Adaptasi Alat Ukur Kepribadian Big Five Factor Marker dari International Personality Item Pool (IPIP)

ADAPTASI ALAT UKUR KEPRIBADIAN BIG FIVE FACTOR MARKER DARI INTERNATIONAL PERSONALITY ITEM POOL
(IPIP) SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh
RIZKI FEBRIANTI MAHARANI 081301028
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
GANJIL, 2012/2013
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:
Adaptasi Alat Ukur Kepribadian Big Five Factor Marker dari International Personality Item Pool (IPIP)
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini saya kutip dari hasil karya orang lain yang telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan, November 2012
Rizki Febrianti Maharani NIM. 081301028
i
Universitas Sumatera Utara

Adaptasi Alat Ukur Kepribadian Big Five Factor Marker dari International Personality Item Pool (IPIP)
Rizki Febrianti Maharani dan Etty Rahmawati
ABSTRAK
Informasi individu yang digali melalui tes psikologi dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Salah satu aspek yang dinilai ialah kepribadian. Teori kepribadian yang luas dan mampu memprediksi serta menjelaskan banyak hal melalui faktor-faktornya ialah Big Five. Namun pengembangan alat ukur Big Five di Indonesia masih sedikit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Factor Marker kedalam versi Indonesia dan menguji karakteristik psikometrinya. Subjek yang terlibat dalam penelitian sebanyak 500 orang dewasa penduduk kota Medan. Estimasi validitas konstruk menggunakan analisis faktor dan reliabilitas menggunakan formula alpha Cronbach dengan bantuan program SPSS.
Ditemukan bahwa Big Five Factor Marker versi adaptasi menghasilkan jumlah faktor yang sama dengan versi aslinya. Hanya terdapat beberapa indikator perilaku yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan budaya. Rata-rata nilai muatan faktor (factor loading) ke 50 aitem Big Five Factor Marker adalah 0.3 dan reliabilitasnya 0.86. Oleh karena itu dapat dikatakan Big Five Factor Marker memiliki validitas kosntruk serta reliabilitas yang baik.
Kata Kunci: Adaptasi, Big Five Factor Marker, validitas konstruk, reliabilitas
ii
Universitas Sumatera Utara

The Adaptation of Big Five Factor Marker Personality Test from International Personality Item Pool (IPIP) Rizki Febrianti Maharani and Etty Rahmawati
ABSTRACT
Individual information explored through psychological tests can be used as a basis for decision making. One aspect that assessed is personality. One of the broad personality theory which has the ability to predict and explain many things through its factors is the Big Five theory. The development of this test, however, is still small in Indonesia.
This research was aimed to adapt the Big Five Factor Marker into Indonesian version and to examine the characteristics of its psychometric. The subjects involved in this research were the residents of Medan city totaled 500 adults. Estimation of construct validity used factor analysis and reliability used Cronbach alpha formula with the assistance of SPSS.
It was found that the Big Five Factor Marker adapted version produced the same number of factors as the original version. There were only a few indicators of different behaviors. Such differences may be caused by cultural differences. The average loading factor of the 50 items of the Big Five Factor Marker was 0.3 while the reliability was 0.86. Therefore it can be conclude that the Big Five Factor Marker have a good cosntruct validity and good reliability.
Keywords: Adaptation, Big Five Factor Marker, construct validity, reliability
iii
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh keluarga besar di Padang Sidimpuan terutama mama dan papa yang selalu ada memberikan dukungan dan kasih sayang. Selama proses pengerjaan penelitian ini, penulis menemui berbagai hambatan dan juga berbagai kemudahan yang semakin mempertebal rasa syukur penulis. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Irmawati, M.Si, psikolog selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Etty Rahmawati, M.Si sebagai dosen pembimbing yang selalu memberikan arahan, saran, kritikan serta motivasi dari awal penyusunan hingga akhir penyelesaian penelitian ini.
3. Kak Rahmi Putri Rangkuti, M.Psi, psikolog dan Ibu Ika Sari Dewi, S.Psi, psikolog selaku dosen penguji sidang skripsi.
4. Ibu Prof. Tina Kariman, M.A, Ph.D sebagai ahli bahasa inggris yang bersedia memberikan professional judgement dalam penelitian ini.
5. Kak Juliana Irmayanti Saragih, M.Psi, psikolog dan Ibu Rodhiatul Hasanah, M.Psi, psikolog sebagai dosen di Fakultas Psikologi serta ahli dalam bidang psikologi kepribadian yang telah bersedia memberikan professional judgement dalam penelitian ini.
6. Teman terdekat saya, yang namanya tidak dapat disebutkan namun efek kehadirannya selalu ada.
iv
Universitas Sumatera Utara

7. Teman seperjuangan di fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara angkatan 2008, yang telah saling memeluk disaat gundah, mendukung disaat jatuh, saling tertawa bersama disaat bahagia. Fatma, Siti, Ervi, Nanda, Sani, Heni, Susi, Pipit, Rahma, Ajeng, Nisha, Mutia, Mina, Sari, Nana, Una, Lili, Tika, Kiki, Suki, Mila, Kak kem, Nandun, Yuyu, Moyang, Tania, terimakasih untuk kalian semua teman.
8. Terimakasih juga untuk semua pihak yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian ini hingga dapat terselesaikan. Penulis menyadari masih adanya kekurangan dalam penelitian ini. Oleh
karena itu, penulis sangat menghargai kritik dan saran yang ditujukan untuk penelitian ini untuk menyempurnakan dan memperbaikinya. Harapan penulis semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi semua yang membacanya.
Medan, November 2012
Penulis
v
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN.........................................................................i ABSTRAK.................................................................................................. ii KATA PENGANTAR.................................................................................iv DAFTAR ISI................................................................................................vi DAFTAR TABEL....................................................................................... x DAFTAR GAMBAR................................................................................... xi DAFTAR RUMUS...................................................................................... xii DAFTAR LAMPIRAN............................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1 A. Latar Belakang......................................................................................1 B. Rumusan Masalah................................................................................ 9 C. Tujuan Penelitian.................................................................................. 9 D. Manfaat Penelitian................................................................................ 9 E. Sistematika Penulisan........................................................................... 10
vi
Universitas Sumatera Utara

