PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DAN THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai T.P. 2014/2015)

(1)

ABSTRAK

PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DAN THINK PAIR SHARE

DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

(Studi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai T.P. 2014/2015)

Oleh

ASIH PURWANINGSIH

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan model pembelajaran kooperatif tipe numbered heads together dan think pair share ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Terusan Nunyai semester genap tahun pelajaran 2014/2015 yang terdistribusi dalam empat kelas. Dengan teknik purposive sampling terpilih kelas XI MIA 1 dan XI MIA 2 sebagai sampel penelitian. Pembelajaran dilakukan secara silang, yaitu kedua kelas eksperimen mendapat perlakuan NHT dan TPS. Desain dari penelitiaan ini adalah posttest only control group design. Hasil dari analisis hasil posttest yang merupakan tes pemahaman konsep disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe TPS di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Terusan Nunyai.

Kata Kunci: Numbered Heads Together, Think Pair Share, Pemahaman Konsep Katematis.


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. ManfaatPenelitian ... 5

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Kooperatif... ... 7

B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together ... 9

C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share ... 11

D. Pemahaman Konsep Matematis ... 14

E. Kerangka Pikir... ... 16

F. Anggapan Dasar ... 17

G. Hipotesis... ... 18

III. METODE PENELITIAN A.Populasi dan Sampel ... 19

B.Desain Penelitian ... 20

C. ProsedurPenelitian ... 21

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data a. Data Penelitian ... 22

b. Instrumen Penelitian... 22

1. Validitas ... 23

2. Relibilita ... 24

3. Tingkat Kesukaran ... 25

4. Daya Pembeda ... 26

F. Analisis Data danTeknik Pengujian Hipotesis 1. Uji Normalitas ... 28


(7)

vii

3. Pencapaian Indikator ... 31

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Analisis Kemampuan Awal Matematis Siswa... 32

2. Data Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis... 32

3. Uji Hipotesis ... 32

4. Pencapaian Indikator Pemahaman KonsepMatematis ... 33

B. Pembahasan ... 35

V. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 38

B. Saran ... 38 DAFTAR PUSTAKA


(8)

v DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

A.Perangkat Pembelajaran

A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas NHT ... 44

A.2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) kelas TPS ... 129

A.3 Lembar Kerja Kelompok (LKK) kelas NHT ... 212

A.4 Lembar Kerja Kelompok (LKK) kelas TPS ... 225

B.Instrumen Tes B.1 Kisi-Kisi Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 237

B.2 Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 239

B.3 Kunci Jawaban Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis .... 242

B.4 Pedoman Penskoran Tes Pemahaman Konsep ... 248

B.5 Form Validasi TesPemahaman Konsep ... 249

C.Analisis Data C.1 Analisis Reliabilitas Tes Uji Coba ... 251

C.2 Analisis Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Tes ... 253

C.3 Data Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Kelas NHT dan TPS ... 254

C.4 Analisis Statistik Deskriptif Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Kelas NHT dan Kelas TPS ... 258

C.5 Uji Normalitas Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Kelas NHT ... 259

C.6 Uji Normalitas Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Kelas TPS ... 260

C.7 Uji Non Parametrik Data Kemampuan Awal Matematis Antara Kelas NHT dan Kelas TPS ... 261

C.8 Pencapaian Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa KelasNHT dan Kelas TPS ... 263 D.Lain-Lain


(9)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucap Alhamdulillah atas segala nikmat Allah SWT, kupersembahkan

karya ini sebagai tanda bakti dan cinta kasihku kepada:

Ibu (Sofiatun) dan Bapak (Endang S) tercinta yang senantiasa ada bersamaku

untuk mencintai, membesarkan dengan sebuah kebanggaan, merawat, mendidik, dan

memelukku dengan kehangatan dan do’a di setiap waktu tanpa lelah dan penuh keikhlasan.

Kakak-kakakku (Arif Murdani, Sri Hidayati, Neni) dan juga adik-adikku

(Asni Septiani, Danang Adi Saputra)

tercinta yang senantiasa memberikan do’a,

perhatian, kasih sayang, pertolongan, dan juga pertikaian yang senantiasa ku rindukan.

Para pendidik yang telah mendidik, membina, dan memberikan ilmu dengan tulus dan

sabar.

Keluarga besar Abdurrahman dan Keluarga Besar Endin Suparman yang

menyayangiku dan selalu mendukungku.

Saudaraku (Eko Andrianto), Abangku (Hertu Agus Triadi), adik angkatku

(Yetti Komala Sari), teman baikku (Intan Permata Sari) dan

Sahabat-sahabat yang selalu memberikan ku dukungan.

Almamater tercinta.


(10)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kabupaten Lampung Tengah Kecamatan Terusan Nunyai tepatnya di Desa Bandar Agung pada tanggal 18 Maret 1992. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan Bapak Endang S dan Ibu Sofiatun.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 3 Bandar Agung pada tahun 2004, pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Terusan Nunyai pada tahun 2007, dan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 1 Terusan Nunyai pada tahun 2010. Penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Lampung pada tahun 2010 melalui jalur Tes SNMPTN dengan mengambil program studi Pendidikan Matematika.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi (KKN-KT) pada tahun 2013 di Desa Daya Asri, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat sekaligus melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA PGRI Tumijajar.


(11)

Moto

“Manjadda wa jadda”

(Pepatah Arab)

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki

sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya „Jadilah!‟

Maka jadilah sesuatu itu.”

(QS. Yaasiin: 82)

““Selalu Bersyukur”


(12)

viii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Distribusi Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai ... 19

Tabel 3.2 Waktu Pelaksanaan Posttest Pada Kelas Eksperimen... 21

Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemahaman Konsep ... 23

Tabel 3.4 Interpretasi KoefisienReliabilitas ... 24

Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran ... 25

Tabel 3.6 Hasil Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran ... 26

Tabel 3.7 Interpretasi Nilai Daya Pembeda ... 26

Tabel 3.8 Hasil Interpretasi Nilai Daya Pembeda ... 27

Tabel 3.9 Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba ... 28

Tabel 3.10 Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 30

Tabel 4.1 Data Nilai Akhir Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 32

Tabel 4.2 Hasil Uji Mann-WhitneyNilai Akhir Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 33

Tabel 4.3 Data Pencapaian Indikator Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis ... 35


(13)

SANWACANA

Alhamdulillahi Robbil „Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

me-limpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesai-kan penyusunan skripsi. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi besar kita Muhammad SAW.

Skripsi yang berjudul “Perbandingan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together dan Think Pair Share Ditinjau Dari Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa (Studi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai T.P. 2014/2015)” penulis susun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung,

beserta Wakil Dekan dan stafnya.

2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.

3. Bapak Dr. Haninda Bharata, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Matematika.


(14)

iii 4. Bapak Dr. Budi Koestoro, M.Pd., selaku dosen pembimbing akademik yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan memberikan bantuan, sehingga penulis dapat menyelesaikan study di Pendidikan Matematika UNILA.

5. Bapak Drs. M. Coesamin, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk konsultasi, bimbingan, dan ilmu kepada penulis sehingga skripsi ini selesai.

6. Bapak Drs. Pentatito Gunowibowo, M.Pd., selaku dosen pembimbing II yang telah meluangkan waktu untuk bimbingan, memberikan motivasi, menyumbangkan banyak ilmu, dan memberikan semangat kepada penulis sehingga skripsi ini selesai.

7. Ibu Dra. Rini Asnawati, M.Pd., selaku pembahas yang telah memberikan masukan, kritik, dan saran kepada penulis sehingga skripsi ini selesai dan menjadi lebih baik.

