Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia

(1)

PERJANJIAN JUAL-BELI SEMEN ANDALAS DI PT LAFARGE CEMENT INDONESIA

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

DILA KRISTY SITEPU NIM : 090200222

DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

PERJANJIAN JUAL BELI SEMEN ANDALAS DI PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh :

DILA KRISTY SITEPU NIM : 090200222

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Dr.H. Hasim Purba, SH., M.Hum NIP. 19660303 198508 1 001

Pembimbing I Pembimbing II

Dr.H. Hasim Purba, SH., M.Hum Rosnidar Sembiring, SH.,M.Hum NIP. 19660303 198508 1 001 NIP, 19660201991032002

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia”.

Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat wajib untuk meraih gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini disebabkan karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan ilmiah Penulis, untuk itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun di masa yang akan datang.Penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :

1. Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, MH, selaku Pembantu Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

3. Bapak Syafrudin Hasibuan, SH, MH.DFM, selaku Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

4. Bapak M. Husni, SH, M.Hum, selaku Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

5. Bapak Dr.H. Hasim Purba, SH, M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Perdata, sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah berkenan berbagi ilmu dengan Penulis.


(4)

6. Ibu Rosnidar Sembiring, SH, M.Hum, selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu, tenaga serta ilmu kepada Penulis. Penulis sangat terkesan dengan keakraban yang Ibu berikan kepada Penulis.

7. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar yang telah mengajar dan membimbing serta memberikan ilmu pengetahuan kepada Penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

8. Seluruh Staf Tata Usaha dan Staf Administrasi Perpustakaan serta para pegawai di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

9. Penulis sangat berterima kasih kepada orang tua Penulis yang selalu menjadi sumber inspirasi dan kekuatan Penulis, Ayahanda J. Sitepu, SH dan Ibunda A. Susanti. Terima kasih atas kasih sayang, doa, perhatian dan dukungan papa dan mama kepada Penulis. Kepada kakak-kakak Penulis, Dina Kristina Sitepu, Dika Kristanti Sitepu dan adik penulis Dita Aginta Sitepu atas doa, motivasi, dan kasih sayangnya kepada Penulis. Semoga selalu ada cinta di tengah keluarga kita. Skripsi ini Penulis persembahkan buat kalian semua, semoga Allah SWT memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Amin

10.Kepada Sahabat-sahabat seperjuangan Penulis sebelum penulis memasuki bangku perkuliahan sampai sekarang : Ditha Nutami Anjayani , Yulis Kartika, Tira Elwiansyah , Julinda Hutabarat

11.Buat teman-teman penulis dibangku perkuliahan yang selalu menyemangati penulis dan juga bertarung bersama dalam mengerjakan skripsi : Sari Ramadhani Lubis, Amanda Nandatama, Febrina Sari


(5)

kacaribu, Putri Arini, Melani Sabrina K. Sitepu, Arini Wulandari, Novira Sembiring, Windha Auliana Yusra

12.Buat lelaki cerewet : Yudistira Frandana, M. Iqbal, M. Andry Fauzan Lubis, Dirgan Segara, Raja Karsitok Purba, Mulkan Balya dan seluruh teman-teman group A stambuk 2009 yang tidak bisa penulis ucapkan satu per satu

13.Buat teman-teman penulis Anggi, Windy Widya Utami, Friska Messelina, Martina Indah Amalia,

14.Buat teman-teman di PEMA periode 2012-2013

15.Buat anak-anak IMKA (Ikatan Mahasiswa Karo) Fakultas Hukum USU, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan KOHATI (Korps HmI Wati) 16.Buat teman-teman IMP stambuk 2009 dan juga buat

17.Rekan-rekan Penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum USU stambuk 2009 yang tidak mungkin Penulis sebutkan satu per satu. 18.Berbagai pihak yang telah memberikan doa dan dukungan kepada Penulis

selama ini yang juga tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu yang berperan dalam penulisan skripsi ini penulis mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya


(6)

Akhir kata, Penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi kita semua dan semoga Allah Swt melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin.

Medan, Maret 2013


(7)

DAFTAR ISI Halaman Judul...i Halaman Pengesahan...ii Kata Pengantar...iii Daftar Isi...vii Abstrak...ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. ... 1

B. Permasalahan...9

C. Tujuan Penulisan ...9

D. Manfaat Penulisan ...10

E. Keaslian Penulisan ... .10

F. Metode Penelitian. ... .11

G. Sistematika Penulisan. ... .12

BAB II PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA A. Pengertian Perjanjian Jual Beli ...15

B. Syarat Sahnya Perjanjian Jual Beli ...18

C. Asas-asas Hukum Dalam Suatu Perjanjian Jual Beli ...27

D. Sifat-sifat dan Cara Penyerahan Objek Perjanjian Jual Beli. ...30

BAB III TINJAUAN UMUM MENGENAI PT LAFARGE CEMENT INDONESIA A. Pengertian Perseroan Terbatas dan Dasar Hukumnya ...36

B. Latar Belakang didirikannya PT. Lafarge Cement Indonesia.. ...49

C. Kedudukan Hukum PT. Lafarge Cement Indonesia Sebagai Penjual. ... 53

BAB IV PERJANJIAN JUAL BELI SEMEN ANDALAS DI PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA A. Pengaturan Pelaksanaan Penjualan Semen Andalas di ... PT. Lafarge Cement Indonesia. ... .58

B. Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak yang Melakukan ... Perjanjian Jual Beli Semen Andalas... .64

C. Sengketa Yang Timbul Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas. ...68

D. Penyelesaian Sengketa Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas Antara PT. Lafarge Cement Indonesia dengan Distributor ...72


(8)

BAB VKESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan. ...76 B. Saran. ... .78 DAFTAR PUSTAKA


(9)

ABSTRAK Dila Kristy Sitepu*)

Dr. H. Hasim Purba, SH., M.Hum**) Rosnidar Sembiring, SH., M.Hum***)

Peran semen sangat vital bagi kehidupan manusia karena hampir sebagian besar bahan yang dipakai dalam pembangunan infrastruktur dan properti didunia adalah semen. PT lafarge merupakan salah satu perusahaan yang berperan sebagai produsen sekaligus penjual semen. Dalam skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Pengaturan pelaksanaan penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia, perlindungan hukum terhadap para pihak yang melakukan perjanjian Jual Beli Semen Andalas, Permasalahan Yang Timbul Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas, penyelesaian sengketa dalam perjanjian jual beli Semen Andalas Antara PT. Lafarge Cement Indonesia dengan distributor. Berdasarkan judul skripsi ini maka penelitian dilakukan di kantor PT Lafarge Cement Indonesia yang berada di Medan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan penelitian hukum normatif dan yuridis empiris yaitu suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan dengan terlebih dahulu menggunakan dan meneliti data sekunder yang ada kemudian dilanjutkan dengan penelitian primer dilapangan yang didapatkan dengan cara wawancara dengan pihak PT Lafarge Cement Indonesia

Bentuk Perjanjian yang dilakukan oleh Pihak PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor adalah perjanjian baku dimana pihak PT Lafarge Cement Indonesia membuat isi perjanjian yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh pihak distributor. Kewajiban pihak distributor yaitu membayar semen yang telah dipesan sesuai dengan harga yang telah ditentukan dan kewajiban PT Lafarge Cement Indonesia adalah menyediakan semen yang telah dipesan oleh distributor. Penyelesaian sengketa yang terjadi diantara kedua belah pihak diselesaikan secara musyawarah untuk mencapai kata mufakat, namun apabila dengan musyawarah tidak mencapai perdamaian maka perselisihan diselesaikan di pengadilan.

Kata Kunci : Perjanjian Jual Beli, Perseroan terbatas *) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara **) Dosen Pembimbing I


(10)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Negara Indonesia memiliki keuntungan dengan melimpahnya sumber daya alam yang berada di atas tanahnya, hal ini juga dipengaruhi karena Indonesia dilalui oleh dua jalur lempeng , yaitu lempeng asia dan lempeng pasifik dan dua jalur gunung api aktif didunia yaitu sirkum mediterania dan sirkum positif membuat Indonesia dipenuhi lahan-lahan subur akibat bentukan alam dan vulkanisasi yang terus terjadi hingga kini. Banyak ditemukan batuan kapur dan gamping, dimana batuan tersebut merupakan bahan mentah pembuatan semen.

Semen adalah bahan perekat yang mampu mempersatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang mempunyai fungsi sebagai bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian yang kompak.1 Dalam pengertian yang luas , semen adalah material plastis yang memberikan sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan. Peran semen sangat vital bagi kehidupan manusia karena hampir sebagian besar bahan yang dipakai dalam pembangunan infrastruktur dan properti didunia adalah semen.2

Semen dipakai masyarakat untuk membuat rumah, bangunan ataupun infrastruktur. Masyarakat membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal mereka. Rumah merupakan kebutuhan primer bagi manusia, rumah melindungi mereka dari panasnya sengatan matahari, dari hujan, dari serangan hewan buas, dan

1

http://prospecindonesia.com/tag/fungsi-semen/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013

2

http://prospecindonesia.com/tag/bahan-bangunan/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013


(11)

lainnya dari kondisi alam yang selamanya tidak menguntungkan. Rumah tersebut dibangun dengan unsur semen didalamnya. Infrastruktur juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya stabilisasi makro ekonomi, yaitu berkelanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit dan pengaruhnya terhadap pasar tenaga kerja.3

Dengan memilih semen yang berkualitas maka akan mempengaruhi terhadap pembangunan infrastruktur tersebut dalam hal jangka waktu dan proses pembuatan yang dilakukan oleh para kontraktor. Banyaknya minat masyarakat terhadap semen membuat sejumlah perusahaan penghasil semen bersaing untuk membuat semen yang berkualitas agar masyarakat percaya untuk memakai semen yang dihasilkan oleh perusahaan semen tersebut. Salah satu perusahaan swasta yang berperan sebagai produsen semen adalah PT Lafarge Cement Indonesia yang dahulu bernama PT Semen Andalas Indonesia.

