Peran Perempuan Dalam Perkembangan Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit (1985-1995)

(1)

PERAN PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN CREDIT UNION “ORA ET LABORA” DESA BUKIT (1985-1995)

Skripsi Sarjana Dikerjakan Oleh,

APRILLYANTI S 070706017

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

PERAN PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN CREDIT UNION “ORA ET LABORA” DESA BUKIT (1985-1995)

Yang diajukan Oleh: Nama: Aprillyanti Surbakti

NIM: 070706017

Telah disetujui untuk selanjutnya diajukan dalam ujian skripsi sarjana ilmu budaya.

Pembimbing,

Drs. Samsul Tarigan

NIP: 195811041986011002 Tanggal: 14 Juni 2011 Ketua Departemen Sejarah,

Drs. Edi Sumarno,M.Hum

NIP: 196409221989031001 Tanggal: 14 Juni 2011

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

PERAN PEREMPUAN DALAM PERKEMBANGAN CREDIT UNION “ORA ET LABORA” DESA BUKIT (1985-1995)

Skripsi Sarjana Dekerjakan Oleh:

Nama: Aprillyanti Surbakti NIM: 070706017

Pembimbing,

Drs. Samsul Tarigan

NIP: 195811041986011002 Tanggal: 14 Juni 2011 Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Medan, Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Ilmu Budaya

dalam bidang Ilmu Sejarah.

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH DEPARTEMEN SEJARAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(4)

Lembar Pengesahan Ketua Jurusan

Disetujui oleh,

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan,

Departemen Ilmu Sejarah Ketua,

Drs. Edi Sumarno,M.Hum NIP:196409221989031001


(5)

Lembar Pengesahan Skripsi Sarjana Oleh Dekan dan Panitia Ujian Pengesahan

Diterima oleh:

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana Ilmu Budaya Dalam bidang Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan Universitas Sumatera Utara di Medan

Pada :

Hari/Tanggal : Rabu/ 22 Juni 2011 Waktu : 10.30 Wib

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A. NIP : 195110131976031001 Panitia Ujian,

No. Nama Ttg.

1. Drs. Edi Sumarno, M.Hum. (……….)

2. Dra. Nurhabsyah, M.Si. (……….)

3. Drs. Samsul Tarigan (……….)

4. Dra. Peninna Simanjuntak, M.S. (……….) 5. Dra. Junita S. Ginting, M.Si. (……….)


(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugrahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Peran Perempuan Dalam Perkembangan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit (1985-1995).“ Penulis menganggap hasil dari penelitian ini masih memiliki kekurangan, sehingga penulis mengharapkan masukan dan pendapat yang positif melalui kritik dan saran untuk lebih menyempurnakan skripsi ini. Selain itu penulis juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah turut membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Masalah yang dibahas dalam skripsi ini adalah suatu kejadian yang sangat umum terjadi di daerah-daerah pedesaan. Dimana di desa sering terjadi kekurangan modal didalam memenuhi keperluan untuk meningkatkan hasil pertanian. Masyarakat tidak mampu untuk meningkatkan hasil pertanian dikarenakan masalah modal, selain itu masyarakat juga kurang mampu untuk mengatur keuangan keluarga. Di desa yang mengatur keuangan dilakukan oleh perempuan/istri, namun terkadang mereka dianggap bodoh dan kurang mampu mengatur uang. Mereka hanya ditugasi di dapur untuk memasak dan mengurus anak, jelas ini membuat mereka tidak dapat

berekspresi dan mengeluarkan pendapat.

Hak dan martabat mereka direndahkan, dari keadaan ini muncul suatu yayasan yang bertujuan membantu perempuan untuk mengangkat hak dan martabat serta membantu perempuan menjadi seorang ibu yang berwawasan luas. Yayasan tersebut


(7)

adalah Yayasan Pijer Podi (YAPIDI), yayasan ini membentuk sebuah credit union. Credit union ini bernama Ora Et Labora yang berarti berdoa sambil bekerja. Credit union ini merupakan tempat untuk mengajari dan mendidik perempuan pedesaan untuk berpikir lebih luas dan menyadari hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki serta bagaimana cara mengatur keuangan keluarga. Credit union membantu perempuan untuk mengatur keuangan keluarga dan membantu permodalan untuk pertanian mereka.

Selain untuk memenuhi syarat-syarat untuk mendapatka gelar sarjana dalam bidang ilmu sejarah, skripsi ini juga menjadi sebuah referensi yang baik dalam memahami fenomena sosial ditransformasikan dalam pendekatan ilmu sejarah. Dengan demikian, uraian dalam skripsi dapat membantu semua pihak terutama kepada generasi sejarawan muda dalam memahami masalah-masalah sosial disekitar kita yang dideskripsikan secara lebih khusus dalam ruang lingkup mikro.

Medan, Juni 2011

Aprillyanti S 070706017


(8)

UCAPAN TERIMA KASIH

Kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan membantu mulai dari mengikuti kegiatan perkuliahan pada proram Strata I Ilmu Sejarah, Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Sebagai ucapan terima kasih yang utama penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan anugrah berupa kesehatan, rezeki, kemampuan berpikir dan lainnya, sehingga penulis merasa mampu dan dapat menyelesaikan Strata I dengan lancar dan sukses.

Penulis juga persembahkan skripsi ini khusus untuk keluarga penulis sebagai ucapan terima kasih dan doa yang sedalam-dalamnya, terutama kepada kedua orang tua penulis, masing-masing Ayahku yang tersayang R.Surbakti dan Bundaku yang terkasih T.Sembiring avril sayang kalian. Selain itu penulis mengucapkan terima kasih kepada kakakku Melda Armiz Surbakti S.E yang telah mendalami pekerjaannya, yang selalu membimbing, mengajari, memberi semangat dan doa kepada penulis, kepada adik-adikku Bima Sakti Surbakti dan Wilco Surbakti agar bersemangat untuk menuntut ilmu supaya dapat sukses nantinya, dan kepada Mejinq Egi Arjuna Ginting S.H untuk dukungan, semangat dan doa yang penulis dapatkan selama ini.

Ucapan terima kasih juga penulis berikan kepada segenap pejabat, staf pengajar, dan staf administrasi Fakultas Ilmu Budaya dan Departemen Sejarah


(9)

Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi bantuan yang sangat berharga, baik dalam menyelesaikan masalah-masalah administrasi maupun kegiatan perkuliahan, diantaranya kepada:

1. Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Departemen Sejarah Universitas Sumatera Utara.

3. Dra. Nurhabsyah, M.Si., selaku Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Sumatera Utara.

4. Drs. Samsul Tarigan, selaku Dosen Pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan skripsi ini.

5. Dr. Suprayitno,M.Hum., selaku Dosen Wali yang telah memberikan bimbingan dan arahan sepanjang penulis menjadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara.

6. Segenap staf pengajar pada Departemen Sejarah Universitas Sumatera Utara yang tidak dapat di sebutkan satu persatu, dan kepada Bapak Amperawira,

selaku Staf Administrasi Departemen Sejarah Universitas Sumatera Utara. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh dewan penasehat dan para pengurus Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit yang telah memberian waktu dan kesempatan sehingga penulis dapat mengumpulkan data-data yang sangat penting


(10)

di dalam penyelesaian tugas akhir ini. Antaranya kepada Ibu Afrida Sembiring

selaku Ketua Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit, kepada Ibu Katarina Sembiring, kakak Suai Arih Sembiring dan ibu-ibu yang lainnya beserta kepada sahabatku Hase Printa Ginting untuk semangat dan dukungannya serta tempat berteduh selama penulis penelitian di lapangan.

Terima kasih juga kepada kepala desa Bapak Pt. Dasar Bukit S.H dan sekretaris desa Bapak Birma Ginting atas bantuan-bantuannya didalam mengumpulkan data-data tentang keadaan Desa Bukit.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua rekan-rekan akademis yang telah banyak mendukung dan membantu dari awal kegiatan perkuliahan hingga penyelesaian skripsi, yaitu:

1. Kepada para senioran Program Studi Ilmu sejarah, seperti Nasrul Hamdani, S.S., Sere Murni Gultom S.S, Derni Simanjuntak S.S, Odoranta SembiringS.S, Merisdawati Limbong S.S, Kariani Zalukhu S.S, Iunita Simanjuntak S.S dan yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

2. Rekan-rekan seperjuangan seangkatan 2007, seperti teman-teman Remial (Meisia, Asima, Okta), Judika, Putera, Astina, Iwan, Okky, Siti, Olie, Aan, Aka, Mohan, Budi, Intan, Sari, Sulis, Andika, Anton, Andre, Bona, Azmi, David, Eta, Santi, Hendri, Heri, Julianto, Krisman,


(11)

Shoji, Usman dan semua teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.

3. Rekan-rekan junioran, seperti Edita, adek-adekku Serafin Small Group (Elisia, Itha, Mifani, Mustika) Novita, Ira, dan semua yang tidak bisa di sebutkan satu persatu.

Medan, 6 Juni 2011

Aprillyanti S 070706017


(12)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….. i

UCAPAN TERIMA KASIH……… iii

DAFTAR ISI……… vii

DAFTAR TABEL DAN BAGAN………... ix

ABSTRAK……… x

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah………. 1

1.2. Rumusan Masalah……… 7

1.3. Tujuan Penelitian………. 8

1.4. Manfaat Penelitian………... 8

1.5. Tinjauan Pustaka……… 9

1.6. Metode Penelitian……… 12

BAB II Gambaran Umum Desa Bukit 1985 2.1. Kondisi Geografis……….. 15

2.2. Keadaan Penduduk……… 18

2.3. Struktur Sosial Ekonomi………. 25

BAB III Berdirinya Credit Union Ora Et Labora 1985-1995 3.1. Latar Belakang berdiri Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit 1985……… 29

3.2. Sistem Kerja Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit………. 32

BAB IV Dampak Berdirinya Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit pada tahun 1985-1995 4.1. Dalam Bidang Ekonomi……….. 58


(13)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan……….. 69

5.2. Saran……… 72

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN


(14)

DAFTAR TABEL DAN BAGAN

1. TABEL

Tabel 1. Jumlah Penduduk Desa Bukit Berdasarkan Jenis Kelamin… 19 Tabel 2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama yang di Anut…….. 20 Tabel 3. Jumlah Sarana dan Fasilitas yang ada di Desa Bukit……… 22 Tabel 4. Perkembangan Jumlah Anggota Credit Union

Ora Et Labora Desa Bukit 1985-1995……… 50

2. BAGAN

Bagan 1. Struktur Pemerintahan Desa Bukit………. 23 Bagan 2. Struktur Kepengurusan Credit Union Ora Et Labora


(15)

ABSTRAK

Permodalan yang lemah merupakan ciri umum masyarakat pedesaan. Kesulitan modal masyarakat dikarenakan kurang mampu untuk mengatur keuangan dan kurang mampu dalam menghadapi perkembangan proses globalisasi yang semakin luas. Salah satu solusi yang banyak diterapkan di daerah pedesaan yaitu koperasi kredit (credit union). Koperasi kredit ini merupakan sebuah lembaga ekonomi yang berwatak sosial dan bertolak ukur pada asas kekeluargaaan dan kepercayaan serta tidak rumit. Pengelolaan dan pengendalian keuangannya dipegang langsung oleh anggota. Anggota dikhususkan seorang perempuan, karena pada awal berdirinya credit union ini bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan perempuan yang sejak lama dibedakan hak dan kewajibannya dari laki-laki. Penelitian ini diberi judul Peran Perempuan dalam Perkembangan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit 1985-1995 didasarkan bahwa tahun ini awal berdirinya credit union tersebut dan di tahun ini terjadi perkembangan peningkatan jumlah anggota. Desa Bukit berada di dataran tinggi Karo, berkecamatan di Tiga Panah dengan luas wilayah sekitar 466 ha. Untuk memperoleh informasi yang berhubungaan dengan judul tersebut penulis melakukan study kepustakaan dan wawancara. Awal berdirinya credit union ini terdapat banyak tantangan dan hambatan, baik dari dalam anggota maupun dari luar. Namun mengingat tujuan untuk mensejahterakan anggota dan masyarakat, maka credit union tersebut semakin berkembang baik dari jumlah anggota dan juga jumlah saham. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sesuatu yang penting bagi pembaca khususnya bagi para anggota credit union supaya dapat mempertahankan eksistensinya ditengah-tengah masyarakat dan mempertahankan kebersamaan dan kepercayaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.


