Pengaruh Abu Cangkang Kelapa Sawit Sebagai Bahan Tambahan Pada Pembuatan Batako

PENGARUH ABU CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI
BAHAN TAMBAHAN PADA PEMBUATAN BATAKO

SKRIPSI

FITRIYANI
050801033

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

PENGARUH ABU CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN
TAMBAHAN PADA PEMBUATAN BATAKO

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

FITRIYANI
050801033

DEPARTEMEN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

PERSETUJUAN

Judul

Kategori
Nama
Nomor Induk Mahasiswa
Program Studi
Departemen
Fakultas

: PENGARUH ABU CANGKANG KELAPA SAWIT
SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA
PEMBUATAN BATAKO
: SKRIPSI
: FITRIYANI
: 050801033
: SARJANA (SI) FISIKA
: FISIKA
: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA

Diluluskan di
Medan, 9 Maret 2010

Diketahui/Disetujui Oleh
Ketua Departemen Fisika FMIPA USU

(DR.Marhaposan Situmorang)
NIP.195510301980031003

Pembimbing

( Prof.M.Syukur, Ms )
NIP.194704141974121001

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

PENGARUH ABU CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN
TAMBAHAN PADA PEMBUATAN BATAKO

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja sendiri,kecuali beberapa kutipan
dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya

Medan, 9 Maret 2010

FITRIYANI
050801033

Universitas Sumatera Utara

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih
lagi Penyayang atas Rahmat, kekuatan dan kemurahan-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi penelitian yang berjudul “PENGARUH ABU CANGKANG
KELAPA SAWIT SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PEMBUATAN
BATAKO”.
Ucapan terimakasih saya sampaikan kepada Prof.M.Syukur,MS, selaku
pembimbing dan Rimson Saragih selaku pembimbing lapangan pada penyelesaian
skripsi ini yang telah memberikan panduan dan penuh kepercayaan kepada saya untuk
menyempurnakan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga saya ajukan kepada ketua dan
sekretaris departemen Fisika FMIPA USU DR.Marhaposan Situmorang dan
Dra.Yustinon,MS, Dekan dan Pembantu Dekan FMIPA Universitas Sumatera Utara.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada teman-teman saya Wulan, Shinta,
Ayu, Dian, Izkar, serta rekan-rekan fisika stambuk 2005 terimakasih atas semangat
dan motivasinya. Teman-teman dikos lasara Ve, qorin, Seneng, Riza.
Terimakasih yang tak terhingga dan yang teristimewa penulis ucapkan kepada
Ayahanda Ngasiman dan Ibunda Misni yang telah berjuang dengan sekeras tenaga dan
tidak pernah bosan berdoa untuk penulis serta selalu memberikan harapan kepada
penulis sejak lahir sampai sekarang sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini
dengan baik. Terimakasih kepada kakakku Irma Damai Yanti, Abangku Syahrul Abdi,
Abang Iparku Prasmianto, Keponakanku tercinta dan tersayang Haizzah Prasenja,
serta sanak keluarga atas kasih sayang dan dukungannya dalam menemani penulis
dalam suka dan duka.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dalam
melengkapi kekurangan serta kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini
bermanfaat bagi kita semua.

Penulis

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh abu cangkang kelapa
sawit dalam pembuatan batako.Batako dibuat berbentuk silinder dengan diameter 5
cm. Batako normal dicetak sebagai pembanding dengan batako yang dicampur abu
cangkang kelapa sawit. Dalam penelitian ini telah ditambahkan abu cangkang kelapa
sawit pada campuran batako dengan komposisi 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%
dari berat pasir yang digunakan. Setelah melalui massa pengeringan selama 28 hari
kemudian batako diuji, baik uji mekanik maupun uji fisik sesuai prosedur yang ada.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan batako dengan campuran abu
cangkang kelapa sawit pada komposisi 10% dan 20% hampir menyamai kuat tekan
batako normal. Hasil penyerapan air batako dengan menggunakan abu cangkang
kelapa sawit yaitu 15,03% - 23,13% lebih besar dari batako normal. Hasil densitas
pada batako dengan menggunakan abu cangkang kelapa sawit yaitu 1,69 gr/cm3 – 1,41
gr/cm3 lebih rendah dari batako normal. Dan hasil kekerasan pada batako dengan
menggunakan abu cangkang kelapa sawit yaitu 94HB – 83HB lebih rendah dari
batako normal.

Universitas Sumatera Utara

INFLUENCE OF OIL PALM SHELL ASH AS AN ADDITIVE IN CONBLOCK
MAKING

ABSTRACT

This research was conducted with the aim to know the influence of oil palm shell ash
in conblock making. Conblock made cylindrical with a diameter of 5cm. Printed as a
normal conblock making comparison with the mixed adobe palm shell ash. In this
study the shell ash was added to the mixture of palm oil with a composition of
conblock 0%, 10%, 20%, 30%, 40% and 50% of the weight of sand used. After the
mass of drying for 28 days and then conblock tested, both mechanical testing and
physical testing according to existing procedures. From the research results show that
a strong press with a mixture of ash brick shell on the composition of palm oil 10%
and 20% close to the strong press adobe normal. Results conblock water absorption by
using oil palm shell ash is 15.03% - 23.13% larger than a normal conblock. Results on
the conblock density using oil palm shell ash is 1.69 gr/cm3 - 1.41 gr/cm3 lower than
the normal conblock. And the result of violence in ash conblock making using oil
palm shell which is 94HB - 83HB adobe lower than normal.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Persetujuan
Pernyataan
Penghargaan
Abstrak
Abstract
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
BAB I Pendahuluan
1.1 latar Belakang
1.2 Batasan Masalah
1.3 Tujuan penelitian
1.4 Manfaat Penelitian
1.5 Tempat Penelitian
1.6 Sistematika Penelitian
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Kelapa sawit
2.2 Cangkang Kelapa Sawit
2.3 Abu Cangkang Kelapa Sawit
2.4 Batako
2.4.1 Jenis-Jenis Batako
2.5 Semen
2.5.1 Jenis-Jenis Semen
2.6 Agregat
2.6.1 Jenis-jenis Agregat
2.6.2 Karakteristik Agregat
2.7 Kekuatan Agregat
2.8 Air
2.9 Syarat Umum Air
2.10 Bahan Tambah
2.10.1 Bahan Tambah Mineral
BAB III Metodologi Penelitian
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Peralatan
3.1.2 Bahan-bahan
3.2 Diagram alir Penelitin
3.3 Prosedur Penelitian
3.4 Pengukuran Sampel
3.4.1 Daya Serap Air
3.4.2 Densitas
3.4.3 Kuat Tekan

Halaman
i
ii
iii
iv
v
vi
viii
ix

1
3
3
4
4
4

6
7
7
8
10
13
15
18
18
19
20
21
21
22
25
26
26
26
27
28
28
28
29
30

Universitas Sumatera Utara

3.4.4 Kekerasan

31

BAB IV Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil
4.1.1 Pengukuran Daya Serap Air
4.1.2 Pengukuran Densitas
4.1.3 Pengujian Kuat Tekan
4.1.4 Pengujian Kekerasan
4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengukuran Daya Serap Air
4.2.2 Pengukuran Densitas
4.2.3 Pengujian Kuat Tekan
4.2.4 Pengujian Kekerasan

