TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS METODE PENELITIAN PENUTUP METODE PENELITIAN

commit to user 10

E. Sistematika Penulisan

Penulisan dalam bab-bab berikutnya dipaparkan dengan sistematika sebagai berikut ini.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka yang memberi penjelasan mengenai laporan keuangan, analisis laporan keuangan, analisis rasio keuangan, serta review penelitian terdahulu yang mendukung penelitian, dilanjutkan kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian.

BAB III: METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan dijelaskan ruang lingkup penelitian, populasi dan pemilihan sampel, pengumpulan data dan pengukuran variabel, dan prosedur analisis yang terdiri atas analisis regresi berganda. BAB IV: ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai analisis data penelitian, pengujian hipotesis, dan interpretasi data.

BAB V: PENUTUP

Dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan hasil penelitian, keterbatasan penelitian, dan saran bagi penelitian selanjutnya. commit to user

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori

1. Agency Theory

Untuk memahami masalah kepemilikan perusahaan ownership maka harus didasari oleh teori keagenan agency theory. Teori ini membahas tentang adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan. Jensen dan Meckling 1976 menyatakan bahwa hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer agent dengan investor principal. Terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan agen karena kemungkinan agen bertindak tidak sesuai dengan kepentingan principal, sehingga memicu biaya keagenan agency cost. Selain itu manajemen memiliki informasi yang lebih banyak daripada pemilik tentang keadaan perusahaan. Situasi ini menimbulkan peluang bagi manajemen untuk berbuat curang. Sebagai agen, manajer bertanggung jawab secara moral untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik principal dengan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak. Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuran yang dikehendaki Irfan, 2002. Agency problem secara garis besar dapat terjadi ketika manajer membuat sebuah keputusan yang tidak konsisten dengan tujuan umum dari commit to user 12 sebuah perusahaan yaitu memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Hal ini dikarenakan manajer ingin mementingkan dirinya sendiri. Eisenhardt 1989 menggunakan tiga asumsi sifat dasar manusia guna menjelaskan tentang teori agensi yaitu: 1 manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri self interest, 2 manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang bounded rationality, dan 3 manusia selalu menghindari risiko risk adverse. Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia kemungkinan besar akan bertindak berdasarkan sifat opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya Wibisono, 2004. Agency cost merupakan pengeluaran waktu dan uang yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengurangi agency problem Gallagher, 2000. Menurut Jensen dan Meckling 1967, agency cost merupakan penjumlahan: 1 pengeluaran monitoring oleh principal, 2 pengeluaran “bonding” oleh agen, dan 3 kerugian residual. Semakin besar perusahaan, semakin besar pula agency cost-nya karena meningkatnya kebutuhan monitoring dalam perusahaan besar. Namun, agency cost dapat dikurangi dengan meningkatkan level kepemilikan manajemen supaya mengurangi biaya monitoring. Agency cost yang lebih rendah diasosiasikan dengan nilai perusahaan yang semakin tinggi. Alternatif untuk mengurangi agency cost yaitu melalui mekanisme pengendalian internal dan mekanisme pengendalian eksternal atau pengendalian pasar. Mekanisme pengendalian internal didesain untuk commit to user 13 menyamakan kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Menurut Jensen dan Meckling 1976 ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengurangi agency cost yaitu pertama dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen karena dengan hal itu manajer merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil. Kedua dengan meningkatkan divident pay-out ratio, dengan demikian tidak tersedia cukup banyak free cash flow. Ketiga dengan meningkatkan pendanaan dengan hutang, keempat melalui institusional investor sebagai monitoring agents.

