Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Penistaan Agama Menurut Hukum Islam Dan Hukum Positif : Analisis Yurisprudensi Terhadap Perkara Yang Bermuatan Penistaan Agama

(1)

SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

( Analisis Yurisprudensi Terhadap Perkara yang Bermuatan Penistaan Agama ) Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh : AHMAD RIZAL NIM : 104043201345

KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1430 H / 2009 M


(2)

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul “SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF (ANALISIS YURISPRUDENSI PERKARA YANG BERMUATAN PENISTAAN AGAMA)” ini telah diajukan dalam sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 2 Juni 2009. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum (Konsentrasi Perbandingan Hukum).

Jakarta, 2 Juni 2009 Mengesahkan Dekan,

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM NIP. 150 210 422

PANITIA UJIAN MUNAQASYAH

Ketua : Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH, MA, MM (………….…….)

NIP : 150 210 422

Sekretaris : Dr. H. Muhammad Taufiqi, M.Ag (……….….)

NIP : 150 290 159

Pembimbing I : Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, M.Ag (……….….) NIP : 150 275 509

Pembimbing II : Nahrowi, SH., MH (……….….) NIP : 150 293 227

Penguji I : Asep Saepuddin Jahar, MA., Ph. D (……….….) NIP : 150 276 211

Penguji II : Dr. Fuad Thohari, M.Ag (……….….) NIP : 150 299 934


(3)

SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

(Analisis Yurisprudensi Perkara yang Bermuatan Penistaan Agama) SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh Ahmad Rizal NIM : 104043201345

Di Bawah Bimbingan

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, M. Ag Nahrowi, SH., MH

NIP. 150 275 509 NIP.150 293 227

KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM

PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA


(4)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi dari Allah SWT dan sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 24 Rabiul Akhir 1430 H 20 April 2009


(5)

KATA PENGANTAR

Tanpa petunjuk dan kekuatan yang diberikan oleh Allah Tuhan Yang Maha Kuasa proses studi dan skripsi ini tidak lah mungkin terselesaikan. Sehingga penulis memohon kepada Sang Maha Bijaksana lagi Maha Pemberi Jalan mudah-mudahan skripsi ini juga bagian dari ibadah yang kelak akan mendapat balasan yang setimpal dan bermanfaat bagi semuanya.

Shalawat dan salam juga selalu terlafalkan kepada pencetus revolusi dunia, Muhammad SAW dengan ajaran yang universal menuntut ummat manusia kejalan yang lurus dan benar.

Penulis juga banyak sekali berhutang pada seluruh pihak yang selama ini membantu baik secara langsung maupun dengan dorongan moral yang tak terhargakan sampai kapan pun dan dengan apapun. Mudah-mudahan suatu saat nanti penulis dapat membalas dengan sesuatu yang pantas. Sehingga rasa terimakasih penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM., sebagai Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak DR. K. H. Ahmad Mukri Aji, MA., MH., sebagai Ketua Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum dan Bapak DR. H. Muhammad Taufiki, M.Ag., sebagai Sekretaris Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum.


(6)

3. Bapak Dr. H. Mujar Ibn Syarif, M. Ag dan Nahrowi, SH, MH., sebagai Pembimbing, terima kasih atas bimbingan, kesabaran keramahan hati serta nasehat-nasehat berharga yang bapak berikan.

4. Pimpinan Perpustakaan Umum dan Syari’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta beserta staf, yang telah memberikan penulis fasilitas untuk mengadakan studi perpustakaan.

5. Yang tercinta kedua orang tuaku, Bpk. Sukiswo dan ibunda tercinta, Ibu. Casri, yang tak pernah henti berdoa untukku. Kemudian kepada Kakak-kakakku, Alimi, Fitria Suciati, Hikmiatun, Nurseha, Seati, Sahuri (Alm), Nurcholis, tidak lupa pula keponakanku tercinta, Ajeng, Aliqa, Deby, Dhini, Dinda, Essa, Fajar, Icha, Tegar, Najma, dan saudara-saudaraku yang telah membantu baik secara langsung maupun dengan dorongan moral yang tak terhargakan sampai kapan pun dan dengan apapun, terima kasih yang tak terhingga, do’a dan kasih sayang kalian yang telah membuat penulis semangat dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah senantiasa memberi keberkahan kepada kalian semua.

6. Terima kasih Untuk Guruku KH. E. Fachruddin Masthuro, selaku Pimpinan Pondok Pesantren Almasthuriyah, yang selalu mengingatkan saya dalam segala hal. Kemudian kepada Guru-guruku yang penulis tidak bisa sebutkan namun tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada beliau.

7. Kepada kawan-kawan seperjuanganku di kelas PH periode 2004 : Eka, Hendra Hidayat, SH.I, Syamsul Rizal MZ, SH.I, Oyok Toli Salim, SH.I, dan


(7)

teman-teman yang lain semua mudah-mudahan persahabatan kita akan terjalin untuk selamanya.

8. Kepada sahabat-sahabat setiaku (Rantang), Madinah, SH.I, Makdum, Musthopa, Nessa Khoirunnisa, SE, Saipul dan Sulton,S.Sos.I, terima kasih atas motivasinya dan doa yang selama ini kalian berikan, mudah-mudahan tali sillaturahmi kita tetap terjalin untuk selamanya.

9. Spesial untuk seorang wanita dengan nama Riana Intan, S.IP, yang tidak pernah berhenti mengingatkan dan memberikan semangat kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini, saya tidak akan melupakan jasamu. Semoga Allah SWT menjadikan orang yang sukses serta bermanfaat.

10.Dan terakhir buat teman-taman “Centro Margo City” khususnya untuk F.A Children, Adet, Ade Wahyu, Anita, Dhani, Ela, Egi, Margi, Nurlaela. Juga buat ex F.A Mens Apparel, Ari, Dedi, Rahman, Vina, Wita, Yudi. Terima kasih, kalian semua adalah penyemangat hidup bagiku. Tidak lupa juga buat team ROHIS “Centro Margo City” Abay, Haris, Irman, Juni, Mail, Mugi, Sofyan, Semoga Allah SWT menjadikan kalian orang yang sukses.

Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, penulis menghaturkan terima kasih dan semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah kalian berikan. Amin.

Jakarta, 24 Rabiul Akhir 1430 H 20 April 2009 M


(8)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

D. Metode Penelitian ... 9

E. Review Studi Terdahulu ... 10

F. Sistematika Penulisan... 11

BAB II SANKSI PIDANA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Pengertian Sanksi Pidana ... 13

B. Macam-Macam Sanksi Pidana ... 14

C. Sistem Sanksi Pidana ... 23

D. Prinsip dan Tujuan Sanksi Pidana ... 28

BAB III SANKSI PIDANA DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF A. Pengertian Sanksi Pidana ... 31


(9)

C. Sistem Sanksi Pidana ... 43

BAB IV SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

A. Pengertian Penistaan Agama ... 48 B. Dasar Hukum Larangan Penistaan Agama ... 50 C. Unsur-Unsur Penistaan Agama... 56 D. Sanksi Pidana yang diberikan Terhadap Pelaku Penistaan Agama

Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif ... 57 E. Analisis Yurisprudensi Beberapa Perkara yang Bermuatan

Penistaan Agama... 63

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan... 86 B. Saran... 88

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hukum adalah semua aturan yang mengandung pertimbangan kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman bagi penguasa-penguasa negara dalam melakukan tugasnya.1

Perjalanan manusia untuk melaksanakan amanah tidaklah mulus. Berbagai rintangan, ujian, dan godaan menghadang ditengah jalan. Perjuangan manusia semakin berat karena harus berhadapan dengan musuh yang tidak terlihat. Musuh-musuh ini seringkali menipu daya manusia dengan perkataan-perkataan yang indah.

Firman allah dalam Al-Qur’an:

!"

#$

%

' ()

*+,

-.

* /0

12 345

7

89: ;<

=

7

>?@

A1/B<.

C DE F

8

1/B

G

%

H7 C

I

:/

B

K

12

+1C

B

I

L

M N.O 0

Artinya: Dan demikianlah kami jadikan tip-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jenis jin, sebahagian mereka membisikan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. Al-An’am (6) :112)

1

C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), cet. 8. h.36


(11)

Agama Islam adalah agama yang membawa rahmat seluruh alam. Untuk mewujudkannya harus ada norma yang menjadi aturan, dalam agama islam norma tersebut dikenal dengan istilah syariah, yaitu suatu tatanan aturan kehidupan yang mengatur hubungan antara manusia dan sesamanya juga hubungan antara manusia dan tuhannya. Istilah syariah ini sebenarnya dalam kajian hukum Islam lebih menggambarkan kumpulan norma-norma hukum yang merupakan dari proses tasyrî’. Dalam istilah para ulama fiqh tasyrî’ bermakna menetapkan norma-norma hukum untuk menata kehidupan manusia baik hubungan manusia dengan tuhannya maupun dengan sesamanya.2

Syari’at yang dimaksud di sini adalan syariah yang mencakup ketentuan-ketentuan Allah dan rasulnya dan norma-norma hukum hasi kajian ulama mujtahid untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia. Inilah yang terkenal dengan Maqâsîd al-Syariah (tujuan perundang-undangan) dalam hukum Islam.

Dari uraian di atas terlihat bahwa hukum Islam sangat menjaga dan memelihara urusan-arusan yang berkaitan dengan keyakinan (agama), hal itu terlihat dimana urusan tentang pemeliharaan agama di tempatkan pada urusan-urusan yang dharuri (adanya adalah mutlak), untuk itu setaip tindakan berkaitan dengan hal ini sangat diperhatikan misalnya hukum murtad (penyelewengan akidah).

Untuk menghadapi fenomena berkembangnya aliran-aliran kepercayaan baru dalam masyarakat, kita tidak harus menanggapinya secara emosional dan reaktif

2

Muhammad Faruq Nabhan, al-Madkhal li al-Tasyri’I al-Islami, (Beirut: Dar al-Qolam, 1981), h. 11


(12)

dengan prasangka-prasangka yang tidak berdasar (tanpa melihat akar permasalahan) yang ada. Kita seharusnya lebih arif dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan, teror, acaman serta pengucilan, bukanlah jalan keluar yang baik. Menghancurkan, bahkan membunuh mereka yang dianggap sesat tanpa memperbaiki kondisi kesemrawutan bangsa kita dari segala aspek, hanya akan melahirkan kesesatan baru yang mungkin jauh lebih berbahaya.

