Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan Produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 )

UJI EFEKTIVITAS SOIL CONDITIONER TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI PADI ( Oryza sativa L. Var. Inpari 3 )

SKRIPSI

OLEH :
ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN
070301037/BDP-AGRONOMI

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEKTIVITAS SOIL CONDITIONER TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN PRODUKSI PADI ( Oriza sativa L. Var. Inpari 3 )

SKRIPSI

Oleh:
ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN
070301037/BDP-AGRONOMI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh :

(Ir. Mariati, M.Sc)
Ketua Komisi Pembimbing

(Ir. Rosita Sipayung, MP.)
Anggota Komisi Pembimbing

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Skripsi

: Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan
produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 )
Nama
: Astari Mita Silvia Pulungan
NIM
: 070301037
Program Studi : BDP – Agronomi

Disetujui Oleh,
Komisi Pembimbing

Ir. Mariati, M.sc.
Ketua

Ir. Rosita Sipayung, MP
Anggota

Mengetahui,

Ir. T. Sabrina, M. Agr. Sc. Ph.D
Ketua Departemen Agroekoteknologi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN. Uji Efektifitas Soil Conditioner
terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L. Var. Inpari 3).
Dibimbing oleh MARIATI SINURAYA dan ROSITA SIPAYUNG.
Pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan dapat mengakibatkan
degradasi lahan. Degradasi lahan mengakibatkan menurunnya kualitas tanah
sehingga menjadi rusak. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi
dilahan sawah memerlukan keadaan tanah sawah yang berkualitas baik sehingga
untuk mengatasi permasalahan tersebut soil conditioner bisa diharapkan para
petani untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal dan memperoleh
keuntungan, sebab soil conditioner memiliki fungsi untuk membangun kembali
tanah yang telah rusak karena manajemen yang tidak tepat, untuk membuat tanah
yang miskin lebih bermanfaat, dan mempertahankan tanah dalam kondisi puncak
sehingga agregat tanah menjadi lebih baik dan baik dilakukan untuk areal
pertanaman khususnya dilahan sawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pemberian soil conditioner terhadap pertumbuhan dan
produksi Padi (Oryza sativa L. Var. Inpari 3). Penelitian ini dilaksanakan desa
Pasar Melintang, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera
Utara dengan ketinggian tempat + 26 di atas permukaan laut, mulai September
2010 sampai Januari 2011. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak kelompok non faktorial dengan 7 perlakuan yaitu T1 (0 ml Soil
conditioner aplikasi benih, 0 ml Soil conditioner dan 125 kg Urea 2MST, 125 kg
Urea 7 MST), T2 (2,0 ml Soil conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner
dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T3 (2,5ml Soil conditioner
aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7
MST), T4 (0ml Soil conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 125
kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T5 (1,5ml Soil conditioner aplikasi benih, 0
ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T6 (0 ml Soil
conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5
kg Urea 7 MST), T7 (1,5 ml Soil conditioner aplikasi benih, 500 ml Soil
conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan menggunakan Soil conditioner dapat meningkatkan
bobot kering tajuk (g), luas daun (cm2), bobot 1000 butir (g), jumlah malai per
sampel (tangkai), produksi per petak ubin (g), produksi per hektar (ton). Dan
berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, bobot
kering akar (g), jumlah gabah berisi per sampel (Bulir), persentase jumlah gabah
berisi (%), indeks panen, produksi per sampel (g).
Kata kunci : Padi, Soil conditioner.

ii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN. The effectiveness of soil conditioner
to the growth and production of rice (Oryza sativa L. Var. inpari 3). Supervised
by MARIATI SINURAYA and ROSITA SIPAYUNG.
Uses of more inorganic fertilizer will be land degradation. Land
degradation affect declining of soil quality become damaged. For increasing the
growth and production of rice in the field need soil conditioner (SC) which in
good quality, to complete this problem soil conditioner can be expected by the
farmers because the soil conditioner has a function to fix the damaged soil
because of inappropriate management, to make poor soil more useable, and to
keep soil in top condition so soil aggregate became more and it’s good for doing
in rice field particularly. The aim of this research is for knowing the effectiveness
of soil conditioner to the growth and production of rice. This research have been
done at Lubuk Pakam sub-district, Deli Serdang (±26m asl) in September 2010 –
January 2010 using non-factorial randomized block design with 7 treatment: T1 (0
ml Soil conditioner in seed, 0 ml Soil conditioner in field and 125 kg Urea 2MST,
125 kg Urea 7 MST), T2 (2,0 ml Soil conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner
in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T3 (2,5ml Soil conditioner
in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7
MST), T4 (0ml Soil conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 125
kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T5 (1,5ml Soil conditioner in seed, 0 ml Soil
conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T6 (0 ml Soil
conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5
kg Urea 7 MST), T7 (1,5 ml Soil conditioner in seed, 500 ml Soil conditioner in
field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST). The results showed by using
soil conditioner can increase dry crown weight (g), leaf area (cm²), the number of
panicles (stem), 1000 grain weight (g), production square meter (g), production
per hectare. And show no significant affect plant height (cm), number of stem
(stem), dry roots weight (g), a number of grain containing (g), percentase of
number grain containing (%), harvest index, production per sample (g).
Key word : Rice, Soil conditioner

i

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

ASTARI MITA SILVIA Pulungan dilahirkan di Medan pada tanggal 18
Desember 1989, anak kedua dari 3 bersaudara, putri ayahanda Zainul Kharnain
Pulungan dan ibunda Khairani Batubara.
Tahun 2007 penulis lulus dari SMU Negeri 8 Medan. Dan pada tahun
yang sama lulus di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan melalui
jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Penulis memilih Program
Studi Agronomi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas
Sumatera Utara Medan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti kegiatan organisasi
HIMADITA. Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di PTPN III
Gunung Para Provinsi Sumatera Utara pada bulan Juni – Juli 2010.

ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ”Uji Efektivitas
Soil

Conditioner

Terhadap

Pertumbuhan

dan

Produksi

Padi (Oryza sativa l. var. Inpari 3)”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada
Ibu Ir. Mariati, M.sc selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Ir. Rosita
Sipayung, MP selaku anggota komisi pembimbing, dan Ibu Ir. Ratna Rosanty
Lahay yang telah memberikan bimbingan selama penelitian hingga penulisan
skripsi ini.
Ungkapan terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada ayahanda
Zainul Pulungan, ibunda Khairani Batubara, Opung Alm. H. Daud Batubara,
Abang Andriansyah Pulungan, Adik Ainunnamira Pulungan atas doa, kasih
sayang, perhatian dan dukungannya selama berlangsungnya penelitian dan
penulisan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Vira Irma
Sari, Femmy K. Wardhani, Mahruf Luth Firza, Eka Framio Ginting, T. Alvin dan
teman-teman angkatan 2007 lainnya, abang dan kakak angakatan 2003 dan 2004,
serta adik-adik angkatan 2008 – 2010 yang telah berpartisipasi membantu dalam
melaksanakan penelitian.

Universitas Sumatera Utara

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik guna kesempurnaan penulisan skripsi ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini dapat
berguna bagi kita semua.
Medan, Juni 2011
Penulis

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRACT ....................................................................................................... i
ABSTRAK ........................................................................................................ ii
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ...................................................................................... iv
DAFTAR ISI.....................................................................................................vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... x
PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................................... 1
Tinjuan Penelitian .................................................................................. 2
Hipotesis Penelitian................................................................................ 3
Kegunaan Penelitian .............................................................................. 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman .................................................................................... 4
Syarat Tumbuh
Iklim ............................................................................................. 6
Tanah ............................................................................................. 8
Soil Conditioner ..................................................................................... 9
BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu ................................................................................. 14
Bahan dan Alat ....................................................................................... 14
Metode Penelitian ................................................................................. 14
PELAKSANAAN PENELITIAN
Persiapan Areal Persemaian ................................................................... 16
Perendaman Benih ................................................................................. 16
Penyemaian Benih………………………………………………...........16
Persiapan Areal Tanam…………………………………..……………..16
Pembuatan Plot Percobaan……………………………………………..16
Pembuatan Jarak Tanam ........................................................................ 17
Penanaman Bibit .................................................................................... 17
Pemeliharaan .......................................................................................... 17
Penyulaman ................................................................................... 17
Pemupukan .................................................................................... 18
Pengendalian Hama dan Penyakit ................................................. 18
Peyiangan ...................................................................................... 18

Universitas Sumatera Utara

         Pemanenan .................................................................................... 18 
Pengamatan Parameter ........................................................................... 18
Tinggi Tanaman (cm) .................................................................... 18
Jumlah Anakan per Sampel (tangkai) ........................................... 19
Indeks Panen ................................................................................. 19
Bobot Kering Tajuk (g) ................................................................. 19
Bobot Kering Akar (g) .................................................................. 19
Luas Daun Bendera (cm2) ............................................................. 20
Jumlah Malai Per Sampel (tangkai) .............................................. 20
Jumlah Gabah Berisi (butir) .......................................................... 20
Persentase Gabah Berisi (%)……………………………………..20
Bobot 1000 butir (g) ...................................................................... 20
Produsi Tanaman per Sampel (g) ................................................. 21
Produksi per Petak Ubin (g) .......................................................... 21
Produksi per Hektar (Ton) ............................................................ 21
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ...................................................................................................... 21
Pembahasan ............................................................................................ 33
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ........................................................................................... 44
Saran....................................................................................................... 45
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vi

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No.

Hal

1. Perlakuan yang diaplikasikan saat penelitian.................................

14

2. Rataan Tinggi Tanaman 4, 6, dan 8 MST (cm) pada pemberian
soil conditioner (pembenah tanah) .................................................

22

3. Rataan Jumlah Anakan 4, 6, dan 8 MST (batang) pada pemberian
soil conditioner (pembenah tanah)..... ............................................

23

4. Rataan Berat Kering Tajuk (g) pada pemberian soil conditioner
(pembenah tanah) ...........................................................................

24

5. Rataan Berat Kering Akar (g) pada pemberian soil conditioner
(pembenah tanah)..... ......................................................................

25

6. Rataan Luas Daun Bendera
(cm²) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah)..... ...................................................

25

7. Rataan Jumlah Malai per Sampel (batang) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah).... ....................................................

26

8. Rataan Jumlah Gabah Berisi (butir) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah)..... ...................................................

27

9. Rataan Persentase Gabah Berisi (%) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah)..... ...................................................

28

10. Rataan Indeks Panen (g) pada pemberian soil conditioner
(pembenah tanah)..... ......................................................................

28

11. Rataan Bobot 1000 butir (g) pada pemberian soil conditioner
(pembenah tanah)..... ......................................................................

29

12. Rataan Produksi per Sampel (g) pada pemberian soil conditioner
(pembenah tanah) ...........................................................................

30

13. Rataan Produksi per Petak Ubin (g) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah) ........................................................

30

14. Rataan Produksi per Hektar (Ton) pada pemberian soil
conditioner (pembenah tanah) ........................................................

31

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

No.

Hal

1.

Histogram Berat Kering Tajuk (g)................................................

24

2.

Histogram Luas Daun Bendera (cm2) ...........................................

26

3.

Histogram Jumlah Malai (Tangkai) ..............................................

27

4.

Histogram Bobot 1000 butir (g) ...................................................

29

5.

Histogram Produksi per Petak Ubin (g)..... ..................................

31

6.

Histogram Produksi per Hektar (Ton)..... .....................................

32

ix

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Hal

1.

Deskripsi Padi Varietas Inpari 3..... .................................

48

2.

Bagan Percobaan..... .........................................................

49

3.

Bagan Sistem Tanam Legowo..... ....................................

50

4.

Jadwal Kegiatan Penelitian ..............................................

51

5.

Data Pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST (cm)..... ........

52

6.

Sidik Ragam Tinggi Tanaman 4 MST..... ........................

52

7.

Data Pengamatan Tinggi Tanaman 6 MST (cm)..... ........

52

8.

Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MST..... ........................

53

9.

