Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi Pt Asuransi Sinar Mas Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen(Studi Pada Pt. Summit Oto Finance Tebing Tinggi)

(1)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERANAN ASURANSI

PT ASURANSI SINAR MAS DALAM PERJANJIAN

PEMBIAYAAN KONSUMEN

(Studi pada PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH

RENI ANGGRAINI RAMLAN NIM : 110200087

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA DAGANG

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERANAN ASURANSI

PT ASURANSI SINAR MAS DALAM PERJANJIAN

PEMBIAYAAN KONSUMEN

(Studi pada PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum

OLEH

RENI ANGGRAINI RAMLAN NIM : 110200087

DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN

PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA DAGANG

Disetujui

Ketua Departemen Hukum Keperdataan

Dr. HASIM PURBA, S.H., M.Hum. NIP. 196603031985081001

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

SINTA ULI P., S.H., M.Hum. Dr. DEDI HARIANTO, S.H., M.Hum. NIP. 195506261986012001 NIP. 196908201995121001


(3)

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

NAMA : RENI ANGGRAINI RAMLAN

NIM : 110200087

DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN

JUDUL SKRIPSI : TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERANAN

PT. ASURANSI SINAR MAS DALAM

PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN (Studi pada PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi)

Dengan ini menyatakan:

1. Bahwa isi skripsi yang saya tulis tersebut di atas adalah benar tidak

merupakan ciplakan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.

2. Apabila terbukti di kemudian hari skripsi tersebut adalah ciplakan, maka

segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun.

Medan, Januari 2015

RENI ANGGRAINI RAMLAN 110200087


(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang atas segala karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu menjalani proses perkuliahan dari awal sampai tahap penyelesaian skripsi pada Departemen Hukum Keperdataan Program Kekhususan Hukum Perdata Dagang di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara ini.

Penulisan skripsi yang diberi judul “TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERANAN ASURANSI PT. ASURANSI SINAR MAS DALAM PERJANJIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN (Studi Pada PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi)” ini diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan hasil yang masih jauh dari sempurna sehingga dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih jika ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para pihak yang telah membantu selama pengerjaan skripsi ini sampai selesai, melalui kesempatan ini penulis berbangga hati mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan I


(5)

3. Bapak Dr. Syafruddin S. Hasibuan, S.H., M.H., DFM., selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. OK. Saidin, S.H., M.Hum., selaku Wakil Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum

Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Sinta Uli Pulungan, S.H., M.Hum., selaku Ketua Program Kekhususan

Dagang sekaligus merupakan Dosen Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

7. Ibu Rabiatul Syariah, S.H., M.Hum., selaku Sekretaris Departemen

Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

8. Bapak Dr. Dedi Harianto, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II

yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini.

9. Ibu Afrita, S.H., M.Hum., selaku Dosen Penasehat Akademik penulis.

10.Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., yang telah memberi nasihat

dan bimbingan kepada penulis dari awal hingga akhir perkuliahan.

11.Bapak dan Ibu Dosen serta Pegawai Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara yang turut mendukung segala urusan perkuliahan dan administrasi penulis selama menjalani masa perkuliahan.

12.Teristimewa kepada Kedua Orang Tua yaitu Ramlan dan Supriana, Kakak


(6)

semangat, doa dan segalanya kepada penulis dalam menyelesaikan perkuliahan ini.

13.Kepada seluruh pegawai PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi

khususnya Bapak Faisal Ramadhan Sinaga selaku insurance staff yang

telah membantu dan memberikan informasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

14.Kepada teman-teman kelompok Klinis Perdata, Pidana dan PTUN atas

bantuannya, kebersamaannya, doa, dukungan dan semangatnya.

15.Kepada teman-teman Grup A Stambuk 2011 Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara khususnya untuk Herry Pranata, Nur Aqmarina, Syahnaz Miyagi Munira, Stella, Zahrah Hasna Dalimunthe, Saffanah Silmi, Nasrini Mandosari, Rahmadani Pardede, yang telah banyak memotivasi penulis dalam perkuliahan dari awal hingga penyelesaian skripsi ini.

16.Kepada teman-teman dari kelompok BTM Aladdinsyah, S.H., khususnya

Syafitri Ditami, Yuliana Siregar, Fadillah Mahraini, terima kasih untuk doa dan dukungan semangat kepada penulis.

17.Dan kepada semua pihak yang telah banyak membantu penulis secara

langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih atas doa dan dukungan serta semangat kepada penulis.


(7)

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan. Bila ada kesalahan dan kekurangan dalam skripsi ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua. Atas perhatiannya penulis ucapkan terima kasih.

Medan, Januari 2015

Penulis,


(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... v

ABSTRAK ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang ... 1

B.Permasalahan ... 10

C.Tujuan dan Manfaat Penulisan ... 11

D.Metode Penelitian ... 12

E. Keaslian Penulisan... 16

F. Sistematika Penulisan ... 18

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI ASURANSI DAN PERATURANNYA ... 20

A.Pengertian, Jenis, dan Aspek Hukum Perjanjian Asuransi ... 20

B. Premi dan Polis Asuransi ... 39

C.Berakhirnya Asuransi ... 48

BAB III PEMBIAYAAN KONSUMEN MEMPUNYAI PERAN PENTING DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN MASYARAKAT ... 50

A. Pengertian Pembiayaan Konsumen dan Pengaturannya ... 50

B. Para Pihak, Jaminan dan Dokumen dalam Pembiayaan Konsumen ... 58

C. Hubungan Hukum antara Perusahaan Asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dengan Perusahaan Pembiayaan Konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi dari Segi Hukum Keperdataan ... 67

BAB IV TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERANAN ASURANSI PT. ASURANSI SINAR MAS DENGAN PT. SUMMIT OTO FINANCE CABANG TEBING TINGGI TERKAIT PEMBIAYAAN KONSUMEN ... 74

A. Pengaturan Hubungan Antara Perusahaan Asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi Terkait Pembiayaan Konsumen ... 74

B. Prosedur Pelaksanaan Klaim Asuransik dari Konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada PT. Asuransi PT. Asuransi Sinar Mas Apabila Barang yang Masih dalam Masa Pembiayaan Dinyatakan rusak ataupun Hilang ... 82


(9)

C. Penyelesaian Klaim Asuransi yang diajukan Konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi dari PT. Asuransi Sinar Mas Apabila Terjadi Kerusakan ataupun

Kehilangan ... 86

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 94

A. Kesimpulan ... 94

B. Saran ... 96 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

A. Surat Riset Pada PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi

B. Wawancara

C. Perjanjian Pembiayaan Konsumen

D. Polis Asuransi Kendaraan Bermotor Dari PT. Asuransi Sinar Mas

E. Surat Edaran Tentang Proses Klaim Asuransi

F. Memo Internal Perihal Standar Premi Asuransi Pembiayaan Sepeda

Bermotor

G. Memo Persetujuan Pembiayaan Sepeda Motor

H. Lampiran Formulir Klaim Asuransi Kendaraan Bermotor yang Ditolak


(10)

ABSTRAK

Reni Anggraini Ramlan*) 1

*) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara **) Dosen Pembimbing I

***) Dosen Pembimbing II

Sinta Uli Pulungan**) Dedi Harianto***)

Pembiayaan konsumen merupakan kegiatan penyediaan dana bagi konsumen untuk membeli barang-barang konsumsi yang pembayarannya dilakukan secara berkala. Pada pelaksanaannya, kegiatan ini akan menghadapi berbagai risiko dalam pemenuhan kebutuhan sepeda motor. Dalam perjanjian pembiayaan konsumen terdapat perusahaan asuransi sebagai penanggung dari segala risiko yang dihadapi dalam perjanjian pembiayaan konsumen. Judul skripsi ini adalah tinjauan yuridis terhadap peranan asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dalam perjanjian pembiayaan konsumen studi pada PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi. Permasalahan dalam skripsi ini membahas tentang pengaturan hubungan hukum antara PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi terkait pembiayaan konsumen, prosedur pelaksanaan klaim asuransi, serta penyelesaian klaim asuransi.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian yuridis

normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Bahan pustaka yang dapat dijadikan sumber dari penelitian didapatkan dari buku-buku, artikel, majalah, dan media elektronik. Studi kasus ini dilakukan di Kantor PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan konsumen untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan sepeda motor. Penelitian dilaksanakan guna melengkapi penyelesaian skripsi ini.

Kesimpulannya pengaturan tentang Usaha Perasuransian diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 dan Lembaga Pembiayaan diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009. Pengaturan tersebut tidak terlepas dari KUH Perdata khususnya pada Bab III tentang Perikatan. Hubungan hukum antara perusahaan asuransi dengan perusahaan pembiayaan konsumen adalah kerjasama dalam pengalihan risiko. Perjanjian kerjasama tersebut dibuktikan dengan akta otentik yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pihak asuransi bertanggung jawab atas segala risiko yang terjadi pada konsumen perusahaan pembiayaan konsumen. Jadi jika terjadi suatu evenement maka konsumen dapat mengajukan klaim. Konsumen harus memenuhi persyaratan pengajuan klaim sesuai dengan prosedurnya agar cepat diproses. Jika klaim asuransi diterima maka akan dikirim uang ganti kerugiannya dipotong dengan uang administrasi lainnya. Jika klaim asuransi kendaraan bermotor tersebut ditolak, maka akan diberikan alasan mengapa klaim tersebut ditolak. Kata kunci : Asuransi kendaraan bermotor, Perjanjian pembiayaan konsumen, Klaim asuransi


(11)

ABSTRAK

Reni Anggraini Ramlan*) 1

*) Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara **) Dosen Pembimbing I

***) Dosen Pembimbing II

Sinta Uli Pulungan**) Dedi Harianto***)

Pembiayaan konsumen merupakan kegiatan penyediaan dana bagi konsumen untuk membeli barang-barang konsumsi yang pembayarannya dilakukan secara berkala. Pada pelaksanaannya, kegiatan ini akan menghadapi berbagai risiko dalam pemenuhan kebutuhan sepeda motor. Dalam perjanjian pembiayaan konsumen terdapat perusahaan asuransi sebagai penanggung dari segala risiko yang dihadapi dalam perjanjian pembiayaan konsumen. Judul skripsi ini adalah tinjauan yuridis terhadap peranan asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dalam perjanjian pembiayaan konsumen studi pada PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi. Permasalahan dalam skripsi ini membahas tentang pengaturan hubungan hukum antara PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi terkait pembiayaan konsumen, prosedur pelaksanaan klaim asuransi, serta penyelesaian klaim asuransi.

Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian yuridis

normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Bahan pustaka yang dapat dijadikan sumber dari penelitian didapatkan dari buku-buku, artikel, majalah, dan media elektronik. Studi kasus ini dilakukan di Kantor PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan konsumen untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan sepeda motor. Penelitian dilaksanakan guna melengkapi penyelesaian skripsi ini.

Kesimpulannya pengaturan tentang Usaha Perasuransian diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 dan Lembaga Pembiayaan diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009. Pengaturan tersebut tidak terlepas dari KUH Perdata khususnya pada Bab III tentang Perikatan. Hubungan hukum antara perusahaan asuransi dengan perusahaan pembiayaan konsumen adalah kerjasama dalam pengalihan risiko. Perjanjian kerjasama tersebut dibuktikan dengan akta otentik yang menimbulkan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Pihak asuransi bertanggung jawab atas segala risiko yang terjadi pada konsumen perusahaan pembiayaan konsumen. Jadi jika terjadi suatu evenement maka konsumen dapat mengajukan klaim. Konsumen harus memenuhi persyaratan pengajuan klaim sesuai dengan prosedurnya agar cepat diproses. Jika klaim asuransi diterima maka akan dikirim uang ganti kerugiannya dipotong dengan uang administrasi lainnya. Jika klaim asuransi kendaraan bermotor tersebut ditolak, maka akan diberikan alasan mengapa klaim tersebut ditolak. Kata kunci : Asuransi kendaraan bermotor, Perjanjian pembiayaan konsumen, Klaim asuransi


(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut berhubungan dengan takdir dan nasib manusia yang ditentukan oleh Tuhan. Dalam ilmu hukum ketentuan tersebut disebut peristiwa hukum. Peristiwa hukum tersebut memiliki potensi adanya risiko yang mungkin akan terjadi. Peristiwa kematian seseorang mungkin akan berkaitan dengan istri/suami maupun anak-anak yang masih dalam masa depan yang panjang, yang akan menjadi risiko jika tidak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan kelak. Peristiwa kelahiran juga memiliki risiko kematian ibu yang melahirkan, kesehatan ibu dan anak, serta pendidikan anak. Bencana alam dan kerusakan lingkungan menjadi risiko bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain itu, seringkali pula manusia dihadapkan pada suatu peristiwa yang tidak diinginkan terjadi, misalnya kebakaran rumah, kerusakan barang, ataupun kecelakaan diri. Hal-hal tersebut merupakan risiko yang senantiasa mungkin dialami oleh setiap manusia dalam kehidupannya namun tidak dapat diprediksi.

Musibah atau bencana yang merupakan qadha atau qadhar Allah SWT

tidak dapat dihindari. Namun demikian, manusia wajib berikhtiar memperkecil risiko yang timbul serta tidak hanya pasrah menerima semuanya. Sudah sejak lama orang mencari cara untuk mengatasi dan meminimalisir risiko, dan inilah yang sekarang dikenal sebagai lembaga asuransi atau pertanggungan. Dengan


(13)

asuransi, risiko dimungkinkan dapat dialihkan kepada pihak penanggung, maka pihak tersebut mengikatkan diri akan mengganti kerugian apabila risiko itu benar-benar menjadi suatu kenyataan kehilangan atau kerugian.

Penutupan asuransi akan menjadi suatu kebutuhan seseorang apabila nantinya akan diperoleh manfaat dari penutupan asuransi tersebut. Asuransi memiliki manfaat utama, yaitu menempatkan posisi finansial tertanggung (nasabah) kembali kepada saat sebelum terjadi kerugian (kembali seperti semula). Namun selain itu, asuransi juga dapat mengurangi ketidakpastian risiko, dapat mengurangi beban keuangan akibat timbulnya kerugian yang datang secara tiba-tiba, memberikan ketenangan dalam bekerja, dan banyak manfaat lainnya.

Perjanjian asuransi sebagai lembaga pengalihan dan pembagian risiko mempunyai kegunaan yang positif, baik bagi masyarakat, perusahaan, maupun pembangunan negara. Mereka yang menutup perjanjian asuransi akan merasa tenteram, sebab mendapat perlindungan dari kemungkinan tertimpa suatu kerugian. Suatu perusahaan yang mengalihkan risikonya melalui perjanjian asuransi akan dapat meningkatkan usahanya dan berani menggalang tujuan yang lebih besar. Demikian pula premi-premi yang terkumpul oleh suatu perusahaan asuransi dapat diusahakan dan digunakan sebagai sarana untuk pembangunan

sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat.2

Dalam perjanjian asuransi di mana tertanggung dan penanggung mengikat suatu perjanjian tentang hak dan kewajiban masing-masing. Perusahaan asuransi

2

Tuti Rastuti, Aspek Hukum Perjanjian Asuransi, (Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2011), hlm. 5-6.


(14)

membebankan sejumlah premi yang harus dibayar tertanggung. Premi yang dibayarkan sebelumnya sudah ditaksirkan dulu atau diperhitungkan dengan nilai risiko yang akan dihadapi. Semakin besar risiko, semakin besar premi yang harus dibayar dan sebaliknya.

Perjanjian asuransi tertuang dalam polis asuransi, di mana disebutkan syarat-syarat, hak-hak, kewajiban masing-masing pihak, jumlah uang yang dipertanggungkan dan jangka waktu asuransi. Jika dalam masa pertanggungan terjadi risiko, pihak asuransi akan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah

dibuat dan ditandatangani bersama sebelumnya.3

Dalam suatu kontrak asuransi, prestasi dari pihak tertanggung adalah membayar premi, sedangkan prestasi pihak penanggung (perusahaan asuransi) adalah membayar sejumlah ganti rugi jika peristiwa tertentu terjadi. Jika terjadi peristiwa yang diasuransikan tersebut, maka pihak tertanggung harus meminta agar sejumlah ganti rugi yang telah ditetapkan dibayar oleh pihak penanggung (perusahaan asuransi). Pengajuan permintaan tersebut disebut sebagai pengajuan “klaim”. Biasanya pengajuan klaim asuransi disertai dengan beberapa bukti

pendukung bahwa memang telah terjadi peristiwa yang bersangkutan.4

3

Kasmir, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 260-261.

4

Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis Menata Bisnis Modern di Era Global, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2012), hlm. 250.

Bukti pendukung tersebut antara lain Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) dari polisi setempat, fotokopi Surat Izin Mengemudi (SIM) milik pengemudi (khusus


(15)

klaim pencurian dengan kekerasan), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) asli, dan lain-lain.

Salah satu peran penting asuransi dalam masyarakat modern adalah pencegahan kerugian. Dengan mengganti kerugian tertanggung, ia akan tercegah dari kerugian finansial. Pengganti kerugian haruslah tidak melebihi jumlah kerugian sebenarnya karena dapat mengurangi kemungkinan tertanggung dengan sengaja melakukan tindakan kelalaian atau dengan sengaja untuk memperoleh

keuntungan dari pembayaran asuransi.5

Salah satu hal yang cukup penting dalam dunia bisnis adalah masalah modal. Lembaga yang secara konvensional menyediakan modal adalah lembaga Keadaan seperti itu sesuai dengan asas indemnitas (asas ganti kerugian) yang harus seimbang antara kerugian yang diderita tertanggung dengan ganti kerugian yang diberikan penanggung kepada tertanggung, tidak kurang dan tidak lebih.

Di samping itu, asuransi turut bertanggung jawab atas risiko-risiko yang terjadi pada perusahaan pembiayaan konsumen dengan cara menanggung kerugian yang diderita perusahaan pembiayaan konsumen tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Asuransi menjadi pihak tambahan yang ikut membantu, melindungi, meminimalisir risiko yang akan terjadi pada perusahaan pembiayaan konsumen tersebut. Perusahaan pembiayaan pasti melakukan hubungan kerjasama dengan salah satu perusahaan asuransi demi meminimalisir risiko yang akan terjadi.

5

Dahlan Siamat, Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter Dan Perbankan,


(16)

keuangan bank. Namun, bank dalam menyalurkan dananya membutuhkan

jaminan (Collateral). Untuk mengatasi masalah jaminan tersebut dalam praktek

bisnis muncul lembaga pembiayaan yang cukup fleksibel jika dibandingkan dengan bank. Melihat lembaga pembiayaan yang mulai diminati sebagai salah satu alternatif dalam pembiayaan perusahaan maka pemerintah mengeluarkan

Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan.6

Pembiayaan yang dilakukan oleh suatu lembaga keuangan, baik bank maupun lembaga keuangan bukan bank, dapat ditujukan untuk tujuan produksi, distribusi, atau konsumsi barang dan jasa. Lembaga keuangan bukan bank yang menyediakan dana atau memberikan pembiayaan kepada debitor untuk tujuan konsumsi barang dan jasa disebut dengan perusahaan pembiayaan konsumen. Keputusan Presiden Nomor 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan tersebut telah disempurnakan dengan mengganti Keputusan Presiden dimaksud dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan.

7

Perjanjian pembiayaan konsumen di Indonesia dewasa ini berkembang dengan pesat. Hal ini dapat dilihat dalam praktek sehari-hari. Banyaknya peminat dari masyarakat terhadap perjanjian tersebut, terutama dalam pemenuhan kebutuhan sekundernya yang mendorong masyarakat melakukan perjanjian pembiayaan konsumen. Perjanjian tersebut sering dijumpai pula dalam praktek

6

Sentosa Sembiring, Hukum Dagang, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2004), hlm. 111.

7

Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, (Jakarta : Salemba Empat, 2008), hlm. 203.


(17)

dunia perdagangan sepeda motor. Bahkan perjanjian pembiayaan konsumen tersebut dapat dikatakan tumbuh dan berkembang subur di Indonesia. Hak dan kewajiban dalam perjanjian pembiayaan konsumen sama dengan hak dan kewajiban dalam jual beli, yaitu mempunyai tujuan untuk mengalihkan hak milik atas barang, hanya saja ada perbedaan mengenai cara pembayaran serta perolehan (pemindahan) kepemilikannya.