PT Lafarge Cement Indonesia adalah sebuah perusahaan penanaman modal asing (PMA) didirikan pada 11 April 1980 dan mengalami rekonstruksi pada tahun 2010 pasca tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Pendirian PT lafarge Cement Andalas ditandai dengan dimulainya pembangunan pabrik semen terpadu di Lhoknga – Aceh Besar, dan resmi beroperasi pada 2 Agustus

3


(12)

1983 berkantor pusat di The Royal Condominium Lantai 2 Tower A, Jalan Palang Merah/Suka Mulia No.1 Medan 20151.4

PT Lafarge Cement Indonesia berperan sebagai produsen semen, PT Lafarge Cement Indonesia memproduksi lebih dari 17 ton merek semen berkualitas, salah satu produk PT Lafarge Cement Indonesia yang terkemuka adalah Semen Andalas5. Selain memproduksi semen yang berkualitas, PT Lafarge Cement Indonesia juga berperan sebagai penjual. PT Lafarge Cement Indonesia menjual Semen Andalas kepada distributor kemudian distributor dapat menyalurkan semen secara langsung kepada konsumen (end-user) atau melalui subdistributor atau pengecer.

PT Lafarge Cement Indonesia menyediakan terminal-terminal di daerah-daerah kawasan Sumatera sebagai tempat pengambilan semen oleh distributor yang telah memesan kepada PT Lafarge Cement Indonesia. Pemesanan terjadi antara PT Lafarge Cement Indonesia dengan distributor apabila telah dilakukannya kesepakatan mengenai perjanjian jual beli.

Dalam hal distributor dapat menyalurkan langsung kepada konsumen (end-user) atau melalui sub-distributor dan pengecer tetapi pihak PT Lafarge Cement Indonesia tidak memiliki hubungan, tidak mengawasi dan/atau tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan para sub-distributor atau penegecer tersebut.6 Distributor adalah suatu perseroan terbatas atau persekutuan komanditer/perdata yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan

4

www.lafarge.com, diakses pada tanggal 30 Februari 2013

5

Hasil wawancara dengan Sales Manager PT Lafarge Cement Indonesia, Bapak Hadi, Tanggal 2 Maret 2013

6


(13)

Republik Indonesia dan mempunyai kewenangan korporasi dan hukum yang penuh untuk membeli semen serta memberikan bank garansi.7

Perjanjian Jual beli yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia akan timbul hak dan kewajiban masing-masing pihak dan dituangkan dalam akta perjanjian jual beli yang mengikat bagi kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian. Pihak-pihak yang mengadakan perjanjian diharuskan untuk melaksanakan kewajiban yang sudah menjadi tanggungannya. Apabila salah satu pihak tidak dapat atau lalai melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya, maka pihak yang lain dapat menuntut atas kesalahannya.8

Bagi pihak penjual ada dua kewajiban utama yaitu :9 a. menyerahkan hak milik atas barang yang diperjual-belikan b. menanggung kenikmatan tenteram atas barang tersebut dan menanggung terhadap cacat-cacat yang tersembunyi

Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat sebagaimana ditetapkan menurut perjanjian.10 Harga barang yang dijual harus benar-benar harga yang sepadan dengan nilai yang sesungguhnya. Kesepadanan antara harga dengan barang sangat perlu untuk dapat melihat hakekat persetujuan yang diperbuat dalam konkreto.11 Kesepadanan antara harga dengan nilai barang memang bukan merupakan syarat sahnya suatu persetujuan jual beli. Akan tetapi kesepadanan harga ini dapat kita kembalikan kepada tujuan jual beli itu sendiri. Harga yang pantas dan sepadan baiknya ditentukan oleh

7

Surat perjanjian distribusi No. 024-30COMLOG11

8

M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Per janjian, Alumni, Bandung, 1986, hal. 106

9

R.Subekti, Aneka Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hal.8

10

Ibid, hal.20

11


(14)

kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Jika diantara penjual dan pembeli tidak terdapat kesepakatan tentang harga yang pantas, kedua belah pihak dapat menyerahkan penentuan harga kepada pihak ketiga.12

Menurut Pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata “Jika si pembeli tidak membayar harga pembelian, maka itu merupakan suatu wanprestasi yang memberikan alasan kepada si penjual untuk menuntut ganti rugi atau pembatalan-pembatalan pembelian’.13

Hukum Perjanjian jual-beli diatur pada Pasal 1457-1540 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Di dalam pasal-pasal tersebut dijelaskan bahwa perjanjian jual beli memiliki kedudukan antara si penjual dengan si pembeli tersebut merupakan jenis perjanjian timbal balik yang melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi jenis perjanjian yang mereka buat.14 kebebasan dalam membuat suatu perjanjian itu akan menjadi berbeda bila dilakukan dalam lingkup yang lebih luas yang melibatkan para pihak dari negara dengan sistem hukum yang berbeda. Masing-masing negara memiliki ketentuan tersendiri yang bisa jadi berbeda satu dengan lainnya.15 Perbedaan tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jenis perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang

12

M. Yahya Harahap, Loc.Cit

13

R.Subekti, Op.Cit, hal.24

14Ibid

, hal. 190

15

H.M.N.Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 2003, hal.7


(15)

berasal dari dua negara yang berbeda tersebut karena apa yang diperbolehkan oleh suatu sistem hukum negara tertentu ternyata dilarang oleh sistem hukum negara lainnya. Menurut Pasal 1458 Kitab Undang-undang Hukum Perdata diatur pula mengenai saat terjadinya jual beli, yaitu :”Jual beli itu dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelah orang-orang ini mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya, meskipun kebendaan itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”.16

Hal yang pokok dalam suatu perjanjian jual beli adalah adanya kata sepakat (kesepakatan) diantara pihak-pihak yaitu penjual dan pembeli mengenai barang dan harganya serta hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut. Dengan adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli maka suatu perjanjian telah lahir dengan sah walaupun barang belum dibayar dan diserahkan.17 Didalam perjanjian jual beli Semen Andalas, distributor wajib menyerah Jaminan Tunai Distributor (Distributor Security Guarantee) sebesar yang diperjanjikan untuk menjadi distributor PT Lafarge Cement Indonesia.

Mengenai ongkos penyerahan barang yang dijual diatur didalam Pasal 1476 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu :18

a. ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual

b. biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli

Namun didalam perjanjian jual beli yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan distributor dapat mengatur lain, diluar ketentuan diatas,

16

R.Subekti,Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 1990, hal.305

17

Catatan Mata Kuliah Hukum Kontrak Dagang pada tanggal 1 Februari 2012

18


(16)

karena pasal itu sendiri ada menegaskan, ketentuan pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud pasal 1476 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tadi berlaku, sepanjang para pihak penjual dan pembeli tidak memperjanjikan lain. Menurut Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi : “Perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu, yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh keadilan atau undang-undang”. Dengan ini, maka jelas syarat-syarat dan kebiasaan yang berlaku pada jual beli perusahaan mempunyai dasar hukumnya dalam pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, termasuk dalam pengertian “keadilan dan kebiasaan”, sebagai dimaksud dalam Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut.19

Perjanjian jual beli yang dibuat oleh PT lafarge Cement Indonesia dengan distributor bersifat perjanjian baku atau perjanjian standart.20 Dimana PT Lafarge Cement Indonesia telah mempersiapkan blangko dan formulir ataupun telah memberikan ketentuan-ketentuan tertentu dalam hubungan dengan para distributornya. Perjanjian jual beli dalam bentuk akta otentik atau akta notaris, tidak jarang syarat perjanjian telah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak PT Lafarge Cement Indonesia sehingga isi perjanjian jual beli dalam bentuk inipun dapat dikatakan merupakan suatu perjanjian baku, dengan klausula baku pula.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti perjanjian jual beli Semen Andalas yang dilakukan antara PT lafarge Cement Indonesia dengan distributor, apalagi banyak masyarakat yang membutuhkan semen untuk

19

H.M.N. Purwosutjipto, Op.Cit, hal.8

20

Hasil wawancara dengan Sales manager PT Lafarge Cement Indonesia Bapak Hadi Tanggal 2 Maret 2013


(17)

keperluannya masing-masing, kemudian mereka terlibat sebagai distributor dan untuk melakukan perjanjian jual beli tersebut mereka harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan PT Lafarge Cement Indonesia untuk menjadi distributor dan melakukan perjanjian memakai suatu perjanjian baku, dimana pihak-pihak yang melakukan perjanjian harus tunduk terhadap perjanjian baku yang dibuat oleh pihak PT Lafarge Cement Indonesia tanpa campur tangan pihak distributor, pihak distributor hanya mengikuti isi dari perjanjian tersebut. Didalam Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Sudah tentu hal ini tidak bertentangan dengan hukum memaksa (dwingenrecht) karena suatu perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan “hukum memaksa” adalah batal.21

Penulisan karya ilmiah ini juga menyajikan pengetahuan perjanjian jual beli khususnya mengenai perjanjian jual beli pada PT Lafarge Cement Indonesia. Penulis akan membahasnya dalam sebuah penulisan skripsi dengan judul : “Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia.” Penulis juga sangat mengharapkan agar skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis pribadi dan masyarakat.

21


(18)

B. Permasalahan

Dari uraian latar belakang masalah yang telah penulis paparkan di atas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengaturan Pelaksanaan Penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia ?

2. Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak yang Melakukan Perjanjian Jual Beli Semen Andalas ?

3. Apa Saja Sengketa Yang Timbul di Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas dan Bagaimana Cara Penyelesaiannya?