Data Pengamatan Tinggi Tanaman 8 MST (cm)..... ........

53

10.

Sidik Ragam Tinggi Tanaman 8 MST .... ........................

53

11.

Data Pengamatan Jumlah Anakan 4 MST (cm)..... ..........

54

12.

Sidik Ragam Jumlah Anakan 4 MST ..... .........................

54

13.

Data Pengamatan Jumlah Anakan 6 MST (cm)..... ..........

54

14.

Sidik Ragam Jumlah Anakan 6 MST ..... .........................

55

15.

Data Pengamatan Jumlah Anakan 8 MST (cm)..... ..........

55

16.

Sidik Ragam Jumlah Anakan 8 MST..... ..........................

55

17.

Data Pengamatan Berat Kering Tajuk (g)..... ...................

56

18.

Sidik Ragam Berat Kering Tajuk..... ................................

56

19.

Uji Kontras Berat Kering Tajuk..... ..................................

56

20.

Data Pengamatan Berat Kering Akar (g)..... ....................

57

21.

Sidik Ragam Berat Kering Akar ..... ................................

57

Universitas Sumatera Utara

22.

Data Pengamatan Luas Daun Bendera (cm2)..... ..............

57

23.

Sidik Ragam Luas Daun Bendera ..... ..............................

58

24.

Uji Kontras Luas Daun Bendera ..... ................................

58

25.

Data Pengamatan Jumlah Malai per Sampel (tangkai).....

58

26.

Sidik Ragam Jumlah Malai per Sampel ..... .....................

59

27.

Uji Kontras Jumlah Malai per Sampel ..... .......................

59

28.

Data Pengamatan Jumlah Gabah Berisi (g)..... ................

59

29.

Sidik Ragam Jumlah Gabah Berisi ..... ............................

60

30.

Data Pengamatan Persentase Gabah Berisi (%)..... ..........

60

31.

Sidik Ragam Jumlah Persentase Gabah Berisi (%)..........

60

32.

Data Pengamatan Indeks Panen ..... .................................

61

33.

Sidik Ragam Indeks Panen ..... ........................................

61

34.

Data Pengamatan Bobot 1000 butir (g)............................

61

35.

Sidik Ragam Bobot 1000 butir ........................................

62

36.

Uji Kontras Bobot 1000 butir ..........................................

62

37.

Data Pengamatan Produksi per Sampel (g)......................

62

38.

Sidik Ragam Produksi per Sampel ..................................

63

39.

Data Pengamatan Produksi per Petak Ubin (g)..... ...........

63

40.

Sidik Ragam Produksi per Petak Ubin..... ........................

63

41.

Uji Kontras Produksi per Petak Ubin..... ..........................

64

42.

Data Pengamatan Produksi per Hektar (Ton)..... .............

64

43.

Sidik Ragam Produksi per Hektar ..... ..............................

64

44.

Uji Kontras Produksi per Hektar ..... ................................

65

45.

Rangkuman Data Pengamatan Parameter ........................

66

Universitas Sumatera Utara

46.

Analisis Tanah Sawah Pasar Melintang ...........................

68

47.

Foto Sampel Gabah 1000 Butir` ......................................

69

48.

Foto Lahan Penelitian ......................................................

70

X

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN. Uji Efektifitas Soil Conditioner
terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi (Oryza sativa L. Var. Inpari 3).
Dibimbing oleh MARIATI SINURAYA dan ROSITA SIPAYUNG.
Pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan dapat mengakibatkan
degradasi lahan. Degradasi lahan mengakibatkan menurunnya kualitas tanah
sehingga menjadi rusak. Untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi
dilahan sawah memerlukan keadaan tanah sawah yang berkualitas baik sehingga
untuk mengatasi permasalahan tersebut soil conditioner bisa diharapkan para
petani untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal dan memperoleh
keuntungan, sebab soil conditioner memiliki fungsi untuk membangun kembali
tanah yang telah rusak karena manajemen yang tidak tepat, untuk membuat tanah
yang miskin lebih bermanfaat, dan mempertahankan tanah dalam kondisi puncak
sehingga agregat tanah menjadi lebih baik dan baik dilakukan untuk areal
pertanaman khususnya dilahan sawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pemberian soil conditioner terhadap pertumbuhan dan
produksi Padi (Oryza sativa L. Var. Inpari 3). Penelitian ini dilaksanakan desa
Pasar Melintang, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera
Utara dengan ketinggian tempat + 26 di atas permukaan laut, mulai September
2010 sampai Januari 2011. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
rancangan acak kelompok non faktorial dengan 7 perlakuan yaitu T1 (0 ml Soil
conditioner aplikasi benih, 0 ml Soil conditioner dan 125 kg Urea 2MST, 125 kg
Urea 7 MST), T2 (2,0 ml Soil conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner
dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T3 (2,5ml Soil conditioner
aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7
MST), T4 (0ml Soil conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 125
kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T5 (1,5ml Soil conditioner aplikasi benih, 0
ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T6 (0 ml Soil
conditioner aplikasi benih, 250 ml Soil conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5
kg Urea 7 MST), T7 (1,5 ml Soil conditioner aplikasi benih, 500 ml Soil
conditioner dan 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dengan menggunakan Soil conditioner dapat meningkatkan
bobot kering tajuk (g), luas daun (cm2), bobot 1000 butir (g), jumlah malai per
sampel (tangkai), produksi per petak ubin (g), produksi per hektar (ton). Dan
berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman (cm), jumlah anakan, bobot
kering akar (g), jumlah gabah berisi per sampel (Bulir), persentase jumlah gabah
berisi (%), indeks panen, produksi per sampel (g).
Kata kunci : Padi, Soil conditioner.