Pembiayaan konsumen merupakan kegiatan penyediaan dana bagi konsumen oleh perusahaan pembiayaan untuk membeli barang-barang konsumsi yang pembayarannya dilakukan secara angsuran atau berkala oleh konsumen. Jaminan hutang dari pembiayaan konsumen ini adalah barang konsumen yang menjadi objek pembiayaan konsumen tersebut biasanya dalam bentuk fidusia. Pihak yang terlibat dalam transaksi pembiayaan konsumen adalah pihak kreditur

(perusahaan pembiayaan), pihak konsumen (debitur), dan pihak supplier (yang

menyediakan barang), serta pihak asuransi. Apabila kegiatan ini dilakukan oleh bank, maka bentuk pinjaman yang mirip dengan pembiayaan konsumen disebut dengan kredit konsumsi, sehingga dasar hukum bagi kredit berlaku juga bagi pembiayaan konsumen, minus ketentuan tentang perbankan tetapi ditambah

dengan ketentuan-ketentuan tentang keuangan dan pembiayaan.8

Perusahaan pembiayaan konsumen tidak terlepas dari risiko yang akan dihadapi, maka dari itu perusahaan pembiayaan konsumen bekerja sama dengan perusahaan asuransi dalam meminimalisir risiko dan mengalihkan risiko. Risiko-risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan pembiayaan konsumen adalah berupa

8


(18)

kehilangan sepeda motor yang diakibatkan oleh orang yang bersangkutan atau malah kehilangan yang disebabkan oleh pihak ketiga yang dalam artian bukan pemiliknya. Risiko kedua yang mungkin terjadi adalah terjadinya kecelakaan yang menyebabkan kerusakan di atas 75% (tujuh puluh lima persen). Risiko yang ketiga adalah macetnya pembayaran cicilan yang dilakukan konsumen yang tidak

beritikad baik (wanprestasi). Asuransi yang diberikan perusahaan pembiayaan

untuk kasus seperti ini juga termasuk yaitu kondisi motor hilang dalam kondisi diparkir (pencurian pada saat motor itu diam), pencurian, perampasan atau penodongan.

Mengenai kerusakan pada sepeda motor, setiap pemilik dan pengendara sepeda motor tidak bisa memastikan hal apa yang akan terjadi suatu saat nanti. Ketika pemilik sedang mengendara, kemudian terjadi kecelakaan sepeda motor maka sepeda motor tersebut mengalami kerusakan baik kerusakan ringan maupun kerusakan parah. Asuransi yang diberikan perusahaan pembiayaan untuk kasus seperti ini juga termasuk yaitu kecelakaan sepeda motor yang menyebabkan estimasi kerusakan motor di atas 75% (tujuh puluh lima persen) agar dapat diajukan klaim dan dituntut ganti kerugiannya. Kecelakaan dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Jadi sangatlah bijak jika kita dapat melakukan suatu tindakan untuk dapat melindungi diri kita, barang berharga, demikian juga orang yang kita sayangi dari hal-hal yang tidak dapat diduga.

Apabila kehilangan dan kerusakan sepeda motor terjadi, maka pihak konsumen akan mengajukan klaim kepada pihak perusahaan asuransi yang dibantu oleh perusahaan pembiayaan konsumen. Perusahaan pembiayaan


(19)

konsumen membantu konsumen yang sedang mengalami kerugian untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus dilengkapi sesuai dengan prosedur pengajuan klaim. Pihak perusahaan pembiayaan konsumen mengajukan klaim tersebut kepada pihak perusahaan asuransi dengan mengirimkan berkas tersebut dengan menunggu hasilnya diterima atau ditolak hingga waktu yang ditentukan. Klaim adalah tuntutan ganti kerugian oleh tertanggung kepada penanggung atau tuntutan terhadap hak yang timbulnya disebabkan karena adanya perjanjian asuransi yang telah berakhir. Proses pengajuan klaim tersebut tidak berjalan mulus, pasti ada beragam kesulitannya ataupun prosedurnya yang rumit. Misalnya seperti peristiwa kehilangan sepeda motor, klaim diajukan oleh tertanggung disertai dengan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) yaitu keterangan dari kepolisian setempat, untuk klaim kendaraan jika kehilangan perlengkapan standard/non standard maupun kehilangan kendaraan dan juga jika kendaraan mengalami rusak berat atau menyangkut pihak ketiga, tentunya disertai dengan dokumen-dokumen lainnya dan mengisi beberapa formulir lainnya. Khusus pihak

yang melibatkan tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga (third party

liability). Jika mengalami kecelakaan yang melibatkan pihak ketiga dan dituntut mengganti kerugiannya maka dokumen-dokumen kelengkapannya berbeda lagi. Setiap pengajuan klaim pasti ada prosedurnya agar klaim tersebut cepat diproses dan ganti kerugiannya juga cepat diterima, beda kasusnya beda dokumen-dokumen yang harus dipersiapkan.

Contoh satu kasus yang terjadi di Tebing Tinggi yaitu Togi Parulian Lbn Toruan adalah nasabah PT. Asuransi Sinar Mas dengan No. Polis


(20)

58605201202294 mengkredit satu unit sepeda motor Honda New Supra X 125D dengan No. Polisi BK 6021 NAI kepada pihak perusahaan pembiayaan PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi. Namun naas pada tanggal 18 September 2014 sekitar pukul 13.00 WIB di Jln. M. Yamin Kel. Tj. Marulak Kec. Rambutan Kota Tebing Tinggi tepatnya di samping SPBU Kp. Keling kota Tebing Tinggi. sepeda motor tersebut dipinjam dari anak tertanggung oleh temannya, kemudian temannya memakai sepeda motor tersebut kira-kira 1 jam. Kunci sepeda motor diberikan oleh temannya tersebut. Kemudian anak tertanggung mengecek ternyata sepeda motor tidak ada. Setelah kehilangan tersebut ia melaporkan ke Polres Tebing Tinggi dan beberapa hari kemudian ke PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi dan sesuai petunjuk agar mengikuti prosedur yaitu membuat laporan ke polisi. Selanjutnya pihak PT. Summit Oto Finance yang akan menindaklanjuti ke PT. Asuransi Sinar Mas. Beberapa hari kemudian pihak PT. Asuransi Sinar Mas menghubungi yang bersangkutan untuk melakukan survei dan akhirnya pada tanggal 8 Oktober 2014 ia ditelepon pihak PT. Summit Oto Finance Tebing Tinggi bahwa klaim asuransi ditolak dengan alasan bahwa berdasarkan Polis Asuransi Kendaraan Bermotor BAB II “Pengecualian” pada Pasal 3 ayat 1.2 : “Pertanggungan ini tidak menjamin kerugian, kerusakan, biaya atas Kendaraan Bermotor dan atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga, yang disebabkan oleh Penggelapan, Penipuan, Hipnotis dan sejenisnya.”

Banyak peristiwa klaim yang ditolak dan tidak sesuai dengan yang diinginkan pihak tertanggung. Kerugian yang diderita tertanggung tidak seimbang dengan ganti rugi yang diterima. Seperti inilah problematika penyelesaian klaim


(21)

yang sebenarnya pihak asuransi yang lebih diuntungkan. Oleh karena itu tidak semua klaim dikabulkan, ada kriteria dari pihak asuransi untuk kriteria kerugian yang seperti apa saja yang akan dikabulkan yang sudah disepakati bersama pada saat penutupan asuransi. Oleh karena itu, pihak tertanggung sebaiknya membaca dan memahami surat polis agar mengetahui peristiwa yang bagaimana yang akan

ditanggung agar tidak terjadi kesalahpahaman jika evenement telah terjadi.

Bertitik tolak dari adanya pihak yang dirugikan seiring berkembangnya perusahaan asuransi dan perusahaan pembiayaan konsumen di Indonesia tidak akan terlepas dari segala risiko yang akan terjadi, maka hal tersebut akan dikaji dalam penulisan skripsi ini dengan judul “Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi PT. Asuransi Sinar Mas Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen di PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi.

B. Permasalahan

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapatlah dirumuskan apa yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini:

1. Bagaimanakah pengaturan hubungan hukum antara perusahaan asuransi PT.

Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi terkait pembiayaan konsumen?

2. Bagaimana prosedur pelaksanaan klaim asuransi dari konsumen PT. Summit

Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada PT. Asuransi Sinar Mas apabila barang yang masih dalam masa pembiayaan dinyatakan rusak ataupun hilang?


(22)

3. Bagaimana penyelesaian klaim asuransi yang diajukan konsumen PT.

Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada PT. Asuransi Sinar Mas

apabila terjadi kerusakan ataupun kehilangan barang?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan 1. Tujuan Penulisan

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka tujuan penulisan skripsi ini secara singkat adalah sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui pengaturan hubungan hukum antara perusahaan

asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi terkait pembiayaan konsumen.

b. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan klaim asuransi dari

konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada

PT. Asuransi Sinar Mas apabila barang yang masih dalam masa pembiayaan dinyatakan rusak ataupun hilang.

c. Untuk mengetahui penyelesaian klaim asuransi yang diajukan

konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada

PT. Asuransi Sinar Mas apabila terjadi kerusakan ataupun kehilangan barang.

2. Manfaat Penulisan

Penulisan skripsi ini juga diharapkan bermanfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai berikut :


(23)

a. Manfaat secara teoritis

Secara teoritis, penulisan skripsi ini dapat bermanfaat memberikan masukan sekaligus menambah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam dunia akademis, khususnya tentang hal yang berhubungan dengan peranan asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dalam perjanjian pembiayaan konsumen di PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi.

b. Manfaat secara praktis

Secara praktis, penulisan skripsi ini dapat memperjelas tentang peranan asuransi PT. Asuransi Sinar Mas khususnya dalam perjanjian pembiayaan konsumen yang saat ini masyarakat sudah banyak melakukan hubungan hukum dengan perusahaan pembiayaan konsumen yaitu PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi, sehingga membantu masyarakat umum terkait hal prosedur pelaksanaan klaim dan ganti kerugian apabila terjadi kerusakan ataupun kehilangan barang.

D. Metode Penelitian

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian skripsi ini adalah penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal. Pada penelitian hukum jenis ini, hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan


(24)

perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas. Oleh karena itu, pertama, sebagai sumber datanya hanyalah data sekunder, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder,

adan bahan hukum tersier.9 Data sekunder dalam skripsi ini yaitu kajian

yang digunakan terhadap peraturan perundang-undangan (Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan, kitab-kitab hukum (Kitab Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang), putusan pengadilan dan berbagai data-data pendukung yang berhubungan dengan judul skripsi. Sifat penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif analitis. Dalam penelitian deskriptif analitis, data yang diperoleh (berupa kata-kata, gambar, perilaku) tidak dituangkan dalam bentuk bilangan atau angka statistik, melainkan tetap dalam bentuk kualitatif yang memiliki arti lebih kaya dari

sekadar angka dan frekuensi.10 Penelitian deskriptif analitis yang

mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan teori-teori hukum yang menjadi objek penelitian. Demikian juga hukum dalam pelaksanaannya di dalam masyarakat yang berkenaan objek

penelitian.11

9

Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2006), hlm. 118.