Kemunculan nabi-nabi palsu kini banyak menyeret umat yang lemah iman. Mereka yang lapar dan haus akan nilai-nilai religius lebih menyukai jalan pintas ke surga. Ironisnya, kepada para nabi palsu itu mereka gantungkan sejuta harapan akan ke surga dan kedamaian. Padahal surga yang ditawarkan oleh nabi palsu itu adalah surga yang palsu pula3.

Bagi orang-orang yang beriman soal kenabian adalah ajaran yang sudah final. Muhammad adalah nabi yang terakhir dan tidak ada nabi lagi setelah beliau. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an:

PI

QR

F STU

V

G

7 W

: W

,

XI

12

R

,ZC

,[ $B

A/ \'C

]G

?^B

?

?,`Za;bP

QR

cG

;7

d e

]

fTa;

Artinya : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tatapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Ahzab (33) : 40)

3


(13)

Sedangkan dalam hukum positif sebagai perwujudan aturan hukum untuk mencapai kehudupan masyarakat yang damai dan sejahtera meliputi perlindungan hukum terhadap hak-hak dasar warga negara, misalnya bidang agama. Hal itu sesuai dengan sila pertama Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi “Negara Berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sebagai dasar negara yang mengakui keberadaan berbagai macam kepercayaan (agama), jaminan kebebasan beragama ditujukan agar masyarakat Indonesia dapat memilih menentukan keberagamaan mereka masing-masing tanpa intimidasi dari pihak manapun. Disebutkan pula bahwa setiap umat beragama bebas untuk menjalankan tata cara beribadah menurut agama yang dianutnya. Hal ini senada dengan Azas kebebasan berkeyakinan yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat (2) : “Negara manjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Pasal 28E ayat (1) menyebutkan, “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”. Ayat (2) pasal 28E menegaskan,”Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”, Artinya seseorang dijamin kebebasannya untuk melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agama dan kepercayaannya.


(14)

Tetapi perdebatan tentang penistaan atau penodaan agama senantiasa aktual, baik dalam hukum Islam maupun positif, khususnya yang diatur dalam KUHP. Sebut saja dalam komunitas umat Islam muncul aliran Salamullah yang di pimpin oleh Lia Aminuddin (Lia Eden) Alias Syamsuruati, al-Qiyadah al-Islamiyah yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq, aliran-aliran tersebut dianggap menyelewengkan nilai-nilai dasar akidah Islam yang benar, hal ini juga dilegitimasi dengan keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang sesatnya aliran tersebut.4

Bukan hanya itu, peraturan tentang penodaan terhadap agama di Indonesia diatur melalui instrumen Penetapan Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan atau Penodaan Agama. Ketentuan yang lebih dikenal dengan UU PNPS No. 1 Tahun 1965 ini sangat singkat isinya, karena hanya berisi 5 Pasal.5

Pasal 1 ketentuan ini menyatakan bahwa “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan agama yang menyerupai kegiatan-kegiatan

4

MUI berdiri pada 26 juli 1975 berasaskan Islam, berkedudukan di Ibu kota Negara, bersifat keagamaan, kemasyarakatan, dan independent. Organisasi ini berfungsi sebagai wadah musyawarah, forum silaturahmu para ulama, zuama dan para cendikiawan muslimyang mengayomi umat dan mengembangkan kehidupan yang Islami, demokratis, akomodatif, dan insfiratif. Selain itu merupakan wadah yang mewakili umat Islam dalam hubungan dan konsultasi antar umat beragam sekaligus pemberi fatwa terhadap umat Islam baik diminta atau tidak diminta. Lihat pedoman organisasi Majelis Ulama Indonesia tahun 2001, h. 17-19

5

http://planetaswan.blogspot.com/2008/05/beragama-dan-kebebasan-tak berbatas.htmlabel:


(15)

keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 1 ini tidak bisa langsung dilakukan upaya hukum dalam bentuk upaya penuntutan secara hukum. UU ini mengatur bahwa setiap orang yang melanggar pasal 1 tersebut, maka ia akan diberikan perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) dari Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri.

Apabila setelah dikeluarkannya SKB tersebut, pelanggaran tersebut masih berulang dilakukan, maka jika pelanggaran itu dilakukan oleh organisasi atau aliran kepercayaan, maka Presiden dapat membubarkan organisasi tersebut dengan pertimbangan dari Menteri Agama, Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri apabila orang/organisasi tersebut masih melakukan penodaan agama, maka orang atau anggota, dan atau pengurus organisasi tersebut dapat dipidana selama-lamanya 5 tahun.

Undang-undang ini juga memperkenalkan bentuk tindak pidana baru yaitu tindak pidana penodaan agama ke dalam KUHP dalam Pasal 156 a. Namun, penggunaan Pasal 156 a KUHP tetaplah tidak bisa dilakukan secara langsung, namun harus dilakukan melalui beragam tindakan administratif pendahuluan.


(16)

Pasal 156 a KUHP

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan :

a. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia

b. dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.6

Dari latar belakang masalah di atas penulis tertarik ingin menuangkannya dalam bentuk skripsi yang diberi judul “Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Penistaan Agama Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif (Analisis Yurisprudensi Perkara yang Bermuatan Penistaan Agama)”.

B. Pembatasan Dan Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah maka dapat diidentifikasikan ada beberapa yang dipermasalahkan dalam skripsi ini di antaranya :

1. Bagaimana sanksi pidana terhadap pelaku penistaan agama menurut hukum Islam ?

2. Bagaimana sanksi pidana terhadap pelaku terhadap penistaan agama menurut hukum positif ?

3. Apakah yurisprudensi perkara yang bermuatan penistaan agama yang ada di Indonesia sudah relevan dengan hukum Islam ?

6

Moeljatno, Kitab undang-undang hukum pidana, (Bandung: PT Bumi Aksara, 2001), cet. 21, h. 59


(17)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji kebenaran suatu objek penelitian. Mengembangkan berarti mengkaji lebih dalam yang sudah berlaku. Sedangkan menguji kebenaran dilakukan jika terdapat terhadap apa yang sudah ada sebelumnya.

Dari penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis sendiri dalam memperluas wawasan keilmuan khususnya bidang ilmu hukum. Di samping itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam memecahkan permasalahan di bidang hukum serta mengetahui mengenai pandangan hukum Islam dan hukum positif (KUHP) tentang penistaan agama yang berkembang di masyarakat Indonesia, karena itu merupakan cermin nilai-nilai aqidah yang diyakini oleh masyarakat. Secara khusus penelitian ini bertujuan :

1. Dapat mengetahui bagaimana penerapan sanksi pidana terhadap pelaku penistaan agama menurut hukum Islam.

2. Untuk mengetahui sanksi pidana terhadap pelaku penistaan agama menurut hukum positif.

3. Untuk memahami atau mengetahui kesesuaian yurisprudensi perkara yang bermuatan penistaan agama dengan hukum Islam.


(18)

Manfaat penelitian di sini bertujuan :

1. Menyumbangkan pemikiran sebagai hasil kegiatan penelitian berdasarkan prosedur, ilmiah, serta melatih kepekaan penulis terhadap masalah yang penulis paparkan.

2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat untuk lebih mengetahui tentang penistaan agama sehingga terhindar dari praktek penistaan agama.

3. Untuk menjelaskan tentang penistaan agama dalam ruang lingkup hukum Islam dan undang-undang serta akibat dan penerapan hukumnya dalam kehidupan masyarakat.

D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan pada skripsi ini adalah Penelitian kepustakaan (library reseach), yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengkaji, buku-buku, artikel, jurnal dan lain-lain yang ada relevansinya dengan tema skripsi ini.

Metode yang berikutnya yaitu penelitian analisis isi, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa kasus yang ada relevansinya dengan tema yang ada pada skripsi ini, dalam hal ini penulis menganalisa putusan yang kasusnya berada di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Teknik penulisan skripsi ini mengacu pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta 2007”.


(19)

1. Teknik Analisa Data

Penelitian menggunakan penelitian yang dihimpun dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan obyek penelitian ini dengan berusaha mencari gambaran dengan cara mengumpulkan data dan kemudian dijelaskan dengan analisa serta dikaji berdasarkan teori dari berbagai sumber dan konsep dari para ahli sesuai dengan permasalahan utama sehingga menjadi suatu pembahasan yang sistematis untuk memperoleh hasil atau kesimpulan materi yang dapat diterima kebenarannya.

Sumber data penelitian ini terbagi pada dua sumber, yaitu: sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer dari Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber hukum Islam dan dengan penjabaran pendapat dari para Ulama. Kemudian pijakan hukum positifnya dari materi perundang-undangan yang terkait. Yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 156 a. Sedangkan sumber sekunder, diambil dari karya ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan sanksi pidana terhadap pelaku penistaan agama.

D. Review Studi Terdahulu

Dari data katalog yang penulis cari, ada satu skripsi yang pembahasannya hampir sama dengan yang penulis bahas, skripsi tersebut berjudul Penodaan Agama ditinjau dari Hukum Islam dan KUHP (Studi Kasus Aliran Jamaah Salamullah) yang ditulis oleh Nurhasan, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2008. Dalam skripsi ini dia membahas penodaan agama menurut hukum Islam dan KUHP, tinjauan umum tentang agama menurut hukum Islam dan hukum positif,


(20)

penodaan agama menurut hukum Islam dan hukum positif, kemudian menganalisa kasus aliran jamaah Salamullah.

Yang membedakannya dengan skripsi yang akan penulis bahas adalah bahwa skripsi yang akan penulis bahas akan memaparkan bagaimana sanksi pidana terhadap pelaku penistaan agama dan juga akan membahas penistaan agama menurut hukum Islam dan hukum positif, serta akan menganalisis yurisprudensi perkara yang bermuatan penistaan agama, dalam hal ini penulis mengambil kasus aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dan aliran jamaah Salamullah.

E. Sistematika Penulisan

Dalam sistematika penyusunan, penulis membagi pembahasannya menjadi lima bab, selanjutnya dari tiap bab dirinci menjadi sub-bab, dengan susunan sebagai berikut :

BAB I : Pendahuluan. Dalam bab ini berisikan berupa latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II :Sanksi Pidana dalam Perspektif Hukum Islam. Pokok bahasan dalam bab ini tentang beberapa pengertian sanksi pidana, macam-macam sanksi pidana, sistem sanksi pidana, prinsip dan tujuan sanksi pidana.