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................... 12
A. Kepribadian Big Five............................................................................ 12 1. Sejarah Perkembangan Kepribadian Big Five ............................. 12 2. Trait Kepribadian Big Five............................................................ 14
B. Big Five Factor Marker........................................................................ 16 C. Adaptasi Alat Ukur............................................................................... 17
1. Definisi Adaptasi Alat Ukur.......................................................... 17 2. Tahap-tahap dalam Proses Adaptasi.............................................. 18
a. Penelaahan Koeksistensi Konstruk yang Diukur.................. 18 b. Tahap Alih Bahasa..................................................................19
1) Seleksi dan Pelatihan Penerjemah..................................... 20 2) Desain Penilaian dalam Mengadaptasi Tes........................21 c. Tahap Empirik: Memastikaan Kesetaraan Psikometrik......... 22 1) Validitas............................................................................. 23
a. Validitas Konten......................................................... 24 b. Validitas Kriteria........................................................ 24 c. Validitas Konstruk...................................................... 25 2) Reliabilitas......................................................................... 27 3. Sumber-sumber Error dalam Adaptasi..........................................28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................... 30
A. Jenis Penelitian.................................................................................... 30 B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel........................... 31
vii
Universitas Sumatera Utara

1. Populasi dan Sampel......................................................................31 2. Teknik Pengambilan Sampel........................................................ 31 C. Instrumen Penelitian............................................................................ 32 D. Proses Adaptasi.....................................................................................34 E. Prosedur Pelaksanaan Penelitian.......................................................... 39 F. Metode Analisa Data............................................................................ 41 1. Validitas Konstruk........................................................................ 41 2. Reliabilitas..................................................................................... 43
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................... 45 A. Gambaran Sampel Penelitian............................................................... 45 B. Deskripsi Hasil Penelitian.................................................................... 46
1. Analisis Awal.................................................................................. 46 a. Normalitas Data........................................................................ 46 b. Kecukupan Jumlah Sampel....................................................... 46
2. Hasil Analisis Faktor...................................................................... 47 a. Ekstraksi Faktor........................................................................ 47 b. Rotasi Faktor............................................................................. 49
C. Reliabilitas............................................................................................ 54 D. Pembahasan.......................................................................................... 55
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................60
A. Kesimpulan........................................................................................... 60 B. Saran..................................................................................................... 60
viii
Universitas Sumatera Utara

1. Saran Praktis.................................................................................... 60 2. Saran Metodologis........................................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 62 LAMPIRAN............................................................................................... 65
ix
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL Tabel. 1 Aitem Big Five Factor Marker Versi Asli.............................................. 33 Tabel. 2 Aitem-aitem Big Five Factor Marker Hasil Terjemahan........................ 36 Tabel. 3 Aitem-aitem Big Five Factor Marker Hasil Adaptasi............................. 38 Tabel. 4 Blue Print Aitem Big Five Factor Marker............................................. 40 Tabel. 5 Proporsi Sampel Penelitian Berdasarkan Usia....................................... 45 Tabel. 6 Hasil Analisis Uji Normalitas................................................................ 46 Tabel. 7 Hasil Analisis Tes KMO....................................................................... 47 Tabel. 8 Varians Masing-masing Faktor............................................................. 49 Tabel. 9 Muatan Faktor Masing-masing Aitem................................................... 50 Tabel. 10 Pengelompokan Aitem Berdasarkan Nilai Muatan Faktor..................... 51 Tabel. 11 Blue Print Aitem Setelah Ekstraksi..................................................... 52 Tabel. 12 Indikator Perilaku Big Five Inventory dan Big Five Factor Marker...... 58
x
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR Grafik 1. Scree Plot......................................................................... 48
xi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RUMUS Rumus 1. Reliabilitas Skor Komposit................................................. 44
xii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Deskripsi Usia Sampel.................................................... 66 Lampiran 2 Uji Normalitas................................................................ 69 Lampiran 3 Deskripsi Hasil Analisis Faktor....................................... 71 Lampiran 4 Estimasi Reliabilitas Skor Komposit................................... 76
xiii
Universitas Sumatera Utara

Adaptasi Alat Ukur Kepribadian Big Five Factor Marker dari International Personality Item Pool (IPIP)
Rizki Febrianti Maharani dan Etty Rahmawati
ABSTRAK
Informasi individu yang digali melalui tes psikologi dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Salah satu aspek yang dinilai ialah kepribadian. Teori kepribadian yang luas dan mampu memprediksi serta menjelaskan banyak hal melalui faktor-faktornya ialah Big Five. Namun pengembangan alat ukur Big Five di Indonesia masih sedikit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Factor Marker kedalam versi Indonesia dan menguji karakteristik psikometrinya. Subjek yang terlibat dalam penelitian sebanyak 500 orang dewasa penduduk kota Medan. Estimasi validitas konstruk menggunakan analisis faktor dan reliabilitas menggunakan formula alpha Cronbach dengan bantuan program SPSS.
Ditemukan bahwa Big Five Factor Marker versi adaptasi menghasilkan jumlah faktor yang sama dengan versi aslinya. Hanya terdapat beberapa indikator perilaku yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan budaya. Rata-rata nilai muatan faktor (factor loading) ke 50 aitem Big Five Factor Marker adalah 0.3 dan reliabilitasnya 0.86. Oleh karena itu dapat dikatakan Big Five Factor Marker memiliki validitas kosntruk serta reliabilitas yang baik.
Kata Kunci: Adaptasi, Big Five Factor Marker, validitas konstruk, reliabilitas
ii
Universitas Sumatera Utara

