Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat

KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU
KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT

IZNILLAH FADHOLI ARHAM

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ii

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini, saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul:
KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU
KABUPATEN AGAM, SUMETERA BARAT
adalah benar merupakan hasil karya saya dengan arahan pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber
data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan pada Daftar Pustaka skripsi ini.

Bogor, April 2012

IZNILLAH FADHOLI ARHAM
A44070054

iii

RINGKASAN
IZNILLAH FADHOLI ARHAM. Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau
Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Dibimbing oleh NURHAYATI
HS ARIFIN.
Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari
puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang
yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan
kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau
kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Interaksi masyarakat
dengan lanskap alami lingkar Danau Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa.
Faktor pendorongnya yaitu, laju konversi penggunaan lahan, pembangunan fisik
yang tidak seimbang, dan penurunan kualitas budaya masyarakat semakin cepat.
Hal ini mengakibatkan degradasi kualitas lingkungan (alam dan budaya). Kualitas
lingkungan yang menurun ini terkait erat dengan pola aktivitas budaya masyarakat
yang berkembang saat ini.
Masyarakat di lingkar Danau Maninjau saat ini sudah jauh meninggalkan akar
budaya „meninjau alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu, contohnya
budidaya ikan dengan sistem karamba jala apung. Budidaya dengan sistem
karamba jala apung menjadi trend karena komoditasnya menjanjikan secara
ekonomis dalam jangka pendek tetapi dapat mengancam dan menyaingi
keberlanjutan ekosistem spesies endemik di Danau Maninjau. Permasalahan
tersebut sangat mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai
tempat hidup dan berpijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung
lingkungan alam semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian
pada aspek-aspek yang mempengaruhi keberlanjutannya. Kekhawatiran terhadap
keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan datang adalah latar belakang
kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau Maninjau ini.
Penelitian dilaksanakan selama sembilan minggu, mulai akhir bulan Februari
2011 sampai dengan April 2011, di kawasan nagari lingkar Danau Maninjau,
Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Penelitian ini
dilakukan dengan tahap-tahap berupa inventarisasi data, analisis, dan sintesis
(rekomendasi). Inventarisasi data dilakukan dengan metode observasi lapangan,
pengamatan, kuisioner, dan wawancara kepada elemen pemerintahan nagari serta
tetua atau pemerhati adat budaya setempat. Analisis dilakukan baik secara
deskriptif maupun spasial. Analisis spasial bertujuan untuk menghasilkan deskripsi
karekteristik lanskap budaya lingkar Danau Maninjau dan mengetahui karakter
interaksi manusia dan lanskap alami tersebut dengan unit analisis setiap nagari di
dalamnya. Analisis deskriptif dilakukan dengan metode analisis SWOT (Strength,
Weakness, Opportunity, Threat). Metode SWOT bertujuan untuk menganalisis
keberlanjutan dan merumuskan strategi pengembangan dan pelestarian lanskap
budaya di Lingkar Danau Maninjau tersebut.
Wilayah lingkar Danau Maninjau secara administrasi merupakan kesatuan
dari Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumetera Barat,
mencakup sembilan Nagari, yaitu Maninjau, Bayur, Duo Koto, Paninjauan, Koto
Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Tanjung Sani, dan Sungai Batang.
Aksesibilitas di kawasan Danau Maninjau adalah jalan provinsi kelas-II dan jalan

iv

kabupaten kelas-III. Kecamatan Tanjung Raya termasuk dalam daerah yang terletak
di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata antara 23°C
- 31°C, kelembaban nisbi sebesar 95%, kecepatan angin 23 km/jam, dan curah
hujan rata-rata mencapai 2.500-3.500 mm/tahun dengan bulan kering selama 1-2
bulan berturut-turut. Danau Maninjau juga termasuk ke dalam satuan morfologi
Gunung Api Strato. Pada morfologi ini bagian puncak dan lereng bagian atas
merupakan aliran permukaan atau resapan, sedangkan pada bagian kaki gunung
ditafsirkan sebagai daerah akumulasi air tanah. Daerah Danau Maninjau merupakan
bagian dari Sistem Patahan Besar Sumatera (The Great Sumatran Fault Sistem).
Pada bagian tengah merupakan patahan utama yang aktif. Secara visual, tampak
dari atas morfologi landform Gunung Maninjau tidak memperlihatkan bentuk
sebuah gunungapi yang lengkap, tetapi berbentuk sebuah kerucut terpancung.
Puncak-puncak bukit yang tinggi-tinggi hampir-hampir mengelilingi kaldera
Maninjau, terutama di utara dan Selatan dengan ketingian mencapai 1500 m pada
Puncak Gunung Rangkian di Utara dan 1252 m pada puncak Gunung Tanjung Balit
di selatan. Secara ekosistem, Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian dari
Daerah Aliran Sungai (DAS) Antokan dan juga termasuk Satuan Wilayah Sungai
(SWS) Anai Sualang. Fenomena hidrologi rutinan di Danau Maninjau adalah tubo
balerang atau racun belerang. Endapan belerang dari dasar danau secara rutin akan
naik ke permukaan disebabkan oleh pola angin darat yang juga rutin melewati
Danau Maninjau. Penggunaan lahan terbaru dalam dokumen RTRW Kabupaten
Agam 2010-2030 menunjukkan bahwa data penggunaan lahan di lingkar Danau
Maninjau tahun 2010 sangat berubah, dengan konversi hutan atau lanskap alami
menjadi lahan budidaya intensif, dibanding data tahun 2002 hutan yang masih
cukup mendominasi. Pemanfaatan sumber daya alami yang berlebihan ini juga
menyebabkan semakin banyaknya endapan dari buangan limbah pemukiman dan
tren budidaya perikanan jala apung atau karamba yang semakin tidak terkontrol.
Jumlah penduduk Kawasan Danau Maninjau pada tahun 2013 diperkirakan
mencapai 30.961 jiwa atau meningkat sekitar 4,38% dari tahun 2001. Secara
keseluruhan jumlah penduduk perempuan lebih banyak dari pada laki-laki dan
didominasi oleh kelompok umur kategori pra-produktif yang mencapai 44,4% total
penduduk. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan
penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perekonomian unggulan
di kecamatan ini terletak pada sektor dan sub sektor pertanian tanaman pangan,
perkebunan, perikanan, serta pariwisata. Sistem lembaga kemasyarakatan di
kawasan lingkar Danau Maninjau berbeda dari wilayah lainnya di Indonesia,
dengan sistem Nagari yang secara hierarki administratif berada di bawah
Kecamatan. Masyarakat lingkar Danau Maninjau merupakan masyarakat
Minangkabau. Masyarakat Minangkabau secara tradisional telah memiliki prinsip
filosofis yang mengatur konsepsi hidup dan kehidupan masyarakatnya. Filosofi adat
Minang tersebut adalah Alam Takambang Jadi Guru atau filosofi ekologis. Sistem
adat yang berlaku di masyarakat lingkar Danau Maninjau adalah Adat
Minangkabau. Secara mendasar sistem ini tidak berbeda dengan masyarakat
Minangkabau di daerah lainnya, yang membedakan hanya pada tataran metodologis
dan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Kebijakan pemerintah berupa RTRW adalah faktor eksternal yang
mempengaruhi pola lanskap. Tujuan RTRW Kabupaten Agam Tahun 2010-2030
adalah, „Mewujudkan AGAM sebagai Kabupaten Industri AGRO, KELAUTAN,