(16)

ABSTRAK

Permodalan yang lemah merupakan ciri umum masyarakat pedesaan. Kesulitan modal masyarakat dikarenakan kurang mampu untuk mengatur keuangan dan kurang mampu dalam menghadapi perkembangan proses globalisasi yang semakin luas. Salah satu solusi yang banyak diterapkan di daerah pedesaan yaitu koperasi kredit (credit union). Koperasi kredit ini merupakan sebuah lembaga ekonomi yang berwatak sosial dan bertolak ukur pada asas kekeluargaaan dan kepercayaan serta tidak rumit. Pengelolaan dan pengendalian keuangannya dipegang langsung oleh anggota. Anggota dikhususkan seorang perempuan, karena pada awal berdirinya credit union ini bertujuan untuk mensejahterakan kehidupan perempuan yang sejak lama dibedakan hak dan kewajibannya dari laki-laki. Penelitian ini diberi judul Peran Perempuan dalam Perkembangan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit 1985-1995 didasarkan bahwa tahun ini awal berdirinya credit union tersebut dan di tahun ini terjadi perkembangan peningkatan jumlah anggota. Desa Bukit berada di dataran tinggi Karo, berkecamatan di Tiga Panah dengan luas wilayah sekitar 466 ha. Untuk memperoleh informasi yang berhubungaan dengan judul tersebut penulis melakukan study kepustakaan dan wawancara. Awal berdirinya credit union ini terdapat banyak tantangan dan hambatan, baik dari dalam anggota maupun dari luar. Namun mengingat tujuan untuk mensejahterakan anggota dan masyarakat, maka credit union tersebut semakin berkembang baik dari jumlah anggota dan juga jumlah saham. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sesuatu yang penting bagi pembaca khususnya bagi para anggota credit union supaya dapat mempertahankan eksistensinya ditengah-tengah masyarakat dan mempertahankan kebersamaan dan kepercayaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.


(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kehidupan perekonomian masyarakat pedesaan pada umumnya ditandai dengan permodalan yang lemah.1 Hal ini disebabkan oleh aktivitas ekonomi yang cenderung monoton, sesuai dengan gambaran kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya yang dipengaruhi oleh hasil agraria. Oleh karena itu sumber permodalan merupakan sumber utama dalam mendukung tingkat perkembangan produksi agraria masyarakat pedesaan.2

Dari kondisi tersebut muncul pihak-pihak yang mulai menawarkan solusi untuk mendukung permodalan kegiatan usaha masyarakat pedesaan salah satunya melalui sistem kredit.

Keterbatasan modal berbanding lurus dengan aktivitas usaha masyarakat pedesaan dibidang agraria dalam hal peningkatkan produksi pertanian dengan keterbatasan dana yang dimiliki, sementara pada kenyataannya sumber modal yang diperoleh untuk mendukung kegiatan usaha tersebut tidak mudah dijumpai di daerah pedesaan.

3

1

Modal lemah merupakan suatu kondisi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi

kebutuhan produksi untuk memperoleh hasil produksi yang maksimal.

2

Dalam dunia ekonomi, modal dapat dikatakan sebagai seluruh harta kekayaan yang dimiliki oleh orang-perorang atau perusahaan, sehingga keberadaannya menjadi factor produksi yang paling penting. Lihat dalam: Anwas Adiwilaga, Ilmu Usaha Tani, Bandung: Alumni, 1975, hal. 82-112

Sistem kredit menjadi metode pengembangan ekonomi yang lebih

3

Kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu akan dikembalikan lagi kepada suatu masa tertentu yang akan disertai dengan suatu kontra prestasi berupa bunga. Lihat: Muchdarsyah Sinungan, Dasar-Dasar Kredit dan Teknik Managemen Kredit, Jakarta: Bumi aksara, 1995, hal. 3


(18)

efektif untuk wilayah pedesaan, karena proses pengembalian pinjaman dapat dilakukan secara periodik, sehingga sangat cocok diterapkan di daerah pedesaan dengan kondisi perekonomian yang relatif rendah. Masyarakat pedesaan biasanya memberikan jaminan berupa harta benda yang dimilikinya atas pinjaman yang dilakukanya kepada kreditor. Namun pada kenyataannya sistem kredit yang diberlakukan tersebut masih memiliki banyak kelemahan, dikarenakan sistem tersebut masih belum memiliki badan hukum yang jelas.

Berdasarkan kenyataan tersebut muncul lembaga kredit formal di daerah pedesaan yang dapat menunjukkan kinerjanya. Solusi permodalan seperti ini, di Indonesia umumnya disebut sebagai kredit umum pedesaan, yaitu kredit modal yang diberikan untuk pengembangan atau peningkatan usaha-usaha kecil yang sudah ada di pedesaan. Tujuannya adalah untuk membantu membiayai keperluan investasi dalam hal peningkatan usaha semua sektor ekonomi pedesaan.

Sesuai dengan Undang-Undang No. 11 tahun 1953 tentang pokok bank Indonesia dan peraturan pemerintah No 1 Tahun 1955 tentang pengawasan terhadap urusan kredit, sistem kredit di Indonesia sudah berada pada posisi yang legal yang dapat menjamin investasi positif diseluruh wilayah Indonesia. Sejak ditetapkannya undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut, lembaga-lembaga kredit formal mulai menunjukkan fungsinya dalam peningkatan perekonomian nasional, termasuk di wilayah pedesaan yang memiliki banyak permasalahan dalam urusan permodalan.

Namun demikian, masih banyak ditemukan lembaga kredit nonformal yang berdiri sendiri untuk mempermudah pengadaan modal dengan persyaratan


(19)

administrasi yang lebih ringan, walaupun lembaga kredit formal sudah cukup membantu dalam hal pengadaan modal di pedesaan. Lembaga kredit nonformal biasanya hanya melayani proses kredit di wilayah-wilayah tertentu dan diawasi serta diselenggarakan oleh masyarakatnya sendiri sebagai anggota lembaga demi kemajuan ekonomi di wilayah tersebut.

Koperasi simpan pinjam sendiri pertama kali terbentuk di Eropa, tepatnya di Jerman tahun 1849, oleh seorang Walikota Flimensfield yang bernama Frederich Wilhelm Raiffeisen. Beliau membentuk koperasi simpan pinjam tersebut karena banyaknya masyarakat yang menderita, khususnya masyarakat yang memiliki ekonomi yang lemah. Sebuah koperasi yang awalnya kecil namun memberi pengaruh yang besar dan akhirnya meluas dan berkembang sampai ke Indonesia.4

Istilah credit union berasal dari bahasa latin yaitu credere yang berarti percaya dan union/unus yang berarti kumpulan. Maka credit union merupakan kumpulan orang-orang yang saling percaya dan dipererat dalam sebuah ikatan kata sepakat untuk menabung uang secara teratur dan secara terus menerus sehingga terbentuk suatu modal di tengah-tengah masyarakat atau anggota itu sendiri dan dapat dipinjam kembali oleh anggota masyarakat yang lain, dengan proses peminjaman yang lebih mudah, bunga yang relatif lebih kecil dan memiliki tujuan untuk mensejahterakan anggotanya.5

4

Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susuanto, Perkoperasian, Sejarah, Teori & Praktek,

Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004, hlm 14

5

Harry Seldado, Kredit Untuk Rakyat Dari Mekanisme Arisan Hingga BPR, Bandung: Akatiga, 1994, hlm. 88


(20)

Tiga prinsip utama model pengusahaan modal credit union sangat sederhana, yaitu:

1. Tabungan (modal) yang didapatkan hanya dari anggotanya sendiri. 2. Pinjaman yang hanya dipinjamkan kepada anggotanya sendiri. 3. Watak merupakan jaminan terbaik dalam peminjaman.

Salah satu contohnya adalah Credit Union (CU) “ Ora Et Labora” yang ada di Desa Bukit, yang pada kenyataannya sejak berdiri pada tahun 1985 sudah mengalami perkembangan yang cukup baik dan memberikan pengaruh yang positif bagi masyarakat dengan menyediakan modal dalam proses investasi jangka panjang. Credit Union “Ora Et Labora” tersebut memiliki proses kredit yang lebih mudah dan kelembagaan yang ada di dalamnya tidaklah terlalu rumit. Sehingga dapat dikatakan bahwa Credit Union “ Ora Et Labora ” merupakan satu lembaga nonformal yang berperan untuk membangun ekonomi pedesaan di Indonesia.

Credit Union “Ora Et Labora” berdiri pada tanggal 30 Desember 1985, dan dibentuk dari gagasan PPWP (Proyek Pembangunan Wanita Pedesaan). Sebelum akhirnya diganti sebagai YAPIDI (Yayasan Pijer Podi). Dengan anggota pertama berjumlah 70 orang dengan besar saham Rp.200,- per orang yang penabungannya dilakukan setiap bulan. Anggota-anggota dan pengurusnya dikhususkan para perempuan. Alasan mengapa perempuan yang dijadikan pengurus dalam Credit Union “Ora Et Labora” ini adalah karena pada umumnya di tempat ini perempuan lebih banyak berperan dalam urusan uang, baik dalam mencari maupun menyimpan uang. Karena Credit Union “Ora Et Labora” berhubungan dengan simpan menyimpan uang maka yang pengelolaannya diserahkan kepada perempuan. Karena,


(21)

perempuan dinilai lebih jujur dan lebih teliti dengan masalah uang dibandingkan dengan laki-laki. Maka peran Perempuan sangat dominan didalam pendirian dan pengurusan Credit Union “Ora Et Labora”, meskipun peran lelaki (suami) juga pasti ada dalam mengambil keputusan atau kebijakan misalnya, dalam hal peminjaman atau penabungan uang. Keunikan lain dari Credit Union “Ora Et Labora” ini adalah apabila para ibu ingin memasukkan anaknya yang laki-laki menjadi anggota bisa saja, namun ketika anaknya sudah menikah maka akan digantikan oleh anak menantunya. Sehingga pada akhirnya anggota serta pengurus dari Credit Union “Ora Et Labora” tersebut tetap seorang perempuan.

Selain itu hal terpenting dari pendirian Credit Union “Ora Et Labora” ini adalah adanya keinginan untuk menyetarakan hak dan kewajiban dengan lelaki serta mengangkat harkat dan martabat perempuan pedesaan. Pada masa tersebut perempuan “terkesan” diperlakukan seperti orang bodoh dan bekerja hanya untuk mengurus anak dan memasak. Credit Union “Ora Et Labora” ini juga memiliki banyak perkembangan dibandingkan dengan credit union atau koperasi lainnya. Meskipun Credit Union “Ora Et Labora” ini belum memiliki badan hukum, namun karena kebersamaan dan saling percaya antar anggota dan para pengurus Credit Union “Ora Et Labora” masih dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi. Hal ini dikarenakan pengurus dan anggota menganggap untuk mengurus badan hukum akan mengeluarkan biaya yang mahal, maka menurut mereka tidak perlu mengurus hal tersebut. Namun dalam perkembanganya Credit Union “Ora Et Labora” ini dapat berkembang dan bertahan hingga sekarang. Meski dalam sejarahnya terdapat juga beberapa orang yang menunggak pembayaran pinjaman,


(22)

terutama bagi anggota yang memiliki kesadaran yang relatif kurang, misalkan seseorang yang meminjam uang dengan agunan, maka jika tidak mampu membayar maka agunan akan ditarik oleh Credit Union “Ora Et Labora”, namun akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Dimana setelah si peminjam memiliki uang maka agunan akan dikembalikan tanpa melibatkan aturan hukum.6

Dalam melakukan kegiatan penelitian, yang menjadi landasan penelitian adalah akar permasalahan yang terdapat dalam topik yang dibahas. Hal inilah yang akan Pembahasan perkembangan Credit Union “Ora Et Labora” ini menarik untuk diteliti. Alasannya karena membahas tentang peran serta perubahan fungsi perempuan di dalam menunjang ekonomi keluarga. Membuka pola pikir perempuan menjadi lebih luas, antara lain dengan diadakan berbagai penyuluhan (study kasus) dan seminar pendidikan. Selain itu Credit Union “Ora Et Labora” juga banyak membawa perubahan bagi masyarakat Desa Bukit khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Dan alasan pemilihan judul ini adalah objek ini belum pernah dikaji dari perspektif histori secara menyeluruh dari awal berdirinya dan peran perempuan dalam perkembangannya yang telah banyak berperan dalam mengubah cara berpikir dan perubahan tingkat ekonomi masyarakat (anggota). Dari uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai sejarah dan perkembangan Credit Union “Ora Et Labora” yang berlokasi di Desa Bukit sebagai tempat penelitian.