C. Tujuan Penulisan

Disamping untuk melengkapi dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, Sesuai dengan masalah yang dibahas, tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan memahami mekanisme penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia

2. Mengetahui jaminan hukum yang melindungi para pihak yang melakukan perjanjian jual beli Semen Andalas

3. Mengetahui jenis sengketa para pihak yang timbul dalam perjanjian jual beli Semen Andalas dan cara penyelesaian sengketa tersebut


(19)

D. Manfaat Penulisan

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis :

a. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan saran dalam ilmu pengetahuan hukum , khususnya mengenai hubungan hukum para pihak dalam perjanjian jual beli dan dapat dijadikan bahan kajian ataupun referensi bagi perpustakaan Fakultas Hukum USU dan memberikan manfaat bagi dunia perguruan tinggi.

b. Secara praktis, penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat kepada masyarakat umum khususnya kepada pihak yang terkait dalam pelaksanaan perjanjian jual beli dan juga bermanfaat kepada mahasiswa yang ingin lebih mengetahui mengenai hubungan hukum para pihak dalam perjanjian jual beli khususnya jual beli Semen Andalas.

E. Keaslian Penulisan

Penulis telah menelusuri seluruh daftar skripsi di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan arsip yang ada di Departemen Hukum Perdata, akan tetapi penulis tidak menemukan adanya kesamaan judul ataupun permasalahan dengan judul dan permasalahan yang penulis angkat yaitu tentang “PERJANJIAN JUAL BELI SEMEN ANDALAS DI PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA”. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan buah karya asli penulis


(20)

yang disusun berdasarkan dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan ilmiah.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa skripsi yang penulis susun ini merupakan karya asli penulis dan tidak meniru dari kepunyaan orang lain. Penulis berani bertanggung jawab apabila ditemukan adanya kesamaan judul dan permasalahan skripsi penulis dengan skripsi yang sebelumnya yang terdapat di perpustakaan Departemen Hukum Perdata.

F. Metode Penulisan

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk mendukung isi skripsi ini adalah :

1. Libra ry Resea rch atau penelitian kepustakaan

Yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap data-data yang diperoleh dari literatur, catatan kuliah, kliping, majalah-majalah ilmiah yang ada kaitannya dengan skripsi ini dan digunakan sebagai rujukan dalam pembahasan skripsi ini untuk memperkuat dalil dan fakta penelitian.

2. Field Resea rch atau penelitian Lapangan

Yaitu dengan melakukan pendekatan-pendekatan langsung pada sumber yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini adalah PT Lafarge Cement Indonesia.

Dalam metode penelitian lapangan ini penulis melakukan : a. Pengamatan atau observasi:


(21)

yakni dengan mengadakan pengamatan secara langsung dan terjun secara nyata dalam objek penelitian

b. Wawancara atau interview:

yakni mewawancarai secara langsung pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan perjanjian jual beli semen khususnya pihak PT Lafarge Cement Indonesia yang berada di Medan.

Dengan mempergunakan metode tersebut diatas, diharapkan penulisan skripsi ini akan mencapai hasil yang semaksimal mungkin.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah :

BAB I : Pendahuluan

Pendahuluan merupakan pengantar. Didalamnya termuat mengenai gambaran umum tentang penulisan skripsi yang terdiri dari latar belakang penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan.


(22)

BAB II : Perjanjian Jual Beli Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Didalam Bab ini penulis mencoba menguraikan mengenai tinjauan umum mengenai Perjanjian Jual Beli menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Penulis mengawalinya dengan membahas tentang Pengertian Perjanjian Jual Beli, Syarat Sahnya Perjanjian Jual Beli, Asas-asas Hukum Dalam Suatu Perjanjian Jual Beli, Sifat-sifat dan Cara Penyerahan Objek Perjanjian Jual Beli

BAB III : Tinjauan Umum Mengenai PT Lafarge Cement Indonesia

Dalam bab ini penulis membahas mengenai PT. Lafarge Cement Indonesia itu sendiri yang diawali dengan membahas pengertian perseroan terbatas dan dasar hukumnya terlebih dahulu kemudian membahas latar belakang didirikannya PT Lafarge Cement Indonesia dan Kedudukan Hukum PT Lafarge Cement Indonesia sebagai penjual

BAB IV : Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia

Dalam bab ini akan dilakukan analisa terhadap Pengaturan Penjualan Semen Andalas yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan Pihak Distributor dengan menguraikan pengaturan pelaksanaan jual beli semen, perlindungan hukum terhadap para pihak yang melakukan perjanjian jual beli Semen


(23)

Andalas, permasalahan yang timbul dari perjanjian jual beli Semen Andalas, penyelesaian sengketa dalam perjanjian jual beli Semen Andalas antara PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini merupakan bagian terakhir dari penulisan skripsi ini. Bab ini berisi kesimpulan dari permasalahan pokok dari keseluruhan. Kesimpulan bukan merupakan rangkuman ataupun ikhtisar. Saran merupakan upaya yang diusulkan agar hal-hal yang dikemukakan dalam pembahasan permasalahan dapat lebih berhasil guna berdaya guna.


(24)

ABSTRAK Dila Kristy Sitepu*)

Dr. H. Hasim Purba, SH., M.Hum**) Rosnidar Sembiring, SH., M.Hum***)

Peran semen sangat vital bagi kehidupan manusia karena hampir sebagian besar bahan yang dipakai dalam pembangunan infrastruktur dan properti didunia adalah semen. PT lafarge merupakan salah satu perusahaan yang berperan sebagai produsen sekaligus penjual semen. Dalam skripsi ini yang menjadi permasalahan adalah Pengaturan pelaksanaan penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia, perlindungan hukum terhadap para pihak yang melakukan perjanjian Jual Beli Semen Andalas, Permasalahan Yang Timbul Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas, penyelesaian sengketa dalam perjanjian jual beli Semen Andalas Antara PT. Lafarge Cement Indonesia dengan distributor. Berdasarkan judul skripsi ini maka penelitian dilakukan di kantor PT Lafarge Cement Indonesia yang berada di Medan.

Untuk menjawab permasalahan tersebut maka penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan penelitian hukum normatif dan yuridis empiris yaitu suatu cara atau prosedur yang digunakan untuk memecahkan dengan terlebih dahulu menggunakan dan meneliti data sekunder yang ada kemudian dilanjutkan dengan penelitian primer dilapangan yang didapatkan dengan cara wawancara dengan pihak PT Lafarge Cement Indonesia

Bentuk Perjanjian yang dilakukan oleh Pihak PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor adalah perjanjian baku dimana pihak PT Lafarge Cement Indonesia membuat isi perjanjian yang dibuat secara tertulis dan ditandatangani oleh pihak distributor. Kewajiban pihak distributor yaitu membayar semen yang telah dipesan sesuai dengan harga yang telah ditentukan dan kewajiban PT Lafarge Cement Indonesia adalah menyediakan semen yang telah dipesan oleh distributor. Penyelesaian sengketa yang terjadi diantara kedua belah pihak diselesaikan secara musyawarah untuk mencapai kata mufakat, namun apabila dengan musyawarah tidak mencapai perdamaian maka perselisihan diselesaikan di pengadilan.

Kata Kunci : Perjanjian Jual Beli, Perseroan terbatas *) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara **) Dosen Pembimbing I


(25)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Negara Indonesia memiliki keuntungan dengan melimpahnya sumber daya alam yang berada di atas tanahnya, hal ini juga dipengaruhi karena Indonesia dilalui oleh dua jalur lempeng , yaitu lempeng asia dan lempeng pasifik dan dua jalur gunung api aktif didunia yaitu sirkum mediterania dan sirkum positif membuat Indonesia dipenuhi lahan-lahan subur akibat bentukan alam dan vulkanisasi yang terus terjadi hingga kini. Banyak ditemukan batuan kapur dan gamping, dimana batuan tersebut merupakan bahan mentah pembuatan semen.

Semen adalah bahan perekat yang mampu mempersatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang mempunyai fungsi sebagai bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian yang kompak.1 Dalam pengertian yang luas , semen adalah material plastis yang memberikan sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan. Peran semen sangat vital bagi kehidupan manusia karena hampir sebagian besar bahan yang dipakai dalam pembangunan infrastruktur dan properti didunia adalah semen.2

Semen dipakai masyarakat untuk membuat rumah, bangunan ataupun infrastruktur. Masyarakat membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal mereka. Rumah merupakan kebutuhan primer bagi manusia, rumah melindungi mereka dari panasnya sengatan matahari, dari hujan, dari serangan hewan buas, dan

1

http://prospecindonesia.com/tag/fungsi-semen/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013

2

http://prospecindonesia.com/tag/bahan-bangunan/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013


(26)

lainnya dari kondisi alam yang selamanya tidak menguntungkan. Rumah tersebut dibangun dengan unsur semen didalamnya. Infrastruktur juga berpengaruh penting bagi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan manusia dalam peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktivitas tenaga kerja dan akses kepada lapangan kerja, serta peningkatan kemakmuran nyata dan terwujudnya stabilisasi makro ekonomi, yaitu berkelanjutan fiskal, berkembangnya pasar kredit dan pengaruhnya terhadap pasar tenaga kerja.3

Dengan memilih semen yang berkualitas maka akan mempengaruhi terhadap pembangunan infrastruktur tersebut dalam hal jangka waktu dan proses pembuatan yang dilakukan oleh para kontraktor. Banyaknya minat masyarakat terhadap semen membuat sejumlah perusahaan penghasil semen bersaing untuk membuat semen yang berkualitas agar masyarakat percaya untuk memakai semen yang dihasilkan oleh perusahaan semen tersebut. Salah satu perusahaan swasta yang berperan sebagai produsen semen adalah PT Lafarge Cement Indonesia yang dahulu bernama PT Semen Andalas Indonesia.