BAB III : Sanksi Pidana dalam Perspektif Hukum Positif. Uraian bab ini tentang beberapa pengertian sanksi pidana, macam-macam sanksi pidana, sistem sanksi pidana.


(21)

BAB IV : Sanksi Pidana Terhadap Pelaku Penistaan Agama Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif. Dalam bab ini menguraikan bagaimana sanksi pidana yang diberikan terhadap pelaku penistaan agama menurut hukum Islam dan hukum positif, serta analisis yuriprudensi perkara yang bermuatan penistaan agama.

BAB V : Penutup. Bab ini berupa kesimpulan, saran, dan berupa daftar pustaka.


(22)

BAB II

SANKSI PIDANA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

A. Pengertian Sanksi (uqûbah)

Menurut Ahmad Fathi Bahasni sanksi (uqûbah) berarti balasan berbentuk ancaman yang ditetapkan syar’i (Allah) untuk mencegah terhadap perbuatan-perbuatan yang dilarangnya dan perbuatan-perbuatan meninggalkan yang ia perintahkan.7

Sedangkan Abdul Qadir Audah mendefinisikan sanksi atau hukuman adalah balasan yang telah ditentukan untuk kepentingan orang banyak atas perbuatan melanggar perintah Allah SWT.8

Di dalam kitabnya “Fatawa”, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa disyariatkan hukuman merupakan rahmat dari Allah SWT untuk manusia yang timbul sebagai rasa kasih sayangnya terhadap makhluk. Oleh karenanya adalah wajar Allah menjatuhkan hukuman terhadap perbuatan dosa dengan maksud berbuat baik kepada manusia. Maka ancaman, siksaan yang dijatuhkan dimaksudkan untuk mendidik pelakunya demi merealisasikan kemaslahatan umum.

7

A. Fathi Bahasni, al- Uqubah fi al-fiqh al-Islami, (Beirut: Dar al-syuruq, 1983), cet. Ke-V, h. 13

8

Abdul Qadir Audah, al-Tasyri’ al-Jinai al-Islami, (Beirut: Muassah al-Risalah, 1992), cet. Ke-II, Juz 1, h. 812


(23)

B. Macam-Macam Sanksi (Uqûbah)

Hukuman dapat dibagi menjadi beberapa golongan menurut segi tinjauannya:

1. Berdasarkan Pertalian Satu Hukuman dengan lainnya a. Hukuman Pokok (al-‘Uqûbah al-Asliyyah)

Hukuman pokok yaitu hukuman pokok yang telah ditetapkan pada satu tindak pidana, seperti hukuman qisas bagi tindak pidana pembunuhan, hukuman rajam bagi tindak pidana zina, dan hukuman potong tangan bagi tindak pidana pencurian.9

b. Hukuman Pengganti (al-‘Uqûbah al-Badaliyah)

Hukuman pengganti yaitu hukuman yang menggantikan hukuman pokok apabila hukuman pokok tidak dapat dilaksanakan karena adanya alasan yang syar’i, seperti hukuman diyat sebagai pengganti hukuman qisas dan hukuman ta’zîr sebagai pengganti hukuman hudûd dan qisas.

Pada dasarnya hukuman pengganti adalah hukuman pokok sebelum berubah menjadi hukuman pengganti. Hukuman ini dianggap sebagai hukuman pengganti hukuman yang lebih berat yang tidak bisa dilaksanakan. Diyat adalah hukuman pokok pada tindak pidana pembunuhan semi sengaja, tetapi ia dianggap sebagai hukuman pengganti pada tindak pidana qisas. Ta’zîr juga adalah hukuman pokok untuk tindak pidana ta’zîr, tetapi menjadi hukuman pengganti pada tindak pidana

9

Ahsin Sakho Muhammad, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, (Jakarta: PT. Karisma Ilmu, 2007), cet. Ke-I, jilid III, h. 39


(24)

hudûd dan qisas apabila hukuman keduanya tidak dapat dilaksanakan karena adanya alasan yang syar’i.

c. Hukuman Tambahan (al’Uqûbah al-Tabâ’iyyah)

Hukuman tambahan yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok tanpa memerlukan keputusan tersendiri. Contohnya, larangan menerima warisan bagi pembunuh. Larangan menerima waris ini adalah konsekuensi atas penjatuhan hukuman mati terhadap pembunuh. Contoh lainnya, dicabutnya hak sebagai saksi terhadap pelaku qazaf. Hukuman ini tidak harus dikeluarkan melalui putusan hukuman, tetapi cukup dengan adanya putusan penjatuhan hukuman qazaf.

d. Hukuman Pelengkap (Taklîmiyyah)

Hukuman pelengkap yaitu hukuman yang mengikuti hukuman pokok dengan adanya putusan tersendiri dari hakim.10

Hukuman pelengkap sejalan dengan hukuman tambahan karena keduanya merupakan konsekuensi/akibat dari hukuman pokok. Perbedaan keduanya: hukuman tambahan tidak mensyaratkan adanya putusan tersendiri dari hakim, sedangkan hukuman pelengkap mensyaratkan adanya putusan tersebut. Contoh hukuman pelengkap adalah mengalungkan tangan pencuri yang telah dipotong ke lehernya. Hukuman pengalungan ini baru boleh dilakukan setelah dikeluarkannya putusan hukuman tersebut.

4


(25)

2. Berdasarkan Kekuasaan Hakim dalam Menentukan Bentuk dan Jumlah Hukuman

Dalam hal ini ada dua macam hukuman, yaitu sebagai berikut: a. Hukuman yang hanya memiliki satu batas

Artinya tidak memiliki batas tertinggi atau batas terendah. Hukuman ini tidak dapat dikurangi atau ditambah meskipun pada dasarnya bisa ditambah atau dikurangi. Contohnya, pencelaan, teguran, nasihat, atau cambukan yang ditetapkan sebagai hukuman hudûd (seperti hukuman dera sebagai hukuman hudûd sebanyak delapan puluh kali atau seratus kali). b. Hukuman yang memiliki dua batas (Batas Tertinggi atau Terendah)

Dalam hal ini hakim diberi kebebasan untuk memilih hukuman yang sesuai antara kedua batas tersebut. Contohnya hukuman kurungan, cambuk atau dera dalam hukuman ta’zîr.

3. Berdasarkan Kewajiban Menjatuhkan Suatu Hukuman

Dalam hal ini ada dua macam hukuman, yaitu sebagai berikut: a. Hukuman yang telah ditentukan bentuk dan jumlahnya

Hukuman yang telah ditentukan bentuk dan jumlahnya yaitu hukuman yang telah ditetapkan jenisnya dan telah dibatasi oleh syar’i (Allah dan Rasul-Nya). Hakim wajib melaksanakannya tanpa boleh mengurangi, menambah, atau menggantinya dengan hukuman lain. Hukuman ini disebut juga dengan “uqûbah lazimah” (hukuman


(26)

keharusan) karena penguasa tidak boleh menggugurkan hukuman ini dan memaafkan pelaku tindak pidana dari hukuman ini.

b. Hukuman yang tidak ditentukan bentuk dan jumlahnya

Hukuman yang tidak ditentukan bentuk dan jumlahnya yaitu hukuman yang diserahkan kepada hakim untuk memilihnya dari sekumpulan hukuman yang ada dianggap sesuai dengan keadaan tindak pidana serta pelaku. Hukuman ini disebut dengan uqûbah mukhayyarah (hukuman pilihan) karena hakim berhak memilih diantara sekumpulan hukuman tersebut.

4. Berdasarkan Tempat dilakukannya Hukuman

Hukuman ini terbagi manjadi tiga, yaitu sebagai berikut: a. Hukuman badan (Uqûbah Badaniyah)

Yaitu hukuman yang dijatuhkan atas badan sipelaku, seperti hukuman mati, dera, dan penjara.

b. Hukuman jiwa (Uqûbah Nafsiyyah)

Yaitu hukuman yang dijatuhkan atas jiwa sipelaku. Contohnya hukuman nasihat, celaan, dan ancaman.

c. Hukuman harta (Uqûbah Mâliyyah)

Yaitu hukuman yang ditimpakan pada harta pelaku, seperti hukuman diyat, denda dan biaya administrasi.11

11


(27)

5. Berdasarkan Macamnya Tindak Pidana yang Diancamkan Hukuman

Adapun rincian hukuman-hukuman tersebut adalah sebagai terbut: a. Hukuman yang telah ditetapkan terhadap tindak pidana hudûd

Hukuman hudûd terbagi menjadi tujuh macam, sesuai dengan bilangan tindak pidana hudûd, yaitu:

1)Zina; 2)Qazaf;

3)Meminum minuman keras; 4)Mencuri;

5)Melakukan hirabah (gangguan keamanan); 6)Murtad;

7)Memberontak.

Hukuman yang ditetapkan terhadap segala tindak pidana tersebut disebut had (hudûd). Hudûd adalah hukuman yang telah ditetapkan sebagai hak Allah SWT atau hukuman yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan masyarakat. Dikatakan sebagai hak Allah karena hukuman ini tidak dapat digugurkan, baik oleh individu maupun masyarakat. Para fuqoha menjadikan suatu hukuman sebagai hak Allah SWT ketika kemaslahatan masyarakat menuntut demikian, yakni menghilangkan kerusakan dari manusia dan mewujudkan pemeliharaan dan ketentraman untuk mereka.12

6


(28)

1) Hukuman Zina

Dalam hukum Islam hukuman atas tindak pidana zina ada tiga: a) Jilid (cambuk atau dera);

b)Taghrîb (diasingkan); c) Rajam.

Hukuman dera dan pengasingan ditetapkan bagi pelaku zina gairu muhsan (belum pernah menikah), sedangkan rajam ditetapkan bagi pelaku zina muhsan (pelaku yang sudah melakukan hubungan seksual melalui pernikahan yang sah). Apabila keduanya gairu muhsan, hukumannya adalah dera dan dibuang, tetapi jika keduanya muhsan hukumannya adalah rajam. Apabila salah satunya muhsan sedangkan yang lain gairu muhsan, pelaku pertama dijatuhi hukuman rajam, sedangkan yang gairu muhsan dijatuhi hukuman cambuk.