v

dan PARIWISATA, berbasis Mitigasi Bencana serta Konservasi‟. Secara umum
kebijakan ini sudah cukup baik, tetapi pada spesifik aturan tertentu perlu dikaji
ulang terkait dampaknya terhadap keberlanjutan lanskap budaya setempat.
Aktivitas wisata yang berkembang dianggap sebagai ancaman bagi pemerhati
budaya lokal. Maka perlu ada interaksi dan komunikasi yang terbuka dari berbagai
pihak terkait untuk memajukan potensi industri pariwisata Danau Maninjau tanpa
harus mengurangi atau merusak nilai-nilai budaya lokal.
Secara ekologis, kawasan lingkar Danau Maninjau ini dapat diklasifikasikan
melalui pendekatan derajat pengubahan manusia terhadap lanskap alami. Semakin
besar pengubahan lanskap alaminya maka semakin rendah pula nilai ekologisnya.
Setelah dihitung luasan masing-masing kelompok pengubahan penggunaan lanskap
alami pada setiap nagari, diketahui bahwa Nagari Maninjau, Bayua, dan Duo Koto
merupakan nagari-nagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap
alami intensif (nilai ekologis rendah); Nagari Tanjung Sani didominasi oleh
kelompok lanskap alami transisi (nilai ekologis sedang); dan Nagari Sungai Batang,
Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, dan Paninjauan merupakan nagarinagari yang didominasi oleh kelompok pengubahan lanskap alami rendah (nilai
ekologis tinggi). Indikator dari aspek sosial ekonomi dalam studi ini ditinjau dari
segi kepadatan penduduk. Klasifikasi kepadatan penduduk per-nagari di Kecamatan
Tanjung Raya dari data sensus tahun 2007 adalah sebagai berikut: Maninjau dan
Duo Koto sangat padat; Bayua, Koto Kaciak, Paninjauan cukup padat; Koto
Gadang, Tanjung Sani, Sungai Batang, Koto Malintang kurang padat. Hasil
penilaian aspek sejarah spiritual budaya menunjukkan bahwa Nagari Sungai Batang
adalah satu-satunya nagari yang termasuk dalam kriteria nagari dengan nilai
sejarah, spiritual, dan budaya tinggi, dengan jumlah situs sejarah budaya mencapai
sembilan titik dan kegiatan lembaga adat kemasyarakatan cukup baik. Nagari yang
termasuk dalam kelompok nilai sejarah, spiritual, dan budaya rendah adalah Nagari
Koto Gadang dan Koto Malintang dengan jumlah situs sejarah budaya dan kegiatan
lembaga adat kemasyarakatan yang terdata kurang dari tiga. Enam nagari lainnya
termasuk dalam kelompok nilai sedang. Setelah menilai setiap komponen aspek
analisis dalam analisis karakteristik lanskap budaya (ekologi, sosial ekonomi, dan
sejarah spiritual budaya), total akumulasi nilai setiap nagari tersebut yaitu Nagari
Sungai Batang dengan nilai karakteristik lanskap budaya tertinggi, Maninjau dan
Duo Koto dengan nilai rendah, sedangkan enam nagari lainnya dengan nilai sedang.
Hasil dari analisis keberlanjutan dengan metode SWOT menunjukkan bahwa
strategi yang akan disusun seharusnya berorientasi pada strategi pertumbuhan dan
pengembangan (growth strategy) yang termasuk pada kuadran I diagram model
strategi (Rangkuti, 2009). Tujuan strategi ini adalah mencapai pertumbuhan.
Pertumbuhan dalam penelitian ini adalah pertumbuhan kualitas lanskap budaya
kearah keberlanjutan dengan meningkatkan kualitas sumber daya (manusia dan
lingkungan alami), meningkatkan inovasi, kualitas layanan, dan akses produk
(lanskap budaya via pariwisata) ke pasar yang lebih luas dengan terkontrol.
Konsentrasi strategi ini dapat dicapai melalui integrasi vertikal agar terjadi
hubungan baik yang mendukung pertumbuhan, membangun kerjasama dan
pengembangan yang baik disektor produksi dan membangun jaringan pasar yang
luas. Strategi pertumbuhan dan pengembangan ini dijabarkan dalam rekomendasi
strategi keberlanjutan sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya.

vi

® Hak Cipta Milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

vii

KAJIAN LANSKAP BUDAYA LINGKAR DANAU MANINJAU
KABUPATEN AGAM, SUMATERA BARAT

IZNILLAH FADHOLI ARHAM

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada
Departemen Arsitektur Lanskap,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

viii

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian

: Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau
Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Nama Mahasiswa

: Iznillah Fadholi Arham

NRP

: A44070054

Departemen

: Arsitektur Lanskap

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nurhayati HS Arifin, M.Sc
NIP. 1962 0121 1986 01 2 001

Mengetahui,
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap

Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA
NIP. 1948 0912 1974 12 2 001

