Alih Kode Penutur Bahasa Pesisir Di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara

ALIH KODE PENUTUR BAHASA PESISIR DI KECAMATAN KUALUH HILIR
KABUPATEN LABUHAN BATU UTARA

SKRIPSI
OLEH:
MUSTIKA SARI
NIM: 070701001

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar sarjana pada suatu perguruan tinggi dan
sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacuhi dalam naskah ini
dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apa bila pernyataan yang saya perbuat ini
tidak benar maka saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar sarjana
yang saya peroleh.

Medan, Juli 2011
Hormat Saya

Mustika Sari

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan kajian tentang alih kode penutur bahasa pesisir di
Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Yang menjadi masalah
dalam penelitian ini adalah apakah penyebab faktor terjadinya alih kode dan
bagaimanakah jenis alih kode. Dalam penelitian ini metode yang digunakan
adalah metode cakap dan metode simak. Teknik yang digunakan adalah teknik
pilah unsur. Metode pengkajian data adalah metode padan. Sedangkan teori yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Abdul Chaer. Dari hasil analisis yang
dilakukan dapat disimpukan bahwa faktor penyebab terjadinya alih kode terbagi
menjadi pembicara atau penutur, penutur atau lawan tutur, perubahan situasi
dengan hadirnya orang ketiga, perubahan topik pembcara, perubahan dari formal
ke nformal dan jenis alih kode terbagi atas tingkat tutur ngoko, tingkat tutur krama
dan tingkat tutur madya.

Universitas Sumatera Utara

PRAKATA

Dengan segala kerendahan hati, penulis memanjatkan puji dan syukur
kepada Allah SWT atas karunia nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi
tepat pada waktunya.
Skripsi ini penulis persembahkan kepada kedua orang tua tercinta,
Ayahanda Gempar Ritonga S.p dan Ibunda Delfia Rohani S.pd, serta adikku
tercinta, tersayang dan terkasih Puja sayang dan Dina. yang begitu setia
mendampingi, memberikan doa serta memberikan dukungan moral dan material
kepada penulis sejak penulis lahir hingga sekarang.
Dalam penulisan ini skripsi penulis banyak mendapatkan bantuan baik
berupa dorongan, perhatian, bimbingan, nasihat dan juga doa. Untuk itu penulis
banyak mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A Sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya
USU Serta Kepada PD I, PD II dan PD III.
2. Bapak

Prof.Dr.

Ikhwanuddin

Nasution,M.Si

Sebagai

ketua

Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah
memberikan dukungan kepada penulis mengikuti perkuliahan di
Departemen Sastra Indonesia.
3. Bapak Drs. Haris Sutan Lubis, M.Sp Sebagai seketaris Departemen
Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya USU yang telah memberikan
bantuan kepada penulis mengikuti perkuliahan di Departemen Sastra
Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Dra. Salliyanti, M.Hum., Sebagai dosen pembimbing I yang telah
banyak dan sabar memberikan bimbingan serta dukungan selama
penyelesaian skripsi ini. Terima kasih ya ibukku sayang.
5. Bapak Drs. Pribadi Bangun, .Sebagai dosen pembimbing II yang telah
membimbing dan memberikan masukan kepada penulis dalam
meyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak dan Ibu staf pengajar Departemen Sastra Indonesia Fakultas
Ilmu Budaya USU yang telah banyak memberikan bimbingan dan
pengajaran selama penulis mengikuti perkuliahan.
7. Almarhum Bapak Prof. H. Ahmad Samin Siregar, S.s ,.Sebagai dosen
wali yang telah banyak memberikan bimbingan dan nasihat selama
penulis menjalankan perkuliahan.
8. Bapak Drs. Adlin Sinaga Sebagai camat Kualuh Hilir Kabupaten
Labuhan Batu Utara yang telah memberikan izin pada penulis untuk
meneliti.
9. Bapak Drs. Hilaludin Nasution, Sebagai kepala sekolah SMA N I
Kualuh Hilir yang selalu memberikan masukan,serta doa kepada
penulis.
10. Bapak dan Ibu guru SMA N I Kualuh Hilir yang telah banyak
memberikan semangat pada penulis.
11. Bapak dan Ibu guru SMP N I Kualuh Hilir yang telah memberikan
motivasi dan doa pada penulis.
12. Buat lek Adi terima kasih banyak penulis ucapkan karena selalu
mendoakan penulis dalam pembuatan skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara

13. Terima kasih buat Tika sayang yang telah banyak memberikan
kemudahan pada penulis dalam menyelesaikan segala urusan
administrasi di Departemen Sastra Indonesia.
14. Buat keluarga sanak saudara Bou, Tulang, Amang boru, Nantulang,
Mak uo, Pak uo, Mamak, Etek, Uni, Uda terimakasih atas doa dan
dukungan buat penulis.
15. Buat temanku Irma Sofiana Sinaga dan Yuningsih yang selalu
menghibur, memotivasi, serta dukungan pada punulis dan semua
teman-teman di Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya
khususnya stambuk 07.
16. Buat teman-teman kos Hardupan, khususnya Venny, Yanti, Ilas serta
keluarga besar Andung dan kak Ita yang senantiasa memberikan
dukungan dan doa buat penulis.
17. Buat seluruh masyarakat kualuh hilir yang selalu mendukung penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang
sifatnya membangun. Akhirnya, penulis berharap skripsi ini dapat
menambah wawasan pengetahuan pembaca.

Medan, Juli 2011
Penulis,
Mustika Sari

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

PERNYATAAN..................................................................................................... i
ABSTRAK............................................................................................................. ii
PRAKATA............................................................................................................ iii
DAFTAR ISI……………………………………………………..……………... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar

Belakang…………………………………….…………..............

1
1.2 Rumusan

Masalah……………………………………………….........

4
1.3 Pembatasan

Masalah…………………………………………….........

4
1.4 Tujuan

dan

Manfaat…………………………………………..............

5
1.4.1

Tujuan Penelitian…………………………………….…....
5

1.4.2

Manfaat Penelitian…………………………………….......
5

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Konsep………………………………………………………..….....
7
2.1.1

Alih Kode.......………………………………………….......
7

2.2

Landasan Teori……………………………………...…………….
17
2.2.1

Sosiolinguistik……………………………………...............
17

2.2.2 Bilingualisme........................................................................
18

Universitas Sumatera Utara

2.3

Beberapa Contoh Alih Kode antara Bahasa Kualuh Hilir
dan Bahasa Indonesia.....................................................................