2) Hukuman Qazaf (menuduh orang baik-baik malakukan zina tanpa bukti yang jelas/fitnah)

Dalam hukum Islam tindak pidana qazaf dikenai dua hukuman: a) Hukuman pokok berupan hukuman dera;

b) Hukuman tambahan berupa tidak diterima persaksian. Dasar hukum qazaf adalah firman Allah SWT

!g

R%G

Q/I1> 0

($

hieB T.

'2

^

e^B

K

/

 j 0

U

71C j;7

G

Uk4l


(29)

!"

n$

o ^

n

pq

K

/

.<B

12rsb

t

$Uk

l

7 W

8

uv$B

j wW

2

+

Q/4<[x$

O.

)

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS. An-Nur (24) :4)

3) Hukuman Meminum Minuman Keras a) Hukuman Dera13

Hukum Islam menjatuhkan hukuman delapan puluh kali jera bagi pelaku tindak pidana meminum minuman keras . Ini merupakan hukuman yang memiliki satu batas karena hakim tidak dapat mengurangi, menambahi, atau menggantinya dengan hukuman yang lain.

4) Hukuman Pencurian

a) Hukuman Potong Tangan (dan kaki)

Hukum Islam mengancamkan hukuman potong tangan (dan kaki) bagi pelaku tindak pidana pencurian. Apabila seseorang mencuri untuk kali pertama, yang dipotong adalah tangan kanannya, jika untuk kali kedua, yang dipotong adalah kaki kirinya. Tangan yang dipotong mulai dari persendian telapak tangan, sedangkan kaki yang dipotong mulai dari persendian mata kakinya.14

5) Hukuman Gangguan Keamanan (Hirâbah)

13

Ahsin Sakho Muhammad, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, h. 43 14


(30)

a) Hukuman Mati

Hukuman ini wajib dijatuhkan kepada pengganggu keamanan yang melakukan pembunuhan. Hukuman ini adalah hukuman hudud, bukan qisas, sehingga tidak bisa dimaafkan oleh wali korban.

b) Hukuman Mati disalib

Hukuman ini wajib dijatuhkan terhadap pengganggu keamanan yang melakukan pembunuhan dan perampasan harta. Jadi hukuman ini dijatuhkan atas pembunuhan dan pencurian harta sekaligus.15

c) Pemotongan Anggota Badan

Hukuman ini harus dijatuhkan kepada pelaku hirâbah (gangguan keamanan) jika ia mengambil harta, tetapi tidak melakukan pembunuhan. Yang dimaksud dengan pemotongan adalah memotong tangan kanan dan kaki kirinya sekaligus secara silang.

d) Hukuman Pengasingan

Hukuman ini ditetapkan bagi pelaku hirâbah apabila ia hanya menakut nakuti orang, tetapi tidak mengambil harta dan tidak membunuh.

e) Hukuman Tindak Pidana Murtad 1. Hukuman Mati

Hukum Islam menjatuhkan hukuman mati bagi pelaku murtad karena perbuatan itu ditujukan terhadap agama Islam sebagai sistem sosial masyarakat. Sikap menggampangkan dan ketidaktegasan dalam menghukum

15


(31)

tindak pidana murtad mengakibatkan terguncangnya sistem masyarakat tersebut. Karena itu, tindak pidana ini dijatuhi hukuman terberat untuk menumpas para pelakunya untuk melindungi masyarakat dan sistem sosial mereka dari satu sisi sebagai peringatan dan pencegahan umum dari sisi lainnya.16

2. Perampasan Harta

Hukuman tambahan bagi pelaku tindak pidana murtad adalah perampasan harta pelakunya. Para fuqoha berbeda pendapat tantang cara perampasan ini;. Menurut mazhab Maliki, Syafi’i, dan pendapat yang kuat dari mazhab Hanbali, seluruh harta benda orang murtad dirampas. Sedangkan menurut mazhab Abu Hanifah dan didukung oleh pendapat yang tidak kuat dalam mazhab hanbali, hanya harta yang didapat dari pelaku murtad, sedangkan harta yang didapat dari sebelum ia murtad diberikan kepada ahli warisnya yang beragamaIslam.

f) Hukuman Pemberontakan

Tindak pidana pemberontakan ditujukan kepada sistem hukum dan pelaksanaannya. Dalam hal ini hukum Islam bersikap keras karena apabila bersikap memudahkan, akan timbul fitnah, kekacauan, dan ketidak stabilan dan pada akhirnya akan menyebabkan kemunduran dan kehancuran masyarakat umum. Tidak diragukan lagi bahwa hukuman mati adalah hukuman yang paling

10


(32)

mampu mencegah manusia dari melakukan tindak pidana ini yang biasanya didorong oleh keserakahan serta mencintai kemuliaan dan kekuasaan.

C. Sistem Sanksi Pidana dalam Hukum Islam

Dalam hukum Islam perbuatan yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau masyarakat, baik anggota badan maupun jiwa, harta benda, perasaan, keamanan, dapat dikatakan sebagai perbuatan jarimah.

Dalam hukum Islam tujuan pokok dari penjatuhan hukuman ialah pencegahan (ar-rad’u waz-zajru), pengajaran serta pendidikan (al-islah wat-tahzîb).17 Adapun yang dimaksud pencegahan ialah mencegah diri sipelaku untuk tidak mengukangi perbuatannya dan mencegah diri orang lain dari perbuatan yang demikian. Dalam hukum Islam, penjatuhan hukuman juga bertujuan membentuk masyarakat yang baik yang dikuasai rasa saling menghormati dan mencintai antara sesama anggotanya dengan mengetahui batas-batas hak dan kewajibannya.

Ditinjau dari perbuatannya, tindak pidana (jarîmah) dibedakan menjadi:

1. Jarimah Hudûd

Jarimah Hudûd yaitu, hukum yang diancam dengan had dan lebih ditentukan oleh syara, dan menjadi hak Allah. Hukuman tersebut telah ditentukan oleh syara dan tidak ada batas minimal dan maksimal, maka hukuman ini tidak bisa dilepaskan oleh

11

A. Hanafi, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1967), cet. Ke-1, h. 279


(33)

perseorangan (orang yang menjadi korban atau keluarganya) atau masyarakat yang diwakili oleh Negara.

Hukuman had merupakan hak Allah yang tidak dapat dimaafkan dan dihapuskan oleh manusia. Macam-macam tindak pidana hudûd adalah:

a. Tindak Pidana Riddah (murtad) ; b. Tindak Pidana Hirâbah;

c. Tindak Pidana Bughât; d. Tindak Pidana perzinahan; e. Tindak Pidana Qazaf ; f. Tindak Pidana pencurian;

g. Tindak Pidana konsumsi khamar (Syurb al-khamar).

Adapun macam-macam hukuman dari tindak pidana (jarîmah) hudûd yaitu: a. Hukuman mati, hukuman ini dijatuhkan kepada pelaku jarimah hirâbah

yang melakukan pembunuhan.

b. Hukuman cambuk, hukuman ini dijatuhkan kepada pelaku zina yang belum kawin dengan sebanyak seratus kali cambuk dan sebanyak delapan pulih kali cambuk kepada yang melakukan tuduhan palsu zina terhadap orang lain.18

c. Hukuman rajam, yaitu hukuman mati dengan cara lempar batu. Hukuman ini dijatuhkan kepada pelaku zina muhsan (sudah kawin) baik laki-laki maupun perempuan.

18


(34)

2. Jarimah Qisâs dan Diyat

Qisas bisa diartikan sebagai pembalasan setimpal dengan perbuatannya. Qisas merupakan hukuman yang sesuai dengan rasa keadilan masyarakat, dimana perbuatan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya. Untuk terwujudnya keamanan dan ketertiban, hukuman qisâs dapat lebih menjamin. Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin membedakan tindak pidana qisas dan diyat berupa:

a. Pembunuhan dengan jalan sengaja. Ada tiga macam hukuman ialah hukuman pokok, hukuman pengganti, dan hukuman tambahan.

1) Hukuman pokok dari pembunuhan dengan sengaja ialah berupa: Qisas, membayar diyat dan ta’zîr;

2) Hukuman pengganti ialah berupa: Membayar diyat, berpuasa dua bulan berturut-turut dan diberi ta’zîr;

3) Hukuman tambahan ialah berupa: Terlarangnya hak waris mewarisi dan terlarangnya menerima wasiat.

b. Pembunuhan serupa disengaja (semi sengaja) hukumannya ialah: 1) Hukuman pokok ialah berupa: Membayar diyat;

2) Hukuman pengganti ialah berupa: Diberi ta’zîr dan berpuasa dua bulan berturut-turut;

3) Hukuman tambahan ialah berupa: Terlarangnya waris mewarisi dan menerima wasiat dari yang terbunuh.


(35)

1) Hukuman pokok ialah berupa: membayar diyat;

2) Hukuman pengganti ialah berupa: ta’zîr dan berpuasa dua bulan berturut-turut;

3) Hukuman tambahan ialah berupa: terlarangnya waris mewarisi dan menerima wasiat dari yang terbunuh.

3. Jarimah Ta’zir

Jarimah ta’zîr ialah pidana diluar had dan qisas/diyat dan hukuman itu dilaksanakan oleh penguasa dalam negara.