8. Ibu dan bapakku tercinta serta kakak dan adik-adikku tercinta yang selalu mendo‟akan, memberikan motivasi, dan perhatian tanpa lelah.

9. Dosen yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.

10.Bapak Drs. Andreas Sinaga, MM., selaku Kepala SMPN 1 Terusan Nunyai, Lampung Tengah beserta guru-guru matematika dan staff yang telah memberikan ijin penelitian dan kemudahan dalam penelitian di SMPN 1 Terusan Nunyai, Lampung Tengah.

11.Ibu Eni Lusiawati, M.Pd., selaku guru mitra yang telah banyak memberikan arahan dan masukan selama penelitian.


(15)

iv 12.Keluarga Bapak Atang Suwita dan Ibu Sudarmiyti di Tumijajar yang telah

memberikan kasih sayang seperti orang tua kandungku sendiri.

13.Sahabat-sahabatku di Asrama Perdana Tahun 2015: Yetti Komala Sari, Susi Susanti, Mardyah, Kak Hendro, Rodyanti, Heben, Mb Mia, Kak Adit, Hana, Indah, Nia, Dwi, Munthe, dan Cintya, terimakasih atas doa, motivasi, semangat, perhatian, dan kebersamaan yang kalian berikan.

14.Sahabat-sahabat SMA-ku: Dhonal Nakula, Chandara Susianti, Tyas Widyaningrum, Engla(uni), Ayuning, Riri, Riris, Silvi (ike), Silvi (siwul), dan yang lainya, yang memberikan doa, motivasi, semangat, perhatian, dan kebersamaan.

15.Sahabat-sahabatku di Pendidikan Matematika angkatan 2010 A: Aan, Andri, Arif, Dilla, Hesti, Sulis, Tri H., Valenti, Wira, Alji, Utari, Beni, Cita, Dian, Ebta, Endang, Fertil, Iga, Intan, Kismon, Novi, Novrian, Nurul H., Rusdi, Ria AA, Tripau, Yulisa, Aulia, Dhea, Lia, Josua, Nurul Rohmah, dan Rianita, serta sahabat-sahabatku di Pendidikan Matematika angkatan 2010 B atas motivasi, persahabatan, dan kebersamaanya selama ini.

16.Kakak-kakak tingkatku angkatan 2009dan 2008, terutama kepada: Mba Lia Putri, Mba Risa Safera, Kak Pebrian Umpu, Mba Vera, Mba Vindi, Mba Linda, Mba Amel, Kak Yose, dan Kak Adi Suripto atas pengalaman dan informasi serta motivasinya, selama perkuliahan dan penulisan skripsi ini. 17.Sahabat-sahabat KKN-ku di Tumijajar: Eko, Ani, Desti, Shirta EL, Indah,


(16)

v 18.Siswa-siswi SMA PGRI di Tumijajar tahun 2013/2014 dan siswa-siswi kelas XI Mia SMAN 1 Terusan Nunyai tahun pelajaran 2014/2015 atas kerjasamanya.

19.Almamater tercinta yang telah mendewasakanku.

20.Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga dengan kebaikan, bantuan, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala dari Allah SWT dan semoga skripsi ini ber-manfaat. Aamiin ya Rabbal „Alamin.

Bandar Lampung, Februari 2015 Penulis,


(17)

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan proses pemberian bekal bagi manusia untuk hidup ber-masyarakat, karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia dituntut untuk dapat menerima segala kemungkinan perubahan yang terjadi, baik secara lokal maupun global. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan Tim Dosen Unila (2007:16), yaitu pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan hidup masa mendatang, tetapi juga untuk menghadapi gelombang globalisasi. Pada masa sekarang ini, pendidikan dituntut untuk memberi bekal, sehingga peserta didik mampu menghadapi suatu masyarakat mega kompetisi. Masyarakat mega kom-petisi menuntut manusia untuk terus berubah, tahan banting, siap mengejar kualitas dan keunggulan.

Demi mewujudkan harapan tersebut, pada pendidikan formal dipelajari berbagai bidang ilmu, salah satunya adalah matematika. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Satuan Pendidikan pasal 1 ayat 1, disebutkan bahwa salah satu di antara mata pelajaran pokok yang dipelajari siswa adalah mata pelajaran matematika. Dalam standar kompetensi bahan kajian matematika sekolah (Kemendikbud, 2011) dikemukakan bahwa ke-cakapan atau kemahiran yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika


(18)

2 Sekolah Dasar (SD) sampai dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), salah satu-nya adalah kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika.

Dewasa ini pembelajaran disekolah memiliki berbagai persoalan. Salah satu persoalan itu, dikemukakan dalam hasil studi Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2011 yang menunjukkan skor rata-rata prestasi siswa Indonesia di bidang matematika yaitu 406, sedangkan standar rata-rata internasional adalah 500 (Martin, 2012:40). Hal ini berarti kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep matematika masih rendah. Rendahnya ke-mampuan tersebut mengindikasikan bahwa keke-mampuan siswa Indonesia dalam matematika pada tingkat internasional memprihatinkan. Salah satu faktor pe-nyebab rendahnya prestasi siswa di Indonesia yaitu pembelajaran matematika di sekolah masih bersifat prosedural dan siswa belum terbiasa mengerjakan soal-soal matematika non rutin. Sedangkan, soal-soal yang digunakan dalam survey TIMSS adalah soal-soal yang mengukur kemampuan siswa dalam menguasai konsep-konsep matematika. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa di Indonesia berada pada tahap mengetahui konsep dan belum berada pada tahap memahami konsep matematika.

Kemendikbud (2013:42) menyatakan bahwa konsep umum Kurikulum 2013 antara lain: 1) mengacu pada kompetensi inti yang telah dirumuskan untuk kelas dimana buku tersebut ditulis, 2) menjelaskan pengetahuan sebagai input kepada siswa untuk menghasilkan output berupa keterampilan siswa dan bermuara pada pembentukan sikap siswa sebagai outcome pembelajaran, 2) menggunakan pen-dekatan saintifik melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan menyaji,


(19)

3 3) menggiring siswa untuk menemukan konsep yang sedang dipelajari melalui deduksi. Siswa sebisa mungkin diajak untuk mencari tahu, bukan langsung diberi tahu. Dari konsep-konsep Kurikulum 2013 terlihat bahwa pada proses pem-belajaran guru hanya berperan sebagai fasilitator untuk siswa dan siswa yang ber-peran aktif dalam pembelajaran, dengan kata lain didalam pembelajaran kurikulum 2013 juga mengacu pada student centered learning yang menuntut ada-nya model pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum sehingga tujuan dari kurikulum dapat tercapai. Santoso(2011:1) menyatakan bahwa pembelajaran yang berpust pada siswa atau student centered learning dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode seperti cooperative learning (CL), collaborative learning (CBL), dan Problem based learning an Inquiry (PBL).

Fatirul (2008:54) menyatakan bahwa dalam model pembelajaran Cooperative learning ada beberapa macam stuktur yang dikembangkan untuk mengecek pe-mahaman siswa terhadap isi/materi tertentu, diantaranya yaitu Think Pair Share(TPS) dantipe Numbered Heads Togerher(NHT).

NHT dan TPS dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi, karena keduanya menuntut siswa bertanggung jawab secara individu dan kelompok. Namun dalam pelaksanaanya NHT dan TPS merupakandua tipe yang berbeda. Pada pembelajar-an NHT, proses pembelajarpembelajar-an diawali dengpembelajar-an kerja kelompok dpembelajar-an diakhiri dengpembelajar-an tanggung jawab perindividu, sedangkan proses pembelajaran pada TPS diawali dengan kegiatan indvidu dan diakhiri dengan kegiatan kelompok. NHT dan TPS juga memiliki kelemahan, yang masing-masing berbeda. Oleh sebab itu jika NHT dan TPS diterapkan berkemungkinan menghasilkan hasil yang berbeda.


