Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir Di Kecamatan Medan Labuhan

SKRIPSI ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
PESISIR DI KECAMATAN MEDAN LABUHAN
OLEH Fakhri Ismail
080501041
PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

SKRIPSI ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
PESISIR DI KECAMATAN MEDAN LABUHAN
OLEH Fakhri Ismail
080501041
PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN

Nama NIM Program Studi Konsentrasi Judul Skripsi

PERSETUJUAN PENCETAKAN
: Fakhri Ismail : 080501041 : Ekonomi Pembangunan : Perencanaan Pembangunan : Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Pesisir di Kecamatan Medan Labuhan

Tanggal,

Ketua Program Studi

Tanggal,

Irsyad Lubis, SE,M.Soc.Sc.,Ph.D. NIP. 19710503 200312 1 003
Ketua Departemen

Wahyu Ario Pratomo, SE,M.Ec NIP. 19730408 199802 1 001

Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
PERSETUJUAN

Nama NIM Program Studi Konsentrasi Judul Skripsi

: Fakhri Ismail : 080501041 : Ekonomi Pembangunan : Perencanaan Pembangunan : Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat
Pesisir di Kecamatan Medan Labuhan

Tanggal, Tanggal,

Pembimbing
Paidi Hidayat, SE,M.Si NIP. 19750920 200501 1 002
Pembaca Penilai
Drs. Rahmat Sumanjaya M.Si NIP. 19490808 198103 1 001

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Kecamatan Medan Labuhan” adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraruran yang berlaku.
Medan, Februari 2013 Penulis
Fakhri Ismail NIM. 080501041
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PESISIR
DI KECAMATAN MEDAN LABUHAN Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan dengan menggunakan data primer untuk 100 responden yang mewakili seluruh populasi masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data yang terkumpul diolah dan disajikan dalam bentuk tabel Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan pada umumnya memiliki tingkat kesejahteraan yang tergolong rendah atau miskin. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat pendapatan yang masih rendah dan pengeluaran rumah tangga yang cukup besar serta kondisi tempat tinggal yang belum layak. Kata Kunci : kesejahteraan, masyarakat pesisir
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT THE ANALYSIS LEVEL WELFARE OF COASTAL COMMUNITY
IN THE DISTRICT OF MEDAN LABUHAN The purpose of this study was to determine the level of welfare of coastal communities in the district of Medan Labuhan using primary data for 100 respondents representing the entire population of the coastal communities in the District of Medan Labuhan. The data was collected using questionnaires. The analysis method used is descriptive qualitative. The data collected was processed and presented in the form of tables. The results showed that the coastal communities in the district of Medan Labuhan generally have a relatively low level of prosperity or poverty. This is indicated by the low levels of income and household spending substantial and living conditions are not feasible.
Keywords: welfare, coastal communities
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim…. Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Allah SWT atas anugrah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Tak lupa pula shalawat dan salam penulis hadiahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa cahaya kebenaran dan ilmu pengetahuan di muka bumi.
Dalam melakukan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul “Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Kecamatan Medan Labuhan” ini, penulis mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun materil, sehingga penulis semakin termotivasi untuk menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini yang mana banyak sekali menemukan kendala-kendala yang cukup berarti dalam penyusunannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak – banyaknya kepada pihak – pihak yang telah membantu penulis, diantaranya kepada:
1. Kedua orang tua tercinta Ayahanda yang saya hormati H. Ismail Malik dan Ibunda Hj. Arfah Rahmat yang telah mendidik, merawat dan membesarkan penulis dengan penuh cinta, doa, dan kasih sayang yang sangat teramat besar kepada penulis.
2. Bapak (Alm) Drs. Jhon Tafbu Ritonga,M.Ec selaku mantan Dekan Fakultas Ekonomi USU.
3. Bapak Drs. H. Arifin Lubis M.M,Ak selaku pelaksana tugas (plt) Dekan Fakultas Ekonomi USU
4. Bapak Wahyu Ario Pratomo S.E.,M.Ec dan Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU.
Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Irsyad Lubis S.E.,M.Soc.sc.,Ph.D dan Bapak Paidi Hidayat S.E.,M.Si selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU.
6. Bapak Paidi Hidayat S.E.,M.Si selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan memberikan petunjuk serta arahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak Drs. Rahmat Sumanjaya CAE,M.Si selaku dosen pembaca/penilai skripsi yang telah memberikan masukan serta kritikan kepada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.
8. Seluruh Dosen dan Pegawai Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi USU, terima kasih atas segala bimbingan dan bantuannya selama penulis mengikuti perkuliahan.
9. Masyarakat Kecamatan Medan Labuhan khususnya Kelurahan Nelayan Indah dan Pekan Labuhan yang telah bersedia memberikan informasiinformasi pentingnya selama penelitian ini berlangsung.
10. Saudara – saudaraku tercinta, Kak Karina, Bang Fauzan Ismail, Fadhil Ismail , dan Marisa Ismail. Dan satu lagi kemanakan pertamaku Kanza Alya Rafika Siregar (semoga jadi putri yang berbakti kepada kedua orang tua, amin).
11. Beserta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terima kasih atas segala bantuan yang diberikan kepada penulis. Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini belumlah sempurna dan
masih terdapat banyak kekurangan.Maka dari itulah, penulis memohon maaf yang sebesar – besarnya, sekaligus juga mengharapkan saran serta kritikannya yang membangun guna memperbaiki dan lebih menyempurnakan karya – karya ilmiah berikutnya. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat serta menambah pengetahuan bagi semua pihak.
Medan, Februari 2013 Penulis
Fakhri Ismail NIM. 080501041
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

Halaman ……………………………………………………. i ……………………………………………………. iii …………………………………..………………… vi …………………………………………………..... viii …………………………………………..………... ix

BAB I.