Adapun hukuman ta’zîr ialah:

a. Hukuman Mati: pada dasarnya hukuman ta’zîr adalah untuk memberi pelajaran dan tidak sampai membinasakan, oleh karena itu hukuman mati sebagai hukuman ta’zîr, merupakan suatu pengecualian dan hukuman tersebut tidak boleh diperluas atau diserahkan seluruhnya kepada hakim, dan menentukan jarimah yang dijatuhi hukuman;19

b. Hukuman Cambuk (jilid), merupakan hukuman pokok dalam syariat Islam, dimana untuk jarimah hudud sudah tentu jumlahnya, misalkan 100 kali untuk zina dan 80 kali untuk qazaf, sedang untuk jarimah ta’zîr tidak tertentu jumlahnya. Dan dalam ta’zîr hukuman cambuk lebih diutamakan; c. Hukuman Tahanan (penjara)

19

Ibnu Mas’ud dan Zainal Abidin, Fiqh Mazhab Syafi’i, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), cet. Ke-2, h. 325


(36)

Ada dua macam hukuman tahanan dalam syariat Islam, yaitu hukuman tahanan terbatas dan hukuman tahanan tidak terbatas. Hukuman tahanan terbatas yaitu: Batas hukuman terendah ini adalah satu hari, sedang batas setinggi-tingginya tidak menjadi kesepakatan. Dan hukuman tahanan tidak terbatas yaitu: sudah ditentukan masanya terlebih dahulu, melainkan dapat berlangsung terus sampai terhukum mati atau taubat dan baik pribadinya;20 d. Hukuman Pengasingan

Mengenai masa pengasingan dalam jarimah ta’zîr, maka menurut mazhab Syafi’i dan Ahmad tidak lebih dari satu tahun agar tidak melebihi masa pengasingan yang telah ditetapkan sebagai hukuman had, yaitu satu tahun juga. Menurut imam Abu Hanifah masa pengasingan bisa lebih dari satu tahun, sebab pengasingan disini adalah hukuman ta’zîr dan bukan hukuman had;

e. Hukuman Denda atau ganti rugi

Hukuman denda ditetapkan juga oleh Syariat Islam misalkan mengenai mencuri buah yang masih tergantung dipohonnya yang didenda dengan dua kali lipat dua kali harga buah tersebut.

20


(37)

D. Prinsip dan Tujuan Sanksi 1. Prinsip Dasar Sanksi

Perlu diperhatikan bahwa prinsip dasar sebuah sanksi dalam pandangan syariat terdiri dari dua prinsi dasar atau kaidah umum yaitu:21

a. Bertujuan memerangi segala bentuk tindak kejahatan, tanpa memperdulikan kondisi dan status pelaku.

Maksud dari memerangi segala bentuk kejahatan, bertujuan untuk menjaga kemaslahatan orang banyak dari segala tindak kejahatan.

b. Memperlihatkan kondisi dan status pelaku dengan tidak melupakan tujuan sanksi untuk memerangi segala bentuk kejahatan.

Maksudnya dengan memperlihatkan kondisi dan status pelaku, bertujuan sebagai pembenahan dan perbaikan baginya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dua kaidah dasar ini terdapat perbedaan yang mendasar, satu sisi menjaga kemaslahatan orang banyak dari pelaku kejahatan berarti tidak memperdulikan keadaan dan status pelaku, disisi lain memperhatikan kondisi dan status pelaku berarti akan meninggalkan penjagaan terhadap kemaslahatan orang banyak.

2. Tujuan Sanksi

Sanksi (Uqûbah) di dalam Islam telah terbukti mampu mencegah kejahatan, menjamin keamanan, keadilan dan ketenteraman bagi masyarakat. Sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap pelaku tindak kriminal berfungsi sebagai “jawâzir”

21

Abdul Qadir ‘Audah, al-Tasyri’ al-Jinâi al-Islâmi, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1992), cet. Ke-II, juz 1, h. 813


(38)

(pencegah), karena memiliki efek jera yang menghalangi orang lain untuk melakukan kejahatan yang sama.22 Selain sebagai pencegah sanksi juga bertujuan sebagai penebus dosa seorang muslim dari azab Allah SWT dihari kiamat.

Tujuan berlakunya sanksi terhadap siapa saja yang melanggar perintah Allah SWT adalah untuk memperbaiki perilaku hamba, menjaganya dari kerusakan , menyelamatkannya dari kebodohan, menunjukinya dari kesesatan, mencegahnya dari kemaksiatan dan menjadikannya taat dan patuh.23

Allah SWT menurunkan syariat-Nya dan mengutus para rasul-Nya adalah untuk memberikan pendidikan kepada sekalian manusia dan mengarahkannya kepada jalan yang benar. Ia menetapkan sanksi bagi siapa saja yang melanggar segala perintahnya untuk kemaslahatan mereka sendiri sekalipun mereka membencinya. Mencegahnya dari perbuatan yang sesat meskipun mereka menyukainya.

Oleh karena itu, penetapan sanksi adalah untuk memperbaiki perilaku setiap individu, menjaga dan mengatur kepentingan orang banyak. Allah SWT dalam menurunkan syariat-Nya berupa sekumpulan hukum-hukum, lalu memerintahkan kepada kita untuk melaksanakannya, tidak merasa dirugikan walaupun seluruh manusia di muka bumi ini melanggar segala perintahnya, begitu juga ia tidak

22

http//imankpr.multiply.com/journal/item/13/Hukuman Mati2, diakses pada tanggal 02-05-2009

23

Abdul Qadir ‘Audah, al-Tassyri’ al-Jinai al-Islami, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1992), Cet. Ke-II, juz 1, h. 812


(39)

diuntungkan walaupun seluruh manusia di muka bumi ini mematuhi segala perintahnya.

Sanksi pidana Islam yang diberlakukan tentu saja jika memenuhi ketentuan syari’at akan berfungsi sebagai penebus dosa. Dengan begitu pelakunya tidak akan disiksa di akhirat karena dosa kejahatan tersebut. Bagi orang yang mengimani kehidupan akhirat berikut pahala dan siksanya, sifat ini memberikan dorongan besar baginya untuk mengakui kejahatan yang ia perbuat sekaligus menjalani hukuman dsengan penuh kerelaan bahkan dengan kegembiraan.24

24

http//imankpr.multiply.com/journal/item/13/Hukuman Mati 2 , diakses pada tanggal 02-05-2009


(40)

BAB III

SANKSI PIDANA DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF

A. Pengertian Sanksi Pidana

Dalam membahas perihal hukum pidana, diantara persoalan penting yang mustahil dilewatkan begitu saja ialah perihal sanksi pidana atau hukuman dihubungkan dengan berat ringannya kejahatan maupun berkenaan dengan tujuan sanksi pidana dikaitkan dengan perlindungan terhadap masyarakat khususnya pihak korban.

Sanksi pidana terdiri dari dua kata sanksi dan pidana. Kata sanksi berarti tindakan (hukum) yang memaksa orang untuk menepati janji atau menaati hukum.25 Sedangkan kata pidana berasal dari bahasa Sanskerta dalam bahasa Belanda disebut “straf” dan dalam bahasa inggris disebut “penalty” artinya hukuman.26

Dalam kamus lain sanksi pidana bisa diartikan juga sebagai salah satu alat pemaksa guna ditaatinya suatu kaidah, undang-undang, norma-norma hukum.

25

Pius A Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), h. 692

26


(41)

Penegakan hukum pidana menghendaki sanksi hukum yaitu sanksi terdiri atas cerita khusus yang dipaksakan kepada si bersalah.27

B. Macam-Macam Sanksi Pidana (hukuman)

Menurut hukum positif sebagaimana yang tercantum dalam pasal 10 kitab undang-undang hukum pidana (KUHP), hukuman itu terdiri dari dua macam yaitu:

1. Hukuman Pokok

Yaitu hukuman yang dapat dijatuhkan bersama-sama pidana tambahan, dan dapat juga dijatuhkan sendiri.28

Macam-macam hukuman pokok ialah:

a. Hukuman Mati

Hukuman mati masih tetap dipertahankan dalam KUHP di Indonesia. Walaupun sejak tahun 1870 hukuman mati ini telah dihapuskan dari KUHP Nederland. Adapun tindak pidana yang diancam hukuman mati yang penulis kutip dari Media Hukum dan HAM ada 14 peraturan Indonesia yang membenarkan berlakunya hukuman mati, yaitu:29

1) Pasal 104 KUHP: Makar membunuh Presiden dan Wakil Presiden.

27

Soesilo Prajogo, Kamus Hukum Internasional Indonesia, (Jakarta: WIPRES, 2007), cet. Ke-I, h. 436

28

Hartono Hadi Soeprapto, Pengantar Tata Hukum Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 1993), cet. Ke-I, h. 109-110

29

Media Hukum dan HAM, Pusat Study Hukum dan HAM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, h. 6


(42)

“Makar dengan maksud untuk membunuh atau merampas kemerdekaan atau meniadakan kemampuan Presiden atau Wakil Presiden diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara”.

2) Pasal 124 (3) KUHP: Kejahatan terhadap keamanan Negara.

“Pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau penjara sementara paling lama 20 tahun dijatuhkan jika:

a) Memberitahukan atau menyerahkan kepada musuh, menghancurkan atau merusak sesuatu tempat atau pos yang diperkuat atau diduduki suatu alat penghubung gudang persediaan perang, atau kas perang ataupun Angkatan Laut, Angkatan Darat ataupun bagian daripadanya. b) Menyebabkan atau memperlancar timbulnya huru hara pemberontakan

atau diserse dikalangan Angkatan Perang. 3) Pasal 340 KUHP: Pembunuhan berencana.

“Barang siapa dengan sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan (moord), dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara semantara selama-lamanya 20 tahun.

4) Pasal 365 (4) KUHP: Pencurian dengan kekerasan.

“Diancam dengan pidana mati, atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun, jika perbuatan


(43)

mengakibatkan luka berat atau mati dan dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu, pula disertai oleh salah satu hal yang diterangkan dalam nomor (10 dan (3).

5) Pasal 444 KUHP: Kejahatan terhadap pelayaran.

“Jika perbuatan kekerasan yang diterangkan pasal 438-441 mengakibatkan seseorang yang dikapal diserang atau seseorang yang diserang itu mati maka nahkoda, panglima atau pemimpin kapal dan mereka yang turut serta melakukan perbuatan kekerasan diancam dengan pidana mati, atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama 20 tahun.

6) dan 7) Pasal 479 (K) ayat 2 KUHP dan pasal 479 (0) ayat 2 KUHP: Kejahatan penerbangan dan prasarana.

“Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya seseorang atau hancurnya pesawat udara itu dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama-lamanya 20 tahun”.

8) Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 tahun1999: Korupsi atau merugikan Negara dalam keadaan tertentu.

“Tindakan korupsi untuk memperkaya orang lain atau orang lain diancam dengan hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun ditambah denda minimal 200 jutu atau maksimal satu milyar”.


(44)

9) Pasal 80-82 Undang-Undang Nomor 22 tahun 1997 tentang: Memproduksi, mengolah, menyediakan narkotika.

Pasal 80

(1) Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum :

a. Memproduksi, mengolah, mengkonversi, perakit, atau menyediakan narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup, atau pidana penjara selama-lamanya 20 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).

(2) Apabila tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam: a. Ayat (1) huruf a didahului dengan pemufakatan jahat, dipidana

dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2. 000.000.000.00 (dua miliar rupiah).