10

Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2006), hlm. 94.

11

Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Penerbit Sinar Grafika, 2009), hlm. 105.


(25)

2. Sumber Data

Sumber data pokok dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder tersebut mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, sehingga meliputi surat-surat pribadi, buku-buku harian, buku-buku, sampai pada

dokumen-dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah.12 Data

sekunder merupakan data-data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka

meliputi:13

a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, dan

terdiri dari kaidah dasar, peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum adat yang tidak dikodifikasikan, yurisprudensi, traktat, bahan hukum dari zaman penjajahan yang masih berlaku hingga kini. Dalam penulisan ini yaitu Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan, Kitab Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang dan kasus-kasus yang berkaitan dengan peranan asuransi dalam perjanjian pembiayaan konsumen.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan

mengenai bahan hukum primer seperti, rancangan undang-undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan seterusnya. Dalam penulisan ini yaitu buku-buku tentang asuransi, buku-buku tentang pembiayaan konsumen, internet, dan seterusnya.

12

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2007), hlm.24.

13


(26)

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, seperti kamus bahasa, kamus hukum, majalah, surat kabar, ensiklopedia, indeks kumulatif, dan seterusnya.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini

adalah melalui penelitian kepustakaan14

4. Metode Analisis Data

(Library Research), yaitu dengan mempelajari peraturan perundang-undangan, buku, situs internet, media massa, kamus, dan wawancara dengan informan yaitu Saudara Faisal

Ramadhan Sinaga selaku Insurance Staff pada PT. Summit Oto Finance

Cabang Tebing Tinggi yang dapat dijadikan sumber yang berkaitan dengan skripsi ini yang dapat dipergunakan sebagai dasar dalam penelitian dan menganalisa masalah-masalah yang dihadapi.

Metode analisis data yang digunakan adalah metode pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang pemecahan masalahnya

dengan menggunakan data empiris.15

14

Zainuddin Ali, Op. Cit., hlm 107.

15

Masyuri dan Zainuddin, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dan Aplikatif, (Malang : PT. Refika Aditama, 2008), hlm. 12.

Pendekatan kualitatif di sini memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala sosial budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh


(27)

gambaran mengenai pola-pola yang berlaku. Pola-pola tadi dianalisis lagi

dengan menggunakan teori yang objektif.16

5. Metode Penarikan Kesimpulan

Metode penarikan kesimpulan yang digunakan terhadap data-data yang berhasil dikumpulkan dilakukan dengan mempergunakan metode deduktif-induktif sehingga dapat diperoleh jawaban terhadap permasalahan yang dibuat. Suatu analisis yuridis normatif pada hakikatnya menekankan pada metode deduktif sebagai pegangan utama, dan metode induktif sebagai tata

kerja penunjang.17 Penalaran deduktif berpangkal dari suatu proposisi

umum yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini dan berakhir pada suatu pengetahuan baru yang bersifat khusus. Pada penalaran induktif, berpangkal dari proposisi-proposisi khusus sebagai hasil pengamatan empiris dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan yang

bersifat umum.18

E. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini didasarkan oleh ide, gagasan maupun pemikiran penulis secara pribadi dari awal hingga akhir berdasarkan penelusuran di perpustakaan, penulisan mengenai masalah peranan asuransi PT. Asuransi Sinar

Mas dalam perjanjian pembiayaan konsumendi PT. Summit Oto Finance Cabang

16

Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2001), hlm. 20-21.

17

Amiruddin dan Zainal Asikin, op. Cit., hlm. 166.

18


(28)

Tebing Tinggi belum pernah dibuat oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sebelumnya.

Kalaupun terdapat kesamaan, hal tersebut tidak merupakan suatu kesengajaan dan tentunya dilakukan dengan pendekatan masalah yang berbeda, seperti :

1. Nama : Rika Vera Sopa

Nim : 960200111

Judul : Peranan Asuransi Dalam Perjanjian Leasing (Studi Kasus

Pada PT. Olympindo Multifinance)

2. Nama : Sondang A. Sitohang

Nim : 990200097

Judul : Perjanjian Baku Dalam Praktek Pembiayaan Konsumen

Melalui Leasing di PT. BEI Finance Cabang Medan

3. Nama : Fandi Tan Agnes

Nim : 010200002

Judul : Peranan Asuransi Dalam Perjanjian Leasing

4. Nama : Eskalina Tinabunan

Nim : 030200013

Judul : Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi Dalam

Perjanjian Leasing

5. Nama : Nuraisyah Matondang


(29)

Judul : Tinjauan Yuridis Terhadap Perjanjian Leasing Kendaraan Bermotor Pada PT. Ifo Star Finance Medan

Oleh karena itu, keaslian penulisan ini terjamin adanya, walaupun ada pendapat atau kutipan dalam penulisan ini semata-mata adalah sebagai faktor pendukung dan pelengkap dalam penulisan yang memang sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan tulisan.

F. Sistematika Penulisan

Penulisan ini dibuat secara terperinci dan sistematis agar memberikan kemudahan bagi pembacanya dalam memahami maknanya dan memperoleh manfaatnya. Gambaran secara keseluruhan mengenai skripsi ini akan dijabarkan dengan cara menguraikan sistematika penulisannya yang terdiri atas 5 (lima) bab yaitu :

Bab I Pendahuluan merupakan bab yang memberikan ilustrasi guna memberikan informasi yang bersifat umum dan menyeluruh serta sistematis dari skripsi ini yang terdiri dari latar belakang, permasalahan, tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Umum Mengenai Asuransi dan Peraturannya merupakan bab yang berisikan tentang pengertian, jenis dan aspek hukum perjanjian asuransi, premi dan polis asuransi, serta berakhirnya asuransi.

Bab III Pembiayaan Konsumen Mempunyai Peran Penting Dalam Memenuhi Kebutuhan Masyarakat merupakan bab yang berisikan tentang pengertian pembiayaan konsumen dan peraturannya, kedudukan para pihak dan jaminan dalam pembiayaan konsumen, serta hubungan hukum antara perusahaan


(30)

asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dengan perusahaan pembiayaan konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi dari segi hukum keperdataan.

Bab IV Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi PT. Asuransi Sinar Mas Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen (Studi Pada PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi) merupakan pembahasan pokok dari penulisan yang terdiri dari pengaturan hubungan hukum antara perusahaan asuransi PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi terkait pembiayaan konsumen, prosedur pelaksanaan klaim asuransi dari konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada PT. Asuransi Sinar Mas apabila barang yang masih dalam masa pembiayaan dinyatakan rusak ataupun hilang, dan penyelesaian klaim asuransi yang diajukan konsumen PT.

Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi kepada PT. Asuransi Sinar Mas

apabila terjadi kerusakan ataupun kehilangan barang.

Bab V Kesimpulan Dan Saran merupakan bab penutup yang di dalamnya dirumuskan kesimpulan dan saran yang kesimpulannya diambil dari pembahasan dalam skripsi ini dan diakhiri dengan saran-saran. Sebagai pelengkap skripsi ini, pada bagian terakhir disertakan daftar pustaka.


(31)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI ASURANSI DAN PERATURANNYA

A. Pengertian, Jenis, dan Aspek Hukum Perjanjian Asuransi

Istilah asuransi di Indonesia berasal dari kata Belanda, assurantie yang

kemudian menjadi “asuransi” dalam Bahasa Indonesia. Namun, istilah assurantie

itu sendiri sebenarnya bukanlah asli Bahasa Belanda akan tetapi berasal dari

Bahasa Latin yaitu assecurare yang berarti “meyakinkan orang”. Kata ini

kemudian dikenal dalam Bahasa Perancis sebagai assurance. Demikian pula

dengan istilah assuradeur yang berarti “penanggung” dan geassureerde yang

berarti “tertanggung”, keduanya berasal dari perbendaharaan Bahasa Belanda., sedangkan dalam Bahasa Inggris, istilah “pertanggungan” dapat diterjemahkan

menjadi insurance dan assurance. Kedua istilah ini sebenarnya memiliki

pengertian yang berbeda, insurance mengandung arti “menanggung sesuatu yang

mungkin atau tidak mungkin terjadi”, sedangkan assurance berarti “menanggung

sesuatu yang pasti terjadi”. Istilah assurance lebih lanjut dikaitkan dengan

pertanggungan yang berkaitan dengan masalah jiwa seseorang.19

19

Dahlan Siamat, Op. Cit., hlm. 655.

Pengertian asuransi menurut ketentuan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yaitu:

“Pertanggungan adalah perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya akibat dari suatu evenemen”.


(32)

Salah satu unsur penting dalam peristiwa asuransi yang terdapat dalam rumusan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang adalah ganti kerugian.

Unsur tersebut hanya menunjuk kepada asuransi kerugian (loss insurance) yang

objeknya adalah harta kekayaan. Asuransi jiwa (life insurance) tidak termasuk

dalam rumusan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, karena jiwa manusia bukanlah harta kekayaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketentuan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang hanya mencakup

bidang asuransi kerugian, tidak termasuk asuransi jiwa.20

20

Abdulkadir Muhammad, Hukum Asuransi Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 8.

Menurut ketentuan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, yaitu:

“Asuransi adalah perjanjian antara dua pihak, yaitu perusahaan asuransi dan pemegang polis yang menjadi dasar bagi penerimaan premi oleh perusahaan asuransi sebagai imbalan untuk: (a) memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti; atau (b) memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana.”

Rumusan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 ternyata lebih luas jika dibandingkan dengan rumusan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang karena tidak hanya melingkupi asuransi kerugian, tetapi juga asuransi jiwa.