19
2.4

Tinjauan Pustaka……………………………………………….....
24s

BAB III METODE PENELITIAN
3.1

Lokasi dan Waktu Penelitian…………………………………......
26
3.1.1

Lokasi Penelitian………………………………………......
26

3.1.2

Waktu Penelitian…………………………………………..
26

3.2

Sumber Data...…………………………………………….........….
26

3.3

Metode dan Teknik Pengumpulan Data………………………....
27

3.4

Metode dan Teknik Analisis Data…………………………..…….28

BAB IV PEMBAHASAN
4.1

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Bahasa Pesisir di
Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara.......
29
4.1.1

Perubahan Situai Dengan Hadirnya Orang Ketiga.........
29

4.1.2

Perubahan Topik Pembicara..............................................
35

4.1.3

Pembicara / Penutur............................................................
42

4.1.4

Faktor Penutur / Lawan Tutur...........................................
46

Universitas Sumatera Utara

4.1.5

Faktor Perubahan Dari Formal ke Informal...................
49

4.2

Jenis Alih Kode Yang Terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir

Kabupaten
Labuhan Batu Utara.......................................................................
52
4.3

Bentuk Tutur...................................................................................
52
4.3.1

Tingkat Tutur Ngoko(Rendah).........................................

53
4.3.2

Tingkat Tutur Krrama(Tinggi).........................................

57
4.3.3

Tingkat Tutur Madya(Sedang).........................................

61
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1

Simpulan...........................................................................................
66

5.2

Saran.................................................................................................
68

DAFTAR PUSTAKA
Lampiran

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan kajian tentang alih kode penutur bahasa pesisir di
Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Yang menjadi masalah
dalam penelitian ini adalah apakah penyebab faktor terjadinya alih kode dan
bagaimanakah jenis alih kode. Dalam penelitian ini metode yang digunakan
adalah metode cakap dan metode simak. Teknik yang digunakan adalah teknik
pilah unsur. Metode pengkajian data adalah metode padan. Sedangkan teori yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu teori Abdul Chaer. Dari hasil analisis yang
dilakukan dapat disimpukan bahwa faktor penyebab terjadinya alih kode terbagi
menjadi pembicara atau penutur, penutur atau lawan tutur, perubahan situasi
dengan hadirnya orang ketiga, perubahan topik pembcara, perubahan dari formal
ke nformal dan jenis alih kode terbagi atas tingkat tutur ngoko, tingkat tutur krama
dan tingkat tutur madya.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Bahasa sebagai wahana komunikasi digunakan setiap saat. Bahasa merupakan

alat berkomunikasi antara anggota masyarakat yang berupa lambang bunyi yang
dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1984:19) manusia menggunakan bahasa dalam
komunikasi dengan sesamanya pada seluruh bidang kehidupan.
Sebagai alat komunikasi dengan sesamanya bahasa terdiri atas dua bagian yaitu
bentuk atau arus ujaran dan makna atau isi. Bentuk bahasa adalah bagian dari bahasa
yang diserap pancaindera contoh, dengan mendengar atau membaca. Sedangkan makna
adalah isi yang terkandung di dalam bentuk tadi, yang dapat menimbulkan reaksi tertentu
(Keraf, 1984:6).
Hubungan antara bahasa dengan sistem sosial dan sistem komunikasi sangat erat.
Sebagai sistem sosial pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti usia,
tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan profesi. Sedangkan sebagai sistem komunikasi,
pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor situasional yang meliputi siapa yang berbicara
dengan siapa, tentang apa (topik), dalam situasi bagaimana, dengan tujuan apa, jalur apa,
dan ragam bagaimana (Nababan, 1991:7).
Pada waktu ini, tampaknya bahasa Indonesia telah berhasil menjalankan fungsi
sebagai bahasa negara, terutama dalam situasi resmi seperti rapat, seminar, dan kongres.
Bahasa Indonesia juga dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah, dalam suratmenyurat, dan media massa, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam berhubungan dengan
teman dekat, teman sesuku, bangsa Indonesia yang terdiri dari

berbagai suku, dan

berbicara dalam berbagai bahasa, serta mempunyai latar belakang sosial budaya yang

Universitas Sumatera Utara

berbeda-beda tidak selalu memakai bahasa Indonesia. Mereka kadang-kadang
menggunakan bahasa daerah masing-masing, atau bahasa daerah tempat mereka tinggal.
Berdasarkan sarana tuturnya bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu
bahasa lisan dan tulisan. Pada bahasa lisan pembicara dan pendengar saling berhadapan
secara langsung sehingga mimik, gerak, dan intonasi pembicara dapat memperjelas
maksud yang akan di sampaikan. Sedangkan bahasa tulisan penulis dan pembaca tidak
berhadapan langsung tetapi tulisan dapat dimengerti oleh pembaca berkat penggunaan
tanda baca, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah di pahami.
Alih kode atau code switching sering terjadi di kalangan masyarakat bilingual
khususnya pada masyarakat Pasar Bilah I A Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten
Labuhan Batu Utara yaitu pengalihan bahasa dari bahasa Indonesia ke bahasa daerah.
Istilah alih kode Hutson (1996) mengemukakan pendapatnya bahwa alih kode dibatasi
pada pertukaran bahasa yang sesuai untuk menyampaikan suatu maksud tertentu,
situasinya berubah yang disebabkan oleh pergantian bahasa yang dipilihnya secara tepat.
Dalam alih kode, setiap bahasa atau ragam bahasa yang digunakan itu masih memiliki
fungsi otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar dan sengaja dengan sebab-sebab
tertentu, sedangkan kode-kode lain yang terlibat dalam peristiwa tutur hanyalah berupa
serpihan-serpihan saja tanpa fungsi atau keotonomian sebagai sebuah kode.
Kode adalah sistem tutur yang peranan bahasanya merupakan ciri khas latar
belakang penutur, hubungan penutur dengan lawan bicaranya dari situasi tutur yang ada
(Poejosoedarmo, 1982:3) Selanjutnya, bahwa kode tutur adalah sistem tutur yang
kebahasaannya mempunyai ciri khas penerapan yang mencerminkan salah satu keadaan
dari salah satu komponen tutur seperti latar belakang orang pertama dan orang kedua,
situasi bicara dan lawan bicara (Poejosoedarmo, 1982:7). Kode tutur ini merupakan
bahasa atau varian bahasa yang digunakan dalam komunikasi masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