33
33
34
35
36
37
37
38
39
40

BAB V Kesimpulan dan Saran
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran

41
42

Daftar Pustaka
lampiran

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Unsur Kimia Abu Cangakang Kelapa Sawit
Tabel 2.2 Persyaratan Kuat tekan minimum batako pejal
menurut SNI-3-0349-1989
Tabel 4.1 Data hasil pengukuran Daya serap air sampel batako
Tabel 4.2 Data hasil pengukuran densitas sampel batako
Tabel 4.3 Data hasil pengujian kuat tekan batako dengan waktu
pengeringan selama 28 hari
Tabel 4.4 Data hasil pengujian kekerasan batako dengan
waktu pengeringan selama 28 hari

8
10
33
34
35
36

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Grafik Penyerapan Air Batako terhadap Komposisi
Abu cangkang kelapa sawit
Gambar 4.2 Grafik Densitas Batako terhadap Komposisi
Abu cangkang kelapa sawit
Gambar 4.3 Grafik Kuat Tekan Batako terhadap Komposisi
Abu cangkang kelapa sawit
Gambar 4.4 Grafik Kekerasan Batako terhadap Komposisi
Abu cangkang kelapa sawit

37
38
39
40

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengetahui pengaruh abu cangkang kelapa
sawit dalam pembuatan batako.Batako dibuat berbentuk silinder dengan diameter 5
cm. Batako normal dicetak sebagai pembanding dengan batako yang dicampur abu
cangkang kelapa sawit. Dalam penelitian ini telah ditambahkan abu cangkang kelapa
sawit pada campuran batako dengan komposisi 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%
dari berat pasir yang digunakan. Setelah melalui massa pengeringan selama 28 hari
kemudian batako diuji, baik uji mekanik maupun uji fisik sesuai prosedur yang ada.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan batako dengan campuran abu
cangkang kelapa sawit pada komposisi 10% dan 20% hampir menyamai kuat tekan
batako normal. Hasil penyerapan air batako dengan menggunakan abu cangkang
kelapa sawit yaitu 15,03% - 23,13% lebih besar dari batako normal. Hasil densitas
pada batako dengan menggunakan abu cangkang kelapa sawit yaitu 1,69 gr/cm3 – 1,41
gr/cm3 lebih rendah dari batako normal. Dan hasil kekerasan pada batako dengan
menggunakan abu cangkang kelapa sawit yaitu 94HB – 83HB lebih rendah dari
batako normal.

Universitas Sumatera Utara

INFLUENCE OF OIL PALM SHELL ASH AS AN ADDITIVE IN CONBLOCK
MAKING

ABSTRACT

This research was conducted with the aim to know the influence of oil palm shell ash
in conblock making. Conblock made cylindrical with a diameter of 5cm. Printed as a
normal conblock making comparison with the mixed adobe palm shell ash. In this
study the shell ash was added to the mixture of palm oil with a composition of
conblock 0%, 10%, 20%, 30%, 40% and 50% of the weight of sand used. After the
mass of drying for 28 days and then conblock tested, both mechanical testing and
physical testing according to existing procedures. From the research results show that
a strong press with a mixture of ash brick shell on the composition of palm oil 10%
and 20% close to the strong press adobe normal. Results conblock water absorption by
using oil palm shell ash is 15.03% - 23.13% larger than a normal conblock. Results on
the conblock density using oil palm shell ash is 1.69 gr/cm3 - 1.41 gr/cm3 lower than
the normal conblock. And the result of violence in ash conblock making using oil
palm shell which is 94HB - 83HB adobe lower than normal.

Universitas Sumatera Utara

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kerusakan lahan pertanian yang disebabkan oleh pembuatan batu bata dan
kebutuhan yang semakin meningkat menjadikan permintaan akan bahan bangunan
juga semakin meningkat. Batako sebagai alternatif pengganti bata merah untuk
bangunan dinding diharapkan mampu mengatasi permasalahan tersebut. Batako
merupakan bahan bangunan yang berupa bata cetak alternatif pengganti batu bata
yang tersusun dari komposisi antara pasir, semen portland dan air. Batako difokuskan
sebagai konstruksi-konstruksi dinding bangunan non struktural.

Salah satu kendala dalam pengadaan bahan baku untuk proses pembuatan
batako saat ini adalah ketersediannya yang secara pasti akan berkurang dan harganya
mahal, sehingga daya beli masyarakat turun, padahal kebutuhan akan barang tersebut
terus meningkat. Di daerah seperti Sumatera di mana potensi kelapa sawitnya sangat
melimpah, diharapkan dengan penemuan ini dapat menghasilkan batako dengan abu
cangkang kelapa sawit yan lebih bermutu lagi.

Batako mempunyai kelebihan yaitu memiliki sifat kekuatan yang tinggi,
namun lemah dalam sifat kekuatan tariknya. Nilai kekuatan tariknya berkisar 9%-15%
saja dari kuat tekannya. Untuk itu dibutuhkan bahan tambah ke dalam adukan yang
dapat memperbaiki karakteristik batako yang berkualitas. Sifat batako berubah karena
sifat dari bahan-bahan pembuat batako yaitu pasir, semen, batu, air, maupun
perbandingan campurannya.

Universitas Sumatera Utara

Bahan tambahan lain pada campuran batako normal merupakan bahan
alternatif untuk meningkatkan kekuatan dan kinerja batako dengan biaya yang murah
tanpa mengurangi mutunya separti pemanfatan limbah buangan abu sekam padi,
ampas tebu, sisa kayu, limbah gergajian, abu
cangkang kelapa sawit, abu terbang (fly ash),mikrosilika (silica fume) dan lain-lain
dengan kandungan silika cukup tinggi yang berpeluang meningkatkan kekuatan bahan
tersebut.

Limbah merupakan sisa hasil produksi yang oleh masyarakat dan pemerintah
dianggap merupakan material yang menggangu kehidupan manusia. Untuk itu perlu
dimanfaatkan semaksimal mungkin agar dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup
manusia sehingga limbah bukan lagi sebagai penggangu kehidupan manusia.

Limbah cangkang kelapa sawit selain dimanfaatkan sebagai pengeras jalan
juga dapat digunakan sebagai bahan pengisi batako, setelah terlebih dahulu dibakar
dan hasil bakaran dihaluskan. Pembakaran cangkang kelapa sawit dalam jangka waktu
yang relatif lama menghasilkan abu dengan ukuran butiran yang halus, dimana abu ini
dapat dibuat menjadi bahan pengisi batako untuk menguragi sebagian persentase
massa pasir.