1.2 Rumusan Masalah

6

Wawancara, dengan Afrida Br Sembiring (Ketua Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit), Bukit 25 Oktober 2010


(23)

diungkapkan dalam pembahasannya. Akar permasalahan merupakan hal yang penting karena dianggap sebagai bahan untuk membuat konsep yang akan diteliti dan menjadi alur dalam penulisan.

Sesuai dengan judul Peran Perempuan dalam Perkembangan Credit Union “Ora Et Labora’ Desa Bukit (1985-1995), maka dibuat perumusan masalah. Untuk mempermudah memahami permasalahan dalam penelitian ini, maka penulis mengkategorikan beberapa pokok masalah yang akan dibahas dalam penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana latar belakang dan proses berdirinya Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit (1985-1995) ?

2. Bagaimana sistem kerja dan peran perempuan dalam perkembangan Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit (1985-1995) ?

3. Dampak berdirinya Credit Union “Ora Et Labora” bagi kehidupan masyarakat Desa Bukit ?

Agar tidak terjadi berbagai penyimpangan dalam penelitian ini, maka ada baiknya dibuat batasan ruang lingkup, di mana penelitian ini di mulai pada tahun 1985 didasarkan bahwa tahun ini adalah tahun berdirinya Credit Union “ Ora Et Labora”. Kemudian batas akhir tahun 1995 dengan pertimbangan bahwa tahun tersebut merupakan tahun pelonjakan nilai saham dari Rp.5000-Rp 20.000.

1.3 Tujuan Penelitian

Setelah diketahui rumusan masalah yang dirumuskan oleh penulis, maka yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah apa yang menjadi tujuan penulisan dalam melakukan penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:


(24)

1. Menjelaskan latar belakang dan proses berdirinya Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit (1985-1995).

2. Menjelaskan sistem kerja dan peran perempuan dalam perkembangan Credit Union “Ora Et Labora’ Desa Bukit (1985-1995).

3. Menjelaskan dampak Credit Union “Ora Et Labora” bagi kehidupan masyarakat Desa Bukit (1985-1995).

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang dapat diperoleh, diantaranya adalah:

1. Bagi masyarakat Desa Bukit, dengan adanya penelitian ini diharapkan agar lebih meningkatkan mutu, karena masa lalu dapat menjadi pelajaran yang lebih baik untuk berbenah diri menuju perubahan-perubahan yang lebih baik dimasa-masa akan datang. Dan bagi para perempuan semoga lebih menyadari fungsi dan peranannya sebagai anggota dan pengurus dalam menjadi faktor pendukung yang paling penting dalam perkembangan Credit Union “Ora Et Labora” dan memberikan sumbangsihnya terhadap negara.

2. Bagi pemerintah, semoga penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam mendukung perekonomian masyarakat pedesaan dalam hal sumber permodalan sebagai salah satu pendukung untuk kesejahteraan masyarakat . 3. Bagi penulis, dapat menjadi acuan bagi penulis lain mana kala penelitian ini

di rasa perlu penyempurnaan atau sebagai referensi.


(25)

Ilmu sejarah akan kaku jika tidak memadukan konsep-konsep ilmu lain, karena tinjauan pustaka merupakan sebuah konsep untuk mengikat kita agar dapat memperkuat judul. Maka literatur yang dapat digunakan dalam mendukung penelitian ini adalah sebagai berikut.

Thomas Suyatno, dkk dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Perkreditan, menjelaskan bahwa kemampuan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan cendrung terbatas, sementara kebutuhan manusia yang begitu beraneka ragam semakin meningkat. Sehingga terjadilah kesenjangan antara kemampuan dan keinginan atau cita-cita. Dalam proses ekonomi, untuk meningkatkan usaha atau daya guna suatu barang, maka diperlukan bantuan dengan cara menambah modal. Maka di saat inilah solusi ekonomi yang paling tepat dan efisien adalah melalui kredit. Dan kredit yang diberikan didasarkan atas dasar kepercayaan, hal ini berarti bahwa suatu lembaga kredit yang baru akan memberikan modal pinjaman kalau si peminjam benar-benar dapat di percaya dan si peminjam kredit akan mengembalikan pinjaman yang diterimanya sesuai kesepakatan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah disetujui oleh kedua pihak.

Mubyarto dan Edy Suandi Hamid dalam bukunya yang berjudul Kredit Pedesaan di Indonesia, menyatakan bahwa permodalan merupakan unsur yang sangat penting dalam mendukung peningkatan produksi dan taraf hidup masyarakat pedesaan. Berbagai penjelasan mengenai sistem perkreditan di pedesaan beserta masalah-masalah yang kemudian dihadapi oleh penduduk pedesaan menjadi fokus utamanya. Akan tetapi, masalah yang paling disoroti adalah terhadap peran negatif


(26)

dari para rentenir yang turut memperburuk kemampuan ekonomi penduduk pedesaan. Maka di butuhkan suatu penyelesaian lain, agar hal ini tidak memperburuk keadaan ekonomi pnduduk.

Parjimin Nurzain dalam bukunya, “ Buku Materi pokok Perkoperasian”,

menjabarkan mengenai hakekat usaha koperasi, permodalan dan Sisa Hasil Usaha. Dan dalam buku ini juga menjabarkan bagaimana kerjasama antara koperasi. Serta di dalam buku ini menjelaskan Sisa Hasil Usaha merupakan keuntungan koperasi, pada pasal 34 ayat (1) UU No. 12/67 dinyatakan: “Sisa Hasil Usaha adalah pendapatan koperasi yang diperoleh didalam satu tahun buku setelah dikurangi dengan penyusutan-penyusutan dan biaya-biaya dari tahun satu buku yang bersangkutan”. Sesuai dengan salah satu sendi-sendi dasar koperasi yang menyatakan “pembagian Sisa Hasil Usaha diatur menurut jasa masing-masing anggota”, maka pembagian SHU dibedakan antara yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota dan yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk anggota yang berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk bukan anggota.

Selain itu penelitian tentang credit union juga sudah cukup banyak dilakukan, namun terdapat perbedaan waktu, tempat, pelaku dan pembahasan. Dari penelitian pustaka yang dilakukan, penulis menemukan di antaranya yakni, yang dilakukan oleh Odoranta Sembiring yang berjudul “Sejarah dan Perkembangan Koperasi Credit Union Gunanta Ras Desa Namo Rambe, 1988-1998” , dalam skripsi ini dibahas tentang kurangnya permodalan di daerah pedesaan di Indonesia, dan hal ini juga terjadi di Desa Namo Rambe tersebut. Sehingga muncul rentenir yang memberi


(27)

pinjaman uang namun berbunga besar, dan pada akhirnya tetap mencekik bagi peminjam uang. Para rentenir biasanya meminta jaminan berupa tanah dan barang berharga lainnya, sehingga terkadang jika para peminjam yang kebanyakan petani tidak mampu membayar maka tanah/lahan di tarik oleh rentenir, hal ini membuat para petani semakin menderita, satu-satunya tempat mencari nafkah harus di tarik karena tidak mampu membayar pinjaman. Selain itu Credit Union Gunanta Ras telah memiliki badan hukum, dan para pengurus campuran perempuan dan laki-laki. Namun sangat berbeda dengan yang akan saya bahas, perbedaannya terdapat pada tempat, waktu, palaku dan pembahasan, skripsi saya akan membahas tentang para pengurus yang hanya dikerjakan oleh perempuan dan juga Credit Union Ora Et Labora belum memiliki badan hukum tetapi memakai asas kepercayaan dan kebersamaan.

1.6 Metode penelitian

Dalam penulisan sejarah ilmiah, pemakaian metode sejarah ilmiah sangat penting. Metode penelitian sejarah lazimnya disebut sebagai metode sejarah. Sistematika penulisan yang terangkum di dalam metode sejarah sangat membantu setiap peneliti dalam mengetahui kejadian yang terjadi pada masa yang lalu.7

7

Louis Gotchalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta: Ul Press,1985

Tahapan-tahapan dalam penelitian sejarah yaitu tahap heuristik, kritik (verifikasi), interpretasi dan yang terakhir adalah historiografi. Langkah/tahap pertama yang


(28)

dilakukan adalah heuristik atau mengumpulkan bahan-bahan atau sumber-sumber berupa sumber primer dan sumber skunder sebanyak-banyaknya yang memberi penjelasan tentang masalah penelitian ini. Metode pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan cara pengumpulan data melalui berbagai sumber, baik melalui sumber lisan yaitu dari hasil wawancara mendalam dengan para informan yang terlibat langsung serta di anggap berpengaruh dan para informan juga sudah ditetapkan dengan kriteria tertentu agar didapatkan informasi atau sumber lisan yang diperlukan. Sumber tertulis didapatkan dari buku, majalah, surat kabar, hasil laporan penelitian, dan data-data yang diperoleh dari kantor kecamatan Tiga Panah serta dari pihak koperasi kredit itu sendiri.8

Langkah terakhir dilakukan metode penulisan sejarah atau historiografi, dengan cara menyusun data-data secara kronologis dan sistematis agar hasil penelitian dapat dituliskan menjadi karya ilmiah sejarah.

Langkah berikutnya, dilakukan kritik sumber (verifikasi), untuk memeriksa keabsahan sumber melalui kritik internal yang bertujuan untuk memperoleh fakta yang kredibel dengan cara menganalisis isi atau bagian substansi sumber, ataupun penjelasan dalam sumber tertulis dan kritik eksternal dalam memperoleh fakta yang otentik dengan cara meneliti keaslian sumber terhadap bagian luar sumber. Kritik tersebut dilakukan untuk meneliti keabsahan data dan keaslian data yang sudah didapatkan. Langkah berikutnya dilakukan interpretasi yang merupakan metode yang dilakukan untuk menafsirkan fakta-fakta terpilih dan menghasilkan data yang valid.

8


(29)

Adapun sistematika dari penulisan tersebut adalah sebagai berikut:

Bab I merupakan pendahuluan, yaitu yang menguraikan tentang latar belakang masalah yang berfungsi untuk mengantarkan pembaca agar mengerti tentang isi secara umum, dan juga merupakan bagian awal dari rencana penelitian formal. Terdapat juga rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan penelitian serta metode penelitian ini berhubungan untuk menguraikan tentang bagaimana cara serta usaha penulis di dalam pengungkapan masalah serta metode-metode yang dilakukan.

Bab II menguraikan tentang bagaimana gambaran umum wilayah penelitian (objek penelitian). Di mana di dalamnya terdapat sub-sub babnya yang akan diuraikan tentang kondisi geografis daerah objek, diantaranya menceritakan tentang masalah alam dan batas-batas wilayah objek. Selain itu akan diuraikan tentang keadaan penduduk dan struktur sosial ekonomi masyarakat yang ada di Desa Bukit.

