohlea parah. Pemeriksaan audiologi pada OMSK harus dimulai oleh penilaian pendengaran dengan menggunakan garpu tala dan test Barani. Audiometri tutur dengan masking adalah dianjurkan, terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur (Boesoirie, 2007).

2) Pemeriksaan Radiologi.

Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilai diagnostiknya terbatas di bandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri. Pemerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit di bandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang terutama pada daerah atik memberi kesan kolesteatom Proyeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah:

a) Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan segmen. Pada keadaan mastoid yang skleritik, gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral (Johnson, 2003).

b) Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah dan anterior telinga tengah. Akan tampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga


(29)

dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur (Johnson, 2003).

c) Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibat kolesteatom (Johnson, 2003).

d) Proyeksi Chause III, memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom, ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanal semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil X-ray saja. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya penyakit mastoid (Johnson, 2003).

3) Bakteriologi

Walapun perkembangan dari OMSK merupakan lanjutan dari mulainya infeksi akut, bakteriologi yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda dengan yang di temukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang sering di jumpai pada OMSK adalah Pseudomonasaeruginosa, Stafilokokusaureus dan Proteus. Sedangkan bakteri pada OMSA Streptokokuspneumonie, H. influensa, dan Morexella kataralis. Bakteri lainyang dijumpai pada OMSK E. Coli, Difteroid,

Klebsiella, dan bakteri anaerob adalah Bacteriodes sp. Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus parasanal, adenoid atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah pneumokokus, streptokokus, atau hemofilius influenza, tetapi pada OMSK keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi membran timpani, infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi tadi (Ballenger JJ, 1997).


(30)

2.3.8. Komplikasi

Komplikasi OMSK terbagi dua, yaitu komplikasi intratemporal (komplikasi ekstrakranial) dan komplikasi ekstratemporal. Komplikasi intratemporal terdiri dari parese n.fasial dan labirinitis. Komplikasi ekstratemporal (komplikasi intrakranial) terdiri dari abses ekstradural, abses subdural, tromboflebitis sinus lateral, meningitis, abses otak dan hidrosefalus otitis. Pada OMSK ini walaupun telinga berair sudah bertahun-tahun lamanya telinga tidak merasa sakit, apabila didapati telinga terasa sakit disertai demam, sakit kepala hebat dan kejang menandakan telah terjadi komplikasi ke intrakranial (Kenna dan Latz, 2006).

2.3.9. Penatalaksanaan

Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini di sebabkan oleh satu atau beberapa keadaan yaitu :

a. Adanya perforasi membran timpani yang permanen, sehingga

berhubungan dengan dunia luar.

b. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinusparanasal. c. Sudah terbentuk jaringan patologik yang ireversibel dalam rongga

mastoid.

d. Gizi dan higien yang kurang.

Prinsip penatalaksanaan OMSK dapat dibagi atas penatalaksanaan medis dan bedah. Penatalaksanaan medis adalah aural toilet, yaitu pembersihan telinga dari sekret, dan terapi antimikroba topikal, yaitu pemberian tetes telinga antibiotik topikal (Mills, 1997).

Penatalaksanaan bedah dari OMSK adalah operasi mastoidektomi, yang terdiri dari mastoidektomi sederhana yang bertujuan untuk mengevakuasi penyakit yang hanya terbatas pada rongga mastoid dan mastoidektomi radikal yang bertujuan untuk mengeradikasi seluruh penyakit di mastoid dan telinga tengah di mana rongga mastoid telinga tengah dan liang telinga luar di gabungkan


(31)

menjadi satu ruangan sehingga drainase mudah. Untuk kasus-kasus yang akan di lakukan perbaikan fungsi pendengaran dilakukan timpanoplasti (Johnson, 2003).

Prinsip terapi OMSK tipe benigna ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila sekret keluar terus menerus, maka diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Secara oral diberikan antibiotik dari golongan ampisilin atau eritromisin (bila pasien alergi terhadap penisilin) sebelum hasil tes resistensi di terima. Pada infeksi yang di curigai karena penyebabnya telah

resisten terhadap ampisilin dapat di berikan amoxisilin asam klavulanat (Djaafar etal, 2007).

Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah di observasi selama 2 bulan, maka idealnya di lakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran tympani yang perforasi dan mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat. Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada atau infeksi yang berulang, maka sumber infeksi itu harus di obati terlebih dahulu mungkin juga perlu melakukan pembedahan misalnya adenoid ektomi dan tonsilektomi (Djaafaretal, 2007).

Prinsip terapi OMSK tipe bahaya ialah pembedahan yaitu mastoidektomi, apabila terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan apabila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi. Jenis pembedahan pada OMSK antara lain: mastoidektomi sederhana, mastoidektomi radikal, mastoidektomi radikal dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti, dan pendekatan ganda timpanoplasti (Djaafar etal, 2007).


(32)

BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :

Data rekam medis penderita Otitis Media Supuratif Kronis

DiRSUP Haji Adam Malik Medan

pada tahun 2011-2013

Karakteristik penderita Otitis Media Supuratif Kronis

- Jumlah penderita, kelompok

usia dan perbandingan jenis kelamin

- Tipe OMSK

- Keluhan UtamaOMSK

- Gejala klinis OMSK

- Jenis perforasi membran

timpani

- Komplikasi OMSK


(33)

3.2. Definisi operasional

Variabel Definisi operasinal

Alat ukur

Cara ukur Hasil ukur

Jumlah penderita Jumlah pasien yang menderita OMSK yang benigna maupun yang maligna Rekam medis Menghitung jumlah penderita OMSK

Jumlah keseluruhan pasien OMSK dari tahun 2011 -2013 Kelompok usia Pengelompokan umur Rekam medis Mengelompokan penderita OMSK berdasarkan kategori Department Kesehatan 1998