Berdasarkan materi diatas, sangat cocok apabila abu cangkang kelapa sawit
yang selama ini di jadikan limbah yang tidak terpakai lagi sebagai bahan tambah pada
pencampuran batako. Limbah cangkang kelapa sawit ternyata memiliki potensial yang
besar untuk dipergunakan kembali. Pemanfaatan limbah cangkang kelapa sawit
selama ini hanya dipakai sebagai pengeras jalan maupun sebagai arang aktif. Namun
kenyataannya potensial dari abu cangkang kelapa sawit dapat dimanfaatkan lebih
besar lagi.

Abu cangkang kelapa sawit ini mengandung unsur silica (SiO2) cukup tinggi
sebesar 58%. Jika unsur silika (SiO2) ditambahkan dalam campuran batako, maka
unsur silika tersebut akan bereaksi dengan kapur bebas Ca(OH)2 yang merupakan
unsur lemah dalam batako menjadi gel CSH baru. Gel CSH merupakan unsur utama
yng mempengaruhi kekuatan pasta semen, meningkatkan kuat lekat antara pasta

Universitas Sumatera Utara

semen dan agregat dan kekuatan batako. Penambahan abu cangkang kelapa sawit
dalam campuran batako akan meningkatkan workability batako. Karena semakin
tinggi persentase penambahan abu cangkang kelapa sawit dalam batako, nilai slump
yang diperoleh makin besar.

Untuk memanfaatkan limbah pabrik kelapa sawit tersebut, penulis mencoba
untuk membuat batako dengan menambahkan abu cangkang kelapa sawit sebagai
bahan pengganti sebagian pasir dengan bahan pengikatnya semen yang diharapkan
dapat meningkatkan kualitas batako.

1.2 BATASAN MASALAH

Adapun batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Menerangkan secara rinci pembuatan sampel batako menggunakan abu
cangkang kelapa sawit.
2. Untuk mengetahui penggunaan abu cangkang kelapa sawit yang dijadikan
sebagai bahan alternatif pembuatan batako
3. Pengujian fisik dan mekanik pada batako setelah berumur 28 hari.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

a. Membandingkan kekuatan batako normal dengan batako campuran abu
cangkang kelapa sawit.
b. Mengamati dan menganalisa bagaimana pengaruh penambahan abu
cangkang kelapa sawit yang divariasikan persen komposisi batako dengan
abu cangkang kelapa sawit berdasarkan pengujian fisik dan mekanik
sampel batako yang meliputi :








Uji daya serap air
Uji Densitas
Uji kuat tekan
Uji kekerasan

Universitas Sumatera Utara

1.4 MANFAAT PENELITIAN

a. Hasil penelitian ini akan menjadi sumber informasi tentang sifat fisis dan
mekanis pada batako dengan memanfaatkan abu cangkang kelapa sawit.
b. Sumber informasi bahwa limbah, khususnya abu cangkang kelapa sawit
dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan batako,
sehingga dapat mengurangi limbah pabrik kelapa sawit dan memberikan
pengetahuan

kepada

masyarakat

mengenai

pengembangan

dan

pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit.

1.5 TEMPAT PENELITIAN

Balai Riset dan Standarisasi Industri, Tanjung Morawa (MEDAN)

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika penulisan masing-masing bab adalah sebagai berikut:

BAB I

Pendahuluan
Bab ini mencakup latar belakang penelitian, tujuan penelitian, batasan
masalah, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II

Tinjauan Pustaka
Bab ini berisi tentang teori yang mendasari penelitian

BAB III

Metodologi Penelitian
Bab ini membahas tentang diagram alir penelitian, peralatan, bahanbahan, pembuatan sampel uji, pengujian sampel.

BAB IV

Hasil dan Pembahasan
Bab ini membahas tentang hasil penelitian dan menganalisis data yang
diperoleh dari penelitian

Universitas Sumatera Utara

BAB V

Kesimpulan Dan Saran
Menyimpulkan hasil-hasil yang didapat dari penelitian dan
memberikan saran untuk penelitian lebih lanjut.

Universitas Sumatera Utara

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaeis guinensis Jack) merupakan tumbuhan tropis yang
diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan di
hutan belantara negara tersebut.Kelapa sawit pertama masuk ke Indonesia pada tahun
1848, dibawa dari Mauritius dan Amsterdam oleh seorang warga Belanda. Bibit
kelapa sawit yang berasal dari kedua tempat tersebut masing-masing berjumlah dua
batang dan pada tahun itu juga ditanam di Kebun Raya Bogor. Hingga saat ini dua
dari empat pohon tersebut masih hidup dan diyakini sebagai nenek moyang kelapa
sawit yang ada di Asia Tenggara (Hadi,Mustafa,2004).

Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter.
Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan
apabila masak, berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit
buahnya mengandungi minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak
goreng, sabun, dan lilin. Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya
sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan
sebagai bahan bakar dan arang. Kelapa sawit yang berkembang biak dengan biji,
tumbuh di daerah tropika, pada ketinggian 0 - 500 meter di atas aras laut. Kelapa sawit
menyukai tanah yang subur dan tempat terbuka, dengan kelembapan tinggi.
Kelembapan tinggi itu antara lain ditentukan oleh adanya curah hujan yang tinggi,
sekitar 2,000-2,500 mm setahun.(wikipedia,2009).

Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial
pada tahun 1911. Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien

Universitas Sumatera Utara

Hallet, seorang Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budi
daya yang dilakukannya diikuti oleh K.Schadt yang menandai lahirnya perkebunan
kelapa sawit di Indonesia.Sejak saat itu perkebunan kelapa sawit di Indonesia mulai
berkembang.

2.2 Cangkang Kelapa Sawit

Tempurung kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak
kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak.
Tempurung buah kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai arang aktif. Arang aktif
dimanfaatkan oleh berbagai industri, antara lain industri minyak, karet, gula dan
farmasi. Selain itu tempurung kelapa sawit digunakan hanya sebagai bahan bakar
pembangkit tenaga uap dan bahan pengeras jalan.(Fauzi,Yan &dkk,2002)

Prinsip pemisahan biji dari cangkangnya adalah karena adanya perbedaan
berat jenis antara inti dan cangkang. Caranya adalah dengan mengapungkan biji-biji
yang telah dipecahkan dalam larutan lempung yang mempunyai berat jenis 1,16.
Dalam keadaan ini inti kelapa sawit akan mengapung dalam larutan dan cangkang
akan mengendap di dasar. Inti dan cangkang diambil secara terpisah kemudian dicuci
sampai bersih. Alat yang digunakan untuk memisahkan inti dari cangkangnya disebut
hydrocyclone separator.Inti buah dimasukkan ke silo dan dikeringkan pada suhu 800
C. Selama pengeringan harus selalu dibolak-balik agar keringnya merata.