2. Good Corporate Governance GCG

Corporate governance muncul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali dikenal dengan istilah masalah keagenan. Permasalahan keagenan dalam hubungannya antara pemilik modal dengan manajer adalah bagaimana sulitnya pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih atau diinvestasikan pada proyek yang tidak menguntungkan sehingga tidak mendatangkan return. Corporate governance diperlukan untuk mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer. Good corporate governance GCG menurut Komite Nasional Kebijakan Governance KNKG adalah salah satu pilar dari sistem ekonomi pasar. Corporate governance berkaitan erat dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan GCG mendorong terciptanya persaingan yang sehat commit to user 14 dan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena itu diterapkannya GCG oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan. Forum for Corporate Governance in Indonesia FCGI dalam peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance, menggunakan pengertian dari Cadbury Committee dalam mendefinisikan Corporate Governance, yaitu: “seperangkat peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya sehubungan dengan hak- hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan.” Pelaksanaan good corporate governance diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat berikut ini FCGI, 2001: a. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders. b. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih meningkatkan corporate value. c. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. d. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen. Prinsip-prinsip dasar penerapan good corporate governance yang dikemukakan oleh FCGI adalah sebagai berikut: commit to user 15 1 Fairness Keadilan Prinsip keadilan fairness merupakan prinsip perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang saham. Keadilan yang diartikan sebagai perlakuan yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dari kecurangan, dan kesalahan perilaku insider. Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan. 2 DisclosureTransparency KeterbukaanTransparansi Transparansi adalah adanya pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi atas hal penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta pemegang kepentingan. Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku kepentingan lainnya. 3 Accountability Akuntabilitas Akuntabilitas menekankan pada pentingnya penciptaan sistem pengawasan yang efektif berdasarkan pembagian kekuasaan antara komisaris, direksi, dan pemegang saham yang meliputi monitoring, evaluasi, dan commit to user 16 pengendalian terhadap manajemen untuk meyakinkan bahwa manajemen bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pihak-pihak berkepentingan lainnya. Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar, terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan. 4 Responsibility Responsibilitas Responsibility responsibilitas adalah adanya tanggung jawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham. Prinsip ini diwujudkan dengan kesadaran bahwa tanggungjawab merupakan konsekuensi logis dari adanya wewenang, menyadari akan adanya tanggungjawab sosial, menghindari penyalahgunaan wewenang kekuasaan, menjadi profesional dan menjunjung etika dan memelihara bisnis yang sehat. Mekanisme di dalam good corporate governance diantaranya yaitu struktur kepemilikan, komite audit dan juga dewan komisaris Bernhart dan Rosenstein, 1998. a. Struktur kepemilikan Adanya agency problem dapat dipengaruhi oleh struktur kepemilikan. Struktur kepemilikan dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan commit to user 17 yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh adanya kontrol yang mereka miliki. Istilah stuktur kepemilikan digunakan untuk menunjukkan bahwa variabel-variabel yang penting di dalam struktur modal tidak hanya ditentukan oleh jumlah utang dan equity tetapi juga oleh prosentase kepemilikan oleh manager dan institutional Jensen dan Meckling, 1976. Struktur kepemilikan merupakan komposisi modal antara utang dan ekuitas termasuk juga proporsi antara kepemilikan saham inside shareholders dan outside shareholders. Semakin terkonsentrasinya kepemilikan, principal mempunyai insentif untuk memonitor agar agen mereka bertindak selaras dengan kepentingan pemilik. Bathala et al. 1994. Jensen dan Meckling 1976, menyatakan bahwa agency problem akan terjadi bila proporsi kepemilikan manajer kurang dari 100 sehingga manajer cenderung bertindak berdasar maksimalisasi nilai dari pengambilan keputusan pendanaan dan menyatakan bahwa kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari pemisahan kepemilikan. Menurut Kiryanto dan Suprianto 2006, adanya pemisahan kepemilikan dan pengendalian perusahaan ini akan menyebabkan timbulnya asymmetric information. Ada dua jenis asymmetric information, yaitu: adverse selection dan moral hazard. Adverse selection adalah suatu tipe informasi asimetri asymmetric information, satu orang atau lebih pelaku- pelaku transaksi bisnis atau transaksi-transaksi yang potensial mempunyai commit to user 18 informasi lebih atas yang lain. Ketimpangan pengetahuan informasi perusahaan ini dapat menimbulkan masalah dalam transaksi pasar modal karena investor tidak mempunyai informasi yang cukup dalam pengambilan keputusan investasinya. Sedangkan moral hazard adalah suatu tipe informasi asimetri asymmetric information, satu orang atau lebih pelaku-pelaku bisnis atau transaksi-transaksi potensial dapat mengamati kegiatan-kegiatan mereka secara penuh dibandingkan dengan pihak lain. Masalah moral hazard ini terjadi karena pihak-pihak di luar perusahaan investor mendelegasikan tugas dan kewenangannya kepada manajer, tetapi investor tidak dapat sepenuhnya memantau manajer dalam melaksanakan pendelegasian tersebut. Struktur kepemilikan yang ada di perusahaan akan sangat berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan karena menunjukkan sebuah komposisi yang berisi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Kesimpulannya adalah bahwa perusahaan yang melakukan pemisahan antara pemilik dan manajer lalu melakukan kontrol yang kuat cenderung memiliki performansi perusahaan yang lebih jelek. b. Komite audit Definisi Komite Audit berdasarkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia Nomor: Kep-339BEI07-2001 yang dikeluarkan pada 20 Juli 2001, tentang Peraturan Pencatatan Efek Nomor I-A: Tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris Perusahaan Tercatat yang anggotanya diangkat dan commit to user 19 diberhentikan oleh dewan komisaris Perusahaan Tercatat melakukan pemeriksaan atau penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam pengelolaan Perusahaan Tercatat. Keanggotaan komite audit sekurang-kurangnya terdiri dari 3 tiga orang anggota, seorang diantaranya merupakan komisaris independen Perusahaan Tercatat yang sekaligus merangkap sebagai ketua komite audit, sedangkan anggota lainnya merupakan pihak ekstern yang independen di mana sekurang-kurangnya satu diantaranya memiliki kemampuan di bidang akuntansi dan atau keuangan. Seperti diatur dalam Kep-29PM2004 yang merupakan peraturan yang mewajibkan perusahaan membentuk komite audit, tugas komite audit antara lain seperti berikut ini. 1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan, seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya. 2. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan. 3. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal. 4. Melaporkan kepada komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi. 5. Melakukan penelaahan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten. 6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan. commit to user 20 Menurut FCGI dalam Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance, disebutkan bahwa secara umum tanggung jawab komite audit meliputi 3 tiga bidang berikut ini. 1. Laporan Keuangan Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kondisi keuangan, hasil usaha, dan rencana jangka panjang. 2. Corporate Governance Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa perusahaan sudah dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku, melaksanakan usahanya dengan beretika, dan melaksanakan pengawasan terhadap benturan kepentingan yang ada di dalam perusahaan. 3. Pengawasan Perusahaan Komite audit bertanggung jawab untuk melaksanakan pengawasan terhadap perusahaan termasuk di dalamnya pemahaman tentang masalah serta hal-hal yang berpotensi mengandung risiko dan sistem pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilaksanakan oleh auditor intern. c. Dewan komisaris Menurut FCGI 2003, terdapat dua sistem yang berkaitan dengan bentuk dewan dalam perusahaan, yaitu one tier system sistem satu tingkat dan commit to user 21 two tiers system sistem dua tingkat. Sistem satu tingkat hanya mempunyai satu dewan direksi dalam perusahaan, biasanya kombinasi antara manajer atau pengurus senior direktur eksekutif dan direktur independen yang bekerja dengan prinsip paruh waktu, dan diangkat karena kebijakan, pengalaman dan relasinya. Ini dapat ditemukan di Negara Amerika Serikat dan Inggris. Sistem dua tingkat mempunyai dua badan terpisah, yaitu dewan pengawas dewan komisaris dan dewan manajemen dewan direksi. Tugas dewan direksi yaitu mengelola dan mewakili perusahaan dan juga memberikan informasi di bawah pengarahan dan pengawasan dewan komisaris. Anggota dewan direksi diangkat dan setiap waktu dapat diganti oleh anggota dewan komisaris. Tugas utama dewan komisaris yaitu bertanggung jawab untuk mengawasi tugas-tugas manajemen, tetapi tidak boleh melibatkan diri dalam tugas-tugas manajemen dan tidak boleh mewakili perusahaan dalam transaki-transaki dengan pihak ketiga. Anggota dewan komisaris diangkat melalui Rapat Umum Pemegang Saham RUPS. Ini dapat ditemukan di negara-negara seperti Indonesia, Belanda, Denmark, Jerman dan Jepang. Komisaris independen merupakan pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham pengendali, anggota direksi dan dewan komisaris lain, dan perusahaan itu sendiri baik dalam bentuk hubungan bisnis maupun kekeluargaan. Di sini yang dimaksud afiliasi yaitu seperti berikut ini. commit to user 22 1. Hubungan keluarga karena perkawinan dan keturunan sampai derajat kedua, baik secara horisontal maupun vertikal. 2. Hubungan antara Pihak dengan pegawai, direktur, atau komisaris dari pihak tersebut. 3. Hubungan antara 2 dua perusahaan dimana terdapat satu atau lebih anggota direksi atau dewan komisaris yang sama. 4. Hubungan antara perusahaan dan pihak, baik langsung maupun tidak langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut. 5. Hubungan antara 2 dua perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama. 6. Hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama. Independensi Dewan Komisaris diwakili dengan adanya Komisaris Independen dalam dewan komisaris perusahaan. Bursa Efek Jakarta mengeluarkan SE-005BEJ09-2001 yang mensyaratkan bagi perusahaan yang tercatat di BEJ menunjuk komisaris independen minimal 30 dari seluruh dewan komisaris.