The Adaptation of Big Five Factor Marker Personality Test from International Personality Item Pool (IPIP) Rizki Febrianti Maharani and Etty Rahmawati
ABSTRACT
Individual information explored through psychological tests can be used as a basis for decision making. One aspect that assessed is personality. One of the broad personality theory which has the ability to predict and explain many things through its factors is the Big Five theory. The development of this test, however, is still small in Indonesia.
This research was aimed to adapt the Big Five Factor Marker into Indonesian version and to examine the characteristics of its psychometric. The subjects involved in this research were the residents of Medan city totaled 500 adults. Estimation of construct validity used factor analysis and reliability used Cronbach alpha formula with the assistance of SPSS.
It was found that the Big Five Factor Marker adapted version produced the same number of factors as the original version. There were only a few indicators of different behaviors. Such differences may be caused by cultural differences. The average loading factor of the 50 items of the Big Five Factor Marker was 0.3 while the reliability was 0.86. Therefore it can be conclude that the Big Five Factor Marker have a good cosntruct validity and good reliability.
Keywords: Adaptation, Big Five Factor Marker, construct validity, reliability
iii
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tes psikologi adalah suatu pengukuran yang objektif dan terstandar terhadap sampel dari suatu perilaku. Tujuan dari tes psikologi sendiri adalah untuk mengukur perbedaan antar individu atau juga mengukur reaksi individu yang sama pada situasi yang berbeda (Anastasi & Urbina, 1997).
Penggunaan tes psikologi saat ini menjadi suatu bagian yang sangat penting dalam pengukuran terhadap individu. Tes psikologi berperan sebagai alat untuk menggali atribut psikologi individu. Terdapat tujuh jenis tes psikologi yang beragam tergantung tujuan pengukurannya. Pertama, tes intelegensi untuk mengukur kemampuan individu dalam cakupan umum. Kedua, tes bakat untuk mengetahui bakat atau potensi khusus seseorang. Ketiga, tes kreativitas untuk mengukur kapasitas individu untuk menemukan solusi yang tidak biasa dan tidak terduga khususnya dalam memecahkan masalah yang masih samar. Keempat, tes kepribadian untuk mengukur trait, kualitas, atau perilaku yang menunjukkan individualitas seseorang. Kelima, tes prestasi untuk mengukur pencapaian individu setelah mempelajari sesuatu. Keenam, tes inventori minat untuk mengukur kecenderungan seseorang pada aktifitas atau topik-topik tertentu. Dan terakhir, tes neuropsikologi untuk mendapatkan data mengenai keluhan gangguan kognitif (Gregory, 2004).
1
Universitas Sumatera Utara

2
Hasil tes psikologi digunakan sebagai dasar informasi dalam pengambilan keputusan. Informasi individu yang digali melalui suatu tes psikologi dapat menjadi prediktor yang meramalkan performa individu dalam suatu tugas. Oleh karena itu tes psikologi yang akan dipergunakan harus memenuhi kualitas psikometri yang baik agar dapat diterapkan dalam mengukur suatu atribut psikologi pada individu (Murphy, 2005).
Tes psikologi digunakan dalam konteks industri organisasi, pendidikan atau sekolah serta dalam konteks klinis. Dalam konteks industri organisasi tes psikologi memainkan peran yang sangat penting, terutama dalam proses perekrutan dan seleksi karyawan. Tes psikologi yang digunakan diantaranya tes kemampuan kognitif, tes situasional, serta tes kepribadian objektif dan proyektif. Tes psikologi dalam konteks pendidikan berperan untuk memeriksa intelegensi atau IQ, prestasi akademik, kepribadian, minat serta bakat. Dalam konteks klinis peran tes sebagai alat untuk memeriksa orang-orang yang mengalami masalah perilaku untuk kemudian menetapkan keputusan-keputusan terapeutik (Anastasi, 1997).
Tes intelegensi digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan individu dalam cakupan umum. Dalam konteks industri organisasi tes intelegensi berperan dalam proses penyeleksian berdasarkan intelegensi. Proses seleksi selanjutnya, menekankan pentingnya tes kepribadian sebagai bagian dalam proses akhir pengambilan keputusan. Tes kepribadian menjadi penting dalam proses perekrutan karyawan karena posisi jabatan tertentu membutuhkan spesifikasi
Universitas Sumatera Utara

3
orang-orang dengan karakteristik kepribadian tertentu yang tidak hanya dilihat berdasarkan kemampuan umum atau intelegensi (Jewell, 1998).
Para psikolog yang tertarik dalam bidang perilaku karir juga berpendapat bahwa kepribadian berhubungan dengan jenis karir yag dipilih seseorang dan bagaimana mereka berfungsi dalam pekerjaan tersebut. Orang dengan karakteristik tertentu akan memilih pekerjaan tertentu dan akan berfungsi dengan lebih baik dalam beberapa pekerjaan dibandingkan pekerjaan yang lain (De Fruyt & Salgado, dalam Pervin, 2005). Dalam konseling sekolah tes kepribadian berfungsi untuk memeriksa dan kemudian mengarahkan serta menangani anakanak berdasarkan karakter pribadinya. Terlihat bahwa dalam bidang-bidang tersebut kepribadian individu menjadi salah satu faktor pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan.
Menurut Gordon W.Allport kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas (Barrick & Ryan, dalam Pervin, 2005). Banyak teori-teori kepribadian yang berkembang dalam menggambarkan perbedaan manusia. Masing-masing teori menggambarkan kepribadian berdasarkan satu perspektif tertentu, sehingga tidak bisa menggambarkan perbedaan manusia secara luas dan menyeluruh. Salah satu pendekatan dalam kepribadian yang diketahui dapat melihat perbedaan individual secara luas ialah Big Five Factor. Big Five Factor mengorganisir perbedaan individu dalam lima dimensi yang luas dan bipolar (John & Srivastava, 1999; McCrae & Costa, 2006). Kelima dimensinya
Universitas Sumatera Utara