1) 0-10 tahun 2)11-20 tahun 3) 21-30 tahun 4) 31-40 tahun 5) 41-50 tahun 6) 51-60 tahun 7) 61-70 tahun 8) >70 tahun Jenis kelamin Pengolongan jenis kelamin Rekam medis Menghitung jumlah penderita laki-laki dan perempuan

1) Laki laki 2) Perempuan Keluhan Utama Keluhan utama yang dirasakan oleh penderita Rekam medis

Melihat keluhan yang dirasai oleh penderita di rekam medis

1) Otorea Discharge

constant/intermittent / tidak ada

discharge (kering) 2) Otalgia 3) Gangguan pendengaran Tipe OMSK Jenis OMSK berdasarkan temuan klinis di bahagi kepada 2 yaitu tipe

benigna dan tipe maligna

Rekam medis

Membedakan penderita OMSK

1) Benigna (Tipe mukosa/ aman)

- penyakit : tubotympanic - perforasi : pusat - keluaranya :

intermitten, mukopurulen atau purulen, biasanya tanpa bau busuk, putih atau kekuningan,


(34)

Variabel Definisi operasinal

Alat ukur

Cara ukur Hasil ukur

- polip : umum - cholesteatoma :

hampir selalu hadir - tuli : konduktif atau

campuran, ringan sampai berat - komplikasi : umum - radiografi dari

mastoid : sklerotik dengan erosi Gejala klinis Gejala yang ditimbulkan akibat OMSK Rekam medis Melihat gejala klinis yang dijumpai oleh penderita OMSK pada rekam medis 1) Otorea 2) Otalgia 3) Tinnitus 4) Vertigo 5) Gangguan Pendengaran Jenis Perforasi Jenis perforasi yang terjadi akibat OMSK Rekam Medis Melihat jenis perforasi yang dijumpai oleh penderita OMSK pada rekam medis

1) Perforasi sentral (subtotal)

2) Perforasi marginal 3) Perforasi atik 4) Perforasi total

Komplikasi OMSK Penyakit yang baru timbul sebagai tambahan penyakit yang sudah ada Rekam medis Melihat komplikasi yang dijumpai oleh penderita OMSK pada rekam medis

1) Komplikasi mastoiditis - Mastoid

abscess - Subperiosteal

abscess

- Bezold’s abscess - Zygomatic

Abscess - Luc’s abscess - Citelli’s abscess

2) Komplikasi Intrakranial - Abses ekstradural


(35)

Variabel Definisi operasinal

Alat ukur

Cara ukur Hasil ukur

- Abses Subdural - Abses otak - Meningitis

- Hidrosefalus otitis

3) Komplikasi Extrakranial - Petrositis

- Paralisis nervus fasial

- Labirinitis

Jenis terapi Pengobatan yang diberikan pada penderita di RSUP HAM Medan

Rekam medis

Melihat jenis-jenis terapi yang digunakan untuk penderita

OMSK pada rekam medis

1) Medikamentosa 2) Operatif


(36)

23 BAB 4

METODOLOGI PENELETIAN

4.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini di lakukan dengan metode penelitian deskriptif yang akan menggambarkan karakteristik penderita otitis media supuratif kronik di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011-2013. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan desain cross sectional. Pada penelitian kali ini di lakukan pengumpulan data berdasarkan rekam medis dari RSUP Haji Adam Malik Medan.

4.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Waktu penelitian adalah pada bulan Juli 2014 sampai dengan bulan Oktober 2014.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian adalah seluruh penderita OMSK yang berobat di RSUP Haji Adam Malik untuk tahun 2011-2013.

4.3.2 Sampel

Jumlah populasi (total sampling)

4.4. Kriteria Inlkusi dan Eksklusi 4.4.1. Kriteria Inklusi

- Penderita yang di diagnosa sebagai OMSK dari tahun 2011-2013. - Penderita OMSK yang mempunyai data rekam medik yang lengkap.

4.4.2. Kriteria Ekslusi


(37)

4.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengambilan data di lakukan dengan menggunakan rekam medis sesuai dengan status penelitian. Hal yang di perlukan dalam mendapatkan karakteristik penderita OMSK dicatat dan di uraikan berdasarkan kebutuhan peneliti.

4.6. Pengolahan dan Analisa Data

Data yang telah di kumpulkan di olah dengan aplikasi software SPSS kemudian akan dianalisa secara deskriptif.


(38)

24 BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik merupakan rumah sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990 dan sesuai dengan SK Menkes No.502/Menkes/SK/IX/1991, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik juga sebagai Pusat Rujukan wilayah Pembangunan A yang meliputi Provinsi Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan Riau. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik terletak di Jalan Bunga Lau No. 17 Km.12 Kecamatan Medan Tuntungan, Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara.

5.1.2 Deskripsi Karakteristik Sampel

Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder dari rekam medis penderita Otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013 dengan jumlah penderita OMSK sebanyak 850 penderita. Kriteria Inklusi pada penderita Otitis media supuratif kronis pada penelitian ini sebanyak 687 penderita dan kriteria eksklusinya sebanyak 163 penderita.

Tabel 5.1 Distribusi Jumlah Penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik

Tahun n

2011 307

2012 282

2013 261

Jumlah 850

Keterangan: n = frekuensi

Berdasarkan (Tabel 5.1) dapat dilihat bahwa jumlah penderita otitis media supuratif kronis (OMSK) di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011 – 2013 sebanyak 850 orang.


(39)

Tabel 5.2 Distribusi Penderita OMSK berdasarkan Kelompok Usia dan jenis kelamin

n %

Usia

0-10 113 16,4

11-20 130 18,9

21-30 137 19,9

31-40 85 12,4

41-50 78 11,4

51-60 56 8,2

61-70 33 4,8

>70 55 8,0

Total 687 100

Jenis kelamin

Laki-laki 409 59,5

perempuan 278 40.5

Total 687 100

Keterangan: n = frekuensi, % = persentase

Berdasarkan tabel 5.2 menunjukkan kelompok usia dan jenis kelamin penderita OMSK yang paling banyak adalah kelompok usia 21-30 tahun (19,9%) sedangkan jumlah yang paling sedikit adalah kelompok usia 61-70 tahun (4,8s%). Distribusi penderita OMSK berdasarkan jenis kelamin ditemukan jumlah yang paling banyak adalah laki-laki (59,5%) di bandingkan perempuan (40,5%.).