Bab III akan menguraikan tentang berdirinya Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit (1985-1995), dan sub-sub babnya akan membahas tentang latar belakang berdirinya Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit 1985, sistem kerja Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit yang membahas tentang struktur kepengurusan, struktur keanggotaan dan prosedur perkreditan.

Bab IV akan memaparkan tentang dampak berdirinya Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit 1985-1995 terhadap kehidupan sosial dan ekonomi anggota-anggotanya.


(30)

Bab V akan menguraikan kesimpulan yang didasari oleh uraian-uraian terdahulu dan juga tentang saran-saran.


(31)

BAB II

GAMBARAN UMUM DESA BUKIT TAHUN 1985

2.1 Kondisi Geografis

Lebih dari 90% jumlah bangsa Indonesia, yang jumlahnya 94 juta orang banyaknya berada di desa. Mereka hidup dalam kelompok besar dan kecil yang merupakan masyarakat yang memiliki hukum sendiri, dalam ikatan yang sangat kuat. Setiap tindakan yang mereka lakukan baik yang bersifat menguntungkan dan merugikan akan selalu dinikmati dan dipikul bersama-sama. Alangkah kuatnya rasa persatuan dan kesatuan hukum yang dibuat di desa. Desa merupakan suatu kesatuan hukum dan juga sebagai tempat tinggal masyarakat yang berkuasa menggunakan pemerintahan sendiri. 9

Desa Bukit merupakan salah satu desa yang terletak di daerah dataran tinggi karo yang termasuk ke wilayah Kecamatan Tiga Panah, dengan luas wilayah sekitar 466 ha . Desa ini berjarak 76 km dari Medan dan lebih kurang 6 km dari simpang jalan besar Medan-Berastagi, tepatnya dari desa Lau Gendek. Pusat kegiatan desa tersebut terdapat di desa itu sendiri, di mana terdapat fasilitas kantor kepala desa, sekolah dasar negeri (SD), tempat peribadatan (gereja), puskesmas, jambur (los), pemandian umum dan kedei (koperasi). Keadaan jalannya dapat ditempuh oleh angkutan umum atau mobil pribadi. Sepanjang jalannya banyak ditemui areal pertanian yang begitu luas, dimana seluruh areal pertanian dimiliki oleh penduduk

9


(32)

Desa Bukit tersebut secara pribadi. Jalan yang dibangun di tempat ini adalah jalan yang dibangun sejak tahun 1946. Sampai saat ini jalan tersebut masih terpelihara dengan baik, walaupun sudah cukup sering diperbaiki karena memiliki peranan penting. Jalan tersebut memiliki peranan sebagai penghubung Desa Bukit dengan pusat pasar dan berfungsi sebagai jalan penghubung dengan desa lainnya.

Suhu udara di Desa Bukit minimum sekitar 18°C dan maximum sekitar 28°C yang sangat cocok untuk daerah pertanian. Jenis tanah yang terdapat di Desa Bukit ini adalah tanah humus. Sehingga seluruh areal dimanfaatkan serta diusahakan seefektif mungkin untuk areal pertanian dengan menanam sayur-mayur dan tanaman keras seperti jeruk dan kopi. Curah hujannya berkisar antara kurang lebih 1725 mm/tahun yang turun pada bulan Agustus hingga bulan Desember dan bulan berikutnya terdapat musim kemarau yang diselengi oleh hujan yang tidak teratur.

Tanah kering banyak ditanami penduduk dengan tanaman sayur-mayur seperti tanaman kol, kentang, tomat, sayur putih, cabai dan lain-lain sedangkan tanaman keras yang ditanam adalah seperti kopi dan jeruk. Perbandingan pemakaian areal pertanian antara tanaman sayur-mayur dan tanaman keras hampir seimbang. Keadaan tanah Desa Bukit sebagian kecil terdapat alur yang berupa lembah. Tanah yang berupa lembah tersebut terdiri dari areal persawahan. Dimana saat masyarakat Desa Bukit belum mengenal tanaman jenis sayur-mayur digunakan sebagai tempat menanam padi, tetapi sejak tahun 1924 masyarakat dipengaruhi oleh tanaman ekspor yang dibawa oleh pedagang-pedagang Cina.

Dengan berkembangnya tanaman ekspor tersebut mengakibatkan jenis tanaman padi menjadi hilang yaitu sejak tahun 1970. Areal persawahan yang dulunya


(33)

digunakan sebagai tempat menanam padi ditinggalkan begitu saja tanpa ditanami dengan tanaman padi. Sebagian kecil diubah fungsinya sebagai kolam tempat untuk memelihara ikan. Usaha ini hanya digunakan sebatas usaha sambilan dari penduduk Desa Bukit tersebut.

Desa Bukit terdiri dari 2 (dua) lorong (kesain) yaitu lorong rumah gerga dan lorong rumah kerbo, kedua lorong tersebut tertumpu pada suatu tempat yang memiliki batas areal sama. Lorong atau kesain secara harafiah berarti sama dengan halaman, namun dalam arti yang lebih luas adalah adanya dua komunitas marga Bukit, artinya pembagian lorong atau kesain ini erat kaitannya dengan sejarah keturunan dua bersaudara dari marga Bukit yang mendiami desa tersebut. Pada jaman kolonial Belanda dan Jepang kedua lorong (kesain) tersebut dibagi atas dua wilayah kampung dan dipimpin oleh kepala kampung yang berbeda, tetapi setelah kemerdekan maka disatukan menjadi satu kepala kampung dan kepala desa. Kedua lorong (kesain) tersebut memiliki batas-batas sesuai dengan ketentuan yang berlaku berdasarkan Peraturan Pemerintah Daerah menjadi satu desa yaitu Desa Bukit. Adapun batas-batas wilayah administratif Desa Bukit adalah sebagai berikut:

Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Aji Buhara. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sampun. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bertah. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Ujung Sampun.

Jarak antara Desa Bukit dan desa-desa lainnya tidak begitu jauh. Dimana antara satu desa dengan desa yang lainnya dipisahkan oleh areal pertanian penduduk. Hubungan antara satu desa dengan desa yang lain dihubungkan oleh jalan yang telah


(34)

dibangun berdasarkan biaya pemerintah dan dibantu oleh swadaya masyarakat. Masyarakat antar desa umumnya hidup rukun karena masih kental rasa persaudaraan, sehingga hampir tidak pernah terjadi bentrok antara satu desa dengan desa lainya atau masalah-masalah lain yang sering menjadi sumber permasalahan seperti karena batas areal tanah, masalah perbedaan pendapat, atau masalah internal masyarakat itu sendiri.10

2.2 Keadaan Penduduk

Pada umumnya desa-desa yang terdapat di wilayah Tanah Karo didiami oleh suku atau masyarakat karo. Demikian halnya masyarakat yang terdapat di Desa Bukit, mayoritas penduduknya adalah suku Batak Karo yang mata pencaharian pokoknya adalah bertani. Berdasarkan sensus penduduk tahun 1985 Desa Bukit mempunyai 844 jiwa yang terdiri dari 276 kepala keluarga. Jumlah penduduk tersebut dapat diperinci berdasarkan jenis kelamin, seperti berikut:

10


(35)

Tabel 1 : Jumlah Penduduk Desa Bukit berdasarkan jenis kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah

1. Laki-laki 412

2. Perempuan 432

Jumlah 844

Sumber: Kantor Kepala Desa Bukit Tahun 1985

Dari 844 jiwa penduduk Desa Bukit penduduknya mayoritas menganut agama Kristen Protestan. Mereka mengenal agama Kristen sejak tahun 1905 yang dibawa oleh missionaries Jerman yang bernama JH Neuman. Baru pada tahun 1953 penduduk desa ini berhasil memeluk agama Kristen hampir secara keseluruhan, dengan jumlah 200 rumah tangga. Peranan agama Kristen dikalangan penduduk cukup tinggi. Kegiatan-kegiatan sosial seperti: perkawinan, masuk rumah baru dan lain-lain, yang terlaksana selalu dikaitkan dengan kehidupan beragama. Hal-hal atau kegiatan-kegiatan sosial yang bertentangan dengan ajaran agama seperti: memanggil roh nenek moyang, waktu memasuki rumah baru, membuka areal pertanian dan lain-lain, mereka hindarkan sedapat mungkin. Bagi mereka yang belum memeluk agama kristen hanya turut serta dalam anggota kelompok sosial berdasarkan adat yang berlaku. Sehingga bagi mereka yang menjadi kelompok minoritas tidak akan bertahan lama untuk mempertahankan kedudukannya ditengah-tengah masyarakat. Namun untuk kelompok mayoritas selalu memberikan kesempatan kepada kelompok minoritas yang belum memeluk agama Kristen Protestan untuk berusaha. Untuk lebih


(36)

jelasnya maka dapat diperinci dari tabel dibawah ini yaitu jumlah penduduk berdasarkan kepercayaan yang dianut sampai tahun 1995:

Tabel 2 : Jumlah penduduk Desa Bukit berdasarkan agama yang dianut

No. Agama yang di anut Jumlah

1. 2. 3. 4. 5.

Kristen Protestan Roma Khatolik Islam

Budha/Hindu Pemena

836 - - - 8

Jumlah 844

Sumber: Kantor Kepala Desa Bukit Tahun 1985

Dari awal terbentuknya Desa Bukit mereka sudah memiliki sebuah aliran kepercayaan yang disebut dengan kepercayaan pemena, sebelum akhirnya mereka mengenal agama Kristen. Agama pemena adalah dimana masyarakat masih percaya kepada roh-roh nenek moyang dan kekuatan-kekuatan gaib. Mereka melakukan upacara-upacara pada saat tertentu yaitu pada musim panen pada pertanian. Hal ini mereka lakukan untuk tujuan meminta rejeki kepada roh-roh dan unsur-unsur yang mereka anggap dapat memberikan rejeki tersebut.

Setelah agama Kristen masuk dan diperkenalkan kepada masyarakat maka sedikit demi sedikit kebiasaan tradisional dan upacara-upacara tersebut pun lenyap.


(37)

Masyarakat tidak lagi mengaitkan segala kebiasaan dengan kekuatan gaib dan kekuatan roh nenek moyang, mereka lebih percaya kepada ajaran yang telah mereka dapatkan dari agama Kristen yaitu hanya percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Setelah mereka belajar tentang agama Kristen semua kegiatan selalu dikaitkan dengan agama yang mereka anut.

Segala kegiatan adat istiadat tetap dipertahankan selama tidak bertentangan dengan ajaran agama masyarakat. Sebagai contoh acara memasuki rumah baru, acara adat diselingi dengan acara agama. Pada awalnya dibuat ke acara agama, dimana ketika memasuki rumah baru maka mereka mengadakan kebaktian di rumah baru tersebut, tujuannya agar rumah tersebut dapat ditempati dengan tenang dan Tuhan yang menjadi tiang penyangga rumah tersebut, sehingga semua keluarga dapat hidup damai didalamnya. Setelah dibuat acara agama maka dibuat ke acara adat, acara adat ini sesuai dengan tradisi yang sudah ada, setelah kedua acara tersebut diadakan baru dinyatakan sah dimata masyarakat.