Tanggal Lulus :

ix

RIWAYAT HIDUP
Penulis, Iznillah Fadholi Arham, dilahirkan di Bukittinggi, Sumatera Barat,
pada tanggal 14 November 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua
bersaudara dari keluarga Bapak Suratmin dan Ibu Dewi Marianti. Penulis memulai
pendidikannya pada tahun 1995 di TK An-Nur Pekanbaru dan lulus pada tahun
1996. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikannya di SD Negeri 036 Pandau
Jaya sampai kelas dua dan melanjutkan di SD Negeri 005 Sail Pekanbaru sampai
lulus 2002. Kemudian pada tahun 2002, penulis melanjutkan studi di MTs Pondok
Pesantren Modern Islam Assalaam Surakarta dan menyelesaikannya di tahun 2004.
Pada tahun 2007, penulis lulus dari SMA Pondok Pesantren Modern Islam
Assalaam Surakarta. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Departemen
Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk Institut (USMI). Dalam masa pendidikan di Institut
Pertanian Bogor penulis juga mengambil bidang ilmu pendukung dari minor
Pengelolaan Wisata Alam dan Jasa Lingkungan, Departemen Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata.
Selama menjalankan studi di Institut Pertanian Bogor, penulis juga mengikuti
kegiatan-kegiatan di luar akademik, seperti menjadi pengurus Himpunan Profesi
Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) divisi Pemberdayaan Sumberdaya
Manusia pada kepengurusan tahun 2009, Wakil Ketua urusan internal Himpunan
Profesi Mahasiswa Arsitektur Lanskap (HIMASKAP) pada kepengurusan tahun
2010, pembentuk dan anggota Komunitas Pecinta Alam HIMASKAP (KOALA)
sejak tahun 2010, pembentuk dan anggota Komunitas Fotografi HIMASKAP atau
HIMASKAP Photo Club (HPC) sejak tahun 2010, pembentuk dan anggota
komunitas Environmental Art (ENVO) HIMASKAP pada tahun 2010, dan menjadi
asisten Mata Kuliah Analisis Tapak (ARL-310) pada Departemen Arsitektur
Lanskap Fakultas Pertanian IPB tahun ajaran 2011-2012.

x

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan atas rahmat dan karunia yang
diberikan Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
baik. Skripsi dengan judul “Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau,
Kabupaten Agam, Sumatera Barat” disusun sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pertanian dengan Mayor Arsitektur Lanskap dari
Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Penulisan skripsi ini didasari oleh keinginan untuk ikut

dalam upaya

pelestarian kawasan dan budaya masyarakat lingkar Danau Maninjau di Kabupaten
Agam, Provinsi Sumatera Barat. Selain itu, juga untuk meningkatkan rasa
kepedulian dan penghargaan diri sendiri dan masyarakat terhadap keberlanjutan
lanskap budaya lingkar Danau Maninjau.
Pada kesempatam kali ini penulis menyampaikan apresiasi, penghargaan, dan
ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah terlibat dan berkontribusi
dalam proses penelitian serta penyelesaian penulisan skripsi ini, yaitu kepada:
1. Dewi Marianti, SPd. dan Suratmin selaku kedua orang tua, serta keluarga
besar yang amat dicintai atas doa, dukungan, kepercayaan, semangat, dan
bantuan yang diberikan kepada penulis sampai saat ini.
2. Dr. Ir. Nurhayati HS Arifin, MSc. selaku dosen pembimbing skripsi atas
bimbingan, masukan dan arahannya selama penyusunan skripsi ini.
3. Dr. Ir. Setia Hadi, MS. sebagai pembimbing akademik atas arahan dan
bimbingan selama penulis menjalani kuliah.
4. Ir. Qodarian Pramukanto, MS. dan Dr. Ir. Tati Budiarti, MS. selaku dosen
penguji atas masukan, kritik, dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
5. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten
Agam, Kecamatan Tanjung Raya, dan seluruh Kenagarian (Maninjau,
Bayur, Duo Koto, Koto Kaciak, Koto Gadang, Koto Malintang, Tanjung
Sani, Sungai Batang, dan Paninjauan) selingkar Danau Maninjau atas
bantuannya dalam pengumpulan data selama penelitian.
6. Sahabat

seperjuangan

Arsitektur

Lanskap

IPB

angkatan

persahabatan, bantuan, doa, dukungan, dan motivasinya.

44

atas

xi

7. Keluarga besar di Departemen Arsitektur Lanskap IPB angkatan 40, 41, 42,
43, 45, 46,47 dan seluruh civitas akademik atas sukacita bersama dan
motivasinya.
8. Seluruh pihak yang telah memberikan motivasi, saran dan nasehat yang
membantu penulis selama proses penyusunan laporan penelitian ini.
Penulis berharap semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat
lingkar Danau Maninjau, pemerintah setempat, dan seluruh pihak terkait, serta
dapat berguna sebagai referensi bagi penelitian lain yang dilaksanakan pada masa
yang akan datang.

Bogor,

April 2012

Penulis

xii

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL ................................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................... xvi
I. PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2. Tujuan .......................................................................................................... 3
1.3. Manfaat ........................................................................................................ 3
1.4. Kerangka Pikir ............................................................................................. 3
II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 5
2.1. Lanskap Budaya ........................................................................................... 5
2.2. Lanskap Danau Maninjau ............................................................................ 7
2.3. Sistem Adat Budaya Minangkabau .............................................................. 8
2.4. Keberlanjutan Lanskap Budaya ................................................................... 9
III. METODOLOGI ................................................................................................. 19
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ..................................................................... 19
3.2. Batasan Penelitian ...................................................................................... 20
3.3. Tahapan dan Metode Penelitian ................................................................. 20
3.3.1. Inventarisasi ..................................................................................... 20
3.3.2. Analisis ............................................................................................ 22
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 25
4.1. Aspek Fisik dan Biofisik ............................................................................ 25
4.1.1. Wilayah Administrasi Lingkar Danau Maninjau ............................. 25
4.1.2. Aksesibilitas dan Sirkulasi ............................................................... 25
4.1.3. Iklim ................................................................................................. 27
4.1.4. Geologi, Tanah, dan Topografi ........................................................ 28
4.1.5. Hidrologi .......................................................................................... 32
4.1.6. Penutupan dan Penggunaan Lahan .................................................. 35
4.1.7. Visual ............................................................................................... 39
4.2. Aspek Sosial Budaya ................................................................................. 42
4.2.1. Demografi ........................................................................................ 42
4.2.2. Lembaga Kemasyarakatan ............................................................... 45