2.3 Abu Cangkang Kelapa Sawit

Dalam

pemrosesan

buah

kelapa

sawit

menjadi

ekstrak

minyak

sawit,menghasilkan limbah padat yang sangat banyak dalam bentuk serat, cangkang
dan tandan buah kosong, dimana untuk setiap 100 ton tandan buah segar yang
diproses ,akan di dapat lebih kurang 20 ton cangkang, 7 ton serat dan 25 ton tandan
kosong. Untuk membantu pembuangan limbah dan pemulihan energi,cangkang dan
serat ini digunakan lagi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap pada

Universitas Sumatera Utara

penggilingan minyak sawit.setelah pembakaran dalam ketel uap,akan dihasilkan 5%
abu (oil palm ashes) dengan ukuran butiran yang halus . Abu hasil pembakaran ini
biasanya dibuang dekat pabrik sebagai limbah padat dan tidak dimanfaatkan.

Jika unsur silika (SiO2) ditambahkan dengan campuran beton, maka unsur
silika tersebut akan bereaksi dengan kapur bebas Ca(OH)2 yang merupakan unsur
lemah dalam beton menjadi gel CSH baru. Gel CSH merupakan unsur utama yang
mempengaruhi kekuatan pasta semen dan kekuatan beton.

Hasil uji komposisi unsur kimia dari abu cangkang kelapa sawit yang telah
dilakukan oleh Hutahaean,B (2007) dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Unsur kimia abu cangkang kelapa sawit

Unsur kimia

Persentase (%)

SiO2

58,02

Al2O3

8,7

Fe2O3

2,6

CaO

12,65

MgO

4,23

Na2O

0,41

K2O

0,72

H2O

1,97

Hilang Pijar

8,59

(Sumber: Hutahaean,B 2007)

2.4 Batako

Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (1982) pasal 6,
“Batako adalah bata yang dibuat dengan mencetak dan memelihara dalam kondisi
lembab”

Universitas Sumatera Utara

Batako merupakan bahan bangunan yang berupa bata cetak alternatif
pengganti batu bata. Batako difokuskan sebagai konstruksi-konstruksi dinding
bangunan non struktural.

Batu batuan atau batu cetak yang tidak dibakar (batako) dari tras dan kapur,
kadang-kadang juga dengan sedikit semen portland, sudah mulai dikenal oleh
masyarakat sebagai bahan bangunan dan sudah pula dipakai untuk pembuatan rumah
dan gedung (Frick,H.,1996).

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian
batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang
pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir,
semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan abu cangkang kelapa
sawit sebagai bahan pengisi antara campuran tersebut atau bahan tambah lainnya
(additive). Kemudian dicetak melalui proses pemadatan sehingga menjadi bentuk
balok-balok dengan ukuran tertentu dan dimana proses pengerasannya tanpa melalui
pembakaran serta dalam pemeliharaannya ditempatkan pada tempat yang lembab atau
tidak terkena sinar matahari langsung atau hujan, tetapi dalam pembuatannya dicetak
sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk
pasangan dinding.

Berdasarkan SNI-3-0349-1989, persyaratan kuat tekan minimum batako pejal
sebagai bahan bangunan dinding dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.2 Persyaratan kuat tekan minimum batako pejal
menurut SNI-3-0349-1989

Mutu

Kuat tekan minimum
(MPa)

I

9,7

II

6,7

III

3,7

IV

2

Berdasarkan SNI 03-0349-1989 tentang bata beton (batako), persyaratan nilai
daya serap air maksimum adalah 25%.(Sumber: Sumaryanto, &dkk, 2009)

2.4.1 Jenis-jenis Batako

Batako merupakan batu cetak yang tidak dibakar, berdasarkan bahan bakunya
batako dibedakan menjadi 2, yaitu: batako tras/putih dan batako semen.

a. Batako Tras/Putih

Batako putih terbuat dari campuran tras, batu kapur, dan air, sehingga sering
juga disebut batu cetak kapur tras. Tras merupakan jenis tanah yang berasal dari
lapukan batu-batu yang berasal dari gunung berapi, warnanya ada yang putih dan ada
juga yang putih kecokelatan. Ukuran batako tras yang biasa beredar di pasaran
memiliki panjang 20cm – 30cm, tebal 8cm – 10cm, dan tinggi 14cm – 18cm.

b. Batako Semen

Batako semen dibuat dari campuran semen dan pasir abu batu. Ukuran dan
model lebih beragam dibandingkan dengan batako putih. Batako ini biasanya
menggunakan dua lubang atau tiga lubang disisinya untuk diisi oleh adukan pengikat.
Nama lain dari batako semen adalah batako pres, yang dibedakan menjadi dua bagian,

Universitas Sumatera Utara

yaitu pres mesin dan pres tangan. Secara kasat mata, perbedaan pres mesin dan tangan
dapat dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Di pasaran ukuran batako semen
yang biasa ditemui memiliki panjang 36cm – 40cm, tinggi 18cm – 20cm dan tebal
8cm – 10cm (Susanta,G.,2007).

Ada beberapa keuntungan dan kerugian apabila menggunakan batako sebagai
pengganti batu bata.

Keuntungan pemakain batako adalah sebagai berikut:
1. Tiap m2 pasangan tembok, membutuhkan lebih sedikit batako jika
dibandingkan dengan menggunakan batu bata, berarti secara kuantitatif terdapat
suatu pengurangan.
2. Pembuatan mudah dan ukuran dapat dibuat sama.
3. Ukurannya besar, sehingga waktu dan ongkos pemasangan juga lebih hemat.
4. Khusus jenis yang berlubang, dapat berfungsi sebagai isolasi udara.
5. Apabila pekerjaan rapi, tidak perlu diplester.
6. Lebih mudah dipotong untuk sambungan tertentu yang membutuhkan potongan.
7. Sebelum pemakaian tidak perlu direndam air.

Kerugian pemakaian batako adalah sebagai berikut:
1. Karena proses pengerasannya butuh waktu yang cukup lama (± 3 minggu),
maka butuh waktu yang lama untuk membuatnya sebelum memakainya.
2. Bila diinginkan lebih cepat membantu/mengeras perlu ditambah dengan semen,
sehingga menambah biaya pembuatan.
3. Mengingat ukurannya cukup besar, dan proses pengerasannya cukup lama
mengakibatkan pada saat pengangkutan banyak terjadi batako pecah.

Batako mempunyai beberapa keuntungan yaitu pemakaian bila dibandingkan
dengan bata merah, terlihat penghematan dalam beberapa segi, misalnya setiap m2
luas dinding lebih sedikit jumlah batu yang dibutuhkan, sehingga kuantitatif terdapat
poenghematan. Terdapat pula penghematan dalam pemakaian adukan sampai 75 %.
Berat tembok diperingan dengan 50 %, dengan demikian fondasinya bisa berkurang.
Bentuk batako yang bermacam-macam memungkinkan variasi yang cukup banyak,

Universitas Sumatera Utara

dan jika kualitas batako baik, maka tembok tidak perlu diplester dan sudah cukup
menarik.(Frick,H,1996).