4
berupa unit dasar kepribadian atau trait, yang merupakan kecenderungan umum individu untuk merespons dengan cara tertentu (Pervin, 2005).
Sifat atau trait diperlakukan sebagai sesuatu yang benar-benar eksis dalam teori Big Five Factor, yaitu tiap faktor dipandang sebagai struktur psikologi yang dimiliki oleh tiap orang dalam tingkatan yang bervariasi. Sifat tersebut dianggap mempengaruhi secara kausal tiap perkembangan psikologi individual. Dalam teori Big Five Factor, kelima faktornya merupakan disposisional dasar kecenderungan yang dimiliki oleh semua orang (Pervin, 2005).
Selama dua dekade terakhir, perkembangan Big Five Factor telah menjadi model paling menonjol untuk menggambarkan struktur sifat kepribadian. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa banyak hal yang mampu diprediksi dan digambarkan oleh trait-trait dalam kepribadian Big Five Factor. Salah satu contohnya dalam bidang pekerjaan. Individu dengan tingkat Extraversion yang tinggi akan memilih dan lebih baik pada pekerjaan sosial dan hiburan dibandingkan dengan individu Introversion (Pervin, 2005).
Contoh lainnya dalam penggunaan model Big Five Factor ialah dalam memilih dan merencanakan perawatan psikologi individu (Harkness & Lilienfeld, dalam Pervin, 2005). Pemahaman terhadap kepribadian individual, membuat para terapis mampu untuk mengantisipasi masalah dan merencanakan serangkaian penanganan dalam perawatan psikologi individu (Sanderson & Clarkin, dalam Pervin, 2005). Prinsipnya disini ialah sebagaimana individu dengan kepribadian yang berbeda akan berfungsi lebih baik atau lebih buruk dalam pekerjaan yang berbeda, maka individu juga bisa lebih banyak atau lebih sedikit mendapatkan
Universitas Sumatera Utara

5
keuntungan dari bentuk perawatan psikologi yang berbeda (Costa & McCrae, dalam Pervin, 2005).
Terlihat banyak aspek yang dapat diprediksi dan digambarkan dengan kepribadian Big Five Factor, namun pengembangan alat ukur kepribadiannya masih sedikit. Goldberg (1999) menyatakan bahwa progres ilmiah dalam pengembangan inventori kepribadian masih sangat lambat. Salah satu penyebabnya adalah fakta bahwa inventori kepribadian yang luas berkembang merupakan instrumen hak milik, diantaranya NEO PI-R (Neoriticsm, Extraversion, Openness, Personality Inventory- Revised) dan CPI (California Psychological Inventory), yang mengarah pada sedikitnya pembaharuan karena ketika akan dikembangkan peneliti membutuhkan izin serta biaya dalam penggunaan kuisionernya.
Di Indonesia sendiri ketersediaan inventori kepribadian masih sedikit (Halim, 2004). Di kota Medan, peneliti mewawancara psikolog di Biro Psikologi Persona, Sandra Dwi Anita, M.Psi. Sandra mengungkapkan tes kepribadian yang biasa digunakan ialah EPPS, Papi Kostick dan tes grafis seperti Wartegg, DAP, dan Baum. Dalam penggunaannya, pelaksanaan inventori kepribadian harus disertai wawancara dan observasi untuk melihat kesesuaian dan konsistensi hasil tes dengan hasil wawancara. Observasi dan wawancara juga dapat digunakan sebagai antisipasi kecurangan akibat banyaknya alat tes yang bocor dan beredar secara bebas (Sandra, komunikasi personal tanggal 29 November 2012, pukul 14.00)
Universitas Sumatera Utara

6
Alat ukur kepribadian Big Five yang digunakan di Indonesia adalah NEO PI-R yang dikonstruksikan pada tahun 1992 oleh Costa dan McCrae. Terdiri dari 240 aitem pernyataan-pernyataan pendek berupa self-report pada orang pertama, contoh: Saya benar-benar seperti orang yang kebanyakan saya temui. Dan mengobservasi peringkat pada orang ketiga, contoh: Dia memiliki imajinasi yang sangat aktif. Aitem-aitemnya dievaluasi dengan lima poin skala mulai dari “sangat tidak setuju” sampai “sangat setuju” (McCrae & Costa, 2006).
Penggunaan alat ukur kepribadian Big Five maupun pengembangan alatnya masih belum begitu populer di Indonesia. Penelitian alat ukur kepribadian Big Five secara psikometri juga belum banyak dilakukan (Mastuti, 2005). Melihat fenomena tersebut, adaptasi inventori yang memenuhi syarat kedalam bahasa dan budaya indonesia sangat berkontribusi pada perkembangan penelitian alat ukur kepribadian di Indonesia.
Pada tahun 1996 Goldberg mengusulkan suatu kolaborasi Internasional untuk mengembangkan inventori kepribadian yang mudah tersedia dan luas. Semua peneliti bebas menggunakan aitem dan menyebarkan penemuan mereka untuk memperbaruinya. Aitem-aitemnya dikembangkan dan kemudian disajikan pada website internet yang dikenal dengan International Personality Item Pool (IPIP) (Gow, 2005).
IPIP berisi versi pengganti dari inventori yang luas digunakan. Sebagai contoh, sebuah versi IPIP dari NEO PI-R tersedia. Asosiasi antara versi hak milik (asli) dan IPIP telah dicatat dan hasilnya bentuk pendek dari IPIP NEO dengan NEO PI-R yang asli rentang korelasinya 0,70 - 0,82. Namun tingginya korelasi
Universitas Sumatera Utara

7
tersebut tidak berarti bahwa versi IPIP dengan versi aslinya benar-benar setara (Costa & McCrae, dalam Gow, 2005). Selain berisi berbagai versi dari tes Big Five yang berkembang, Goldberg juga mengembangkan beberapa aitem dalam IPIP yang dikenal dengan Big Five Factor Marker yaitu suatu tes untuk mengukur kepribadian berdasarkan Big Five Factor, kelima faktornya yaitu Extraversion vs Introversion, Agreeableness vs Antagonism, Conscientiousness vs Lack of Direction, Emotional Stability vs Neuroticism, dan Intellec atau Openness vs Closedness.
Big Five Factor Marker terdiri dari 50-100 aitem yang berupa pernyataanperyataan pendek. Kesemua aitemnya dapat di download di internet untuk digunakan dalam penelitian. Awalnya pengembangan Big Five Factor Marker oleh Goldberg ini terdiri dari 100 unipolar Big Five Factor Markers yang berisi kata sifat tunggal atau trait-descriptive. Namun kemudian, Goldberg mengusulkan bahwa kata sifat dapat diperbaiki untuk menciptakan aitem-aitem kuesioner yang menyediakan informasi yang lebih kontekstual daripada kata tunggal, tapi tetap masih lebih singkat daripada aitem dalam inventori kebanyakan lainnya (Gow, 2005).
Pernyataan-pernyatan dalam Big Five Factor Marker berupa frasa pendek yang menjelaskan perilaku atau behavior-descriptive sehingga ketika digunakan secara luas lebih mudah diterjemahkan dalam bahasa yang berbeda di dunia daripada kata sifat tunggal atau trait-descriptive (Mlacic & Goldberg, 2007). Selain itu aitem yang disajikan juga sederhana sehingga mudah dipahami oleh responden. Masing-masing aitemnya direspon dengan memeringkatkan diri
Universitas Sumatera Utara