xiii

4.2.3. Filosofi dan Nilai-Nilai .................................................................... 48
4.2.4. Sistem Adat dan Budaya .................................................................. 49
4.3. Pengaruh Eksternal .................................................................................... 50
4.3.1. Kebijakan dan Peraturan Pemerintah - RTRW ................................ 50
4.3.2. Aktivitas Wisata ............................................................................... 70
4.4. Analisis Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............................. 71
4.4.1. Ekologi ............................................................................................. 71
4.4.2. Sosial Ekonomi ................................................................................ 74
4.4.3. Sejarah Spiritual Budaya.................................................................. 75
4.4.4. Total Nilai Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............... 77
4.5. Analisis Keberlanjutan ............................................................................... 78
4.5.1. SWOT ............................................................................................... 78
4.5.2. Rekomendasi Keberlanjutan ............................................................ 83
V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 85
5.1. Simpulan .................................................................................................... 85
5.2. Saran .......................................................................................................... 86
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 87
LAMPIRAN ............................................................................................................. 88

xiv

DAFTAR TABEL
1

Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Internal ............................................14

2

Formulir Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal .........................................14

3

Formulir Pembobotan Faktor Internal dan Eksternal...................................15

4

Formulir Matriks IFE ...................................................................................16

5

Formulir Matriks EFE ..................................................................................16

6

Formulir Matriks SWOT..............................................................................18

7

Formulir Penentuan Peringkat Alternatif Strategi .......................................18

8

Jenis dan Sumber Data .................................................................................21

9

Data Sensus Penduduk Kecamatan Tanjung Raya (BPS, 2007) ..................43

10 Perbedaan Konsepsi Nagari dan Desa .........................................................46
11 Penilaian Karakteristik Keberlanjutan Lanskap Budaya ............................77
12 Tingkat Kepentingan Faktor Internal ...........................................................79
13 Tingkat Kepentingan Faktor Eksternal ........................................................80
14 Pembobotan Faktor Internal .........................................................................80
15 Pembobotan Faktor Eksternal ......................................................................80
16 Skor Pembobotan Faktor Internal ................................................................81
17 Skor Pembobotan Faktor Eksternal .............................................................82

xv

DAFTAR GAMBAR
1

Kerangka Pikir Penelitian ........................................................................... 4

2

Sistem Adat Minangkabau ........................................................................... 9

3

Kuadran Strategi ..........................................................................................17

4

Lokasi Penelitian ..........................................................................................19

5

Tahapan Penelitian .......................................................................................20

6

Peta Aksesibilitas .........................................................................................26

7

Peta Iklim Tipe Oldeman .............................................................................28

8

Peta Geologi dan Tanah ...............................................................................30

9

Peta Topografi dan Kemiringan Lahan ........................................................31

10 Peta Daerah Aliran Sungai ...........................................................................34
11 Perubahan Tutupan Lahan ...........................................................................37
12 Peta Penggunaan Lahan tahun 2010 ............................................................38
13 Lanskap Danau Maninjau dari Kelok-44 .....................................................40
14 Lanskap Bagian Utara Danau Maninjau ......................................................40
15 Lanskap Bagian Tenggara Danau Maninjau ................................................41
16 Lanskap Bagian Selatan Danau Maninjau ...................................................42
17 Lanskap Bibir Pantai dan Tebing Danau Maninjau .....................................42
18 Rencana Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau .........................................61
19 Persentase Persepsi Masyarakat tentang Aktivitas Wisata ..........................71
20 Klasifikasi Ekologis .....................................................................................72
21 Ilustrasi Penampang Danau ..........................................................................74
22 Klasifikasi Lanskap Budaya ........................................................................77

xvi

DAFTAR LAMPIRAN
1 Surat Rekomendasi Permohonan Data Penelitian ..........................................89
2 Surat Rekomendasi Izin Penelitian / Observasi .............................................90
3 Kuisioner Persepsi dan Preferensi Masyarakat ..............................................91
4 Draft Wawancara Sejarah Asal-usul Kampung..............................................92
5 Tabel Data Skoring Parameter Sejarah, Spiritual, dan Budaya ......................93

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Budaya dan lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai
interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk
keragaman ini tidak hanya dari akar budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari
dinamisnya intrusi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa
trend budayanya masing-masing. Kekayaan ini menyumbangkan berbagai
karakter dari berbagai aspek khususnya nilai karakter lanskap budaya. Suatu
kebudayaan dari masyarakat atau komunitas lokal akan semakin sulit
diidentifikasi karakternya apabila terjadi penurunan nilai budaya atau sejarah dan
juga nilai fisik alami yang terkandung, mengingat interaksi antar beragam
kelompok manusia dan lanskap semakin intensif dan beragam bentuknya. Oleh
karena hal di atas, penting untuk dilakukan kajian mengenai interaksi manusia dan
lanskap, yang selanjutnya disebut sebagai lanskap budaya, sebagai bahan dasar
pengembangan berkelanjutan dan upaya pelestarian dari berbagai nilai yang
terkandung didalamnya.
Danau Maninjau di Sumatera Barat merupakan danau vulkanik yang berada
di ketinggian 461,5 meter di atas permukaan laut. Luas Danau Maninjau sekitar
99,5 km² atau 9950 Ha, dengan kedalaman rata-rata 157 m, volume air 10.4 km³,
dan keliling 66 km. Danau Maninjau berbentuk cekungan yang dikelilingi oleh
bukit-bukit yang tersusun seperti dinding. Kekayaan yang tersimpan di alam
Maninjau beserta danaunya membuat hubungan antara manusia dan alam semakin
dekat. Lahan subur, iklim yang nyaman, sumber makanan dan air yang berlimpah,
serta banyak kekayaan lainnya. Kebutuhan akan sumber daya alam di sini pada
awalnya terbentuk hanya atas alasan bertahan hidup, tetapi perkembangan zaman
membuat pola hidup terus berkembang dan membentuk beragam alasan lainnya.
Hal tersebut membentuk beragam karakter lanskap budaya yang tumbuh dan
berkembang di lingkar Danau Maninjau hingga saat ini.
Asal-muasal masyarakat Maninjau berasal dari perantau yang turun dari
puncak Gunung Marapi. Masyarakat ini merupakan sebagian dari suku Minang
yang sampai ke Puncak Lawang di atas Maninjau. Sebelum memanfaatkan
kekayaan alam dan memulai hidup di sekitar Danau Maninjau, mereka meninjau