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pnggunaan batako
untuk bahan bangunan mempunyai beberapa keuntungan dan kerugian. Keuntungan
menggunakan batako dalam bangunan adalah Tiap m2 pasangan tembok,
membutuhkan lebih sedikit batako jika dibandingkan dengan menggunakan batu bata,
berarti secara kuantitatif terdapat suatu pengurangan keuntungan lain dari penggunaan
batako adalah akan mengurangi efek kerusakan lingkungan khususnya lahan pertanian
yang dijadikan sebagai pembuatan batu bata. Sedangkan kerugiannya meliputi proses
membuatnya membutuhkan waktu lama kurang lebih 3 minggu, pengangkutan bisa
membuat pecah dan retak, karena ukurannya yang cukup besar dan proses
membatunya cukup lama.
Berat jenis beton dengan agregat ringan yang kering udara sangat bervariasi,
tergantung pada pemilihan agregatnya, apakah pasir alam atau agregat pecah yang
ringan halus, yang dipergunakan. Berat jenis sebesar 1850 kg/m3 dapat dianggap
sebagai batasan atas dari beton ringan yang sebenarnya, meskipun nilai ini kadangkadang melebihi.(Murdock,L.J,1991).
Secara garis besar bila diringkas pembagian penggunaan beton ringan dapat
dibagi tiga yaitu:
(1) Untuk nonstruktur dengan berat jenis antara 240 kg/m3 sampai 800 kg/m3 dan kuat
tekan antara 0.35 MPa sampai 7 MPa yang umumnya digunakan seperti untuk dinding
pemisah atau dinding isolasi.
(2) Untuk struktur ringan dengan berat jenis antara 800 kg/m3 sampai 1400 kg/m3 dan
kuat tekan antara 7 MPa sampai 17 MPa yang umumnya digunakan seperti untuk
dinding yang juga memikul beban.
(3) Untuk struktur dengan berat jenis antara 1400 kg/m3 sampai 1800 kg/m3 dan kuat
tekan lebih dari 17 MPa yang dapat digunakan sebagaimana beton normal.
(Wisnuwijanarko,2008)

Universitas Sumatera Utara

Proses pembuatan batako antara lain yaitu:
1. Pasir diayak untuk mendapatkan pasir yang halus dengan menggunakan mesin
2. Pasir tanpa diayak dan semen diaduk sampai rata dengan menggunakan mesin
pengaduk dan setelah rata ditambahkan air.
3. Adonan pasir, semen dan air tersebut diaduk kembali sehingga didapat adukan
yang rata dan siap dipakai.
4. Adukan yang siap dipakai ditempatkan di mesin pencetak batako dengan
menggunakan sekop dan di atasnya boleh ditambahkan pasir halus hasil ayakan
(bergantung pada jenis produk batako yang akan dibuat).
5. Dengan menggunakan lempengan besi khusus tersebut dipres/ditekan sampai padat
dan rata mekanisme tekan pada mesin cetak.
6. Batako mentah.yang sudah jadi tersebut kemudian dikeluarkan dari cetakan dengan
cara menempatkan potongan papan di atas seluruh permukaan alat cetak.
7. Berikutnya alat cetak dibalik dengan hati-hati. Skala produksi dan keunggulan
produk akhir sehingga batako mentah tersebut keluar dari alat cetaknya.
8. Proses berikutnya adalah mengeringkan batako mentah dengan cara dianginanginkan atau di jemur di bawah terik matahari sehingga didapat batako yang sudah
jadi.(Waluya,2008).

2.5 Semen

Semen adalah bahan anorganik yang mengeras pada pencampuran dengan air.
Yang paling sering digunakan sebagai perekat pada bahan bangunan adalah semen
portland. Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang komposisi
utamanya adalah kalsium dan aluminium silikat. Penambahan air pada mineral ini
menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti
batu. (Surdia,T.,1999).

Semen Portland adalah semen hidrolis yang terutama terdiri dari silikat-silikat
kalsium yang bersifat hidraulis bersama bahan-bahan tambahan yang biasa digunakan
yaitu gypsum. (Segel,R,.Ing P.K & G.H,kusuma,1997)

Universitas Sumatera Utara

Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang komposisi
utamanya adalah kalsium atau batu kapur (CaO), Alumunia (Al2O3), Pasir silikat
(SiO2) dan bahan biji besi (FeO2) dan senyawa-senyawa MgO dan SO3, penambahan
air pada mineral ini akan menghasilkan suatu pasta yang jika mengering akan
mempunyai kekuatan seperti batu.(Nawy.G.Edward, 1990).

Semen adalah suatu jenis bahan yang memiliki sifat (adhesif) dan kohesif
(cohesive) yang memungkinkan melekatnya fragmen-fragmen mineral menjadi suatu
massa yang padat. Meskipun definisi ini dapat diterapkan untuk banyak jenis bahan,
semen yang dimaksudkan untuk konstruksi beton bertulang adalah bahan jadi dan
mengeras dengan adanya air yang dinamakan semen hidrolis (hidrolic cements).
(Chu-Kia Wang, 1994)

Dari beberapa pendapat tentang sifat semen dapat diambil pengertian bahwa
semen portland adalah suatu bahan pengikat yang mempunyai sifat adhesif dan
kohesif yang memungkinkan fragmen-fragmen mineral saling melekat satu sama lain
apabila dicampur dengan air dan selanjutnya mengeras membentuk massa yang padat.
Semen hidrolis meliputi semen portland, semen putih dan semen alumunia. Untuk
pembuatan beton digunakan semen portland dan semen portland pozzoland. Semen
portland merupakan semen hidrolis yang dihasilkan dari bahan kapur dan bahan
lempung yang dibakar sampai meleleh, setelah terbentuk klinker yang kemudian
dihancurkan, digerus dan ditambah dengan gips dalam jumlah yang sesuai. Sedangkan
semen portland pozzoland adalah semen yang dibuat dengan menggilang bersamasama klinker semen portland dan bahan yang mempunyai sifat pozzoland.
Semen portland yang digunakan sebagai bahan struktur harus mempunyai kualitas
yang sesuai dengan ketepatan agar berfungsi secara efektif. Pemeriksaaan dilakukan
terhadap yang masih berupa bentuk kering, pasta semen yang telah keras, dan beton
yang dibuat darinya.

Universitas Sumatera Utara

Adapun komponen–komponen bahan baku semen portland yang baik yaitu:
(1) Batu kapur (CaO) = 60 – 67%
(2) Pasir Silika (SiO2) = 17 – 25%
(3) Alumina (Al2O3) = 0,3 – 0,8%
(4) Tanah Liat (Al2O3) = 0,3 – 0,8%
(5) Magnesia (MgO) = 0,3 – 0,8%
(6) Sulfur (SO3) = 0,3 – 0,8%

Pada dasarnya dapat disebutkan 4 unsur yang paling penting dari Portland
Cement adalah:
(1) Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
(2) Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
(3) Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
(4) Tetrakalsium Aluminoferit (C4AF) atau 4CaO.Al2O3.FeO3
(Wisnuwijanarko,2008)

Perbandingan air semen menentukan kekuatan beton atau batako. Air yang
berlebihan hanya akan mengambil tempat dan menghambat ikatan, karena air yang
berlebihan tersebut tidak turut reaksi hidrasi. Bila air yang berlebihan tersebut
menguap, retak halus akan tertinggal. Oleh karena itu perbandingan air semen dibuat
serendah mungkin. Meskipun demikian air harus cukup, agar beton mudah dicor, dan
dapat mengisi ruangan tanpa kekosongan. Getaran akan mempercepat proses
pengisian. Kekosongan berbentuk bulat ini tidak akan melemahkan beton. Cacat yang
terjadi setelah kelebihan air menguap yang dapat mengurangi kekuatan beton
(Vlack,V.,1981).