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ………………………………........................ 1 1.2 Perumusan Masalah .………………………………………… 6 1.3 Tujuan Penelitian .……………………..…………………….. 7 1.4 Manfaat Penelitian ……………………………………………7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kesejahteraan………………………………....……. 8 2.2 Konsep Kemiskinan…………………………………………. 11 2.3 Pendekatan dalam Pengukuran Kemiskinan………………… 17 2.4 Potensi Wilayah Pesisir dan Kondisi Ekonomi Masyarakat Pesisir………………………………………….... 24

BAB

III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis penelitian …………………………………………….. 3.2 Tempat dan waktu penelitian ……………………………… 3.3 Batasan Operasional…………………………………… …. 3.4 Populasi dan Sampel Penelitian….………………………… 3.5 Metode Pengumpulan Data……………………………….. 3.6 Analisis Data……………………………………………..... 3.7 Definisi Operasional……………………………………….

32 32 32 33 34 36 37

BAB

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ………………………………. 38 4.2 Hasil Penelitian …………………………………………… 39 4.2.1 Data Karakteristik Responden……………………. 39 4.2.1.1 Berdasarkan Umur……………………… 39 4.2.1.2 Berdasarkan Pendidikan………………… 40 4.2.1.3 Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………….. 40 4.2.1.4 Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga.. 41 4.2.2 Indikator Kesejahteraan Masyarakat Pesisir………… 42 4.2.2.1 Jumlah Pendapatan per Bulan………………42 4.2.2.3 Kondisi Tempat Tinggal………….………... 48 4.2.2.4 Fasilitas Tempat Tinggal……………………50 4.2.2.5 Kondisi Kesehatan Keluarga……………… 52 4.2.2.6 Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan………………………. 53

Universitas Sumatera Utara

4.2.3

4.2.2.7 Kemudahan Memasukkan Anak ke Jenjang Pendidikan................................. 54
4.2.2.8 Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi……………………… 57
Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir………….. 58 4.2.3.1 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan
Responden dengan Pendapatan Per Bulan………………………………………. 59 4.2.3.2 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan Pengeluaran Per Bulan……………………............................ 60 4.2.3.3 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan Kondisi Tempat Tinggal…………………………………….. 61 4.2.3.4 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan Fasilitas Tempat Tinggal…………………………………….. 61

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………………………………………………….. 67 5.2 Saran………………………………………………………… 69
DAFTAR PUSTAKA ..…………………………. …………………………. 70 Lampiran……………………………………………………………………… 72

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No. Tabel

Judul

Halaman

3.1 Indikator keluarga sejahtera berdasarkan Badan Pusat Statistik tahun 2005……………………………… 36
4.1 Data Karakteristik Responden Berdasarkan Umur……………. 39 4.2 Data Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan………. 40 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan………… 40 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan
Jumlah Tanggungan Keluarga………………………………….. 41 4.5 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Pendapatan per Bulan…………………………………………… 43 4.6 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Pengeluaran Per Bulan…………………………………………. 46 4.7 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Kondisi Tempat Tinggal……………………………………….. 49 4.8 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Fasilitas Tempat Tinggal………………………………………. 50 4.9 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Kondisi Kesehatan Keluarga………………………………….. 52 4.10 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan…………….. 53 4.11 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Kemudahan Memasukkan Anak ke Jenjang Pendidikan…….. 55 4.12 Data Indikator Kesejateraan Masyarakat Pesisir Berdasarkan
Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi…………….. 57 4.13 Tingkat Kesejateraan Masyarakat Pesisir di
Kecamatan Medan Labuhan………………………………….. 58 4.14 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Pendapatan per bulan…………..……………………………... 59 4.15 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Pengeluaran per Bulan…………………………..……………. 60 4.16 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Kondisi Tempat Tinggal………………………………..…….. 61 4.17 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Fasilitas Tempat Tinggal……………………………………… 62 4.18 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Kesehatan Keluarga…………………………………..………. 63 4.19 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan…………….. 64 4.20 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Kemudahan Memasukkan Anak ke Jenjang Pendidikan…….. 65 4.21 Tabulasi Silang Tingkat Kesejahteraan Responden dengan
Kemudahan Mendapatkan Fasilitas Transportasi…………….. 66

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No. Gambar

Judul

Halaman

4.1 Kondisi Rumah Masyarakat Pesisir……………………………. 50 4.2 Kondisi Fasilitas Lingkungan Tempat Tinggal………………… 51

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN MASYARAKAT PESISIR
DI KECAMATAN MEDAN LABUHAN Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan dengan menggunakan data primer untuk 100 responden yang mewakili seluruh populasi masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan daftar kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data yang terkumpul diolah dan disajikan dalam bentuk tabel Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan pada umumnya memiliki tingkat kesejahteraan yang tergolong rendah atau miskin. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat pendapatan yang masih rendah dan pengeluaran rumah tangga yang cukup besar serta kondisi tempat tinggal yang belum layak. Kata Kunci : kesejahteraan, masyarakat pesisir
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT THE ANALYSIS LEVEL WELFARE OF COASTAL COMMUNITY
IN THE DISTRICT OF MEDAN LABUHAN The purpose of this study was to determine the level of welfare of coastal communities in the district of Medan Labuhan using primary data for 100 respondents representing the entire population of the coastal communities in the District of Medan Labuhan. The data was collected using questionnaires. The analysis method used is descriptive qualitative. The data collected was processed and presented in the form of tables. The results showed that the coastal communities in the district of Medan Labuhan generally have a relatively low level of prosperity or poverty. This is indicated by the low levels of income and household spending substantial and living conditions are not feasible.
Keywords: welfare, coastal communities
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah kemiskinan merupakan salah satu persoalan mendasar yang
menjadi pusat perhatian pemerintah di negara manapun. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga hampir di seluruh negara di belahan dunia. Kemiskinan merupakan masalah yang tidak bisa dipisahkan apabila kita hendak membicarakan mengenai kesejahteraan. Kesejahteraan rakyat khususnya di negara dunia ketiga sampai saat ini masih dihantui oleh masalah kemiskinan yang tidak kunjung terselesaikan. Oleh karena itu, tidak mengherankan tentunya apabila banyak negara dunia ketiga terus berupaya menyelesaikan dan mencari solusi untuk keluar dari jeratan kemiskinan.
Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah sekalipun, hingga saat ini masih terus berkutat di masalah yang sama. Kemiskinan di Indonesia dapat kita saksikan di berbagai daerah, apalagi jika kita masuk lebih jauh dan menyoroti lebih dalam, bagaimana kondisi dan kesejahteraan masyarakat yang hidup khususnya di daerah pesisir pantai. Masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, hingga saat ini nasibnya masih sangat mengkhawatirkan. Banyak nelayan yang terpaksa harus menyambungkan hidupnya dengan bersusah payah keluar dari lingkaran kemiskinan. Padahal jika kita berkaca ke belakang, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang sangat menjanjikan. Besarnya potensi kelautan Indonesia dibanding potensi daratan, telah merubah orientasi pembangunan yang semula berorientasi daratan menjadi orientasi laut. Wilayah pesisir yang
Universitas Sumatera Utara