(33)

Untuk memahami lebih lanjut berikut disajikan perbandingan antara rumusan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 dan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang:

1. Definisi dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 meliputi asuransi

kerugian dan asuransi jiwa. Asuransi kerugian dibuktikan oleh bagian kalimat “memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan”. Asuransi jiwa dibuktikan oleh bagian kalimat “memberikan pembayaran yang didasarkan pada meninggalnya tertanggung atau pembayaran yang didasarkan pada hidupnya tertanggung dengan manfaat yang besarnya telah ditetapkan dan/atau didasarkan pada hasil pengelolaan dana”. Bagian ini tidak ada dalam definisi Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

2. Definisi dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 secara eksplisit

meliputi juga asuransi untuk kepentingan pihak ketiga. Hal ini terdapat dalam bagian kalimat “tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti”. Bagian ini tidak terdapat dalam definisi Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

3. Definisi dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 meliputi objek

asuransi berupa benda, kepentingan yang melekat atas benda, sejumlah uang dan jiwa manusia. Objek asuransi berupa jiwa manusia tidak terdapat dalam definisi Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

4. Definisi dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 meliputi

evenemen berupa peristiwa yang menimbulkan kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan pada benda objek asuransi dan peristiwa meninggalnya seseorang. Peristiwa meninggalnya seseorang tidak terdapat dalam definisi Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum

Dagang. 21

Menurut Pasal 1774 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, kontrak asuransi digolongkankan ke dalam kategori kontrak untung-untungan, yang

berbunyi:22

“Suatu persetujuan untung-untungan (kans overenkomst) adalah sutau

perbuatan yang hasilnya, mengenai untung ruginya, baik bagi semua pihak, maupun bagi sementara pihak, bergantung pada suatu kejadian yang belum tentu. Demikian adalah: perjanjian pertanggungan

21

Ibid., hlm. 11.

22


(34)

(verzekering); bunga cagak hidup (lijfrente); perjudian dan pertaruhan (spel & weddenschap). Perjanjian yang pertama diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.”

Menurut Pasal 1774 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, maka suatu kontrak untung-untungan merupakan suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung ruginya, baik bagi semua pihak maupun bagi pihak tertentu saja, bergantung pada suatu kejadian yang belum tentu. Oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, perjanjian asuransi dengan tegas digolongkan ke dalam kontrak untung-untungan, yang selanjutnya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Dikatakan untung-untungan karena pihak penanggung akan diuntungkan (karena pembayaran premi) jika risiko yang diasuransikan tersebut tidak terjadi. Sebaliknya, bagi pihak tertanggung akan diuntungkan (dalam arti pembayaran kerugiannya) jika risiko yang diasuransikan tersebut ternyata benar-benar terjadi. Itulah sebabnya, maka oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata perjanjian

asuransi dengan tegas digolongkan ke dalam kontrak untung-untungan.23

Pada dasarnya asuransi dapat memberikan manfaat bagi tertanggung,

antara lain:24

1. Rasa aman dan perlindungan. Polis asuransi yang dimiliki oleh

tertanggung akan memberikan rasa aman dari risiko atau kerugian yang mungkin timbul. Kalau risiko atau kerugian tersebut benar-benar terjadi,

pihak tertanggung (insured) berhak atas nilai kerugian sebesar nilai polis

atau ditentukan berdasarkan perjanjian antara tertanggung dan penanggung.

2. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil. Prinsip keadilan

diperhitungkan dengan matang untuk menentukan nilai pertanggungan dan premi yang harus ditanggung oleh pemegang polis secara periodik dengan memperhatikan secara cermat faktor-faktor yang berpengaruh besar dalam

23

Munir Fuady, op.Cit., hlm. 254.

24


(35)

asuransi tersebut. Untuk mendapatkan nilai pertangggungan, pihak penanggung sudah membuat kalkulasi yang tidak merugikan kedua belah pihak. Semakin besar nilai pertanggungan semakin besar pula premi periodik yang harus dibayar oleh tertanggung.

3. Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit.

4. Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan. Premi yang

dibayarkan setiap periode memiliki substansi yang sama dengan tabungan. Pihak penanggung juga memperhitungkan bunga atas premi yang dibayarkan dan juga bonus (sesuai dengan perjanjian dari kedua belah pihak).

5. Alat penyebaran risiko. Risiko yang seharusnya ditanggung oleh

tertanggung ikut dibebankan juga pada penanggung dengan imbalan sejumlah premi tertentu yang didasarkan atas nilai pertanggungan.

6. Membantu meningkatkan kegiatan usaha. Investasi yang dilakukan oleh

para investor dibebani dengan risiko kerugian yang bisa diakibatkan oleh berbagai macam sebab (pencurian, kebakaran, kecelakaan, dan lain sebagainya).

Perjanjian asuransi meletakkan hak dan kewajiban pada tertanggung dan penanggung. Perjanjian asuransi atau pertanggungan itu mempunyai sifat-sifat

sebagai berikut:25

1. Perjanjian asuransi merupakan perjanjian penggantian kerugian

(shcadeverzekering atau indemniteits contract)

Penanggung mengikatkan diri untuk menggantikan kerugian karena pihak tertanggung yang menderita kerugian dan yang diganti itu adalah seimbang dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita. Sifat perjanjian asuransi ini berkaitan dengan prinsip indemnitas, sebagaimana dapat disimpulkan dari Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang merupakan perjanjian penggantian kerugian. Ganti rugi di sini mengandung arti bahwa penggantian kerugian dari penanggung harus seimbang dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita oleh tertanggung. Keseimbangan yang demikianlah dinamakan prinsip

keseimbangan (indemniteit principle). Namun, yang perlu diperhatikan

adalah mengenai berlakunya asas indemnitas ini hanya dalam asuransi kerugian saja dan tidak berlaku dalam asuransi sejumlah uang. Hal ini karena dalam asuransi kerugian yang sungguh-sungguh diderita, akan tetapi uang asuransi sudah ditetapkan sebelumnya pada waktu ditutupnya perjanjian asuransi. Dasarnya sebab pada asuransi sejumlah uang kepentingannya tidak dapat dinilai dengan uang.

25


(36)

2. Perjanjian asuransi adalah perjanjian bersyarat (aletair)

Penanggung mengikatkan diri untuk menggantikan kerugian apabila pihak tertanggung menderita kerugian karena suatu peristiwa (evenement/accident) yang sejak ditutupnya perjanjian belum diketahui

mungkin terjadi atau tidak. Peristiwa (evenement/accident) yang belum

diketahui mungkin terjadi atau tidak merupakan syarat untuk timbulnya kewajiban pemberian ganti kerugian. Jika peristiwa yang menyebabkan adanya kerugian tersebut sudah diketahui atau sudah terjadi, maka penanggung tidak berkewajiban untuk memberikan ganti kerugian. Pemberian ganti rugi dari penanggung terhadap tertanggung digantungkan pada syarat, pada waktu ditutupnya perjanjian peristiwa belum diketahui apakah akan terjadi atau tidaknya karena adanya suatu risiko yang mungkin datang atau tidak dialami. Selain itu, pembayaran premi merupakan pula syarat untuk menimbulkan kewajiban timbal balik dari penanggung untuk membayar ganti kerugian.

Perjanjian asuransi adalah perjanjian yang bersifat aletair, merupakan

perjanjian yang prestasi penanggung masih harus digantungkan pada peristiwa yang belum pasti, sedangkan prestasi tertanggung sudah pasti, meskipun tertanggung sudah memenuhi prestasinya dengan sempurna, pihak penanggung belum pasti berprestasi dengan nyata.

Perjanjian asuransi merupakan perjanjian bersyarat (conditional)

merupakan suatu perjanjian yang prestasi penanggung hanya akan terlaksana apabila syarat-syarat yang ditentukan dalam perjanjian dipenuhi. Proteksi yang dijanjikan kepada tertanggung akan dipenuhi oleh penanggung. Syarat-syarat agar penanggung bersedia memenuhi tanggung jawab dengan melaksanakan prestasinya yang meliputi;

a. adanya peristiwa yang tidak tertentu,

b. hubungan sebab akibat antara risiko dan peristiwa yang menyebabkan

timbulnya kerugian,

c. ada tidaknya hal-hal yang memberatkan risiko,

d. apakah ada cacat atau kebusukan atau sifat kodrat dari barang,

kesalahan tertanggung, dan nilai yang diasuransikan.

3. Perjanjian asuransi adalah perjanjian kewajiban bertimbal balik

(obligatoir)

Perjanjian asuransi dilihat dari batasan sebagaimana diatur dalam Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, meletakkan hak dan kewajiban kepada pihak tertanggung dan penanggung. Penanggung berkewajiban memberikan ganti kerugian apabila peristiwa yang menjadi penyebab timbulnya risiko terjadi, dan penanggung berhak menerima premi dari tertanggung, karena telah mengambil alih risiko yang dapat menimbulkan kerugian kepada tertanggung. Sebaliknya tertanggung berkewajiban menyerahkan premi kepada penanggung. Sebab, tertanggung sudah dilindungi secara finansial apabila terjadi peristiwa yang dapat menimbulkan risiko terjadi. Secara finansial tertanggung akan dilindungi untuk dikembalikan pada posisi semula sebelum terjadinya risiko, dengan cara penanggung memberikan ganti kerugian kepada tertanggung.


(37)

4. Perjanjian asuransi sebagai perjanjian yang bertujuan memberikan proteksi Dapat dilihat dari batasan Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, lebih lanjut ditelaah unsur-unsur sebagai berikut:

a. Pihak pertama ialah penanggung, yang dengan sadar menyediakan diri

untuk menerima dan mengambil alih risiko pihak lain.

b. Pihak kedua adalah tertanggung, yang dapat menduduki posisi tersebut

dalam perorangan, kelompok orang atau lembaga, badan hukum termasuk perusahaan atau siapapun yang menderita kerugian.

Untuk menyatakan kapan perjanjian asuransi yang dibuat oleh tertanggung dan penanggung itu terjadi dan mengikat kedua belah pihak, dari sudut pandang ilmu hukum terdapat teori perjanjian tersebut:

a. Teori tawar-menawar (bargaining theory)

Menurut teori ini, setiap perjanjian hanya akan terjadi antara kedua

belah pihak apabila penawaran (offer) dari pihak yang satu dihadapkan

dengan penerimaan (acceptance) oleh pihak yang lainnya dan

sebaliknya. Keunggulan teori tawar-menawar adalah kepastian hukum yang diciptakan berdasarkan kesepakatan yang dicapai oleh kedua pihak dalam asuransi antara tertanggung dan penanggung.

b. Teori penerimaan (acceptance theory)

Dalam hukum Belanda, teori ini disebut ontvangst theorie mengenai

saat kapan perjanjian asuransi terjadi dan mengikat tertanggung dan penanggung, tidak ada ketentuan umum dalam undang-undang perasuransian, yang ada hanya persetujuan kehendak antara pihak-pihak (Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Menurut teori penerimaan, perjanjian asuransi terjadi dan mengikat pihak-pihak pada saat penawaran sungguh-sungguh diterima kemudian dibuatkan akta perjanjian asuransi oleh penanggung yang disebut polis asuransi.