8
mereka pada lima tingkatan, yaitu “sangat sesuai”, “sesuai”, “netral”, “tidak sesuai”, dan “sangat tidak sesuai”.
Big Five Factor Marker banyak dilaporkan dalam jurnal-jurnal pengembangan alat ukur. Big Five Factor Marker memiliki aitem yang sedikit, tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan beberapa inventori kepribadian lainnya, aitem-aitemnya yang berupa frasa memudahkan pengerjaan oleh responden. Kesemua aitem singkat dalam Big Five Factor Marker mampu mengukur lima faktor kepribadian Big Five, yaitu Surgency atau Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Emotional Stability atau kebalikan dari Neuroticism, dan Intellec atau Openness (Guenelo & Chernyshenko, 2005).
Big Five Factor Marker juga dapat menghemat pelaksanaan pemeriksaan kepribadian. Teori Big Five yang mampu menggambarkan kepribadian secara luas memungkinkan untuk melakukan tes kepribadian hanya sekali saja. Karena praktiknya, pemeriksaan kepribadian menggunakan beberapa alat tes untuk melihat beberapa dimensi kepribadian tertentu. Ini disebabkan oleh satu tes kepribadian biasanya mengukur suatu dimensi kepribadian tertentu. Hal ini diungkapkan oleh Yunita sebagai psikolog di biro psikologi Persona (Yunita Zahra, M.Psi, komunikasi personal tanggal 11 Januari 2013, pukul 13.00).
Berdasarkan keluasan Big Five Factor yang mampu menggambarkan dan memprediksi banyak aspek dari traitnya, serta kebutuhan pengembangan inventori kepribadian Big Five di Indonesia, peneliti merasa perlu melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengadaptasi Big Five Factor Marker dari IPIP kedalam versi indonesia.
Universitas Sumatera Utara

9
B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah Big Five Factor Marker yang telah diadaptasi kedalam versi
Indonesia memiliki validitas konstruk dan reliabilitas yang baik? C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: Mengadaptasi Big Five Factor Marker (IPIP) kedalam versi Indonesia dan menguji validitas konstruk serta reliabilitasnya. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis dan teoritis berikut: 1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi dalam bidang psikometri melalui suatu bentuk pelaporan pengadaptasian tes kepribadian beserta pengujian validitas konstruk serta reliabilitasnya. 2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan alat tes kepribadian berdasarkan teori Big Five Factor yaitu Big Five Factor Marker yang telah diadaptasi dalam versi Indonesia dan memiliki karakteristik psikometri yang baik.
Universitas Sumatera Utara

10
E. Sistematika Penulisan Bab I Pendahuluan
Menggambarkan tentang peranan teori kepribadian Big Five dalam menjelaskan perbedaan individu, kurangnya pengembangan inventori kepribadian Big Five hingga perumusan masalah, tujuan dan manfaat yang diharapkan dari penelitian. Bab II Landasan Teori
Berisi teori Big Five serta tipe-tipe kepribadian Big Five, penjelasan mengenai Big Five Factor Marker serta IPIP, teori mengenai adaptasi alat ukur serta tata cara pengadaptasian, serta teori mengenai karakteristik psikometri yaitu validitas serta reliabilitas. Juga berisi mengenai sumber-sumber error dalam adaptasi. Bab III Metodologi Penelitian
Berisi uraian tentang jenis penelitian, karakteristik populasi penelitian serta teknik pengambilan sampelnya. Juga berisi proses pengadaptasian Big Five Factor Marker serta penjelasan tentang teknik dan prosedur yang dilaksanakan dalam pengumpulan data serta analisa data. Bab IV Hasil dan Pembahasan
Berisi deskripsi data sampel, hasil analisis validitas konstruk serta reliabilitasnya. Serta berisi pembahasan validitas konstruk dan reliabilitas Big Five Factor Marker dalam versi Indonesia.
Universitas Sumatera Utara

11 Bab V Kesimpulan dan Saran
Berisi rangkuman dari hasil penelitian dan beberapa saran yang diajukan untuk pengembangan penelitian.
Universitas Sumatera Utara

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kepribadian Big Five 1. Sejarah Perkembangan Kepribadian Big Five
Kepribadian telah dikonsepkan dari bermacam-macam perspektif teoritis yang masing-masing berbeda tingkat keluasannya (McAdams dalam John & Srivastava, 1999). Masing-masing tingkatan ini memiliki keunikan dalam memahami perbedaan individu dalam perilaku dan pengalamannya. Meskipun begitu, jumlah trait kepribadian dan skala kepribadian tetap dirancang tanpa hentihentinya (Goldberg dalam John & Srivastava, 1999).
Psikologi kepribadian memerlukan model deskriptif atau taksonomi mengenai kepribadian itu sendiri. Salah satu tujuan utama taksonomi dalam ilmu pengetahuan adalah untuk menyederhanakan defenisi yang saling tumpang-tindih. Oleh karena itu, dalam psikologi kepribadian, suatu taksonomi akan mempermudah para peneliti untuk meneliti sumber utama karakteristik kepribadian sehingga tidak hanya sekedar memeriksa ribuan atribut yang berbedabeda yang membuat setiap individu berbeda dan unik (John & Srivastava, 1999).
Satu dari peneliti paling berpengaruh dalam menerapkan prosedur empiris membangun suatu taksonomi kepribadian adalah Raymond B. Cattel, yang memulai dengan suatu bacaan deskripsi-kepribadian dalam bahasa Inggris. Variabel Cattel ketika dianalisis menggunakan metode rotasi ortogonal, hanya memunculkan lima faktor (Digman & Takemoto-Chock, Fiske, Norman, Tupes &
12
Universitas Sumatera Utara