merupakan sumber daya potensial di Indonesia merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Sumber daya ini sangat besar yang didukung oleh adanya garis pantai sepanjang sekitar 81.000 km (Dahuri et al. 2001), namun sungguh ironis sekali bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat yang hidup di daerah pesisir hingga saat ini masih sangat rendah.
Kondisi masyarakat pesisir juga terimbas dengan diberlakukannya Undang- Undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang juga berdampak pada sektor perikanan, dimana sebagian urusan perikanan dan kelautan diserahkan pada daerah, dan banyak daerah tidak serius mengelola potensi kelautan dan pesisir baik upaya eksploitasi maupun upaya pengentasan kemiskinan yang tepat sasaran. Program-program yang diberlakukan untuk peningkatan kesejahteraan implementasinya sering salah sasaran, akibatnya nelayan yang seharusnya mendapat dampak perubahan terhadap kesejahteraan sama sekali tidak merasakannya. Padahal Sekitar 16,42 juta jiwa penduduk Indonesia merupakan masyarakat yang hidup di kawasan pesisir. Mereka bertempat tinggal di sedikitnya 8.090 desa pesisir yang tersebar di seluruh wilayah negeri ini.
Pilihan untuk hidup di kawasan pesisir tentu sangat relevan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas sekitar 17.504 pulau. Sepanjang wilayah pesisir memiliki potensi sumber daya alam hayati maupun non-hayati, sumber daya buatan serta jasa lingkungan yang sangat penting bagi penghidupan masyarakat. Kondisi geografis yang memiliki garis pantai begitu panjang ditambah besarnya potensi perikanan yang ada, seharusnya mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat yang mendiaminya. Berharap
Universitas Sumatera Utara

kemakmuran hidup dari potensi dan kekayaan alam yang ada tentu bukan keinginan yang muluk-muluk.
Sejatinya kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir bukan cerita baru di negeri ini. Kemiskinan yang mereka alami sekan menjelma menjadi kemiskinan yang bersifat struktural. Masyarakat pesisir ditengarai masih berlum terpenuhi hak-hak dasarnya seperti pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kondisi tempat tinggal. Akibatnya masih cukup banyak anak nelayan miskin yang ikut terjebak dalam rantai kemiskinan sebagaimana yang dialami orang tuanya.
Kondisi tersebut tentu sebuah ironi, di tengah gemerlapnya kekayaan alam nan melimpah ternyata belum mampu mengangkat derajat kesejahteraan masyarakat. Besarnya potensi sektor kelautan seharusnya mampu memberi kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia. Sektor kelautan juga semestinya memberikan kontribusi yang maksimal terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun hingga sekarang, kontribusi yang disumbangkan masih relatif relatif kecil bila dibandingkan dengan negara lain yang secara geografis memiliki garis pantai lebih pendek.
Kecamatan Medan Labuhan sebagai salah satu kecamatan di Kota Medan merupakan daerah yang berdekatan dengan daerah pesisir yaitu dengan Belawan dan pesisir Deli Serdang, dengan penduduknya berjumlah 111,173 Jiwa (2010) dimana penduduk terbanyak berada di kelurahan Besar yakni sebanyak 33706 orang dan jumlah penduduk terkecil di kelurahan Nelayan Indah yakni sebanyak 7850 orang.
Bila dilihat dari luas kelurahan, kelurahan Sei Mati memiliki luas yang terbesar yakni 12,870 km2 sedangkan kelurahan Pekan Labuhan memiliki luas
Universitas Sumatera Utara

terkecil yakni 3,605 km2 dengan luas wilayah total Kecamatan Medan Labuhan yakni seluas 40,68 km2.
Bila dibandingkan antara jumlah penduduk serta luas wilayahnya, maka kelurahan Pekan Labuhan merupakan kelurahan terpadat yaitu 5336 jiwa tiap km2
Kecamatan Medan Labuhan sebagai salah satu daerah paling tertinggal di Kota Medan tentu tidak lepas dari masalah yang sama yaitu masalah kemiskinan. Dengan mata pencaharian utama berasal dari hasil tangkapan laut, tentu saja masyarakat yang mendiami daerah ini sebagian besar hidup sebagai nelayan. Masyarakat nelayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang dianggap miskin bahkan paling miskin di antara penduduk miskin (the poorest of the poor).
Kemiskinan dapat dilihat dari ketidakmampuan orang untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan serta akses terhadap kesehatan maupun pendidikan yang berkaitan dengan daya beli. Kemiskinan juga terkait dengan ketersediaan sumberdaya alam dan pengetahuan yang dimiliki serta perilaku hidup masyarakat setempat. (Yoseph M. Laynurak: 2008)
Rendahnya kesejahteraan masyarakat pesisir disebabkan karena masyarakat lebih berorientasi terestorial, kurangnya ketrampilan dalam sektor perikanan, kurangnya sarana prasarana pendukung usaha, belum dioptimalkan sumberdaya alam lain di luar sektor perikanan, pengaruh budaya dan paradigma yang sudah tertanam, Akibatnya pendapatan masyarakat rendah, maka daya beli rendah yang mengakibatkan masyarakat pesisir miskin. Kemiskinan berdampak luas pada berbagai segi kehidupan dan hal ini sangat menyulitkan bagi mereka untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
Universitas Sumatera Utara