(20)

4 Berdasasakan uraian diatas, maka dalam penelitian ini peneliti membandingkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa di SMA Negeri 1 Terusan Nunyai yang mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan kelas yang memiliki siswa berkemampuan matematis yang heterogen.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakan ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatife tipe NHT dan TPS?

2. Manakah yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan tipe TPS, ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Terusan Nunyai tahun pelajaran 2014/2015.


(21)

5 D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi dalam pendidikan matematika berkaitan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS serta hubungannya dengan pemahaman konsep matematis siswa.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi kepala sekolah sebagai masukan dalam upaya pembinaan para guru guna meningkatkan kualitas pem-belajaran matematika, bagiguru dan calon guru hasil penelitian ini dapat di-gunakan sebagai bahan sumbangan pemikiran tentang model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan tipe TPS sehubungan dengan pemahaman konsep matematis siswa, dan bagi peneliti lainnya dapat menjadi sarana bagi pengembangan diri, menambah wawasan baru, dan pengetahuan terkait dengan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan tipe TPS.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini antara lain:

1. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah tipe pembelajaran grup yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara individu pada tahap awal pembelajaran (Think), kemudian dilanjutkan dengan diskusi ber-pasangan (Pair), dan terakhir mempresentasikan hasil dari diskusi yang telah dilakukan secara berkelompok(Share).


(22)

6 2. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah tipe pembelajaran group yang memberikan waktu lebih banyak untuk bekerja secara kelompok (Together). Pada tahapan awal pembelajaran ini siswa berdiskusi secara kelompok(Head Together), kemudian guru memberikan penomoran kepada setiap siswanya, untuk kemudian dikocok(Numbered), dan siswa yang nama-nya keluar dari hasil kocokan akan mempresentasikan hasil diskusi ke-lompoknya secara mandiri.

3. Pemahaman Konsep Matematis siswa adalah kemampuan siswa untuk me-mahami suatu materi yang dipelajari sesuai dengan indikator pemahaman konsep.


(23)

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran dapat dimaknai sebagai landasan dasar untuk membentuk atau mendisain program pembelajaran didalam kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Ngalimun (2013:27) yang menyatakan bahwa:

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk didalamnya buku-buku, media (film-film), tipe-tipe, program-program media komputer, dan kurikulum.

Daryanto (2012:241) menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif meng-utamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk mencapai tujuan pembelajaran, semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Berdasarkan uraian di atas dapat simpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana terstruktur yang di-gunakan agar kegiatan belajar mengajar di kelas dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai keseluruhan tujuan pembelajaran.

Setiap model pembelajaran mengarahkan kita untuk merencanakan pembelajaran yang dapat membantu siswa memahami setiap pokok bahasan di kelas. Ngalimun (2013:30) mengungkapkan bahwa dalam suatu pembelajaran suatu materi tertentu, tidak ada satu model pembelajaran yang lebih baik dari model pembelajaran


(24)

lain-8 nya. Pemilihan model pembelajaran yang tepat harus disesuaikan dengan pokok bahasan dan kemampuan siswa agar hasil belajarnya meningkat.Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran seorang pendidik harus mempertimbangkan materi pelajaran, alokasi waktu, tingkat perkembangan kognitif siswa, suasana belajar, dan media yang dibutuhkan.

Daryanto (2012:241) menyatakan bahwa dengan pemilihan model pembelajaran yang tepat diharapkan terjadinya perubahan dari mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) ke arah berfikir (thinking) dan pemahaman (understanding), dari model ceramah ke pendekatan discovery learning atau inquiry learning, dari belajar individual ke kooperatif, serta dari subject centered ke clearer centered atau terkonstruksinya pengetahuan siswa. Kemendikbud (2011) dalam standar kompetensi bahan kajian matematika sekolah mengemuka-kan bahwa kecakapan atau kemahiran yang diharapmengemuka-kan dapat tercapai dalam belajar matematika SD sampai dengan SMA, salah satunya adalah kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika.

Model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang melibatkan ke-lompok-kelompok heterogen, sehingga dalam satu kelompok terdapat siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Faitul (2011:36) menyatakan bahwa model pembelajaran koopeatif terbagi kedalam beberapa tipe, diataranya yaitu Numbered Head Togerhet (NHT) dan Think Pair Share (TPS).

NHT dan TPS memiliki karakteristik yang sama. Keduanya dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa (Iru dan Arihi, 2012:59 dan Zainal, 2013:24). Selain memiliki kesamaan NHT dan TPS juga memiliki perbedaan.


(25)

9

Gambar 1

Sketasa pada Gambar 1 menjelaskan bahwa pada pembelajaran NHT diawali dengan kegiatan kelompok, dan diakhiri dengan kegiatan individu, sedangkan pada TPS berlaku sebaliknya.

B. Model Pembelajaran Kooperatif tipe Numbered Head Together

Iru dan Arihi (2012:59) mengemukakan bahwa NHT merupakan jenis pembelajar-an kooperatif ypembelajar-ang dirpembelajar-ancpembelajar-ang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dpembelajar-an me-miliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. NHT pertama kali di-kembangkan oleh Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam me-nelaah materi dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran. Lebih lanjut Slavin (2005:255) mengemukakan bahwa NHT pada dasarnya adalah sebuah varian dari Group Discussion, hanya saja pada NHT hanya ada satu siswa yang mewakili kelompoknya tetapi sebelumnya tidak diberi tahu siapa yang akan menjadi wakil kelompok tersebut, sehingga semua siswa akan terlibat total dalam diskusi. Menurut Hanafiah dan Suhana (2009:42) mengungkapkan bahwa langkah -langkah yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu:

NHT TPS

Keterangan : Individu


(26)

10 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok

mendapat nomor

2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan setiap

anggota kelompok dapat mengerjakannya atau mengetahui jawabannya 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan dengan nomor yang

dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka

5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain

6. Kesimpulan.

Sedangkan menurut Iru dan Arihi (2012:59) dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks Numbered Heads Together.

1. Fase 1 : Penomoran

Dalam fase ini guru membagi siswa kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 orang dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1-5. 2. Fase 2 : Mengajukan pertanyaan

Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi dan pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. 3. Fase 3 : Berfikir bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru dan meyakinkan kepada setiap anggota dalam timnya mengetahui jawabannya.

4. Fase 4 : Menjawab

Pada fase menjawab ini guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan siswa mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Model pembelajaran kooperatif tipe NHT memiliki beberapa tujuan, kelebihan, dan juga kelemahan. Tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran tipe NHT sebagaimana diungkapkan oleh Ibrahim(Trianto, 2007:44) mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu: 1) hasil belajar akademik stuktural bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, 2) pengakuan adanya keragaman bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar


(27)

11 belakang,3) pengembangan keterampilan sosial. Kelebihan NHT diungkapkan oleh Kartikasasmi (2012:125) bahwa penerapan NHT dalam pembelajaran dapat meningkatkan kreativitas siswa, membuat siswa aktif dalam menyampaikan ide atau pendapat, melibatkan seluruh siswa dalam usaha menyelesaikan tugas, serta meningkatkan tanggung jawab individu terhadap kelompoknya. Selanjutnya, Iru dan Arihi (2012:59) mengungkapkan kelebihan pembelajaran kooperatif tipe NHT antara lain:

1. situasi belajar lebih aktif, hidup, bersemangat, dan berdaya guna 2. merupakan latihan berfikir ilmiah dalam menghadapi masalah

3. menumbuhkan sifat obyektif, percaya diri sendiri, keberanian, serta tanggung jawab dalam menghadapi/mengatasi suatu permasalahan

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkat-kan penguasaan akademik dan meningkatmeningkat-kan rasa tanggung jawab individual siswa.