5. Perjanjian asuransi merupakan perjanjian yang bersifat formal

Perjanjian asuransi yang telah terjadi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis (Pasal 255 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang). Polis ini merupakan salah satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan bahwa asuransi telah terjadi. Untuk mengatasi kesulitan jika terjadi sesuatu setelah perjanjian namun belum sempat dibuatkan polisnya atau walaupun sudah dibuatkan tetapi belum sempat ditandatangani atau sudah ditandatangani, tetapi belum diserahkan kepada tertanggung

kemudian terjadi evenement yang menimbulkan kerugian tertanggung.

6. Perjanjian asuransi merupakan perjanjian konsensuil

Pada Pasal 257 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang memberi ketegasan, walaupun belum dibuatkan polis, asuransi sudah terjadi sejak tercapai kesepakatan antara tertanggung dan penanggung sehingga hak dan kewajiban tertanggung dan penanggung timbul sejak terjadi kesepakatan berdasarkan nota persetujuan. Bila bukti tertulis sudah ada barulah dapat digunakan alat bukti biasa yang diatur dalam hukum acara perdata. Ketentuan ini yang dimaksud oleh Pasal 258 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Syarat-syarat khusus yang dimaksud dalam Pasal 258


(38)

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang adalah mengenai esensi inti isi perjanjian yang telah dibuat itu, terutama mengenai realisasi hak dan kewajiban tertanggung dan penanggung seperti penyebab timbulnya

kerugian (evenement), sifat kerugian yang menjadi beban penanggung,

pembayaran premi oleh tertanggung dan klausul-klausul tertentu.

7. Perjanjian asuransi merupakan perjanjian khusus

Perjanjian asuransi, pada dasarnya merupakan suatu perjanjian yang mempunyai karakteristik yang dengan jelas akan memberikan suatu ciri khusus, apabila dibandingkan dengan jenis perjanjian yang lain. Hal ini

secara jelas dibahas dalam buku-buku Anglo Saxon yang secara umum

sebagai berikut:

a. Perjanjian asuransi adalah perjanjian yang bersifat sepihak (unilateral),

hanya satu pihak saja yang memberikan janji yaitu pihak penanggung, penanggung memberikan janji akan mengganti suatu kerugian, apabila pihak tertanggung sudah membayar premi dan polis sudah berjalan, sebaliknya tertanggung tidak menjanjikan suatu apapun.

b. Perjanjian asuransi adalah perjanjian yang bersifat pribadi (personal),

kerugian yang timbul harus merupakan kerugian orang perorangan, secara pribadi, bukan kerugian kolektif ataupun kerugian masyarakat luas.

c. Perjanjian asuransi adalah perjanjian yang melekat pada syarat

penanggung (adhesion), karena di dalam perjanjian asuransi pada

hakikatnya syarat dan kondisi perjanjian hampir seluruh ditentukan/diciptakan oleh penanggung/perusahaan asuransi sendiri, dan bukan karena adanya kata sepakat yang murni atau menawar.

d. Perjanjian asuransi adalah perjanjian dengan syarat itikad baik yang

sempurna, perjanjian asuransi merupakan perjanjian dengan keadaan bahwa kata sepakat dapat tercapai/negosiasi dengan posisi masing-masing mempunyai pengetahuan yang sama mengenai fakta, dengan penilaian sama penelaahannya untuk memperoleh fakta yang sama pula, sehingga dapat bebas dari cacat-cacat tersembunyi.

8. Perjanjian asuransi merupakan kontrak baku (standard contract)

Polis sebagai suatu akta yang formalitasnya diatur dalam Undang-Undang, memiliki arti yang sangat penting pada perjanjian asuransi, baik tahap awal maupun selama perjanjian berlaku dalam masa pelaksanaan

perjanjian. Syarat-syarat (conditional clausula) biasa dibuat secara sepihak

oleh penanggung dan sudah dibakukan dan berstandar sama, baik dari bentuk maupun isi pasalnya. Secara yuridis kontrak baku diperbolehkan dan sah perjanjian tersebut. Sebab telah terjadi kesepakatan dengan ditandai polis tersebut ditandatangani oleh tertanggung. Dalam hal ini

berlaku prinsip take it or leave, jika tertanggung setuju dengan syarat

(klausul baku) yang tertuang dalam polis tertanggung tinggal menandatangani polis tersebut sebagai tanda telah disepakatinya isi perjanjian tersebut. Jika tidak menyetujui, dan tidak terjadi kesepakatan, tertanggung dapat menolak dengan tidak menandatangani polis tersebut.


(39)

9. Perjanjian gotong-royong (mutual)

Perjanjian asuransi berkarakteristik sebagai perkumpulan. Syarat ini berkaitan dengan asuransi yang saling gotong-royong untuk saling menanggung di dalam suatu perkumpulan yang terbentuk di antara para

tertanggung selaku anggota dari perkumpulan tersebut (mutual company).

Asuransi terbagi atas beberapa jenis. Jenis-jenis asuransi yang berkembang

di Indonesia dewasa ini jika dilihat dari berbagai segi adalah sebagai berikut:26

1. Dilihat dari segi fungsinya

a. Asuransi Kerugian (non life insurance)

Jenis asuransi kerugian seperti yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian menjelaskan bahwa asuransi kerugian memberikan penggantian kepada tertanggung atau pemegang polis karena kerugian, kerusakan, biaya yang timbul, kehilangan keuntungan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin diderita tertanggung atau pemegang polis karena terjadinya suatu peristiwa yang tidak pasti. Jenis asuransi ini tidak diperkenankan melakukan usaha di luar asuransi kerugian dan reasuransi. Kemudian yang termasuk dalam asuransi kerugian adalah sebagai berikut:

1) Asuransi kebakaran yang meliputi kebakaran, peledakan, petir

kecelakaan kapal terbang dan lainnya.

2) Asuransi pengangkutan meliputi Marine Hul Policy, Marine

Cargo Policy, Freight.

3) Asuransi aneka yaitu asuransi yang tidak termasuk dalam

asuransi kebakaran dan pengangkutan seperti asuransi kendaraan bermotor, kecelakaan diri pencurian dan lainnya.

b. Asuransi Jiwa (life insurance)

Asuransi jiwa merupakan perusahaan asuransi yang dikaitkan dengan penanggulangan jiwa atau meninggalnya seseorang yang dipertanggungkan. Jenis-jenis asuransi jiwa adalah:

1) Asuransi berjangka (term insurance)

2) Asuransi tabungan (endowment insurance)

3) Asuransi seumur hidup (whole life insurance)

4) Anuitas (anuity contract insurance)

c. Reasuransi (reinsurance)

Merupakan perusahaan yang memberikan jasa asuransi dalam pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian. Jenis asuransi ini sering disebut asuransi dari asuransi dan asuransi ini digolongkan ke dalam:

1) Bentuk treaty

2) Bentuk facultative

26


(40)

3) Kombinasi dari keduanya

2. Dilihat dari segi kepemilikannya

Dalam hal ini yang dilihat adalah siapa pemilik dari perusahaan asuransi tersebut, baik asuransi kerugian, asuransi jiwa ataupun reasuransi.

a. Asuransi milik pemerintah

Yaitu asuransi yang sahamnya dimiliki sebagian besar atau bahkan 100% oleh pemerintah Indonesia.

b. Asuransi milik swasta nasional

Asuransi ini kepemilikan sahamnya sepenuhnya dimiliki oleh swasta nasional sehingga siapa yang paling banyak memiliki saham, maka memiliki suara terbanyak dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

c. Asuransi milik perusahaan asing

Perusahaan asuransi jenis ini biasanya beroperasi di Indonesia hanyalah merupakan cabang dari negara lain dan jelas kepemilikannya pun dimiliki oleh 100% oleh pihak asing.

d. Asuransi milik campuran

Merupakan jenis asuransi yang sahamnya dimiliki campuran antara swasta nasional dengan pihak asing.

Hubungan hukum dalam perjanjian asuransi melahirkan hak dan kewajiban para pihak. Dengan demikian, perikatannya bersumber dari perjanjian. Pengertian perjanjian menurut Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dinyatakan bahwa:

“Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.”

Rumusan tersebut selain tidak lengkap juga sangat luas. Tidak lengkap karena hanya menyebutkan persetujuan sepihak saja. Sangat luas karena dengan dipergunakannya perkataan “perbuatan” mencakup juga perwakilan sukarela dan perbuatan melawan hukum. Sehubungan dengan hal itu perlu kiranya diadakan perbaikan mengenai definisi tersebut, yaitu:


(41)

1. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum.

2. Menambahkan perkataan “atau saling mengikatkan dirinya” dalam

Pasal 1313 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Dengan demikian perumusannya menjadi perjanjian adalah suatu perbuatan (hukum), di mana satu orang atau lebih (saling) mengikatkan dirinya

terhadap satu orang atau lebih.27

Dalam hal pertanggungan adalah perjanjian khusus maka selain syarat-syarat khusus dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang diberlakukan pula ketentuan umum dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Dibawah ini diuraikan mengenai syarat-syarat tersebut yaitu:28

1. Ada persetujuan kehendak

Antara pihak-pihak yang mengadakan pertanggungan harus ada

persesuaian kehendak (consensus, toestemming, meeting of minds).

Artinya, kedua belah pihak menyetujui tentang objek yang menjadi objek perjanjian dan tentang syarat-syarat tertentu yang berlaku bagi perjanjian tersebut.

Apa yang disetujui oleh pihak penanggung, disetujui juga oleh pihak tertanggung. Dengan demikian tercapai persesuaian kehendak terhadap yang menjadi objek perjanjian dan tentang syarat-syarat yang berlaku bagi perjanjian itu.

2. Kecakapan dan kewenangan melakukan perbuatan hukum

Kedua belah pihak yang mengadakan pertanggungan harus memiliki kecakapan dalam melakukan perbuatan hukum. Artinya, kedua belah

pihak itu sudah dewasa, tidak di bawah pengampuan (curatele), tidak

dalam keadaan sakit ingatan, tidak dalam keadaan pailit, memiliki kewenangan terhadap objek yang diasuransikan, yaitu memenuhi syarat adanya kepentingan terhadap objek yang diasuransikan. Demikian juga apabila pihak-pihak itu mewakili pihak lain untuk mengadakan pertanggungan, perlu menyebutkan untuk kepentingan siapa ia mendapatkan pertanggungan itu. kedua belah pihak dapat berupa manusia pribadi dan dapat juga berupa badan hukum, biasanya

27

Tuti Rastuti, Op. Cit., hlm. 31.

28


(42)

berbentuk suatu badan usaha. Pihak penanggung selalu dalam bentuk badan usaha yang pekerjaannya bergerak dalam bidang perasuransian.