(3) Apabila tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam: a. Ayat (1) huruf a dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan

pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atu pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling


(45)

sedikit Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah).

Pasal 81

(4) Apabila tindak pidana sebagaimana yang dimaksud dalam:

a. Ayat (1) huruf a (membawa, mengirim, mengangkut narkotika golongan I) dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 4.000.000.000.00 (empat miliar rupiah).

Pasal 82

(1) Barang siapa tanpa hak dan melawan hukum:

a. Mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara jual beli, atau menukar narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp. 1.000.000.000.00 (satu miliar rupiah).


(46)

(2) Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a didahului dengan pemufakatan jahat maka terhadap tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam:

a. Ayat (1) huruf a, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara seumur 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000.00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000.00 (dua miliar rupiah).

(3) Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam:

a. Ayat (1) huruf a dilakukan secara terorganisasi, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp. 500.000.000.00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 3.000.000.000.00 (tiga miliar rupiah). 10) Pasal 59 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997: Menyalahgunakan

obat-obatan psikotropika secara terorganisasi. (1) Barang siapa:

a. Menggunakan psikotropika golongan I selain dimaksud dalam pasal 4 ayat (2), atau

b. Memproduksi atau menggunakan dalam proses produksi psikotropika golongan I sebagaimana dimaksud dalam pasal 6


(47)

c. Mengedarkan psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal12 ayat (3), atau d. Mengimpor psikotropika golongan I selain untuk kepentingan

ilmu pengetahuan, atau

e. Secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan membawa psikotropika golongan I.

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit Rp. 150.000.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

(2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan secara terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama 20 tahun dan pidana denda sebesar Rp. 750.000.000.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

11) Perpu Nomor 1 tahun 2002 Jo pasal 6 Undang-Undang Nomor 15 2003 tentang terorisme:

“ Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana terror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat misal, dengan cara merampas atau menghilangkan nyawa


(48)

harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas public atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun”.

Di dalam praktek terdapat peraturan-peraturan lain bagaimana hukuman mati itu harus dilaksanakan, yaitu:30

a) Dilaksanakan di dalam penjara;

b) Dilaksanakan oleh penuntut umum dan hakim yang bersangkutan yang mengadili si terhukum;

c) Didampingi seorang dokter yang memastikan bahwa si terhukum benar-benar mati;

d) Dilaksanakan oleh seorang algojo yang merupakan seorang pejabat negeri;

e) Tiga kali dua puluh empat jam sebelum hukuman mati dijalankan polisi harus diberitahukan kepada ketua terhukum oleh ketua pengadilan negeri atau yang diwakilkan dengan dibantu oleh panitera, atau jika ketua pengadilan negeri tidak ada di tempat maka oleh jaksa;

30

Satochid Kertanegara, Kumpulan Kuliah Hukum Pidana, (Jakarta: Balai Lektur Mahasiswa, tth), cet. Ke-I, h. 273


(49)

f) Sejak si terhukum diberi tahu tentang hari akan dijalankannya hukuman mati, ia harus dijaga ketat;

g) Seorang terhukum mati harus diizinkan bertemu dengan guru keagamaan atau pendeta;

h) Persiapan-persiapan untuk menjalankan hukuman mati harus dilakukan tanpa diketahui atau dapat terlihat oleh si terhukum;

i) Hukuman mati tidak boleh dijalankan pada hari minggu, hari raya nasional atau keagamaan.31

b. Hukuman Penjara

Di Indonesia si terhukum selalu menjalani hukuman penjara bersama-sama dengan terhukum lainnya, karena Indonesia tidak menganut system cellulair, sehingga hal ini semakin memberatkan si terhukum orang yang melakukan kejahatan yang bukan dikarenakan bakat-bakat jahatnya. Akan tetapi oleh karena mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya, atau penderitaan, kemudian melakukan kejahatan setelah pada dirinya di hinggapi pikiran-pikiran yang melemahkan.

Oleh karena itu timbulah anggapan bahwa penjara itu justru merupakan “kursus kejahatan” bagi mereka yang sebenarnya tidak mempunyai bakat jahat, akan tetapi perbuatannya hanyalah dikarenakan oleh kesulitan hidup

c. Hukuman Kurungan

31

Wiryono Projodikoro, Azas-azas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: PT. Erasco, 1989), cet. Ke-VI, h. 168


(50)

Jenis hukuman kurungan sifatnya mirip dengan hukuman penjara dengan perbedaan sebagai berikut:

Pertama: Hukuman penjara diancamkan terhadap kejahatan berat, sedangkan hukuman kurungan diancamkan sebagai hukuman alternatif.

Kedua: Hukuman penjara maksimal 15 tahun yang apabila disertai masalah-masalah tertentu dapat dinaikan menjadi 20 tahun. Sedangkan maksimum hukuman kurungan satu tahun yang hanya dapat dinaikan menjadi satu tahun empat bulan jika ada ,masalah-masalah yang memberatkan.

Ketiga: Hukuman penjara pelaksanaannya dapat dilaksanakan disemua tempat. Sedangkan hukuman kurungan hanya dapat dilaksanakan di dalam lingkungan daerah dimana terhukum bertempat tinggal. Jika terhukum tidak mempunyai tempat tinggak maka dihukum di dalam di daerah dimana ia berada.

d. Hukuman Denda

Hukuman denda adalah hukuman yang dijatuhkan terhadap harta kekayaan terhukum.

2. Hukuman Tambahan

Sesuai dengan namanya maka pidana ini tidak dapat dijatuhkan tersendiri. Jadi selalu dijatuhkan bersama-sama pidana pokok.32

Macam-macam hukuman tambahan sebagai berikut: a. Pencabutan hak-hak tertentu

32


(51)

Jenis hukuman tambahan ini disebut juga erestal, maksudnya hukuman tambahan ini dijatuhkan terhadap kehormatan atau martabat seseorang. Adapun hak-hak yang dapat dicabut ini meliputi lapangan hukum tata Negara dan lapangan hukum perdata. Hal ini diatur dalam pasal 35 KUHP (1) yaitu hak-hak yang dapat dicabut itu adalah:

1) Hak untuk memangku jabatan tertentu;

2) Hak untuk bekerja dalam angkatan perang atau alat kekuasaan lainnya; 3) Hak untuk memilih atau dipilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat

(DPR) atau Daerah yang diatur menurut undang-undang;

4) Hak untuk menjadi penasihat atau wali terhadap orang yang bukan anaknya sendiri;

5) Hak untuk melakukan kekuasaan sebagai orang tua wali terhadap anaknya sendiri;

6) Hak untuk bekerja atau mata pencaharian tertentu.

Adapun jangka waktu pencabutan hak tersebut di atas terikat oleh jangka waktu tertentu sebagaimana yang diatur dalam pasal 38 KUHP yaitu antara sua tahun dan seumur hidup.

1) Seumur hidup

Jika hukuman pokok yang dijatuhkan itu adalah hukuman mati atau hukuman seumur hidup.


(52)

2) Sekurang-kurangnya dua tahun atau setinggi-tingginya lima tahun lebih. Jika hukuman yang dijatuhkan itu adalah hukuman penjara atau hukuman kurungan.

b. Penyitaan terhadap barang-barang tertentu

Hukuman tambahan ini berupa perampasan atau pembinasaan terhadap barang-barang tertentu. Adapun barang-barang-barang-barang yang dapat dirampas itu adalah barang-barang yang bersifat:

1. Milik terhukum sendiri, misalnya kepemilikan senjata api dengan tanpa izin;

2. Barang-barang yang diperoleh terhukum dari kejahatan;

3. Barang-barang yang dipergunakan oleh terhukum untuk melakukan kejahatan dengan sengaja.

c. Pengumuman keputusan hakim

Jika hukuman tambahan ini yaitu mengumumkan keputusan hakim agar umum mengetahui bahwa terhukum telah melakukan perbuatan yang dapat dihukum. Hukuman tambahan ini hanya dapat dijatuhkan apabila dinyatakan dengan tegas dalam perumusan suatu delik. Pengumuman ini dilakukan oleh penuntut umum. Biasanya dilakukan melalui pers dengan biaya pengumuman menjadi tanggungan terhukum.


(53)

Tindak pidana yang sebagaimana tercantum dalam KUHP, sejak zaman Hindia Belanda sampai sekarang merupakan sesuatu yang dibuat oleh orang yang menimbulkan akibat pada orang lain baik merasa tidak senang, cidera maupun matinya seseorang.

Menurut Moljatno, perbuatan pidana menurut wujud dan sifatnya bertentangan dengan cara atau ketertiban yang dikehendaki oleh hukum, yaitu perbuatan hukum atau melawan hukum.33

Lebih lanjut Moeljatno mengatakan bahwa perkataan perbuatan yaitu suatu pengertian abstrak yang menunjuk kepada kedua keadaan konkret. Pertama, adanya jaminan yang tertentu, dan yang kedua adanya orang yang berbuat yang menimbulkan kejadian itu.34

Ada dua macam jenis hukuman sebagaimana diatur dalam pasal 10 KUHP yaitu:

a. Pidana Pokok, terdiri atas:

1. Pidana Mati; 2. Pidana Penjara; 3. Kurungan; 4. Denda.

b. Pidana Tambahan, terdiri atas:

1. Pencabutan hak-hak tertentu;

33

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana Islam, (Jakarta: Aneka Cipta, 1993), h. 2 34


(54)

2. Perampasan barang-barang tertentu; 3. Pengumuman keputusan hakim.35

1) Pidana Mati

Pidana mati dijalankan oleh algojo ditempat gantungan dengan menjeratkan tali yang terikat ditiang gantungan pada leher terpidana kemudian menjatuhkan papan tempat terpidana berdiri.

2) Pidana Penjara

Pidana seumur hidup atau selama waktu tertentu atau sementara ditentukan minimum dan maksimum lamanya penjara berjumlah 15 tahun atau 20 tahun untuk batas yang paling akhir.36

3) Hukuman Kurungan

Hukuman kurungan seringan-ringannya yang umum adalah satu hari dan hukuman seberatnya yang umum adalah 1 tahun dan waktu 1 tahun dapat ditambah paling lama sampai dengan 1 tahun 4 bulan.