C. Model Pembelajaran Kooperatif tipeThink Pair Share (TPS)

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Pembelajaran kooperatif tipeTPS adalah salah satu jenis pembelajaran kooperatif yang cukup efektif untuk mengganti suasana pola diskusi di kelas. Hal ini karena model pembelajaran kooperatif tipe TPS relatif lebih sederhana dan tidak memerlukan waktu yang lama untuk mengatur tempat duduk atau mengelompokkan siswa. Huda (2011:132) mengungkapkan bahwa TPS merupakan metode yang sederhana, namun sangat bermanfaat. Metode ini, siswa diberi kesempatan lebih banyak


(28)

12 untuk berpikir, merespon, dan bekerja secara mandiri serta membantu teman lain secara positif untuk menyelesaikan tugas.

Beberapa kelebihan TPS adalah 1) meningkatkan pencurahan waktu pada tugas, 2) memperbaiki kehadiran, 3) angka putus sekolah berkurang, 4) sikap apatis ber-kurang, 5) penerimaan terhadap individu lebih besar, 6) hasil belajar lebih men-dalam, dan 7) meningkatkan kebaikan budi (Ibrahim, 2000:6). Sedangkan ke-lemahan TPS menurut Syamsu Basri (Riyanto, 2010:302) adalah 1) membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas, 2) membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas, 3) peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu, guru harus membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.

Zainal (2013:24) menyatakan bahwa TPS diperkenalkan oleh Frank Lyman pada tahun 1985 dan memiliki memiliki langkah-langkah pembelajaran seperti:

1. Guru menyampaikan inti materi dan komposisi yang ingin dicapai. 2. Siswa diminta berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan

guru.

3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikirannya masing-masing.

4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya.

5. Berawal dari kegiatan tersebut, mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan mahasiswa.

6. Guru member kesimpulan. 7. Penutup.

Lebih lanjut, Nurhadi, dkk (2003:66) mengungkapkan bahwa TPS memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih


(29)

13 banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends (Trianto, 2009:81) yang menyatakan bahwa langkah langkah dalam penerapan TPS yang pertama yaitu berfikir (thinking) yaitu guru mengaju-kan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitmengaju-kan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Selanjutnya berpasangan (pairing) yaitu guru meminta siswa ber-pasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang di-ajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diidenti-fikasi. Secara normal guru memberikan waktu tidak lebih dari empat atau lima menit untuk berpasangan. Kegiatan terakhir adalah berbagi (sharing) yaitu guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas yang telah mereka bicarakan. Hal ini efektif sampai sekitar sebagian pasangan mendapatkan kesempatan untuk melaporkan.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa TPS diawali dengan proses think (berfikir) yaitu siswa terlebih dahulu berfikir secara individu terhadap masalah yang disajikan oleh guru, kemudian dilanjutkan oleh tahap pair (ber-pasangan), yaitu siswa diminta untuk mendiskusikan dengan pasangan-pasangan-nya tentang apa yang telah dipikirkanpasangan-pasangan-nya secara individu dan kemudian diakhiri dengan share (berbagi). Setelah tercapai kesepakatan tentang pikirannya, maka salah satu pasangan membagikan kepada seluruh kelas apa yang menjadi ke-sepakatan dalam diskusinya kemudian dilanjutkan dengan pasangan lain hingga sebagian pasangan dapat melaporkan mengenai berbagai pengalaman atau penge-tahuan yang telah dimilikinya.


(30)

14 D. Pemahaman Konsep Matematis

Staton (Sardiman, 2007:42) mengemukakan bahwa pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran, belajar harus mengerti secara mental makna dan filosofinya, maksud dan implikasi serta aplikasi -aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa memahami suatu situasi. Pe-mahaman tidak sebatas sekedar tahu, tetapi juga menghendaki agar subjek belajar dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah dipahami. Pemahaman bersifat dinamis sehingga pemahaman diharapkan akan bersifat kreatif. Apabila siswa benar-benar memahami sesuatu, maka akan siap memberikan jawaban yang pasti atas pertanyaan-pertanyaan atau berbagai masalah dalam belajar. Selanjut-nya, menurut Sardiman (2005:46), pemahaman itu menyangkut: achievement (prestasi), capacity (kecakapan), dan aptitude (kecerdasan). Menurut Uno (2006:124) matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat hierarkis yaitu suatu materi merupakan prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya. Oleh karena itu, pemahaman suatu konsep matematika menjadi hal yang sangat diperlu-kan siswa agar dapat memahami konsep pada materi ajar berikutnya.

Menurut Soedjadi (2000:14), konsep adalah ide abstrak yang dapat dipergunakan untuk menggolongkan atau mengklasifikasikan sekumpulan objek. Konsep ber-hubungan erat dengan definisi. Dengan adanya definisi orang dapat membuat ilustrasi atau gambar atau lambang dari konsep yang didefinisikan, sehingga se-makin jelas apa yang dimaksud dengan konsep tertentu. Selanjutnya Hamalik (2002:162) mengemukakan bahwa konsep adalah suatu kelas atau kategori stimuli yang memiliki ciri-ciri umum. Stimuli adalah objek-objek atau orang.


(31)

15

Belajar konsep merupakan hal yang penting bagi siswa, seperti yang diungkapkan Hamalik (2002:164) bahwa konsep berguna untuk mengurangi kerumitan lingkungan, konsep membantu kita untuk mengidentifikasi hal-hal di sekitar kita, konsep membantu kita untuk mempelajari sesuatu yang baru, lebih luas, dan lebih baru, konsep mengarahkan kegiatan instrumental, konsep memungkinkan pelaksa-naan pengajaran.

Depdiknas dalam Kesumawati (2008) mengungkapkan bahwa, pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang di-harapkan dapat tercapai dalam belajar matematika yaitu dengan menunjukkan pe-mahaman konsep matematika yang dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah.

Terdapat beberapa indikator dalam kemampuan pemahaman konsep seperti yang diungkapkan oleh Hamalik (2002:166) bahwa ada 4 indikator siswa telah

menge-tahui suatu konsep, yaitu: a. Ia dapat menyebutkan nama contoh-contoh konsep bila dia melihatnya. b. Ia dapat menyatakan ciri-ciri (properties) konsep tersebut.

c. Ia dapat memilih, membedakan antara contoh-contoh dari yang bukan contoh.

d. Ia mungkin lebih mampu memecahkan masalah yang berkenaan dengan konsep tersebut.

Lebih lanjut pada penjelasan teknis Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas Nomor 506/C/Kep/PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang penilaian diurai-kan bahwa indikator siswa memahami konsep matematis adalah mampu :


(32)

16 2. Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai

dengan konsepnya.

3. Memberi contoh dan non contoh dari konsep.

4. Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis. 5. Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep.

6. Menggunakan,memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu.

7. Mengaplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis adalah kemampuan siswa untuk menyatakan ulang suatu materi yang diperoleh dalam pembelajaran matematika dalam berbagai bentuk sehingga siswa tidak hanya mengerti untuk dirinya sendiri tetapi juga dapat menjelaskan ke orang lain. Selain itu, siswa juga dapat menyelesaikan soal-soal rutin dan non rutin. Dalam penelitian ini indikator dari kemampuan pemahaman konsep yang akan di-gunakan sesuai dengan Peraturan Dirjen Dikdasmen Nomor 506/C/Kep/2004 tanggal 11 november 2014.