3. Ada objek yang dipertanggungkan

Dalam setiap pertanggungan harus ada objek yang dipertanggungkan. Dengan alasan yang mempertanggungkan objek tersebut adalah tertanggung, maka tertanggung harus mempunyai hubungan langsung dan/atau tidak langsung dengan objek yang dipertanggungkan tersebut. Dikatakan ada hubungan langsung apabila tertanggung memiliki objek tersebut. Dikatakan ada hubungan yang tidak langsung apabila tertanggung mempunyai kepentingan atas objek tersebut. 4. Ada causa yang diperbolehkan (a legal cause)

Causa yang diperbolehkan di sini bahwa isi dari perjajian pertanggungan itu tidak dilarang oleh Undang-Undang, tidak bertentangan dengan ketertiban umum, dan tidak bertentangan dengan kesusilaan.

5. Pembayaran premi

Perjanjian asuransi adalah perjanjian timbal balik, maka kedua belak pihak masing-masing harus saling berprestasi. Penanggung menerima peralihan risiko atas objek yang dipertanggungkan, sedangkan tertanggung harus membayar sejumlah premi sebagai imbalannya. Besar atau kecil jumlah premi bukan masalah yang penting, yang penting adalah kedua belah pihak telah mencapai suatu kesepakatan. Jika premi dibayar, risiko beralih. Jika premi tidak dibayar, risiko tidak beralih.

6. Kewajiban pemberitahuan

Kewajiban memberitahukan fakta materiil tentang objek yang diasuransikan merupakan kewajiban yang didasarkan pada pelaksanaan prinsip itikad baik. Prinsip ini tertuang dalam Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Namun sebenarnya Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang hanya membebankan kewajiban secara sepihak kepada tertanggung untuk memberikan keterangan dan informasi yang benar tentang fakta materiil objek yang

dipertanggungkan, sedangkan kewajiban penanggung untuk

memberikan indormasi tentang ruang lingkup perlindungan tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Secara umum, itikad baik yang sempurna dapat diartikan bahwa masing-masing pihak dalam suatu perjanjian yang akan disepakati, menurut hukum mempunyai kewajiban untuk memberikan keterangan atau informasi yang selengkap-lengkapnya yang akan dapat memengaruhi keputusan pihak yang lain untuk memasuki perjanjian atau tidak.

Berdasarkan Pasal 1 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, ketentuan umum perjanjian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dapat berlaku pula dalam perjanjian asuransi sebagai perjanjian khusus. Dengan demikian, para pihak


(43)

tunduk pula pada beberapa ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Asas-asas yang terdapat dalam hukum perjanjian sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata perlu diperhatikan. Adapun asas-asas yang lahir dari ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut

adalah sebagai berikut:29

1. Asas konsensual

Dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa syarat sahnya perjanjian, yaitu:

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

c. Suatu hal tertentu;

d. Suatu sebab yang halal.

Asas konsensual diambil dari salah satu syarat perjanjian yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Orang tidak dapat dipaksa untuk memberikan sepakatnya. Sepakat yang diberikan dengan paksa adalah contradictio interminis. Adanya paksaan menunjukkan tidak adanya sepakat yang mungkin dilakukan oleh pihak lain. Kesepakatan memberikan pilihan kepada para pihak, untuk setuju atau tidak setuju mengikatkan diri pada perjanjian dengan akibat hukumnya.

Pasal 1320 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menentukan bahwa:

“Perjanjian atau kontrak yang tidak sah jika dibuat tanpa adanya

kesepakatan (consensus) dari para pihak yang membuatnya.

Selain paksaan, cacatnya kesepakatan dapat terjadi karena kekeliruan dan kesalahan.”

2. Asas kebebasan berkontrak

Dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa:

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya.”

Menurut Sutan Remy Sjahdeni, dalam hukum perjanjian Indonesia ruang lingkup asas kebebasan berkontrak meliputi:

a. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian.

29


(44)

b. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian.

c. Kebebasan untuk menentukan atau memilih isi (causa) dari

perjanjian yang dibuatnya.

d. Kebebasan untuk menentukan objek perjanjian.

e. Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian.

f. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan

Undang-Undang yang bersifat opsional (aanvullend, optional).

Sumber dari kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu, sehingga titik tolaknya adalah kepentingan individu pula. Dengan demikian dapat dipahami bahwa, kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak. Berlakunya asas konsensualisme menurut hukum perjanjian Indonesia memantapkan adanya asas kebebasan berkontrak. Tanpa sepakat dari salah satu pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang dibuat dapat dibatalkan.

3. Asas ketentuan mengikat

Asas ketentuan mengikat dari Pasal 1338 (1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, apabila dihubungkan dengan perjanjian asuransi berarti bahwa pihak penanggung dan tertanggung atau pemegang polis terikat untuk melaksanakan ketentuan perjanjian yang telah disepakatinya. Sebab, perjanjian yang telah dibuat oleh para pihak memiliki kekuatan mengikat sebagaimana Undang-Undang yang memiliki akibat hukum, hanya saja berlaku bagi mereka yang membuatnya.

4. Asas kepercayaan

Asas kepercayaan mengandung arti bahwa mereka yang mengadakan perjanjian melahirkan kepercayaan di antara kedua belah pihak, bahwa satu sama lain akan memenuhi janjinya untuk melaksanakan prestasi seperti yang diperjanjikan. Ketentuan tersebut berlaku pula bagi perjanjian asuransi, sehingga pemegang polis dan penanggung terikat untuk memenuhi perjanjian yang telah dibuatnya.

5. Asas persamaan hukum

Asas persamaan hukum adalah bahwa subjek hukum uyang mengadakan perjanjian mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama dalam hukum, dan tidak dibeda-bedakan antara satu sama lain.

6. Asas keseimbangan

Asas keseimbangan adalah suatu asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian. Dalam perjanjian asuransi, hak dan kewajiban tertanggung adalah membayar premi dan menerima pembayaran ganti kerugian, sedangkan hak dan kewajiban penanggung adalah menerima premi dan memberikan ganti kerugian atas objek yang dipertanggungkan.

7. Asas kepastian hukum

Perjanjian sebagai figur hukum harus mengandung kepastian hukum. Kepastian ini terungkap dari kekuatan mengikatnya perjanjian, yaitu sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Selain itu,


(45)

dalam Pasal 1338 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa:

“Perjanjian-perjanjian itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh Undang-Undang dinyatakan cukup untuk itu.”

8. Asas itikad baik

Pasal 1338 ayat (3) yang menyatakan bahwa:

“Perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik.” Asas itikad baik ini berlaku untuk semua perjanjian termasuk perjanjian asuransi yang diartikan pula secara menyeluruh bahwa, dalam pelaksanaan perjanjian tersebut para pihak harus mengindahkan kenalaran dan kepatutan Pasal 1339 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang berbunyi:

“Bahwa tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan, atau Undang-Undang.”

Perjanjian asuransi merupakan perjanjian khusus yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Sebagai perjanjian khusus, maka selain asas-asas hukum perjanjian pada umumnya, dalam perjanjian asuransi mengharuskan

diterapkannya prinsip-prinsip perjanjian asuransi sebagai berikut:30

1. Prinsip kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable interest)

Tertanggung dikatakan memiliki kepentingan atas objek yang diasuransikan, apabila tertanggung akan menderita kerugian keuangan (financial) seandainya terjadi musibah yang menimbulkan kerugian

atau kerusakan atas objek tersebut. Kepentingan keuangan (financial)

ini memungkinkan tertanggung mengasuransikan harta benda atau kepentingannya. Apabila terjadi musibah atas objek yang diasuransikan terbukti bahwa, tertanggung tidak memiliki kepentingan keuangan atas objek tersebut, maka tertanggung tidak berhak menerima ganti rugi. Prinsip ini dapat dijabarkan dalam Pasal 250 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang menentukan bahwa:

30


(46)

“Apabila seseorang yang telah mengadakan pertanggungan untuk diri sendiri, atau apabila seseorang, yang untuknya telah diadakan suatu pertanggungan, pada saat diadakannya pertanggungan itu tidak mempunyai kepentingan terhadap barang yang dipertanggungkan itu, maka penanggung tidaklah diwajibkan memberikan ganti rugi.”

Ketentuan di atas mensyaratkan adanya kepentingan dalam mengadakan perjanjian asuransi dengan akibat batalnya perjanjian tersebut seandainya tidak dipenuhi. Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 250 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang di atas untuk membedakan antara asuransi dengan permainan dan perjudian.

Pasal 268 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tentang syarat-syarat kepentingan yang dapat diasuransikan, mempunyai pengertian yang sempit karena harus dapat dinilai dengan uang, sedangkan ada kepentingan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Kepentingan yang tidak dapat dinilai dengan uang misalnya jiwa, anak, istri, dan lain-lain.

2. Prinsip itikad baik yang teramat baik (utmost goodfaith)

Prinsip utmost goodfaith atau uberrima fides sering pula dipadankan

dengan kalimat kejujuran yang sempurna. Pelaksanaan prinsip ini membebankan kewajiban kepada tertanggung untuk memberitahukan sejelas-jelasnya dan teliti mengenai segala fakta-fakta penting yang berkaitan dengan objek yang diasuransikan. Prinsip ini pun berlaku bagi perusahaan asuransi, yaitu menjelaskan risiko-risiko yang dijamin maupun yang dikecualikan, segala persyaratan dan kondisi pertanggungan secara jelas dan teliti. Prinsip ini menjadi sangat penting karena secara umum tertanggung mengetahui lebih lengkap objek yang akan diasuransikan dibandingkan dengan penanggung dan perhitungan besarnya premi sangat dipengaruhi oleh beban risiko. Kewajiban untuk memberikan fakta-fakta penting tersebut berlaku sejak perjanjian mengenai perjanjian asuransi dibicarakan sampai kontrak asuransi selesai dibuat, yaitu pada saat para pihak menyetujui kontrak tersebut, pada saat perpanjangan kontrak asuransi, pada saat terjadi perubahan pada kontrak asuransi dan mengenai hal-hal yang ada kaitannya dengan perubahan-perubahan itu.

Dalam perjanjian asuransi unsur saling percaya antara penanggung dan tertanggung akan memberikan segala keterangannya dengan benar. Di lain pihak, tertanggung juga percaya bahwa kalau terjadi peristiwa penanggung akan membayar ganti rugi. Saling percaya ini dasarnya adalah itikad baik. Prinsip itikad baik harus dilaksanakan dalam setiap perjanjian (Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Dalam perjanjian asuransi banyak pasal-pasal yang dapat disimpulkan mengandung unsur itikad baik. Pasal-pasal itu antara lain Pasal 251, 252, 276, dan 277 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Tetapi yang paling populer adalah Pasal 251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang dikenal dengan kewajiban memberikan keterangan. Dalam Pasal


(47)

251 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang tersebut asuransi menjadi batal apabila tertanggung memberikan keterangan yang keliru atau tidak benar atau sama sekali tidak memberikan keterangan.