PT Lafarge Cement Indonesia adalah sebuah perusahaan penanaman modal asing (PMA) didirikan pada 11 April 1980 dan mengalami rekonstruksi pada tahun 2010 pasca tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Pendirian PT lafarge Cement Andalas ditandai dengan dimulainya pembangunan pabrik semen terpadu di Lhoknga – Aceh Besar, dan resmi beroperasi pada 2 Agustus

3


(27)

1983 berkantor pusat di The Royal Condominium Lantai 2 Tower A, Jalan Palang Merah/Suka Mulia No.1 Medan 20151.4

PT Lafarge Cement Indonesia berperan sebagai produsen semen, PT Lafarge Cement Indonesia memproduksi lebih dari 17 ton merek semen berkualitas, salah satu produk PT Lafarge Cement Indonesia yang terkemuka adalah Semen Andalas5. Selain memproduksi semen yang berkualitas, PT Lafarge Cement Indonesia juga berperan sebagai penjual. PT Lafarge Cement Indonesia menjual Semen Andalas kepada distributor kemudian distributor dapat menyalurkan semen secara langsung kepada konsumen (end-user) atau melalui subdistributor atau pengecer.

PT Lafarge Cement Indonesia menyediakan terminal-terminal di daerah-daerah kawasan Sumatera sebagai tempat pengambilan semen oleh distributor yang telah memesan kepada PT Lafarge Cement Indonesia. Pemesanan terjadi antara PT Lafarge Cement Indonesia dengan distributor apabila telah dilakukannya kesepakatan mengenai perjanjian jual beli.

Dalam hal distributor dapat menyalurkan langsung kepada konsumen (end-user) atau melalui sub-distributor dan pengecer tetapi pihak PT Lafarge Cement Indonesia tidak memiliki hubungan, tidak mengawasi dan/atau tidak berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan para sub-distributor atau penegecer tersebut.6 Distributor adalah suatu perseroan terbatas atau persekutuan komanditer/perdata yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan

4

www.lafarge.com, diakses pada tanggal 30 Februari 2013

5

Hasil wawancara dengan Sales Manager PT Lafarge Cement Indonesia, Bapak Hadi, Tanggal 2 Maret 2013

6


(28)

Republik Indonesia dan mempunyai kewenangan korporasi dan hukum yang penuh untuk membeli semen serta memberikan bank garansi.7

Perjanjian Jual beli yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia akan timbul hak dan kewajiban masing-masing pihak dan dituangkan dalam akta perjanjian jual beli yang mengikat bagi kedua belah pihak yang mengadakan perjanjian. Pihak-pihak yang mengadakan perjanjian diharuskan untuk melaksanakan kewajiban yang sudah menjadi tanggungannya. Apabila salah satu pihak tidak dapat atau lalai melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya, maka pihak yang lain dapat menuntut atas kesalahannya.8

Bagi pihak penjual ada dua kewajiban utama yaitu :9 a. menyerahkan hak milik atas barang yang diperjual-belikan b. menanggung kenikmatan tenteram atas barang tersebut dan menanggung terhadap cacat-cacat yang tersembunyi

Kewajiban utama si pembeli ialah membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat sebagaimana ditetapkan menurut perjanjian.10 Harga barang yang dijual harus benar-benar harga yang sepadan dengan nilai yang sesungguhnya. Kesepadanan antara harga dengan barang sangat perlu untuk dapat melihat hakekat persetujuan yang diperbuat dalam konkreto.11 Kesepadanan antara harga dengan nilai barang memang bukan merupakan syarat sahnya suatu persetujuan jual beli. Akan tetapi kesepadanan harga ini dapat kita kembalikan kepada tujuan jual beli itu sendiri. Harga yang pantas dan sepadan baiknya ditentukan oleh

7

Surat perjanjian distribusi No. 024-30COMLOG11

8

M.Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Per janjian, Alumni, Bandung, 1986, hal. 106

9

R.Subekti, Aneka Perjanjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hal.8

10

Ibid, hal.20

11


(29)

kedua belah pihak yaitu penjual dan pembeli. Jika diantara penjual dan pembeli tidak terdapat kesepakatan tentang harga yang pantas, kedua belah pihak dapat menyerahkan penentuan harga kepada pihak ketiga.12

Menurut Pasal 1266 dan 1267 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata “Jika si pembeli tidak membayar harga pembelian, maka itu merupakan suatu wanprestasi yang memberikan alasan kepada si penjual untuk menuntut ganti rugi atau pembatalan-pembatalan pembelian’.13

Hukum Perjanjian jual-beli diatur pada Pasal 1457-1540 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Di dalam pasal-pasal tersebut dijelaskan bahwa perjanjian jual beli memiliki kedudukan antara si penjual dengan si pembeli tersebut merupakan jenis perjanjian timbal balik yang melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Kedua belah pihak yang membuat perjanjian jual-beli masing-masing memiliki hak dan kewajiban untuk melaksanakan isi perjanjian yang mereka buat. Sebagaimana umumnya, perjanjian merupakan suatu lembaga hukum yang berdasarkan asas kebebasan berkontrak dimana para pihak bebas untuk menentukan bentuk dan isi jenis perjanjian yang mereka buat.14 kebebasan dalam membuat suatu perjanjian itu akan menjadi berbeda bila dilakukan dalam lingkup yang lebih luas yang melibatkan para pihak dari negara dengan sistem hukum yang berbeda. Masing-masing negara memiliki ketentuan tersendiri yang bisa jadi berbeda satu dengan lainnya.15 Perbedaan tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk dan jenis perjanjian yang dibuat oleh para pihak yang

12

M. Yahya Harahap, Loc.Cit

13

R.Subekti, Op.Cit, hal.24

14Ibid

, hal. 190

15

H.M.N.Purwosutjipto, Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Djambatan, Jakarta, 2003, hal.7


(30)

berasal dari dua negara yang berbeda tersebut karena apa yang diperbolehkan oleh suatu sistem hukum negara tertentu ternyata dilarang oleh sistem hukum negara lainnya. Menurut Pasal 1458 Kitab Undang-undang Hukum Perdata diatur pula mengenai saat terjadinya jual beli, yaitu :”Jual beli itu dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelah orang-orang ini mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya, meskipun kebendaan itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”.16

Hal yang pokok dalam suatu perjanjian jual beli adalah adanya kata sepakat (kesepakatan) diantara pihak-pihak yaitu penjual dan pembeli mengenai barang dan harganya serta hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian tersebut. Dengan adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli maka suatu perjanjian telah lahir dengan sah walaupun barang belum dibayar dan diserahkan.17 Didalam perjanjian jual beli Semen Andalas, distributor wajib menyerah Jaminan Tunai Distributor (Distributor Security Guarantee) sebesar yang diperjanjikan untuk menjadi distributor PT Lafarge Cement Indonesia.

Mengenai ongkos penyerahan barang yang dijual diatur didalam Pasal 1476 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yaitu :18

a. ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual

b. biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli

Namun didalam perjanjian jual beli yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan distributor dapat mengatur lain, diluar ketentuan diatas,

16

R.Subekti,Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta, 1990, hal.305

17

Catatan Mata Kuliah Hukum Kontrak Dagang pada tanggal 1 Februari 2012

18


(31)

karena pasal itu sendiri ada menegaskan, ketentuan pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud pasal 1476 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tadi berlaku, sepanjang para pihak penjual dan pembeli tidak memperjanjikan lain. Menurut Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi : “Perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu, yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh keadilan atau undang-undang”. Dengan ini, maka jelas syarat-syarat dan kebiasaan yang berlaku pada jual beli perusahaan mempunyai dasar hukumnya dalam pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, termasuk dalam pengertian “keadilan dan kebiasaan”, sebagai dimaksud dalam Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut.19

Perjanjian jual beli yang dibuat oleh PT lafarge Cement Indonesia dengan distributor bersifat perjanjian baku atau perjanjian standart.20 Dimana PT Lafarge Cement Indonesia telah mempersiapkan blangko dan formulir ataupun telah memberikan ketentuan-ketentuan tertentu dalam hubungan dengan para distributornya. Perjanjian jual beli dalam bentuk akta otentik atau akta notaris, tidak jarang syarat perjanjian telah ditentukan terlebih dahulu oleh pihak PT Lafarge Cement Indonesia sehingga isi perjanjian jual beli dalam bentuk inipun dapat dikatakan merupakan suatu perjanjian baku, dengan klausula baku pula.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk meneliti perjanjian jual beli Semen Andalas yang dilakukan antara PT lafarge Cement Indonesia dengan distributor, apalagi banyak masyarakat yang membutuhkan semen untuk

19

H.M.N. Purwosutjipto, Op.Cit, hal.8

20

Hasil wawancara dengan Sales manager PT Lafarge Cement Indonesia Bapak Hadi Tanggal 2 Maret 2013


(32)

keperluannya masing-masing, kemudian mereka terlibat sebagai distributor dan untuk melakukan perjanjian jual beli tersebut mereka harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan PT Lafarge Cement Indonesia untuk menjadi distributor dan melakukan perjanjian memakai suatu perjanjian baku, dimana pihak-pihak yang melakukan perjanjian harus tunduk terhadap perjanjian baku yang dibuat oleh pihak PT Lafarge Cement Indonesia tanpa campur tangan pihak distributor, pihak distributor hanya mengikuti isi dari perjanjian tersebut. Didalam Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyebutkan “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Sudah tentu hal ini tidak bertentangan dengan hukum memaksa (dwingenrecht) karena suatu perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan “hukum memaksa” adalah batal.21

Penulisan karya ilmiah ini juga menyajikan pengetahuan perjanjian jual beli khususnya mengenai perjanjian jual beli pada PT Lafarge Cement Indonesia. Penulis akan membahasnya dalam sebuah penulisan skripsi dengan judul : “Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia.” Penulis juga sangat mengharapkan agar skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis pribadi dan masyarakat.