Kehidupan sosial masyarakat tercermin dari hidup antar agama, hal ini karena sebagian besar masyarakat Desa Bukit sudah memeluk agama Kristen. Selain itu beberapa sarana-sarana atau fasilitas sosial dipelihara oleh masyarakat dengan baik, beberapa sarana dipakai untuk mendukung kegiatan keagaaman, misalnya gereja,

jambur (los), dan tempat-tempat umum lainnya. Melalui kegiatan keagamaan banyak informasi-informasi diketahui, misalnya informasi kelahiran, perkawinan maupun kematian diberitakan melalui gereja setiap hari minggu setelah acara kebaktian selesai. Fasilitas ini semakin memudahkan masyarakat untuk berinteraksi dan mengetahui informasi tentang keadaan di desa mereka. Beberapa sarana atau fasilitas


(38)

yang ada di Desa Bukit yang sangat berguna untuk mempermudah penyampaian informasi dan tempat untuk berinteraksinya para pejabat desa dan masyarakatnya antara lain yaitu:

Tabel 3 : Jumlah Sarana dan Fasilitas yang ada di Desa Bukit

No. Jenis sarana dan Fasilitas Jumlah

1. Kantor Kepala Desa 1

2. Sekolah Dasar 1

3. Puskesmas 1

4. Kedai (Koperasi) 1

5. Gereja 1

6. Kamar mandi umum 1

Jumlah 6

Sumber: Kantor Kepala Desa Bukit tahun 1985

Dilihat dari segi kepemimpinannya, Desa Bukit dipimpin oleh seorang kepala desa beserta lembaga-lembaga desanya. Masyarakat sangat mematuhi peraturan dari pemimpinnya. Pemimpin inilah yang menjadi panutan masyarakat yang ada di Desa Bukit tersebut, sehingga pemimpin yang baik akan menghasilkan masyarakat yang aman dan nyaman. Ketika penelitian dilakukan di Desa Bukit tersebut kondisi kepemimpinannya sudah cukup baik, hal ini diketahui dari hasil wawancara yang


(39)

menyatakan mereka nyaman dengan hasil kepemimpinan formal (kepala desa). Selain pemimpin formal terdapat juga pemimpin informal seperti pendeta, pertua (pengurus gereja) dan pemuka-pemuka adat. Segala kewenangan pemimpin formal tadi dapat juga dijalankan melalui kepemimpinan informal, misalnya kebersihan lingkungan dan perawatan fasilitas-fasilitas atau sarana desa, sehingga kepemimpinan formal dan informal saling mendukung demi terwujudnya keadaan yang semakin baik bagi pembangunan desa. Pembangunan didalam meningkatkan infrastruktur selalu diterapkan didalam kegiatan-kegiatan agama dan ceramah-ceramah yang berhubungan dengan agama disamping mengikuti perintah dari pemimpin formal. Berikut adalah struktur pemerintahan formal yang ada di Desa Bukit.

Bagan1: Struktur Pemerintahan Desa Bukit

Sumber: Kantor Kepala Desa Bukit

Kepala Desa Organisasi Pedesaan

Sekretaris Desa Perangkat Desa

Lembaga Musyawarah

Desa


(40)

Dari tahun 1985-1995 yang menjabat menjadi kepala desa adalah Bukit Karo-Karo Bukit. Tidak ada pergantian karena pada masa tersebut kepemimpinannya cukup baik dan masyarakat merasa nyaman akan kepemimpinan bapak Bukit tersebut.

Jauh sebelum agama Kristen masuk ke Tanah Karo, sudah terdapat pelapisan sosial menurut fungsinya. Di mana pelapisan sosial dianggap lebih tinggi atau dapat dikatakan bahwa golongan elite adalah keturunan marga taneh dan dukun-dukun. Pelapisan sosial lainnya didasarkan pada perbedaan umur dan perkawinan. Namun tidak sama dengan pengaruh langsung dari Hindu. Perbedaan ini tidaklah terdapat pada semua lapisan kehidupan, tapi hanya di dalam lapisan adat atau pesta-pesta adat saja yang sedang berlangsung. Dimana masyarakat umum lebih menghormati merga taneh dan dukun-dukun dibandingkan dengan marga-marga yang lain. Masyarakat selalu mendengarkan dan menghargai perkataan mereka karena hal itu sudah jauh tertanam dihati mereka sejak dulu, sehingga membudaya dan hal ini yang dianggap benar.

Namun ketika agama Kristen sudah masuk ke Desa Bukit maka kebiasaan tersebut berubah, semua orang dianggap sama derajat sesuai dengan ajaran yang mereka dapatkan. Mereka lebih menghargai merga taneh, pendeta dan pengurus gereja (pertua) dibanding dukun-dukun. Hingga saat ini peranan para dukun sudah tidak ada lagi, pengaruh mereka tidak terlihat lagi, sehingga mereka tidak mampu menonjolkan diri untuk menarik perhatian masyarakat. Segala kegiatan dan pembicaraan-pembicaraan selalu diawali dengan doa bersama yang bertujuan untuk menggantungkan seluruh kehidupan kepada Tuhan yang Maha Esa. Segala kegiatan


(41)

yang bertentangan dengan ajaran agama mereka tinggalkan karena tidak ada masyarakat yang mendukung. Masyarakat yang dianggap berhasil adalah masyarakat yang mematuhi ajaran agamanya. Rasa sosial yang muncul ditengah-tengah masyarakat lebih besar didasarkan atas agama dibanding dengan ikatan kekeluargaan. Setiap bantuan yang akan diberikan kepada masyarakat dibicarakan dalam persatuan gereja atau dimasukkan ke dalam warta jemaat.

2.3 Stuktur Sosial Ekonomi

Umumnya masyarakat karo sangat bergantung kepada hasil pertanian, karena kebanyakan dari masyarakat karo bermata pencaharian sebagai petani. Begitu juga masyarakat yang ada di Desa Bukit, mereka bercocok tanam untuk pemenuhan kebutuhan dan pemuasan kebutuhan. Hampir dari setiap masyarakat di Desa Bukit memiliki areal pertanian, dan umumnya mereka sangat berkeinginan untuk memiliki tanah pertanian. Sehingga sangat jarang bagi masyarakat di tanah karo tidak memiliki tanah sendiri. Hakekatnya di Desa Bukit ini terdapat lahan yang tidak begitu sempit, ini dapat dilihat dari jumlah masyarakat yang hanya 844 orang dan memiliki areal yang luas yaitu seluas 466 ha. Sehingga tidak jarang kita temui masyarakat memiliki 2½ ha areal untuk pertanian. Biasanya masyarakat mendapatkan tanah dari warisan orangtuanya, karena hal ini maka mereka jarang untuk menjualnya kepada orang lain. Tanah tersebut ditanami dengan tanaman palawija dan tanaman keras seperti jeruk dan kopi.

Sebelum tahun 1965 umumnya mereka belum mengetahui mekanisasi pertanian seperti traktor, pupuk kimia dan pola tanam berganda, para petani hanya menanam padi untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Penanaman padi ini dilakukan


(42)

masyarakat sekali setahun secara serentak, jika tidak ditanami maka masyarakat membiarkan lahan itu kosong dan menunggu untuk ditanami kembali. Bagi masyarakat yang memiliki lahan yang lebih luas, tidak akan ditanami seluruhnya, karena tidak memiliki tenaga kerja yang banyak, jenis tanaman juga belum terlalu banyak, modal juga belum terlalu memadai selain itu alat-alat pertaniannya juga belum maju. Namun pada kenyataanyan mereka harus tetap mengusahakan lahan mereka agar dapat menyambung hidup dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Hal ini akan tercapai apabila mereka dapat meningkatkan hasil pertanian dan juga mereka harus lebih meningkatkan mekanisasi pertanian agar dapat mengikuti perkembangan ekonomi. Karena pertanian merupakan sumber utama dalam kelangsungan hidup masyarakat, maka harus ada usaha meningkatkan pendapatan melalui peningkatan sistem pertanian agar terlihat dikalangan masyarakat petani itu sendiri.

Selain itu mereka juga harus memiliki modal yang cukup, karena dengan semakin banyaknya modal maka peningkatan sistem pertanian akan semakin baik. Modal diolah secara perorangan walaupun terjadi pinjam meminjam antar masyarakat, karena dalam masyarakat pedesaan terdapat rasa solidaritas yang tinggi terhadap masyarakat yang lain. Sehingga tidak memerlukan pinjaman ke bank, namun tidak sepenuhnya sebagai solusi dalam peningkatan sistem pertanian karena sering terjadi kerugian. Sehingga muncul sebuah perkumpulan yang saling percaya dalam penyimpanan uang yaitu koperasi kredit. Karena adanya kebersamaan tersebut maka didapat solusi untuk pemenuhan modal pertanian.


(43)

Ketika mereka belum mengetahui koperasi kredit dan sistem pertanian yang cukup modern serta masih minimnya modal usaha, maka dampak yang jelas terlihat adalah mereka tidak mampu untuk menyekolahkan anak ke luar daerah, dan juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan sekunder seperti barang-barang yang mewah. Mereka hanya dapat memenuhi kebutuhan primer atau kebutuhan vital saja. Barang-barang lux atau barang mewah seperti televisi, kulkas, radio dan lain-lain tidak pernah dimiliki oleh masyarakat kalangan petani. Setelah adanya penambahan modal dan pengenalan sistem pertanian yaitu dari menanam padi beralih ke penanaman sayur-mayur, maka jelas terlihat perubahan-perubahan dari sebelumnya. Dimana terjadi perubahan dalam pemenuhan kebutuhan sekunder atau barang-barang mewah, ditengah-tengah masyarakat banyak yang sudah memakai televisi dan kendaraan pribadi seperti mobil dan kendaraan roda dua. Suatu kenyataan yang benar-benar terlihat jelas berbeda dari dampak perubahan mekanisasi pertanian dan permodalan yang memadai.

Dari segi lain seperti pendidikan juga terkena dampak, yaitu ketika ekonomi masyarakat meningkat maka pendidikan juga semakin maju. Contohnya adalah dari 276 kepala keluarga terdapat pelajar sebagai berikut: SD 200 orang, SLTP 105 orang, SLTA 90 orang, SMU 112 orang, perguruan tinggi 20 orang, dan sarjana muda 10 orang. Sebagian pelajar yang sudah lulus dan tamat dari perguruan tinggi tidak tinggal di desa lagi. Dapat disimpulkan bahwa mereka telah dipakai tenaganya dalam dunia kerja dan menghasilkan uang sendiri. Walaupun semakin bertambah besarnya biaya pendidikan ditengah-tengah masyarakat, namun dari hasil penelitian tidak ditemukan seseorang putus sekolah karena kekurangan biaya.


(44)

Pembangunan prasarana sosial seperti kantor kepala desa, gereja, kamar mandi umum, dan jambur desa keseluruhan prasarana itu ditanggung oleh masyarakat. Yang dilaksanakan seluruhnya secara gotong royong dan melalui swadaya masyarakat berupa sumbangan-sumbangan uang. Kebutuhan-kebutuhan pokok dari kepala desa dan guru-guru agama disediakan oleh masyarakat itu sendiri. Keberhasilan tingkat kehidupan ditengah-tengah masyarakat Desa Bukit yang tergambar sekarang adalah sesuai dengan pengakuan mereka ketika diwawancarai, hal ini karena sudah terjadi perubahan yang besar akibat perubahan mekanisme pertanian serta permodalan yang memadai dengan adanya koperasi kredit tempat simpan pinjam uang yang sangat efektif dan cukup mudah (tidak rumit) untuk Desa Bukit yang memiliki permodalan yang rendah.11

11

Wawancara, dengan Pt. Dasar Bukit SH (kepala Desa Bukit), Bukit 7 Maret 2011.