Tabel 5.3 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Keluhan Utama dan Tipe OMSK

n %

Keluhan utama

Otorea 561 81,7

Otalgia 68 9,8

Gangguan pendengaran 58 8,4

Total 687 100

Tipe OMSK

Benigna 608 88,5

Maligna 79 11,5

Total 687 100


(40)

Berdasarkan table 5.4 menunjukkan keluhan utama yang terbanyak adalah Otorea (81,7%) dan jumlah yang paling sedikit adalah gangguan pendengaran (8,4%). Sedangkan tipe OMSK yang memiliki jumlah paling banyak adalah benigna (88,5%) dan jumlah yang paling sedikit adalah tipe maligna (11,5%).

Tabel 5.4 Distribusi Gejala Klinis OMSK

Gejala klinis n

Otorea 663

Otalgia 292

Tinnitus 87

Vertigo 75

Gangguan pendengaran 218

Keterangan: n = frekuensi

Berdasarkan (Tabel 5.6), di temukan bahwa gejala klinis yang terbanyak adalah gejala klinis otorea sebanyak 663 kasus. Sedangkan gejala klinis yang paling sedikit di temukan adalah pada vertigo yaitu 75 kasus.

Tabel 5.5 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Jenis Perforasi

Jenis Perforasi n %

Sentral 602 87,6

Marginal 38 5,5

Atik 38 5,5

Total 9 1,3

Total 687 100

Keterangan: n = frekuensi, % = persentase

Berdasarkan (Tabel 5.7) dapat di lihat letak perforasi tertinggi pada penderita OMSK adalah perforasi sentral (87,6) dan jenis perforasi yang paling sedikit adalah pada jenis perforasi total (1,3%).


(41)

Tabel 5.6 Distribusi Penderita OMSK Berdasarkan Komplikasi dan jenis terapi OMSK

Komplikasi n %

- Tidak ada kompikasi 645 93,9

- Komplikasi Mastoiditis

• Mastoid abscess 6 0,9

• Subperiosteal abscess 2 0,3

• Bezold's abscess 2 0,3

• Zygomatic abscess 4 0,6

• Luc's abscess 3 0,4

• citelli's abscess 1 0,1

- Komplikasi Intrakranial

• Abses ekstradural 4 0,6

• Abses subdural 1 0,1

• Abses otak 3 0,4

• Meningitis 4 0,6

• Hidrosefalus otitis 3 0,4

- Komplikasi Extrakranial

• Petrositis 3 0,4

• Paralisis nervus fasial 2 0,3

• Labirinitis 4 0,6

Total 687 100

Jenis terapi

Medikamentosa 603 87,8

Medikamentosa + operatif 84 12,2

Total 687 100

Keterangan: n = frekuensi, % = persentase

Berdasarkan (Tabel 5.8), Pasien OMSK yang tidak mempunyai komplikas adalah yang paling banyak ditemukan (93,9%) dan komplikasi Mastoid absess adalah komplikasi tersering pada penderita OMSK (0,9%) sedangka komplikasi yang jarang ditemukan adalah Citelli's abscess dan Abses subdural (0,1%). Berdasarkan jenis terapi penderita OMSK yang paling banyak adalah medikamentosa (87.8%), diikuti oleh medikamentosa + Operatif (12.2%).


(42)

5.2 Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penderita Otitis media supuratif kronis di RSUP Haji Adam Malik dari tanggal 02 Januari 2011 ke 31 Desember 2013. Data penelitian ini diambil dari data sekunder, yaitu rekam medis pasien. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling.

Berdasarkan (Tabel 5.1) pada penelitian ini jumlah penderita Otitis media supuratif kronis termasuk kriteria inklusi dan eksklusi di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011-2013 sebanyak 850 penderita. Pada tahun 2011 terdapat 307 penderita, diikuti dengan tahun 2012 yaitu 282 penderita dan pada tahun 2013 sebanyak 261 penderita. Berdasarkan ke tiga tahun ini, dapat di lihat bahwa frekuensi penderita Otitis media supuratif kronis menurun dari tahun 2011 hingga 2013.

Berdasarkan (Tabel 5.2) penderita OMSK yang paling banyak di temukan pada kelompok usia 21- 30 tahun (19,9%). Menurut Sri Mella Tala di Medan (2010) juga didapatkan kelompok usia yang terbanyak penderita OMSK yaitu usia 21-30 tahun (42,6%). Suryanti di Surabaya (2003) mendapatkan kelompok terbanyak penderita OMSK adalah kelompok umur 21–30 tahun (51,9%). Tingginya insidensi OMSK pada dewasa muda di sebabkan oleh anatomi tuba eustachius yang relatif pendek dan lurus, status ekonomi yang rendah, hygiene dan perilaku sehat yang kurang baik, status imun yang rendah, tinggal di pemukiman yang padat, dan terpaparnya anak-anak oleh asap (Smith-Vaughan Heidi et al, 2009)

Berdasarkan distribusi penderita OMSK berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa jenis kelamin laki- laki (59,5%) sedangkan pada perempuan (40,5%). Berdasarkan penelitian lain Nora Balqis di Medan (2010) mendapatkan jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki (50,96%). Menurut Suryanti (2003) di Surabaya penderita laki-laki (56,5%). Menurut Dina permata S (1999) di Semarang penderita laki-laki sebanyak (54,17%) dan Akinpeludi Nigeria (2008). Perbandingan laki-laki dan perempuan penderita OMSK adalah 1,2 : 1. Menurut Farida dkk (2006), dengan hasil penelitian yang dilakukan di RS Sardjito Yogyakarta selama 2 tahun, jenis kelamin yang terbanyak menderita OMSK adalah lelaki sebesar 62,1%. Menurut Srivastava et al (2010), menyatakan bahwa


(43)

laki-laki lebih sering menderita OMSK di sebabkan karena laki-laki memiliki kebiasaan bekerja di luar rumah, sehingga laki-laki lebih sering terpapar terhadap kontaminan dan penularan.