Mackey (dalam Chaer 1995:115) mengatakan dengan tegas bahwa bilingualisme
adalah praktik penggunaan bahasa secara bergantian dari bahasa yang satu ke bahasa
yang lain oleh seorang penutur. Bahasa dalam arti luas yakni tanpa membedakan tingkattingkat yang ada (Weinrich, 1995:115). Dari uraian tersebut dapat diperoleh suatu
kesimpulan atau gambaran bahwa sebenarnya membicarakan suatu bahasa tidak terlepas
dari membicarakan kategori kebahasaan, yaitu variasi bahasa.
Penggunaan serpihan-serpihan dari bahasa lain yang biasa berupa kata, frase, dan
dalam berbahasa Indonesia mengalihkan bahasa daerah atau bahasa asing, biasa dikatakan
telah melakukan alih kode (Appel dan Hymes, 1979:79). Peristiwa alih kode ini secara
sederhana dapat terjadi pada setiap penutur bahasa yang mampu menggunakan bahasa
lain diluar bahasa ibunya baik secara sempurna maupun tidak. Peristiwa ini lazim terjadi
pada masyarakat yang bilingual.
Dalam penelitian ini, penulis melihat kebahasaan yang terjadi dalam lingkungan
Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara, yakni
penggunaan dua bahasa atau lebih secara bergantian dengan mengalihkan unsur-unsur
bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten yang disebut alih kode. Alih
kode sebagai salah satu fenomena yang terjadi pada peralihan penggunaan bahasa dari
bahasa Indonesia ke bahasa daerah tidak mungkin dihindarkan. Jadi peneliti tertarik untuk
meneliti bagaimana alih kode dalam percakapan masyarakat Pasar Bilah IA, Kecamatan
Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara dan bagaimanakah jenis alih kode yang
terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir.
Kualuh Hilir adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Labuhan Batu Utara yang
sering disingkat (Labura) Ibu kotanya adalah Aek kanopan, Kabupaten ini dibentuk
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2008, yang merupakan pemekaran dari
Kabupaten Labuhan Batu. Struktur pemerintahan terdiri atas delapan kecamatan yaitu:1.

Universitas Sumatera Utara

Aek kanopan, 2. Aek natas, 3. Kualuh hilir, 4. Kualuh hulu, 5. Kualuh leidong, 6. Kualuh
selatan, 7. Merbau, 8. Nasembilan –sepuluh.
1.2 Rumusan Masalah
Hal yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah:
1.Apakah penyebab faktor terjadinya alih kode di Kecamatan Kualuh Hilir?
2.Bagaimanakah jenis alih kode yang terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir?
1.3 Pembatasan Masalah
Penelitian ini merupakan penelitian dalam bidang sosiolinguistik. Sosiolinguistik
merupakan cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi,
dengan objek penelitian hubungan bahasa dengan faktor – faktor sosial di dalam suatu
masyarakat tutur (Chaer, 1995:4). Dalam penelitian ini tidak akan diteliti keseluruhan
masalah kebahasaan dan topik-topik yang dibahas dalam sosiolinguistik. penelitian ini
hanya membahas mengenai alih kode yang terjadi

di masyarakat Pasar Bilah I A,

Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara dan bagaimanakah jenis alih
kode yang terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Pada dasarnya setiap penelitian itu mempunyai tujuan tertentu yang memberikan
arah dan pelaksanaan tersebut. Hal ini dilakukan supaya tujuan dapat tercapai dengan
baik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mendeskripsikan penyebab faktor terjadinya alih kode di Kecamatan Kualuh
Hilir.
2. Mendeskripsikan jenis alih kode yang terjadi di Kecamatan Kualuh Hilir.

Universitas Sumatera Utara

1.4.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat baik untuk diri peneliti sendiri maupun orang
lain. Adapun manfaat yang akan diperoleh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan masukan mengenai penyebab faktor terjadinya alih kode dan jenis
alih kode dalam masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti tentang alih kode yang terjadi
dalam masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir.
3. Menambah khasanah kepustakaan sosiolinguistik yang sampai saat ini
terbukti masih sangat langka.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep
Konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar
bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain (Alwi, 2003:588).
Sesuai dengan topik dalam tulisan ini digunakan beberapa konsep yaitu alih kode, dan
masyarakat Pasar Bilah I A.
2.1.1 Alih Kode
Kontak yang terjadi terus-menerus antara dua bahasa atau lebih dalam situasi
masyarakat yang bilingual cenderung mengakibatkan gejala kebahasaan yang disebut alih
kode. Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa di dalam masyarakat
dwibahasawan, artinya di dalam masyarakat dwibahasawan hampir tidak mungkin
seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak tanpa sedikit pun
memanfaatkan bahasa lain.
Alih kode adalah peristiwa peralihan dari kode yang satu ke kode yang lain, jadi
apabila seorang penutur mula-mula menggunakan kode A dan kemudian beralih
menggunakan kode B, maka peralihan bahasa seperti inilah yang disebut sebagai alih
kode (Suwito dalam Rahardi, 2001: 10). Kode biasanya berbentuk variasi bahasa yang
secara

nyata

dipakai

berkomunikasi

oleh anggota

suatu

masyarakat

bahasa

(Poedjosedarmo dalam Rahardi, 2001:22). Kode adalah salah satu varian di dalam
hierarki kebahasaan yang dipakai dalam berkomunikasi

Suwito (dalam Rahardi,

2001:22). Jadi kode merupaka varian bahasa.
Sosiolinguistik terdiri atas dua unsur, yaitu “sosio”dan “linguistik”. Linguistik
merupakan ilmu yang mempelajari atau membicarakan bahasa, khususnya unsur-unsur

Universitas Sumatera Utara

bahasa (fonem, morfem, kata, dan kalimat) dan hubungan antara unsur-unsur itu
(struktur). Termasuk hakekat dan pembentukan unsur-unsur itu. Unsur sosio adalah
seakar dengan sosial. Yang berhubungan dengan masyarakat, kelompok-kelompok
masyarakat, dan fungsi kemasyarakatan (Nababan, 1991:2). Jadi jelas bahwa
sosiolinguistik mempertimbangkan keterkaitan antara dua hal, yakni dengan linguistik
untuk segi kebahasaannya dan dengan sosiologi untuk segi kemasyarakatannya.
Dalam kajian sosiolinguistik, terdapat beberapa peristiwa kebahasaan yang
mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa antara bahasa di antara penutur
bahasa, yaitu bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, intergrasi,
konvergensi, dan

pergeseran bahasa yang terjadi pada masyarakat multilingual.