13
Christal dalam Goldberg, 1990). Struktur lima faktor yang mirip, namun berdasarkan variabel set yang lain juga telah dilaporkan oleh Borgatta pada tahun 1964, Digman dan Inoyue pada tahun 1986, serta McCrae dan Costa pada tahun 1985. Lima faktor ini selanjutnya disebut Big Five. Faktor Big Five tersebut dinamai dan dinomori sebagai berikut: I. Surgency (atau Extraversion); II. Agreeableness; III. Conscientoiusness; IV. Emotional Stability (kebalikan dari Neuroticsm); dan V. Culture. Faktor kelima, yaitu culture diinterpretasikan secara alternatif oleh Digman & Takemoto-Chock pada 1981 serta Peabody & Goldberg pada 1989 sebagai Intellect. Dan oleh McCrae & Costa pada 1987 sebagai Openness (Goldberg, 1990).
Pada 1981, Goldberg mengulas beberapa riset dan menyarankan bahwa ada kemungkinan setiap model penstrukturan perbedaan individual akan mencakup - pada level yang sama - segala sesuatu seperti dimensi Big Five. Dengan demikian faktor big five menjadi faktor eksistensi. Kata Big maksudnya merujuk kepada temuan bahwa tiap faktor menggolongkan banyak sifat tertentu (Pervin, 2005).
Dimensi Big Five tidak mencerminkan perspektif teoritis tertentu, tetapi merupakan hasil dari analisis bahasa alami manusia dalam menjelaskan dirinya sendiri dan orang lain. Taksonomi Big Five bukan bertujuan untuk mengganti sistem yang terdahulu, melainkan sebagai penyatu karena dapat memberikan penjelasan sistem kepribadian secara umum (John & Srivastava, 1999).
Big Five disusun bukan untuk menggolongkan individu ke dalam satu kepribadian tertentu, melainkan untuk menggambarkan sifat-sifat kepribadian
Universitas Sumatera Utara

14
yang disadari oleh individu itu sendiri dalam kehidupannya sehari-hari. Pendekatan ini disebut Goldberg sebagai Fundamental Lexical (Language) Hypothesis; perbedaan individu yang paling mendasar digambarkan hanya dengan satu istilah yang terdapat pada setiap bahasa (Pervin, 2005).
2. Trait Kepribadian Big Five Ada dua model faktor Big Five yang dikenal secara luas, yaitu oleh
Goldberg dan McCrae. Kedua model ini sebanding, perbedaan minornya ialah pada penamaan (faktor Emotional Stability dan Intellect dalam model Goldberg disebut Neuroticism dan Openeness to experience dalam model McCrae dan Costa) serta dasar teoritis dari kedua model tersebut (Guenelo &Chernyshenko, 2005).
Ilustrasi makna dari berbagai faktor Big Five ialah sebagai berikut, Neuroticism bertolak belakang dengan Emotional Stability dalam hal luasnya cakupan perasaan negatif, termasuk kecemasan, rasa sedih, rasa rapuh, dan ketegangan saraf. Keterbukaan terhadap pengalaman (Openess) mendeskripsikan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas mental individual dan kehidupan eksperiensial. Extraversion dan Agreeableness merangkum sifat yang interpersonal, maksudnya, sifat-sifat tersebut menggambarkan apa yang dilakukan orang kepada orang lain dan dengan orang lain. Dan Conscientiousness pada dasarnya mendeskripsikan perilaku berorientasi tugas dan tujuan dan kontrol impuls yang dipersyaratkan secara sosial (Pervin, 2005).
Faktor-faktor Big Five oleh Goldberg adalah Extraversion, Agreeableness, Conscientiousness, Emotional Stability dan Intellect. Kelima faktor tersebut
Universitas Sumatera Utara

15
merupakan faktor bipolar yang memiliki sisi berlawanan tiap faktornya. Goldberg mendefinisikan berbagai faktor Big Five dalam inventory of bipolar trait, yaitu (Pervin, 2005): 1. Extraversion vs Introversion. Individu dengan nilai tinggi (Extraversion)
dikarakteristikan dengan senang berbicara, tegas, suka tantangan, energik, berani. Sedangkan individu dengan nilai rendah (Introversion) dikarakteristikkan sebaliknya. 2. Agreeableness vs Antagonism. Individu dengan nilai tinggi (Agreeableness) dikarakteristikkan dengan baik hati, kooperatif, tidak egois, dapat dipercaya, dermawan. Sedangkan individu dengan nilai rendah (Antagonism) dikarakteristikkan sebaliknya. 3. Conscientiousness vs Lack of Direction. Individu dengan nilai tinggi (Conscientiousness) dikarakteristikkan dengan terorganisir, bertanggung jawab, praktis, peduli, pekerja keras. Sedangkan individu dengan nilai rendah (Lack of direction) dikarakteristikkan sebaliknya. 4. Emotional Stability vs Neuroticsm. Individu dengan nilai tinggi (Emotional stability) dikarakteristikkan dengan rileks, santai, stabil, puas, tidak emosional. Sedangkan individu dengan nilai rendah (Neuroticism) dikarakteristikkan sebaliknya. 5. Openness to new experience vs closedness. Individu dengn nilai tinggi (Openness to new experience) dikarakteristikkan dengan imajinatif, kreatif, ingin tahu, reflektif, rumit. Sedangkan individu dengan nilai rendah (Closedness) dikarakteristikkan sebaliknya.
Universitas Sumatera Utara