2.5.1 Jenis-Jenis Semen

Semen merupakan hasil industri yang sangat kompleks, dengan campurn serta
susunan yang berbeda-beda. Semen dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu

Universitas Sumatera Utara

a. Semen non-hidrolik

Semen non hidrolik tidak dapat mengikat dan mengeras di dalam air,akan
tetapi dapat mengeras di udara.Contoh utama dari semen non hidrolik adalah kapur.

Kapur dihasilkan oleh proses kimia dan mekanis di alam. Jenis kapur yang
baik adalah putih yaitu yang mengandung kalsium oksida yang tinggi ketika masih
berbentuk kapur tohor (belum berhubungan dengan air) dan akan mengandung banyak
kalsium hidroksida ketika telah berhubungan dengan air. Kapur tersebut dihasilkan
dengan membakar batu kapur atau kalsium karbonat bersama beserta bahan-bahan
pengotornya, yaitu magnesium, silikat, besi, alkali, alumina dan belerang.

b. Semen hidrolik

Semen hidrolik mempunyai kemampuan untuk mengikat dan mengeras di
dalam air. contoh dari semen hidrolik yaitu:

1. Kapur hidrolik
Kapur hidrolik dibuat dengan cara membakar batu kapur yang mengandung
silika dan lempung sampai menjadi kliker dan mengandung cukup kapur dan silikat
untuk menghasilkan kapur hidrolik.

2.Semen Pozollan
Pozollan adalah sejenis bahan yang mengandung silisium atau aluminium,
yang tidak mempunyai sifat penyemenan. Butirannya halus dan dapat bereaksi dengan
kalsium hidrosikda pada suhu ruang serta membentuk senyawa-senyawa yang
mempunyai sifat-sifat semen.

Semen pozollan adalah bahan ikat yang mengandung silikat amorf, yang
apabila dicampur dengan kapur akan membentuk benda padat yang keras. Bahan yang
mengandung pozollan adalah teras, semen merah, abu terbang, dan buukan terak tanur
tinggi.

Universitas Sumatera Utara

3. Semen Terak
Semen terak adalah semen hidrolik yang sebagian besar terdiri dari suatu
campuran seragam serta kuat dan terak tanur kapur tinggi dan kapur tohor. Sekitar
60% beratnya berasal terak tanur tinggi. Campuran ini biasanya tidak dibakar.

4.Semen alam
Semen alam dihasilkan melalui pembakaran batu kapur yang mengandung
lempung pada suhu lebih rendah dari suhu pengeras. Hasil pembakaran kemudian
digiling menjadi serbuk halus. Kadar silika, alumina dan oksida besi pada serbuk
cukup untuk membuatnya bergabung dengan kalsium oksida sehingga membentuk
senyawa kalsium silikat dan aluminat yang dapat dianggap mempunyai sifat hidrolik.

5.Semen portland
Semen portland adalah bahan konstruksi yang paling banyak digunakan dalam
pekerjaan beton. Semen portland di defenisikan sebagai semen hidrolik yang
dihasilkan dengan menggiling kliker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik,yang
umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan
yang digiling bersama-sama dengan bahan utamanya.

Semen portland yang digunakan di Indonesia harus memenuhi syarat SII.001381 atau Standar Uji Bahan Bangunan Indonesia 1986, dan harus memenuhi
persyaratan yang di tetapkan dalam standar tersebut.

6.Semen portland Pozzolan
Semen portland pozollan adalah campuran semen portland dan bahan-bahan
yang bersifat pozollan seperti terak tanur tinggi dan hasil residu PLTU. Semen jenis
ini biasanya digunakan untuk beton yang diekspos terhadap sulfat. Semen portlandpozollan dihasilkan dengan mencampurkan bahan semen portland dan pozollan (1540% dari berat total campuran), dengan kandungan SiO2 + Al203 + Fe2 O3 dalam
pozollan minimum 70%.

Universitas Sumatera Utara

7.Semen Putih
Semen putih adalah semen portland yang kadar oksida besinya rendah, kurang
dari 0,5%. Bahan baku yang digunakan harus kapur murni, lempung putih yang tidak
mengandung oksida besi dan pasir silika. Semen putih digunakan untuk membuat siar
ubin/keramik dan benda yang lebih banyak nilai seninya, tetapi biasanya tidak
digunakan untuk bangunan struktur. Semen putih telah diproduksi secara massal di
pabrik.

8.Semen Alumina
Semen alumina dihasilkan melalui pembakaran batu kapur dan bauksit yang
telah digiling halus pada temperatur 16000C. Hasil pembakaran tersebut berbentuk
kliker dan selanjutnya dihaluskan hingga menyerupai bubuk. Jadilah semen alumina
yang berwana abu-abu. (Mulyono,T.,2004)

2.6 Agregat

Agregat adalah bahan-bahan campuran beton yang saling diikat oleh perekat
semen. Agregat yang umum dipakai adalah pasir; kerikil dan batu-atu pecah.
Pemilihan agregat tergantung dari:





Syarat-syarat yang ditentukan beton
Persedian lokasi pembuatan beton
Perbandingan yang telah ditentukan antara biaya dan mutu
(Sagel,R.&dkk,1997)

2.6.1 Jenis-jenis Agregat

Agregat dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu agregat kasar dan agregat
halus.

Universitas Sumatera Utara

1. Agregat Kasar

Agregat disebut agregat kasar apabila ukurannya sudah melebihi ¼ in.(6 mm).
Sifat agregat kasar mempengaruhi kekuatan akhir beton keras dan daya tahannya
terhadap disentegrasi beton, cuaca dan efek-efek perusak lainnya. Agregat kasar
mineral ini harus bersih dari bahan-bahan organik dan harus mempunyai ikatan yang
baik dengan gel semen (Nawy,G.E.,1990). Agregat kasar ini biasanya dinamakan
kerikil, spilit, batu pecah, kricak dan lainnya.

2. Agregat Halus

Agregat halus merupakan pengisi yang berupa pasir. Agregat halus yang baik
harus bebas dari bahan organik dan lempung.
Pasir yang digunakan dalam campuran beton jika dilihat dari sumbernya dapat
berasal dari sungai ataupun dari galian tambang (quarry). Di daerah tertentu, pasir
dapat mengandung mineral-mineral berat. Pasir kasar alami biasanya dapat memenuhi
syarat gradasi zona I dari British Standart (B.S), tetapi mineral halusnya yang
berukuran lebih kecil dari 0,3 mm tidak cukup banyak. Pasir yang masuk zona II dan
III dapat juga ditemukan dalam pasir alami, tetapi biasanya banyak mengandung silt
dan tanah liat. Agregat halus (pasir alam) yang berasal dari sumber ini biasanya
berbutir halus dan berbentuk bulat-bulat akibat proses gesekan, sehingga daya lekat
antara butirannya agak kurang. Agregat seperti ini cocok dipakai untuk campuran
plesteran karena butir-butirnya halus (Mulyono,T.,2004).