Rendahnya tingkat pendidikan di wilayah pesisir diduga merupakan faktor penyebab kemiskinan nelayan. Pola berfikir yang seakan-akan sudah pasrah dengan kondisi yang ada, mengakibatkan mereka sulit untuk melanjutkan sekolah dan mendapatkan pendidikan yang layak. Karena sepertinya sudah tertanam paradigma dikalangan para masyarakat pesisir bahwa untuk menangkap ikan dilaut tidak membutuhkan pendidikan Tinggi atau dengan kata lain cukup sekedar bisa baca dan hitung maka itu sudah cukup.
Kondisi ini diperparah dengan Tingginya angka kelahiran yang dalam jangka panjang menyebabkan Tingginya jumlah penduduk. Seperti apa yang pernah dikatakan oleh Robert Malthus bahwa manusia hidup membutuhkan makanan, sedangkan laju pertumbuhan makanan jauh lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk. Apabila tidak diadakan pembatasan terhadap penduduk maka manusia akan mengalami kekurangan bahan makanan, hal inilah merupakan sumber dari kemelaratan dan kemiskinan manusia. Karena kondisi seperti inilah, tidak mengherankan apabila kita melihat gambaran kehidupan masyarakat di daerah ini pada umumnya sungguh jauh berbeda dengan apa yang kita lihat di daerah perkotaan. Begitu juga dengan tingkat kesehatan, kondisi lingkungan dan perumahan yang jauh dari kata layak huni menyebabkan daerah ini rentan akan berbagai macam penyakit. Hal ini menjadi penyebab rendahnya usia harapan hidup masyarakat pesisir.
Kondisi ini juga diperparah dengan banyaknya rumah tangga rawan pangan, dan total rumah tangga rawan pangan di Kota Medan sebanyak 79.136 kepala keluarga (KK) atau 22,93% dari 345.127 KK, yang lagi-lagi kebanyakan berada di Medan Utara diantaranya Kelurahan Belawan Bahagia, Belawan
Universitas Sumatera Utara

Bahari, Belawan-I, Belawan II, Bagan Deli, Pulau Sicanang (Medan Belawan), Kelurahan Terjun, Paya Pasir, Labuhan Deli (Medan Marelan), dan Kelurahan Pekan Labuhan, Nelayan Indah di Kecamatan Medan Labuhan.
Dengan rendahya tingkat pendidikan, sulitnya memperoleh layanan kesehatan, kumuhnya wilayah pemukiman, dan paradigma yang sudah tertanam tentang “sabar” dan pasrah dengan kondisi yang mereka alami, menyebabkan mereka tidak dapat berbuat banyak untuk anak-anaknya, masa depannya, dan kesejahteraannya. Apalagi pemerintah Kota Medan sangat kurang perhatiannya terhadap daerah ini dan terkesan “menganaktirikannya” daripada daerah lain.
Dengan adanya permasalahan diatas penulis tertarik untuk meneliti sebuah fenomena yang terjadi di Kecamatan Medan Labuhan yang diberi judul Analisis Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pesisir di Kecamatan Medan Labuhan. 1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka penelitian ini dibatasi pada hubungan antara indikator-indikator kesejahteraan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir Kecamatan Medan Labuhan, dalam hal ini kependudukan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan, serta kondisi dan fasilitas perumahan.
Dengan memperhatikan batasan masalah maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan ?
Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah :
1. Menganalisis tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan.
2. Menganalisis tingkat pendapatan, pengeluaran dan kondisi daerah serta fasilitas tempat tinggal masyarakat pesisir di Kecamatan Medan Labuhan.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak lain dalam memahami masalah-masalah di bidang ekonomi yang berkaitan dengan masalah dalam bidang kesejahteraan masyarakat khususnya wilayah pesisir, sehingga dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu ekonomi. 2. Untuk mengetahui masalah pokok yang dialami oleh masyarakat di wilayah pesisir serta solusi yang dapat dikembangkan agar kesejahteraan masyarakat pesisir khususnya nelayan dapat ditingkatkan. 3. Untuk kepentingan informasi bagi masyarakat pesisir/nelayan dan pemerintah dalam upaya mengatasi kemiskinan dan pengambilan kebijakan yang tepat. 4. Sebagai acuan bagi mahasiswa dan koleksi perpustakaan yang dapat digunakan untuk membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan penelitian dalam bidang kesejahteraan masyarakat pesisir. 5. Sebagai sarana bagi penulis dalam menambah pengetahuan serta wawasan dalam bidang kesejahteraan masyarakat pesisir khususnya di wilayah pesisir Kecamatan Medan Labuhan
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kesejahteraan Tingkat kesejahteraan dapat didefinisikan sebagai kondisi agregat dari
kepuasan individu-individu. Pengertian dasar itu mengantarkan kepada pemahaman kompleks yang terbagi dalam dua arena perdebatan. Pertama adalah apa lingkup dari substansi kesejahteraan. Kedua adalah bagaimana intensitas substansi tersebut bisa direpresentasikan secara agregat.
Meskipun tidak ada suatu batasan substansi yang tegas tentang kesejahteraan, namun tingkat kesejahteraan mencakup pangan, pendidikan, kesehatan, dan seringkali diperluas kepada perlindungan sosial lainnya seperti kesempatan kerja, perlindungan hari tua, keterbebasan dari kemiskinan, dan sebagainya.
Ada banyak definisi dan konsep yang berbeda tentang kesejahteraan atau “well-being”. Misalnya, dapat dikatakan kesejahteraan seseorang sebagai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan komoditas secara umum; seseorang dikatakan mampu (memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik) jika dia memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menggunakan sumber daya yang dimilikinya (kekayaan). Selain itu, dapat diukur juga dari kemampuan untuk memperoleh jenis barang-barang konsumsi tertentu (misalnya makanan dan perumahan). Seseorang yang kurang mampu untuk andil (berfungsi) dalam masyarakat mungkin memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah (Sen, 1983) atau lebih rentan (vulnerable) terhadap krisis/gejolak ekonomi dan cuaca. Jadi dalam konteks ini, kesejahteraan dapat berarti adanya kemampuan memenuhi kebutuhan
Universitas Sumatera Utara