Berdasarkan (Tabel 5.3) dapat dilihat bahwa keluhan utama yang sering adalah otorea (81,7%), diikuti dengan keluhan utama otalgia (9,8%). Sedangkan keluhan utama yang paling sedikit terdapat pada keluhan utama adalah gangguan pendengaran (8,4%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan di RS Sardjito Yogyakarta selama 2 tahun, di mana keluhan yang terbanyak di derita oleh penderita OMSK adalah keluhan telinga berair (99,8%) (Eliza Nasrul, 2002). Selain itu, hal inijuga sejalan dengan penelitian yang di lakukan di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar selama 3 tahun, keluhan yang terbanyak di derita oleh penderita OMSK adalah keluhan telinga berair (98,7%) (Lasminingrum L, 2000). Menurut Syah (2011), dengan hasil penelitian yang di lakukan di RSU Immanuel Bandung selama 1 tahun, keluhan yang terbanyak di derita oleh penderita OMSK adalah keluhan telinga berair (99,6%). Hal ini berkaitan dengan produksi cairan yang meningkat sebagai respon infeksi pada telinga tengah (Hendley, 2002).

Berdasarkan tipe OMSK tertinggi pada penderita OMSK di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2011– 2013 adalah tipe jinak atau benigna (88,5%). Berdasarkan penelitian lain Nora Balqis di Medan (2011) tipe tuba timpani (77,4%) dan menurut Suryanti di Surabaya (2003) di mana tipe OMSK terbanyak adalah tipe benigna (75,36%). Albert di India (2005) juga mendapatkan tipe OMSK terbanyak adalah tipe benigna yaitu sebanyak (50,6%).Menurut Eliza Nasrul, Bandung (2002) di RS Hasan Sadikin Bandung di laporkan frekuensi OMSK benigna selama periode 1988–1990 sebesar (15,7%) dan pada tahun 1991 di laporkan prevalensi OMSK benigna sebesar 10,96% dari seluruh kunjungan. Berdasarkan penelitian ini tidak ada perbedaan dengan penelitian sebelumnya bahwa tipe OMSK tersering adalah tipe jinak yaitu benigna (78,8%). OMSK tipe maligna merupakan komplikasi dari OMSK benigna yang berlangsung lama. Rendahnya tingkat kejadian OMSK tipe maligna di sebabkan oleh tingginya tingkat kesadaran pasien OMSK dengan tipe benigna untuk mencari pengobatan awal, sehingga mengurangi angka terjadinya komplikasi (Wijaya, 2012).

Berdasarkan (Tabel 5.4) dapat di lihat bahwa gejala klinis yang terbanyak yaitu telinga berair atau otorea, berdasarkan penelitian lain yang dilakukan oleh


(44)

Riska dan Rony pada tahun 2010 juga di dapatkan keluhan telinga berair (98,3%) yang di miliki oleh penderita OMSK dan juga di dapatkan keluhan telinga berair (70,9%) pada penelitian yang dilakukan oleh Nora Balqis (2011). Gejala klinis penderita OMSK berbeda-beda dan mengalami lebih dari satu gejala klinis yaitu telinga berair, nyeri telinga, gangguan pendengaran, vertigo dan tinnitus. Meningkatnya jumlah sekret dapat di sebabkan oleh infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang (Nursiah, 2003 dan Djaafar, 2007).

Berdasarkan (Tabel 5.5) di lihat bahwa jenis perforasi yang tertinggi yaitu perforasi sentral (87,6%). Menurut penelitian Iqbalet al (2011) bahwa di temukan jenis perforasi terbanyak adalah perforasi sentral (43,15%), marginal (27,4%), dan atik (26,3%). Dalam hasil penelitian yang dilakukan Bakari, AA (2010) ke atas anak-anak sekitar usia 5-15 tahun di temukan letak perforasi sentral lebih tinggi yaitu 76% di bandingkan dengan total yaitu 24%. Penyebab cukup banyaknya perforasi sentral juga tidak di ketahui secara pasti.

Berdasarkan (Tabel 5.6) di lihat bahwa komplikasi tersering yaitu tidak ada komplikasi (93,9%) dan seterusnya komplikasi paling tersering adalah mastoiditis (0,9%). Penelitian lain menyebutkan Abis T (2001) di Medan mastoiditis (42,3%). Penelitian dari Pan African Medical Journal, 2010 menyatakan komplikasi yang tertinggi adalah mastoid abses di 5 penderita (6,8%), abses subperiosteal 1 penderita (1,4%), meningitis 1 penderita (1,4%) dan parase nervus fasialis 1 penderita (1.4%). Pada OMSK tipe bahaya sering kali menimbulkan komplikasi yang berbahaya, maka perlu di tegakan diagnosis dini seperti perforasi pada marginal atau pada atik, tanda ini biasanya merupakan tanda dini dari OMSK tipe maligna, sedangkan pada kasus yang sudah lanjut dapat di

jumpai abses atau fistelretroaurikuler, granulasi, kolesteatoma pada telinga tengah (Djaafar et al, 2007).

Berdasarkan jenis terapi penderita OMSK yang terbanyak adalah medikamentosa sebanyak (87,8%). Hal ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan Suryanti (2003) di RS Soetomo Surabaya, di mana jenis terapi yang


(45)

31

penelitian Arquedas et al (1994) mengatakan bahwa antimikroba oral sangat efektif untuk pengobatan kebanyakan pasien dengan kasus OMSK tanpa kolesteatom (benigna), sejalan dengan penelitian, seluruh pasien OMSK tipe benigna di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012 dapat di sembuhkan dengan terapi medikamentosa saja. Sementara tidak di temui pasien tipe benigna yang mendapatkan terapi operatif. Prinsip terapi untuk tipe berbahaya (maligna) adalah pembedahan, yaitu mastoidektomi. Jadi apabila terdapat OMSK tipe bahaya, maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti dan tetap di berikan terapi konservatif dengan medikametosa sebelum di lakukan pembedahan (Djaafar et al, 2007).