E. Kerangka Pikir

Penelitian tentang perbandingan hasil belajar matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan penelitian yang terdiri dari dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah model pem-belajaran kooperatif tipe NHT dan model pempem-belajaran kooperatif tipe TPS, sedangkan yang menjadi variabel terikatya adalah kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.


(33)

17 Indikator pencapaian untuk kemampuan pemahaman konsep matematis yaitu: 1) Menyatakan ulang suatu konsep, 2) Mengklasifikasikan objek-objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya, 3) Memberi contoh dan non contoh dari konsep, 4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, 5) Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup dari suatu konsep, 6) gunakan, memanfaatkan, dan memilih prosedur atau operasi tertentu, dan 7) Meng-aplikasikan konsep atau algoritma pada pemecahan masalah.

Pada pembelajran NHT, ketujuh point dari indikator pemahaman konsep dapat di-kembangkan lebih baik dari pada pembelajaran TPS karena pada pembelajaran NHT hampir semua kegiatan pembelajaran dilakukan secara berkelompok, sehingga ide-ide yang muncul lebih banyak dan dalam proses pengembangannya pun lebih matang. Sedangkan pada pembelajaran TPS, point pertama, kedua, dan ketiga dilakukan secara mandiri oleh siswa, sehingga ide yang muncul lebih sedikit dan sulit untuk siswa mengembangkanya karena difikirkan secara sendiri/tidak berkelompok. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran NHT lebih unggul dibandingkan dengan pembelajaran TPS.

F. Anggapan Dasar

Penelitian ini mempunyai anggapan dasar sebagai berikut.

1. Semua siswa memperoleh materi yang sama dan sesuai dengan kurikulum 2013.


(34)

18 2. Faktor lain yang mempengaruhi pemahaman konsep matematis siswa selain model pembelajaran dikontrol supaya pengaruhnya sangat kecil sehingga dapat diabaikan.

G. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada siswa kelas XI MIA SMA Negeri 1 Terusan Nunyai tahun pelajaran 2014/2015.

2. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik dari pada model pem-belajaran kooperatif tipe TPS ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa.


(35)

19

III. METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Terusan Nunyai yang terletak di Desa Bandar Agung Kecamatan Terusan Nunyai Kabupaten Lampung Tengah. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA semester ganjil SMA Negeri 1 Terusan Nunyai tahun pelajaran 2014-2015 yang terdistribusi dalam empat kelas (XI MIA 1 – XI MIA 4). Berikut ini disajikan distribusi kelas XI MIA SMA Negeri 1 Terusan Nunyai Tahun Pelajaran 2014/2015.

Tabel 3.1 Distribusi Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai

No. Kelas Jumlah Siswa

1 XI MIA 1 31

2 XI MIA 2 32

3 XI MIA 3 32

4 XI MIA 4 32

Jumlah siswa 127

Sumber: Dokumentasi SMA Negeri 1 Terusan Nunyai Sampel dari penelitian ini diambil melalui teknik purposive sampling yaitu dengan pertimbangan kelas yang dipilih sebagai kelas eksperimen adalah kelas yang mendapat materi irisan kerucut pada waktu minggu kedua, yaitu kelas XI MIA 1 dan XI MIA 2 dan dua kelas yang mendapat materi irisan kerucut di minggu pertama dijadikan kelas untuk uji coba soal test. Kedua kelas eksperimen


(36)

20 belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan cara silang.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment (eksperimen semu), karena peneliti tidak dapat mengendalikan semua variabel yang mungkin berpengaruh terhadap variabel yang diteliti. Selanjutnya, karena kedua kelas eksperimen di-berikan perlakuan dengan cara silang, maka pengaruh model pembelajaran ter-hadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada kedua kelas sampel dapat dilihat dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang di-peroleh dari nilai hasil posttest yang dilaksanakan pada pertemuan ketujuh dan pertemuan kesepuluh. Jadi, dapat disimpulkan bahwa desain penelitian yang di-pergunakan adalah posttest only control design.

Kelas yang diberi perlakuan berupa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT disebut kelas NHT dan kelas yang diberi perlakuan berupa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS disebut kelas TPS. Pada penelitian ini, kelas XI MIA 1 menjadi kelas NHT dan kelas XI MIA 2 menjadi kelas TPS setelah 6 per-temuan ke-2 kelas melakukan posttest 1 dan dipertemuan selanjutnya kelas XI MIA 1menjadi kelas TPS dan kelas XI MIA 2 menjadi kelas NHT, diakhir per-temuan dilakukan posttest 2. Posttest dilakukan untuk mengetahui apakah ada per-bedaan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas NHT dengan siswa kelas TPS.


(37)

21 C. Prosedur Penelitian

Tahapan penelitian dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Tahap Perencanaan

a. Membuat rencana pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe TPS.

b. Menyusun lembar kegiatan siswa yang akan diberikan kepada siswa pada saat diskusi berlangsung di kelas eksperimen.

c. Mempersiapkan perangkat untuk instrumen tes. d. Melakukan Uji Coba Tes

2. Tahap Pelaksanaan

a. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada kedua kelas eksperimen.

b. Mengadakan posttest pada kelas kedua kelas eksperimen. Tabel 3.2Waktu Pelaksanaan Posttest Pada Kelas Eksperimen

Kelas Eksperimen 1 (XI MIA 1) Kelas Eksperimen 2 (XI MIA 2)

NHT TPS

Posttest

TPS NHT

Posttest 3. Pengolahan data


(38)

22 D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

a. Data Penelitian

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data kemampuan pemahaman konsep matematis siswa yang diperoleh melalui tes setelah mengikuti pembelajar-an dengpembelajar-an model pembelajarpembelajar-an kooperatif tipe NHT dpembelajar-an model pembelajarpembelajar-an kooperatif tipe TPS. Data nilai dari posttest 1 dan posttest 2 digabungkan sesuai dengan tipe dari model pembelajaran yang digunakan.

b. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes untuk mengukur pe-mahaman konsep matematis. Jadi soal-soal tes dibuat berdasarkan indikator-indikator pemahaman konsep.

Perangkat tes terdiri dari dua soal uraian pada masing-masing posttest. Setiap soal memiliki ketujuh indikator kemampuan pemahaman konsep matematis. dengan pedoman penskoran seperti pada Tabel 3.3.

Agar data yang diperoleh adalah data yang akurat maka tes yang digunakan adalah tes yang memiliki kriteria tes baik, yaitu 1) valid berdasarkan penilaian guru, 2) memiliki keriteria reliabilitas cukup, tinggi, atau sangat tinggi, serta memiliki daya beda baik atau sangat baik dan tingkat kesukaran butir tes sedang.


(39)

23 Tabel 3.3 Pedoman Penskoran Tes Kemampuan Pemahaman Konsep

No Indikator Keterangan Skor

1.

Menyatakan ulang suatu konsep

a. Tidak menjawab 0 b. Menyatakan ulang suatu konsep tetapi salah 1 c. Menyatakan ulang suatu konsep dengan benar 2

2. Mengklasifikasi objek menurut sifat tertentu sesuai dengan konsepnya

a. Tidak menjawab 0 b. Mengklasifikasi objek menurut sifat tertentu

tetapi tidak sesuai dengan konsepnya 1 c. Mengklasifikasi objek menurut sifat tertentu

sesuai dengan konsepnya 2 3. Memberi contoh

dan non contoh

a. Tidak menjawab 0 b. Memberi contoh dan non contoh tetapi salah 1 c. Memberi contoh dan non contoh dengan benar 2

4. Menyatakan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematika

a. Tidak menjawab 0 b. Menyajikan konsep dalam bentuk representasi

matematika tetapi salah 1 c. Menyajikan konsep dalam bentuk representasi

matematika dengan benar 2

5.

Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep

a. Tidak menjawab 0 b. Mengembangkan syarat perlu atau cukup dari

suatu konsep tetapi salah 1 c. Mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup

dari suatu konsep dengan benar 2

6. Menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu

a. Tidak menjawab 0 b. Menggunakan, memanfatkan, dan memilih

prosedur tetapi salah 1 c. Menggunakan, memanfaatkan, dan memilih

prosedur dengan benar 2 7. Mengaplikasikan

konsep

a. Tidak menjawab 0 b. Mengaplikasikan konsep tetapi tidak tepat 1 c. Mengaplikasikan konsep dengan tepat 2

Sumber: Sartika (2011: 22)

1. Validitas

Soal tes yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini didasarkan pada validitas isi. Untuk menentukan valid atau tidaknya soal tes, guru mitra me-lakukan penilaian terhadap soal tes berdasarkan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini. Penilaian terhadap kesesuaian isi tes dengan isi kisi-kisi tes yang diukur dan kesesuaian bahasa yang digunakan dalam tes dengan kemampuan bahasa siswa dilakukan menggunakan daftar check


(40)

24 list ( ) oleh guru. Hasil penilaian menunjukkan bahwa instrumen tes telah valid (Lampiran B.6), sehingga instrumen dapat diujicobakan pada kelas yang bukan kelas eksperimen, yang telah mempelajari materi irisan kerucut.

2. Reliabilitas

Perhitungan untuk mencari nilai reliabilitas instrumen tes dalam penelitian ini di-dasarkan pada pendapat Arikunto (2008:109) yang menyatakan bahwa untuk menghitung nilai reliabilitas dapat digunakan rumus Alpha, yaitu:

               

2

2 11 1 1 t i n n r   dengan ∑ ∑ Keterangan : 1 1

r : nilai reliabilitas instrumen (tes)

n

: banyaknya butir soal (item)

2

i

: jumlah varians dari tiap-tiap item tes : varians total

N : banyaknya data

∑ : jumlah semua data

∑ : jumlah kuadrat semua data

Harga

r

11

lyang diperoleh, diimplementasikan dengan koefisien reliabilitas. Arikunto (2006: 195) mengatakan bahawa kriteria koefisien reliabilitas adalah: Tabel 3.4Interprestasi Koefisien Reliabilitas

Nilai Interpretasi

0,80 < r11 ≤1,00 Sangat Tinggi

0,60< r11≤0,80 Tinggi

0,40< r11 ≤0,60 Cukup

0,20< r11 ≤0,40 Rendah

0,00< r11 ≤0,20 Sangat Rendah 2

t


(41)

25 Setelah reliabilitas hasil uji coba posttest1 dan posttest 2 dihitung, diperoleh nilai

1 1

r = 0,56 untuk uji coba posttest 1 yang berarti instrumen tes memenuhi kriteria

reliabilitas cukup dan untuk uji coba posttest 2 diperoleh nilai r1 1= 0,61 yang

berarti instrumen tes memenuhi kriteria reliabilitas tinggi (Lampiran C.1).

3. Tingkat Kesukaran (TK)

Sudijono (2008:372) mengatakan bahwa suatu tes dikatakan baik jika memiliki derajat kesukaran sedang, tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Perhitungan tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

TK : tingkat kesukaran suatu butir soal

JT : jumlah skor yang diperoleh siswa pada butir soal yang diperoleh IT : jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh siswa pada suatu

butir soal

Untuk menginterpretasi tingkat kesukaran suatu butir soal digunakan kriteria indeks kesukaran sebagai berikut:

Tabel 3.5 Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran

Nilai Interpretasi

TK < 0.30 Sangat sukar

0.30 ≤ TK ≤ 0.70 Sedang

TK > 0.70 Sangat mudah

Sudijono (2008: 372) Kriteria soal yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal yang memiliki interpretasi sedang, yaitu memiliki nilai tingkat kesukaran 0.30≤TK ≤0.70.


(42)

26 Setelah melakukan perhitungan pada hasil uji coba kedua posttest diperoleh nilai tingkat kesukaran, seperti pada Tabel 3.6.

Tabel 3.6 Hasil Interpretasi Nilai Tingkat Kesukaran No Tingkat Kesukaran Interpretasi

Posttest 1 1 0.699 Sedang

2 0.543 Sedang

Posttest 2 1 0.577 Sedang

2 0.523 Sedang

Dari Tabel 3.6 terlihat bahwa tingkat kesukaran masing-masing soal di tiap posttest berada pada taraf interpretasi sedang yang artinya sudah memenuhi kriteria soal yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil perhitungan se-lengkapnya dapat dilihat di Lampiran C.2 Tabel C.2.2.

4. Daya Pembeda (DP)

Daya beda butir soal diketahui dengan melihat besar kecilnya tingkat diskriminasi atau angka yang menunjukkan besar kecilnya daya beda. Interpretasi dari Daya Pembeda tersaji dalam Tabel 3.7.

Tabel 3.7 Interpretasi Nilai Daya Pembeda

Sudjiono (2008:121) Sudijono (2008:120) mengungkapkan menghitung daya pembeda ditentukan dengan rumus:

Nilai Interpretasi

Negatif ≤ DP ≤ 0.10 Sangat Buruk

0.10 ≤ DP ≤ 0.19 Buruk

0.20 ≤ DP ≤ 0.29 Agak baik, perlu revisi

0.30 ≤ DP ≤ 0.49 Baik


(43)

27

Keterangan :

DP : indeks daya pembeda satu butir soal tertentu

JA : jumlah skor kelompok atas pada butir soal yang diolah JB : jumlah skor kelompok bawah pada butir soal yang diolah IA : jumlah skor ideal kelompok (atas/bawah)

Kriteria soal tes yang digunakan dalam penelitian ini minimal memiliki

inter-pretasi baik, yaitu memiliki nilai daya pembeda ≥ 0,30. Pada perhitungan daya

pembeda JA diperoleh dengan mengambil empat nilai terbesar pada kelas uji coba yang kemudian dijumlahkan dan JB diperoleh dengan mengambil empat nilai ter-kecil pada kelas uji coba yang kemudian dijumlahkan dan dilakukan perhitungan dengan rumus daya pembeda diatas, sehingga diperoleh hasil seperti pada Tabel 3.8. Dari Tabel 3.8 terlihat bahwa daya pembeda pada masing-masing soal di tiap posttest berada pada taraf interpretasi sangat baik. Artinya soal tes memenuhi kriteria yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat di Lampiran C.2 Tabel C.2.2.

Berdasarkan hasil analisis validitas dan perhitungan reliabilitas, tingkat kesukaran, serta daya pembeda soal tes kemampuan pemahaman konsep matematis diperoleh rekapitulasi hasil tes uji coba yang disajikan pada Tabel 3.9.

Tabel 3.8 Hasil Interpretasi Nilai Daya Pembeda

No Daya Pembeda Interpretasi Posttest 1 1 1.583 Sangat Baik

2 0.929 Sangat Baik

Posttest 2 1 1.625 Sangat Baik


(44)

28 Tabel 3.9Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba

No Validitas

Isi Reliabilitas

Tingkat Kesukaran

Daya

Pembeda Kesimpulan Posttest

1

1

Valid

Cukup

Sedang Sangat Baik

Dipakai

2 Dipakai

Posttest 2

1

Tinggi Dipakai

2 Dipakai

Rekapitulasi hasil uji coba tes pada Tabel 3.10 menunjukkan bahwa semua soal sudah memenuhi kriteria yang digunakan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil rekapitulasi tersebut, maka instrumen tes kemampuan pemahaman konsep matematis layak digunakan untuk mengumpulkan data.

E. Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

Data pada penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data tes kemampuan pe-mahaman konsep matematis yang diperoleh dari hasil posttest. Skor yang di-hitung adalah nilai dari hasil posttest. Pemberian skor ditentukan oleh jawaban yang benar, sehingga diperoleh skor posttest. Dari hasil posttest dianalisis untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pem-belajaran kooperatif tipe TPS terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa. Analisis data dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1. Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan untuk melihat apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau berasal dari populasi yang tidak berdistribusi


(45)

29 normal. Dalam penelitian ini, uji normalitas yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov Z. Rumusan hipotesis untuk uji ini adalah sebagai berikut. H0 : data berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1 : data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

Dalam Russefendi (1998: 405), untuk menghitung nilai Uji Kolmogorov-Smirnov Z, rumus yang digunakan sebagai berikut.

Keterangan:

= angka pada data = rata-rata data s = standar deviasi

Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan persamaan Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut:

Dn= | Fn ( ) − F( )|

Keterangan:

Dn : Nilai hitung Kolmogorov Smirnov Fn ( ): Peluang harapan data ke i

F( ) : Luas kurva z data ke i

Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan software SPPS versi 17.0 dengan kriteria pengujian, yaitu jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih besar dari , maka hipotesis nol diterima dan jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih kecil dari , maka hipotesis satu yang diterima (Trihendradi, 2009:113).


(46)

30 Tabel 3.10 Hasil Uji Normalitas Data Kemampuan Pemahaman Konsep

Matematis

Kelas Banyak Siswa Probabilitas (Sig) Kesimpulan

NHT 63 0,001 Tidak Berdisribusi Normal

TPS 63 0,001 Tidak Berdisribusi Normal

Uji normalitas dilakukan terhadap data hasil posttes setelah menggabungkan nilai padaposttest1dan posttest2, sesuai dengan kelas NHT dan kelas TPS-nya.Hasil perhitungan uji normalitas disajikan pada Tabel 3.10.Berdasarkan Tabel 3.11 diketahui bahwa probabilitas (sig) pada kedua kelas eksperimen lebih kecil dari 0,05 sehingga H0 ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada ke-dua kelas eksperimen data sempel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Perhitungan uji normalitas selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran C.5-C.6.

2. Uji Hipotesis

Berdasarkan hasil uji prasyarat, data kemampuan pemahaman konsep matematis kelas NHT dan kelas TPS berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal. Russefendi (1998:401) jika data berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal maka uji hipotesis menggunakan uji non parametrik. Dalam penelitian ini uji yang digunakan adalah uji Mann-Whitney dengan hipotesis sebagai berikut: Ho: (tidak ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas

NHT dengan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas TPS) H1: (ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis siswa kelas NHT


(47)

31 Untuk menguji hipotesis digunakan rumus sebagai berikut:

U untuk sampel pertama : ∑

U untuk sampel kedua : ∑

Pada penelitian ini, uji Mann-Whitney menggunakan software SPPS versi 17.0 dengan kriteria pengujian yaitu jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih besar dari

, maka hipotesis nol diterima (Trihendradi, 2009:146).

Apabila hipotesis nol ditolak, maka dilakukan analisis lanjutan untuk mengetahui,“Model pembelajaran kooperatif manakah yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan tipe TPS, ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa”. Adapun analisis lanjutan tersebut Ruseffendi (1998:314) menyatakan bahwa jika Ho ditolak atau H1 diterima, maka cukup melihat data sampel mana yang rata-ratanya lebih tinggi.

3. Pencapaian Indikator

Analisis indikator kemampuan pemahaman konsep matematis siswa bertujuan untuk mengetahui persentase pencapaian setiap indikator pemahaman konsep matematis siswa kelas NHT dan kelas TPS. Analisis dilakukan dengan meng-gunakan rumus:

Persentase =


(48)

39

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh simpulan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Ada kemungkinan hasil yang diperoleh ini bukan merupakan akibat dari model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS-nya, karena pelaksanaan dilapangannya yang belum maksimal.

B.Saran

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, disarankan kepada peneliti lain, yang ingin menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS terkait pemahaman konsep matematis siswakhususnya pada materi irisan kerucut, antara lain:

1. untuk dapat melakukan penelitian dengan jangka waktu yang lebih lama sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih maksimal dan menggambarkan hasil dari penerapan model pembelajarang yang diteliti.

2. memotivasi siswa untuk lebih percaya diri, teliti dalam menyelesaikan persoalan, dan mengajarkan kepada siswa untuk dapat memilah-milah soal


(49)

40 dari yang termudah ke yang susah sehingga waktu dalam mengerjakan soal-soal tes atau tugas lainya dapat lebih teratur.

3. memotivasi siswa agar siswa dapat mengkuti proses pembelajaran sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat.

4. menjelaskan fungsi dan kegunaan syarat pertu atau syarat cukup dalam menyelesaikan permasalahan.


(50)

41

DAFTAR PUSTAKA

Admin Pendidikan.2011. Peran, Fungsi, Tujuan, dan Karakteristik Matematika Sekolah.Artikel. [Online] Diakses di http://p4tkmatematika.org/2011/10/ peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/ pada tanggal 17 Oktober 2014.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Staregi pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Daryanto. 2012. Inovasi Pembelajaran Efektif. Bandung: Yrama Widya.

Fatirul, Ahmad Noor.2008.Cooperative Learning.Jurnal. [Online] Diakses di http://trimanjuniarso.files.wordpress.com/2008/02/c00perative-learning.pdf. Pada tanggal 17 Oktober 2014.

Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Matematika Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanafiah dan Suhana, Cucu. 2009. Konsep Strategi Belajar: Bandung.Refika Aditama.

Handayani, Hani. 2013. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahaman dan Representasi Matematis Siswa SD. Disertasi UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Huda, Miftahul. 2011. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Iru, La dan Arihi, La Ode Saifun. 2012. Pendekatan, Metode, Strategi, dan Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Presindo.

Kartikasasmi, H. 2012. Penerapan Model Pembelajaran NHT Dengan Pendekatan Sets pada Materi Cahaya untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa. (Suatu


(51)

42 Peneli-tian Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Pemalang Tahun Ajaran 2011/ 2012). Jurnal Unnes Volume 41 Nomor 2 . [Online] Diakses di http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/LIK pada tanggal 17 November 2013.

Kemendikbud PPPPTK Matematika.2011. Peran, Fungsi, Tujuan, dan Karakteristik Matematika Sekolah. Artikel. [On line] Diakses di

http://p4tkmatematika.org/2011/10/peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/. Pada tanggal 21 Oktober 2014-10-22.

Kemendikbud.2013. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2013. Jurnal. [On line] Diakses di http://sertifikasi.fkip.uns.ac.id/modul/1%20Materi% 20KPPG%20&%20Kurikulum%202013/STRUKTUR%20DAN%20ISI%20 KURIKULUM%202013.pdf. Pada tanggal 21 Oktober 2014-10-22

Kesumawati, Nila. 2008. Pemahaman Konsep Matematik dalam Pembelajaran Matematika. , [Online] Diakses di http://eprints.uny.ac.id/6928/1/P-18%20Pendidikan(Nila%20K).pdf, diakses15 November 2013).

Martin, O Michael. 2012. TIMSS 2011 International Results in Science. United States: TIMSS & PIRLS International Study Center.

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif Dan Berkualitas. Jakarta: Kencana.

Ruseffendi. 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Sardiman A.M. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Grafindo Persada.

Slavin, Robert E.. 2005. Cooperatif Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Soedjadi, R.. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depatemen Pendidikan Nasional.

Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka.