2

kelayakan kekayaan alam dengan hati-hati dan sangat bijak. Filosofi dasar „Alam
takambang jadi guru‟ dipegang dan diaplikasikan dengan baik dalam bertindak.
Mereka meninjau cukup lama dari bukit-bukit yang tinggi di batas luar Maninjau,
meninjau alam di bawah apakah akan layak dihuni dan tidak membahayakan
kehidupannya. Hanya lahan-lahan yang cukup datar dipilih sebagai lahan
budidaya. Hutan primer di bukit-bukit terjal yang mengelilingi danau dijaga agar
tidak terjadi longsor. Sumber protein dari danau telah cukup melimpah dengan
beragam spesies endemik akan meledak populasinya pada waktu-waktu tertentu,
sehingga dapat dengan mudah dipanen tanpa perlu budidaya atau interaksi intensif
pada danau, sehingga kejernihan danau tetap terjaga. Ekosistem darat dan danau
saling mendukung.
Pola budaya yang sangat berbeda terasa saat ini. Masyakat di lingkar Danau
Maninjau saat ini tampaknya sudah jauh meninggalkan akar budaya „meninjau
alam‟ yang dulu dilakukan oleh para pendahulu. Intensitas interaksi (derajat
pengubahan lanskap alami) oleh masyarakat terhadap lanskap lingkar Danau
Maninjau semakin tinggi dari masa ke masa. Pemukiman dan lahan-lahan
budidaya dikembangkan pada lahan-lahan curam bekas hutan yang menyangga
tebing dan pada bibir danau. Interaksi langsung tidak hanya dilakukan di daratan
tetapi juga pada danau, dengan budidaya sistem jala apung atau keramba yang
semakin intensif dilakukan. Hal ini mengakibatkan akumulasi unsur hara
berlebihan pada air danau dan menyaingi populasi spesies endemik Danau
Maninjau. Inilah potret lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau saat ini dan
keberlanjutannya sangat mengkhawatirkan. Permasalahan tersebut

sangat

mempengaruhi pola sosial dan ekonomi masyarakat. Alam sebagai tempat hidup
dan bepijak bagi manusia akan semakin sempit. Daya dukung lingkungan alam
semakin menurun, jika tidak ada kesadaran, kontrol, dan perhatian pada aspekaspek yang mempengaruhi keberlanjutannya.
Kekhawatiran terhadap keberlanjutan lanskap budaya di masa yang akan
datang adalah latar belakang kajian lanskap budaya di wilayah lingkar Danau
Maninjau ini. Sangat penting untuk mengetahui berbagai karakter dan menilai
keberlanjutan lanskap budaya yang terbentuk dan berkembang sebagai dasar
pedoman atau rekomendasi pemerintah, masyarakat, dan semua pihak terkait

3

dalam menentukan arah perencanaan dan pengembangan lanskap lingkar Danau
Maninjau secara berkelanjutan.

1.2. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi unit lanskap budaya di lingkar Danau Maninjau,
2. Menganalisis keberlanjutan lanskap budaya tersebut,
3. Menyusun rekomendasi pengembangan dan pelestarian lanskap di lingkar
Danau Maninjau yang berkelanjutan.
1.3. Manfaat
Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah:
1. Menjadi bahan masukan dan rekomendasi bagi Pemerintah Kabupaten
Agam, atau pemerintah setempat, beserta pihak-pihak yang terkait dalam
merencanakan, mengembangkan, dan mengelola lanskap Danau Maninjau
2. Sebagai informasi yang melengkapi pengetahuan dan menambah wawasan
tentang lanskap badaya Danau Maninjau dan membuka kesadaran untuk
menjaga atau memelihara keberlanjutannya.

1.4. Kerangka Pikir
Lanskap alami Danau Maninjau, suatu dasar ekologis suatu ekosistem yang
akan berkembang didalamnya, tidak akan pernah lepas dari sentuhan-sentuhan
manusia dengan aspek-aspek sosial ekonomi dan budaya spiritual yang
dibawanya. Aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya merupakan tiga
pilar keberlanjutan yang juga dijadikan dasar oleh Global Ecovillage Network
(GEN) sebagai acuan dalam metode Penilaian Keberlanjutan Masyarakat yang
umumnya dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA). Hasil
interaksi antara manusia dan alam ini disebut sebagai lanskap budaya. Lanskap
budaya Danau Maninjau seiring perkembangan zaman dan pertumbuhannya akan
terus membawa dampak terhadap keberlanjutannya. Dampak yang paling
berpengaruh dalam hal ini adalah penurunan kualitas budaya dan juga kualitas
fisik lanskapnya. Hal tersebut akan menjadi dasar kajian pada penelitian ini. Hasil
analisis atau kajian ini berupa rekomendasi dasar pertimbangan pengembangan,

4

pelestarian, dan juga pengelolaan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau yang
berkelanjutan (Gambar 1).