21


(33)

B. Permasalahan

Dari uraian latar belakang masalah yang telah penulis paparkan di atas, maka dapatlah dirumuskan permasalahan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Pengaturan Pelaksanaan Penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia ?

2. Bagaimana Perlindungan Hukum Terhadap Para Pihak yang Melakukan Perjanjian Jual Beli Semen Andalas ?

3. Apa Saja Sengketa Yang Timbul di Dalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas dan Bagaimana Cara Penyelesaiannya?

C. Tujuan Penulisan

Disamping untuk melengkapi dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, Sesuai dengan masalah yang dibahas, tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan memahami mekanisme penjualan Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia

2. Mengetahui jaminan hukum yang melindungi para pihak yang melakukan perjanjian jual beli Semen Andalas

3. Mengetahui jenis sengketa para pihak yang timbul dalam perjanjian jual beli Semen Andalas dan cara penyelesaian sengketa tersebut


(34)

D. Manfaat Penulisan

Skripsi ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis :

a. Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan saran dalam ilmu pengetahuan hukum , khususnya mengenai hubungan hukum para pihak dalam perjanjian jual beli dan dapat dijadikan bahan kajian ataupun referensi bagi perpustakaan Fakultas Hukum USU dan memberikan manfaat bagi dunia perguruan tinggi.

b. Secara praktis, penulisan ini diharapkan dapat bermanfaat kepada masyarakat umum khususnya kepada pihak yang terkait dalam pelaksanaan perjanjian jual beli dan juga bermanfaat kepada mahasiswa yang ingin lebih mengetahui mengenai hubungan hukum para pihak dalam perjanjian jual beli khususnya jual beli Semen Andalas.

E. Keaslian Penulisan

Penulis telah menelusuri seluruh daftar skripsi di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan arsip yang ada di Departemen Hukum Perdata, akan tetapi penulis tidak menemukan adanya kesamaan judul ataupun permasalahan dengan judul dan permasalahan yang penulis angkat yaitu tentang “PERJANJIAN JUAL BELI SEMEN ANDALAS DI PT. LAFARGE CEMENT INDONESIA”. Oleh karena itu, tulisan ini merupakan buah karya asli penulis


(35)

yang disusun berdasarkan dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional dan ilmiah.

Dengan demikian, dapat penulis simpulkan bahwa skripsi yang penulis susun ini merupakan karya asli penulis dan tidak meniru dari kepunyaan orang lain. Penulis berani bertanggung jawab apabila ditemukan adanya kesamaan judul dan permasalahan skripsi penulis dengan skripsi yang sebelumnya yang terdapat di perpustakaan Departemen Hukum Perdata.

F. Metode Penulisan

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk mendukung isi skripsi ini adalah :

1. Libra ry Resea rch atau penelitian kepustakaan

Yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap data-data yang diperoleh dari literatur, catatan kuliah, kliping, majalah-majalah ilmiah yang ada kaitannya dengan skripsi ini dan digunakan sebagai rujukan dalam pembahasan skripsi ini untuk memperkuat dalil dan fakta penelitian.

2. Field Resea rch atau penelitian Lapangan

Yaitu dengan melakukan pendekatan-pendekatan langsung pada sumber yang ada kaitannya dengan pembahasan skripsi ini adalah PT Lafarge Cement Indonesia.

Dalam metode penelitian lapangan ini penulis melakukan : a. Pengamatan atau observasi:


(36)

yakni dengan mengadakan pengamatan secara langsung dan terjun secara nyata dalam objek penelitian

b. Wawancara atau interview:

yakni mewawancarai secara langsung pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan perjanjian jual beli semen khususnya pihak PT Lafarge Cement Indonesia yang berada di Medan.

Dengan mempergunakan metode tersebut diatas, diharapkan penulisan skripsi ini akan mencapai hasil yang semaksimal mungkin.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan penulisan skripsi ini, maka diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang saling berkaitan satu sama lain. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah :

BAB I : Pendahuluan

Pendahuluan merupakan pengantar. Didalamnya termuat mengenai gambaran umum tentang penulisan skripsi yang terdiri dari latar belakang penulisan skripsi, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, metode penelitian dan sistematika penulisan.


(37)

BAB II : Perjanjian Jual Beli Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Didalam Bab ini penulis mencoba menguraikan mengenai tinjauan umum mengenai Perjanjian Jual Beli menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Penulis mengawalinya dengan membahas tentang Pengertian Perjanjian Jual Beli, Syarat Sahnya Perjanjian Jual Beli, Asas-asas Hukum Dalam Suatu Perjanjian Jual Beli, Sifat-sifat dan Cara Penyerahan Objek Perjanjian Jual Beli

BAB III : Tinjauan Umum Mengenai PT Lafarge Cement Indonesia

Dalam bab ini penulis membahas mengenai PT. Lafarge Cement Indonesia itu sendiri yang diawali dengan membahas pengertian perseroan terbatas dan dasar hukumnya terlebih dahulu kemudian membahas latar belakang didirikannya PT Lafarge Cement Indonesia dan Kedudukan Hukum PT Lafarge Cement Indonesia sebagai penjual

BAB IV : Perjanjian Jual Beli Semen Andalas di PT Lafarge Cement Indonesia

Dalam bab ini akan dilakukan analisa terhadap Pengaturan Penjualan Semen Andalas yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan Pihak Distributor dengan menguraikan pengaturan pelaksanaan jual beli semen, perlindungan hukum terhadap para pihak yang melakukan perjanjian jual beli Semen


(38)

Andalas, permasalahan yang timbul dari perjanjian jual beli Semen Andalas, penyelesaian sengketa dalam perjanjian jual beli Semen Andalas antara PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor.

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Bab ini merupakan bagian terakhir dari penulisan skripsi ini. Bab ini berisi kesimpulan dari permasalahan pokok dari keseluruhan. Kesimpulan bukan merupakan rangkuman ataupun ikhtisar. Saran merupakan upaya yang diusulkan agar hal-hal yang dikemukakan dalam pembahasan permasalahan dapat lebih berhasil guna berdaya guna.


(39)

BAB II

PERJANJIAN JUAL BELI MENURUT KUH PERDATA

Perjanjian jual beli diatur dalam Pasal 1457-1540 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. Dalam Pasal 1457 KUH Perdata pengertian jual beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda (zaak), dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga.22

Jual beli termasuk dalam kelompok perjanjian bernama, artinya undang-undang telah memberikan nama tersendiri dan memberikan pengaturan secara khusus terhadap perjanjian ini. Pengaturan perjanjian bernama dapat diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata maupun Kitab Undang-undang Hukum Dagang.

A. Pengertian Perjanjian Jual Beli

Menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. dalam membuat perjanjian, kedudukan antara para pihak yang mengadakan perjanjian sama dan sederajat.23

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata juga mengatur mengenai pengertian jual beli yaitu suatu perjanjian bertimbal-balik dalam mana pihak yang satu (si penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang,

22

M.Yahya Harahap, Segi-segi Hukum Per janjian, Alumni, Bandung, 1986, Hal.181

23


(40)

sedang pihak yang lainnya (si pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.

Perkataan jual beli menunjukkan bahwa dari satu pihak perbuatan dinamakan menjual. Istilah yang mencakup dua perbuatan yang bertimbal balik itu adalah sesuai dengan istilah Belanda “koop en verkoop” yang menjuga mengandung pengertian bahwa pihak yang satu “verkoopt” (menjual) sedang yang lainnya “koopt” (membeli). Dalam bahasa inggris jual-beli disebut dengan hanya “sale”saja yang berarti “penjualan” (hanya dilihat dari sudutnya si penjual), begitu pula dalam bahasa Perancis disebut hanya dengan “vente” yang juga berarti “penjualan”, sedangkan dalam bahasa Jerman dipakainya perkataan “Kauf”yang berarti “pembelian”.24 Unsur pokok dalam perjanjian jual beli adalah barang dan harga, dimana antara penjual dan pembeli harus ada kata sepakat tentang harga dan benda yang menjadi objek jual beli.25 Suatu perjanjian jual beli yang sah lahir apabila kedua belah pihak telah setuju tentang harga dan barang. Sifat konsensual dari perjanjian jual beli tersebut ditegaskan dalam Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi “ jual beli dianggap sudah terjadi antara kedua belah pihak seketika setelah mereka mencapai kata sepakat tentang barang dan harga, meskipun barang ini belum diserahkan maupun harganya belum dibayar ”.26

Kemudian didalam Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Perdata mengatur juga tentang saat terjadinya jual beli, yaitu :

“Jual Beli itu dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak, seketika setelah orang-orang ini mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan harganya, meskipun kebendaan itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayar”.27

24

R. Subekti. S.H., Aneka Per janjian, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, hal.1

25Ibid

, hal.2

26

Ibid

27


(41)

Apabila terjadi kesepakatan mengenai harga dan barang namun ada hal lain yang tidak disepakati yang terkait dengan perjanjian jual beli tersebut, jual beli tetap tidak terjadi karena tidak terjadi kesepakatan. Akan tetapi, jika para pihak telah menyepakati unsur esensial dari perjanjian jual beli tersebut, dan para pihak tidak mempersoalkan hal lainnya, klausul-klausul yang dianggap berlaku dalam perjanjian tersebut merupakan ketentuan-ketentuan tentang jual.