(45)

BAB III

BERDIRINYA CREDIT UNION ORA ET LABORA 1985-1995

3.1 Latar Belakang Berdirinya Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit 1985

Mengangkat harkat dan martabat perempuan dan untuk mensejahterakan masyarakat di Desa Bukit merupakan tujuan utama berdirinya Credit Union (CU) “Ora Et Labora” Desa Bukit. Hai ini dimulai ketika banyak para masyarakat di Desa Bukit tidak memiliki modal yang cukup untuk bertani. Mereka yang kebanyakan berprofesi sebagai petani harus menyediakan modal perorangan, walaupun ada sebagian orang yang mau meminjam kepada para rentenir untuk modal pertanian. Namun kebanyakan dari mereka menyediakan modal sendiri, sehingga jika tidak ada modal yang cukup maka mereka menyewakan tanah mereka kepada orang yang memiliki modal lebih, tetapi ada juga yang mau bekerjasama dengan orang yang memiliki modal, pemodal meminjamkan uangnya untuk modal pertanian dan si pemilik tanah yang mengusahakan tanah tersebut, hasilnya akan dibagi rata. Di Desa Bukit ini terdapat dua sistem tanah yaitu: sistem sewa tanah dan sistem kontrak tanah. Sistem sewa tanah digunakan hanya untuk menanam tanaman muda dengan waktu yang tidak begitu lama misalnya sayur mayur, sedangkan sistem kontrak tanah yaitu untuk menanam tanaman keras misalnya jeruk atau kopi dalam waktu yang relatif lama ± 15 tahun.


(46)

Namun hal tersebut tidak semakin membantu para petani, bahkan menambah penderitaan karena uang hasil sewa tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Melihat keadaan tersebut maka kepala desa tersebut mencari jalan keluar, salah satu cara yang dilakukan adalah membuat suatu penyuluhan-penyuluhan atau ceramah-ceramah tentang penanaman modal dibantu oleh Yayasan Pijar Podi (YAPIDI). Yapidi bukanlah sebuah lembaga dari gereja namun sebuah lembaga yang bertujuan untuk membantu ekonomi keluarga yang kebanyakan dilakukan oleh seorang perempuan didalam menunjang ekonomi keluarganya. Lembaga tersebut beberapa kali melakukan ceramah-ceramah melalui persetujuan kepala desa, namun pada awalnya tidak terlalu banyak yang mengikuti dikarenakan pada masa tersebut masyarakat desa belum terlalu terbuka dan percaya dengan ceramah-ceramah tersebut apalagi dengan pengaruh dan perubahan dari luar. Pada awalnya anggota yang masuk belum terlalu banyak,walaupun syarat untuk menjadi anggota dapat dikatakan sangat mudah, namun mereka tidak langsung masuk menjadi anggota mereka harus diberi ceramah yang lebih meyakinkan dan hasil yang lebih nyata. Setelah proses yang panjang maka terbentuklah Credit Union (CU) Ora Et Labora pada tanggal 30 Desember 1985 dengan anggota pertama 70 orang dengan jumlah saham RP 200.-. Kemudian muncul pengurus yang pertama yang diduduki oleh perempuan, para anggota dan pengurusnya perempuan karena tujuan dari lembaga tersebut adalah untuk mensejahterakan perempuan dalam menunjang ekonomi keluarga jadi semua anggotanya dan pengurusnya adalah perempuan. Para pengurus berkewajiban untuk menyampaikan kegunaan dari credit union tersebut. Pengurus yang menjadi contoh didalam penyimpanan dan pengelolaan uang. Lama kelamaan semakin tumbuh rasa


(47)

kepercayaan dan semakin banyak anggota dan saham yang ditanam di credit union ini. 12

Pandangan masyarakat terhadap hal ini yang sering kali membuat suatu perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perempuan semakin kehilangan fungsi sosialnya untuk dapat dianggap mampu dalam menjalankan sebuah organisasi. Pada hal sebagai mahluk Tuhan semuanya sama dan sederajat serta memiliki kemampuan yang sama. Pandangan ini yang menyebabkan para perempuan terbatasi untuk diajak sebagai anggota dari Credit Union Ora Et Labora. Akan tetapi sangat kuatnya dukungan dari pemerintahan desa dan ajaran yang telah mereka dapatkan dari agama yang menyebutkan semua sama dan sederajat maka segala pandangan serta kecurigaan terhadap CU tersebut dapat di hapuskan. Pandangan-pandangan negatif

Meskipun telah berdiri,credit union (CU) tersebut sebagai sarana pemecahan masalah keuangan anggota, tetapi juga terdapat masalah yang lain. Ini disebabkan karena anggota serta kepengurusannya seluruhnya adalah perempuan yang memiliki tanggung jawab serta sebagai ibu rumah tangga yaitu sebagai istri dan memperhatikan kebutuhan anak. Seperti yang diketahui bahwa didalam adat istiadat karo, seorang perempuan adalah telah “ditukur” (di beli secara adat) oleh keluarga suaminya sehingga bertanggung jawab melahirkan dan mengurus anak, dan dari hal ini terbentuklah sebuah struktur sosial dan ketentuan adat yang kuat didalam sebuah keluarga dan pada masyarakat Karo.

12

Wawancara dengan Afrida Sembiring (Ketua Credit Union Ora Et Labora) pada tanggal 12 Maret 2011.


(48)

pun lama kelamaan hilang dan masyarakat Desa Bukit dapat menerima beroperasinya CU tersebut.

3.2 Sistem Kerja Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit 3.2.1. Struktur Kepengurusan

Dalam menjalankan tugasnya, pengurus adalah orang yang telah dipilih dan ditugaskan anggota untuk memimpin dan melaksanakan organisasi Credit Union (CU). Karena itu pengurus harus memahami, menyadari dan menghayati tujuan CU. Tujuan dari CU ini adalah untuk mengangkat harkat martabat perempuan dan mensejahterakan semua anggota CU. Dalam CU ini terdapat empat bagian struktur yang masing-masing mempunyai fungsi, hak dan kewajiban masing-masing. Namun bagian-bagian ini saling terkait dan saling mendukung serta memiliki hubungan timbal balik yang istimewa, sehingga diantara mereka akan saling membutuhkan.

Berikut ini adalah bagian-bagian struktur kepengurusan inti dalam Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit :

1. KETUA bertugas untuk menjalankan tugas-tugas memimpin rapat-rapat anggota dan rapat pengurus, ikut menandatangani surat-surat berharga dan surat-surat lainnya yang bertalian dengan penyelenggaraan keuangan, menjalankan tugas-tugas lainnya yang lazim dikerjakan oleh seorang ketua atau yang dibebankan kepadanya atau dapat juga mengerjakan beban yang telah diputuskan oleh pengurus tanpa menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga CU.

2. WAKIL KETUA bertugas untuk menjalankan tugas ketua bilamana ketua tidak hadir atau berhalangan atau berkeberatan untuk melakukan tugasnya.


(49)

3. SEKRETARIS bertugas untuk membuat serta memelihara berita acara yang asli dan lengkap dari rapat-rapat anggota, rapat-rapat pimpinan, rapat-rapat pengurus. Sekretaris bertanggung jawab atas pemberitahuan kepada para anggota sebelum rapat diadakan, sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga. Sekretaris menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya dengan keputusan pengurus, dengan tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam anggaran dasar/anggaran

rumah tangga ini.

4. BENDAHARA bertugas sebagai pelaksana harian umum koperasi kredit dibawah bimbingan dan pengawasan pengurus, tanpa mengurangi pembatasan dan pengawasan yang ditetapkan pengurus. Bendahara berkewajiban untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut:

a. Memelihara dengan aman semua keuangan, barang tanggungan surat-surat berharga dan barang-barang lainnya milik koperasi kredit.

b. Menandatangani surat-surat berharga yang dapat diperjualbelikan atau dipindahtangankan dalam koperasi kredit.

c. Menyimpan dan memelihara sebuah arsip yang lengkap mengenai segala transaksi keuangan koperasi kredit, menyimpan baik-baik semua buku-buku, bon, surat berharga dan barang-barang tangungan sedemikian rupa, sehingga setiap saat tersedia untuk diperiksa oleh badan pemeriksa.

d. Membuat laporan keuangan dalam waktu sepuluh hari setelah tiap-tiap bulan berakhir dan menempelkannya di kantor koperasi kredit.


(50)

e. Membuat pertangungan jawab keuangan dan statistik dalam waktu lima belas hari setelah tahun pembukuan berakhir, yang setelah ditandatangani oleh sekurang-kurangnya dua orang anggota badan permeriksa dan ditempelkan di kantor koperasi kredit ± satu bulan agar dapat dilihat anggota.

f. Menerima semua pembayaran atas nama koperasi kredit serta menyimpanya di tempat yang aman yang telah ditentukan oleh pengurus, selambat-lambatnya empat puluh delapan jam setelah penerimaannya. g. Melakukan semua tugas lainnya seperti membuat surat perjanjian

pinjaman, membantu anggota dalam mengisi formulir permohonan peminjaman dan yang berhubungan dengan tugas-tugas bendahara.

5. Badan Pengawas bertugas untuk:

a. Menerima buku-buku credit union (CU) dan kegiatannya dan melaporkannya kepada pengurus satu kali sebulan.

b. Berhak menskor (menghentikan sementara) anggota pimpinan/panitia kredit.

c. Mengadakan pemeriksaan pembukuan tahunan laporan rapat anggota tahunan (RAT).

d. Mengadakan pemeriksaan anggota secara teratur dan mencocokkanya dengan buku-buku dan catatan yang dipegang oleh bendahara.

e. Membuat penilaian terhadap jalanya roda kerja CU dan aktivitas para pengurus.


(51)

f. Teman akrap bendahara, karena selalu mendorong bendahara untuk membetulkan kesalahan/kesilapan kecil.

g. Memonitor kegunaan pinjaman dan mencari fakta. 6. Panitia Pendidikan bertugas untuk:

a. Menyusun program pendidikan yang efektif untuk anggota.

b. Mengusahakan pendidikan para anggotanya, calon anggota dan pengurus. c. Mengajarkan dan melatih para anggota dalam cara menyimpan serta

memperoleh pinjaman tepat dan cepat.

d. Mendorong anggota-anggota untuk mengembangkan sikap menghemat serta menggunakan uang secara bijaksana.

e. Menyadarkan anggota dan pentingnya kerjasama demi kemajuan bersama melalui:

- Motivasi = gagasan CU, tanya jawab, diskusi.

- Pendidikan dasar = syarat-syarat, kewajiban sebagai anggota, simpan pinjam, diskusi, anggaran dasar/ anggaran rumah tangga (AD/ART). - Pendidikan lanjutan = perihal masalah-masalah yang dihadapi.

- Pendidikan spesialisasi = calon anggota, dewan pimpinan, panitia kredit, badan pengawas dan bendahara, diskusi, latihan, permainan peran, poster-poster, pemutaran slide.

7. Panitia Kredit bertugas untuk:

a. Mempertimbangkan/ memutuskan setiap permohonan pinjaman anggota apabila diberi atau ditolak atau dikurangi jumlahnya.


(52)

b. Menjelaskan jenis pinjaman yang harus dibenarkan (produktif, kesejahteraan, darurat).

c. Menentukan jumlah pinjaman untuk masing-masing jenis dan jangka waktu angsurannya.

d. Menjelaskan jumlah maksimal pinjaman untuk pinjaman tanpa jaminan dan dengan jaminan.

e. Menjelaskan cara untuk memperpanjang pinjaman, bilamana diperlukan oleh peminjam.

f. Menjelaskan cara penundaan pinjaman dan sanksi-sanksi/ denda apabila diperlukan.

g. Pintu pertama/tangan pertama pelayanan pinjaman.

Pengurus koperasi kredit merupakan orang yang dipilih dari dan oleh rapat anggota dalam rapat anggota. Yang dapat dipilih sebagai pengurus adalah orang-orang yang memenuhi persyaratan seperti, seorang-orang perempuan, sudah menjadi anggota koperasi kredit Ora Et Labora, rajin menabung dan cinta kepada koperasi kredit, memiliki kejujuran, keaktifan, keterampilan kerja, mempunyai pengertian yang cukup tentang falsafah, organisasi dan tata kerja koperasi kredit serta memiliki umur 25-55 tahun. Selain itu para pengurus juga harus melaksanakan segala ketentuan yang ada didalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, keputusan-keputusan rapat anggota dan peraturan-peraturan khusus lainnya. Sebelum melakukan tugas kewajibannya maka para pengurus harus terlebih dahulu mengucapkan janji/sumpah sesuai dengan keputusan rapat anggota. Masa jabatan pengurus


(53)

berlangsung selama tiga tahun, namun dapat dipilih kembali diperiode selanjutnya dalam rapat anggota.