komoditas secara umum (yakni adanya daya beli terhadap sekelompok pilihan komoditas (Watts, Harrold W 1968) atau jenis konsumsi tertentu (misalnya kecukupan konsumsi makanan) yang dirasa sangat essensial/perlu untuk memenuhi standar hidup dalam masyarakat, maupun dalam arti adanya kemampuan untuk andil/berfungsi dalam masyarakat.
Tentunya ada konsep lain dari kesejahteraan yang melebihi konsep kemiskinan (poverty), baik diukur melalui dimensi moneter maupun non-moneter. Misalnya, ketimpangan. Ketimpangan menitikberatkan pada distribusi dari atribut/variable terukur (misalnya pendapatan dan pengeluaran) terhadap seluruh penduduk. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa posisi relatif dari inidividu rumah tangga dalam masyarakat merupakan aspek penting dari kesejahteraan mereka. Tingkat ketimpangan secara keseluruhan dalam suatu negara, wilayah atau kelompok penduduk, baik dalam bentuk dimensi moneter maupun nonmoneter, juga merupakan indikator yang dapat menggambarkan secara ringkas tentang tingkat kesejahteran dalam kelompok tersebut. Hal ini yang perlu dicatat dari bahasan tentang kesejahteraan yaitu kerentanan (vulnerability). Kerentanan didefinisikan sebagai peluang atau fisik menjadi miskin atau jatuh menjadi lebih miskin pada waktu-waktu mendatang. Kerentanan merupakan dimensi kunci dari kesejahteraan karena kerentanan berakibat pada perilaku individu (dalam bentuk investasi, pola produksi, strategi penanggulangan) dan persepsi dari kondisi mereka sendiri.
Menurut Bank Dunia (Wolrd Bank 2000), “poverty is pronounced derivation in well being”, dimana kesejahteraan dapat diukur dari kekayaan yang dimiliki seseorang, kesehatan, gizi, pendidikan, asset, perumahan, dan hak-hak
Universitas Sumatera Utara

tertentu dalam masyarakat tertentu seperti kebebasan berbicara. Kemiskinan juga berarti kurangnya kesempatan/peluang, ketidakberdayaan, dan kerentanan. Kemiskinan benar-benar masalah multi-dimensi yang memerlukan kebijakan dan program intervensi multi-dimensi pula agar kesejahteraan individu meningkat sehingga membuatnya terbebas dari kemiskinan.
Dengan kata lain lingkup substansi kesejahteraan seringkali dihubungkan dengan lingkup kebijakan sosial. Sebagai atribut agregat, kesejahteraan merupakan representasi yang bersifat kompleks atas suatu lingkup substansi kesejahteraan tersebut. Kesejahteraan bersifat kompleks karena multi-dimensi, mempunyai keterkaitan antardimensi dan ada dimensi yang sulit direpresentasikan. Kesejahteraan tidak cukup dinyatakan sebagai suatu intensitas tunggal yang merepresentasikan keadaan masyarakat, tetapi juga membutuhkan suatu representasi distribusional dari keadaan itu.
Penentuan batasan substansi kesejahteraan dan representasi kesejahteraan menjadi perdebatan yang luas. Perumusan tentang batasan tersebut seringkali ditentukan oleh perkembangan praktik kebijakan yang dipengaruhi oleh ideologi dan kinerja negara yang tidak lepas dari pengaruh dinamika pada tingkat global. Meskipun penentuan lingkup substansi kesejahteraan tidak mudah, namun berbagai penelitian awal mengenai kesejahteraan secara sederhana menggunakan indikator output ekonomi per kapita sebagai produksi tingkat kesejahteraan.
Pada perkembangan selanjutnya, output ekonomi perkapita digantikan dengan pendapatan perkapita. Output ekonomi perkapita dipandang kurang mencerminkan kesejahteraan masyarakat karena output ekonomi lebih mencerminkan nilai tambah produksi yang terjadi pada unit observasi, yaitu
Universitas Sumatera Utara

negara atau wilayah. Nilai tambah itu tidak dengan sendirinya dinikmati seluruhnya oleh masyarakat wilayah itu, bahkan mungkin sebagian besar ditransfer ke wilayah pemilik modal yang berbeda dengan wilayah tempat berlangsungnya proses produksi.
Menanggapi kritik terhadap penggunaan output ekonomi perkapita, maka pendapatan rumah tangga digunakan sebagai produksi kesejahteraan karena dipandang lebih mencerminkan apa yang dinikmati oleh masyarakat wilayah. Namun, data pendapatan rumah tangga seringkali sulit diperoleh sehingga digunakan informasi tentang konsumsi rumah tangga.
Salah satu kelemahan dari konsumsi rumah tangga adalah taksiran yang cenderung berada di bawah angka pendapatan rumah tangga yang sesungguhnya. Penggunaan output ekonomi perkapita atau pendapatan rumah tangga dipandang kurang relevan dalam mengukur kesejahteraan masyarakat karena hanya memperhatikan faktor ekonomi saja.
Hal ini mendorong penggunaan indikator lain yang lebih komprehensif. Atas promosi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, saat ini Indeks Pembangunan Manusia sebagai penilaian yang bersifat komposit atas perkembangan konsumsi, kesehatan, dan pendidikan masyarakat digunakan secara luas untuk mengukur perkembangan kesejahteraan masyarakat. (Dir. Kewilayahan 1, Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah: 5-6). 2.2 Konsep Kemiskinan
Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembang kehidupan yang bermartabat (Bappenas, 2004). Hak-hak dasar antara lain (a) terpenuhinya kebutuhan pangan, (b) kesehatan, pendidikan, pekerjaan,
Universitas Sumatera Utara

perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam dan lingkungan hidup, (c) rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, (d) hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik. (Badan Pusat Statistik).
Menurut teori konservatif, kemiskinan berasal dari karakteristik khas orang-orang miskin. Seseorang menjadi miskin bukan hanya karena masalah mental atau tiadanya kesempatan untuk sejahtera, tetapi juga karena adanya perspektif masyarakat yang menyisihkan dan memiskinkan orang.
Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa penyebab kemiskinan setidaknya terkait dengan tiga dimensi, yaitu:
1. Dimensi Ekonomi Kurangnya sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan orang, baik secara finansial ataupun segala jenis kekayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. Dimensi Sosial dan Budaya Kekurangan jaringan sosial dan struktur yang mendukung untuk mendapatkan kesempatan agar produktivitas seseorang meningkat.
3. Dimensi Sosial dan Politik Rendahnya derajat akses terhadap kekuatan yang mencakup tatanan sistem sosial politik. Di dunia bagian manapun, rasanya kita akan sulit menemukan ada suatu
negara tanpa orang miskin. Bahwa pengelompokkan golongan berdasarkan suatu kualifikasi miskin dan kaya memang menjadi suatu fitrah dan oleh karenanya akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Namun akan menjadi sebuah masalah apabila kemiskinan diartikan sedemikian rupa sehingga menimbulkan perbedaan
Universitas Sumatera Utara

diantara para warga masyarakat secara tegas. Disinilah diperlukan peran hukum untuk menjamin adanya suatu persamaan dihadapan hukum tanpa memandang status dan derajat seseorang (Bayo, 1996).
Menurut Drs. Edi Suharto, M.Sc, tipologi kemiskinan dapat dikategorikan pada empat dimensi utama, yakni kemiskinan absolut, kemiskinan relative, kemiskinan kultural, dan kemiskinan struktural.
Pertama, kemiskinan absolut adalah keadaan miskin yang diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang atau sekelompok orang dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti untuk makan, pakaian, pendidikan, kesehatan, transportasi, dll. Penentuan kemiski'nan absolut ini biasanya diukur melalui “batas kemiskinan” atau “garis kemiskinan” (poverty line), baik yang berupa indikator tunggal maupun komposit, seperti nutrisi, kalori, beras, pendapata, pengeluaran, kebutuhan dasar, atau kombinasi beberapa indikator. Untuk mempermudah pengukuran, indikator tersebut biasanya dikonversikan dalam bentuk uang (pendapatan atau pengeluaran). Dengan demikian, seseorang atau sekelompok orang yang kemampuan ekonominya berada dibawah garis kemiskinan dikategorikan sebagai miskin secara absolut.
Bank Dunia menghitung garis kemiskinan absolut dengan menggunakan pengeluaran konsumsi yang dikonversi kedalam US$ PPP (Puchasing Power Parity/ Paritas Daya Beli), bukan nilai tukar US$ resmi. Tujuannya adalah untuk membandingkan tingkat kemiskinan antar negara. Hal ini bermanfaat dalam menentukan kemana menyalurkan sumber daya finansial (dana) yang ada, juga dalam menganalisis kemajuan dala memerangi kemiskinan. Angka konversi PPP menunjukkan banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk membeli sejumlah
Universitas Sumatera Utara

kebutuhan barang dan jasa dimana jumlah yang sama tersebut dapat dibeli seharga US$ 1 di Amerika. Angka konversi ini dihitung berdasarkan harga dan kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survey yang biasaya dilakukan setiap lima tahun sekali. Pada umumnya ada dua ukuran yang digunakan oleh Bank Dunia, yaitu : a) US$ 1 PPP perkapita perhari; b) US$ 2 PPP perkapita perhari. Ukuran tersebut sering direvis menjadi US$ 1,25 PPP dan US$ 2 PPP perkapita perhari.
Pendapatan perkapita yang Tinggi sama sekali bukan merupakan jaminan tidak adanya kemiskinan absolut dalam jumlah yang besar. Hal ini mengingat besar atau kecilnya porsi atau bagian pendapatan yang diterima oleh kelompokkelompok penduduk yang paling miskin tidak sama untuk masing-masing negara, sehingga mungkin saja suatu negara dengan pendapatan perkapita yang Tinggi justru mempunya persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan internasional yang lebih besar dibandingkan suatu negara yang pendapatan perkapitanya lebih rendah. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemsikinan tersebut antara lain struktur pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di negara yang bersangkutan, berbagai pengaturan politik dan kelembagaan yang dalam prakteknya ikut menentukan pola-pola dstribusi pendapatan nasional.
Kedua, kemiskinan relatif adalah keadaan miskin yang dialami individu atau kelompok dibandingkan dengan “kondisi umum” suatu masyarakat. Jika batas kemiskinan misalnya Rp. 30.000 per kapita per bulan, seseorang yang memiliki pendapatan Rp. 75.000 per bulan secara absolut tidak miskin, tetapi jika pendapatan rata-rata masyarakat setempat adalah Rp. 100.000, maka relatif orang tersebut dikatakan miskin.
Universitas Sumatera Utara