Menurut Wiryono Prodjodikoro, jual beli suatu barang adalah “Suatu penyerahan barang oleh penjual kepada pembeli dengan maksud memindahkan hak milik atas barang tersebut dan dengan syarat pembayaran harga tertentu berupa uang pembeli kepada penjual”.28

Oleh beberapa sarjana lainnya memberikan pengertian jual beli adalah sebagai berikut :

“Jual Beli ialah perjanjian atau persetujuan atau kontrak dimana satu pihak (penjual) mengikat diri untuk menyerahkan hak milik atas benda atau barang kepada pihak lainnya (pembeli) yang mengikat dirinya untuk membayar harganya berupa uang kepada penjual.”29

Menurut Salim H.S., perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian yang dibuat antara pihak penjual dan pihak pembeli. Di dalam perjanjian itu pihak penjual berkewajiban untuk menyerahkan objek jual beli kepada pembeli dan

28

Wirjono Prodjodikoro, Rancangan Undang-undang Tentang Peraturan Hukum Per janjian, Bab II Pasal 16, (Selanjutnya disebut sebagai Wirjono Prodjodikoro II)

29

R.M. Suryodiningrat, Perikatan-perikatan Bersumber Perjanjian, Tarsito, Bandung, 1982, hal.14


(42)

berhak menerima harga dan pembeli berkewajiban untuk membayar harga dan berhak menerima objek tersebut.30

Unsur yang terkandung dalam defenisi tersebut adalah : a. Adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli

b. Adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga c. Adanya hak dan kewajiban yang timbul antara pihak penjual dan pembeli

B. Syarat Sahnya Perjanjian Jual Beli

Syarat sahnya suatu perjanjian seperti yang terdapat dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata merupakan syarat sahnya perjanjian jual beli dimana perjanjian jual beli merupakan salah satu jenis dari perjanjian. Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa syarat dari sahnya perjanjian adalah :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya

Syarat pertama untuk sahnya suatu perjanjian adalah adanya suatu kesepakatan atau konsensus pada para pihak. Yang dimaksud dengan kesepakatan adalah persesuaian kehendak antara para pihak dalam perjanjian. Jadi dalam hal ini tidak boleh adanya unsur pemaksaan kehendak dari salah satu pihak pada pihak lainnya. Sepakat juga

dinamakan suatu perizinan, terjadi oleh karena kedua belah pihak sama sama setuju mengenai hal-hal yang pokok dari suatu perjanjian yang

diadakan. Dalam hal ini kedua belah pihak menghendaki sesuatu yang

30

Salim H.S.,Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Jakarta : Sinar Grafika, 2003, hlm. 49.


(43)

sama secara timbal balik. Ada lima cara terjadinya persesuaian kehendak, yaitu dengan :31

a. Bahasa yang sempurna dan tertulis b. Bahasa yang sempurna secara lisan

c. Bahasa yang tidak sempurna asal dapat diterima oleh pihak lawan. Karena dalam kenyataannya seringkali seseorang menyampaikan dengan bahasa yang tidak sempurna tetapi dimengerti oleh pihak lawannya.

d. Bahasa isyarat asal dapat diterima oleh pihak lawannya

e. Diam atau membisu, tetapi asal dipahami atau diterima pihak lawan Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa terjadinya kesepakatan dapat terjadi secara tertulis dan tidak tertulis . Seseorang yang melakukan kesepakatan secara tertulis biasanya dilakukan dengan akta otentik maupun akta di bawah tangan. Akta di bawah tangan adalah akta yang dibuat oleh para pihak tanpa melibatkan pejabat yang berwenang membuat akta. Sedangkan akta otentik adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang. Menurut pasal 1321 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, kata sepakat tidak didasarkan atas kemauan bebas / tidak sempurna apabila didasarkan :

a. Kekhilafan (dwaling) b. Paksaan (geveld) c. Penipuan (bedrog)

31


(44)

Dengan adanya kesepakatan, maka perjanjian tersebut telah ada dan mengikat bagi kedua belah pihak serta dapat dilaksanakan.

2. Cakap untuk membuat suatu perjanjian

Cakap artinya adalah kemampuan untuk melakukan suatu perbuatan hukum yang dalam hal ini adalah membuat suatu perjanjian. Perbuatan hukum adalah segala perbuatan yang dapat menimbulkan akibat hukum. Orang yang cakap untuk melakukan perbuatan hukum adalah orang yang sudah dewasa. Ukuran kedewasaan adalah berumur 21 tahun sesuai dengan pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam pasal 1330 disebutkan bahwa orang yang tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum adalah :

a. Orang yang belum dewasa

b. Orang yang dibawah pengampuan

c. Seorang istri. Namun berdasarkan fatwa Mahkamah Agung, melalui Surat Edaran Mahkamah Agung No.3/1963 tanggal 5 September 1963, orang-orang perempuan tidak lagi digolongkan sebagai yang tidak cakap. Mereka berwenang melakukan perbuatan hukum tanpa bantuan atau izin suaminya.32

3. Suatu hal tertentu

Suatu hal tertentu disebut juga dengan objek perjanjian. Objek perjanjian harus jelas dan ditentukan oleh para pihak yang dapat berupa barang

32


(45)

maupun jasa namun juga dapat berupa tidak berbuat sesuatu. Objek Perjanjian juga biasa disebut dengan Prestasi. Prestasi terdiri atas :33

a. memberikan sesuatu, misalnya membayar harga, menyerahkan barang.

b. berbuat sesuatu, misalnya memperbaiki barang yang rusak, membangun rumah, melukis suatu lukisan yang dipesan.

c. tidak berbuat sesuatu, misalnya perjanjian untuk tidak mendirikan suatu bangunan, perjanjian untuk tidak menggunakan merek dagang tertentu.

Prestasi dalam suatu perikatan harus memenuhi syarat-syarat :34

a. Suatu prestasi harus merupakan suatu prestasi yang tertentu, atau sedikitnya dapat ditentuk 2an jenisnya. Misalnya : A menyerahkan beras kepada B 1 kwintal.

b. Prestasi harus dihubungkan dengan suatu kepentingan. Tanpa suatu kepentingan orang tidak dapat mengadakan tuntutan. Misalnya Concurrentie Beding (syarat untuk tidak bersaingan).

Contoh: A membeli pabrik sepatu dari B dengan syarat bahwa B tidak boleh mendirikan pabrik yang memproduksi sepatu pula. Karena A menderita kerugian, maka pabrik sepatu diganti dengan produk lain. Dalam hal ini B boleh mendirikan pabrik sepatu lagi,

karena antara A dan B sekarang tidak ada kepentingan lagi.

33

Ahmadi Miru, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007, hal. 69.

34

Komariah, Hukum Perdata, Malang : UPT Penerbitan Universitas Muhamadiyah, 2008, hal, 148.


(46)

d. Prestasi harus diperbolehkan oleh Undang-Undang, kesusilaan, dan ketertiban umum.

e. Prestasi harus mungkin dilaksanakan. 4. Suatu sebab yang halal

Di dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum perdata tidak dijelaskan pengertian sebab yang halal. Yang dimaksud dengan sebab yang halal adalah bahwa isi perjanjian tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kesusilaan dan ketertiban umum. Syarat pertama dan kedua merupakan syarat subjektif karena berkaitan dengan subjek perjanjian dan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif karena berkaitan dengan objek perjanjian. Apabila syarat pertama dan syarat kedua tidak terpenuhi, maka perjanjian itu dapat diminta pembatalannya. Pihak yang dapat meminta pembatalan itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan ijinnya secara tidak bebas.35 Sedangkan apabila syarat ketiga dan keempat tidak terpenuhi, maka akibatnya adalah perjanjian tersebut batal demi hukum artinya perjanjian tersebut dianggap tidak pernah ada sama sekali sehingga para pihak tidak dapat menuntut apapun apabila terjadi masalah di kemudian hari.

Dua syarat yang pertama untuk syahnya perjanjian, yaitu adanya kesepakatan dan kecakapan, dinamakan syarat subyektif, karena mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat yang terakhir dinamakan syarat obyektif, karena mengenai perjanjiannya sendiri

35


(47)

atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu. Jika salah satu syarat sahnya dari suatu perjanjian tersebut tidak terpenuhi, perjanjian itu dapat dibatalkan atau batal demi hukum.

a. Syarat Subyektif

Mengenai subyek yang disyaratkan, antara pihak yang mengikat diri dan syarat tentang kecakapan untuk membuat suatu perjanjian disebut syarat subyektif. Dalam syarat subyektif, jika syarat itu tidak dipenuhi perjanjiannya bukan batal demi hukum, tetapi salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta supaya perjanjian itu dibatalkan. Pihak yang dapat menerima pembatalan itu adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan sepakatnya secara tidak bebas yaitu orangtua atau walinya ataupun dirinya sendiri apabila kelak sudah menjadi cakap dan /atau pihak yang memberikan izin atau menyetujui perjanjian itu secara tidak bebas. Disini perjanjian yang telah dibuat itu tetap mengikat, selama tidak dibatalkan oleh hakim atas tuntutan pihak yang berhak meminta pembatalan. Dengan demikian, kelanjutan perjanjian seperti itu tidaklah pasti dan tergantung pada kesediaan suatu pihak untuk mentaatinya. Gugatan pembatalan itu dapat dilakukan selama lima tahun.

Untuk menghilangkan ancaman pembatalan, oleh undang-undang kemudian diberi jalan keluarnya, suatu perjanjian dapat dilakukan dengan penguatan oleh orangtua, wali atau mengampu


(48)

tersebut. Penguatan yang demikian itu, dapat terjadi secara tegas, atau dapat terjadi secara diam-diam. Atau apabila orang yang dalam suatu perjanjian telah memberikan sepakatnya secara tidak bebas, dapat pula menguatkan perjanjian yang dibuatnya, baik secara tegas maupun secara diam-diam. Oleh karena itu, dalam hal adanya kekurangan mengenai syarat subyektif, undang-undang menyerahkan kepada para pihak, untuk melakukan pembatalan perjanjian atau tidak. Perjanjian yang demikian itu, tidak batal demi hukum, tetapi dapat dimintakan pembatalan.

b. Syarat Obyektif

Syarat Obyektif adalah mengenai obyek yang diperjanjikan, yaitu tentang syarat suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Apabila yang tidak terpenuhi dalam suatu perjanjian adalah syarat obyektif, perjanjian tersebut batal demi hukum, karenanya tujuan para pihak untuk membuat suatu perjanjian menjadi batal. Karena obyek yang diperjanjikan batal, perjanjiannya otomatis batal demi hukum . Dengan demikian, tidak ada dasar untuk saling menuntut di depan hakim.