3. Kinerja Keuangan Financial Performance

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi untuk mengetahui kinerja suatu perusahaan. Informasi seperti itu diberikan melalui pihak manajemen perusahaan untuk memberikan suatu gambaran kinerja perusahaan kepada stakeholder. Putro 2007 menyatakan bahwa salah satu faktor penting yang mempengaruhi pengaharapan investor adalah kinerja commit to user 23 keuangan. Pada dasarnya pengukuran kinerja merupakan perilaku manusia dalam melaksanakan peran yang telah diberikan kepadanya untuk mencapai suatu goal congruence. Pengukuran kinerja dalam suatu perusahaan pada akhirnya tidak terlepas dari keterkaitannya untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaan. Menurut Dewi 2004 untuk melakukan penilaian kinerja keuangan dalam suatu perusahaan dapat dilihat melalui 2 dua sudut pandang yang berbeda, yaitu: a. Sudut pandang financial Menurut sudut pandang ini, pengukuran kinerja meliputi aspek- aspek financial perusahaan seperti likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas. b. Sudut pandang non financial Menurut sudut pandang ini, pengukuran kinerja dari aspek-aspek non financial perusahaan seperti kepuasan pelanggan, inovasi produk, dan pengembangan peusahaan. Menurut Pradhono et al. 2004, pengukuran kinerja perusahaan dapat terbagi menjadi tiga pokok utama, yaitu: a. Pengukuran laba: Earning Per Share EPS, Return on Asset ROA, Return on Net Asset RONA, Return on Capital Employment ROCE, Return on Equity ROE. b. Pengkuran Cash Flow: free cash flow, Cash Flow Return on Gross Investment CFROI, Total Shareholder Return TSR dan Total Business Return TBR. commit to user 24 c. Pengukuran Nilai: Economic Value Added EVA, Market Value Added MVA, Cash Value Added CVA dan Shareholder Value SHV. Pengukuran kinerja keuangan ini penting karena dengan kinerja ini para manajer mendapatkan informasi yang akan digunakan dalam menentukan ukuran keuangan perusahaan untuk pengambilan keputusan. Ngui et. al 2007 menyatakan kinerja perusahaan merupakan faktor yang penting dalam dunia pasar modal. Apabila kinerja perusahaan meningkat, pasar akan merespon dengan meningkatnya nilai perusahaan yaitu meningkatnya harga saham perusahaan. Harga saham yang meningkat memunculkan potensi meningkatnya capital gain yang diperoleh pemegang saham. Dengan kinerja yang meningkat, diharapkan harga saham perusahaan meningkat, sehingga pemegang saham dapat memperoleh keuntungan melalui capital gain. Mekanisme corporate governance yang baik diharapkan menjadikan aktivitas perusahaan berjalan lebih baik, sehingga kinerja perusahaan menjadi meningkat. Penelitian ini menggunakan ukuran kinerja keuangan berupa return on equity dengan alasan bahwa rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan pengembalian keuangan pada penyedia dana internal yang dalam hal ini adalah investor saham. Oleh karena itu, ROE mampu menggambarkan tingkat pengembalian secara keuangan bagi pemegang saham investor yang selaras dengan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu institutional ownership. commit to user 25