Ketiga, kemiskinan kultural mengacu pada sikap, gaya hidup, nilai, orientasi sosial budaya seseorang atau masyarakat yang tidak sejalan dengan etos kemajuan (modernisasi). Sikap malas, tidak memiiki kebutuhan berprestasi (needs for achievement), fatalis, berorientasi ke masa lalu, tidak memiliki jiwa wirausaha adalah bebrapa karakteristik yang menandai kemiskinan kultural.
Keempat, kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh ketidakberesan atau ketidakadilan struktur, baik struktur politik, sosial, maupun ekonomi yang tidak memungkinkan seseorang atau sekelompok orang menjangkau sumber-sumber penghidupan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Proses dan praktik monopoli, oligopoli dalam bidang ekonomi misalnya, melahirkan mata rantai “pemiskinan” yang sulit dipatahkan. Sekuat apapun motivasi dan kerja keras seseorang, dalam kondisi struktural demikian, tidak akan mampu melepaskan diri dari belenggu kemiskinannya, karena aset yang ada serta akses terhadap sumber-sumber telah sedemikian rupa dikuasai oleh segolongan orang tertentu. Para petani tidak memiliki tanah sendiri atau hanya memiliki hanya sedikit tanah,para nelayan yang tidak mempunyai perahu, para pekerja yang tidak terampil (unskilled labour), termasuk ke dalam mereka yang berada dalam kemiskinan struktural.
Disadari atau tidak kita memang patut berterima kasih pada pemerintah pada komitmen dan kebijakan pemerintah dalam menangani kemiskinan khususnya pada zaman orde baru, secara nasional jumlah kemiskinan absolut di Tanah Air mengalami penurunan yang sangat tajam. Jika pada tahun 1970, terdapat 70 juta atau 60 persen penduduk Indonesia terhimpit kemiskinan, maka hanya dalam dua dasawarsa jumlah tersebut telah menjadi 27,7 juta atau 15,08
Universitas Sumatera Utara

persen saja dari populasi keseluruhan. Pada tahun 1993, jumlah penduduk yang masih berada di garis kemiskinan menjadi 25,9 juta atau 13,67 persen.
Akan tetapi, data-data “makro” tersebut belumlah mengungkap dimensi kemiskinan relatif yang berwujud ketimpangan sektoral maupun ketimpangan regional antar wilayah. Belum lagi persoalan indikator kemsikinan yang oleh sebagian ahli masih dipandang sebagai “belum mencerminkan” kebutuhan manusia secara manusiawi.
Indikator kemiskinan yang ditetapkan menurut Badan Pusat Statistik adalah kemampuan seseorang dalam memenuhi khususnya kebutuhan pangan minimal sebesar 2.100 kalori/hari/orang atau sekitar Rp. 35.000 per kapita per bulan kemudian kemampuan memenuhi basic needs atau kebutuhan dasar seperti pakaian, kesehatan, pendidikan, pekerjaan,perumahan, rasa aman, partisipasi sosial politik, dll. Indikator dari BPS ini juga dipandang masih terlalu rendah karena pendapatan sebesar itu tentunya hanya “cukup“ untuk memenuhi kebutuhan “sangat dasar”. Dengan batas kemiskinan yang rendah ini, sangat dimaklumi jika banyak penduduk yang sebenarnya masih dalam kategori miskin, misalnya pendapatan Rp. 36.000 per kapita per bulan terangkat menjadi kelompok “tidak miskin” atau “agak miskin” (nearly poor).
Selain itu, terdapat kecenderungan bahwa di daerah pedesaan tengah terjadi proses penurunan kemakmuran yang tampak dari sempitnya pemilikan lahan. Menurut data statistik dari BPS, dalam kurun waktu sepuluh tahun telah terjadi penurunan luas tanah yang dimiliki petani dari 18,35 juta hektare menjadi 17,67 juta ha. Sejalan dengan itu, petani gurem yang memiliki lahan dibawah 0,5 ha melonjak dari 9,5 juta menjadi 10,9 juta keluarga. (Suharto, 1997: 74-76)
Universitas Sumatera Utara

2.3 Pendekatan dalam Pengukuran Kemiskinan Strategi kebutuhan dasar (basic needs) sebagaimana dikutip oleh Thee
Kian Wie (1981:29), dipromosikan dan dipopulerkan oleh internasional labor organization (ILO) pada tahun 1976 dengan judul “Kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kebutuhan dasar: suatu masalah bagi satu dunia”. Strategi kebutuhan dasar memang memberi tekanan pada pendekatan langsung dan bukan cara tidak langsung seperti melalui effek menetes kebawah (trickle down effect) dari pertumbuhan ekonomi yang Tinggi. Keseulitan umum dalam penentuan indikator kebutuhan dasar adalah standart atau kriteria yang subjektif karena dipengaruhi oleh adat, budaya, daerah, dan kelompok sosial. Disamping itu kesulitan penentuan seara kuantitatif oleh masing-masing komponen kebutuhan dasar yang dimiliki oleh komponen itu sendiri. Misalnya selera konsumen terhadap satu jenis makan atau komoditi lainnya.
Beberapa kelompok atau ahli telah mencoba merumuskan mengenai konsep kebutuhan dasar ini termasuk alat ukurnya. Konsep kebutuhan dasar yang dicakupa dalah komponen kebutuhan dasar dan karakterisktik kebutuhan dasar serta hubungan keduanya dengan garis kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) komponen kebutuhan dasar terdiri dari pangan dan bukan pangan yang disusun menurut daerah perkotaan dan perdesaan berdasarkan hasil survey sosial ekonomi nasional (SUSENAS). Berdasarkan komposisi pengeluaran konsumsi penduduk, dapat dihitung besarnya kebutuhan minimum untuk masing-masing komponen.
Kembali pada pengukuran kemisinan, menurut Ravallion (1998), ada tiga tahapan yang diambil dalam mengukur kemiskinan. Tiga tahapan ini mencakup:
1) Mendefinisikan indikator kesejahteraan
Universitas Sumatera Utara