ii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

ASTARI MITA SILVIA PULUNGAN. The effectiveness of soil conditioner
to the growth and production of rice (Oryza sativa L. Var. inpari 3). Supervised
by MARIATI SINURAYA and ROSITA SIPAYUNG.
Uses of more inorganic fertilizer will be land degradation. Land
degradation affect declining of soil quality become damaged. For increasing the
growth and production of rice in the field need soil conditioner (SC) which in
good quality, to complete this problem soil conditioner can be expected by the
farmers because the soil conditioner has a function to fix the damaged soil
because of inappropriate management, to make poor soil more useable, and to
keep soil in top condition so soil aggregate became more and it’s good for doing
in rice field particularly. The aim of this research is for knowing the effectiveness
of soil conditioner to the growth and production of rice. This research have been
done at Lubuk Pakam sub-district, Deli Serdang (±26m asl) in September 2010 –
January 2010 using non-factorial randomized block design with 7 treatment: T1 (0
ml Soil conditioner in seed, 0 ml Soil conditioner in field and 125 kg Urea 2MST,
125 kg Urea 7 MST), T2 (2,0 ml Soil conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner
in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T3 (2,5ml Soil conditioner
in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7
MST), T4 (0ml Soil conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 125
kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T5 (1,5ml Soil conditioner in seed, 0 ml Soil
conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST), T6 (0 ml Soil
conditioner in seed, 250 ml Soil conditioner in field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5
kg Urea 7 MST), T7 (1,5 ml Soil conditioner in seed, 500 ml Soil conditioner in
field and 62,5 kg Urea 2MST, 62,5 kg Urea 7 MST). The results showed by using
soil conditioner can increase dry crown weight (g), leaf area (cm²), the number of
panicles (stem), 1000 grain weight (g), production square meter (g), production
per hectare. And show no significant affect plant height (cm), number of stem
(stem), dry roots weight (g), a number of grain containing (g), percentase of
number grain containing (%), harvest index, production per sample (g).
Key word : Rice, Soil conditioner

i

Universitas Sumatera Utara

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Padi merupakan tanaman yang paling luas dibudidayakan, meliputi sekitar
143,5 juta hektar, dan 90% lebih berada dikawasan Asia. Luas areal padi disetiap
negara sangat tergantung dari kebijaksanaan masing – masing pemerintah. Padi
dapat tumbuh pada semua jenis tanah dari yang bertopografi datar sampai miring
(Noor, 1996).
Sebagai bahan makanan, nasi dan beberapa bahan makanan pokok lainnya
merupakan sumber untuk mendapatkan karbohidrat dan lemak. Pencernaan
karbohidrat di dalam tubuh menghasilkan kalor, kalor inilah yang kemudian
diubah menjadi energi. Dibandingkan bahan makanan lainnya beras merupakan
bahan makanan yang paling lengkap dan sangat tinggi kandungan karbohidrat,
lemak dan proteinnya. Hal ini menjadikan padi sebagai tanaman pangan yang
terpenting di Indonesia dan menyebabkan permintaan terhadap padi terus
bertambah (Sugeng, 2001).
Angka sementara produksi padi tahun 2009 sebesar 64,33 juta ton gabah
kering giling. Dibandingkan produksi tahun 2008 terjadi peningkatan sebanyak 4
juta ton (6,64%). Angka ramalan tahun produksi 2010 diperkirakan sebesar
64,9 juta ton gabah kering giling. Dibandingkan produksi tahun 2009 terjadi
peningkatan sebanyak 568,37 ribu ton (0,88%). Hal ini menyatakan produksi padi
selalu meningkat dari tahun ke tahunnya. Yang mendukung didalam peningkatan
produksi padi salah satunya adalah pemakaian pupuk organik dan anorganik
(BPS, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Penggunaan pupuk kimia yang dilakukan secara terus menerus dapat
mengganggu keseimbangan hara, berkurangnya unsur mikro seperti Zn, Fe, Cu,
Mn, dan Mo di dalam tanah, mempengaruhi aktivitas organisme tanah, membuat
secara tidak langsung tanah menjadi rusak serta menurunkan produktivitas
pertanaman padi dalam jangka panjang. Selain itu penggunaan pupuk kimia
dengan harga yang cukup mahal menyebabkan tingginya biaya produksi pertanian
padi (Nugraha dan Sulistyawati, 2010).
Lahan yang mengalami degradasi (penurunan kualitas) semakin meningkat
dari tahun ke tahun, baik dari segi luasan maupun tingkat degradasinya. Oleh
karena itu diberikan suatu usaha untuk mempercepat laju pemulihan lahan-lahan
tersebut. Salah satunya dengan penggunaan bahan soil conditioner (pembenah
tanah) (Dariah, 2007).
Soil conditioner atau disebut juga dengan pembenah tanah dibuat untuk
memperbaiki struktur tanah dalam beberapa cara. Tanah cenderung menjadi padat
dari waktu ke waktu, dan soil conditioner dapat memperbaiki tekstur untuk
menjaga tanah menjadi longgar (Smith, 2010).
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian
guna meningkatkan produktivitas padi dengan menggunakan soil conditioner
(pembenah tanah).

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui efektivitas soil conditioner terhadap pertumbuhan dan
produksi padi (Oryza sativa L. var. Inpari 3).

Universitas Sumatera Utara

Hipotesa Penelitian
Pemberian soil conditioner (pembenah tanah) meningkatkan pertumbuhan
dan produksi padi (Oryza sativa L. var. Inpari 3).

Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai
salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan dan diharapkan berguna untuk pihak-pihak
yang berkepentingan dalam budidaya tanaman padi (Oryza sativa L.).