B. Review Penelitian dan Pengembangan Hipotesis

1. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kinerja Keuangan

Kepemilikan institusional dapat diartikan sebagai proporsi saham yang beredar yang dimiliki oleh institusi lain di luar perusahaan, seperti bank, perusahaan asuransi, perusahaan investasi, dana pensiun dan lain-lain pada akhir tahun yang diukur dalam prosentase Wahidawati, 2001. Siregar dan Utama 2005 dalam penelitiannya mendefinisikan kepemilikan institusional sebagai kepemilikan saham oleh institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan investment banking. Berbeda dengan blockholder yang dalam kepemilikan hanya pada seorang ataupun sebuah keluarga, kepemilikan institusional lebih mengacu pada institusi yang dapat berupa asuransi, bank ataupun institusi lainnya. Peningkatan kepemilikan institusional dapat menyebabkan kinerja manajer diawasi secara optimal dan terhindar dari perilaku opportunistic. Kepemilikan institusional juga dianggap lebih dapat dengan tepat memperkirakan keuntungan di masa mendatang daripada kepemilikan non institusional Jiambalvo, Rajgopal, dan Venkatachalam, 2002. Institusi biasanya dapat menguasai mayoritas saham karena mereka memiliki sumber daya yang lebih besar bila dibandingkan dengan pemegang saham lainnya. Jika investor institusional tidak puas dengan kinerja manajemen, maka mereka dapat menjual sahamnya Murni dan Andriana, 2007. Kouki dan Guizani 2009 menyatakan bahwa kepemilikan institusional yang besar merupakan cara untuk monitoring agent. Peningkatan commit to user 26 kepemilikan institusional dapat mengurangi agency cost atas debt dan insider ownership karena semakin besar kepemilikan institusional maka akan dapat mengurangi terjadinya konflik antara kreditur dan manajer, dan akhirnya dapat menekan biaya keagenan. Waddock dan Graves 1994 menemukan hubungan yang positif dan signifikan antara jumlah institusi yang memiliki saham dan kinerja sosial dan lingkungan perusahaan. Hal tersebut dikuatkan oleh penelitian Mahoney dan Robert 2003 yang menemukan hubungan positif dan signifikan antara kinerja sosial perusahaan dan jumlah kepemilikan institusional. Kircmaier dan Grant 2006 melakukan penelitian tentang struktur kepemilikan perusahaan dengan kinerja perusahaan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan blockholder akan berpengaruh terhadap tata kelola perusahaan yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan. Para pelaku pasar akan merespon peningkatan kinerja tersebut melalui harga saham yang meningkat. Hasilnya menunjukkan bahwa struktur kepemilikan perusahaan berpengaruh terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Ujiyantho dan Pramuka 2007 melakukan penelitian tentang mekanisme corporte governance, manajemen keuangan dan nilai perusahaan. Penelitian dilakukan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta 2002-2004. Hasil dari penelitiannya menyatakan bahwa kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris independen dan jumlah dewan komisaris secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Pengujian secara parsial menunjukkan bahwa commit to user 27 kepemilikan institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba, kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen laba, proporsi dewan komisaris independen berpengaruh positif signifikan terhadap manajemen laba, jumlah dewan komisaris tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Manajemen laba discretionary accruals tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan cash flow return on assets. Uraian di atas mendasari perumusan hipotesis pertama dalam penelitian ini, seperti berikut: H1: Terdapat pengaruh struktur kepemilikan institusional institutional ownership terhadap kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