2) Membangun standart minimum yang dapat diterima dari indikator tersebut untuk membagi penduduk menjadi miskin dan tidak miskin (sering dikenal dengan garis kemiskinan), dan
3) Membuat ringkasan statistic untuk memberikan informasi secara agregat mengenai distribusi dari indikator kesejahteraan tersebut dan posisi realtifnya terdapat standart minimum yang telah ditentukan. Ukuran kemiskinan pada tingkat makro dapat memberikan gambaran
kemiskinan rumah tangga menurut wilayah regional, provinsi, dan kota-desa. Untuk menetapkan rumah tangga sebagai kelompok sasaran program, seperti intervensi dan mengurangi dampak krisis, kriteria-kriteria infrastruktur pelayanan pemerintah dan fasilitas umum lainnya menurut karakteristik wilayah dan rumah tangga sangat penting untuk diperhatikan. Beberapa indikator untuk mengidentifikasi rumah tangga miskin dapat dikembangkan berdasarkan karakteristik rumah tangga, termasuk indikator demografi, sosial ekonomi, dan indikator lainnya. Indikator-indikator ini pad aumumnya cocok untuk digunakan. Tetapi beberapa diantaranya hanya sesuai untuk kota atau desa.
Indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk mendefinisikan rumah tangga miskin yaitu ciri-ciri pekerjaan yang dilakukan oleh kepala rumah tangga dan akses terhadap sumber/asset. (Pernia & Quibria, 1991). Untuk wilayah pesisir karakteristik pekerjaan kepala rumah tangga adalah sebagai nelayan. Yang mana kehidupannya bergantung dengan hasil tangkapan laut.
Berdasarkan hasil penelitian Emil Salim pada tahun 1981 menjelaskan bahwa ciri-ciri orang miskin adalah sebagai berikut:
Universitas Sumatera Utara

1) Mereka tidak memperoleh kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan dari luar.
2) Mereka yang hidup di daerah perkotaan masih berusia muda dan tidak didukung oleh keterampilan yang memadai
3) Tidak memiliki faktor produksi dan tidak mempunyai keterampilan yang cukup untuk memperoleh pendapatan yang layak
4) Tingkat pendidikan rendah, karena waktu mereka dihabiskan untuk bekerja dalam upaya untuk memperoleh pendapatan untuk tambahan penghasilan
5) Sebagian besar mereka tinggal di perdesaan, tidak memiliki tanah dan kalaupun ada sangat sedikit. Pada umumnya dari mereka bekerja sebagai buruh tani atau pekerja kasar yang dibayar rendah di sektor pertanian.
6) Kesinambungan kerja kurang terjamin karena mereka bekerja dalam usaha apa saja di sektor informal. Hasil penelitian World Bank oleh Don Chemichovsky dan Oey Astra
Meesok dengan menggunakan data Susenas 1978 (Masfufah, 2000), menyatakan beberapa karakteristik rumah tangga miskin di Indonesia antara lain:
1) Jumlah anggota rumah tangga banyak dengan kepala rumah tangga merupakan tulang punggung keluarga
2) Tingkat pendidikan anggota rumah tangga dan kepala rumah tangga ratarata rendah
3) Pekerjaan saring berubah dan sebagian dari mereka mau menerima tambahan pekerjaan lain bila ditawarkan
Universitas Sumatera Utara

4) Sebagian besar pengeluaran untuk mengkonsumsi makanan dengan persentase pengeluaran untuk karbohidrat paling besar
5) Sebagian besar pendapatan utamanya bersumber dari pertanian dan penguasaan tanahnya masih marginal
6) Kondisi rumahnya masih sangat memprihatinkan dalam hal penyediaan air bersih dan listrik untuk penerangan. Karakteristik rumah tangga lain yang berkaitan erat dengan tingkat
kemiskinan yaitu jumlah anggota rumah tangga. Makin besar jumlah anggota rumah tangga akan makin besar pula risiko untuk menjadi miskin apabila pendapatannya tidak meningkat. Umur kepala rumah tangga juga berkaitan dengan tingkat kemiskinan walaupun hubungannya tidak begitu jelas, akan tetai ada kecenderungan bahwa kepala rumah tangga tidak miskin lebih tua debandingkan rumah tangga miskin (Faturrokhman dan Molo, 1995)
Dalam Zulfahri (2002), Masri Singarimbun mencirikan kemiskinan sebagai suatu kondisi yang memenuhi ciri-ciri: 1) Pendapatan rendah 2) Gizi rendah 3) Tingkat pendidikan rendah 4) Keterampilan rendah 5) Harapan hidup pendek
Sedangkan Keban (1994) membagi menjadi tiga kelompok faktor penyebab kemiskinan rumah tangga yaitu: 1) Karakteristik individu kepala rumah tangga 2) Karakteristik pekerjaan kepala rumah tangga
Universitas Sumatera Utara

3) Karakteristik lingkungan Dalam buku Dasar-dasar Analisis Kemiskinan (Badan Pusat Statistik,
2002) diuraikan karakteristik rumah tangga dan individu yang berkaitan dengan kemiskinan yang digolongkan menjadi tiga kelompok. 1) Karakteristik Demografi
a. Struktur dan ukuran rumah tangga. Indikator ini penting karena menunjukkan korelasi antara tingkat kemiskinan dan komposisi rumah tangga. Komposisi rmah tangga, dalam bentuk ukuran rumah tangga dan Karakteristik anggota rumah tangga (seperti umur), sering sangat berbeda untuk setiap rumah tangga miskin dan tidak miskin. Makin besar jumlah anggoa rumah tangga makin besar pula resiko untuk menjadi miskin apabila pendapatannya tidak meningkat.
b. Rasio ketergantungan (Dependency Ratio). Rasio ketergantungan dihitung sebagai rasio jumlah anggota rumah tangga yang tidak berada dalam angkatan kerja (apakah muda atau tua) terhadap mereka yang berada pada angkatan kerja dalam rumah tangga tersebut. Adapun hubungan antara rasio ketergantungan dengan tingkat kemiskinan adalah berkorelasi positif, dimana ketika rasio ketergantungan Tinggi maka tingkat kemiskinan akan semakin meningkat.
c. Gender kepala rumah tangga, secara umum telah diketahui bahwa jenis kelamin kepala rumah tangga berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan rumah tangga dan sering ditemui bahwa rumah tangga yang dikepalai wanita lebih miskin daripada yang dikepalai laki-laki.
2) Karakteristik Ekonomi
Universitas Sumatera Utara

Karakteristik ekonomi mencakup pekerjaan, pendapatan, pengeluaran konsumsi dan kepemilikan rumah tangga.
a. Ketenagakerjaan (Employm

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2225 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 574 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 493 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 319 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 440 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 708 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 623 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 397 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 578 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 705 23