(46)

32 BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti mendapat kesimpulan sebagai berikut: 1. Jumlah total penderita Otitis media supuratif kronis (OMSK) di Rumah Sakit

Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebanyak 850 penderita.

2. Pasien OMSK berdasarkan usia penderita terbanyak adalah pada usia 21-30 tahun (19.9%).

3. Pasien OMSK berdasarkan jenis kelamin terbanyak yaitu laki-laki (59.5%). 4. Pasien OMSK berdasarkan keluhan utama terbanyak adalah otorea (81.7%). 5. Pasien OMSK berdasarkan tipe OMSK tersering yaitu tipe benigna (88.5%), 6. Pasien OMSK berdasarkan gejala klinis terbanyak adalah telinga berair

(otorea) 663 kasus.

7. Pasien OMSK dengan jenis perforasi membran timpani yang paling banyak adalah perforasi sentral (subtotal) (87.6%).

8. Pasien OMSK yang tidak mempunyai komplikasi adalah yang paling banyak ditemukan (93,9%) dan komplikasi Mastoid absess adalah komplikasi tersering pada penderita OMSK (0,9%) sedangkan komplikasi yang jarang ditemukan adalah Citelli's abscess dan Abses subdural (0,1%).

9. Pasien OMSK berdasarkan jenis terapi yang banyak di berikan adalah medikamentosa (87.8%)

6.2 Saran

1. Diharapkan kepada pihak rumah sakit agar meningkatkan kualitas dan kelengkapan data rekam medik, agar mempermudah peneliti dan tenaga medis lainya untuk melakukan pengamatan dan penelitian terdahap pasien.

2. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat lebih mengembangkan penelitian seperti menambah rentang waktu, variabel, ataupun memperluas lokasi penelitian.


(47)

3. Dapat dilakukan penyuluhan dan pemahaman terhadap masyarakat tentang OMSK baik keluhan utama maupun pengobatannya.


(48)

DAFTAR PUSTAKA

Aboet A. 2007. Radang telinga tengah menahun.Pidato pengukuhan jabatan guru besar tetap.USU. Medan.

Albert, 2005, ‘Outcome of Bacterial Culture from Mastoid Granulations : itis relevant in chronic ear disease’ in the Journal of Laryngology andOtology. 119 (10): 774-8.

Adoga A, Nimkur T, Silas O, 2010. Chronic suppurative otitis media: Socioeconomicimplications in a tertiary hospital in Northern Nigeria.PanAfrican Medical Jour-nal. Nigeria. 4:3. hal 1-8.

Akinpelu AV, 2008. Challenges in managementof chronic suppurative otitis media in a developing country.The Journalof Laryn-gology and Otology. Nigeria. 122. p 16-20.

Abis T G,2001; Cermin dunia kedokteran otitis media supuratif kronik fromhttp://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/17_KegiatanIlmiah.pdf/17_Keg iatanIlmiah.html [ Diakses 24 Maret 2003]

Arquedas, A, et al, 1994.Antimicrobial Therapy forchildren with chronic suppurative otitis media without cholesteatoma. Pediatric Infect Dis J., 13(10): 878-882.

Ballenger ,J. J. 1997. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher.Dalam: Jilid 2, Edisi 13, Alih Bahasa: Staf Ahli Bagian THT RSCM-FKUI, Jakarta, Binapura Aksara; p107-118.

Berman S. Otitis media ini developing countries.Pediatrics. July 2006. Available at:www.pediatrics.org.

Boesoire, T.S, Lasminingrum,L. 2007. Perjalanan klinis dan penatalaksaan otitis media supuratif. Available at:

=20.

Bakari AA,et al, 2010. Pattern of Chronic Suppurative Otitis Media at the National Ear Care Centre Kaduna, Nigeria . Available from : Desember 2013] Berman S. Otitis media ini developing countries. Pediatrics. July 2006.


(49)

Dhingra, P. L. 2007. Anatomy of ear, in Disease of Ear, Nose, and Throat.3rd Ed. El-sevier.New Dehli .p3-13.

Djaafar ,Z.A. 2007. Kelainan Telinga Tengah, dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung, Tenggorok Kepala Leher. Balai Penerbit FK UI. Jakarta.p. 49-62.

Dina permata S, (1999)Faktor Resiko Yerjadinya Kurang Pendengaran Campuran Pada Otitis Media Supuratif Kronik. Available from

Eliza Nasrul, 2002. Penggunaan Tetes Telinga Serum Autologous dengan Amnion untuk Penutupan Perforasi Membran Timpani. Available from :

Farida dkk, 2006, Alergi sebagai Faktor Resiko Terhadap Kejadian OtitisMedia Supuratif Kronis Tipe Benigna. Available from :

http://med.unhas.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id =147:alergi-sebagai-faktor-risiko-terhadap-kejadian-otitis-mediasupuratif-kronik-tipe-benigna-&catid=100&Itemid=48[Accesed 20 Nopember 2010]

Helmi, S. 2005.Otitis Media Supuratif Kronis dalam Otitis Media Supuratif Kronis pengetahuan Dasar Terapi Medik Mastoidektomi.Balai penerbit FK UI Jakarta.p. 55-72.

Hendley J. O. 2002. Otitis Media. New England Journal of Medicine 347 (15), 1169-1174.

Iqbal et al, (2011) : Pola kuman aerobdan uji sensitifitas pada penderita Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) diDepartemen THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41566/5/Chapter%20I.pdf

Johnson G.D. 2003. Simple mastoid operation. In: Glasscock-Shambough Surgery of the ear. 5th.BC.Decker, Hamilton, Ontario.p 487.