Susanto, Urip.2011. Metode Pembelajaran Dalam Student-Centered Learning (Scl).Jurnal. [Online] Diakses di http://uripsantoso.wordpress.com


(52)

43 /2011/06/03/metode-pembelajaran-dalam-student-centered-learning-scl/ pada tanggal 17 Oktober 2014.

Tim Dosen Unila. 2007. Mata Kuliah Landasan-Landasan Pendidikan. Bandar Lampung : Universitas Lampung..

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trihendradi, C. 2009. 7 Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik Menggunakan SPSS 17. Yogyakarta: Andi Publisher.

Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Widoyoko, Eko Putro. 2013. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta:


(1)

31 Untuk menguji hipotesis digunakan rumus sebagai berikut:

U untuk sampel pertama : ∑ U untuk sampel kedua : ∑

Pada penelitian ini, uji Mann-Whitney menggunakan software SPPS versi 17.0 dengan kriteria pengujian yaitu jika nilai probabilitas (sig) dari Z lebih besar dari , maka hipotesis nol diterima (Trihendradi, 2009:146).

Apabila hipotesis nol ditolak, maka dilakukan analisis lanjutan untuk mengetahui,“Model pembelajaran kooperatif manakah yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan tipe TPS, ditinjau dari kemampuan pemahaman konsep matematis siswa”. Adapun analisis lanjutan tersebut Ruseffendi (1998:314) menyatakan bahwa jika Ho ditolak atau H1 diterima, maka cukup melihat data sampel mana yang rata-ratanya lebih tinggi.

3. Pencapaian Indikator

Analisis indikator kemampuan pemahaman konsep matematis siswa bertujuan untuk mengetahui persentase pencapaian setiap indikator pemahaman konsep matematis siswa kelas NHT dan kelas TPS. Analisis dilakukan dengan meng-gunakan rumus:

Persentase =


(2)

39

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh simpulan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematis antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS. Ada kemungkinan hasil yang diperoleh ini bukan merupakan akibat dari model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS-nya, karena pelaksanaan dilapangannya yang belum maksimal.

B.Saran

Berdasarkan hasil dalam penelitian ini, disarankan kepada peneliti lain, yang ingin menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan TPS terkait pemahaman konsep matematis siswakhususnya pada materi irisan kerucut, antara lain:

1. untuk dapat melakukan penelitian dengan jangka waktu yang lebih lama sehingga dapat memperoleh hasil yang lebih maksimal dan menggambarkan hasil dari penerapan model pembelajarang yang diteliti.

2. memotivasi siswa untuk lebih percaya diri, teliti dalam menyelesaikan persoalan, dan mengajarkan kepada siswa untuk dapat memilah-milah soal


(3)

40 dari yang termudah ke yang susah sehingga waktu dalam mengerjakan soal-soal tes atau tugas lainya dapat lebih teratur.

3. memotivasi siswa agar siswa dapat mengkuti proses pembelajaran sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran yang telah dibuat.

4. menjelaskan fungsi dan kegunaan syarat pertu atau syarat cukup dalam menyelesaikan permasalahan.


(4)

41

DAFTAR PUSTAKA

Admin Pendidikan.2011. Peran, Fungsi, Tujuan, dan Karakteristik Matematika Sekolah.Artikel. [Online] Diakses di http://p4tkmatematika.org/2011/10/ peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/ pada tanggal 17 Oktober 2014.

Arikunto, Suharsimi. 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Aqib, Zainal. 2013. Model-model, Media, dan Staregi pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: Yrama Widya.

Daryanto. 2012. Inovasi Pembelajaran Efektif. Bandung: Yrama Widya.

Fatirul, Ahmad Noor.2008.Cooperative Learning.Jurnal. [Online] Diakses di http://trimanjuniarso.files.wordpress.com/2008/02/c00perative-learning.pdf. Pada tanggal 17 Oktober 2014.

Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Matematika Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Hanafiah dan Suhana, Cucu. 2009. Konsep Strategi Belajar: Bandung.Refika Aditama.

Handayani, Hani. 2013. Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Pemahaman dan Representasi Matematis Siswa SD. Disertasi UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Huda, Miftahul. 2011. Cooperatif Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press.

Iru, La dan Arihi, La Ode Saifun. 2012. Pendekatan, Metode, Strategi, dan Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Presindo.

Kartikasasmi, H. 2012. Penerapan Model Pembelajaran NHT Dengan Pendekatan Sets pada Materi Cahaya untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa. (Suatu


(5)

42 Peneli-tian Eksperimen terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Pemalang Tahun Ajaran 2011/ 2012). Jurnal Unnes Volume 41 Nomor 2 . [Online] Diakses di http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/LIK pada tanggal 17 November 2013.

Kemendikbud PPPPTK Matematika.2011. Peran, Fungsi, Tujuan, dan Karakteristik Matematika Sekolah. Artikel. [On line] Diakses di

http://p4tkmatematika.org/2011/10/peran-fungsi-tujuan-dan-karakteristik-matematika-sekolah/. Pada tanggal 21 Oktober 2014-10-22.

Kemendikbud.2013. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum 2013. Jurnal. [On line] Diakses di http://sertifikasi.fkip.uns.ac.id/modul/1%20Materi% 20KPPG%20&%20Kurikulum%202013/STRUKTUR%20DAN%20ISI%20 KURIKULUM%202013.pdf. Pada tanggal 21 Oktober 2014-10-22

Kesumawati, Nila. 2008. Pemahaman Konsep Matematik dalam Pembelajaran Matematika. , [Online] Diakses di http://eprints.uny.ac.id/6928/1/P-18%20Pendidikan(Nila%20K).pdf, diakses15 November 2013).

Martin, O Michael. 2012. TIMSS 2011 International Results in Science. United States: TIMSS & PIRLS International Study Center.

Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Riyanto, Yatim. 2010. Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi Bagi Guru/Pendidik Dalam Implementasi Pembelajaran Yang Efektif Dan Berkualitas. Jakarta: Kencana.

Ruseffendi. 1998. Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung Press.

Sardiman A.M. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Grafindo Persada.

Slavin, Robert E.. 2005. Cooperatif Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung: Nusa Media.

Soedjadi, R.. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depatemen Pendidikan Nasional.

Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Pustaka.

Susanto, Urip.2011. Metode Pembelajaran Dalam Student-Centered Learning (Scl).Jurnal. [Online] Diakses di http://uripsantoso.wordpress.com


(6)

43 /2011/06/03/metode-pembelajaran-dalam-student-centered-learning-scl/ pada tanggal 17 Oktober 2014.

Tim Dosen Unila. 2007. Mata Kuliah Landasan-Landasan Pendidikan. Bandar Lampung : Universitas Lampung..

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Trihendradi, C. 2009. 7 Langkah Mudah Melakukan Analisis Statistik Menggunakan SPSS 17. Yogyakarta: Andi Publisher.

Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Widoyoko, Eko Putro. 2013. Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta:


Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 28 Bandar Lampung T.P. 2013/2014)

1 26 152

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

0 10 49

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Trimurjo Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 3 34

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA

0 13 47

EVEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Ketapang TP 2013/2014)

0 20 40

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY DENGAN TIPE THINK PAIR SHARE

1 16 67

PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DAN THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Terusan Nunyai T.P. 2014/2015)

0 3 52

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER DITINJAU DARI PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Rumbia Lampung Tengah Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)

0 4 62

PERBANDINGAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DENGAN TIPE THINK PAIR SHARE

4 14 55

PERBANDINGAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA ANTARA MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE DAN NUMBERED HEADS TOGETHER (Studi pada Siswa Kelas VII MTs Mathla’ul Anwar Gisting Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015)

0 18 70