Bilamana seorang pengurus berhenti sebelum masa jabatannya, maka diangkat seorang pengganti dalam rapat pengurus, akan tetapi harus disahkan oleh rapat anggota berikutnya. Didalam rapat anggota juga dapat memberhentikan pengurus setiap waktu apabila terbukti:

a. Pengurus melakukan kecurangan dan merugikan koperasi kredit.

b. Pengurus tidak mentaati undang-undang perkoperasian serta peraturan-peraturan/ ketentuan-ketentuan pelaksanaanya.

c. Pengurus dalam sikap maupun tindakannya menimbulkan pertentangan dalam koperasi kredit.

Bentuk kerjasama antara pengurus terwujud dalam rapat pengurus yang diadakan paling sedikit satu bulan sekali. Dalam rapat ini dibicarakan berbagai masalah CU dan hasil-hasil yang ingin dicapai, misalnya, laporan bendahara berapa uang yang ada, berapa yang dipinjamkan panitia kredit, panitia pendidikan dan badan pemeriksa. Semua ini menjadi masukan bagi pengurus untuk menentukan kegiatan selanjutnya. Misalnya, bila ada anggota yang menunggak, perlu dikunjungi dan siapa yang mengunjunginya serta kapan dilakukan. Dengan demikian masalah-masalah yang timbul didalam CU bisa diselesaikan tidak ditunggu menjadi masalah besar.

Setiap bagian bekerja menurut bidang masing-masing, sebagai pengaturnya atau koordinatornya adalah ketua CU. Ketua harus selalu siap untuk memantau jalannya kegiatan CU. Apa berjalan baik atau ada hambatan/masalah agar segera dicari jalan pemecahannya. Pengurus CU hendaknya menjadi contoh misalnya, pada


(54)

saat kehadiran dipertemuan/penabungan. Pengurus harus menjadi teladan agar anggota juga dapat mencontohnya. Bila hal ini berjalan baik maka ini akan sangat berpengaruh pada anggota. Anggotapun merasa segan untuk berbuat hal-hal yang melanggar peraturan CU karena para pengurus yang selalu mengikuti peraturan-peraturan dan menjadi contoh yang baik selalu memperhatikan setiap anggota.

Credit Union adalah perkumpulan manusia yang berurusan dengan uang, maka masalah keuangan dan pembukuan CU menjadi sangat perlu diperhatikan. Karena bila pembukuan dan keuangan CU tidak beres, perkumpulan manusia ini terancam bubar, hilang kepercayaan antara satu dengan yang lainnya. Karena itu semua pengurus harus membantu menjaga keamanan uang. Memang bendahara yang bertugas secara khusus dalam keuangan, ia yang bertanggung jawab dalam penerimaan dan pengeluaran uang, tapi hendaklah ia dibantu oleh panitia kredit, panitia pendidikan atau badan pengawas dan dewan pimpinan untuk bersama-sama mengamankan uang CU ini, sebab uang CU bukan milik pribadi tetapi milik seluruh anggota.13

13

Kantor Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit Kecamatan Tiga Panah 1985, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Credit Union Ora Et Labora Desa.

Adapun para pejabat credit union yang menjadi bagian dari struktur kepengurusan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit dapat dilihat jelas dari penjelasan bagan di bawah ini:


(55)

Bagan 2. Struktur kepengurusan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit

Sumber: Kantor Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit tahun 1985

Dengan perincian:

I. Dewan Penasehat, terdiri dari:

- Organisasi sosial Yayasan Pijer Podi (YAPIDI) Kabanjahe.

Dewan

Penasehat

Dewan

Pimpinan

Panitia

Pendidikan

Anggota

Badan

Pengawas

Panitia


(56)

II. Dewan Pimpinan, terdiri dari: - Ketua

- Wakil Ketua - Sekretaris - Bendahara - Anggota

III. Panitia Kredit - Wakil ketua - Sekretaris - Anggota

IV. Panitia Pendidikan - Ketua

- Anggota

V. Badan Pengawas - Ketua

- Sekretaris - Anggota 14

14

Kantor Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit.


(57)

3.2.2. Struktur Keanggotaan

Mendirikan koperasi kredit ( credit union) bukan merupakan suatu pekerjaan yang mudah, lebih-lebih lagi jika koperasi kredit itu dibentuk dikalangan masyarakat, bahkan juga diakui sekarang ini untuk membentuk koperasi kredit fungsionelpun tidak mudah. Setelah koperasi kredit ini berhasil didirikan, maka mulailah tugas membina dan mengembangkannya. Dan justru inilah yang paling sulit, bahkan semakin besar koperasi kredit itu tumbuh semakin sulit membinanya. Koperasi kredit yang baru tumbuh adalah diibaratkan sebutir bibit yang baru tumbuh, dia masih lemah karena itu perlu dilindungi dan dirawat supaya jangan sampai mati layu karena mungkin terlalu banyak sinar matahari atau patah tangkainya karena hembusan angin keras. Dia memerlukan penyiraman agar tidak sampai kering, diberi pupuk supaya subur, pokoknya dipelihara baik-baik. Bila semua itu dilaksanakan, maka bibit tadi tidak akan mati dan akan dapat diharapkan tumbuh pohon yang besar yang kemudian akan menghasilkan buah yang bisa dinikmati pemiliknya.

Yang menanam, yang menyirami, yang memberi pupuk dan yang membuat teduh tanaman adalah sipemilik tanaman. Dalam contoh ini, sipemilik dimaksudkan adalah anggota koperasi kredit itu sendiri, sedangkan yang membimbing berapa banyak pupuk diberikan serta berapa banyak sinar matahari dapat masuk adalah tugas si penyuluh pertanian yang didalam koperasi kredit ialah pengurus serta petugas lapangan. Setelah koperasi kredit berdiri maka pembinaan langsung pada koperasi kredit itu perlu dilakukan secara teratur dan terarah serta bertahap-tahap, tugas pembimbing adalah tugas yang tanpa akhir.


(58)

Perlu diketahui disini bahwa permulaan usaha untuk menumbuhkan koperasi kredit akan ada banyak hambatan yang muncul. Pelepas uang (lintah darat), penghasilan yang terlalu rendah, ketidakmampuan dalam managemen, sikap mementingkan diri sendiri, saling tidak percaya dan sebagainya. Namun yang merupakan hambatan terbesar adalah ketidaktahuan tentang prinsip-prinsip, metode-metode dan tujuan koperasi kredit itu sendiri. Metode-metode-metode, prinsip-prinsip dan tujuan koperasi kredit harus benar-benar melekat dalam pikiran dan perasaan setiap anggota agar mereka dapat menjadi kesatuan yang kompak, berpartisipasi penuh dan sadar akan segala hak dan kewajibannya. Prinsip-prinsip, metode-metode dan tujuan koperasi kredit ini perlu diketahui oleh para calon anggota, agar mereka masuk dalam koperasi kredit dengan sadar dan penuh keyakinan. Hal ini juga di lakukan di Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit terhadap anggotanya yaitu menyebarluaskan ide/gagasan ini agar tercipta pengertian yang positif akan pentingnya peranan koperasi kredit dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat (perempuan) terutama yang golongan ekonomi lemah.

Credit Union (CU) Ora Et Labora Desa Bukit bersifat tertutup untuk masyarakat umum, khususnya yang tinggal diluar daerah Desa Bukit. Anggota CU tersebut dikonsentrasikan untuk masyarakat di Desa Bukit saja. Sebelum calon anggota diijinkan untuk menjadi anggota, maka mereka diwajibkan untuk mengikuti pendidikan atau bimbingan mengenai hal-hal dasar tentang koperasi kredit misalnya, apa maksud dan tujuan koperasi, hal apa saja yang menjadi hak dan kewajiban para anggota, cara penabungan dan peminjaman uang serta hal-hal yang diperlukan untuk


(59)

menambah pengetahuan para anggota dalam cara pengelolaan keuangan. Selain itu mereka juga dibina dan diajarkan tentang bagaimana sistem manajemen keuangan yang efektif dan cara untuk terbiasa dengan menabung uang. Pendidikan ini dilakukan selama tiga bulan dan dibimbing oleh panitia pendidikan yang telah ditentukan oleh para pengurus.15

15

Wawancara dengan Afrida Sembiring (Ketua Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit) Bukit 1 Mei 2011.

Yang dapat diterima menjadi anggota koperasi kredit ini adalah warga Republik Indonesia yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Seorang perempuan, namun ada pengecualian yaitu jika seorang ibu ingin memasukkan anaknya yang laki-laki, hal ini dapat diijinkan tetapi dengan syarat jika anaknya yang laki-laki tersebut sudah menikah maka keanggotaanya akan digantikan oleh istrinya, sehingga anggota dari koperasi kredit ini pada akhirnya adalah tetap seorang perempuan.

2. Yang menurut pendapat pengurus berkelakuan baik, jujur, dan rajin bekerja, standarnya ditentukan berdasarkan pandangan masyarakat.

3. Yang telah disetujui oleh suami ( bagi yang sudah berkeluarga ), dan yang disetujui oleh keluarga bagi yang belum berkeluarga. Hal ini dilakukan agar tidak ada masalah dikemudian hari.


(60)

4. Yang telah membayar simpanan pokok atau sekurang-kurangnya telah melunasi angsuran pertama terhadap simpanan pokok ini.

5. Yang berkeinginan dan memiliki kemampuan untuk memahami anggaran dasar koperasi kredit ini, maksudnya adalah memiliki keinginan untuk belajar lebih dalam tentang koperasi kredit, tidak hanya sebatas kulit depannya saja tetapi sampai ke isinya.

6. Yang tidak tersangkut didalam suatu usaha atau pekerjaan yang bertentangan dengan kepentingan koperasi kredit ini, misalnya sudah pernah menjadi anggota koperasi kredit di tempat yang lain, atau masuk ke dalam organisasi yang bertentangan dengan koperasi kredit.

7. Yang berminat untuk menyimpan secara terus menerus didalam koperasi kredit ini. Maksudnya adalah setelah menjadi anggota tidak hanya menyimpan sekali-sekali, tetapi secara berkala dan terus menerus, tidak hanya setelah baru masuk menjadi anggota rajin menabung, setelah beberapa lama malas untuk menabung, harus adanya sikap konsisten.

8. Yang sudah mengikuti pendidikan yang diselenggarakan panitia pendidikan, kurang lebih selama tiga bulan.

9. Yang telah disetujui oleh anggota Credit Union Ora Et Labora berdasarkan rapat anggota


(61)

Peranan anggota sangat besar dan sangat mempengaruhi perkembangan dari koperasi kredit tersebut. Karena koperasi ini dibentuk dari, oleh, dan untuk mensejahterakan anggota. Namun terdapat peraturan atau kewajiban yang harus di jalankan oleh semua anggota yakni:

1. Harus tunduk pada segala ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, peraturan-peraturan khusus dan keputusan rapat anggota.

2. Keanggotaan koperasi kredit ini melekat pada diri anggota sendiri dan tidak dapat di pindahkan atau diwakilkan kepada orang lain dengan dalih apapun.

3. Menabung setiap bulan.

4. Membayar uang pangkal sebanyak Rp. 2.500,-, hal ini sebagai salah satu kesepakatan yang telah di tentukan dalam rapat anggota.

5. Mengikuti rapat anggota setiap bulan.

6. Membayar bunga pinjaman dan mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya. 7. Mengantar sendiri saham/tabungannya, maksudnya tidak dapat diwakilkan oleh

siapapun.

8. Harus membawa buku (kartu) anggota pada setiap pertemuan. 9. Saling bekerja sama untuk memajukan koperasi kredit.


(62)

1. Setiap anggota berhak untuk mengemukakan pendapatnya (berbicara) tentang segala hal yang dirundingkan didalam rapat anggota, maksudnya disini adalah untuk mengetahui keinginan dari anggota itu sendiri dan lebih memahami faktor penyebab masalah dan cara menanggulanginya.