2. Pengaruh Board Independence Dewan Komisaris Independen

terhadap Kinerja Keuangan Menurut FCGI 2003, dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Aktifnya peranan dewan komisaris dalam praktek sangat tergantung pada lingkungan yang diciptakan oleh perusahaan yang bersangkutan. Di Indonesia sering terjadi anggota dewan komisaris tidak menjalankan peran pengawasannya terhadap dewan direksi. Dewan komisaris dianggap tidak memiliki manfaat. Hal ini dapat dilihat dalam commit to user 28 fakta bahwa banyak anggota dewan komisaris tidak memiliki kemampuan dan tidak dapat menunjukkan independensinya sehingga gagal untuk mewakili kepentingan stakeholder lainnya. Komisaris independen merupakan salah satu bagian inti dari perusahaan dalam mengawasi pengurusan perseroan yang dilakukan oleh direksi dan memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalankan operasional perusahaan Kusuma dan Susanto, 2004. Penelitian oleh Ngui, et al. 2007 menyatakan bahwa komisaris independen menjembatani kepentingan manajemen dan kepentingan pemegang saham. Komisaris independen menjalankan fungsi monitoring yang bersifat independen terhadap kinerja manajemen perusahaan dan akan berusaha untuk memastikan bahwa manajemen akan melakukan pengelolaan perusahaan yang bertujuan memaksimalkan return bagi pemegang saham. Dewan komisaris independen merupakan alat pemonitoran yang efektif. Bukti empiris mengenai jumlah komisaris independen yang efektif masih belum konsisten. Song dan Windram 2000 memberikan bukti empiris bahwa jumlah komisaris independen yang lebih kecil meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan menurunkan probabilitas kesalahan dalam pelaporan keuangan. Yermack 1996 mendukung jumlah komisaris yang lebih sedikit, karena penilaian perusahaan yang lebih baik terkait dengan jumlah komisaris yang lebih sedikit. Shivdasani 1993 beragumen bahwa semakin besar jumlah dewan komisaris independen merefleksikan reputasi yang semakin baik sebagai pemonitor. Dengan proporsi anggota independen yang besar dalam commit to user 29 struktur dewan komisaris, akan memberikan efek pengawasan yang lebih baik dan dapat membatasi peluang-peluang kecurangan pihak manajerial Fama dan Jensen, 1983. Hal ini berarti dewan komisaris independen mendapat respon positif dari para investor, namun jumlah komisaris yang efektif masih menjadi perdebatan. Penelitian yang dilakukan oleh Kusuma dan Susanto 2004 tentang efektivitas mekanisme bonding yang merupakan kasus pada perusahaan- perusahaan yang dikontrol komisaris independen mendapatkan hasil bahwa peran komisaris independen tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap mekanisme bonding dividen dan utang dalam mengurangi masalah agensi. Penelitian yang dilakukan oleh Harford et. al 2008 menemukan bahwa peran komisaris independen secara positif berpengaruh terhadap tingkat leverage utang perusahaan. Di mana dewan yang lebih kuat dan independen akan mendesak perusahaan untuk mempunyai atau melakukan pendanaan melalui utang yang lebih besar dan dalam bentuk utang jangka pendek yang besar pula. Paparan di atas menjadi dasar pengembangan hipotesis kedua dalam penelitian, yaitu seperti berikut ini: H2: Terdapat pengaruh anggota dewan komisaris independen board independence terhadap kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. commit to user 30

3. Pengaruh Frekuensi Rapat Komite Audit terhadap Kinerja Keuangan

Beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk menguji pengaruh komite audit terhadap kinerja keuangan. Klein 2002 menyatakan bahwa komite audit secara internal diharapkan akan mampu meningkatkan efektivitas operasional perusahaan. Komite audit diharapkan mampu mengurangi praktik manipulasi laba dalam perusahaan yang dapat merugikan pemegang saham. Komite audit bertugas mengamati seluruh proses keuangan dalam perusahaan, hal tersebut dapat dilihat pada pertemuan rutin komite audit dengan auditor independen dan manajer keuangan perusahaan, proses audit dan pengendalian akuntansi secara internal. Nasution dan Setiawan 2007 menyatakan bahwa komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Komite audit merupakan komponen baru dalam sistem perusahaan. Selain itu komite audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen dalam menangani masalah pengendalian. Penelitian DeFond dan Jiambalvo 1991; McMulen 1996; Beasly dan Salterio 2001; Mc Mullen dan Raghunandan 1996 mendukung keberadaan komite audit yang dapat meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Hal ini menandakan bahwa investor telah melihat nilai lebih pada perusahaan yang memiliki komite audit independen. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Beasley 1996; Kalbers 1992 dan juga Menon dan commit to user 31 William 1994, menunjukkan tidak adanya perbedaan antara perusahaan yang memiliki komite audit independen dengan yang tidak. Hasil penelitian ini menandakan ketidakpercayaan investor terhadap kemampuan komite audit dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan. Komite audit yang aktif akan meningkatkan peran mereka untuk mengejar tujuan dari perusahaan. Maka komite audit akan melakukan pertemuan tiap tahunnya. Frekuensi rapat komite audit akan menunjukkan apakah komite itu aktif atau tidak. Meskipun kehadiran direktur non eksekutif dihubungkan dengan efektivitas komite audit, itu tidak menjamin. Menon dan Williams 1994 menunjukkan bahwa komite audit independen tidak menjamin efektivitas kecuali komite ini aktif. Selain itu, Kalbers dan Forgarty 1993 mendukung argumen ini dan menunjukkan efektivitas komite audit itu hanya akan terwujud jika anggota berkomitmen untuk mengejar peran dan tugas mereka. Persyaratan pencatatan di BMB 2001, BRC 1999 dan Treadway Commission 1987 mengusulkan bahwa komite audit harus bertemu setidaknya empat kali setahun. Jumlah pertemuan merupakan upaya yang dilakukan oleh komite audit untuk memastikan kinerja perusahaan dan pelaporan keuangan yang baik. Komite audit yang aktif adalah komite yang melakukan review laporan keuangan dan transaksi untuk memastikan bahwa kontrol internal di dalam perusahaan telah dilakukan dengan tepat dan sesuai. Sharma et al. 2009 melakukan penelitian terkait keberadaan komite audit dalam mekanisme good corporate governance dengan hasil bahwa commit to user 32 frekuensi rapat yang dilakukan oleh komite audit berhubungan dengan besarnya ukuran atau jumlah anggota komite audit dan kinerja perusahaan. Adanya frekuensi rapat komite audit lebih banyak mengindikasikan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh komite audit berjalan dengan efektif dalam arti bahwa tiap terjadi permasalahan dalam perusahaan dapat langsung dibahas dalam rapat komite audit sehingga dapat lebih cepat ditemukan penyelesaian sehingga tidak menurunkan kinerja perusahaan. Raghunandan dan Rama 2007 menguji ukuran komite audit dan frekuensi rapat komite audit terkait proses monitoring dan kinerja perusahaan dengan hasil bahwa ukuran dan frekuensi komite audit mempunyai pengaruh terhadap tingkat kinerja perusahaan. Hasil yang sama diperoleh Carcello dan Neal 2003 bahwa frekuensi rapat komite audit menghasilkan satu proses monitoring yang efektif terhadap kegiatan operasional perusahaan sehingga memungkinkan perusahaan untuk mencapai tingkat kinerja yang lebih baik. Ngui et al. 2007 menyatakan bahwa keberadaan komite audit dapat berfungsi mengurangi potensi kecurangan yang ada dalam perusahaan. Proses audit akan membuat manajemen lebih berhati-hati dalam membuat laporannya. Peran monitoring secara keseluruhan dari komite audit akan membuat manajemen bekerja lebih baik lagi. Dengan pengelolaan perusahaan yang baik, diharapkan kinerja perusahaan juga dapat meningkat. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini didasarkan pada paparan di atas, adapun hipotesis yang dimaksud seperti berikut ini: commit to user 33 H3: Terdapat pengaruh frekuensi rapat komite audit audit committee meeting frequency terhadap kinerja keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