Masyarakat multilingual atau masyarakat tutur bilingual adalah masyarakat yang mampu
menguasai bahasa paling tidak dua bahasa, yakni bahasa pertama dan kedua.
Pada masyarakat bilingual sering terjadi kontak antara bahasa yang satu dengan
bahasa yang lain. Fishman (dalam Rahardi, 2001:16) mengatakan bahwa seseorang dapat
menjadi individu bilingual bukan melalui pengajaran dan pembelajaran formal,
melainkan melalui interaksi langsung dengan kelompok etnik lain yang memiliki bahasa
yang berbeda dengan bahasa orang itu. Kondisi yang demikian dapat membawa
hubungan saling ketergantungan antara bahasa pertama dan bahasa kedua yang terjadi
pada masyarakat tutur. Artinya, bahwa tidak pernah akan mungkin seorang penutur dalam
masyarakat tutur yang demikian hanya menggunakan satu bahasa secara murni, tidak
terpengaruh oleh bahasa yang lainnya yang sebenarnya memang sudah ada dalam diri
penutur.
Suwito (dalam Chaedar, 1985:17) yang mengemukan bahwa apabila terdapat dua
bahasa atau lebih digunakan secara bergantian oleh penutur yang sama akan terjadilah
kontak bahasa. Dikatakan demikian karena memang terjadi peristiwa saling kontak antara

Universitas Sumatera Utara

bahasa yang satu dengan bahasa yang lainnya dalam peristiwa komunikasi. Dengan
perkataan lain di dalam bilingualisme, baik pengertian individu maupun masyarakat
pastilah terjadi apa yang disebut kontak bahasa itu. Apabila kontak bahasa itu terjadi pada
individu pemakai bahasa itu maka dapatlah dikatakan bahwa orang atau individu
bilingual itulah yang merupakan tempat terjadinya kontak bahasa. Hal demikian dapat
menimbulkan gejala menarik dalam studi sosiolinguistik yang disebut sebagai gejala alih
kode (code swiching).
Alih kode dapat terjadi karena kamampuan berbahasa. Jika alih kode terjadi
karena penutur telah terbiasa menggunakan dua bahasa atau lebih yang disebut dengan
istilah bilingualisme demi kemudahan belaka maka gejala ini bersumber dari kemampuan
berkomunikasi, tetapi alih kode belum teratur digunakan penutur bahasa itu maka gejala
itu datang dari kemampuan berbahasa. Berdasarkan pendapat

(Chaer, 1995:143)

terjadinya alih kode disebabkan oleh:
1. Pembicara atau penutur.
2. Pendengar atau lawan tutur.
3. Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga.
4. Perubahan topik pembicaraan.
5. Perubahan dari formal ke informal.
Suatu konteks harus memenuhi delapan komponen yang diakronimkan sebagai
SPEAKING Hymes (dalam Chaer dan Leonie, 1995:62). Komponen tersebut adalah.
1. S (setting dan scene). Setting berkenaan dengan tempat dan waktu berlangsung,
scene adalah situasi tempat dan waktu.
2. P (paticipant). Pihak –pihak yang terlibat dalam tuturan.
3. E (end). Merujuk pada maksud dan tujuan tuturan.
4. A (atc sequence). Mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran.

Universitas Sumatera Utara

5. K (keys). Mengacu pada nada, cara, dan semangat dimana suatu pesan
disampaikan dengan senang hati, serius, mengejek, dan bergurau.
6. I (instrumentalis). Mengacu pada bahasa yang digunakan.
7. N (norm of interaction an interpretation). Mengacu pada tingkah laku yang
berkaitan dengan peristiwa tutur.
8. G (genre). Mengacu pada jenis penyampaian.
Dalam berbagai kepustakaan linguistik, secara umum penyebab terjadinya alih kode
adalah sebagai berikut:
1.Pembicara / Penutur
Seorang penutur kadang-kadang dengan sadar berusaha beralih kode terhadap
lawan tuturnya karena sesuatu hal. Misalnya apabila seorang bawahan menghadap
atasannya di kantor ( dalam situasi resmi), seharusnya mereka berbahasa Indonesia.
Namun kenyataannya tidaklah demikian. Apabila seorang atasan menggunakan bahasa
Indonesia, maka tampak dari bawahannya untuk sedapat mungkin beralih kode dengan
bahasa daerahnya. Usaha demikian dilakukan dengan maksud mengubah situasi, yaitu
situasi resmi ke situasi tidak resmi.
2.Penutur / Lawan tutur
Setiap penutur pada umumnya ingin mengimbangi bahasa yang dipergunakan
oleh lawan tuturnya. Di dalam masyarakat multilingual, seorang penutur akan beralih
kode sebanyak lawan tutur yang dihadapinya. Dalam hal ini lawan tutur dapat dibedakan
menjadi dua golongan yaitu:
1. Latar belakang kebahasaan yang sama dengan penuturnya.
Menghadapi lawan tutur golongan ini, alih kode mungkin berwujud alih
varian baik rasional maupun sosial, alih ragam, dan alih gaya.

Universitas Sumatera Utara

2. Latar belakang kebahasaan yang berlainan dengan penutur.
Menghadapi lawan tutur pada golongan ini, alih kode mungkin terjadi dari
bahasa daerah kebahasa daerah lain yang dikuasainya, dari bahasa daerah ke
bahasa nasional, atau mungkin pula dari keduanya ke bahasa asing tertentu.
3.Perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga
Dua orang yang berasal dari kelompok etnik yang sama, pada umumnya
berinteraksi dengan bahasa kelompok etniknya. Tetapi apabila hadir orang ketiga dalam
pembicaraan itu, yang berbeda latar belakang kebahasaannya, biasanya dua orang yang
pertama beralih kode kebahasa yang dikuasai dan sekaligus menghormati hadirnya orang
ketiga tersebut. Apabila tetap dipergunakannya bahasa kelompok etnik keduanya, padahal
mereka tahu bahwa orang ketiga tidak mengerti bahasa mereka, dianggap sebagai
perilaku yang kurang terpuji.
4.Perubahan Topik Pembicara
Salah satu faktor yang dominan yang menentukan terjadinya alih kode adalah
pokok pembicaraan atau topik pembicaraan. Dengan memahami pokok pembicaraan
dapat diketahui ragam bahasa yang akan dipilih seseorang dalam satu pembicara. Pada
dasarnya pokok pembicaraan dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu:
1. Pokok pembicaraan yang bersifat formal misalnya masalah kedinasan,
keilmuan, kependidikan dan sebagainya. Topik golongan ini biasanya
disampaikan dengan resmi secara serius.
2. Pokok pembicaraan yang bersifat nonformal misalnya masalah kekeluargaan,
persaudaraan dan sebagainya biasanya disampaikan dengan bahasa yang tidak
baku yaitu bahasa santai.