2. Setiap anggota berhak mendapat pelayanan untuk meminjam, jadi tidak ada sifat pengistimewaan anggota, semua diperlakukan sama.

3. Setiap anggota juga berhak untuk memilih dan dipilih menjadi pengurus, maksudnya adalah semua bebas untuk melakukan apa yang dikehendakinya dan mengemukakan pendapatnya selama tidak melanggar peraturan koperasi kredit. 4. Setiap anggota berhak menerima deviden pada akhir tahun buku koperasi kredit. 5. Setiap anggota juga berhak untuk menelaah pembukuan koperasi kredit setiap

kantor dibuka, maksudnya disini adalah agar terjadinya keterbukaan anggota dengan para pengurusnya.

6. Setiap anggota juga berhak untuk memberi saran dan kritik guna perbaikan koperasi kredit, maksudnya bebas mengemukakan pendapat agar terjadinya perbaikan kearah yang lebih baik (kritik yang membangun).

7. Setiap anggota berhak meminta berhenti menjadi anggota setiap saat, maksudnya jika sudah tidak nyaman dan masalah yang dialami sudah tidak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan maka anggota dapat meminta berhenti menjadi anggota.


(63)

Seorang anggota yang melanggar ketentuan-ketentuan didalam anggaran dasar ini maka mereka akan dikeluarkan dari keanggotaanya dengan suara duapertiga dari anggota yang hadir dan berhak dikeluarkan dalam rapat anggota, setelah tuduhan-tuduhan terhadapnya disampaikan secara tertulis kepadanya secara tertulis oleh pengurus sekurang-kurangnya tujuh hari sebelum rapat anggota diadakan. Keanggotaan didalam koperasi kredit berakhir bilamana anggota:

a. Minta berhenti sendiri atau kehendaknya sendiri, maksudnya adalah jika anggota sudah merasa tidak nyaman di koperasi kredit, misalnya karena ada masalah yang tidak bisa diselesaikan antara anggota dengan anggota atau antara anggota dengan pengurus, bisa juga karena pindah ke daerah lain atau karena kurang puas dengan pelayanan di koperasi kredit.

b. Setelah sembilan puluh hari diterima sebagai anggota koperasi kredit, belum juga menyelesaikan angsuran-angsuran terhadap simpanan pokoknya. Maksudnya disini adalah jika anggota yang sejak diterima menjadi anggota belum memberikan anggsuran simpanan pokoknya selama sembilan puluh hari maka akan diberhentikan menjadi anggota, kenapa sembilan puluh hari karena inilah waktu yang di tentukan di rapat anggota, sembilan puluh hari agar anggota dapat diberi keringanan untuk membayarnya.

Dengan ketentuan bahwa sebelum genap 80 (delapan puluh) hari ia sudah diberitahukan secara tertulis mengenai akibat-akibat atas kelalaiannya.


(64)

c. Menarik kembali seluruh simpananya didalam koperasi kredit atau mengalihkan semua simpananya kepada anggota lain.16

Walaupun syarat dan prosedur untuk menjadi anggota Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit tidak mudah, namun hal ini tidak menjadi penghalang untuk berkembangnya credit union dan bertambahnya jumlah anggota. Pertambahan jumlah anggota ini merupakan salah satu gambaran betapa penting dan bermanfaatnya Credit Union Ora Et Labora tersebut bagi masyarakat Desa Bukit. Sebuah solusi ekonomi bagi masyarakat pedesaan yang cukup mudah dan sangat efektif. Dari tabel dibawah ini dapat kita lihat pertambahan anggota Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit dari tahun 1985-1995:

16

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi Kredit Ora Et Labora DesBukit tahun 1985, hal. 3-4


(65)

Tabel 4 : Perkembangan Jumlah Anggota Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit tahun 1985-1995.

No. Tahun Jumlah Pertumbuhan

Anggota (%)

1. 1985 70 orang 0,18

2. 1986 88 orang 0,10

3. 1987 98 orang 0,32

4. 1988 130 orang 0,12

5. 1989 142 orang 0,20

6. 1990 162 orang 0,11

7. 1991 173 orang 0,21

8. 1992 194 orang 0,08

9. 1993 202 orang 0,24

10. 1994 226 orang 0,16

11. 1995 242 orang 0,10

Sumber: Diolah dari Data Kantor Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit, pada tahun 1985-1995.


(66)

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa dari tiap tahun terjadi peningkatan jumlah anggota Credit Union Ora Et Labora. Hampir tidak ada penurunan jumlah anggota ditiap tahunnya. Hal ini membuktikan bahwa manfaat yang ditimbulkan dari credit union tersebut sangat besar dalam menunjang permodalan masyarakat di Desa Bukit. Dan dapat kita analisa bahwa peningkatan anggota yang paling banyak terjadi pada tahun 1987, hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut pengaruh atau manfaat credit union semakin dirasakan oleh masyarakat, selain itu di tahun tersebut terdapat penanganan yang baik yang dilakukan oleh para pengurus, sehingga semakin banyak masyarakat yang msuk menjadi anggota.

Sedangkan pada tahun 1992, terjadi sedikit penurun jumlah anggota, hal ini disebabkan karena pada tahun ini terjadi penurunan kinerja pengurus, dimana terdapat ketidak jelasan pendapatan dan pengeluaran, sehingga masyarakat kurang berminat dan percaya terhadap credit union tersebut. Dari tahun ke tahun terjadi penurunan dan peningkatan pertambahan anggota, namun anggota credit union dari tahun ke tahun tidak pernah tidak meningkat, selalu bertambah walaupun jumlahnya tidak menentu.

Dalam struktur keanggotaan Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit, anggota koperasi kredit terdiri dari 2 jenis yaitu:

1. Anggota biasa adalah anggota yang sudah menikah atau berkeluarga, termasuk juga anggota yang sudah dewasa (belum menikah) dan mandiri atau yang sudah bekerja dan tidak menjadi tanggungan dari orangtua (sudah bekerja).


(67)

2. Anggota luar biasa adalah anggota yang masih sekolah dan masih bergantung penuh kepada orangtua serta tidak mampu melakukan tindakan hukum, dimana anggota luar biasa ini dapat menerima deviden pada akhir tahun buku dan sewaktu-waktu dapat menarik ½ (setengah) dari saham yang dimilikinya. Credit Union Ora Et Labora Desa Bukit berada di bawah naungan Yayasan Pijar Podi (YAPIDI) yang memiliki tujuan untuk mensejahterakan para anggota khususnya para kaum perempuan pedesaan. Di Desa Bukit sendiri para masyarakat berasal dari beberapa suku yaitu: suku Karo, Batak Toba dan Batak Simalungun sehingga anggotanya juga berasal dari beberapa suku.

3.2.3. Prosedur Perkreditan

3.2.3.1. Sistem Penabungan

Credit Union (koperasi kredit) mempunyai modal perusahaan yang tak tetap dan tak terbatas, yang diperoleh dari uang simpanan anggota-anggota dan bila perlu dari uang pinjaman dengan ketentuan bahwa pinjaman yang dilakukan koperasi kredit harus mendapatkan persetujuan bulat dari pengurus dan jumlahnya tidak pernah boleh melebihi 50% dari jumlah seluruh simpanan didalam koperasi kredit. Simpanan dalam koperasi kredit (credit union) terbagi atas beberapa jenis, yaitu:

1. Simpanan pokok, merupakan simpanan yang menjadi modal awal anggota ketika baru masuk menjadi anggota baru dan dilakukan sebulan sekali.


(1)

DAFTAR PUSTAKA

Adiwilaga, Anwas, Ilmu Usaha Tani, Bandung: Alumni, 1975.

Bukit, Elieser. “Kondisi Sosial Dalam Perkembangan Sistim Pertanian Tahun 1960-1982 Pada Masyarakat Petani Desa Bukit”. Medan Fakultas Sastra USU, 1984.

Dirdjosisworo, Soedjono, Megawati Dalam Babar Sejarah Pemimpin Perempuan Indonesia, Bandung: Mandar Maju,1999.

Firdaus, Muhammad dan Agus Edhi Susuanto, Perkoperasian, Sejarah, Teori & Praktek, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004.

Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, Terj. Nugroho Notosusanto, Jakarta: Ul Press, 1985.

Mubyarto, dan Edy Suandi Hamid, Kredit Pedesaan di Indonesia,Yogyakarta: BPFE, 1986.

Murniati P., A. Nunuk, Getar Gender, Magelang: Indonesiatera,2004.

Nasution, Muslimin, Pengembangan Kelembagaan Koperasi Pedesaan Untuk Agroindustri, Bogor: IPB Press,2002.

Saldadyo, Harry, Kredit Untuk Rakyat Dari Mekanisme Arisan Hingga BPR,

Bandung: Akatiga 1994.

Sembiring, Odoranta. “Sejarah Dan Perkembangan Koperasi Credit Union Gunanta Ras Desa Namo Rambe”. Medan Fakultas Sastra USU, 2010.

Simanjuntak, Derni. “Perkembangan Credit Union Satolop Di Kelurahan Pasar Siborongborong (1975-2005)”. Medan Fakultas Sastra USU, 2010.

Sinungan, Muchdarsyah, Dasar-Dasar Kredit dan Teknik Managemen Kredit,

Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Suyatno, Thomas, dkk, Dasar-Dasar Perkreditan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2003.

Tan, Mely G, Perempuan Indonesia Pemimpin Masa Depan ?, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996.


(2)

T.O Ihromi, dan Maria Ulfah Subadio, Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia,

Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Pres, 1994.

W.Pranoto, Suhartono, Teori dan Metodologi Sejarah, Yogyakarta: Graha Ilmu,2010

Arsip dan Laporan Resmi

Kantor Credit Union “Ora Et Labora” Desa Bukit, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Koperasi Kredit (Credit Union). Desa Bukit Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo, 1985.

Laporan pertanggungjawapan pengurus dan pengawas Credit Union Ora Et Labora, tahun 1985-1995.


(3)

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : Birma Ginting

Usia : 48 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Sekretaris Desa Bukit ( 2002-sekarang) 2. Nama : Dalin Ukur Sembiring

Usia : 45 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Ketua badan pengawas (2006-sekarang) 3. Nama : Katarina Karo Sekali

Usia : 60 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Ketua koperasi ( 1991-2008) 4. Nama : Katarina Sembiring Milala

Usia : 51 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Anggota koperasi kredit 5. Nama : Layni Karo Sekali

Usia : 60 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani


(4)

6. Nama :Lindawati Sembiring

Usia : 33 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Anggota sekretaris pendidikan (2006-sekarang) 7. Nama : Mitra Frenna Sembiring

Usia : 33 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Anggota panitia kredit (2006-sekarang) 8. Nama : Pasu Sembiring

Usia : 65 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Anggota pelayan pimpinan ( 1991-1994)

9. Nama : Permata Tarigan

Usia : 46 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Bendahara (2006-sekarang)

10.Nama : Pt.Afrida Sembiring

Usia : 49 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Bendahara (1985-1995), ketua koperasi (2009-sekarang)


(5)

11.Nama : Pt.Asmani Sembiring

Usia : 59 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Wakil ketua koperasi (1985-1991)

12.Nama : Pt. Dasar Bukit, SH

Usia : 45 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Kepala Desa Bukit (2008-sekarang)

13.Nama : Pt.Morianna Sinuhaji

Usia : 36 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Sekretaris (2006-sekarang)

14.Nama : Suai Arih Sembiring

Usia : 46 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani

Keterangan : Anggota koperasi kredit 15.Nama : Terang Malem Sembiring

Usia : 35 tahun

Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Desa Bukit Pekerjaan : Bertani


(6)

LOGO CREDIT UNION “ORA ET LABORA” DESA BUKIT KECAMATAN TIGA PANAH