16
Selain inventory bipolar Goldberg, kuesioner lain yang juga digunakan secara luas untuk mengukur Big Five ialah NEO-PI-R oleh Costa dan McCrae. Bukti menunjukkan bahwa skala NEO-PI-R juga sesuai dengan instrumen Big Five oleh Goldberg (John & Srivastava, Benet-Martinez & John, dalam Pervin, 2005). Walaupun demikian, penting diperhatikan adanya beberapa perbedaan berkaitan dengan segi mana yang ditekankan pada tiap instrumen.
Sebagai contoh, Costa dan McCrae menempatkan segi kehangatan pada Extraversion sedangkan para periset Big Five lain menemukan kehangatan yang lebih berkaitan dengan Agreeableness (John & Srivastava dalam Pervin, 2005). Silang pendapat terjadi khususnya dalam konseptualisasi faktor kelima, Openness. Goldberg menekankan pengenalan intelektual dan kreatif dalam pengukuran faktornya, dan karena itu menamakannya Intellect (Kecerdasan) atau Imagination (Imajinasi); McCrae mengkritik pandangan tersebut terlalu menyempitkan definisi faktor Openness. (Pervin, 2005)
B. Big Five Factor Marker International Personality Item Pool (IPIP) diusulkan oleh Goldberg
sebagai seorang scientific collaboratory untuk pengembangan pengukuran trait kepribadian dan perbedaan individual. Selama bertahun-tahun, website IPIP yaitu http://ipip.ori.org/ telah menyediakan set pengukuran yang semakin meningkat, kesemuanya dalam domain publik, tersedia untuk peneliti seluruh dunia (Mlacic, 2007).
Big Five factor Marker dari IPIP merupakan kumpulan aitem-aitem oleh Godberg yang terdiri dari beberapa pernyataan pendek. Satu tujuan Goldberg pada
Universitas Sumatera Utara

17
factor markers adalah untuk menyediakan suatu set aitem-aitem yang singkat yang dapat menghasilkan struktur target lima faktor, yang dapat dibandingkan dengan posisi teoritis alternatif dan kuesioner kepribadian lainnya (Guenole & Chernyshenko, 2005)
Aitem-aitem pada Big Five Factor Marker berupa pernyataan-pernyataan pendek dan sederhana yang diskor berdasarkan metode penskalaan Likert lima tingkatan yaitu “sangat tidak sesuai”, “tidak sesuai”, “netral”, “sesuai”, dan “sangat sesuai”. Big Five Factor Marker terdiri dari dua versi, yaitu versi pendek dan versi panjang. Versi pendek terdiri dari 50 aitem dan versi panjang terdiri dari 100 aitem. C. Adaptasi Alat ukur 1. Definisi Adaptasi Alat Ukur
Istilah adaptasi sangat luas dan menunjukkan apa yang harus dilakukan ketika menyiapkan suatu tes yang dikonstruksi dalam satu bahasa dan budaya untuk digunakan dalam bahasa dan budaya berbeda. Adaptasi tes termasuk aktifitas dari menentukan apakah test dapat mengukur konstruk yang sama dalam bahasa dan budaya yang berbeda, memilih penerjemah, memutuskan akomodasi yang sesuai yang akan dibuat dalam mempersiapkan tes untuk digunakan dalam bahasa kedua, sampai mengadaptasi tes dan mengecek kesetaraannya dalam bentuk yang diadaptasi (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Universitas Sumatera Utara

18
2. Tahap-tahap dalam Proses Adaptasi Berikut 3 tahapan dalam proses adaptasi:
a. Penelaahan Koeksistensi Konstruk yang Diukur Tahap pertama merupakan tahap studi untuk mencermati koeksistensi dari
konstruk yang hendak diukur beserta operasionalisasinya di lingkungan sosial budaya asal dan lingkungan sosial budaya dimana tes psikologi tersebut akan digunakan. Penelaahan konstruk ini sangat penting karena adanya temuan bahwa budaya menjadi faktor penting yang mempengaruhi pemunculan perilaku. Sebagai konsekuensinya, perilaku tidak dapat diukur atau dianalisis secara terpisah dari budaya setempat. Bahkan alat tes yang “terbebas dari faktor budaya” atau “culture fair” sekalipun tetap merefleksikan adanya perbedaan budaya. Sehingga konteks budaya harus selalu dipertimbangkan dalam pengembangan maupun pengadaptasian tes psikologi yang pada awalnya berasal dari budaya yang berbeda (Supratiknya & Susana, 2010).
Konstruk merepresentasikan variabel abstrak yang diperoleh melalui hasil pengamatan maupun teori. Fungsi dari konstruk ini terutama adalah untuk menjelaskan kesatuan dari suatu proses pemunculan perilaku. Masalah pokok dalam adaptasi tes adalah bahwa suatu konstruk yang sama di dua atau lebih lingkungan budaya, sangat mungkin mempunyai perbedaan pada variabel spesifik yang digunakan untuk mengukur konstruk. Contohnya dalam pertanyaan “Do you usually enter into conversation with fellow passengers on a bus?” Pada instrumen dalam bahasa aslinya, pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menjaring konstruk introversion-extraversion. Tetapi di lingkungan sosial budaya yang berpandangan
Universitas Sumatera Utara

19
bahwa menegur orang di bis merupakan tindakan yang dapat dianggap “ofensive”, pernyataan ini akan merefleksikan kontinum aggression-submission (Supratiknya & Susana, 2010). b. Tahap Alih Bahasa
Tujuan utama dari tahap ini adalah menerjemahkan instrumen / alat ukur, dalam artian membuat material tes mudah dimengerti dan dapat digunakan dengan mengalih-bahasakannya ke bahasa di lingkungan budaya setempat. Menerjemahkan tidak berarti menggantikan setiap kata dengan kata lain yang berasal dari bahasa yang akan digunakan di dalam tes (Supratiknya & Susana, 2010).
Menerjemahkan tes adalah salah satu dari langkah-langkah dalam proses adaptasi tes, dan bahkan dalam langkah ini istilah adaptasi lebih cocok digunakan daripada menerjemahkan untuk menggambarkan proses yang sebenarnya terjadi. Ini karena penerjemah berusaha untuk menemukan konsep, kata-kata, dan pernyataan yang setara secara budaya, psikologis, dan linguistik dalam budaya dan bahasa kedua (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Jumlah frekuensi kata-kata dapat memberikan sumbangan dalam memproduksi adaptasi tes yang valid. Secara umum, menerjemahkan kata-kata dan ekspresi dengan kata-kata dan ekspresi yang kurang lebih sama dalam bahasa kedua sangat baik dalam upaya untuk mengendalikan kesulitan kata-kata pada lintas bahasa. Masalahnya adalah frekuensi daftar kata-kata dan ekspresi tersebut tidak selalu tersedia. Ini juga yang merupakan alasan untuk lebih memilih
Universitas Sumatera Utara