2.6.2 Karakteristik Agregat

Jika dilihat dari sumbernya, agregat dapat dibedakan menjadi dua golongan
yaitu agregat yang berasal dari sumber alam dan agregat buatan (artificial aggregates).
Contoh agregat yang berasal dari sumber alam adalah pasir alami dan kerikil,
sedangkan agregat buatan adalah agregat yang berasal dari stone crusher, hasil residu
terak tanur tinggi (blast furnace slag), pecahan genteng, pecahan beton,fly ash dari
residu PLTU, extended shale,expanded slag dan lainnya.

Universitas Sumatera Utara

2.7 Kekuatan Agregat

Kekuatan beton tidak lebih tinggi dari kekuatan agregat, oleh karena itu
sepanjang kekuatan tekan agregat lebih tinggi dari beton yang akan dibuat maka
agregat tersebut masih cukup aman digunakan sebagai campuran beton. Beton mutu
tinggi yang mengalami konsentrasi tegangan lokal cenderung mempunyai tegangan
lebih tinggi dari pada kekuatan seluruh beton.

Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan Agregat

Kekuatan agregat dapat bervariasi dalam batas yang besar.Butir-butir agregat
dapat bersifat kurang kuat karena dua hal:
1. Karena terdiri dari bahan yang lemah atau terdiri dari partikel yang kuat tetapi
tidak baik dalam hal pengikatan (interlocking). Granite misalnya, terdiri dari
bahan yang kuat dan keras yaitu kristal quarts dan feldspar, tetapi bersifat kurang
kuat dan modulus elastisitasnya lebih rendah daripada gabbros dan diabeses.Hal
ini terjadi karena butir-butir granit tidak terikat dengan baik.
2. Porositas yang besar. Porositas yang besar mempengaruhi keuletan yang
menentukan ketahanan terhadap benda kejut.

Cara Pengujian Kekuatan Agregat

Untuk menguji kekuatan agregat dapat menggunakan bejana Rudelloff ataupun
los Angelos Test. Bejana Rudelloff yang banyak digunakan di negara Inggris berupa
bejana yang berbentuk silinder baja dengan garis tengah bagian dalam 11.8 cm dan
tingginya 40 cm dengan dilengkapi stempel pada dasarnya. Cara pengujiannya butiran
agregat dimasukan kedalam silinder tersebut dan diletakkan stempel kemudian ditekan
dengan gaya tekan 20 ton selama 20 menit. Bagian yang hancur yang lebih kecil dari 2
mm kemudian ditimbang. Beratnya merupakan ukuran dari kekuatan agregat yang
dinyatakan dalam persen hancur. Semakin banyak bagian yang hancur semakin rendah
kekuatan agregat tersebut.(Mulyono,T.,2004)

Universitas Sumatera Utara

2.8 Air

Air diperlukan pada pembuatan beton agar terjadi reaksi kimiawi dengan
semen untuk membasahi agregat dan untuk melumas campuran agar mudah
pengerjaanya. Pada umumnya air minum dapat dipakai untuk mencampur beton.
Air yang mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya, yang tercemar garam,
minyak, gula, atau bahan-bahan kimia lain, bila dipakai untuk campuran beton akan
sangat menurunkan kekutannya dan dapat juga mengubah sifat-sifat semen. Selain itu,
air yang demikian dapat mengurangi kemudahan pengerjaan.

Karena karakter pasta semen merupakan hasil reaksi kimiawi antara semen
dengan air, maka bukan perbandingan jumlah air terhadap total ( semen + agregat
halus + agregat kasar ) material yang menentukan, melainkan hanya perbandingan
antara air dan semen pada campuran yang menentukan. Air yang berlebihan akan
menyebabkan banyaknya gelembung air setelah proses hidrasi selesai, sedangkan air
yang terlalu sedikit akan menyebabkan proses hidrasi tidak seluruhnya selesai.
Sebagai akibatnya beton yang dihasilkan akan kurang kekuatannya.
(Nawi Edward,1990).

2.9 Syarat Umum Air

Air yang digunakan untuk campuran beton harus bersih, tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali, zat organis atau bahan lainnya yang dapat merusak
beton atau tulangan. Sebaiknya dipakai air tawar yang dapat diminum. Air yang
digunakan dalam pembuatan beton pra-tekan dan beton yang akan ditanami logam
aluminium (termasuk air bebas yang terkandung dalam agregat) tidak boleh
mengandung ion klorida dalam jumlah yang membahayakan. Untuk perlindungan
terhadap korosi, konsentrasi ion klorida maksimum yang terdapat dalam beton yang
telah mengeras pada umur 28 hari yang dihasilkan dari bahan campuran termasuk
air,agregat,bahan bersemen dan bahan campuran tambahan tidak boleh melampaui
nilai batas. (Mulyono,T.,2004)

Universitas Sumatera Utara

Air yang digunakan sebagai campuran bahan bangunan adalah sebagai berikut:
a) Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam
alkali, garam-garam, bahan-bahan organik atau bahan lain yang dapat merusak
daripada beton.
b) Apabila dipandang perlu maka contoh air dapat dibawa ke Laboratorium
Penyelidikan Bahan untuk mendapatkan pengujian sebagaimana yang dipersyaratkan.
c) Jumlah air yang digunakan adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran berat dan
harus dilakukan setepat-tepatnya.Air yang digunakan untuk proses pembuatan beton
yang paling baik adalah air bersih yang memenuhi syarat air minum. Jika
dipergunakan air yang tidak baik maka kekuatan beton akan berkurang. Air yang
digunakan dalam proses pembuatan beton jika terlalu sedikit maka akan menyebabkan
beton akan sulit untuk dikerjakan, tetapi jika air yang digunakan terlalu banyak maka
kekuatan beton akan berkurang dan terjadi penyusutan setelah beton mengeras.
(Wisniwijanarko,2008)

Dalam proses pembuatan beton, air mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Agar terjadi hidrasi, yaitu reaksi kimia antara semen dan air yang menyebabkan
campuran air semen menjadi keras setelah lewat beberapa waktu tertentu.
2. Sebagai pelicin campuran kerikil, pasir, dan semen agar memudahkan
2. Sebagai pelicin campuran kerikil, pasir, dan semen agar memudahkan pekerjaan.
3. Untuk merawat beton selama pengerasan.