Universitas Sumatera Utara

5.Perubahan dari Formal ke Informal
Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode, sebagai contoh
perubahan situasi tersebut adalah: beberapa orang mahasiswa sedang duduk-duduk di
muka ruang kuliah sambil bercakap-cakap dalam bahasa santai. Tiba-tiba datang seorang
ibu dosen dan turut berbicara, maka kini para mahasiswa itu beralih kode dengan
menggunakan indonesia ragam formal.
Pada ilustrasi di atas kita lihat sebelum kuliah dimulai situasinya adalah tidak
formal tetapi begitu kuliah dimulai yang berarti situasi kebahasaan menjadi formal, maka
terjadilah peralihan kode.
Dalam Bahasa Indonesia juga membicarakan tentang jenis alih kode. Salah satu
jenis kode yang ada dalam suatu masyarakat tutur, khususnya masyarakat tutur bilingual
dan diglosik. Jenis yang dimaksud adalah sistem tingkat tutur atau yang sering pula
disebut sebagai sistem undha usuk. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa kode atau
varian bahasa dapat dibedakan menjadi tiga, yakni dialek, undha usuk, atau tingkat tutur,
dan ragam. Dialek dapat dibedakan berdasarkan geografi, sosial, usia, jenis kelamin,
aliran, dan suku. Undha usuk atau tingkat tutur dapat dibedakan menjadi tingkat tutur
hormat dan tingkat tutur tidak hormat, sedangkan ragam dapat dibedakan menjadi ragam
suasana, ragam komunikasi, dan ragam register. Hanya kode yang berupa sistem tingkat
tutur sajalah yang akan diterangkan.
1.Bentuk Tingkat Tutur
Di dalam sebuah bahasa terdapat cara-cara tertentu untuk menentukan perbedaan
sikap hubungan antara penutur dengan mitra tutur dalam bertutur. Sikap hubungan itu
biasanya bervariasi dan sangat ditentukan oleh anggapan tentang tingkatan sosial para
peserta tutur itu. Bentuk tingkat tutur itu secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua,

Universitas Sumatera Utara

yakni bentuk hormat dan bentuk biasa. Di dalam bahasa Jawa terdapat tingkat tutur
ngoko, tingkat tutur madya, dan tingkat tutur krama.
1. Tingkat Tutur Ngoko (Rendah)
Tingkat tutur ngoko memiliki makna rasa yang tak berjarak antara orang
pertama atau penutur dengan orang kedua atau mitra tutur. Dengan perkataan lain
hubungan antara keduanya tidak dibatasi oleh semacam rasa segan.
Contoh :
Latar belakang

: Teras rumah.

Para pembicara : Ibu rumah tangga. Inong dan Iteng orang yang
Mengerti bahasa Kualuh, Idah tidak mengerti

bahasa

Kualuh.
Topik

: Mati Lampu.

Latar belakang

: Perkampungan.

Peristiwa Tutur
Inong

: Tak marak- marak lampu ni jang.
(Tidak hidup-hidup lampunya).

Iteng

: Aba botul baya Inong. Tak marak-marak lampu.
(Betul Inong. Tidak hidup-hidup lampunya). Dari jam
berapa mati lampu Idah.

Idah

: Udah dari tadi pun.

Universitas Sumatera Utara

Dari peristiwa tutur di atas dapat kita lihat antara penutur dengan mitra tutur tidak
dibatasi oleh sama-sama rasa segan satu sama lain. Dari contoh di atas dapat di lihat
terjadinya alih kode karena buk Iteng beralih kode ke dalam bahasa Indonesia kepada
mitra tuturnya buk Idah.
2. Tingkat Tutur Krama (Tinggi)
Tingkat tutur krama adalah tingkat yang memancarkan arti penuh sopan –
santun antara sang penutur dengan mitra tutur, dengan kata lain tingkat tutur ini
menandakan adanya perasaan segan.

Contoh :
Latar belakang

: Teras rumah.

Para pembicara : Ibu rumah tangga. Nanik dan Jimah orang yang
Mengerti bahasa Kualuh, Nalem orang yang tidak
Mengerti bahasa Kualuh.
Topik

: Minjam Kreta.

Latar belakang

: Perkampungan.

Peristiwa Tutur
Nanik

: Jimah, boleh tidak yo maminjam kareta buk enon,
Sogan aku baya.
(Jimah, boleh tidak ya pinjam kereta ibuk itu,segan
Aku minjamnya).

Universitas Sumatera Utara

Jimah

: Boleh baya, pala sogan kau maminjamnyo, dikasi
nyo itu).
(Boleh, kenapa segan kau di kasih nya itu). Segan
Nanik Bik mau pinjam kereta buk Enon.

Nalem

: Ya ampun, dikasihnya itu baik kok ibuk itu.

Dari peristiwa tutur di atas dapat kita lihat bahwa antara penutur adanya perasaan
segan dengan mitra tuturnya. Dari contoh di atas terlihat bahwa alih kode terjadi karena
kak Jimah beralih kode ke dalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya bik Nalem tidak
mengerti bahasa Kualuh.
3. Tingkat Tutur Madya (Sedang)
Tingkat tutur madya adalah tingkat tutur menengah yang berada diantara
tingkat tutur krama dan tingkat tutur ngoko. Tingkat tutur madya ini menunjukkan
perasaan sopan tetapi tingkatnya tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah,
dengan kata lain kadar kesopanan yang ada dalam tingkat tutur ini adalah kadar yang
sedang-sedang saja.
Contoh :
Latar belakang

: Teras rumah.

Para pembicara : Ibu rumah tangga. Ulam dan Eti orang yang
mengerti

Bahasa Kualuh, Nalem orang yang

tidak

mengerti Bahasa Kualuh.
Topik

: Mau ke kedai.

Universitas Sumatera Utara

Latar belakang

: Perkampungan.

Peristiwa Tutur
Ulam

: Ondak kamano kau jang Eti.
(Mau kemana kau Eti).

Eti

: Wak, kawani dulu aku ka sanan moh.
(Wak, kawani aku dulu ke sana).

Ulam

: Ondak kamano rupo nyo.
(Mau ke mana rupanya).

Eti

: Ondak ka kode baya.
(Mau ke kedai). Moh bik ikut ke kedai.

Nalem

: Malas lah, bibik mau masak.

Dari peristiwa tutur di atas dapat kita lihat di antara penutur dengan mitra tutur
terdapat rasa hormat dan sopan yang tidak terlalu tinggi, tetapi biasa-biasa saja. Dari
contoh di atas dapat di lihat alih kode terjadi karena kak Eti beralih kode ke dalam bahasa
Indonesia pada mitra tuturnya buk Nalem.

Universitas Sumatera Utara

2.2 Landasan Teori
2.2.1 Sosiolinguistik
Kata sosiolinguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik.
Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat
dan mengenai lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada didalam masyarakat (Chaer
dan Agustina, 1995:3). Linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil
bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan bidang ilmu
antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat.
Sosiolingustik memendang bahasa sebagai sistem sosial dan sistim komunikasi serta
merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksud
dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi yang terjadi dalam
situasi kongkret (Appel dalam Suwito, 1982:2). dengan demikian, dalam sosiolinguistik,
bahasa tidak dilihat secara internal, tetapi dilihat sebagai sarana interaksi atau komunikasi
didalam masyarakat.
Didalam masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah,
tetapi sebagai anggota dari kelompok sosial. Oleh karena itu,bahasa dan pemakaiannya
tidak diamati secara individual,tetapi dihubungkan dengan kegiatannya didalam
masyarakat atau dipandang secara sosial. Dipandang secara sosial, bahasa dan
pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor linguistik dan faktor nonlinguistik.
Faktor linguistik yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri atas fonologi,
morfologi, sintaksis, dan semantik. Disamping itu, faktor nonlinguistik yang
memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari status sosial, tingkat pendidikan,
umur, jenis kelamin,dan lain-lain, sedangkan faktor situasional yang memengaruhi bahasa
dan pemakaiannya terdiri dari siapa yang berbicara,dengan bahasa apa, kepada siapa,di
mana,dan masalah apa (Fishman dalam Suwito,1982:3).