Universitas Sumatera Utara

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Tanaman
Menurut Aak (1990) klasifikasi tanaman padi termasuk didalam Kingdom
Plantae,

Divisio

Spermatophyta,

Sub

Divisio

Angiospermae,

Class

Monocotyledonae, Ordo Graminales, Famili Graminae (Poaceae), Genus Oryza,
dan Species Oryza sativa L.
Akar tanaman padi adalah akar yang sangat baik dan efektif dalam
penyerapan unsur hara tetapi peka terhadap kekeringan. Akar padi dapat
dibedakan menjadi beberapa bagian. Akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh
terus menjadi akar pokok yang bercabang. Akar pokok yang berasal dari akar
lembaga disebut akar tunggang. Padi dapat beradaptasi pada lingkungan tergenang
(anaerob) karena pada akarnya terdapat saluran aerenchyma. Walaupun mampu
beradaptasi pada lingkungan tergenang, padi juga dapat dibudidayakan pada lahan
yang

tidak

tergenang

(lahan

kering,

ladang)

yang

kondisinya

aerob

(Purwono dan Purnamawati, 2007).
Perakaran yang dalam dan tebal, sehat, mencengkeram tanah lebih luas
serta kuat menahan kerebahan memungkinkan penyerapan air dan hara lebih
efisien terutama saat stadia pengisian gabah. Penyebaran akar yang lebih luas di
dalam tanah akan menurunkan tahanan akar dalam menyerap air tanah
(Suardi, 2002).
Batang padi dibedakan dari titik tumbuh embrio, pada awalnya tertutup
oleh koleoptil. Tinggi batang utama tergantung pada jumlah ruas dan panjangnya,
mungkin lebih dipengaruhi oleh lingkungan, tetapi dalam kondisi pertumbuhan

Universitas Sumatera Utara

yang sebanding yang lebih menentukan adalah karakteristik varietas. Strain awal
metode pematangan yang pendek umumnya memiliki ruas lebih sedikit
dibandingkan

dengan

periode

pematangan

yang

lama,

tetapi

terdapat

pengecualian, jumlah ruas dapat bervariasi dari sekitar sepuluh sampai dua puluh
(Grist, 1960).
Daun terdiri dari dua bagian, sarung yang membungkus batang dan lidah
atau lamina. Daun berada pada suatu sumbu yang jumlahnya sama dengan
luasnya. Karena jumlah node lebih sedikit daripada jumlah sumbu utama, maka
jumlah daun pada anakan lebih sedikit. Daun yang pertama merupakan selubung
daun atau koleoptil. Daun kedua muncul melalui celah koleoptil itu, ukurannya
lebih kecil dan tidak memiliki lidah daun. Daun yang lain sama, kecuali daun
yang paling atas atau daun bendera yang sedikit berbeda (Girst, 1960).
Bunga padi merupakan bunga diceus dan bakal buah berada diatasnya.
Malai adalah sekumpulan bunga padi (spikelet) yang keluar dari buku paling atas.
Bulir – bulir padi terletak pada cabang pertama dan cabang kedua, sedangkan
sumbu utama malai adalah ruas buku terakhir pada batang. Panjang malai
tergantung varietas, kultur teknis dan lingkungan. Dari sumbu utama pada ruas
buku yang terakhir inilah biasanya panjang malai diukur. Jumlah cabang pada
setiap malai berkisar antara 15 – 20 buah. Jumlah cabang ini akan mempengaruhi
rendemen tanaman (Aak, 1990).
Tanaman padi berbentuk rumpun dengan anakannya, biasanya anakan
tumbuh pada dasar batang. Anakan pertama tumbuh diantara dasar batang dan
daun sekunder, sedangkan pada pangkal batang anakan pertama berbentuk
perakaran. Anakan ini tetap melekat pada batang utama hingga masa pertumbuhan

Universitas Sumatera Utara

berikutnya. Anakan kedua tumbuh pada batang bawah anakan pertama yaitu pada
buku pertama, dan juga membentuk perakaran sendiri. Anakan ketiga tumbuh
pada buku pertama pada batang anakan kedua. Jumlah anakan maksimum dicapai
pada umur 50-60 hari setelah tanam (Aak,1990).
Biji padi atau gabah terdiri dari dua penyusun utama yaitu 72-82% bagian
yang dapat dimakan (kariopsis) dan 18-28% kulit gabah atau sekam. Kariopsis
tersusun dari 1-2% perikarp, 4-6% aleuron dan testa, 2-3% lemma dan 89-94%
endosperm (Haryadi,2006).
Gabah / buah padi ini adalah buah padi yang diselubungi oleh sekam /
kulit gabah. Gabah / buah padi ini juga dapat rusak karena gangguan hama yang
memakan buah padi. Gangguan tanaman padi yang penyebarannya sangat cepat
ialah hama padi, karena dalam waktu yang sangat singkat populasi hama
berkembang dengan cepat (Aak, 1990).

Syarat Tumbuh
1. Iklim
Temperatur sangat mempengaruhi pengisian biji padi. Temperatur yang
rendah dan kelembaban yang tinggi pada waktu pembungaan akan mengganggu
proses pembuahan yang mengakibatkan gabah menjadi hampa. Hal ini terjadi
akibat tidak membukanya bakal biji. Temperatur yang juga rendah pada waktu
bunting dapat menyebabkan rusaknya pollen dan menunda pembukaan tepung sari
(Luh, 1991)
Suhu mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan. Suhu yang
terlalu rendah pada waktu pertumbuhan permulaan sangat menghambat

Universitas Sumatera Utara

pengembangan daripada kecambah, sehingga pemindahan terlambat dan
pembentukan anakan berkurang. Sedangkan suhu rendah setelah pembentukan
malai akan menyebabkan peningkatan sterilitas dan mengurangi berat biji.
Perbedaan suhu yang jelas antara siang dan malam akan mempercepat
pematangan biji, terutama bila suhu malam yang rendah (Hasyim, 2000).
Tanaman padi dapat tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 450 LU– 450
LS dengan cuaca panas dan kelembapan tinggi dengan musim hujan 4 bulan.
Rata–rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau

1500–2000

mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim
kemarau, produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan,
walaupun air melimpah produksi dapat menurun, karena penyerbukan kurang
intensif (Warintek, 2008).
Tanaman padi dapat tumbuh pada daerah mulai dari dataran rendah sampai
dataran tinggi. Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian tempat 0–650 m
dpl dengan temperatur 220 C–27 0 C sedangkan di dataran tinggi 650–1.500 m dpl
dengan temperatur 190 C–230 C (Warintekbantul, 2008).
2. Tanah
Tanah yang dikehendaki tanaman padi adalah tanah dengan pH 4,0–7, 0.
Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanah menjadi netral (7,0).
Pada prinsipnya, tanah berkapur dengan pH 8,1–8, 2 tidak merusak tanaman padi.
Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang
tidak

mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral

(Warintekristek, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Padi tumbuh baik di daerah tropis maupun subtropis. Untuk padi sawah,
ketersediaan air yang mampu menggenangi lahan tempat penanaman sangat
penting. Oleh karena air menggenang terus menerus maka tanah sawah harus
memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, seperti tanah lempung
(Suparyono dan Setyono, 1997).
Tanah yang baik adalah tanah yang tercukupi unsur haranya, unsur hara
yang diberikan secara berlebihan juga akan mengganggu pertumbuhan dan
produksi tanaman, misalnya unur hara N yang diperlukan tanaman khususnya
didalam fotosintesa. unsur hara N didalam tanah untuk tanaman yang terpenting
adalah sebagai penyusun atau bahan dasar protein dan pembentukan klorofil,
karena itu unsur N mempunyai fungsi Membuat bagian – bagian tanaman menjadi
lebih hijau, banyak mengandung butir – butir hijau dan yang penting dalam proses
fotosintesa. Mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah
tinggi tanaman dan merangsang jumlah anakan, menambah ukuran daun dan besar
gabah serta memperbaiki kualitas tanaman dan gabah, menambah kadar protein
beras, menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad- jasad renik) yang
bekerja

menghancurkan

bahan



bahan

organik

didalam

tanah

(Departemen Pertanian, 1977).
Nitrogen juga berperan dalam pembentukan zat hijau daun atau klorofil.
Klorofil sangat berguna untuk membantu proses fotosintesis. Selain itu, nitrogen
bermanfaat dalam pembentukan protein, lemak, dan berbagai persenyawaan
organik lainnya. Perlu diketahui, sekitar 78% volume udara terdiri atas nitrogen
(Parnata, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Unsur hara N mempunyai fungsi untuk mempergiat pembentukan klorofil,
memperbanyak anakan, mempercepat pertumbuhan dan menambah lebar luas
daun (Soemartono, dkk, 1982).

Soil Conditioner (Pembenah Tanah)
Soil conditioner berfungsi menambahkan nutrisi, memperkaya tanah dan
memungkinkan tanaman untuk tumbuh lebih besar dan kuat. Soil conditioner
dapat digunakan untuk meningkatkan retensi air di tanah kering, tanah kasar yang
tidak menahan air dengan baik, dan ditambahkan untuk menyesuaikan pH tanah
agar memenuhi kebutuhan tanaman tertentu atau untuk membuat tanah sangat
asam atau alkali lebih bermanfaat . Beberapa contoh soil conditioner meliputi:
bonemeal, gambut, ampas kopi, kompos, sabut, pupuk kandang, jerami,
vermikulit, belerang, kapur, bloodmeal, teh kompos, pupuk kimia, dan sphagnum
lumut. Mulsa juga merupakan bentuk conditioner tanah, Seperti yang biasa
digunakan untuk membantu mempertahankan kelembaban tanah dan nutrisi
sehingga tanaman tetap sehat. Banyak soil conditioner datang dalam bentuk
produk organik bersertifikat. Beberapa soil conditioner bekerja masuk ke dalam
tanah dan diserap akar tanaman. Juga dapat diterapkan sebelum atau setelah
tanam, atau secara periodik selama musim pertumbuhan, seperti halnya dengan
pupuk kimia dan mulsa (Smith. 2010).
Konsep penggunaan bahan pembenah tanah adalah: (1) pemantapan
agregat tanah untuk mencegah erosi dan pencemaran, (2) merubah sifat
hidropobik atau hidrofilik, sehingga merubah kapasitas tanah menahan air (water
holding capacity), (3) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah.
Beberapa bahan pembenah tanah juga mampu menyuplai unsur hara tertentu,

Universitas Sumatera Utara

meskipun jumlahnya relatif kecil dan seringkali tidak semua unsur hara
terkandung dalam bahan pembenah tanah dan dapat segera digunakan untuk
tanaman (Dariah, 2007).
Soil Conditioner mengendurkan tanah liat berat untuk memudahkan
penetrasi lebih dalam udara dan air (tanah liat dan tanah dipadatkan ketat
membatasi pertumbuhan akar & penetrasi air). Penetrasi lebih baik dari udara &
air dan pertumbuhan akar tidak dibatasi, meningkatkan pertumbuhan keseluruhan
tanaman, sayuran, bunga dan mengendurkan (berpori) tanah memfasilitasi
penyerapan yang lebih baik dari nutrisi dan air. Menetralisir garam yang tidak
diinginkan untuk memungkinkan pertumbuhan rumput dan semak belukar
(Indiamart, 2010).

Mikroorganisme Tanah
Mikroorganisme dapat digunakan untuk peningkatan kesuburan tanah
melalui fiksasi N2, siklus nutrien, dan peternakan hewan. Nitrogen bebas
merupakan komponen terbesar udara. Unsur ini hanya dapat dimanfaatkan oleh
tumbuhan dalam bentuk nitrat dan pengambilan khususnya melalui akar.
Pembentukan nitrat dari nitrogen ini dapat terjadi karena adanya mikroorganisme.
Penyusunan nitrat dilakukan secara bertahap oleh beberapa genus bakteri secara
sinergetik. Azotobacter yang diinokulasi dari tanah atau biji dengan Azotobacter
efektif meningkatkan hasil tanaman budidaya pada tanah yang dipupuk dengan
kandungan bahan organik yang cukup. Azotobacter juga diketahui mampu
mensintesis substansi yang secara biologis aktif seperti vitamin-vitamin B, asam
indol asetat, dan giberelin dalam kultur murni. Organisme ini memiliki sifat dapat
menghambat pertumbuhan jamur (fungistatik) bahkan jamur tertentu yang sangat

Universitas Sumatera Utara

patogen seperti Alternaria dan Fusarium. Sifat Azotobacter ini dapat menjelaskan
pengaruh menguntungkan yang dapat diamati pada bakteri ini dalam
meningkatkan tingkat perkecambahan biji, pertumbuhan tanaman, tegakan
tanaman, dan pertumbuhan vegetatif (Iqbal, 2010).
Mikroorganisme berperan dalam menstabilkan keadaan kimia dan fisika
tanah, sehingga secara keseluruhan merupakan soil conditioner. Selain itu,
mikroorganisme juga berfungsi untuk merangsang pertumbuhan pseudomonas
putida dan pseudomonas flourescent yang bersimbiosis dengan tanaman
(Parnata, 2010).
Fungsi lain dari mikroorganisme adalah menguraikan bahan kimia yang
sulit diserap menjadi bentuk yang mudah diserap tanaman. Mikroorganisme
ternyata mengeluarkan suatu jenis zat yang berfungsi untuk memperlancar
penyaluran hara dan air dari akar ke daun. Zat yang dikeluarkan oleh
mikroorganisme ini dapat membantu penyebaran air dan nutrisi ke seluruh
permukaan daun. Keadaan ini akan meningkatkan produksi tanaman karena
penyaluran air dan nutrisi ke permukaan daun berjalan lancar (Parnata, 2010).