20
penerjemah yang sudah mengenal budaya target dan bukan hanya bahasa (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Beberapa kata dan ekspresi tidak memiliki arti kata dan ekspresi yang setara dalam bahasa target. Bahkan mungkin kata-kata dan ekspresi tersebut tidak ada dalam bahasa target. Sehingga De-centering terkadang digunakan dalam mengadaptasi tes. De-centering merupakan pembuatan revisi bahasa dalam tes, sehingga materi yang setara dapat digunakan pada bahasa asal dan versi bahasa target. De-Centering mungkin dilakukan ketika sumber bahasa tes sedang dalam pengembangan pada waktu yang sama dengan bahasa target. Ini adalah situasi dimana tes ditujukan untuk digunakan dalam pengukuran Internasional dan beberapa tes yang dirangcang untuk digunakan diseluruh dunia (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Berikut beberapa tahapan dalam alih bahasa:
1) Seleksi dan pelatihan penerjemah Mendapatkan jasa penerjemah yang kompeten sudah jelas sangat penting.
Meskipun seringkali, peneliti mencoba untuk melalui proses translasi dengan penerjemah tunggal yang dipilih karena ia kebetulan tersedia- seorang teman, istri dari seorang rekan, seseorang yang bisa disewa murah, dan sebagainya. Seorang penerjemah tunggal dapat menampilkan, misalnya perspektif, pilihan untuk lebih menyukai kata-kata dan ungkapan tertentu, yang mungkin bukan yang paling cocok untuk menghasilkan adaptasi tes yang baik. Penerjemah ganda dapat melindungi terhadap bahaya penerjemah tunggal dan preferensi serta kekhasannya (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Universitas Sumatera Utara

21
Selain itu, penerjemah harus lebih dari orang yang akrab dan kompeten dengan bahasa yang terlibat dalam terjemahan. Mereka harus mengetahui budaya dengan sangat baik, terutama budaya target (budaya diasosiasikan dengan bahasa dari tes yang diadaptasi) (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
2) Desain Penilain dalam Mengadaptasi Tes Dua desain yang paling populer adalah forward translation dan backward
translation. Dalam desain forward translation, seorang penerjemah, ataupun sekelompok penerjemah mengadaptasi tes dari bahasa asalnya ke bahasa target. Kemudian, kesamaan dari kedua versi tes ini dinilai oleh kelompok penerjemah lain. Revisi dapat dibuat pada versi tes bahasa target untuk memperbaiki masalah yang diidentifikasi oleh para penerjemah. Terkadang sebagai langkah terakhir, orang lain, meski tidak harus penerjemah, akan mengedit tes versi bahasa target untuk menghaluskan bahasa (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Keuntungan utama dari desai forward translation ini adalah penilaian dilakukan secara langsung tentang kesetaraan bahasa asal dan versi bahasa target tes. Sedangkan kelemahan utamanya dasosiasikan dengan tingginya tingkat kesimpulan yang harus dibuat penerjemah tentang kesetaraan dari kedua versi tes. Kelemahan lainnya termasuk (a) penerjemah mungkin lebih ahli dalam satu bahasa daripada bahasa lainnya, (b) penilaian kesetaraan tes melibatkan penilaian oleh orang yang bilingual, sehingga mereka dapat menggunakan dugaan berdasarkan pengetahuan mereka tentang kedua bahasa, (c) penerjemah bisa saja lebih baik tingkat pendidikannya daripada peserta (untuk siapa tes ini dimaksudkan) sehingga mereka melupakan beberapa masalah yang akan dihadapi
Universitas Sumatera Utara

22
oleh peserta dan (d) pengembang tes tidak dalam posisi untuk menilai kesetaraan tes itu sendiri (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Desain back translation adalah desain penilaian yang dikenal paling baik dan paling populer. Dalam versinya yang paling populer, satu atau lebih penerjemah mengadaptasi tes dari bahasa asal ke bahasa target. Selanjutnya penerjemah yang berbeda mengadaptasi kembali tes yang telah diadaptasi (dalam bahasa target) kedalam bahasa asalnya. Kemudian, versi asli dan versi yang telah diadaptasi kembali dibandingkan dan dinilai kesetaraannya. Sejauh kedua versi tes dalam bahasa asal terlihat mirip, namun tetap memperhatikan kesetaraan dari tes versi bahasa asal dan bahasa target (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005).
Desain back-translation dapat digunakan untuk menyediakan pemeriksaan secara umum baik pada kualitas penerjemahan dan untuk mendeteksi setidaknya beberapa masalah yang terkait dengan terjemahan atau adaptasi yang buruk. Para peneliti menyukai desain ini karena memberikan mereka kesempatan untuk menilai tes versi asli dan versi yang sudah diterjemahkan kembali sehingga mereka dapat membentuk pendapat mereka sendiri tentang proses adaptasi. Hal ini tentu tidak mungkin dilakukan dalam desain forward-translation kecuali mereka mahir dalam bahasa tersebut (Hambleton, Merenda, & Spielberger 2005). c. Tahap empirik: Memastikan Kesetaraan Psikometrik
Tujuan utama dari pengadaptasian tes psikologi adalah untuk mendapatkan versi yang secara psikometrik ekuivalen / setara tetapi menggunakan bahasa yang berbeda dengan bahasa aslinya (Supratiknya & Susana, 2010).
Universitas Sumatera Utara

23
Berikut Karakteristik Psikometrik dalam suatu tes: 1) Validitas
Validitas dapat disefinisikan sebagai kesesuaian antara skor tes dengan kualitas tes dalam mengukur. Validitas juga dapat didefinisikan sebagai jawaban dari “ apakah tes mengukur apa yang seharusnya diukur”. Pada 1985 American Educational Research Association (AERA), American Psychological Association (APA), dan National Council on Measurement in Education (NCME) mempublikasikan buku berjudul Standard for Educational and Psychological Testing. Standar yang terdapat dalam buku tersebut

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3901 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1037 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 932 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 624 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 780 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1328 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1227 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 813 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1097 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1326 23