Universitas Sumatera Utara

2.2.2 Bilingualisme
Istilah bilingualisme ( Inggris:bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga
kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud
dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode
bahasa. Secara sosiolinguistik, secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan
dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian
(Mackey, 1962 :12, Fishman, 1975:72). Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya
seseorang harus menguasai kedua bahasa itu.
Samsuri (dalam Matondang, 1997:35) mengatakan bahwa kebiasaan untuk
memakai dua bahasa atau lebih secara bergiliran disebut kedwibahasaan. Samsuri
membedakan kedwibahasaan atas dua bagian yaitu kedwibahasaan sejajar dan
kedwibahasaan bawahan. Apabila penguasaan seseorang terhadap dua bahasa sama, dan
dapat menggunakan kedua bahasa itu secara bergiliran tanpa menyebabkan dislokasi yang
berarti atau kurang berarti secara struktural, walaupun ciri-ciri bahasa pertama kelihatan
di celah-celah ucapannya itu, kedwibahasaan ini disebut kedwibahasaan sejajar.
Kedwibahasaan bawahan yaitu apabila seorang penutur makin berat berstandar pada
bahasa pertama atau bahasa ibu. Dengan kata lain, ciri-ciri kedaerahannya yang lebih
menonjol.
Mackey (dalam Alwasilah, 1985:106) mengatakan bahwa kedwibahasaan atau
bilingualisme

itu

bukanlah

gejalah

bahasa,

tetepi

merupakan

karakteristik

penggunaannya. Lebih lanjut Mackey menjelaskan bahwa kalau bahasa milik kelompok,
maka bilingualisme adalah kekayaan perorangan. Pemakaian perorangan akan dua bahasa
berarti adanya dua masyarakat bahasa yang berbeda. Bilingualisme diartikan sebagai
pemakaian yang bergantian dari dua bahasa atau lebih. Seorang dwibahasawan
memperoleh atau mempelajari bahasa secara beruntun, dalam pengertian bahwa satu

Universitas Sumatera Utara

bahasa dikuasai sebelum bahasa lainnya. Urutan bahasa yang dikuasai ini satu sama lain
akan memiliki perbedaan, baik secara penguasa maupun dalam penggunaannya. Dari
beberapa pendapat di atas,
maka dapat disimpulkan bahwa bilingualisme adalah kemampuan penutur dalam
memahami, mengerti, atau menggunakan dua bahasa.
2.3 Beberapa Contoh Alih Kode Antara Bahasa Kualuh Hilir dan Bahasa
Indonesia.
Setelah dibicarakan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa alih
kode antara bahasa Kualuh dan bahasa Indonesia di Kecamatan Kualuh Hilir, ada baiknya
dibicarakan pula beberapa contoh pembicaraan yang mereka lakukan yang mengandung
peristiwa alih kode antarbahasa dari kedua bahasa tersebut antara lain:
Contoh: 1
Alih kode yang terjadi adalah dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam bahasa
Indonesia.
Latar belakang

: Emperan teras rumah

Para pembicara

: Ibu rumah tangga.Wak Nurlam dan Bu idah orang yang
menggerti Bahasa kualuh, Bik Nalem asli orang jawa.

Topik

: Membicarakan kenapa aku pulang kampung.

Sebab alih kode : Kehadiran bik Nalem dalam peristiwa tutur.
Latar belakang

: Sebuah perkampungan

Universitas Sumatera Utara

Peristiwa Tutur
Wak Nurlam

: Bilo kau sampek Tika.
(kapan kau sampai Tika)

Bu Idah

: Kok kau lah Tika balek-balek sajo lah korjo kau yo.
(pulang-pulang saja lah kerja mu Tika). Iya kan bik pulang
aja Si Tika ini.

Bik Nalem

: Ya, biar orang dia rindu sama ibunya.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa alih kode terjadi kerena hadirnya orang
ketiga. Alih kode tersebut terjadi dari bahasa kualuh hilir ke dalam bahasa Indonesia.Bu
Idah beralih kode ke dalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya Bik Nalem (orang
jawa) tidak mengerti bahasa Kualuh.
Contoh: 2
Alih kode yang terjadi adalah dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam bahasa
Indonesia.
Latar belakang

: Perkampungan.

Para pembicara : Ibu rumah tangga. Wak Nurlam, Kak Jimah, Bik Nalem.
Topik

: Membicarakan hasil panen padi.

Sebab alih kode : Kehadiran Bik Nalem dalam peristiwa tutur.

Universitas Sumatera Utara

Peristiwa Tutur
Wak Nurlam

: Tak elok padi si Poniran kan.
(Tidak bagus padinya poniran)

Kak Jimah

:Iyo, baya yang jolekan padinyo.
(Iya, jelek padinya).Kurang baguskan Bik padinya.

Bik Nalem

:Iya, gak ada yang bagus padi tahun ini.
(Iya, tidak ada padi yang bagus tahun ini)

Dari contoh tersebut terlihat bahwa alih kode terjadi karena hadirnya orang
ketiga. Alih kode tersebut terjadi dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam bahasa
Indonesia.Kak Jimah beralih kode ke dalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya Bik
Nalem (orang jawa) tidak mengerti bahasa Kualuh.
Contoh: 3
Alih kode yang terjadi adalah dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam bahasa
Indonesia.
Latar belakang

: Depan rumah.

Para pembicara : Wak Nurlam, Kak Nanik, si Penjual.
Topik

: Proses jual beli.

Sebab alih kode

: Wak Nurlam beralih kode dari bahasa kualuh ke bahasa
Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

Peristiwa Tutur
Kak Nanik

: Ini lagak Wak Ulam.
(Ini cantik Wak Ulam)

Wak Nurlam

: Mano, ini berapa kak.
(Mana, ini berapa kak)

Penjual

: Tujuh puluh ribu.

Dari peristiwa tutur di atas dapat dilihat bahwa alih kode dapat terjadi melalui
proses jual beli. Wak Ulam beralih kode saat ingin menanyakan harga pakaian pada si
penjual.

Contoh : 4
Latar belakang

: Di depan rumah.