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian

5

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Lanskap Budaya
Lanskap merupakan suatu bentang alam dengan berbagai karakteristik yang
terdefinisi secara harmoni menurut seluruh indra manusia (Simonds,2006).
Definisi umum ini membuat pengertian lanskap dapat terdiferensiasi menurut
skala tertentu, mulai dari skala mikro sebatas taman kantong sampai skala makro
dalam tataran regional dan universal.
Budaya merupakan kesatuan makna dari hasil cipta, karya, dan karsa, yang
dalam hal ini, manusia. Budaya pasti bersifat dinamis karena pada dasarnya
kebudayaan merupakan hasil peradaban dari setiap masa. Hal ini tersimpulkan
dari tulisan Kluckhohn dalam Koentjaraningrat (1986) yang isinya sebagai
berikut, soal-soal yang paling tinggi nilainya dalam hidup manusia dan yang
secara universal ada dalam tiap kebudayaan di dunia paling sedikit menyangkut
lima hal, yaitu:
1. hakekat dari hidup manusia
2. hakekat dari karya manusia
3. hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
4. hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya
5. hakekat dari hubungan manusia dengan sesama manusia.
Lanskap budaya sering diartikan sebagai sinonim dari lanskap buatan atau
lanskap hasil rancangan, seperti taman, boulevard, kampus, rekayasa tapak,
penanaman dan sebagainya. Lanskap budaya, menurut Plantcher dan Rossler
(1995), merupakan sebuah model interaksi antara manusia, sistem sosial, dan cara
mereka mengorganisasi ruang. Beberapa definisi lain mendefinisikan lanskap
budaya sebagai wujud fisik dari setting perkotaan atau kawasan yang diciptakan
oleh suatu etnis atau ras tertentu. Menurut Longstreth (2008) ketepatan dasar arti
dari konsep lanskap budaya adalah perbedaan atau pembeda dari suatu tempat
yang tidak cukup dinilai hanya dari lingkup kecil skala halaman rumah. Thisler
(dalam Nurisjah dan Pramukanto, 2001) mendefinisikan lanskap budaya sebagai
suatu kawasan geografis yang menampilkan ekspresi lanskap alami oleh suatu
pola kebudayaan tertentu.

6

Identitas atau karakter lanskap budaya dapat dijabarkan melalui tiga
kelompok komponen, yaitu konteks, organisasi, dan elemen (Melnick, 1983).
Penjabaran dari masing-masing kelompok komponen tersebut antara lain sebagai
berikut:
1. lanskap budaya dalam kelompok konteks
a. sistem organisasi lanskap budaya
b. kategori penggunaan lahan secara umum
c. aktivitas khusus dari penggunaan lahan
2. lanskap budaya dalam kelompok organisasi
a. hubungan bentuk bangunan dangan elemen mayor alami
b. sirkulasi jaringan kerja dan polanya
c. batas pengendalian elemen
d. penataan tapak
3. lanskap budaya dalam kelompok elemen
a. hubungan pola vegetasi dengan penggunaan lahan
b. tipe bangunan dan fungsinya
c. bahan dan teknik konstruksi
d. skala kecil dari elemen
e. makam atau situs simbolik sejenisnya
f. pandangan sejarah dan kualitas persepsi.
Lanskap sejarah budaya memiliki nilai yang penting sebagai jatidiri dan
kebanggaan suatu bangsa. Menurut Goodchild (1990), lanskap sejarah harus
dikonservasi karena :
1. sesuatu yang penting dan merupakan bagian integral dari warisan budaya
2. menyediakan fakta fisik dan arkeologi dari warisan sejarah dan budaya
3. memberi kontribusi untuk kesinambungan perkembangan budaya
4. memberi kontribusi pada keragaman yang ada
5. memberikan kenyamanan bagi masyarakat, beristirahat, bersenang-senang,
menyegarkan jiwa, atau menemukan inspirasi
6. mermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kenyamanan masyarakat
serta dapat meningkatkan dan mendukung kegiatan wisata.

7

2.2. Lanskap Danau Maninjau
Danau merupakan suatu istilah untuk salah satu jenis ekosistem perairan
darat. Menurut Suwigno (dalam Ubaidillah dan Maryanto,2003) perairan
dikatakan bertipe danau, apabila perairan tersebut dalam dengan tepian curam.
Danau cenderung memiliki kejernihan air yang lebih baik dibanding rawa dan
sungai. Tumbuhan air pada danau terbatas hanya pada tepian. Pada umumnya
danau bercirikan sebagai berikut: memiliki kecuraman tinggi atau terjal,
kedalaman lebih dari 100 m, fluktuasi permukaan air + 1-2 m, daerah tangkap
hujan sempit, jumlah teluk sedikit, garis pantai pendek, masa simpan air lama, dan
pengeluaran (outlet) air dari atas. Ciri-ciri tersebut membedakan kondisi ekologis
danau dan sekelilingnya dengan kondisi ekologis perairan tergenang di darat
lainnya seperti rawa, situ, dan waduk.
Salim (1968) menggambarkan Danau Maninjau sebagai nikmat yang tak
ternilai dan tergantikan, karena tak ada tempat lain yang menyamainya. Semburan
kilat cahaya matahari berpadu dengan biru lagit tampak pada permukaan danau,
refleksi yang membuat seolah-olah daratan dan bukit-bukit di lingkar danau ini
melayang. Sebelum memasuki Nagari Maninjau, akses utama yang dilalui adalah
kelok 44 dari setiap tikungan atau kelok yang dilalui akan terlihat pemandangan
jernihnya air danau yang membiru. Dilihat dari dekat, semakin jelas jernihnya air
danau pada dasar yang dangkal terlihat jelas. Bunyi riak air dan angin membentuk
buih-buih ombak yang seolah menghibur masyarakat di sekitarnya. Seniman dan
para pujangga akan banyak mendapat bahan inspirasi dari pemandangan Danau
Maninjau ini, bahkan mungkin akan kehabisan warna untuk melukiskan
keindahannya. Berbagai keindahan tersebut disampaikan sebagai gambaran umum
kondisi Danau Maninjau pada masa lampau.
Kondisi Danau Maninjau akhir-akhir ini, menurut Badjoeri (dalam
Setyawan, 2004), telah mengalami berbagai macam degradasi dan gejala-gejala
penurunan kualitas alaminya. Hasil analisis Badjoeri menunjukkan bahwa Danau
Maninjau telah mengalami eutrofikasi, telah terjadi penumpukan bahan organik
dan ketidakseimbangan proses dalam siklus karbon pada dasar danau, dan terjadi
perputaran arus atau turbulensi pada sistem perairan yang menyebabkan oksigen
terdapat sampai ke dasar perairan atau disebut juga nitrifikasi pada dasar danau.

8

Penurunan kualitas air Danau Maninjau ini juga disebabkan oleh pembuatan
bendungan PLTA di Batang Antokan sebagai outlet Danau Maninjau yang
menyebabkan pembalikan massa air dari kolom air bagian bawah yang anaerobik
dan mengandung gas beracun, pembuatan karamba budidaya ikan, dan
peningkatan aktivitas-aktivitas berlimbah domestik disekitar danau, seperti
pertokoan, hotel, cafe, rumah makan, rekreasi masal, pasar, dan sebagainya.
Penurunan kualitas jasa lingkungan ini merupakan akibat dari semakin intensifnya
tekanan aktivitas sosial ekonomi masyarakat saat ini.