4) Hukum Denda

Hukum denda diancam sering kali sebagai alternatif dengan hukuman kurang terhadap hampir semua pelanggar hukum dalam buku III KUHP.

35

R. Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1979), edisi kelima, h. 16

36

Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996), cet. Ke-I, h. 173


(55)

Terhadap semua kejahatan ringan hukuman denda diancam sebagai alternative dengan hukuman penjara.

5) Pencabutan beberapa hak tertentu

Hukum ini disebut dalam KUHP pasal 35-38

Pasal 35 (1) hak-hak terpidana yang dengan putusan hakim dapat dicabut dalam hal-hal yang ditentukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) antara lain:

a. Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu; b. Hak memasuki angkatan bersenjata;

c. Hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang diadakan berdasarkan aturan-aturan umum;

d. Hak menjadi penasehat hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menjadi wali, wali pengawas pengampu atau pengampu pengawas, atas orang yang bukan anak sendiri;

e. Hak menjalankan mata pencaharian tertentu

Ayat (2) hakim tidak berwenang memecat seorang pejabat dari jabatannya, jika dalam aturan-aturan khusus ditentukan penguasa lain untuk pemecatan itu.

6) Perampasan barang tertentu

Perampasan harus mengenai barang-barang diatur dalam pasal 39-42 KUHP


(56)

Pidana ini pun hanya dapat dikenakan dalam hal yang ditentukan oleh undang-undang.

Di dalam KUHP menentukan tindak pidana penistaan agama adalah kejahatan yang menodai suatu agama yang tercantum dalam pasal 156 a KUHP, yang berbunyi:

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

c. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;

d. dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.37

37


(57)

BAB IV

SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU PENISTAAN AGAMA MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

A. Pengertian Penistaan Agama

Perkataan “menista” berasal dari kata “nista”. Sebagian pakar mempergunakan kata celaan. Perbedaan istilah tersebut disebabkan penggunaan kata-kata dalam menerjemahkan kata-kata smaad dari bahasa belanda. “Nista” berarti hina, rendah, cela, noda.38

Dalam bahasa sansekerta istilah agama berasal dari “a” artinya kesini dan “gam” artinya berjalan-jalan. Sehingga dapat berarti peraturan-peraturan tradisional, ajaran, kumpulan hukum-hukum. Pendeknya apa saja yang turun temurun dan ditentukan oleh adaptasi kebiasaan.39

Menurut M. Taib Thahir Abdul Muin, agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peraturan tuhan dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan kelak di akherat.40

38

Leden Marpaung SH, Tindak Pidana Terhadap kehormatan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), cet. Ke-I, h. 11

39

Mujahid Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), cet. Ke-2, h. 1

40


(58)

Dalam hukum Islam penistaan agama merupakan perbuatan yang dapat dikategorikan perbuatan perusak akidah, yang diancam berdosa besar (bagi pelakunya), karena hal ini bertentangan dengan norma agama Islam yang telahditurunkan melalui al-Qur’an dan Nabi Muhammad sebagai rasul terakhir.

Di dalam KUHP memang mengenai pengertian penistaan agama tidak dijelaskan dan tidak secara jelas di paparkan, namun di dalam buku lain dikatakan bahwa definisi tantang penistaan agama adalah penyerangan dengan sengaja atas kehormatan atau nama baik orang lain atau suatu golongan secara lisan maupun tulisan dengan maksud untuk diketahui oleh orang banyak.41

Penodaan agama menurut Pasal 156 (a) KUHP merupakan salah satu bentuk delik pers yang unsur-unsurnya adalah: Dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan dapat dilakukan dengan lisan, tulisan ataupun perbuatan lain; Ditujukan pada niat untuk memusuhi atau menghina, dengan demikian, maka uraianuraian tertulis maupun lisan yang dilakukan secara objektif mengenai agama; Serta menganggu ketentraman umat beragama.42

41

J.C.T. Simorangkir, S.H, Kamus Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 1995), cet. Ke-5, h. 124 42

http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2008-yulinantoh-8293&PHPSESSID= a8764cbcbd82e3de543ea5dceb48224d, diakses pada tanggal 03-04-2009


(59)

B. Dasar Hukum Larangan Penistaan Agama

Sebelum membahas tentang dasar hukum mengenai larangan penistaan agama, penulis akan sedikit lebih dahulu memaparkan tentang pengertian riddah atau murtad yang menyebabkan orang dianggap telah melakukan penistaan terhadap suatu agama. Menurut Sayyid Sabiq, riddah adalah kembalinya orang Islam yang berakal dan dewasa dari agama Islam kepada kekafiran, dengan kehendak sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun.43

Menurut Imam an-Nawawi dalam kitab Minhaj al-Thâlibîn, murtad adalah memutuskan keislaman baik dengan niat, ucapan, perbuatan yang menyebabkan kufur, atau secara yakin menghina dan menentang baik dengan ucapan atau perbuatan. Barang siapa yang tidak mengakui para utusan Allah, mendustakan salah seorang utusan Allah, menghalalkan sesuatu yang secara ijma telah dinyatakan haram, seperti berzina atau sebaliknya (mengharamkan sesuatu yang telah dinyatakan halal secara ijma), seseorang yang tidak mengakui kewajiban yang telah disepakati atau sebaliknya (mengakui sesuatu yang secara ijma tidak dianggap wajib) sebagai suatu kewajiban, seseorang berniat akan melakukan kekufuran, maka semua itu bisa menjadikan kafir, perbuatan yang bisa berakibat pelakunya dianggap kafir adalah apa yang diniatkan dalam rangka menghina agama secara terang-terangan atau secara tegas menolak agama tersebut, seperti melemparkan mushaf al-Qur’an ke tempat yang kotor (menjijikan) dan seperti sujud kepada berhala atau matahari.44

43

Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah II, (Beirut: Dar Al-Fiqr), cet ke-IV, h. 381 44

Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Mahali, Kanz al-Râghibîn syarh Minhaj al-Thâlibîn, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), cet ke-1, h. 535


(60)

Menurut Wahbah az-Zuhaili, dalam kitabnya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, mandefinisikan riddah adalah kembali dari agama Islam menuju kepada kekafiran, baik hal itu dilakukan dengan sebatas niat atau perbuatan yang mengakibatkan pelaku dianggap kafir, maupun dengan ucapan berupa penghinaan atau menentang keyakinan.45

Adapun unsur-unsur penting dalam Murtad ada dua:

1. Keluar dari Islam

Dalam hal ini bisa berlaku dengan tiga cara:

a. Dengan melakukan perbuatan atau meninggalkan perbuatan; b. Dengan perkataan atau ucapan;

c. Dengan itikad.

a) Murtad dengan perbuatan atau meninggalkan perbuatan

Murtad dengan perbuatan seperti melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Islam secara menolak pengharaman itu dengan sengaja atau dengan tujuan menghina Islam, seperti sujud kepada berhala atu mencapakan al-Qur’an atau kitab-kitab Hadis ke tempat yang kotor atu menghina isi kandungan atau mempersendakan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Temasuk juga dalam kategori ini ialah melakukan sesuatu yang diharamkam oleh Islam dengan menghalalkannya, seperti zina, minum arak, membunuh dan sebagainya dengan menolak pengharaman.46

45

Wahbah az-Zuhaili, Al-fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, (Damaskus: Dar Al-Fikr, 1989), juz VI, h. 183

46

Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Minhaju al-Muslim Kitab Aqaid wa Adub wa Akhlak wa Ibadat wa Muamalat, (Kaherah: Maktab al-Saqafi, t. th), h. 458


(61)

b) Mengingkari Al-Qur’an dan Kandungannya

Kekufuran itu terus berlaku atas siapa saja yang membuat ketetapan bahwa al-Qur’an itu bukanlah dari pada Allah SWT, melainkan adalah karya Muhammad, demikian juga orang yang mengingkari isi kandungan al-Qur’an, baik secara keseluruhan maupun secara perincian.

c) Murtad dengan Perkataan

Murtad dengan perkataan seperti mengeluarkan kata-kata yang dapat menunjukan atau membawa kepada kekufuran, seperti mengingkari ketuhanan dengan mengatakan Allah SWT tidak ada atau mengingkari keesaan Allah SWT dengan mengatakan ada sekutu-sekutu bagi Allah SWT, mengaku menjadi Nabi, membenarkan orang yang menjadi nabi, mengingkari para Nabi-nabi dan Malaikat, mengingkari al-Qur’an dan sebagainya.

d) Murtad dengan Itikad

Murtad dengan itikad bisa berlaku apabila seseoarang ini mempunyai itikad atau kepercayaan yang bertentangan dengan Islam, seperti meyakini alam ini tidak ada penciptanya, atau beritikad bahwa al-Qur’an bukan dari Allah dan Nabi Muhammad bukan utusan Allah.

2. Niat Jahat

Untuk mewujudkan kesalahan murtad, niat jahat merupakan unsur yang perlu. Ia mengertikan bahwa seseorang itu sengaja melakukan perbuatan atau perkataan kufur yang dia sendiri mengerti mengenai perbuatan atau perkataan itu. Dengan kata


(62)

lain, tidak memadai semata-mata sengaja melakukan perbuatan atau perkataan kufur, tetapi juga ada niat kufur.47

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa orang yang telah melecehkan atau menghina Islam itu sudah termasuk orang yang dianggap murtad atau kufur. Dan hukuman bagi orang yang murtad menuru hukum Islam adalah hukuman mati. Dasar hukum ini berdasarkan kepada hadis Nabi sebagai berikut:

! "#!ﺱ!% &'(!#!) * +"#!, & !-( *ﺱ! ".!/ 01( * ( !ﻡ * ( ( !)

!- !3

* !1 45&6!ی !8

09!:!; <!=( &> & "8&? & !-( *ﺱ! ".!/!% & "8& !'!& !8 (.!/ *=!@(A!ی 0 &#( *ﻡ 0B& (ﻡ

(C& " &D(EF !

G

H(I" & H(I" !%

G

&'& (ی&=& *J& "K !%

L

# ﻡ M %

48

Artinya: “Dari Ibnu Mas’ud: Telah bersabda Rasulullah SAW: seorang muslim yang menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah; dan bahwasanya Nabi Muhammad pesuruhNya, ia tidak halal dibunuh kecuali karena salah satu dari tiga sebab; pertama orang perempuan yang sudah berkawin berzina, orang yang membunuh orang, dan ketiga orang yang keluar dari agamanya(agama Islam)” (H.R. Bukhari)

Hadis lain menyebutkan:

- 3 ' )

+N O P)

)%

' #)

+#,

- ﺱ - 3

#ﺱ%

*M( *#*K(3 !Q ' (ی&1 !-"=! ( !ﻡ

< RP M %

49

Artinya: “Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menukar agamanya maka bunuhlah ia.” (H.R. Bukhari).