Para pembicara : Juriah, Inong, Iteng.
Topik

: Panasnya terik matahari.

Sebab alih kode : Datangnya Juriah yang beralih kode ke dalam bahasa
Indonesia.
Peristiwa Tutur
Inong

: Wis...panas bonar lah hari ni jang.
(Aduh, panas sekali hari ini)

Universitas Sumatera Utara

Iteng

: Iyo, baya yang panasan.
(Iya, kan panas)

Juriah

: Mau hujan kayaknya nanti malam ini.
(Mau hujan nanti malam)
Dari peristiwa tutur di atas dapat dilihat bahwa alih kode terjadi karena datangnya

Juriah yang beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.
Contoh : 5
Latar belakang

: Depan rumah.

Para pembicara : Nurainun, Kak Eti, Bik Nalem.
Topik

: Lihat hiburan.

Sebab alih kode : Bik Nalem beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.
Peristiwa Tutur
Ainun

: Tak nengok kibot kau Eti.
(Tidak melihat kibot kau Eti)

Kak Eti

: Tak ado kawan ku.
(Tidak ada teman ku)

Bik Nalem

: Itu lho ngajak si Tika.
(Itu lah ngajak si Tika)

Universitas Sumatera Utara

Dari peristiwa tutur di atas dapat dilihat alih kode terjadi karena Bik Nalem
beralih kode ke dalam bahasa Indonesia.
2.4 Tinjauan Pustaka
Ada sejumlah sumber yang relevan untuk dikaji dalam penelitian ini sebagai
berikut:
Mujiyanti (1995),dalam skripsinya “alih kode antara Bahasa Indonesia dan
Bahasa Jawa: Studi kasus di SMA Persiapan Stabat Tahun Ajaran 1992-1993”. Dia
menyimpulkan bahwa alih kode yang terjadi di SMA Persiapan Stabat sering terjadi
melihat kenyataan besarnya jumlah kedwibahasaan Indonesia-Jawa SMA Persiapan
Stabat mengakibatkan seringnya ditemui kegiatan alih kode antara bahasa Indonesia dan
bahasa Jawa di lingkungan sekolah. Mujiyanti juga menyimpulkan bahwa sebagai siswa
yang ada di sekolah tersebut menggunakan bahasa Jawa di lingkungan sekolahnya,
sehingga interferensi antarbahasa dari bahasa Jawa dan bahasa Indonesia sulit dihindari.
Erni J.Matondang (1997) dalam skripsinya yang berjudul “Bilingualisme pada
Masyarakat Cina di Kecamatan Medan Denai S” yang membicarakan tentang bagaimana
proses terjadinya bilingualsme pada masyarakat Cina di Kecamatan Medan Denai.
Menurut Matondang, karena adanya bilingualisme maka sering terjadi alih kode dan
campur kode dalam masyarakat Cina.
Risma Jojor Sinaga(1996) dalam skripsinya yang berjudul “Bilingualisme pada
Masyarakat Batak Toba “ yang membicarakan bagaimana proses terjadinya bilingualisme
pada masyarakat Batak Toba. Teori yang digunakan adalah teori struktural (melihat
bahasa dari strukturnya) dan sosiolingustik. Dari hasil penelitiannya, masyarakat Batak
Toba di Balige merupakan masyarakat bilingual, kerena di samping bahasa daerah yaitu
bahasa Batak Toba, masyarakat Balige juga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat
komunikasi. Masyarakat Batak Toba di Balige memperoleh bahasa kedua dari situasi

Universitas Sumatera Utara

formal yaitu proses belajar disekolah dan diajarkan secara informal di tengah-tengah
keluarga. Di Kecamatan Balige anak yang berusia 4-5 tahun juga diajari menggunakan
bahasa Indonesia di tengah-tengah keluarga, walaupun kosakata yang dimiliki anak-anak
tersebut, tidak jarang dalam berbicara sehari-hari yang terjadi alih kode, campur kode,
dan interferensi.

Penelitian ini menjelaskan jenis-jenis alih kode dan mengkaji beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya alih kode dalam masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan
Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Hasil penelitian alih kode sebelumnya
dapat menjadi informasi bagi peneliti saat ini dalam meneliti alih kode dalam masyarakat
Pasar Bilah IA, Kecamatan Kualuh Hilir,Kabupaten Labuhan Batu Utara.

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1 Lokasi Penelitian
Lokasi merupakan letak atau tempat ( Alwi,2003:680). Lokasi penelitian adalah
Desa Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penulis melakukan penelitian terhadap alih kode yang terjadi di lingkungan Desa
Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara terhitung
mulai bulan April sampai Mei 2011.
3.2 Sumber Data
Menurut KBBI (2007:1102) sumber data adalah asal, sedangkan data adalah
keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (KBBI, 2007:239). Jadi
sumber data adalah asal dari mana keterangan didapat yang kemudian dijadikan untuk
dasar kajian.
Data mempunyai sumber, ada asalnya. Dari sumber itu peneliti dapat
memperoleh data yang dimaksudkan dan yang diinginkan. Data yang terkumpul haruslah
data lingual yang sahih (valid) dan sekaligus terandal dan terpercaya (reliable), karena
dengan kesahihan dan keterandalan itu dimungkinkan dilakukan langkah awal analisis
yang diharapkan benar dan tepat (Sudaryanto, 33-34).

Universitas Sumatera Utara

Data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung. Dalam hal ini,
data didapatkan dari transkripsi penyimakan terhadap peristiwa tutur
tentang penyebab terjadinya alih kode bahasa dari bahasa daerah beralih
kode ke bahasa Indonesia yang terjadi pada masyarakat Pasar Bilah,
Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara, pada saat
berlangsungnya peristiwa tutur.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui
buku-buku bacaan referensi yang berhubungan dengan peristiwa tutur
dalam masyarakat Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara, dan
buku-buku tentang alih kode.
3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Metode adalah cara yang harus dilakukan dalam melakukan penelitian,
sedangkan teknik adalah cara melaksanakan metode (Sudaryanto, 1993:9).
Sebelum melakukan pengumpulan data terlebih dahulu dilakukan observasi. Hal
ini dilakukan untuk mengamati bagaimana alih kode penutur bahasa dalam masyarakat
Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara. Kemudian
untuk pengumpulan datanya dilakukan dengan metode simak yaitu metode yang
dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa (Sudaryanto, 1993:133). Kemudian
dilanjutkan dengan teknik rekam yaitu merekam semua bahasa yang dipakai dalam
masyarakat Pasar Bilah I A, Kecamatan Kualuh Hilir, Kabupaten Labuhan Batu Utara.
Setelah itu, dilanjutkan dengan teknik catat, yaitu mencatat data yang dikumpulkan dari
penerapan hasil teknik sebelumnya (Sudaryanto, 1993:33).