2.10 Bahan Tambah

Bahan campuran tambahan (admixtures) adalah bahan yang bukan air, agregat,
maupun semen, yang ditambahkan kedalam campuran sesaat atau selama
pencampuran. Fungsi bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat beton agar menjadi
cocok untuk pekerjaan tertentu, atau ekonomis, atau untuk tujuan lain seperti
menghemat energi”. Jenis bahan tambahan yang paling utama diringkas sebagai
berikut:
1. Bahan tambahan pemercepat (accelerating admixtures).
2. Bahan tambahan untuk air-entraining (air-entraining admixtures)

Universitas Sumatera Utara

3. Bahan tambahan pengurang air dan pengontrol pengeringan
4. Bahan tambahan penghalus gradasi (finely divided mineral admixtures)
5. Bahan tambahan untuk mengurangi/menghapus slump
6. Polimer
7. Superplastisizer

1. Bahan Tambahan Pemercepat
Bahan ini ditambahkan pada campuran beton untuk mengurangi waktu
pengeringan dan mempercepat pencapaian kekuatan. Yang paling terkenal adalah
kal;sium klorida. Bahan-bahan kimia lain yang berfungsi sebagai pemercepat antara
lain senyawa- senyawa garam seperti klorida, bromida, karbonat, silikat dan terkadang
senyawa organik lainnya seperti trietanolamin.

2. Bahan Tambah Untuk air-entraining
Bahan tambahan ini membentuk gelembung-gelembung udara berdiameter 1
mm atau lebih kecil di dalam beton atau mortar selama pencampuran , dengan maksud
mempermudah pengerjaan campuran pada waktu pengecoran dan menambah
ketahanan awal beton.

3. Bahan Tambahan Pengurang Air dan Pengontrol Pengeringan
Bahan tambahan ini menambah kekuatan beton. Bahan ini juga mengurangi
kandungan semen yang sebanding dengan pengurangan kandungan air. Hampir
semuanya berwujud cairan. Air yang terkandung dalam bahan tambahan ini akan
menjadi bagian dari air campuran dalam beton. Jadi harus ditambahkan menjadi berat
air total dalam desain campuran.

4.Bahan Tambahan Penghalus Gradasi
Bahan ini berupa mineral yang dipakai untuk memperhalus perbedaanperbedaan pada campuran beton dengan memberikan ukuran butir yang tidak ada atau
kurang pada agregat. Selain itu juga dapat menaikkan mutu beton, seperti mengurangi
premeabilitas atau ekspansi, dan juga mengurangi biaya produksi beton. Bahan ini
misalnya adalah kapur hidrolis, semen slag, fly ash, dan pozzolan alam yang sudah
menjadi kapur atau masih mentah.

Universitas Sumatera Utara

5. Bahan Tambahan Untuk Beton Tanpa Slump
Beton tanpa slump didefenisikan sebagai beton dengan slump sebesar 1 in
(25,4 mm) atau kurang, sesaat setelah pencampuran. Pemilihan bahan tambahan ini
bergantung pada sifat-sifat beton yang diinginkan terjadi, seperti sifat plastisitasnya,
waktu pengeringan dan pencapaian kekuatan, efek beku cair, kekuatan dan harga.

6. Polimer
Ini adalah jenis bahan tambahan baru yang dapat menghasilkan beton dengan
kekuatan tekan yang sangat tinggi, sebesar 15.000 psi atau lebih, dan kekuatan belah
tarik sebesar 1.500 psi atau lebih.Beton dengan kekuatan tinggi ini biasanya
diproduksi dengan menggunakan bahan polimer dengan cara modifikasi sifat beton
dengan mengurangi air di lapangan atau dijenuhkan dan dipancarkan pada temperatur
yang sangat tinggi di laboratorium.

Beton dengan modifikasi polimer (PMC = Polymer Modified Concrete) ini
adalah beton yang ditambah resin dan pengeras sebagai bahan tambahan. Prisipnya
adalah menggantikan air pencampur dengan polimer sehingga di dapat beton yang
berkekuatan tinggi dan mempunyai mutu-mutu baik lain. Faktor polimer-beton yang
optimum adalh sekitar 0,3 sampai 0,45 (dalam perbandingan berat) untuk mencapai
kekuatan tinggi tersebut.

7. Superplastisizer
Ini juga merupakan jenis bahan tambahan baru yang dapat disebut sebagai
bahan tambahan kimia pengurang air. Tiga jenis plastisizer adalah:
1. Kondensasi sulfonat melamin formaldehide dengan kandungan klorida
sebesar 0,005%
2. Sulfonat nafthalin formaldehid dengan kandunga klorida yang dapat
diabaikan
3. Modifikasi lignosulfonat tanpa kandungan klorida.

Universitas Sumatera Utara

2.10.1 Bahan Tambah Mineral (Additive)

Bahan tambah mineral ini merupakan bahan tambah yang dimaksudkan untuk
memperbaiki kinerja beton. Pada saat ini, bahan tambah mineral ini lebih banyak
digunakan untuk memperbaiki kinerja tekan beton, sehingga bahan tambah mineral ini
cenderung bersifat penyemenan. Beberapa bahan tambah mineral ini adalah pozollan,
fly ash, slag, dan silica fume. Beberapa keuntungan penggunaan bahan tambah
mineral ini antara lain:
1. Memperbaiki kinerja workability
2. Mengurangi panas hidrasi
3. Mengurangi biaya pekerjaan beton
4. Mempertinggi daya tahan terhadap serangan sulfat
5. Mempertinggi daya tahan terhadap serangan reaksi alkali-silika
6. Mempertinggi usia beton
7. Mempertinggi kekuatan tekan beton
8. Mempertinggi keawetan beton
9. Mengurangi penyusutan
10. Mengurangi porositas dan daya serap air dalam beton.

Universitas Sumatera Utara

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan bahan

3.1.1 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain, yaitu:
1. Ayakan 100 Mesh
Berfungsi untuk pembutiran pasir dan abu cangkang kelapa sawit.
2. Neraca analitik
Berfungsi untuk menimbang bahan.
3. Mixer
Berfungsi mengaduk semua bahan agar homogen.
4. Universal Testing Machine (UTM)
Berfungsi menguji kekuatan tekan sampel batako.
5. Jangka sorong
Berfungsi mengukur diameter, panjang, lebar dan tinggi sampel batako.
6. Equotip hardness tester zurich switzerland SN 716-0915
Berfungsi menguji kekerasan sampel batako dengan metode brinel.
7 Cetakan berdiameter 5 cm
Berfungsi mencetak batako

3.1.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam penelitian ini, meliputi:
1. Semen portland pozollan
2. Pasir
3. Abu cangkang Kelapa Sawit
4. Air

Universitas Sumatera Utara

3.2 Diagram alir Penelitian

Mulai

Penyediaan abu cangkang kelapa sawit yang sudah dibakar

Abu cangkang kelapa sawit yang sudah dibakar, kemudian diayak dengan ayakan
100 Mesh

Penyediaan Semen, Pasir, Abu Cangkang Kelapa Sawit (ACKS) dan air

Pencampuran

Pengadukan

Pencetakan

Pengeringan

Pengujian sampel

Penyerapan air

Densitas

Kuat tekan

Kekerasan

Hasil dan Pembahasan

Kes