Kenna,M. A and Latz, A. D. 2006.Otitis Media and Middle Ear Effusion, in Bailey, B. J., Johnson, J. T., Newsland, S. D. Editors.Head and Neck Surgery Otolaryngology.4th Ed. Vol 1. Philadelphia, USA. Lipponcott Williams & Wilkins. p. 1265-1275.

Kerschner, J.E. 2007. Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson Textbook of Pediatrics. 18thed. USA: Saunders Elsevier, 2632-2646.


(50)

Kumar S, 1996. Chronic Suppurative Otitis Media. In: Fundamenta of Ear, Nose and Throat Disease and Head Neck Surgery, Calcuta, 6th ed; p.100-107.

Lasminingrum L, 2000. Perjalanan klinis dan penatalaksanaan otitis media supuratif. Available at:

Meyer, 2006.Cholesteatoma, in Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD, editors.Head and Neck Surgery-Otolaryngology 4(2). Philadephia, USA. Lip-pincott Williams & Wilkin.p2081-2091.

Mills, R. P. 1997. Management of Chronic Suppurative Otitis Media, in Kerr AG (Ed) Scott-Brown’s Otolaryngology.Vol 3.6th ed. Butterworth-Heinemann.p1-19.

Nora Balqis,2011:Gambaran otitis media supuratif kronik di RSUP. H.AdamMalik tahun 2008 available from: http://www.repository.usu.ac.id

Nursiah, S, 2003. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan KepekaanTerhadap Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU / RSUP.H.AdamMalik Medan. Available from

Ologe FE, Nwawolo CC. 2003 Chronic Suppuratif otitis media in school pupils in Nigeria.East Afr Med J.Nigeria 80(3).p130-134.

Paparella MM, Adams GL, Levine SC, 1997. ‘Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid’ dalam Adams GL, Boies LR, Higler PA (Ed).Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6th Ed. EGC. Jakarta.

Pan African Medical Journal, 2010. Available from :http://www.panafrican-med-journal.com/content/article/4/3/ful

Restuti RD, 2007.Profil klinis dan operatif pasien OMSK di RSCM, data 5 tahun, dalam Kumpulan abstrak PITO-5 dan AANOA-3.Yogyakarta.p 173.

Riska dan Rony, 2010. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK). Available from

Soepardi, EA, Nurbaiti, Jenny, Restuti, DR, 2007. Buku Ajar Ilmu KesehatanTelinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala & Leher. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Edisi 6, Jakarta


(51)

Shah, 2011.Hearing Impairment. Available from:

http://emedicine.medscape.com/article/994159-clinical#showall.

Suryanti DP, 2003. ‘Otitis Media Supuratif Kronik di Poli THT RS. Dr SoetomoSurabaya tahun 2002’, dalam: Tala, S. M., 2010. ‘Hubungan Jenis OtitisMedia Supuratif Kronis dengan Gangguan Pendengaran’.Tesis.Universitas Sumatera Utara. Medan.

Smith-Vaughan Heidi et al, 2009. Otitis Media : anOngoing Microbial Challenge. In: Microbiology Australia Official Journal of theAustralian Society for Microbiology Incorporation Volume 30, pg. 181 -184

Srivastava, A, et al,2010.Microbiological Evaluation of Active Tubotympanic Type of ChronicSuppurative Otitis Media. Nepalese Journal of ENT Head & Neck Surgery , 1(2):14-16.

Tala SM, 2010.Hubungan jenis OMSK dengan gangguan pendengaran di RSUP H. Adam Malik Medan.Tesis. Hal 1-70.

Wijaya, WN, 2012. Proporsi adan Karakteristik Pasien Penderita Oti tis MediaSupuratif Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Tahun 2010 -2011. Medan: Universitas Sumatera Utara.

World Health Organization, Chronic Suppurative Otitis Media, Burden of Illnessand Management Options, Child and Adolescent Health and

Development,Prevention of Blindness and Deafness, Geneva, Switzerland,2004. Available at:


(52)

CURRICULUM VITAE

Nama : Sasvene Varatheraju

Tempat/TanggalLahir : Malaysia/ 01 November 1990

Pekerjaan : Mahasiswi

Agama : Hindu

Alamat : Tasbih 1 E65, Jalan Setiabudi

Orang tua

a. Ayah : Varatheraju Sinnadurai

b. Ibu : Malar Villi Letchumana Dass

Riwayat Pendidikan : 1. Tadika Commonwell (1994)

2. Sekolah Rendah Bukit Bintang Girls School (1997-2001)

3. Sekolah Rendah Kebangasaan Seri Bintang Utara (2002)

4. Sekolah Menengah Kebangasaan Seri Bintang Utara (2003-2007)

5. Nirwana College (2009-2010)

6. Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara (2011-Sekarang)


(53)

KARAKTERISTIK PENDERITA OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS DI RSUP HAJI ADAM MALIK

MEDAN PADA TAHUN 2011-2013

No Jenis Kelamin Usia Keluhan utama

Tipe

OMSK Gejala Klinis Jenis perforasi Komplikasi Terapi

1

Lelaki 10 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

2

Lelaki 22 Otorea Benigna Otorea+Otalgia Sentral Medikamentosa

3

Lelaki 44 Otorea Maligna Gangguan pendengaran+Tinnitus Marginal Bezold's abscess Operatif

4

Lelaki 8 Otorea Maligna Otorea+Gangguan pendengaran Atik Zygomatic abscess Operatif

5

Lelaki 46 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

6

Lelaki 42 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

7

Lelaki 66 Otorea Maligna Gangguan pendengaran+Vertigo Atik Labirintis Operatif

8

Perempuan 39 Otorea Benigna Tinnitus+Otalgia Sentral Medikamentosa

9

Perempuan 33 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

10

Lelaki 54 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

11

Lelaki 26 Otorea Benigna Otorea+Tinnitus Sentral Mediakamentosa

12


(54)