Sawah
Sawah adalah lahan usahatani yang secara fisik permukaan tanahnya rata
dan dibatasi oleh pematang. Menurut sumber airnya, sawah di bagi atas sawah
irigasi teknis dan sawah non irigasi. Sawah irigasi teknis adalah sawah yang
pengairan saluran pemberi terpisah dari saluran pembuang agar penyediaan dan
pembagian irigasi dapat sepenuhnya diatur dan diukur dengan mudah. sedangkan
sawah non irigasi adalah sawah yang sumber air utamanya berasal dari curah
hujan (Direktorat Jendral Pengelolaan Lahan dan Air, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Tanah yang baik untuk areal persawahan adalah tanah yang mampu
memberikan kondisi tumbuh tanaman padi. Kondisi yang baik untuk pertumbuhan
tanaman padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang
berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah dan tingkat
keasaman tanah yang netral dan sumber air alam (Suparyono dan Setyono, 1997).
Pengolahan sawah yang dilumpurkan (pudling) pada lahan bukaan baru
telah diteliti meskipun belum dikaitkan dengan produksi tanaman padi. Hasilnya,
makin intensif pelumpuran yang dilakukan, maka makin kecil air yang hilang
melalui

perkolasi

yang

berimplikasi

pada

efisiensi

pemanfatan

air

(Subagyono dkk., 2001).
Profil tanah sawah memiliki lapisan oksidasi dan reduksi. Pada lapisan
reduksi tanah sawah merupakan lapisan yang baik dalam penyerapan unsur hara
tanaman, karena kestabilan haranya terjaga sehingga dapat di manfaatkan oleh
akar tanaman padi (Hasibuan, 2006).

Legowo
Legowo adalah cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan
tanaman kemudian diselingi oleh 1 baris kosong dimana jarak tanam pada barisan
pinggir ½ kali jarak tanaman pada baris tengah. Namun dari hasil penelitian, tipe
terbaik untuk mendapatkan produksi gabah tertinggi dicapai oleh legowo 4:1.
Pengertian jajar legowo 4 : 1 adalah cara tanam yang memiliki 4 barisan
kemudian diselingi oleh 1 barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir
mempunyai jarak tanam >2 kali jarak tanam pada barisan tengah. Dengan
demikian, jarak tanam pada tipe legowo 4 : 1 adalah 20 cm (antar barisan dan

Universitas Sumatera Utara

pada barisan tengah) x 10 cm (barisan pinggir) x 40 cm (barisan kosong)
(BPTP Banten, 2009).
Menanam bibit di sawah biasanya dilaksanakan dengan pola tanam
tertentu salah satunya adalah dengan pola legowo. Penanaman padi perlu diatur
agar tidak terjadi persaingan yang hebat untuk mendapatkan unsur-unsur makanan
dan cahaya matahari, penyianganpun mudah. Penanaman yang terlalu dalam dapat
juga menyebabkan pertumbuhan akar terlambat dan anakan berkurang
(Soemartono, dkk, 1982)
Cara penanaman bibit dengan sistem tanam legowo ini yakni mengatur
jarak tanam dengan tujuan bibit yang ditanam akan mampu menghasilkan anakan
yang maksimal, selama ini petani hanya mampu memproduksi 5 hingga 6 ton
gabah kering panen (GKP) dengan menggunakan system legowo hasil produksi
akan meningkat hingga mencapai 7,5 ton GKP perhektarnya. Adapun cara
penanaman system legowo ini yaitu dengan membuat jarak tanam benih 4 x 1,
6x1 atau 12 x 1 yang fungsi dari jarak tersebut untuk memudahkan dalam
pemupukan, penyemprotan, disamping untuk merangsang tumbuhnya anakan
yang mampu mencapai 40 anakan setiap dua batang benih yang ditanam, serta
menghindarkan dari serangan hama (Sunarseno, 2010).

Universitas Sumatera Utara

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian lapangan dilakukan di Desa Pasar Melintang, Kecamatan Lubuk
Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dengan ketinggian ± 26 m di
atas permukaan laut dengan topografi datar. Penelitian ini dilaksanakan mulai
bulan September 2010 sampai dengan bulan Januari 2011.

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi Varietas
inpari 3, Pupuk Urea, Pupuk TSP, Pupuk KCL, Soil Conditioner (pembenah tanah
yang diuji) dengan merek dagang Bali Soil Nutrient dan plastik.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, tali, meteran,
alat tulis, papan lat, hand sprayer, leaf area meter, timbangan analitik, oven.