2.3. Sistem Adat Budaya Minangkabau
Menurut Ismael dalam Rasyid (2008), Minangkabau memiliki hierarki
sistem adat yang terdiri dari unsur inti (core element) dan unsur turunan
(peripheral element). Masing-masing unsur ini terbagi lagi menjadi dua tingkatan.
Unsur inti (core element) adat terbagi menjadi adat nan sabana adat (adat yang
benar-benar adat) pada tingkat filosofis dan adat nan diadatkan (adat yang
diadatkan) pada tingkat teoritis. Unsur inti (core element) dari adat ini tidak dapat
diubah dalam kondisi apapun karena merupakan dasar atau acuan dari sistem adat
tersebut. Tataran di bawahnya, elemen adat turunan (peripheral element) terbagi
menjadi adat nan teradat (adat yang teradat) pada tingkat metodologis dan adat
istiadat (adat yang terlihat) pada tingkat praktis. Elemen turunan ini dapat
disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan aktual masyarakat dan umumnya
berfungsi praktis dalam menjaga hubungan antar masyarakat, kekeluargaan
internal, momen-momen atau kejadian penting, dan kehidupan sehari-hari. Skema
sistem adat ini digambarkan dalam diagram di bawah (Gambar 2).
Unsur inti dari piramida sistem adat Minangkabau bersifat tetap dan mutlak.
mencakupi tataran filosofis dan metodologis, adat nan sabana adat dan adat nan
diadatkan. Adat nan sabana adat adalah filosofi kepastian alami, acuan terhadap
ketentuan-ketentuan

alam,

yang

berlaku

sepanjang

waktu.

Masyarakat

Minangkabau dituntut menjadikan alam sebagai guru yang menyiratkan ilmu
pengetahuan. Adat nan diadatkan pada tataran teoritis merupakan adat yang
disusun dan diwariskan oleh nenek moyang pendahulu Datuk Katumanggungan
dan Datuk Parpatih Nan Sabatang. Bentuk dari adat nan diadatkan ini adalah pola

9

adat dari dua keselarasan induk suku Bodi Caniago dan Koto Piliang yang berupa
sistem garis keturunan matrilineal.

Gambar 2. Sistem Adat Minangkabau
(Ismael dalam Rasyid, 2008)
Unsur turunan dari tataran filosofis dan teoritis pada sistem adat
Minangkabau ini adalah tataran metodologis dan praktis, adat nan teradat dan
adat istiadat. Adat nan teradat adalah peraturan kesepakatan dari para penghulu
pemimpin suku atau kaum dari setiap nagari. Bentuk dari adat nan teradat ini
adalah kata-kata adat, adat salingka nagari, harato salingka kaum (adat berlaku
dalam nagari, harta pusaka berlaku selingkar kaum). Segmen metodologis ini
berlaku pada skala nagari, sehingga kesepakatan dari masing-masing internal
nagari tidak mutlak sama, disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan, dan hak
otonomi setiap nagari. Adat istiadat merupakan kebiasaan dan ciri khusus dalam
aspek-aspek praktis kehidupan sehari-hari, kesenian, permainan rakyat, bentuk
pakaian, tatacara dalam pembangunan rumah, penggunaan rumah adat, upacaraupacara adat, dan sebagainya.

2.4. Keberlanjutan Lanskap Budaya
Suatu keberlanjutan dapat dijelaskan dari sisi kualitatif secara deskriptif
yang berwujud kenaikan secara eksponensial dari kehidupan seseorang atau
organisme dalam suatu sistem (Wikipedia 2010). Pembangunan berkelanjutan
dalam Laporan Burtland tahun 1987 (dalam Basyir, 2008) dijelaskan sebagai

10

pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa harus
berkompromi dengan kemampuan generasi masa depan agar tetap terpenuhi
kebutuhannya. Menurut Basyir (2008), konsep keberlanjutan berkaitan dengan
ekosistem, penggunaan sumber daya lingkungan, serta pertumbuhan populasi.
Analisis ekosistem dan penilaian siklus hidup perlu dilakukan dalam upaya
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam. Kebijakan-kebijakan pemerintah
mengenai pertumbuhan populasi penduduk dan kebutuhannya pun harus
mengusung konsep keberlanjutan.
Newman dan Jennings (2008) menyebutkan bahwa, keberlanjutan adalah
tujuan bersama. Tujuan bersama harus diwujudkan dengan terintegrasi dan jangka
panjang. Visi jangka panjang adalah titik awal pemicu perubahan positif ke arah
keberlanjutan. Beberapa kata kunci yang harus diperhatikan dan terintegrasi untuk
mencapai keberlanjutan antara lain, intergenerasi, sosial, keseimbangan politik,
dan setiap individu. Tujuan ini seharusnya mengekpresikan aspirasi bersama dari
semua pihak agar dapat dicapai keseimbangan atau keadilan. Akses seimbang
untuk setiap sumberdaya baik manusia dan alam, sebaik mungkin berbagi dalam
tanggung jawab bersama menjaga nilai-nilai untuk generasi mendatang. Visi
keberlanjutan akan memotivasi masyarakat, pemerintah, pelaku bisnis, dan semua
yang memiliki tujuan bersama. Landasan untuk strategi pengembangan, program
aksi, dan semua proses untuk mewujudkan tujuan tersebut akan terbentuk dengan
sendirinya jika memiliki visi yang sama.
Keberlanjutan merupakan istilah sebagai representasi dari suatu roda
kehidupan yang terkait dengan dimensi waktu. Keberlanjutan dapat dikaitkan
dengan suatu lanskap atau bentang alam (ekologis), sosial-ekonomi, dan spiritual
budaya masyarakat. Keberlanjutan dapat dipahami sebagai kata sifat yaitu
berkelanjutan. Lanskap yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari
masyarakatnya yang juga menjunjung nilai-nilai keberlanjutan. Keberlanjutan
lanskap budaya dapat disimpulkan sebagai tingkat atau nilai hasil dari interaksi
sosial ekonomi budaya masyarakat dan lanskapnya. Lanskap budaya yang
berkelanjutan