Perempuan 27 pendengaran Benigna Otalgia+Vertigo Sentral 14

Perempuan 17 Otorea Maligna Tinnitus+Vertigo Total Meningitis Operatif

15

Lelaki 54 Otorea Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

16

Lelaki 66 Otorea Benigna Otorea+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

17

Perempuan 7

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

18

Lelaki 6 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

19

Lelaki 24 Otorea Benigna Otorea+Tinnitus Sentral Medikamentosa

20

Lelaki 63 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

21

Lelaki 39 Otorea Benigna Tinnitus+Gangguan pendengan Sentral Medikamentosa

22

Perempuan 24

Gangguan

pendengaran Benigna Vertigo+Otalgia Sentral Medikamentosa

23

Perempuan 16 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

24

Lelaki 22 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

25

Perempuan 43 Otorea Benigna Tinnitus Sentral Medikamentosa

26

Perempuan 9 Otorea Benigna Otalgia+Otorea Sentral Medikamentosa

27

Perempuan 47 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

28

Perempuan 19 Otorea Maligna Gangguan pendengaran+Tinnitus Total Petrositis Operatif


(55)

Lelaki 64 otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa 31

Lelaki 32 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Vertigo Sentral Medikamentosa

32

Perempuan 9 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

33

Lelaki 14 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

34

Perempuan 62 otalgia Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

35

Perempuan 19 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

36

Lelaki 36

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea+Otalgia Sentral Operatif

37

Lelaki 44 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

38

Perempuan 43

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea+Vertigo Sentral Medikamentosa

39

Perempuan 22 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

40

Lelaki 34 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

41

Perempuan 36

Gangguan

pendengaran Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

42

Perempuan 18 Otorea Benigna Otalgia+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

43

Perempuan 14 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

44

Perempuan 52 Otalgia Maligna Otorea+Gangguan pendengaran Atik Hidrosefalus Operatif

45

Perempuan 54 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral


(56)

Lelaki 22 Otalgia Maligna Otorea Marginal Luc's abscess Operatif 47

Perempuan 53 Otorea Maligna Otorea Total Labirintis Operatif

48

Lelaki 34 Tinnitus Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

49

Lelaki 46 Otorea Benigna Otorea+Tinnitus Sentral Medikamentosa

50

Lelaki 26 Otorea Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

51

Perempuan 54 Otalgia Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

52

Lelaki 43 Otorea Benigna Otorea+Vertigo Sentral Medikamentosa

53

Lelaki 34 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

54

Lelaki 43 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

55

Lelaki 33 Otalgia Benigna Otorea+Tinnitus Sentral Medikamentosa

56

Lelaki 23

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

57

Perempuan 29 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

58

Lelaki 22 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

59

Lelaki 64

Gangguan

pendengaran Maligna

Otorea + Tinnitus + Gangguan

pendengaran Marginal

Paralisis nervus

fasial Operatif

60

Lelaki 52 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

61

Lelaki 9 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa


(57)

Perempuan 15 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Otalgia Sentral Medikamentosa 64

Perempuan 74 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

65

Lelaki 55 Otalgia Benigna Otalgia+Tinnitus Sentral Operatif

66

Perempuan 22

Gangguan

pendengaran Benigna Gangguan pendengaran+Tinnitus Sentral Medikamentosa

67

Lelaki 62 Otorea Benigna Tinnius Sentral Operatif

68

Perempuan 9 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

69

Perempuan 63 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Vertigo Sentral Medikamentosa

70

Perempuan 13 Otorea Benigna Tinnitus+Otalgia Sentral Medikamentosa

71

Lelaki 79 Otorea Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

72

Lelaki 9 Otorea Benigna Otorea+Tinnitus Sentral Operatif

73

Lelaki 19 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

74

Perempuan 73 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

75

Lelaki 54 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

76

Perempuan 46 Otorea Benigna Otalgia+Vertigo Sentral Medikamentosa

77

Lelaki 19 Otalgia Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

78

Lelaki 44

Gangguan


(58)

Lelaki 34 Otorea Benigna Otorea+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa 80

Perempuan 9 Otalgia Benigna Otalgia+Tinnitus Atik Abses ekstradural Operatif

81

Lelaki 43 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

82

Lelaki 24 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

83

Lelaki 19 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Otalgia Sentral Medikamentosa

84

Lelaki 62 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

85

Perempuan 74 Otorea Benigna Otorea+Otalgia Sentral Medikamentosa

86

Perempuan 9 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Marginal Medikamentosa

87

Perempuan 76

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

88

Lelaki 6 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Otorea Marginal Medikamentosa

89

Lelaki 44 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

90

Lelaki 29 Otorea Benigna Otorea+Vertigo Sentral Medikamentosa

91

Lelaki 24 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

92

Perempuan 11 Otorea Benigna Otorea+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

93

Perempuan 14 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

94

Perempuan 8 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

95


(59)

Lelaki 64 Otorea Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa 97

Lelaki 65 Otorea Benigna Otorea+Vertigo Marginal Abses otak Operatif

98

Perempuan 11 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

99

Lelaki 12 Otorea Benigna Otorea+vertigo Sentral Medikamentosa

100

Lelaki 22 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

101

Perempuan 52 Otorea Benigna Vertigo+Tinnitus Sentral Medikamentosa

102

Perempuan 43

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

103

Lelaki 9 Otorea Benigna Tinnitus+Otorea Sentral Medikamentosa

104

Perempuan 32 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

105

Perempuan 20 Otorea Benigna Vertigo+ Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

106

Lelaki 64 Otorea Benigna Otalgia+Otorea Sentral Medikamentosa

107

Lelaki 9 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

108

Lelaki 76 Otorea Benigna Otorea+Otalgia Sentral Medikamentosa

109

Lelaki 24 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

110

Perempuan 3 Otalgia Benigna Otorea+Vertigo Sentral Medikamentosa

111

Lelaki 22

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral


(60)

Lelaki 21 Otorea Benigna Otorea+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa 113

Lelaki 15 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

114

Perempuan 70 Otalgia Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

115

Lelaki 22 Otorea Benigna Tinnitus+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