Metode Penelitian
Penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok (randomized
complete block design) non faktorial yang terdiri atas:
Tabel 1. Perlakuan yang Diaplikasikan Saat Penelitian
Aplikasi benih

T1
T2
T3
T4
T5
T6
T7

Aplikasi dilapangan

SC (ml kg /Benih)

2 MSPT (SC ml/ 750 L air)

---2.0 ml
2.5 ml
---1.5 ml
--1.5 ml

125 kg urea
250 ml SC + 62,5 kg urea
250 ml SC + 62,5 kg urea
250 ml SC + 125 kg urea
62,5 kg urea
250 ml SC + 62,5 kg urea
500 ml SC + 62.5 kg

7 MSPT
125 kg urea
62,5 kg urea
62,5 kg urea
62,5 kg urea
62,5 kg urea
62,5 kg urea
62,5 kg urea

*SC : Soil Conditioner

Universitas Sumatera Utara

Jarak Tanam

: 20 x 10 cm

Jumlah Plot

: 28 plot

Jarak antar plot

: 50 cm

Jarak antar Blok

: 30 cm

Ukuran Plot

:5mx4m

Jumlah populasi/plot

: 720

Jumlah sampel/plot

: 10

Jumlah tanaman seluruhnya : 20. 160
Jumlah sampel seluruhnya

: 280

Model linear yang diasumsikan untuk Rancangan Acak Kelompok non
faktorial adalah sebagai berikut:
Yij = µ + ρi + σij + εij
i = 1,2,3,4

j = 1,2,3,4,5,6,7

dimana:
Yij = hasil pengamatan pada blok ke i dan perlakuan ke j
µ = nilai tengah sebenarnya
ρi = pengaruh soil conditioner (pembenah tanah) pada taraf ke i
σij = pengaruh blok pada taraf ke j
εij = pengaruh eror pada blok ke i dan perlakuan ke j
Uji lanjutan yang digunakan dalam menentukan notasi bagi perlakuan
yang berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati adalah uji jarak
berganda Duncan pada taraf 5 % (Steel and Torrie, 1989). Dan membandingkan
perlakuan yang berlawanan dilakukan uji lanjutan adalah uji kontras.

Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PENELITIAN

Persiapan Areal persemaian
Ukuran lahan persemaian adalah 1/25 dari luas sawah yang akan ditanami 
yaitu 5 m x 4 m, yang dibersihkan terlebih dahulu dari sisa rumput bekas tanaman
lain. Lahan persemaian terdiri atas campuran tanah, kompos, dan disiram setiap
hari.
Perendaman Benih
Benih direndam dengan air selama ± 24 jam kemudian ditiriskan selama ±
6 jam kemudian diberikan soil conditioner (pembenah tanah) sesuai dengan
perlakuan.
Penyemaian Benih
Benih kemudian disemai pada tempat persemaian yang telah dipersiapkan
dengan keadaan merata dan tidak terlalu rapat. Benih yang digunakan sebanyak
0.125kg benih / m2
Persiapan areal tanam
Seminggu sebelum pengolahan tanah, dilakukan penggenangan air ± 5cm
untuk melunakkan tanah sawah, lahan sawah yang digunakan berukuran
22.5 m x 26.1 m, areal tanah kemudian digemburkan dengan cara membajak
selanjutnya digaru untuk mendapatkan permukaan tanah yang baik. Setelah itu
dibuat blok dengan jarak antar blok 30 cm.
Pembuatan Plot Percobaan
Pembuatan plot percobaan yakni dengan membagi lahan menjadi 4 blok
dan 28 plot dengan jarak antar plot 50 cm dan jarak antar blok 30 cm dengan

Universitas Sumatera Utara

ukuran plot percobaan 500 cm x 400 cm, sehingga luas lahan penelitian adalah
22.5 m x 26.1 m atau sama dengan 587.25 m2.
Pembuatan Jarak Tanam
Jarak tanam yang digunakan adalah menggunakan sistem legowo
(Lampiran 3). Tiap plot dibuat empat baris yang rapat kemudian diberi sela satu
barisan kosong, kemudian ditanam lagi empat baris yang rapat. Tanaman ditanam
dengan jarak 20 cm x 10 cm membentuk satu baris, agar barisan lurus gunakan
tali dan papan lat.
Penanaman Bibit
Penanaman bibit ke sawah dilakukan pada saat umur persemaian berumur
13 hari ketika daun sudah tumbuh 2-3 helai, tidak kuning, sehat dan bebas dari
hama penyakit. Pencabutan bibit dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak
merusak akar. Bibit yang dicabut dengan persemaian langsung ditanam ke lubang
tanam dengan jumlah bibit 1 perlubang tanam. Tujuan pemindahan bibit dengan
umur yang muda agar bibit cepat kembali beradaptasi dengan areal tanam yang
baru, sehingga akar dapat tumbuh kuat dan dalam, menghasilkan anakan yang
lebih banyak, tahan rebah, tahan kekeringan dan tanaman lebih cepat menyerap
pupuk
Pemeliharaan Tanaman
1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan 2-7 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan pada
tanaman padi yang tidak tumbuh normal atau mati.

Universitas Sumatera Utara

2. Pemupukan
Pemupukan dilakukan sebanyak dua kali yakni dua minggu setelah tanam
(aplikasi pupuk I) berupa pupuk TSP 130 kg/ha dan KCL 50 kg/ha, sedangkan
pupuk Urea dan Soil conditioner (pembenah tanah yang diuji) diberikan sesuai
konsentrasi pada perlakuan. Kemudian empat minggu setelah pemupukan pertama
(aplikasi pupuk II) berupa pupuk urea dengan konsentrasi yang sama pada
pemupukan pertama. Pupuk diberikan dengan cara disebarkan secara merata pada
tiap plot.
3. Pengendalian Hama dan Penyakit
Pemberian Insektisida spontan dan Kurater serta racun keong mas sebagai
tindakan pengendalian hama penyakit diberikan saat seminggu sebelum buka
lahan.
4. Penyiangan
Penyiangan

dilakukan

dengan

mencabut

rumput

yang

disekitar

pertanaman. Penyiangan dilakukan secara rutin pada saat 2, 4, 6 dan 8 MSPT
(minggu setelah pindah tanam).
5. Pemanenan
Pemanenan pada penelitian ini dilakukan saat bulir telah menguning yaitu
tanaman berumur 105 hari, bagian bawah malai masih terdapat sedikit gabah
hijau.

Pengamatan Parameter
1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman diukur mulai tanaman berumur 4 MST sampai
akhir masa vegetatif 8 MST dan dilakukan dengan interval 2 minggu sekali.

Universitas Sumatera Utara

Tan

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Uji Efektivitas Soil Conditioner Terhadap Pertumbuhan dan Produksi padi ( oriza sativa l. var. inpari 3 )