Universitas Sumatera Utara

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
Metode yang digunakan dalam analisis data ini adalah metode padan. Metode
padan adalah sebuah metode yang alat penentunya di luar, terlepas dan tidak menjadi
bagian dari bahasa yang bersangkutan (Sudaryanto, 1993:13). Dalam metode ini, objek
sasaran penelitian ini adalah identitasnya ditentukan berdasarkan tingginya kadar
kesepadanannya, keselarasannya, kesesuaiannya, kecocokannya, atau kesamaannya
dengan alat penuntut yang bersangkutan yang sekaligus menjadi standar atau
pembakunya.
Teknik dasar yang digunakan untuk menganalisis data tersebut adalah teknik
pilah unsur penentu yang memiliki suatu alat yaitu daya pilah yang bersifat mental yang
dimiliki oleh peneliti (Sudaryanto, 1993:21). Dalam pemilihan narasumber, menetapkan
kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi narasumber (Mahsun,1995:106) kriteria
yang dimaksud adalah:
1. Berjenis kelamin pria dan wanita.
2. berusia antara 20-60 tahun.
3. Berpendidikan maksimal tamat pendidikan dasar(SD,SLTP).
4.Memiliki kebanggaan terhadap bahasa pesisir Kualuh Hilir
5. Penutur asli bahasa Kualuh Hilir.
6. Sudah lama menetap di desa Kualuh Hilir.
7. Sehat rohani dan jasmani.

Universitas Sumatera Utara

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Faktor – faktor Penyebab Terjadinya Alih Kode Bahasa Pesisir di Kecamatan
Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara
Bahasa pengantar yang dipergunakan di lembaga-lembaga pendidikan Negara
Indonesia adalah bahasa Indonesia. Sehubungan dengan itu, selama masyarakat Pasar
Bilah di Kecamatan Kualuh Hilir masih menggunakan bahasa Kualuh, maka kegiatan alih
kode

antra bahasa Kualuh Hilir

dengan bahasa Indonesia senantiasa akan terus

berlangsung.
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya alih kode pada
masyarakat di Kecamatan Kualuh Hilir,antara lain sebagai berikut:
4.1.1 Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga
Salah satu penyebab masyarakat Kualuh Hilir melakukan kegiatan alih kode
antara bahasa Indonesia dan bahasa Daerah adalah faktor kehadiran orang ketiga.
Misalnya dalam suatu peristiwa bicara antara dua orang dwibahasawan Indonesia –
Daerah, kemudian hadir orang ketiga yang tidak mengerti bahasa tersebut. Selanjutnya,
pembicaraan beralih kepada bahasa Indonesia agar orang ketiga itupun dapat ikut dalam
peristiwa bicara yang sedang berlangsung. Jika orang ketiga itu pergi, maka pembicaraan
biasanya beralih kembali kepada bahasa daerah atau bahasa Kualuh Hilir.
Setelah dijelaskan faktor perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga. Ada
baiknya dibicarakan pula beberapa contoh pembicaraan yang mereka lakukan yang
mengandung peristiwa alih kode pada bahasa pesisir di Kecamatan Kualuh Hilir antara
lain:

Universitas Sumatera Utara

a. Peristiwa Bicara I
Latar Belakang : Halaman Rumah
Para Pembicara : Riski, Jefri orang yang dapat berbasa Kualuh Hilir,
Sedangkan Edo orang yang tidak dapat berbahasa
Kualuh Hilir.
Topik

: “Pertandingan Bola Kaki”

Sebab Alih Kode

: Hadirnya Edo dalam peristiwa bicara.

Peristiwa Tutur
Riski

: “Katonyo besok kito ondak tanding bola kaki yo,
Samo orang si Jimmi”.
(“Katanya besok kita mau bertanding bola kaki
Sama orang si Jimmi ya”).

Jefri

:” Siapo yang mambilang samo kau”.
(“Siapa yang bilang sama mu”).

Riski

: “Si Jimmi. Ia kan Edo, si Jimmi yang bilang kalau
besok tanding bola kaki”.

Edo

: “Ia, aku juga dengar si Jimmi bilang gitu”.

Dari percakapan di atas dapa dilihat bahwa alih kode yang terjadi disebabkan
hadirnya orang ketiga, alih kode tersebut terjadi dari bahasa Kualuh Hilir ke dalam

Universitas Sumatera Utara

bahasa Indonesia, si Riski beralih kode kedalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya
si Edo kurang mengerti bahasa Kualuh Hilir.
b. Peristiwa Bicara II
Latar Belakang : Halaman Rumah
Para Pembicara

: Erni, Peneliti orang yang dapat berbahasa kualuh
hilir sedangkan Lena orang yang kurang mengerti
bahasa kualuh hilir.

Topik

: Menghadiri undangan pernikahan.

Sebab Alih Kode

: Hadirnya si Lena dalam peristiwa bicara

Peristiwa Tutur
Erni

: “Pogi nanti ibuk tu undangan tika, kok pogi
bilangkan samo ibuk tu, jam barapo poginyo yo”.
(“Pergi nanti ibu itu undangan, kalau pergi bilang
sama ibu itu jam berapa perginya”).

Peneliti

: “ Pogi kuraso, tapi tak tau bolum jam barapo
poginyo, karanglah ku bilangkan yo”. Buk Lena
gak pigi buk.
(“Pergi kurasa, tapi belum tau jam berapa, nanti
lah ku kasih tau ya”).Buk Lena gak pergi buk.

Lena

: “Belum tau ibuk, ntah pigi ntah tidak.

Universitas Sumatera Utara

Dari percakapan di atas dapat dilihat alih kode terjadi karena hadirnya orang
ketiga, alih kode yang terjadi dari bahasa kualuh hilir ke dalam bahasa Indonesia , si
peneliti beralih kode kedalam bahasa Indonesia karena mitra tuturnya kurang mengerti
bahasa Kualuh.
c. Peristiwa Bicara III
Latar Belakang : Teras Rumah
Para Pembicara : Nurlam, Nanik orang yang mengerti bahasa kualuh
hilir sedangkan Idah orang yang kurang mengerti
bahasa kualuh hilir.
Topik

: Membicarakan Sunatan.

Sebab Alih Kode

: Kehadiran si Idah dalam peristiwa bicara.

Peristiwa Tutur
Nurlam

: “Nik, pabilo kau sunatkan anak kau ni baya”.
(“Nik, kapan kau sunatkan anak mu”).

Nanik

: “Bolum lagi bagini hari wak, nantinyo lamo lagi”.
Kapannya Idah sunatnya itu.
(“Belum sekarang wak, nantinya, masih lama
lagi”). Kapannya Idah sunatnya itu.

I

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Alih Kode Penutur Bahasa Pesisir Di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhan Batu Utara