116

Lelaki 56 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

117

Perempuan 9 Otorea Benigna Otalgia+Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

118

Perempuan 9 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

119

Lelaki 69 Otorea Benigna Vertigo+Otalgia+Tinnitus Atik

Subperiosteal

abscess Operatif

120

Lelaki 47 Otorea Benigna Tinnitus+Vertigo Sentral Medikamentosa

121

Lelaki 18 Otalgia Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

122

Lelaki 11 Otorea Benigna Otalgia+Tinnitus Sentral Medikamentosa

123

Perempuan 41 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

124

Perempuan 40 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

125

Lelaki 13 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

126

Lelaki 62 Otorea Benigna Otalgia+Vertigo Sentral Medikamentosa

127

Perempuan 72 Otorea Benigna Otorea+Gangguan pendengaran Sentral


(61)

Perempuan 9 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa 129

Lelaki 42 Otalgia Benigna Otorea+Tinnitus Atik Mastoid abscess Medikamentosa

130

Lelaki 19 Otorea Benigna Otalgia+Vertigo Sentral Medikamentosa

131

Perempuan 63 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

132

Perempuan 41 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

133

Perempuan 72 Otorea Benigna Otorea+Vertigo Marginal

Infeksi

extrakranial Operatif

134

Lelaki 9 Otorea Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

135

Lelaki 70 Otalgia Benigna Gangguan pendengaran+Tinnitus Sentral Medikamentosa

136

Perempuan 64 Otorea Benigna Otalgia Sentral Medikamentosa

137

Perempuan 14 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Vertigo Atik zygomatic abscess Operatif

138

Lelaki 9 Otalgia Benigna Tinnitus+Gangguan pendengaran Marginal Operatif

139

Lelaki 63

Gangguan

pendengaran Benigna Otorea Sentral Medikamentosa

140

Perempuan 9 Otorea Benigna Gangguan pendengaran+Vertigo Sentral Medikamentosa

141

Lelaki 32 Otorea Benigna Gangguan pendengaran Sentral Medikamentosa

142

Lelaki 14 Otorea Benigna Otorea+Otalgia Sentral Medikamentosa

143

Perempuan 64 Otorea Benigna Gangguan pendengaran sentral


(1)

Gejala klinis

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Gangguan pendengaran 108 15.7 15.7 15.7

Gangguan

pendengaran+Otalgia

2 .3 .3 16.0

Gangguan

pendengaran+Otalgia+Tinnit us

2 .3 .3 16.3

Gangguan

pendengaran+Otorea

4 .6 .6 16.9

Gangguan

pendengaran+Tinnitus

3 .4 .4 17.3

Gangguan

pendengaran+Tinnitus+Verti go

1 .1 .1 17.5

Gangguan

pendengaran+Vertigo

6 .9 .9 18.3

Gangguan

pendengaran+Vertigo+Otalg ia

1 .1 .1 18.5

Gangguan

pendengaran+Vertigo+Tinnit us

1 .1 .1 18.6

Otalgia 153 22.3 22.3 40.9

Otalgia+Gangguan pendengaran

9 1.3 1.3 42.2

Otalgia+Otorea 9 1.3 1.3 43.5

Otalgia+Otorea+Vertigo 1 .1 .1 43.7

Otalgia+Tinnitus 12 1.7 1.7 45.4

Otalgia+Vertigo 14 2.0 2.0 47.5

Otorea 237 34.5 34.5 82.0

Otorea+Gangguan pendengaran

17 2.5 2.5 84.4

Otorea+Otalgia 18 2.6 2.6 87.0

Otorea+Otalgia+Vertigo 2 .3 .3 87.3

Otorea+Tinnitus 16 2.3 2.3 89.7


(2)

Otorea+Vertigo+Gangguan pendengaran

1 .1 .1 92.3

Tinnitus 15 2.2 2.2 94.5

Tinnitus+Gangguan pendengaran

8 1.2 1.2 95.6

Tinnitus+Gangguan pendengaran+Vertigo

2 .3 .3 95.9

Tinnitus+Otalgia 2 .3 .3 96.2

Tinnitus+Otalgia+Otorea 1 .1 .1 96.4

Tinnitus+Otorea 2 .3 .3 96.7

Tinnitus+Vertigo 14 2.0 2.0 98.7

Vertigo 1 .1 .1 98.8

Vertigo+Gangguan pendengaran

3 .4 .4 99.3

Vertigo+Otalgia 1 .1 .1 99.4

Vertigo+Otalgia+Tinnitus 1 .1 .1 99.6

Vertigo+Tinnitus 3 .4 .4 100.0

Total 687 100.0 100.0

Tipe omsk

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Benigna 608 88.5 88.5 88.5

Maligna 79 11.5 11.5 100.0

Total 687 100.0 100.0

Jenis perforasi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Atik 41 6.0 6.0 6.0

Marginal 40 5.8 5.8 11.8

Sentral 597 86.9 86.9 98.7

Total 9 1.3 1.3 100.0


(3)

komplikasi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid 645 93.9 93.9 93.9

Abses ekstradural 4 .6 .6 94.5

Abses otak 3 .4 .4 94.9

Abses subdural 1 .1 .1 95.1

Bezold's abscess 2 .3 .3 95.3

citelli's abscess 1 .1 .1 95.5

Hidrosefalus otitis 3 .4 .4 95.9

Labirinitis 4 .6 .6 96.5

Luc's abscess 3 .4 .4 96.9

Mastoid abscess 5 .7 .7 97.7

Meningitis 5 .7 .7 98.4

Paralisis nervus fasial 2 .3 .3 98.7

Petrositis 3 .4 .4 99.1

Subperiosteal abscess 2 .3 .3 99.4

Zygomatic abscess 4 .6 .6 100.0

Total 687 100.0 100.0

terapi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid Medikamentosa 603 87.8 87.8 87.8

Medikamentosa+Operatif 84 12.2 12.2 100.0


(4)

(5)

(6)