Jika para pihak yang membuat perjanjian adalah orang, orang yang dianggap sebagai subyek hukum yang dapat melakukan hubungan hukum dengan pihak lain, adalah orang-orang yang tidak termasuk didalam ketentuan Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yaitu :


(49)

1) Orang-orang yang belum dewasa

Kriteria mengenai orang yang belum dewasa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, adalah mereka yang belum mencapai umur genap dua puluh satu tahun dan sebelumnya belum kawin. Pengecualiannya, dalam membuat perjanjian kerja, syarat kecakapan yang menjadi salah satu syarat sahnya perjanjian, usia dewasa dianggap dewasa apabila berumur 18 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, mengenai cakap dalam membuat perjanjian kerja, untuk pekerja dapat menyimpang dari Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan Pasal 1 butir 26 UUKK).

2) Mereka yang berada dibawah pengampunan

Orang-orang yang diletakkan dibawah pengampunan adalah setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan kurang akal, sakit ingatan atau boros. Pembentuk undang-undang memandang bahwa yang bersangkutan tidak mampu menyadari tanggung jawabnya dan karena itu tidak cakap bertindak untuk mengadakan perjanjian. Apabila seorang yang berada dibawah pengampunan mengadakan perjanjian, yang mewakilinya adalah orangtuanya atau pengampunnya (Pasal 433 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).


(50)

Orang yang tidak sehat pikirannya tidak mampu menginsyafi tanggung jawab yang dipikul oleh seorang yang mengadakan suatu perjanjian. Orang yang ditaruh dibawah pengampunan dibawah pengampunan menurut hukum tidak dapat berbuat bebas dengan harta kekayaannya. ia berada dibawah pengawasan pengampun. Kedudukannya, sama dengan seseorang anak yang belum dewasa harus diwakili oleh orang tua atau walinya, seorang dewasa yang telah ditaruh dibawah pengampunan harus diwakili oleh pengampun atau kuratornya. 3) Orang perempuan dalam hal-hal yang ditetapkan oleh

undang-undang

Awalnya, seorang perempuan yang bersuami, untuk mengadakan suatu perjanjian, memerlukan bantuan atas izin tertulis dari suaminya. Tidak cakapnya seorang perempuan yang bersuami berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata itu, di Negeri Belanda sendiri sudah dicabut, karena dianggap tidak sesuai lagi dengan kemajuan jaman. Ketentuan tersebut di Indonesia juga sudah dihapuskan. Mahkamah Agung menganggap Pasal 108 s/d 110 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang wewenang seorang istri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap didepan pengadilan tanpa izin atau bantuan dari suaminya, sudah tidak berlaku lagi. Kemudian sejak berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun


(51)

1974 tentang Perkawinan, Ketentuan seperti disebutkan pada Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut lebih tegas lagi dinyatakan tidak berlaku. Undang-undang Perkawinan menyebutkan, hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan berumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum (SE Mahkamah Agung Nomor 3/1963).

4) Orang yang dilarang undang-undang membuat perjanjian

Dalam kasus orang yang dilarang oleh Undang-undang, dapat diambil contoh dari ketentuan Pasal 1601 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam ketentuan itu diatur bahwa perjanjian kerja antara suami istri adalah batal, dengan demikian undang-undang melarang suami dan istri untuk membuat perjanjian kerja.

Menurut ketentuan tersebut, mereka yang termasuk dalam kriteria diatas tidak dapat membuat suatu perjanjian.

C. Asas-asas Hukum Dalam Suatu Perjanjian Jual Beli

Asas-asas yang terdapat dalam suatu perjanjian umumnya terdapat dalam perjanjian jual beli. Dalam hukum perjanjian ada beberapa asas, namun secara umum asas perjanjian ada lima yaitu :36

36


(52)

1. Asas Kebebasan Berkontrak

Dapat dilihat dalam Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi “ Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Asas Kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk :37

a. Membuat atau tidak membuat perjanjian, b. Mengadakan perjanjian dengan siapa pun,

c. Menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, dan d. Menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan.

Asas kebebasan berkontrak merupakan asas yang paling penting di dalam perjanjian karena di dalam asas ini tampak adanya ungkapan hak asasi manusia dalam membuat suatu perjanjian serta memberi peluang bagi perkembangan hukum perjanjian.

2. Asas Konsensualisme

Asas konsensualisme dapat dilihat dalam Pasal 1320 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa salah satu syarat adanya suatu perjanjian adalah adanya kesepakatan dari kedua belah pihak.38 Asas konsensualisme mengandung pengertian bahwa suatu perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal melainkan cukup dengan kesepakatan antara kedua belah pihak saja. Kesepakatan

37

Ibid, hal.9

38


(53)

merupakan persesuaian antara kehendak dan pernyataan dari kedua belah pihak.

3. Asas mengikatnya suatu perjanjian

Asas ini terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dimana suatu perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi pembuatnya. Setiap orang yang membuat kontrak, dia terikat untuk memenuhi kontrak tersebut karena kontrak tersebut mengandung janji-janji yang harus dipenuhi dan janji tersebut mengikat para pihak sebagaimana mengikatnya undang-undang.

4. Asas iktikad baik (Goede Trouw)

Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik (Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Itikad baik ada dua yaitu :39

a. Bersifat objektif, artinya mengindahkan kepatutan dan kesusilaan. Contoh, Si A melakukan perjanjian dengan si B membangun rumah. Si A ingin memakai keramik cap gajah namun di pasaran habis maka diganti cap semut oleh si B.

b. Bersifat subjektif, artinya ditentukan sikap batin seseorang. Contoh, si A ingin membeli motor, kemudian datanglah si B (penampilan preman) yang mau menjual motor tanpa surat-surat dengan harga murah. Si A tidak mau membeli karena takut bukan barang halal atau barang tidak legal.

39

Handri Rahardjo, Hukum Per janjian di Indonesia, Jakarta : Pustaka Yustisia, 2009, hal. 45


(54)

5. Asas Kepribadian

Pada umumnya tidak seorang pun dapat mengadakan perjanjian kecuali untuk dirinya sendiri. Pengecualiannya terdapat dalam Pasal 1317 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang janji untuk pihak ketiga. Namun, menurut Mariam Darus ada 10 asas perjanjian, yaitu :

a. Kebebasan mengadakan perjanjian b. Konsensualisme

c. Kepercayaan d. Kekuatan Mengikat e. Persamaan Hukum

f. Keseimbangan g. Kepastian Hukum

h. Moral

i. Kepatutan j. Kebiasaan

D. Sifat-sifat dan Cara Penyerahan Objek Perjanjian Jual Beli

Penyerahan barang dalam jual-beli, merupakan tindakan pemindahan barang yang dijual kedalam kekuasaan dan pemilikan pembeli.

Dalam Pasal 1475 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan bahwa agar pemilikan pembeli menjadi sempurna, pembeli harus menyelesaikan penyerahan tersebut. Misalnya penjualan rumah atau tanah secara yuridis, dengan


(55)

jalan melakukan akte balik nama (overschrijving) dari nama penjual kepada nama pembeli.40

Saat terjadinya jual beli adalah seketika setelah tercapainya kesepakatan dari kedua belah pihak atas benda dan harganya meskipun benda tersebut belum diserahkan dan harganya belum dibayar. Ketentuan ini sebagaimana umumnya perjanjian, maka jual-beli ini menganut asas konsensualisme.

Hak dari Penjual menerima harga barang yang telah dijualnya dari pihak pembeli sesuai dengan kesepakatan harga antara kedua belah pihak. Sedangkan kewajiban penjual adalah sebagai berikut :

1. Menyerahkan hak milik atas barang yang diperjualbelikan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengenal tiga jenis benda yaitu benda bergerak, benda tidak bergerak dan benda tidak bertubuh maka penyerahan hak miliknya juga ada tiga macam yang berlaku untuk masing-masing barang tersebut yaitu :41

a. Penyerahan Benda Bergerak

Mengenai Penyerahan benda bergerak terdapat dalam Pasal 612 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan penyerahan kebendaan bergerak, terkecuali yang tak bertubuh dilakukan dengan penyerahan yang nyata akan kebendaan itu oleh atau atas nama pemilik, atau dengan penyerahan kunci-kunci dari bangunan dalam mana kebendaan itu berada. Mengenai Penyerahan benda bergerak terdapat

40

R. Subekti, Op.Cit, hal.305

41


(56)

dalam Pasal 612 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau akta dibawah tangan yang harus diberitahukan kepada dibitur secara tertulis, disetujui dan diakuinya. Penyerahan tiap-tiap piutang karena surat bawa dilakukan dengan penyerahan surat itu, penyerahan tiap-tiap piutang karena surat tunjuk dilakukan dengan penyerahan surat disertai dengan endosemen.

b. Penyerahan Benda Tidak Bergerak

Mengenai Penyerahan benda tidak bergerak diatur dalam Pasal 616-620 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan bahwa penyerahan barang tidak bergerak dilakukan dengan balik nama. Untuk tanah dilakukan dengan Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah sedangkan yang lain dilakukan dengan akta notaris.

c. Penyerahan Benda Tidak Bertubuh

Diatur dalam Pasal 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyebutkan penyerahan akan piutang atas nama dilakukan dengan akta notaris