4. Kerangka Pikir Penelitian

Kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dijelaskan dengan gambar II.1 seperti berikut ini. Variabel independen variabel dependen Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh institutional ownership, board independence, dan audit committee meeting frequency sebagai terhadap financial performance perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek indonesia. Institutional ownership, board independence, dan audit committee merupakan mekanisme dalam tata kelola perusahaan yang baik good H 3 Institutional Ownership Board independence Audit Committee Meeting Frequency Financial Performance H 1 H 2 Firm size Variabel kontrol commit to user 34 corporate governance yang menitik beratkan pada proses pengawasan operasional perusahaan dan meminimalisasi konflik keagenan agency conflict di antara manajemen dan prinsipal perusahaan. Dengan problem agensi yang dapat diminimalisasi tersebut diharapkan kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan lancar dan meningkatkan kinerja perusahaan. Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan perusahaan oleh institusi atau lembaga tertentu. Kepemilikan ini mempunyai karakteristik yang kuat untuk melakukan pengawasan pada perusahaan mengingat institusi mempunyai sumberdaya dan sumberdana yang lebih kuat dibanding kepemilikan perorangan sehingga dengan pengawasan yang lebih kuat tersebut dapat berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan. Dewan komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris yang berasal dari baik pihak eksternal perusahaan yang lebih dapat bersifat netral tidak memihak manajemen maupun prinsipal sehingga pengawasan yang dilakukan dapat lebih baik dan mempengaruhi pencapaian kinerja perusahaan yang lebih baik. Komite audit merupakan lembaga yang dibentuk untuk melakukan pengawasan dan memastikan kegiatan yang dilakukan perusahaan dapat mencapai kinerjanya. Dalam melakukan pengawasan kegiatan operasional ditandai dengan adanya rapat anggota komite audit. Rapat komite audit dilakukan guna merespon permasalahan yang terjadi dan frekeuensi rapat komite audit mengindikasikan aktivitas yang dilakukan oleh komite audit dalam melakukan pengawasan perusahaan sehingga dapat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. commit to user 35 Penelitian ini menggunakan ukuran perusahaan sebagai variabel kontrol. Ukuran perusahaan biasanya dinyatakan dengan jumlah aset, pendapatan atau kewajiban perusahaan. Perusahaan yang mempunyai ukuran besar diindikasikan mempunyai sumberdaya yang besar dan akses untuk memperoleh sumberdaya yang luas sehingga mempunyai keleluasaan yang cukup untuk melakukan proses operasional dan pada akhirnya mampu menghasilkan kinerja perusahaan yang baik atau tinggi. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan dinyatakan dengan logaritma natural dari total aset perusahaan. Alasan penggunaan logaritma natural untuk total aset adalah bahwa untuk menghindari jumlah angka variabel yang berbeda secara ekstrem karena untuk ukuran menggunakan jumlah absolut rupiah sementara variabel lain menggunakan rasio. commit to user

BAB III METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan pengujian hipotesis hypothesis testing yang tujuan untuk mengetahui institutional ownership, board independence dan audit committee meeting frequency terhadap financial performance pada perusahaan manufaktur yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI. Menurut sekaran 2000, pengujian hipotesis harus dapat menjelaskan sifat dari hubungan tertentu, memahami perbedaan antar kelompok atau interdependenesi dua variabel atau lebih.

2. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi

Populasi merupakan kelompok orang, kejadian atau peristiwa yang menjadi perhatian para peneliti untuk diteliti Sekaran, 2003. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia BEI per tanggal 1 Januari 2007 sampai dengan 31 Desember 2008.

b. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian atau anggota dari populasi Sekaran, 2003. Sampel merupakan beberapa anggota yang diambil dari populasi. Sampel yang diteliti pada tahun 2007-2008 harus menyediakan data yang commit to user 37 dibutuhkan dalam penghitungan, pengukuran dan penilaian variabel. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode pengambilan anggota sampel ini menggunakan dasar beberapa kriteria sebagai berikut ini. 1 Perusahaan manufaktur yang telah go public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia per 1 Januari 2007 sampai dengan per 31 Desember 2008. 2 Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan tahunan untuk periode tahun 2007 dan 2008 yang tersedia pada www.idx.co.id ataupun website perusahaan. 3 Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan tahunan yang mencantumkan informasi dan data yang dibutuhkan dalam penelitian.

3. Data dan Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari pihak lain Sekaran, 2003. Alasan menggunakan data sekunder dengan pertimbangan bahwa data ini mudah untuk diperoleh dan memiliki waktu yang lebih luas. Data dalam penelitian ini diperoleh dari data publikasi laporan keuangan perusahaan yang menjadi sampel yaitu seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Adapun data berikut terdiri dari data berikut ini. a. Data perusahaan manufaktur yang listing di Bursa Efek Indonesia BEI pada tahun 2007 dan 2008. b. Laporan tahunan perusahaan pada tahun 2007 dan 2008. commit to user 38

4. Definisi dan Pengukuran Variabel

a. Variabel dependen Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan perusahaan financial performance yang diproksikan dengan return on equity ROE. ROE merupakan kemampuan perusahaan dengan dalam memperoleh laba atas jumlah ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. ROE dalam penelitian ini diformulakan dengan rumus seperti berikut ini. ROE = b. Variabel independen Variabel independen dalam penelitian ini terdiri dari: 1 Institutional Ownership Institutional ownership merupakan jumlah kepentingan atas saham perusahaan yang dimiliki oleh pemegang saham institusi. Variabel ini diukur dengan persentase kepemilikan saham institusi. Variabel ini diukur dengan formula seperti berikut ini. 2 Board independence Board independence merupakan anggota dewan komisaris yang berasal dari pihak luar atau independen. Variabel ini diukur dengan formula seperti berikut ini. Board independence = commit to user 39 3 Audit Committee Meeting Frequency Audit Committee Meeting Frequency merupakan jumlah rapat komite audit dalam satu periode. Variabel ini diukur dengan jumlah frekuensi rapat komite audit dalam satu periode akuntansi. c. Variabel kontrol Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan yang ditentukan dengan nilai logaritma natural atas total aset perusahaan. Ukuran perusahaan digunakan sebagai variabel kontrol didasarkan pada alasan bahwa perusahaan yang besar mempunyai sumber daya dan sumber dana yang lebih besar serta akses yang lebih leluasa di dalam perolehan dana. Dengan hal tersebut memungkinkan perusahaan besar untuk menciptakan operasional yang dan mecapai kinerja keuangan yang lebih baik dibanding dengan perusahaan kecil yang relatif terbatas baik dari segi sumber daya, sumber dana maupun akses perolehan dana.

5. Metode Analisis Data

1. Pengujian Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut ini.

a. Pengujian Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi dengan membagi model regresi, variabel pengganggu atau commit to user 40 residual memiliki distribusi normal Ghozali, 2005. Untuk menguji normalitas, peneliti akan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Jika nilai ρ value 0.05 maka data tersebut berdistribusi normal, jika ρ value 0.05 maka data tidak berdistribusi normal. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan asumsi central limit theorem yang menyatakan bahwa untuk sampel besar n 30 akan mendekati suatu distribusi normal Gujarati, 2003.

b. Pengujian Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas independen Ghozali, 2005. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara independen. Jika variabel independen saling korelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel sama dengan nol. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas di dalam model, peneliti akan melihat Tolerence dan Variance Infaltion Factors VIF dengan alat bantu program Statistical Product and Service Solution SPSS. Tolerence mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan variabel independen lainnya. Jadi nilai Tolerence yang rendah sama dengan nilai VIF yang tinggi karena VIF = 1Tolerence. Nilai cut off yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinieritas adalah nilai Tolerence 0.10 atau sama commit to user 41 dengan nilai VIF 10. Bila ternyata dalam model terdapat multikolinieritas, peneliti akan mengatasi hal tersebut dengan transformasi variabel. Transformasi variabel merupakan salah satu cara mengurangi hubungan linier di antara variabel independen. Transformasi dapat dilakukan dalam bentuk logaritma natural dan bentuk first difference atau delta Ghozali, 2005.

c. Pengujian Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t- 1 sebelumnya. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sam lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu time series karena “gangguan” pada individu atau kelompok yang sama pada periode berikutnya. Pada data cross section silang waktu, masalah autokorelasi relatif jarang terjadi karena gangguan pada observasi yang berbeda berasal dari individu atau kelompok yang berbeda. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi Ghozali, 2005. Untuk menguji ada tidaknya masalah autokorelasi, penelitian ini menggunakan alat statistik berupa run test dengan kriteria pengujian didasarkan pada nilai asymp sig. Apabila nilai asymp sig 5 maka dapat dinyatakan tidak terdapat commit to user 42 autokorelasi dan sebaliknya jika lebih kecil 5, maka terdapat autokorelasi dalam model regresi yang digunakan.