seharusnya

dapat

memenuhi

berbagai

kebutuhannya

dan

menuangkan segala potensi terbesarnya di masa ini untuk persiapan masa depan,

11

dengan tetap menjaga kelestarian pendukung kehidupan masa depannya yaitu
lanskap sebagai wadah ekosistem.
Penilaian keberlanjutan masyarakat telah berkembang di negara-negara
yang tergabung dalam jaringan global desa berkelanjutan atau dikenal dengan
Global Ecovillage Network (GEN). Penilaian keberlanjutan masyarakat yang
dikenal dengan Community Sustainability Assessment (CSA) ini merupakan suatu
cara atau alat untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan lanskap budaya melalui
pendekatan yang dimulai dari penggalian pemahaman masyarakat terhadap
masing-masing parameter keberlanjutan dari tiga pilar atau aspek keberlanjutan.
Tingkat keberlanjutan masyarakat dilihat dari tiga pilar ecovillage menurut GEN
yaitu aspek ekologis, sosial-ekonomi, dan spiritual budaya. Kriteria-kriteria untuk
setiap aspek telah ditetapkan oleh GEN sebagai parameter tingkat keberlanjutan
masyarakat yang akan diteliti.
Berdasarkan GEN, parameter keberlanjutan yang digunakan untuk setiap
aspek antara lain sebagai berikut:
1. Aspek Ekologis, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika:
a. Masyarakat memiliki ikatan mendalam dengan tempat tinggal mereka,
batas-batas, kekuatan, kelemahan, dan irama kehidupan yang selaras
menjadi bagian dari total ekosistem
b. Kehidupan alami beserta proses dan sistemnya dihormati, termasuk
margasatwa dan habitat tumbuhan
c. Gaya hidup manusia yang lebih meningkatkan integritas lingkungan
dan tidak mengurangi atau merusaknya
d. Pangan utama diperoleh dari sumber lokal dan kawasan alami, organik,
bebas zat pencemar, dan memberi keseimbangan gizi
e. Struktur-struktur dirancang dengan memadukan dan untuk melengkapi
lingkungan alami, material, bahan, dan metode yang ramah lingkungan,
konsep bioregional dan ekologis (dapat diperbaharui dan tidak beracun)
f. Konservasi dipraktikan dalam berbagai metode dan sistem transportasi
g. Konsumsi dan penghasil limbah diminimalkan
h. Tersedia air bersih yang dapat diperbaharui, dengan masyarakat yang
menghormati dan waspada dalam memelihara sumbernya

12

i. Limbah manusia dan air limbah didaur ulang untuk manfaat lingkungan
j. Sumber energi yang tidak beracun dan dapat diperbaharui dimanfaatkan
sebaik mungkin, teknologi inovatif tidak dieksploitasi atau dibiarkan
tetapi digunakan untuk kebaikan bersama.
2. Aspek Sosial-Ekonomi, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika:
a. Terdapat suatu kestabilitasan sosial dalam dinamika kehidupan
bermasyarakat, aman dan bebas dalam mengekspresikan diri untuk
kepentingan bersama
b. Tersedia ruang dan sistem yang mendukung dan memaksimalkan
komunikasi, relasi, dan produktivitas
c. Terdapat peluang atau teknologi yang cukup untuk berkomunikasi
dengan masyarakat luas secara tepat
d. Bakat,

keterampilan,

dan

sumber

daya

masyarakat

lainnya

dipertukarkan secara bebas dan ditawarkan sebagai daya jual dan
pelayanan terhadap masyarakat luar
e. Keragaman dihormati sebagai sumber kesehatan mental, vitalitas, dan
kreativitas di lingkungan alam dan hubungan-hubungan masyarakat
f. Penerimaan, kerakyatan, dan keterbukaan sebagai pemahaman terhadap
pentingnya keragaman yang memperkaya pengalaman sosial dan
lingkungan serta meningkatkan rasa keadilan
g. Pertumbuhan individu, pembelajaran, dan kreativitas dihargai dan
dipelihara sebagai peluang untuk belajar dan mengajarkan yang luas
dan bervariasi
h. Pilihan-pilihan untuk memperbaiki, memelihara, dan meningkatkan
kesehatan (fisik, mental, emosi, dan spiritual) tersedia dan terjangkau
masyarakat
i. Aliran sumber daya dalam arti memberi dan menerima modal, barang,
atau jasa dapat mengimbangi kebutuhan dan keinginan masyarakat, jika
kelebihan hasil saling berbagi.
3. Aspek Spiritual Budaya, yakni kehidupan masyarakat seimbang jika:
a. Kekuatan budaya dilestarikan melalui aktivitas seni, seremoni ritual
budaya, dan perayaan-perayaan

13

b. Kreativitas dan seni dilihat sebagai ungkapan kesatuan hubungan timbal
balik dengan alam semesta
c. Menghargai waktu luang
d. Terdapat rasa hormat dan dukungan terhadap manifestasi kespiritualan
dalam berbagai cara
e. Tersedia peluang-peluang untuk pengembangan jati diri
f. Gembira dan memiliki ekspresi yang dikembangkan melalui ritual atau
perayaan
g. Kualitas kebersamaan dalam hati masyarakat memberikan kesatuan dan
integritas dalam kehidupannya, hal ini merupakan suatu persetujuan dan
visi bersama tentang komitmen saling berbagi
h. Adanya kapasitas dan fleksibilitas cepat tanggap dalam menghadapi
suatu masalah
i. Pemahaman menyeluruh tentang keberadaan dan hubungannya dengan
elemen di luar lingkungannya
j. Secara sadar masyarakat memilih berperan untuk menciptakan dunia
yang damai, penuh cinta, dan lestari.
Analisis keberlanjutan dapat dilakukan secara deskriptif dengan metode
analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dan dilakukan untuk
mengetahui keberlanjutan lanskap budaya lingkar Danau Maninjau. Metode
SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari segi
internal, dan mengidentifikasi peluang dan ancaman dari segi eksternal. Langkah
kerja dalam melakukan analisis SWOT,

Dokumen yang terkait

Kajian Lanskap Budaya Lingkar Danau Maninjau Kabupaten Agam, Sumatera Barat