2. Menanggung kenikmatan tenteram atas barang tersebut dan menanggung terhadap cacat-cacat tersembunyi.

Pasal 30 sampai dengan pasal 52 United Nations Convention on Contra ct for the Interna tiona l Sa le of Goods mengatur tentang kewajiban pokok dari penjual yaitu sebagai berikut :42

a. Menyerahkan barang

42


(57)

b. Menyerahterimakan dokumen c. Memindahkan Hak Milik

Hak dari Pembeli adalah menerima barang yang telah dibelinya, baik secara nyata maupun secara yuridis. Di dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Penjualan barang-barang Internasional (United Na tions Convention on Contra ct for the Interna tiona l Sa le of Goods) telah diatur tentang kewajiban antara penjual dan pembeli.43 Pasal 53 sampai 60 United Na tions Convention on Contra ct for the Interna tiona l Sa le of Goods mengatur tentang kewajiban pembeli. Ada 3 kewajiban pokok pembeli yaitu:44

a. Memeriksa barang-barang yang dikirim oleh Penjual b. Membayar harga barang sesuai dengan kontrak

c. Menerima penyerahan barang seperti disebut dalam kontrak

Kewajiban pembeli untuk membayar harga barang termasuk tindakan mengambil langkah-langkah dan melengkapi dengan formalitas yang mungkin dituntut dalam kontrak atau oleh hukum dan peraturan untuk memungkinkan pelaksanaan pembayaran. Tempat pembayaran di tempat yang disepakati kedua belah pihak. Kewajiban Pihak Pembeli adalah :

1. Membayar harga barang yang dibelinya sesuai dengan janji yang telah dibuat

2. Memikul biaya yang ditimbulkan dalam jual beli, misalnya ongkos antar, biaya akta dan sebagainya kecuali kalau diperjanjikan

43

Ibid, hal.57

44


(58)

sebaliknya. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa kewajiban dari pihak pembeli adalah merupakan hak bagi pihak penjual dan sebaliknya kewajiban dari pihak penjual adalah merupakan hak bagi pihak pembeli.

Mengenai tempat penyerahan menurut ketentuan Pasal 1393 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ada beberapa kemungkinan, yaitu :

1. di tempat sebagai yang ditetapkan dalam perjanjian;

2. di tempat barang itu berada pada saat terjadinya perjanjian; 3. di tempat tinggal pembeli;

4. di tempat tinggal penjual.

Perlu dingatkan bahwa istilah “pembayaran” yang disebutkan dalam Pasal 1393 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata harus diartikan setiap penunaian kewajiban. Jadi, setiap penyerahan adalah pembayaran.45

Mengenai waktu penyerahan tidak diatur dalam undang-undang, biasanya hal demikian diatur dalam perjanjian yang bersangkutan.

Menurut Pasal 1474 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, penjual berkewajiban menyerahkan barang kepada pembeli, sedangkan penyerahan itu harus menurut hukum (Pasal 1459 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Penyerahan menurut hukum itu ada dua jenis, yaitu : 1. Penyerahan yuridis, dan

2. Penyerahan nyata (feitelijk)

45


(59)

Menurut Pasal 612 dan 613 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, ada beberapa jenis penyerahan mengenai benda bergerak, yaitu :

1. Penyerahan fisik, yakni penyerahan barang dari tangan ke tangan; 2. Penyerahan kunci gudang, didalam mana benda bergerak yang

diserahkan itu tersimpan;

3. Penyerahan akta sesi atau andosemen bagi benda bergerak tak bertubuh;

4. Penyerahan dokumen. Penyerahan semacam ini sudan menjadi kebiasaan dalam jual beli perusahaan. Pemegang dokumen ini berhak memiliki barang-barang yang disebut dalam dokumen itu. Dokumen itu adalah surat berharga, yakni surat tanda bukti tuntutan utang, mengandung hak dan mudah dijualbelikan. Untuk bersifat mudah diperjualbelikan, dokumen itu harus berbentuk (aan order) atau atas pembawa (aan tonder). Dokumen-dokumen itu mudah diserahkan kepada orang lain, yakni dengan diserahkan secara fisik saja atau andosemen.


(1)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Melalui uraian-uraian pada bab terdahulu, diambil kesimpulan sesuai dengan permasalahan yang telah diajukan sebagai berikut :

1. Prosedur penjualan Semen Andalas menurut surat perjanjian kontrak yang dilakukan oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor merupakan perjanjian baku karena pihak distributor hanya mengisi titik titik dari isi perjanjian yang sebelumnya telah dibuat oleh PT Lafarge Cement Indonesia kemudian menandatangani surat kontrak tersebut.

2. Dalam melakukan perjanjian jual beli perlindungan hukum terhadap PT Lafarge Cement Indonesia dan distributor diatur didalam surat distribusi nomor 024-30COMLOG11 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen , perlindungan hukum kepada PT Lafarge Cement Indonesia selaku produsen dan penjual dilindungi oleh Undang-undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat


(2)

3. Sengketa yang sering terjadi didalam Perjanjian Jual Beli Semen Andalas sering terjadi karena adanya keterlambatan pembayaran oleh distributor, dimana semen yang telah dipesan sudah dikirim ke terminal-terminal yang telah disediakan oleh PT Lafarge Cement Indonesia

4. penyelesaian sengketa antara pihak PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak distributor belum pernah terjadi sampai ke jalur pengadilan, Sengketa yang timbul dalam perjanjian jual beli semen Andalas biasanya diusahakan penyelesaiannya dengan jalan musyawarah. Musyawarah merupakan suatu penyelesaian yang lebih menguntungkan kedua belah pihak dibandingkan , tetapi apabila jalan musyawarah tidak dapat ditempuh maka, penyelesaian sengketa oleh PT Lafarge Cement Indonesia dengan pihak Distributor dapat dipilih lewat lembaga peradilan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni pihak penggugat wajib membuktikan kebenaran dalilnya. Di samping itu, penggugat harus tahu persis di mana tempat tinggal tergugat, sebagai gugatan harus diajukan di tempat tinggal tergugat. Asas ini dikenal dengan istilah Actor Secuitor Forum Rei

B. Saran

1. Pada pihak distributor dan pihak PT Lafarge Cement Indonesia dapat melaksanakan isi perjanjian yang telah disepakati dengan itikad baik. Pihak PT Lafarge Cement Indonesia diharapkan tidak


(3)

menyembunyikan cacat dari kondisi semen yang akan dikirim dari pihak distributor dalam menjalankan pelaksanaan perjanjian harus mengikuti syarat-syarat yang telah disepakati dan pihak distributor juga menjalani seluruh kewajibannya sebagai distributor PT Lafarge Cement Indonesia

2. Agar masalah persaingan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak, maka dibutuhkan pihak yang mengontrol apakah dalam menjalankan perjanjian jual beli tersebut ada pihak yang bertindak tidak jujur (unfair). Jika ada, pihak yang melakukan pelanggaran akan diberikan sanksi.

3. Para pihak yang melakukan perjanjian jual beli hendaknya mentaati dan melaksanakan seluruh isi perjanjian yang telah disepakati dengan itikad baik. Pihak PT Lafarge Cement Indonesia diharapkan tidak menyembunyikan cacat dari kondisi semen yang akan dikirim dari pihak distributor dalam menjalankan pelaksanaan harus mengikuti syarat-syarat yang telah disepakati agar tidak menimbulkan sengketa dikemudian hari

4. Apabila terjadi perselisihan antara kedua belah pihak baik itu dari PT Lafarge Cement Indonesia maupun pihak distributor sendiri, disengaja maupun atau tidak disengaja ataupun terjadi kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh para pihak hendaklah diselesaikan secara bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan penyelesaian dijalur pengadilan menjadi jalan terakhir yang


(4)

ditempuh apabila tidak tercapainya kata sepakat antara kedua belah pihak.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Adjie, Habib, Status Badan Hukum, Prinsip-Prinsip dan Tanggung Jawab Sosial Perseroan Terbatas, CV. Mandar maju, Bandung, 2008

Ali, Chidir, Yur isprudensi Hukum Dagang, Alumni, Bandung, 1982

H.,S, Salim, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2003

Harahap, Yahya, Segi-Segi Hukum Per janjian, Alumni, Bandung, 1986 ---, Hukum Perseroan Terbatas, Sinar Grafika, Jakarta, 2009 Komariah, Hukum Perdata , UPT Penerbitan Universitas Muhamadiyah, Malang,

2009

Miru, Ahmad, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, PT Raja Grafindo, Persada, Jakarta, 2007

Muhammad, Kadir, Abdul, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, 1982

Purwosutjipto, pengertian pokok hukum dagang Indonesia , Jakarta, Djambatan, 2003

Prasetya, Rudy, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995

Prodjodikoro, Wirjono, Rancangan Undang-undang Tentang Peraturan Hukum Per ja njia n, Jakarta, 2000

Rai Widjaya,I.,G., Hukum Perusahaan Persero Terbatas, Kesaint Blanc, Jakarta,2003

Rahardjo, Handri, Hukum Per janjian di Indonesia , Pustaka Yustisia, Jakarta, 2009

Sembiring, Sentosa, Hukum Dagang, PT Citra Aditya bakti, Bandung, 2008 ---, Hukum Perusahaan Tentang Perseroan Terbatas, Nuansa

Aulia, 2006

Subekti, R, Kitab Undang-undang Hukum Perdata , PT Pradnya Paramitha, Jakarta, 1990


(6)

Suryodiningrat, R.M, Perikatan-perikatan Bersumber Perjanjian, Tarsito, Bandung, 1982,

Widjaja, Gunawan, Jual beli, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 2003

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah :

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Peraturan Pemerintah Nomor 12/1998

Internet :

http://m.kompasiana.com/post/politik diakses pada tanggal 15 maret 2013 pukul 13.22 wib

http://legalakses.com/rapat-umum-pemegang-saham-rups/, 14 maret 2013, 13.00wib

http://prospecindonesia.com/tag/fungsi-semen/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013

http://prospecindonesia.com/tag/bahan-bangunan/ diakses pada tanggal 30 Februari 2013

http://m.kompasiana.com/post/politik diakses pada tanggal 30 Februari 2013 www.lafarge.com, diakses pada tanggal 30 Februari 2013