d. Pengujian Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Kebanyakan data cross section mengandung siatuasi heteroskedastisitas karena data ini menghimpun data yang mewakili berbagai ukuran kecil, sedang, atau besar Ghozali, 2005. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam model, peneliti akan menggunakan uji Glejser dengan bantuan program SPSS. Apabila koefisien parameter beta 0.05 maka tidak ada masalah heteroskedastisitas Ghozali, 2005. Jika ternyata dalam model terdapat heteroskedastisitas, maka cara memperbaiki dapat dilakukan dengan: a Melakukan transformasi dalam bentuk model regresi dengan membagi model regresi dengan salah satu variabel independen yang digunakan dalam model tersebut. b Melakukan transformasi logaritma.

2. Pengujian Hipotesis

commit to user 43 Sesuai dengan kerangka pemikiran dan pengajuan hipotesis di atas maka hipotesis akan diuji dengan persamaan regresi seperti berikut ini. Keterangan: FP = Financial performance β 0, = Konstanta β 1... β 4 = Koefisien regresi INSTT = Institutional ownership BOARD = Dewan komisaris independen FREQ = Frekuensi rapat komite audit LN_SIZE = Ukuran perusahaan ε i = Error term a Pengujian signifikansi-F Untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama atau simultan mempengaruhi variabel dependen, maka peneliti menggunakan uji pengaruh simultan dengan alat bantu program SPSS versi 16.0. Kriteria pengujiannya adalah seperti berikut ini. 1 H diterima dan H a ditolak, apabila nilai signifikansi lebih dari nilai alpha 0,05 berarti variabel independen secara FP = β + β 1 INSTT + β 2 BOARD + β 3 FREQ + β 4 LN_ SIZE + ε 1 commit to user 44 bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen atau dapat dikatakan bahwa model regresi tidak signifikan. 2 H ditolak dan H a diterima, yaitu apabila bila nilai signifikansi kurang dari nilai alpha 0,05 berarti variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen atau dapat dikatakan bahwa model regresi signifikan. b Pengujian Parameter Individual Uji signifikansi-t Uji signifikansi-t digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara parsial mempengaruhi variabel terikat dengan asumsi variabel independen lainnya konstan. Kriteria pengujiannya adalah seperti berikut ini. a H diterima dan H a ditolak yaitu apabila bila nilai signifikansi lebih dari nilai alpha 0,05 berarti variabel independen secara individual tidak berpengaruh terhadap variabel dependen. b H ditolak dan H a diterima yaitu apabila nilai signifikansi kurang dari nilai alpha 0,05 berarti variabel independen secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen. c Pengujian Ketepatan Perkiraan Uji R 2 commit to user 45 Pengujian ini untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Tingkat ketepatan regresi dinyatakan dalam koefisien determinasi majemuk R 2 yang nilainya antara 0 sampai dengan 1. Nilai yang mendekati 1 berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel independen. Jika dalam suatu model terdapat lebih dari dua variabel independen, maka lebih baik menggunakan nilai adjusted R 2 . commit to user 46

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Dokumen yang terkait

PENGARUH KARAKTERISTIK KOMITE AUDIT TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA.

0 2 26

PENGARUH INSTITUTIONAL OWNERSHIP, BOARD INDEPENDENCE DAN AUDIT COMMITTEE MEETING FREQUENCY TERHADAP Pengaruh Institutional Ownership, Board Independence Dan Audit Committee Meeting Frequency Terhadap Financial Performance Perusahaan Farmasi Yang Terdafta

0 3 14

PENDAHULUAN Pengaruh Institutional Ownership, Board Independence Dan Audit Committee Meeting Frequency Terhadap Financial Performance Perusahaan Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

0 2 7

DAFTAR PUSTAKA Pengaruh Institutional Ownership, Board Independence Dan Audit Committee Meeting Frequency Terhadap Financial Performance Perusahaan Farmasi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.

0 4 4

PENGARUH INSTITUTIONAL OWNERSHIP, BOARD INDEPENDENCE DAN AUDIT COMMITTEE MEETING FREQUENCY TERHADAP Pengaruh Institutional Ownership, Board Independence Dan Audit Committee Meeting Frequency Terhadap Financial Performance Perusahaan Farmasi Yang Terdafta

0 4 20

ANALISIS PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, INSIDER OWNERSHIP DAN OUTSIDER OWNERSHIP TERHADAP AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA.

0 2 101

ANALISIS PENGARUH BOARD SIZE, BOARD INDEPENDENCE, MANAGERIAL OWNERSHIP DAN INSTITUTIONAL OWNERSHIP TERHADAP DIVIDEND PAYOUT RATIO (STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2005 – 2011).

0 0 15

Independence of the Central Bank (1)

0 0 30

The aims of central bank independence

0 0 15

ANALISIS PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, INSIDER OWNERSHIP DAN OUTSIDER OWNERSHIP TERHADAP AUDIT DELAY PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

0 2 22