3. Prinsip Keseimbangan (indemniteit principle)

Memberikan ganti rugi kepada tertanggung sesuai dengan besarnya kerugian yang dialaminya, sesaat sebelum terjadinya kerugian.

Dalam Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang, asuransi atau pertanggungan adalah:

“Suatu perjanjian, dengan mana seseorang penanggung

mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu premi, untuk memberikan pengganti kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”

Asuransi sebagaimana dapat disimpulkan dari Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang merupakan perjanjian penggantian kerugian. Ganti rugi di sini mengandung arti bahwa penggantian kerugian dari penanggung harus seimbang dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita oleh tertanggung. Keseimbangan yang demikianlah yang dinamakan prinsip keseimbangan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah mengenai berlakunya asas indemnitas yang hanya dalam asuransi kerugian saja dan tidak berlaku dalam asuransi sejumlah uang. Hal ini karena dalam asuransi sejumlah uang, ganti rugi tidak diseimbangkan dengan kerugian yang sungguh-sungguh diderita, akan tetapi uang asuransi sudah ditetapkan sebelumnya sewaktu ditutupnya perjanjian asuransi. Dasarnya, karena pada asuransi, sejumlah uang kepentingannya tidak dapat dinilai dengan uang.

4. Prinsip subrogasi (subrogation principle)

Prinsip subrogasi diatur dalam Pasal 284 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang menyatakan sebagai berikut:

“Seseorang penanggung yang telah membayar kerugian sesuatu barang yang dipertanggungkan, menggantikan tertanggung dalam segala hak yang diperolehnya terhadap orang-orang ketiga berhubung dengan penerbitan kerugian tersebut dan si tertanggung itu adalah bertanggung jawab untuk setiap perbuatan yang dapat merugikan hak penanggung terhadap orang-orang ketiga itu.”

Pada umumnya, seseorang yang menyebabkan suatu kerugian bertanggung jawab atas kerusakan atau kerugian tersebut. Dalam hubungannya dengan asuransi, pihak penanggung mengambil alih hak menagih ganti kerugian kepada pihak yang mengakibatkan kerugian, setelah penanggung melunasi kewajibannya pada tertanggung. Dengan


(1)

Kantor Pusat atau Kantor Cabang Asuransi Sinar Mas dalam waktu 5 x 24 jam sejak terjadinya kecelakaan atau pencurian, melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan seperti mengisi formulir pengajuan klaim, fotokopi sertifikat (asli bila total loss), STNK, dan SIM pengemudi, surat laporan polisi dalam hal klaim Tanggung Jawab Hukum Pihak Ketiga, Pencurian atau Niat Jahat, Tembusan Surat Tuntutan kepada pihak lain yang menyebabkan kerugian, Penanggung akan melakukan survey dan menentukan apakah klaim dijamin atau ditolak berdasarkan kondisi/syarat polis.

3. Penyelesaian klaim asuransi yang diajukan konsumen PT. Summit Oto Finance Cabang Tebing Tinggi dari PT. Asuransi Sinar Mas apabila terjadi kerusakan atau kehilangan barang. Bentuk ganti kerugian yang diterima konsumen hanyalah dalam bentuk sejumlah uang. Jumlah uang tersebut yang didapat telah dipotong dengan biaya risiko sendiri sebesar Rp. 750.000,- (tujuh ratus lima puluh ribu rupiah), jika tidak ada Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) maka dipotong lagi Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah), kemudian dipotong juga dengan sisa cicilan kredit konsumen, dan dipotong juga dengan uang administrasi lainnya. Setelah dilakukan pengurangan, barulah diberikan kepada konsumen sisanya tersebut. Jika tidak ada sisanya atau hasilnya minus, seharusnya konsumen membayar kekurangan tersebut, tetapi jarang terjadi. Ringkasnya, konsumen telah kehilangan sepeda motor, kemudian mengajukan klaim asuransi, klaim asuransi tersebut diterima, uang


(2)

ganti rugi diterima, dan hasilnya minus, mayoritas konsumen tidak mau membayar kekurangan tersebut.

B. SARAN

1. Dalam hal pengaturan hubungan hukum antara PT. Asuransi Sinar Mas dengan PT. Summit Oto Finance sebaiknya informasi mengenai kontrak kerjasamanya dibuat secara terperinci untuk menghindarkan silang sengketa di kemudian hari.

2. Dalam hal prosedur pengajuan klaim oleh konsumen, sebaiknya konsumen lebih dibantu dalam melengkapi berkas-berkas kelengkapan. Untuk konsumen, pilihlah perusahaan pembiayaan konsumen yang cepat melayani keluhan konsumen, yang memberikan kemudahan mekanisme dalam tahapan pengajuan klaim termasuk memberitahu batas waktu pengajuan klaim, bagaimana cara mengajukannya dan dapat membantu ketika mengajukan klaim asuransi.

3. Dalam hal penyelesaian klaim asuransi yang diajukan konsumen, sebaiknya jangan hanya menguntungkan perusahaan saja, tetapi dilihat juga kondisi finansial konsumennya. Untuk konsumen, perhatikan isi polis asuransi kendaraan bermotor. Tanyakan dengan seksama mengenai prosedur pengajuan klaim dan juga kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dan apa penyelesaiannya. Pahami apa saja hak dan kewajiban para pihak dan


(3)

pengecualiannya. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, apakah ada pengecualian dalam kontrak polis, atau apa saja untung ruginya.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Ali, Zainuddin, 2009, Metode Penelitian Hukum, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta. Amiruddin dan Zainal Asikin, 2006, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT.

RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Ashshofa, Burhan, 2001, Metode Penelitian Hukum, PT. Rineka Cipta, Jakarta. Asyhadie, Zaeni, 2012, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia,

PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Ganie, Junaedy, 2013, Hukum Asuransi Indonesia, PT. Sinar Grafika, Jakarta. Fuady, Munir, 2012, Pengantar Hukum Bisnis, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Kasmir, 2013, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, PT. RajaGrafindo Persada,

Jakarta.

Masyuri dan Zainuddin, 2008, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis dan Aplikatif, PT. Refika Aditama, Malang.

Muhammad, Abdulkadir, 2006, Hukum Asuransi Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

________________ dan Rilda Murniati, 2000, Hukum Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Rastuti, Tuti, 2001, Aspek Hukum Perjanjian Asuransi, Pustaka Yustisia, Yogyakarta.

Sembiring, Sentosa, 2004, Hukum Dagang, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Siamat, Dahlan, 2005, Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan

Perbankan, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Simatupang, Richard Burton, 2003, Aspek Hukum dalam Bisnis, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, 2007, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Triandaru, Sigit dan Totok Budisantoso, 2006, Bank dan Lembaga Keuangan Lain, Penerbit Salemba Empat, Yogyakarta.


(5)

Zuriah, Nurul, 2006, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, PT. Bumi Aksara, Jakarta.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang Indonesia

Undang-Undang No. 40 Tahun 2014 tentang Usaha Perasuransian

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2008 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 223/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Perizinan Perusahaan Asuransi dan Reasuransi

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 225/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Penyelenggaraan Usaha Asuransi dan Reasuransi

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 226/KMK.017/1993 tanggal 26 Februari 1993 tentang Perizinan dan Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Penunjang Usaha Asuransi

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1251/KMK.013/1988 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Lembaga Pembiayaan

Peraturan Presiden RI No. 9 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan atas penyempurnaan Keputusan Presiden No. 61 Tahun 1988

WEBSITE

Rinaldi Santoso, “Pembiayaan Konsumen”,

“Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance”


(6)

JURNAL, SKRIPSI DAN TESIS Annual Report PT. Summit Oto Finance. Annual Report PT. Asuransi Sinar Mas.

Didik Ngudi Utomo, “Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan Konsumen dan Penyelesaian Masalahnya di Kota Semarang”, Tesis Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2005.

Inda Dian Mayasari, “Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Sepeda Motor Pada PT. Federal International Finance (FIF) Kota Pematangsiantar”, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2010.

Rifky Firmansyah, ”Pelaksanaan Perjanjian Pembiayaan Konsumen Pada PT. Andalan Finance Indonesia Semarang”, Tesis Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang, 2010.


Dokumen yang terkait

Tinjauan Yuridis Perjanjian Kerjasama Pt.Indonesia Asahan Aluminium Dengan Pt.Putra Tanjung Lestari Dalam Pengandaan Tenaga Keeja Outsourcing Setelah Pt.Inalum Bumn

1 53 110

Tinjauan Yuridis Perjanjian Pemborongan Pekerjaan Pengadaan Jenis Ikan Nilai Ekonomi Tinggi Antara Dinas Pertanian Kota Tebing Tinggi Dengan CV. Avansa

0 51 113

Tinjauan Yuridis Terhadap Penyelesaian Kredit Macet Atas Kejadian Meninggalnya Debitur (Studi pada PT. Bank Panin,Tbk Cabang Pembantu Tebing Tinggi

1 100 90

Perlindungan Hukum Terhadap Konsumen (Debitur) Dalam Perjanjian Leasing (Studi Pada PT. WOM Finance).

20 186 93

“Tinjauan Yuridis Perjanjian Pemborongan Pekerjaan antara PT. Bank Central Asia, Tbk dengan PT. Dana Purna Investama (Studi Penelitian pada PT. Bank Central Asia, Tbk Kanwil V Medan)

4 73 109

Tinjauan Yuridis Perjanjian Kerjasama Pengadaan Armada Kendaraan Bus Wisata Antara PT. Lingga Jati Al Manshurin Dengan P.O. Karona

2 56 102

Perlindungan Hak-Hak Tertanggung Dalam Perjanjian Asuransi (Studi Pada Asuransi Takaful Keluarga Medan)

2 32 137

PELAKSANAAN PERJANJIAN ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR PADA PT. ASURANSI SINAR MAS CABANG PADANG.

0 0 10

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut - Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi Pt Asuransi Sinar Mas Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen(Studi Pada Pt. Summit Oto Finance Tebing Tin

0 0 19

Tinjauan Yuridis Terhadap Peranan Asuransi Pt Asuransi Sinar Mas Dalam Perjanjian Pembiayaan Konsumen(Studi Pada Pt. Summit Oto Finance Tebing Tinggi)

0 0 10