47

Faizah haji Ismail, Undang-Undang Jinayah Islam, (Petaling Jaya, Selangor: Dewan Pustaka Islam, 1991), h. 246

48

Imam abi Husain Bin Hajaj Qusairi Nisaiburi, Mukhtasar Shohih Muslim, (Beirut: Maktab al-Alami, 2000), cet ke-1, hadis ke 1023, h. 271

49

Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori, Sahih al-Bukhori, (Beirut: Dar al-fikr, 1401), jilid VIII, h. 50


(63)

Hukuman mati dalam kasus orang murtad telah disepakati tanpa keraguan lagi keempat mazhab hukum Islam. Namun kalau seseorang dipaksa mengucapkan sesuatu yang berarti murtad, maka dalam keadaan demikian dia tidak akan dihukum murtad.

Jika ada seseorang mengatakan” seandainya fulan itu menjadi nabi, maka aku akan membenarkannya”, maka menurut al Muthi’i ia telah Murtad. Al Muthi’i telah merujuk perkataan imam Syafi’i yang mengatakan”. Ada beberapa orang yang murtad setelah Islam, mereka adalah Thalhah, Musailamah, ‘Ansa beserta para pengikut mereka”. Ulama dari kalangan mazhab Hanabilah memiliki pendapat yang serupa, Ibnu Khudamah al Muhgni (2/2181) rujukan mazhab Hambali, menyatakan, “barang siapa mengaku-ngaku sebagai nabi atau membenarkan seruannya, maka ia telah murtad”.

Kekufuran para pengingkar syariat, tentu yang namanya nabi palsu menyeru hal-hal yang mungkar dan bathil, sebagai mana fakta yang terjadi dilapangan, mereka mengajak penganutnya untuk meninggalkan ajaran-ajaran Nabi Saw, seperti sholat, zakat atau ibadah-ibadah lain yang sudah disepakati kewajibanya dalam Islam atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah serta mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah.

Mengamalkan ajaran-ajaran mereka itu tidak sebatas maksiat biasa karena hal itu pun sudah masuk kewilayah kekufuran. Ibnu al Khudamah dalam al Mughni mengatakan, “begitu juga (dihukumi murtad, bagi mereka yang mengingkari), dasar-dasar Islam seperti zakat, puasa, haji, karena dalil yang menunjukan fardhunya


(1)

tahun penjara dan Lia Aminuddin dua tahun penjara. Putusan itu semua karena pertimbangan hakim yang memutuskan.

3. Yurisprudensi perkara yang bermuatan agama yang ada di Indonesia belum relevan dengan hukum Islam. Karena menurut pandangan hukum pidana Islam, putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak sesuai dan tidaklah memberikan keadilan yang sesungguhnya. Menurut hukum pidana Islam, apabila seseorang mengaku sebagai nabi atau mengaku sebagai malaikat Jibril dan tidak mempercayai Nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir serta menyebarkan ajarannya yang dianggap sesat kepada orang lain, maka ia sudah tergolong kepada tindak pidana jarîmah murtad dan hukumannya adalah hukuman mati atau dibunuh. Tetapi sebelum dieksekusi pelaku diberi kesempatan untuk bertaubat. Sedangkan menurut hukum pidana positif, pelaku seharusnya dikenakan hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun, tetapi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya menjatuhkan hukuman selama 2 tahun. Disinilah kekurang efektifnya hukum yang berlaku di Indonesia sehingga dalam kasus penodaan agama pelaku hanya dikenakan sanksi yang begitu ringan, sehingga akan menimbulkan aliran-aliran sesat baru yang meresahkan di tengah masyarakat Indonesia yang memang mayoritas beragama Islam.


(2)

B. Saran

Agar tidak muncul lagi aliran atau paham sesat yang lainnya dan membuat kasus penistaan agama di Indonesia semakin meluas, saran saya:

1. Kepada pemerintah agar memberi hukuman yang setimpal sesuai aturan yang ada agar para pelaku penistaan agama tidak mengulanginya lagi dan tidak ada lagi aliran-aliran sesat seperti yang sudah ada sekarang. Juga harus diperhatikan pemahaman ajaran agama yang benar, maksudnya pemahaman ajaran agama Islam secara benar adalah pemahaman ajaran sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah SAW. Sejalan dengan tata cara pemahaman nash yang telah Rasulullah SAW sampaikan kepada para sahabat, dan kemudian diformulasikan oleh para imam Mazhab dalam bentuk metodologi dalam pengambilan hukum Islam.

2. Untuk masyarakat umum khususnya umat Islam harus mengikuti apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dan memahaminya sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat. Mengikuti apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah SAW artinya adalah berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah. Kemudian peningkatan iman dan ketakwaan di dalam masyarakat untuk berpeganglah pada tali agama dan hukum yang berlaku di Indonesia, serta kenali berbagai fenomena yang sekarang begitu merebak di seluruh media informasi baik cetak, visual ataupun audio visual. Terkadang tak sedikit hikmah yang dapat diambil dan harus ada suatu wadah atau forum kebebasan menyatakan pendapat, dan membiarkan masyarakat mendengarkan


(3)

semuanya lalu menyimpulkan mana yang benar dan mana yang tidak, serta diperlukan ketegasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam menyikapi adanya berbagai macam pendapat tentang paham atau aliran yang berkembang di masyarakat.

3. Selayaknya ada pihak-pihak yang tetap berjuang dan berusaha dengan segala daya dan kekuatan agar aliran-aliran menistakan suatu agama tersebut bisa dilarang oleh pemerintah Indonesia demi memurnikan ajaran Islam yang benar, berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis sesuai dengan pemahaman salafush shalih, bukan pemahaman versi oriental yang berusaha merusak Islam dari dalam. Karena, kalau Al-Qur’an dan As-Sunnah itu dipahami seperti selera orientalis, yahudi, nashrani, dan aneka anteknya yang memunculkan aliran-aliran sesat, maka akibatnya Islam tinggal namanya, dan Al-Qur’an tinggal tulisannya, sedang masjid-masjidnya ramai dan megah tetapi jauh dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Itu justru tanda-tanda akhir zaman bagi Islam.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abdullah, M. Sufyan Raji, Mengenal Aliran-Aliran dalam Islam dan Ciri-Ciri Ajarannya, Jakarta: Pustaka Al Riyadl 2007

Amin, Ma’ruf, “Kebijakan Majelis Ulama Indonesia Tentang Aliran Sesat”, Mimbar Ulama, no.341 Rabi’ul Awawl 1429/Maret 2008.

Arief, Barda Nawawi, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996

Armansyah, Jejak Nabi “Palsu”, Bandung: PT Mizan Publika, 2007

Audah, Abdul Qadir, al-Tassyri’ al-Jinai al-Islami, Beirut: Muassah al-Risalah, 1992 Bahasni, A. Fathi, al- Uqubah fi al-fiqh al-Islami, Beirut: Dar al-syuruq, 1983

Fathoni, Muslih, Faham Mahd Syi’ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1994

Hanafi, A., Asas-asas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1967

http://adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=gdlhub-gdl-s1-2008-yulinantoh-8293&PHPSESSID=a8764cbcbd82e3de543ea5dceb48224d, diakses pada tanggal 03-04-2009

http://planetaswan.blogspot.com/2008/05/beragama-dan-kebebasan-tak-berbatas.htmlabel: Publika, diakses pada tanggal 11-04-2009

http//imankpr.multiply.com/journal/item/13/Hukuman Mati2, diakses pada tanggal 02-05-2009

http://www.wahidinstitute.org/Program/Email_page?id=223/penodaan-agama-untuk-lia-eden, diakses pada tanggal 08-05-09

http://www.mail-archive.com/mabindo@yahoogroups.com/msg02084.html, diakses pada tanggal 08-05-09

Jaiz, Hartono Ahmad, Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002


(5)

, Nabi-Nabi Palsu dan Para Penyesat Umat, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008

Kansil, C.S.T., Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 1989

Kertanegara, Satochid, Kumpulan Kuliah Hukum Pidana, Jakarta: Balai Lektur Mahasiswa, tth

Manaf, Mujahid Abdul, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996

Marpaung, Leden, Tindak Pidana Terhadap kehormatan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997

Mas’ud, Ibnu dan Abidin, Zainal, Fiqh Mazhab Syafi’I, Bandung: CV Pustaka Setia, 2000

Media Hukum dan HAM, Pusat Study Hukum dan HAM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana Islam, Jakarta: Aneka Cipta, 1993

Moeljatno, Kitab undang-undang hukum pidana, Bandung : PT Bumi Aksara, 2001 Mudjib Abdul, Kaidah-Kaidah Ilmu Fiqh: Al Qawa'idul Fiqhiyah, Jakarta: Kalam

Mulia, 2001

Muhammad, Ahsin Sakho, Ensiklopedi Hukum Pidana Islam, Jakarta: PT. karisma Ilmu, 2007

Partanto, Pius A dan Al-Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 1994

Projodikoro, Wiryono, Azas-azas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung: PT. Erasco, 1989

Rakernas MUI 2007, Mengapa Diperlukan Adanya Kriteria Aliran sesat.”, Mimbar Ulama, no.341 Rabi’ul Awawl 1429/Maret 2008.

Simorangkir, J.C.T., Kamus Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 1995

Soeprapto, Hartono Hadi, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 1993


(6)

Soerodibroto, R. Soenarto, KUHP dan KUHAP, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1979

Soesilo Prajogo, Kamus Hukum Internasional Indonesia, Jakarta: WIPRES, 2007 Solehuddin, M, Sistem Sanksi dalam Hukum Pidana, Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 2003

Subekti dan Tjitrosoedibyo, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, 1990

Syamsu, Nazwar, Al-Quran tentang Alinsaan, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1983

Zainuddin, Fachruddin HS, Nasaruddin Thaha, Djohar Arifin, Terjemah Hadist Sahih Buchari, Jakarta : Widjaya, 1961